Hari-Hari Tanpa Social Media

 

WhatsAppImage2020-02-07at3.47.36PM
Photo by Mahfud Achyar

Rabu malam, 7 Agustus 2019, usai nonton film “Spider-Man: Far From Home” di bioskop, saya masuk ke aplikasi Instagram. Niat hati ingin berselancar di dunia maya untuk mengetahui aktivitas terbaru dari orang-orang yang saya ikuti, malah yang saya dapatkan kabar buruk dari Instagram.

Ketika hendak saya log in, tiba-tiba muncul notifikasi, “Error. Your account has been disabled for violating our terms…” Sontak saya panik. Mengapa saya tidak bisa log in? Mungkinkah saya lupa kata sandi? Atau jangan-jangan, ada yang membajak akun Instagram saya? Saya berupaya menenangkan diri walau sejujurnya saat itu jantung saya berdegup kencang.

Saya bingung bercampur was-was. Saya khawatir ada yang membajak akun Instagram saya. Lalu, saya menghubungi seorang teman untuk menanyakan solusi atas kasus yang saya alami. Katanya, coba lapor dulu ke Instagram. “Semoga segera balik ya!” tulisnya singkat.

Akhirnya, prosedur yang disampaikan teman saya tadi saya lakukan. Berharap Instagram keliru lantaran sudah menutup akun saya. Sembari menunggu umpan balik dari Instagram, sayapun menelusuri artikel-artikel yang memuat informasi tentang kasus yang saya alami. Beberapa artikel menyebut bahwa penutupan akun yang dilakukan Instagram lantaran pengguna Instagram yang melanggar aturan yang dibuat untuk menciptakan rasa aman dan nyaman dalam komunitas Instagram.

Saya kemudian mundur ke belakang, memikirkan apakah memang saya termasuk pengguna Instagram yang buruk? Rasanya tidak. Foto terakhir yang saya unggah yaitu foto bersama teman-teman usai penutupan sebuah acara di Taman Ismail Marzuki. Lagi pula, saya tidak begitu sering memperbarui konten Instagram, entah itu Instagram Stories atau Feed. Selain itu, jika boleh memberikan penilaian terhadap diri sendiri, rasanya saya termasuk pengguna media sosial yang bijak.

Lagi, saya dibuat bingung oleh Instagram, mengapa dari sekian banyak pengguna, justru akun saya yang ditutup? Namun daripada terus bertanya-tanya tanpa ada jawaban yang jelas, akhirnya saya memutuskan untuk rehat menggunakan social media, khususnya Instagram.

Suatu malam di sebuah kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan, saya pernah membuka topik diskusi di hadapan teman-teman saya. Saat itu, saya katakan pada mereka saya lelah main social media. Saya katakan pada mereka, social media terutama Instagram, takubahnya seperti etalase di sebuah butik mewah. Pengguna Instragram, kerap kali hanya menampilkan konten-konten yang indah di akun mereka; foto liburan di pantai atau gunung, menyeruput secangkir cappucino di salah satu kafe ternama, promosi jabatan atau wisuda, dan aktivitas yang menyenangkan lainnya. Jarang sekali orang-orang menampilkan kisah sedih atau kisah gagal tentang hidup mereka. Jikapun ada, barangkali takbanyak. Namun begitulah manusia, siapa yang mau dibilang orang gagal? Siapa yang mau dibilang orang yang menyedihkan? Cukuplah hal-hal yang indah saja yang dibagikan di social media. Bukankah begitu?

Pada akhirnya, Instagram menciptakan rekonstruksi sosial. Kebahagiaan seseorang dinilai dari konten yang mereka bagikan di Instagram; berapa jumlah followers-nya, berapa jumlah likes-nya, seberapa tinggi engagement-nya, seberapa bagus tone fotonya, seberapa rapi feed-nya, dan hal-hal superficial lainnya. Terkesan begitu chessy namun begitulah paradoks yang terjadi di Instagram.

Sebagai seorang communications specialist, saya tahu persis cara kerja Instagram. Pengetahuan yang saya miliki, saya gunakan untuk memaksimalkan fungsi Instagram sehingga dapat memberikan dampak yang besar. Orang-orang yang sangat concern dan passionate terhadap konten biasanya disebut dengan istilah influencer. Ada juga yang menyebutnya content creator. Bebas.

Secara sederhana, begini cara kerja seorang influencer atau content creator; pikirkan konten yang akan dibagikan, tentukan prime time yang tepat, maksimalkan berbagai jenis aplikasi untuk menyunting foto/video (bergantung konten yang akan dibagikan), pikirkan caption yang kuat, kemudian selanjutnya ucapkan mantra, “Instagram, please do your magic!”

Ketika konten sudah dibagikan, persoalan tidak lantas selesai. Kita harus selalu memantau pergerakan jumlah likes, siapa saja yang meninggalkan komentar, seberapa jauh jangkauan konten kita terhadap pengguna lain, dan hal-hal yang melelahkan lainnya. Kerap kali juga, kita tidak puas dengan konten yang sudah kita bagikan sehingga kita mengarsip konten yang sudah tayang.

Melakukan hal tersebut kadang menyenangkan, namun lebih seringnya melelahkan. Menyenangkan karena melatih kreativitas kita untuk membuat konten yang menarik, konten yang impactful. Melelahkan karena kita begitu bergantung dengan penilaian orang lain. Jika yang menyukai konten kita sedikit, kita merasa sedih. Jika yang menyukai konten kita banyak, kita merasa bangga. Seolah-olah kita begitu haus pengakuan dari orang lain. Padahal jika niat kita memang untuk berkarya mengapa kita terlalu risau jika karya kita tidak diapresiasi orang lain? Berkarya saja. Jika ada yang mengapresiasi, anggap saja itu bonus.

Persoalan berikutnya, social media juga membuat kita tidak pernah merasa cukup dengan diri kita sendiri. Kita seringkali membandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Seperti kata pepatah, “Rumput tetangga terlihat lebih hijau.” Padahal bisa jadi, rumput kita kering kerontang lantaran tidak dirawat dengan baik.

Ingin sekali berpikiran positif bahwa apa yang terlihat di Instagram belum tentu semenarik itu. Rumput tetangga mungkin terlihat hijau, padahal mungkin saja rumput yang mereka punya sebenarnya adalah rumput sintetis. Namun sialnya, kadang kita tidak dapat mengontrol pikiran kita. Paparan konten di Instagram yang begitu intens, takjarang membuat kita merasa, “Kok hidup kita begini-begini saja sementara teman-teman kita hidupnya tampak sempurna?” Lantas, kita menyalahkan diri sendiri lantaran dewi fortuna tidak berpihak pada kita.

Selain itu, social media takubahnya seperti jendela berukuran kecil. Semua orang mengintip kehidupan orang lain melalui jendela kecil itu. Kita menerka-nerka kehidupan orang lain dari konten yang mereka bagikan. Lalu, kita bertransformasi menjadi cenayang yang seolah tahu betul detail kehidupan orang lain hanya dengan mengintipnya melalui jendela kecil.

Seorang teman, pernah mengutarakan kekecewaannya lantaran tidak diajak olahraga bersama oleh temannya. Hal itu terjadi tidak lama setelah ia melihat Instagram Stories temannya. Ia merasa tidak dianggap, ia merasa ditinggal. Padahal, apa yang ia pikirkan belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada. Bisa jadi, itu konten lama yang baru sempat ia unggah, atau sebenarnya sah-sah saja jika temannya tidak mengajaknya olahraga bersama. Bukankah itu hal yang biasa? Namun nyatanya, apa yang kita anggap biasa, belum tentu biasa bagi orang lain. Setiap orang berbeda-beda dalam menyikapi suatu hal.Tidak boleh kita pukul rata.

Sekelumit keresahan saya tentang social media khususnya Instagram, membuat saya berpikir ulang, “Untuk apa saya main social media jika saya mudah cemas, mudah khawatir, merasa rendah diri, merasa tidak pernah cukup, dan perasaaan-perasaan tidak enak lainnya?” Harusnya, social media menjadi medium yang menyenangkan! Bukan malah menjadi pemacu yang membuat kesehatan mental saya terganggu.

Menyadari bahwa social media justru membuat hati saya tidak tenang, membuat saya tidak pernah merasa cukup dengan diri saya sendiri, ditambah hilangnya akun Instagram saya—membuat saya merenung dan mengambil keputusan, “Mungkin tiba waktunya saat beristirahat menggunakan social media.”

Satu bulan berlalu, akun Instragam saya tidak pernah kembali. Selamat tinggal followers yang sudah mencapai angka ribuan, selamat tinggal konten yang saya buat sedemikian rupa, dan selamat tinggal perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan.

Tidak lama berselang, akhirnya saya membuat akun Instagram baru. Namun bedanya, akun saya saat ini digembok. Saya hanya mengikuti teman-teman dekat, orang-orang yang saya pikir baik untuk kesehatan mental saya, dan beberapa akun lainnya yang menarik untuk diikuti.

Sekarang, saya merasa lebih tenang. Saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu. Saya juga menemukan kembali diri saya yang lama, bahwa saya memang orang yang sangat tertutup. Saya hanya berbagi dengan orang-orang yang saya kenal. Saya ternyata tidak nyaman jika kehidupan saya dilihat oleh orang-orang yang tidak saya kenal. Jika social media diibaratkan seperti rumah, rasanya saya hanya akan membuka pintu rumah untuk orang-orang yang saya izinkan saja.

Bagi saya, jumlah likes dan sebagainya tidak lagi penting. Hal yang paling penting untuk saya saat ini yaitu inner peace. Saat kembali bermain social media, mungkin saya akan dihadapkan lagi persoalan yang sama, namun ketika saya sudah memiliki inner peace lebih mudah untuk saya mengelola pikiran dan perasaan saya. Saya jadi teringat pesan Stewart Udall, If you want inner peace, find it in solitude, not speed, and if you would find yourself, look the land from which you came and to which you go.”

 

Jakarta,

7 Februari 2020.

Dua Sisi Rembulan

IMG_20171125_120531_374
Stop this train. Photo by Mahfud Achyar.

Saya selalu jatuh hati dengan kata-kata. Entah sejak kapan saya menyadarinya. Mungkin sejak kali pertama saya bisa mengeja. Saya lupa bagaimana awalnya saya bisa mengeja hingga akhirnya bisa membaca. Seingat saya, ketika mendaftar sekolah dasar, saya diminta mengeja oleh kepala sekolah. Lalu dengan mudah saya mengeja setiap kata yang tertera pada buku ajar “Lancar Berbahasa Indonesia”.

Ketika kelas 1 sekolah dasar, guru bahasa Indonesia meminta saya untuk membaca kalimat di papan tulis. Banyak teman-teman yang belum lancar membaca. Tapi bagi saya, membaca merupakan pekerjaan yang paling mudah untuk anak usia enam tahun.

Sejak kemampuan membaca saya meningkat pesat, saya mulai tertarik dengan sastra. Mudah sekali bagi saya untuk melahap cerita-cerita pendek dalam durasi waktu yang sangat singkat. Tidak hanya sekadar membaca, saya juga memahami cerita yang saya baca. Membaca cerita pendek tidak pernah menjadi beban. Malah menjadi kesenangan karena saya menemukan dunia baru, dunia yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Bayangkan 26 abjad bisa melahirkan ratusan, ribuaan, bahkan jutaan gagasan. Bahkan, kata-kata baru muncul setiap tahunnya. Huruf seolah memiliki sihir yang dapat mengubah persepsi, membangkitkan imajinasi, hingga bisa membuat depresi. Beruntung bagi mereka yang dapat menggunakan kekuatan kata-kata untuk mencerahkan orang lain, membuat orang tergerak, membuat orang berpikir. Bukankah itu menakjubkan?

Saya pernah membaca kutipan dari seorang penulis yang bernama Salim A. Fillah pada bukunya yang berjudul “Dalam Dekapan Ukhuwah”. Buku tersebut saya baca ketika masih menjadi mahasiswa. Ada kutipan pada buku tersebut yang sangat membekas hingga saat ini. Isi kutipannya seperti ini, “Setiap orang ibarat bulan. Memiliki sisi kelam yang takpernah ia tunjukkan pada siapapun. Pun sungguh cukup bagi kita memandang sejuknya bulan pada sisi yang menghadapi bumi.”

Belakangan, saya teringat kembali kutipan tersebut lantaran sangat merepresentasikan pandangan saya terhadap bagaimana kita menilai orang lain. Manusia, takubahnya seperti rembulan. Ya, setiap hari kita mungkin dapat melihat bulan. Bahkan pada siang hari sekalipun. Kita juga terbiasa mengamati delapan fase bulan. Mulai dari dari fase bulan baru (new moon), hilal awal bulan/bulan sabit awal (waxing cresent), paruh awal (first quarter), cembung awal (waxing gibbous), bulan purnama (full moon), cembung akhir (wanning gibbous), paruh akhir (third quarter), hingga hilal akhir bulan/bulan sabit akhir (wanning cresent).

Padahal, di luar angkasa bentuk bulan tetaplah sama. Bulat. Namun karena kita melihatnya dari bumi, maka yang terlihat bentuk bulan yang berubah-ubah. Itulah yang dimaksud dengan fase bulan, perubahan bentuk bulan jika diamati dari bumi. Hal tersebut terjadi lantaran bulan mengelilingi bumi dari barat menuju timur yang membutuhkan waktu 29,5 hari.

Menggunakan mata telanjang atau teleskop sekalipun, kita hanya dapat melihat bulan dari satu sisi. Sisi belakangnya? Penuh misteri. Menggunakan perumpamaan bulan untuk menggambarkan seseorang, menurut saya itu hal yang jenius. Perumpamaan yang mudah diterima.

Manusia adalah makhluk yang kompleks karena terdiri dari sel-sel yang juga kompleks dan juga bekerja secara kompleks. Tapi untuk menyederhanakan itu semua, ada dua sisi pada manusia yang akan selalu ada; sisi kelam dan sisi terang. Sayangnya, sisi terang lebih banyak mendapatkan paparan dibandingkan sisi kelam. Orang-orang lebih senang memperlihatkan hal-hal yang indah seperti prestasi dan materi. Maka takheran kini kian banyak bermunculan media sosial untuk memfasilitasi orang-orang untuk memamerkan apa yang disebut sisi terang.

Untuk sisi kalam, seberapa banyak orang yang mau mengumbarnya? Walau ternyata ada juga orang-orang yang memberanikan diri untuk bercerita tentang sisi tergelap dalam hidup mereka. Tapi jumlah mereka tidak banyak. Banyak alasan mengapa sisi gelap tidak terpapar secara masif dibandingkan sisi terang. Ada perasaan malu, perasaan bersalah, dan perasaan-perasaan buruk lainnya. Pada akhirnya, sisi kelam hanya akan disimpan untuk diri sendiri atau mungkin diceritakan untuk orang-orang yang memang layakan untuk dipercaya.

Pun begitu, setiap manusia memiliki sisi kelamnya masing-masing, bukan? Beberapa di antaranya juga mungkin memiliki sisi abu-abu. Namun bukankah itu hal yang biasa? Manusia lahir dengan ‘ketidaksempurnaan’. Semua memiliki cacat, semua pernah berbuat salah.

Akan tetapi, jika kita terlalu fokus pada sisi kelam seseorang, maka kita abai bahwa ia juga memiliki sisi terang. Bisa jadi, setiap hari dia sedang berjuang untuk menyinari sisi gelapnya dengan berbuat baik—dan hal tersebut tidak ia umbar di media sosial.

Bicara tentang media sosial memang selalu melelahkan. Ilustrator Citra Marina pada bukunya yang berjudul “You’re Not As Alone As You Think: The Stories of Choo Choo” menulis pesan pengingat untuk kita semua. Menggunakan karakter Choo Choo yang sedang melihat ponsel pintar, Citra menyelipkan pesan, “Imagine seeing someone only through a small, tiny window… and thinking that you know their entire life.”

Media sosial secara sadar tidak sadar membuat kita mudah memberikan penilaian terhadap orang lain, mudah juga menghakimi. Sayapun sering begitu. Rasa-rasanya, mudah sekali membaca karakter seseorang dari feed mereka, lalu berkata, “Ah, dia orangnya seperti ini….bla…bla…bla…”. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu seseorang sampai kita berada pada sepatu yang sama dengannya. “Don’t judge anyone until you have walked a mile in their shoes.”

Memang tidak mudah menerima seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Manusia akan selalu dihadapi dengan pertarungan-pertarungan sengit melawan perasaan yang tidak mengenakkan. Tapi bukankah lebih menenangkan bila kita lebih fokus pada sisi terang layaknya kita memandang bulan pada sisi yang menghadapi bumi?

 

Jakarta,

17 Januari 2020.

Sajak untuk Mereka yang Berhati Hangat

WhatsAppImage2019-11-14at5.39.47PM
Veteran St, Jakarta (Photo by. Mahfud Achyar)

Hari ini, 13 November, masyarakat di dunia merayakan World Kindness Day. Gagasan ini pertama kali tercetus pada 1998 yang bertujuan untuk mempromosikan kebaikan di seluruh dunia. Sederhananya, World Kindness Day merupakan alarm untuk mengingatkan orang-orang di seluruh dunia untuk selalu berbuat baik.

Saat ini, kita hidup di dunia yang penuh prasangka. Belum lagi, rumah yang kita tinggali kian renta. Hidup di zaman ini memang tidak mudah. Terkadang, hati terasa sesak, terkadang pikiran menjadi kalut. Rasa-rasanya ingin pergi galaksi nun jauh di sana. Berharap mungkin saja di sana ada rumah yang lebih ramah untuk ditinggali. Berharap mungkin saja di sana lebih mudah menemukan orang-orang yang berhati hangat.

Akan tetapi, Marcus Tullius Cicero pernah berkata, “While there’s life, there’s hope.” Percayalah, walau orang-orang jahat terlihat lebih banyak, akan selalu ada orang-orang yang berbuat baik. Mungkin, wajah mereka tidak familiar. Mungkin, nama mereka tidak terdengar. Mungkin, jasa mereka tidak pernah dicatat. Namun aroma kebaikan mereka akan terus menyeruak hingga menembus ruang, waktu, dan jarak.

Jika hidup terasa pahit, cobalah mengingat memori kebaikan yang pernah terjadi dalam hidup kita. Contohnya seperti yang saya alami hari ini. Usai makan siang dan hendak menyebrang jalan, tidak ada satupun pengendara yang mau memperlambat laju kendaraannya. Entahlah, mungkin semua orang sedang buru-buru. Persoalan menyebrang di jalanan Ibukota memang kadang menguras energi. Kendati kita menyebrang di jalur yang benar seperti zebra cross, selalu ada saja pengendara yang tidak mau mengalah. Sebagai pejalan kaki, kadang mau tidak mau kita juga harus nekat menerobos pengendara yang egois.

Pun begitu, akan selalu ada pengendara yang baik hati. Seorang pengendara motor memperlambat laju kendaraannya sembari memberi aba-aba agar saya dapat menyebrang. Hal yang sederhana, namun terasa begitu istimewa.

Kebaikan lainnya saya temukan di peron kereta. Seorang bapak paruh bayu mengeluarkan kotak plastik berisi makanan kucing. Ia menghampiri seekor kucing yang sedang berbaring. Kucing tersebut terlihat kurus. Jelas, ia kurang makan. Bapak itu kemudian memberinya makan dan sesekali mengelus badan kucing dengan penuh kasih sayang. Si kucing makan dengan lahap. Mungkin ia tidak menyangka akan mendapatkan makanan yang enak dari seorang bapak yang entah di mana rumahnya.

Dari jauh, saya hanya bisa melihat pemandangan yang membuat hati terasa hangat. Ingin mengabadikan momen saat itu. Namun urung saya lakukan. Rasanya, tidak semua momen harus didokumentasikan. Kadang cukup saya simpan sendiri. Tidak perlu dibagikan pada banyak orang.

Kereta listrik melaju, di perlintasan kereta api, ada petugas yang berjaga sepenuh hati untuk memastikan tidak ada satupun kendaraan yang lewat saat kereta melintas. Jika petugas tersebut lalai menjalankan tugas, sudah dapat dibayangkan hal buruk pasti terjadi. Untuk sang penjaga palang pintu kereta, terima kasih tiada terkira dari kami penumpang kereta.

Sementara di dalam kereta, orang-orang berharap mendapatkan kursi. Membayangkan perjalanan di kereta bisa digunakan untuk istirahat usai hari yang melelahkan. Namun sayangnya, apa yang kita harapkan kadang jauh dari kenyataan. Tidak mengapa toh masih muda dan masih banyak orang-orang yang butuh kursi, terutama mereka yang sudah menua.

Seorang pemuda yang sedang asik membaca buku kemudian berdiri. Ia mempersilakan seorang ibu di depannya untuk duduk. “Silakan duduk, Bu.” Ibu tersebut tersenyum sembari berucap, “Terima kasih, Nak.”

Ah, lagi-lagi hati terasa hangat. Nyatanya masih banyak orang-orang berhati lembut. Saya kemudian melihat ke bawah. Memandangi sepatu yang sedang dipakai oleh seorang wanita. Sepatu itu mengingatkan saya kepada sepatu lari saya yang hilang di masjid kantor. Hari itu, saya merasa sangat sial. Padahal, itu sepatu lari saya satu-satunya. Namun apa boleh buat, musibah siapa yang bisa prediksi? Akhirnya, seorang teman meminjamkan sepatu lari miliknya hingga akhirnya saya bisa lari selepas pulang kerja.

Dalam satu hari saja, ada begitu banyak kebaikan yang dapat kita temukan. Kebaikan akan selalu ada, bahkan dalam hal yang sederhana sekalipun. Seorang teman kantor yang menawari secangkir kopi hangat, seorang pengemudi ojek yang mengantarkan kita ke tempat tujuan kita dengan selamat, seorang penjual nasi goreng yang masih berjualan kendati waktu sudah menujukkan pukul 12 malam, seorang teman yang mengirimkan pesan inspiratif, dan seorang-seorang lainnya.

Untuk mereka yang berhati hangat, terimalah sajak berikut:

Kita mungkin takselalu bisa berbuat baik. Namun bila hati kita baik, kita akan selalu berupaya berbuat baik. Kebaikan yang sudah kita lakukan, bisa jadi tidak akan diingat, tapi bukankah itu tidak menjadi persoalan? Teruslah berbuat baik sebab dunia butuh lebih banyak orang baik.”

Jakarta,

13 November 2019

Setelah Tiada, Seperti Apa Orang-Orang Mengenang Kita?

My shadow. Photo by. Mahfud Achyar.

Ponsel pintar dalam saku celana saya bergetar. Ternyata ada pesan masuk di grup WhatsApp. Seorang teman mengirim tautan berita daring dengan judul “BJ Habibie Meninggal Dunia”. Sontak saya kaget lalu membaca tautan berita tersebut. “Presiden RI ke-3, BJ Habibie, tutup usia. Habibie meninggal di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun.” Begitu kalimat pembuka berita duka meninggalnya Presiden RI ke-3 yang akrab dipanggil Eyang Habibie.

Kepergian Eyang Habibie untuk selama-lamanya ke alam keabadian menyisakan duka yang teramat dalam bagi rakyat Indonesia, khususnya bagi orang-orang yang pernah berinteraksi secara langsung dengan beliau semasa hidupnya. Lini media sosial dibanjiri ucapan kalimat duka cita. Banyak juga yang mengunggah foto bersama Eyang Habibie lengkap dengan cerita kenangan mereka mengenal sosok Eyang Habibie; entah itu hanya sekali bertemu, beberapa kali, atau sering bertemu.

Semua orang mengenang sosok Eyang Habibie dengan kenangan yang baik. Ia tidak hanya dikenang sebagai salah satu presiden Indonesia yang progresif, namun juga dikenang sebagai orang yang telah menginspirasi banyak orang, khususnya anak-anak yang lahir era tahun 80-an hingga 90-an. Saya, mungkin satu dari sekian banyak anak-anak Indonesia pada masa itu yang bercita-cita menjadi seorang Habibie. Mungkin tidak ingin menjadi seorang insinyur seperti Habibie yang berhasil membuat pesawat sendiri melainkan menjadi orang pintar layaknya Habibie.

Ketika kecil, mama saya selalu berpesan, “Kamu harus rajin belajar agar nanti pintar seperti Habibie.” Bisa dikatakan, Habibie menjadi teladan anak-anak Indonesia untuk bersemangat meraih mimpi, untuk bersemangat membuat bangsa Indonesia dipandang terhormat di mata dunia.

Untuk mengenang jasa-jasa Eyang Habibie untuk Indonesia, pemerintah menginstruksikan untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari, mulai tanggal 12 September hingga 14 September 2019. “Selamat jalan, Eyang Habibie. Terima kasih sudah berkontribusi besar untuk bangsa ini. Terima kasih sudah menjadi teladan bagi banyak orang,” tulis saya di beranda Facebook.

Jauh sebelum kepergian Eyang Habibie, ketika kecil, ada dua kabar duka yang paling saya ingat, yaitu meninggalnya Ibu Tien Soeharto pada 28 April 1996 dan meninggalnya Lady Diana 31 Agustus 1997. Kepergian dua tokoh tersebut ramai disiarkan di televisi. Orang-orang berduka. Berbagai cara dilakukan untuk menunjukkan rasa simpati kepada ke dua tokoh tersebut, salah satunya mengirim karangan bunga.

Dari berita duka meninggalnya Eyang Habibie, Ibu Tien Soeharto, dan Lady Diana, lalu menyeruak satu pertanyaan yang hingga saat ini belum saya temukan jawabannya, “Setelah saya tiada, seperti apa orang-orang mengenang saya?”

Saya membayangkan jika hari itu tiba, mungkin saja orang-orang yang mengenal saya akan bersedih. Lalu, ada beberapa orang yang mengantarkan saya ke tempat perisitirahatan saya yang terakhir, ada juga mungkin yang mengunggah foto saya di media sosial, serta kemungkinan-kemungkinan lainnya. Namun beberapa hari kemudian, hidup kembali berjalan normal–ada atau tidak adanya saya. Keluarga saya kembali melanjutkan hidup, begitu juga dengan teman-teman saya. Sementara saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi di kehidupan saya berikutnya.

Kembali pada pertanyaan tadi, ketika kita sudah tiada, seperti apa orang-orang mengenang kita? Mungkin jawabannya akan beragam. Setiap orang yang pernah berinteraksi dengan kita memiliki sudut pandang yang berbeda-beda saat mengenang kita. Semua itu bergantung pengalaman mereka. Ada mungkin orang-orang yang pernah kita sentuh hatinya, ada mungkin orang-orang yang kita sakiti hatinya.

Saya kemudian bertanya pada salah seorang teman mengenai pertanyaan tadi. Ia menjawab singkat, “Pendiam.” Baginya, saya adalah orang yang pendiam dan mungkin hal itu benar adanya. Tidak ada ruang justifikasi untuk jawaban teman saya tersebut. Saya hanya mengucapkan terima kasih atas kejujurannya.

Terlepas dari jawaban yang mungkin berbeda-beda, sejujurnya ada satu kata sifat yang ingin sekali saya tinggalkan ketika saya sudah tidak ada lagi di dunia ini, yaitu big heart. Bahwa saya dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang saya miliki, saya berupaya memaafkan orang-orang yang pernah berbuat buruk terhadap saya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Terkadang, saya masih ingat betul perlakuan buruk orang lain terhadap saya. Perih hati masih terasa sama. Namun, saya memilih memerdekakan hati saya. Biarlah yang sudah terjadi menjadi cerita kehidupan yang takharus disimpan, apalagi dikenang. Memaafkan sejatinya bukan untuk orang lain, namun justru untuk diri saya sendiri. Memaafkan berarti saya berdamai dengan masa lalu, kemudian memilih untuk menjalani hidup dengan hati yang lapang.

Selain itu, saya rasa saya termasuk jenis orang yang sering mengingat kebaikan walau jarang saya ungkapkan. Bahkan, saya berpikir harusnya saya mendapatkan balasan atas hal baik yang saya lakukan. Seperti ungkapan yang sering terdengar, “Take and give.” Namun belakangan saya menyadari bahwa saya keliru. Seharusnya jika memang saya berbuat baik, maka lakukanlah dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan balasan. Jujur, bagi saya itu cukup berat. Namun, bukankah manusia akan diuji hal yang sama hingga ia berhasil melewati ujian tersebut?

Manusia tidak seharusnya menjadi tempat kita menyimpan pengharapan. Biarkan harapan kita satu-satunya kita percayakan kepada Sang Pencipta. Sebab, jika kita terlalu berharap pada manusia, maka siap-siap kita akan patah hati dan kecewa. Meski, patah hati dan kecewa juga tidak apa. Namun, bukankah hati terasa lebih merdeka saat kita takharus punya alasan untuk berbuat baik?

Entahlah, mungkin itu hanya sebatas cita-cita saat saya telah tiada. Hal sebaliknya sangat mungkin terjadi. Tapi setidaknya sekarang saya sudah cukup lega. Ada tujuan hidup yang menjadi pengingat saya dalam menjalani hari-hari yang masih tersisa. Persoalan seperti apa orang-orang mengenang saya ketika nanti saya tiada, sekarang menjadi tidak begitu penting lagi. Untuk apa saya memikirkan sesuatu yang sulit saya prediksi. Lebih baik, saya menjadi pribadi yang ingin saya cita-citakan untuk diri saya sendiri. Seorang pribadi yang memiliki hati yang lapang. Semoga.

Tentang kematian, rasanya kutipan dari Irving Berlin sangat mewakili suara hati saya, “The song is ended, but the melody lingers on.”

 

Jakarta,

12 November 2019.

Jangan Pernah Merasa Berjuang Sendiri

Pelican crossing at Thamrin Street Jakarta. Photo by Mahfud Achyar.

Jangan pernah merasa berjuang sendiri, yang lain juga sedang berjuang, tapi dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang memperlihatkan, ada juga yang menyembunyikan. Hanya kita tidak ada punya kuasa untuk mengetahui secara rinci permasalahan apa yang mereka hadapi. Ada yang memilih berbagi, ada juga yang memilih untuk menyimpan rapat-rapat. Lagi-lagi, semua kembali pada pilihan masing-masing orang. Tidak ada yang benar atau yang salah dalam perkara ini.

Kemarin, mungkin satu dari sekian banyak hari yang terberat dalam hidup saya. Ada masalah yang sedang saya hadapi dan sepertinya masalah tersebut berulang kali terjadi. Lalu, ditambah kemarin ada kejadian yang menguji kesabaran saya. Lengkap sudah.

Seperti biasa, setiap hari saya berangkat ke kantor menggunakan Transjakarta. Pagi itu, saat saya hendak tap in kartu uang elektronik, petugas Transjakarta mengatakan mesin untuk tap in mengalami gangguan. Jadi, harus menggunakan uang tunai sebesar dua ribu rupiah karena masih di bawah pukul 7 pagi. Sialnya, dompet saya saat itu kosong. Tidak ada uang sama sekali. Sementara lokasi mesin ATM cukup jauh. Penumpang lainya berhasil masuk karena mereka membawa uang tunai.

Saya punya pengalaman, sering ada penumpang yang tidak bisa tap in lantaran tidak membawa kartu uang elektronik atau saldo kartunya tidak cukup. Saya kemudian inisiatif menawari dia untuk menggunakan kartu saya hingga akhirnya ia berhasil masuk. Sebenarnya, saya agak ragu menulis hal ini khawatir saya mengingat-ingat kebaikan. Namun, pagi itu pikiran buruk terlintas di benak saya, “Mengapa saat saya lagi kesusahan tidak ada yang membantu?”

“Mas, mesin tap in yang rusak di halte ini saja atau semua halte?” tanya saya.

“Di halte ini saja mas,” jawabnya singkat.

Akhirnya dengan langkah yang berat, saya ke luar halte. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba terlintas pikiran, “Mengapa saya tidak bertanya kepada penumpang lain? Adakah yang bersedia meminjamkan kartu uang elektronik sehingga saya bisa masuk?” Namun anehnya, hal itu tidak saya lakukan. Saya memilih untuk ke luar halte dan berjalan menuju halte lainnya dengan perasaan kesal.

Berjalan beberapa meter, akhirnya saya tiba di halte berikutnya dan berhasil tap in. Di dalam Transjakarta, saya mengeluarkan earphone kemudian memutar playlist lagu-lagu favorit saya di Spotify. Saya melihat ke arah jendela. Lirih saya berkata, “Mengapa hari ini terasa berat?” Saya menghembuskan napas pelan-pelan, berharap dapat berpikir lebih jernih.

Lalu, saya melihat para penumpang Transjakarta. Ada yang sedang memainkan ponsel pintar, ada yang sedang tertidur, dan ada juga yang sedang melamun. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul lagi lintasan pikiran. Katanya, “Jangan pernah merasa berjuang sendirian, yang lain juga sedang berjuang.”

Orang-orang di dalam Transjakarta, bisa jadi memiliki masalah yang jauh lebih berat dibandingkan masalah yang sedang saya hadapi. Penumpang yang tertidur, barangkali ia ingin melupakan sejenak masalah rumah tangga yang sedang ia alami. Penumpang yang sedang memainkan ponsel pintar, barangkali ingin melepas penat dan stres lantaran pekerjaan kantornya takkunjung rampung. Penumpang yang sedang melamun, barangkali ia baru saja kehilangan orang yang dicintai.

Setelah melihat wajah para penumpang Transjakarta, saya berpikir bahwa perasaan sedih, kecewa, dan marah itu hal yang biasa. Tidak ada yang salah dengan perasaan-perasaan itu. Mereka akan terus menyapa kita. Mereka akan terus hadir menjadi bagian dari emosi kita. Mungkin kita tidak perlu mengusir mereka. Katakan pada mereka, “Baiklah, kali ini kamu boleh hadir, tapi jangan lama-lama ya. Semoga bisa pergi secepatnya.”

Begitulah kisah hidup anak manusia. Selalu ada dua cerita untuk setiap kehidupan; kehidupan yang kita jalani dan kehidupan yang kita ceritakan kepada orang lain. Tidak ada yang betul-betul tahu kehidupan seseorang. Kita mungkin bisa berasumsi, kita mungkin bisa menerka-nerka. Namun, cerita utuh dari kehidupan manusia hanya ia dan Tuhan-lah yang tahu. Bisa jadi, di balik senyuman, ada rasa resah dan gelisah. Bisa jadi juga dalam diam seseorang, ia sedang berbisik, “Dunia ramahlah padaku.”

Everybody has their own problems. No matter how big you think yours are, there is someone else that has bigger problems or different problems.” – Josh Hutcherson.

Jakarta,

5 November 2019

 

Jika Saja

_20190517_154734
Photo Captured by Mahfud Achyar

Suatu malam di sebuah restoran cepat saji, seorang teman memulai percakapan. Katanya, “Kalian tahu bahwa bahasa cinta ada lima. Ada words of affirmation (pujian), quality time (menghabiskan waktu bersama), receiving gifts (hadiah), acts of service (dilayani), dan physical touch (sentuhan fisik). Dari lima bahasa cinta tersebut, mana yang sering kalian gunakan?” tanyanya penuh selidik.

Semua orang terdiam, memikirkan mana jawaban yang paling tepat yang menggambarkan kebiasaan yang sering disampaikan kepada orang-orang terkasih, entah itu orang tua, saudara, pasangan atau sahabat. Seorang teman menyeru, “Saya memilih quality time lantaran jadwal saya cukup padat, apalagi jika hari kerja. Mencari waktu untuk bertemu teman-teman saja susahnya minta ampun. Jadi, jika ada waktu luang, saya akan memanfaatkannya untuk bertemu dengan teman-teman dekat,” jelasnya.

Semua orang mendengarkan dengan seksama sembari mengangguk pertanda setuju. Lalu, ada juga teman yang memilih memberi hadiah untuk orang-orang yang disayangi, ada juga yang memilih mengekspresikan rasa sayang dengan pujian atau apresiasi. Jawaban tentang pertanyaan mana bahasa cinta yang sering digunakanpun beragam. Unik, nyatanya manusia memiliki bahasa cinta yang berbeda satu sama lainnya.

Gagasan tentang lima bahasa cinta ditulis oleh Gary Chapman pada bukunya yang berjudul “The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate” (1992). Salah Satu kutipan Gary Chapman pada buku tersebut berbunyi seperti ini, “For love, we will climb mountains, cross seas, traverse desert sands, and endure untold hardships. Without love, mountains become unclimbable, seas uncrossable, desert unbearable, and hardships our lot in life.” Terdengar sangat manis.

Cinta barangkali adalah senyawa yang menggerakkan hati dan pikiran kita untuk memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi. Bisa jadi, lantaran cinta, takada lagi sekat bahasa cinta yang harus dikotak-kotakan seperti yang disampaikan oleh Gary Chapman. Bahasa cinta bisa bertansformasi menjadi pekerjaan yang melebihi batas imajinasi, batas diri, dan batas-batas teori.

Obrolan malam itu terus berlanjut hingga akhirnya tiba giliran saya menjawab mana bahasa cinta yang sering saya gunakan. Saya bingung sebab saya sendiri tidak pernah mengidentifikasi jenis bahasa cinta yang paling sering saya gunakan. Saya melihat jauh ke dalam diri saya, menerawang sekiranya dari semua pilihan bahasa cinta yang ada, mana yang paling menggambarkan diri saya? Jujur, saya kesulitan.

Bisa dibilang, saya adalah tipikal orang yang selektif. Tidak mudah bagi saya untuk dekat dengan banyak orang. Butuh proses yang panjang: observasi, interaksi, hingga akhirnya memutuskan siapa saja pilih untuk saya curahkan sisi terbaik yang saya miliki. Terkesan pilih-pilih. Namun begitulah adanya.

Balik lagi pada pertanyaan tentang bahasa cinta, saya memilih words of affirmation dan pray. Untuk pilihan kedua memang tidak ada dalam bukunya Gary Chapman. Namun setelah melakukan internalisasi diri, memang itulah bahasa cinta yang sering saya gunakan. Saya memang terbiasa mengekspresikan rasa sayang melalui ungkapan kata-kata. Tidak ada alasan khusus. Namun sepertinya kata-kata adalah sesuatu yang tidak bisa terpisahkan dalam diri saya. Sementara untuk doa, ini adalah tahapan paling dalam dan paling akhir yang bisa saya upayakan untuk orang-orang yang saya sayangi. Saat kata takmampu lagi terucap, saat emosi taklagi mampu disampaikan dengan tepat, maka doa adalah pilihan yang terbaik. Menghadirkan Tuhan untuk menjembatani kata-kata yang tak tersampaikan.

Terlepas dari pembahasan tentang bahasa cinta, saya rasa kita semua bersepakat bahwa yang benar-benar kita inginkan untuk mereka yang terkasih hanyalah satu: yang terbaik untuk mereka. Namun sedihnya, terkadang kita harus berperang melawan rasa sesak saat kita mengetahui bahwa orang-orang yang kita sayangi memilih jalan yang kita rasa bukan jalan yang baik untuk mereka. Meski, mana jalan yang baik atau buruk, lagi-lagi bergantung pada sudut pandang.

Lantas pertanyaannya, manakah jalan yang benar-benar baik untuk kita? Setiap orang jelas memiliki jawabannya masing-masing. Belakangan saya berkontemplasi cukup lama untuk menemukan jawabannya. Saya rasa, untuk memutuskan jalan yang baik untuk kita, maka kita harus melibatkan hati kita yang terdalam, bukan melibatkan nafsu, pikiran, atau bahkan pendapat orang lain. Katakan pada diri kita, “Apakah ini yang betul-betul saya inginkan? Apakah ini yang betul-betul membuat saya bahagia? Apakah ini benar-benar diri saya yang sungguhnya?” Jika kita sudah bertanya dan menemukan jawaban yang bersumber dari hati kecil kita, ya, bisa jadi itulah jalan yang memang ditakdirkan Tuhan untuk kita.

Tentang orang-orang yang kita sayangi yang memilih jalan kita rasa tidak baik untuk mereka, upaya terbaik yang bisa kita lakukan yaitu sampaikan perasaan kita yang terdalam untuk mereka. Katakan bahwa kita benar-benar peduli kepada mereka, bicarakan dari hati ke hati tanpa ada perasaan saling menghakimi. Namun jika tidak berhasil, kita memasuki tahap proses penerimaan, bahwa apa yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain.

Sedih memang saat kita mengulurkan tangan untuk menarik orang yang kita sayangi yang nyaris jatuh ke jurang, namun justru ia memilih untuk melepaskan tangan kita. Kita marah, sedih, kecewa, dan tentu saja patah hati. Namun apa boleh buat, manusia hidup dari satu pilihan ke pilihan lainnya. Jangan menyiksa diri dengan menyalahkan kondisi yang terjadi. Terimalah dengan hati yang lapang. Setidaknya kita sudah berupaya, setidaknya kita sudah mencoba.

Jika saja telepati itu memang ada, mungkin akan lebih mudah bagi kita menyampaikan rasa sayang kita kepada mereka yang terkasih. Jika saja telepati itu memang ada, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk berbisik kepada mereka yang terkasih, “Aku rasa kamu memilih jalan keliru. Bisakah kamu mendengarkan suaraku?”

Akan tetapi manusia memang makhluk yang tidak sempurna. Kita memiliki banyak keterbatasan. Namun untuk melewati keterbatasan itu, maka kita butuh Tuhan. Minta pada-Nya sebab Ia-lah yang memiliki hati setiap manusia. “When people are ready to, they change. They never do it before then, and sometimes they die before they get around to it. You can’t make them change if they don’t want to, just like when they do want to, you can’t stop them,” pesan Andy Warhol.

Jakarta,

17 Mei 2019

Saat Irisan Kematian Begitu Tipis

20190305_170519-01
Photo captured by. Harry Anggie

Never forget how blessed you are to see another day.” – Anonymous

Dalam hidup ini, betapa sering kita mendengar, membaca, dan melihat orang-orang yang ‘lolos’ dari kematian—mungkin salah satunya kita sendiri yang mengalami peristiwa ‘lolos’ dari kematian. Saya beberapa kali memiliki pengalaman ‘lolos’ dari kematian, setidaknya empat kali selama saya hidup.

Pertama, saya pernah tenggelam ketika masih kecil. Saat itu, saya belum bisa berenang. Namun saya terbiasa bermain di pinggiran kolam dan berpegangan pada dinding-dinding kolam. Saya pikir, itu cara yang paling aman untuk bisa tetap main di dalam air tanpa takut tenggelam.

Lalu, saya ke luar dari kolam dan berdiri di pinggir kolam. Suasana kolam saat itu cukup ramai. Banyak orang-orang berenang, termasuk anak-anak seusia saya. Tiba-tiba, ada yang mendorong saya ke kolam. Saya meronta-ronta, berupaya naik ke permukaan. Namun hasilnya nihil. Saya berkali-kali minum air kolam hingga saya batuk. Mata saya terasa perih. Saya sulit bernapas.

Semakin saya berusaha keras naik ke permukaan, semakin saya kesulitan untuk bernapas. Saya tidak berharap banyak. Mungkin itu akhir hidup saya. Namun tiba-tiba seseorang mengangkat tubuh saya lalu mendorong ke pinggir kolam. Saya hampir tidak sadar diri. Namun beruntung saya selamat.

Saya tidak tahu siapa yang menyelamatkan saya pada insiden itu. Namun saya sungguh berterima kasih. Andai saja saya mengenalnya, saya akan sampaikan ungkapan terima kasih secara langsung. Kebaikannya akan selalu saya kenang hingga kapanpun. Terima kasih wahai pahlawan masa kecil saya.

Sejak kejadian itu, saya bertekad untuk bisa berenang. Saya rutin untuk belajar berenang hingga akhirnya saya benar-benar bisa berenang. Senang rasanya bisa berpindah dari satu titik ke titik lain, entah itu di kolam, sungai, ataupun laut tanpa harus takut tenggelam.

Kedua, saya dan teman-teman saya pernah nyaris ditabrak kereta api saat melewati jalan yang menjadi perlintasan kereta api. Tidak ada petugas yang berjaga, tidak ada palang pintu kereta api, dan tidak ada sirine sebagai tanda kereta api akan melintas. Mobil kami melaju melewati perlintasan kereta api. Tidak ada rasa khawatir karena memang jalanan sepi dan tidak ada tanda-tanda bahaya. Namun tidak berselang lama, kereta api lewat. Jantung saya berdegup kencang. Saya rasa kondisi yang sama juga dialami teman-teman saya. Kami mengucap syukur karena ‘lolos’ dari kematian. Terima kasih, Tuhan.

Ketiga, kejadian ‘lolos’ dari kematian juga terjadi saat berada di dalam mobil. Masih lekat di benak saya, pada 30 September 2009, tiba-tiba bumi bergoncang begitu hebat. Saya dan keluarga berada di dalam mobil menuju kota Padang.

Saat itu, momen Hari Raya Idul Fitri. Saya pulang kampung. Kami sekeluarga baru saja mengunjungi rumah saudara yang ada di Painan, Pesisir Selatan. Jalanan dari Painan menuju Padang tidak begitu besar, hanya cukup dilewati dua mobil dari arah yang berlawanan. Kondisi jalan bisa dikatakan cukup ekstrem lantaran berada di antara tebing batu dan jurang yang langsung mengarah ke laut. Gempa membuat mobil kami oleng. Namun beruntung masih bisa dikendalikan dengan baik.

Lalu, pemandangan seketika berubah begitu menyeramkan. Batu-batu di atas bukit yang berukuran besar berjatuhan dan nyaris meniban mobil kami. Semua orang di dalam mobil berteriak. Kondisi saat itu mengingatkan saya pada salah satu adegan dalam film “Knowing” (2019) yang dibintangi Nicolas Cage, saat ia dan anaknya berada di dalam mobil dan berupaya terhindar dari jilatan gelombang panas.  

Perlahan, getaran gempa mulai berkurang. Batu-batu dari atas bukit juga tidak lagi berjatuhan. Kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan. Baru beberapa meter jalan, kami melihat pemandangan yang memilukan. Seorang pengendara sepeda motor tertiban batu yang berukuran besar. Sudah dipastikan ia tidak selamat. Tragis.

Keempat, kejadian ‘lolos’ dari kematian baru beberapa waktu lalu saya alami, tepatnya pada Minggu, 17 Maret 2019, saat penerbangan dari Balikpapan ke Jakarta. Sesuai jadwal penerbangan, pesawat saya seharusnya take off pukul 19.45 WITA. Namun ketika berada di ruang tunggu, ada pengumuman dari maskapai bahwa terjadi keterlambatan penerbangan sekitar 45 menit lantaran ada kendala teknis. Pukul 19.56 WITA, pesawat sudah bisa dinaiki penumpang dan siap lepas landas. Setelah kurang lebih 35 menit terbang, tiba-tiba ada pengumuman dari awak kabin yang mengatakan pesawat memiliki masalah teknis khususnya pada kemudi kendali otomatis sehingga terpaksa harus memutar balik ke Balikpapan.

Tangan saya berkeringat, saya mulai berpikir buruk, “Bagaimana jika hal buruk terjadi pada pesawat yang saya tumpangi?” Saya melepas headphone yang sedari tadi menempel di daun telinga. Zac Efron dan Zendaya masih saja terus bernyanyi, “…How do we rewrite the stars? Say you were made to be mine? Nothing can keep us apart. ‘Cause you are the one I was meant to find…”

Saya berusaha tenang, berusaha menghalau pikiran buruk, seraya berdoa. Saya hanya bisa pasrah, berharap Tuhan melindungi kami semua. Jika memang memang kematian sudah di ambang mata, saya bisa apa?

Pesawat memutar balik menuju Balikpapan. Semua orang tampak khawatir. Kami merapal doa, benar-benar berharap bisa mendarat dengan selamat di Balikpapan. Alhamdulillah, roda pesawat menyentuh landasan bandara. Kami semua selamat.

Semua penumpang satu persatu turun dari pesawat, melewati lorong menuju counter check-in. Pihak maskapai mengatakan bahwa tidak ada lagi penerbangan ke Jakarta. Penerbangan kami merupakan penerbangan terakhir. Mau tidak mau harus diundur hingga besok pagi.

Para penumpang antre untuk mengatur ulang jadwal penerbangan mereka. Ada yang memilih jadwal penerbangan pertama pada esok hari, ada yang siang, dan ada pula yang marah-marah kepada petugas maskapai lantaran jadwal perjalanan mereka jadi kacau. Namun saya pikir, keputusan pilot untuk kembali ke Balikpapan merupakan keputusan yang paling tepat. Bagaimana jika pihak maskapai tetap memaksakan penerbangan ke Jakarta? Tidak ada yang bisa jamin bahwa kami akan selamat. Sangat berisiko. Saya tidak ingin seperti penumpang lainnya yang mengeluh, protes keras, bahkan memaki-maki petugas maskapai. “Sudah sampai selamat kembali di Balikpapan saja saya sudah tenang,” saya membatin.

Beberapa kejadian ‘lolos’ dari kematian yang pernah saya alami membuat saya merenung bahwa sejatinya kematian akan selalu mengikuti manusia hingga kapanpun. Hanya kita tidak diberi kuasa oleh Tuhan kapan kematian benar-benar menghampiri kita dan berkata, “Saatnya kamu mengucapkan selamat tinggal pada dunia.”

Terkadang, saya sering memikirkan kematian dan berharap kematian segera menyapa saya pada usia yang masih muda. Saya teringat puisi yang ditulis Soe Hok Gie, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Entahlah, mungkin saya belum menemukan Ikigai – a reason for living atau mungkin saya hanya merasa lelah; melihat dunia yang semakin tidak nyaman untuk ditinggali, kekhawatiran akan banyak hal, dan semakin lama hidup maka akan semakin banyak dosa yang saya perbuat. Mungkin kematian satu-satunya jalan untuk mengistirahatkan pikiran dan perasaan saya. Namun saya juga khawatir bahwa saya tidak benar-benar siap untuk mati muda. Bekal saya untuk kehidupan berikutnya belum banyak. Mungkinkah di kehidupan berikutnya akan lebih menyenangkan?

Buku “Ikigai: The Japanes Secret to a Long and Happy Life” (2016) yang ditulis oleh Héctor García and Francesc Miralles mengemukakan gagasan bahwa setidaknya ada empat alasan mengapa kita harus terus bertahan untuk hidup, yaitu mission, vocation, profession, dan passion yang juga dibingkai dalam empat pertanyaan, “what you love, what the world needs, what you can be paid for, and what you are good at.

Barangkali ada benarnya bahwa jika kita lelah dengan hidup, mungkin kita perlu menemukan Ikigai kita sendiri dan itu sangatlah personal. Mungkin juga kita harus mengubah perspektif kita tentang hidup itu sendiri. Beruntung kita masih bisa bangun, masih bisa bernapas, masih bisa mandi, masih bisa sarapan, masih bisa datang ke kantor, masih bisa bekerja, dan banyak hal yang masih bisa kita lakukan.

Sementara di luar sana, ada orang-orang yang benar-benar berjuang untuk hidup dan itu tentulah tidak mudah. Kata sahabat saya, Harry, “Everyday is a gift grom God.” Maka balasan untuk hadiah yang diberikan Tuhan yaitu dengan cara bersyukur, menikmati hari-hari yang kita jalani walau terkadang diselingi air mata, kecewa, duka, dan perasaan-perasaan tidak mengenakkan hati lainnya. Perlakukan perasaan itu selayaknya tamu. Ia akan datang dan pergi. Ia tidak akan singgah terlalu lama. Jadi, biarkan ia hadir, biarkan ia bertamu, dan bila perlu ucapkan selamat tinggal jika memang waktunya ia harus pergi.

Jangan terlalu risaukan masa depan yang masih menjadi misteri. Hiduplah untuk hari ini, hiduplah untuk saat ini. Kita memang diminta untuk mempersiapkan masa depan. Namun yang lebih penting yaitu masa sekarang. Masa di mana kita masih bisa merasakan hembusan napas yang terasa hangat, masa di mana kita masih bisa melihat daun-daun yang berguguran, dan masa di mana kita masih bisa mendengar burung berkicau dengan merdunya.

Saya rasa, kejadian-kejadian ‘lolos’ dari kematian merupakan isyarat dari Tuhan bahwa kita masih punya waktu untuk menggapai mimpi-mimpi kita, bahwa kita masih bisa memperbaiki hubungan yang sempat retak dengan orang lain, bahwa kita masih bisa menunjukkan sisi terbaik kita kepada orang-orang yang kita sayangi.

Jangan meminta kematian menjemput lebih awal sebab tanpa dimintapun ia akan datang. Kematian tidak akan pernah datang lebih awal atau datang terlambat. Suatu saat ia akan menyapa kita pada tempat dan waktu yang tidak disangka-sangka. Untuk itu maknailah hidup selayaknya perkataan orang bijak, No matter how good or bad your life is, wake up each morning and be thankful that you still have one.

Jakarta,

18 April 2019