Saat Irisan Kematian Begitu Tipis


20190305_170519-01
Photo captured by. Harry Anggie

Never forget how blessed you are to see another day.” – Anonymous

Dalam hidup ini, betapa sering kita mendengar, membaca, dan melihat orang-orang yang ‘lolos’ dari kematian—mungkin salah satunya kita sendiri yang mengalami peristiwa ‘lolos’ dari kematian. Saya beberapa kali memiliki pengalaman ‘lolos’ dari kematian, setidaknya empat kali selama saya hidup.

Pertama, saya pernah tenggelam ketika masih kecil. Saat itu, saya belum bisa berenang. Namun saya terbiasa bermain di pinggiran kolam dan berpegangan pada dinding-dinding kolam. Saya pikir, itu cara yang paling aman untuk bisa tetap main di dalam air tanpa takut tenggelam.

Lalu, saya ke luar dari kolam dan berdiri di pinggir kolam. Suasana kolam saat itu cukup ramai. Banyak orang-orang berenang, termasuk anak-anak seusia saya. Tiba-tiba, ada yang mendorong saya ke kolam. Saya meronta-ronta, berupaya naik ke permukaan. Namun hasilnya nihil. Saya berkali-kali minum air kolam hingga saya batuk. Mata saya terasa perih. Saya sulit bernapas.

Semakin saya berusaha keras naik ke permukaan, semakin saya kesulitan untuk bernapas. Saya tidak berharap banyak. Mungkin itu akhir hidup saya. Namun tiba-tiba seseorang mengangkat tubuh saya lalu mendorong ke pinggir kolam. Saya hampir tidak sadar diri. Namun beruntung saya selamat.

Saya tidak tahu siapa yang menyelamatkan saya pada insiden itu. Namun saya sungguh berterima kasih. Andai saja saya mengenalnya, saya akan sampaikan ungkapan terima kasih secara langsung. Kebaikannya akan selalu saya kenang hingga kapanpun. Terima kasih wahai pahlawan masa kecil saya.

Sejak kejadian itu, saya bertekad untuk bisa berenang. Saya rutin untuk belajar berenang hingga akhirnya saya benar-benar bisa berenang. Senang rasanya bisa berpindah dari satu titik ke titik lain, entah itu di kolam, sungai, ataupun laut tanpa harus takut tenggelam.

Kedua, saya dan teman-teman saya pernah nyaris ditabrak kereta api saat melewati jalan yang menjadi perlintasan kereta api. Tidak ada petugas yang berjaga, tidak ada palang pintu kereta api, dan tidak ada sirine sebagai tanda kereta api akan melintas. Mobil kami melaju melewati perlintasan kereta api. Tidak ada rasa khawatir karena memang jalanan sepi dan tidak ada tanda-tanda bahaya. Namun tidak berselang lama, kereta api lewat. Jantung saya berdegup kencang. Saya rasa kondisi yang sama juga dialami teman-teman saya. Kami mengucap syukur karena ‘lolos’ dari kematian. Terima kasih, Tuhan.

Ketiga, kejadian ‘lolos’ dari kematian juga terjadi saat berada di dalam mobil. Masih lekat di benak saya, pada 30 September 2009, tiba-tiba bumi bergoncang begitu hebat. Saya dan keluarga berada di dalam mobil menuju kota Padang.

Saat itu, momen Hari Raya Idul Fitri. Saya pulang kampung. Kami sekeluarga baru saja mengunjungi rumah saudara yang ada di Painan, Pesisir Selatan. Jalanan dari Painan menuju Padang tidak begitu besar, hanya cukup dilewati dua mobil dari arah yang berlawanan. Kondisi jalan bisa dikatakan cukup ekstrem lantaran berada di antara tebing batu dan jurang yang langsung mengarah ke laut. Gempa membuat mobil kami oleng. Namun beruntung masih bisa dikendalikan dengan baik.

Lalu, pemandangan seketika berubah begitu menyeramkan. Batu-batu di atas bukit yang berukuran besar berjatuhan dan nyaris meniban mobil kami. Semua orang di dalam mobil berteriak. Kondisi saat itu mengingatkan saya pada salah satu adegan dalam film “Knowing” (2019) yang dibintangi Nicolas Cage, saat ia dan anaknya berada di dalam mobil dan berupaya terhindar dari jilatan gelombang panas.  

Perlahan, getaran gempa mulai berkurang. Batu-batu dari atas bukit juga tidak lagi berjatuhan. Kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan. Baru beberapa meter jalan, kami melihat pemandangan yang memilukan. Seorang pengendara sepeda motor tertiban batu yang berukuran besar. Sudah dipastikan ia tidak selamat. Tragis.

Keempat, kejadian ‘lolos’ dari kematian baru beberapa waktu lalu saya alami, tepatnya pada Minggu, 17 Maret 2019, saat penerbangan dari Balikpapan ke Jakarta. Sesuai jadwal penerbangan, pesawat saya seharusnya take off pukul 19.45 WITA. Namun ketika berada di ruang tunggu, ada pengumuman dari maskapai bahwa terjadi keterlambatan penerbangan sekitar 45 menit lantaran ada kendala teknis. Pukul 19.56 WITA, pesawat sudah bisa dinaiki penumpang dan siap lepas landas. Setelah kurang lebih 35 menit terbang, tiba-tiba ada pengumuman dari awak kabin yang mengatakan pesawat memiliki masalah teknis khususnya pada kemudi kendali otomatis sehingga terpaksa harus memutar balik ke Balikpapan.

Tangan saya berkeringat, saya mulai berpikir buruk, “Bagaimana jika hal buruk terjadi pada pesawat yang saya tumpangi?” Saya melepas headphone yang sedari tadi menempel di daun telinga. Zac Efron dan Zendaya masih saja terus bernyanyi, “…How do we rewrite the stars? Say you were made to be mine? Nothing can keep us apart. ‘Cause you are the one I was meant to find…”

Saya berusaha tenang, berusaha menghalau pikiran buruk, seraya berdoa. Saya hanya bisa pasrah, berharap Tuhan melindungi kami semua. Jika memang memang kematian sudah di ambang mata, saya bisa apa?

Pesawat memutar balik menuju Balikpapan. Semua orang tampak khawatir. Kami merapal doa, benar-benar berharap bisa mendarat dengan selamat di Balikpapan. Alhamdulillah, roda pesawat menyentuh landasan bandara. Kami semua selamat.

Semua penumpang satu persatu turun dari pesawat, melewati lorong menuju counter check-in. Pihak maskapai mengatakan bahwa tidak ada lagi penerbangan ke Jakarta. Penerbangan kami merupakan penerbangan terakhir. Mau tidak mau harus diundur hingga besok pagi.

Para penumpang antre untuk mengatur ulang jadwal penerbangan mereka. Ada yang memilih jadwal penerbangan pertama pada esok hari, ada yang siang, dan ada pula yang marah-marah kepada petugas maskapai lantaran jadwal perjalanan mereka jadi kacau. Namun saya pikir, keputusan pilot untuk kembali ke Balikpapan merupakan keputusan yang paling tepat. Bagaimana jika pihak maskapai tetap memaksakan penerbangan ke Jakarta? Tidak ada yang bisa jamin bahwa kami akan selamat. Sangat berisiko. Saya tidak ingin seperti penumpang lainnya yang mengeluh, protes keras, bahkan memaki-maki petugas maskapai. “Sudah sampai selamat kembali di Balikpapan saja saya sudah tenang,” saya membatin.

Beberapa kejadian ‘lolos’ dari kematian yang pernah saya alami membuat saya merenung bahwa sejatinya kematian akan selalu mengikuti manusia hingga kapanpun. Hanya kita tidak diberi kuasa oleh Tuhan kapan kematian benar-benar menghampiri kita dan berkata, “Saatnya kamu mengucapkan selamat tinggal pada dunia.”

Terkadang, saya sering memikirkan kematian dan berharap kematian segera menyapa saya pada usia yang masih muda. Saya teringat puisi yang ditulis Soe Hok Gie, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Entahlah, mungkin saya belum menemukan Ikigai – a reason for living atau mungkin saya hanya merasa lelah; melihat dunia yang semakin tidak nyaman untuk ditinggali, kekhawatiran akan banyak hal, dan semakin lama hidup maka akan semakin banyak dosa yang saya perbuat. Mungkin kematian satu-satunya jalan untuk mengistirahatkan pikiran dan perasaan saya. Namun saya juga khawatir bahwa saya tidak benar-benar siap untuk mati muda. Bekal saya untuk kehidupan berikutnya belum banyak. Mungkinkah di kehidupan berikutnya akan lebih menyenangkan?

Buku “Ikigai: The Japanes Secret to a Long and Happy Life” (2016) yang ditulis oleh Héctor García and Francesc Miralles mengemukakan gagasan bahwa setidaknya ada empat alasan mengapa kita harus terus bertahan untuk hidup, yaitu mission, vocation, profession, dan passion yang juga dibingkai dalam empat pertanyaan, “what you love, what the world needs, what you can be paid for, and what you are good at.

Barangkali ada benarnya bahwa jika kita lelah dengan hidup, mungkin kita perlu menemukan Ikigai kita sendiri dan itu sangatlah personal. Mungkin juga kita harus mengubah perspektif kita tentang hidup itu sendiri. Beruntung kita masih bisa bangun, masih bisa bernapas, masih bisa mandi, masih bisa sarapan, masih bisa datang ke kantor, masih bisa bekerja, dan banyak hal yang masih bisa kita lakukan.

Sementara di luar sana, ada orang-orang yang benar-benar berjuang untuk hidup dan itu tentulah tidak mudah. Kata sahabat saya, Harry, “Everyday is a gift grom God.” Maka balasan untuk hadiah yang diberikan Tuhan yaitu dengan cara bersyukur, menikmati hari-hari yang kita jalani walau terkadang diselingi air mata, kecewa, duka, dan perasaan-perasaan tidak mengenakkan hati lainnya. Perlakukan perasaan itu selayaknya tamu. Ia akan datang dan pergi. Ia tidak akan singgah terlalu lama. Jadi, biarkan ia hadir, biarkan ia bertamu, dan bila perlu ucapkan selamat tinggal jika memang waktunya ia harus pergi.

Jangan terlalu risaukan masa depan yang masih menjadi misteri. Hiduplah untuk hari ini, hiduplah untuk saat ini. Kita memang diminta untuk mempersiapkan masa depan. Namun yang lebih penting yaitu masa sekarang. Masa di mana kita masih bisa merasakan hembusan napas yang terasa hangat, masa di mana kita masih bisa melihat daun-daun yang berguguran, dan masa di mana kita masih bisa mendengar burung berkicau dengan merdunya.

Saya rasa, kejadian-kejadian ‘lolos’ dari kematian merupakan isyarat dari Tuhan bahwa kita masih punya waktu untuk menggapai mimpi-mimpi kita, bahwa kita masih bisa memperbaiki hubungan yang sempat retak dengan orang lain, bahwa kita masih bisa menunjukkan sisi terbaik kita kepada orang-orang yang kita sayangi.

Jangan meminta kematian menjemput lebih awal sebab tanpa dimintapun ia akan datang. Kematian tidak akan pernah datang lebih awal atau datang terlambat. Suatu saat ia akan menyapa kita pada tempat dan waktu yang tidak disangka-sangka. Untuk itu maknailah hidup selayaknya perkataan orang bijak, No matter how good or bad your life is, wake up each morning and be thankful that you still have one.

Jakarta,

18 April 2019

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s