Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016: “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”

 

Processed with VSCO with a6 preset
Chiki Fawzi dan Band pada pembukaan pameran foto dan video Kelas Inspirasi Jakarta, Kamis, (10/11/2016) di Qubicle Center, Senopati 79, Jakarta Selatan. 

JAKARTA, INDONESIA – Tahun ini, Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta yang ke-2 kembali digelar dengan mengusung tema “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”. Jika pada tahun sebelumnya para pengunjung pameran hanya sebatas menikmati karya fotografi dari relawan Kelas Inspirasi Jakarta, maka pada tahun ini panitia akan menyuguhkan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengunjung tidak hanya sekadar melihat karya fotografi melainkan juga dapat berinteraksi secara langsung dengan para fotografer. Hal tersebut memungkinkan terjadi karena pameran yang dikurasi oleh Yoppy Pieter ini memilih konsep photo story.

Barangkali tidak banyak masyarakat umum yang mengetahui terminologi photo story. Secara sederhana, photo story merupakan serangkaian foto yang dilengkapi dengan narasi dan caption (80% foto, 10% narasi, dan 10% caption). Konsep photo story dipilih lantaran panitia ingin mengajak para pengunjung (khususnya yang belum pernah terlibat menjadi relawan Kelas Inspirasi) untuk turut hadir pada momen-momen berharga, inspiratif, dan berkesan selama penyelenggaran Kelas Inspirasi Jakarta ke-5 pada (2/05/2016) lalu.

Setidaknya, ada 880 relawan pengajar, 220 tim dokumentator (fotografer dan videografer), serta 89 fasilitator yang terlibat aktif guna menyukseskan Hari Inspirasi yang bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Para relawan Kelas Inspirasi disebar ke berbagai Sekolah Dasar (SD) dengan kategori sekolah marjinal dan satu Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) di Jakarta.

Relawan Kelas Inspirasi, merupakan para profesional dalam bidangnya masing-masing yang bercerita kepada para siswa-siswi Sekolah Dasar mengenai profesi mereka. Tidak hanya sekadar bercerita, mereka juga memberikan semangat, motivasi, dan asa agar generasi harapan bangsa berani menggapai cita-cita mereka. “Barangkali, bagi para relawan mereka hanya diminta untuk cuti satu hari bekerja. Namun sesungguhnya kehadiran mereka di tengah para siswa-siswi pada Hari Inspirasi sangatlah bermakna. Berbagi cerita, berbagi pengetahuan, serta berbagai pengalaman kepada siswa-siswi SD agar kelak mereka menjadi orang-orang yang hebat,” ujar Harry Anggie S. Tampubolon, Ketua Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016.

Sebagai informasi, Kelas Inspirasi (www.kelasinspirasi.org) merupakan program turunan dari Indonesia Mengajar (www.indonesiamengajar.org) yang memfasilitasi para profesional untuk berkontribusi secara nyata memajukan pendidikan di Indonesia. Kelas Inspirasi pertama kali diselenggarakan pada (25/04/2012) secara serentak di 25 Sekolah Dasar di Jakarta dan akan terus berjalan pada tahun-tahun berikutnya.

Kelas Inspirasi sudah dilaksanakan lebih dari 100 kali di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Gerakan ini terus berjalan dari tahun ke tahun. Kabar menggembirkan ternyata program sejenis Kelas Inspirasi telah banyak diselenggarakan di berbagai daerah dengan nama-nama yang berbeda. Kendati demikian, kami berkeyakinan bahwa semua gerakan yang ada memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta ke-2 akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November hingga 19 November 2016 di Senopati 79 a Qubicle Center, Jalan Senopati No. 79, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut Harry, Qubicle Center dipilih sebagai lokasi pameran tahun ini lantaran Qubicle Center merupakan salah satu tempat pusat kreativitas di Jakarta. Sebagai platform yang berdiri berdasarkan kerja sama dengan para komunitas seluruh Indonesia, Qubicle mendukung para konten kreator dan komunitas dengan adanya fasilitas di Qubicle Center. Oleh sebab itu, pihak Qubicle berbaik hati menyediakan fasilitas Qubicle Center guna mendukung terwujudnya Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016. “Selain sebagai pusat kreativitas, Qubicle Center dipilih karena lokasinya berada di kawasan ramai seperti SCBD (Sudirman Centran Bussiness District) serta mudah dijangkau dengan menggunakan moda transportasi umum,” jelas Harry.

Selain Qubicle, Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016 juga didukung oleh PGN, SKK Migas, Conoco Phillips, Dapur Icut, Printerous serta Seagate. Dukungan dari berbagai pihak dalam mewujudkan pameran tahun ini merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk terus menebar kebaikan, khususnya dalam bidang pendidikan.

Secara spesifik, tujuan dilaksanakan Pameran Kelas Foto dan Video Inspirasi Jakarta 2016 yaitu untuk menyosialisasikan kegiatan positif yang digawangi oleh lebih dari 2000 relawan Kelas Inspirasi selama 5 tahun ke belakang. Selain itu, pameran tersebut juga sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh relawan, siswa-siswi, guru, dan sekolah yang telah merasakan manfaat Kelas Inspirasi.

Selain pameran, kegiatan lain yang dapat diikuti oleh para pengunjung yaitu talkshow/workshop fotografi dan sharing session Kelas Inspirasi Jakarta. Tidak hanya itu, pengunjung juga akan dihibur dengan penampilan musik dari musisi tanah air. Pembukaan pameran pada Kamis, (10/11/2016) pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Celtic Room, Chiki Fawzi, dan Archie Wirija. Sementara untuk penutupan pada Sabtu, (19/11/2016) pukul 11.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Syahravi, Westjamnation, Huhu Popo, Resha and Friends, Nia Aladin, serta Juma & The Blehers.

Sementara itu, adapun 17 pameris yang terlibat pada pameran ini terdiri dari 13  fotografer yaitu Aad M. Fajri, Agil Frasetyo, Bagas Ardhianto, Bhima Pasanova, Darwin Sxander, Deasy Walda, Desi Bastias, Desita Ulfa, Dimitria Intan, M. Khansa Dwiputra, Ruben Hardjanto, Shofiyah Kartika dan Silvya; 3 videografer yaitu Fahiradynia Indri, Agus Hermawan, dan Yuni Amalia; serta 1 mural artis yaitu Popo Mangun. Sebagian besar dari mereka bukanlah fotografer dan videografer profesional. Ada yang masih berstatus mahasiswa, ada yang bekerja sebagai konsultan, dan lain sebagainya. Pun demikian, karya-karya mereka yang nanti akan dipamerkan patut untuk mendapatkan diacungi jempol. Informasi lebih detil mengenai profil singkat para fotografer dan videografer dapat dilihat pada situs berikut: http://pameranki.kelasinspirasijakarta.org/.

“Kami berharap melalui Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016, semakin banyak orang-orang baik di negeri ini yang peduli dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Kami berkeyakinan bahwa para generasi bangsa yang saat ini duduk di bangka Sekolah Dasar kelak akan menjadi generasi yang gemilang. Oleh sebab itu, kita semua tanpa terkecuali berkewajiban untuk memastikan agar para penerus bangsa mendapatkan akses pendidikan yang baik, merata, dan berkeadilan sosial,” tutup Harry.

 

Ahok dan Tersendatnya Komunikasi Krisis

(Sumber foto: http://ributrukun.com/post/ahok-si-inspirasiku-1458646838)
(Sumber foto: http://ributrukun.com/post/ahok-si-inspirasiku-1458646838)

Beberapa hari ke belakang dan mungkin beberapa hari ke depan, berita-berita di media massa akan dipenuhi pemberitaan mengenai isu penistaan agama yang dialamatkan kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama.

Isu tersebut bermula ketika video Ahok, begitu beliau akrab disapa, menjadi viral di lini sosial media lantaran pernyataan beliau mengenai “…dibodohi dengan surat Al-Maidah 51.” Silakan tonton video lengkapnya pada tautan: https://www.youtube.com/shared?ci=tHI6wFdWl-Y.Kontan pernyataan tersebut menuai kontroversi di tengah masyarakat. Hampir sebagian besar masyarakat khususnya warga DKI Jakarta murka dengan pernyataan tersebut. Dampaknya gelombang protespun tidak dapat dihindarkan, tidak hanya dilayangkan di media sosial namun aksi turun ke jalanpun takdapat terelakkan. Berbagai organisasi masyarakat memenuhi jalan-jalan protokol di Jakarta untuk menyuarakan protes kepada Basuki Tjahja Purnama.

Menurut saya, protes dari masyarakat barangkali tidak dapat direduksi. Namun paling tidak dapat diminimalisasi andai saja ketika itu Bapak Basuki langsung minta maaf serta tidak berkelit dengan berbagai pledoi tentu dampaknya tidak serunyam sekarang. Namun apa boleh buat, nyatanya tidak semua lapisan masyarakat yang menerima ungkapan maaf dari beliau.

Tidak lama setelah video dugaan penistaan agama tersebut ramai diperbincangkan, dibagi, dan dikomentari di sosial media, Ahok pun membuat pernyataan bahwa apa yang ia sampaikan sama sekali tidak bermaksud menodai kepercayaan umat Islam. Barangkali ia ingin memasang badan dan membuat pembenaran. Namun nyatanya setelah dianalisis secara linguistik, tidak dapat disangkal lagi bahwa memang ia melakukan kekeliruan.

(Sumber: Official Fanpage @AhokBTP)
(Sumber: Official Fanpage @AhokBTP)

Dalam kasus ini, saya tidak bermaksud menjadi hakim yang berwenang menyatakan salah atau benar. Posisi saya pada kasus ini yaitu sebagai orang yang mencermati dalam perspektif komunikasi krisis. Andai saja saya menjadi bagian dari tim Ahok, maka saya tentu tidak akan gegabah dalam melontarkan pernyataan atau sikap. Kendati demikian, saya juga tidak ingin membiarkan isu berkembang liar menjadi diskursus yang kontraproduktif.

Jika boleh memberikan masukan, saya akan kaji lebih dahulu pernyataan Ahok pada saat kunjungan ke Pulau Seribu. Jika memang ditemukan ada kekeliruan maka langkah yang bisa diambil yaitu minta maaf dari hati yang terdalam. Sebagai pejabat publik, tentu bukan aib untuk minta maaf. Saya rasa masyarakat akan lebih jernih menilai bahwa siapa pun pernah melakukan kesalahan, tidak terkecuali seorang Ahok. Hal positif lainnya Ahok akan menerima simpati dari masyarakat dengan sikapnya yang rendah hati dan mau mengakui kesalahan. Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya. Ahok memang mengakui kesalahan namun sebelum itu ia melakukan pembenaran seolah-olah ia ‘bersih’ dari perbuatannya yang terlanjur melukai hati banyak orang.

Andai saja Ahok bisa lebih berstrategi, tentu ia tidak seterpuruk sekarang. Sejujurnya, saya mengapresiasi kerja-kerja hebat beliau dalam memajukan kota Jakarta. Namun nyatanya tidak semua orang hanya menilai kerja seseorang melainkan juga dari sikap dan perkataan. Saran saya semoga tim Ahok, khususnya tim komunikasi beliau, dapat memetik hikmah dari pelajaran “Surat Al-Maidah Ayat 51”. Sejatinya sebagai publik figur, lebih-lebih sebagai pejabat publik, kita harus mampu memilih dan memilah perkataan yang tepat untuk diperdengarkan di ruang publik.

Saya juga berharap unjuk rasa pada tanggal 4 November 2016 nanti dapat berlangsung damai. Ya, setiap warga negara berhak menyampaikan pendapat dan dilindungi konstitusi. Saya berharap bangsa ini senantiasa aman, penuh toleransi, dan dapat hidup nyaman dalam bingkai keberagaman.

Ditulis saat perjalanan ke kantor.
Jakarta, 2 November 2016.

Mahfud Achyar

Mama, Maafkan Satya

 

mom
(Source: Bazaarvoice.com)

Ibu mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses dan berprestasi? Tidak dianggap remeh oleh orang lain, apalagi keluarga besarnya sendiri. Itu sangat menyakitkan bagi orang tua, apalagi seorang ibu yang secara psikologis memiliki kedekatan hati dengan anaknya. Kendati anaknya tidak memilik prestasi yang hebat seperti anak-anak lain, namun ia cukup senang ketika ia melihat bahwa anaknya masih memiliki semangat untuk berjuang meraih impiannya.

Itulah gambaran sosok ibu yang sungguh perhatian, penuh apresiasi, dan kesabaran yang selama 21 tahun ini mendampingi hari-hariku. Kendati sekarang kita telah terpisah ruang dan jarak yang sangat jauh. Jauh di mata, dekat di hati.

Mama, begitulah aku memanggilnya. Aku sungguh beruntung memiliki malaikat seperti Mama yang senantiasa mencurahkan dan melimpahkan kasih sayangnya yang tiada terhingga padaku. Aku tidak akan mampu membalas segala kebaikan mama, itu hal yang mustahil. Cinta dan kasih sayang yang diberikan mama terlalu besar padaku, dan aku pun menyadari itu sebagai bentuk amanah yang harus beliau jalani sebagai rasa syukur kepada Allah karena telah menganugrahkan enam orang anak, termasuk aku.


Bandung

Di sini, aku tidak bisa lagi lekat-lekat menatap wajah Mama ketika beliau tidur. Atau mungkin, menyandarkan kepala di atas paha Mama, dan meminta ia mengusap lembut kepalaku. Dengan manja, aku meminta Mama untuk menceritakan kisah beliau ketika masih muda. Mulai dari beliau kekanak, beranjak dewasa, dan bertemu dengan papa di Jakarta. Ah, aku merindukan saat-saat itu. Masa yang tidak mungkin akan bisa digantikan dengan hanya berupa uang yang dikirim setiap bulan sekali oleh Mama. Tapi itu dulu, sekarang yang bisa aku lakukan hanya bisa menelpon Mama dalam intensitas waktu yang jarang. Mungkin hanya sekali seminggu atau sekali sebulan. Itu pun Mama yang berinisiatif meneleponku, bukan aku. Astaghfirullah, aku memang keterlaluan. Ya Rabb, ampuni hamba-Mu yang kurang bersyukur ini.

Hampir empat tahun aku di kota Bandung. Ini tahun terakhirku berkuliah di Universitas Padjadjaran Bandung. Selepas itu, aku pun akan memulai hidup dengan mencari peruntungan di kota Jakarta. Sementara itu, konsekuensi logis yang tidak bisa dielakkan, aku pun harus hidup berjauhan lagi dengan Mama. Merancang puzzle masa depan untuk hari esok yang lebih baik. Mama tidak berkeberatan aku akan tinggal di Jakarta.

“Mama hanya berharap Satya bisa hidup bahagia. Jangan terlalu memikirkan Mama. Mama akan baik-baik saja di sini. Bersama Papa dan kedua adikmu. Tetapi, ada satu syarat yang Mama ajukan, jangan lupa sama Allah ya nak!” Itulah pesan Mama padaku. Sungguh bijaksana, namun bagiku menyisakan guratan kesedihan.

Rabb, maafkanlah aku belum bisa menjadi anak baik. Lagi-lagi aku selalu mempriorotaskan kebutuhan privatku. Aku ingin sekali menemani Mama di masa tuanya. Tapi maaf, aku belum bisa. Aku belum bisa berbuat banyak. Selepas lulus, aku ingin bekerja dan menghasilkan uang untuk Mama. Itu cita-citaku saat ini.

Berpisah dengan Mama, membuatku menyadari betapa penting peran Mama dalam hidupku. Benar apa yang dikatakan penyair asal Libanon, Kahlil Gibran yang menyatakan bahwa kebaikan orang yang kita cintai justru menjadi jelas jika ia tidak ada di dekat kita, bagaikan gunung bagi pendaki yang melihatnya dari lembah.

Sekarang, ketika aku sudah dewasa, mau tidak mau aku harus menyelesaikan masalahku sendiri dan menghibur hatiku yang lara oleh diriku sendiri. Aku tidak ingin Mama mendengar kalau anaknya selama empat tahun belakang ini kerap kali mengalami kegagalan dalam impian-impiannya. Aku akan menutup rapat-rapat semua masalahku. Mungkin cukup hanya aku dan Allah saja yang tahu.

Ya, tentunya sekarang berbeda dibandingkan dulu saat masih tinggal bersama Mama, Papa, dan kedua adikku. Dulu ketika Mama tahu aku mengalami kegagalan, namun Mama selalu tersenyum, dan berkata, “Ngga apa-apa nak. Mungkin belum waktunya. Insya Allah nanti Satya pasti juara.” Kata-kata itulah yang sering diucapkan Mama jika aku gagal meraih juara kelas atau juara lomba-lomba yang aku ikuti.

Masih lekat dalam ingatanku tentang sebuah episode kegagalan yang membuatku sangat terpuruk. Bahkan hampir saja merenggut semangatku untuk memperbaiki diri dan berusaha berprestasi. Peristiwa itu terjadi 12 tahun lalu, tepatnya ketika aku duduk di bangku kelas 4 SD, saat pembagian raport caturwulan ketiga pada hari Sabtu.


Semua orang tua murid telah duduk di kursi masing-masing. Mama duduk di bangku pertama, sementara aku dan teman-teman duduk di deretan paling belakang. Kemudian, wali kelasku yang bernama bu Hesti menyebutkan juara 1, 2, dan 3. Selanjutnya, barulah disebutkan peringkat 10 besar.

Ruangan kelas pun riuh rendah karena tepuk tangan orang-orang yang hadir saat itu. Sesekali kudengar celetukan beberapa orang tua murid, “Wah, pintar ya anaknya. Sangat membanggakan orang tuanya.” Jantungku berdegup begitu hebatnya. Tiba-tiba badanku jadi dingin. Tapi kedua telapak tanganku berkeringat. Dalam hati, aku bergumam, “Mengapa bukan aku yang juara 1. Ini tidak masuk akal. Aku sangat yakin aku lebih pintar dibandingkan ketiga temanku yang memeroleh juara 1. Lantas, mengapa aku tidak dapat juara kelas sama sekali? Minimal juara 3. Sungguh, ini benar-benar tidak adil. Aku curiga, pasti wali kelasku berbuat curang padaku karena aku pernah mendebatnya waktu pelajaran IPS. Aku tahu, pasti ia benci padaku dan memberikan peringkat keenam padaku.”

Aku sakit hati, aku telah gagal. Padahal aku telah belajar mati-matian untuk menghadapi ujian. Bahkan gara-gara belajar, aku pun jadi sering telat makan. Kata Mama, “Jangan terlalu dipaksakan belajarnya, nak nanti sakit.” Aku pun menjawab,  “Tidak Ma, aku akan sehat-sehat saja. Aku ingin juara 1. Sudah lama aku mengidamkan itu. Sekarang kesempatanku untuk meraih juara itu, Ma.” Namun takdir bicara lain. Pupus sudah harapan yang selama ini aku bangun. Empat tahun berjuang belajar dengan giat untuk memeroleh juara I, tapi semuanya kandas. aku harus menelan pahit bahwa aku memang ditakdirkan sebagai murid peringkat keenam selama di SD.

Pembagian raport telah usai, semua orang tua murid dan teman-temanku pulang ke rumahnya masing-masing. Ada yang dibalut rasa suka cita. Ada juga temanku yang membatu karena diomelin oleh ibunya. Sementara aku? Aku diselimuti kebencian, aku benci sekolah. Aku memutuskan tidak akan sekolah lagi. Sekolah hanya menciptakan ketidakadilan. Ada guru yang tidak tahan didebat muridnya walaupun sebenarnya ia tahun bahwa ia salah. Guru tidak selalu benar dan murid tidak selalu harus menurut kepada guru. Aku berlari kencang, kencang sekali meninggalkan Mama.

Liburan.

Hari demi hari kulalui dengan sangat buruk. Mengunci diri di kamar dan menghindar dari orang-orang sekitar. Kadang, teman-teman bermainku mengunjungiku. Namun aku tidak menghiraukan mereka. Aku hanya mengunci diri di kamar dan diam. Semua perlakuanku sama pada semua orang, termasuk pada Mama. Kadang aku menyadari, apa salah Mama sehingga aku pun memperlakukan hal yang sama pada Mama. Entahlah, rasanya keegoisan dan kebencianku memuncak sehingga siapa pun jadi korbannya.

Mama sering sekali mengetuk pintu kamarku. Memintaku untuk membukakan pintu. Tapi aku acuh. Aku hanya keluar jika ingin ke kamar mandi atau ke dapur mengambil makan, apabila lapar. Selebihnya aku hanya di kamar. Membaca novel tentang petualangan seorang anak yang menjelajahi gunung sendirian. Ah, rasanya ingin sekali aku seperti dia. Mengembara sendirian, berjalan di sabana yang luas, dan tinggal di pondok kecil yang jauh dari manapun. Terutama lagi, aku tidak akan sekolah. Aku benci sekolah.


Sudah lima hari aku menyiksa diri di kamar. Kadang aku ingin ke luar kamar, tapi masih sakit hati karena peristiwa hari Sabtu saat pembagian raport. Pagi telah menjelang, dan siang pun merangkak malam. Tapi aku hanya membatu sembari membayangkan kebahagiaan di dalam kesendirian. Jam menunjukkan sudah pukul 8 malam, aku pun tertidur karena sepasang mataku terlalu lelah membaca novel tentang petualangan seorang anak yang sudah kubaca sebanyak 7 kali.

Aku tersentak bangun. Kulihat jam menunjukkan sudah pukul 2 dini hari. Tiba-tiba aku mendengar isakan tangis memuncah dari kamar Mama. Ya, itu suara Mama. Sayup-sayup kudengar suara itu. Aku pun membuka pintu kamar perlahan-lahan menuju kamar Mama. Ternyata Mama sedang berdoa. Diam-diam aku pun menghempaskan badan di tempok luar kamar Mama. Aku mendengar jelas lantunan doa yang dimengalir dari mulut Mama. Sebuah doa khusus yang sengaja Mama sampaikan pada Allah untuk ditujukan padaku.

“Ya Rahman yang membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya. Aku mohon pada-Mu ya Rabb, kembalikanlah senyuman anakku seperti sedia kala. Biarkan aku yang menanggung semuanya. Aku ikhlas ya Allah. Aku bersyukur Engkau telah menganugrahkan anak baik dan sholeh padaku. Tapi aku lalai, aku tidak tahu jika permasalah kemaren begitu membuat ia terpukul. Aku gagal menjadi ibu yang menjadi tempat ia berkeluh kesah. Sehingga buah hatiku pun enggan menceritakan rasa hatinya padaku. Aku benar-benar bersalah. Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi apa-apa dengan sayangku. Ya Rabb, hanya kepada-Mu aku memohon. Berilah semangat kepada anakku. Agar ia menjadi tegar dan kembali ceria seperti dulu. Aku tidak peduli dia tidak juara kelas atau tidak berprestasi akademik. Aku hanya ingin dia bisa kuat dalam menghadapi segala permasalahan yang ia hadapi. Aku sangat sayang padanya ya Rabb. Jagalah ia dalam kebaikan cinta-Mu. Aku mohon.”

Air mata Mama mengalir membasahi pipinya. Tanpa sadar, mataku pun berkaca-kaca ingin menumpahkan air mata yang mengkristal. Aku menghampiri Mama dan memeluknya erat-erat. “Mama, aku tidak akan cengeng lagi. Maafkan aku telah membuat Mama sedih. Aku berjanji, aku akan berprestasi. Ma, akan kubuktikan, aku pasti bisa. Aku akan membuat Mama bangga.”

Bandung, 10 Februari 2011

 

Kerja Sembari Kuliah, Mungkinkah?

Catatan Mahasiswa Pascasarjana (Bagian 1)

Oleh: Mahfud Achyar

429096_3152865350840_1549738364_n
Alumni Universitas Padjadjaran, Bandung (2007-2011)
Setelah wisuda sarjana pada November 2011, ada dua hal yang betul-betul saya inginkan: bekerja atau lanjut kuliah?  Kedua pilihan tersebut sebetulnya sangat menggiurkan. Kala itu, saya ingin sekali lanjut kuliah. Saya pikir, menjadi dosen tentu akan sangat menyenangkan. Saya pun mencari informasi beasiswa S2 khususnya beasiswa Dikti yang memang diperuntukkan bagi calon dosen/tenaga akademik. Beberapa teman saya juga melakukan hal yang sama. Wajar, sejak kuliah memang beasiswa tersebut yang kami incar. Kami ingin sekali menjadi dosen di kampus kami. Berada di antara para pemburu beasiswa membuat saya begitu bersemangat dan tidak sabar untuk segera kuliah kembali! Saya pun telah mantap memilih Universitas Indonesia sebagai kampus pilihan untuk menimba ilmu, khususnya di bidang ilmu lingustik.

Akan tetapi, rencana tersebut berubah ketika saya pindah dari Bandung ke Jakarta. Entahlah, kadang saya sendiri merasa tidak yakin apakah rencana tersebut memang betul saya inginkan atau mungkin saya hanya ikut-ikutan. Integritas saya mulai dipertanyakan. Sejujurnya, dari hati kecil saya, hal utama yang saya dambakan yaitu mandiri secara finansial. Mungkin alasan tersebut terkesan klise. Namun begitulah apa adanya. Sejak kuliah, saya sudah terlalu banyak merepotkan kedua orang tua saya. Rasanya wajar bila pada usia yang ke-21 tahun, saya tidak ingin lagi menjadi anak yang menyusahkan. Seharusnya sayalah yang memberikan kontribusi untuk keluarga saya. Secara tegas, saya putuskan bahwa saya harus bekerja! Titik. Untuk urusan kuliah, saya rasa pasti suatu saat akan menemukan jalan yang tidak akan saya sangka-sangka. Tuhan bukankah artisitek yang Maha Hebat?

Lagipula, alasan saya bekerja tidak hanya sebatas untuk mendapatkan lembaran rupiah. Lebih jauh dari itu, saya butuh pekerjaan untuk mengaktualisasikan kemampuan yang saya miliki. Saya ingin menjadi praktisi komunikasi. Sebuah profesi yang sejak SMA sangat saya idam-idamkan. Rasanya akan sangat menarik bertemu dengan banyak orang, mengatur pesan, serta merancang program-program yang kreatif. Kadang, saya tidak bisa tidur hanya karena membayangkan diri saja bekerja dan menjadi bagian dari sebuah tim yang hebat.

Awal tahun 2012, saya mulai mengetuk pintu beberapa perusahaan ternama di Jakarta dengan harapan mereka tertarik dengan riwayat hidup saya kemudian menerima saya sebagai bagian dari perusahaan mereka. Namun nyatanya apa yang saya anggap sederhana (melamar-wawancara-diterima) jauh lebih pelik dan kompleks. Saya ingat betul, waktu itu hampir semua kesempatan kerja saya coba. Mulai dari walk in interview hingga datang ke pameran bursa kerja. Semuanya saya lakoni dengan sebaik mungkin. Bahkan, saya memiliki beberapa akun di situs penjaring kerja dengan perhitungan bahwa peluang untuk mendapatkan pekerjaan akan lebih besar. Berhasil? Belum!

Setiap hari, aktivitas utama yang saya lakukan yaitu mengecek surat elektronik untuk membaca pesan dari perusahaan-perusahaan yang saya lamar. Terkadang saya beruntung mendapatkan telefon dari perusahaan yang tertarik dengan riwayat hidup saya. Namun seringnya saya justru tidak lolos tahap akhir. Kecewa? Sudah sangat pasti. Boleh dikatakan, awal-awal tahun 2012 merupakan masa-masa tersulit dalam hidup saya. Acapkali saya merasa menjadi sangat emosional dan sentimentil. Saya sulit sekali membedakan maksud pesan dari orang-orang di sekitar saya yang acap bertanya, “Apakah saya sudah bekerja”” Perhatian dan prihatin seakan tidak ada bedanya. Sama-sama menyakitkan. Namun apabila dipikirkan lagi sekarang, seharusnya saya tidak perlu mengambil sikap seperti itu. Namun bagaimanapun, saya tidak bisa mengelak bahwa memang pada saat itu hati saya sungguh kacau dan otak saya tidak dapat berpikir secara jernih. Benar-benar tidak karuan! Mudah-mudahan bisa menjadi pengingat untuk saya hingga kapanpun.

Mei 2012. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di salah satu NGO di Jakarta. Sebelum menerima tawaran tersebut, sebetulnya saya juga sudah diterima di salah satu perusahaan media terkenal di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Namun saya tolak tawaran tersebut lantaran ada satu alasan yang sangat personal.

Jika boleh bercerita, ketika masa-masa sulit tadi, saya merasa sangat jauh dengan Tuhan. Barangkali harusnya saya bisa lebih dekat dengan Tuhan, berkeluh kesah pada-Nya. Tapi yang terjadi justru saya merasa menjaga jarak dengan-Nya. Suatu kesempatan, saya berdoa kepada Tuhan agar saya mendapatkan pekerjaan yang membuat saya bisa dekat dengan-Nya. Secara sederhana, saya ingin nanti ketika saya bekerja minimal saya bisa menjalankan ibadah sholat lima waktu tanpa halangan berarti. Ya, demikianlah pinta saya pada-Nya. Setelah berpikir cukup lama dan berusaha melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan saya. Well, akhirnya saya memilih bekerja di NGO sebagai aktivis kemanusiaan.

Satu tahun lebih bekerja di NGO, banyak kesempatan emas yang mulai berdatangan. Salah satu kesempatan hebat yang tidak akan mungkin saya tepis yaitu kesempatan mendapatkan beasiswa program magister. Ada dua beasiswa yang saya incar, yaitu beasiswa Kemenpora dan beasiswa Medco Foundation-Universitas Paramadina. Kedua jenis beasiswa tersebut memang secara spesial diberikan kepada penggiat organisasi kepemudaan dan aktivis NGO.

Saya tahu mengenai beasiswa Kemenpora sejak kuliah di Unpad. Kebetulan, salah seorang senior saya di BEM pada saat itu menjadi penerima beasiswa tersebut. Saya mendapatkan informasi banyak dari beliau. Untuk informasi lebih detil, Anda bisa bisa baca dengan seksama pada tautan berikut: http://bit.ly/2bWVBOo. Persyaratan untuk mendapatkan beasiswa tersebut sebetulnya tidak begitu rumit. Kita hanya perlu menyediakan dokumen-dokumen yang diminta serta mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi untuk program pascasarjana di Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada.

Pada saat yang bersamaan, Universitas Paramadina bekerja sama dengan Medco Foundation juga membuka peluang beasiswa bagi aktivis NGO, jurnalis, dan tenaga pengajar. Informasi mengenai beasiswa ini dapat Anda temukan pada tautan berikut: http://bit.ly/2crTvS8. Worth to share yep!

Kedua beasiswa tersebut sejujurnya membuat saya bimbang. Saya seakan berada di persimpangan jalan, saya ragu jalan mana yang hendak saya pilih. Di satu sisi, pihak dari Universitas Indonesia beberapa kali menghubungi saya untuk mengambil kesempatan menjadi mahasiwa program studi Kajian Ketahanan Nasional . Namun di sisi lain, saya sangat tergoda dengan program studi Corporate Communication di Universitas Paramadina.

Sore itu, selepas pulang kantor, saya memantapkan hati saya untuk memilih Universitas Paramadina dengan berbagai pertimbangan. Pertama, saya bekerja sebagai praktisi komunikasi (Marketing Communication). Tentunya jika mengambil jurusan komunikasi maka akan sangat mendukung karir profesional saya. Kedua, saya rasa saya memiliki ikatan emosional dengan Universitas Paramadina. Dulu, saya pernah ingin berkunjung ke sana, namun tidak pernah berkesempatan. Entahlah, apakah itu alasan yang cukup berterima? Namun satu hal yang pasti, Universitas Paramadina sudah diakui keunggulannya dalam menyelenggarakan pendidikan. Apalagi saat itu, idola saya, Bapak Anies Baswedan menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina. Selain itu, setelah saya pikir-pikir ternyata Universitas Padjadjaran dan Universitas Paramadina memiliki kesamaan. Jika disingkat maka sama-sama UP! Aha, mungkin nanti jika ingin kuliah program doktor sepertinya saya perlu mencari kampus yang memiliki singkatan UP.

Oh ya, ada hal yang lupa saya ceritakan kepada tuan dan puan sekalian. Kuliah di Universitas Paramadina memungkinkan kita untuk bekerja sembari kuliah. Jadi pertanyaan pada judul tulisan, “Kerja sembari kuliah, mungkinkah?” Jawabannya sangat mungkin. Possible! Rata-rata beasiswa yang lain mewajibkan penerima beasiswa untuk mengikuti perkuliahan secara reguler (perkuliahan biasanya berlangsung hampir setiap hari dan jam kerja). Namun jika kalian kuliah di Universitas Paramadina, waktu kuliah biasanya dimulai pada pukul 7 malam dan berakhir pada pukul 9 malam (maksimal pukul 9.30 malam bergantung dosen). Anda tertarik mendapatkan beasiswa di Universitas Paramadina? Jika tertarik, pada tulisan berikutnya saya bercerita bagaimana perjuangan saya mendapatkan beasiswa beserta tips-tips yang mudah-mudahan bermanfaat. Viva Academia!

Jakarta, 7 September 2016.

Semangat dalam Secangkir Caffe Latte

Sejujurnya, saya bukanlah seorang penggemar kopi. Saya bahkan tidak begitu hapal jenis-jenis kopi di dunia beserta lengkap dengan filosofinya. Ketika menonton film Indonesia yang berjudul “Filosofi Kopi” yang diperankan oleh Chiko Jerikho, Rio Dewanto, dan Julie Estelle–saya takjub karena ternyata di dunia ini ada orang-orang yang begitu candu dengan kopi. Pada film tersebut, tokoh Ben, yang diperankan oleh Chiko Jerikho tampak natural memerankan peran sebagai barista yang sangat terobsesi meracik secangkir kopi dengan sempurna.

Processed with VSCO with a6 preset
Caffe Latte (Photo taken by: Mahfud Achyar)

Di kantor saya yang dulu, ada seorang teman yang juga mencintai kopi. Bahkan, ia memiliki alat peracik kopi manual. Sesekali saya perhatikan, ia terlihat menikmati proses pembuatan kopi, mulai dari menumbuk serbuk kopi yang masih berserat kasar, menuangkan air panas dengan derajat kepanasan yang pas, mengaduk kopi dengan sangat lembut, serta menyajikan secangkir kopi ke dalam cangkir berwarna putih. Ia sangat menyukai kopi hitam. Beberapa teman saya yang lainnya juga menyukai kopi hitam. Katanya, “Kopi itu harusnya tanpa gula.” Saya pun hanya bisa menganggukkan kepala.

Pernah suatu ketika, saya berdiskusi dengan seorang teman perempuan mengenai kelezatan kopi yang dijual di salah kedai kopi ternama di dunia. Saya berkata, “Gue suka kopi rasa espresso di Starbucks!” Kemudian teman saya yang ternyata penyukai kopi hitam (khususnya kopi Sumatera) menimpali celetukan saya, “Ah, kopi Starbucks mah kopi banci!” Seketika itu juga saya kaget dan meminta ia mengklarifikasi perkataannya. Ia pun menjawab, “Ya, menurut gue sih ga worth beli kopi mahal di Starbucks tapi rasanya kurang original. Gw lebih suka kopi tradisional yang gue racik sendiri. Menurut gue itu lebih enak.”

Saya pun hanya bisa terdiam dan berusaha mencerna setiap frasa yang keluarnya. Intonasi bicaranya sangat datar seolah tidak begitu menghargai penilaian saya terhadap cita rasa kopi. “Oke, barangkali setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda soal kopi. Pasti akan terjadi perdebatan yang berkepanjangan,” gumam saya dalam hati.

Kopi dan Selera

Menurut artikel yang saya baca, karakter seseorang dapat dilihat dari kopi yang ia minum. Konon bagi orang yang suka dengan kopi hitam, ia digambarkan sebagai pribadi yang misterius, pekerja keras, dan selalu fokus dalam bekerja.

Entahlah, kadang saya berpikir itu hanyalah teori yang yang masih diragukan keabsahannya. Namun bila benar ada penelitian semacam itu, mungkin saya akan mengubah sudut pandang saya mengenai kopi. Sejauh ini, saya berpendapat bahwa tidak ada relevansi kopi dan orang yang meminumnya, Saya pikir itu kopi bergantung selera masing-masing individu. Saya tidak terlalu suka kopi hitam. Bahkan sejujurnya, saya tidak terlalu menyukai kopi. Namun beberapa tahun ke belakang, saya mulai menyukai kopi, khususnya caffe latte tanpa gula. Ada rasa manis yang tidak berlebihan, ada rasa pahit yang tidak terlalu pekat. Menurut saya rasanya sangat pas di lidah. Perfecto!

Akan tetapi, jauh sebelum saya menyukai kopi, saya adalah pencinta susu dan teh. Sewaktu kecil hingga SMA, saya hampir setiap hari minum susu. Kata nenek saya, “Susu itu bagus untuk kecerdasan.” Saya pun menjadi ketagihan untuk minum susu tidak hanya pada pagi hari, namun terkadang juga malam hari sebelum tidur. Namun semenjak kuliah, saya sudah jarang minum susu. Maklum, tinggal jauh dari orang tua membuat saya harus pintar mengatur finansial yang terbatas. Maka, membeli susu bukanlah hal yang prioritas untuk saya. Setelah lulus kuliah kemudian bekerja, saya ingin mengembalikan kebiasaan saya untuk meminum susu. Sayangnya, kondisi sekarang jauh berbeda dibandingkan waktu saya kecil hingga SMA. Sekarang, jika saya minum susu pada pagi hari, sudah dapat dipastikan perut saya akan terasa sakit. Akibatnya, saya harus buang air besar. Lebih parah lagi saya bisa terserang diare.

Beberapa hari yang lalu, saya berkonsultasi dengan teman saya seorang dokter. Namanya Sari. Saat ini ia sedang bertugas menjadi salah satu dokter umum di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Secara spesifik, saya mengeluhkan tentang penolakan perut saya ketika mengkonsumsi susu pada pagi hari.

Berikut jawaban yang disampaikan oleh Sari.

Dear Achyar, kemungkinan terbesar kondisi yang mas alami adalah intoleransi laktosa (meskipun masih banyak kemungkinan lain). Intoleransi laktosa adalah suatu kondisi tubuh, di mana tubuh tidak dapat mencerna secara sempurna laktosa yang terdapat dalam susu dan produk olahannya karena kurangnya enzim laktase di dalam tubuh yang berfungsi untuk mencerna laktosa (gula dalam susu). Laktosa yang tidak tercerna akan mengalami proses fermentasi di imusus besar yang nantinya dapat menghasilkan gas yang menyebabkan perut tidak nyaman dan bahkan bisa menyebabkan diare. Biasanya kondisi ini terjadi pada remaja dan dewasa.

Intoleransi laktosa terjadi pada saat mengkonsumsi susu dan produk olahannya. Gejala yang dirasakan beragam seperti perut terasa todak nyaman, sering buang gas, dan bahkan diare. Saran yang dapat saya berikan: 1) Coba mengkonsumsi susu bukan pada pagi hari. Produksi asam lambung yang meningkat pada malam hari, biasanya jika perut dalam keadaan kosong dan diisi susu akan terjadi peningkatan produksi gas lambung yang menyebabkan rasa tidak nyaman. Coba konsumsi susu pada siang atau malam hari sebelum tidur; 2) Jika pada saat mengkonsumsi susu selain pagi hari masih terdapat keluhan yang sama, cobalah mengkonsumsi susu dicampur dengan bahan makanan lain misalnya oatmeal atau mengganti susu murni dengan produk olah susu lain dengan kandungan gizi yang sama; dan 3) Jika memang benar intoleransi laktosa, maka yang bisa dilakukan adalah menghindari susu serta produk olahannya. Zat gizi yang ingin diperoleh misalnya kalsium dan lain-lain bisa diperoleh dengan sumber gizi lain.

 Intoleransi laktosa bukan sesuatu yang berbahaya. Akan tetapi, lebih baik memerlukan penanganan lebih lanjut terutama untuk mengenali produk-produk apa saja yang menyebabkan munculnya gejala pada tiap individu. Konsultasi lebih lanjut dengan dokter tetap diperlukan. Terima kasih.”

Ah, menulis tentang susu saya jadi teringat dengan nenek saya. Dulu, hampir setiap pagi, neneklah orang yang paling berjasa membuatkan susu untuk saya. Kini, susu seolah menjadi musuh saya terutama jika diminum pada pagi hari. Pun demikian, bukan berarti saya sudah tidak minum susu lagi. Jika waktunya pas dan memang sedang ingin susu, pasti saya akan meminumnya.

Berbeda dengan nenek, mama saya sering membuatkan secangkir teh hangat untuk saya. Apalagi pada momen Ramadan, teh seakan menjadi minuman wajib ketika sahur atau buka puasa. Saya suka sekali teh. Salah satu jenis teh yang menjadi favorit saya yaitu Thai tea yang saya beli waktu liburan di Bangkok pada Februari lalu. Rasa Thai tea agaknya cocok dengan lidah saya. Enak.

Well, setelah membahas susu dan teh, selanjutnya mari kita kembali membahas kopi. Menurut literatur yang saya baca, kopi mulai dikenal masyarakat dunia pada saat Perang Salib sekitar tahun 1096-1099. Dikisahkan bahwa kopi merupakan minuman para tentara Muslim. Setelah kalah perang, konon kabarnya biji kopi menjadi harta rampasan perang yang dibawa oleh pasukan Katolik Roma ke daratan Eropa. Sejak saat itu, kopi mulai terkenal dan menjadi minuman favorit oleh masyarakat dunia. (Jika informasinya kurang berterima, mohon dikoreksi ya!)

Menyoal tentang minuman seperti susu, teh, dan kopi biasanya selalu saya kaitkan dengan beberapa orang. Jika susu merujuk pada nenek, teh merujuk pada mama atau kakak, maka kopi merujuk pada sahabat saya di kantor dulu yang kami juluki “Barista Terkeren Se-Jakarta.” Sejujurnya, julukan yang kami berikan (kami merujuk pada teman-teman satu divisi Marcomm) agar Sang Barista yang dimaksud bersedia mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam meracik caffee latte. Oh ya, nama teman saya itu Feri. Nama lengkapnya Feriyanto. Itu nama terpendek untuk zaman semodern saat ini.

Specifically, Feri adalah master caffee latte. Kami sangat menyukai kopi buatannya. Jika kantuk mulai menyerang dan diiringi rasa malas yang menggurita, maka kami tinggal merengek kepada Feri. Tara! Kopi pun siap diseduh! (Resep kopi ala Feri tidak dapat dipublikasikan pada tulisan ini. Resep rahasia).

Ada semangat dalam secangkir caffee latte. Mengutip perkataan Marcia Carrington, “A morning coffee is my favorite way of starting the day, settling the nerves so that they don’t later fray.”

Pagi hari, saat nyawa saya masih 50:50, saya begitu terobsesi dengan secangkir kopi. Terkadang saya menganggap kopi laiknya doping yang dibutuhkan oleh seorang pekerja Jakarta untuk menjadi produktif, semangat, dan riang gembira. Walau sekarang saya sudah menyukai kopi, saya tidak ingin bergantung padanya. Saya hanya akan meminumnya bila saya membutuhkannya.

Belakangan ini bila baru bangun tidur, saya membiasakan diri untuk meminum air putih hangat. Saya berharap organ dalam tubuh saya bisa bekerja maksimal hingga hari tua. Saya tidak ingin merepotkan orang! Fix! Tulisan ini sungguh acak dan absurd. Demikianlah hidup.

Jakarta,

23 Agustus 2016.

Hari-Hari Tanpa Sekolah

 

Catatan Relawan Kelas Inspirasi

Oleh: Mahfud Achyar

IMG_1818
Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi (Foto oleh: Yeni Suryati)

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan

Saya bergabung menjadi keluarga besar Kelas Inspirasi sejak tahun 2014. Namun sebelum menjadi relawan Kelas Inspirasi, saya beberapa kali mengikuti kegiatan sosial yang digagas oleh relawan Kelas Inspirasi Jakarta 4 yang bertajuk “Kunjungan Inspirasi”. Sama halnya dengan program Kelas Inspirasi, kegiatan Kunjungan Inspirasi bertujuan untuk memberikan motivasi kepada anak-anak untuk berani bermimpi, berani mengajar cita-cita mereka. Segmentasi Kunjungan Inspirasi yaitu anak-anak binaan di beberapa Taman Baca di Jakarta. Sejak mengikuti kegiatan tersebut, saya jatuh cinta dengan aktifitas sosial khususnya di bidang pendidikan.

Oleh sebab itu, ketika panitia Kelas Inspirasi Depok 2 membuka pendaftaran relawan, tanpa banyak pertimbangan saya putuskan untuk  mendaftar menjadi relawan pengajar (baca: inspirator). Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya saya menerima surat elektronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi. Saat itu, rasa senang membucah dalam jiwa. Dalai Lama XIV pernah berkata, “Happines is not something ready made. It comes from your own actions.”

Satu hari cuti, seumur hidup menginspirasi. Begitulah semangat yang berusaha dipelihari oleh para relawan Kelas Inspirasi. Kami meyakini bahwa kegiatan Kelas Inspirasi (selanjutnya disingkat KI) tidak hanya menginspirasi anak-anak sekolah dasar, melainkan juga menginspirasi kami, para relawan. Sebelum Hari Inspirasi, semua relawan berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dari panitia KI mengenai gambaran kegiatan pada Hari Inspirasi. Merinding. Saya merinding menyaksikan ternyata masih banyak orang-orang baik di bumi pertiwi ini. Mereka, saya menyebutnya invisible hands, adalah orang-orang yang nantinya akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Kapan? Entahlah. Saya sendiri tidak bisa membuat prediksi yang presisi. Namun satu hal yang patut saya yakini, Indonesia masih memiliki harapan. Para relawan, barangkali merekalah segelintir harapan itu. Selama harapan masih ada dalam setiap dada generasi muda Indonesia, saya yakin kondisi sulit sekalipun dapat ditangani dengan baik. Saya meyakini hal itu. Sungguh.

Suatu hari di kelas penelitian kualitatif, dosen saya berkata, “Indonesia itu surga untuk penelitian. Betapa tidak, hampir semua masalah ada di Indonesia.” Saya pun secara spontan menganggukkan kepala pertanda saya sependapat dengan dosen tersebut. “Iya, Indonesia itu banyak masalah! Iya, Indonesia itu belum bisa semaju Amerika atau Inggris! Iya, Indonesia itu banyak kurang sana-sini! Lantas, apakah saya hanya bisa menyalahkan kondisi pelik yang  dihadapi oleh negara saya sendiri?” tanya saya dalam hati.

John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat (1917-1963), pernah berkata, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Semua orang bisa berteriak untuk menyalahkan, namun tidak semua orang bisa untuk berbuat, untuk turun tangan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Terkadang saya lelah melihat, membaca, dan mendengarkan orang-orang yang sering sekali memproduksi konten yang mendestruksi bangsa ini di berbagai lini masa. Saya akui terkadang saya juga melakukan hal yang sama. Namun belakangan saya berpikir ulang, jika saya melakukan hal yang sama dengan mereka, maka saya tidak ada bedanya. Menyedihkan.

Ada satu kutipan yang sangat menginspirasi dalam hidup saya. “Kondisi buruk terjadi bukan karena banyaknya orang jahat di muka bumi ini. Namun karena orang-orang baik hanya diam dan berpangku tangan.” Bagi saya pribadi, barangkali menjadi relawan KI barangkali adalah salah satu cara untuk making the world a better place. I hope so!

Pengalaman menjadi relawan pengajar di SDN Depok 5 pada tahun 2014 membuka telinga, mata, dan hati saya bahwa permasalahan dunia pendidikan Indonesia sangatlah pelik dan kompleks. Jika ada teman yang menanyakan pendapat saya mengenai profesi guru, saya selalu katakan, “Percayalah menjadi seorang guru tidaklah mudah!”

Pagi itu, sebelum mulai mengajar di kelas 2, jantung saya berdegup sangat kencang. Saya gugup dan saya tidak yakin bahwa hari itu Dewi Fortuna berpihak kepada saya. Kondisi semacam itu sejujurnya sudah seringkali saya alami, misalnya, ketika ujian kelulusan atau mungkin wawancara beasiswa. Perasaan yang selalu sama: kacau. Namun saya berusaha menenangkan diri sembari hanya bisa bergumam, “Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berlalu.” All is well.

Menit-menit pertama mengajar merupakan momen yang sangat menyenangkan. Saya mulai berhasil menguasai suasana kelas. Kekhawatiran saya tentang sulitnya menjelaskan istilah-istilah Marketing Communication mampu saya atasi dengan cukup baik. Anak-anak terlihat antusias, mereka bertanya ini dan itu. Saya merasa senang karena mereka terlihat antusias mengikuti proses belajar mengajar. Namun selanjutnya apa yang terjadi? Chaos!

Seorang siswa laki-laki entah mengapa tiba-tiba menangis. Sontak suasana kelas berubah mencekam. Kondisi semakin tidak terkendali ketika ada dua orang siswa yang berkelahi, saling pukul di antara mereka berdua pun tidak bisa dielakkan.

Sementara itu, anak-anak yang dari tadi antusias mendengarkan penjelasan saya juga ikut berteriak, membuat gaduh semakin riuh. Beruntung saat itu saya didampingi oleh teman saya. Kami pun berbagi tugas untuk mendamaikan anak-anak yang berkelahi dan membuat suasana kelas tetap kondusif. Saya pun menghampiri anak yang tadi berteriak dan menangis.

Sambil terisak ia berkata, “Tas saya disembunyikan pak!” Saya berusaha menenangkannya, namun  ia meronta. Seakan ia tidak butuh pertolongan. Seorang anak menyahut, “Dia emang cengeng pak!” Mendengar hal tersebut, si anak semakin marah dan kesal. Kondisi demikian membuat saya kewalahan. Perlahan, saya coba tenangkan dia dan memintanya untuk kembali duduk di kursinya. Ia sempat menolak, namun akhirnya luluh setelah saya bujuk berulang kali. Melelahkan.

Selidik demi selidik, ternyata anak tersebut memang sering menjadi objek bullying di kelasnya. Hampir setiap hari, ada saja yang membuat ia marah dan kesal. Mengetahui hal tersebut, saya hanya bisa terdiam. Seketika memori masa lampau hadir kembali.

Source - i(dot)huffpost(dot)com
Girl comforting her friend (Source: i.huffpost.com)

Dulu, ketika saya di bangku sekolah dasar, bullying merupakan fenomena yang sudah biasa. Dalam bahasa Indonesia, bullying memiliki serapan kata yaitu perundungan. Ada banyak faktor mengapa seorang siswa bisa menjadi objek perundungan, misalnya ia memiliki rambut keriting, kulit hitam, atau hidung pesek. Tidak hanya lantaran fisik semata, objek perundungan bisa juga lantaran sang anak memiliki nama yang “unik” dan sebagainya. Terlepas dari hal itu semua, siapa pun punya potensi yang sama untuk menjadi objek perundungan di sekolah. Jika sang anak telah menjadi korban bullying, maka hari-hari di sekolah adalah hari-hari yang menyeramkan.

Tiga kali menjadi relawan KI, mulai dari tahun 2014 hingga 2016, saya menyaksikan fenomena bullying selalu ada, bahkan telah menjadi efek bola salju. Sayangnya, pemerintah, pihak sekolah, maupun orang tua siswa tidak begitu aware dengan kasus ini. Padahal menurut saya, bullying laiknya dementor yang menghisap kebahagiaan anak-anak yang mendambakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Bayangkan, setiap hari anak-anak korban bullying harus menghadapi kondisi psikologis yang buruk. Mereka diejek, mereka ditolak, mereka dihina, dan mereka dimusuhi. Sangat menyakitkan.

2 Mei 2016 lalu, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, saya kembali menjadi relawan KI yang ditempatkan di SDN Cijantung 07 Pagi. Jika pada KI sebelumnya saya menjadi relawan pengajar dan fasilitator, tahun ini saya beranikan diri untuk menjadi relawan dokumentator, khususnya fotografer.

Ketika sesi pergantian pengajar, para relawan berkumpul di laboratorium yang menjadi base camp kami. Salah seorang relawan pengajar, Gicha Graciella (27 tahun), tampak kesal setelah mengajar di kelas 5. Ia bercerita bahwa ada seorang anak yang menjadi objek bullying teman-temannya lantaran bapaknya bekerja sebagai tukang parkir. Ia terus diejek oleh teman-temannya. Tidak hanya sekali, namun berulang kali. Gicha pun tidak tinggal diam. Sebagai seorang guru saat itu, ia berusaha memberi pengertian kepada para siswa bahwa sesama teman tidak boleh saling menyakiti. Kepada kami, Gicha kesal karena ternyata bullying menjadi hal yang dianggap lumrah terjadi di sekolah.

Senada dengan  Gicha, saya pun bersepakat bahwa seharusnya isu bullying menjadi perhatian banyak pihak. Apalagi pada tahun 2015 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir data yang mengejutkan dunia pendidikan Indonesia. “Jumlah anak sebagai pelaku kekerasan (bullying) di sekolah mengalami kenaikan dari 67 kasus pada 2014 menjadi 79 kasus pada 2015.” (Sumber: Republika.co.id, 30 Desember 2015).

Lebih lanjut, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan data naiknya jumlah anak sebagai pelaku kekerasan di sekolah menunjukkan adanya faktor lingkungan yang tidak kondusif bagi perlindungan anak.

Sebagai manusia dewasa, barangkali kita sulit memasuki perasaan anak-anak yang menjadi korban bullying. Bahkan, anak-anak korban bullying juga sulit untuk mengutarakan perasaan mereka yang setiap harinya dicela oleh teman-temannya. Menurut saya, akibat buruk dari bullying adalah timbulnya rasa benci dari korban bullying kepada teman-teman yang menjahatinya. Bahkan lebih parah, mereka benci dengan sekolah, mereka mungkin mendambakan hari-hari tanpa sekolah. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, saya berharap kasus bullying dapat menjadi fokus pemerintah, pihak sekolah, dan keluarga. Bukankah sekolah akan lebih menyenangkan bila tidak ada bullying? STOP BULLYING!

Jakarta,

7 Juni 2016

 

 

 

 

 

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU