Pekan Ilmiah Mahasiswa 2009; Ajang Kreatvitas Mahasiswa Unpad


(peserta lomba LKIM)

Pekan Ilmiah Mahasiswa 2009; Ajang Kreatvitas Mahasiswa Unpad
21 November 2009
Laporan oleh: Mahfud Achyar, Wartawan Majalah interval21 BEM Kema Unpad
[Interval21, 21/11] Untuk meningkatkan potensi mahasiswa dalam hal penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, BEM Kema Unpad mencoba menyuguhkan sebuah ajang kompitisi yang bertajuk PIM (Pekan Ilmiah Mahasiswa). Acara yang diadakan di Pusat Studi Bahasa Jepang, Fakultas Sastra ini mendapat antusias yang cukup tinggi di kalangan mahasiswa Unpad. Terbukti, jumlah peserta yang ikut dalam berbagai kategori lomba, seperti blog, LKIM (Lomba Karya Inovasi Mahasiswa), LKTM (Lomba Karya Tulis Mahasiswa), dan EDC (English Debate Contest) ini meningkat dibandingkan tahun kemarin.
Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Eti Suryani, mahasiswi Fakultas Geologi, yang bertindak sebagai penanggung jawab pada kegiatan PIM. Ketika ditanya tujuan kegiatan ini, Eti menjelaskan bahwa kegitan PIM ini dilaksanakan untuk mewadahi kreasi mahasiswa Unpad. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan sebuah bentuk aktualisasi mahasiswa Unpad untuk mendorong misi Unpad menjadi world class university.
Nisa Sofia, Mahasiswa Fakultas Keperawatan angkatan 2007, yang mengikuti lomba EDC, mengakui sangat senang bisa berpartisipasi dalam pekan ilmiah mahasiswa ini. “Walaupun tidak memenangi lomba EDC, tetapi saya bangga karena banyak sekali pengalaman yang saya peroleh pada kontes ini. Harapan saya, semoga tahun depan jumlah pesertanya semakin meningkat dan potensi-potensi luar biasa mahasiswa Unpad semakin tergali.


(Peserta Lomba Blog, Paling pojok Achyar)

Fakultas Farmasi Unggul pada Tiga Kategori Lomba
Hampir lima puluh mahasiswa ikut dalam kegiatan PIM 2009 Ini. Dari empat kategori lomba, Fakultas Farmasi menggabet enam juara untuk masing-masing kategori. Yaitu LKIM juara 1 hingga juara III, LKTM juara 1 dan juara II, dan juara I untuk lomba blog. Sedangkan untuk kategori EDC, juara 1 digabet oleh Afian, Adipta, dan Jayanti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Selanjutnya, juara kedua diraih oleh Frisela, Noviyan, dan Ratu dari Fakultas Hukum. Sedangkan untuk juara ketiga LKTM digabet oleh Fakultas Keperawatan.

Comments (1) »

Mencari Pemimpin yang Sesungguhnya

Selama ini, terjadi kekeliruan pemahaman tentang arti kepemimpinan. Banyak orang yang mengartikannya sebagai kedudukan atau posisi yang tinggi saja. Sehingga, posisi pemimpin diincar demi mendapatkan kedudukan tinggi dalam sebuah kelompok.

Dengan paradigma itu, sebagai orang akan menghalalkan segala cari untuk menjadi pemimpin. Mulai dengan membeli, menjilat atasan, menyikut lawan, dan cara lainnya.

Apabila seseorang menjadi pemimpin lewat cara yang tidak benar, maka ia akan menggunakan kekuasaannya untuk mengarahkan, memperalat, bahkan menguasai orang lain agar selalu mengikutinya. Umumnya, jenis pemimpin seperti ini akan memaksakan kekuasaannya dengan tekanan-tekanan agar diikuti. Akibatnya, akan lahir pemimpin yang tidak dicintai, tidak disegani, tidak ditaati, bahkan dibenci oleh yang dipimpinnya.

Menurut tingkatannya, pemimpin terbagi atas lima tingkatan
1. Pemimpin yang dicintai
2. Pemimpin yang dipercaya
3. Pembimbing
4. Pemimpin yang berkepribadian
5. Pemimpin yang abadi

Nah, ketika sudah mengenal bagaimana pemimpin yang sesungguhnya, lantas apakah kita sudah siap menjadi pemimpin? Sebagai mahasiswa, seyogyanya kita mempersiapkan diri sedini mungkin untuk menjadi pemimpin. Walaupun sebenarnya, pada dasarnya masing-masing individu adalah pemimpin. Minimal memimpin diri sendiri.

Lantas, bagaimana langkah awal menjadi pemimpin? Caranya dengan memulai memimpin. Misalnya memimpin rapat, memimpin sidang, dan menempati pos-pos yang strategis. Jangan takut untuk mencoba. Anggap saja itu sebagai proses pembelajaran untuk menjadi pemimpin sesungguhnya.

Saya teringat perkataan bapak Legisan Sugimin ketika mengisi training ESQ di Jakarta beberapa waktu lalu. Beliau berkata bahwa pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang berpengaruh. Ya, kata kuncinya berpengaruh. Ketika anda mampu bisa mempangaruhi lawan bicara anda, itu berarti anda mampu menjadi pemimpin. Namun saya tegaskan, tak cukup berpengaruh saja. Setidaknya, ada lima poin di atas yang patut kita cermati untuk menjadi pemimpin yang sesungguhnya. Kelima point di atas mampu kita aktualisasikan jika semua dirangkum dan dibingkai dalam kecerdasan yang komprehensif. Baik itu intelegensia, emosional, dan spritual.

“Kepemimpinan adalah gabungan unsur-unsur kecerdasan, sifat amanah (dapat dipercaya), rasa kemanusiaan, keberanian, serta disiplin…
Hanya ketika seseorang memiliki kelima unsur ini menjadi satu dalam dirinya, masing-masing dalam porsi yang tepat, baru dia layak dan bisa menjadi seorang pemimpin sejati.

Leave a comment »

Student Governance atau Student Government?

Student Governance atau Student Government?

Beberapa tahun ini, lembaga kemahasiswaan di Kema (keluarga mahasiswa,pen) tengah memperbaiki sistem organisasi yang masih dianggap tidak ideal. Padahal jika melihat sejarahnya, hingga saat ini belum ada regulasi yang jelas bagaimana sistem pemerintahan yang ada di Kema Unpad. Sehingga dampaknya, tidak adanya kesingkronan antara komponen lembaga di tubuh Kema Unpad sendiri. Misalnya, tak adanya alur kordinasi yang jelas antara lembaga tingkat universitas dan fakultas, universitas dan UKM (unit kegiatan mahasiswa) dan sebaliknya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, sebenarnya sudah ditempuh upaya-upaya untuk merumuskan regulasi terbaik di Kema Unpad. Salah satunya, wacana menerapakan stugov (student governance/student government) di Unpad. Jika kita melihat sejarahnya, tata pemerintahan di Kema Unpad mengacu pada sistem tata negara di Indonesia. Namun, definisi dari stugov belum mampu diejawantahkan sebagai sebuah sistem yang mampu menjadi solusi untuk membenahi sistem di Kema Unpad. Di satu sisi, ada pihak yang sepakat bahwa stugov mampu menjawab semua kerancuan yang berkembang. Namun kondisnya, ada pihak (baca: mahasiswa Unpad) menolak stugov sebagai sistem Kema Unpad. Banyak hal yang melatari kenapa terjadi perbedaan paradigma di Kema Unpad.

Kapan stugov di terapkan?
Pembahasan mengenai stugov saat ini masih menjadi perhatian di Kema Unpad. BPM (Badan Perwakilan Mahasiswa) Unpad sebagai salah satu lembaga tingkat universitas pun masih berupaya untuk merumuskan stugov. Banyak jalan sudah ditempuh seperti mengadakan lokakarya kelembagaan, forum rembug mahasiswa, dan sebagainya. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada titik terang bagaimana sistem yang ada di Kema Unpad. Apakah akan menerapkan stugov atau menerapkan sistem lain. Menanggapi hal tersebut, Adriansyah Pasga Dagama, Ketua Forum Rembug Mahasiswa, mengatakan bahwa semua ini butuh proses. Jadi tidak segampang membalikkan telapak tangan. Jika kita paksakan untuk menarapkan stugov tahun ini, terkesan dipaksakan dan bisa-bisa prematur. Mahasiswa Unpad ini beragam. Jadi, sebelum diterapkannya stugov di Unpad perlu adanya kesamaan frame sehingga tak ada yang ‘tersakiti’.

Stugov untuk Unpad yang Lebih Baik
Pada prosesnya, wacana yang berkembang di masyarakat Unpad bahwa stugov ditunggangi oleh kepentingan. Menganggapi hal tersebut, Taufik Perdana Putra menegaskan bahwa tak ada kepentingan dalam stugov. Kami hanya ingin merumuskan bagaimana membuat sebuah sistem yang baik di Kema Unpad. Sehingga, Kema mampu menjadi organisasi yang ideal dan profesional.
Jika sistemnya sudah baik, tentunya hubungan antar lembaga pun baik. Tujuan kita (baca:mahasiwa Unpad) sama. Yaitu menuju Kema Unpad yang lebih baik dan mampu membanggakan Alamamater dan Bangsa.

“Kita begitu berbeda dalam berbagai hal. Kecuali dalam cinta” (Soe Hok Gie)

Leave a comment »

Motivasi Diri: Siapa Aku

Pertanyaan mendasar yang mungkin dihiraukan oleh manusia adalah siapa aku? Lantas, apa definisi yang mampu mengurai pertanyaan tersebut? Pada dasarnya, siapa pun mampu menerjemahkannya dengan menggunakan paradigmanya masing-masing.
Bagi saya sendiri, pertanyaan tersebut begitu krusial karena merupakan sebuah titik awal untuk memaknai kehidupan ini dengan lebih bijak. Menurut agama yang saya yakini, Aku (baca: manusia) adalah kumpulan materi yang berasal dari setetes air mani lalu segumpal darah, segumpal daging, dan kemudian ditiupkan ruh sebagai bukti bahwa manusia bukan hanya bersifat materi. Ruh merupakan sebuah pernyataan sikap yang nantinya akan menentukan bagaimana kita memahami kehidupan ini sesungguhnya.

Aku makhluk Tuhan
Saya adalah makhluk rabbani, tiupan yang suci, ruh yang termasuk urusan Allah, Dia menciptakannya dengan tangan-Nya, Dia meniupkan ke dalam tubuh saya dari ruh ciptaan-Nya, dia memerintahkan malaikat untuk sujud kepada saya, yang mengajari saya semua nama, membebenani saya amanah yang saya sanggupi, menganugrahkan nikmat pada saya baik lahir maupun batin, yang menundukkan untuk saya semua yang ada di langit dan di bumi, yang memuliakan saya dengan pemuliaan yang besar. Dia menciptakan saya dalam bentuk yang sesempurnanya, menganugrahi pendengaran, penglihatan dan hati, menjelaskan kepada saya dua jalan menunjuki saya kepada kedua arah, yang memudahkan jalan bagimu. Dengan izin-Nya, saya dapat menyelam di air, menembus ruang angkasa, dan Ia menanugrahkan saya kemampuan akal dan pikiran untuk menyimak kebesaran-Nya.

Kata orang bijak, “Jika seseorang sudah mengenal jelas siapa dirinya, maka ia akan ia telah mengenal Tuhannya. Jika sudah mengenal Tuhannya, berarti ia sudah mampu memosisikan dirinya sebagai manusia berakal yang senantiasa memberikan kebermanfaatan.
Ketika kita sudah mengenal siapa diri kita, lantas kita harus tahu untuk apa ‘aku’ di bumi ini. Dalam surat Adz-Dzariyat: 56-57 Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” Tujuan kita hidup di bumi ini untuk beribadah kepada-Nya, teman! Lantas, bagaimanakah kontekstual ibadah itu sendiri? ibadah tak hanya melingkupi kegiatan-kegiatan yang sifatnya rohani saja. Tapi pengertian ibadah itu luas, tergantung pada niat, tujuan, dan manfaatnya. Misalnya seperti ini, jika Anda berkunjung ke rumah teman Anda dengan niat silaturahim itu termasuk ibadah, kawan! Pada dasarnya, ibadah itu bersifat veritikal (hubungan dengan Tuhan) dan horisontal (hubungan dengan sesama makhluk hidup).

Berbicara tentang siapa aku, banyak kajian untuk mengungkapnya. Menurut Aristoteles, (yang dikenal sebagai bapak ilmu pengetahuan dan ahli filsafat), setidaknya ada empat aspek untuk mengetahui aku. Salah satunya agama. Bagi saya sendiri, agama mampu mengintegralkan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak saya. Wallahu’alam.

Leave a comment »

Ferry Kurnia Rizkiansyah (Ketua Komisi Pemilihan Umum Jawa Barat) “Bagi saya, Independensi adalah harga mati!”

Profil Alumni
Ferry-ketua-KPU-Jabar-_insert
Tahun 2009 merupakan tahun yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, tahun ini merupakan momentum pemilihan umum (pemilu), untuk menentukan siapa yang berhak duduk di kursi pemerintahan. Pada bulan April, akan dilaksanakan pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif. Selanjutnya, bulan Juli—untuk memilih presiden dan wakil presiden Indonesia tahun 2009-2014. KPU (Komisi Pemilihan Umum) berperan andil untuk menyukseskan pemilu 2009. Mulai dari sosialisasi pemilu, sampai tataran teknis ketika pemilu berlangsung. Tentunya, tidak mudah menjadi penyelanggara pemilu, seperti KPU. Butuh kerja keras dan independensi. Independensi adalah asas dasar yang harus dimiliki penyelenggara pemilu. Penyelenggara pemilu haruslah mandiri, dan harus terbebas dari kepentingan siapapun. Dialah Ferry Kurnia Rizkiansyah yang saat ini menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum Jawa Barat yang bertempat di Jl. Garut No. 11 Bandung. Sore itu, tepatnya hari Jumat (13/02/08), kru Interval 21 mendatangi beliau di kantornya. Saat kami mendatanginya, bapak dua anak itu menyambut kami dengan seulas senyuman.
Terpilihnya sebagai ketua KPU Jabar, berawal ketika beliau menjabat sebagai anggota KPU Jabar tahun 2008. Kemudian, di tahun yang sama, beliau terpilih sebagai ketua KPU. Alumnus Fisip Unpad angkatan 1993 ini menuturkan bahwa saat ini, KPU Jabar tengah sibuk mempersiapkan pemilu tanggal 9 April dan 8 Juli mendatang. Simak petikan wawancara Ferry Kurnia Rizkiansyah dengan kru Interval 21, Mahfud Achyar dan Soleh (Menteri Luar Negeri BEM Unpad).
Sejauh ini, bagaimana persiapan KPU Jabar untuk menyambut pemilu yang tinggal beberapa hari lagi?
Untuk pemilu 2009, sejauh ini persiapannya sudah 70 %. Sekarang kami sedang tahap penyediaan logistik pemilu untuk di tingkat pusat dan propinsi. Kami juga sedang memikirkan bagaimana mekanisme-mekanisme pengitungan suara di TPS (tempat penghitungan suara-red), dan mengoptimalkan sosialisasi kepada pemilih. Walaupun sampai saat ini sosialisasinya kurang optimal, tapi Insya Allah kami akan terus melakukan sosialisasi.
Lalu, apa saja tahapan-tahapan yang dilakukan KPU Jabar untuk menyosialisasikan pemilu?
Ada tiga strategi yang kami gunakan untuk menyosialisasikan pemilu. Pertama, kami—menggunakan strategi komunikasi massa. Ini merupakan senjata pamungkas. Caranya dengan mempertemukan stake holder terkait dengan masyarakat pemilih. Kedua, publikasi massa. Baik media cetak, elektronik, poster-poster, baliho dan media publikasi lainnya. Ketiga, kami membangun jejaring dengan unsur pengusaha, agama, masyarakat, dan lainnya untuk membantu sosialisasi pemilu. Ketiga hal tersebut terus kami optimalkan. Walaupun support anggaran yang disediakan pemerintah masih kurang, tapi kami tidak mau terjebak dengan anggaran, dan tetap melakukan aktivitas yang optimal.
Berapa jumlah pemilih yang sudah terdaftar di KPU Jabar?
Untuk pemilu 2009 ini, sudah ada 29.040.000 pemilih. Ini mengalami kenaikan sekitar 1juta dibandingkan pemilihan gubernur kemarin yang berjumlah 20.099.072 pemilih. Jadi, ada satu juta kenaikan dan ini terdiri dari 83.359 TPS yang ada.
Bagaimana dengan golput? Mengingat, beberapa waktu yang lalu, MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa haram golput. Adakah pengaruhnya untuk meningkatkan jumlah pemilih?
Saya pikir, fatwa tersebut mungkin ada pengaruhnya terhadap umat Islam. Tetapi ada atau tidaknya fatwa, KPU berusaha bekerja optimal dan semoga persoalan orang tidak memilih/golput punya preferensinya masing-masing. Diharapkan adanya rasionalitas dalam memandang masalah ini. Ini bukan masalah memilih atau tidak memilih, tapi bagaimana kewajiban masyarakat pemilih untuk menyukseskan bangsa dan negara. Untuk menimalisir golput, saya pikir cara yang utama adalah sosialisasi. Yang kedua, setidaknya ada pemahaman-pemahaman dari masyarakat melalui jalur struktur kami. Baik di tingkat kabupaten, kota, PPK, PPS, ataupun KPPS. Selain itu, kami juga bekerjasama dengan instansi terkait, supaya memberikan pemahaman terhadap masyarakat, institusi, dan konsituen supaya menggunakan hak pilihnya. Kami tidak punya cara lain, selain mengotimalkan dari sisi administrasi. Jumlah pemilih harus sama dengan jumlah masyarakat yang sudah terdaftar sebagai pemilih.
Bagaimana KPU Jabar mempertahankan indepensinya sehingga tidak ada tendensi terhadap salah satu calon legislatif/partai politik?
Bagi saya, independensi adalah harga mati. Jadi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Independensi menjadi asas dasar dari setiap penyelenggara, seperti KPU. Tendensi terhadap salah satu calon legislatif/parpol tidak boleh. Tidak untuk provinsi saja. Tetapi berlaku di tingkat kota, PPK, PPS, dam KPPS.
Kendala apa saja yang tengah dihadapi KPU Jabar?
Kendala yang cukup krusial adalah soal anggaran. Kenapa? Karena memang, kita butuh sekali anggaran untuk sosialisasi dan bimbingan teknis terhadap masyarakat. Kendala yang kedua adalah banyaknya aturan main yang sering muncul. Hal ini disebabkan karena kompleksitas masalah. Misalnya, terkait hasil keputusan yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi, dan semua itu harus diterjemahkan oleh KPU. Kemudian, kendala selanjutnya adalah wacana centang dua kali dari presiden dan sebagainya. Kami harapkan hanya kepastian saja.
Berapa jumlah caleg yang sudah terdaftar dan bagaimana tanggapan Anda tentang caleg muda yang banyak mewarnai pemilu di tahun ini?
Caleg yang sudah terdaftar di KPU Jabar untuk DPRD Propinsi sekitar 1551. Mereka akan bertarung untuk memperebutkan 100 kursi yang tersedia. Pemilu tahun ini banyak diwarnai caleg muda. Menurut saya pribadi, ini bagus. Ada nuansa lain dari proses pencalegan sekarang. Tapi yang peru dicatat adalah bahwa semangat muda harus betul-betul semangat pembaruan. Jangan sampai karena usianya muda saja. Bagi saya, tidak ada persoalan mau muda atau tua. Yang terpenting adalah kualitas. Mereka (caleg muda) harus melakukan hal untuk kepentingan masyarakat. Beban bagi caleg muda mungkin adalah, mereka tidak punya masa lalu. Makanya, perlu pengoptimalan kerja yang nyata.
Lalu, apa peran mahasiswa terhadap pemilu?
Mahasiswa harus berperan aktif dalam pemilu. Jangan berdiam diri saja. Mahasiswa atau siapapun jangan hanya jadi penonton sejarah. Tetapi harus jad pelaku sejarah. Momen 2009 ini harus menjadi bagian penggerak pemilu. Nah, mahasiswa bisa menjadi agen sosialisasi, dan menggawangi/memagari hal-hal yang nantinya akan menimbulkan konflik, serta menjadi mediator antara masyarakat dan partai politik. Sehingga, peran mahasiswa sebagai agent of change/social control betul-betul bisa di laksanakan. Mahasiswa harus jadi pelaku sejarah.
Terakhir, apa harapan Anda terhadap pemilu 2009?
Harapan saya semoga pemilu berjalan lancar, aman, tertib, demokratis dan sesuai harapan tentunya. Kemudian, sinergitas yang terjadi antara kami—KPU, masyarakat, pemerintah, partai politik untuk menyukseskan pemilu. Masyarakat harus memanfaatkan hak pilihnya sebagai bentuk partisipasi poltik terhadap negara. Dalam pemilu, memilih itu adalah hak. Tetapi kewajiban kita adalah membangun bangsa dan negara ini agar menjadi lebih baik. Diharapkan ini betul-betul diwujudkan dengan memilih pada tanggal 9 April mendatang. (Mahfud Achyar)

*(Tulisan di atas masih jauh dari kesempurnaan. Harap diperbaiki demi kualitas yang baik untuk Interval 21. Terima kasih)

Leave a comment »

“Dan Semestapun Bertasbih”

21092009746

Jatinangor, 04:25 wib
Sayup-sayup suara adzan terdengar dari Mushola Alislam. Mushola itu tidak terlalu jauh dari kostanku. Hanya beberapa langkah, aku pasti tiba di Mushola. Biasanya, suara adzan yang berkumandang terdengar sangat jelas. Tapi sekarang, sejak bapak yang jadi muadzin sedang sakit, maka suaranya yang lantang pun tak terdengar lagi.
Aku sentak tersadar dari dimensi mimpi yang dari tadi kujelajahi. Walau agak berat, kucoba perlahan-lahan membuka mata ini. Susah sekali membukanya. Agaknya, setan-setan masih bergelantungan di mataku. Atau mungkin, mataku telah dikencingi oleh mereka. ”Sudahlah. Nanti saja bangunnya. Tidur saja dulu!” Bisikan itu jelas terdengar di kedua telingaku. Astagfirulah. Aku berusaha bangkit dari kasur yang dari tadi memaksaku untuk tidur kembali. Selimut tebal berwarna merah itu pun kubuang jauh-jauh. Aku bergegas ke kamar mandi. Langkah kaki berjalan gontai. Aku mulai mengambil air wudhu. Pertama, kucuci tanganku yang kotor ini. Selanjutnya, air dingin di bak mandi itu membasahkan mukaku. Aku merasakan kesegaran, dan sungguh ini adalah nikmat yang sulit untuk aku ungkapkan. Beruntunglah orang-orang yang bisa bangun dan mengerjakan sholat subuh. “Lailahailallah…” suara iqomat terdengar dari mushola Alislam. Itu artinya, sholat akan segera dilaksanakan. Semua jamaah bergegas menuju mushola. Alhamdulillah, aku telah selesai menunaikan sholat subuh berjamaah. Kawan, tahukan kamu keistemewaan sholat subuh? Sholat subuh adalah pembeda antara orang yang benar beriman dan orang munfik. Bahkan, di katakan dalam sebuah hadits, “Jika kalian tahu bagaimana istemewanya sholat subuh berjamaah, maka kalian akan sholat walau dengan merangkak.” Subhanallah sekali, Allah hanya menganugrahkan nikmat subuh yang hanya dirasakan oleh umat Islam.
Setelah selesai sholat, aku memandang langit yang tampak masih gelap. Udara pagi Jatinangor masih menusuk tulangku. Bahkan angin berhembus membelai seluruh tubuhku ini. seolah ada seseuatu yang ingin ia bisikan kepadaku. Kutatap nanar langit subuh. Di atas sana, sebuah lukisan terpampang dengan begitu indahnya. Maha Karya Allah yang telah melukisnya. Pantaslah dalam surat Al-Imran, Allah berfirman: “Sesungguhnya diantara penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berfikir.” Allah telah memperlihatkan kekuasaan-Nya padaku. Aku tak bisa berkata-kata lagi. Semua terlukis begitu sempurna. Langit-langit bertaburan bintang yang gemintang. Indah dan sungguh memesona. Lihatlah, bintang-bintang itu berkelip bersamaan. Jika disatukan, aku tak dapat membayangkan betapa indahnya alam semesta ini. Aku yakin, seorang penyair sekaliber Kahlil Gibran pun tak akan mampu untuk menarasikannya. Labih dari itu, aku melihat bintang-bintang itu bertasbih kepada Allah. Bintang-bintang itu membentuk gugusan yang sangat indah. Ada yang berupa gugusan layang-layang, dan bahkan ada yang menyerupai gugusan lafaz Allah. Sungguh ini menakjubkan, kawan! Sang rembulan tampak anggun dikelilingi bintang-bintang. Ia seakan menjadi ratu di tengah cahaya. Di ufuk timur sana, sang fajar mulai menyeruak membiaskan cahayanya. Langit yang tadi gelap, perlahan ditutupi cahaya yang kemilau. Cahayanya berwarna kuning oranye. Dan satu persatu, bintang-bintang itu mengilang. Entahlah, aku tak tahu bintang-bintang itu hilang kemana. Semuanya hilang tanpa bekas.

Hari ini hari Minggu. Hampir genap dua tahun aku berada di sini—Jatinangor. Tiba-tiba saja, aku melihat foto keluarga yang terpampang di pojok meja belajarku. Foto itu adalah aku, mama, papa, dan adikku. Ya Allah, aku merindukan mereka. Apa yang sedang mereka lakukan di Pariaman? Apakah merasakan hal yang sama denganku? Rindu yang memuncak. Hari ini adalah hari libur. Biasanya, setiap hari libur aku pasti dibangunkan lebih awal oleh mamaku. Tuhan, aku sangat merindukan mamaku. Bagiku, ia adalah wanita yang luar biasa. Ia sangat perhatian kepada keluarganya. “Nak.. bangun nak. Sholat subuh dulu. Sekarang hari libur.” Ya, kata-kata itulah hampir kudengar setiap subuh dari malaikatku—ibu. Tapi sekarang, aku harus bangun sendiri. Aku harus mandiri, kawan! Dan pada pagi harinya, mama pasti telah menyiapkan sarapan untukku. Satu gelas susu, dan lontong sayur. Sarapan yang sangat enak. Kukatakan padamu kawan, orang yang paling dekat denganku adalah mamaku. Mama sering menjadi tempatku berkeluh kesah. Ia tidak pernah mengeluh karena bosan mendengarkanku. Atau, ia tidak pernah lelah untuk membangunkanku setiap pagi. Sering, aku tidak membalas pengorbanan mama kepadaku. Malah aku sering sekali mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk kuucapkan. Aku sungguh berdosa. Aku sering sekali menuntut hakku seenak hatiku.
“Mama minta duit buat jajan dong. Duitku sudah habis!”
“Ya Nak. Nanti mama kirim”
Mama selalu memenuhi permintaanku. Aku tahu betapa besarnya pengorbanan mama padaku. Andai aku bisa memutar waktu, akan keperbaiki semua salahku pada mama. Kawan, banyak kisah yang ada di benak ini tentang mama. Aku beruntung sekali memiliki seorang malaikat seperti mama.
Pagi-pagi benar papaku juga sudah bangun. Tuhan aku merindukan lelaki itu. Papa sering sekali mengenakan kemeja. Ia memang gagah, dan kesahajaannya selalu terukir dengan seluas senyuman. Kawan, aku memang tak sering berkomunikasi dengan papa. Ia adalah lelaki yang tak banyak bicara. Bisa dikatakan, papa sangat berbeda denganku. Aku ‘tukang bicara’ sedangkan papa bicara seperlunya saja. Komunikasi yang sering ia gunakan adalah komunikasi non verbal. Jika ia tidak senang akan sifatku, ia cukup mengerutkan keningnya. Dan aku pun paham apa yang ada di benak papa. Walau tak sering berbincang, tapi aku sering di ajak bertamasya ke luar kota. Bertahun-tahun. Mulai dari kecil sampai aku SMP. Tapi setelah SMP, semuanya berubah kawan! Aku tak bisa menceritakannya padamu. Cukup hanya aku yang tahu. Bahkan, ketika aku duduk di bangku SMA, kami sering sekali berbeda pandangan. Papa memiliki cara pandang yang berbeda, sedangkan aku juga berbeda. Sampai akhirnya, hubungan aku dengan papa sempat renggang beberapa bulan. Sekarang ketika aku telah jauh dari papa, aku sangat merindukan sosok beliau. Sosok ayah yang sangat perhatian kepada anaknya.
Aku punya adik. Namanya Mayang. Ia berumur 7 tahun. Sekarang, ia telah duduk di kelas dua SD. “Hhhh.. kuhela napas ini dalam-dalam. Mencoba untuk mengenang lagi kisaku dengan Mayang.” Waktu pagi kumanfaatkan untuk mengusili Mayang. Aku sangat senang mengusili dia. Rengekannya tak membuatku berhenti untuk menggoda Mayang. Dia anak yang penurut. Wajah lucu, rambut pendek yang ikal, serta pipinya yang tembam membuatku semakin senang menggodanya.
Suatu hari, Mayang pernah menangis karena aku harus pergi ke Bandung. Mungkinkah ia tidak terima kalau aku harus ke Bandung. Tapi mau bagaimana lagi. Aku harus melanjutkan studi di Bandung. Aku harus pergi. Suatu saat, aku berharap bisa menjadi kakak yang baik untuknya.
“Tuhan pemilik nyawaku. Betapa lemah diriku ini. berat ujian darimu. Kini kupasrahkan pada-Mu.
Sebuah bait di atas cukup mewakili perasaan yang pernah kurasakan ketika kondisi sakit yang pernah merenggut nikmat sehatku.

Leave a comment »

“Menemukan Kembali Ruh Humanistik Mahasiswa”

Tulisan ini saya persembahkan untuk: keluarga saya di Sumatera Barat. Kita pernah mengalami saat yang cukup menakutkan dalam hidup ini. Tapi, ketika saya melihat senyuman kalian, saya yakin bahwa badai itu pasti berlalu. (Bandung, 13 November 2009 pukul 0:23 WIB)

Bingkai Realitas Pemuda Indonesia
gempa_2

Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya terbanyak di dunia. Jika diamati menggunakan piramida kependudukan Indonesia, ternyata rasio perbandingan jumlah usia tua dan usia muda sangat timpang. Piramida kependudukan di Indonesia menyatakan bahwa jumlah penduduk yang berusia muda lebih banyak dibandingkan usia tua. Itu artinya, Indonesia memiliki potensi luar biasa sebagai negara maju karena sumber daya manusia muda yang banyak. Lantas, apakah kondisi yang demikian membuat kaum muda Indonesia dapat diandalkan demi pembangunan bangsa?

Jika kita cermati dengan kaca mata realitas, nyatanya hingga kini kaum muda Indonesia belum mampu sepenuhnya memberikan konstribusi yang nyata bagi bangsa ini. Sekarang yang jadi pertanyaan, kenapa kondisi ini bisa terjadi? Menurut hemat saya, ada beberapa faktor yang menjadi kendala dalam mengoptimalkan produktivitas kaum muda di Indonesia.

Logika sederhana seperti ini, untuk menghasilkan karya-karya yang besar tentunya kita harus mempersiapkan bekal agar karya kita menjadi lebih berguna bagi kemashlatan bersama. Lalu, bagaimana cara kita untuk mempersiapkan bekal itu? Salah satu caranya dengan belajar. Nah, apakah belajar harus di lembaga pendidikan atau tidak? Menurut Thursan Hakim, belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan.

Menurut saya, belajar adalah salah satu faktor utama kenapa kaum Indonesia kurang produktif, kurang cakap, kurang tanggap, dan sebagainya. Padahal, Dinas Pendidikan Nasional telah menetapkan wajib belajar minimal sembilan tahun. Tapi nyatanya, himbauan tersebuat tak jua mampu meningkatkan kapabilitas intelektual, emosional, dan spritual kaum Indonesia.

Pertanyaan yang cukup menggelitik saya adalah sebenarnya apa yang salah dengan kaum muda Indonesia sehingga tak menjadikan belajar sebagai langkah-langkah untuk pendewasan dan kehormatan? Pertanyaan ini cukup dalam untuk dikaji lebih lanjut. Tapi yang jelas, inilah realitas kaum muda Indonesia sekarang.

Paradigma yang berkembang, kaum muda masih dianggap sebagai masalah. Bukan sebagai one way solution dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang menghimpit bangsa ini. Lantas sebagai kaum muda, akankah kita hanya berpangku tangan seraya berkata, “Muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk syurga.” Tidak! Slogan itu terlalu hina bagi kita kaum muda karena pada hakikatnya adalah komponen terpenting suatu bangsa. Bahkan, presiden Soekarno pernah menyampaikan sebuah kata mutiara yang cukup menggugah. “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. (Bung Karno)

Jadi intinya, kaum muda adalah harapan bagi bangsa ini. Banyak mimpi-mimpi besar yang harus diwujudkan kaum muda. Sekarang, saatnya bangkit, kawan! Lantangkan suaramu. Pecahkan stigma-stigma negatif tentang pemuda Indonesia. Buktikan pada dunia bahwa kita adalah garda terdepan dalam memajukan bangsa Indonesia.

Mahasiswa itu pemuda
Menurut Adhyaksa Dault, mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga, usia kaum muda berkisar antara usia 16—30 tahun. Alasannya, karena pada usia tersebutlah seseorang masih mampu produktif dan menghasilkan karya dengan baik dan optimal.
Lantas, pemuda yang bagaimana yang mampu sebagai pemegang estafet akselerasi untuk Indonesia lebih baik? Banyak pilihan yang mungkin terbesit di benak Anda. Apakah itu pemuda yang cerdas dan berkepribadian, atau pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan sesuatu yang tidak berguna? Saya yakin, jawaban Anda adalah pemuda yang cerdas dan berkepribadian. Cerdas tak hanya diukur dengan seberapa tinggi kecerdasan IQnya saja. Melainkan cerdas ketika mampu memosisikan dirinya dan sadar betul perannya sebagai kaum muda. Selain cerdas, berkeribadian adalah salah satu kombinasi yang elok untuk menggambarkan pemuda yang sesunguhnya.

Saya yakin, sebuah abstraksi yang telah saya kemukakan di atas sudah membuat Anda mengerti siapa pemuda yang saya maksud. Ya, benar atau tidak tebakan saya, tapi saya yakin, Anda sepakat bahwa orang hebat itu adalah mahasiswa.

Bagi bangsa Indonesia, bisa dikatakan mahasiswa adalah golongan yang cukup ekskusif. Kenapa? Karena pada kenyataannya, jumlah mahasiswa di Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah pemuda yang tidak berstatus mahasiswa. Namun, apakah sebagai mahasiswa kita bangga akan ke-ekslusif-an kita? Di satu sisi, kita harus bangga karena kita adalah orang-orang beruntung karena tidak semua pemuda yang mampu mengecap pendidikan di perguruan tinggi. Tapi di sisi lain, kita harus menyadari peran kita sebagai mahasiswa.

Mahasiswa adalah insan pembelajar yang memperjuangkan nilai-nilai dasar dalam berkehidupan di tengah masyarakat. Sebuah nilai humanistik bagaimana memanusiakan manusia. Selain itu, ada juga yang berpendapat mahasiswa adalah kaum marginal yang memiliki mimpi dan harapan yang dibuktikan dalam kerja nyata.

Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik di mana dalam catatan sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan. Mahasiswa di kenal dengan jiwa patriotnya serta pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Setidaknya, ada empat peran mahasiswa. Yaitu peran moral, peran sosial, peran akademik, dan peran politik.

Namun, pada tulisan ini saya tidak mengupas peran mahasiswa secara keseluruhan. Saya akan menitikberatkan peran mahasiswa yang berlakon sebagai peran sosial. Kenapa peran sosial? Karena korelasi antara peran moral, peran akademik, dan peran politik sudah menjadi siklus lingkaran mahasiswa secara mutlak. Namun ternyata, sering kali mahasiswa melupakan peran pentingnya sebagai agen sosial.

Salah satu amanah tri darma perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Nah, pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu aktualisasi yang nyata bagi mahasiswa sebagai agen sosial. Tapi yang jadi pertanyaan, bagaimana caranya mahasiswa mampu mengaktualisasikan peran sosialnya dalam dunia kampus? Ya, diakui pertanyaan ini cukup sulit untuk dijawab. Namun, tidak menjadi pembenaran untuk kita (baca: mahasiswa) hanya berdiam diri.

Lalu, perlukah sebuah wadah untuk menghimpun peran-peran sosial mahasiswa agar menjadi peran yang luar biasa? Tentu. Mahasiswa memerlukan wadah untuk menyatukan berbagai macam energi positif tersebut agar peranan yang mulanya ‘kecil’ menjadi peranan besar yang terorganisir. Karena jika tidak, peran-peran sosial tersebut seakan tak ada ruhnya.

Mahasiswa tanggap bencana
Salah satu cara memainkan peran mahasiswa sebagai agen sosial adalah dengan terjun langsung ke ranah sosial yang nyata, misalnya musibah atau bencana. Sebagaimana yang kita tahu, Indonesia merupakan negara yang rawan akan bencana. Jika melihat sebab terjadinya bencana, maka benca tersebut dibedakan menjadi dua. Yaitu bencana karena ulah perbuatan manusia seperti banjir dan kebakaran. Selanjutnya, ada bencana yang disebabkan oleh alam sendiri misalnya gempa, tsunami, dan sebagainya.

Ketika musibah senantiasa melanda negeri ini, apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa? Apakah kita hanya cukup mengetahui berita tentang musibah-musibah yang terjadi? Atau, kita cukup sadar untuk menjalankan peran kita sebagai agen sosial. Saya yakin, sebagai insan intelektual mahasiswa pasti akan memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya ketika bencana tiba.

Lantas, kontribusi apa kiranya yang mampu diberikan mahasiswa?
Take action
Langkah yang cukup efektif yang bisa dilakukan mahasiswa ketika terjadi bencana adalah langsung melakukan tindakan kemanusiaan. Bentukannya seperti menggalang dana dan turut menjadi relawan bencana. Seperti yang saya katakan sebelumnya, perlu sebuah wadah untuk melegitimasi aksi kemanusiaan kita (baca:mahasiswa). Jika tidak, tentunya akan ada permasalahan-permasalahan yang muncul di lapangan. Contoh sederhananya, korban bencana yang kita tolong bisa jadi akan mempertanyakan bantuan yang kita berikan jika tidak ada kejelasan dari mana sumbernya dan semacamnya. Oleh karena itu, penting bergerak bersama dalam suatu wadah.

Penyuluhan akan bencana
Peran in bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau segelintir orang saja. Tetapi semua pihak termasuk mahasiswa. Ya, bencana tidak dapat diprediksi kapan terjadinya. Namun, ada cara cerdas yang bisa lakukan yaitu dengan mengenal bencana-bencana dan mencarikan sebuah solusi ketika bencan itu terjadi. Misalnya, mahasiswa menyosialisasikan tentang gempa kepada masyarakat luas dan memberikan pembelajaran apa yang mesti dilakukan ketika gempa terjadi. Mahasiswa bisa bekerja dengan LSM atau organisasi terkait, misalnya SAR, PMI, dan lainnya.

Berdoalah, kawan!
Bencana dan musibah tidak dapat diprediksi oleh siapa pun. Tapi minimal, kita berdoa agar musibah tidak terjadi di negeri kita. Anda percaya kekuatan doa? Ketika meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa doa kita akan dikabulkan, saya sangat yakin Tuhan pasti menjaga negeri kita. Asalkan, kita sama-sama sadar bahwa negeri yang telah ‘rusak’ harus segera diperbaiki. Belajar untuk berubah demi kebaikan.

“masa ini sungguh buruk, kawan! Tapi baguslah begitu. Karena kita di sini untuk membuatnya lebih baik lagi”

Kawan, mungkin hanya beberapa solusi yang mampu saya berikan untuk menjalankan peran kita (saya dan anda mahasiswa) sebagai agen sosial. Bahkan, saya tak cukup memiliki referensi akan peran itu. Tapi saya meyakini bahwa ini adalah pengharapan seorang mahasiswa yang masih peduli dengan permasalahan yang ada di negerinya.
Mungkin ini tak cukup memberikan solusi, atau mungkin ini solusi-solusi yang saya tawarkan sudah sangat usang. Tapi saya yakin, ketika mimpi-mimpi ini dituliskan oleh seribu, sejuta, bahkan oleh semua mahasiswa di Indonesia setidaknya mampu mengembalikan ruh-ruh humanistik kita sebagai mahasiswa. Saya katakan, mahasiswa itu pembelajar dan tak ada batasanya untuk belajar.

“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan segala puji di akhirat bagi Allah. Dan Dialah yang Mahabijaksana, Mahateliti” (Saba’:1)
Orang yang berharap melihat sukses di mana orang lain melihat kegagalan, sinar mentari tatkala orang lain melihat bayang-bayang dan kilat-guntur. (OS Marden).

Comments (1) »

Sebuah Tanya dari Soe Hok Gie

semeru

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

(Puisi Soe Hok Gie)

Sebuah renungan buat yang mengaku sebagai aktifis

Sekitar tahun 60an, seorang mahasiswa Universitas Indonesia bernama Soe Hok Gie begitu menginspirasi banyak orang dengan tulisan-tulisan kritikan yang dimuat di surat kabar. Gie, seorang pemuda keturunan tiongohoa yang bakat humanistik begitu peka.

Kondisi politik Indonesia (tahun 60an) yang kacau tak membuat Gia lantas berdiam diri saja. menyadari bahwa Ia merupakan bagian dari elemen masyarakat, Gie berjuang mencari keadilan dengan cinta yang ia miliki kepada bangsa ini, yaitu Indonesia.

“Aku ingin agar mahasiswa-mahasiswa ini menyadari bahwa mereka adalah “the happy selected few” yang dapat kuliah dan karena itu mereka harus juga menyadari dan melibatkan diri dalam perjuangan bangsanya.”

(Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran)]
csd

benar kawan! kita adalah mahasiswa yang masih disubsidi oleh masyarakat Indonesia. lantas, apakah kita hanya berdiam diri saja ketika melihat rakyat mendirita. Korupsi, kriminal, dan kekacauan seakan ritual suci di bangsa ini.

sungguh mengherankan, bagi kita yang mengaku sebagai agent of change, tapi tak pernah terbesit bergerak untuk melawan tirani.

mungkin sekarang, tidak ada lagi-lagi Gie di era modern ini. Mungkin tak ada lagi yang peduli akan nasib rakyat Indonesia? dimana Gie-Gie selanjutnya?

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
bersatu padu tuntut perubahan
bersatu tekad dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita
terciptanya masyarakat sejahtera
terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita berjuang
di tangan kita tergenggam arah bangsa
ayolah kawan ayo kita dendangkan
sebuah lagu tentang perubahan

di bawah topi jerami
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

di bawah topi jerami
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
bersatu padu tuntut perubahan
bersatu tekad dalam satu suara
demi tugas suci yang mulia

Hari-hari esok adalah milik kita
terciptanya masyarakat sejahtera
terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba

marilah kawan mari kita berjuang
di tangan kita tergenggam arah bangsa
ayolah kawan ayo kita dendangkan
sebuah lagu tentang kebebasan

di bawah rezim tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

di bawah rezim tirani
kususuri garis jalan ini
berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

berjuta kali turun aksi
bagiku suatu langkah pasti

bagiku suatu langkah pasti
MEMORIAN+SOE+HOK+GIE
(semoga kita mampu mengembalikan ruh-ruh perjuangan mahasiswa yang sesungguhnya)
hidup mahasiswa!! hidup rakyat indonesia!

Leave a comment »

G-30 September = Gempa (30/09/09)

Badan Geologi: Gempa Pariaman Tidak Berpotensi Tsunami
pariaman-kala-senja

Rabu, 30 September 2009 | 20:51 WIB

TEMPO Interaktif, Bandung – Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Dr Surono menduga gempa yang terjadi sore tadi di Sumatera Barat, kemungkinan tidak berdampak tsunami. Pasalnya pusat gempa berada pada kedalaman 80 kilometer, berpusat 45 kilometer dari Kota Padang dengan kekuatan 7,6 Richter versi USGS. Pusat gempa itu sendiri diperkirakan berjarak 8,5 kilometer dari garis pantai barat Sumatera.
gempa
Saat ini dia mengaku belum berhasil mengontak sejumlah pengamat gunung yang berdekatan di kota itu seperti di Gunung Marapi dan Gunuing Talang. Kendati satu-satunya informasi yang diterimanya berasal pesan pendek (SMS) dari pengamat di Bukit Tinggi.

Pengamat yang kini tidak bisa dikontaknya lagi, sempat mengabarkan skala kekuatan gempa yang terjadi di Bukti Tinggi yakni antara IV-V MMI. Dengan skala kekuatan goncangan itu, paparnya, kerusakan tetap bisa terjadi untuk bangunan yang tidak tahan gempa.

Surono yang saat dihubungi masih berada di Yogkarta untuk mengikuti rangkaian pembukaan Museum Gunung Api di Merapi mengaku khawatir atas skala kerusakan yang mungkin terjadi. Dia membandingkannya dengan gempa yang melanda Jawa Barat. “Struktur tanah di sana bekas endapan gunung api, mirip seperti di Jawa Barat,” katanya.

Dia sudah menyiapkan tim untuk segera berangkat ke Padang untuk menyisir kerusakan akibat gempa itu esoknya. “Saya sudah koordinasi tim akan berangkat besok ke sana,” katanya.

Comments (2) »

Bicara dengan bahasa hati

keys-heart

Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta.
Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang.
Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan.
Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan.
Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran.
Semua itu haruslah berasal dari hati anda.

Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula.
Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapa
tajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam
menjalani segala sesuatunya.

Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya
dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau, membujuknya
dengan berbagai gula-gula dan kata-kata manis. Anda harus
mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang
jauh di dalam dada anda.

Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada
keberhasilan anda.

**************************************************

Hari Ini.

Aku akan memulainya dengan ucapan syukur dan senyuman bukan
kritikan. Akan kuhargai setiap detik, menit dan jam, karena
tak sedetik pun dapat ditarik kembali.

Hari ini tidak akan kusia-siakan, seperti waktu lalu yang
terbuang percuma. Hari ini takkan kuisi dengan kecemasan
tentang apa yang akan terjadi esok.

Akan kupakai waktuku untuk membuat sesuatu yang kuidamkan
terjadi. Hari ini aku belajar lagi, untuk merubah diri sendiri.

Hari ini akan kuisi dengan karya.

Kutinggalkan angan-angan, yang selalu mengatakan:
“Aku akan melakukan sesuatu jika keadaan berubah.”

Jikalau keadaan tetap sama saja, dengan kemurahan-Nya aku
tetap akan sukses dengan apa yang ada padaku.

Hari ini aku akan berhenti berkata: “Aku tidak punya waktu”
Karena aku tahu, aku tidak pernah mempunyai waktu untuk
apapun. Jika aku ingin memiliki waktu, aku harus meluangkannya.

Hari ini akan kulalui seolah hari akhirku. Akan kulakukan
yang terbaik dan tidak akan ditunda sampai esok.
Karena hari esok belum tentu ada.

Comments (1) »