Perhatian/Prihatin

Processed with VSCO with b1 preset
You will be found. 

Suatu hari di bulan puasa pada tahun 2015.          

Buka puasa bersama menjadi salah satu tradisi yang kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia ketika bulan puasa tiba. Selama satu bulan puasa, biasanya orang-orang sudah mengagendakan jadwal buka bersama, mulai dari buka bersama dengan keluarga, teman-teman, hingga rekan kerja.

Buka bersama tidak hanya menjadi ajang untuk menyantap menu buka puasa yang menggugah selera namun juga menjadi ajang bertukar cerita. Bisa dikatakan buka bersama menjadi momen berkumpul dengan orang-orang yang sudah tidak lama berjumpa, misalnya teman-teman sekolah atau kuliah.

Reuni dengan teman-teman sekolah atau kuliah menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu ketika buka puasa. Betapa tidak, setelah berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama, bulan puasa menjadi alasan untuk berjumpa dengan mereka yang pernah mengisi hari-hari kita di masa lampau. Namun, reuni yang seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bisa berubah menjadi momen yang menyebalkan.

Usai menyantap hidangan berbuka, salah seorang teman bertanya kepada teman lain yang sudah menikah beberapa tahun, “belum isi?” katanya datar. Sontak raut wajah teman saya tadi berubah. Keceriaan yang terpancar dari wajahnya tiba-tiba memudar. Ia seolah baru saja mendengar suara petir yang menggelegar dan memekakkan gendang telinga. Petang itu, barangkali ia takpernah menduga akan mendapatkan pertanyaan yang tidak disangka-sangka. Pertanyaan yang membuat hatinya terluka.

Saya duduk persis di depannya. Terlihat ia sedang menyusun kalimat yang tepat untuk merespon pertanyaan teman saya tadi. Pelan, ia berkata, “Doakan saja ya.”

Usai menjawab pertanyaan tadi, ia melumat makanan dengan pelan-pelan. Dari sorot matanya, saya melihat dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan tentang kehamilan. Apalagi pertanyaan itu keluar dari mulut temannya sendiri dan dilontarkan di hadapan teman-teman lainnya. Mungkin ia merasa terintimidasi sekaligus merasa sedih. Kehamilan merupakan salah satu takdir baik yang dirindukan oleh pasangan yang sudah menikah. Ada pasangan yang cepat mendapatkan keturunan, ada juga yang harus menunggu.

Seketika susana mendadak hening dan kikuk. Saya berupaya mengganti topik pembicaraan sehingga tidak lagi membahas tentang kehamilan atau topik-topik yang sensitif untuk beberapa orang. Saya pikir, menjaga perasaan orang lain lebih penting dibandingkan memenuhi hasrat ingin tahu kita tentang kehidupan orang lain yang barangkali enggan untuk mereka bagi.

Kini, acara reuni kerap kali menjelma menjadi ajang untuk pamer, ajang untuk memojokkan orang lain secara tidak sadar, serta ajang yang dipenuhi pertanyaan basa-basi. Jika ada teman kita yang belum menikah, kita akan bertanya mengapa dia belum menikah. Jika ada teman kita yang belum mempunyai anak, kita akan bertanya mengapa dia belum punya anak. Jika ada teman kita yang belum menambah anak, kita akan bertanya mengapa dia belum menambah anak. Begitu seterusnya. Jika begitu, lama-lama orang akan malas untuk datang ke acara reuni, terutama untuk mereka yang akan menjadi sasaran pertanyaan.

Padahal, andai saja kita memang peduli dengan kondisi orang-orang di sekitar kita, tentu kita tidak akan pernah bertanya di depan banyak orang. Tentu kita tidak akan membuat ia merasa malu. Tentu kita tidak akan menambah bebannya. Tentu kita tidak akan membuat ia merasa tidak nyaman. Ya, andai kita memang benar-benar peduli, kita akan bertanya secara personal, menyusun kata dengan tepat, serta menunjukkan empati bahwa kita memang benar-benar peduli.

Saya pikir, hampir semua orang pernah mengalami kondisi di mana merasa terpojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita berpikir, “Apakah ini perhatian atau prihatin?”

Setelah lulus kuliah pada tahun 2011, saya sempat mengganggur selama kurang lebih lima bulan. Masa-masa penantian hingga akhirnya diterima bekerja menjadi masa-masa yang cukup berat dalam hidup saya. Saya ingat betul, setelah wisuda, saya mempersiapkan semua berkas untuk melamar pekerjaan: curriculum vitae, surat lamaran pekerjaan, dan sertifikat-sertifikat penunjang lainnya yang sekiranya dibutuhkan oleh calon perusahaan tempat saya nantinya bekerja.

Tidak ada satu haripun saya lewati tanpa mengecek surat elektronik, mencari informasi lowongan pekerjaan serta melamar hingga ratusan perusahaan. Usaha saya mendapatkan pekerjaan tidak hanya berhenti di depan komputer. Saya juga kerap kali datang ke job expo, mulai dari yang gratis hingga berbayar. Saya rasa, saya sudah melakukan upaya terbaik untuk mendapatkan pekerjaan.

Hari berganti hari, sudah takterhitung berapa banyak lamaran saya sudah saya kirimkan. Beberapa perusahaan ada yang memanggil untuk wawancara, beberapa kali saya nyaris diterima, sisanya berujung penolakan, “Maaf Anda belum bisa bergabung dengan perusahaan kami.”

Sementara lain cerita, teman-teman kuliah saya satu persatu sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan, banyak di antara mereka yang diterima bekerja tidak lama setelah wisuda. Sempat saya berpkir, mengapa nasib baik begitu mudah menghampiri mereka sedangkan saya belum ada tanda-tanda untuk menanggalkan predikat sebagai penggangguran. Padahal jika dipikir-pikir, prestasi saya jauh lebih hebat dibandingkan mereka dan pengalaman organisasi saya juga tidak main-main. Saya sempat tertegun, “Apa yang salah dengan saya? Mengapa saya takkunjung mendapatkan pekerjaan?”

Saya khawatir saya merasa sombong. Merasa lebih baik dibandingkan teman-teman saya. Padahal bisa jadi ini ujian untuk saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih sabar dan berbesar hati. Saya harus percaya bahwa masa-masa berat ini akan segera berakhir. Saya hanya perlu menunggu lebih lama, walau terkadang menunggu begitu sangat menyiksa batin saya.

Suatu kesempatan, saya bertemu dengan teman yang sudah bekerja. Tanpa basa-basi ia bertanya, “Mengapa belum juga bekerja? Apa tidak melamar ke sana ke mari?” Saya hanya bisa menjawab, “Belum rezeki. Doakan saja.” Sejujurnya, saat itu saya marah, dada saya terasa panas. Namun apa boleh buat tugas dia hanya bertanya dan tugas saya hanya menjawab.

Saya pikir, pertanyaan yang sama tidak akan pernah terulang. Namun saya keliru. Beberapa orang yang saya temui secara sengaja dan tidak sengaja menanyakan hal yang sama, “Mengapa belum juga bekerja?” Mungkin karena saat itu saya dalam kondisi yang sensitif, saya menilai pertanyaan yang mereka sampaikan merupakan pertanyaan yang merendahkan saya. “Mereka tidak tahu betapa keras perjuangan saya mendapatkan pekerjaan. Mereka tidak akan pernah tahu,” saya membatin.

Sejak saat itu, saya enggan bertemu dengan orang-orang. Saya habiskan waktu saya untuk fokus mencari pekerjaan. Di sela-sela waktu, saya menyempatkan untuk berjalan-jalan mengitari kota Jakarta dengan moda Transjakarta: dari ujung Utara-Selatan, Barat-Timur. Namun tujuan favorit saya saat itu yaitu pantai Ancol. Sebetulnya tidak ada alasan khusus mengapa saya memilih Ancol. Saya hanya membiarkan hati saya menuntun langkah ke mana ia harus pergi.

Berada di pantai, memandang lautan yang luas setidaknya membuat hati saya jauh lebih tenang. Saya berjanji, suatu ketika saya akan datang lagi dengan perasaan yang dipenuhi suka cita. Beberapa bulan kemudian, janji saya tunaikan. Saya akhirnya diterima bekerja.

Tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan terus datang, saya meminta kepada Tuhan agar diberi hati yang besar, agar saya tidak mudah tersinggung, agar saya bisa menjawab dengan santun. Namun saya berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan menjadi orang-orang yang saya ceritakan tadi. Saya akan lebih berhati-hati dalam bertanya. Jikapun harus bertanya, saya akan bertanya secara asertif. Sisanya, lebih baik saya mendokan karena sesuai kata pepatah, “Tiada kata seindah doa.”

Selama masa-masa menganggur, saya sempat menulis puisi yang menggambarkan perasaan saya saat itu.

seperti muri remaja gigih mencari tanaman untuk sangkarnya. seperti lelaki pucat pasi menanti kado terindah dari Tuhannya. seperti mentari yang menanti bumi pada suatu masa. saksikanlah kereta kencana bernama ketidakpastiaan. seolah semesta pun jadi ragu. inilah harapan. menjadi lentera temani kelam. inilah penantian, tentang sebuah jalan takberujung. nyanyikan keluhmu pada angin, bisa jadi ia merayu mesra. sandarkanlah kepalamu pada air bisa jadi ia penyegar dahaga. dan, titipkanlah hati pada Tuhan karena ragumu terjawab kalam-Nya. titiplah pikirmu pada satu cita yang kau tiduri. puji dan manjakanlah waktu, bacakan sajak ketenangan untuknya. ada jutaan malaikat menenun kebahagiaan. mintalah mereka curi rahasia hati dan malam pun akan menyelimuti rasa. bersabarlah, hanya itu mantra yang kita punya.

 

Jakarta, 26 September 2018

Menyimpan Masalah di Kantong Celana

IMG_5634
Autumn in Yogyakarta (2017) Photo by. Mahfud Achyar

“Aku amati, kamu seperti tidak punya masalah ya? Dari tadi, aku sudah cerita banyak tentang masalah-masalah yang hinggap di hidupku. Masalah pekerjaan, masalah asmara, dan masalah keluarga. Aku heran masalah datang silih berganti dalam hidupku,” ujar seorang sahabat mengganti topik pembicaraan malam itu, usai pulang kantor.

Saya pun langsung terperanjak. Sungguh, pertanyaan spontan yang keluar dari mulut sahabat saya tersebut membuat saya bingung. Seketika lidah saya kelu. Padahal, sejak tadi kita hanya fokus membahas permasalahan-permasalahan yang tengah ia hadapi. Lantas kemudian ia balik bertanya kepada saya, “Masalah kamu apa?”

Sejujurnya, saya bukanlah tipikal manusia yang ekspresif terutama ketika sedang menghadapi masalah. “Ekspresi muka kamu begitu-begitu saja ya?” timpal sahabat saya tadi.

Hmmm sepertinya itu benar. Eskpresi muka saya ya begitu-begitu saja. Tidak ada perubahan raut muka yang begitu mencolok. Jika saya bercermin, terkadang saya sulit membedakan eskpresi muka saya ketika kaget, cemas, marah, atau sedih. Mungkin tipikal manusia dengan minim ekspresi.

Bila saya dirundung masalah, saya jarang berbagi pada siapapun. Sejak dulu, saya tidak terbiasa curhat. Jika ada hal yang mengganjal di hati saya, saya hanya bisa diam, menyimpan rapat-rapat perasaan saya sesungguhnya. Bila terpaksa berbagi, saya hanya mengutarakan bagian ‘kulitnya’ saja. Mungkin ada beberapa sahabat yang membuat saya nyaman untuk bercerita banyak hal. Pada mereka, saya mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan mendengar keluh kesah saya.

Dulu, saya berpikir, orang yang sering curhat adalah orang yang lemah. Seolah mereka tidak kuasa menanggung beban yang menggelayut di pundak mereka.

Takdinyana, ternyata prinsip kuno seperti itu terus saya pupuk dan saya rawat. Saya enggan untuk bercerita kepada siapapun, termasuk kepada keluarga saya sendiri. Saya benar-benar setertutup itu. Seolah tidak mengizinkan seorangpun tahu apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang saya harapkan. Saya hanya bercerita kepada Tuhan perihal perasaan saya. Sebab, hanya Dia yang tahu apa yang sesungguhnya ada di dalam hati dan pikiran saya.

Akan tetapi, sekarang saya menyadari bahwa sesungguhnya kita perlu menyalurkan emosi kita kepada orang lain—entah itu sahabat, pasangan, atau keluarga. Kehadiran mereka mungkin tidak serta merta menyelesaikan permasalah yang kita alami. Namun ketika berbagi, hati kita merasa lega. Setidaknya kita mulai membuka diri bahwa ada orang-orang yang bisa kita percaya. Tanpa kepercayaan, kita hanyalah sekumpulan manusia yang hatinya diliputi prasangka dan curiga.

“Tidak ada masalah yang terlalu besar. Tenang, sejauh ini semuanya masih bisa ditangani dengan baik,” jawab saya diplomatis.

Kala itu, saya sama sekali tidak bermaksud berbohong kepada sahabat saya. Memang, ada beberapa masalah yang sedang saya hadapi. Namun, setelah mendengar curhat darinya, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi tidak ada artinya.

“Setiap orang punya masalah. Bedanya hanya terletak dari cara kita menghadapinya,” kata sahabat saya yang lainnya yang bernama Dea Tantyo pada suatu ketika di Jatinangor.

Buah pikiran Dea selalu melekat di benak saya hingga saat ini. Saya amati, memang benar adanya apa yang dikatakan Dea. Setiap orang punya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah.

Ada beberapa orang bila memiliki masalah atau bermasalah dengan orang lain, mereka lantas mengumbarnya di jejaring media sosial. Sayapun bingung entah apa tujuan mereka? Mungkin untuk melampiaskan kekesalalan atau bisa jadi untuk menyindir orang yang sedang bertikai dengannya. Saya bahkan pernah menjadi orang yang disindir atau merasa tersindir ketika hubungan saya dengan teman saya sedang tidak harmonis.

Kerap kali saya juga ingin membalas sindir-menyindir di media sosial. Namun kemudian saya berpikir, “Jika saya melakukan hal yang sama, lantas apa yang membedakan saya dengannya? Saya tidak membuat perbedaan sama sekali,” saya membatin.

Seorang dosen saya yang bernama Pak Irwansyah pernah berpesan ketika sesi perkuliahan di lantai 22 di daerah bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih pesannya seperti ini, “Ketika kalian masuk ke dunia digital. Maka berhati-hatilah. Sebab, apa yang kalian tulis dan konten yang kalian produksi akan terekam dengan baik.”

Malam itu, usai perkuliahan, saya mulai merefleksi diri agaknya banyak hal buruk sudah saya tinggalkan di media sosial. Banyak sahutan yang takberguna dan banyak keluh kesah yang tidak pada tempatnya.

Dulu, saya sangat reaktif. Mudah sekali mengomentari apapun yang tidak sejalan dengan pemikiran saya. Semuanya saya tumpahkan di media sosial. Jika ada masalah personal pun, saya juga terkadang curhat colongan di media sosial dengan menggunakan ragam gaya bahasa agar pesannya terlihat samar.

Jika dipikir-pikir lagi, apa gunanya saya curhat di media sosial?Agar dunia tahu saya sedang sengsara? Agar dunia bersimpati kepada saya? Padahal, ketika saya curhat di media sosial, orang-orang yang membaca curhatan saya tidak benar-benar ingin membantu saya. Mereka mungkin hanya penasaran terhadap masalah saya. Sisanya hanya akan mencibir bahwa saya tidak cukup berani menyelesaikan masalah secara langsung di dunia nyata.

Seharusnya kita lebih selektif untuk berbagi resah. Seperti perkataan Charity Barnum, “You don’t need everyone to love you, Phin, just a few good people”.

Sungguh, berulang kali, kita selalu diingatkan bahwa Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Jika sedang tidak punya masalah berat, nasehat tersebut begitu mudah saya terima. Namun sialnya ketika saya dirundung masalah berat, saya merasa Tuhan tidak adil kepada saya. Mengapa dari sekian milyar manusia di bumi ini sayalah yang terpilih untuk menanggung beban berat (dalam perspektif saya)? Seharusnya saya berlapang dada bahwasanya masalah seharusnya membuat saya kian kuat, kian naik kelas, dan kian hebat.

Jika saya mendapatkan masalah atau ujian yang sama, artinya saya belum layak naik level ke level yang lebih tinggi. Kata Nicole Reed, “Sometimes the bad things that happen in our lives put us directly on the path to the best things that will ever happen to us.”

Tentang menyikapi masalah secara bijak, beruntungnya saya di kelilingi oleh orang-orang yang hebat. Pada mereka saya belajar bahwa apapun masalah yang sedang kita hadapi, percayalah akan ada cara untuk menyudahinya. Semuanya akan dipergilirkan. Adalah waktu yang menjawab segalanya. Lambat atau cepat semuanya kini terasa relatif.

Jika masalah takubahnya seperti secarik kertas yang sudah remuk, maka mungkin ada baiknya kita menyimpannya di kantong celana. Suatu saat, kertas remuk itu akan kita buang. Ia akan pergi bersama aliran air hujan yang turun di penghujung April.

         Jakarta, 16 April 2018

SAVANNA & MUHLENBERGIA CAPILLARIS DI GUNUNG GUNTUR

Catatan Pendakian Gunung Guntur (2,249 mdpl) di Garut Jawa Barat

 Oleh: Mahfud Achyar

1
Garut: Zwitsers van Java (Captured by: Mahfud Achyar)

Zwitsers van Java, begitulah julukan yang diberikan oleh Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda yang begitu kagum dengan keindahan alam Garut. Konon, Sang Ratu yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau jatuh hati dengan Garut. Ia pun dikabarkan memiliki tempat peristirahatan pribadi di Garut.

Selayaknya Ratu Wilhelmina, saya pun mengagumi Garut. Dulu, sewaktu kuliah saya telah bertualang ke tempat-tempat terbaik di Garut seperti pemandian air panas di Cipanas, pantai-pantai nan elok di Pamengpeuk, PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Kamojang, kebun teh di Cikajang, ladang akar wangi di Samarang, hutan mati di Gunung Papadandayan, serta wisata kuliner di Garut kota. Kendati sudah banyak tempat di Garut yang pernah saya datangi, namun saya masih penasaran dan sangat tergoda untuk mengunjungi lebih banyak ‘surga-surga tersembunyi’ di kabupaten yang hari lahirnya diperingati setiap tanggal 16 Februari.

Dari sekian banyak tempat menarik di Garut, saya memilih untuk mendaki gunung Guntur. Jika Anda pernah berwisata ke Garut, tentu Anda pernah melihat gunung Guntur dari sisi jalan. “Ah, gunung Guntur terlihat tidak terlalu tinggi. Pasti cukup mudah mencapai puncaknya!” Ya, hampir semua orang yang belum pernah mendaki gunung Guntur akan berujar hal yang sama. Saya pun dulu pernah mengatakan hal tersebut. Namun setelah mendaki gunung Guntur pada akhir pekan kemarin (21 hingga 22 Mei 2016), saya dengan tegas mengatakan, “Gunung Guntur itu kecil-kecil cabai rawit!”

Mengapa pada akhirnya saya memutuskan untuk mendaki gunung Guntur? Secara personal, saya menyukai gunung Guntur karena mirip dengan gunung Merbabu di Jawa Tengah. Lantas, apa kemiripan gunung Guntur dan gunung Merbabu? Savana! Ya, kedua gunung tersebut sama-sama memiliki savana yang luas, hijau, dan tentunya indah. Saya sangat terobsesi dengan savana. Bagi saya, ketika berada di hamparan savana, saya merasa merdeka. Seketika itu juga otak saya mulai berfantasi membayangkan film-film petualangan seperti Lord of the Rings, The Secret Life of Walter Mitty, Into the Wild, dan sebagainya. Berada di savana yang hijau membuat saya sangat bersemangat dan riang gembira. Saya membayangkan diri saya menjadi tokoh-tokoh fiksi dalam film dan novel yang bertema petualangan. Terasa sangat menyenangkan.

4
Savanna (Captured by: Mahfud Achyar)

“Terkadang kita perlu menjadi kekanak untuk dapat menikmati hidup. Namun terkadang juga kita perlu menjadi manusia dewasa yang sesungguhnya untuk dapat memahami peliknya hidup dan kehidupan. Jika berada di alam bebas, tentunya saya akan memilih menjadi kekanak. Bebas, lepas, dan penuh kreatifitas!”

Selain memiliki savana yang hijau dan luas, di gunung Guntur Anda juga akan menemukan bunga ilalang yang berwarna pink. Cantik! Dalam bahasa latin, bunga tersebut bernama muhlenbergia capillaris atau dikenal juga dengan sebutan muhly hairawn. “The plant itself includes a double layer; green leaf-like structures surround the understory, with purple-pink flowers out-growing them from the bottom up. The plant is a warm-season grass, meaning that leaves begin growth in the summer. During the summer, the leaves will stay green, but they morph during the fall to produce a more copper color.”

11
Muhlenbergia Capillaris at Mt. Guntur West Java (Captured by: Mahfud Achyar)

Pada pendakian ke gunung Guntur kemarin, saya ditemani oleh sahabat-sahabat perjalanan yang menyenangkan. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang sama saat melakoni pendakian ke beberapa gunung di Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Saya pikir, kami bertujuh sepakat bahwa pendakian kemarin memiliki cerita yang indah untuk dikenang. Begitu banyak drama, gelak tawa, serta suka cita yang menghiasi perjalanan kami selama dua hari satu malam.

Dari tujuh orang yang ikut pendakian, hanya satu orang yang pernah mendaki gunung Guntur. Sisanya belum pernah sama sekali. Kami berenam tidak ada gambaran yang jelas mengenai gunung Guntur. Namun tidak perlu gusar, tenang saja. Kami sudah memiliki banyak asupan informasi, baik dari internet maupun dari teman-teman yang sudah pernah mendaki gunung Guntur. Persiapan mendaki gunung Guntur kami siapkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Beruntung hampir semua anggota kelompok pernah mendaki gunung sehingga pembagian tugas menjadi lebih efektif. Oya, terima kasih saya ucapakan sedalam-dalamnya untuk Brian Acton dan Jan Koum yang telah menciptakan aplikasi WhatsApp. Thanks buddies! Koordinasi dan komunikasi kami dalam mempersiapan segala keperluan untuk mendaki menjadi lebih mudah.

So, let us walk together fellas!

DSC_0545
L-R: Iril, Abah, Imam, Achyar, Klep, Tami, Moa

 

Sebelum memulai pendakian, kami harus mengurus proses administrasi serta membayar retribusi sebesar 15ribu rupiah (sudah termasuk asuransi jika pendaki mengalami kecelakaan). Setelah semua prosedur kami lakukan, kami pun mulai mendaki sekitar pukul 09.00 WIB.

Saat itu, mentari bersinar tidak terlalu terik dan cuaca tidak terlalu panas. Kami sangat bersyukur. Alhamdulillah. Andai cuaca tidak bersahabat tentu kami akan kerepotan. Betapa tidak, sebelum memasuki kawasan hutan, kami harus berjalan sekitar 45 menit untuk menyusuri jalanan berkerikil dan berpasir. Kami melewati area tambang pasir persis di kaki gunung Guntur. Bila hujan turun sementara pada waktu yang bersamaan truk-truk pembawa pasir melewati jalan yang sama dengan kami, tentunya cukup berbahaya. Salah seorang sahabat bercerita bahwa ia pernah melihat truk pasir terguling dan di dalam truk pasir tersebut ada para pendaki yang menumpang. Lantas apa yang terjadi? Insiden pun tidak dapat terelakkan.

2
Memasuki area penambangan pasir di kaki gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Sepanjang perjalanan, saya berpikir, apabila pasir di kaki gunung Guntur terus dikeruk bukankah akan menyebabkan longsor? Saya menilai ada persoalan lingkungan di gunung Guntur yang harus menjadi concern pemerintah daerah Garut. Sepertinya harus dibuat regulasi mengenai penambangan pasir di kaki gunung Guntur tanpa abai terhadap mata pencaharian masyarakat di sekitar kaki gunung Guntur yang bekerja sebagai buruh penambang pasir.

Ada objek yang unik di sekitar area tambang pasir di kaki gunung Guntur yaitu bebatuan cadas yang mirip dengan situs geologi Gunung Padang di Cianjur atau Stone Garden di Padalarang. Namun sepertinya objek tersebut tidak begitu dihiraukan oleh para pendaki. Padahal sepertinya cukup menarik untuk dijadikan latar foto yang instagramable. Serius!

Setelah berhasil melewati area tambang pasir, kami pun memasuki kawasan hutan yang tidak terlalu rimbun. Namun sesampainya di hutan, udara sejuk pun mulai menyergap tubuh kami yang berkeringat. Kami seperti terlahir kembali (halah, klausa ini terlalu berlebihan). Semakin jauh berjalan, tantangan yang kami hadapi semakin menantang. Beberapa kali saya harus membenarkan posisi tas carier agar terasa nyaman dibawa. Keringat pun mulai mengucur dan napas mulai tidak teratur. Hanya bercanda dan foto-foto yang menjadi obat ampuh untuk menghilangkan rasa penat yang menggelayut di pundak. Kendati langkah terasa berat, kami terus melangkah dan menikmati setiap bunyi hembusan napas yang terdengar berat.

“Ayo semangat! Sebentar lagi Pos 1!”

Salah seorang dari kami tiba-tiba memecah kesunyian saat melewati hutan yang sepi. Di gunung, terkadang ungkapan “semangat” tidak lantas membuat kita bersemangat. Seringkali frasa “semangat” membuat kita semakin berpikir realistis bahwa perjalanan masih panjang. Sembari menghembuskan napas, saya bergumam, “Oke perjalanan masih panjang, Bung!” Tidak ada jalan lain kecuali terus melangkah dan menikmati setiap rasa yang timbul dari dalam diri: rasa kesal, lelah, dan payah.

Menurut saya, jalur pendakian di gunung Guntur tidak begitu susah. Namun mendekati Pos 3, saya mulai merasa kewalahan karena harus melewati jalur bebatuan yang memiliki kemiringan hingga 75⁰. Saya harus ekstra waspada dan harus memastikan kaki saya mendarat di batu yang solid dan kokoh. Jika tidak, saya bisa terpeleset dan akan berakibat fatal. Oleh sebab itu, bagi para pendaki yang melewati jalur tersebut diminta hati-hati. Watch your step, guys!

 

 Pukul 13.30 WIB kami tiba di Pos 3.

“SELAMAT DATANG DI POS 3,” tulisan pada sebuah gapura yang terbuat dari kayu berwarna coklat menyambut kedatangan kami. Saya mulai tersenyum sumringah. Aha, ternyata di pos 3 sudah banyak berdiri tenda warna-warni. Terlihat seperti bumi perkemahan yang bernuansa ceria. Oh ya, sebagai informasi pengelola gunung Guntur hanya mengizinkan mendirikan tenda di pos 3. Pendaki tidak diizinkan mendirikan tenda di puncak. Hal ini lantaran sering terjadi longsor di gunung Guntur. Apalagi mengingat curah hujan pada bulan Mei masih lumayan tinggi. Sejauh pengamatan saya, tidak ada satu pun pendaki yang melanggar himbauan tersebut. Good job!

P1220119
Pos 3 Gunung Guntur (Captured by: Klep)

Lagi pula, menurut saya memang paling nyaman dan paling enak berkemah di pos 3. Betapa tidak, kita tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan air. Jika Anda mau, Anda bisa bisa mendirikan tenda persis di samping sungai. Arena berkemah di pos 3 juga sangat luas. Anda tidak perlu khawatir tidak kebagian lahan untuk mendirikan tenda. Selain itu, jika summit pada dini hari Anda tidak perlu membawa tas carrier yang berat. Anda cukup membawa barang-barang penting. Sisanya, Anda bisa simpan di dalam tenda. Insya Allah aman.

Jika boleh dikatakan, pendakian di gunung Guntur tergolong pendakian leyeh-leyeh. Setelah selesai makan siang dan sholat kami pun tidur di luar tenda dengan beralaskan flysheet. Siang itu, matahari ditutupi awan putih yang tebal. Cuaca juga tidak terlalu dingin. Cukup pas untuk kita tidur siang. Salah satu dari kami menyeletuk, “Ayo kita tidur siang!” Akhirnya tanpa banyak kata dan suara, kami semua tertidur pulas. Saya terbangun dari tidur ketika tiba-tiba ada suara gaduh dari pendaki yang baru datang. Saya melihat jarum jam yang ternyata baru menunjukkan pukul 15.30 WIB. Ternyata saya tidur hanya sebentar namun terasa sangat lama. “Itu namanya tidur berkualitas,” celoteh teman saya.

Untuk mengisi waktu sore hari, kami pun bermain kartu uno. Bagi saya, bermain uno di gunung adalah pengalaman pertama. Biasanya waktu di gunung sangat terbatas. Namun ternyata sangat menyenangkan mengisi waktu bersama sahabat dengan hal-hal yang menyenangka. Jika ingat momen-momen bermain uno, saya hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ada saja kejadian lucu yang membuat saya tidak henti-hentinya tertawa. Misalnya ketika salah seorang sahabat bernasib sial karena harus menarik kartu uno dalam jumlah yang sangat banyak. Menyebalkan.

Dari sekian banyak momen lucu selama bermain kartu uno, ada satu momen yang akan terus menjadi bahan untuk ditertawakan. Ceritanya begini, ketika masing-masing dari kami sedang serius menyusun strategi untuk memenangkan pertarungan uno, tiba-tiba seorang sahabat saya (nama disamarkan demi menjaga harga diri) yang mendapatkan giliran mengeluarkan kartu tiba-tiba berteriak, “Kartu ungu!” Sontak saat itu semua terpaku diam membisu. Saya pun jadi kebingungan. Apa maksud dari kartu ungu? Selidik demi seledik, ternyata ada yang menimpali celetuk teman saya tersebut, “Kartu uno ungu yang seperti ini bukan?” Haha gelak tawa pecah seketika. Kami baru menyadari bahwa kartu uno berwarna ungu adalah kartu bonus yang tidak digunakan dalam permainan. Ah, sepertinya saya kurang mahir menggambarkan kelucuan pada saat itu. Namun yang jelas itu adalah momen yang menggelikan.

“Friendship.. is born at the moment when one man says to another, “What! You too? I thought that no one but my self.” – C.S. Lewis

Sore hari, saat asyik-asyiknya bermain kartu uno, langit terlihat mendung. Matahari seolah disergap oleh sekomplotan awan gemuk berwarna abu-abu. Jelas, hujan akan turun. Kami pun bergegas memasang flysheet guna melindungi tenda dari air hujan yang mengucur dari langit. Kami pun kembali ke tenda-tenda masing sembari menunggu hujan reda. Di dalam tenda, saya pun menyalakan ponsel genggam milik saya yang berwarna hitam. Saya membuka aplikasi recorder kemudian mereka suara hujan yang mengetuk kasar tenda yang berbahan parasut. Hujan dan sore adalah paket yang sempurna untuk mengantarkan khayal saya pada jutaan kenangan pada masa silam.

Pukul 03.00 WIB persiapan summit

Dini hari menjelang subuh, tepatnya pukul 03.30 WIB kami bersiap untuk summit ke puncak gunung Guntur. Kami pun berdoa, berharap pendakian menuju puncak tidak mengalami kendala yang berarti. Satu hal yang paling kami pinta kepada Tuhan, kami ingin kembali pulang dalam keadaaan selamat, sehat wal’afiat.

Tepat di atas kepala kami, bulan purnama terlihat bulat sempurna. Tidak banyak bintang pada malam itu. Cahaya purnama yang cukup terang membantu kami menunjukkan jalan menuju puncak. Jalur pendakian ke puncak gunung Guntur menantang. Banyak orang yang mengatakan bahwa gunung Guntur laiknya gunung Semeru versi mini. Perlahan, kami mulai menanjak lereng gunung Guntur yang berpasir dan berbatu kerikil. Kadang kami harus menghentikan langkah untuk mengambil napas dalam-dalam. Kami pun melihat ke arah puncak untuk memastikan bahwa kami sudah berjalan cukup jauh. Puncak memang terlihat begitu dekat, sangat dekat. Namun semakin lama kami berjalan, puncak seakan semakin menjauh, seperti oase di gurun pasir.

Saya tahu persis bahwa summit merupakan salah satu bagian tersulit dalam pendakian. Rasa lelah dan kepayahan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Lantas apakah saya harus menyerah setelah begitu banyak tantangan yang sudah saya hadapi. Tidak ada yang mampu memberikan semangat yang luar biasa besar untuk saya, kecuali semangat itu muncul dalam jiwa saya terasa panas. Saya akan terus berjalan kendati dalam keadaan sesulit apapun.

No pain, no gain.

5
Sunrise di Puncak 1 Gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Adzan Subuh berkumandang. Puncak sudah berada di depan mata. Tinggal beberapa langkah lagi saya berhasil mencapainya. Perlahan langit yang kelam mulai ditelan oleh cahaya berwarna oranye dan jingga. Pertanda sebentar lagi matahari baru segera terbit. Saya melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Saya terus memacu langkah, menguatkan hati yang mulai lemah. Akhirnya, dalam keadaan napas yang terengah-engah saya berhasil menginjakkan kaki di puncak gunung Guntur. Alhamdulillah. Sejenak saya menghempaskan tubuh saya di atas tanah berpasir yang terasa dingin. Saya melihat langit yang mulai terang. Saya hanya bisa terdiam. Dalam diam, saya hanya bisa berdoa.

“If you want to be reminded of the love of the Lord, just watch the sunrise.” – Jeannete Walls

6
Hallo Sunrise! (Captured by: Mahfud Achyar)

Setelah sholat Subuh, istirahat sejenak, dan foto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju puncak 3. Lazimnya para pendaki hanya sampai puncak 2 karena di sana ada semacam monumen yang menjadi tanda bahwa itu adalah puncak gunung Guntur. Beruntungnya jalur menuju puncak 2 dan puncak 3 tidak begitu susah dibandingkan jalur dari pos 3 ke puncak 1. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan savana yang ditumbuhi oleh bunga-bunga ilalang berwarna pink, muhlenbergia capillaris.

7
Gunung Cikurai (Captured by: Mahfud Achyar)
9
Savanna at Mt. Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Dari puncak gunung Guntur saya melihat gunung Cikurai yang terlihat gagah. Saya berharap suatu saat saya akan berada di atas puncak gunung Cikurai. Barangkali dalam waktu dekat. Berada di atas ketinggian 2,249 mdpl membuat saya sependapat dengan Ratu Wilhelmina bahwa Garut memang layak disebut Zwitsers van Java.

12
Puncak Gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)
14.jpg
Garut, Jawa Barat (Captured by: Mahfud Achyar)

Jakarta, 27 Mei 2016.

Catatan tambahan:

Itinerary Mt. Guntur
Itenerary Mt. Guntur

Mt. Guntur (2,249 M) – Garut West Java

Photo Story: Kelas Inspirasi Jakarta 5 “Satu Hari Kembali ke Sekolah”

Kelas Inspirasi (KI) merupakan salah satu program dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Program ini memfasilitasi para profesional untuk kembali ke sekolah khususnya Sekolah Dasar selama satu hari dengan tujuan menginspirasi anak-anak Indonesia untuk #BeraniBermimpi.

Secara sederhana, para profesional menceritakan profesi mereka kepada anak-anak SD dengan harapan kelak di masa depan mereka bisa menjadi seperti mereka atau bahkan jauh lebih hebat dari para inspirator (sebutan pengajar Kelas Inspirasi). Hal ini menjadi penting mengingat saat ini di dunia kerja begitu beragam profesi yang ada. Tidak hanya ada profesi yang populer seperti dokter, polisi, ataupun tentara. Nyatanya di dunia kerja ada profesi seperti chef, designer interior, dan masih banyak lagi.

Tahun ini, Kelas Inspirasi Jakarta kembali digelar untuk yang kelima kalinya. Bagi Kelas Inspirasi Jakarta 5, tahun ini sangat spesial karena Hari Inspirasi bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2016.

Saya menjadi relawan Kelas Inspirasi untuk kali ketiga. Namun pada Kelas Inspirasi tahun ini, saya mengambil peran menjadi relawan fotografer (amatir) yang tergabung dalam kumpulan orang-orang hebat di Kelompok 42.

Berikut 5 foto dokumentasi ketika Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur:

1
Foto 1

Menunggu Upacara Bendera

Siswi-siswi SDN 07 Cijantung Pagi Jakarta Timur pada Senin, (02/05/2016) terlihat begitu antusias menunggu upacara bendera. Pada hari itu, upacara bendera di sekolah mereka berbeda dibandingkan upacara-upacara sebelumnya. Betapa tidak, pada hari itu bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, sekolah mereka juga kedatangan para relawan Kelas Inspirasi Jakarta 5 yang akan berbagi cerita tentang profesi mereka. Bagi siswi-siswi tersebut, jelas hari itu adalah hari yang berbeda, hari yang spesial karena tidak ada PR.

 

2.JPG
Foto 2

Guru, Tidak Hanya Mengajar Namun Juga Mendidik

Gicha Graciella (27 tahun) merupakan seorang konsultan komunikasi. Ia baru pertama kali menjadi relawan Kelas Inspirasi. Ia menceritakan bahwa mengikuti Kelas Inspirasi bukan hanya tentang berbagi, namun juga sebagai bentuk komitmennya bahwa sesuatu yang baik dan berguna perlu disebarkan dengan lebih luas. Ia yakin setiap orang berilmu di negeri ini memiliki kewajiban untuk mendidik generasi mendatang. Ada satu pengalaman yang cukup berkesan ketika ia menjadi inspirator Kelas Inspirasi. Menurutnya, salah satu persoalan pelik di dunia pendidikan di Indonesia yaitu masalah bullying. Ia bercerita, “Selama saya mengikuti kelas inspirasi, saya melihat ada beberapa anak yang mendapat kekerasan verbal dari teman-temannya. Saya menyadari bahwa mendidik bukan hanya tentang mengajarkan mereka untuk mengerti mata pelajaran dan hal-hal yang bersifat teoritis.” Gicha, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa mendidik adalah tumbuh bersama mereka, memahami kebutuhan mereka, dan memenuhi hak-hak mereka.

3.JPG
Foto 3

Tidak Perlu Ada Sekat Antara Guru dengan Murid

Ada ungkapan yang mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Predikat menjadi seorang guru memang tidak mudah. Ia menjadi contoh, ia menjadi role model untuk anak didiknya. Hubungan guru dan murid tidak hanya sebatas orang yang mengajar dan orang yang diajar. Guru dan murid juga bisa saling bersahabat. Bukankah menyenangkan memiliki guru sekaligus sahabat?

4.JPG
Foto 4

Belajar Tidak Hanya di Kelas

Annisa Aulia Handika (23 tahun) mengajak siswa-siswinya untuk belajar di luar kelas. Sebelum ia mulai mengajar, seorang siswa membuang hajatnya di kelas. Hal tersebut membuat aroma kelas menjadi tidak sedap. Ollie, begitu ia memanggil namanya, mengatakan bahwa belajar tidak perlu di ruang kelas. Siswa-siswi bisa belajar dimana saja, asalkan ia nyaman menjalani proses belajar mengajar. Profesinya sebagai Oseanografer sangat menarik antusias anak-anak. “Ini pertama kalinya saya mengikuti Kelas Inspirasi dan langsung ketagihan untuk ikut lagi,” ungkap Ollie. Selama mengajar, Ollie berulang kali mengatakan bahwa laut di Indonesia itu sangat luas dan sangat indah. Oleh sebab itu, kita perlu bersama-sama menjaga kekayaan laut yang kita punya. Mengajar itu nagih! “Saya menjadi lebih bersemangat untuk terus berbuat lebih untuk banyak orang,” ungkapnya.

5.JPG
Foto 5

Dari Balik Jendela

Saya adalah seorang relawan fotografi. Saya memang tidak menginspirasi mereka secara langsung. Sungguh, tidak sama sekali. Hal yang terjadi justru sayalah yang terinspirasi dari anak-anak sekolah dasar. Saya menangkap momen ketika mereka tertawa lepas, ketika mereka marah, ketika mereka kesal, atau ketika mereka bosan. Namun dari semua mata yang sudah abadikan dengan kamera, ada satu hal yang membuat saya merinding. Saya melihat di dalam mata mereka ada binar harapan untuk masa depan yang jauh lebih hebat, jauh lebih gemilang. Teruslah bersemangat menggapai cita-cita wahai tunas bangsa!

Demikianlah, satu hari cuti satu hari menginspirasi! Ayo #BangunMimpiAnakIndonesia

Jakarta,

10 Mei 2016

Ironi Pendidikan di Bumi Pertiwi

Tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau yang biasa disingkat Hardiknas. Tanggal 2 Mei dipilih sebagai Hardiknas sebab pada tanggal tersebut merupakan tanggal lahirnya salah satu tokoh pendidikan di Indonesia, yaitu Ki Hadjar Dewantara, tepatnya pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta.

 

Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara merupakan pahlawan nasional yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan di tanah air. Pada masa kolonialisme Belanda, ia berani menentang kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengeyam bangku pendidikan. Kritikan Ki Hadjar Dewantara kepada pemerintahan kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Negeri Kincir Angin.

Pada bulan September 1919, ia kembali dipulangkan ke Indonesia dan kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan bernama Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut) pada Juli 1922. Taman Siwa memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memeroleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Ki Hadjar Dewantara terkenal dengan semboyan pendidikan dalam bahasa Jawa, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.” Dalam bahasa Indonesia, semboyan tersebut diterjemahkan, “Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.” Selain menjadi tokoh pendidikan, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama. Ia meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959.

Ki Hadjar Dewantara boleh saja sudah tidak membersamai kita lagi. Namun, semangat dan pengorbanannya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia tidak boleh padam. Sebab, pendidikan adalah gerbang yang akan menghantarkan Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang berwibawa, dan bangsa yang memberikan kebermanfaatan yang luas untuk dunia. Hal tersebut juga semakin dikuatkan dengan janji kemerdekaan yang diucapkan langsung oleh Bapak Bangsa, Presiden Sukarno, yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, “……mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Namun, apakah cita-cita yang dikobarkan sejak 70 tahun yang lalu sudah kita dapatkan? Masalah pendidikan seakan menjadi pekerjaan rumah yang amat berat bagi bangsa ini. Betapa tidak, sejak kemerdekaan hingga saat ini masih banyak persoalan-persoalan pendidikan yang belum mampu untuk ditangani dengan baik.

Mari sejenak kita merenungkan data yang disampaikan oleh Sosiolog Pendidikan dan Kemasyarakat Universitas Indonesia, Hanief Saha Ghafur, yang menyebutkan angka buta huruf di Indonesia masih relatif cukup tinggi. Jumlah penduduk buta aksara di Indonesia usia di atas 15 tahun sebanyak 6,7 juta atau sekitar 4,2 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Selain itu, berdasarkan laporan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2010, tercatat 1,3 juta anak usia 7-15 tahun di Indonesia terancam putus sekolah. Tingginya angka putus sekolah disebabkan salah salah satunya karena mahalnya biaya pendidikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, seperti yang dilansir pada laman Okezone, mengatakan pihaknya menginginkan dukungan terhadap para pelajar yang berpotensi putus sekolah lebih diintensifkan. Lebih lanjut, Anies menilai bahwa konsekuensi dari putus sekolah berimplikasi dalam aspek kesejahteraan dan permasalahan sosial lainnya.
Selain masalah buta aksara, masalah lain dari dunia pendidikan di Indonesia adalah Sistem Pendidikan Nasional (Sidkinas) yang dianggap belum berhasil menemukan formula tepat. Bahkan, media Aljazeera seperti yang dilansir Okezone menyebutkan sistem pendidikan di Indonesia sama dengan sistem pendidikan di zaman batu yang masih mengedepankan budaya menghafal, bukan berpikir kreatif.

Kualitas pendidikan di Indonesia semakin dipertanyakan. Kondisi demikian membuat Indonesia semakin tertinggal jauh dibandingkan negara-negara seperti Jepang dan Finlandia. Berbagai persoalan pendidikan yang mendera Indonesia di antaranya yaitu rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.Lantas jika begitu, siapa yang harus disalahkan? Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah semata. Kendati hal tersebut memang tugas utama pemerintah. Namun sebagai civil society, kita juga dapat berperan aktif guna memajukan pendidikan di bumi pertiwi.

Terakhir, saya mengutip ungkapan sederhana dari Anies Baswedan, “Daripada kita lipat tangan, lebih baik kita turun tangan untuk melunasi janji kemerdekaan.” [Mahfud Achyar]