It’s Okay!

WhatsAppImage2019-02-06at11.57.23AM
Jakarta when the rain comes. 

Not everyday is a good day, live anyway. Not everyone will tell you the truth, be honest anyway. Not all you love will love you back, love anyway. Not all deals are fair, play fair anyway.” – Anonymous

Saya selalu terkesima dengan konsep “The Art of Conversation,” bahwa dalam setiap obrolan, setidaknya ada satu atau dua kalimat yang tiba-tiba membuat kita merinding. Merasakan kata-kata yang keluar seolah memiliki magic lalu kita tersadarkan bahwa kata-kata itu sangat tepat untuk kondisi kita saat ini—atau mungkin membawa kita pada ingatan masa lampau. Dalam diam, kita berkata pada diri sendiri, “Oh, ini jawaban dari pertanyaan saya selama ini.”

Kerap kali magic itu tidak hadir dalam setiap obrolan. Biasanya hanya keluar pada waktu-waktu tertentu yang kita sendiri sulit merekayasannya. Ia hadir melalui pembicaraan yang dilakukan secara intim, dalam, dan sangat personal. Maka takheran bila pertemuan yang terdiri dari banyak orang, misal lebih dari lima orang, hanya melahirkan obrolan-obrolan yang dangkal. Sekadar basa-basi lalu pulang tanpa membawa pesan yang berarti.

Semakin bertambah usia, saya menyadari ada banyak hal yang berubah dalam diri saya. Dulu, saya begitu bersemangat hadir dalam pertemuan-pertemuan dalam skala besar. Saya pikir, itu baik untuk saya. Bisa berkenalan dengan orang-orang baru yang tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menjadi teman-teman baik saya di kemudian hari. Lalu, aktif di grup—menimpali obrolan hingga menjadi percakapan yang seru yang seolah tidak ada habis-habisnya.

Akan tetapi, everything has changed. Kini, pola komunikasi saya berubah. Saya lebih nyaman berkomunikasi secara personal, person to person. Hampir jarang aktif di grup besar—jika pun masih aktif di grup—hanya grup kecil yang dihuni beberapa orang yang membuat saya nyaman untuk berkomunikasi di sana.

Nyaman menjadi tujuan utama dalam membangun hubungan. Namun, nyaman bukan berarti tanpa percikan-percikan. Jelas masalah akan selalu datang menguji seberapa kuat fondasi hubungan yang kita bangun. Saat bergejolak, kita punya sudut pandang yang sama bahwa kita sama-sama bertumbuh, sama-sama belajar dari kesalahan. Nyaman juga berarti kita bisa menjadi diri kita apa adanya, berbagi tentang bagaimana cara kita melihat dunia serta saling mendukung untuk pribadi yang lebih baik.

Pernah suatu waktu, saya berkeluh kesah pada teman saya, “Mengapa dunia tidak bekerja sesuai dengan value yang berlaku secara universal?”

“Hah, maksudnya?”

“Iya maksud aku, mengapa orang jika punya masalah dengan orang lain harus mengumbarnya di media sosial, mengapa tidak diselesaikan secara langsung? Mengapa orang merokok sembarangan tanpa menghiraukan orang-orang yang tidak merokok? Mengapa orang memutuskan pertemanan tanpa ada niat untuk memperbaiki terlebih dahulu? Mengapa, mengapa, dan mengapa?”

“Setiap orang kan beda-beda. Tidak semua orang punya value yang sama.”

“Tapi kan itu value yang berlaku universal dan dibahas di banyak buku atau artikel.”

“Masalahnya, tidak semua orang punya referensi yang sama. Setiap orang memiliki self righting process. Kamu mungkin sudah di tahap yang lebih baik, namun orang lain belum tentu. Jangan pernah menyamakan diri kita dengan orang lain. Memang, kadang tidak sejalan dengan pikiran kita, tapi it’s okay. Coba lebih santai menanggapi sesuatu ya!”

Saya mencoba melumat mantra it’s okay. Terdengar sederhana namun sebetulnya sangat sulit untuk diterapkan. Tapi bukan hal yang mustahil mantra itu bisa saya kuasai asal mau terus berlatih setiap harinya. Jika ada lintasan pikiran negatif, saya akan bilang ke diri saya, “Go away negative thoughts.” Walau sulit, saya harus menantang diri saya untuk mengontrol pikiran saya sendiri.

Dua tahun belakangan, setidaknya ada dua orang teman yang memutuskan untuk menyudahi hubungan pertemanan dengan saya, tidak hanya di dunia nyata bahkan juga di dunia maya. Sebetulnya, saya bingung apa faktor yang menyebabkan mereka menyudahi pertemanan dengan saya. Berpikir, merenung, dan berkontemplasi sekiranya memang ada kesalahan yang telah saya perbuat saya mereka. Jikapun saya berbuat salah, saya akan mencoba memperbaikinya.

Saya selalu berpikir, tidak ada masalah yang tidak dapat dibicarakan. Mungkin lebih baik kita beradu argumen asal setelah itu kita bisa kembali berdamai. Jikapun tidak bisa seterbuka itu, setidaknya saya diberi alasan mengapa saya layak mendapatkan perlakuan seperti itu. Saya mencoba memulai, menanyakan kesalahan apa yang telah saya perbuat. Namun tidak ada jawaban hingga pada akhirnya saya memutuskan, “Let them go.”

Menyedihkan memang ketika kita mengetahui fakta, “We are not friends. We’re strangers with memories.” Namun apa boleh buat, orang-orang datang dan pergi silih berganti dalam hidup kita. Sekuat apapun kita menahan mereka untuk tetap bertahan namun ketika mereka milih untuk pergi—yang bisa kita lakukan hanyalah mengucapkan, “selamat jalan!” seraya berharap kebahagiaan senantiasa memenuhi  relung hati mereka.

Agaknya mantra it’s okay dapat sedikit meredam kekecewaan kita terhadap banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. It’s okay bukan berarti kita pasrah namun sikap menerima dengan hati yang lapang bahwa nyatanya banyak pertanyaan-pertanyaan dalam hidup ini yang tidak ada jawabannya. Kita selalu berharap pertanyaan akan dijawab setidaknya dengan begitu kita meresa lega—tidak lagi dihantui rasa penasaran. Namun lagi-lagi, terkadang dunia berjalan tidak sesuai dengan pikiran kita. Apa yang kita anggap itu ideal belum tentu ideal untuk orang lain, apa yang kita anggap baik belum tentu juga baik untuk orang lain. Once again, it’s okay!

 Jakarta,

6 Februari 2019

Advertisements

Surat untuk Kamu

p1011414

Teruntuk,

Kamu.

Tahun baru selalu datang setiap tahunnya. Tidak semua orang dapat menyapa tahun baru. Beberapa orang dekatmu atau orang-orang yang kamu kenal tidak lagi ada di tahun ini. Kata orang, waktu satu tahun sangatlah singkat. Namun dalam kurun waktu satu tahun, banyak hal yang bisa terjadi. Kamu tentu sangat paham maksudku. Jadi seharusnya kamu bersyukur masih bisa merasakan pergantian tahun. Artinya, Tuhan masih memberikan kesempatan untukmu untuk berbuat baik, memperbaiki kesalahanmu, mengejar mimpi-mimpimu, dan melakukan banyak hal yang menurutmu baik–setidaknya untuk dirimu sendiri. Cobalah sedikit bersemangat, cobalah sedikit antusias walau aku tahu itu agak berat untukmu.

Malam pergantian tahun waktu di mana banyak orang bersuka-cita merayakannya dengan pesta kembang api, berkumpul bersama keluarga dan teman, dan aktivitas menyenangkan lainnya–namun dirimu seperti biasa membenamkan diri dalam pertanyaan-pertanyaan kontemplatif. “Satu tahun, apa saja yang sudah saya lakukan?” Biasanya, dirimu membuat jurnal tahunan yang bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi setiap bulannya. Tahun ini, aku amati, kamu tidak melakukannya lagi. Mengapa? Apa mungkin karena ritual tahunan itu menurutmu sangat melankolis? Kamu merasa tidak perlu lagi melakukan hal itu karena kamu berpikir perasaan melankolis seharusnya sudah tercabut dari seseorang yang hampir memasuki kepala tiga. Aku tanya padamu, memang salah jika seorang yang memasuki kepala tiga memiliki perasaan melankolis? Aku pikir itu justru kelebihanmu. Dirimu memiliki hati yang lembut dan mudah tersentuh. Kau tahu apa artinya itu? Artinya kamu masih memiliki cinta. Jika perasaan itu sirna maka itulah yang harusnya kamu khawatirkan. Terkadang aku heran dengan pola pikirmu. Rumit. Sering menyusahkan diri sendiri.

Satu tahun berlalu dan kamu merasa tidak melakukan banyak hal. Kamu merasa payah, kamu merasa tidak sehebat teman-temanmu, kamu merasa waktu banyak terbuang percuma, kamu merasa tidak menghasilkan progres yang baik, dan yang paling menyedihkan kamu terlalu sering menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi.

Maaf, aku terlalu berterus terang padamu. Hal ini semata-mata aku lakukan karena aku sangat sayang padamu. Satu tahun kemarin, aku melihat dirimu kian tumbuh menjadi manusia yang bijaksana. Kamu mulai berdamai dengan diri sendiri, kamu mulai memaafkan masa lalu, kamu mulai belajar melepaskan, kamu mulai belajar mengelola ekspektasi, dan kamu mulai belajar menjadi manusia yang seutuhnya. Menurutku, tidak banyak orang bisa melakukan itu. Aku melihat kamu bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Walau di beberapa aspek, aku melihat dirimu sangat lamban. Tapi bukankah keberhasilan sekecil apapun layak dirayakan?

Aku tahu, tahun ini benar-benar tidak mudah untukmu. Aku melihat bagaimana usahamu menahan perasaan, aku melihat bagaimana dirimu tersenyum ketika menerima kegagalan yang datang silih berganti, aku melihat upayamu untuk mengikhlaskan sesuatu yang sebetulnya enggan untuk kamu lepaskan, aku melihat usahamu untuk terus menjaga hubungan, aku melihat banyak hal. Ingin sekali aku memelukmu erat sambil berkata lirih, “Tidak apa-apa. Kamu sudah melalukan yang terbaik semampu yang kamu bisa. Jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Ambil waktu untuk mencintai diri sendiri.”

Untuk satu tahun yang sudah berlalu, jangan pernah ditangisi lagi. Wajar jika masih menyisakan begitu banyak kekecewaan. Kata orang, luka-luka dalam hati bisa dibasuh oleh waktu. Tapi menurutku itu tidak tepat. Ia hanya bisa sembuh dengan cara dirimu menerima bahwa hatimu memang penuh luka, bahwa kau merasakan sakit, bahwa perasaan itu sangat menganggu malam-malam panjangmu. Tidak masalah jika perasaan itu masih kau rasakan. Asal kau ingat satu hal, tidak ada yang sayang pada dirimu selain dirimu sendiri. Jadi, mulailah belajar melepaskan. Aku hanya berharap itu benar-benar bisa kau lakukan. Aku yakin kamu mampu sebab tidak ada yang lebih mengenal dirimu selain aku.

Tahun baru, ada 365 lembaran baru. Kamu sudah memiliki pulpen baru yang kamu beli di toko buku beberapa waktu lalu. Sudah siap menulis cerita-cerita baru? Aku tidak sabar membaca tulisan-tulisan yang dipenuhi kebahagiaan dan sedikit kesedihan. Selamat tahun baru untukmu dan untukku!

Dari orang yang sangat mengenal dirimu,

Aku.

Jakarta,

31 Desember 2018

Apa yang Saya Dapatkan dengan Menjadi Relawan?

Oleh: Mahfud Achyar

sahabat nusantarun photo by. bagus ernanda
Sahabat NusantaRun Chapter 6 (Foto Oleh: JF Bagus Ernanda Putra)

Suatu hari yang biasa, seorang teman mengirim pesan, “Salut sama kamu masih sempat ikut kegiatan kerelawanan.” Saya tidak langsung membalas pesan teman tersebut. Saya memikirkan apa respon terbaik yang bisa saya berikan, kemudian saya menulis, “Entah mengapa saya jatuh hati dengan dunia kerelawanan. Semacam saya punya tujuan hidup yang lebih penting dibandingkan hanya bekerja selama delapan jam dari pagi hingga sore.” Teman saya mengapreasiasi respon yang saya sampaikan walau setelah itu saya berpikir ulang apakah memang itu jawaban yang paling tepat. Saya sangsi.

Tahun 2018, ada dua kegiatan kerelawanan yang sangat berkesan untuk saya yaitu NusantaRun Chapter 6 dan Mural Kebaikan. Masih lekat di benak saya, awal tahun 2018, sahabat saya Harry Anggie mengajak untuk bergabung menjadi Sahabat NusantaRun (sebutan untuk panitia inti atau komite NusantaRun). Tanpa pikir panjang, saya pun mengiyakan ajakan Harry. Betapa tidak, tahun sebelumnya saya juga pernah menjadi relawan NusantaRun chapter 5. Saat itu, saya bertugas menjadi relawan dokumentasi. Menjadi relawan dokumentasi bukan kali pertama buat saya. Namun mengabadikan kegiatan lari tentu menjadi pengalaman pertama dan seperti orang-orang bilang, “Pengalaman pertama tidak pernah mengecewakan dan selalu berkesan.”

Selama bertugas menjadi relawan dokumentasi, saya melihat ratusan pasang mata yang memancarkan pesan kebaikan yang saya intip dari lensa kamera mirrorless Olympus berwarna silver. Saya bukanlah seorang cenayang. Namun saya pikir banyak orang yang bisa menangkap sorot mata ketulusan, kebaikan, dan kehangatan kendati dari orang-orang yang tidak dikenal sekalipun. Sebab mata adalah jendela jiwa. Dari mata banyak cerita yang bisa tercipta. Saya bersyukur melihat itu semua, cerita kebaikan yang menjadi pengharapan untuk hari-hari di masa depan. Sejatinya, orang-orang baik di negeri ini masih ada dan akan terus ada. Namun keberadaan mereka tertutupi oleh dominasi orang-orang jahat yang perlahan  namun pasti menggrogoti bumi pertiwi.

Dari dunia kerelawanan saya belajar bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk kita bekerja sama, berkolaborasi, dan bersinergi. Tidak ada yang menanyakan agama, tidak ada yang menanyakan status sosial, tidak ada yang menanyakan pandangan politik. Selama masih berkontribusi, sekecil apapun akan diapresiasasi. Perbedaan bukanlah yang hal yang paling penting namun upaya kita bersama-sama mewujudkan sebuah misi itu yang menjadi lebih penting.

Setiap orang yang terlibat di NusantaRun memiliki tujuan yang sama, dunia pendidikan di Indonesia yang kian gemilang. Berharap tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang putus sekolah, fasilitas merata dari ujung barat hingga Timur Indonesia, dan semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam hal akses pendidikan. Tidak besar upaya yang sudah dilakukan. Namun saya selalu percaya kebaikan itu menular. Semoga gerakan-gerakan kebaikan terus menggeliat hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Semoga api semangat kebaikan terus menggolara di setiap hati manusia Indonesia.

Selain menjadi relawan NusantaRun, tahun 2018 menjadi sangat spesial lantaran untuk pertama kalinya saya menjadi seorang fundraiser. Selain para pelari, panitia inti juga diharapkan untuk menggalang donasi untuk mewujudkan misi #PendidikanUntukSemua melalui laman platform KitaBisa. Memang tidak diwajibkan. Saya sempat ragu apakah turut jadi fundraiser atau tidak. Cukup lama bagi saya memutuskan untuk menjadi seorang fundraiser. Saya khawatir bagaimana nanti jika saya tidak mencapai target? Bagaimana nanti jika tidak ada yang mau berdonasi melalui laman saya? Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang fundraiser NusantaRun chapter 6.

“Jika bisa berbisik, mengapa harus berteriak?” Ini pesan yang disampaikan oleh Pak Iwan Esjepe ketika diskusi tentang dunia copywriting. Kata beliau, untuk menyentuh hati orang lain, tidak perlu menggunakan bahasa logika. Gunakanlah bahasa hati. Perlahan, saya mulai menulis wording di laman KitaBisa. Saya ingin setiap orang yang membaca frasa dan klausa di laman saya bisa tersentuh hatinya. Saya ingin memastikan bahwa pesan yang saya tulis mampu melewati retina mata hingga akhirnya mengetuk salah satu pintu hati mereka yang membaca. Selesai menulis wording dan menambahkan foto, saya bagikan tautan laman saya ke beberapa orang yang ada di daftar kontak ponsel saya.

kitabisa - mahfud achyar (1)
Kitabisa.com/achyarnr6

Beberapa di antara mereka adalah orang-orang yang intens berkomunikasi dengan saya, teman-teman yang sudah lama tidak dihubungi, dosen-dosen, serta kenalan-kenalan yang nomor mereka sempat saya simpan. Hasilnya, beberapa ada yang langsung merespon dan langsung donasi. Beberapa lagi pesan terkirim namun tidak dibalas. Beberapa lagi mungkin pesannya tidak terkirim lantaran ada yang ganti nomor ponsel. Tapi tidak masalah yang penting saya sudah mencoba mengajak mereka. Sayapun tidak ingin memaksa terlalu berlebihan. Mungkin hanya sedikit meneror untuk beberapa sahabat saya, “Sudah donasi belum?”

Sebetulnya, tidak sulit menjadi seorang fundraiser yang dibutuhkan hanya sedikit keberanian. Lagipula tujuan campaign ini sangat baik membantu pendidikan anak-anak disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerja sama dengan Kampus Guru Cikal. Saya begitu optimis akan mudah mengajak orang lain untuk donasi. Hasilnya, target donasi untuk NusantaRun chapter 6 yaitu sebesar Rp. 2,5 miliar tercapai sudah. Total donasi saat ini per tanggal 3 Januari 2018 yaitu sebesar Rp. 2.543.425926. Donasi masih dibuka hingga 13 Januari 2019 (tautan donasi: kitabisa.com/nusantarun).

Sementara target saya pribadi yaitu sebesar Rp. 5.000.000 dan sudah terkumpul Rp. 5.228.920. Saya tersentuh sudah bisa menggerakkan 32 orang dan laman saya sudah dibagikan sebanyak 52 kali di Facebook. Beberapa yang donasi menggunakan nama asli sehingga memudahkan saya untuk mengucapkan terima kasih secara langsung. Namun banyak juga yang menggunakan nama anonim. Saya sangat menghargai keputusan mereka. Terima kasih untuk mereka yang lembut hatinya.

Cerita lain di dunia kerelawanan tahun ini yaitu menjadi relawan Mural Kebaikan. Gerakan ini digagas oleh Chiki Fawzi. Ide muncul ketika peristiwa bom Surabaya pada 13 Mei 2018. Peristiwa itu menciderai toleransi antarumat beragama yang sudah susah payah dibangun bertahun-tahun lamanya. Saat itu, Chiki merasa tergerak. Ia harus melakukan sesuatu untuk merawat toleransi di Indonesia.

Akhirnya, Chiki menghubungi Kak Maria dan mengutarakan niatnya untuk memberikan mural gratis di Sekolah Minggu tempat Kak Maria mengajar. Chiki mengajak beberapa teman termasuk saya. Kamipun memural di Sekolah Minggu di Gereja Kristen Indonesia, Pulomas, Jakarta Timur. Video Mural Kebaikan bisa ditonton pada tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=9OkCc3SSlJQ

Pada 11 Juni 2018, tepat ketika hari-hari terakhir bulan Ramadan, saya menulis keterangan foto dengan tulisan seperti ini:

mural kebaikan by chiki fawzi
Chiki and Her Friends

Ini adalah sebuah cerita yang ingin saya bagikan kepada dunia. Tentang persahabatan berbeda keyakinan yang dibalut rasa saling mengasihi dan saling menghormati.

Cerita bermula ketika  Chiki ingin merawat toleransi di bumi yang kita cintai ini, bumi Indonesia. Ia ingin berbagi dengan sesama melalui potensi yang ia miliki, salah satunya melalui mural. Niat baik Chiki disambut baik oleh Kak Maria. Ia menawarkan Chiki untuk memural Sekolah Minggu di Gereja Kristen Indonesia Pulomas. Kebetulan Kak Maria, begitu ia akrab disapa, menjadi salah satu pengajar di Sekolah Minggu tersebut. Saya beruntung menjadi salah satu yang diajak Chiki untuk melakukan project yang menyenangkan ini.

Bagi saya pribadi, ini pengalaman pertama. Saya begitu semangat untuk menjalankannya. Di GKI Pulomas, kami disambut baik oleh jemaat GKI Pulomas. Kami bahu membahu mengerjakan mural dengan perasaan suka cita. Takjarang gelak tawa menggelegar memenuhi setiap ruang di Sekolah Minggu. Rasanya, kami sangat dekat dan bisa bersahabat dengan begitu cepat.

Menjelang buka puasa, teman-teman GKI Pulomas menyediakan buka puasa. Kami beristirahat sejenak sembari menyantap hidangan penuh selera. Kehangatan terasa begitu nyata dan itu sulit kami dustai. Ah, mungkin ini momen yang nantinya saya rindukan. Saya bersyukur hidup di tengah perbedaan yang membuat saya belajar untuk membuka diri dan menghargai perbedaan. Hati saya merasa teduh. Ramadan Kareem. Semoga kehangatan ini menjadi pengingat ketika kelak (mungkin) kita akan mengalami masa-masa sulit. Semoga Indonesia terus rukun dalam bingkai perbedaan. Semoga.

Lantas, balik lagi ke pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, apa yang saya dapatkan menjadi relawan? Jika hanya butuh satu kata, maka kata yang paling tepat yang mewakili perasaan saya yaitu kata ‘kebahagiaan’. Saya merasa bahagia sudah melakukan sesuatu bukan untuk saya melainkan untuk orang lain, untuk sesuatu yang lebih besar.

Saya merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk berbuat baik oleh Tuhan. Mungkin peran yang saya ambil tidak besar, tidak terlalu berisiko, dan tidak terlalu menghasilkan perubahan yang besar. Namun semoga kontribusi kecil yang sudah saya berikan bernilai setidaknya menjadi kenangan baik untuk diri saya sendiri. “Jangan lelah berbuat baik karena kebaikan akan kekal sementara lelah akan hilang,” tulis Chiki di akun Youtube-nya.

Perhatian/Prihatin

Processed with VSCO with b1 preset
You will be found. 

Suatu hari di bulan puasa pada tahun 2015.          

Buka puasa bersama menjadi salah satu tradisi yang kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia ketika bulan puasa tiba. Selama satu bulan puasa, biasanya orang-orang sudah mengagendakan jadwal buka bersama, mulai dari buka bersama dengan keluarga, teman-teman, hingga rekan kerja.

Buka bersama tidak hanya menjadi ajang untuk menyantap menu buka puasa yang menggugah selera namun juga menjadi ajang bertukar cerita. Bisa dikatakan buka bersama menjadi momen berkumpul dengan orang-orang yang sudah tidak lama berjumpa, misalnya teman-teman sekolah atau kuliah.

Reuni dengan teman-teman sekolah atau kuliah menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu ketika buka puasa. Betapa tidak, setelah berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama, bulan puasa menjadi alasan untuk berjumpa dengan mereka yang pernah mengisi hari-hari kita di masa lampau. Namun, reuni yang seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bisa berubah menjadi momen yang menyebalkan.

Usai menyantap hidangan berbuka, salah seorang teman bertanya kepada teman lain yang sudah menikah beberapa tahun, “belum isi?” katanya datar. Sontak raut wajah teman saya tadi berubah. Keceriaan yang terpancar dari wajahnya tiba-tiba memudar. Ia seolah baru saja mendengar suara petir yang menggelegar dan memekakkan gendang telinga. Petang itu, barangkali ia takpernah menduga akan mendapatkan pertanyaan yang tidak disangka-sangka. Pertanyaan yang membuat hatinya terluka.

Saya duduk persis di depannya. Terlihat ia sedang menyusun kalimat yang tepat untuk merespon pertanyaan teman saya tadi. Pelan, ia berkata, “Doakan saja ya.”

Usai menjawab pertanyaan tadi, ia melumat makanan dengan pelan-pelan. Dari sorot matanya, saya melihat dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan tentang kehamilan. Apalagi pertanyaan itu keluar dari mulut temannya sendiri dan dilontarkan di hadapan teman-teman lainnya. Mungkin ia merasa terintimidasi sekaligus merasa sedih. Kehamilan merupakan salah satu takdir baik yang dirindukan oleh pasangan yang sudah menikah. Ada pasangan yang cepat mendapatkan keturunan, ada juga yang harus menunggu.

Seketika susana mendadak hening dan kikuk. Saya berupaya mengganti topik pembicaraan sehingga tidak lagi membahas tentang kehamilan atau topik-topik yang sensitif untuk beberapa orang. Saya pikir, menjaga perasaan orang lain lebih penting dibandingkan memenuhi hasrat ingin tahu kita tentang kehidupan orang lain yang barangkali enggan untuk mereka bagi.

Kini, acara reuni kerap kali menjelma menjadi ajang untuk pamer, ajang untuk memojokkan orang lain secara tidak sadar, serta ajang yang dipenuhi pertanyaan basa-basi. Jika ada teman kita yang belum menikah, kita akan bertanya mengapa dia belum menikah. Jika ada teman kita yang belum mempunyai anak, kita akan bertanya mengapa dia belum punya anak. Jika ada teman kita yang belum menambah anak, kita akan bertanya mengapa dia belum menambah anak. Begitu seterusnya. Jika begitu, lama-lama orang akan malas untuk datang ke acara reuni, terutama untuk mereka yang akan menjadi sasaran pertanyaan.

Padahal, andai saja kita memang peduli dengan kondisi orang-orang di sekitar kita, tentu kita tidak akan pernah bertanya di depan banyak orang. Tentu kita tidak akan membuat ia merasa malu. Tentu kita tidak akan menambah bebannya. Tentu kita tidak akan membuat ia merasa tidak nyaman. Ya, andai kita memang benar-benar peduli, kita akan bertanya secara personal, menyusun kata dengan tepat, serta menunjukkan empati bahwa kita memang benar-benar peduli.

Saya pikir, hampir semua orang pernah mengalami kondisi di mana merasa terpojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita berpikir, “Apakah ini perhatian atau prihatin?”

Setelah lulus kuliah pada tahun 2011, saya sempat mengganggur selama kurang lebih lima bulan. Masa-masa penantian hingga akhirnya diterima bekerja menjadi masa-masa yang cukup berat dalam hidup saya. Saya ingat betul, setelah wisuda, saya mempersiapkan semua berkas untuk melamar pekerjaan: curriculum vitae, surat lamaran pekerjaan, dan sertifikat-sertifikat penunjang lainnya yang sekiranya dibutuhkan oleh calon perusahaan tempat saya nantinya bekerja.

Tidak ada satu haripun saya lewati tanpa mengecek surat elektronik, mencari informasi lowongan pekerjaan serta melamar hingga ratusan perusahaan. Usaha saya mendapatkan pekerjaan tidak hanya berhenti di depan komputer. Saya juga kerap kali datang ke job expo, mulai dari yang gratis hingga berbayar. Saya rasa, saya sudah melakukan upaya terbaik untuk mendapatkan pekerjaan.

Hari berganti hari, sudah takterhitung berapa banyak lamaran saya sudah saya kirimkan. Beberapa perusahaan ada yang memanggil untuk wawancara, beberapa kali saya nyaris diterima, sisanya berujung penolakan, “Maaf Anda belum bisa bergabung dengan perusahaan kami.”

Sementara lain cerita, teman-teman kuliah saya satu persatu sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan, banyak di antara mereka yang diterima bekerja tidak lama setelah wisuda. Sempat saya berpkir, mengapa nasib baik begitu mudah menghampiri mereka sedangkan saya belum ada tanda-tanda untuk menanggalkan predikat sebagai penggangguran. Padahal jika dipikir-pikir, prestasi saya jauh lebih hebat dibandingkan mereka dan pengalaman organisasi saya juga tidak main-main. Saya sempat tertegun, “Apa yang salah dengan saya? Mengapa saya takkunjung mendapatkan pekerjaan?”

Saya khawatir saya merasa sombong. Merasa lebih baik dibandingkan teman-teman saya. Padahal bisa jadi ini ujian untuk saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih sabar dan berbesar hati. Saya harus percaya bahwa masa-masa berat ini akan segera berakhir. Saya hanya perlu menunggu lebih lama, walau terkadang menunggu begitu sangat menyiksa batin saya.

Suatu kesempatan, saya bertemu dengan teman yang sudah bekerja. Tanpa basa-basi ia bertanya, “Mengapa belum juga bekerja? Apa tidak melamar ke sana ke mari?” Saya hanya bisa menjawab, “Belum rezeki. Doakan saja.” Sejujurnya, saat itu saya marah, dada saya terasa panas. Namun apa boleh buat tugas dia hanya bertanya dan tugas saya hanya menjawab.

Saya pikir, pertanyaan yang sama tidak akan pernah terulang. Namun saya keliru. Beberapa orang yang saya temui secara sengaja dan tidak sengaja menanyakan hal yang sama, “Mengapa belum juga bekerja?” Mungkin karena saat itu saya dalam kondisi yang sensitif, saya menilai pertanyaan yang mereka sampaikan merupakan pertanyaan yang merendahkan saya. “Mereka tidak tahu betapa keras perjuangan saya mendapatkan pekerjaan. Mereka tidak akan pernah tahu,” saya membatin.

Sejak saat itu, saya enggan bertemu dengan orang-orang. Saya habiskan waktu saya untuk fokus mencari pekerjaan. Di sela-sela waktu, saya menyempatkan untuk berjalan-jalan mengitari kota Jakarta dengan moda Transjakarta: dari ujung Utara-Selatan, Barat-Timur. Namun tujuan favorit saya saat itu yaitu pantai Ancol. Sebetulnya tidak ada alasan khusus mengapa saya memilih Ancol. Saya hanya membiarkan hati saya menuntun langkah ke mana ia harus pergi.

Berada di pantai, memandang lautan yang luas setidaknya membuat hati saya jauh lebih tenang. Saya berjanji, suatu ketika saya akan datang lagi dengan perasaan yang dipenuhi suka cita. Beberapa bulan kemudian, janji saya tunaikan. Saya akhirnya diterima bekerja.

Tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan terus datang, saya meminta kepada Tuhan agar diberi hati yang besar, agar saya tidak mudah tersinggung, agar saya bisa menjawab dengan santun. Namun saya berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan menjadi orang-orang yang saya ceritakan tadi. Saya akan lebih berhati-hati dalam bertanya. Jikapun harus bertanya, saya akan bertanya secara asertif. Sisanya, lebih baik saya mendokan karena sesuai kata pepatah, “Tiada kata seindah doa.”

Selama masa-masa menganggur, saya sempat menulis puisi yang menggambarkan perasaan saya saat itu.

seperti muri remaja gigih mencari tanaman untuk sangkarnya. seperti lelaki pucat pasi menanti kado terindah dari Tuhannya. seperti mentari yang menanti bumi pada suatu masa. saksikanlah kereta kencana bernama ketidakpastiaan. seolah semesta pun jadi ragu. inilah harapan. menjadi lentera temani kelam. inilah penantian, tentang sebuah jalan takberujung. nyanyikan keluhmu pada angin, bisa jadi ia merayu mesra. sandarkanlah kepalamu pada air bisa jadi ia penyegar dahaga. dan, titipkanlah hati pada Tuhan karena ragumu terjawab kalam-Nya. titiplah pikirmu pada satu cita yang kau tiduri. puji dan manjakanlah waktu, bacakan sajak ketenangan untuknya. ada jutaan malaikat menenun kebahagiaan. mintalah mereka curi rahasia hati dan malam pun akan menyelimuti rasa. bersabarlah, hanya itu mantra yang kita punya.

 

Jakarta, 26 September 2018

Hidup dalam Perisai Ketakutan

5083025373_e91ca47c1c_b
Source: Flickr

Dalam perjalanan pulang dari kantor, saya membaca sebuah buku yang diberikan oleh seorang teman, persis satu hari sebelum saya ulang tahun. Salah satu kutipan yang ada di buku tersebut membuat saya terpaku. Kurang lebih kutipannya berbunyi seperti ini, “Kita hidup dari satu ketakutan ke ketakutan lainnya.”

Agaknya benar apa yang penulis buku itu katakan. Ketakutan seolah memiliki ruang tersendiri di relung jiwa kita. Entah bagaimana caranya, ia selalu hadir kendati takpernah diundang. Ketakutan membuat hati kita merasa tidak nyaman, konsentrasi kita buyar, serta membuat napas kita tersengal-sengal.

Satu hari berikutnya, umur saya bertambah sementara jatah usia saya berkurang.

Sejak dulu, saya tidak pernah menganggap ulang tahun sebagai momen spesial, momen yang harus dirayakan dengan sepotong kue, meniup lilin, dan membuat permintaan. Pernah satu kali saya merengek pada mama agar ulang tahun saya dirayakan. Seingat saya ketika saya masih berusia belasan tahun. Mama membuat perayaan sederhana dengan mengundang beberapa orang tetangga. Saat itu, saya merasa bahagia.

Ketika di bangku sekolah, saya merasa beruntung karena lahir di bulan Juli. Biasanya, jika ada yang ulang tahun akan dikerjai oleh teman-teman sekelas. Misal, satu hari ia akan dicueki oleh teman-teman. Walau saya tahu itu hanya akting dan repetisi setiap tahunnya, tapi tetap saja teman yang sedang berulang tahun tertipu.

Jika Lonceng atau bel pulang sekolah sudah menggaung memenuhi setiap ruang kelas, maka siap-siaplah teman yang sedang berulang tahun tadi akan menjadi sasaran empuk oleh keisengan teman-teman sekelas. Hari itu bisa jadi hari yang paling menyebalkan. Lagi-lagi, saya beruntung tidak pernah mengalami hal itu di sekolah. Juli adalah waktu libur sekolah.

Saya pikir, tradisi mengerjai teman yang berulang tahun akan berhenti ketika kita sudah tidak menggunakan seragam sekolah. Namun saya keliru. Ketika di kampus, seorang teman saya yang sedang berulang tahun diikat oleh teman-teman lainnya di pohon. Ia pun hanya pasrah sembari tertawa geli. Beruntungnya, saya tahu apa yang dilakukan teman-teman saya itu hanya bercanda dan beruntungnya lagi teman saya yang berulang tahun tidak berkeberatan untuk dikerjai seperti itu. Jadinya, tidak ada unsur keterpaksaan dalam ritual ulang tahun kala itu. Anw, happy birthday!

Sejujurnya, saya menyukai pesta ulang tahun. Saya senang memberikan kejutan atau merencanakan pesta ulang tahun sederhana untuk teman-teman saya. Namun yang aneh, ketika saya ulang tahun, saya malah tidak ingin orang-orang merayakan ulang tahun saya. Terdengar tidak lazim. Namun begitulah adanya. Saya hanya tidak ingin merepotkan dan menjadi beban untuk orang lain. Biar, biarlah saya memaknai ulang tahun dengan cara saya sendiri.

Pun demikian, saya bersyukur untuk doa-doa baik yang disampaikan kepada saya secara langsung atau secara diam-diam. Saya sangat hargai itu. Doa adalah bentuk rasa sayang paling tinggi dari seorang manusia untuk manusia lainnya. Terima kasih wahai orang-orang yang lembut hatinya.

Di penghujung kepala dua, perasaan takut mulai menjalar melalui pembuluh darah. Ia mulai mengaktifkan hormon adrenalin oleh kelenjar adrenal. Harus saya akui, saya takut. Terkadang saya merasa di usia saya seperti sekarang, saya belum melakukan banyak hal. Saya merasa banyak sekali waktu terbuang dengan percuma. Saya merasa gagal dalam banyak hal. Saya khawatir tidak dapat memenuhi ekspektasi saya sendiri terhadap diri saya.

Di stasiun Gondangdia, saya terdiam.

Pandangan saya jauh ke depan, mata saya kosong. Suasana stasiun saat itu cukup ramai. Orang-orang berbondong-bondong memenuhi peron. Mereka takubahnya seperti sekawanan semut yang berebut masuk ke sarang. Dalam ramainya manusia, saya merasa sepi. “Kita hidup dari satu ketakutan ke ketakutan lainnya,” tiba-tiba kutipan itu melintas lagi di benak saya.

Terlalu banyak yang saya pikirkan, terlalu banyak hal yang membuat saya gusar. Kadang saya berpikir, apakah normal saya mengalami kondisi demikian? Pelan-pelan, saya coba pelajari perasaan yang mengganggu saya. Saya coba mendefinisikan perasaan takut yang mengusik ketentraman batin saya. Apa yang yang saya takutkan? Karir? Jodoh? Finansial? Kesehatan? Ternyata banyak.

Dalam kondisi demikian, mendadak saya lupa materi-materi motivasi yang biasa saya baca. Terkadang begitu mudah menasehati orang lain yang sedang dirundung masalah. Namun jika kita berada dalam kondisi yang sama, kita sendiri belum tentu bisa menerapkan apa yang sudah kita sampaikan kepada orang lain. Menyedihkan. Rasanya saat itu yang ingin saya lakukan hanyalah satu: menepi.

Mungkin ada baiknya saya rehat sejenak. Saya rasa ini isyarat dari Tuhan agar saya kembali pada-Nya, berkeluh kesah kepada Dzat yang tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

Sungguh, hingga kapanpun ketakutan akan selalu bersarang di hati manusia. Kita takut miskin, kita takut tidak dihargai, kita takut tidak mempunyai teman, kita takut mengecewakan, kita takut sakit, dan ketakutan-ketakutan lainnya.

Dalam hati yang remuk dan gelisah, saya berupaya menyerahkan semua ketakutan-ketakutan saya pada-Nya. Saya selalu percaya, Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang selalu berbuat baik, memanusiakan manusia, dan selalu ingat pada-Nya.

Satu pinta saya pada-Nya, “Penuhilah hati saya kosong.”

If you go deeper and deeper into your own heart, you’ll be living in a world with less fear, isolation and loneliness.” – Sharon Salzberg

Jakarta,

19 Juli 2018

Para Penghuni Ibukota

Processed with VSCO with b5 preset
Transjakarta Blok M – Jakarta Kota (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Suara azan subuh berkumandang. Merambat melalui gelombang bunyi yang berasal dari microphone masjid, menuju menara-menara yang menjulang tinggi pada sisi kiri dan kanan masjid, hingga pada akhirnya menggetarkan gendang telinga anak manusia.

Di sebuah rumah yang takjauh dari masjid, seorang pemuda terbangun dari mimpi-mimpi yang sedari tadi menjadi serpihan mozaik dalam tidurnya. Banyak sekali potongan peristiwa yang lalu-lalang melintas dalam alam bawah sadarnya. Teramat sulit baginya untuk kembali menuliskan narasi mimpi yang dialaminya dengan lebih runut dan sistematis. Mimpi takubahnya seperti cuplikan film-film yang takjelas alurnya. Tiba-tiba semuanya hilang, pergi entah kemana. Seketika ia lupa dengan semua semua peristiwa yang terjadi dalam mimpinya. Takada satu pun yang tersisa.

Pemuda tersebut terbangun dalam keadaan setengah sadar. Dengan kesal ia mematikan alarm yang berdering kencang, kemudian dengan langkah gontai ia pergi kamar mandi. Tepat pukul 08.00 pagi ia harus tiba di kantor. Begitu peraturan pekerjaan di kantornya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Sementara di tempat lain, seorang ibu paruh baya sudah bangun sejak pukul tiga pagi. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berwudu untuk salat malam, sholat tahajjud.

Menjelang subuh, ibu tersebut membaca Al-Quran dan membangunkan anggota keluarganya; suami dan anak-anaknya untuk bersiap menjalankan ibadah salat subuh di masjid yang takjauh dari rumahnya.

Processed with VSCO with b5 preset
Jakartans at Halte Harmoni

Kini, sinar mentari menelan fajar. Langit yang tadi kelam menjadi sedikit lebih cerah. Perlahan mentari naik menyinari bumi, burung-burung berkicau dengan merdunya menyambut indahnya pagi, dan kekanak rewel ketika disuruh berangkat ke sekolah. Namun sang ibu memiliki banyak cara untuk membujuk anak-anaknya. 1001 cara membujuk anak. Ilmu itu tidak ia dapat di bangku sekolah.

Di tempat yang lain, seorang perempuan yang duduk di halte bus terlihat kasak-kusuk. Betapa tidak, sudah hampir dua jam lamanya ia menunggu bus. Namun bus yang ia tunggu-tunggu takkunjung tiba. Ia pun semakin gelisah dan panik. Pasalnya, ia harus lekas tiba di sebuah perusahaan ternama karena ia dipanggil untuk wawancara kerja. 15 menit waktu yang ia punya. Jika tidak, ia akan kehilangan kesempatan untuk wawancara kerja. Ia semakin kesal, semakin gelisah, dan semakin mengutuk diri mengapa ia bernasib sial hari itu.

Masih di halte yang sama, seorang ibu pedagang kelontong yang menjajakan dagangannya seperti air mineral, permen, mie instan, dan roti. Ibu tersebut sangat berharap ada satu dari pulahan orang di halte yang berkenan membeli dagangannya. Pikiran ibu itu menjadi kalut. Ia khawatir jika barang dagangannya tidak ada yang membeli, maka anak-anaknya akan kelaparan.

Siang hari, hujan lebat mengguyur kota Jakarta. Para pengguna motor menepi ke jalan. Mereka mencari tempat berteduh di bawah jembatan penyebarangan, mampir di kios-kios, dan ada juga yang berteduh di terowongan jalan layang. Beberapa dari mereka terlihat kesal lantaran hujan yang turun tiba-tiba. “Ah, andai hujan tidak turun pasti saya bisa pulang ke rumah tepat waktu. Hujan sangat menghambat saya.”

Sementara itu, di tempat yang berbeda, puluhan orang keluar dari gedung berlantai tiga. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing setelah lebih dari delapan bekerja, bertemu klien, serta mengurusi pekerjaan yang seolah takada habis-habisnya. Mereka terlihat sangat kelelahan. Ingin rasanya cepat-cepat tiba di rumah untuk mandi, makan, dan kemudian istirahat sebab esok pagi ia harus kembali bekerja.

Malam hari, saat semua orang terlelap tidur; saat mereka berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain, seorang perempuan paruh baya bangun dari tidurnya. Padahal ia baru tertidur selama empat jam. Selama satu hari penuh ia berperan dengan sangat baik sebagai seorang ibu rumah tangga: menyiapkan makanan untuk keluarga, membersihkan rumah, dan membantu cucunya mengerjakan tugas sekolah. Namun perempuan paruh baya itu merasa waktu yang ia punya tidaklah banyak. Ia harus cerdas memanfaatkan dengan sebaik mungkin. Beberapa menit kemudian, perempuan baya itu mengenakan mukena warna putih. Ia pun larut dalam munajat cinta kepada Pencipta-Nya.

Satu hari terdiri dari 24 jam. Ada banyak orang menganggap waktu 24 jam dalam 1 hari sangatlah sempit karena begitu banyak pekerjaan dan aktivitas yang harus dilakukan. Sementara tidak sedikit juga yang mengganggap waktu 24 jam dalam sehari sangatlah lama. Mereka ingin waktu bergulir sangat cepat, bahkan lebih cepat. Mereka bingung untuk apa mereka hidup dan apa saja hal yang harus dilakukan untuk mengisi hidup. Mereka seolah gamang dengan hidup yang saat ini mereka jalani. Seperti seorang penunggang onta di lautan padang pasir yang tidak tahu kemana arah harus dituju. Kosong dan mereka tidak menyadari begitu banyak kekosongan-kekosongan yang memenuhi relung jiwa mereka.

Mungkin, saya salah satu dari seribu orang yang penat dengan hidup yang telah saya jalani. Saya kemudian bertanya tentang banyak hal yang sudah saya lalui. Kadang saya merasa jenuh, bosan, muak, dan semuanya seakan begitu melelahkan. Pernah, saya berada pada titik yang paling menjemukan sehingga saya bingung harus berbuat apa lagi. Tetap bertahan dengan angan-angan kosong takberkesudahan atau tetap menantang hari demi hari?

Mungkin, ada baiknya saya harus menarik diri dari keramaian manusia. Sejenak, saya perlu kembali ke gua, tempat yang membuat saya merasa nyaman dan merasa tentram. Saya perlu kembali merenungi atas berbagai hal yang pernah terjadi dalam hidup saya.

Rasanya, saya butuh waktu sejenak berpikir secara mendalam. Saya butuh merenung dan memetik hikmah dari jutaan memori yang pernah direkam otak saya. Ada banyak potongan peristiwa yang terjadi dalam hidup saya: kegagalan, keketiran, kepahitan, dan kebahagian. Semua hal itu rasanya perlu untuk diresapi hingga akhirnya saya siap lahir menjadi manusia yang baru. Reborn.

                                                Jakarta, 17 Mei 2013

Sebelum Terlambat

Source: https://pxhere.com/ru/photo/368492

Menjalin hubungan, tidak melulu berkisah tentang momen yang bahagia, menyenangkan, dan suka cita. Namun, ada juga momen yang tidak kita harapan hadir kemudian lahir menjadi  pengalaman yang tidak menyenangkan. Kerap kali, kita hanya menginginkan hari-hari kita dihiasi dengan tawa tanpa sedih dan duka.

Akan tetapi, nyatanya cerita hidup anak manusia hadir dalam paket yang lengkap; suka dan duka. Seringkali kita mengutuk nasib atas hal buruk terjadi dalam hidup kita atau orang-orang terdekat kita. Jika itu terjadi, lantas kita bisa berbuat apa? Kita hanyalah seorang aktor atau aktris yang memainkan skenario yang telah ditulis Tuhan sebagai Sang Sutradara. Jika ada hal yang kurang berkenan, anggap saja sebagai bagian cerita yang mau tidak mau harus kita perankan, walau harus dengan tertatih-tatih.

Pada 1 Maret 2015 lalu, saya mendapat kabar duka. Seorang sahabat saya, Arry Purwaningsih dipanggil oleh Tuhan pada usia yang masih sangat muda, 26 tahun. Mendengar kabar duka tersebut, hati saya remuk. Saya tidak menyangka ia akan pergi secepat itu, semendadak itu. Sebetulnya, Arry sudah sakit sejak lama, namun ternyata Tuhan sangat sayang terhadap Arry. Tuhan mengangkat rasa sakit Arry untuk selama-lamanya. Kini, ia beristirahat dengan tenang di sana. Semoga Tuhan berikan tempat yang terbaik untuk Arry. Selama mengenal Arry, ia merupakan pribadi yang baik, tulus, dan ceria.

Perginya Arry untuk selama-lamanya menyisakan rasa sesal dalam hati saya. Seingat saya, satu pekan sebelum ia meninggal, teman saya bernama Kantri mengajak saya ke Bandung untuk membesuk Arry. Namun karena saat itu saya sibuk dan berpikir bahwa jarak Jakarta ke Bandung tidaklah dekat, akhirnya saya urungkan niat untuk membesuk Arry.

Ya, penyesalan selalu datang belakangan, begitulah yang terus terjadi. Andai saja waktu itu saya memutuskan membesuk Arry, mungkin saya tidak akan merasa begitu bersalah. Setidaknya, saya bisa hadir pada hari-hari terakhir Arry. Memberikan dukungan moril dan turut merasakan beban atas apa yang ia rasakan. Sayangnya, itu hanya angan-angan kosong yang takakan mungkin terjadi.

Sejak kejadian itu, saya belajar satu hal: jangan pernah menunda-nunda kebaikan karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih sempat berbuat baik atau semuanya sudah terlambat, tidak ada artinya. Saya hanya tidak ingin menyesal pada kasus yang sama. Penyesalan membuat saya merasa bersalah. Sungguh tidak mengenakkan.

Semakin ke sini, jika ada orang-orang terdekat saya sedang sakit bahkan harus dirawat di rumah sakit, saya akan upayakan untuk bisa membesuknya tanpa harus mengulur-ulur waktu. Saya tahu, barangkali kehadiran saya mungkin tidak mempercepat kesembuhan, namun saya hanya ingin memastikan bahwa diri saya hadir di dekat orang-orang terdekat saya, terutama pada masa-masa yang sulit

Saya pernah sakit, semua orang pernah sakit. Ketika kita sakit, kita menjadi lebih sentimentil, kita merasa takberdaya, serta kita merasa sangat kesepian. Lebih menyedihkan, pada saat kita sakit, pikiran-pikiran buruk lalu lalang di otak kita tanpa kita undang. Ia menyajikan potongan-potongan peristiwa dalam hidup kita yang tidak mengenakkan. Layaknya Dementor yang menghisap sumber kebahagiaan. Benar-benar mengerikan.

Saya hanya berharap dan terus berharap semoga prinsip hidup ini terus saya amalkan. Entah saya kapan? Mungkin hingga saya dibebastugaskan oleh Tuhan sebagai seorang makhluk sosial. Saya rasa begitu.

“Don’t let bad memories kill you. You can make a new memory, a good one. Remember, good  can save your life.” – The Punisher. 

Tentang memori baik, rasanya takselalu menyajikan rangkaian pengalaman yang seru-seru saja. Saya pikir, hadir pada saat-saat berat untuk orang terdekat adalah memori baik yang selalu baik untuk diingat. Saya mungkin pengkoleksi memori, saya berharap saya pengkoleksi memori yang baik. Hanya itu.

 

Jakarta, 31 Januari 2018