senjapelangi

every moment is unique

  • About Me
  • My Dreams
  • Padjadjaran University
  • Photography

The First Kultwit #Menjadipenulis

Posted by achyar89 on January 17, 2012
Posted in: INSPIRING. Leave a Comment

Jakarta, 13 Januari 2012
dgreat_achyar: Sob, malam ini saya coba kultwit tentang bagaimana menjadi penulis yang handal. Mudah2an menginspirasi ya :)

homeschool-writing. sumber: google

FIRST: Niatkan bahwa kamu akan menjadi penulis yang hebat #menjadipenulis

1. Jika belum terbiasa menulis, cobalah menulis di buku harian/di catatan kecil #menjadipenulis
2. Sebelum menulis, kamu bisa tulis point2 yang akan menjadi tulisan kamu. #menjadipenulis
3. Usahakan setiap kamu pergi kemana-mana, biasakan membawa catatan kecil. Karena inspirasi itu mahal Sob :) #menjadipenulis
4. Nah, jika sudah nyatet poin2 yg akan ditulis, sekarang pastikan bahwa sesegara mungkin akan menulis. Apa pun itu. #menjadipenulis
5. Jangan mengulur-ngulur waktu untuk tidak menulis. Karena jika kelamaan, membuat kamu akan bosan dan lupa. #menjadipenulis
6. Ketiika pas mau menulis moodmu tiba-tiba hilang, berhentilah sejenak. Cari aktivitas yang bisa mengalihkan mood jelekmu. #menjadipenulis
7. Mengubah mood bisa disiasati dengan meminum teh hangat (itu yang biasa saya lakukan). Nah, mari mulai menulis. #menjadipenulis
8. Wah, kalo tiba-tiba inspirasi jadi mampet, jangan panik. Tulis apa yang ada di pikiranmu. Msl:”Ah saya bingung menulis apa #menjadipenulis
9. Dengan metode tersebut, otak dan pikiranmu akan sejalan. Dan kamu pun bisa melanjutkan tulisanmu. #menjadipenulis
10. Jangan terlalu memikirkan susunan kalimat yang baik dan benar. Tulisan kamu akan semakin baik jika kamu terus menulis. #menjadipenulis
11. Jika dirasa kamu sering menulis, dengan sendirinya tulisanmu dengan ter-up grade dengan baik. Baik dari segi bahasa/content #menjadipenulis
12. Setiap orang memiliki waktu-waktu khusus untuk menulis. Ada yang selepas sholat subuh atau malam. #menjadipenulis
13. Tidak ada patokan apkah menulis itu di waktu subuh/malam. Kamu hanya menyesuaikan dengan diri kamu sendiri. Pilih waktu yang pas #menjadipenulis
14. Saat menulis, kamu juga bisa mendengarkan instrument2 klasik. Ini hanya optional. Karena tidak semua bisa begitu. #menjadipenulis
15. Imbangi menulis dengan membaca. Karena semakin banyak membaca, kita pun semakin kaya khazanah #menjadipenulis
16. Minta teman2/orang2 di sekitarmu untuk membaca tulisanmu. Minta mereka mengkoreksinya juga. Supaya tulisan kamu makin bagus. #menjadipenulis
17. Jika sudah banyak yang membaca & mengapresiasi tulisanmu. Maka tersenyumlah, itu artinya kemampuan semakin jitu #menjadipenulis
18. Ayo publish tulisanmu di blog pribadi atau di media massa. Selain dibaca orang, kamu pun dapet doku. Hehe :D #menjadipenulis
19. Jangan berpuas diri dengan hanya menulis artikel atau tulisan pribadi di blogmu. Rencanakan suatu saat bahwa kamu bisa punya buku #menjadipenulis
20. Tetap jaga konsintensi kamu dalam menulis. Ayoo, jangan biarkan inspirasi atau ide berlalu begitu saja. #menjadipenulis
21. Terakhir, semoga tulisan2mu bisa menginspirasi orang lain & memberikan kontribusi untuk dunia. Semangat^^d #menjadipenulis
22. Oke, sekian kultwit tentang #menjadipenulis semoga bermanfaat, Hanya berbagi pengalaman :)

Sejenak, aku pergi ke dimensi itu

Posted by achyar89 on January 9, 2012
Posted in: Kontemplasi. 1 comment

Kontemplasi

Malam telah larut. Banyak orang yang telah berjelajah dalam dimensi yang berbeda denganku. Sedangkan saat ini, mata ini sulit sekali diajak kompromi. Ada banyak potongan episode kehidupan yang melintas di benakku. Dan itu mengusik rasa nyamanku.

Entahlah, beberapa kejadian masa lalu tiba-tiba muncul lagi. Masa kecilku, tempat yang pernah aku datangi, tempat bermain, orang-orang yang pernah dekat denganku, dan semua itu seolah menjadi kisah balik yang sulit sekali dienyahkan.

Semuanya seakan nyata. Terlihat dengan sangat jelas dan detail. Seakan bergerak. Memaksaku untuk kembali memasuki ruang itu. Namun dimensinya berbeda. Aku tidak ingin larut dalam bayangan-bayangan itu. Dan itu hanya membuatku lemah. Tapi mau bagaimana lagi, malam ini telah menyeretku dengan paksa diriku untuk hadir lagi pada masa-masa itu.

Apalah ini namanya. Sulit juga untuk menerjemahkannya. Namun ada satu hal yang membuat dadaku sesak. Aku rindu. Rindu dengan masa-masa indah yang pernah kulewati. Rindu dengan orang-orang hebat yang pernah dekat denganku. Dan aku pun semakin jauh memasuki dimensi indah itu. Ingin sekali rasanya bertahan. Enggan menyapa kondisi sekarang yang seolah terasa berbeda.

Dan pada akhirnya pun aku takluk. Bernyanyi, bercengkrama dengan waktu yang seakan tidak pernah membisu.

Namun pada kenyataan ini hanyalah sebuah perjalanan yang tidak nyata. Dan aku harus menyudahi. Tapi rasanya sulit sekali. Ingin berteriak bahwa aku ingin lepas dari rayuan masa lalu. Jelas ini berbeda. Dan memang pada hakikatnya berbeda. Aku harus paham itu.

Tapi biarlah, biarkan aku mengenang. Jika dengan ini membuatku jauh lebih baik. Tidak masalah jika hal itu akan hanya akan menambah ketidakberterimaan. Tapi aku ingin mengenang. Setelah kita penat dengan masa kini yang menjemukan. Kini kau hadir memberikan halaman belakangmu yang luas padaku. Dan mengajakku mengelilingi keabadian. Hingga malam ini cepat berakhir.

Aku pun bisa terlelap dengan tenang.

Syair Hujan

Posted by achyar89 on January 9, 2012
Posted in: INSPIRING. Leave a Comment

Rain

Rerintikan.
Ditenggarai musim yang seakan menjelma menjadi dimensi keagungan.
Menampilkan atraksi musik semesta.
Berlari,
Tertiup bersama kepalsuan mimpi.

Di atas sana,
ada prajurit berkuda memanah kehidupan.

Dan syair pun ditutup dengan hilangnya debu keabadian.

Jakarta, 8 Januari 2011

Analog, bukan digital

Posted by achyar89 on January 6, 2012
Posted in: filsafat. Leave a Comment

Jakarta, 06 Januari 2011

Detik belajar merangkak. Menit belajar berjalan. Jam tidak lagi belajar. Ia sudah mampu berlari. Tidak kencang memang, namun langkahnya pasti. Seringkali larian kecilnya itu takdihiraukan. Sering kali tanpa sadar sepasang mata mawas diri. Namun tidak banyak. Tidak banyak yang paham betul bahwa ia adalah segalanya. Kini, ia semakin memacu kemudi. Meninggalkan orang-orang yang payah dan lemah.
Malam ini, bulan menari anggun di garis tata surya. Sementara bumi dalam diam, tersipu malu. Tanpa malu pun ia larut dalam alunan syair semesta. Mentari pun semakin bergairah menabuh gendang. Dan planet-planet lainnya pun ikut menari. Berputar, bertatapan, dan saling menjauh. Mereka Nampak bosan, sudah terlalu sering bertemu pada posisi yang sama. Bedanya, dulu, kini, dan esok.

Ini sebuah konsepsi yang percaya pada suatu keniscayaan.

Awas, ada jambret!

Posted by achyar89 on December 26, 2011
Posted in: for your info, tak terlupakan. 2 comments

Jakarta, 26 Desember 2011

Sumber: Beny and Mice


Hari ini bertepatan dengan tujuh tahun pasca tsunami di Aceh. Tapi kali ini saya bukan menulis tentang tsunami atau tentang kondisi di Aceh. Tidak! Tidak sama sekali. Saya ingin menulis true story yang dihimpun langsung dari pengalaman saya sebagai manusia petualanga. Ya, begitulah orang keren selalu punya cara mengungkapan gagasannya. Baiklah, saya tidak akan berlama-lama. Anda pasti sudah tidak sabaran menunggu ulasan sesuai dengan judul di atas.

Yap, kali ini saya akan mengulas tentang salah satu tindakan kriminal yang cukup populer di Indonesia selain tindakan kriminal lain seperti korupsi, dkk.

Sore itu, sekitar pukul 17.30 saya pulang dari Bekasi ke Jakarta menggunakan bis yang distop di pintu tol Timur Bekasi. Oh ya lupa, saya belum menceritakan mengapa saya dari Bekasi ya? Ok, tenang-tenang saya akan ceritakan. Jadi, pada hari itu, kalau tidak salah hari Minggu saya bersama keluarga Bangkiters reunian di rumah Kang Gena dan Teh Indri. Saat itu yang hadir tidak banyak. Ya, seperti biasa. Ada saya (selalu), kang Fiqih, teh Wenti, teh Eka, kang Gena, teh Indri, dan kang Hassan (selaku anggota kehormatan KELUARGA KEBANGKITAN).

Ok, acaranya seperti biasa. Makan-makan, ngobrol, foto-foto, dan tentu saja menengok tiga ponakan Bangkiters yang sangat lucu yaitu Nahya, Nayla, dan Amira. Kalau boleh saya bilang, nama anak-anak teh Indri & kang Gena; teh Eka & kang Fiqih seperti judul sinetron. Entahlah, mungkin suatu saat mereka akan menjadi aktris menggantikan Asmirandah dan Marshanda dengan judul sinetron Nahya, Nayla, dan Amira. Kita tunggu saja. selesai (cool ;P)

Nah, kembali ke cerita utama tentang jambret.

Bisa Anda bayangkan kondisi bis yang saya tumpangi?

Anda (sedang membayangkan): “Ya, bis-nya besar dan ber-Ac”

Heoks, Anda salah besar. Bis yang saya tumpangi sama halnya dengan kebanyakan bis jurusan Pulo Gadung – Bekasi. Sempit, tua, dan penumpangnya sangat padat. Padahal penumpangnya sudah sangat padat. Tapi masih saja dipaksa masuk. Jadilah para penumpang seperti ikan sarden yang ditumpuk di dalam kaleng. Yeah, ini realitas. Tapi harus bersyukur dan tersenyum :p

Hidup dan tinggal di kota besar seperti Jakarta memang berbeda dengan di Bandung.
Bandung memang sangat nyaman. Jika ingin kemana-mana, tidak usah khawatir akan berdesak-desakkan di bis karena banyak angkot yang berseliweran dimana-mana. Satu lagi, karena Bandung memiliki suhu udara yang cukup rendah dibandingkan Jakarta, jadi penumpang transportasi publik tidak akan terlalu kepanasan di dalam angkot/damri. Selain itu, keamanan dan kenyamanan penumpang angkot/damri di Bandung jauh lebih tergaransi dibandingkan Jakarta. Mungkin karena warga di Bandung lebih sopan karena nilai-nilai lokal yang masih kentara.

Nah, jika Anda di Jakarta, jangan harapkan kondisi di Bandung bisa Anda rasakan di sini. Apalagi jika Anda menggunakan transportasi publik seperti bis. Oh ya sampai lupa, kita kembali ke topik bahasan kita tentang jambret ya.

Perjalanan dari Bekasi ke Jakarta (Pulo Gadung) tidak terlalu lama. Ya, sekitar 45 menit menggunakan jalan tol. Setelah bisa keluar gerbang tol, penumpang pun turun satu persatu. Akhirnya, saya yang keren ini diberi juga kesemapatan duduk di kursi paling belakang.

Yeaaah, alhamdulillah.

Nah, tiba-tiba konsentrasi saya pecah. Ada penumpang yang mencurigakan duduk di sebelah saya. Seorang pemuda yang kemungkinan sepantaran dengan saya. Pemuda itu memakai kaos, celana jeans, dan sepatu kets. Sepintas jika tidak diamati secara fokus, penampilan pemuda itu layaknya seorang mahasiswa yang baru pulang kuliah. Tapi apa iya ya, kan hari Minggu?

Entahlah, bawaan saya saat itu was-was mendekati su’udzhon. Mau bagaimana lagi./ Soalnya gerakan dan bahasa tubuh pemuda itu sangat mencurigakan. Sebagai anak linguistik, saya tidak hanya paham komunikasi verbal. Tapi juga komunikasi nonverbal.

Kecurigaan saya menjadi-jadi saat kedua tangan itu muncul dari bawah tas yang ia pangku di dadanya. Ketika ada penumpang yang turun, ia memainkan sepasang tangannya untuk menggapai benda di saku atau tas penumpang.

Oh my ghost, ternyata benar kecurigaan saya. Dia seorang penjambret. “Duh, gw harus ekstra hati-hati. Dompet? Handphone? Saya cek. Alhamdulillah masih ada di saku depan. Akhirnya saya selalu pantau aktivitas pemuda ini. Dan Anda tahu, ternyata bocah ini tidak sendirian. Tetapi ada juga temannya yang beraksi di wilayah bagian depan.

Siapa target pemuda ini selanjutnya? Ah, tidak! Nampaknya saya menjadi incaran. Akhirnya saya pun memasang wajah galak dan jutek sembari melihat secara tajam pada pemuda itu. Dia pun terlihat kasak-kusuk dan akhirnya pindah ke depan.

Singkat cerita, tujuan Pulo Gadung sebentar lagi. Si pemuda mencurigakan dan temannya itu akhirnya pun turun. Saat itu juga banyak penumpang yang turun di daerah Cakung. Dan Anda tahu sahabat senjapelangi, ternyata resleting tas saya sudah kebuka. Oh, ternyata saat berdesak-desakkan turun ia beraksi.

Tapi alhamdulillah, saya tidak kehilangan barang apa pun. Alhamdulillah ya Allah.

“Buaya dikadalin,” umpat saya dalam hati.

Tiba-tiba, penumpang wanita yang duduk di sebelah saya berkata,

“Gak kena kan mas?”
“Alhamdulillah ga mba. Terima kasih”

“Dari tadi udah banyak yang kena,” lanjut si mba penumpang.
“Oh ya? Pantesan. Dari tadi saya sudah curiga.”

-selesai-

Hikmah yang saya dapat hari itu dan langsung saya forward ke teman-teman.

“KEJAHATAN TERJADI BUKAN HANYA KARENA ADA NIAT PELAKU. TAPI JUGA KARENA ADA KESEMPATAN. WASPADALAH-WASPADALAH!!”

-by: Bang Napi

Menjadi Wakil Rakyat Teladan, Sejak Bangku Kuliah

Posted by achyar89 on December 23, 2011
Posted in: INSPIRING. 6 comments

Oleh: Mahfud Achyar, Universitas Padjadjaran Bandung.

sumber: google/.com

Mengutip pernyataan salah satu personil Train yang terkenal dengan hits Hey, soul sister bahwa masyarakat Indonesia memiliki selera humor yang tinggi. Entahlah, apa yang menjadi dasar sehingga ia mengatakan hal seperti itu. Namun, agaknya pernyataan tersebut memang benar adanya. Masyarakat Indonesia memang memiliki selera humor yang tinggi. Terlebih jika yang menjadi objek humor masyarakat Indonesia saat ini adalah orang-orang yang diberi kepercayaan menyuarakan aspirasi rakyat.

Maka taksalah, jika hari ini, hampir semua stasiun televisi menanyangkan kelucuan-kelucuan wakil rakyat yang tengah beratraksi di panggung politik gedung perwakilan rakyat. Ah, rasanya memang tidak bijak memukul rata bahwa semua wakil rakyat memang penuh guyonan. Namun, apa boleh buat. Toh, dalam ilmu Kajian Budaya, sikap beberapa individu dalam satu kelompok, diasumsikan mewakili sikap secara keseluruhan kelompok tersebut. Gara-gara setitik nila, rusaklah susu sebelanga. Pribahasa tersebut sempat menjadi populer di kalangan masyarakat Indonesia ketika disampaikan oleh orang nomor satu di Indonesia, yaitu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Gara-gara kelakuan oknum yang tidak beres membuat citra wakil rakyat menjadi kian buruk di mata masyarakat Indonesia. Mungkin masih segar di benak kita saat Ketua DPR-RI, melukai perasaan rakyat karena pernyataannya kepada masyarakat yang bermukim di sepanjang bibir pantai? Atau mungkin, kita masih mengerutkan kening ketika menyaksikan ratusan anggota dewan tidak mengikuti sidang paripurna? Bahkan hingga saat ini pun kita masih mengusap dada ketika mendengar dan menonton para wakil rakyat yang terjerat kasus korupsi?

Tidak hanya sampai di situ. Masih banyak sekali kelucuan-kelucuan anggota dewan yang membuat masyarakat tertawa. Bahkan karena saking tidak kuatnya menahan tawa, pada akhirnya banyak masyarakat yang menangis. Takheran, jika kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap keberadaan wakil rakyat semakin memudar. Pasalnya, sudah terlalu sering wakil rakyat tidak menjalankan amanahnya dengan baik. Seharusnya wakil rakyat adalah duta-duta rakyat yang merasakan betul apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh rakyat.

Alih-alih menjadi duta rakyat, untuk menjadi panutan pun masih jauh dari harapan. Maka tugas terbesar dari wakil rakyat saat ini adalah bukan lagi menggodok undang-undang yang pro kepada rakyat, tapi mengambil simpati rakyat dengan menjadi teladan yang baik. Patut kita akui bahwa dewasa ini keteladanan di Indonesia sangat minim. Jika pun ada, entitasnya sangatlah sedikit. Maka sudah sepatutnya wakil rakyat menyuguhi keteladanan, bukan lagi guyonan yang membuat masyarakat geleng-geleng kepala.

Sulit memang untuk menciptakan keteladanan dalam kondisi kompleks seperti yang dialami oleh para wakil rakyat. Solusi yang bisa ditawarkan adalah mempersiapkan keteladanan tersebut sejak bangku kuliah. Mengapa bangku kuliah? Karena jenjang pendidikan tinggi merupakan gerbang kaderisasi wakil rakyat di masa depan. Bermula di bangku kuliah-lah, karakter dan kepemimpinan itu terbentuk. Lagi-lagi kita harus dikatakan bahwa hanya pemudalah satu-satunya harapan untuk memperbaiki bangsa ini. Mereka, yang merupakan entitas masyarakat akademis ditempa dalam miniatur negara yang di sebut kampus.

Di kampus sendiri, mahasiswa bisa belajar bernegara. Hal sederhana dapat kita pantau dari student government yang berlaku hampir di setiap kampus. Dalam dunia kemahasiswaan, kita mengenal lembaga kemahasiswaaan yang bergerak di bidang eksekutif yang disebut BEM, dan lembaga kemahasiswaan yang bergarak di bidang legislatif yang dikenal dengan BPM. Bahkan, ada kampus-kampus yang memiliki lembaga seperti Badan Audit Kemahasiswaan (BPK seperti di Indonesia) dan lembaga peradilan seperti Mahkamah Mahasiswa (MM).

Bagi mahasiswa yang bergerak di bidang legislatif, maka berikanlah performa terbaik. Seperti tidak telat pada sidang pleno, menguasai perundang-undangan, dan menyerap aspirasi untuk disampaikan kepada pos yang tepat, dan menjadi teladan bagi mahasiswa lainnya.

Ya, saat ini bangsa Indonesia menunggu sosok pemimpin seperti apa yang dikatakan pemerhati pendidikan, Anies Baswedan,

Indonesia butuh pemuda yang world class competent, but knowing grass root

. Mudah-mudahan suatu saat keteladanan wakil rakyat itu bukan lagi isapan jempol belaka, namun suatu keniscayaan. Kita tunggu saja.

Kali Terakhir

Posted by achyar89 on December 3, 2011
Posted in: tak terlupakan. Leave a Comment

Jatinangor, 03 Desember 2011

Ini kali terakhir saya. Kali terakhir saya ikut pleno BPM di sekre; kali terakhir saya memasang baliho. Hah, memasang baliho, spanduk, poster, dan media komunikasi lainnya adalah hal yang paling saya gemari. Masih lekat di benak saya ketika dulu, saat menjadi mahasiswa, memasang spanduk/baliho bersama teman-teman kontrakan. Ah, itu dulu. Lagi-lagi saya bernostalgia.

Kemarin, 1 Desember 2011. Saya kembali memasang spanduk dan baliho di seantero kampus Unpad Jatinangor. Bersama Danial. Senang tiada terkira. Mengingatkan kembali masa dulu. Haaa, ingin bernostalgia. Malam itu, sekitar pukul 21.30 saya memasang baliho dengan perasaan gembira. Tidak peduli kendati dingin malam menusuk. Tidak pedulu orang-orang berkata, “Loh, ko masih? Kan udah Lulus?”

Saya pun hanya bisa menjawab dengan seulas senyuman.

Hari ini, kali terakhir saya menyusun LPJ. Jika tiga tahun ke belakang saya menyusun LPJ BEM. Sekarang saya membantu teman-teman BPM menyusun LPJ. He, ampe bela-belain nginep di sekre. Tapi menyenangkan. Dan hari ini juga saya bersama teman-teman alumni (Ica dan Tina) berada di luar ruang kongres menyaksikan Panita Prama sedang memaparkan LPJ..

Kali terakhir, minggu depan saya sudah tidak di sini lagi.

Terima kasih cinta!

sebuah epilog masa depan

Posted by achyar89 on November 30, 2011
Posted in: Kontemplasi. 2 comments

Bukan karena perpisahan yang membuat hatiku sesak. Bukan juga karena waktu yang memaksa kita untuk beranjak. Bukan karena itu, kawan! Hanya saja, dadaku bergemuruh taktentu. Ketika kutahu, bahwa skenario cinta ini harus kita sudahi. Terima kasih untuk satu tahun yang penuh cinta, kehangatan, dan kebersamaan. Aku mencintai kalian karena Allah.

-Mahfud Achyar-

Sekre BPM Kema Unpad, 30 November 2011 :D

MEREKA, YANG MENUNGGU WAKTU DI RUMAH PASRAH

Posted by achyar89 on October 28, 2011
Posted in: Human Interest. 2 comments

Dan Barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? (QS. Yasin: 68)

I Love Grandma

Suatu hari pada bulan Ramadhan 2011. Saya diajak oleh teman-teman saya untuk berkunjung ke salah satu panti jompo di kota Bandung. Saya sudah lupa kapan persis waktunya. Namun seingat saya, kunjungan tersebut beberapa hari menjelang lebaran. Bagi saya pribadi, ini adalah pengalaman pertama saya. Saya belum pernah sama sekali berkunjung ke panti jompo. Saya pun tidak tahu bagaimana kondisi di sana. Kendati potret kehidupan di panti jompo sudah pernah saya saksikan di televisi atau pun pernah saya baca di majalah.

Miris dan menyedihkan. Begitulah frasa yang tepat untuk mendeskripsikan rumah tak diharapkan itu.

Alhamdulillah, Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar dan meraup hikmah dari perjalanan spiritual tersebut. Rasanya sudah lama sekali hati saya tidak tersentuh. Ah, naudzubillah. Semoga pintu hati saya tidak ditutup oleh Allah dari hikmah dan kebaikan. Amiin.

Sesampai di sana, kami pun disambut hangat oleh salah seorang petugas yang saya lupa untuk menanyakan namanya. Sesekali senyuman sumringah wanita separuh baya itu menyiratkan pesan bahwa ia sangat berterima kasih atas kehadiran kami.

Kami pun bergegas mempersiapkan segala sesuatunya untuk persiapan ifthor bersama. Ada yang sibuk dengan konsumsi, ada yang sibuk dengan dokumentasi, dan saya pun sibuk sebagai pengamat yang baik.

Menurut cerita teman saya, sebut saja namanya Are, pada tahun kemaren jumlah penghuni di panti jompo ini lebih banyak dibandingkan tahun sekarang. Tahun kemaren, rumah ini tidak hanya dihuni oleh oma-oma. Tapi juga dari kalangan opa-opa. Namun, waktu menjawab sudah. Opa-opa tersebut telah meregang nyawa, dan ruhnya telah terangkat ke haribaan Ilahi.

Sontak ketika mendengar cerita dari Are, dada saya terasa sesak. Butiran air mata telah mengkristal di penghujung mata. Ingin sekali meneteskannya walau hanya sedikit. Namun entah mengapa seolah tertahan di antara rasa malu dan ketidakberdayaan.

Kau tahu kawan, tidak ada yang spesial di rumah ini. Rumah tua ini dibangun di atas tanah yang tidak terlalu luas dengan corak gedung sangat kental Belanda. Rasanya rumah ini begitu memilukan. Dan saya tidak habis pikir, mengapa oma-oma tersebut bisa betah tinggal di sini. Apakah karena memang tidak ada pilihan lagi atau karena rumah inilah yang satu-satunya mau menampung mereka? Wallahu’alam.

Pun demikian, saya berterima kasih kepada Dinas Sosial yang masih berbaik hati memberikan fasilitas kepada mereka yang menghabisi usia dengan menunggu giliran yang tidak pasti.

Seingat saya, ada sekitar lebih 50 oma-oma yang tinggal di rumah ini. Mereka menghabiskan waktu dengan ragam aktifitas yang bermanfaat. Seperti beribadah, kegiatan rutin panti, dan menerima kunjungan dari tetamu. Namun, menurut saya jika ditanya pada hati mereka yang paling dalam, apakah mereka bahagia? Saya rasa tidak.

Kawan, saya ingin bertanya pada kalian. Orang tua mana yang pernah bermimpi bahwa kelak di hari tua ia akan dititipkan oleh anak kandungnya sendiri di panti jompo? Orang tua mana yang akan bahagia ketika di hari tuanya ditemani oleh kesepian dan kepapahan? Atau mungkin, saya ingin bertanya, orang tua mana yang terima bahwa hari-hari tuanya di habiskan di pembaringan yang dingin? Saya ingin bertanya, siapa orang tua yang mau seperti itu?

Entahlah, rasanya saya begitu dikuasai emosi ketika menulis tentang mereka yang tinggal di rumah pasrah ini. Betapa tidak, sisi kemanusiaan kita sangat dipertaruhkan ketika melihat potret semacam ini. Saya hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga saya tidak seperti anak-anak mereka. Yang begitu mudahnya menyia-nyiakan orang tua mereka hanya karena faktor kesibukan, keangkuhan, rasa malu, atau apa pun alasannya.

Menurut penuturan salah seorang oma yang saya ajak ngobrol, beliau mengaku sudah cukup lama dititipkan keluarganya di panti jompo ini. Oma tersebut berasal dari salah satu daerah di provinsi Jawa Tengah. Sejak dititipkan di panti jompo, jarang sekali keluarganya datang untuk menjenguk. Boro-boro menjenguk, menelepon untuk menanyakan kabar pun jarang. Si oma mengatakan bahwa beliau pernah diajak kembali oleh salah satu anggota keluarganya untuk tinggal bersama kembali. Namun si oma menolaknya. Saya tidak tahu apa alasan si oma tersebut menolak tawaran keluarganya. Seingat saya, oma itu hanya berkata, Ndak apa-apa, saya lebih betah tinggal di sini.

Mungkinkah ada permasalahan pelik yang terjadi antara si oma dengan keluarganya. Saya pun tidak berani lancang untuk menanyakan lebih dalam lagi berkaitan kisah hidup si oma itu. Bukan karena apa-apa. Hanya saja saya khawatir membuka lembaran nostalgia yang tidak diharapkan untuk dikenang.

Setelah berdiskusi cukup panjang dengan si oma, kami pun diberi kesempatan untuk berkunjung ke kamar oma-oma lainnya sembari berpamitan. Tidak lupa kami selipkan doa serta memberikan senyuman terbaik kami. Semoga oma-oma di sini selalu dalam keadaan sehat.

Betapa tidak kawan, kondisi oma-oma di sini sangat memprihatinkan. Ada oma yang hanya bisa terbaring di kasur kapuk yang keras lantaran penyakit stroke yang dideritanya. Ada pula oma-oma yang tidak bisa lagi berbicara karena lidahnya yang sudah kelu dan kaku. Namun, tidak sedikit oma-oma yang masih bersemangat untuk mengisi waktu-waktu senggang dengan berbagai aktifitas penuh kebaikan.

Di antara oma-oma penghuni rumah itu, ada seorang oma yang masih terlihat enerjik. Secara kasat mata dapat diperkirakan bahwa usianya sudah lebih dari setengah abad. Tapi dibandingkan oma-oma yang lain, oma ini terlihat lebih bersemangat dan atraktif. Ingatannya terhadap moment-moment penting masih kuat. Terutama ingatan bahwa tahun kemarin, teman-teman saya pernah berkunjung dan berfoto bersama dengan oma ini. Hanya saja, si oma lupa nama-nama teman saya. Mungkin wajar, mengingat usia yang sudah menua, tentu ingatan pun kian melemah. Si oma pun pernah menanyakan hal yang sama berulang kali. Kami pun tidak berkebaratan untuk menjawabnya.

Begitulah kawan, bahwa hidup ini seperti planet-planet yang beredar di tata surya. Ada masa kita berada pada satu titik tertentu dan ada masa kita berada pada titik yang lain. Semuanya telah diatur sedemikian rupa oleh Allah.

Dulu, kita tidak pernah berpikiran akan lahir ke bumi. Hingga kemudian Allah menakdirkan kita untuk lahir, berkembang, dan pada akhirnya meninggal. Jikalaulah kita berpikir secara mendalam, kita akan paham bahwa hal tersebut merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Pun sama dengan si oma ini. Dulu, beberapa puluh tahun yang lalu ia adalah seorang bayi yang tidak tahu apa-apa, lalu tumbuh berkembang menjadi remaja, dan akhirnya menjadi seperti saat sekarang ini. Siapa yang bisa menebak bahwa di masa tuanya, ia harus menghabiskan waktu-waktu yang terasa singkat di rumah pasrah ini?

Dari garis wajahnya yang sudah lelah, si oma berusaha memberikan sambutan terbaik kepada kami. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang ikhlas. Sesekali tangannya yang sudah mulai gontai berusaha mengambil benda-benda penting untuk diperlihatkan kepada kami. Si oma ingin bercerita. Tentang masa dulu yang hanya bisa dikenang dan dibagi kepada kami. Ah, aku pun berpikir, kapan terakhir kali keluarga si oma mengunjunginya. Pasti si oma rindu teramat dalam kepada keluarganya. Tapi apalah daya. Si oma hanya bisa ikhlas. Seperti halnya oma-oma yang ada di rumah pasrah ini.

Si oma tidak ingin terlihat lemah. Beliau pun berusaha menghibur kami semampu yang ia bisa. Beliau menyanyikan salah satu lagu favoritnya ketika masih muda, yaitu Teluk Bayur. Dengan suara terbata-bata, dengan nada yang takberirama, dengan tempo yang lirih, dan dengan artikulasi yang tidak jelas, si oma pun mendendangkan lagu tersebut untuk kami. Ya, hanya untuk kami.

Mendengar lantunan lagu yang mengalun dari bibir si oma, kami pun terdiam dalam balutan rasa yang mengharu biru. Ah, aku ingin menangis seketika itu. Terima kasih oma karena telah mengajarkan kami bagaimana cara mengeja kata tegar dan sabar.

Setelah bernostalgia dengan si oma ini, kami pun berpamitan untuk mengunjungi oma yang lainnya.

Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah ruangan yang sempit di sebelah kamar mandi. Aku pun mengira-ngira siapa yang menempati ruangan itu. Rasa penasaran pun mulai menguasaiku. Akhirnya langkahku bergegas menuju ruangan itu. Naudzubillah, betapa kagetnya aku saat membaca sebuah tulisan di depan ruangan itu. Tulisan yang membuatku terhenyak. Tulisan yang dicat dengan warna hitam dengan latar putih; Kamar Pasrah.

Kuberanikan membuka ruangan itu. Tiba-tiba saja kepalaku terasa pusing. Aku mencium aroma pesing yang sangat pekat. Dan kau tahu kawan, di dalam ruangan yang menyedihkan itu, ada seorang oma yang terbaring takberdaya. Oma itu terlihat sangat lemah. Rambutnya sudah memutih karena waktu dan badannya pun telah ringkih karena kepapahan. Ketika aku dan teman-teman menghampirinya, si oma pun menatap lekat kami. Dari sorot matanya, si oma ingin berkata sesuatu pada kami. Tapi entah mengapa, seolah klausa yang pikirkan oleh otaknya tertahan karena pita suara yang tidak bersahabat. Si oma terus berusaha berucap, namun taksatu katapun yang kami dengar.

Melihat kondisi yang menyedihkan seperti itu, siapa pun pasti akan terenyuh. Tanpa kami sadari, air mata pun menetes perlahan, menggenangi bagian bawah mata kami. Kami tidak bisa berbuat apa-apa. Kami pun tidak mengerti dengan isyarat yang ingin disampaikan si oma. Yang bisa kami lakukan hanyalah membalas tatapan sendu si oma dengan senyuman yang tulus. Kami berharap bisa mengirimkan energi positif untuk si oma, itu saja. Agar si oma tidak merasa sendiri. Dan maaf, hanya itu yang mampu kami perbuat.

Kamar pasrah, konon katanya kamar itu diperuntukan bagi penghuni panti jompo yang tinggal menunggu waktu. Mungkin hanya beberapa minggu berselang, kamar itu pun dihuni oleh penghuni lain. Begitulah siklus yang terjadi di kamar pasrah. Dan melihat potret yang memilukan itu, aku hanya bisa mengelus dada dan menyeka air mata. Astaghfirullah, semoga Allah membukakan pintu hati anak yang dengan angkuhnya menitipkan orang tuanya di rumah pasrah ini. Amin.

Dan pada akhirnya di penghujung tulisan ini aku memetik hikmah. Bahwa bukan karena kita muda bisa semena-mena merendahkan yang lansia, terlebih bila mereka orang tua kita. Sebab kita bisa memilih untuk berbuat baik, menyayangi dengan sepenuh hati orang-orang tua kita. Sebagaimana bila kita adalah orang tua, kita bisa memilih untuk hanya berdoa yang baik untuk anak-anak kita. Maka pada diri orang-orang di sekitar kita, seharusnya ada tempat kita menatap diri kita sendiri.

Sesungguhnya kalian berada dalam perjalanan malam dan siang. Dalam umur yang terus berkurang, dengan amal yang tersimpan, dalam kematian yang akan tiba-tiba datang. (Ibnu Mas’ul ra).

Jatinangor, 20 Oktober 2011, pukul 23: 54 WIB

Thesis: Language and Ideology of Indonesian Kompas and Malaysian Utusan in Discourse Report of Anti-Malaysian Demonstration: A Critical Discourse Analysis Using the Model of van Dijk.

Posted by achyar89 on October 13, 2011
Posted in: Linguistik. 2 comments

ABSTRACT

This thesis is based on the theme Language Ideology of Indonesian Kompas and Malaysian Utusan in Discourse Report of Anti-Malaysian Demonstration: A Critical Discourse Analysis using the model of van Dijk. The method used in this research is the qualitative method, that is, the procedure which gives a descriptive data literally and orally in society language. The objectives of this research are, to describe the condition for anti-Malaysian demonstration which is presented in the micro scale (based on text), illustrating the social reasoning of Indonesian Kompas and Malaysian correspondent in the meso scale, and describing the expression of anti-Malaysian demonstration under macro scale based on Van Dijk Critique Model. The data source used in this research is the recorded news downloaded from official websites of Indonesian Kompas and Malaysian Utusan, i.e Kompas.com and Utusan.com respectively.

The result of analysis under micro scale confirmed that Indonesian Kompas presents a positive attitude towards anti-Malaysian demonstration and negative attitude towards Malaysian which appear as the object of the demonstration, while, Malaysian Utusan confirmed the vice-versa. The analysis result under meso scale displayed that what matters the Indonesian Kompas and Malaysian Utusan on behalf of anti-Malaysian demonstration news, is nationalism ideology. The nationalism ideology which is adhered by the two media implied to the difference in establishing the topic. In its process for running an ideologist role, both media use a language as central position until it can make hegemony in more wide society structure.

Achyar, Mahfud. 2011. Bahasa dan Ideologi Kompas Indonesia dan Utusan Malaysia dalam Wacana Berita Demonstrasi Anti-Malaysia. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Posts navigation

← Older Entries
  • terjaga dengan kebaikan

  • Calendar

    January 2012
    M T W T F S S
    « Dec    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • Meta

    • Register
    • Log in
    • Entries RSS
    • Comments RSS
    • WordPress.com
  • Archives

    • January 2012 (4)
    • December 2011 (3)
    • November 2011 (1)
    • October 2011 (5)
    • September 2011 (3)
    • August 2011 (3)
    • June 2011 (10)
    • May 2011 (7)
    • April 2011 (5)
    • February 2011 (3)
    • January 2011 (7)
    • December 2010 (6)
    • November 2010 (3)
    • September 2010 (5)
    • August 2010 (9)
    • June 2010 (2)
    • May 2010 (5)
    • March 2010 (1)
    • January 2010 (6)
    • December 2009 (11)
    • November 2009 (8)
    • October 2009 (1)
    • August 2009 (3)
    • July 2009 (5)
    • June 2009 (8)
    • May 2009 (8)
    • April 2009 (10)
    • March 2009 (4)
    • February 2009 (3)
    • January 2009 (9)
    • December 2008 (14)
    • November 2008 (12)
    • July 2008 (2)
  • Badan Eksekutif Mahasiswa-Universitas Padjadjaran

    • Abdul Dagri
    • achyar fb
    • Adhinda Maharani
    • ADITYA BUDIMAN
    • Ahmad Nurhadi FK
    • Aisha Shaidra
    • Almira Aliyannissa (Moi, FK 06)
    • Aniesha Putri (Teh Puput)
    • Anniesha Putri (teh pu2t)
    • Arfa FK
    • Dagri BEM Kema Unpad
    • Dani Ferdian
    • DENI SAHMAULANA
    • Deni Sahmaulana (Wordpress)
    • Dewi Rahma, MIPA
    • Drg. Martariwansyah (FKG)
    • fiqih santoso
    • Fiqih Santoso, S.Psi
    • Fitry Juhari (Juhe) Fapsi
    • gena bijaksana
    • gena bijaksana
    • ghea
    • http://harmanza.wordpress.com/
    • imel’s blog
    • Indra Kusumah
    • KANG UGA
    • kantryblog
    • Kema Unpad
    • KEMA UNPAD
    • M Taufik Perdana
    • mellyza novisari
    • Muhammad Sayyidi Alay
    • Nafielah Mahmudah
    • Naluri Belawati (Miba)
    • Nestri FK
    • Nuni Apriani
    • Nurie Ayoedha Fapsi
    • Poundra Adhisatya FK 09
    • Rama Nurtijaya (PSDMO)
    • saidah humairo
    • Sofa Rahmannia
    • Sutji Decilya
    • TRI NUGRAHA SUKANTO
  • Blogroll

    • Asmirandah
    • Dhika Dharmansyah
    • Galang
    • luzman
    • my new blog-unpad save our nature
    • Rani Indriani Kusumah
    • Rosichin
    • sang pejalan from Padang
    • WordPress.com
    • WordPress.org
  • Me

    • Achyar
  • Padjadjaran University

    • .unpad.ac.id
    • Aditiya Pradipta
    • Afif Luthfi Fikom
    • Afifah Hifdzillah
    • Aicilay Fans Komisi 2
    • Alfa Haga Rachmady
    • Amalina "UTE" Putri
    • Andrew Handisurya FK
    • Andri Nugraha FKep
    • Daicy D. Mahia
    • Dea Tantyo (Wordpress)
    • Dea Tantyo, FE
    • Dea Tantyo, FE (Multiply)
    • Diddi Noor, Fikom
    • Fidelia Karimna Mirelva
    • Hana Muwahhida Farmasi
    • Hani noor ilahi
    • Haptia Tirta K (psikologi '09)
    • Historina Safitri Hakim, FPIK
    • Indra Pratama (Sasindo)
    • Irvan Rachmawan as trainer
    • irwan setiawan
    • Irwan Syah PAAP
    • Kema Unpad
    • KKL Sastra Indonesia Unpad
    • Linda Fahirah
    • Mariana Oktavia (Ebel FKep)
    • Muhammad Adam Randeny
    • Muhammad Irvan Hidayatullah
    • Nestry (FK-UNPAD)
    • Nurie Ayoedha Fapsi (tumblr.com)
    • Saliha (Bebe Mignone)
    • Salsabila Firdausia (Cha-Cha FK)
    • Spica Arumning Ardhi Gusti, Farmasi
    • Sugiarso Malia Saputra
    • tanri arrizasyifaa FK
    • Tina Purwantina
    • Yandri Rama Putra
  • Penulis

    • Asma Nadia
  • relations

    • Adjie Wicaksana
    • Afifah BPM Unpad
    • Fatih Ardiansyah (Fatih Beeman)
    • harlan-dimas-isjwara (dosen FE)
    • Lakso Anindito (BEM KM UGM)
    • Nestry (FK-UNPAD)
    • Pakde Kaconk DPM UB
    • Pidi Winata
    • Reza Fathurrahman
    • Ridwansyah Yusuf (Presiden KM ITB)
    • Ridwansyah Yusuf Achmad ITB
    • Ryan Alfinnoor ITB
    • Setia Furqon Khalid
    • Unpad’s blog
  • Scholarship

    • BESWAND DJARUM
    • Info Beasiswa Luar Negeri
    • lomba, beasiswa, dan prestasi
  • semua yang gw mau

    • go to my fs
    • google
    • http://www.cybermq.com/
    • MAIL ACHYAR
    • Ragil
    • YAHOO
  • SMA 1 PARIAMAN

    • Budiman Firdaus
    • DWI YOSHA FETRIYUNA
    • Elfa Silviana Amir
    • Melia Rahma FK Unand
    • michelia FK Unand
    • Nenny Darmayanti
    • SSMA N 1 PARIAMAN
    • XII IPA 2 SMA 1 PARIAMAN
  • Unpad'ers

    • Dony Fedrian Hasan (FE, Manajemen Unpad)
  • Website BEM & Unpad

    • friendster BEM UNPAD 89
    • IKA Unpad
    • kema unpad
  • Recent Posts

    • The First Kultwit #Menjadipenulis
    • Sejenak, aku pergi ke dimensi itu
    • Syair Hujan
    • Analog, bukan digital
    • Awas, ada jambret!
    • Menjadi Wakil Rakyat Teladan, Sejak Bangku Kuliah
    • Kali Terakhir
    • sebuah epilog masa depan
    • MEREKA, YANG MENUNGGU WAKTU DI RUMAH PASRAH
    • Thesis: Language and Ideology of Indonesian Kompas and Malaysian Utusan in Discourse Report of Anti-Malaysian Demonstration: A Critical Discourse Analysis Using the Model of van Dijk.
  • Categories

    • agama
    • and Entertaint
    • BERITA
    • DRAMS
    • filsafat
    • for your info
    • Human Interest
    • INSPIRING
    • kesehatan
    • Kontemplasi
    • Linguistik
    • Moments
    • Photography
    • politik
    • sains
    • sastra
    • status
    • tak terlupakan
    • tentangku
    • Uncategorized
  • Klik saran & masukan

    ghoz21 on RESENSI NOVEL MARYAMAH KA…
    ayu lestari on Sejenak, aku pergi ke dimensi…
    achyar89 on STILISTIKA: ANALISIS LIRIK LAG…
    rudi on STILISTIKA: ANALISIS LIRIK LAG…
    achyar89 on Ferry Kurnia Rizkiansyah (Ketu…
  • Tulisan Teratas

    • PERKEMBANGAN NOVEL INDONESIA
    • Perbandingan Novel Popular Tahun 70, 80, 90, dan 2000an
    • STILISTIKA: ANALISIS LIRIK LAGU EMPAT DEKADE; 70an hingga 2000an
    • STEREOTIPE, SEBUAH KEKELIRUAN BESAR!
    • RESENSI NOVEL MARYAMAH KARPOV
    • Novelisasi: Akeelah and The Bee
    • Syair Hujan
    • Menulis: Proses Kreatif Menulis
    • Puisi: ~hujan telah turun~
    • Resensi: "Dalam Dekapan Ukhuwah"
  • Facebook

    Mahfud Achyar

    Create Your Badge
  • Searching my notes

  • RSS Info Beasiswa

    • University of Twente Scholarship (UTS) for International Students December 30, 2011
      University Twente Scholarships (UTS) are scholarships for excellent students from non-EEA countries, applying for a graduate programme (MSc) at the University of Twente.
    • Fulbright Scholarships Master’s Degree Program 2012 December 8, 2011
      Fulbright Program for Foreign Students - Sponsored by US Department of State. Now available fulbright master degree scholarships for Indonesian students to study at US universities.
  • Blog Stats

    • 87,902 hits
  • Pengunjung


    Web Counters
  • Klik tertinggi

    • None
  • Flag Counter

    free counters
  • Flickr Photos

    The Golden Gate

    Between the present and the past

    Alone in the storm

    More Photos
  • MY TWITTER

    Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

  • Top Rated

Blog at WordPress.com. Theme: Parament by Automattic.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com