Satu Bulan Lebih Swakarantina: Sebuah Memoar


Foto ini diambil pada masa physical distancing oleh Mahfud Achyar.

Sudah satu bulan lebih lamanya sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan warga dunia untuk melakukan self-quarantine (swakarantina) guna menghindari pandemi COVID-19. Betapa tidak, per April 2020, seperti yang dilansir laman https://www.worldmeters.info/coronavirus, ada 3,154,442 kasus virus corona, 218,795 meninggal, dan 965,397 dinyatakan sembuh.

Sementara di Indonesia pada tanggal yang sama, ada 9,771 kasus corona, 784 meninggal, dan 1,391 dinyatakan sembuh. Angka ini akan terus terus bertambah, kendati kita berharap pandemi ini segera berakhir.

Laporan BBC Indonesia menyebut kasus pertama virus corona diketahui pada 31 Desember 2019. Namun, satu kajian yang dilakukan para peneliti China, yang diterbitkan jurnal media “The Lancet”, mengklaim kasus virus pertama virus corona terjadi 1 Desember, jauh lebih awal dari keterangan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah China.

Kemudian, kasus baru ditemukan dan kian bertambah hingga membuat panik pemerintah China. Mengantisipasi penyebaran virus corona, pemerintah China mengambil kebijakan lockdown di wilayah Wuhan. Sejak saat itu, dunia turut panik. Mungkinkah virus di China bisa menyebar ke semua negara?

Seperti yang dilansir Kompas TV, pada 12 Maret 2020, WHO akhirnya menetapkan virus corona atau COVID-19 menjadi pandemi global. Pandemi merupakan sebuah endemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua yang umumnya menjangkiti banyak orang. Penetapan COVID-19 sebagai pandemi global disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss pada 11 Maret 2020.

Ia menilai penetapan status pandemi lantaran penyebaran COVID-19 yang begitu cepat dan luas hingga ke wilayah yang jauh dari pusat wabah di Wuhan, China. “Oleh karena itu, kami menilai bahwa COVID-19 dapat dikategorikan sebagai pandemi,” katanya.

Pemerintah Indonesia pada awalnya tidak begitu memusingkan virus corona. Barangkali lantaran mengira virus baru tersebut tidak akan singgah di Indonesia. Ketika banyak negara menerapkan kebijakan travel warning bagi warganya ke luar negeri, Indonesia justru mendorong warganya untuk melancong, khususnya di dalam negeri. Banyak perusahaan maskapai yang menawarkan promo tiket pesat murah sehingga membuat siapapun tergiur untuk liburan.

Indonesia dapat dikatakan cukup santai merespon merebaknya virus corona. Tidak hanya pemerintah, melainkan juga warganya. Di lini media sosial, banyak berhamburan meme tentang ‘kesaktian’ warga Indonesia sehingga tidak mungkin terinfeksi virus corona. Misalnya, meme tentang imunitas warga Indonesia tanpa batas lantaran sering makan gorengan yang dimasak menggunakan minyak jelantah. Seketika jagat maya ramai. Semua orang saling berbalas; memproduksi konten untuk menertawakan virus corona.

Akan tetapi, pada Senin (2/3/2020), warga Indonesia dikagetkan dengan pemberitaan yang mengungkap fakta bahwa telah ditemukan kasus virus corona pertama di Indonesia. Dua warga Depok, Jawa Barat positif terinfeksi virus corona. Hal itu disampaikan langsung Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto langsung dari Istana Kepresidenan di Jakarta.

Beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar bahwa salah satu sahabat saya positif COVID-19. Hal itu saya ketahui dari seorang teman di WhatsApp Group. Seketika, saya langsung mengirim pesan kepada sahabat saya tersebut. Memberi dukungan secara khusus untuknya agar dapat melalui masa karantina yang saya tahu sangat membosankan. Sekarang, kondisinya baik. Dia dan suaminya dinyatakan sembuh. Terakhir yang saya intip di media sosial, ia menjadi narasumber dalam rangka memperingati ulang tahun teleskop Hubble NASA yang ke-30 tahun.

Kasus virus corona di Indonesia setiap hari terus bertambah. Pemerintah menghimbau warganya untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Sejak saat itu, semuanya berubah. Orang-orang tidak lagi bekerja ke kantor melainkan harus bekerja di rumah atau yang akrab disebut #WorkfromHome. Selain itu, institusi pendidikan juga diliburkan, rumah ibadah ditutup, dan pusat belanja kecuali toko bahan makanan juga terpaksa ditutup. Semua kegiatan berpusat di rumah masing-masing.

Kebijakan swakarantina lanjut social distancing yang kemudian diubah menjadi physical distancing mengubah perilaku manusia. Sebelumnya, manusia menyukai aktivitas sosial; menonton film di bioskop, datang ke pesta, berkumpul bersama teman di café, dan ragam aktivitas lainnya. Namun kini, aktivitas-aktivitas tersebut hanya bisa dilakukan secara virtual. Untungnya, virus corona datang di abad 21 yang menawarkan kecanggihan teknologi. Bagaimana jika kita hidup pada 1918, saat pandemi Flu Spanyol (H1N1) yang menginfeksi sekitar 500 juta orang? Tidak bisa dibayangkan.

Aktris Angelina Jolie suatu kesempatan pernah berkata, “I do belive in the old saying, ‘What does not kill you makes you stronger?’ Our experiences, good and bad, make us who we are. By overcoming difficulties, we gain strength and maturity.” Saya selalu percaya, everything happens for a reason. Percayalah, pasti selalu ada hikmah di balik semua kejadian, termasuk pandemi COVID-19.

Pandemi COVID-19 yang ditetapkan menjadi bencana nasional nonalam telah merenggut banyak nyawa, terutama mereka yang berjuang di garis terdepan seperti tenaga kesehatan. Selain itu, pandemi ini juga membuat perekonomian kita terpuruk. Banyak perusahaan yang harus merumahkan para pegawainya tanpa digaji, banyak yang terkena impas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), serta banyak keluarga miskin yang tambah miskin.

Akan tetapi, kabar yang tidak kalah menyayat hati ketika mengetahui seorang perempuan berusaha 43 tahun bernama Yulie Nuramelia yang meninggal pada Senin (20/4/2020) diduga lantaran kelaparan.

Sebelumnya, perempuan tersebut, seperti yang dilansir Vice.com, pada 21 April 2020 sempat jadi perbincangan internet karena ia dan keluarganya (satu suami dan empat anak) kedapatan dua hari mengganjal lapar hanya dengan minum air. Setelah viral, baru pada Sabtu (18/4/2020) pemerintah setempat menyalurkan bantuan kepada korban yang tinggal di kelurahan Lontar Baru, kecamatan Serang, kabupaten Serang, Banten.

Pemerintah terus berupaya menekan angka penyebaran pandemi COVID-19. Berbagai kebijakan ditempuh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta contohnya, jauh sebelum daerah-daerah lainnya, telah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Walau kebijakan ini juga patut dievaluasi lantaran kurang berjalan efektif.

Satu dari sekian banyak kebijakan Pemprov DKI yang membekas di hati saya yaitu, kebijakan mengubah hotel berbintang milik Pemprov DKI menjadi tempat tinggal sementara untuk para tenaga kesehatan yang bertugas melawan pandemi COVID-19 di Jakarta.

Setiap pulang kantor, kebetulan saya masih bekerja dari kantor, saya selalu melewati hotel yang dijadikan tempat tinggal sementara para tenaga kesehatan DKI Jakarta. Di sana, tersedia bus Transjakarta yang siap mengantar para tenaga kesehatan ke rumah sakit yang tersebar di Jakarta. Selain mendapatkan fasilitas transportasi, asupan nutrisi mereka juga sangat diperhatikan. Angkat topi untuk kemurahan hati Pemprov DKI Jakarta. Untuk para tenaga kesehatan, selamat bertugas! Kalian pahlawan kemanusiaan!

Sementara sisi baik dari pandemi COVID-19, kita memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga. Banyak yang hal yang bisa kita kerjakan di rumah. Mulai dari bersih-bersih; menyalurkan hobi entah itu hobi masak, melukis, atau membaca; mempelajari sesuatu yang baru seperti mengikuti kursus daring yang diselenggarakan secara gratis; serta olahraga bersama teman-teman secara virtual.

Nyatanya, kita masih bisa terhubung di tengah pandemi. Pun demikian, pandemi ini menyadarkan kita bahwa keluarga merupakan harta berharga yang kita miliki. Keluarga kita mungkin tidak sempurna. Namun keluargalah satu-satunya tempat terakhir kita bersandar. Mungkin di masa pandemi seperti sekarang, kita pelan-pelan memperbaiki hubungan dalam keluarga yang sempat renggang, yang sempat bertikai.

Suatu waktu, saya pernah menulis kutipan seperti ini, “Kita akan merindukan hal yang dulu dianggap sederhana, namun kita terasa sangat istimewa”. Sebelum pandemi, kita mungkin tidak hadir sepenuhnya saat berbincang bersama teman. Saat teman kita bercerita tentang pekerjaannya, kita sibuk membalas komentar di media sosial. Mungkin setelah pandemi ini berakhir, kita akan menghargai hal-hal sederhana yang bisa jadi suatu saat direnggut dari genggaman kita.

Maka benar kata  orang bijak, hiduplah untuk hari ini. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi hari esok atau lusa. Lakukan hal yang terbaik yang bisa kita lakukan hari ini. Jika kita mencintai seseorang, sampaikanlah. Jika kita pernah berbuat salah, minta maaflah. Jangan lagi ditunda-tunda. Kadang, kesempatan datang hanya sekali.

Baru saja, seorang teman bertanya di pesan WhatsApp, “Kapan pandemi ini akan berakhir?” Saya jawab, “Tidak ada yang tahu”. Ada yang menyebut pandemi COVID-19 baru berakhir pada 2021, ada juga yang menyebut pada Juli mendatang kita akan kembali hidup normal. Mana yang harus kita percaya? Kita takubahnya seperti berjalan di lorong yang gelap. Sudah satu bulan lebih kita berjalan, namun belum juga tampak seberkas cahaya. Entahlah, sampai kapan ini berakhir. We shall overcome, some day.

Pandemi bisa jadi me time untuk bumi yang menjadi rumah kita bersama. Selama ini, mungkin kita abai menjaganya; lapisan ozon kian menipis, es di kutub utara mulai mencair, kebakaran hutan, polusi udara, dan kerusakan alam lainnya.

Sejak masa physical distancing, kabar baiknya lapisan ozon kian membaik, orang-orang di India dapat melihat Pegunungan Himalaya setelah 30 tahun tertutup polusi udara, kanal-kanal di Venesia terlihat jernih, serta keajaiban-keajaiban lainnya.

Kita semua tentu berharap pandemi COVID-19 segera berakhir. Namun, kita jangan pernah lupa hari ini. Apa yang bisa kita pelajari dari pandemi COVID-19? Mungkinkah kita akan terlahir menjadi manusia yang baru? Mungkinkah kita akan menjadi khalifah seperti yang pernah disampaikan Tuhan di hadapan para malaikat?

Jakarta,

29 April 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s