Posted by: achyar89 on: January 24, 2010
hujan telah turun
namun tak mampu padamkan
kobaran api di hati
berkoar-koar semakin besar
Hujan telah turun
Namun tak kuasa basahi jiwa yang kering
Semakin kering,
Tambah gersang
hujan telah turun
namun tak bisa tenangkan
pikiran,
berkelabat tak menentu
semraut semakin kusut
hujan telah turun
namun rintiknya tak
sentuh bumi
Kapan hujan turun?
Inpirasi: saat hujan mengguyur Jatinangor (23/01/09) pukul 15:10 WIB
Posted by: achyar89 on: January 21, 2010
Kata bijak hari ini: Janganlah lihat siapa yang memberikan nasehat kepadmu. Tapi lihatlah apa yang diberikannya untukmu. (Anonim)
Kawan, siapa pun bisa memberikan inspirasi untuk Anda. Tak terkecuali; tukang sapu jalan, satpam, dosen, teman karib Anda, dsb. Namun terkadang, kita seakan enggan untuk sedikit memetik ilmu dari lingkungan sekitar kita. Seolah kitalah yang paling cerdas dan tahu akan segala hal. Mungkin, kita menganggap orang yang memberi nasehat kepada kita lebih rendah wawasannya dibandingkan kita. Nah, inilah yang dimaksudkan hadits sebagai salah satu sifat orang sombong. Orang sombong adalah orang yang tidak mau menerima kebenaran dan merendahkan orang lain. Naudzubillah. Semoga kita bukan termasuk ciri-ciri tersebut. Amin.
Saya akan mengulas sedikit sebuah teori Culture Studies yaitu Stereotipe. Teori ini menjelaskan konspesi mengenai sifat atau golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Nah, tanpa disadari atau tidakternyata teori ini begitu lekat dengan pandangan manusia dari belahan manapun. Misalnya seperti ini, Orang Eropa mungkin menganggap manusia Indonesia sebagai pribadi yang vandalism, tidak teratur, dan memiliki budaya disiplin yang buruk. Hal ini dibuktikan dengan aliran teori Filsafat empirisme yang memandang segala hal yang terjadi dari pengalaman (yang ditangkap indera) manusia.
Sekarang jadi pertanyaan, kenapa orang Eropa bisa berpandangan seperti itu terhadap orang Indonesia yang jelas-jelas itu bersifat subjektif dan mengeneralisasi semua orang Indonesia. Kawan, itulah yang disebut stereotipe.
Mungkin stereotipe itu juga berkembang hingga saat ini di dalam setiap pribadi kita. Adakah yang salah dengan stereotipe? Hingga saat ini tidak ada yang menyatakan bahwa itu kata sifat yang salah. Namun, jika kita stereotip semakin dikembangbiakkan bisa saja menjadi virus yang bernama buruk sangka.
Ok, kembali ke topik awal tentang perbincangan saya dan teman-teman bersama pak Indra Perwira. Ini akan menjawab bagaimana korelasi stereotipe dengan kepribadian suatu bangsa.
Indra Perwira: Suatu ketika pada tahun 1978, saya berbincang dengan teman saya dari Korea. Saat itu saya berada di Korea. Teman saya itu berkata kepada saya.
Mr. Korea: Kenapa orang Indonesia meminum kopi dengan perlahan (saat kopi panas). Berbeda dengan kami (bangsa Korea) yang menunggu hingga kopi itu agak dingin, dan langsung meneguk kopi itu dengan satu tegukan saja.
Indra Perwira: Ya, karena pada dasarnya kami berasumsi biar lambat asalkan pasti
Mr. Korea: Nah, itulah yang membedakan kami bangsa Korea dan Indonesia. Kalian mengerjakan sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan selama dua jam, tapi dilakukan selama empat jam!
Indra Perwira: (Saya sebenarnya merasa tersinggung sebagai orang Indonesia. Tapi mungkin benar, bahwa filosofi suatu bangsa sedikit banyaknya berpangaruh terhadap kepribadian suatu bangsa).
Kawan, mungkin anda akan berpikir betapa sotoynya Mr. Korea itu. Dengan gampangnya menjudge suatu bangsa tanpa beralasan. Karena faktanya, tidak semua orang Indonesia yang seperti itu. Saya yakin, masih banyak orang di luar sana (kalau kata teman saya invisible hands) yang mungkin berpikir lebih maju dibandingkan orang Korea atau bahkan bangsa Eropa. Alih-alih stereotipelah yang berperan saat itu.
Sebagai orang yang terlahir di bumi Indonesia, saya pikir kita tidak akan terima dengan tudingan yang berkonotasi negatif seperti itu. i am proud to be a Indonesian. And we will try to change our habbits to be a better. Lets start, guys.Memang tidak dipungkiri itu stereotipe itu benar adanya karena kata orang bijak, Kebiasaan akan menjadi karakter, karakter akan menjadi tabiat. Terlepas dari itu semua, saya dan kita akan buktikan bahwa karakter kami dibentuk dari ajaran suci Islam sebagai Rahmatan lil alamiin. Itu akan cukup membantah stigma-stigma tentang generalisasi. Every body is different with others. So, dont judge someone by the country, culture, skin, etc.
Jatinangor, 22 Januari 2010. Pukul 0:19 WIB. Ketika lagu Whitney Houston- I’ll always love you menemani malam yang semakin merangkak pagi.
Posted by: achyar89 on: January 20, 2010
paration Perfect Perfomance!! Yap, itulah satu frase yang cukup menginspirasi bagi saya hingga hari ini. Kata-kata itu saya baca di buku Andrea Hirata (Saya lupa judulnya apakah; Sang Pemimpi atau Endensor). Tapi benar adanya. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, maka mau tidak mau kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.
Finally, UAS pun berakhir pada hari Jumat (15/01) yang ditutup dengan soal-soal keren matakuliah Sociolinguistic. Alhamdulillah, rentetan UAS berjalan dengan baik. walaupun sebenarnya masih banyak kekurangan di sana-sini. Tapi it’s okay. Eat least saya sudah berusaha semampu saya. All out for exam. Apa pun resultnya, saya akan terima dengan qana’ah. Amin.
Pukul 14.00 WIB. Hari ini cukup berat bagi saya. Selain dua matakuliah UAS; Drama dan Sociolingusitic, tapi ada satu hal yang mengganjal dalam hati saya. Beberapa waktu lalu, saya mendapat email dari pak Erman. Beliau adalah Humas Unpad yang menawari saya untuk menjadi reporter website Unpad. Ketika saya membaca email tersebut, saya merasa senang karena ini adalah pengalama yang luar biasa. Namun di lain hal, saya merasa tidak mampu untuk menerima tawaran tersebut. Saya masih banyak kekurangan dalam hal kepenulisan jurnalistik.
Tapi setelah meminta advice dari sang inspirator saya:Gena Bijaksana, Yuni Murni Asih, Dwiryani Arizona, Abdul Qadir Hassan, dll akhirnya saya putuskan untuk menerima kesempatan itu. Pertama, itu akan menguntungkan bagi CV saya. Kedua, untuk memperluas jejaring, dsb. Tapi, jadwal wawancaranya pukul 15.00 WIB. Oh, no! Bukankah saya masih UAS? Lah, mana mungkin bisa ke Dipati Ukur yang jaraknya 21 KM dengan waktu yang amat sempit. Hopeless.
Akan tetapi, saya berusaha untuk berpikir positif. The law of attraction. Saya masih ingat teori yang ditulis oleh Ronda Byrne dalam bukunya The Secret. InsyaAllah saya pasti bisa tiba di DU dengan tepat waktu dan wawancaranya berhasil. Pasti bisa, azam saya dalam hati.
Saya pun berangkat dari Nangor pukul sekitar 14.15 WIB. Sesampai di tol Moh Toha, tiba-tiba sayup-sayup saya mendengar suara takbir. Ah, rasanya gak mungkin ada yang takbiran. Sekarang bukan hari raya idul fitri ato idul adha. Tapi kok? Oh, my god! Don’t i know? Hari akan terjadi peristiwa besar bagi semesta. Fenomena gerhana matahari. Setahu saya, gerhana itu terjadi karena posisi bumi, matahari, dan bulan berada di garis yang sama. ya, kurang lebih seperti itu yang dijelaskan oleh Bu Emi guru SD saya.
Dengan semangat yang berapi-api saking penasarannya untuk melihat secara langsung gerhana matahari, saya pun melihat ke matahari dari dalam bus Damri. Tengok kiri tengok kanan. Tapi saya belum menunjukkan gerhana matahari. Kegelisahan posisi duduk saya membuat orang di sebelah saya tampak tidak nyaman. Bahkan mungkin pria itu merasa gelisah karena saya grasak-grusuk gak jelas. Hampir setengah jam saya melototi matahari, tapi masih tetap sama. Terang dan sangat menyilaukan. Sepertinya sia-sia apa yang gw lakuin. Toh dari tadi gerhana mataharinya gak muncul-muncul. Saya pun menelan kekecawaan. Huffftt.
Pukul 15.30 WIB. Saya pun akhirnya nyampe di Dipati Ukur. Tapi. Rasa penasaran semakin menyeruat kepada sang gerhana yang dari tadi saya pantengi. Ah, sial! Udah dari tadi lihat ke atas langit tapi gak keliatan juga tuh gerhana. Udah itu, pandangan gelap serta berkunang-kunang karena menatap nanar cahaya matahari yang menyilaukan. Trus, tiba-tiba saudara Trio Saputra sms saya. “Udah pada sholat gerhana belum? Bla..bla… Dengan penuh kekecewaan, saya pun melangkah ke masjid Al-Jihad buat sholat Ashar.
Nah, next inilah pengalaman terbaru saya. Interview job baru. Saya ditawari sebagai humas Unpad. Ini kali pertama saya wawancara kerja. Saya diinterview oleh Bu Weny (Kepala Humas Unpad). Finally, saya diterima kerja. Asyik..asyik.. pengalaman baru.
Rasa syukur tak henti-hentinya mengucur dari bibir ini. Bukan karena diterima kerja doank, tapi karena saya begitu bahagia karena doa-doa saya seakan begitu cepat diijabah oleh Allah. Ingin sekali saya melukis rasa syukur ini di kanvas langit.
Langit senja telah tiba. Indahnya senja pelangi. Terima kasih Rabbku.
Senja Pelangi-Ketika Perjalanan di Tol Moh Toha-Cileunyi
Posted by: achyar89 on: January 17, 2010
Laporan oleh: Mahfud Achyar
[Unpad.ac.id, 17/01) Banjir yang melanda desa Cikeruh, Jatinangor pada Rabu (6/01) lalu, mengakibatkan beberapa rumah tergenang bahkan ada yang terbawa arus air. Damah (59 tahun) warga RW 09, merupakan salah satu korban yang merasakan dampak tersebut. Wanita paruh baya yang tinggal sendirian itu harus mengikhlaskan nasib rumah panggung milikinya yang terbawa arus banjir.
Menanggapi bencana yang terjadi di kawasan Unpad Jatinangor, Departemen Pengabdian Masyarakat BEM Kema Unpad melalui Tim Kordinasi Penanggulangan Bencana (TKPB) melakukan penggalangan dana untuk membantu korban banjir. Total dana yang terkumpul sebesar Rp. 500rb dan langsung disalurkan kepada korban berupa mie instan, obat-obat, beras, dan sebagainya.
Tommy Frahdian, anggota TKPB menjelaskan bahwa dana tersebut dihimpun dari mahasiswa Unpad. “Kami menggalang dana hanya selama dua hari di gerbang kampus. Alhamdulillah, walaupun dana yang terkumpul tidak banyak. Tapi kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa Unpad yang masih peduli dengan bencana yang terjadi di Jatinangor.”
Selain aksi penggalangan dana, TKPB juga mengadakan pengobatan gratis di Desa Cikeruh (17/01). Acara ini dimulai pada pukul 09.00 hingga 15.30 WIB. Masyakat pun antusias mengikuti pengobatan gratis ini. Setidaknya 85 orang datang untuk memeriksakan kesehatannya. Rata-rata penyakit yang dikeluhkan oleh masyarakat adalah asam urat, diare, dan reumatik. Namun ada juga mengeluh karena masih merasa trauma. Damah misalnya, semula ia mengakui tidak mengalami sakit apa-apa. Tapi sejak bencana banjir ia mengalami trauma dan suhu tubuh yang panas dingin.
Supiyan, Menteri Pengabdian Kepada Masyarakat BEM Kema Unpad puas karena kegiatan pengobatan gratis ini berjalan sukses. “Saya senang acara ini mendapat respon postif dari berbagai pihak. Bahkan ketua RW 09 pun hadir pada kegiatan ini dan memfasilitasi rumah beliau sebagai tempat pengobatan gratis. Walaupun pada pengobatan gratis ini tenaga dokternya hanya satu orang, tapi kegiatan ini berjalan lancar. Saya berharap semoga kita selalu peduli terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, Tutup Iyan.
Posted by: achyar89 on: January 8, 2010
Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup.
Pemanah mengetahui sasaran di jalan yang tidak terhingga, dan Ia melengkungkanmu sekuat tenaga-Nya agar anak panah melesat cepat dan jauh.
Biarlah tubuhmu yang akan melengkung di tangannya merupakan kegembiraan;
Sebab seperti cinta-Nya terhadap anak panah yang melesat, Ia pun mencintai busur yang kuat. (Kahlil Gibran diterjemahkan oleh Sapardi Djoko Damono. Almustafa hal 22.)
Hari ini, sebuah potret kehidupan anak manusia kembali saya saksikan. Sungguh menggugah dan inspiratif. Sehingga saya pun hanya bisa terdiam. Mungkin ini begitu rumit untuk dijelaskan. Tapi saya coba untuk pahami.
Sebelum saya memulai tulisan ini, saya ingin menanyakan kabar teman-teman hari ini? Baikkah? Atau kondisi teman-teman sedang tidak sehat? Tapi saya yakin, teman-teman masih bisa beraktifikatas normal dengan anggota tubuh yang lengkap, bukan? Atau teman-teman masih bisa kuliah tanpa harus menempuh jarak berpuluh-puluh kilo? Ya, saya yakin kita masih lebih baik. Bukan begitu, kawan?
Namun teman, pagi ini (8/01) saya menyaksikan sebuah kisah yang berbeda di tempat lain. Seorang anak kecil yang harus menerima kenyataan bahwa salah satu kakinya harus diamputasi karena dilindas kereta api. Ia mugkin tidak habis pikir jika ayah tirinya yang telah menyebabkan itu semua. Ia masih kecil, teman. Bahkan mungkin, anak itu tidak pernah bermimpi bahwa di usianya yang masih kecil, ia harus kehilangan salah satu anatomi yang begitu penting bagi manusia. Anak itu bernama Tegar teman. Entahlah, apakah namanya itu memang representasi Tegar hari ini? Dengan ketidakberdayaannya, dia masih bisa menyunggingkan senyuman dan bersemangat menjalani hari-harinya.
Alhamdulillah, ternyata masih ada yang peduli dengan kondisi Tegar. Sekarang Tegar sudah memiliki kaki baru. Ia sangat senang. Hari-harinya dijalani dengan penuh ketegaran. Tegar sangat senang sepak bola. Walaupun dengan kondisi yang sebenarnya sulit, tapi Tegar mampu buktikan bahwa keterbatasan bukanlah halangan yang berarti baginya. Ia masih optimis dengan mimpi dan cita-citanya. Ia tetap menjadi Tegar yang selau tegar.
Sementara itu, potret lain juga terkisah di Sulawesi. Seorang anak kecil yang berusia enam tahun harus menghidupi, menjaga, merawat, dan mencintai ibunya dengan sepenuh hati. Ibu anak itu takberdaya karena ia menderita lumpuh. Sedangkan ayahnya tidak ada kabar beritanya. Anak itu bernama Sinar, kawan. Awalnya, saya tidak mengira anak sekecil itu mampu melakukan hal itu semua. Saya terbayang akan kondisi saya ketika masih kecil. Manja dan hanya bisa merepotkan orang tua. Sedangkan Sinar? Ia masih terlalu kecil untuk memahami cobaan hidup ini. Sinar sungguh luar biasa. Di tengah kondisi yang sangat sulit, Sinar masih bersekolah (walaupun jarak sekolah dari rumahnya jauh). Ia berharap suatu saat kelak bisa menjadi seorang dokter. Ia ingin mengobati kaki ibunya, kawan. Cita-cita Sinar begitu mulia.
Pertanyaan pun kemudian terbesik dalam benak saya. Masihkah saya tegar seperti pohon kurma dan bersinar seperti mentari?
Di usia yang sudah tidak kecil lagi, saya belum mampu memahami makna hidup dan kehidupan dengan bijak. Sedangkan Tegar dan Sinar, di usianya yang masih kecil sudah mempraktikan kedewasan dan kebijaksanaan dalam hidup. Saya tersadarkan bahwa selama ini saya sering mengeluh. Mengeluh atas berbagai hal yang tidak sesuai dengan kehenda saya. Dan mungkin ini juga pernah teman-teman alami. Betapa seringnya kita melontarkan kata, “Ah, gw gak pede pake baju ini. Ah, gw bosen ama film-film di bioskop. Ah, gw males kuliah (padahal jaraknya sangat dekat). Ah, gw kenapa kayak gini ya? Coba kayak gini..
Teman, mungkin kita terlalu sering melihat ke atas. Sehingga kita lupa untuk menengok ke bawah. Mungkin kita terlalu egois dengan kehidupan kita. Tanpa melihat di sekitar kita. Teman, dua potret itu nyata terjadi. Bukan sebuah fiksi dengan bumbu diksi yang menggugah atau setting cerita yang dirancang mengharu biru. Tidak kawan! Itulah sekelumit kisah kehidupan anak manusia yang semestinya menjadi pembelajaran untuk kita.
Indah ya.. Jika selalu berbahagia dan tidak mengeluh. Dan kita bisa melihat segalanya lebih dekat lebih bijaksana.
Semoga bisa menginspirasi kita semua.^^ (Jatinangor, 08/01. Pukul 11:09 WIB)
Posted by: achyar89 on: January 3, 2010
Menjadi seorang public speaking itu harus percaya diri. Begitulah pernyataan Farhan atau yang lebih akrab disapa mas Farhan. Karena menjadi public speaking tentunya akan berhadapan dengan orang banyak dan harus memberikan performa yang baik.
Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini. Wajahnya tak asing lagi di layar kaca. Kerap mengisi berbagai program acara, menjadi model iklan, dan sebagainya. Namun, dari sekian banyaknya kegiatan yang digelutinya, Farhan lebih menyenangi sebagai presenter tv. Pria kelahiran 25 Februari 1970 ini merupakan alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Padjadjaran, Bandung tahun 1995.
(13/11/09) kemarin, ketika Farhan mengisi talkshow tentang public speaking di kampus Universitas Padjadjaran, kru interval21 berhasil mewawancarai beliau. Berikut petikan wawancara kru interval21 dengan Farhan.
Mas Farhan, bisa diceritakan bagaimana kisah karier mas Farhan hingga bisa sukses seperti sekarang?
Saya awal berkarir ketika melamar sebagai penyiar di radio KLCBS pada tahun 1993. Eh, diterima sebagai script writer. Hingga tahun 1997, saya tidak siaran radio sama sekali. Nah, pada tahun 1997, saya baru siaran radio Mustang FM, Jakarta. Lalu, pada tahun 2004, saya pindah ke Trijaya. Tahun 2008 hingga sekarang, saya menjadi penyiar radio Delta FM di enam kota yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar, Medan, dan Manado. Kalau karir di televisi, saya memulainya pada tahun 1994 sebagai penulis dalam acara ulang tahun Anteve. Setelah itu, saya menulis lagi untuk acara yang bernama Spesial Paket Telor bersama-sama teman dari Unpad dan satu orang dari ITB. Setelah jadi pembawa acara di RCTI, SCTV, dsb dan terus berkelana sampai sekarang.
Mengapa lebih tertarik dengan dunia public speaking?
Karena public speaking lebih mudah, lebih mudah dilaksanakan, dan lebih mudah dijual. Hehehe
Oy, selain sebagai public speaking, mas Farhan juga dinobatkan sebagai duta anti narkoba, bagaimana pandangan mas Farhan terhadap generasi muda dan narkoba?
Saya pikir, generasi muda sekarang lebih pintar karena bagaimanapun juga, people skill adalah suatu hal yang penting untuk kita. Belajar mengatakan tidak kepada narkoba. Di sini masalahnya, tahu atau tidaknya narkoba, tapi masalah mau atau tidaknya mengatakan tidak. Itu yang lebih penting.
Terakhir, apa harapan mas Farhan untuk mahasiswa terutama mahasiswa Unpad?
Mahasiswa sekarang harus lebih daripada generasi saya. Mahasiswa Unpad harus menjadi lulusan yang punya wawasan internasional, prestasi minimal nasional, dan jangan terpentok dengan berpikir seperti pia batok.
Posted by: achyar89 on: December 25, 2009
Temen-temen, tentunya pernah buka KASKUS kan? Nah, di Kaskus banyak dimuat hal-hal unik seperti 10 tokoh terkejam di dunia dsb. Terinspirasi dari itu, gw juga bikin klasifikasi PTN Favorit versi gue. Landasannya apa ya? Landasan atas observasi gw selama ini. Menanyakan PTN-PTN yang terkenal kepada siswa SMA yang mau masuk PTN.
Rata-rata mereka menjawab; UI, UGM, ITB, UNPAD, DAN IPB. Bahkan, salah satu Bimbingan BelajaR (Nurul Fikri) setau gw menamai kelas bimbelnya dengan lima PTN tersebut.
Ya, pada dasarnya 5 PTN inilah jagoan gw. Dan yang keren tentunya PTN yang ada di Bandung yaitu ITB dan Unpad. Bandung memang menyimpan keeksotikan tersendiri.
Gw bangga menjadi salah satu dari lima PTN itu. U-EN-PE-A-DE BRAVO!!!
Any way, walo kita beda-beda PT tapi it’s okay. Asalakan kita memberikan yang terbaik untuk Almamater dan bangsa kita. Demi Indonesia yang lebih baik. Ok?
Ayo kita berkontribusi sebanyak-banyaknya.
^,^d
Posted by: achyar89 on: December 22, 2009
Laporan oleh: Mahfud Achyar
Aksi yang dimulai pukul 10.35 WIB itu mendapatkan respon positif dari salah seorang anggota dewan komisi C DPRD Jabar, Ine Purwadwi. “Saya sangat berterima kasih atas perhatian teman-teman mahasiswa terhadap kaum ibu. Permasalahan tentang kaum ibu masih banyak. Semua itu tanggung jawab kita bersama. masih ada PR-PR yang harus diselesaikan,” tutur Ine.
Sementara itu, Kantry Maharani, kordinator aksi menjelaskan bahwa pembagian bunga ini sebagai simbol betapa ibu begitu berharga dan sangat berjasa.Kami membagikan pita hitam putih sebagai simbol atas kondisi yang terjadi pada kaum ibu. Pita putih menunjukkan kemulian ibu, sedangkan pita hitam adalah sisi gelap kematian ibu yang angkanya masih tingi.
“Kami sangat menyayangkan terhadap kondisi kaum ibu di Indonesia. Seharusnya masalah ini teratasi. Saya berharap adanya pemerataan fasilitas kesehatan di Indonesia dan pemerintah seharusnya lebih concern menuntaskan masalah ini. Karena kaum ibu adalah salah tonggak pembangun peradaban untuk Indonesia yang lebih baik,” jelas Kantry.
Aksi berakhir tertib pada pukul 11.05 WIB. Setelah melakukan aksi simpatik, massa bergerak ke BIP sembari membagikan bunga, puisi, dan pita sepanjang perjalanan.
Posted by: achyar89 on: December 21, 2009
“Sang Pemimpi” tak jauh berbeda dengan film “Laskar Pelangi” jika dilihat dari setting, tokoh, dan pesan moralnya. Namun, satu hal yang saya kagumi pada film ini adalah KEKUATAN CINTA, yang saya pikir film ini begitu memesona.
Mathias Muchus, ayah Ikal merupakan salah satu tokoh sentra dalam film ini. Dari segi penokohan, tokoh beliau terasa begitu tepat memainkan peran sebagai ayah yang bijaksana, pendiam, dan begitu menyayangi Ikal. Selanjutnya, tokoh-tokoh dalam film terasa begitu kuat dan saling melengkapi.
“Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.” Sungguh, saya merinding ketika mendengar kata-kata itu mengucur dari mulut seorang anak muda Melayu yang tak punya siapa-siapa, yaitu Arai. Luar biasa! Walaupun dengan ketidakberdayaan yang menghimpitnya, tapi Arai yakin pasti mimpi-mimpinya akan terwujud. Ia yakin. Bahkan sangat yakin bahwa mimpi-mimpinya bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.
Secara ringkas, film ini bertemakan “JANGAN TAKUT UNTUK BERMIMPI”. Karena KETIKA kita kita yakin dan sungguh-sungguh akan mimpi-mimpi itu, InsyaAllah Tuhan akan menjawabnya. Arai dan Ikal adalah representasi anak manusia yang tak lelah untuk bermimpi.
Aku Cinta Papa Karena Allah
Mata ini tiba-tiba berkaca. Ketika salah satu scene yang begitu mengharu biru. Ayah Ikal, dengan baju safari empat kantongnya, datang ke sekolah Ikal untuk menerima raport Ikal dan Arai. Tapi berbeda dengan penerimaan raport sebelumnya, kali ini Ayah Ikal harus menelan kekecewaan karena nilai RAPORT IKAL ANJLOK. Ia hanya bisa mengulum senyuman. Seakan ketegaran dan kebijaksanaan begitu nyata dari air wajahnya.Aku tertegun diam. Tiba-tiba bayangan masa lalu, ketika masa kecil bersama Papa melintas dalam benakku. Aku terus berjegelah akan memori-memori itu. Masa ketika aku diberi mainan yang sangat banyak oleh papa, digendong di atas pundaknya, diajak jalan-jalan, dibelikan baju lebaran, dan banyak hal. Semuanya seakan terasa nyata. “Wajah Mathias Muchus begitu mirip dengan papa,” gumamku. Papa, aku cinta papa karena Allah.
Ah, dulu aku pernah tidak HARMONIS dalam kurun waktu yang agak lama. Ada alasan yang cukup krusial yang membuatku seperti itu. Aku takcukup dewasa memandang setiap hal yang terjadi dalam hidupku. Selalu ingin dituruti kemauanku. Begitu manja dan tak pernah memikirkan bagaimana perjuangan papa UNTUKKU.
Papa adalah orang yang tidak terlalu banyak bicara. Ia hanya bicara ketika ada momentum yang penting saja. Seringkali, dulu aku berdebat dengan Papa—lantaran aku tak sepaham dengan papa. Kami begitu berbeda dalam semua hal kecuali dalam cinta.
“Mungkin papa orang yang keras. Mungkin papa orang pendiam dan jarang sekali memberi pujian. Mungkin papa orang kupikir perhatiannya padaku tidak terlalu besar. Mungkin dan mungkin lagi.”
Posted by: achyar89 on: December 20, 2009
Sebagai salah seorang pribadi Sanguinis-Melankolis, ada satu hobby yang sangat saya senangi. Mmm, mungkin bagi kebanyakan ini adalah suatu hal yang biasa. Tak ada istimewanya. Tapi bagi saya, hobby ini begitu menyenangkan.
Take a picture. Ya, itulah kesenangan saya. Saya pikir, segala hal yang ada di dunia ini sangat menarik untuk diabadikan. Bahkan, sesuatu yang luar biasa tidak menjadi LUAR BIASA ketika tidak terdokumentasikan. Tapi, tentunya, bukan foto-foto narsisan ataus sejenisnya.
Saya senang mengabadikan fenomena alam. Entahlah, apakah itu; Human Interest, Pemandangan alam, atau hal yang membuat rasa penasaran saya memuncak. Memoto adalah hal yang paling menyenangkan. Walau saya tidak menggunakan kamera SLR, tapi saya pikir kamera handphone atau digital, sudah cukup.
Satu hal, saya hanya ingin mensyukuri nikmat Maha Karya dari Sang Pencipta. Berdecak kagum atas indahnya dunia ini, dan kembali bermuhajaah atas Hidup dan kehidupan yang tengah saya Jalani.
Saya hanya ingin menjadi orang berakal. Seperti yang telah Allah swt tuliskan dalam surat Al-Imran ayat 190-191
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang meningingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.
-Indahnya hari ini, esok, dan seterusnya…”
ALHAMDULILLAH…
Klik saran & masukan