Cerita Hujan


DSC_0236-01
It’s raining outside. Photo by Mahfud Achyar.

Hujan. Saya rasa semua orang di bumi ini menyukai hujan. Adakah yang tidak menyukai hujan? Saya rasa tidak ada. Semua orang senang saat hujan turun, apalagi anak-anak. Masih ingat betul dulu ketika masih kecil, saya selalu menantikan hujan turun. Saat gerimis datang lalu disusul hujan yang deras, saya sudah ancang-ancang untuk mandi hujan. Walau dilarang mama karena katanya mandi hujan akan bikin demam, tapi saya terlalu keras kepala. Tidak ada seorangpun yang dapat menghentikan saya untuk mandi hujan. Nasehat mama hanya masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Ah, benar-benar anak yang keras kepala.

Saat tetesan hujan menyentuh wajah saya, saya merasa sangat kegirangan. Seolah seperti tanaman asoka mama yang kering di pot berwarna putih yang tiba-tiba segar kembali setelah disiram di sore hari. Hujan benar-benar mendatangkan kebahagiaan secara instan. Mungkinkah dalam air hujan terdapat kandungan yang membuat seseorang bahagia seketika? Bisa jadi. Walau menurut ilmuwan, air hujan hanya mengandung uap air yang berkisar 90 hingga 99.9 persen.

Saya kemudian menciptakan teori mengapa saya begitu bahagia saat mandi hujan? Mungkin karena kandungan air dalam tubuh manusia sekitar 70 persen dari berat tubuh. Teori lainnya, mungkin karena selama dalam perut ibu, habitat kita di air ketuban ibu. Jadi, pada dasarnya air menjadi unsur utama dalam diri kita. Saat kita bertemu air, kita seolah bertemu dengan diri kita yang lain. Makanya tidak heran mengapa anak-anak senang berendam atau berenang. Bisa diterima teori yang saya kemukakan?

Ketika masih kecil, mandi hujan sangat populer di kalangan anak-anak. Hampir semua anak-anak melakukannya. Berlarian, kejar-kejaran, dan menciptakan cipratan-cipratan dari air hujan yang menjadi  senjata pamungkas untuk melawan ‘musuh’. Jika dikenang lagi hati terasa hangat. Kenangan masa kecil yang sangat menyenangkan.

Hingga akhirnya tiba di bangku kelas tiga sekolah dasar, saya baru mengetahui mengapa bisa turun hujan dari buku pelajaran IPA. Bahkan, guru saya memperkenalkan nyanyian untuk memudahkan para muridnya menghafal proses turunnya hujan. Saya sudah berusaha mencarinya di Google, tapi sayang saya tidak menemukannya. Ah, ingatan saya benar-benar terbatas. Menyedihkan.

Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga menyukai hujan. Bahkan, banyak karya-karya hebat lahir karena terinpirasi dari hujan. Misalnya puisi Sapardi Djoko Damono “Hujan di Bulan Juni”, film karya Gene Kelly dan Stanley Donen tahun 1952 yang berjudul “Singin’ in the Rain”, lagu Bob Dylan tahun 1963 yang berjudul “A Hard Rain’s A-Gonna Fall”, dan masih banyak lagi.

Berkat hujan, orang-orang menjadi pujangga. Hujan menjelma menjadi larik-larik puisi yang begitu memikat hati. Berkat hujan, orang-orang menjadi kontemplatif; memikirkan makna dari hidup dan kehidupan. Berkat hujan, luruh sudah polusi udara. Berkat hujan, tanah yang kering menjadi basah lalu tumbuhlah rumput, munculah pucuk-pucuk daun baru, dan bunga-bunga bermekaran. Berkat hujan, lahirlah kehidupan dan peradaban.

Hujan adalah perantara kasih dari langit untuk bumi. Langit dan bumi saling mencintai, namun mereka tidak dapat berjabat tangan, bercumbu mesra, atau berpelukan erat. Maka diutuslah hujan menjadi perantara keduanya yang menciptakan keterhubungan tanpa harus saling berdekatan. Begitulah hujan, ia menjadi sangat spesial.

Di negara tropis seperti Indonesia, dulu begitu mudah memprediksi kapan turunnya hujan. “Bulan-bulan berakhiran-er biasanya turun hujan,” kata guru saya. Namun kondisi sekarang berbeda. Hujan sulit diprediksi kapan turunnya.

Selama tahun 2019 kemarin, cuaca terasa sangat panas. Hujan jarang turun. Semua orang berdoa dan berharap hujan turun. Apalagi tahun kemarin terjadi kebakaran hutan yang membuat udara terasa sesak. Maka kehadiran hujan sangat ditunggu-tunggu. Di beberapa daerah, orang-orang menggelar ritual agar hujan turun, baik secara adat maupun secara agama. Pemerintah juga membuat hujan buatan. Hujan benar-benar ditunggu.

Awal tahun, hujan turun. Sangat deras. Ada orang-orang yang berbahagia lantaran hujan akhirnya turun. Namun ada juga yang mengutuk mengapa hujan harus turun saat malam pergantian tahun. Serba salah. Memang manusia memang kurang pandai bersyukur. Padahal di belahan bumi lain, ada yang benar-benar butuh hujan untuk menghentikan kebakaran hutan yang telah merenggut jutaan satwa. Ada juga yang sudah menunggu lama turunnya hujan karena daerah mereka kering kerontang.

Sejujurnya, hujan yang berlimpah di Jakarta sejak awal Januari hingga akhir Februari 2020 kemarin membuat saya was-was. Betapa tidak, untuk pertama kalinya saya merasakan dampak langsung bencana banjir sebanyak tiga kali. Repot sekali harus membersihkan rumah, merelakan barang-barang yang basah dan rusak, dan menunggu ketidakpastian kapan banjir surut.

Jika langit mendung atau terdengar suara gemuruh di langit, hati saya gelisah. Lirih saya berkata, “Mungkinkah akan banjir lagi?” Saya suka sekali hujan, tapi saya tidak suka banjir. Perasaan saya berkecamuk. Akhirnya, saya sadar bahwa banjir terjadi bukan salah hujan. Manusialah pelakunya. Kita abai dengan lingkungan: buang sampah sembarangan, drainase yang buruk, dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Hujan, maafkan saya yang pernah memiliki perasaan ingin menolak kehadiranmu. Saya merasa sangat menyesal. Kau adalah anugrah. Tidak hanya untuk saya melainkan untuk semua umat manusia. Kata John Updike, “Rain is grace; rain is the sky descending to the earth; without rain, there would be no life.”

Jakarta,

27 Maret 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s