Berbagi Harapan

Sore di Jakarta. Captured by Mahfud Achyar.

Seorang senior di kampus pernah berkata, “Yar, tahu nggak apa itu bersyukur? Bersyukur berarti mendayagunakan potensi yang kita miliki untuk kebermanfaatan.” Pesan tersebut sangat membekas bagi saya. Dulu, saya berpikir wujud syukur hanyalah sebatas berterima kasih kepada Tuhan atas kebaikan hidup yang telah Ia berikan. Namun ternyata, syukur tidak hanya sebatas berterima kasih. Lebih jauh, bentuk syukur yang paling tinggi yaitu saat kita menyadari bahwa kita hidup tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain.

Satu dari sekian banyak hal saya syukuri dalam hidup ini yaitu saya hampir tidak pernah dirawat di rumah sakit. Sejak kecil, saya tidak menyukai rumah sakit. Memori saya tentang rumah sakit buruk: lantai keramik yang dingin, aroma obat-obatan, dinding-dinding yang pucat pasi, dan aura kesedihan yang menyeruak melalui fentilasi kamar mayat.

Ketika kecil, saya pernah ke rumah sakit untuk beberapa urusan seperti membesuk keluarga yang sakit, mengantar mama melahirkan, dan menunggu anggota keluarga yang menjalani operasi. Saya berdoa pada Tuhan agar saya tidak perlu dirawat di rumah sakit. Jikapun saya sakit, saya meminta sakit yang ringan-ringan saja sehingga tidak perlu dirawat.

Kata mama, saya pernah dirawat di rumah sakit lantaran sakit tifus. Tapi usia saya waktu itu kira-kira dua atau tiga tahun. Sejujurnya, saya tidak memiliki ingatan tentang masa itu. Hingga sekarang, saya beruntung belum pernah dirawat di rumah sakit. Sebuah berkah yang patut saya syukuri. Sebuah berkah yang tidak pernah ingin saya tukar dengan siapapun. Saya benci dirawat bukan karena saya benci rumah sakit. Saya hanya benci merepotkan orang lain, termasuk keluarga sendiri.

Saya bertekad untuk hidup sehat. Jika tubuh saya sehat, maka saya dapat membantu orang lain. Jika dibandingkan orang yang benar-benar menerapkan pola hidup sehat, saya masih jauh. Namun, saya ingin memulai dari yang sederhana: berusaha mengontrol zat yang masuk ke dalam tubuh saya.

Di keluarga, saya satu-satunya pria yang tidak merokok. Saya heran mengapa banyak sekali orang-orang, terutama pria, yang senang merokok? Saya pernah mencobanya beberapa kali ketika di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kata teman saya, merokok itu menenangkan. Sayapun mengikuti sarannya. Saat masalah menimpa saya, saya coba mendistraksi pikiran saya dengan merokok. Hasilnya? Buruk. Alih-alih mendapatkan ketenangan, saya merasa bodoh karena telah menghisap tembakau yang rasanya pahit dan kecut. Saya tidak menemukan kenikmatan apapun dengan merokok.

Kesehatan adalah tanggung jawab masing-masing individu. Bukan tanggung jawab orang tua, teman, atau pasangan. Sebisa mungkin, saya berjanji pada tubuh saya bahwa saya tidak akan merusaknya. Semoga saja janji ini akan selalu saya pegang.

Kabar baik dari manfaat menerapkan pola hidup sehat, kita dapat berbagi harapan dengan orang lain. Seperti kata John Lennon, “What we’ve got to do is keep hope alive. Because without it we’ll sink”. Salah satu upaya yang baru bisa saya lakukan untuk menjaga harapan tetap hidup adalah mendonorkan darah yang saya miliki untuk mereka yang membutuhkan.

Banyak orang yang takut dengan donor darah, termasuk saya. Dulu, ketika di bangku Sekolah Dasar, saya paling takut jika guru mengumumkan bahwa akan dilakukan imunisasi untuk semua murid. Pikiran saya sudah kalut. Membayangkan lengan saya akan disuntik. “Ah, pasti rasanya sakit sekali,” saya membatin.

Akan tetapi, guru saya selalu mengingatkan bahwa sakit disuntik itu tidak ubahnya seperti digigit semut. Nyatanya? Tidak sama sekali. Jauh lebih sakit dibandingkan gigitan semut manapun pernah menggigit saya. Mungkin akan beda jika ada jenis semut lain yang menggigit persis seperti jarum suntik. Bisa jadi.

Ketika di kampus, untuk pertama kalinya saya putuskan donor darah. Saat itu, salah seorang teman saya dari Fakultas Kedokteran menjadi panitia donor darah. Kegiatan donor darah rutin dilaksanakan oleh fakultasnya. Teman saya yang pertama kali mengetes golongan darah saya kemudian mengantarkan saya kepada petugas Palang Merah Indonesia (PMI) untuk selanjutnya dilakukan pengambilan darah.

Apa yang saya rasakan untuk pertama kalinya donor darah? Lega dan bahagia. Lega karena ternyata donor darah tidak menakutkan seperti yang saya bayangkan. Memang terasa sakit saat jarum suntik berhasil menembus kulit dan mencapai pembuluh darah. Namun rasa sakitnya memang tidak seberapa. Saya pernah mengalami rasa sakit yang lebih parah dibandingkan disuntik. Serius.

Lega berikutnya karena ternyata saya bisa lolos donor darah. Banyak di antara pendonor yang takberhasil donor darah lantaran kadar hemoglobin darah yang kurang atau tekanan darah yang rendah. Kadar hemoglobin darah calon pendonor sekurang-kurangnya 12,5 gram/desiliter (g/dl) dan tekanan darah normal berkisar antara sistole 110-160 mmHG, diastole 70-100 mmHg.

Saya bahagia karena bisa membantu orang lain, khususnya mereka yang membutuhkan pertolongan secepatnya. Saya pernah mengobrol dengan petugas PMI yang mengatakan persediaan darah di PMI kerap kali terbatas. Menurut perhitungan WHO, kebutuhan darah 2% dari jumlah penduduk atau secara nasional 5,2 juta kantong darah yang dibutuhkan Indonesia setiap tahunnya. Secara data, kebutuhan itu baru terpenuhi sekitar 92% yang berasal dari PMI.

Ketika Ramadan apalagi seperti masa pandemi COVID-19, jumlah kantong darah yang tersedia di PMI kian terbatas. Padahal, permintaan darah selalu tinggi khususnya untuk pasien thalassemia (kelainan darah yang diakibatkan oleh faktor genetika) dan ibu melahirkan. “Biasanya, PMI datang ke kantor-kantor untuk mengambil darah. Namun di masa pandemi COVID-19, kantor-kantor tutup. Jadi, kami hanya mengandalkan pendonor yang sukarela datang ke PMI,” ujar seorang dokter yang bertugas di PMI Provinsi DKI Jakarta.

Bagi saya, donor darah adalah merayakan rasa syukur. Saya beruntung menjadi satu dari sekian banyak orang yang dapat mendonorkan darah. Saya tidak tahu apakah esok atau hari-hari berikutnya, saya masih dapat donor darah. Siapa yang tahu? Jadi, saya berjanji kepada diri saya sendiri, “Selama masih sehat, saya akan terus mendonorkan darah saya,” saya berkata lirih.

Masa muda, wajah yang rupawan, dan kesehatan adalah sesuatu yang fana. Kita tidak akan pernah tahu kapan Tuhan mencabut hadiah itu dari kita. Sewaktu-waktu, mereka dapat saja pergi meninggalkan kita. Tentu sedih rasanya saat mereka pergi, kita belum dapat berbuat apa-apa. Maka selagi bisa, lakukanlah.

Hal sekecil apapun yang kita lakukan, asal dilakukan dengan hati yang ikhlas, percayalah akan ada ganjaran yang diberikan Tuhan untuk kita. Mungkin tidak akan dibalas langsung dan tidak dibalas di dunia. Namun percayalah, Tuhan akan membalasnya dalam bentuk lain, dalam bentuk yang tidak kita sangka-sangka.

Saya pernah berbincang dengan seorang teman tentang keinginan saya mendonorkan organ tubuh ketika sudah meninggal. Nampaknya ini belum lazim di Indonesia. Informasi berkaitan dengan hal itu juga masih sangat minim. Mungkin, saya perlu bertanya ke rumah sakit tentang hal ini.  Barangkali dari sekian banyak organ tubuh yang saya miliki, ada satu atau dua yang kondisinya sehat sehingga layak untuk didonorkan.

Saya berpikir bahwa kita hidup tidak lama di dunia ini. Apa yang menjadi milik kita bukan sepenuhnya milik kita. Ada orang-orang di sana yang juga membutuhkan. Mungkin ini yang disebut dengan berbagi harapan. Bahwa seseorang yang terbaring takberdaya di rumah sakit memiliki harapan lantaran ada orang-orang di luar sana yang bersedia berkorban untuknya. Mereka, bisa jadi bukan keluarga atau teman pasien, namun orang biasa yang hanya ingin berbagi harapan.

                        Jakarta,

19 Mei 2020

Merasa Cukup

DSC_0013_19-01.jpeg
Photo captured by. Mahfud Achyar

“How’s life?”

Seorang teman mengirim pesan singkat di aplikasi WhatsApp.

“Good!” balas saya singkat.

Klise. Demikianlah percakapan yang acap kali terjadi antara satu manusia dengan manusia lainnya. Pertanyaan seputar kabar biasanya menjadi pertanyaan pembuka saat kita ingin menjalin komunikasi dengan orang lain. Apa yang kita harapkan saat bertanya kabar pada orang lain? Tentu berharap mereka dalam keadaan sehat dan bahagia. Layaknya sebuah harapan, maka jawaban-jawaban itulah yang akan kita terima.

Manusia begitu pandai menyembunyikan perasaan, terutama ketika berkomunikasi menggunakan bahasa teks. Saat ada yang bertanya kabar, maka secara otomotis biasanya kita akan menjawab, “kabar baik”. Namun mungkinkah kita benar-benar baik? Bisa jadi kita ingin menutupi keadaan yang terjadi sesungguhnya. Bukan bermaksud membohongi lawan bicara. Namun takingin membuat khawatir atau menambah beban.

Bisa juga mereka yang menjawab, “baik,” mungkin memang sesungguhnya dalam keadaan baik. Lagi-lagi, kita hanya akan terus berada pada ranah asumsi. Untuk cerita sesungguhnya di balik kata yang diproduksi biarlah menjadi rahasia sang pengujar kata. So, how’ life?

Hidup di tengah hiruk pikuk manusia, terutama di kota besar seperti Jakarta, ada fenomena yang cukup mencuat yaitu fenomena membanding-bandingkan. Saya sendiri mungkin salah satu orang yang terkena dampak fenomena ini. Sulit disangkal bahwa saya juga kerap kali membandingkan kehidupan saya dengan orang lain. Untuk konteks ini, membanding-bandingkan menjadi terminologi yang berkonotasi negatif. Saya merasa tidak puas dengan kehidupan saya saat ini, saya merasa tidak pernah cukup.

Salah satu aspek kehidupan yang membuat saya tidak pernah cukup yaitu masalah pekerjaan. Saya pernah bercerita kepada seorang teman tentang keinginan saya untuk pindah kerja. “Saya sudah lama bekerja di tempat yang sekarang. Saya merasa karir saya begitu-begitu saja. Usia saya kian bertambah, saya ingin bekerja di tempat yang lebih menjanjikan. Saya ingin lebih. Saya ingin seperti kebanyakan orang. Bekerja di tempat yang prestisius dengan jenjang karir yang jelas serta mendapatkan gaji yang sepadan sesuai dengan apa yang sudah saya berikan,” keluh saya.

Teman saya sesekali menganggukkan kepala pertanda ia setuju dengan apa yang saya sampaikan. Namun tak berselang lama, saya mengemukaan pandangan yang cukup kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya.

Eh, tapi katanya kita tidak boleh berkeluh kesah ya? Banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi saya. Sebetulnya, pekerjaan saya saat ini tidak begitu buruk. Jika dipikir-pikir, banyak keuntungan yang saya dapatkan di tempat kerja saat ini. Waktu kerja saya jelas, pukul delapan pagi hingga empat sore. Saya juga masih bisa beraktivitas di luar kantor. Okay, saya tidak ingin mengeluh. Saya harus merasa cukup. Jika memang ingin pindah kerja, pasti ada waktunya. Saya hanya perlu berdoa, bersabar, serta bersyukur atas apa yang saya punya sekarang.”

“Kamu ini ya, tanya sendiri jawab sendiri. Heran,” timpal teman saya.

Teman saya juga mengeluh tentang pekerjaannya. Ia merasa kurang diapresiasi ditambah ia sering menghadapi drama kantor yang menguras energi. Kami bersepakat bahwa memang sudah saatnya kami pindah kerja. Namun setelah diskusi cukup lama, kami sama-sama menyetujui bahwa permasalahan yang kami hadapi bukanlah sesuatu yang krusial, sesuatu yang masih bisa ditangani dengan baik. Lagipula mencari pekerjaan yang baru bukanlah persoalan yang mudah. Ada banyak orang di luar sana yang berjuang mencari pekerjaan, lamar sana-sini, wawancara, dan proses panjang yang melelahkan lainnya.

Saat kita mencari celah kekurangan kita, maka kita akan temukan itu dalam jumlah yang banyak. Kita merasa tidak seberuntung teman yang hampir setiap bulan liburan, kita merasa tidak sepintar teman yang baru saja promosi jabatan, kita merasa hidup kita begitu-begitu saja tanpa ada prestasi yang bisa dibanggakan.

Keadaan bertambah buruk saat kita melihat kehidupan di dunia kecil yang bernama media sosial. Hampir semua orang menampilkan kebahagiaan. Ada yang baru saja tunangan, ada yang baru membeli rumah serta potret-potret kebahagiaan lainnya. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan media sosial. Layaknya etalase, media sosial hanya menampilkan barang-barang yang bagus, barang-barang yang memikat hati. Hampir jarang orang berbagi kegagalan, berbagi kesengsaraan, dan hal-hal buruk lainnya.

Saat melihat orang lain khususnya teman-teman kita sendiri sudah berada pada titik tertentu, seharusnya kita merasa bahagia. Artinya hal baik sedang menghampiri mereka. Namun jika kita merasakan hal yang lain, misal merasa rendah diri, maka saat itu juga kita harus menutup aplikasi media sosial. Ada sesuatu yang salah dengan diri kita. Mari ajak hati untuk berdiskusi.

Persoalan membanding-bandingkan tidak akan pernah habis. Sudah saatnya kita melihat ke dalam diri kita untuk menemukan banyak hal yang patut kita syukuri. Mungkin ini formula sederhana yang bisa kita lakukan agar kita bisa merasa cukup.

Merasa cukup bukan berarti kita berpuas diri atas pencapaian kita saat ini. Kita sangat dianjurkan melompat lebih tinggi dari waktu ke waktu. Kita berharap terus mengalami peningkatan entah itu dalam hal finansial, pendidikan, hubungan, dan aspek kehidupan lainnya. Namun saya selalu percaya bahwa setiap orang akan menemukan jalannya masing-masing. Menjadi ‘lebih’ mungkin baik. Namun merasa ‘cukup’ jauh lebih menenangkan.

Sometimes you are unsatisfied with your life, while many people in this world are dreaming of your life. A child on a farms sees a plane fly overhead and dreams of flying. But, a pilot on the plane sees the farmhouse and dreams of returning home. That’s life! If wealth is the secret to happiness, then the rich should be dancing on the streets. But only poor kids do do that. If power ensures security, then officials should walk unguarded. But thoses who live simply, sleep soundly. If beauty and fame bring ideal relationships, the celebrities should have the best marriages. Live simply. Walk humbly and love genuinely. All good will come back to you.” – Anonymous.

Jakarta,

27 Maret 2019

Apa yang Saya Dapatkan dengan Menjadi Relawan?

Oleh: Mahfud Achyar

sahabat nusantarun photo by. bagus ernanda
Sahabat NusantaRun Chapter 6 (Foto Oleh: JF Bagus Ernanda Putra)

Suatu hari yang biasa, seorang teman mengirim pesan, “Salut sama kamu masih sempat ikut kegiatan kerelawanan.” Saya tidak langsung membalas pesan teman tersebut. Saya memikirkan apa respon terbaik yang bisa saya berikan, kemudian saya menulis, “Entah mengapa saya jatuh hati dengan dunia kerelawanan. Semacam saya punya tujuan hidup yang lebih penting dibandingkan hanya bekerja selama delapan jam dari pagi hingga sore.” Teman saya mengapreasiasi respon yang saya sampaikan walau setelah itu saya berpikir ulang apakah memang itu jawaban yang paling tepat. Saya sangsi.

Tahun 2018, ada dua kegiatan kerelawanan yang sangat berkesan untuk saya yaitu NusantaRun Chapter 6 dan Mural Kebaikan. Masih lekat di benak saya, awal tahun 2018, sahabat saya Harry Anggie mengajak untuk bergabung menjadi Sahabat NusantaRun (sebutan untuk panitia inti atau komite NusantaRun). Tanpa pikir panjang, saya pun mengiyakan ajakan Harry. Betapa tidak, tahun sebelumnya saya juga pernah menjadi relawan NusantaRun chapter 5. Saat itu, saya bertugas menjadi relawan dokumentasi. Menjadi relawan dokumentasi bukan kali pertama buat saya. Namun mengabadikan kegiatan lari tentu menjadi pengalaman pertama dan seperti orang-orang bilang, “Pengalaman pertama tidak pernah mengecewakan dan selalu berkesan.”

Selama bertugas menjadi relawan dokumentasi, saya melihat ratusan pasang mata yang memancarkan pesan kebaikan yang saya intip dari lensa kamera mirrorless Olympus berwarna silver. Saya bukanlah seorang cenayang. Namun saya pikir banyak orang yang bisa menangkap sorot mata ketulusan, kebaikan, dan kehangatan kendati dari orang-orang yang tidak dikenal sekalipun. Sebab mata adalah jendela jiwa. Dari mata banyak cerita yang bisa tercipta. Saya bersyukur melihat itu semua, cerita kebaikan yang menjadi pengharapan untuk hari-hari di masa depan. Sejatinya, orang-orang baik di negeri ini masih ada dan akan terus ada. Namun keberadaan mereka tertutupi oleh dominasi orang-orang jahat yang perlahan  namun pasti menggrogoti bumi pertiwi.

Dari dunia kerelawanan saya belajar bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk kita bekerja sama, berkolaborasi, dan bersinergi. Tidak ada yang menanyakan agama, tidak ada yang menanyakan status sosial, tidak ada yang menanyakan pandangan politik. Selama masih berkontribusi, sekecil apapun akan diapresiasasi. Perbedaan bukanlah yang hal yang paling penting namun upaya kita bersama-sama mewujudkan sebuah misi itu yang menjadi lebih penting.

Setiap orang yang terlibat di NusantaRun memiliki tujuan yang sama, dunia pendidikan di Indonesia yang kian gemilang. Berharap tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang putus sekolah, fasilitas merata dari ujung barat hingga Timur Indonesia, dan semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam hal akses pendidikan. Tidak besar upaya yang sudah dilakukan. Namun saya selalu percaya kebaikan itu menular. Semoga gerakan-gerakan kebaikan terus menggeliat hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Semoga api semangat kebaikan terus menggolara di setiap hati manusia Indonesia.

Selain menjadi relawan NusantaRun, tahun 2018 menjadi sangat spesial lantaran untuk pertama kalinya saya menjadi seorang fundraiser. Selain para pelari, panitia inti juga diharapkan untuk menggalang donasi untuk mewujudkan misi #PendidikanUntukSemua melalui laman platform KitaBisa. Memang tidak diwajibkan. Saya sempat ragu apakah turut jadi fundraiser atau tidak. Cukup lama bagi saya memutuskan untuk menjadi seorang fundraiser. Saya khawatir bagaimana nanti jika saya tidak mencapai target? Bagaimana nanti jika tidak ada yang mau berdonasi melalui laman saya? Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang fundraiser NusantaRun chapter 6.

“Jika bisa berbisik, mengapa harus berteriak?” Ini pesan yang disampaikan oleh Pak Iwan Esjepe ketika diskusi tentang dunia copywriting. Kata beliau, untuk menyentuh hati orang lain, tidak perlu menggunakan bahasa logika. Gunakanlah bahasa hati. Perlahan, saya mulai menulis wording di laman KitaBisa. Saya ingin setiap orang yang membaca frasa dan klausa di laman saya bisa tersentuh hatinya. Saya ingin memastikan bahwa pesan yang saya tulis mampu melewati retina mata hingga akhirnya mengetuk salah satu pintu hati mereka yang membaca. Selesai menulis wording dan menambahkan foto, saya bagikan tautan laman saya ke beberapa orang yang ada di daftar kontak ponsel saya.

kitabisa - mahfud achyar (1)
Kitabisa.com/achyarnr6

Beberapa di antara mereka adalah orang-orang yang intens berkomunikasi dengan saya, teman-teman yang sudah lama tidak dihubungi, dosen-dosen, serta kenalan-kenalan yang nomor mereka sempat saya simpan. Hasilnya, beberapa ada yang langsung merespon dan langsung donasi. Beberapa lagi pesan terkirim namun tidak dibalas. Beberapa lagi mungkin pesannya tidak terkirim lantaran ada yang ganti nomor ponsel. Tapi tidak masalah yang penting saya sudah mencoba mengajak mereka. Sayapun tidak ingin memaksa terlalu berlebihan. Mungkin hanya sedikit meneror untuk beberapa sahabat saya, “Sudah donasi belum?”

Sebetulnya, tidak sulit menjadi seorang fundraiser yang dibutuhkan hanya sedikit keberanian. Lagipula tujuan campaign ini sangat baik membantu pendidikan anak-anak disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerja sama dengan Kampus Guru Cikal. Saya begitu optimis akan mudah mengajak orang lain untuk donasi. Hasilnya, target donasi untuk NusantaRun chapter 6 yaitu sebesar Rp. 2,5 miliar tercapai sudah. Total donasi saat ini per tanggal 3 Januari 2018 yaitu sebesar Rp. 2.543.425926. Donasi masih dibuka hingga 13 Januari 2019 (tautan donasi: kitabisa.com/nusantarun).

Sementara target saya pribadi yaitu sebesar Rp. 5.000.000 dan sudah terkumpul Rp. 5.228.920. Saya tersentuh sudah bisa menggerakkan 32 orang dan laman saya sudah dibagikan sebanyak 52 kali di Facebook. Beberapa yang donasi menggunakan nama asli sehingga memudahkan saya untuk mengucapkan terima kasih secara langsung. Namun banyak juga yang menggunakan nama anonim. Saya sangat menghargai keputusan mereka. Terima kasih untuk mereka yang lembut hatinya.

Cerita lain di dunia kerelawanan tahun ini yaitu menjadi relawan Mural Kebaikan. Gerakan ini digagas oleh Chiki Fawzi. Ide muncul ketika peristiwa bom Surabaya pada 13 Mei 2018. Peristiwa itu menciderai toleransi antarumat beragama yang sudah susah payah dibangun bertahun-tahun lamanya. Saat itu, Chiki merasa tergerak. Ia harus melakukan sesuatu untuk merawat toleransi di Indonesia.

Akhirnya, Chiki menghubungi Kak Maria dan mengutarakan niatnya untuk memberikan mural gratis di Sekolah Minggu tempat Kak Maria mengajar. Chiki mengajak beberapa teman termasuk saya. Kamipun memural di Sekolah Minggu di Gereja Kristen Indonesia, Pulomas, Jakarta Timur. Video Mural Kebaikan bisa ditonton pada tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=9OkCc3SSlJQ

Pada 11 Juni 2018, tepat ketika hari-hari terakhir bulan Ramadan, saya menulis keterangan foto dengan tulisan seperti ini:

mural kebaikan by chiki fawzi
Chiki and Her Friends

Ini adalah sebuah cerita yang ingin saya bagikan kepada dunia. Tentang persahabatan berbeda keyakinan yang dibalut rasa saling mengasihi dan saling menghormati.

Cerita bermula ketika  Chiki ingin merawat toleransi di bumi yang kita cintai ini, bumi Indonesia. Ia ingin berbagi dengan sesama melalui potensi yang ia miliki, salah satunya melalui mural. Niat baik Chiki disambut baik oleh Kak Maria. Ia menawarkan Chiki untuk memural Sekolah Minggu di Gereja Kristen Indonesia Pulomas. Kebetulan Kak Maria, begitu ia akrab disapa, menjadi salah satu pengajar di Sekolah Minggu tersebut. Saya beruntung menjadi salah satu yang diajak Chiki untuk melakukan project yang menyenangkan ini.

Bagi saya pribadi, ini pengalaman pertama. Saya begitu semangat untuk menjalankannya. Di GKI Pulomas, kami disambut baik oleh jemaat GKI Pulomas. Kami bahu membahu mengerjakan mural dengan perasaan suka cita. Takjarang gelak tawa menggelegar memenuhi setiap ruang di Sekolah Minggu. Rasanya, kami sangat dekat dan bisa bersahabat dengan begitu cepat.

Menjelang buka puasa, teman-teman GKI Pulomas menyediakan buka puasa. Kami beristirahat sejenak sembari menyantap hidangan penuh selera. Kehangatan terasa begitu nyata dan itu sulit kami dustai. Ah, mungkin ini momen yang nantinya saya rindukan. Saya bersyukur hidup di tengah perbedaan yang membuat saya belajar untuk membuka diri dan menghargai perbedaan. Hati saya merasa teduh. Ramadan Kareem. Semoga kehangatan ini menjadi pengingat ketika kelak (mungkin) kita akan mengalami masa-masa sulit. Semoga Indonesia terus rukun dalam bingkai perbedaan. Semoga.

Lantas, balik lagi ke pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, apa yang saya dapatkan menjadi relawan? Jika hanya butuh satu kata, maka kata yang paling tepat yang mewakili perasaan saya yaitu kata ‘kebahagiaan’. Saya merasa bahagia sudah melakukan sesuatu bukan untuk saya melainkan untuk orang lain, untuk sesuatu yang lebih besar.

Saya merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk berbuat baik oleh Tuhan. Mungkin peran yang saya ambil tidak besar, tidak terlalu berisiko, dan tidak terlalu menghasilkan perubahan yang besar. Namun semoga kontribusi kecil yang sudah saya berikan bernilai setidaknya menjadi kenangan baik untuk diri saya sendiri. “Jangan lelah berbuat baik karena kebaikan akan kekal sementara lelah akan hilang,” tulis Chiki di akun Youtube-nya.

Menyimpan Masalah di Kantong Celana

IMG_5634
Autumn in Yogyakarta (2017) Photo by. Mahfud Achyar

“Aku amati, kamu seperti tidak punya masalah ya? Dari tadi, aku sudah cerita banyak tentang masalah-masalah yang hinggap di hidupku. Masalah pekerjaan, masalah asmara, dan masalah keluarga. Aku heran masalah datang silih berganti dalam hidupku,” ujar seorang sahabat mengganti topik pembicaraan malam itu, usai pulang kantor.

Saya pun langsung terperanjak. Sungguh, pertanyaan spontan yang keluar dari mulut sahabat saya tersebut membuat saya bingung. Seketika lidah saya kelu. Padahal, sejak tadi kita hanya fokus membahas permasalahan-permasalahan yang tengah ia hadapi. Lantas kemudian ia balik bertanya kepada saya, “Masalah kamu apa?”

Sejujurnya, saya bukanlah tipikal manusia yang ekspresif terutama ketika sedang menghadapi masalah. “Ekspresi muka kamu begitu-begitu saja ya?” timpal sahabat saya tadi.

Hmmm sepertinya itu benar. Eskpresi muka saya ya begitu-begitu saja. Tidak ada perubahan raut muka yang begitu mencolok. Jika saya bercermin, terkadang saya sulit membedakan eskpresi muka saya ketika kaget, cemas, marah, atau sedih. Mungkin tipikal manusia dengan minim ekspresi.

Bila saya dirundung masalah, saya jarang berbagi pada siapapun. Sejak dulu, saya tidak terbiasa curhat. Jika ada hal yang mengganjal di hati saya, saya hanya bisa diam, menyimpan rapat-rapat perasaan saya sesungguhnya. Bila terpaksa berbagi, saya hanya mengutarakan bagian ‘kulitnya’ saja. Mungkin ada beberapa sahabat yang membuat saya nyaman untuk bercerita banyak hal. Pada mereka, saya mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan mendengar keluh kesah saya.

Dulu, saya berpikir, orang yang sering curhat adalah orang yang lemah. Seolah mereka tidak kuasa menanggung beban yang menggelayut di pundak mereka.

Takdinyana, ternyata prinsip kuno seperti itu terus saya pupuk dan saya rawat. Saya enggan untuk bercerita kepada siapapun, termasuk kepada keluarga saya sendiri. Saya benar-benar setertutup itu. Seolah tidak mengizinkan seorangpun tahu apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang saya harapkan. Saya hanya bercerita kepada Tuhan perihal perasaan saya. Sebab, hanya Dia yang tahu apa yang sesungguhnya ada di dalam hati dan pikiran saya.

Akan tetapi, sekarang saya menyadari bahwa sesungguhnya kita perlu menyalurkan emosi kita kepada orang lain—entah itu sahabat, pasangan, atau keluarga. Kehadiran mereka mungkin tidak serta merta menyelesaikan permasalah yang kita alami. Namun ketika berbagi, hati kita merasa lega. Setidaknya kita mulai membuka diri bahwa ada orang-orang yang bisa kita percaya. Tanpa kepercayaan, kita hanyalah sekumpulan manusia yang hatinya diliputi prasangka dan curiga.

“Tidak ada masalah yang terlalu besar. Tenang, sejauh ini semuanya masih bisa ditangani dengan baik,” jawab saya diplomatis.

Kala itu, saya sama sekali tidak bermaksud berbohong kepada sahabat saya. Memang, ada beberapa masalah yang sedang saya hadapi. Namun, setelah mendengar curhat darinya, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi tidak ada artinya.

“Setiap orang punya masalah. Bedanya hanya terletak dari cara kita menghadapinya,” kata sahabat saya yang lainnya yang bernama Dea Tantyo pada suatu ketika di Jatinangor.

Buah pikiran Dea selalu melekat di benak saya hingga saat ini. Saya amati, memang benar adanya apa yang dikatakan Dea. Setiap orang punya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah.

Ada beberapa orang bila memiliki masalah atau bermasalah dengan orang lain, mereka lantas mengumbarnya di jejaring media sosial. Sayapun bingung entah apa tujuan mereka? Mungkin untuk melampiaskan kekesalalan atau bisa jadi untuk menyindir orang yang sedang bertikai dengannya. Saya bahkan pernah menjadi orang yang disindir atau merasa tersindir ketika hubungan saya dengan teman saya sedang tidak harmonis.

Kerap kali saya juga ingin membalas sindir-menyindir di media sosial. Namun kemudian saya berpikir, “Jika saya melakukan hal yang sama, lantas apa yang membedakan saya dengannya? Saya tidak membuat perbedaan sama sekali,” saya membatin.

Seorang dosen saya yang bernama Pak Irwansyah pernah berpesan ketika sesi perkuliahan di lantai 22 di daerah bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih pesannya seperti ini, “Ketika kalian masuk ke dunia digital. Maka berhati-hatilah. Sebab, apa yang kalian tulis dan konten yang kalian produksi akan terekam dengan baik.”

Malam itu, usai perkuliahan, saya mulai merefleksi diri agaknya banyak hal buruk sudah saya tinggalkan di media sosial. Banyak sahutan yang takberguna dan banyak keluh kesah yang tidak pada tempatnya.

Dulu, saya sangat reaktif. Mudah sekali mengomentari apapun yang tidak sejalan dengan pemikiran saya. Semuanya saya tumpahkan di media sosial. Jika ada masalah personal pun, saya juga terkadang curhat colongan di media sosial dengan menggunakan ragam gaya bahasa agar pesannya terlihat samar.

Jika dipikir-pikir lagi, apa gunanya saya curhat di media sosial?Agar dunia tahu saya sedang sengsara? Agar dunia bersimpati kepada saya? Padahal, ketika saya curhat di media sosial, orang-orang yang membaca curhatan saya tidak benar-benar ingin membantu saya. Mereka mungkin hanya penasaran terhadap masalah saya. Sisanya hanya akan mencibir bahwa saya tidak cukup berani menyelesaikan masalah secara langsung di dunia nyata.

Seharusnya kita lebih selektif untuk berbagi resah. Seperti perkataan Charity Barnum, “You don’t need everyone to love you, Phin, just a few good people”.

Sungguh, berulang kali, kita selalu diingatkan bahwa Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Jika sedang tidak punya masalah berat, nasehat tersebut begitu mudah saya terima. Namun sialnya ketika saya dirundung masalah berat, saya merasa Tuhan tidak adil kepada saya. Mengapa dari sekian milyar manusia di bumi ini sayalah yang terpilih untuk menanggung beban berat (dalam perspektif saya)? Seharusnya saya berlapang dada bahwasanya masalah seharusnya membuat saya kian kuat, kian naik kelas, dan kian hebat.

Jika saya mendapatkan masalah atau ujian yang sama, artinya saya belum layak naik level ke level yang lebih tinggi. Kata Nicole Reed, “Sometimes the bad things that happen in our lives put us directly on the path to the best things that will ever happen to us.”

Tentang menyikapi masalah secara bijak, beruntungnya saya di kelilingi oleh orang-orang yang hebat. Pada mereka saya belajar bahwa apapun masalah yang sedang kita hadapi, percayalah akan ada cara untuk menyudahinya. Semuanya akan dipergilirkan. Adalah waktu yang menjawab segalanya. Lambat atau cepat semuanya kini terasa relatif.

Jika masalah takubahnya seperti secarik kertas yang sudah remuk, maka mungkin ada baiknya kita menyimpannya di kantong celana. Suatu saat, kertas remuk itu akan kita buang. Ia akan pergi bersama aliran air hujan yang turun di penghujung April.

         Jakarta, 16 April 2018

Kesempatan Terakhir

Kano (2014)

Bagi saya, pelajaran hidup bisa datang di mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa saja. Hari ini contohnya. Saya mendapatkan pelajaran hidup dari film yang baru saja saya tonton. Judul film tersebut yaitu “Kano”, sebuah film yang dirilis pada tahun 2014 yang bercerita tentang tim baseball SMA di Taiwan yang melakukan perjalanan ke Jepang pada tahun 1931 untuk mengikuti kompetisi Japanese High School Baseball Championship di stadion Koshien.

Anggota klub baseball Kano berasal dari berbagai etnis yang terdiri dari orang-orang asli Taiwan, pemain Han Taiwan, dan Jepang. Kano hanyalah klub baseball kecil di daerah bagian selatan Taiwan yang tidak populer. Bisa dikatakan, Kano minim prestasi. Namun, berkat asuhan pelatih bernama Hondo, perlahan Kano menjelma menjadi klub yang mulai dibicarakan dan mulai mendapat ruang di hati para penggemar baseball.

Singkat cerita, Kano berhasil menjadi perwakilan Taiwan pada ajang kompetisi bergengsi di Koshien Jepang. Sayangnya, Kano tidak berhasil membawa pulang gelar juara. Pun begitu, suara tepuk tangan riuh rendah menggaung di setiap sudut di stadion Koshien. Para penonton terbawa suasana haru usai menyaksikan pertandingan yang dramatis: penuh luka dan air mata.

Kendati Kano gagal menjadi pemenang, namun para penonton menjadi saksi betapa kegigihan, kerja keras, dan pengorbanan merupakan hal yang terindah dari sebuah proses menuju kesuksesan. Kano, sebuah klub yang tidak terkenal, jauh dari sorotan media, namun pada puncak pertandingan menyuguhkan sebuah pertunjukan yang akan selalu dikenang. Collateral beauty; it’s the beauty on the inside, now how you look but how you act and feel — basically your personality.

Saya tidak ingin bercerita banyak tentang film Kano. Namun dari sekian banyak adegan di film tersebut, ada adegan yang cukup membekas di benak saya serta menyentuh hingga ke relung jiwa. Adegan yang saya maksud yaitu ketika seorang guru bernama Hamada menjelaskan kepada anak-anak muridnya (anggota klub Kano) tentang filosofi pohon pepaya miliknya.

“Aku akan memberitahumu rahasia tentang pepaya ini. Tahun lalu, aku menanam paku pada akar setiap pohon pepaya. Setelah itu, setiap pohon menghasilkan buah yang besar dan lezat. Itu karena paku dipalu ke akar yang membuat pohon berpikir itu sekarat. Jadi berusaha sangat keras untuk menghasilkan buah yang manis untuk memastikan reproduksi sendiri. Ini adalah rahasia hidup atau mati yang membuat pohon pepaya meletakkan segala sesuatu ke dalam buahnya,” jelas Hamada.

Menonton adegan tersebut saya terdiam dan berupaya meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Hamada. Akal logis saya berusaha menolak argumen yang dilontarkan Hamada. Namun satu sisi, batin saya mengiyakan apa yang disampaikan Hamada benar adanya. Terkadang dalam hidup, tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua atau kesempatan ketiga.

Seringkali kita dihadapkan hanya satu pilihan, satu-satunya jalan, dan satu-satunya kesempatan. Jika kita abai, kita hanya akan berujung pada penyelesan yang tiada berkesudahan. Semua orang pernah mengalami itu, termasuk saya pribadi.

Dulu, ketika di bangku SMA, saya ditunjuk oleh guru Bahasa Indonesia sebagai perwakilan sekolah untuk lomba baca puisi. Saya berhasil mengalahkan teman saya yang menjadi saingan terberat saya. Kata guru saya, “Penghayatan saya bagus.” Ia yakin bahwa saya bisa membaca puisi dengan sangat baik.

Malam sebelum perlombaan, saya mendengarkan kaset kumpulan puisi dari para penyair legendaris seperti Chairil Anwar dan W.S. Rendra. Dari sekian banyak karya Chairil Anwar, saya memilih puisi yang berjudul “Aku” untuk materi lomba. Malam itu, saya yakin sekali akan menyuguhkan penampilan terbaik. Namun sayang, keyakinan saya tidak dibarengi dengan kerja keras. Ya, saya hanya sebatas mendengarkan Chairil membacakan puisi kemudian berlatih ala kadarnya.

Sejujurnya, saya tidak begitu serius mempersiapkan diri agar bisa menang lomba baca puisi. Padahal, saya sudah mendapatkan kepercayaan dari guru sebagai perwakilan sekolah. Saya terlalu meremehkan lomba baca puisi dengan tidak berlatih secara serius. Hasilnya, jelas saya tidak menjadi juara. Memalukan.

Saya malu bukan karena saya tidak menang. Namun saya malu pada diri saya sendiri karena telah menyia-nyiakan peluang yang saya dapatkan ketika di bangku SMA. Padahal, itu adalah kesempatan baik sekaligus kesempatan terakhir yang saya miliki sebelum lulus sekolah. Andai saja, saat itu saya berlatih dengan keras, serius, dan tekun mungkin ceritanya akan berbeda. Jikapun saya memang kalah, tapi setidaknya saya akan berani berkata, “Ya, saya sudah berupaya maksimal, terbaik semampu saya. Jika tidak menang, tidak masalah. Saya begitu menikmati proses perjuangan yang melelahkan. Itu sudah membuat saya bahagia.”

Sejak kejadian itu, saya belajar tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan. Jika ada kesempatan baik dan layak diperjuangkan, saya akan bersungguh-sungguh. Jikapun gagal, saya tidak harus menyesalinya. Sama seperti pohon pepaya yang dipaku tadi, setidaknya saya sudah memberikan yang terbaik, sebisa saya, semampu saya. Untuk hasil, biarkan Tuhan yang menjawabnya.

Jakarta,

29 Juli 2016

Bahkan, Kegagalan Juga Layak Dirayakan!

 

Oleh: Mahfud Achyar

Siang menjelang sore di sebuah kedai bakmi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, seorang teman saya bersedih lantaran ia gagal seleksi penerimaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di salah satu kementerian.

Saat itu, kami tengah lahap menyantap semangkok bakmi dan semangkok es teler. Namun, suasana menjadi terasa kikuk ketika teman saya memasang ekspresi kecewa.

Katanya, “Gue udah bilang ke nyokap kalo gue lolos. Gue sih yakin lolos karena seleksi awal nilai gue termasuk yang paling tinggi. Tapi di tahap wawancara, gue merasa kurang puas.”

“Tapi sebetulnya, gue ga pengen banget jadi CPNS sih. Tapi gue juga sedih karena ga lolos,” imbuhnya.

It’s okay, neng. Gw juga ga lolos kok. Awalnya kecewa sih. Tapi mungkin bukan rejeki gue. Yakin deh, satu pintu tertutup, maka pintu lainnya terbuka,” saya mencoba menghibur Eneng, begitu teman saya akrab disapa.

Menyoal tentang kegagalan, rasa-rasanya hampir semua orang pernah merasakan hal itu. Kegalalan, menjadi momok menakutkan yang seakan terus membayang-bayangi perjalanan hidup kita.

Kata orang bijak, “Kegagalan adalah awal dari kesuksesan.” Namun bagi saya pribadi, kegagalan adalah sahabat baik saya sejak dulu. Jika dingat-ingat, ratusan bahkan ribuan kegagalan pernah saya alami. Misal, gagal menjadi peringkat satu ketika di bangku sekolah dasar, gagal menjadi pemenang lomba puisi, serta kegagalan-kegagalan lainnya.

Ketika saya gagal, saya merasa diri saya takubahnya seperti pecundang. Saya merasa kalah, saya merasa payah, dan saya merasa lelah untuk mencoba pada kesempatan lainnya. Saya berpikir, mungkin saya sebaiknya berhenti mencoba, berhenti berharap–maka dengan begitu saya tidak akan pernah kecewa.

Beberapa kesempatan, saya tenggelamkan jiwa saya dalam samudra kekecewaan yang begitu dalam. Saya mengutuk banyak hal untuk kondisi buruk yang menimpa saya. Namun beruntung pada saat yang bersamaan, saya disadarkan oleh suara hati yang berkata lirih, “Tenang, semuanya belum berakhir. Tidak masalah gagal. Asalkan terus mencoba, mencoba, dan mencoba.”

Dari kegagalan, saya menemukan formula yang tepat bagi saya untuk merekonsiliasi diri ketika menghadapi kegagalan. Jika saya gagal, berarti ada faktor-faktor yang menyebabkan mengapa saya gagal, misal saya kurang persiapan, saya kurang berdoa, atau mungkin barangkali saya kurang ikhtiar. Namun jika proses-proses tersebut sudah dilalui dengan baik, ya, mungkin belum rejeki saya. Sesederhana itu.

Yakin, rejeki setiap anak manusia sudah diatur oleh Tuhan. Rejeki anak manusia tidak akan pernah tertukar. Kita hanya perlu menjemput rejeki yang telah Tuhan tetapkan dengan cara-cara yang baik. Dengan begitu, hati kita merasa lebih tenang, lebih tentram.

Pun demikian, apa yang saya alami serta seperti apa formula saya dalam menghadapi kegagalan, tentu berbeda dengan yang apa dialami oleh orang lain. Mungkin saja kadar kegagalan saya lebih sedikit dibandingkan orang lain atau mungkin juga sebaliknya. Saya hanya bisa mengira-ngira.

Akan tetapi, saya pikir jalan tengah untuk menyikapi kegagalan yaitu dengan cara menerima kenyataan bahwa kita memang gagal. Kita bersedih karena gagal. Kita kecewa karena tidak bisa memenuhi ekspektasi diri kita atau orang lain. Namun setelah rasa tidak mengenakkan itu hadir menyeruak di dada kita, maka sikap terbaik yang patut kita hadirkan yaitu memaafkan diri kita. Jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Percayalah, setiap orang punya time zone yang berbeda-beda. Tidak semua hal perlu dijadikan kompetisi, bukan?

Dari kegagalan, saya mulai mengerti bahwa hidup takmelulu bicara tentang prestasi. Ada kalanya kita harus berhenti, menangisi takdir, lantas kemudian ceria kembali menyongsong hari dan kesempatan yang baru. Saya teringat sebuah pesan bijak, “Saya tidak tahu apakah ini musibah atau berkah, namun saya selalu berprasangka baik pada Tuhan.”

Usai cerita kegagalan teman karena tidak lolos seleksi CPNS, akhirnya kami memutuskan untuk merayakan kegagalan dengan memesan gelato di salah satu kafe di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Ah ya, nyatanya kegagalan juga layak dirayakan!

Jakarta, 6 Januari 2018

Sorry, It’s My Fault

DSC_0626
Contemplating.

Rasanya, takada satupun manusia yang tidak pernah berbuat salah, takterkecuali manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Ialah Adam, seorang anak manusia yang melanggar perintah Tuhan untuk tidak mendekati pohon khuldi, apalagi memakannya. Namun Adam melanggar larangan Tuhan sehingga ia dan istrinya, Hawa harus meninggalkan syurga.

Salah. Barangkali merupakan salah satu sifat yang sukar dicabut dalam diri manusia. Selama manusia masih bernapas dan masih dikategorikan sebagai manusia dalam perspektif biologis, maka ia akan terus berbuat salah. Akan terus seperti itu. Hanya mungkin intensitas dan tingkat kesalahan yang dibuat oleh manusia berbeda-beda.

  Salah. Kerap kali ia tidak diinginkan untuk menemani proses kehidupan manusia. Setiap manusia mungkin menginginkan kesempurnaan. Everything must be perfect. Padahal, ketika manusia berpikiran segala sesuatunya harus sempurna, maka ia berusaha lepas dari kodrat seorang manusia: berbuat salah.

      “All people make mistakes. But only the wise will learn from their mistakes.” – Anonymous

      Akan tetapi menjadi celaka, banyak orang yang enggan jika jari telunjuk mengarah ke mukanya: ia dipersalahkan. Lantas yang terjadi ia memasang pertahanan yang kuat. Ia takingin orang-orang mengusik harga dirinya dengan menjadi orang yang salah.

Jika begini ceritanya, semua orang tidak ingin dipersalahkan. Lantas siapa yang harus disalahkan? Apakah kesalahan itu sendiri?

Tentang mengakui kesalahan, mengapa jarang manusia enggan melakukannya. Seolah-olah menjadi orang yang salah membuat langit runtuh dan bumi bergoncang dengan hebat. Padahal, sejatinya kita mafhum bahwa manusia seringkali berbuat salah, sering kali alpa, dan sering kali membuat kecewa. Namun bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatakan kedua? Everyone deserves a second chance. Namun dengan catatan, not for the same mistake. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang tidak ingin jatuh di lubang yang sama.

Maka jika kita memang melakukan kesalahan, untuk apa malu mengakuinya? Jadilah orang-orang yang pemberani. Jika memang terlanjur berbuat salah, introspeksi dirilah. Berbenahlah. Berkontemplasilah.

      Jika maaf takberhasil kita kantongi, beri jeda. Barangkali butuh waktu yang lama untuk seseorang ikhlas memaafkan segala kesalahan-kesalahan kita. Selalu percaya, bahwa hal baik akan selalu dibalas dengan hal-hal yang jauh lebih indah.

Tentang kesalahan, kita belajar tidak hanya meminta maaf kepada orang lain. Namun juga belajar memaafkan diri sendiri. Terkadang yang paling sulit dari semua proses rekonsiliasi kesalahan adalah berdamai dengan diri sendiri. Kerap kali hati kita hancur berkeping-keping. Rasa perih membuat kita merasa layak untuk dibenci. Membuat kita berkata, “Biarlah saya menanggung beban ini sendirian hingga takada lagi rasa sakit yang bisa dirasakan.”

Yakinlah satu hal, kesalahan-kesalahan yang kita perbuat tidak lantas membuat dunia ini benar-benar kiamat. Bukankah Tuhan Maha Pengampun? Yakini itu.

Jakarta, 6 November 2017.

 

 

 

Di Sini, Air Susah Kakak!

PA310676.JPG
Desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.

Suatu waktu, saya pernah berkata pada teman saya, “Indonesia itu unik ya. Di belahan barat Indonesia, air selalu tumpah. Berlebih. Curah hujan tinggi. Sementara, di belahan timur, air sangat susah ditemukan. Tanah-tanah di sana kering kerontang.”

Air adalah sumber kehidupan. Jika tidak ada air, manusian akan nelangsa.

Perjalanan saya ke kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur pada 30 Oktober hingga 2 November lalu, sangat berkesan bagi saya secara personal.

Di sana, sumber mata air sangat sulit ditemukan. Jikapun ada, debit air sangat terbatas. Belum lagi kondisi air di sana tidak begitu jernih, terlihat keruh. Namun lebih baik keruh dibandingkan tidak ada sama sekali.

Untuk mendapatkan air bersih, warga di desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur mengambil air menggunakan dirigen di embung yang sudah disediakan pemerintah setempat. Namun sekali lagi, debit air di sana sangat terbatas. Mereka harus mengantri dan menunggu lama agar dirigen-dirigen mereka terisi penuh.

Bila musim kemarau panjang tiba, persediaan air di sana kian menipis. Warga desa harus berjalan berkilo-kilo ke sumber mata air Lama untuk mendapatkan air bersih.

Untuk tiga dusun di desa Barada, sumber mata air Lama hanya menampung kapasitas air sebesar 1,5 m3. Warga desa Barada harus berhemat-hemat menggunakan air.

PA300346.JPG
Pak Hilarius (49 Tahun) warga desa Barada.

Hilarius Nahak Bria (49 tahun), seorang warga desa Barada bercerita kepada saya, “Saya hanya bisa mandi 1 kali dalam seminggu. Air di sini sangat susah. Daripada untuk mandi, lebih baik untuk minum dan memasak.”

Ketika Pak Hilarius berkata demikian, sontak saya terenyuh. Selama ini, barangkali saya satu dari sekian banyak orang yang boros menggunakan air. Mungkin karena air berlimpah membuat saya tidak begitu menghargai keberadaannya. Sedih.


Pengalaman di desa Barada mengingatkan saya dengan memori pendakian di gunung Pangrango pada November 2016 kemarin. Di kaki gunung, tepatnya di desa Cibodas, air di sana sangat melimpah karena langsung mengalir dari sumber-sumber mata air di kawasan gunung Gede-Pangrango.

Saking melimpahnya, banyak air di sana terbuang percuma. Tidak ada penampungan. Air bersih dibiarkan mengalir deras begitu saja. Padahal andai kita sadar, bahwa di nun jauh di sana, di timur Indonesia, air begitu sulit didapatkan.

Barangkali kita harus ditampar terlebih dahulu untuk merasakan sakit.

Jakarta,
8 November 2017

 

Merawat Impian

Source: Tumblr

Oleh: Mahfud Achyar

Jakarta, 6 Oktober 2017.

Jumat sore, pukul 16.00 saya bergegas pulang dari kantor. Sebetulnya, jadwal pulang kantor pada hari Jumat yaitu pukul 16.30. Namun saya minta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan menghadiri workshop astronomi. Beruntung izin berhasil saya kantongi. Saya pun lekas menuju AtAmerica menggunakan ojek daring guna menyisir kemacetan sepanjang jalan Pancoran dan Gatot Soebroto.

Lalu, apa gerangan sehingga saya harus buru-buru agar tiba di AtAmerica tepat waktu? Tidak lain tidak bukan karena saya akan bertemu dengan idola saya, Ibu Pratiwi Sudarmono. Beliau merupakan ilmuwan yang mendapatkan kesempatan dari NASA (The National Aeronautics and Space Administration) untuk ambil bagian dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H sebagai spesialis muatan pada Oktober 1985.

Secara sederhana, beliau akan menjadi wanita pertama Indonesia yang terbang ke luar angkasa. Namun sayang, akibat bencana Challenger impian Pratiwi menjadi astronaut kandas. Peluncuran ke-10 pesawat ulang-alik Challenger gagal. Menurut informasi, kendaraan ini meledak 73 detik setelah peluncuran pada 28 Januari 1986 sebagai hasil kegagalan sebuah segel karet cincin O (O-ring) di kanan roket pendorong padat (Solid Rocket Booster, SRB); hal ini menyebabkan kebocoran dengan percikan api yang menyebabkan kebocoran di tangki hidrogen.

Padahal, jika misi STS-51-L berhasil, maka misi STS-61 H juga akan segera diluncurkan. Pada misi STS-61-H, akan dilakukan pengiriman satelit komersial seperti Palapa B-3 milik Indonesia. Namun sayang misi tersebut dibatalkan. Kabar baiknya satelit Palapa B-3 tetap diluncurkan dengan sebuah roket yang bernama roket Delta.

Kendati Pratiwi gagal menjadi astronot taklantas membuat langkahnya terhenti untuk mengembangkan penelitian di Indonesia. Ia terus menjadi seorang ilmuwan dengan menggeluti bidang mikrobiologi dan nanoteknologi.

Saat ini, selain menjadi Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, beliau juga sering diundang sebagai pembicara pada forum-forum ilmiah tentang astronomi. Pratiwi telah mencatat sejarah. Ia telah membuat perbedaan. Banyak anak-anak muda Indonesia telah terinspirasi dari sosok wanita kelahiran 31 Juli 1952 tersebut, termasuk saya.

Me and Profesor Pratiwi Sudarmono

Selama workshop berlangsung, saya khidmat mendengarkan pengalaman Ibu Pratiwi ketika mendapatkan kesempatan belajar di NASA. Takjarang bulu roma saya merinding saat mendengar harapan-harapan beliau akan perkembangan dunia penelitian di Indonesia, khususnya di bidang nanoteknologi. Cerita yang mengalir dari bibir Ibu Pratiwi membawa saya ke masa kekanak, saat saya begitu terobsesi menjadi seorang astronot.

Ya, dulu sekali, ketika anak-anak saya ingin sekali menjadi seorang astronot. Tidak ada alasan spesifik yang membuat saya jatuh cinta terhadap profesi tersebut. Sederhana: saya ingin ke luar angkasa. Saya terobsesi dengan pesawat.

Kala itu, bagi saya pesawat merupakan teknologi terhebat yang pernah diciptakan oleh manusia. Siapa sangka, manusia yang takbersayap akhirnya bisa terbang; menjelajahi cakrawala dan angkasa. Selain itu, saya juga mengagumi luar angkasa. Sebuah dimensi tanpa batas, misterius, dan mengagumkan. Entahlah, saya pun bingung menjelaskan perasaan saya terhadap antariksa. Sesuatu yang kompleks, sesuatu yang saya cintai kendati saya belum pernah melihat secara langsung bagaimana rupa antariksa yang sesungguhnya.

Kini, setelah dewasa, saya menyadari bahwa menjadi seorang astronot tidaklah mudah. Banyak proses-proses sulit dan panjang yang harus dilalui. Tidak hanya bermodalkan impian menjelajahi antariksa, namun perlu bekal kecerdasan, kesehatan fisik, serta mental yang sekuat baja. Mungkinkah kriteria tersebut ada dalam diri saya? Saya meragu.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa impian saya menjadi seorang astronot tidak akan pernah terwujud. Sekeras apapun saya bermimpi, semakin jauh impian tersebut pergi. Bahkan untuk meraih bayangannya saja sulit. Ia melesat secepat komet Encke yang mencapai titik lintasan bintang (perihelion)–titik terdekat matahari pada 21 November 2013 lalu. Is it possible to reach my dream? I don’t think so.

Kendati mustahil, saya tidak akan pernah mengubur impian tersebut. Selama napas masih berhembus, saya akan terus merawatnya hingga saya mendapatkan kepastian dari Tuhan bahwa impian tersebut akan terwujud.

Selama ini, untuk tetap menjaga antusias saya terhadap dunia astronomi, saya kerap kali meluangkan waktu untuk membaca artikel-artikel yang dipublikasi NASA atau Langit Selatan. Selain itu, jika rindu membuncah, saya pergi ke Planetarium atau berselancar melihat benda-benda angkasa secara virtual di Stellarium. Bicara tentang antusiasme, izinkan saya mengutip perkataan Aldous Huxley. Katanya, “The secret of genius is to carry the spirit of the child into old age, which means never losing your enthuasism.”

Usai Ibu Pratiwi bercerita, saya mengangkat tangan. Saya ingin bertanya langsung kepada beliau tentang banyak hal, mulai dari Asgardia The Space Nation Project, zero gravity labs, hingga secrets of hidden valley on Mars. Namun sayang, lantaran waktu yang terbatas sehingga saya hanya diperbolehkan mengajukan pertanyaan saya.

Dari sekian banyak tanya yang terlintas di benak saya, akhirnya saya mengajukan satu pertanyaan, “Bu, apakah memungkinkan kita membuat laboraturium zero gravity di Indonesia?” tanya saya singkat.

Ibu Pratiwi menjawab pertanyaan saya dengan tenang. Katanya, tentu bisa di Indonesia menciptakan laboraturium zero gravity. Namun membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sejauh ini, para peneliti Indonesia menggunakan demo sederhana guna mendekati zero gravity. Padahal menurut Ibu Pratiwi, beberapa penelitian membutuhkan kondisi zero gravity untuk menghasilkan penilitian yang akurasi dan presisi.

Tentang merawat impian, saya berdoa pada Tuhan agar mendapatkan kesempatan untuk berkunjung Kennedy Space Center di Florida, Amerika Serikat. Selain itu, saya berdoa pada Tuhan, jika di dunia saya benar-benar takbisa ke luar angkasa, semoga nanti ketika ruh saya diangkat ke langit, saya diberi kesempatan satu kali saja untuk menjelajahi berbagai galaksi dan berkenalan secara langsung dengan benda-benda angkasa yang mengagumkan.

“Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people?” – Carl Sagan.

Photo Story: Kerja Bersama!

1. Foto Pembuka
Lomba panjat pinang merupakan salah satu lomba untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia setiap tahunnya. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Oleh: Mahfud Achyar

Indonesia Kerja Bersama.

Demikian tema yang diperkenalkan pemerintah kepada seluruh masyarakat Indonesia pada momentum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72 tahun. Melalui tema tersebut, saya berpendapat bahwa pemerintah ingin mengajak semua elemen bangsa untuk turut mengisi kemerdekaan Indonesia dengan kerja-kerja yang nyata.

Hari Kemerdekaan selalu menjadi momen yang spesial bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, kemerdekaan menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu setelah ratusan lamanya sejak Indonesia mengalami masa kependudukan: penjajahan. Untuk itu, tidak ada hal yang paling menggembirakan selain bersuka cita karena kemerdekaan sudah sepenuhnya diraih dan sekarang saatnya membuat bangsa Indonesia menjadi jauh lebih hebat.

Merayakan Dirgahayu Republik Indonesia, biasanya digelar berbagai perlombaan seperti lomba tarik tambang, lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba panjat pinang, dan berbagai perlombaan lainnya. Lomba-lomba tersebut dilaksanakan di seluruh penjuru negeri, mulai dari wilayah pedesaan hingga perkotaan. Secara umum, tujuan perlombaan-perlombaan tersebut yaitu untuk menggelorakan kembali sifat gotong royong yang menjadi nilai dari bangsa Indonesia.

Suatu ketika, Bung Karno, pernah menyampaikan pidato di depan BPUPK pada tanggal 1 Juni 1945. Bung Karno berkata, “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong” Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong: alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong.”

Wujud semangat gotong royong salah satunya dapat tercermin pada perlombaan panjat pinang. Saya mengabadikan momen demi momen lomba panjat pinang pada Jumat, (18/8/2017) di Kalibata, Jakarta Selatan. Rangkaian momen-momen tersebut tertuang dalam photo story yang berjudul “Kerja Bersama!”


2. Detil
Tanpa alas kaki, para peserta lomba panjat pinang tidak hanya adu fisik, namun juga ada strategi dan kekompakan. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Sejarah Lomba Panjat Pinang

Menurut budayawan Wijanarto, seperti yang dilansir pada laman Liputan6.com (14/8/2017) perlombaan panjat pinang sudah ada sejak masa pendudukan Belanda. Katanya, lomba panjat pinang digelar sebagai hiburan saat perayaan penting orang Belanda di Nusantara seperti pesta pernikahan dan ulang tahun.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa di Belanda, lomba panjat pinang disebut De Klimmast yang berarti panjat tiang. Lomba panjat pinang digelar setiap tanggal 31 Agustus yang bertepat dengan hari ulang tahun Ratu Wihelmina. Orang-orang pribumi berlomba mendapatkan hadiah yang digantungkan di puncak pohon pinang.

Setiap tahun, saat peringatan Dirgahayu Republik Indonesia, terjadi perdebatan di antara masyarakat, apakah lomba panjat pinang masih perlu dilestarikan atau tidak? Sebagian beranggapan bahwa lomba panjat pinang takusah dilakukan lagi lantaran pada masa silam lomba tersebut dianggap merendahkan harkat martabat bangsa Indonesia. Namun sebagian lain beranggapan sebaliknya. Lomba panjat pinang dirasa dapat merekatkan kekompakan dan membangun semangat gotong royong antarmasyarakat.

DSC_0051
Nyatanya untuk mencapai puncak pohon pinang tidaklah mudah, seringkali para peserta lomba jatuh berkali-kali hingga pada akhirnya bangkit untuk menggenapkan misi: menang. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

3. Portrait
Batang pohon pinang yang dilumuri oli membuat peserta merasa kewalahan. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

DSC_0437
Hampir dua jam lamanya, takada satupun tim yang berhasil mencapai puncak untuk menggapai hadiah-hadiah terbaik yang disiapkan panitia. Namun sore hari, akhirnya ada yang berhasil mencapai puncak. Takberlebihan jika ia layak disebut sebagai pemenang. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

 

4. Foto Penutup
Wajah-wajah yang bersuka cita setelah melewati masa-masa yang sulit.

Kendati terjadi pro dan kontra mengenai perlombaan panjat pinang, namun tidak dapat dipungkiri bahwa perlombaan tersebut sangat baik membangun kerja sama tim dan menumbuhkan semangat gotong royong.

Barangkali hadiah yang ditawarkan di atas puncak pohon pinang memang tidak begitu menggiurkan. Namun, nyatanya bukan ‘harga’ yang membuat perlombaan ini terus ada hingga sekarang. Kebersamaan, kerja keras, dan pengorbanan menjadi nilai-nilai yang harus terus ada dan harus tetap dipertahankan agar bangsa Indonesia terus menjadi bangsa yang berdaulat.

Indonesia merdeka!

The Voyage to Maregé, Napak Tilas Orang Makassar ke Benua Kangguru

Oleh: Mahfud Achyar

PhotoGrid_1504369652575
L-R: Firly, Audrey, Cimeg, Silvy, Harry, Achyar, Moa, dan Christin

Hubungan antara Indonesia dan Australia nyatanya telah terbangun sejak lama, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal tersebut terungkap dari konser orkestra yang bertajuk “The Voyage to Maregé” yang gelar pada Kamis, (31/8/2017) di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat.

_20170827_195042
Poster Publikasi Konser

Biasanya, untuk menonton konser yang digawangi oleh pianis sekelas Ananda Sukarlan, kita harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Namun beruntung, penonton yang memadati Teater Jakarta malam itu takperlu mengeluarkan uang sepersen untuk menyaksikan suguhan bertaraf internasional. Konser tersebut digelar secara khusus sebagai kado dari pemerintah Australia atas ulang tahun Republik Indonesia yang ke-72 tahun. Sebagai negara sahabat, saya rasa kado yang diberikan oleh Australia sangatlah manis.

Bagi sebagian orang, menonton konser orkestra klasik barangkali membosankan. Namun bagi saya pribadi, saya sangat takjub menyaksikan dengan mata dan kepala saya sendiri bahwa alat-alat musik seperti piano, biola, cello, dan sebagainya dapat harmonis menghasilkan nada-nada yang membuat bulu kuduk saya merinding. Ah, mereka sungguh keren!

DSC_9297
Suasana Teater Jakarta

Andai saya memiliki bakat seperti mereka, pasti saya tidak akan menyia-nyiakannya. Saya akan mengoptimalkannya untuk sesuatu yang menakjubkan! Namun sayang, saya sepertinya memang terlahir bukan sebagai pelaku seni melainkan penikmati seni.

All humans are musical,” begitu tulis Mitch Albom pada bukunya yang berjudul “The Magic Strings of Frankie Presto” pada halaman 4. Menukil apa yang dikatakan Mitch, saya beranggapan bahwa kendati saya tidak dapat memainkan alat musik, namun setidaknya saya menjadi bagian dari pertunjukkan musik itu sendiri: penonton. So, everyone joins a band in this life, right?

Sebagai pembuka konser, penonton disuguhi karya monumental seperti Small Town (1976) dan Lagu-Lagu Manis (1994). Selanjutnya, untuk membuncahkan rasa cinta kita terhadap Indonesia, Marzuki Pianistica memainkan dua karya piano dan orkestra berdasarkan melodi karya Ismail Marzuki (2012/2016).

Menjelang penampilan Ananda Sukarlan, pianis Stephanie Onggowinoto membawakan dua lagu yaitu “Indonesia Pusaka” dan “Selendang Sutra”. Lagu “Indonesia Pusaka” menjadi salah satu lagu yang menarik perhatian saya. Entah mengapa, sejak kecil saya selalu suka lagu itu. Semacam ada kekuatan sihir yang membuat saya takbosan-bosannya mendengarkan lagu gubahan Ismail Marzuki tersebut.

Sebelum memimpin “The Voyage to Maregé”, Ananda Sukarlan menyampaikan pidato singkat mengenai cerita orang-orang Makassar yang bertualang ke Australia untuk berdagang. “Orang-orang Makassar membawa rempah-rempah seperti pala, cengkeh, dan jenis rempah-rempah lainnya untuk di jual ke Australia. Harga rempah-rempah saat itu mahal sekali. Bahkan lebih mahal dibandingkan harga emas. Orang-orang Makassar ke Australia untuk berdagang,” jelas Ananda.

Selain menceritakan tentang hubungan bisnis tradisional antara Makassar dan Australia, “The Voyage to Maregé” juga bercerita tentang kehidupan suku asli Australia yaitu suku Aborigin. Cerita kehidupan suku Aborigin dituangkan dalam alunan musik beritme semangat serta diiringi dengan penampilan teatrikal dari dua aktor yang menyerupai suku Aborigin asli. Dari pertunjukan tersebut, kita dapat memasuki dimensi lampau bagaimana suku asli benua Kangguru tersebut berinteraksi, bersosialisasi, dan bertahan hidup.

Hal menarik lainnya dari konser yang digelar tepat malam takbiran menjelang Hari Raya Idul Adha tersebut yaitu, aransemen suara adzan yang dikemas dalam section: “The Arrival of Islam”. Kata Ananda, “Saya sengaja memasukkan section ini dalam konser malam ini. Saya ingin menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang damai.”

Saya jelas merinding ketika suara adzan diaransemen begitu indahnya. Terasa damai. Saya beruntung lahir di negara yang memiliki kemajemukan. Namun sayang, banyak orang di bumi pertiwi ini yang begitu antipati terhadap perbedaan. Bukankah pelangi terlihat indah lantaran setiap warna memancarkan warna yang berbeda-beda: me-ji-ku-hi-ni-bi-u!

Di negara ini, saya belajar untuk menghargai perbedaan untuk menghasilkan kolaborasi yang menakjubkan. Mengutip perkataan Harry Anggie, “Perbedaan itu indah.” Jadi, siapkah kita melejit dengan pondasi perbedaan?

Tonton cuplikan video konser pada tautan ini: The Voyage to Maregé.

Ketika Sahabat Baik Kita Menikah

Processed with VSCO with hb1 preset

Suatu ketika, salah seorang sahabat saya meninggalkan sebuah pesan di grup WhatsApp. Pesannya, “Nanti kalau Dan (bukan nama sebenarnya) menikah, pasti kita akan jarang lagi kumpul-kumpul ya?” Tidak lama setelah sahabat saya menulis pesan, selang beberapa menit salah seorang sahabat saya yang akan menikah menimpali pesan yang bernada pesimistis tersebut. “Ya kumpul-kumpul aja. Tidak ada perubahan berarti kok. Namun mungkin intensitasnya saja yang tidak sama.”

Saya pun hanya bisa mengamati obrolan mereka tanpa harus ikut terlibat. Saya sungkan untuk mengemukakan pendapat. Lagi pula, setelah saya pikir-pikir lagi, menikah ataupun belum, kondisinya memang kami tidak setiap hari atau setiap pekan bertemu. Jika ada momen-momen tertentu, barulah kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Misalnya, salah seorang sahabat saya merayakan pergantian usia atau tiba-tiba kami semua tertarik untuk menonton film terbaru di bioskop.

Kembali ke pertanyaan sahabat saya tadi, bagaimana perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah? Jujur, dulu ketika saya tahu ada sahabat saya yang akan menikah, saya merasa seperti kehilangan. Agaknya berlebihan jika saya sempat merasakan hal demikan. Namun apa boleh buat, kondisi batin yang saya alami pada saat itu memang begitu adanya. Takdapat disangkal. Betapa tidak, kami terbiasa melakukan berbagai hal bersama, namun pernikahan membuat semuanya berubah. Kata Keane, “….I try to stay awake and remember my name. But everybody’s changing. And I don’t feel the same.”

Akan tetapi, semakin saya dewasa, semakin bertambah usia, saya sadar bahwa pada akhirnya setiap manusia bertranformasi dari satu fase ke fase yang lain, dari sudut pandang satu ke sudut pandang yang lain. Pun demikian, semua hal-hal baik akan terus kekal. Percayalah, rasanya masih akan tetap sama.

Sebagai seorang sahabat yang belum menikah, saya tidak mungkin menahan sahabat saya sembari berkata, “Hai, bisa tunggu saya sedikit lebih lama hingga saya juga menemukan teman hidup?”

Saya tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun, termasuk sahabat dekat saya sendiri. Justru sebaliknya, sayalah orang yang paling bahagia ketika mengetahui bahwa sahabat baik saya telah menemukan teman berbagi, baik dalam kondisi suka maupun duka. Upaya terbaik yang bisa saya curahkan hanyalah berdoa semoga hatinya selalu diliputi ketenangan, kenyamanan, dan rasa syukur.

Kendati demikian, memang tidak bisa saya pungkiri bahwa pada akhirnya waktu mengubah segalanya. Jika dulu, indikator hubungan persahabatan yang sehat dinilai dari seberapa intens kita berkomunikasi dan bertemu, kini mengetahui sahabat kita dalam kondisi sehat, bahagia, dan baik-baik saja–saya rasa itu lebih dari cukup. Sesekali saya hanya bisa mengamati kondisi mereka dari lini media sosial. Terkadang saya beranikan diri untuk menanyakan kabar, memastikan kabar sahabat saya baik-baik saja. Namun sejak menikah, tentunya komunikasi antara kami mulai dibatasi. Saya pikir hal tersebut sudah selayaknya dilakukan oleh orang dewasa. Tujuannya taklain hanya untuk sama-sama menjaga peran.

Beruntung, saya memiliki sahabat dekat tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Saya pikir dulu tidak dikenal persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Saya khawatir “rasa” merusak makna persahabatan itu sendiri. Namun agaknya saya salah. Buktinya, saya memiliki sahabat perempuan yang sangat baik; mendukung saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Saya beruntung mengenal dan menjadi sahabat mereka.

Pernikahan memang mengubah hubungan persahabatan. Namun tidak mengubah banyak hal. Memang ada beberapa sahabat saya setelah menikah menyebabkan komunikasi di antara kami tidak sebaik dulu. Sayapun mafhum dengan kondisi tersebut. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, sejatinya mereka telah lahir menjadi manusia yang baru: ia memiliki tanggung jawab yang baru, peran yang baru, dan tentunya prioritas yang baru.

Kata Mama saya, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahiim.” Beberapa kesempatan, saya mengirim pesan kepada sahabat-sahabat saya sudah mulai lost contact seperti menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun, atau mengirim kutipan-kutipan inspiratif. Saya berupaya menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat saya walau kini kami sudah terpisah dalam interval yang cukup jauh.

Saya pernah bercerita kepada sahabat saya bahwa semua doa-doa anak manusia diijabah oleh Tuhan. Ada yang dijawab langsung, ada yang ditunda, dan ada yang diganti dalam bentuk lain. Saya berkeyakinan bahwa memiliki sahabat-sahabat yang baik, positif, dan inspiratif merupakan jawaban doa dari Tuhan yang diganti dengan bentuk lain. Saya tidak henti-hentinya untuk mensyukuri hal tersebut hingga detik ini. Anugrah dari langit untuk penduduk bumi.

Ada hal yang menarik yang saya amati dari lingkaran persahabatan saya, kendati dari mereka sudah banyak menikah namun nyatanya kami masih bersahabat dengan baik. Bahkan, pasangan mereka (istri/suami) menjadi sahabat baik saya juga. Rasa-rasanya saya tidak akan pernah merasa kehilangan mereka. Jadi, kembali lagi pada pertanyaan, “Seperti apa perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah?” Hati saya diliputi kebahagiaan. Bahagia mereka adalah bahagia saya. Duka mereka adalah duka saya. Begitulah adanya. Tidak ada yang pernah berubah: hari ini, esok, dan seterusnya.

Terakhir, izinkan saya mengutip perkataan Elbert Hubbard, “A friend is someone who knows all about you and still loves you.”

Jakarta,

29 Juli 2017.

Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016: “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”

 

Processed with VSCO with a6 preset
Chiki Fawzi dan Band pada pembukaan pameran foto dan video Kelas Inspirasi Jakarta, Kamis, (10/11/2016) di Qubicle Center, Senopati 79, Jakarta Selatan. 

JAKARTA, INDONESIA – Tahun ini, Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta yang ke-2 kembali digelar dengan mengusung tema “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”. Jika pada tahun sebelumnya para pengunjung pameran hanya sebatas menikmati karya fotografi dari relawan Kelas Inspirasi Jakarta, maka pada tahun ini panitia akan menyuguhkan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengunjung tidak hanya sekadar melihat karya fotografi melainkan juga dapat berinteraksi secara langsung dengan para fotografer. Hal tersebut memungkinkan terjadi karena pameran yang dikurasi oleh Yoppy Pieter ini memilih konsep photo story.

Barangkali tidak banyak masyarakat umum yang mengetahui terminologi photo story. Secara sederhana, photo story merupakan serangkaian foto yang dilengkapi dengan narasi dan caption (80% foto, 10% narasi, dan 10% caption). Konsep photo story dipilih lantaran panitia ingin mengajak para pengunjung (khususnya yang belum pernah terlibat menjadi relawan Kelas Inspirasi) untuk turut hadir pada momen-momen berharga, inspiratif, dan berkesan selama penyelenggaran Kelas Inspirasi Jakarta ke-5 pada (2/05/2016) lalu.

Setidaknya, ada 880 relawan pengajar, 220 tim dokumentator (fotografer dan videografer), serta 89 fasilitator yang terlibat aktif guna menyukseskan Hari Inspirasi yang bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Para relawan Kelas Inspirasi disebar ke berbagai Sekolah Dasar (SD) dengan kategori sekolah marjinal dan satu Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) di Jakarta.

Relawan Kelas Inspirasi, merupakan para profesional dalam bidangnya masing-masing yang bercerita kepada para siswa-siswi Sekolah Dasar mengenai profesi mereka. Tidak hanya sekadar bercerita, mereka juga memberikan semangat, motivasi, dan asa agar generasi harapan bangsa berani menggapai cita-cita mereka. “Barangkali, bagi para relawan mereka hanya diminta untuk cuti satu hari bekerja. Namun sesungguhnya kehadiran mereka di tengah para siswa-siswi pada Hari Inspirasi sangatlah bermakna. Berbagi cerita, berbagi pengetahuan, serta berbagai pengalaman kepada siswa-siswi SD agar kelak mereka menjadi orang-orang yang hebat,” ujar Harry Anggie S. Tampubolon, Ketua Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016.

Sebagai informasi, Kelas Inspirasi (www.kelasinspirasi.org) merupakan program turunan dari Indonesia Mengajar (www.indonesiamengajar.org) yang memfasilitasi para profesional untuk berkontribusi secara nyata memajukan pendidikan di Indonesia. Kelas Inspirasi pertama kali diselenggarakan pada (25/04/2012) secara serentak di 25 Sekolah Dasar di Jakarta dan akan terus berjalan pada tahun-tahun berikutnya.

Kelas Inspirasi sudah dilaksanakan lebih dari 100 kali di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Gerakan ini terus berjalan dari tahun ke tahun. Kabar menggembirkan ternyata program sejenis Kelas Inspirasi telah banyak diselenggarakan di berbagai daerah dengan nama-nama yang berbeda. Kendati demikian, kami berkeyakinan bahwa semua gerakan yang ada memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta ke-2 akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November hingga 19 November 2016 di Senopati 79 a Qubicle Center, Jalan Senopati No. 79, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut Harry, Qubicle Center dipilih sebagai lokasi pameran tahun ini lantaran Qubicle Center merupakan salah satu tempat pusat kreativitas di Jakarta. Sebagai platform yang berdiri berdasarkan kerja sama dengan para komunitas seluruh Indonesia, Qubicle mendukung para konten kreator dan komunitas dengan adanya fasilitas di Qubicle Center. Oleh sebab itu, pihak Qubicle berbaik hati menyediakan fasilitas Qubicle Center guna mendukung terwujudnya Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016. “Selain sebagai pusat kreativitas, Qubicle Center dipilih karena lokasinya berada di kawasan ramai seperti SCBD (Sudirman Centran Bussiness District) serta mudah dijangkau dengan menggunakan moda transportasi umum,” jelas Harry.

Selain Qubicle, Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016 juga didukung oleh PGN, SKK Migas, Conoco Phillips, Dapur Icut, Printerous serta Seagate. Dukungan dari berbagai pihak dalam mewujudkan pameran tahun ini merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk terus menebar kebaikan, khususnya dalam bidang pendidikan.

Secara spesifik, tujuan dilaksanakan Pameran Kelas Foto dan Video Inspirasi Jakarta 2016 yaitu untuk menyosialisasikan kegiatan positif yang digawangi oleh lebih dari 2000 relawan Kelas Inspirasi selama 5 tahun ke belakang. Selain itu, pameran tersebut juga sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh relawan, siswa-siswi, guru, dan sekolah yang telah merasakan manfaat Kelas Inspirasi.

Selain pameran, kegiatan lain yang dapat diikuti oleh para pengunjung yaitu talkshow/workshop fotografi dan sharing session Kelas Inspirasi Jakarta. Tidak hanya itu, pengunjung juga akan dihibur dengan penampilan musik dari musisi tanah air. Pembukaan pameran pada Kamis, (10/11/2016) pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Celtic Room, Chiki Fawzi, dan Archie Wirija. Sementara untuk penutupan pada Sabtu, (19/11/2016) pukul 11.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Syahravi, Westjamnation, Huhu Popo, Resha and Friends, Nia Aladin, serta Juma & The Blehers.

Sementara itu, adapun 17 pameris yang terlibat pada pameran ini terdiri dari 13  fotografer yaitu Aad M. Fajri, Agil Frasetyo, Bagas Ardhianto, Bhima Pasanova, Darwin Sxander, Deasy Walda, Desi Bastias, Desita Ulfa, Dimitria Intan, M. Khansa Dwiputra, Ruben Hardjanto, Shofiyah Kartika dan Silvya; 3 videografer yaitu Fahiradynia Indri, Agus Hermawan, dan Yuni Amalia; serta 1 mural artis yaitu Popo Mangun. Sebagian besar dari mereka bukanlah fotografer dan videografer profesional. Ada yang masih berstatus mahasiswa, ada yang bekerja sebagai konsultan, dan lain sebagainya. Pun demikian, karya-karya mereka yang nanti akan dipamerkan patut untuk mendapatkan diacungi jempol. Informasi lebih detil mengenai profil singkat para fotografer dan videografer dapat dilihat pada situs berikut: http://pameranki.kelasinspirasijakarta.org/.

“Kami berharap melalui Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016, semakin banyak orang-orang baik di negeri ini yang peduli dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Kami berkeyakinan bahwa para generasi bangsa yang saat ini duduk di bangka Sekolah Dasar kelak akan menjadi generasi yang gemilang. Oleh sebab itu, kita semua tanpa terkecuali berkewajiban untuk memastikan agar para penerus bangsa mendapatkan akses pendidikan yang baik, merata, dan berkeadilan sosial,” tutup Harry.

 

Kerja Sembari Kuliah, Mungkinkah?

Catatan Mahasiswa Pascasarjana (Bagian 1)

Oleh: Mahfud Achyar

429096_3152865350840_1549738364_n
Alumni Universitas Padjadjaran, Bandung (2007-2011)

Setelah wisuda sarjana pada November 2011, ada dua hal yang betul-betul saya inginkan: bekerja atau lanjut kuliah?  Kedua pilihan tersebut sebetulnya sangat menggiurkan. Kala itu, saya ingin sekali lanjut kuliah. Saya pikir, menjadi dosen tentu akan sangat menyenangkan. Saya pun mencari informasi beasiswa S2 khususnya beasiswa Dikti yang memang diperuntukkan bagi calon dosen/tenaga akademik. Beberapa teman saya juga melakukan hal yang sama. Wajar, sejak kuliah memang beasiswa tersebut yang kami incar. Kami ingin sekali menjadi dosen di kampus kami. Berada di antara para pemburu beasiswa membuat saya begitu bersemangat dan tidak sabar untuk segera kuliah kembali! Saya pun telah mantap memilih Universitas Indonesia sebagai kampus pilihan untuk menimba ilmu, khususnya di bidang ilmu lingustik.

Akan tetapi, rencana tersebut berubah ketika saya pindah dari Bandung ke Jakarta. Entahlah, kadang saya sendiri merasa tidak yakin apakah rencana tersebut memang betul saya inginkan atau mungkin saya hanya ikut-ikutan. Integritas saya mulai dipertanyakan. Sejujurnya, dari hati kecil saya, hal utama yang saya dambakan yaitu mandiri secara finansial. Mungkin alasan tersebut terkesan klise. Namun begitulah apa adanya. Sejak kuliah, saya sudah terlalu banyak merepotkan kedua orang tua saya. Rasanya wajar bila pada usia yang ke-21 tahun, saya tidak ingin lagi menjadi anak yang menyusahkan. Seharusnya sayalah yang memberikan kontribusi untuk keluarga saya. Secara tegas, saya putuskan bahwa saya harus bekerja! Titik. Untuk urusan kuliah, saya rasa pasti suatu saat akan menemukan jalan yang tidak akan saya sangka-sangka. Tuhan bukankah artisitek yang Maha Hebat?

Lagipula, alasan saya bekerja tidak hanya sebatas untuk mendapatkan lembaran rupiah. Lebih jauh dari itu, saya butuh pekerjaan untuk mengaktualisasikan kemampuan yang saya miliki. Saya ingin menjadi praktisi komunikasi. Sebuah profesi yang sejak SMA sangat saya idam-idamkan. Rasanya akan sangat menarik bertemu dengan banyak orang, mengatur pesan, serta merancang program-program yang kreatif. Kadang, saya tidak bisa tidur hanya karena membayangkan diri saja bekerja dan menjadi bagian dari sebuah tim yang hebat.

Awal tahun 2012, saya mulai mengetuk pintu beberapa perusahaan ternama di Jakarta dengan harapan mereka tertarik dengan riwayat hidup saya kemudian menerima saya sebagai bagian dari perusahaan mereka. Namun nyatanya apa yang saya anggap sederhana (melamar-wawancara-diterima) jauh lebih pelik dan kompleks. Saya ingat betul, waktu itu hampir semua kesempatan kerja saya coba. Mulai dari walk in interview hingga datang ke pameran bursa kerja. Semuanya saya lakoni dengan sebaik mungkin. Bahkan, saya memiliki beberapa akun di situs penjaring kerja dengan perhitungan bahwa peluang untuk mendapatkan pekerjaan akan lebih besar. Berhasil? Belum!

Setiap hari, aktivitas utama yang saya lakukan yaitu mengecek surat elektronik untuk membaca pesan dari perusahaan-perusahaan yang saya lamar. Terkadang saya beruntung mendapatkan telefon dari perusahaan yang tertarik dengan riwayat hidup saya. Namun seringnya saya justru tidak lolos tahap akhir. Kecewa? Sudah sangat pasti. Boleh dikatakan, awal-awal tahun 2012 merupakan masa-masa tersulit dalam hidup saya. Acapkali saya merasa menjadi sangat emosional dan sentimentil. Saya sulit sekali membedakan maksud pesan dari orang-orang di sekitar saya yang acap bertanya, “Apakah saya sudah bekerja”” Perhatian dan prihatin seakan tidak ada bedanya. Sama-sama menyakitkan. Namun apabila dipikirkan lagi sekarang, seharusnya saya tidak perlu mengambil sikap seperti itu. Namun bagaimanapun, saya tidak bisa mengelak bahwa memang pada saat itu hati saya sungguh kacau dan otak saya tidak dapat berpikir secara jernih. Benar-benar tidak karuan! Mudah-mudahan bisa menjadi pengingat untuk saya hingga kapanpun.

Mei 2012. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di salah satu NGO di Jakarta. Sebelum menerima tawaran tersebut, sebetulnya saya juga sudah diterima di salah satu perusahaan media terkenal di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Namun saya tolak tawaran tersebut lantaran ada satu alasan yang sangat personal.

Jika boleh bercerita, ketika masa-masa sulit tadi, saya merasa sangat jauh dengan Tuhan. Barangkali harusnya saya bisa lebih dekat dengan Tuhan, berkeluh kesah pada-Nya. Tapi yang terjadi justru saya merasa menjaga jarak dengan-Nya. Suatu kesempatan, saya berdoa kepada Tuhan agar saya mendapatkan pekerjaan yang membuat saya bisa dekat dengan-Nya. Secara sederhana, saya ingin nanti ketika saya bekerja minimal saya bisa menjalankan ibadah sholat lima waktu tanpa halangan berarti. Ya, demikianlah pinta saya pada-Nya. Setelah berpikir cukup lama dan berusaha melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan saya. Well, akhirnya saya memilih bekerja di NGO sebagai aktivis kemanusiaan.

Satu tahun lebih bekerja di NGO, banyak kesempatan emas yang mulai berdatangan. Salah satu kesempatan hebat yang tidak akan mungkin saya tepis yaitu kesempatan mendapatkan beasiswa program magister. Ada dua beasiswa yang saya incar, yaitu beasiswa Kemenpora dan beasiswa Medco Foundation-Universitas Paramadina. Kedua jenis beasiswa tersebut memang secara spesial diberikan kepada penggiat organisasi kepemudaan dan aktivis NGO.

Saya tahu mengenai beasiswa Kemenpora sejak kuliah di Unpad. Kebetulan, salah seorang senior saya di BEM pada saat itu menjadi penerima beasiswa tersebut. Saya mendapatkan informasi banyak dari beliau. Untuk informasi lebih detil, Anda bisa bisa baca dengan seksama pada tautan berikut: http://bit.ly/2bWVBOo. Persyaratan untuk mendapatkan beasiswa tersebut sebetulnya tidak begitu rumit. Kita hanya perlu menyediakan dokumen-dokumen yang diminta serta mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi untuk program pascasarjana di Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada.

Pada saat yang bersamaan, Universitas Paramadina bekerja sama dengan Medco Foundation juga membuka peluang beasiswa bagi aktivis NGO, jurnalis, dan tenaga pengajar. Informasi mengenai beasiswa ini dapat Anda temukan pada tautan berikut: http://bit.ly/2crTvS8. Worth to share yep!

Kedua beasiswa tersebut sejujurnya membuat saya bimbang. Saya seakan berada di persimpangan jalan, saya ragu jalan mana yang hendak saya pilih. Di satu sisi, pihak dari Universitas Indonesia beberapa kali menghubungi saya untuk mengambil kesempatan menjadi mahasiwa program studi Kajian Ketahanan Nasional . Namun di sisi lain, saya sangat tergoda dengan program studi Corporate Communication di Universitas Paramadina.

Sore itu, selepas pulang kantor, saya memantapkan hati saya untuk memilih Universitas Paramadina dengan berbagai pertimbangan. Pertama, saya bekerja sebagai praktisi komunikasi (Marketing Communication). Tentunya jika mengambil jurusan komunikasi maka akan sangat mendukung karir profesional saya. Kedua, saya rasa saya memiliki ikatan emosional dengan Universitas Paramadina. Dulu, saya pernah ingin berkunjung ke sana, namun tidak pernah berkesempatan. Entahlah, apakah itu alasan yang cukup berterima? Namun satu hal yang pasti, Universitas Paramadina sudah diakui keunggulannya dalam menyelenggarakan pendidikan. Apalagi saat itu, idola saya, Bapak Anies Baswedan menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina. Selain itu, setelah saya pikir-pikir ternyata Universitas Padjadjaran dan Universitas Paramadina memiliki kesamaan. Jika disingkat maka sama-sama UP! Aha, mungkin nanti jika ingin kuliah program doktor sepertinya saya perlu mencari kampus yang memiliki singkatan UP.

Oh ya, ada hal yang lupa saya ceritakan kepada tuan dan puan sekalian. Kuliah di Universitas Paramadina memungkinkan kita untuk bekerja sembari kuliah. Jadi pertanyaan pada judul tulisan, “Kerja sembari kuliah, mungkinkah?” Jawabannya sangat mungkin. Possible! Rata-rata beasiswa yang lain mewajibkan penerima beasiswa untuk mengikuti perkuliahan secara reguler (perkuliahan biasanya berlangsung hampir setiap hari dan jam kerja). Namun jika kalian kuliah di Universitas Paramadina, waktu kuliah biasanya dimulai pada pukul 7 malam dan berakhir pada pukul 9 malam (maksimal pukul 9.30 malam bergantung dosen). Anda tertarik mendapatkan beasiswa di Universitas Paramadina? Jika tertarik, pada tulisan berikutnya saya bercerita bagaimana perjuangan saya mendapatkan beasiswa beserta tips-tips yang mudah-mudahan bermanfaat. Viva Academia!

Jakarta, 7 September 2016.

Hari-Hari Tanpa Sekolah

 

Catatan Relawan Kelas Inspirasi

Oleh: Mahfud Achyar

IMG_1818
Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi (Foto oleh: Yeni Suryati)

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan

Saya bergabung menjadi keluarga besar Kelas Inspirasi sejak tahun 2014. Namun sebelum menjadi relawan Kelas Inspirasi, saya beberapa kali mengikuti kegiatan sosial yang digagas oleh relawan Kelas Inspirasi Jakarta 4 yang bertajuk “Kunjungan Inspirasi”. Sama halnya dengan program Kelas Inspirasi, kegiatan Kunjungan Inspirasi bertujuan untuk memberikan motivasi kepada anak-anak untuk berani bermimpi, berani mengajar cita-cita mereka. Segmentasi Kunjungan Inspirasi yaitu anak-anak binaan di beberapa Taman Baca di Jakarta. Sejak mengikuti kegiatan tersebut, saya jatuh cinta dengan aktifitas sosial khususnya di bidang pendidikan.

Oleh sebab itu, ketika panitia Kelas Inspirasi Depok 2 membuka pendaftaran relawan, tanpa banyak pertimbangan saya putuskan untuk  mendaftar menjadi relawan pengajar (baca: inspirator). Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya saya menerima surat elektronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi. Saat itu, rasa senang membucah dalam jiwa. Dalai Lama XIV pernah berkata, “Happines is not something ready made. It comes from your own actions.”

Satu hari cuti, seumur hidup menginspirasi. Begitulah semangat yang berusaha dipelihari oleh para relawan Kelas Inspirasi. Kami meyakini bahwa kegiatan Kelas Inspirasi (selanjutnya disingkat KI) tidak hanya menginspirasi anak-anak sekolah dasar, melainkan juga menginspirasi kami, para relawan. Sebelum Hari Inspirasi, semua relawan berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dari panitia KI mengenai gambaran kegiatan pada Hari Inspirasi. Merinding. Saya merinding menyaksikan ternyata masih banyak orang-orang baik di bumi pertiwi ini. Mereka, saya menyebutnya invisible hands, adalah orang-orang yang nantinya akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Kapan? Entahlah. Saya sendiri tidak bisa membuat prediksi yang presisi. Namun satu hal yang patut saya yakini, Indonesia masih memiliki harapan. Para relawan, barangkali merekalah segelintir harapan itu. Selama harapan masih ada dalam setiap dada generasi muda Indonesia, saya yakin kondisi sulit sekalipun dapat ditangani dengan baik. Saya meyakini hal itu. Sungguh.

Suatu hari di kelas penelitian kualitatif, dosen saya berkata, “Indonesia itu surga untuk penelitian. Betapa tidak, hampir semua masalah ada di Indonesia.” Saya pun secara spontan menganggukkan kepala pertanda saya sependapat dengan dosen tersebut. “Iya, Indonesia itu banyak masalah! Iya, Indonesia itu belum bisa semaju Amerika atau Inggris! Iya, Indonesia itu banyak kurang sana-sini! Lantas, apakah saya hanya bisa menyalahkan kondisi pelik yang  dihadapi oleh negara saya sendiri?” tanya saya dalam hati.

John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat (1917-1963), pernah berkata, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Semua orang bisa berteriak untuk menyalahkan, namun tidak semua orang bisa untuk berbuat, untuk turun tangan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Terkadang saya lelah melihat, membaca, dan mendengarkan orang-orang yang sering sekali memproduksi konten yang mendestruksi bangsa ini di berbagai lini masa. Saya akui terkadang saya juga melakukan hal yang sama. Namun belakangan saya berpikir ulang, jika saya melakukan hal yang sama dengan mereka, maka saya tidak ada bedanya. Menyedihkan.

Ada satu kutipan yang sangat menginspirasi dalam hidup saya. “Kondisi buruk terjadi bukan karena banyaknya orang jahat di muka bumi ini. Namun karena orang-orang baik hanya diam dan berpangku tangan.” Bagi saya pribadi, barangkali menjadi relawan KI barangkali adalah salah satu cara untuk making the world a better place. I hope so!

Pengalaman menjadi relawan pengajar di SDN Depok 5 pada tahun 2014 membuka telinga, mata, dan hati saya bahwa permasalahan dunia pendidikan Indonesia sangatlah pelik dan kompleks. Jika ada teman yang menanyakan pendapat saya mengenai profesi guru, saya selalu katakan, “Percayalah menjadi seorang guru tidaklah mudah!”

Pagi itu, sebelum mulai mengajar di kelas 2, jantung saya berdegup sangat kencang. Saya gugup dan saya tidak yakin bahwa hari itu Dewi Fortuna berpihak kepada saya. Kondisi semacam itu sejujurnya sudah seringkali saya alami, misalnya, ketika ujian kelulusan atau mungkin wawancara beasiswa. Perasaan yang selalu sama: kacau. Namun saya berusaha menenangkan diri sembari hanya bisa bergumam, “Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berlalu.” All is well.

Menit-menit pertama mengajar merupakan momen yang sangat menyenangkan. Saya mulai berhasil menguasai suasana kelas. Kekhawatiran saya tentang sulitnya menjelaskan istilah-istilah Marketing Communication mampu saya atasi dengan cukup baik. Anak-anak terlihat antusias, mereka bertanya ini dan itu. Saya merasa senang karena mereka terlihat antusias mengikuti proses belajar mengajar. Namun selanjutnya apa yang terjadi? Chaos!

Seorang siswa laki-laki entah mengapa tiba-tiba menangis. Sontak suasana kelas berubah mencekam. Kondisi semakin tidak terkendali ketika ada dua orang siswa yang berkelahi, saling pukul di antara mereka berdua pun tidak bisa dielakkan.

Sementara itu, anak-anak yang dari tadi antusias mendengarkan penjelasan saya juga ikut berteriak, membuat gaduh semakin riuh. Beruntung saat itu saya didampingi oleh teman saya. Kami pun berbagi tugas untuk mendamaikan anak-anak yang berkelahi dan membuat suasana kelas tetap kondusif. Saya pun menghampiri anak yang tadi berteriak dan menangis.

Sambil terisak ia berkata, “Tas saya disembunyikan pak!” Saya berusaha menenangkannya, namun  ia meronta. Seakan ia tidak butuh pertolongan. Seorang anak menyahut, “Dia emang cengeng pak!” Mendengar hal tersebut, si anak semakin marah dan kesal. Kondisi demikian membuat saya kewalahan. Perlahan, saya coba tenangkan dia dan memintanya untuk kembali duduk di kursinya. Ia sempat menolak, namun akhirnya luluh setelah saya bujuk berulang kali. Melelahkan.

Selidik demi selidik, ternyata anak tersebut memang sering menjadi objek bullying di kelasnya. Hampir setiap hari, ada saja yang membuat ia marah dan kesal. Mengetahui hal tersebut, saya hanya bisa terdiam. Seketika memori masa lampau hadir kembali.

Source - i(dot)huffpost(dot)com
Girl comforting her friend (Source: i.huffpost.com)

Dulu, ketika saya di bangku sekolah dasar, bullying merupakan fenomena yang sudah biasa. Dalam bahasa Indonesia, bullying memiliki serapan kata yaitu perundungan. Ada banyak faktor mengapa seorang siswa bisa menjadi objek perundungan, misalnya ia memiliki rambut keriting, kulit hitam, atau hidung pesek. Tidak hanya lantaran fisik semata, objek perundungan bisa juga lantaran sang anak memiliki nama yang “unik” dan sebagainya. Terlepas dari hal itu semua, siapa pun punya potensi yang sama untuk menjadi objek perundungan di sekolah. Jika sang anak telah menjadi korban bullying, maka hari-hari di sekolah adalah hari-hari yang menyeramkan.

Tiga kali menjadi relawan KI, mulai dari tahun 2014 hingga 2016, saya menyaksikan fenomena bullying selalu ada, bahkan telah menjadi efek bola salju. Sayangnya, pemerintah, pihak sekolah, maupun orang tua siswa tidak begitu aware dengan kasus ini. Padahal menurut saya, bullying laiknya dementor yang menghisap kebahagiaan anak-anak yang mendambakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Bayangkan, setiap hari anak-anak korban bullying harus menghadapi kondisi psikologis yang buruk. Mereka diejek, mereka ditolak, mereka dihina, dan mereka dimusuhi. Sangat menyakitkan.

2 Mei 2016 lalu, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, saya kembali menjadi relawan KI yang ditempatkan di SDN Cijantung 07 Pagi. Jika pada KI sebelumnya saya menjadi relawan pengajar dan fasilitator, tahun ini saya beranikan diri untuk menjadi relawan dokumentator, khususnya fotografer.

Ketika sesi pergantian pengajar, para relawan berkumpul di laboratorium yang menjadi base camp kami. Salah seorang relawan pengajar, Gicha Graciella (27 tahun), tampak kesal setelah mengajar di kelas 5. Ia bercerita bahwa ada seorang anak yang menjadi objek bullying teman-temannya lantaran bapaknya bekerja sebagai tukang parkir. Ia terus diejek oleh teman-temannya. Tidak hanya sekali, namun berulang kali. Gicha pun tidak tinggal diam. Sebagai seorang guru saat itu, ia berusaha memberi pengertian kepada para siswa bahwa sesama teman tidak boleh saling menyakiti. Kepada kami, Gicha kesal karena ternyata bullying menjadi hal yang dianggap lumrah terjadi di sekolah.

Senada dengan  Gicha, saya pun bersepakat bahwa seharusnya isu bullying menjadi perhatian banyak pihak. Apalagi pada tahun 2015 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir data yang mengejutkan dunia pendidikan Indonesia. “Jumlah anak sebagai pelaku kekerasan (bullying) di sekolah mengalami kenaikan dari 67 kasus pada 2014 menjadi 79 kasus pada 2015.” (Sumber: Republika.co.id, 30 Desember 2015).

Lebih lanjut, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan data naiknya jumlah anak sebagai pelaku kekerasan di sekolah menunjukkan adanya faktor lingkungan yang tidak kondusif bagi perlindungan anak.

Sebagai manusia dewasa, barangkali kita sulit memasuki perasaan anak-anak yang menjadi korban bullying. Bahkan, anak-anak korban bullying juga sulit untuk mengutarakan perasaan mereka yang setiap harinya dicela oleh teman-temannya. Menurut saya, akibat buruk dari bullying adalah timbulnya rasa benci dari korban bullying kepada teman-teman yang menjahatinya. Bahkan lebih parah, mereka benci dengan sekolah, mereka mungkin mendambakan hari-hari tanpa sekolah. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, saya berharap kasus bullying dapat menjadi fokus pemerintah, pihak sekolah, dan keluarga. Bukankah sekolah akan lebih menyenangkan bila tidak ada bullying? STOP BULLYING!

Jakarta,

7 Juni 2016

 

 

 

 

 

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU

Photo Story: Kelas Inspirasi Jakarta 5 “Satu Hari Kembali ke Sekolah”

Kelas Inspirasi (KI) merupakan salah satu program dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Program ini memfasilitasi para profesional untuk kembali ke sekolah khususnya Sekolah Dasar selama satu hari dengan tujuan menginspirasi anak-anak Indonesia untuk #BeraniBermimpi.

Secara sederhana, para profesional menceritakan profesi mereka kepada anak-anak SD dengan harapan kelak di masa depan mereka bisa menjadi seperti mereka atau bahkan jauh lebih hebat dari para inspirator (sebutan pengajar Kelas Inspirasi). Hal ini menjadi penting mengingat saat ini di dunia kerja begitu beragam profesi yang ada. Tidak hanya ada profesi yang populer seperti dokter, polisi, ataupun tentara. Nyatanya di dunia kerja ada profesi seperti chef, designer interior, dan masih banyak lagi.

Tahun ini, Kelas Inspirasi Jakarta kembali digelar untuk yang kelima kalinya. Bagi Kelas Inspirasi Jakarta 5, tahun ini sangat spesial karena Hari Inspirasi bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2016.

Saya menjadi relawan Kelas Inspirasi untuk kali ketiga. Namun pada Kelas Inspirasi tahun ini, saya mengambil peran menjadi relawan fotografer (amatir) yang tergabung dalam kumpulan orang-orang hebat di Kelompok 42.

Berikut 5 foto dokumentasi ketika Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur:

1
Foto 1

Menunggu Upacara Bendera

Siswi-siswi SDN 07 Cijantung Pagi Jakarta Timur pada Senin, (02/05/2016) terlihat begitu antusias menunggu upacara bendera. Pada hari itu, upacara bendera di sekolah mereka berbeda dibandingkan upacara-upacara sebelumnya. Betapa tidak, pada hari itu bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, sekolah mereka juga kedatangan para relawan Kelas Inspirasi Jakarta 5 yang akan berbagi cerita tentang profesi mereka. Bagi siswi-siswi tersebut, jelas hari itu adalah hari yang berbeda, hari yang spesial karena tidak ada PR.

 

2.JPG
Foto 2

Guru, Tidak Hanya Mengajar Namun Juga Mendidik

Gicha Graciella (27 tahun) merupakan seorang konsultan komunikasi. Ia baru pertama kali menjadi relawan Kelas Inspirasi. Ia menceritakan bahwa mengikuti Kelas Inspirasi bukan hanya tentang berbagi, namun juga sebagai bentuk komitmennya bahwa sesuatu yang baik dan berguna perlu disebarkan dengan lebih luas. Ia yakin setiap orang berilmu di negeri ini memiliki kewajiban untuk mendidik generasi mendatang. Ada satu pengalaman yang cukup berkesan ketika ia menjadi inspirator Kelas Inspirasi. Menurutnya, salah satu persoalan pelik di dunia pendidikan di Indonesia yaitu masalah bullying. Ia bercerita, “Selama saya mengikuti kelas inspirasi, saya melihat ada beberapa anak yang mendapat kekerasan verbal dari teman-temannya. Saya menyadari bahwa mendidik bukan hanya tentang mengajarkan mereka untuk mengerti mata pelajaran dan hal-hal yang bersifat teoritis.” Gicha, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa mendidik adalah tumbuh bersama mereka, memahami kebutuhan mereka, dan memenuhi hak-hak mereka.

3.JPG
Foto 3

Tidak Perlu Ada Sekat Antara Guru dengan Murid

Ada ungkapan yang mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Predikat menjadi seorang guru memang tidak mudah. Ia menjadi contoh, ia menjadi role model untuk anak didiknya. Hubungan guru dan murid tidak hanya sebatas orang yang mengajar dan orang yang diajar. Guru dan murid juga bisa saling bersahabat. Bukankah menyenangkan memiliki guru sekaligus sahabat?

4.JPG
Foto 4

Belajar Tidak Hanya di Kelas

Annisa Aulia Handika (23 tahun) mengajak siswa-siswinya untuk belajar di luar kelas. Sebelum ia mulai mengajar, seorang siswa membuang hajatnya di kelas. Hal tersebut membuat aroma kelas menjadi tidak sedap. Ollie, begitu ia memanggil namanya, mengatakan bahwa belajar tidak perlu di ruang kelas. Siswa-siswi bisa belajar dimana saja, asalkan ia nyaman menjalani proses belajar mengajar. Profesinya sebagai Oseanografer sangat menarik antusias anak-anak. “Ini pertama kalinya saya mengikuti Kelas Inspirasi dan langsung ketagihan untuk ikut lagi,” ungkap Ollie. Selama mengajar, Ollie berulang kali mengatakan bahwa laut di Indonesia itu sangat luas dan sangat indah. Oleh sebab itu, kita perlu bersama-sama menjaga kekayaan laut yang kita punya. Mengajar itu nagih! “Saya menjadi lebih bersemangat untuk terus berbuat lebih untuk banyak orang,” ungkapnya.

5.JPG
Foto 5

Dari Balik Jendela

Saya adalah seorang relawan fotografi. Saya memang tidak menginspirasi mereka secara langsung. Sungguh, tidak sama sekali. Hal yang terjadi justru sayalah yang terinspirasi dari anak-anak sekolah dasar. Saya menangkap momen ketika mereka tertawa lepas, ketika mereka marah, ketika mereka kesal, atau ketika mereka bosan. Namun dari semua mata yang sudah abadikan dengan kamera, ada satu hal yang membuat saya merinding. Saya melihat di dalam mata mereka ada binar harapan untuk masa depan yang jauh lebih hebat, jauh lebih gemilang. Teruslah bersemangat menggapai cita-cita wahai tunas bangsa!

Demikianlah, satu hari cuti satu hari menginspirasi! Ayo #BangunMimpiAnakIndonesia

Jakarta,

10 Mei 2016

Secangkir Kopi Bersama Sahabat

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” – Pidi Baiq

 

2016-04-02 05.49.39 1.jpg
Sabtu Bersama Sahabat (Lokasi Rumah Makan Ponyo)

Ada saja alasan yang membuat saya untuk kembali ke Bandung, kota sejuta kenangan. Saya selalu rindu dengan suasana di kota kembang ini. Bagi saya, terlalu banyak kenangan baik tercipta di sini. Hampir semua sudut di kota ini menyimpan cerita-cerita, yang bila diceritakan ulang membuat saya tersenyum, lantas kemudian hanya terpaku diam. Maka biarkanlah kenangan itu terus mengabadi. Di sini, tepat di hati saya. Bila saya merasa merindu, saya akan menghadirkannya kembali. Kapan pun itu!

Pagi ini, saya bertemu lagi dengan salah satu sahabat terbaik saya sewaktu di Unpad. Kita pernah satu tim dua tahun di BEM Kema Unpad (Departemen Komunikasi dan Informatika). Selanjutnya, pada tahun ketiga kami berbeda divisi. Namun kita masih sering berdiskusi banyak hal, terutama tentang dunia fotografi. Saya belajar banyak dari sahabat saya ini, misalnya, bagaimana cara mengambil foto dengan angle yang bagus, dsb. Saya dari dulu sangat menyukai dunia fotografi. Namun, saya tidak begitu menguasai teknik fotografi lantaran sewaktu kuliah tidak memiliki kamera. Namun dari karya-karya fotografi Rijal Asy’ari (bisa dilihat di Instagram https://www.instagram.com/titikterang/) sedikit banyaknya saya mulai paham tentang seluk-beluk fotografi.

Obrolan pagi tadi ditemani secangkir kopi late. Kami kembali berdiskusi di sebuah tempat yang historis yaitu Rumah Makan Ponyo di bilangin Cinunuk, Bandung. Di sebuah saung khas Sunda kami bernostalgia tentang masa sewaktu kuliah. Oh ya, mengapa Rumah Makan Ponyo tersebut saya sebut historis? Sebab di tempat tersebutlah kami pernah membahas impian, harapan, serta asa untuk menjadikan BEM Kema Unpad menjadi lembaga kemahasiswaan yang down to earth dan memiliki program-program high impact. Tidak hanya membahas hal-hal yang serius, kami juga beberapa kali pernah bersenda gurau sembari menunggu waktu berbuka puasa dengan menu favorit khas Sunda seperti ayam penyet, lalapan, dsb.

Oya, kami tidak membahas dunia fotografi lagi. Saya lebih tertarik menanyakan konsep bisnis dan value dari Rumah Makan Ponyo yang sudah digarap Rijal sejak beberapa tahun belakang. Sangat menarik. Ia menceritakan bagaimana strategi bisnis Rumah Makan Ponyo sehingga tetap menjadi rumah makan yang memiliki tempat spesial di hati pelanggan. Bisnis keluarga @makanponyo (IG) sudah digarap sejak tahun 1972. Tentu banyak pelanggan yang sudah jatuh hati dengan rumah makan ini. Oleh sebab itu, Rijal pun bercerita bahwa ia ingin meningkatkan segmentasi pelanggan, khususnya generasi Y (lahir tahun 80-an hingga 90-an).

Jujur, bagi saya dunia bisnis itu menarik. Kadang saya berpikir untuk mencoba terjun dan mengerahkan kemampuan saya dalam membangun, mengelola, dan mengembangkan bisnis. Namun entahlah, saya masih ragu. Saya berpikir tidak memiliki gift dan bakat di sektor tersebut. Tapi saya masih penasaran untuk mengaplikasikan ilmu Marketing Communication yang sudah saya dapatkan di bangku kuliah. Barangkali suatu saat ya!

Well, hari ini saya belajar silaturahim tidak hanya sebatas bertemu. Lebih jauh dari itu, saya belajar banyak hal. Hatur nuhun pisan Lur atas ilmuna. Sukses pokokna mah!

Xoxo,
Hari kedua pada bulan April.

Ditulis di Jatinangor,
2 April 2016.

Mahfud Achyar

Ps: Bila tertarik dengan menu Rumah Makan Ponyo, silakan buka websitenya: makanponyo.com

Diah Indrajati: Bekerja dengan Hati

Ir. Diah Indrajati, M.Sc., Plt Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah*

Profil beliau dimuat pada majalah “Jendela Bina Pembangunan Daerah” Edisi 5 Februari – 5 Maret 2016.

 

IMG_7744
Ir. Diah Indrajati, M.Sc. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

 

Ada sebuah kutipan yang cukup populer di telinga kita, “People come and go. Everyone thats been in your life has been there for a reason, to teach you, to love you, or to experience life with you.” Rasanya kutipan tersebut cukup related dengan kondisi Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda) saat ini. Betapa tidak, pada tahun 2015 lalu, Dr. Drs. Muhammad Marwan M.Si., Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Periode 2009-2015 resmi purnabakti.

Tentunya banyak hal hebat yang telah beliau persembahkan untuk Indonesia secara umum dan Ditjen Bina Bangda secara khusus. Kepemimpinan beliau mengajarkan kita bahwa usia sosial manusia sejatinya tanpa batas. Kendati beliau sudah tidak lagi berkarya di Ditjen Bina Bangda, namun keteladanan beliau akan terus mengabadi dan akan terus dikenang.

Kini, Ditjen Bina Bangda memiliki sosok pemimpin yang baru. Seorang wanita hebat yang telah mendedikasikan hidupnya bertahun-tahun untuk mengubah wajah republik ini menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Seorang wanita yang juga ibu dari Wenny Indriyarti Putri dan Randita Indrayanto. Perkenalkan, beliau adalah Diah Indrajati.

Sejak awal tahun 2016, istri dari Ir. Dadang Sudiyarto ini resmi dilantik menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Bina Bangda. Pada hari Jumat, (26/02/2016) tim buletin “Jendela Pembangunan Daerah” berkesempatan mewawancarai beliau di ruang kerjanya di Ditjen Bina Bangda, Jalan Makam Pahlawan, No. 20, Jakarta Selatan.

Saat itu, beliau tengah mengenakan busana batik yang menjadi identitas bangsa Indonesia dan telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (World Herigate). Topik pembuka obrolan dimulai dengan kisah awal karir beliau di Kementerian Dalam Negeri.

Diah, begitu beliau akrab disapa, mengatakan bahwa ia bergabung di Kementerian Dalam Negeri sejak tahun 1987. “Jadi pada tahun 1987, saya memang sudah ditempatkan di Ditjen Bina Bangda. Tadinya saya sempat satu tahun sebagai pegawai proyek. Saya penganten baru, saya bekerja untuk proyek “Upland Agriculture” kalau gak salah. Nah, kemudian di perjalanan saya mendapatkan kabar bahwa Depdagri menerima pegawai. Saya diberi tahu waktu itu oleh salah satu Kasubdit di Ditjen Bangda. Saya pun mengikuti tes dan Alhamdulillah diterima. Saya mengikuti Diklat di Jogja,” kenang Diah.

Lebih lanjut, beliau menceritakan bahwa awal-awal ia memulai karir di Kemendagri tidaklah mudah. Namun dengan tekad yang kuat, takbutuh waktu lama bagi Diah untuk belajar banyak hal tentang seluk beluk dunia birokrasi. “Kebetulan waktu itu, Kepala Bagian Perencanaan, almarhum Bapak Butarbutar seringkali meminta kita bedah buku, membaca peraturan, kemudian menulis summary tentang berbagai aturan. Setiap hari kita kumpul di ruangan untuk diskusi. Jadi memang terarah gitu,” ungkap Diah.

Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia merasa bekal sarjana yang ia miliki tidak cukup untuk menjawab berbagai tantangan yang ia hadapi di dunia kerja. Ia pun merasa terpanggil untuk melanjutkan jenjang pendidikan magister di Amerika Serikat. Ia sempat ragu untuk kuliah di luar negeri lantaran ia sudah berkeluarga dan sudah memiliki buah hati. Namun berkat dukungan penuh dari suami dan keluarga besar, ia pun akhirnya memantapkan diri untuk melanjutkan studi di California State University Fullerton.

“Dari sekian ratus yang melamar OTO Bappenas, akhirnya yang lolos kalau gak salah 2 waktu itu tahun 90-an. Prosesnya dari tahun 1987 hingga tahun 1988. Tapi pengumuman bahwa saya diterima itu tahun 1992. Selanjutnya pada tahun 1993, saya harus ikut kursus hingga lulus. Kemudian masuk lagi hingga tahap terakhir. Akhirnya, saya pun berangkat pada tahun 1994 sekolah ke Amerika. Dua tahun bersekolah, saya kembali. Kantornya waktu saya berangkat masih di Keramat Raya. Tapi waktu saya kembali sudah pindah ke sini (Kalibata, red),” jelas Diah.

Perjalanan karir Diah bisa dikatakan terbilang cukup panjang. Beliau baru mendapatkan eselon 2 pada tahun 2012. Menurutnya, persaingan di Kemendagri cukup ketat. Kendati demikian, ia tidak terlalu fokus untuk mendapatkan jabatan-jabatan tertentu. Ia hanya fokus untuk bekerja dengan baik. Ia yakin hasil tidak akan mengkhianati proses. Hal yang terpenting menurutnya yaitu bila mendapatkan tugas, maka harus amanah menjalankan tugas tersebut.

Sejak sebagai staf hingga menduduki posisi saat ini, wanita kelahiran Demak, 7 November 1958, ini membiasakan bekerja dengan hati. “Saya mencoba menekuni apa yang ditugaskan. Tidak usil kiri kanan. Fokus mengerjakan apa yang ditugaskan kepada saya ya itulah yang saya kerjakan. Saya tidak pantang bertanya. Sekarangpun jika saya tidak tahu, saya akan bertanya kepada teman-teman yang saya anggap lebih tahu,” tegas Diah.

Ia menilai bahwa posisi ia saat ini tidak banyak mengubah dirinya secara personal. Hanya ia dituntut lebih bijak, tidak mudah emosional. Ia menuturkan bahwa dulu ia kadang merasa gregetan bila ada stafnya yang bekerja tidak cekat. Namun sekarang, ia harus mampu memberikan contoh mana aturan yang tidak boleh dilanggar.

Ketika ditanya tentang pemimpin ideal, beliau menekankan bahwa seorang pemimpin harus paham substansi yang ia kerjakan dan harus mampu menjadi contoh. Dalam memimpin, ia tidak memiliki role model secara khusus. Hal ini dikarenakan ia ‘dibesarkan’ oleh banyak gaya kepemimpinan. “Yang jelas kalau dari amanah agama, kita harus mencontoh nabi besar kita, nabi Muhammad shalallahu’alai wassalam. Kita mencontoh cara kerja beliau; membedakan mana yang dinas, mana yang pribadi. Saya berusaha seperti itu walaupun tidak sempurna. Tapi saya mencoba mengambil contoh-contoh dari beliau,” ungkap Diah.

Berkaitan dengan harapan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, yang menginginkan semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan strategis di lingkup Kemendagri, Diah mengapresiasi hal tersebut. Namun bagi Diah sendiri, seseorang diangkat menjadi pemimpin haruslah berdasarkan kemampuannya. “Jadi, walaupun perempuan, dia harus mampu. Jangan karena perempuan kemudian minta diangkat menjadi pejabat. Saya juga gak setuju. Jabatan boleh siapa saja duduk di situ. Tapi kalau ilmu hanya kita yang punya. Jadi saya modalnya itu. Karena Pak Menteri kebijakannya seperti itu, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan beliau. Saya akan berbuat semampu saya untuk melaksanakan amanah itu. Saya juga menghimbau teman-teman juga bekerja dengan baik mudah-mudahan nanti pimpinan bisa melihat potensi teman-teman,” papar Diah.

Di sela-sela kesibukan, Diah masih menyempatkan diri untuk memperbaharui informasi-informasi yang bermanfaat khususnya informasi mengenai lingkungan. “Karena dulu saya mengambil S2 Lingkungan, saya paling aware untuk hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan. Isu suistainbale development cukup menarik perhatian saya,” kata Diah.

Selain membaca, waktu senggang juga dimanfaatkan Diah untuk memasak menu rumahan. Walaupun tidak memasak yang ‘aneh-aneh’ setidaknya masakan yang ia sajikan untuk keluarga dapat mengobati rasa rindu terhadap cita rasa masakan rumahan.

Sejak menjabat menjadi Plt Dirjen Bina Pembangunan Daerah, Diah mengaku harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Beruntungnya dukungan yang besar dari keluarga membuat beliau menikmati pekerjaannya saat ini. Ia pun berpesan kepada stakeholder Ditjen Bina Pembangunan Daerah untuk bekerja dengan baik. “Tunjukkan bahwa kita mampu. Sebab, kita sudah komitmen untuk bekerja. Ya, usahakan semaksimal mungkin dan profesional,” tutup Diah. [Mahfud Achyar]

 

 

 

 

 

Yuswandi A. Temenggung: Kepemimpinan Itu Datang dari Diri Sendiri

 

Oleh: Mahfud Achyar

*Tulisan ini dimuat pada Majalah Buletin “Jendela Pembangunan Daerah” Edisi 5 Januari – 5 Februari 2016.

Kepemimpinan, barangkali akan selalu menjadi topik yang seru untuk dibahas. Obrolan mengenai kepemimpinan barangkali terkesan langitan, namun sebetulnya cukup membumi.

Banyak orang di republik ini membahas tema kepemimpinan. Mulai dari orang-orang berdasi hingga para petani yang bersantai di warung kopi. Betapa tidak, kepemimpinan menjadi faktor kunci keberhasilan suatu negara, organisasi, lembaga, perusahaan, bahkan kehidupan rumah tangga. Selalu saja ada hal baru yang bisa digali mengenai kepemimpinan. Maka taksalah, buku-buku mengenai kepemimpinan banyak menjadi best seller di berbagai toko buku di dunia dan di Indonesia.

John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan, pernah menulis ungkapan tentang kepemimpinan dalam salah satu bukunya. Ia menulis, “Leaders must be close enough to relate to others, but far enough ahead to motivate them.” Secara tegas, Maxwell mengatakan bahwa seorang pemimpin harus cukup dekat dengan orang yang dipimpinnya, namun cukup jauh ke depan untuk memotivasi mereka. Tidak hanya Maxwell yang bersuara lantang menyampaikan gagasan mengenai kepemimpinan, tokoh-tokoh penting di dunia juga turut menyampaikan gagasan mereka mengenai konsep kepemimpinan.

Yuswandi A. Temenggung, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, juga memiliki sudut pandang yang berbeda tentang kepemimpinan. Pada Kamis, (28/1/2016) lalu, tim buletin “Jendela Pembangunan Daerah” berhasil berdiskusi hangat dengan beliau di kantornya di Jalan Medan Merdeka Utara, No. 7, Jakarta Pusat.

DSC_0017
Yuswandi A Temenggung, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri

Sekjen Kemendagri yang lahir di Palembang pada 22 Juni 1957 ini berkata, “Kepemimpinan itu datang dari diri sendiri.” Menurutnya, seseorang tidak bisa dipaksa menjadi pemimpin jika tidak ada kemauan kuat dari dalam dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab, menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilalui, banyak hal yang harus dipersiapkan, dan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Akan tetapi, bila seorang pemimpin berhasil, maka ia dapat mengubah kondisi yang tidak baik menjadi lebih baik. Oleh karena itu, menurut Yuswandi hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin yaitu mengubah dirinya sendiri sembari mengubah lingkungan di sekitarnya. “Karena tidak bisa dibohongi, kalau kepemimpinan itu kita paksakan, ya susah juga. Kita paksakan seseorang menempati suatu tempat, ya kondisi organisasinya terseok-seok, dia juga tertekan. Gak optimal. Yang seharusnya dia dicarikan kondisi yang optimal ya,” jelasnya.

Efek kepemimpinan pertama kali dirasakan oleh pemimpin itu sendiri. Selanjutnya nomor dua dirasakan oleh lingkungannya. Secara pribadi, lulusan program doktor dari Cornell University, Amerika Serikat, ini menilai sukses atau tidaknya kepemimpinan seseorang juga ditentukan oleh faktor lingkungan. “Idealnya, gerakan itu bersama. Mana kala ada signal akan sesuatu kebaikan, kebaikan itu bisa dilakukan bersama. Tingkat kepemimpinan itu berbeda-beda. Kalau dia struktural eselon empat dengan scoope-nya, semakin tinggi saya kira semakin besar tanggung jawabnya. Kebersamaan itu penting. Tahu ada sesuatu sesuatu kebutuhan bersama. Kalau saya mau me-reform, melakukan perubahan, perubahan itu bisa diterima oleh semua,” imbuhnya.

Lantas, apa upaya yang harus dilakukan seorang pemimpin agar bisa diterima oleh follower-nya? “Nah, untuk diterima oleh semua, itu harus dijelaskan kepada semua. Kalau ada dari semua itu tidak ikut, ya itu salah. Jadi dalam manajemen itu, sebetulnya kalau kita lihat bisa jadi diprediksi 10 persen yang mau positif, sedikit kan? Mungkin 30 persen yang bandel, yang 60 persen swing. Mau dibawa ke mana itu? Kalau 30 persen itu menarik teman yang 60 persen hancur menjadi 90 persen. Tapi kalau yang 10 persen itu bisa menarik yang swing, dia jadi majority. Mayoritas 70 persen. Style ya harus dibuka, dibuktikan bahwa yang dipikirkan dalam kepemimpinan itu sesuatu yang memperbaiki dari kondisi yang sekarang. Tapi kalau orang diajak untuk lebih baik dia gak mau seperti yang 30 persen tadi, ya ini mesti juga ada terapi yang lain lagi,” tegas suami dari Ervina Murniati ini.

Lebih lanjut, bapak tiga anak ini juga menyarankan agar mengamankan para swing voters karena mereka dinilai potensial diajak ke arah yang positif. “Itu sudah lumayan dengan derajat yang berbeda. Kemudian, waktu akan menentukan yang 30 persen itu akan ikut. Itu teori matematikanya. Kita harus cek,” jelas beliau.

Kendati sudah mendapatkan dukungan dari banyak orang, seorang pemimpin tidak boleh berpuas diri. Ia harus mampu menguji konsep yang ia tawarkan dan harus mampu bekerja dengan profesionalitas yang baik. Jika hal tersebut tidak dilakukan, lambat laun para follower‑nya tidak akan menggubris apa yang ia katakan. “Kalau tidak profesional, tidak mempunyai kemampuan, orang bisa ikut namun ikut dengan terpaksa,” ujar Yuswandi.

Apa yang dikemukan Yuswandi tentang kepemimpinan tentunya berdasarkan pengalaman beliau yang sudah bertahun-tahun berkarir di pemerintahan. Tercatat pada tahun 1999 hingga 2001, beliau pernah menjadi Asisten Deputi Urusan Moneter Deputi I, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (EKUIN). Tahun berikutnya hingga tahun 2002, beliau menjabat sebagai Direktur Bina Investasi Daerah Ditjen Otonomi Daerah, Departemen Dalam Negeri. Selanjutnya, pada 2002 hingga 2004, beliau menjabat sebagai Kepala Pusat Administrasi Kerjasama, Departemen Dalam Negeri. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Yuswandi menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran, Kementerian Dalam Negeri. Sebelum menjadi menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, beliau juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri.

Ketika ditanya tentang kepemimpinan dalam perspektif gender, Yuswandi berpendapat bahwa ukuran kepemimpinan tidak dilihat dari gender saja melainkan kapasitasnya. “Perempuan itu beruntung. Kenapa saya katakan beruntung? Mencarinya susah. Jadi, kalau ada yang menonjol, kita tidak usah berbicara perspektif gender. Ada yang menonjol saja, gak ngawur, itu pasti ‘ditangkap’. Sekali lagi, tuntutan manajemen harus intelek terlepas dari gender. Kita tidak bisa lepaskan perempuan dan laki-laki,” tegas Yuswandi.

Menurutnya hal yang paling penting kembali kepada perempuan itu sendiri walaupun pertimbangan affirmative perlu dikedepankan. Ia menambahkan bahwa seorang karakter pemimpin itu berbeda-beda. “Ada orang yang bicara dengan konsep, ada orang yang bicara dengan koordinasi-bergantung orang dan penempatannya. Jadi seharusnya gender itu tidak menjadikan sesuatu penghalang bagi proses rekruitmen kepemimpinan,” jelasnya.

Menjadi salah satu pemimpin di Kementerian Dalam Negeri tentu tidaklah mudah. Apalagi Kementerian Dalam Negeri memiliki peran sangat strategis dan menjadi poros pemerintahan. Oleh karena itu, Yuswandi menilai bahwa setiap direktorat yang ada di Kementerian Dalam Negeri harus menjalankan perannya masing-masing dengan baik. “Saya tipe orangnya terbuka. Saya ingin keterbukaan itu bisa mendapatkan kebaikan. Caranya mungkin harus kita diskusikan. Bisa saja yang saya pikirkan tidak benar. Saya harus menerima kebenaran itu. Jadi, mencari suatu kebenaran itu suatu keharusan. Apabila kebenaran itu sudah kita peroleh, biasanya di alam pekerjaan dirumuskan di dalam norma-norma pengaturan. Mari kita ikuti norma itu. Bahasa sederhananya, jadilankanlah itu menjadi teman,” jelas Yuswandi.

Berkaitan dengan pembangunan daerah, Yuswandi memiliki harapan yang tinggi kepada Direktoral Jenderal Bina Pembangunan Daerah. “Pembangunan daerah dengan struktur yang baru itu dikonotasikan dalam bentuk urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Kalau urusan pendidikan sukses, maka pembangunan di bidang pendidikan sukses. Urusan pertanian sukses, syukur urusan irigasi dan pengairannya sukses,” jelas Yuswandi.

Kesuksesan kepemimpinan tidak lepas dari dukungan keluarga. Hal tersebut begitu dirasakan oleh Yuswandi. Menurutnya, salah satu dukungan terpentingan dari keluarga yaitu berupa doa. “Kita tidak tahu bahwa kita berdoa tidak dikasih atau tidak. Ternyata dikasih tuh. Buktinya kita sehat. Pada ukuran tertentu kita bahagia, ukuran tertentu kita dikasih kedudukan. Ukurannya ya, ukurannya dikasih,” ungkapnya.

Seorang pemimpin harus dekat dengan Tuhan. Begitulah Yuswandi berpesan. “Doa itu manjur. Jangankan doa, Tuhan akan berikan. Yang kita pikirkan saja itu bisa saja bahwa menjadi permintaan di mata Tuhan. Siapa yang yang memperkirakan bahwa besok ini, sekarang ini tidak bisa kita gambarkan adalah permintaan kita,” imbuh Yuswandi.

Salah satu hal yang dilakukan Yuswandi untuk mendapatkan mendapatkan inspirasi yaitu mencari suasana pedesaan. “Kalau senggang, jika dikasih opsi, saya cari kehijauan. Lebih mendukung inspirasi saya,” ungkap Yuswandi. Selain itu, menurutnya inspirasi juga bisa diperoleh ketika membaca otobiografi orang lain, berinteraksi dengan teman-teman, atau mungkin bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal.

Keberhasilan sebuah organisasi atau lembaga tidak hanya ditentukan oleh seorang pemimpin. Melainkan juga ditentukan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oleh sebab itu Yuswandi berpesan, “Kembalikan kepada orangnya, pekerjaanya sudah menunggu, laksanakan pekerjaannya, tingkatkan kapasitasnya, sesuai dengan mandat yang dikerjakan, dan ini akan snow bowlling. Terus perbaiki. Semakin baik, kita semakin ditengok orang. Semakin baik lagi tapi jangan lupa bahwa setiap orang ada kelebihan dan kekurangan.”

Menyapa Dewi Anjani: Sebuah Catatan Perjalanan

Catatan Pendakian Gunung Rinjani

Oleh: Mahfud Achyar

Dari kecil hingga sekarang, saya selalu berambisi untuk bisa mengelilingi dunia. Tidak hanya mengelilingi dunia, saya juga ingin sekali bisa mengeksplorasi luar angkasa. Bagi saya, hidup itu dinamis. Hidup itu bergerak. Hidup itu berpindah-pindah. Saya ingin terus bergerak, saya ingin terus berjalan, saya ingin melihat hal-hal yang baru pada setiap jengkal yang ada di semesta ini.

Barangkali saya adalah seorang anak manusia yang candu untuk berkhayal dan bermimpi. Saya pikir, keinginan untuk mengeksplorasi semesta adalah impian yang sederhana. Namun itu dulu, saat masih kekanak, saat imajinasi saya tanpa batas. Ya, begitulah hidup. Kadang hal yang kita pikir sederhana, pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Mengutip kata Sujiwo Tejo, “Hidup tidak sebercanda itu.”

Saat menjadi dewasa, saya sempat berpikir untuk mengubur cita-cita menjadi seorang petualang sejati. Entahlah, semakin dewasa pikiran saya semakin kompleks. Perlahan, saya mulai menepis angan dan harapan saya untuk bertualang. Saya kemudian disibukkan dengan rutinitas sebagai orang dewasa yang menjemukan. Apalagi tinggal di kota besar seperti Jakarta, saya harus berpacu dengan waktu. Jika saya memiliki manajemen waktu yang buruk, maka saya harus siap dengan segala konsekuensi yang menyebalkan. Bila terlambat bangun, saya kemungkinan akan telat tiba di kantor. Bila saya mengundur-undur pekerjaan, maka saya akan kelabakan saat deadline sudah di ambang mata. Maka mau tidak mau, saya harus cerdik memanipulasi waktu, bagaimanapun caranya.

Masyarakat urban Jakarta juga terbiasa dibangunkan secara paksa oleh alarm dari jam weker atau ponsel pintar bernada keras. Alarm adalah monster yang mengusik rasa tentram saat kita sedang asyik-asyiknya dibuai mimpi. Pun demikian, itulah Jakarta. Sebuah kota yang terus hidup. Sebuah kota di mana impian-impian terus dibangun dan disangkutkan pada langit malam yang jarang terlihat gemintang.

Di hadapan saya, terbentang berbagai pilihan. Tugas saya hanya memilih. Maka, sebagai manusia dewasa, saya memilih untuk menikmati takdir hidup yang saat ini saya jalani. Untuk apa harus berkeluh kesah, sementara ada semilyar nikmat yang patut untuk saya syukuri. Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup saya adalah kesempatan untuk menjelajahi bumi Nusantara. Sebuah negeri dengan sejuta pesona. Sebuah negeri yang keindahannya membuat saya bangga karena lahir, tumbuh, dan hidup di negeri ini. Sejujurnya, saya belum mengunjungi setengahnya wilayah Indonesia. Namun saya berkeyakinan, suatu saat, saya akan melunasi hutang untuk menjelajahi Indonesia.

Salah satu pengalaman hidup yang tidak akan pernah saya lupakan yaitu saat saya bersama teman-teman saya melakukan ekspedisi pendakian ke gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya bersama tiga belas sahabat saya mendaki gunung Rinjani tahun kemarin. Tepatnya pada tanggal 13 hingga 17 Mei 2015. Beruntung saat itu kami berhasil mendapatkan tiket pesawat promo sehingga kami bisa menghemat anggaran perjalanan untuk keperluan lainnya.

Sejujurnya, bila mendaki gunung saya selalu takut dan khawatir. Entahlah, perasaan semacam itu selalu datang menghantui saya meskipun saya sudah mati-matian untuk membunuhnya. Saya kadang berpikir bahwa saya memiliki fisik yang tidak begitu kuat, saya takut jika terkena hipotermia, dan saya merasa sedih bila akhirnya saya tidak mencapai puncak. Saya pun kemudian berusaha menenangkan pikiran dan perasaan saya, “Oh tenanglah anak muda, semuanya akan berjalan baik-baik saja. Tidak hal yang patut dikhawatirkan. Persiapkan dirimu dengan baik. Biarkan jiwamu bebas bersama alam.”

Untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, saya pun rutin untuk olahraga (lari dan berenang), istirahat yang cukup, dan mempersiapkan logistik pendakian. Saya tidak ingin meremehkan apa pun, namun saya juga tidak ingin khawatir berlebihan. Setiap harinya, saya dan teman-teman saya berkoordinasi melalui grup WhatsApp. Kami membahas banyak hal. Mulai dari membahas jadwal latihan fisik, perlengkapan pendakian, konsumsi, akomodasi, dan hingga membahas hal-hal di luar konteks pendakian seperti jodoh-menjodohkan. Ya begitulah anak muda, obrolan seperti tidak akan luput dari pembahasan mereka (termasuk saya juga).

Kami tiba di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada hari Rabu (13/05/2015), pukul 07.55 WITA. Di bandara, kami sudah dijemput oleh beberapa porter yang sudah jauh-jauh hari dihubungi oleh salah satu teman saya. Menurut teman saya sudah pernah ke sana, sebaiknya bila mendaki gunung Rinjani, kita harus menggunakan jasa porter. Kendati kita mampu untuk membawa beban dalam tas carrier yang berkilo-kilo, namun dengan menyewa jasa porter, setidaknya kita sudah memberdayakan warga Lombok yang sebagian besar berprofesi sebagai porter.

Dari bandara, kami pun melaju ke desa Simbalun yang merupakan salah satu pos menuju puncak gunung Rinjani. Menurut informasi yang saya dengar, pos Sembalun merupakan pos yang paling populer bagi para pendaki dibandingkan pos Senaru dan pos Torean. Beberapa catatan perjalanan pun merekomendasikan untuk memilih pos Sembalun karena dinilai lebih banyak bonusnya (istilah para pendaki bila ada jalur yang landai). Tim kami pun juga bersepakat untuk pergi melalui jalur Sembalun dan pulang melalui jalur Senaru.

Perjalanan selalu menghadirikan cerita-cerita yang tidak terduga. Kami yang berjumlah 14 orang ternyata memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Namun dari perbedaan tersebutlah kami sepertinya bisa menjadi tim yang hebat. Ada orang yang bertugas menjadi time keeper, ada yang bertugas sebagai dokumentator yang handal, ada yang bertugas sebagai pengusik kesepian, ada yang bertugas sebagai koki, dan tentunya ada yang bertugas sebagai penikmat sejati dalam setiap obrolan yang takberkesudahan. Terkesan acak namun sesungguhnya terlihat sistematis. Alam membuat kita memainkan peran masing-masing. Tidak perlu dipaksakan, semuanya berjalan apa adanya.

IMG_3908
Pos 1 Sembalun 

Setiap kali memulai perjalanan, kami selalu berdoa dan melakukan pemanasan. Menurut kami, dua hal tersebut merupakan hal yang sangat krusial. Sebab di alam terbuka, kita bukanlah siapa-siapa. Kita hanya manusia biasa. Tidak ada yang perlu ditaklukkan, tidak ada yang perlu disombongkan. Kita tidak perlu memaksa diri untuk menyatu dengan alam. Biarkan kita beriringan bersama alam agar tercipta harmoni yang indah. Pemanasan kami lakukan untuk menghindari kemungkinan cedera otot. Maklum, perjalanan yang kami tempuh sangat sangat panjang. Kami butuh fisik yang prima agar misi kami menyapa Dewi Anjani bisa terwujud.

Sepanjang perjalanan dari Sembalun, yang terlihat adalah sabana yang sangat luas. Saya membayangkan diri menjadi seorang Frodo yang bertualang bersama sahabat-sahabatnya. Ah, kadang mencuri imajinasi anak kecil terasa sangat menyenangkan. Kita tidak perlu terjebak dalam pikiran-pikiran manusia dewasa yang banyak aturan.

IMG_3919
Sabana Sembalun, Gunung Rinjani (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Akan tetapi, pendakian tidak melulu soal hal-hal yang menyenangkan. Kendati kami disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah, namun tidak bisa dipungkiri kami merasa lelah. Tas carrier yang memiliki beban yang cukup berat membuat otot saya terasa perih, pegal, dan sakit. Ada momen di mana saya ingin sekali melempar tas carrier yang mengesalkan. Namun saya ingat sebuah kutipan dari Haruki Murakami, “Pain is inevitable. Suffering is optional.” Kesakitan hanyalah ilusi dari kebahagiaan yang berlebihan. Saya pun berusaha fokus untuk terus melangkah, sesekali berhenti. Seringkali saya menutup kedua mata yang dilindungi kaca mata berminus 4. Saya pun kemudian membiarkan angin gunung menyapu wajah saya dengan sangat lembut. Saya mencoba mensugesti diri saya dengan pikiran positif, “Saya sudah berjalan cukup jauh. Saya tidak akan pernah kembali sebelum saya menuntaskan perjalanan ini.”

Perlahan senja merangkak malam. Kabut tebal mulai menyergap jalanan setapak yang kami lewati. Matahari memutuskan untuk kembali keperaduannya. Langit yang sedari tadi berwarna biru seketika berubah menjadi berwarna abu-abu. Dalam hitungan menit, langit menjadi gelap pertanda malam sudah datang. Sementara, angin di Sembalun semakin tidak bersahabat. Terasa menusuk kulit tipis saya yang hanya dibalut manset berwarna hitam. Saya masih ingat pesan teman saya, “Jangan terlalu cepat menggunakan jaket jika udara sudah terasa dingin. Biarkan tubuh kita berkompromi dan beradaptasi dengan baik dengan angin  gunung.”

Demi keselamatan, kami pun memutuskan untuk mengeluarkan headlamp yang menjadi lentera yang menemani perjalanan malam kami. Saat itu, tidak terdengar tawa ataupun curhat yang keluar dari mulut teman-teman saya. Kami hanya fokus melihat ke bawah, memastikan kami menginjak tanah yang solid. Tujuan utama kami yaitu pos 3,5 yang akan kami jadikan sebagai rumah untuk mengistirahatkan tubuh yang terasa sangat lelah.

Semakin malam, angin berhembus semakin kencang. Malam kian pekat. Dari kejauhan, saya melihat cahaya-cahaya kecil yang ditimbulkan dari senter para pendaki. Rupanya masih begitu banyak para pendaki yang hendak mencapai Plawangan Sembalun. Malam sudah kian larut dan terasa lebih dingin. Sesampai di pos 3,5 kami pun mendirikan tenda dan masak untuk makan malam. Betapa bahagianya kami karena perut kami sudah diisi dengan santapan yang lezat. Kami berterima kasih kepada dua porter kami yaitu Bang Herkules dan Ama Ida.

Sebelum tidur, saya mendongakkan kepala saya ke atas. Sontak saya hanya bisa terdiam. Betapa tidak, pemandangan langit malam itu sangat indah. Barangkali saya tidak akan terlalu mahir mendeskripsikannya. Jarang, sangat jarang saya melihat langit malam yang bertabur bintang. Mungkin ada sekitar semilyar bintang. Ah, mungkin jumlah bintang-bintang malam itu tidak terhingga. Layaknya seorang bocah, saya hanya bisa terpana sembari mengarahkan jari telunjuk saya untuk menerka kira-kira rasi bintang apa saja yang bisa saya lukis. Saya berharap kenangan malam itu terus mengabadi hingga kapan pun. Hanya itu pinta saya.

Keesokan paginya, kami pun bergegas untuk menuju Plawangan Sembalun. Tantangan terberat menuju Plawangan Sembalun adalah, kami harus menanjang 7 Bukit Penyesalan. Menurut rumor yang saya dengar, penamaan 7 Bukit Penyesalan lantaran medan pendakian yang cukup menanjak dan sedikit bonusnya. Takjarang banyak para pendaki dibuat kewalahan oleh bukit-bukit tersebut. Padahal sebetulnya pemandangan selama jalur tersebut tidak kalah indahnya dibandingkan sabana Sembalun. Mata saya dimanjakan dengan hijaunya reremputan, rindangnya pohon pinus yang berjejer rapi, serta kepulan kabut tipis yang berlari-lari di antara ranting pepohonan.

IMG_3981
7 Bukit Penyesalan, Sembalun (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Waktu tempuh dari 7 Bukit Penyesalan ke Plawangan Sembalun sekitar 5 jam. Lagi-lagi bergantung kemampuan pendaki. Bila pace lebih cepat, tentu durasi pendakian bisa dipangkas. Begitu juga sebaliknya. Seingat saya, kami tiba di Plawangan Sembalun sore hari. Saat itu, kabut tebal seolah menjadi perisai gunung Rinjani. Namun beruntungnya angin sore tampak tidak begitu simpatik dengan kabut. Perlahan kabut pun diusir sehingga matahari bisa menyambut kedatangan kami dengan peluk hangat. Sempurna!

IMG_4018
Plawangan Sembalun (Foto oleh: Mahfud Achyar)

IMG_4050
Pemandangan di Plawangan Sembalun (Foto oleh: Mahfud Achyar)

IMG_4161
Plawangan Sembalun di Kala Senja (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Kami pun memutuskan untuk menginap di Plawangan Sembalun. Esoknya, waktu dini hari, kami bersiap untuk summit ke puncak Anjani.

Plawangan Sembalun, pukul 00.30 WITA. Kami berdoa, meregangkan badan, menyiapkan bekal seadanya, menyalakan headlamp, dan mulai melangkah perlahan menuju puncak Anjani. Medan yang kami lewati yaitu pasir berkerikil. Kami berjalan dengan ritme yang tidak terlalu cepat, agak santai. Tujuan kami sederhana, tiba di puncak dengan selamat.

Sepanjang pendakian mencapai puncak, saya dilanda rasa kantuk yang tidak tertahankan. Entahlah, barangkali karena semakin tinggi, kadar oksigen semakin menipis. Beberapa kali saya sempat tertidur walau hanya beberapa menit. Bahkan saya sempat berjalan sambil tertidur. Beruntung Tuhan sangat baik kepada saya. Padahal sisi kiri dan kanan menuju puncak adalah curang yang sangat curam. Kondisi saya yang mengantuk parah membuat saya berpikiri untuk menghempaskan tubuh di atas pasir gunung Rinjani yang terasa dingin. Namun, saya harus terus berjalan kendati harus pelan, kendati kadang harus merangkak.

Sesekali, saya melihat jam tangan dengan sorotan penerangan dari headlamp yang mulai meredup. Saya ingin memastikan saya sudah berapa lama kami berjalan. Tidak terasa, fajar segera menyingsing. Sementara bulan purnama sempurna masih saja bertengger cantik. Tiba-tiba, salah seorang teman saya bersorak, “Hai teman-teman! Lihat bulan purnama itu! Posisinya berada di bawah kita. Jarang-jarang kan bulan bisa kita lihat dari atas, bukan dari bawah.” Kami semua pun baru menyadari memang bulan purnama terlihat di bawah. Suasana hening saat itu berubah menjadi gelak tawa yang menggelikan.

Semakin ke atas, udara semakin dingin. Beberapa kali saya membasahi bibir saya agar tidak kering. Bahkan saya juga menutup bibir dengan menggunakan bandana berwarna coklat. Namun nyatanya kain tipis itu harus mengaku kalah dengan kekuatan angin gunung Rinjani. Bibir saya berdarah. Terasa asin. Saya mulai panik. Namun, saya berusaha tenang sembari tetap membasahi bibir saya agar pendarahannya bisa berhenti.

Akhirnya, fajar pun tiba. Langit malam tersapu dengan cahaya mentari yang mulai unjuk diri. Terlihat jelas warna kuning keemasan mulai menyapu langit yang tadi berwarna hitam keabu-abuan. Ah, itu matahari segera tiba. Saya sangat bahagia. Betapa tidak, saya rindu sekali dengan hangatnya sinar mentari. Saya berharap rasa dingin yang menempel pada jaket polar berwarna hijau stabilo yang saya kenakan bisa enyah.

IMG_4189
Sunrise di Gunung Rinjani (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Kami terus berjalan. Di depan mata kami sudah terlihat puncak Anjani yang indah dan menawan. Kami tidak sabaran untuk segera tiba di sana. Satu, dua, tiga. Saya hanya bisa menghembuskan napas dengan sangat perlahan. Yap, akhirnya saya berada di puncak Anjani, gunung Rinjani. “Hai Dewi Anjani. Saya hadir ke sini untuk menyapamu. Saya mengagumimu di atas ketinggian 3,726 mdpl.”  – end.

IMG_4231.JPG
Danau Sagara Anak (Foto oleh: Mahfud Achyar)

IMG_4200
Sunrise di Puncak Rinjani (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Liveable City Ala Ridwan Kamil

oleh: Mahfud Achyar

Ridwan Kamil - Foto Mahfud Achyar (2)
Ridwan Kamil dalam Forum FPCI (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil, barangkali adalah salah satu tokoh di Indonesia yang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Kendati ia menjabat sebagai walikota Bandung, Emil dikenal luas oleh masyarakat lantaran aktif berinteraksi dengan masyakat (netizen) melalui media sosial miliknya seperti Instagram, Facebook, dan juga Twitter.

Kerap kali Emil berujar bahwa ia adalah ‘Anak Twitter’ yang menjadi walikota. Maka takheran di sela-sela kesibukannya menjadi wali kota Bandung, Emil masih sempat menulis buku yang berjudul “#Tetot: Aku, Kamu, dan Media Sosial” yang diterbitkan pada tahun 2014 lalu. Buku tersebut berisi tentang pengalaman Emil, baik sebelum mendapatkan amanah menjadi walikota Bandung maupun sesudahnya. Ia berharap buku tersebut dapat menginspirasi banyak orang berkaitan dalam membangun dan mendesain kota yang livable.

Mercer’s Quality of Living Survey setiap tahunnya mengeluarkan daftar kota yang mendapatkan predikat sebagai “The World’s Most Livable Cities”. Survey ini membandingkan 215 kota berdasarkan 39 kriteria seperti keamanan, pendidikan, kebersihan, rekreasi, stabilitas politik-ekonomi, dan transportasi public.

Selain itu, The Economist juga melansir survei standar hidup setiap tahunnya. Pada tahun 2015 ini, kota Melbourne di Australia menduduki peringkat pertama sebagai “The World’s Most Livable City” kemudian pada peringkat runner-up diraih oleh kota Vienna, Austria.

Pada laman resmi The Economist, kriteria sebuah kota dikatakan sebagai livable city yaitu, “The ranking, which considers 30 factors related to things like safety, healthcare, educational resources, infrastructure and environment in 140 cities, shows that since 2010 average liveability across the world has fallen by 1%, led by a 2.2% fall in the score for stability and safety.” (The Economist, 18 Agustus 2015).

Menyoal livable city, Emil yang juga sebagai seorang arsitektur berupaya mewujudkan Bandung sebagai kota yang berbahagia melalui peningkatan indeks kebahagiaan. Emil mengatakan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari GDP (Gross Domestic Product) atau PDB (Produk Domestik Bruto), melainkan juga dilihat dari Happiness Index. Indonesia sendiri menduduki posisi 19 dari 150 negara. “Inovasi happiness adalah konsep yang usung untuk memperbaiki value di Bandung,” kata Ridwan Kamil saat Conference & Expo Indonesia Knowledge Forum III di Jakarta. (Tribunnews, 10 Oktober 2014).

Untuk mewujudkan cita-cita Emil menjadikan Bandung sebagai “Kota yang Berbahagia”, walikota yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Oktober 1971 ini menggulirkan program-program pamungkas di antaranya membuat taman tematik seperti Taman Jomblo, Taman Film, Taman Skate, Taman Pustaka Bunga, Taman Binatang Peliharaan (Pet Park), Taman Fotografi, Taman Musik Centrum, Taman Persib, Taman Super Hero, dan sebagainya.

IMG_5691
Gerbang Menuju Alun-Alun Kota Bandung

Emil berupaya menyediakan RTH (Ruang Terbuka Hijau) lebih banyak lagi dengan harapan warga Bandung khususnya dan juga warga di luar Bandung umumnya dapat menikmati suasana kota Bandung dengan hati riang gembira.  Dalam forum Super Mentor 3, Emil mengatakan bahwa untuk membuat orang lain bahagia dapat dilakukan dengan hal-hal yang sederhana seperti menyediakan ruang terbuka hijau yang memungkinkan orang-orang bisa berkumpul, saling menginspirasi, dan berbuat sesuatu yang positif untuk Bandung dan juga Indonesia.

Tidak hanya mempercantik kota ‘Kembang’ dengan taman-taman yang ciamik, putra dari pasangan Atje Misbach Muhjiddin dan Tjutju Sukaesih ini juga menggulirkan program-program inovatif seperti Culinary Night yang menjadi sarana bagi warga Bandung dalam mengembangkan jiwa entrepreneurship. Selain itu, bagi turis yang ingin berkeliling kota Bandung dapat menaiki Bandung Tour on de Bus (bus wisata Bandros) yang didesain unik menyerupai bus klasik di Eropa. Salah satu hal menarik lainnya di Bandung adalah, Emil juga memfasilitasi warga Bandung untuk ‘nonton bareng’ pertandingan klub sepak bola kebanggaan Bandung yaitu Persib yang digelar di Taman Film yang berlokasi di Jalan Layang Pasupati, Bandung.

Sejak menjabat sebagai walikota Bandung pada tahun 2013, telah banyak penghargaan yang dialamatkan untuk Bandung. Ridwan Kamil dan wakilnya, Oded M. Danial, tercatat telah menerima sekitar 149 penghargaan. Berbagai penghargaan yang diterima tidak lepas dari berbagai peran banyak pihak yang turut menyukseskan berbagai program yang dijalankan selama kurun waktu dua tahun ini. Prestasi paling anyar yaitu kota Bandung masuk finalis 6 besar dunia untuk inovasi Smart City dari World Smart City Organization di Barcelona. Pada fan page di Facebook, Ridwan Kamil mengatakan bahwa Bandung bersaing dengan kota-kota seperti Moskow, Dubai, Buenos Aires, Curitiba, dan Peterborough. “Bandung diapresiasi karena banyak memberikan ruang bagi warga untuk berinteraksi aktif dalam mengawasi pembangunan kota dengan inovasi “Connected Citizens: Encouraging Participatory Governance” seperti citizen complaint online, rapor camat/lurah oleh warga (SIP), monitoring program kerja Pemkot (Silakip), perizinan online (Hayu U), komunikasi aktif warga melalui akun Twitter setiap dinas, dan sebagainya,” tulis Emil (18/11/2015).

Pada hari jadi kota Bandung yang ke-205, suami dari Atalia Praratya Kamil ini berharap agar warga Bandung menjadi masyarakat paling bahagia se-Indonesia.  Kepada warga Bandung, Emil berpesan agar senantiasa mencintai Kota Bandung dengan aksi dan solusi. Dia meminta agar warga Bandung memperlakukan kotanya seperti ibu sendiri. (Kompas.com, 23 September 2015).

“Kini bukan jamannya mengubah jaman sendirian. Kita perlu bersama-sama, kita perlu berkolaborasi. Kolaborasi itu ibarat kunci pintu rumah yang bernama masyarakat madani,” pesan Emil.

‘WARDAH’ Kampanyekan Tiga Konsep Cantik!

Nurhayati Subakat
Nurhayati Subakat

Nurhayati Subakat, istri dari Subakat Hadi dan ibu dari tiga anak ini lahir di Padang PanjangSumatera Barat, 64 tahun yang lalu. Ia adalah seorang pengusaha kosmetik asal Indonesia. Yang mendirikan PT Pusaka Tradisi Ibu, yang mengelola merek kosmetik muslimah Wardah dan Zahra. Nurhayati merupakan putri kedua dari delapan bersaudara yang berasal dari Minangkabau. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota kelahiran, Padang Panjang. Kemudian ia merantau ke tanah jawa guna melanjutkan pendidikannya di Jurusan Farmasi, Institut Teknologi Bandung.

Nurhayati memulai kariernya sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Padang. Kemudian ia pindah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan kosmetik Wella, sebagai staf quality control. Dari situlah ia mencoba berinsiatif untuk berbisnis sendiri. Pada tahun 1985, ia memulai usahanya dari industri rumahan dengan memproduksi sampo bermerek Putri. Sukses membesut produk pertama, ia mendirikan pabrik di Cibodas dan Tangerang. Selain sampo, kini produk-produknya juga mencakup perawatan kulit, perlengkapan make-up, hingga produk bayi. “Latar belakang saya di bidang farmasi tentu sangat mendukung dengan bidang bisnis yang saya jalankan saat ini. Karena dengan dasar ilmu yang memadai, kami bisa membuat produk kosmetik sesuai dengan standar CPKB/GMP (Good Manufacturing Practice) dan bisa menghasilkan produk yang aman digunakan. Tidak asal meracik saja,” ungkap Nurhayati.

Di Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam, kemunculan produk kosmetik untuk Muslimah dan bersertifikat halal menjadi salah satu alternatif yang sangat solutif. Namun produk Wardah tidak mengkhususkan diri hanya dipakai untuk wanita Muslimah saja karena sekarang pengguna Wardah sangat universal dan berasal dari kalangan manapun.

Di awal-awal membangun brand Wardah, Nurhayati mengatakan bahwa perlu usaha yang sangat keras. Namu pada akhirnya Wardah meyakini  bahwa kualitas di atas segalanya. Ketika orang puas dengan produk Wardah, informasi tersebut akan menyebar sebagai rekomendasi dari mulut ke mulut. Selain aktivitas promosi seperti memasang iklan, Wardah memutuskan untuk mengambil brand positioning yang saat itu belum populer sama sekali, yakni kosmetik untuk Muslimah dengan label halal.

Pada tahun 2002 hingga 2009, Wardah melakukan inovasi dalam hal branding, mulai dari menyusun portfolio brand agar Wardah tampil modern dan universal seperti membuat iklan tvc, dan meluncurkan campaign-campaign yang segar seperti “Travel In Style” yang akhirnya booming dan mengukuhkan Wardah sebagai brand kosmetik yang inspiratif. “Kami juga mengaktifkan media digital dan social media yang saat ini sangat populer. Alhamdulillah, kami memiliki basis konsumen loyal yang tinggi. Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini, kami juga cukup intens mengkampanyekan Earth, Love, Life dan True Colors sebagai umbrella campaign dari seluruh aktivitas brand Wardah,” jelas Nurhayati.

Banyak hal yang dilakukan Wardah untuk membesarkan brand di kalangan masyarakat umum, di antaranya memilih inspiring Brand Ambassador, ikut berpartisipasi di event-event besar dan menjadi sponsor official make up pada acara-acara televisi ternama dan mendukung berbagai aktivitas sosial melalui program CSR (Corporate Social Responsibility). “Memang butuh waktu supaya Wardah dapat dilirik orang, namun dengan positioning brand yang pas dan tepat kepada wanita Indonesia sekarang,” imbuh Nurhayati.

Pada awal-awal launching, kosmetik dengan label halal yang menggunakan atribut wanita berkerudung menjadi hal yang belum populer, terlebih banyak kompetitor dan brand luar negeri yang menggunakan model tidak berjilbab. “Seiring dengan berjalannya waktu dan edukasi yg takhenti-hentinya kami lakukan kepada konsumen, akhirnya konsep Halal justru saat ini yang dicari, karena menurut survei yang kami baca, halal diidentik dengan rasa aman dan kenyamanan sehingga atribut halal menjadi hal yang dipertimbangkan dan memiliki keunggulan,” terang Nurhayati.

Berbagai penghargaan sudah banyak diterima oleh Wardah di antaranya adalah Top Brand Award 2014 dan 2015; Indonesia Most Favourite Woman Brand 2014; ICSA 2014; Superbrand 2014;  Nurhayati juga mendapatkan penghargaan “People of the Year 2015” sebagai Most Innovative Company; dan Anugerah Kepemimpinan Perempuan Indonesia.

Hampir sama dengan brand-brand lain yang sukses dan berhasil di pasaran terlebih dulu, Wardah bisa menerapkan marketing mix dengan sangat baik dengan menempatkan brand dan positioning yang pas dengan wanita Indonesia sekarang. Wardah dinilai sebagai kosmetik yang meaningful, inspiring, dan mengusung nilai-nilai positif. Faktor utama lainnya yaitu kualitas produk yang bagus (great product), harga yang sesuai (value for money), cocok untuk kulit wanita Indonesia, dan inovasi terus menerus. Wardah adalah salah satu brand yang sangat produktif dan cukup rajin mengeluarkan produk atau campaign terbaru sehingga konsumen merasa senang dan tidak bosan.

Wardah mengusung tiga konsep cantik yang tidak dimiliki oleh brand lain. Tiga konsep tersebut yakni Pure and Safe, artinya Wardah dibuat dari bahan-bahan berkualitas dan aman. Beauty Expert, artinya Wardah diciptakan untuk bisa memenuhi berbagai kebutuhan wanita akan sebuah produk kosmetik. Produk Wardah bisa digunakan untuk berbagai suasana. Mulai make-up harian yang simpel, hingga make-up untuk momen spesial seperti wisuda dan pernikahan. Inspiring Beauty, artinya Wardah meyakini bahwa kecantikan bukanlah hanya yang tampak dari luar, tapi juga harus dari hati. Wardah ingin semua wanita yang menggunakan Wardah bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang dan komunitas di sekitarnya. “Harapan kami bisa menjangkau lebih banyak konsumen dan meningkatkan image brand Wardah di mata konsumen. Wardah menjadi brand Indonesia nomor wahid saat ini.  Hal yang belum dicapai, kami ingin brand Wardah bisa lebih go international lagi,” tutupnya. [Mahfud Achyar & Rini Aprilia]

Resep Sukses Ala Chef ‘Abuba’

Photo Taken By: Luddy Prasetyo
Photo Taken By: Luddy Prasetyo

Belakangan ini, profesi chef atau juru masak kian digandrungi oleh banyak masyarakat Indonesia. Apalagi, banyak stasiun televisi swasta yang juga turut mempromosikan profesi chef melalui program pencarian bakat untuk mencari master chef yang handal dan profesional. Biasanya, ketika anak-anak Indonesia ditanya mengenai cita-cita, banyak di antara mereka yang berkeinginan menjadi seorang guru, pilot, polisi, astronom, dan sebagainya. Namun kini, cita-cita menjadi seorang chef menjadi salah satu pilihan utama. Betapa tidak, seorang chef dinilai piawai dalam meracik bumbu makanan, mengolah makanan, dan menyajikan makanan yang mengundang selera. Apalagi bisnis food and beverage terus berkembang dan dicari oleh banyak orang guna memanjakan lidah dalam berburu rasa.

Menjadi seorang chef sekaligus entrepreneur secara bersamaan tentu tidaklah mudah. Barangkali, itulah yang dialami oleh Abu Bakar saat pertama kali memiliki ide untuk mengembangkan bisnis kuliner khususnya makanan steak di Jakarta. Sebagaimana kita tahu, steak merupakan jenis makanan western berupa potongan daging yang dipanggang atau digoreng. Biasanya steak dapat nikmati di hotel-hotel berbintang atau restoran-restoran mewah. Namun Abu, begitu ia akrap disapa, berpikir bahwa steak seharusnya dapat dinikmati oleh banyak orang dengan harga yang terjangkau tanpa mengabaikan kualitas dari steak itu sendiri.

Bagi Anda penikmat steak di Jakarta tentu sudah tidak asing lagi mendengar nama restoran Abuba Steak. Restoran ini pertama kali dibuka di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kini, Abuba Steak semakin berkembang sehingga berhasil membuka 14 cabang outlet di berbagai kota khususnya di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Bogor. Menjadi sukses seperti sekarang tentu tidaklah mudah. Butuh proses yang panjang, kesabaran, dan pembelajaran yang takpernah henti-hentinya.

Lantas bagaimana resep sukses Abuba Steak sehingga bisa seperti sekarang? Tim redaksi HI News berkesempatan untuk mewawancarai putra tunggal pemilik Abuba Steak, yaitu Muhammad Ali Ariansyah di bilangan Cipete, Jakarta Selatan pada hari Rabu, (15/04/2015).

Ali mengatakan untuk menjadi sekarang memang butuh proses yang takmudah. Ia menceritakan bahwa ayahnya merupakan seorang anak yang lahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bahkan tidak memiliki bekal pendidikan formal yang mumpuni. Ia putus sekolah sejak duduk di bangku SD kelas 5 lantaran ayahnya menderita sakit dan akhirnya meninggal. Pada usia 13 tahun, Abu merantau ke Jakarta dengan harapan dapat memperbaiki kondisi perekonomian keluarganya. Awal-awal hidup di Jakarta merupakan kondisi yang sulit bagi Abu. Ia bekerja serabutan seperti menjadi kuli batu dan buruh.

Menjelang dewasa, tepatnya saat usianya ke-17 tahun, pria kelahiran Cirebon tersebut mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sebuah restoran di Kemang, Jakarta Selatan sebagai tukang cuci piring. Selanjutnya, ia pun dipercaya menjadi juru masak di berbagai restoran dan hotel terkemuka di Jakarta. Selama bergulat di dapur, Abu belajar banyak hal tentang berbagai menu masakan, baik lokal maupun western. Bekal ilmu yang ia dapat akhirnya memantapkan Abu untuk membuka restoran sendiri.

Menurut penuturan Ali, Abuba Steak yang berdiri sejak tahun 1992 bermula dari warung tenda di daerah Cipete, Jakarta Selatan. “Jika boleh cerita, Abuba Steak sendiri berawal dari ketidaksengajaan. Mengapa? Sebab saat itu ayah saya sedang menganggur cukup lama sekitar enam bulan. Kesulitan ekonomi terus menghimpit keluarga kami. Akhirnya ayah saya memutuskan untuk membuka usaha kuliner. Kami menjual beberapa macam menu makanan. Namun dari sekian banyak menu, steak menjadi menu favorit pelanggan kami. Dengan background dan experience sebagai chef yang dimilih ayah saya selama 25 tahun, ayah saya kemudian memutuskan untuk menjual steak,” jelas Ali.

Doa, kerja keras, dan semangat pantang menyerah merupakan kunci keberhasilan Abuba Steak. “Saya masih ingat dulu kita jualan di depan toko orang pada malam hari. Modal kami saat itu hanya 3 juta. Itu pun hasil tabungan sendiri dan pinjaman dari sahabat dan sanak saudara. Kemudian kami pun pindah ke salah satu gang di Kemang. Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah akhirnya kami memiliki modal yang cukup sehingga bisa menyewa tempat di Jalan Raya Cipete, No. 6 Jakarta Selatan. Tahun 2008, kami pindah lagi ke daerah yang cukup strategis dan memiliki tempat parkir yang memadai di Jalan Raya Cipete No. 14-A hingga sekarang,” kenang Ali.

Pada tahun 2004, Ali diberi kepercayaan oleh ayahnya untuk mengelola Abuba Steak. Saat itu ia baru selesai mengenyam pendidikan di Switzerland, mengambil program studi Hospitality (Perhotelan). “Kebetulan saya adalah anak satu-satunya. Saya ingin perusahaan ini dapat berkembang, semakin memberikan manfaat untuk orang banyak, dan lebih baik lagi,” ungkap Ali.

Dengan kepemimpinannya, Ali berharap stake holder dari Abuba Steak mendapatkan manfaat; customer yang mendapatkan produk yang lebih baik, tempat yang lebih nyaman dan representatif; dan karyawan Abuba Steak yang sudah mencapai 600 orang juga harus menerima hak mereka dengan baik dan layak.

Menghadapi persaingan, Abuba Steak optimis untuk terus berkembang. “Saya terus berusaha agar usaha ini bisa terus bertumbuh dan berkembang. Saya juga berharap Abuba Steak mampu bersaing dengan usaha-usaha lain, baik kompetitor yang baru bermunculan atau pun brand-brand yang datang dari luar,” jelas Ali dengan penuh keyakinan.

Ditanya mengenai makna berbagi, Ali menyatakan bahwa dengan berbagi usaha kita akan berkah. Hal itulah yang diajarkan oleh kedua orang tua saya. Sebab rezeki yang diterima dari Allah harus dibagi. Insya Allah lebih berkah. [Destie Mulyaningsih/Mahfud Achyar]

 

Ironi Pendidikan di Bumi Pertiwi

Tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau yang biasa disingkat Hardiknas. Tanggal 2 Mei dipilih sebagai Hardiknas sebab pada tanggal tersebut merupakan tanggal lahirnya salah satu tokoh pendidikan di Indonesia, yaitu Ki Hadjar Dewantara, tepatnya pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta.

 

Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara merupakan pahlawan nasional yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan di tanah air. Pada masa kolonialisme Belanda, ia berani menentang kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengeyam bangku pendidikan. Kritikan Ki Hadjar Dewantara kepada pemerintahan kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Negeri Kincir Angin.

Pada bulan September 1919, ia kembali dipulangkan ke Indonesia dan kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan bernama Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut) pada Juli 1922. Taman Siwa memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memeroleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Ki Hadjar Dewantara terkenal dengan semboyan pendidikan dalam bahasa Jawa, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.” Dalam bahasa Indonesia, semboyan tersebut diterjemahkan, “Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.” Selain menjadi tokoh pendidikan, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama. Ia meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959.

Ki Hadjar Dewantara boleh saja sudah tidak membersamai kita lagi. Namun, semangat dan pengorbanannya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia tidak boleh padam. Sebab, pendidikan adalah gerbang yang akan menghantarkan Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang berwibawa, dan bangsa yang memberikan kebermanfaatan yang luas untuk dunia. Hal tersebut juga semakin dikuatkan dengan janji kemerdekaan yang diucapkan langsung oleh Bapak Bangsa, Presiden Sukarno, yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, “……mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Namun, apakah cita-cita yang dikobarkan sejak 70 tahun yang lalu sudah kita dapatkan? Masalah pendidikan seakan menjadi pekerjaan rumah yang amat berat bagi bangsa ini. Betapa tidak, sejak kemerdekaan hingga saat ini masih banyak persoalan-persoalan pendidikan yang belum mampu untuk ditangani dengan baik.

Mari sejenak kita merenungkan data yang disampaikan oleh Sosiolog Pendidikan dan Kemasyarakat Universitas Indonesia, Hanief Saha Ghafur, yang menyebutkan angka buta huruf di Indonesia masih relatif cukup tinggi. Jumlah penduduk buta aksara di Indonesia usia di atas 15 tahun sebanyak 6,7 juta atau sekitar 4,2 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Selain itu, berdasarkan laporan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2010, tercatat 1,3 juta anak usia 7-15 tahun di Indonesia terancam putus sekolah. Tingginya angka putus sekolah disebabkan salah salah satunya karena mahalnya biaya pendidikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, seperti yang dilansir pada laman Okezone, mengatakan pihaknya menginginkan dukungan terhadap para pelajar yang berpotensi putus sekolah lebih diintensifkan. Lebih lanjut, Anies menilai bahwa konsekuensi dari putus sekolah berimplikasi dalam aspek kesejahteraan dan permasalahan sosial lainnya.
Selain masalah buta aksara, masalah lain dari dunia pendidikan di Indonesia adalah Sistem Pendidikan Nasional (Sidkinas) yang dianggap belum berhasil menemukan formula tepat. Bahkan, media Aljazeera seperti yang dilansir Okezone menyebutkan sistem pendidikan di Indonesia sama dengan sistem pendidikan di zaman batu yang masih mengedepankan budaya menghafal, bukan berpikir kreatif.

Kualitas pendidikan di Indonesia semakin dipertanyakan. Kondisi demikian membuat Indonesia semakin tertinggal jauh dibandingkan negara-negara seperti Jepang dan Finlandia. Berbagai persoalan pendidikan yang mendera Indonesia di antaranya yaitu rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.Lantas jika begitu, siapa yang harus disalahkan? Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah semata. Kendati hal tersebut memang tugas utama pemerintah. Namun sebagai civil society, kita juga dapat berperan aktif guna memajukan pendidikan di bumi pertiwi.

Terakhir, saya mengutip ungkapan sederhana dari Anies Baswedan, “Daripada kita lipat tangan, lebih baik kita turun tangan untuk melunasi janji kemerdekaan.” [Mahfud Achyar]

Stone Garden, Tawarkan Pesona Bandung Zaman Purba

Oleh: Mahfud Achyar

Stone Garden, Padalarang, West Java. Mahfud Achyar's photo.
Stone Garden, Padalarang, West Java. Mahfud Achyar’s photo.

Bandung takmelulu diidentik dengan aneka kuliner yang mengundang selera, wisata fesyen yang ternama, atau mungkin taman kota yang tertata. Bagi Anda yang bosan dengan wisata di Bandung yang itu-itu saja, kini ada baiknya Anda mulai mencari destinasi wisata yang takbiasa.

Salah destinasi wisata di Bandung yang ramai menjadi perbincangan para netizen di media sosial yaitu Stone Garden. Memang, lokasi Stone Garden tidak persis berada di pusat kota Bandung melainkan berada di Padalarang Kabupaten Bandung Barat. Bagi Anda yang terbiasa ke Bandung, tentu sudah tidak asing lagi mendengar nama daerah tersebut. Sebelum kita mengenal lebih jauh tentang Stone Garden, ada baiknya kita perlu mengetahui sekilas tentang asal-usul Bandung. Ada yang sudah tahu?

Menurut catatan para geologi, kawasan Bandung dan sekitarnya bisa diibaratkan mangkuk bentukan bumi ratusan ribu tahun lalu. Bentangan alam itu terbiasa disebut Cekungan Bandung yang berbentuk elips dengan arah timur tenggara-barat laut, dimulai dari Nagreg di sebelah timur hingga ke Padalarang di sebelah barat. Jarak horizontal cekungan sekitar 60 kilometer. Ada pun jarak utara-selatan sekitar 40 kilometer. Cekungan Bandung dikelilingi oleh jajaran kerucut gunung api berumur kuarter. Hanya bagian barat Cekungan Bandung yang dibatasi batuan berumur tersier dan batu gamping. (Kompas.com, 12 April 2012).

Bukti yang menguatkan bahwa Bandung merupakan danau kaldera purba dapat dilihat di Padalarang. Di sana, kita dapat menjumpai kars (batu kapur) pada zaman miosen awal (23-17 juta tahun lalu). Van Bemmelen (1935), seorang ahli geologi dari Belanda, menjelaskan bahwa dulu daerah Bandung utara merupakan laut. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya ditemukan fosil koral yang membentuk terumbu karang sepanjang punggungan bukit Rajamandala. Sekarang, terumbu karang tersebut menjadi batu kapur dan ditambang sebagai marmer yang berpolakan fauna purba di daerah Padalarang. (Pikiran Rakyat, 21 Maret 2004).

Stone Garden sendiri merupakan bukti yang masih tersisa tentang Bandung purba yang layak untuk Anda kunjungi. Untuk mencapai lokasi Stone Garden tidaklah sulit. Wisata eksotis ini berada di puncak Gunung Pawon persisnya di Kampung Girimulya, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Anda dapat ke sana dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Sesampai di sana, Anda harus mengeluarkan kocek yang sangat terjangkau yaitu sebesar 5.500 rupiah untuk harga tiket masuk. Setelah itu, Anda perlu hiking sejauh 1,5 km untuk berhasil mencapai puncak geowisata tersebut.

Saya sendiri pernah mengunjungi Stone Garden pada bulan Februari 2015 lalu. Saya begitu takjub dengan pemandangan di sana. Sejauh mata memandang, kita melihat tumpukan batu-batu besar yang tidak beraturan di antara reremputan yang hijau. Batu-batu tersebut seolah menyatu dan menjadi bagian dari bukit kars yang berwarna putih. Stone Garden sangat cocok bagi Anda yang menyukai wisata alam di atas bukit namun takperlu susah payah untuk menjangkaunya. Selain itu, sepasang mata Anda juga akan dimanjakan dengan pemandangan yang hijau, udara yang masih segar, serta Anda seolah kembali menyusuri lorong waktu menuju Bandung di zaman purba. Anda tertarik?

Tentang Keyakinan

Source: http://i.huffpost.com/
Source: http://i.huffpost.com/

Kemarin, 5 April 2015, salah seorang teman saya mengirimkan pesan melalui WhatsApp. Dia menanyakan pendapat saya, apakah sebaiknya kita sebagai seorang Muslim turut mengucapkan Happy Easter kepada teman kita yang Christian?

Jawaban saya: sebagai pribadi yang berada di lingkungan yang heterogen, tentunya kerap kali kita dihadapkan pada persolan dilematis yang menyangkut hubungan horizontal: hubungan sesama manusia dan hubungan antar umat beragama. Namun, kadang kita juga sering lupa memberikan batas mana sikap yang menujukkan toleransi, mana pula yang menunjukkan hal yang prinsipil bagi kita.

Sejauh ini, saya berteman baik dengan siapa pun: tanpa membedakan agama, suku, ras, atau pun kelas sosial. Satu prinsip yang hingga saat ini saya pegang adalah, saya ingin menjadi sahabat baik untuk siapa pun. Tidak terkecuali bagi sahabat yang berbeda keyakinan. Sikap toleransi sebetulnya tidak hanya dilihat dari seberapa sering kita mengucapkan selamat pada hari-hari besar yang dirayakan oleh sahabat kita yang berbeda keyakinan. Lebih dari itu, sikap toleransi yang utama adalah, kita memberi kenyamanan bagi mereka untuk menjalankan ibadah mereka. Selain itu, kita juga menghargai keyakinan mereka dan tidak memaksakan agama kita kepada mereka. Sebab Allah berpesan, tidak ada paksaan dalam beragama.

Apabila datang hari-hari besar, biasanya saya mengucapkan ucapan yang bersifat lebih umum. Misalnya, “Selamat liburan teman! Semoga hari-hari ke depan menyenangkan!”

Intinya, sebagai seorang Muslim, tugas utama kita adalah menjadi agen Muslim yang baik. Menghargai siapa pun dan bersikap baik pada siapa pun. Kita adalah cerminan agama kita. Hingga saat ini pun saya jauh dari agen Muslim yang baik. Saya akan terus mencoba. Semoga. Semoga saya bisa. Sulit? Sangat.

Menunggu untuk Ditunggu

BeFunky_CAtByyTUYAA56an.jpg

Dulu, aku takbegitu senang untuk menunggu. Bagiku, menunggu adalah hal yang menyebalkan, membuang waktu, dan ketika menunggu aku merasa seperti orang bodoh. Apabila ingin membuat janji bertemu dengan seseorang, aku akan menganalisis secara matematis agar waktu menunggu bisa lebih efektif. Namun sayangnya, seringkali perhitunganku tidak begitu akurat, seringkali malah di luar ekspektasi.

Namun sekarang sepertinya aku mulai menikmati waktu menunggu. Kemarin, (Minggu, 23 Maret 2015), aku menunggu kedatangan Papa di terminal 1B Bandara Internasional Soekarno Hatta. Untungnya pesawat yang ditumpangi Papa tidak delay. Jadi, aku tidak perlu menunggu terlalu lama atau menunggu dengan perasaan yang kacau: tidak sabaran.

Kadang aku berpikir, bagaimana bila orang yang kita tunggu takjadi datang? Bukan karena ia membatalkan janji. Ia bahkan takpunya niatan untuk membatalkan secara sepihak. Ia hanya takkuasa untuk menolak permintaan untuk bertemu segera dengan Sang Pengatur Janji.

Barangkali demikianlah yang terjadi terhadap ratusan penumpang Malaysia Airlines Flight MH370 yang hilang entah kemana. Kondisi serupa juga dialami oleh 155 penumpang Air Asia QZ8501 yang hendak bertemu dengan karib kerabat, sahabat, dan orang-orang yang mereka cintai di Singapura. Percayalah, mereka tidak bermaksud untuk ingkar janji. Hanya saja, mereka sudah membuat janji terlebih dahulu dengan-Nya jauh sebelum ia berkata, “Okay, kita akan bertemu di Bandara setelah landing.”

Begitulah, kadang ada yang sengaja menunggu, namun orang yang ditunggu malah berlalu. Ada juga yang telah lama ditunggu, namun isyaratnya kerap keliru. Nyatanya bukan dia yang menunggu. Tapi kita yang ditunggu. Menunggu dan ditunggu, apakah itu akan selalu berbeda?

“If I die, I will wait for you, do you understand? No matter how long. I will watch from beyond to make sure you live every year you have to its fullest, and then we’ll have so much to talk about when I see you again.” – Jeaniene Frost

Semangkok Cerita dari Transjakarta

1459794_10202341397686583_536675174_n

Ini adalah kisah hari ini. Tepatnya sebuah kisah yang terjadi pada tanggal 19 Maret 2015, sekitar pukul 07.52 WIB di salah satu moda transportasi publik di Jakarta. Banyak orang menyebutnya busway, kendati itu bukanlah sebutan yang tepat. Sebab busway merujuk pada jalurnya, sementara nama bus itu sendiri adalah Transjakarta. Saya pikir banyak orang yang sudah mengetahui hal tersebut, namun masih sungkan menyebutnya dengan benar. Barangkali sudah menjadi kebiasaan warga urban Jakarta.

Sejak menonton sebuah video yang berjudul “Turn off social media, phone, and live your life” di social media Youtube, saya kemudian mulai menyadari bahwa sepertinya saya mulai memiliki kebiasaan yang buruk. Yaitu menghabiskan perjalanan selama 57 menit dengan bermain ponsel. Mungkin untuk sekadar mengecek pesan di kotak masuk, mengecek WhatsApp, membaca update tweet di Twitter, melihat postingan di Facebook, atau menonton video di Youtube. Dulu bahkan saya sering menyumpal telinga saya dengan headset untuk mendengarkan lagu-lagu favorit sembari membaca buku.

Saya ingin katakan bahwa saya sangat jarang mengamati orang-orang di sekitar saya. Lebih asyik menenggelamkan diri dalam sebuah dunia artificial, dunia yang saya buat sendiri. Berharap takbanyak orang yang mengusik tameng penuh mantra tersebut. Namun saya tidak ingin terjebak menjadi orang yang anti-sosial seperti kebanyakan orang-orang yang ada di kota yang keras ini. Menjadi berbeda untuk konteksi seperti ini, apa salahnya? Saya pikir tidak begitu buruk.

Pun demikian, saya tidak betul-betul meninggalkan kebiasaan saya untuk bermain dengan ponsel saat berperjalanan. Saya masih sering membuka notifikasi yang penting sekali. Untuk pesan-pesan di WhatsApp, sejujurnya saya jarang sekali membukanya. Malas. Saya pikir itulah alasan yang paling kuat. Namun saya sudah beberapa bulan ini tidak pernah lagi mendengarkan musik menggunakan headset. Selain karena saya menghapus lagu-lagu, saya juga merasa tidak nyaman menggunakan headset berlama-lama. Saya khawatir akan merusak indra pendengaran. Ya, begitulah saran dari artikel kesehatan yang pernah saya baca.

Oya, cerita pagi ini tentang seorang bapak paruh baya dengan seorang remaja perempuan yang duduk di sebelah saya. Kami sama-sama menjadi penumpang Transjarkata koridor 11 (Tanjung Priok – PGC). Menurut penilaian saya, bapak itu sudah berumur 40 tahun lebih. Ia mengenakan kaca mata minus, memakai setelan kantor (kemeja dan celana bahan), dan mulutnya ditutup masker. Barangkali ia sedang terkena flu seperti saya sekarang. Tepat di sebelah kirinya, ada seorang remaja perempuan mengenakan kaos kasual dan celana jeans tengah asyik belajar “Tata Bahasa Inggris” dengan mulut komat-kamit. Kadang ia menutup matanya untuk mencerna dan mengingat teori-teori yang sudah ia baca pada sebuah buku berwarna putih hasil foto copy. Ia tampak begitu begitu keras menghafal kata perkata aturan-aturan dalam bahasa Inggris. Bahkan takjarang ia berbicara sendiri guna memastikan apa yang sudah ia baca dapat ia ingat dengan baik. Semacam metode yang efektif dalam menghafal ala gadis remaja tersebut.

Bapak paruh baya yang dari tadi diam dan sempat tertidur kemudian membuka pembicaraan dengan remaja perempuan tersebut. Ia menanyakan apa yang sedang dipelajari oleh gadis tersebut, apa kendala yang ia hadapi, dan ia pun taksungkan untuk memberikan beberapa tips untuk mempelajari bahasa Inggris dengan mudah. Remaja perempuan terlihat senang dan antuasias mendapatkan bantuan dari bapak tersebut. Seolah ia baru saja mendapatkan seorang guru bahasa Inggris di tempat yang takterduga: Transjarkarta. Gadis itu berkata, “Apakah bapak seorang guru?” Bapak itu menjawab, “Bukan, saya bukan seorang guru. Saya bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta. Namun saya mengetahui beberapa gramatika bahasa Inggris.” Demikian sepotong dialog dua manusia yang tidak saling mengenal.

Halte UKI. Bapak itu pamit dan menyerahkan kartu nama kepada remaja perempuan tersebut.

***

PS: Bagi saya obrolan antara bapak dan remaja di Transjakarta itu menarik.

Belajar Social Entrepreneur dari Muhammad Yunus

“If you go out into the real world, you cannot miss seeing that the poor are poor not because they are untrained or illiterate but because they cannot retain the returns of their labor. They have no control over capital, and it is the ability to control capital that gives people the power to rise out of poverty.”

– Muhammad Yunus, Banker to the Poor: Micro-Lending and the Battle Against World Poverty.

Muhammad Yunus Source: www.cdn2.yourstory.com
Muhammad
Yunus
Source: http://www.cdn2.yourstory.com

Lahir di Chittagong, East Bengal, kini Bangladesh pada tanggal 28 Juni 1950, Muhammad Yunus mulai menekuni bidang social entrepreneur sejak tahun 1974 dengan mengembangkan konsep kredit mikro, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam uang dari bank umum. Ia menamakan program tersebut dengan sebutan Grameen Bank.

Misi Muhammad Yunus melalui program Grameen Bank adalah untuk mengentaskan permasalahan kemiskininan di negaranya, Bangladesh. Pada tahun 2006, ia menerima penghargaan nobel perdamaian berkat usahanya dalam memenangkan perperangan melawan kemiskinan. Grameen Bank merupakan organisasi unik yang didirikan dengan tujuan utama menyalurkan kredit mikro bagi masyarakat miskin. Melalui program tersebut, sekitar 47 ribu lebih pengemis di Bangladesh telah terbantu. Ribuan pengemis di Bangladesh sudah mampu mandiri dengan menjadi pengusaha kecil, tanpa meminta-minta lagi.

Ada enam hal penting yang dapat kita pelajari dari Muhammad Yunus dalam mengembangkan social entrepreneur seperti yang dilansir media online social.yourstory.com:

1. Fokus pada masyarakat yang belum terlayani dan kurang terlayani

Muhammad Yunus yang awalnya hanya seorang dosen yang ingin membantu seorang ibu dari keterpurukan, kini telah mampu memberi sesuatu yang jauh melebihi apa yang dibayangkannya, mengentaskan kemiskinan di negerinya.

2. Memiliki mimpi besar

Muhammad Yunus sejak kecil sudah berkeinginan besar untuk membantu menyelesaikan persoalan di negaranya. Ketika dewasa ia pun mendirikan Grameen Bank dengan harapan dapat membantu jutaan masyarakat agar terlepas dari kemiskinan.

3. Kolaborasi adalah kunci untuk pertumbuhan

Grameen Bank bekerja sama dengan beberapa mitra untuk mewujudkan mimpi besar Muhammad Yunus dalam mengembangkan konsep bisnis sosial.

4. Diversifikasi

Akhir tahun 1980-an, Grameen Bank mulai diversifikasi proyek-proyek lain untuk menumbuhkan dan mengembangkan organisasi yang ia kelola.

5. Terus membantu orang lain

Grameen Bank terus menciptakan bisnis sosial yang sejenis di seluruh dunia. Ia juga membantu lembaga-lembaga social entreprise seperti pengusaha sosial muda di bawah usia 25 tahun serta mengembangkan ide-ide bisnis sosial mereka.

6. Siap untuk dicela

Muhammad Yunus takjarang menuai kritik dari berbagai bidang. Ia bahkan diminta untuk mundur sebagai Managing Director of Grameen Bank karena dianggap tidak mumpuni. Namun ia terus maju memberikan yang terbaik.

Kisah Muhammad Yunus adalah bukti bahwa ketulusan yang disertai pengabdian akan memberikan hasil yang luar biasa. Apa yang bisa kita petik dari kisah Muhammad Yunus ini? Mulailah segala sesuatu dari yang sederhana, dari yang kecil, dari apa yang kita bisa. Asal dapat memberi manfaat bagi orang lain, dampaknya akan terus menular dan berkembang menjadi kebaikan yang akan terus menjadi besar. Muhammad Yunus adalah contoh nyata dan teladan pribadi yang luar biasa. Dia dapat memanfaatkan ilmu yang dimiliki, empati, serta cintanya yang besar terhadap kehidupan untuk menjawab kebutuhan banyak orang di sekelilingnya dengan solusi sederhana pada awalnya. [Source: info biografi]

 

Helvy Tiana Rosa: Saya Menulis untuk Mencerahkan

Helvy Tiana Rosa. Source: Fan Page Facebook
Helvy Tiana Rosa.
Source: Fan Page Facebook

“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tidak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi.” Demikian ujar Helvy Tiana Rosa saat kami temui pada sesi wawancara di kediamannya, di daerah Depok, pada hari Kamis, (29 Januari 2015) lalu.

Adalah Helvy Tiana Rosa, kelahiran Medan, 22 April 1970, yang merupakan pendiri Forum Lingkar Pena (FLP). Helvy, begitu ia akrab disapa, mengenal sastra dari ibunya. “Ibu saya senang bercerita, baik lisan maupun tulisan. Biasanya bila akan tidur, ibu menulis apa yang sudah ia lakukan dalam satu hari. Jadi semacam muhasabah (evaluasi diri, red). Ibu-lah orang pertama memotivasi saya untuk menulis,” kenang Helvy.

Kakak pertama dari penulis Asma Nadia ini mengaku sudah bisa membaca sejak umur 5 tahun. Ia membaca apa saja yang ia temui pada kertas-kertas koran untuk pembungkus cabai, pembungkus bawang, atau pembungkus sayur. Guna memenuhi hasratnya dalam membaca, Helvy dan adiknya, Asma juga meminjam buku dari teman-temannya. “Jika tidak membaca, kami bisa uring-uringan. Sementara kondisi keluarga kami saat itu kurang beruntung dari segi finansial. Jadi kami meminjam buku dari teman dan mengembalikannya maksimal tiga hari. Sebagai ucapan terima kasih, kami pun menyampulkan buku mereka sehingga terlihat lebih rapi,” jelas dosen Universitas Negeri Jakarta ini.

Helvy menceritakan bahwa waktu kecil ia hampir setiap hari ke tempat penyewaan buku bersama Asma hanya melihat orang-orang yang menyewa buku. Lagi-lagi, mereka tidak bisa menyewa buku karena tidak memiliki uang. Asma pun menangis karena seolah keinginan sederhananya untuk membaca kandas. Helvy memberikan suntikan motivasi pada Asma. Ia bilang, “Suatu saat nanti kita akan mendirikan taman bacaan di seluruh Indonesia. Jika bisa di seluruh dunia. Suatu saat nanti kita juga akan menulis. Tulisan-tulisan kita akan ada dimana-mana.” Asma kecil kemudian menimpali perkataan kakaknya, “Tapi kita hanya anak kecil. Kita tidak akan bisa melakukan hal itu.” Helvy pun kembali meyakini Asma bahwa suatu saat mereka akan dewasa. “Insya Allah kita bisa. Alhamdullillah, kini cita-cita kami waktu kecil sudah terwujud. Asma sendiri bahwa sudah punya Rumah Baca Asma Nadia,” ungkap Helvy dengan mata berkaca-kaca.

Karya pertama yang ditulis oleh Helvy yaitu puisi. Menurutnya, puisi adalah jembatan awal yang menjadikan ia sebagai seorang penulis. Saat kelas 3 SD, tulisan Helvy untuk pertama kalinya dimuat oleh salah satu majalah anak di Jakarta. Betapa senangnya Helvy sebab karyanya dapat dibaca oleh banyak orang. Sejak saat itulah, penulis yang mengidolakan sastrawan Muhammad Iqbal, Jalaluddin Rumi, dan Taufik Ismail tersebut semakin bersemangat untuk berbagi dengan menulis.

“Saya menulis untuk mencerahkan,” tegas Helvy. Menurutnya, seorang penulis yang baik adalah penulis yang dapat turut membangun karakter pembaca dan juga karakter penulis itu sendiri. Lebih lanjut, penulis yang pernah menjadi Redaktur Pelaksana majalah Annida ini menuturkan bahwa penulis yang ideal itu harus seperti apa yang ia sampaikan melalui tulisan-tulisannya. “Bagi saya, karya sastra yang baik itu adalah karya yang dapat membuat kita bergerak. Bukan hanya sekadar karya sastra yang membuat kita jadi pengkhayal dan terbuai dalam lautan kata-kata semata. Karya sastra semestinya dapat mengasah nurani kita untuk lebih peduli, membuat kita penuh cinta, dan membuat kita lebih bercahaya.”

Helvy merasa prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini yang kehilangan karakter. Ia menyayangkan tayangan-tayangan sinetron yang tidak mendidik. “Saya rasa apa yang ditampilkan sinetron-sinetron sekarang bukanlah karakter bangsa kita. Indonesia dulu memiliki karakter yang berbudi pekerti luhur seperti gotong-royong dan tenggang rasa. Namun sekarang terkikis,” pungkasnya dengan nada yang bersemangat.

Penulis yang namanya melejit berkat cerpen berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi” pada tahun 1993 ini mengatakan bahwa karakter bangsa Indonesia dapat dibangun melalui karya sastra. Namun Helvy juga menyesalkan takbanyak penulis memiliki semangat seperti demikian. Banyak yang menilai sastra hanya sebagai komoditas yang menguntungkan dalam menghasilkan pundi-pundi rupiah. Bahkan banyak di antara mereka yang kurang menekankan pesan-pesan moral dalam setiap tulisan mereka. “Hingga saat ini saya selalu memegang moto saya yaitu menulis cahaya. Saya ingin mencerahkan diri saya dan syukur-syukur saya juga dapat mencerahkan orang lain. Saya tidak akan menulis suatu hal yang membuat masyarakat menjadi bobrok. Saya harus menulis hal-hal penuh spirit yang membangkitkan dan dapat menggerakkan pembaca ke arah cahaya,” ungkap Helvy.

Menurut pandangannya, sastra jangan sampai menjadi ekslusif. Ia mengatakan bahwa sastrawan W.S Rendra pernah berpesan, “Untuk apa menulis sastra jika kita tinggalnya di menara gading.” Helvy menilai bahwa Rendra tidak ingin menjadi penyair salon yaitu penyair yang hanya bicara tentang anggur dan rembulan. Sastrawan harus terlibat dalam masyarakat. “Jadi untuk apa menjadi sastrawan bila tidak tahu persoalan masyarakat dan tidak memberikan solusi sama sekali. Jika kita tidak bisa membantu, paling tidak kita bisa berempati. Sementara empati sendiri adalah urusan sastra,” papar ibu yang memiliki dua anak ini.

Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis

Helvy sadar betul bahwa Allah sudah menganugrahkan talenta menulis untuknya. Menyadari hal tersebut, Helvy tidak tinggal diam bila ia menyaksikan musibah, bencana, dan kesemena-menaan terpampang jelas di depan matanya. “Saya gunakan pena untuk bersuara, berteriak, dan protes atas berbagai permasalahan yang terjadi. Saya pernah menulis cerita pendek tentang seorang anak Timur-timur yang tampak ketakutan ketika saya melihat berita di televisi. Nurani saya juga terketuk saat melihat tragedi kemanusiaan di Gaza, Palestina. Saya pikir kita harus berbuat sesuatu. Saya sendiri memilih dengan cara menulis,” terangnya.

Pada tahun 1997, Helvy bersama Asma Nadia dan Maimon Herawati mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) yang bertujuan menyebarkan Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis. FLP berupaya memotivasi kaum muda untuk menulis. “Saya tahu saat itu sangat banyak orang ingin menjadi penulis. Namun mereka tidak memiliki uang dan tidak memiliki kesempatan. FLP memberikan pelatihan kepenulisan dengan gratis. Alhamdulillah, banyak penulis-penulis hebat lahir dari organisasi yang sekarang anggotanya sudah berjumlah lebih dari 100.000 orang,” papar Helvy.

Masih lekat dalam ingatannya, dulu ia sering diundang oleh pelajar-pelajar SMA di berbagai daerah untuk mengisi pelatihan kepenulisan. Anak pertama Helvy, yaitu Abdurahman Faiz, menyebut Helvy sebagai relawan FLP. Faiz berpesan pada adiknya, Nadia, “Jika bunda pergi memberikan pelatihan menulis, jangan minta oleh-oleh. Pulang kembali ke rumah dengan selamat sudah lebih dari cukup.” Helvy teringat ketika awal-awal FLP berdiri, takjarang ia harus mengeluarkan kocek sendiri untuk ongkos pergi dan pulang demi mengisi pelatihan kepenulisan. “Dulu saya punya pengalaman berkesan dengan penulis muda yang saat ini sedang naik daun dalam dunia sastra yaitu Beni Arnas. Waktu dia SMA di Lubuk Linggau, ia meminta saya mengisi pelatihan di sana. Namun ia memiliki keterbatasan dana. Saya pun mengiyakan untuk mengisi. Hingga sakarang kejadian tersebut sangat membekas bagi dia. Saya merasa dulu tidak ada yang mengajarkan saya, kecual ibu saya sendiri. Jadi saya tidak mau terjadi pada remaja-remaja lain,” kenangnya.

Bagi Helvy sendiri, membaca dan menulis adalah kegiatan yang berpasangan. Tidak bisa berjalan sendirian. Apabila banyak membaca namun tidak menulis, maka tidak akan ideal. Terlalu banyak menulis namun tidak membaca, maka tulisan akan menjadi kering dan kosong. Ia mengatakan bahwa menulis itu ibarat gelas yang berisi air penuh. Agar tidak meluber, air dalam gelas tersebut harus dibagikan pada gelas lain. Hal itu namanya berbagi.

Lebih lanjut, Helvy berpendapat bahwa Indonesa harus memiliki banyak penulis. Sebab tingkat peradaban suatu bangsa ditentukan dari seberapa banyak orang membaca dan menulis. untuk itu, ia menyarankan agar setiap individu meluangkan waktu untuk menulis. Helvy pun memberikan tips-tips sederhana dalam menulis, yaitu: Pertama, luangkan waktu untuk menulis. Kedua, catat setiap ide yang terlintas di benak kita. Ketiga, jangan menulisa sambil menjadi editor (penyunting) sebab tulisan kita tidak akan selesai. Keempat, menulislah dari hari. Kelima, menuliskan dengan wawasan dan bidang yang kita kuasai.

Helvy mengatakan dalam menulis, bakat hanya berperan 10% dan 90% lagi ditentukan oleh tekad dan kemauan. “Ketika menulis, kita harus menggunakan dua mata. Satu mata penulis, dua mata pembaca. Jadi kita dapat memosisikan diri kita sebagai pembaca dan penulis sekaligus. Insya Allah karya kita akan lebih berterima,” tutup Helvy.

Saat ini, Helvy tengah sibuk mempersiapkan novel terbarunya dan menggarap film “Ketika Mas Gagah Pergi” yang akan direncanakan tayang pada akhir tahun 2015. Helvy menginspirasi kita lewat kata. Kita pun menginspirasi dunia dengan potensi yang kita miliki.

[MahfudAchyar/Rini Aprilia]

Indonesia Berbagi!

Source: http://unmine.pley.com/
Source: http://unmine.pley.com/

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berbagi merupakan kata kerja yang berarti pemakaian secara bersama atas sumber daya, ruang, dan sebagainya. Sebagai makhluk sosial, manusia saling membutuhkan satu sama lain. Untuk itu, berbagi adalah hal yang tidak dapat kita sangkal sebab menjadi bagian dari individu itu sendiri.

Debasish Mridha, penulis buku “Sweet Rhymes from Sweet Hearts” memiliki pendapat indah mengenai cinta, kepedulian, dan berbagi. Dalam bukunya, ia menulis, “Love, caring, and the spirit of kindness always bring happiness. Our greatest happiness depends on what we love, how we care, and how we share.” Sejatinya, berbagi membuat kita merasakan kebahagiaan yang mendalam (heartwarming) yang barangkali tidak dapat dinilai dari sesuatu yang bersifat artificial.

Frasa berbagi menjadi semangat yang ingin kami sampaikan kepada siapa pun: tanpa ada batasan gender, usia, latar belakang pendidikan, dan profesi. Semua orang sebetulnya dapat berbagi. Namun yang membedakannya adalah, tools apa dan cara seperti apa yang digunakan untuk berbagi? Bagi orang yang memiliki kemampuan finansial yang baik, barangkali ia dapat berbagi melalui materi yang ia punya. Bagi seorang penulis, ia dapat berbagi melalui tulisannya yang menggugah. Bagi yang papah sekalipun, ia dapat berbagi dengan memberikan senyum dan mendoakan kebaikan. Kadang, hal-hal sederhana yang kita lakukan tanpa kita sadari adalah bentuk lain dari berbagi.

Barangkali kita dapat belajar dari sosok seperti Helvy Tiana Rosa yang berbagi melalui dunia kepenulisan atau dari Muhammad Yunus yang berhasil mengembangkan social entrepreneur. Semua upaya yang dilakukan berbagai entitas tersebut semata-mata untuk memberikan perubahan yang jauh lebih baik dan signifikan untuk masyarakat, lingkungan, dan dunia. Oleh karena itu, berbagi adalah syarat mutlak untuk membuat kita menjadi manusia yang seutuhnya, menjadi manusia yang takhanya sekadar ada, dan menjadi manusia yang memberikan kebermanfaatan untuk sesama. Berbagi tidak membuat kita menjadi miskin. Justru dengan berbagi, Tuhan akan menambahkan kenikmatan untuk kita. Tentunya kita berharap amal berbagi akan menjadi bekal berharga untuk kita menyongsong hidup setelah mati.

Terakhir, kami sampaikan selamat membaca! Salam care, share, inspire!

 

#JeSuisCharlieHabdo, #JeSuisAhmed, dan #WhoIsMuhammad

oleh: Mahfud Achyar

Campaign on Social Media
Campaign on Social Media

Insiden penembakan yang terjadi di kantor tabloid Charlie Hebdo pada tanggal 7 Januari 2015 diduga dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan Islam. Dua orang bersenjata yang mengenakan pakaian serba hitam dan bersenjata AK-47, melakukan serangan membabi buta sehingga menewaskan setidaknya 12 orang dan melukai 10 orang. Islam kembali dikaitan dengan aksi teror di negeri mode tersebut. Dua hari setelah insiden penembakan, pada 9 Januari 2015, Al Qaeda di Yaman yang dikenal sebagai AQAP menegaskan bahwa pihaknya bertanggung jawab atas serangan di kantor Charlie Hebdo. Ia mengatakan, “Itu balas dendam atas kehormatan Islam.”

Atas pernyataan tersebut, banyak media yang memberitakan Islam dengan nada negatif. Islam dinilai sebagai agama teror yang tidak menghargai hak azazi manusia. Donald Tusk, presiden baru Dewan Eropa mengutuk keras serangan tersebut. Ia mengatakan bahwa penyerangan ke kantor tabloid Charlie Hebdo merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai dasar UE, kebebasan berekspresi, dan pilar demokrasi.

Pemberitaan tidak berimbang dari berbagai media mengakibatkan terjadinya aksi Islamophobia di Perancis. Setidaknya, ada 116 serangan Islamophobia dalam waktu dua pekan setelah terjadinya insiden di Charlie Hebdo. Menurut Abdallah Zekri, Kepala Observatorium yang berbasis di Perancis, serangan Islamophobia meningkat 110 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Charlie Hebdo memang acap kali menimbulkan kontroversi karena sering memuat tulisan, kartun, dan karikatur yang isinya menyerang gerakan ekstrem kanan, agama (Katolik, Islam, Yahudi), politik, dan budaya. Penembakan yang dilakukan oleh dua bersaudara Cherif dan Said Kouachi pada tanggal 7 Januari 2015 diduga akibat penerbitan kartun-kartun yang menghina nabi Muhammad saw.

Masyarakat dunia pun beramai-ramai berkampanye di linimasa twiiter dengan tagar (hash tag) “Je Suis Charlie” sebagai bentuk aksi simpatik terhadap insiden berdarah di kantor Charlie Hebdo. Namun sangat disayangkan banyak media yang bias dalam pemberitaan berkaitan insiden tersebut. Faktanya, hanya sedikit media yang mengabarkan bahwa seorang polisi Perancis yang bernama Ahmed Marebat juga merupakan korban penembakan.

Ahmed adalah seorang muslim yang baik, setidaknya demikian diceritakan dalam berbagai sumber. Menurut kesaksian keluarga dan teman-temannya, Ahmed sangat marah dan tidak menyukai kartun-kartun Charlie Hebdo yang menghina nabi Muhammad. Namun ketika terjadi penyerangan di kantor Charlie Hebdo, ia justru berupaya menghentikan aksi penembakan tersebut. Sayang, ia menjadi korban yang merenggang nyawa di lokasi kejadian. Aksi teror tersebut jelas tidak ada kaitannya dengan Islam.

Setelah kampanye “Je Suis Charlie”, kampanye “Je Suis Ahmed” menjadi tagar yang ramai di linimasa twitter. Salah satu netizen mengatakan, “Je Suis Ahmed, saya adalah Ahmed. Umat Islam akan marah kepada para pengina nabi Muhammad, namun Islam adalah agama damai rahmatan lil ‘alamin yang membela hak hidup manusia.”

Tidak lama setelah itu, kampanye di twitter dengan tagar #WhoIsMuhammad muncul. Kampanye tersebut mengajak seluruh umat Muslim di dunia untuk mendeskripsikan nabi Muhammad. Hal tersebut merupakan bentuk protes karikatur nabi Muhammad yang menjadi sampul tabloid Charlie Hebdo pasca insiden 7 Januari 2015.

Maher Zain, penyanyi Swedia, menulis dalam akun twitternya, “Even a smile is charity.” #WhoIsMuhammad #PeaceBeUponHim.” Sementara itu, salah seorang netizen dengan akun @TSPMuslim menulis, “Best question I ever asked, “#WhoIsMuhammad?” Now I am a Muslim.” pada tanggal 15 Januari 2015.

Media bisa saja memberitakan hal-hal yang tidak baik tentang Islam dan nabi Muhammad. Namun Allah memiliki rencana terbaik yang tidak diketahui oleh siapa pun. Alhamdulillah, kini ribuan orang kini tercerahkan tentang sosok teladan nabi Muhammad saw. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri telada yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21).

 

Social Movement: Idea + Colaboration + Suistainabilty

By: Mahfud Achyar, Indonesia

4.4.13_Communique_SocialCover_FinColor

Gerakan sosial (social movement, Eng) adalah gerakan yang dilakukan oleh suatu kelompok atau organisasi yang secara spesifik berfokus pada isu-isu sosial untuk mengubah suatu keadaan menjadi lebih baik lagi dibandingkan kondisi sebelumnya. Mereka berkumpul untuk membicarakan ide-ide segar untuk diapilikasikan menjadi kerja-kerja nyata untuk perubahan dalam berbagai sektor.

Social movement bermula dari kegelisahan sekolompok masyarakat terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya seperti kemiskinan, pendidikan yang tidak merata, pemerintah yang korup, perekonomian yang carut marut, pertikaian antarsuku, dan sebagainya. Mereka yang memilih menjadi bagian dari social movement adalah orang-orang yang secara sadar mau mengorbankan pikiran, harta, waktu, bahkan nyawanya untuk kepentingan banyak orang. Mereka bergabung dalam sebuah organisasi yang terorganisir dengan melakukan aktifitas-aktifitas positif untuk perubahan sosial.

Target dari aktifitas social movement terfokus pada kelompok masyarakat pada umumnya. Menurut ahli sosiologi, Mac Iver, terkait dengan social change (perubahan sosial) ia berpendapat, “In all this change can we discover any movement of the whole, of society conceived as a unity, whether in terms of a nations, or large civilization.” (dalam semua perubahan ini kita dapat temukan setiap gerakan dari keseluruhan, masyarakat dipahami sebagai satu kesatuan, baik dalam hal suatu negara, atau peradaban yang besar).

Dewasa ini, aktifitas social movement kian populer di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Berbagai organisasi dan komunitas melakukan kampanye melalui berbagai media. Tujuannya agar publik sadar dengan pesan yang hendak mereka sampaikan. Namun taksedikit juga kampanye yang dilakukan oleh para penggiat social movement kurang mendapatkan perhatian dari publik. Barangkali ide atau pesan yang disampaikan tidak menarik atau mungkin tidak dilakukan secara terorganisir dan massif. Kendati demikian, banyak juga di antara mereka berhasil menyampaikan gagasan dengan baik dan mendapatkan respon positif dari publik.

Lantas bagaimana aktifitas social movement dapat memiliki impak yang memuaskan? Para social enterprise harus memunculkan ide yang berbeda, berkolaborasi dengan berbagai komunitas yang memiliki misi yang sama, serta merancang program-program yang memang dibutuhkan oleh publik (target audience).

“..things are never as complicated as they seem. It is only our arrogance that prompts us to find unnecessarily complicated answers to simple problems.” Muhammad Yunus

Percayalah, Takmudah Menjadi Seorang Guru

(Catatan Relawan Pengajar Kelas Inspirasi Depok 2)

Oleh: Mahfud Achyar[i]

 

“What is a teacher? I’ll tell you: it isn’t someone who teaches something, but someone who inspires the student to give of her best in order to discover what she already knows.” – Paulo Coelho, The Witch of Portabello

After class, let us grufie! (Kelas 4b)
After class, let us grufie! (Kelas 4b)

Percayalah, takmudah menjadi seorang guru. Begitulah yang saya rasakan selepas menjadi relawan pengajar program Kelas Inspirasi Depok 2 di SDN Depok 5.

Keterlibatan saya dalam program Kelas Inspirasi bermula ketika saya memberanikan diri untuk mendaftar menjadi relawan pengajar pada tanggal 8 September 2014. Saya mendapatkan informasi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi dari salah seorang teman saya di komunitas yang juga concern pada dunia pendidikan.

Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga.

Minggu, 05 Oktober 2014, pukul 14.51 WIB, saya menerima surat eletronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan, “Atas berbagai pertimbangan, dengan senang hati kami sampaikan bahwa Mahfud Achyar telah TERPILIH menjadi relawan pengajar untuk menyelenggarakan Kelas Inspirasi Depok pada tanggal 20 Oktober 2014.” Apa yang saya rasakan saat itu? Saya merasa cukup kaget, senang, agak degdegan, dan sangat bersemangat. Sebab menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi adalah hal yang baru dalam hidup saya, kendati pengalaman mengajar bukanlah aktifitas yang baru bagi saya. Dulu ketika program KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa), saya pernah mengajar siswa-siswi di desa Tanjungjaya, Ciamis dan sekarang pun saya masih terlibat menjadi relawan pengajar di komunitas yang sebutkan tadi. Fixed! Achievement unlocked for me!

Sebelum hari-H mengajar, terlebih dahulu para relawan yang berjumlah sekitar 300 dikumpulkan di gedung Bank BJB, Depok untuk mendapatkan brief seputar program Kelas Inspirasi, metode mengajar yang efektif dan menyenangkan, berbagi pengalaman dari relawan yang sudah pernah mengajar, pembagian kelompok, pembagian sekolah tempat mengajar, dan yang paling penting adalah kami saling mentransfer energi positif.

Oya, saya menjadi bagian dari kelompok 12 yang terdiri dari para profesional dari berbagai profesi. Dengan kerendahan hati, izinkan saya memperkenalkan rekan-rekan relawan kelompok 12 yang penuh semangat dan selalu ceria! Perkenalkanlah (teteret!): Felix Nola (Equipment Management), Vini Charloth (Sps Lingkungan), Windrya Amartiwi (Finance Analyst), Saulina Laura Margaretha (Head of Operation Perusahaan Pelayaran), Nanang Hernanto (Trainer), Ratih Dwi Rahmadanti (Data Analyst), Yustiani Wardhani S (Business Analyst), Amantine Al Febyana (Nurse), Endang Pulungsari (Biro Perencanaan Kemenlu), Frick (Photographer), Rizka Kharisma Putri (Photographer), dan saya sendiri Mahfud Achyar (Marketing Communication). Komposisi relawan pengajar 10 dan relawan fotografer 2 (Frick dan Rizka a.k.a Kare). Di samping itu, kami juga didampingi oleh seorang fasilitator dari KI. Please welcome, Mega!

Sekilas tentang SDN Depok 5

Akses menuju SDN Depok 5 tidaklah susah. Sebab, SD ini berlokasi di jalan yang cukup strategis di kota Depok yaitu Jalan Pemuda No. 31 Pancoran Mas. Jika dari Stasiun Depok Baru barangkali hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit (menggunakan kendaraan).

Kondisi bangunan sekolah pun cukup baik. Terdiri dari dua lantai: lantai pertama untuk kelas 1 hingga kelas 4a (termasuk ruang majelis guru) dan lantai dua untuk kelas 4b hingga kelas 6. Para siswa masuk pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 12.00 siang. Jumlah siswa di SD ini berjumlah 271 siswa dengan rincian: kelas 1 (45 siswa), kelas 2 (45 siswa), kelas 3 (42 siswa), kelas 4a (27 siswa), kelas 4b (27 siswa), kelas 5 (45 siswa), dan kelas 6 (40 siswa).

Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5
Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5

Lesson and Learn

Satu pekan waktu yang kami punya untuk mempersiapkan lesson plan. Kendati kami memiliki kesibukan masing-masing dan terpisah dalam radius jarak yang cukup jauh, namun koordinasi kelompok tetap berjalan dengan baik. Teknologi memudahkan kami berkomunikasi satu sama lainn. Secara suka rela, ada di antar kami yang menyempatkan diri untuk survey lokasi mengajar, ada yang mempersiapkan logistik penunjang kegiatan mengajar, ada yang memberi semangat dan keceriaan, dan ada juga yang hanya bisa menjadi silent reader. Dan saya sepertinya masuk pada kategori terakhir. Hehe.

Dalam membuat lesson plan, setidaknya ada 6 pertanyaan kunci yang perlu disampaikan pada saat Proses Belajar Mengajar (PBM) yaitu: 1. Siapakah aku?; 2. Apa profesiku?; 3. Apa yang dilakukan profesiku setiap hari saat bekerja?; 4. Dimana aku bekerja?; 5. Apa peran dan manfaat dari profesiku di masyarakat?; dan 6. Bagaimana cara menjadi aku?

Tantangan terberat bagi saya adalah menyederhanakan bahasa agar mudah dimengerti dan dipahami siswa-siswi SD. Apalagi materi yang saya ajarkan adalah sesuatu yang kurang familiar didengar telinga anak-anak. Yap, materi tentang Materi Communication! Lebih dari itu, istilah-istilah dalam Marketing Communication banyak menggunakan bahasa Inggris seperti promotion, market, target audience, advertising, dan masih banyak lagi. Susah? Iya susah sekali! Namun beruntung karena memiliki pengalaman mengajar, jadi sedikit banyaknya saya sudah mengerti bagaimana menyampaikan pesan secara efektif kepada para peserta didik.

Lesson Plan, done!

Senin, 20 Oktober 2014 adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya. Saya diberikan kesempatan untuk berbagi dan berbuat baik. Just being a good person. Saya teringat pepatah lama, “Budi baik terkenang jua.” Hal senada juga pernah diungkapkan oleh Andrea Hirata dalam salah satu bukunya, “Memberilah sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.” Saya percaya, hidup itu laiknya suara gema. Suara yang kita dengar adalah suara yang kita teriakkan. Secara sederhana, kita akan menuai apa yang sudah kita tanam. Dalam kerendahan hati, saya berharap apa yang kami lakukan semoga menjadi catatan amal kebaikan untuk kami. Semoga.

Tepat pukul 07.00 pagi, pintu pagar sekolah ditutup! Bagi yang telat, silakan tunggu di luar hingga upacara bendera selesai. Sigh! Saya telat 5 menit dan upacara bendera sudah berlangsung. Padahal saya berangkat dari rumah pukul 05.00 pagi. Naik taksi ke Stasiun Cikini. Berharap kereta ke Bogor segera tiba. Hampir 1 jam lebih saya menunggu di stasiun. Namun Si Ular Besi Berlistrik takkunjung menyapa. Padahal mentari Senin pagi sudah menyapa. Memancarkan cahaya berwarna jingga dan menghangatkan tubuh anak-anak manusia. Telat bagi seorang guru adalah hal yang mengkhawatirkan. Sebab ia menjadi contoh keteladanan bagi para generasi bangsa. Dan keteladanan itu dimulai ketika Sang Guru dapat menghargai waktu dengan baik. Yep, menjadi guru tidaklah mudah.

Waktu untuk mengajar dijatah. Masing-masing pengajar diberi waktu sekitar 45 menit. Kami harus pintar mengelola waktu yang sempit tersebut. Saya kebagian mengajar kelas 2, kelas 4b, dan kelas 5. Sementara itu, relawan fotografer yaitu Frick dan Kare pun harus mengatur strategi untuk tidak kehilangan momen pada saat proses belajar mengajar. Mari kita mengajar dan belajar!

Kelas 2, Kelas 4b, dan Kelas 5

“Selamat pagi anak-anak! Hari ini Bu Feby dan Pa Achyar akan mengajar kalian. Siap?”

“Siap!”

Saya dan Feby (Perawat) mendapatkan giliran mengajar siswa-siswi kelas 2. Sesi pertama diambil alih oleh Feby. Sementara saya mengajar di sesi kedua. Tampak terlihat para siswa duduk rapi di bangku masing-masing. Formasi tempat duduk di kelas 2 dibentuk perkelompok. Ada 5 kelompok. Satu kelompok diisi sekitar 5-6 orang.

Menit-menit awal berjalan dengan baik. Namun pada menit kemudian mulai terdengar ada yang berteriak (entahlah karena semangat atau merasa bebas), ada juga yang berjalan kian ke mari, ada yang hanya diam (rata-rata siswi), ada yang menimpali temannya ketika bicara, dan beberapa menit kemudian apa yang terjadi? Suasana kelas mulai tidak terkendali.

Feby pun berusaha menenangkan para siswa. Kemudian ia melanjutkan mengajar seputar profesi perawat. Beberapa menit mengajar, ada seorang siswi yang menangis karena diledekin temannya. Lalu ada yang tiba-tiba ngamuk dengan melempar tas temannya. “Pak, penghapus saya diambil!” Ia menghampiri temannya untuk menantang duel. Saya pun bergegas memisahkan mereka, memberikan pengertian bahwa sesama sahabat tidak boleh berkelahi. Bocah laki-laki itu sedikit tenang, namun tiba-tiba ia menangis. Membuang buku-buku di atas meja. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Saya mendekatinya dan mengusap-usap bahunya.

“Jangan nangis ya, kita bantuin nyari penghapusnya bersama-sama.”

Salah seorang temannya yang bernama Salomon menghampirinya dan berkata, “Aku bantuin nyari ya.” Ia pun mengangguk pertanda setuju. Perlahan tangis bocak yang mengenakan seragam putih itu berhenti. Ia berusaha menarik napas dalam. Tampaknya ia berusaha mengendalikan emosi agar tidak meluapkan amarahnya kepada teman-teman di sekitarnya.

Saya dan Feby berbagi peran. Feby pun sepertinya punya PR yang sama yaitu membuat nyaman suasana kelas sehingga para siswa dapat menyerap dengan baik pelajaran. Feby meminta anak-anak yang “vokal” di kelas untuk menjadi ketua-ketua kelompok. Mereka tampak senang dan begitu antusias. Ya, walaupun suasana kelas tidak begitu kondusif, namun para siswa masih bisa diajak kerja sama untuk belajar.

Feby selesai, sekarang giliran saya mengajar. Saya meminta semua siswa duduk lesehan di depan. Secara spontan saya mengubah metode mengajar dengan bercerita. Saya memanfaatkan media berupa mading untuk menjelaskan materi ajar kepada mereka. Beberapa di antara mereka masih saja terlihat rusuh, tapi banyak juga di antara mereka yang mau mendengarkan. Wow! Mengajar di kelas 2 sungguh menantang, gumam saya dalam hati.

Di akhir sesi, kami meminta mereka menuliskan cita-cita mereka di atas kertas label. Selanjutnya mereka satu persatu menempelkan kertas tersebut pada sebuah pohon berwarna hitam berbahan infraboard yang kami beri nama Pohon Cita-Cita. Mereka terlihat senang. Kelas pun usai. Kami pun pamitan dan meninggalkan kelas. Betulkan, menjadi guru tidaklah mudah!

Selanjutnya saya mengajar di kelas 5. Kondisi kelas sangat bertolakbelakang dibandingkan kelas 2. Cukup kondusif. Barangkali karena sudah kelas 5, para siswa lebih mudah diajak bicara agak serius. Saya pun menyampaikan materi tentang Marketing Communication lebih lancar. Mereka pun mudah memahami materi yang saya sampaikan. Beberapa siswa saya minta untuk kembali menjelaskan apa yang sudah saya sampaikan, dan mereka dapat menjelaskannya dengan baik.

Menjelang waktu pulang sekolah, saya mengajar di kelas 4b. Tidak jauh berbeda dibandingkan kelas 5, suasana kelas juga sangat kondusif. Apalagi jumlah siswa relatif lebih sedikit dibandingkan kelas 2 dan kelas 5. Di kelas 4b, saya lebih banyak menyampaikan pesan-pesan semangat agar mereka tidak takut untuk bermimpi. Agar mereka selalu optimis. Semoga transfer energi yang saya sampaikan dapat mereka terima baik.

Kelas Inspirasi ditutup dengan seremoni pelepasan balon gas di lapangan. Balon berwarna-warni ditempeli cita-cita para siswa. Mereka taksabar ingin melihat balon-balon tersebut terbang mengangkasa ke langit luas. Saya pun merekam momen spesial tersebut. Tiba-tiba seorang siswa kelas 5 menghampir saya.

“Kak, kok kakak pulang?”

“Iya soalnya sudah selesai.”

Sepertinya ia masih ingin kami di sini. Berbagi keceriaan dan bermain bersama. Namun apa daya waktu yang kami punya hanya satu hari. Namun kami berharap kami terus bisa mengajar dan belajar bersama mereka.

Apa hikmah yang saya dapatkan setelah mengajar? Saya tersadarkan bahwa PR dunia pendidikan di Indonesia sangatlah banyak. Mulai dari sistem pendidikan, pengembangan guru, hingga persoalan yang barangkali tidak terlalu menjadi concern pemerintah yaitu BULLYING. Dari yang saya amati, banyak para siswa yang senang sekali membully. Seringkali saya mendengar kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang siswa sekolah dasar. Persoalan bullying harus menjadi fokus pemerintah. Sebab banyak akibat dari bullying yang sudah memakan banyak korban, mematikan karakter, membunuh mimpi-mimpi, dan membuat siswa-siswi merasa terpenjara di sekolahnya sendiri.

Well, saya perlu angkat topi untuk pengabdian para guru di seluruh Indonesia. Mengajar bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak semua orang memiliki kesabaran yang berlapis-lapis seperti seorang guru. Saya berharap semoga dunia pendidikan Indonesia semakin membaik. Terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman kelompok 12 Kelas Inspirasi Depok 2. Semoga langkah kita menjadi panutan, ujar kita menjadi pengetahuan, dan pengalaman kita bisa menjadi inspirasi untuk para penentu Indonesia di masa depan.

Kelompok 12 #KelasInspirasi
Kelompok 12 #KelasInspirasi

“When someone loves you, the way they talk about you is different. You feel safe and comfortable.”
– Jess C. Scott

[i] Mahfud Achyar adalah seorang praktisi Marketing Communication di salah satu NGO di Jakarta dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta, program studi Corporate Communication.

 

Social Movement

Anies Baswedan
Anies Baswedan

According to Paul van Seeters and Paul James defining a social movement entails a few minimal conditions of ‘coming together’:

“(1.) the formation of some kind of collective identity; (2.) the development of a shared normative orientation; (3.) the sharing of a concern for change of the status quo and (4.) the occurrence of moments of practical action that are at least subjectively connected together across time addressing this concern for change. Thus we define a social movement as a form of political association between persons who have at least a minimal sense of themselves as connected to others in common purpose and who come together across an extended period of time to effect social change in the name of that purpose.”

social movement, loosely organized but sustained campaign in support of a social goal, typically either the implementation or the prevention of a change in society‘s structure or values. Although social movements differ in size, they are all essentially collective. That is, they result from the more or less spontaneous coming together of people whose relationships are not defined by rules and procedures but who merely share a common outlook on society.

All definitions of social movement reflect the notion that social movements are intrinsically related to social change. They don’t encompass the activities of people as members of stable social groups with established, unquestioned structures, norms, and values. The behavior of members of social movements does not reflect the assumption that the social order will continue essentially as it is. It reflects, instead, the faith that people collectively can bring about or prevent social change if they will dedicate themselves to the pursuit of a goal. Uncommitted observers may regard these goals as illusions, but to the members they are hopes that are quite capable of realization. Asked about his activities, the member of a social movement would not reply, “I do this because it has always been done” or “It’s just the custom.” He is aware that his behaviour is influenced by the goal of the movement: to bring about a change in the way things have “always” been done or sometimes to prevent such a change from coming about.

Source http://www.britannica.com/EBchecked/topic/551335/social-movement

Aku Jatuh Cinta Padamu, Prau!

Aku semakin yakin bahwa semua doa-doaku yang pernah aku minta pada Tuhan selalu dikabulkan. Mungkin besok, lusa, tahun depan, atau mungkin beberapa tahun lagi. Dan tahun ini, aku menjadi saksi atas kuasa Tuhan. Salah satu mimpiku saat di kampus terkabul sudah. Masih lekat dibenakku, pada tahun 2008, aku dan teman-temanku berencana liburan ke Dieng Plateu, Jawa Tengah. Saat itu, aku dan teman-temanku sesama pengurus BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) begitu antusias untuk bertualang ke Dieng.

Menurut pandangan kami, Dieng adalah salah satu tempat terbaik di Indonesia yang harus dikunjungi. Kami pun mencari informasi tentang Dieng dengan berselancar di internet. Memandangi foto-foto keindahan alam Dieng yang diabadikan oleh para travelers. Kami berdecak kagum. Sejak saat itu juga harus aku akui bahwa kami jatuh cinta pada Dieng. Namun rasa cintaku terhadap Dieng tidak tersampaikan. Seperti seorang pujangga yang hanya bisa memuja sang terkasih tanpa yakin akan memilikinya. Saat itu kami hanya bisa membuat rencana. Sebatas rencana. Pada akhirnya kami harus mengulum senyum hambar karena rencana kami ke Dieng batal! Maklum, sebagai aktivis BEM kami lumayan disibukkan dengan program-program yang harus dijalankan hingga akhir kepengurusan.

Kendati rencana kami gagal total. Aku pribadi tidak lantas membuang mimpiku untuk pergi ke Dieng. Dalam hati penuh takzim, aku berdoa dan berharap, semoga suatu saat aku bisa ke sana. Ya Dieng! Sebuah negeri yang konon kata orang merupakan negeri tempat istirahatnya para dewa.

Enam tahun berlalu begitu cepat. Sejak tahun 2008 hingga tahun 2014, sebetulnya aku masih terobsesi untuk pergi ke Dieng. Kadang aku memikirkan Dieng pada beberapa kesempatan, kadang aku sama sekali tidak peduli. Namun siapa sangka penantianku tidak berakhir sia-sia. Tuhan memberikanku kesempatan untuk pergi ke Dieng pada waktu yang tepat dan yang paling penting bersama sahabat-sahabat yang menyenangkan.

Jatinangor, 21 Juni 2014

Gongratulations, bro! Tepat hari Jumat, 21 Juni 2014 sahabat kami bernama Dwi Cahyo Akbar secara resmi menyandang gelar sarjana. Kami bangga dengan perjuangan hebatmu, bro! Oke, untuk merayakan kelulusan teman kami, akhirnya kami pun bersepakat untuk merayakannya di salah satu puncak gunung terindah di jawa yaitu Gunung Prau! Gunung yang terkenal dengan puncak-puncaknya indah, golden sunrise, hamparan padang rumput savana yang luas, dan melihat lebih dekat si kembar Sumbing dan Sindoro. Lebih mengagumkan lagi, Gunung Prau terletak di Dieng Pleteu yang masuk wilayah Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Achievement unlocked! Artinya mimpiku pada tahun 2008 terkabulkan. Dan ini di luar dugaanku. Siapa sangka saat aku tidak terlalu memikirkan Dieng, justru takdir membawaku dan sahabat-sahabat baikku untuk mengenal lebih dekat Dieng.

Bandung, 22 Juni 2014

Di terminal bus Cicaheum Bandung, aku dan lima sahabatku yaitu Cahyo, Abah, Ella, Ai, dan Nurida sudah sangat siap untuk berangkat ke Wonosobo. Masing-masing kami membawa tas carrier dan day pack yang berisi bekal dan persiapan untuk mendaki Gunung Prau.

Sore merangkak senja, senja pun merangkak malam. Langit kota Bandung terlihat mulai gelap. Aku pun menengok jam tangan untuk memastikan bahwa kami masih punya kesempatan untuk makan malam. Sebab perjalanan menuju Wonosobo tidaklah sebentar. Kami akan Kami akan menghabiskan malam yang panjang di bis sekitar 10 jam. Abah pun segera membeli karcis di loket khusus bus Po. Sinar Jaya dengan merogoh kocek sebesar 75ribu. Untungnya Abah sudah reservasi karcis terlebih dahulu. Jika tidak, kami tidak akan kebagian kursi. Paling parah kami tidak bisa berangkat pada malam itu.

Oya, jumlah tim kami totalnya adalah 7 orang. Namun dua orang sahabat kami tidak berangkat bersama dari Bandung. Kang Hassan berangkat dari terminal Rawamangun Jakarta dan Riyan berangkat dari Yogyakarta. Namun kami sudah janjian untuk bertemu pada hari Minggu pagi tanggal 23 Juni 2014 di terminal Mendolo, Wonosobo.

Perjalanan malam yang cukup panjang pun dimulai. Aku pernah dengar bahwa waktu yang terbaik untuk berpergian adalah malam hari. Sebab pada malam hari, jarak perjalanan seolah semakin pendek. Barangkali karena kita bisa tidur dan ketika kita bangun kita sudah sampai pada tujuan kita. Namun bagiku, perjalanan malam sayang sekali jika dihabiskan hanya untuk tidur. Aku dan sahabat-sahabatku sudah tidak sesering dulu bertemu di kampus. Sejak kami lulus kuliah, kami sibuk dengan aktifitas masing-masing. Sebetulnya lumayan sering berkomunikasi melalui media sosial, namun jarang bertemu langsung untuk sekadar berbincang-bincang dan bergurau.

Malam itu, kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu kami bersama. Kami pun bermain tebak-tebakkan konyol yang katanya games anak psikologi, bernyanyi saling bersaut-sautan, tertawa, saling meledek, dan bertepuk tangan. Jika mengingat momen itu, saya jadi tertawa sendiri. Seolah kita sebagai anak-anak manusia yang enggan menjadi dewasa.

Mata mulai terasa berat. Rasa kantuk tidak tertahankan. Kami pun tidur. Menjelajah dimensi lain yang tidak kami ketahui satu sama lainnya.

Wonosobo, 23 Juni 2014

Sekitar pukul 05.00 WIB, kami tiba di terminal Mendolo, Wonosobo. Menurutku, terminal Mendolo cukup rapi dan bersih. Jauh berbeda dibandingkan terminal di Jakarta atau pun Bandung. Selain Itu, udara pagi di Wonosobo juga menyegarkan paru-paru. Maklum, di Jakarta setiap hari aku terbiasa menghirup udara yang sudah terkontaminasi polusi. Angin dingin pun berhembus dan berlari-larian kecil di atas kulit sehingga membuat tubuhku sesekali menggigil. Yep, sekilas Itulah first impression-ku ketika menginjakkan Wonosobo untuk pertama kalinya.

Selanjutnya kami pun bergegas mencari masjid untuk sholat Subuh. Tidak jauh kami melangkah, kami pun menemukan sebuah masjid. Kami pun bergegas untuk sholat Subuh, personal hygine, dan menunggu dua sahabat kami yaitu Kang Hassan dan Riyan. Selang beberapa menit, Kang Hassan pun datang. Sementara Riyan baru tiba di Wonosobo sekitar pukul 09.00 WIB.

Sembari menunggu Riyan, kami pun repacking yang dibantu oleh Cahyo. Maklum, jam terbang Cahyo dalam hal per-packing-an sudah tidak diragukan lagi. Menurutnya, prinsip utama dalam packing adalah, jangan membiarkan ada ruang tersisa sehingga menjadi celah untuk udara masuk. Sebab jika masih ada ruang sisa, beban terasa lebih berat. Dia menambahkan, barang yang kita bawa sebetulnya bisa menjadi ringan asalkan kita telaten ketika packing. Kami pun hanya bisa angguk-angguk kepala, kendati kami tidak mengerti sepenuhnya apa yang disampaikan Cahyo. Hehe.

Urusan packing kami serahkan seutuhnya kepada Cahyo. Beberapa orang di antara kami yaitu Kang Hassan, Nurida, Ella, Ai, dan aku pun mendapat mandat mulia untuk ke pasar tradisional guna membeli perbekalan selama di gunung. Horray! Markipas, mari kita ke pasar.

Well, all my bags are paked!

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Riyan melempar senyum kepada kami. Kita pun saling berkenalan, berbincang-bincang ringan, dan tanpa mengulur waktu kami pun siap menjelajah alam Dieng yang indah dan permai.

Our long journey start here.

Untuk sampai ke Dieng, kita bisa menumpang elf dengan membayar ongkos sekitar 15ribu per orang. Pada hari itu, nampaknya hanya kami yang berstatus pelancong di dalam elf. Sisanya adalah warga lokal asli Wonosobo. Di antara mereka ada yang membawa sayur-sayuran dan membawa bahan pangan. Sepanjang perjalanan menuju Dieng, tolong jangan tidur. Tolong sekali! Sebab pemandangan di sisi kiri dan kanan sungguh indah.

Aneka sayuran berwarna hijau seperti daun bawang, kangkung, dan sawi terhampar luas berbentuk persegi empat yang teratur. Sementara itu, pada tanah yang lereng dibuat sengkedan berjenjang-jenjang yang ditumbuhi tanaman tumpang sari. Tanah di negeri Dieng sangatlah subur. Aduhai, asyik sekali sepertinya menjadi masyarakat Dieng. Rumah-rumah mereka berjejer rapi. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah hijau, hijau, dan hijau. Betapa tergila-gilanya aku pada warna itu. Mungkin benar kata orang, Indonesia ini tanahnya syurga. Untuk itu, sudah semestinya kita menjaga anugrah Tuhan yang takternilai harganya.

Elf melaju dengan kecepatan yang stabil, melewati jalan-jalan yang berkelok, dan menanjak semakin tinggi. Setengah jam berlalu, kami pun tiba di Dieng. Oya, sebagai informasi, jalur menuju puncak Gunung Prau ada dua, yaitu dari Patak Banteng dan Dieng. Dan kami memilih jalur Dieng. Menurut Cahyo, hiking melalui Dieng lebih santai dan pemandangannya pun lebih bagus. Aku sendiri kurang tahu persis sebab belum pernah hiking melalui Patak Banteng. Namun, Ella yang sebulan lalu kembali ke Prau via jalur Patak Banteng mengakui bahwa pemandangan via Dieng jauh lebih keren.

 

Jalur pendakian menuju Gunung Prau via Dieng
Jalur pendakian menuju Gunung Prau via Dieng

Kami mulai pendakian sekitar pukul 13.00 WIB. Jujur kuakui bahwa pemandangan sepanjang jalan menuju puncak Prau: PERFECT! Bayangkan, kami berjalan perlahan di atas jalan bebatuan yang tersusun rapi, menghirup oksigen yang segar, menikmati pemandangan desa yang damai, dan bibir kita takhenti-hentinya takjub dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Berlebihankah aku memujinya? Tentu tidak. Aku rasa itu deskripsi yang tepat menggambarkan keelokkan alam Dieng.

Rasa lelah sepanjang pendakian seolah takada artinya. Sebab kami selalu disuguhi hal-hal yang mengesankan: kanopi dari jejeran pohon pinus serta kabut tipis yang tiba-tiba datang dan pergi karena tiupan angin. Selain itu, sahabat kami Ai juga menjelaskan beberapa jenis tanaman yang tidak kami ketahui nama dan jenisnya. Sebagai seorang mahasiswa magister Biologi, jelas Ai menguasai hal-hal tersebut dibandingkan kami. Jadi bisa dikatakan perjalanan kami tidak hanya sebatas yang indah-indah saja, tapi ada pengetahuan baru yang kami dapatkan. Oh ya! Taksonomi nama ilmunya. Dalam Biologi, taksonomi ilmu yang mempelajari penggolongan atau sistematika makhluk hidup (termasuk tumbuhan). Sistem yang dipakai adalah penamaan dengan dua sebutan yang dikenal sebagai tata nama binomial atau binomial nomenclature.

Beberapa meter melangkah, kemudian berhenti. Bukan hanya karena kami lelah, tapi kami tidak ingin menyia-nyiakan momen yang kami lihat dengan mengabadikannya dengan kamera yang kami bawa. Semakin kami jauh berjalan, semakin kami lebih mengenal satu sama lainnya. Kendati sering berpergian bersama, ada saja hal-hal baru yang kami pahami dari karakter masing-masing. Berbeda, ya kami berbeda. Tapi bukankah perbedaan itu anugrah yang membuat kita semestinya lebih mengerti satu sama lainnya.

Cukup jauh berjalan, kaki mulai terasa berat untuk melangkah. Kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak. Menikmati keindahan penaroma Dieng dari ketinggian.

“Hai teman-teman! Lihat di bawah sana ada telaga warna,” Ella bersorak.

Kami pun bergegas menuju tempat Ella. Penasaran ingin melihat apa yang Ella lihat. Yep, mengangumkan! Telaga warna terlihat sangat jelas kendati pada jarak yang terbentang sangat jauh. Kami dengan leluasa berputar 180 derajat untuk melihat pemandangan yang kami suka tanpa ada satu pun yang menghalangi bola mata kami. Burung-burung terbang di atas cakrawala. Mereka bergerombol menuju suatu tempat yang tidak kami ketahui. Mereka adalah sang petualang. Begitu juga dengan kami.

 

Telaga Warna dari Gunung Prau
Telaga Warna dari Gunung Prau

 

Setelah cukup puas istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Puncak Prau sudah terlihat. Aku agak sedikit de javu, merasa sudah pernah ke sini sebelumnya. Aku bingung dengan kerja otak.

“Ini kaya dimana ya?”

“Mirip kaya di Puntang, Ach!” balas Nurida.

“Oya bener mirip.”

Sore itu adalah salah sore terbaik dalam hidupku. Merasakan hidup sebagai manusia petualang seperti yang aku impikan sedari kecil. Padang savana yang terhampar luas. Sangat luas. Savana tersebut dipercantik karena tumbuh bunga kecil berwarna kuning, putih, dan ungu. Seperti bunga matahari tapi dalam ukuran yang lebih kecil. Kata Cahyo, nama bunga itu adalah bunga Daisy yang merupakan keluarga asteraceae sama seperti bunga aster. Belakangan aku mencari informasi lebih detil mengenai bunga Daisy. Aku baru tahu bahwa bunga Daisy memiliki filosofi yang melambangkan kerendahan hati, kestabilan, suci, simpati, dan keceriaan. Beruntungnya kami bisa melihat bunga Daisy bermekaran yang menjadi pengiring kami menuju puncak. Ya, puncak Prau dengan ketinggian 2.565 meter dari permukaan laut adalah tujuan kami.

 

Bunga Daisy
Bunga Daisy

 

Sang mentari yang dari tadi menjadi lentera perjalanan kami perlahan mulai beranjak pergi menuju peraduannya. Kami pun semakin mempercepat langkah agar tiba di puncak sebelum matahari benar-benar hilang. Gunung Prau memang unik. Aku kira kita sudah tiba di puncak. Namun kata kang Hassan, itu belum puncaknya. Tiba di puncak lainnya namun tetap itu bukan puncak aslinya. Takheran jika puncak Gunung Prau dijuluki dengan puncak seribu bukit.

Sekitar pukul 17.15 WIB, akhirnya kami pun tiba di puncak asli Gunung Prau. Alhamdulillah. Rasa syukur membuncah dari hati. Abah dan Cahyo bertugas mendirikan tenda; aku, Kang Hassan, Riyan bertugas mencari kayu bakar untuk acara api unggun; Nurida, Ai, dan Ella menyiapkan air panas. Oya, kami belum sholat Dzuhur. Kami pun bergantian untuk sholat jamak qashar Dzuhur dan Ashar.

Udara dingin pegunungan mulai menusuk hingga ke tulang. Apalagi bagi kami yang memiliki tubuh kurus yang hanya memiliki sedikit bantalan lemak. Jaket, syal, dan kupluk pun dipasang. Tenda berdiri kokoh dan menghadap langsung ke arah si kembar, Sumbing dan Sindoro. Sayang saat itu, si kembar ditutupi awan yang tebal. Kami tidak bisa leluasa memandangi mereka. Namun beberapa menit kemudian, kami tiba-tiba angin berhembus. Awan tebal yang menyelimuti si kembar pun perlahan mulai hilang. Menjelang senja saat cakrawala berwarna merah jingga, Gunung Sumbing dan Sindoro seolah menyapa kami. Membuat hati kami riang gembira. Taklupa kami mengabadikan momen indah dengan berbagai pose yang penuh keceriaan.

Malam pun menyapa. Angin gunung pada malam memang kurang bersahabat. Berhembus cukup kencang. Udara terasa semakin dingin. Kami berharap tidak ada satu pun dari kami yang terkena hyporthermia. Kami mengusik dingin malam dengan memasak bersama. Agar tubuh terus bergerak. Lagian perut dari tadi sudah keroncongan. Tidak sabar rasanya untuk makan malam yang diracik secara khusus oleh koki handal Nurida, Ella, dan Ai.

Alhamdulillah kenyang. Makan malam yang sangat nikmat.

Makan malam sudah, sholat Maghrib dan Isya sudah, acaranya selanjutnya adalah menghangatkan diri dengan duduk melingkari api unggun. Riyan, mahasiswa magister Sejarah, berkisah banyak hal kepada kami. Tentu saja tentang sejarah. Dari dulu, aku sangat suka sejarah. Kami pun antusias bertanya mengenai ini dan itu kepada Riyan. Obrolan kami malam itu diakhiri dengan padamnya api unggun. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 10 malam. Kami pun memutuskan untuk masuk ke tenda. Barangkali obrolan tentang sejarah bisa dilanjutkan di tenda.

Sementara itu, masih ada saja pendaki yang baru datang kendati sudah malam. Besok subuh adalah waktu yang paling aku tunggu. Sebab, aku ingin sekali menjadi saksi betapa cantiknya golden sunrise di puncak Gunung Prau.

Dieng Plateu, 24 Juni 2014

“Teman-teman, ayo bangun! Sebentar lagi sunrise. Ayo sholat!” Ella berteriak dari tenda sebelah.

Kami pun sholat Subuh berjamah. Usai sholat, kami pun menanti secercah cahaya yang menyeruak di balik awan kelabu yang masih terlihat gelap. Perlahan fajar mulai menyingsing. Cahaya mentari terpancar di antara sela-sela awan. Semakin lama semakin memancarkan cahaya dengan spektrum yang lebih luas. Menyinari cakrawala dengan cahaya berwarna keemasan. Benar sekali, sunrise di puncak Gunung Prau sungguh cantik. Laiknya seorang putri istana yang ditunggu-tunggu jutaan rakyatnya. Begitulah kami menunggu sang mentari. Menghangatkan tubuh kami yang dari tadi malam terasa menggigil. Memberi kami harapan baru dan semangat baru.

Golden Sunrise
Golden Sunrise

 

Wahai sang mentari pagi. Biarkan kami bersamamu lebih lama. Mendendangkan lagu terbaik yang kami bisa untukmu. “There’s always a story. It’s all stories, really. The sun coming up every day is a story. Everything’s got a story in it. Change the story, change the world.” – Terry Pratchett.

Aku membentangkan tangan menghadap matahari. Membiarkan angin pagi yang masih sama dinginnya saat malam hari yang dari tadi menampar-nampar wajahku. Ah, angin dingin pagi itu hanya ingin bercanda denganku. Sementara hangatnya sang mentari mulai merasuk hingga pembuluh vena dan arteri. Mengusir rasa dingin yang seolah enggan pergi.

Aku dan sahabat-sahabatku merasakan sesuatu yang sangat personal. Hubungan kita dengan alam memang sangatlah dekat. Alam bagi kami adalah rumah. Saat hati merasa jengah dan lelah, kami ingin kembali padanya. Bukankah setelah meninggal, kita akan kembali pada alam. Tentunya alam yang berbeda.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Dieng. Sekali lagi aku katakan padamu, aku jatuh cinta padamu. end!

Anak Kaki Langit
Anak Kaki Langit

 

 

Catatan Perjalanan: Akhir Tahun 2013 di Gunung Puntang

Pada akhir tahun 2013, tepatnya pada tanggal 28 hingga 29 Desember 2013, aku bersama sahabat-sahabatku bersepakat untuk mengikuti trip pendakian ke gunung Puntang yang berlokasi di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Berbeda dengan pendakian-pendakian sebelumnya yang biasanya hanya dilakoni oleh kurang dari 10 orang, namun pada pendakian ini ada sekitar 22 orang yang bertekad untuk sampai ke puncak gunung Puntang, yaitu puncak Mega yang memiliki ketinggian 2.223 Mdpl (meter dari permukaan laut).

Salah satu lokasi perkemahan di gunung Puntang. (Dokumentasi pribadi)
Salah satu lokasi perkemahan di gunung Puntang. (Dokumentasi pribadi)

Oya, pada pendakian ini kami tergabung dalam komunitas Ngeteng Mania yaitu komunitas para pencinta traveling yang diinisiasi oleh kang Fadli bersama teman-teman dari FKM UI. Lantas bagaimana ceritanya aku dan teman-temanku bisa gabung komunitas ini? Jawabannya takdirlah yang mempertemukan kita. Jadi ceritanya, aku sudah pernah kenal dengan teman-teman Ngeteng Mania saat kegiatan bakti sosial yang ada di adakan oleh kantorku di kaki gunung Salak, Bogor pada tahun 2013. Saat itu aku bertugas menjadi reporter berita. Jadi aku sempat mewawancarai beberapa di antara anggota Ngeteng Mania.

Sementara itu, sahabatku semasa kuliah yang bernama Nurida Sari Dewi, wanita asal Semarang yang pernah tinggal di Balikpapan, dan saat ini kuliah pascasarjana UI, nyatanya juga mengenal para anggota komunitas Ngeteng Mania. Bahkan beberapa dari anggota Ngeteng Mania juga menjadi teman kuliah Nurida di UI. Singkat cerita, aku diajak Nurida dan Nurida diajak Ngeteng Mania. Ya, kurang lebih seperti itu jalan ceritanya. Well, dunia ini memang sangat sempit kawan. Maka tertawalah. Haha.

Ada dua tim yang berangkat ke gunung Puntang. Yaitu tim dari Jakarta dan tim dari Bandung. Tim Jakarta terdiri dari Nurida dan teman-teman Ngeteng Mania. Selanjutnya tim dari Bandung terdiri dari aku, Cahyo, Ellak, dan Abah. Nurida bertugas sebagai supir yang hebat. Katanya sih begitu. Aku sih tidak terlalu percaya. Hihi. Sementara yang bertugas menjadi supir dari tim Bandung adalah Cahyo. Lalu apa tugasku, Ella, dan Abah? Kita makan-makan di mobil, berbincang-bincang ringan, tertawa, saling meledek, dan tidur. Sip. Tugas yang sangat sempurna. Hehe.

Anak Kaki Langit!
Anak Kaki Langit!

Perjalanan ke Banjaran dari Bandung membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Waktu yang cukup lama bukan? Padahal sebetulnya jarak antara Bandung dan Banjar tidak begitu jauh. Namun apalah daya, jalan raya Banjaran pada hari itu sangatlah macet. Seingatku kita berangkat pukul 09.00 pagi dari Jatinangor dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 11.30 WIB. Mobilnya Abah melaju dengan pelan dan untungnya tidak berlendir seperti Gery. Miau. Saat asyik-asyiknya menikmati pemandangan menuju Banjaran, Nurida dan Andin terus menelpon kami, kemudian sms, kemudian mengomeli kami. Kasihan sekali kami (karakter Nurida pada tulisan ini dibuat agak sedikit antagonis). Hehe.

“Kalian dimana sih? Kita udah nyampe di Puntang dari tadi loh. Kalian lambat dan berlendir.”

“Iya sebentar lagi kami sampe. Tunggu ya!”

“Udah dimana?”

“Dikit lagi nyampe!”

“Lama banget.”

Tuh kan, banyak sekali pertanyaan bertubi-tubi merambat melalui gelombang elektromagnetik ponsel yang kami genggam secara bergantian. Mulai dari aku, Ellak, dan Cahyo. Haha. Eh tapi sebenarnya Nurida pada dasarnya anak baik dan berpendidikan kok. Cerita yang Anda baca saat ini agak sedikit didramatisasi. Hoi!

For your information, gunung Puntang adalah salah satu gunung bersejarah di kawasan Bandung Selatan. Di kawasan gunung Puntang terdapat petilasan loji Belanda, yaitu goa Belanda yang pada zaman kolonial Belanda merupakan basis stasiun pemancar radio yang menyebarkan berita ke seluruh dunia. Hebat bukan? Namun sekarang keberadaan gunung Puntang difungsikan sebagai tempat rekreasi seperti untuk camping, hiking ke curug (air terjun), dan berbagai kegiatan alam lainnya. Sebelum berangkat ke gunung Puntang, aku sempat berselancar di google untuk mencari informasi tentang gunung Puntang. OMG! Keyword yang tersedia pada mesin pencari yaitu: gunung Puntang angker, misteri gunung Puntang, suasana mencekam di gunung Puntang, dan sebagainya. Ya ampun. Reputasi gunung Puntang cukup mengkhawatirkan di internet. Namun aku tidak terlalu ambil pusing. Markemon!

Curug Siliwangi

Sekitar pukul 12.00 WIB kami trekking ke curug Siliwangi yang konon kata pedagang-pedagang di sekitar kawasan wisata gunung Puntang merupakan curug yang indah dan tinggi. Salah seorang ibu penjaga warung bertutur kepadaku bahwa selama bertahun-tahun ia berdagang di tempat itu, ia belum pernah sama sekali melihat curug Siliwangi.

“Ih curug Siliwangi mah meuni jauh pisan. Ibu oge teu pernah ke ditu. Tapi anak ibu mah sering. Dia mah suka penelitian di hutan,” ujar ibu penjaga warung dalam idealek Sunda.

Oke, trekking ke curug Siliwangi pun dimulai. Bismillah. Kami pun berdoa dalam hati.

Pemandangan menuju curug Siliwangi sangatlah indah. Hamparan rumput hijau seakan menjadi green carpet yang mengantarkan kita bertualang pada siang itu. Belum lagi rindangnya pohon-pohon pinus yang berjajar dan rimbun. Mereka layaknya seperti pagar bagus yang sudah siap menunggu kehadiran kami sebagai tamu di kawasan wisata gunung Puntang. Ingat, kami hanyalah tamu. Sebagai tamu kita haruslah tahu diri. Jangan pernah merusak dan bersikap yang santunlah selama di “rumah” mereka.

Cahaya mentari yang hampir tepat di atas kepala pun menyelip di antara dahan-dahan pinus yang cukup rapat. Ah nampaknya cahaya mentari takingin ketinggalan menjadi lentera yang menuntun perjalanan kami. Belum lagi suara gemircik sungai yang seolah-olah mendendangkan musik klasik alam yang betul-betul menentramkan jiwa. Tidak kalah dengan arrangement musik klasik yang biasa kudengarkan seperti karya komposer seperti Kitaro, Kenny G, Bethoven, dan sebagainya. Alam membuat siapapun menjadi puitis. Beruntunglah jika kita memiliki ikatan dengan alam. Maka yang tercipta adalah sinergi yang harmoni. Saling memiliki dan saling terhubung.

Beberapa menit berjalan kondisi masih aman-aman saja. Namun kemudian kita dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Pilihan yang akan menentukan mana jalan yang tepat untuk diambil. Apakah ke kiri dengan menyusuri sungai yang memiliki arus yang cukup kencang. Atau mengambil jalur kanan dengan menapaki tebing yang terjal, kontur tanah yang tidak stabil dan licin, serta semak belukar yang tampak belum pernah dilewati oleh orang-orang.

Saat itu kami pun berdiskusi. Lebih tepatnya saling berasumsi untuk menentukan jalan yang paling benar.

“Kayanya lewat sini deh.”

“Bukan, kayanya lewat situ deh.”

Penggalan-penggalan frasa bermotif opini pun mulai mencuat. Beberapa di antara kami ada yang mulai berinisiatif untuk memilih membersihkan semak belukar di jalur dekat sungai. Barangkali itu jalan yang benar. Tetiba, aku pun menimpali asumsi yang tidak ada dasarnya.

“Eh kayanya jalur kiri yang benar. Soalnya ada tanda panah. Pasti itu tanda menuju curug. Iya kan?” aku bertanya retoris.

Celetukanku tidak digubris sama sekali. Kang Fadli masih asyik membersihkan jalur di bagian kiri. Sementara Cahyo mengeluarkan tali webbing yang akan digunakan untuk menyebrang sungai yang berarus deras. Oh, takada kata mufakat. Namun sepertinya mereka mengikuti saranku. Salah seorang di antara kami, seingatku kang Fajar sudah berhasil menyebrangi sungai. Cahyo pun melempar tali webbing ke seberang sungai dan ditangkap oleh kang Fajar. Aku pun berinsiatif memegang tali webbing agar orang-orang dapat memegang erat tali tersebut ketika menyebrang sungai.

Untuk menyebrang sungai tidak boleh asal-asalan. Harus hati-hati. Sebab kita menginjak bebatuan yang licin. Belum lagi arus sungai yang cukup deras. Jika kita terpeleset, maka terimalah takdir untuk basah kuyup. Satu persatu kami pun menyebrangi sungai. Kemudian tibalah giliran Nurida. Apa yang terjadi? Ia pun sangat hati-hati menyebrangi sungai. Sepasang tangannya begitu kuat memegang tali webbing. Ia berjalan sangat pelan-pelan. Dan seketika itu dia berteriak.

“Loh sendalku hanyut,” teriak Nurida dengan intonasi yang tidak terlalu tinggi. Cuma naik satu oktaf.

Kami pun cukup terkejut dan hanya bisa memandangi sendal jepit berwarna ungu yang terbawa arus sungai. Bye! Sendal itu pun hilang takberbekas. Namun sendal sepertinya tidak menjadi prioritas Nurida. Yang terpenting saat itu adalah ia dapat berhasil menyebrangi sungai dengan baik dan selamat. Yap, semuanya berhasil. Kami lolos menjadi peserta Benteng Takeshi. Hoho. Doakan kami pada rintangan selanjutnya ya!

Tantangan selanjutnya ada di depan mata! Kami harus menyusuri hutan yang rimbun, tebing yang terjal, turunan yang curam, dan menyusuri jalan setapak yang licin. Kami berjalan bersama-sama. Layaknya seperti bocah-bocah petualang yang begitu bergembira karena hiking bersama.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya kami mendengar suara air terjun. Semakin kami berjalan, suara air terjun semakin jelas terdengar. Jalan beberapa langkah lagi, akhirnya kami dapat melihat curug Siliwangi yang cukup tinggi. Mungkin Curug Siliwangi adalah salah satu curug tertinggi yang pernah aku lihat. Kami pun kemudian bergegas menuju curug, berfoto-foto, makan siang, sholat jamak qashar Dzuhur dan Ashar, kemudian kembali menuju perkemahan.

Well, perjalanan panjang menuju curug Siliwagi terbayar lunas. Lunas tanpa kredit. Curug yang memesona, anggun, dan agak sedikit misterius.

Curug Siliwangi
Curug Siliwangi

Summit Attack ke Puncak Mega

29 Desember 2013, pukul 02.00 dini hari. Suhu pada saat itu cukup dingin barangkali sekitar 16 derajat celcius. Bagiku yang memiliki tubuh kurus yang hanya dilapisi beberapa senti bantalan lemak, angin gunung sangat menusuk tulang. Tapi untung saya punya jaket waterproof berwarna hijau muda dan sedikit aksen hitam yang baru saya beli bersama Ellak. Model, warna, dan merek jaket kita sama persis. Hanya beda ukuran. Jaketku ukurannya L, sementara jaket Ellak ukurannya M. Kami seperti sepasang anak gunung yang kembar. Hehe. Ulah kekompakkan kami yang suka pamer jaket, Cahyo pun jadi naik pitam. Dia meledek jaket kami yang mahal dan berkualitas. Kemudian dia tertawa. Kami pun hanya bisa garuk-garuk kepala. Aneh.

Kami pun packing. Memasukkan beberapa barang penting ke day pack seperti air mineral, madu, flysheet, kamera, ponsel, dan lain sebagainya. Tidak lupa kami memasang head lamp dan mengganti kostum lapangan yang nyaman untuk pendakian. Whatezig! Kami pun siap untuk summit attack ke puncak Mega.

Oya, kalian harus tahu. Pendakian tidak pernah menyisakan duka. Justru yang timbul hanyalah cinta, cinta, dan cinta. Aku akan bercerita bagaimana kisah terjalin begitu apa adanya antara Abah dan seorang wanita berkaca mata. Penasaran? Aku pun begitu.

Sebelum memulai pendakian, terlebih dahulu kami mendaftar ke sekretariat PGPI (Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia). Setelah selesai mendaftar, kami pun berkumpul untuk berdoa bersama dan kemudian mulai mendaki. Kondisi saat itu tidak terlalu gelap. Sebab tepat di atas kepala kami bulan purnama sempurna memancarkan cahaya yang terang. Aku pun mendongakkan kepala ke atas melihat nanar bulan purnama. Ah, aku jadi teringat salah satu kutipan romantis dalam novel Burlian yang ditulis Tere Liye.

“Kau tahu, menurut kepercayaan orang Jepang, jika ada dua orang memandang bulan purnama di saat bersamaan, maka tidak peduli seberapa jauh kau berpisah dengannya, kau seolah saling melihat wajah satu sama lain.” – Burlian

Cahaya rembulan tidak hanya menjadi penghubung dengan orang-orang yang kita cintai. Namun juga menjadi penerang dari semesta yang menemani perjalanan kami menuju puncak gunung. Kami merasa sangat terbantu berkat cahaya berpendar yang dipancarkan bulan purnama saat itu.

Beberapa menit kami berjalan, salah seorang di antara kami menghempaskan badannya pada reremputan yang basah karena embun. Ia berkata pada kami bahwa ia kelelahan dan mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan. Barangkali ada hal yang membuatnya patah arang. Tapi bagaimana pun kami tidak bisa memaksa. Kami hanya bisa memaklumi. Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan. Namun kemudian lagi-lagi kami menemukan dua orang teman kami yang juga memutuskan untuk berhenti melangkah. Salah seorang di antara mereka sakit. Abah dan Cahyo pun mengantarkan mereka turun kembali.

Baiklah, mari kita melanjutkan perjalanan. Kami harus segera bergegas karena tidak ingin kehilangan momen langka untuk melihat semburat cahaya berwarna jingga di ufuk timur. Ritme langkah pun kami percepat. Apalagi jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB. Artinya sebentar lagi waktu sholat Subuh tiba. Selang beberapa menit, terdengar sayup-sayup suara adzan Subuh berkumandang. Suara adzan yang saling bersaut-sautan membangunkan anak manusia yang terlelap tidur untuk memenuhi seruan Tuhan. Aku jadi malu sendiri, di usiaku yang sudah tidak muda lagi berapa seringnya adzan Subuh yang tidak aku dengar. Aku terlelap tidur kemudian sholat Subuh pun kesiangan. Malu.

Kami pun sholat Subuh berjamaah. Sholat di alam terbuka, dingin, dan di gunung menjadi hal istimewa. Ini adalah satu dari sekian banyak momen epic yang paling aku sukai ketika mendaki gunung. Momen yang sangat jarang ditemui. Saat sholat di atas gunung, kita merasa menjadi manusia yang tidak ada apa-apanya, sementara kuasa Allah begitu besar. Lantas, apa yang harus kita sombongkan?

Perlahan tapi pasti, fajar terlihat menyingsing. Semburat berwarna jingga mulai terlihat walaupun masih ditutupi awan hitam yang tebal. Sementara itu, di bawah sana, suara ayam berkokok terdengar seperti suara terompet penanda hari yang baru telah datang. Aku pun jadi bersemangat. Sangat bersemangat saat itu. Ingin rasanya tiba di puncak Mega sesegera mungkin. Aku rasa, semangat yang membuncah di dalam hati juga dirasakan oleh teman-temanku. Tanpa banyak bicara, kami fokus mendaki jalanan yang terjal, sesekali istirahat untuk meneguk air mineral, dan berteriak untuk saling menyemangati.

Gugusan gunung-gunung yang dilihat dari atas Puncak Mega, gunung Puntang
Gugusan gunung-gunung yang dilihat dari atas Puncak Mega, gunung Puntang

Tiga jam berlalu. Tinggal 1,5 jam lagi kami akan sampai di puncak. Tapi sayang sekali keinginan kami untuk melihat sunrise secara langsung dari atas puncak Mega tidak akan terwujud. Sang mentari sudah terlihat dan mulai menyinari cakrawala pagi. Burung-burung pun bernyanyi dan terbang kian ke mari. Aku, Abah, Ellak, dan Fikroh berada di barisan belakang. Kami tertinggal cukup jauh dibandingkan yang lainnya. Bahkan ada yang sudah sampai puncak. Ingin sekali berlari agar cepat tiba. Tapi tidak mungkin. Kami diminta menjadi tim akhir untuk memastikan semua orang bisa mencapai puncak dengan selamat.

Nah, sekarang masuklah pada segmen cinta seperti yang aku tulis tadi. Cinta itu menyemangati, cinta itu menguatkan, dan cinta itu adalah kesetiaan. Bukan begitu Abah? Biarkan Abah bercerita lebih banyak untuk hal ini. Aku hanya bisa memantik saja. Hehe.

1,2,3 yap!

Akhirnya kita berhasil tiba di puncak Mega pada ketinggian 2.223 Mdpl. Perasaan pun campur aduk: senang, terharu, dan puas! Rasa lelah seketika tidak berarti apa-apa. Kami begitu senang bisa menikmati pagi pada akhir tahun 2013 di puncak gunung. Sepanjang mata memandang yang tampak hanyalah gugusan gunung-gunung yang sangat indah, kabut tipis, dan sisa-sisa semburat berwarna jingga yang memenuhi cakrawala. Saat itu dada kami dipenuhi rasa syukur tiada terkira. Sulit sekali diungkapkan. Sebab Allah telah menampakkan kuasa-Nya yang begitu indah dan menakjubkan.

Puncak Mega
Puncak Mega

Inilah kami, NGETENG MANIA!
Inilah kami, NGETENG MANIA!

 

Lagi, ini adalah kado terbaik dalam hidup kami. Terima kasih gunung Puntang. Akhir tahun yang sangat manis. [Mahfud Achyar]

 

 

 

Belajar Makna Kehidupan dari Suku Baduy Dalam di Banten (Bagian 2)

Stasiun Rangkasbitung, pukul 12.05 WIB

Akhirnya setelah menempuh perjalanan berjam-jam, berada di gerbong kereta yang panas dan sumpek, kami pun tiba di stasiun Rangkasbitung, Banten. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di stasiun ini. Sekilas saya perhatikan desain bangunan dari stasiun Rangkasbitung tidak jauh berbeda dengan desain bangun stasiun-stasiun di Indonesia: bergaya Belanda. Namun sepertinya keberadaan stasiun Rangkasbitung tidak seberuntung stasiun-stasiun yang pernah saya singgahi. Terlihat cat dinding berwarna putih sudah mengelupas. Sungguh sangat disayangkan. Andai stasiun klasik ini dirawat tentu akan terlihat indah dan nyaman.

Saat turun dari kereta, peron-peron sudah dipenuhi oleh orang-orang yang hendak pergi ke berbagai tujuan. Mungkin mereka ada yang pergi ke Jakarta atau mungkin juga mereka sedang menunggu orang-orang yang mereka cintai. Ah ya, menunggu kadang menjadi hal yang membosankan. Tapi menunggu untuk mereka yang kita cintai tentu tidak akan menjadi persoalan yang terlalu besar. Waktu berjam-jam mungkin bisa dikonversi menjadi menit atau bahkan mungkin menjadi detik. Saya tidak terlalu suka menunggu. Namun kadang terpaksa juga harus menunggu. Menunggu dan ditunggu. Itulah siklus hidup manusia yang tidak dapat dihindari.

Ternyata kehadiran kami sudah ditunggu oleh guide yang akan mengantarkan kami ke Cibolger, pintu gerbang menuju kampung-kampung Suku Baduy Dalam. Untuk menuju Cibolger, panitia (SIE BOLANGERS) menyediakan mobil elf sebanyak tiga unit. Tanpa banyak bicara, kami pun satu persatu langsung masuk elf. Tidak sabar rasanya ingin tidur di dalam mobil karena selama di kereta tidak bisa tidur dengan damai. Namun hasrat untuk bisa tidur lelap di elf hanya sebatas angan-angan kosong.

Platak-plotok!

Kumpulan manusia di mobil elf terguncang: ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang. Jalan menuju Cibolger nyatanya tidak semulus yang saya bayangkan. Kita harus melalui ruas jalan yang tidak terlalu lebar, masih berbatu-batu, dan bahkan kita harus melewati jembatan yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Maka untuk melewati jembatan tersebut, mobil-mobil harus antri. Sang supir pun harus ekstra hati-hati karena jika tidak, maka bersiap-siaplah untuk nyemplung ke sungai. Perjalanan yang sedikit menegangkan. Bosan? Iya. Namun saya berusaha untuk menikmati perjalanan tersebut. Saya mencoba menepis rasa bosan dengan memikirkan hal-hal imajinatif selama trekking ke Baduy Dalam.

“Mengunjungi kampung suku Badu Dalam. Ah rasanya tidak pernah terlintas dalam benak saya. Dan hari ini saya akan mengunjungi suku sub-etnis Sunda yang memiliki populasi lebih dari 8.000 jiwa. Mungkin inilah yang disebut takdir yang misteri. Takdir yang bekerja dengan cara yang tidak disangka,” gumam saya dalam hati.

Menurut informasi yang saya dapatkan dari berbagai artikel yang berseliweran di internet, suku Baduy Dalam adalah cikal bakal dari suku Sunda yang mendiami wilayah Wetan (Timur, Ind). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng, di desa Kenekes, Kecamatan Leuwidimar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten.

Suku Baduy Dalam, Banten
Suku Baduy Dalam, Banten

 

Jarak yang ditempuh untuk mencapai perkampungan suku Baduy Dalam sekitar 40 kilometer dari kota Rangkasbitung. Bahasa yang digunakan oleh suku Baduy Dalam adalah bahasa Sunda dengan dialek Sunda-Banten. Kendati mereka terbiasa menggunakan bahasa Sunda dalam kesehariannya, namun mereka dapat menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, suku Baduy Dalam memiliki pengetahuan yang luas tentang aneka tetumbuhan yang baik untuk dikonsumsi, dijadikan obat-obatan, dan mengetahui tetumbuhan yang mengandung racun. Mereka tidak mengeyam bangku pendidikan secara formal di sekolah, namun alam mengajarkan mereka banyak hal.

Cibolger, pukul 12.05 WIB

Suasana di desa Cibolger yang merupakan pintu gerbang menuju perkampungan Suku Baduy Dalam tampak ramai. Bahkan sangat ramai. Banyak orang yang berkumpul di sana. Ada yang baru selesai berkunjung dari Suku Baduy Dalam, ada yang belanja souvenir khas Suku Baduy Dalam, dan ada juga yang baru datang seperti kami.

Kami pun sudah disambut hangat oleh beberapa perwakilan Suku Baduy Dalam yang selanjutnya bertugas sebagai porter sekaligus guide. Namun saya memilih tidak menggunakan jasa porter karena beban yang saya bawa dalam tas tidak terlalu berat. Lagian saya sudah terbiasa berjalan kaki dan membawa tas ketika hiking. Cukup filosofis alasannya. Saya ingin merasakan bahwa perjalanan panjang yang akan saya lewati tidak akan mudah. Apalagi ditambah dengan beban yang berat dipundak. Namun pada kondisi demikian saya berjuang, saya berusaha, dan saya berkeyakinan bahwa saya bisa melalui setapak demi setapak jalan yang lewati.

Salah satu guide yang menemani kami adalah seorang bocah berusia sekitar 10 tahun. Namanya saya lupa. Padahal saya sudah pernah sangat mengingatnya. Dia mengenakan pakaian khas Suku Baduy Dalam yang berwarna hitam. Ia pun memakai tas sederhana yang terbuat dari kain bertekstur kasar berwana putih untuk menyimpan barang-barang yang menurutnya perlu dimasukkan. Selain itu, seperti kebanyakan warga Suku Baduy Dalam, ia juga mengenakan pengikat kepala berbahan katun. Mereka berjalan berkilo-kilo tanpa menggunakan alas kaki seperti sandal atau sepatu. Pun demikian mereka tidak merasa kesekatin. Barangkali karena sudah terbiasa berjalan tanpa alas kaki, kerikil runcing yang menusuk pun mungkin tidak akan dirasa. Ya, kurang lebih begitulah style asli Suku Baduy Dalam yang membedakan mereka dengan Suku Baduy Luar.

 

Lantas apa perbedaan lain antara Suku Baduy Dalam dengan Suku Baduy Luar? Sebetulnya perbedaan antara dua entitas ini cukup mencolok. Suku Baduy Luar secara kasat mata sudah memiliki kebiasaan hidup sama dengan masyarakat Indonesia pada umumnya: memiliki rumah yang sudah dibeton, memiliki kendaraan seperti motor, memiliki perhiasaan, dan secara umum sudah tersentuh dengan teknologi informasi. Sementara Suku Baduy Dalam masih menjagi nilai-nilai luhur seperti tidak boleh membangun rumah dengan semen atau paku, tidak boleh menggunakan kendaraan apabila berpergian, tidak boleh hidup berlebihan, dan sebagainya. Nilai-nilai luhur tersebut dipertahankan semata-mata karena mereka sangat menghargai amanah dari leluhur mereka. Banyak hal yang membuat mereka tetap bertahan dengan tradisi mereka yang mungkin sebagian orang menganggapnya agak sedikit primitif.

Perjalanan menuju salah satu desa Suku Baduy Dalam yaitu desa Cibeo membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam. Kami berangkat sekitar pukul 13.00 WIB setelah selesai sholat dan makan siang. Sore menjelang maghrib, sekitar pukul 17.30 kami pun tiba di desa Cibeo. Ada 7 desa yang menjadi tempat tinggal Suku Baduy Dalam yaitu desa Cibolger, desa Kaduketuk, desa Gajeboh, desa Cibeo, desa Cikawartana, desa Cisagu, dan terakhir desa Cikeusik. Perjalanan dari satu desa ke desa lainnya tidaklah mudah. Kita harus menyusuri hutan hujan tropis Banten yang masih asri dan alami. Suku Baduy Dalam sangat menjaga keseimbangan alam. Selain itu, kami juga harus mendaki bukit-bukit yang terjalan, menyeberangi jembatan bambu yang di bawah sungai mengalir deras, meloncati jurang-jurang kecil, dan berjalan dengan hati-hati.

Perjalanan yang cukup melelahkan. Maka takheran jika kaus biru dongker yang saya kenakan basah, bermandikan keringat. Namun saya menikmati perjalanan yang panjang menuju desa Cibeo. Sebab rasa lelah dibayar lunas dengan pemandangan yang jarang saya temui. Semua yang terlihat dari sepasang mata saya sangat luar biasa hebat. Ada jembatan yang terbuat dari akar. Indah sekali dan begitu kokoh. Selain itu, kita juga akan takjub dengan bangunan unik seperti rumah panggung yang cukup tinggi yang bernama Leuit sebagai lumbung padi bagi masyarakat Baduy.

Rumah Suku Baduy Dalam Banten
Rumah Suku Baduy Dalam Banten

Sesampai di desa Cibeo, saya bersama teman-teman mandi di sungai yang segar dan jernih. Apakah yang dinamakan back to nature? Bisa jadi!

Kami menginap satu malam di rumah-rumah warga desa Cibeo yang sangat sederhana. Rumah bambu yang diterangi lampu obor, tanpa ruang tamu, tanpa kursi, dan tanpa perabotan yang berlebihan. Semuanya dibuat sesederhana mungkin. Saya beruntung bisa merasakan pengalaman semacam ini. Hidup sederhana, tidak berlebihan, tidak mengeluh, dan tidak gusar dengan hari esok. Sebab kita yakin, Tuhan sudah mempersiapkan rezeki dari langit dan bumi. Kita hanya perlu mengambil secukupnya dan bersyukur atas apa yang sudah kita dapatkan.

Setelah makan malam dengan menu nasi, mie goreng, dan ikan asin kami diundang oleh Kepala Suku untuk memperkenalkan diri, mendengarkan wejangan dari Kepala Suku, dan bertanya banyak hal kepada Kepala Suku tentang asal muasal Suku Baduy Dalam, falsafah hidup, dan sebagainya. Malam itu adalah diskusi yang sangat menarik. Saya mendapatkan banyak sekali informasi tentang Suku Baduy Dalam. Lebih dari itu, saya mendapatkan banyak pembelajaran tentang hidup dan kehidupan.

Malam dan gelap.

Kami pun tertidur pulas. Letih seharian berjalan kaki menjadi tidak terasa. Di luar sana, bintang-bintang berkerlap-kerlip memenuhi langit malam. Selamat malam.

Psychology and Philosophy talk about: HAPPINESS!

"When you Believe!"
“When you Believe!”

Psychology and philosophy point to the same basic principles: HAPPINESS comes from accepting (and feeling grateful for or resolved about) the past, staying fully engaged in the present, and anticipating the future with enthusiasm. Here’s what we can learn from centuries of wisdom:

Accept the Past

We all have had struggles, challenges, and suffering in our past. But happiness comes when we feel a sense of acceptance, gratitude, and fondness about what has happened, both the good and the bad. Learning from and making peace with the past allows us to be freer in the present.

Stay Engaged in the Present Moment
Almost all spiritual texts, teachers, and trainers guide people toward becoming more present in the moment. This means staying engaged in what we are feeling and doing, bringing our full conscious presence to the moment and the people in our lives.

Positively Anticipate the Future

There’s always tomorrow. Even if you know there’s going to be hardship and struggle, because there will be the future is wide open. What are you excited about for tomorrow? What could you look forward to? What can you do to bring joy or love or meaning to your and other’s day tomorrow? These types of questions pondered seriously and joyously can fire us with life once more.

Quoted from Mr. Brendon Burchard

 

Alone

source: www.devianart.com
source: http://www.devianart.com

Ali bin Abi Tholib ra. berpesan, “Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.”

– HR. Bukhari

 

Transjakarta, Malam, dan Hujan

Jakarta, 03 Februari 2014.


Naik bus Transjakarta selepas kuliah adalah pilihan yang takdapat kuelakkan. Sebab hanya transjakarta-lah moda transportasi umum yang kupilih untuk mengantarkan pulang setelah seharian beraktifitas: kerja dan kuliah. Namun bagiku pribadi, aku takterlalu mempersoalakan menaiki transportasi publik. Semestinya aku sudah dapat membeli motor, namun hasratku tersebut kubiarkan tertunda. Alasannya karena saat ini aku masih nyaman menggunakan Transjakarta kendati banyak warga Jakarta yang mengeluhkan bis yang berwarna biru, oranye, dan abu-abu itu. Apalagi untuk naik transjakarta butuh perjuangan yang takmudah–mengantri lama, desak-desakkan, jumlah bis yang masih sedikit, dan pelayanan yang masih seadanya dari pengelola Transjakarta. Barangkali alasan tersebutlah yang membuat segelintir warga Jakarta mengurungkan niat untuk naik Transjakarta. Mereka lebih memilih naik mobil atau motor.

Bagiku , Transjakarta adalah bagian dari keseharianku. Betapa tidak, setiap hari aku menaiki angkutan tersebut. Berangkat kerja, berangkat kuliah, dan pulang. Aku pun takterlalu merisaukan ketidaknyamanan menjadi penumpang transjakarta. Sebetulnya semuanya kembali pada diri kita. Jika kita menikmati apa yang terjadi, tentulah tidak ada yang tidak nyaman. Semuanya akan dijalani dengan riang, gembira, suka dan cita.

Lagian, takmelulu naik transjakarta itu kurang mengenakkan. Banyak hal positif yang dapat aku temui selama menyandang status sebagai penumpang. Misalnya, aku dapat lebih memahami karakter orang-orang. Selama dalam bis, aku seperti melihat perwakilan karakter-karakter manusia. Ada yang cuek, ada yang bikin kesal, ada yang murah senyum, ada yang wajahnya datar tanpa ekspresi, ada yang memasang raut wajah pongah dan angkuh, dan bahkan ada juga yang menjadikan Transjakarta sebagai tempat tidur yang menyenangkan. Maka sesekali mendengar suara orang mendengkur bukanlah hal yang aneh. Sudah biasa.

Aku sendiri adalah orang yang sama dengan mereka. Kadang cuek sekali, takmenghiraukan orang-orang sekitar. Kadang juga memanfaatkan waktu selama di bis untuk membaca buku, tilawah, memainkan ponsel pintar, mendengarkan musik, dan aktifitas yang paling sering kujalani adalah tidur. Bahkan karena seringnya tidur di Transjakarta, aku terbiasa terbangun pas di shelter yang menjadi tempatku berhanti. Ritual yang biasa kulakukan adalah, aku bergumam dalam hati semoga aku dibangunkan di shelter yang tepat. Namun kadang kala, aku juga tidur kebablasan. Aku pernah “kelewatan” halte Pulomas sehingga mau tidak mau aku harus turun di halte Pulogadung. Hal sama juga terjadi beberapa hari lalu. Aku yang tertidur pulas sembari mendengarkan musik tiba-tiba terbangun di shelter Senayan JCC. Padahal seharusnya aku berhenti di shelter Semanggi. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi. Aku tidak usah mengeluh dan mengutuki kebodohanku. Aku selalu percaya bahwa ada hikmah dari setiap hal yang terjadi dalam hidupku. Aku yakin, Tuhan sudah mengatur skenario hidupku dengan baik dan sempurna. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

***

Malam ini sudah menunjukkan pukul 22:43 WIB. Aku masih terjebak hujan deras di shelter Pulomas.

Aku sudah menghubungi kakak perempuanku agar menjemputku menggunakan payung yang ia beli kemarin. Apa boleh buat. Sedari tadi aku sudah menelfonnya kedua nomor yang ia punya. Tapi yang jawab bukan kakakku. Melainkan mesin penjawab yang meledekku bahwa nomor yang aku panggil sedang tidak aktif.

Ah, kini aku menikmati malam di shelter ini. Shelter yang setiap hari menjadi saksi bahwa aku pernah berlari-lari mengejar Transjakarta. Takjarang aku kesal dan mengekspresikan wajah manyun. Kupikir, shelter ini juga sering mengamatiku yang terlihat kelelahan, kepayahan, dan juga senyum yang biasa kusunggingkan. Aku ingin selalu tersenyum dan bersikap baik. Aku ingin orang-orang mengenangku kelak sebagai pribadi yang senang tersenyum.

Di shelter ini juga, saat hujan takkunjung berhenti, ada sekitar 15 orang yang bernasib sama denganku. Menunggu hujan reda. Ada yang melamun sembari menyandarkan tubuhnya pada tiang, ada yang memainkan ponsel, ada yang berbincang-bincang ringan dengan teman-temannya, dan ada juga yang tampak gelisah.

Aku ingin mengatakan bahwa aku menikmati perjalanan menggunakan Transjakarta malam ini. Apalagi aku kebagian menumpang Transjakarta gandeng yang masih baru, jurusan Pulogadung-Senayan. Aku pun takusah transit di shelter Harmoni.

Air hujan mengalir di sisi kiri dan kanan jendela. Kupandangi kaca dengan takzim. Ada pemandangan yang begitu menentramkan. Cahaya lampu malam berubah keemasan. Aku pun masih asyik membaca novel dan mendengarkan musik favorit yang diputar secara otomatis di ponsel pintarku.

Lagi-lagi, aku beruntung. Sebab ada hal yang bisa kujadikan bekal hidup. Pelajaran yang mungkin takkujumpai di perkuliahan. Terima kasih hujan. Kau selalu menawarkan momen berharga yang takpernah kuduga. Selesai

Andi Sudirman: Menjadi Petugas Bendung Katulampa Adalah Panggilan Jiwa

large-img-4407-87b21fed14c6b3a8acbdc366ee52ee14
Andi Sudirman, Penjaga Bendung Katulampa. Foto oleh: Mahfud Achyar

Oleh: Mahfud Achyar

Pernah mendengar istilah Invisible Hand? Istilah tersebut dipopulerkan oleh pakar ekonomi, Adam Smith dalam bukunya yang berjudul The Wealth of Nation. Ia mengungkapkan bahwa ekonomi pasar dikendalikan oleh tangan-tangan takterlihat. Kini, penggunaan ungkapan Invisible Hand semakin meluas, tidak hanya digunakan di bidang ekonomi, namun juga relevan di bidang sosial, politik, dan budaya.

Saya pribadi lebih senang jika predikat invisible hand disematkan kepada mereka yang memiliki jasa yang luar biasa. Namun tidak banyak orang yang menyadari arti penting dari jasa-jasa yang sudah mereka persembahkan untuk bangsa. Maklum, saat ini kita hidup di era meritocracy (meritokrasi, Ind) yaitu era dimana seseorang dihargai karena kecerdasan dan kemampuan yang ia miliki. Maka takheran jika banyak orang-orang berjuang mendapatkan gelar pendidikan setinggi mungkin, mendapatkan pekerjaan yang prestisius, dan hidup dengan menyandang status sosial sebagai orang yang kaya.

Sekali lagi, takada yang salah dengan itu semua. Kadang kita memang perlu melihat ke atas agar senantiasa bersemangat dalam meraih mimpi-mimpi yang spektakuler. Namun ada kalanya kita perlu menengok ke bawah, mengamati orang-orang di sekitar kita, dan meluangkan waktu untuk bercengkrama sejenak dengan mereka, para invisible hand. Mereka menyimpan sejuta inspirasi yang perlu disimak.

***

Adalah Andi Sudirman (46 tahun), warga kelurahan Katulampa, kota Bogor, Jawa Barat yang merupakan salah satu invisible hand yang ada di Indonesia. Barangkali tidak banyak orang yang mengenal sosok pria paruh baya yang murah senyum ini. Wajar, popularitas Andi, begitu nama panggilan beliau, tidak semoncer tokoh-tokoh perubahan yang kerap muncul di televisi, koran, ataupun media online.

Akan tetapi, bagi masyarakat sekitar Katulampa, sosok bapak tiga anak ini memiliki jasa yang sangat mengabadi. Ia bukanlah seperti Robin Hood yang menjadi hero bagi masyarakat marginal. Namun profesi yang ia lakoni sejak tahun 1987 ini telah mengantarkan ia menjadi pribadi dicintai masyarakat dan menerima berbagai penghargaan dari pemerintah Jawa Barat dan DKI Jakarta.

***

“Saat itu, setelah lulus SMA Taman Siswa kota Bogor pada tahun 1987, saya langsung bekerja di pengairan?khususnya di Bendung Katulampa. Kebetulan saya diberi kepercayaan sebagai pengawas saluran, kemudian menjadi staf bendung.” Andi pun mengenang memori pertama kali ia menjadi petugas Bendung Katulampa.

Menurutnya, menjadi petugas Bendung Katulampa tidaklah mudah. Sebab, ia bersama ketujuh rekannya harus bekerja selama 24 jam untuk memonitor debit air yang masuk ke bendung. “Kita ada pembagian shift. Namun ketika banjir, semua personil harus siaga,” ungkap Andi.

Fungsi dari Bendung Katulampa sendiri adalah sebagai early warning system untuk banjir dan juga? sebagai sarana irigasi yang ada di kawasan Bogor, Depok, dan Jakarta. Bendung Katulampa dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1911, akan tetapi pembangunannya sudah dimulai sejak 1889, sejak banjir besar yang melanda Jakarta pada tahun 1872.

Mendengar nama Bendung Katulampa, orang-orang berpikir bahwa bendung tersebut menjadi penentu banjir Jakarta. Padahal anggapan tersebut tidaklah tepat. Bendung Katulampa bukanlah pengendali banjir seperti apa yang selama ini dipahami oleh masyarakat luas. Lebih parah lagi ada yang wacana yang berkembang seperti ini, “Banjir Jakarta Adalah Banjir Kiriman Dari Bogor.” Bendung Katulampa merupakan posko untuk memonitor dan mengawasi permukaan air yang ada di hulu. Dari tiga belas anak sungai yang masuk di kawasan Puncak ke Katulampa, mengalir ke kawasan kota Depok dan juga Jakarta.

“Kami betugas menjaga Bendung Katulampa untuk memberi peringatan banjir di Jakarta. Jika debit air di atas normal berarti sudah memasuki kondisi siaga,” jelas Andi yang saat itu mengenakan pakaian dinas berwarna biru.

Lebih lanjut, pria yang sesekali menyunggingkan senyuman ini, memaparkan tentang kondisi debit air di Bendung Katulampa. Normal debit air di Bendung Katulampa hanya 4000 liter. Namun jika hujan ?air yang masuk kurang lebih 150.000 liter per detik. Pada tahun 2007 dan 2010, air bahkan bisa mencapai maksimal 600.000 liter. Ketinggian air di atas 50-80 cm berarti sudah masuk siaga empat, 150 cm siaga tiga, 200 cm siaga 2, dan di atas 200 mencapai siaga 1. Untuk itu kita harus berkoordinasi dengan berbagai wilayah Puncak dan Cisarua untuk memonitor permukaan air yang dilalui oleh Kali Ciliwung. Dari tiga belas anak sungai yang masuk semuanya ke Bendung Katulampa dibarengi hujan yang merata di Depok, Bogor, dan Jakarta maka besar kemungkinan akan terjadi banjir di Jakarta. Kami bertugas memberikan peringatan dini, “Awas air di atas normal. Warga Jakarta harus siap siaga,” tandas Andi.

Ketika ditanya apa perbedaan kondisi Bendung Katulampa dulu dengan sekarang, ia menceritakan bahwa dari tahun 1987 hingga sekarang setiap banjir disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di kawasan Puncak. Ia menilai daerah resapan di kawasan hulu sudah semakin berkurang. Banyak lahan yang sudah beralih fungsi menjadi tempat komersial. Selain itu juga disebabkan terjadinya erosi dan pendangkalan sungai akibat sampah. “Kami sudah tulis plang jangan buang sampah ke sungai!”

Pengalaman adalah guru terbaik. Nampaknya itulah yang membuat Andi semakin mengerti betapa penting tugas yang ia jalani. Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Andi adalah saat banjir yang terjadi pada tahun 2007.

Ia pun menarik napas pelan-pelan dan kemudian melanjutkan cerita. “Banjir 2007 terjadi cukup mendadak. Namun untungnya kita berkoordinasi dengan teman-teman? di Puncak. Hujan lebih dari 3 sampai 5 jam, insting kita sudah biasa pasti ada banjir,” kenang pria asal Sukabami ini.

Andi mengatakan banjir tahun 2007 datangnya saat sholat Maghrib. Para petugas bendung pun dibuat panik karena air tiba-tiba datang disertai dengan hujan dan petir menggeeglar. “Kita bertugas selama 24 jam. Kondisi saat itu mati listrik. Tapi kita sudah upayakan pakai jenset. Jangan sampai peloporan early warning jadi terhambat. Tapi beruntung kita punya AWL (Automatic Water Level) untuk memonitor air. Kita memberikan peringatan, memonitor cuaca di hulu, melaporkan kondisi debit air, dan standby di Bendung Katulampa,” pungkas Andi.

Kendati tanggung jawab sebagai petugas Bendung Katulampa sangatlah berat, namun dukungan dari keluarga membuat Andi semakin mencintai pekerjaan yang sudah menerbangkan ia ke tanah suci untuk menunaikan ibadah umroh pada tahun 2008. “Alhamdulillah keluarga mendukung profesi saya. Bagi saya, tugas ini adalah amanah dari yang Maha Kuasa. Saya dapat membantu orang banyak dan melaksanakan tugas dari pemerintah,” ujar Andi.

Tahun awal bekerja sebagai petugas Bendung Katulampa adalah masa-masa yang cukup sulit bagi Andi. Dulu, honor yang ia terima sebesar 23ribu rupiah. “Saya masih ingat betapa susah payahnya menghidupi keluarga. Sementara tanggung jawab di bendung juga cukup berat. Namun saya jalani tugas tersebut dengan penuh tanggung jawab dan disertai dengan keikhlasan. Tanpa keikhlasan, takakan bermanfaat tugas yang sudah kita jalankan,” ungkap Andi dengan mata tampak mulai berkaca-kaca.

Ia juga bercerita bahwa pernah mendapatkan tawaran dinas untuk bekerja di kantor. Namun ia menolak secara halus tawaran tersebut. Ia lebih sedang bekerja di lapangan. Menurutnya bekerja dikantor itu menjenuhkan. Anda mengaku lebih enjoy menjadi orang lapangan karena dapat berinteraksi langsung dengan alam dan masyarakat di sekitar. Selain itu, ia juga senang terlibat dalam berbagai komunitas seperti Komunitas Peduli Ciliwung yang memiliki komitmen untuk menjaga lingkungan di kawasan Ciliwung. Ia pun berharap semoga seluruh warga Bogor, Depok, Jakarta, dan sekitarnya untuk mencintai Ciliwung demi masa depan generasi berikutnya.

“Kita pasti akan memanen apa yang sudah kita tanam.”?

Begitu cara Andi memaknai hidup ini. Ia percaya bahwa doa, ikhtiar, dan sabar adalah upaya terbaik yang dilakukan manusia untuk mendapatkan hasil terbaik dari Tuhan. Ia merasa beruntung telah diberi amanah menjadi penjaga Bendung Katulampa. Begitu banyak nikmat yang sudah ia terima. Salah satu hal yang ia syukuri adalah, ia mampu melanjutkan kuliah dan lulus dengan menyandang sarjana di STAI STISIP?Syamsul Ulum. Bagi saya pribadi, menjadi petugas Bendung Katulampa adalah panggilan jiwa. “In Shaa Allah dengan ikhlas saya sampai titik akhir saya ingin di Bendung Katulampa untuk masyarakat,” tutup Andi mengakhiri cerita siang itu. Bogor, 22 Oktober 2013.

David Chalik: Jangan Pernah Merasa Kita Lebih Hebat

David Chalik
Image source: https://www.instagram.com/davidchalik/

David Chalik bisa dikatakan sebagai artis yang multi-talent. Pasalnya, David begitu ia akrab dipanggil tidak hanya dikenal sebagai aktor melainkan juga ia dikenal sebagai host, bintang iklan, model, pebisnis, dan juga aktif berkicimbung di dunia sosial. Sejumlah film dan sinetron sudah ia bintangi sepeti sinetron film Negeri 5 Menara (2011) dan Putri Bidadari (2012).

Pria kelahiran 13 April 1977 ini juga kerap menjadi host dalam berbagai acara yang ditayangkan oleh stasiun tv swasta seperti Damai Indonesiaku (tvOne) dan Oase Ramadhan (Metro TV). Tidak hanya sampai di situ, David juga merambah dunia bisnis dalam bidang rumah produksi dan trading. Ragam profesi sudah ia lakoni.

Perjuangan David untuk mencapai cita-citanya tidaklah mudah. Begitu banyak tantangan yang harus ia lalui. Seperti apa perjalanan hidup David Chalik? Bagaimana ia mampu mewujudkan cita-citanya? Berikut petikan wawancara Mahfud Achyar bersama David Chalik yang ditemui di acara seminar ?Menjadi Pelatih Emosi Anak? yang diadakan di bilangan Cipete, Jakarta Selatan.

Bisa diceritakan sosok Anda di masa kecil?

Saya waktu kecil suka main. Jarang dapat rangking atau juara. Namun kelas 6 ada seorang guru bernama bu Tini yang menemukan potensi dan bakat saya sehingga saya bisa mendapatkan rangking tiga di kelas enam dan berlanjut di SMP dan SMA. Sewaktu SD, seingat saya pelajaran PMP dimana kita harus menghapal butir-butir undang-undang, dan saat itu saya belum belajar. Akhirnya saya pun nyontek dengan menaru buku di dalam laci. Lagi asyik nyontek, eh ternyata guru saya ada di depan saya ngeliatin. Trus ibu guru bilang, pokoknya kalau ada ulangan, David harus duduk di depan biar ga nyontek.

Lantas sejak kapan mulai masuk dunia entertaint?

Waktu saya SMP atau SMA, ibu saya selalu mengirimkan foto-foto saya ke majalah dan akhirnya sata terpilih menjadi cover majalah Aneka Yess!

Ada kesulitan ketika awal-awal menjadi aktor?

Iya pasti ada kesulitan karena dunia seni peran bukan bidang saya, namun karena banyaknya motivasi dan dorongan dari orang-orang terdekat yang mengatakan bahwa saya pasti bisa.

Bagaimana cara mendalami setiap karakter?

Aku pernah berperan sebagai orang suku Tengger, aku harus belajar bahasa mereka, belajar cara mereka hidup, belajar kebudayaan mereka. Aku juga pernah berperan sebagai ustad di film Negeri 5 Menara dan aku harus pake logat Minang. Walaupun sebenarnya orang tua berdarah Minang, namun sejak kecil aku berbahasa Indonesia. Aku sering dengar bahasa Minang, tapi aku tidak terlalu mahir, jadi saya harus belajar lagi.

Peran yang Anda bawa pernah terbawa dalam dunia nyata?

Tentu pernah, misalnya ketika saya acting marah dan sangat marah, padahal saya tidak pernah seperti itu.

Value apa yang Anda dapat?

Banyak diberikan akses baik itu positif maupun negatif. Namun semua itu kembali pada diri kita.

Belakangan, Anda juga kerap kali memerankan tokoh sebagai Ustad dalam film dan sinetron yang Anda bintangi, ada kesulitan?

Challenges pasti ada. Cuman bebannya lebih berat lagi karena kan saya bawain acara religi. Saya bukan ustad, itu benar. Tapi yang saya ingin dalam hidup adalah menjadi manusia yang lebih baik. Image saya sering membawa acara religi membuat masyarakat beranggapan lebih bahwa saya menjadi ustad. Saya manusia biasa yang mempunyai kekurangan dan saya belum pantas dipanggil ustad. Jadi, saya tahu diri saya, apa yang harus saya benahi. Saya minta doanya saja semoga saya bisa menjadi orang baik. Jika nanti saya berpulang ke Rahmatullah, saya bisa khusnul khatimah, mati masuk syurga. Aamiin. Itu saja harapan saya. Jadi kalau ditanya beban, ya ada, bebannya saya bukan ustad. Saya hanya orang biasa yang berusaha benahi diri. Itu saja.

Bagaimana Anda mendalami karakter tersebut?

Sebetulnya sudah diarahi oleh sutradaranya. Tapi jika bicara untuk menjadi ustad, kebetulan saya dipermudah karena saya memang senang membaca buku-buku Islam. Saya senang koreksi diri saya, saya senang diskusi soal agama sama orang-orang yang lebih paham agama. Kadang kala ada beberapa hal dalam sinetron yang keluar begitu saja karena hasil pembicaraan atau hasil yang saya baca, hasil belajar. Jadi lebih mudah. Namun ada kalanya, jika saya menyampaikan sesuatu dalam hal naskah sinetron, saya tanya dulu dengan guru saya, “Ini benar ga kaya gini, ini salah ga nih interpretasinya, kalau saya bicara begini nanti gimana.” Jadi ga sembarangan karena sutradara dan produser pastinya juga harus paham Islam. Jika tayangan itu bawa unsur-unsur Islam dan unsur-unsur agama jangan ada kesan menjual belikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Jadi memang konteksnya harus pas dan tidak sembarangan.

Selain memerankan peran ustad, Anda juga sering membawakan acara agama, bagaimana tanggapan Anda?

Jadi dulu ada imej di kalangan artis-artis muda, dulu ya, tapi sekarang udah gak. Jangan pernah mau membawa acara agama nanti imejnya akan terus jadi host acara agama. Rezekinya akan tertutup, akan di situ-situ saja. Waktu ada orang yang ngomong kaya gitu, otak saya berpikir bahwa kenapa kok kita harus takut sih? “Orang agama gue Islam, kita ada rejeki juga karena orang tua, dan rezeki dari Allah, jadi kenapa harus takut untuk menjadi host acara agama.” Jangan takut, justru harus menjadi kebanggaan kita sebagai umat Islam, sebagai kebanggaan wujud cinta kita kepada Allah bahwa dari rezeki yang Allah kasih, nikmat yang Allah kasih; paras, otak, kemampuan berpikir, kemampuan berucap yang baik, kenapa ga kita manfaatin di jalan Islam. Toh acaranya acara religi dan thayyib.

Saya bawain acara bulan Ramadhan tahun 2004 hingga 2009 bersama mas Anto Lupus yang dipercayakan ke saya. Saya senang aja. Terus RCTI minta saya lagi bawain acara bersama Ustad Hidayat Nurwahid. Tahun 2006 acara “Menuju Taubat” tentang bagaimana proses orang membenahi dirinya seperti para mantan narapidana. Dari situ berlanjut acara Ramadhan dan Damai Indonesiaku di tvOne. Saya melihat bahwa anggapan manusia tentang rezeki itu tidak tepat. Rezeki itu di tangan Allah. Kalau pun memang hari ini kita bawa acara religi, besok-besok kita bawain acara lain asalkan tidak bertentang dengan agama kenapa gak? Namun begitu ada acara yang aneh-aneh, gak deh. Semakin lama kita belajar, kita semakin mengerti. Kita bertemu dengan ulama untuk bertanya mana yang boleh, mana yang enggak. Kita jangan bawain acara gosiplah itu bertolak belakang dengan agama manapun yang tidak mengajarkan umatnya untuk membicarakan aib orang. Dengan membawakan acara agama menjadi benteng sendiri untuk kita. Saya merasakan faedahnya dengan membawakan acara agama. Selain memang passion saya dari kecil, saya pernah ngobrol sama mama. Ibu saya sempat bilang, “Mudah-mudahan David bisa jadi ustad.” Pengen jadi ustad, tapi ustad yang bagaimana dulu, ustad itu kan guru. Seengak-enggaknya jadi ustad untuk diri sendiri dan keluarga dulu.

Merasa diri kita lebih dari orang lain, itu menjadi kehancuran dan kegagalan untuk diri kita. Jadi, bagaimana kita harus membenahi diri kita, keluarga kita, ummat pelan-pelan kalau ada ilmu yang bermanfaat bisa kita bagikan kepada mereka dengan cara yang thayyib, yang baik bukan untuk mencari nafkah. Di satu sisi, saya terus berusaha menjadi pengusaha juga. Bikin usaha ini, usaha itu segala macam supaya suatu saat waktunya tiba, Allah berkehendak, Allah mengijinkan misalnya saya maish diberi kepercayaan kelebihan ilmu, rezeki, dan segala macam untuk syiar, ya kenapa enggak. Syiar itu kan banyak cara ga harus menjadi pendakwah, pendakwah itu banyak caranya juga ga harus menjadi kiyai atau ustad-ustad, namun bisa lewat media-media lain.

Anda juga merambah dunia bisnis, sejak kapan Anda mulai tertarik dan menukeni bisnis?

Saya lebih banyak main di bidang pakaian dan spanduk. Jadi pakaian yang saya buat itu macam-macam. Mulai dari pakaian seragam sampai baju olahraga tapi semakin ke sini semakin fokus ke sepatu olahraga dan pakaian olahraga. Saya lagi coba ngembangin satu merek sendiri, merek sepatunya MARCH. Itu sepatu olahraga dengan apparelnya baju olahraga, celana olahraga, tas, dan sebagainya. Kita coba kembangkan mudah-mudahan bisa launching bulan Agustus tahun ini insya Allah.

Saya mulai bisnis dari tahun 2007. Sebenarnya dari kuliah saya sudah mulai bisnis. Sambil syuting saya juga suka ngelobby bisnis. Dalam artian ada orang bikin apa, “Kamu bisa bikin ini ga?” Jadi sambil syuting, ada yang mau bikin kaos, saya yang ngerjain. Saya cari penjahitnya dan cari bahannya. Lumayan dapet duit. Ada teman yang nanya, “Vid lo kan udah main sinetron masih kurang aja lo?”

Bukan itu masalahnya. Beda. Kalau sinetron, kita yang dilatih kemampuan skill seni kita, kemampuan art kita, kreasi kita. Kalau bisnis kan dilatih semuanya baik itu otak kanan, otak kiri, dealing sama orang, bagaimana komitmen kita menjaga komitmen dengan orang, belajar bahan jualan kita apa, gimana menjual, berapa harga pasar, gimana supaya ga rugi, dan sebagainya. Jadi sangat banyak. jadi challenging buat saya melatih otak saya dan juga diri saya.

Seperti halnya Nabi Nuh as. beliau menyiapkan perahu pada saat banjir. Jadi kalau banjir, beliau sudah mempunyai perahu untuk menyelamatkan kaumnya saat itu termasuk keluarganya. Saya pun demikian. Saya berprinsip bahwa saya pikir perusahaan adalah perahu untuk keluarga, untuk semuanya, dan untuk orang-orang yang nantinya bekerja di perusahaan saya bahwa dengan perahu inilah saya akan menjemput rejeki dari Allah.

Jika suatu saat nanti saya sudah tidak main sinetron lagi atau apa, setidaknya saya bisa lebih fokus ke bisnis. Mungkin seengak-enggaknya saya sudah ada perahu buat saya dan keluarga saya.

Apa sebetulnya yang harus dipersiapkan ketika menjalani bisnis?

Pertama harus punya kesungguhan karena jika kita sungguh-sungguh pasti ada jalan. Kedua, jangan takut masalah modal karena modal itu akan datang dengan sendirinya pada saat kita bersungguh-sungguh. Ketiga, harus banyak silaturahim sama oran-orang yang mengerti di bidang yang mereka geluti. Terus pelajari betul bisnisnya. Keempat, banyak-banyak berdoa minta sama Allah. Kelima, banyak-banyak sedekah insya Allah akan membuka segala sesuatu yang ketutup dan menutupi kita. Jadi kalau kita sudah pegang lima kunci itu, In Shaa Allah akan dibukakan jalan usaha kita dan insya Allah pasti bisa jadi sukses.

Bagaimana Anda membangun brand imej terhadap bisnis yang Anda kembangkan?

Saya belajar bahwa membangun bisnis itu tidak cukup hanya dengan dikenal. Tapi bagaimana kita membangun kepercayaan dengan orang-orang yang bermitra dengan kita. Bagaimana kita membangun imej kita untuk menjadi orang yang dipercaya. Saat orang pertama dengan kita, branding yang ada di otak mereka adalah tentang produk kita. Misalnya, saya jualan sepatu olahraga, ketika suatu saat saya bertemu dengan orang itu dia akan bilang, “Oh kalau sepatu bikin sama dia aja, beli sepatu di dia aja, kualitasnya bagus, kenapa ga dia aja.”

Bagi saya itu challenges bagaimana membangunnya dengan silaturahim sebagaimana kita memperlakukan mereka sebagai teman, mereka juga akan memperlakukan kita sebagai teman. Kalau kita menganggap mereka saudara, mereka juga akan menganggap kita saudara juga. Ada ga orang curang dan culas sama kita? Tentu ada. Tinggal kedewasaan kita berpikir bahwa ya itulah manusia. Maka kuncinya kita harus ikhlas. Pada saat kita ikhlas melakukan apa pun, mau kita diapain, mau kita kaya pasti mudah jalannya. Masalahnya apakah saya sudah menjadi manusia ikhlas dalam mengerjakan apa pun dan segala resiko? Saya masih proses belajar. Pengusaha-pengusaha sukses itu biasanya sudah mengukur rezeki. Jadi pada saat mereka berjalan dan ada kendala ya udah santai ajalah.

Siapa tokoh yang paling menginspirasi Anda dalam bisnis?

Saya sih yang menginspirasi saya pastinya nabi Muhammad saw karena Rasulullah itu seorang pendakwah yang dengan ikhlas menyiarkan Islam dan beliau juga seorang pengusaha. Beliau dengan hartanya berjihad di jalan Allah. Jadi cara beliau untuk menjadi seorang pedagang yang amana itu yang saya coba terapkan bahwa kadang dalam usaha kita jangan hanya berpikir It’s all about profit, but think about benefit.

Kalau kita bicara profit, maka kita akan bicara angka. Saat kita bicara angka yang namanya benefit jadi lupa.

Apa sih benefit? Benefit adalah keuntungan di luar angka. Benefit itu dapat meningkatkan capital kita. Misalnya harga sepatu kita sekian kita pengen untung besar, jual saja berapa kali lipat. Mungkin dibeli orang, tapi suatu saat orang melihat punya kita. Mereka jadi enggan membeli lagi. Bicara benefit misalnya kita jual sepatu dengan harga sekian, terus kita bilang, “Oh kita ngasih harga ga terlalu tinggi. Modalnya sekian, jualnya sekian, bapak mau berapa?” Kita memberikan harga kan harus reasonable buat orang, terbeli apa gak, kualitasnya sesuai dengan yang kita punya, dan sebagainya. Jika sudah terjalin terus, pada saat dia sulit kita selalu ada untuk dia walaupun untung tipis. Tapi dia akan selalu ingat kita, dia akan pakai kita terus. Bayangkan, sekali dia membeli produk kita dengan untung yang berlipat-lipat tapi besok dia ga mau order lagi.

Sedangkan satu lagi kita baik sama dia, harganya juga sangat kompetitif, harganya sangat reasonable mereka juga mendapatkan benefit-benefit lain di luar masalah keuntungan misalnya pertemanan pasti dia akan pilih kita. Nah itu yang saya bilang, “Business is not just about profit, but also about the benefit. If you concern benefit, you?ll get lots of profit.” Nah itu yang saya lihat dari Rasulullah. Sikap santunnya dalam berdagang, etika beliau dalam berdagang, itulah yang menyebabkan beliau mendapatkan gelar Al-Amin. Pada saat kita menjadi pedagang yang Al-Amin, In Shaa Allah rezeki akan datang kepada kita. Sekarang jika kita diculasi sama orang, bisa jadi dia harganya murah. Tapi karena kita ga percaya , ga jadi deh di sini aja. Walau harganya mahal dikit, tapi kualitasnya bagus. Atau ga karena saya kenal dia, dia orang yang saya dipercaya, ya udah gpp deh sama dia aja. Saya tau kualitasnya, jadi kalau ada apa-apa dia siap ganti. Itu hal yang harus dipelajari dalam bisnis.

Selain banyaknya aktifitas yang harus Anda kerjakan, Anda juga masih sempat untuk mengikuti kegiatan sosial, mengapa?

Saya senang karena saya juga dulu bukan dari keluarga yang berkecukupan. Jadi, saya bisa merasakan apa yang dirasakan orang yang lagi susah. Ngomongin banjir, saya juga pernah jadi korban banjir di Grogol waktu saya tinggal di sana. Kira-kira senangnya seperti apa ketika orang datang bawa makanan pada saat kita terjebak banjir, pada saat kita tertimpa musibah, saat kita merasa susah ada orang lain menolongi itu kaya gimana gitu.

Jadi, pada saat PKPU waktu itu ada kegiatan menjadi relawan bencana saya ikut kerena memang saya melihat ada value dalam PKPU yang bisa saya rasakan. Pada saat aktif menjadi relawan PKPU, kita aktif dimana-mana. Saya bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat yang ditimpa musibah. Di situ saya bisa belajar berempati, mengolah rasa, mengolah hati, mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Walaupun saat itu bukan saya langsung mengalaminya, kadang kala orang harus mengalami langsung tapi saya bersama mereka. Kita harus pandai-pandai bersyukur dalam hidup. Allah itu ngasih rejeki kepada kita kapan aja, jumlahnya berapa aja; bisa besar-bisa kecil. Allah pun bisa mengambil kapan saja yang ia mau. Anytime dengan cara seperti apa pun. Tinggal saat rezeki itu ada sama kita, maka pandai-pandailah bersyukur, pandai memanfaatkan, dan jangan pernah merasa memiliki apa yang kita punya karena apa yang kita punya itu bisa saja diambil kapan pun Allah mau.

Kata kiyai Zainuddin MZ, “Kalau prinsip itu kaya tukang parkir. Mobilnya banyak. kalau mobilnya diambil sama yang punya dia ga marah.” Jadi kaya gitu memaknai hidup.

Demikian wawancara singkat saya dengan David Chalik. Semoga menginspirasi Anda semua.

Global Warming, Ancaman Buruk untuk Bumi

Polar Bear, Repulse Bay, Nunavut, Canada
Image source: https://www.timeforkids.com/g34/global-warming/

Dewasa ini, Badan Angkasa Nasional Amerika atau yang lebih dikenal dengan nama NASA, tengah sibuk melakukan eksperimen monumental. Eksperimennya adalah proyek pesawat ulang alik ke bulan dan penelitian tentang planet mars yang katanya diindikasi terdapat kehidupan di sana. Tentunya, itu adalah proyek yang besar dan luar biasa. Proyek penelitian ini dimaksudkan untuk mencari tempat tinggal alternatif, mengingat keadaan tempat kita hidup sekarang (baca: bumi) sangat memprihatinkan. Eksperimen yang dilakukan oleh NASA sangat menarik perhatian masyarakat dunia. Pasalnya, daratan bumi dipredisikan akan tenggelam pada tahun 2050.

Penelitian menyebutkan bahwa 125 danau es di daerah kutub telah mencair. Di samping itu, seorang ilmuwan menemukan terjadinya peningkatan pembentukan fotosintesis di sejumlah tanah sekitar kutub dibandingkan tanah di era purba. Logikanya adalah, jika es mencair dan fotosintesis semakin meningkat maka bisa dipastikan bumi akan tenggelam. Daerah kutub merupakan penyangga agar terjadinya keseimbangan iklim di bumi. Jika fenomena ini terus berlanjut, dampak terburuknya adalah musnahnya peradaban manusia.

Lalu, apa sebenarnya akar masalah degredasi bumi ini? Menurut ilmu geografi, fenomena mencairnya es di daerah kutub karena adanya perubahan iklim. Baik perubahan dengan sendirinya, maupun berubah secara radikal. Pada abad ke-19, ilmuwan yang konsen terhadap masalah ini mengemukakan bahwa perubahan iklim bumi (saat ini) karena adanya kelebihan gas berbahaya di lapisan atmosfer bumi. Gas yang berbahaya itu adalah CO2 (karbon dioksida), CO (karbon monoksida) dan lainnya.

Gas tersebut menimbulkan efek rumah kaca dan berimbas pada pemanasan global. Fenomena lain yang ikut berperan dalam pemanasan global adalah berkurangnya lapisan ozon. Lapisan ozon merupakan filter terhadap sinar ultra violet dari radiasi matahari. Tanpa dan/atau semakin menipisnya lapisan ini, sinar ultra violet akan lebih leluasa sampai ke muka bumi sehingga akan menambah panas permukaan bumi. Seiring dengan meningkatnya jumlah pemakaian gas chlorofluorocarbon (CFC) menyebabkan lapizan ozon semakin menipis karena terjadinya reaksi antara CFC dan lapisan ozon. Pelepasan karbon ini berpengaruh pada peningkatan kandungan karbon di atmosfir yang berdampak pada peningkatan suhu atmosfir di permukaan bumi.

Secara umum, pemanasan global berdampak terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia (Wikipedia). Hal tersebut berdasarkan prediksi yang dibuat para ilmuwan dengan memanipulasi/mengolah data-data iklim dan cuaca yang ada dan dimasukkan ke dalam model komputer. Selain itu, pemanasan global juga berdampak pada naiknya permukaan air laut. Hal tersebut disebabkan karena jumlah volume air yang tercurah melebihi daya serap tanah dan kecepatan pengaliran serta penguapan juga disebabkan oleh topografi daerah yang bersangkutan. Muara sungai-sungai yang permukaannya sejajar dengan permukan air laut, ketika air laut naik arus aliran air berbalik ke arah hulu, hal ini dapat mempertinggi penetrasi air laut ke arah darat, akibatnya air tanah/sumur di daerah pantai menjadi payau, banjir dan tenggelamnya pulau-pulau kecil karena permukaan air laut sama dengan ketinggian pulau-pulau.

Jika fenomena ini masih berlanjut, dan tidak segera dicarikan jalan keluarnya, maka kondisi terburuk adalah musnahnya ekosistem di bumi. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Kita semua ikut bertanggung jawab menyelamatkan bumi. Lalu, apa solusinya? Terapkan pola hidup efektifitas dan efesiensi. Beberapa waktu yang lalu, di sebuah surat kabar dikatakan bahwa Universitas Indonesia menemukan solusi untuk mengurangi gejala pemanasan global. Solusinya adalah penggunaan kertas dengan hemat ketika ujian dan kegiatan lainnya. Untuk kertas ujian, Universitas Indonesia tidak memakai kertas yang baru, tetapi memanfaatkan kertas yang sudah dipakai halaman depannya. Ini semua bertujuan supaya penebangan pohon untuk membuat kertas bisa dikurangi dan bisa membentuk pola hidup yang efesiensi.

Manusia sangat memerlukan kertas untuk penunjang aktifitasnya. Seperti untuk bikin surat, tugas sekolah dan lainnya. Itu artinya, perlu memproduksi kertas dengan jumlah yang lebih banyak. Logikanya, untuk memproduksi kertas pasti memerlukan bahan seperti pohon. Jika pohon-pohon banyak ditebang, maka itu akan berpengaruh terhadap cuaca dan iklim yang berimbas pada pemanasan global. Dengan menghemat penggunaan kertas, setidaknya kita telah mengurangi penebangan pohon di dunia.
Cara lain untuk mengurangi pemanasan global adalah dengan menanam pohon kembali atau mereboisasi hutan. Sebenarnya, teori tersebut adalah teori yang sering kita pelajari di bangku sekolah dasar. Tapi cara tersebutlah yang paling ampuh untuk mengurangi pemanasan global yang sudah mulai mencapai ubun-ubun.

Jika kita lihat, di mana-mana banyak orang melakukan pembangunan. Baik itu pembangunan jalan, gedung dan sarana lainnya. Jika seperti ini, pohon-pohon yang berfungsi sebagai paru-paru dunia pasti akan dibabat habis. Memang, pembangunan adalah suatu hal yang tak dapat dipisahkan dengan kehidupan saat ini. Seiring majunya teknologi, bertambahnya penduduk, dan semakin kecilnya lapangan kerja maka mau takmau harus ada upaya yang selaras untuk mengatasi problematika tersebut.

Pembangunan dianggap sebagai salah satu solusinya. Tapi sayangnya, pembangunan sering kali tidak memikirkan aspek lingkungan. Padahal, lingkungan merupakan pondasi dasar kelangsungan makhluk hidup. Lalu bagaimana cara kita menyisiati agar adanya keselarasan antara pembangunan dan lingkungan? Caranya adalah dengan menyeimbangkan dua komponen tersebut.

Menurut Walhi (Wahana Laingkungan Hidup), perlunya aturan/undang-undang yang mengatur terkait masalah pembangunan. Jika tidak, manusia akan seenak perutnya menebang pohon tanpa memelihara nilai-nilai normatif. Misalnya, jika ingin membangun sebuah gedung, maka harus menanam pohon. Jika tidak, air tanah akan habis, penguapan semakin cepat dan suhu udara akan meningkat. (Apa Kabar Indonesia, TVOne)
Di samping itu, organisasi lingkungan hidup dunia (WWF), menyerukan kepada masyarakat dunia akan bergerak bersama untuk menghijaukan kembali hutan di dunia. Pasalnya, sebagian hutan-hutan di dunia telah gundul dan kondisi ini semakin diperparah dengan kasus ilegal logging setiap harinya. Jika tidak ada kesadaran dari kita (baca:manusia) maka lingkungan kita semakin rusak.

Sebenarnya, perlu kesadaran kita semua (manusia-pen) untuk menjaga bersama lingkungan. Bagaimanapun, semua kerusakan yang terjadi di darat dan di laut adalah karena ulah perbutan manusia. Jika tidak ada itikad baik dan tanggung jawab untuk menyelamatkan bumi ini, pastilah degradasi lingkungan semakin parah. Dimana-mana akan terjadi bencana. Seperti banjir, longsor, penyakit kulit (seperti kanker), musnahnya flora dan fauna dan sebagainya. Miris sekali untuk membayangkan musibah-musibah lainnya. Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama untuk menyelamatkan bumi tercinta. Supaya keseimbangan terus terjaga demi kelangsungan hidup anak cucu kita kedepannya.

Karen Amstrong Kampanyekan Gerakan Compassion ke Seluruh Dunia

Charter for Compassion (dokumentasi pribadi)
Charter for Compassion (dokumentasi pribadi)
JAKARTA – Dalam rangka ulang tahun Mizan yang ke-30 tahun, Mizan bekerjasama dengan HFI (Humanitarian Forum Indonesia) yang difasilitasi PP Muhammadiyah menyelenggarakan Talkshow dan Deklarasi Semangat Compassion dengan mengundang penulis kenamaan asal Inggris, Karen Amstrong. Acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB digelar di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di bilangan Menteng Raya No. 62, Jakarta Pusat. Peserta yang hadir pada talkshow ini berasal dari NGO (Non-Government Organization) yang tergabung sebagai anggota HFI seperti PKPU, Dompet Dhuafa, MDMC, PPKM, YAKKUM, YTB, World Vision, dan Karina Caritas Indonesia. Selain itu juga hadir undangan dan peserta umum yang turut menghadiri kegiatan ini.

Karen Amstron (dokumentasi pribadi)
Karen Amstron (dokumentasi pribadi)

Karen Amstrong seperti yang dilansir pada laman Wikipedia.com merupakan penulis yang lahir 14 November 1944 di Wildmoor, Worcestershire, Inggris. Beliau adalah seorang pengarang, feminis, dan penulis tentang agama-agama Yudaisme, Kristen, Islam dan Buddhisme. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Irlandia yang setelah kelahiran Karen pindah ke Bromsgrove dan kemudian ke Birmingham.

Karen menerbitkan “Through the Narrow Gate” pada 1982, yang menggambarkan kehidupan yang dibatasi dan sempit yang dialaminya di biara (dan menyebabkan ia banyak dimusuhi oleh orang-orang Katolik Britania). Pada 1984 ia diminta menulis dan menyajikan sebuah dokumenter tentang kehidupan St. Paul. Penelitian untuk dokumenter ini membuat Karen kembali menyelidiki agama, meskipun sebelumnya ia telah meninggalkan ibadah keagamaan setelah ia keluar dari biara. Sejak itu ia menjadi penulis yang produktif, banyak dipuji dan dikritik dalam topik-topik yang menyangkut ketiga agama monoteistik. Pada 1999, Pusat Islam California Selatan menghormati Karen atas usahanya “mempromosikan saling pengertian antara agama-agama.”

Salah satu buku Karen yang terkenal di Indonesia adalah “The History of God” (Sejarah Tuhan) yang hingga kini masih sering dicetak ulang oleh penerbit Mizan sejak kemunculannya pertama kali tahun 1993. Selain itu, Karen juga melahirkan buku-buku monumental seperti biografi “Muhammad” (2006) dan buku terbarunya yang berjudul “Compassion” (Welas Asih).

Kehadiran Karen sebagai pembicara dalam talkshow di Indonesia khusus untuk mendiskusikan buku Compassion yang juga menjadi semangat masyarakat dunia dalam mengampanyekan gerakan Welas Asih. Selain Karen sebagai pembicara utama, hadir juga tokoh-tokoh utama seperti Dr. Zainul Kamal (UIN Syarif Hidayatulloh), Romo Heru Prakosa (Rohaniawan Katholik), dan Pdt. Martin Sinaga (PGI) yang dimoderatori oleh Pdt. Jonathan Victor Rembeth.

Lahirnya buku Compassion dilatarbelakangi atas kegelisahan Karen terhadap konflik-konflik yang memasung rasa kemanusiaan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ia menggambarkan dunia hari ini seperti Hukum Rimba; siapa kuat dialah yang menang. Hal itu bisa dilihat dari konflik Palestina-Israel, isu terorisme, seksualisme, praktik koruptif, dan sebagainya yang tidak hanya menjadi masalah lokal tapi sampai international. Meski semua negara terus berusaha mencari solusinya dengan cara masing-masing, namun masalah yang ada malah semakin subur, takteratasi.

Panggung diskusi (dokumentasi pribadi)
Panggung diskusi (dokumentasi pribadi)

Compassion (Welas Asih, Ind) adalah sikap welas asih pada sesama tanpa memandang perbedaan. Karen menawarkan ada 12 langkah untuk memahami secara lengkap konsep Compassion. Sekilas, teori Welas Asih tersebut terkesan enteng dan tidak menarik, tapi kalau kita melihat pada realita yang ada, di mana masyarakat kita sedang kehilangan nurani belas kasihnya, maka kita sangat membutuhkan kaidah itu. Karenanya, teori welas asih itu perlu dikembalikan sebagai inti dari kehidupan religius dan moral agama-agama. Sebagai langkah konkritnya, Karen menggagas sebuah komunitas global yang di dalamnya semua orang bisa hidup bersama saling menghormati, yang kemudian ia realisasikan ke dalam bentuk Piagam Welas Asih (Chrakter of Compassion), yang kemudian ditulis oleh para pemikir terkemuka dari berbagai agama. Isi dari piagam itu berisikan butir-butir yang melawan suara-suara ekstrimisme, intoleransi, dan kebencian.

Ada lima butir dalam piagam tersebut di antaranya; a) untuk mengembalikan welas asih ke pusat moralitas dan agama; b) untuk kembali pada prinsip kuno bahwa setiap interpretasi atas kitab suci yang menyuburkan kekerasan, kebencian, atau kebejatan adalah tidak sah; c) untuk memastikan bahwa kaum muda diberi informasi akurat dan penuh rasa hormat mengenai tradisi, agama, dan budaya lain; d) untuk mendukung apresiasi positif atas keragaman budaya dan agama; dan e) untuk menumbuhkan empati yang cerdas atas penderitaan seluruh manusia-bahkan mereka yang dianggap sebagai musuh (hal. 13). (Lingkaran-koma.blogspot.com)

Karen memaparkan konsep Compassion (dokumentasi pribadi)
Karen memaparkan konsep Compassion (dokumentasi pribadi)

Secara sederhana, Karen ingin mengajak kepada setiap pemeluk agama agar mengikuti isi dari inti ajaran agama yang dianut. Untuk itu, Armstrong “mewanti-wanti” akan perlunya mengembalikan welas asih sebagai inti kehidupan religius dan moral. Karen menilai banyak kasus pemeluk agama yang kurang tepat dalam mengaplikasikan prinsip-prinsip ajaran agama. Barangkali karena banyak yang kurang memahami secara benar ajaran agama yang mereka anut. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Hujarat (49:13) “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Secara implisit, Karen menyampaikan bahwa umat Islam-lah yang sebetulnya menjadi garda terdepan dalam mengawal semangat Compassion ini kepada seluruh dunia. Agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw dikenal sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin, rahmat bagi semesta alam.

Dr. Zainul Kamal, perwakilan UIN Syarif Hidayatulloh mengatakan bahwa Rasulullah saw ketika berdakwah kepada suku Thaif mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Beliau dilempar pakai batu oleh anak-anak suku Thaif, diusir, dan dihina. Namun Rasulullah tidak membalas perlakuan buruk suku Thaif. Beliau justru mendoakan suku Thaif dengan sangat khusyuk. Doa Rasulullah, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Namun, penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah ketika aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku mengangkat kepala dan pandanganku. Tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.” Rasulullah Saw. melanjutkan, “Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku. Ia berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung. Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Jawab Rasulullah, “Aku menginginkan Allah berkenan menjadikan anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR Bukhari Muslim)

Begitulah Rasulullah yang memiliki akhlak terpuji. Maka sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam mencontoh nilai-nilai kebaikan yang telah Rasulullah terapkan dalam kesehariaannya.

Zainul mengatakan bahwa sesungguhnya mereka yang menolak kebaikan dan dakwah Islam, lantaran hati-hati mereka yang tertutup sehingga belum bisa menerima kebenaran. Zainul juga berpesan supaya setiap individu menghilangkan sifat egosentris yang menjadi batas interaksi dengan orang-orang yang dipandang memiliki status sosial di level bawah. Jika sudah begitu dengan sendirinya sifat welas asih akan mudah untuk dijalankan dan kita pun dapat menyampaikan pesan-pesan kebaikan tanpa ada sekat yang memisahkan.

Dr. Zainul Kamal (dokumentasi pribadi)

Sementara itu, Romo Heru Prakosa, Rohaniawan Katholik menyampaikan kendati Indonesia berada dalam keberagaman majemuk, sejatinya kita dapat bekerjasama dengan baik dalam berbagai hal. Ia mencontohkan seperti mahasiswa-mahasiswa tempat ia mengajar, kerap melakukan kegiatan sosial bersama dengan berbagai elemen masyarakat yang berbeda agama dan budaya.

Romo Heru Prakosa (dokumentasi pribadi)
Romo Heru Prakosa (dokumentasi pribadi)

Setali tiga uang dengan yang disampaikan Romo Heru Prakosa, Pdt. Martin L. Sinaga juga menyetujui konsep Compassion yang ditawarkan oleh Karen. Ia berpendapat siapa pun bisa memiliki sikap welas asih dengan sesama. Ia optimis bangsa Indonesia akan lahir menjadi bangsa yang menjunjung tinggi toleransi keberagaman.

Prinsip welas asih tersemat dalam jiwa semua tradisi agama, etika atau kerohanian, dan menyeru kepada kita untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Welas asih mendorong kita bekerja tanpa kenal lelah untuk menghapuskan penderitaan sesama manusia. Untuk melepaskan kepentingan kedudukan kita demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain, serta untuk menghormati kesucian fitrah setiap manusia, memperlakukan setiap orang dengan keadilan, kesamaan dan rasa hormat yang mutlak, tanpa pengecualian.

Adalah juga penting dalam kehidupan masyarakat dan perorangan untuk terus-menerus menahan diri secara konsisten dan empatik dari tindakan menyakiti orang lain. Bertindak dan berkata-kata kasar karena rasa dendam, kesombongan bangsa, atau kepentingan diri, menindas, mengeksploitasi atau menyangkal hak asasi siapa pun dan menghasut kebencian melalui fitnah adalah penyangkalan terhadap kemanusiaan bersama.

Karen menandatangani buku (dokumentasi pribadi)
Karen menandatangani buku (dokumentasi pribadi)

Pesan dari talkshow yang mengangkat tema “The Message of Compassion” adalah mengajak dan menyeru kepada semua orang, laki-laki dan perempuan supaya menghidupkan kembali perasaan welas asih sebagai asas etika dan agama. Kita sangat perlu menjadi welas asih sebagai suatu kekuatan nyata, bercahaya, dan dinamik dalam dunia kita yang terpolarisasi. Berakar dalam tekad mendasar untuk mengatasi keakuan, welas asih dapat meruntuhkan batas-batas politik, dogmatik, ideologis dan keagamaan. Lahir dari ketergantungan kita yang mendalam antara satu dan yang lain, welas asih adalah esensi bagi hubungan antara manusia dan untuk menggenapi kemanusiaan.

Welas asih adalah jalan menuju pencerahan, dan takdapat diabaikan dalam menciptakan ekonomi yang adil dan kehidupan bersama yang damai. Di akhir diskusi, Karen Amstrong dan perwakilan anggota HFI menandatangani Piagam Welas Asih (Charter for Compassion). Dengan menandatangani piagam tersebut, diharapkan semoga dapat berkomitmen untuk menerapkan prinsip welas asih.

Menurut pandangan penulis, gagasan Karen Amstrong tentang gerakan Compassion (Welas Asih) sebetulnya baik. Tapi perlu diingat bahwa sejatinya setiap agama tidaklah sama. Kita pun memiliki kesempatan untuk memberikan kritikan yang bersifat konstruktif atas gagasan-gagasan Karen dalam bukunya yang berjudul Compassion. Setiap pemeluk agama dapat berperan sesuai dengan peran masing-masing. Kita pun dapat bersinergis dalam konteks muamalah sehingga terciptanya harmonisasi dalam hidup dan kehidupan. Semoga kita dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip universal yang sebetulnya dimiliki oleh setiap manusia. Solusinya mari kita aplikasikan sifat welas asih mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil, dan mulai saat ini. Bismillah. Manjadda wa jadda!

Mahfud Achyar and Karen Amstrong
Mahfud Achyar and Karen Amstrong

NB: Mohon maaf jika ada kesalahan opini. Silakan sampaikan masukan dan saran ke @mahfudACHYAR

Karena Mereka Menginspirasi

“Dia berkorban demi orang yang dicintainya. Mampu berdiri melawan ketidakadilan. Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik. Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya. Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat. Cintanya tanpa syarat. Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang. Dia girang dan bersorak saat melihat kawannya tertawa. Dia begitu bahagia mendengar kelahiran. Hatinya begitu sedih mendengar berita sakit dan kematian. Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup. Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka. Hanya ada satu hal yang kurang dari Perempuan: Dia lupa betapa berharganya dia.” (Perempuan)

Thanks a lot mom!
Thanks a lot mom!

Mungkin jika kita bertanya pada hati kita yang terdalam, siapa orang yang sangat berarti dan memiliki peran besar dalam hidup kita? Ragam jawaban pun dengan spontan keluar dari mulut kita. Ada yang menjawab ibu, ibu, ibu, dan ayah. Ya, ibu disebut tiga kali dibandingkan ayah. Begitulah juga yang pernah disampaikan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya ketika ditanya siapa yang paling harus dihormati. Hal ini mengingat peran ibu sangatlah besar dalam hidup dan kehidupan seseorang.

Ibu mengandung selama bulan. Selama itu ia bertanggung jawab penuh terhadap bayi yang ia kandung. Mulai dari memberi asupan gizi yang baik, memberikan pendidikan ketika masih dalam kandungan, dan menjaga keselamatan bayi . Memasuki bulan kesembilan, seorang ibu harus berjuang melahirkan anaknya dengan taruhan jiwa: berdarah, berkeringat, dan meneteskan air mata. Namun semua rasa payah dan sakit yang ia alami kemudian sirna ketika mendengar tangisan bayi dan ia melihat bayinya lahir dalam keadaan sehat.

Sejarah mencatat bahwa perempuan khususnya ibu memiliki peran sangat berarti dalam sejarah hidup umat manusia. Dari rahim merekalah lahir pemimpin-pemimpin hebat dunia. Mereka adalah madrasah atau sekolah pertama bagi anak-anak mereka; mengajarkan bahasa, budi pekerti, dan nilai-nilai luhur agar anak-anak mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas, hebat, dan bermanfaat. Perempuan juga sebagai bendahara ulung bagi keluarga yang mengatur pengelolaan keuangan keluarga. Lebih dari itu, mereka luar biasa dan menginspirasi dengan segala aktifitas yang mereka lakukan baik di keluarga, masyarakat, negara, dan agama.

Syurga di bawa telapak kaki ibu. Maka sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada ibu-ibu kita. Mereka adalah perempuan-perempuan yang hebat dan mereka sangat menginpirasi.

follow me: @mahfudACHYAR

Catatan Perjalanan: Menikmati Kemewahan di Gunung Papandayan

Tidak banyak yang mengetahui bahwa kabupaten Garut yang terletak di sebelah tenggara kota Bandung dijuluki sebagai Swiss van Java. Charly Caplin pernah berkunjung ke Garut. Ia mengagumi keindahan alam Garut dan Caplin-lah yang memperkenalkan Garut kepada dunia sebagai Swiss van Java.

Garut berada pada ketinggian 717 m/dpl yang dikelilingi gunung yang menjulang tinggi yaitu Gunung Karacak (1.838 m), Gunung Cikuray (2.821 m), Gunung Papandayan (2.622 m), dan Gunung Guntur (2.249 m).

Sabtu (30/03/2013), saya bersama sahabat saya Cahyo, Nurida, dan Nika berkesempatan untuk berpetualang ke Gunung Papandayan. Rencana pendakian ke Gunung Papandayan sudah kita rencanakan jauh-jauh hari. Seingat saya tiga minggu sebelum hari keberangkatan. Biasanya, jika mau mendaki gunung saya tidak terlalu ambil pusing. Saya cukup mempersiapkan bekal seadanya. Namun, pada pendakian kali ini, ketua kelompok kita Cahyo yang sudah memiliki traffic yang tinggi dalam mendaki gunung memberikan saran kepada kami bahwa segala sesuatunya harus dipersiapkan secara maksimal.

Kendati Gunung Papandayan salah satu gunung wisata, namun Cahyo berpesan bahwa kita harus mengantisipasi segala kemungkinan buruk. Cahyo pun meminta kami untuk berolahraga setiap hari minimal, mempersiapkan peralatan pribadi dan kelompok, dan membaca dengan seksama Rencana Operasional Pendakian (ROP) yang telah dikirim Cahyo melalui personal message di facebook.

Awalnya saya berpikiran mengapa harus terlalu detail? Namun kemudian saya teringat pesan Andrea Hirata dalam bukunya Laskar Pelangi “Preparation perfect performance!” Baiklah, segala sesuatunya harus dipersiapkan secara matang dan harus digarap secara serius. Jadi, mari kita berterima kasih sekali kepada ketua kelompok kita Cahyo yang sudah rewel menanyakan ini-itu berkaitan dengan persiapan mendaki Gunung Papandayan. Terima kasih bos!

Jatinangor, 30 Maret 2013, pukul 09.45 WIB

Kami mendata ulang perlengkapan kelompok dan pribadi. Mulai dari sleeping bag, matras, tenda, head lamp, senter, bekal makanan secukupnya, dan yang lainnya. Sip! Semuanya sudah lengkap. Saatnya berangkat!

Perjalanan dari Jatinangor ke Garut (kota) sebetulnya hanya 2 jam. Namun, karena lokasi Gunung Papandayan di Cisurupan yang cukup jauh dari pusat kota Garut, jadi kami memerlukan waktu yang lebih lama. Beruntung kami dibantu oleh teknologi GPS dan juga bantuan dari masyarakat Garut yang berbaik hati memberitahu kami rute menuju Cisurupan.

Memasuki kawasan Gunung Papandayan, kami perlu hati-hati karena jalan yang rusak berat. Ditambah saat itu hujan lebat mengguyur Garut sehingga kabut gunung pun menguap dan membuat jarak pandang semakin pendek.

Pukul 12.45 WIB.

Ban mobil kami terjebak ke dalam lubang jalan yang digenangi hujan dan lumpur. Beruntung saat itu hujan sudah mulai reda. Beberapa dari kami mendorong mobil dan ada juga yang bertugas selaku navigator yang memberikan arah kepada Cahyo, memilih jalan yang tepat dan aman untuk dilalui mobil. Alhamdulillah, kami juga dibantu oleh beberapa warga Cisurupan yang langsung turun dari truck berwarna kuning dari arah berlawanan. Mereka pun langsung mendorong mobil Xenia berwarna merah marun yang menjadi tumpangan kami. Satu, dua, tiga! Alhamdulillah ban mobil kami pun terbebas dari cengkraman lubang jalan yang sangat tidak bersahabat. Hatur nuhun bapak-bapak!

***

Selamat Datang di Gunung Papandayan!

Jalanan yang rusak berat membuat kami lebih ekstra hati-hati untuk memilih jalan yang paling aman untuk dilewati. Cahyo memerlukan fokus ekstra, sementara yang lainnya berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan sehingga kami dapat tiba di lokasi dengan selamat. Rintangan demi rintangan kami lewati. Alhamdulillah, saat-saat yang cukup mendebarkan sudah kami lewati. Tepat pukul 14.00 WIB, akhirnya kami tiba di kaki Gunung Papandayan, tepatnya di Camp David.

Pos Pendakian di Camp David. Sumber: Koleksi Pribadi
Pos Pendakian di Camp David. Sumber: Koleksi Pribadi

Karcis masuk Gunung Papandayan dan biaya parkir mobil totalnya seingat saya 15ribu. Selanjutnya, kami harus mendaftar di pos pendakian dan membayar biaya pendaftaran 10ribu. Ternyata, pada hari itu cukup banyak yang camping di Gunung Papandayan. Sepintas saya melihat ada teman-teman dari Unpad, ITB, Untar, dan beberapa kampus lainnya. Setelah selesai mengurusi pendaftaran, kami pun melakukan peregangan dan olahraga kecil supaya tubuh tetap fit.

Hujan gerimis kembali mengundang.

Kami tidak bisa hanya berdiam diri di Camp David. Kami harus segera berangkat agar tidak terlalu sore tiba di Pondok Saladah. Alhamdulillah, ternyata ada lima orang laki-laki asli Garut juga hendak camping di Pondok Saladah. Kami pun berkenalan dan bersepakat untuk mendaki bersama.

Sepanjang pendakian, terlihat banyak orang-orang yang turun dan tampak kelelahan. Di antara mereka kebanyakan pemuda sepantaran kami yang memberikan salam dan memberikan semangat kepada kami. Ah, mereka keren sekali. Kendati mereka membawa ransel carrier yang berat dan besar, serta kaki yang pegal karena berjalan jauh, namun mereka masih menyunggingkan seulas senyuman. Saya pikir, begitulah para pencinta alam. Walau kami tidak saling mengenal, namun kami dapat bersahabat dengan baik. Sebab itu memiliki kecintaan yang sama yaitu alam beserta keindahannya.

Kata Cahyo, satu jam perjalanan, dada akan terasa sesak karena membawa ransel carrier yang besar. “Tapi tenang saja, itu hanya untuk penyesuaian saja,” kata Cahyo. Selanjutnya, kita akan terbiasa berjalan dengan membawa ransel carrier dan menikmati perjalanan yang panjang. Ah ya, benar rupanya! Dada saya terasa sesak. Sesekali saya mengencangkan tali ransel dan berkata, “Saya pasti bisa!”

Berfoto dekat kawah belerang Gunung Papandayan.
Berfoto dekat kawah belerang Gunung Papandayan.

Tahukah kalian, jika kalian ingin mengenal siapa orang-orang di dekat kalian, maka ajaklah mereka melakukan perjalanan jauh seperti mendaki gunung. Maka, kalian akan mengenal secara seksama mereka. Alhamdulillah, saya merasa beruntung karena memiliki tim pendakian yang memiliki kerja sama yang baik, perhatian, dan saling menyemangati.

***

Hujan kembali turun.

Beruntung kami semua sudah menggunakan rain coat. Namun, kami tetap harus waspada mengingat jalanan yang licin. Kami pun berjalan santai di atas bebatuan yang berwarna abu-abu gelap. Di sisi kiri kami, ada kepulan asap kawah Gunung Papandayan. Di sisi kanan kami terlihat bukit pasir yang berbatu-batu. Kami juga sempat mencium aroma belerang yang cukup menyengat. Jadi kami tidak boleh menghirup oksigen dalam-dalam, cukup sekadarnya.

Sepanjang perjalanan, beberapa pengendara motor gunung turun melewati jalan yang curam dengan mahir. Kami pun takjub dengan aksi mereka.

Pendakian kami lalui dengan perasaan suka cita. Lelah sebetulnya, tapi kami terus bersemangat karena kami harus menyudahi apa yang sudah kami mulai. Guna menepis rasa lelah, kami berfoto di spot-spot yang memiliki angle bagus, istirahat sejenak, kemudian kembali berjalan.

1-2-3-15-30-27!

Kami sudah lupa berapa jumlah langkah kaki kami. Rasanya ratusan atau bahkan ribuan. Kami benar-benar lupa.

***

Hijau!
Hijau!

Setelah melewati lembah Gunung Papandayan yang tandus, kami pun memasuki area padang rumput hijau yang segar, kemudian hutan rendah yang ditumbuhi ragam vegetasi seperti Kendung (Helicia serrata), Segel (Wormia excelsa), dan pohon jenis yang paling dominan adalah jenis Anggrid (Neonauclea lanceolata). Kemiringan hutan sekitar 40-45 derajat dengan suhu sekitar 10 derajat celcius. Kendati udara yang cukup dingin, namun keringat yang membasahi baju membuat dinginnya Gunung Papandayan tidak begitu berarti. Jalanan di area hutan lebih licin dan terjal. Kami harus berpegangan di tumpuan kayu dan menggenggam reremputan agar kami bisa berhasil melewati berbagai rintangan.

Dari kejauhan, kabut tipis pun perlahan turun, menutupi bagian atas gunung seperti seorang anak kecil yang mungil yang tersipu malu, kemudian menutup wajahnya dengan selimut kesayangan miliknya. Ah, sempurna sekali sore kala itu.

Tiba di Pondok Saladah

Pukul 16.14 WIB, setelah melewati pendakian panjang, melelahkan, dan penuh tantangan, akhirnya kami tiba di perkemahan Pondok Saladah. Subhanallah, indah sekali!

Pesona keindahan Pondok Saladah
Pesona keindahan Pondok Saladah

Saat itu ternyata sudah banyak orang yang memasang tenda. Ada juga beberapa kelompok yang baru memasang tenda, mengambil air bersih, dan berbincang ringan bersama teman-teman. Ah ya! Mari kita memasang tenda. Kami pun bergegas mengeluarkan barang-barang, menyusun pola tenda, dan bekerjasama memasang tenda. Beberapa kali, kabut tipis ditemani angin gunung yang sejuk melewati tenda kami, kemudian sirna.

Tenda sudah berdiri kokoh. Selanjutnya, kami bersih-bersih dan mempersiapkan makan malam. Kami pun berbagi tugas: ada yang memotong kentang, wortel, buncis, daun bawang, menanak nasi, dan memanaskan air. Apa menu makan malam kami? Soup Papandayan ala Chef Cahyo (Hehe, makasih Cahyo sudah memikirkan makan malam kami). Oke, saatnya makan! Perut yang teramat lapar menambah nikmat makan malam kami. Menurut saya, malam itu adalah menu makan malam yang mahal yaitu sajian soup plus nasi dan segelas teh hangat di alam terbuka yang sangat indah di Gunung Papandayan. Mewah tidak selalu mahal bukan?

Tenda sudah terpasang dengan sempurna!
Tenda sudah terpasang dengan sempurna!

Apa yang paling saya suka ketika berada di alam bebas? Yaitu ketika kita bisa bermunajat kepada Allah. Saat itu, kita merasa kecil. Bahkan sangat kecil. Kita tidak ada apa-apanya. Lantas, apa yang harus kita sombongkan? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah untuk kesempatan yang berharga ini.

Rembulan kala itu
Rembulan kala itu

Minggu, 31 Maret 2013

Semalam saya tidak bisa tidur nyenyak. Sangat dingin. Padahal, sudah memakai kaos kaki, sarung tangan, syal, dan sleeping bag. Tapi mereka tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Mungkin karena kurangnya persediaan lemak dalam tubuh saya sehingga angin gunung begitu mudahnya menyelinap masuk hingga menusuk tulang saya yang tidak tahu apa-apa.

Sekitar pukul 02.00 WIB, saya terbangun. Mendongakkan kepala ke atas, melihat langit luas. Ada bulan yang begitu berbaik hati menyinari pekatnya malam sehingga langit menjadi agak terang berwarna biru. Udara memang tidak bisa diajak kompromi. Baik, saya putuskan kembali ke tenda.

Kami semua terbangun. Siap-siap menunaikan sholat Subuh berjamah. Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb. Sembari menunggu mentari terbit, kami berbagi tugas. Ada yang mengambil air, ada yang masak, dan ada yang bersih-bersih.

Perlahan, mentari pun terbit menyapu bersih kabut yang menggelayut di reranting pohon. Semburat cahaya pun menepis gelap yang telah menemani kami semalam suntuk. Sementara hangatnya mentari pagi mulai mengusik rasa dingin yang dari tubuh kami. Udara yang segar kami hirup sepuas-puasanya. Alhamdulillah, pagi yang indah dan berkah.

Indahnya pagi di Gunung Papandayan
Indahnya pagi di Gunung Papandayan

Menikmati waktu pagi di Gunung Papandayan memang tidak ada duanya. Selain mata kita dimanjakan dengan indahnya pemandangan di sekitar, kita juga bisa melihat secara langsung bunga Edelweiss (Anaphalis Javanica) yang saat itu baru bermekaran. Taklupa, kami pun mengabadikan moment berharga tersebut dengan kamera. Ah, andai setiap hari bisa menikmati indah pagi seperti moment di Gunung Papandayan, betapa bahagianya hidup ini.

Sebetulnya, tujuan akhir kami bukanlah Pondok Saladah. Melainkan kami ingin sekali menikmati keindahan alam Gunung Papandayan di puncak tertinggi yaitu Tegal Alun. Menghirup udara gunung yang segar, mencium aroma kesederhanaan bunga edelweiss, melihat luasnya padang rumput di sana, dan menikmati detik-detik berharga selama di Tegal Alun. Tapi rasanya niatan tersebut belum dapat terealisasi. Perjalanan dari Pondok Saladah ke Tegal Alun setidaknya memakan waktu selama 1 jam. Itu artinya, jika kami ingin bisa menyaksikan sun rise dan melihat langsung keindahan Tegal Alun, maka kami harus berangkat selepas sholat Subuh, sekitar jam 5 pagi. Namun, konsekuensinya, kami tidak bisa berangkat full team. Sebab, harus ada satu di antara kami yang bertugas menjaga tenda hingga kami kembali ke Pondok Saladah. Cahyo sebetulnya mengajukan diri untuk menjaga tenda beserta perlengkapannya. Namun, tentu tidak menarik karena kita tidak dapat berbagi kebahagiaan. Maka, dengan berat hati kami sampaikan, kami tidak jadi ke Tegal Alun.

Pun demikian, tidak menjadi apa-apa. Kami masih bisa melihat bunga-bunga edelweiss yang baru bermekaran di Pondok Saladah. Bagi kami itu sudah lebih dari cukup. Hal yang lebih penting adalah, kami bisa melewati setiap moment bersama-sama.

Tiba waktunya sarapan. Makanan pun sudah terhidang. Cahyo kembali bertugas menjadi koki. Sementara, saya, Nika, dan Nurida menjadi juri masak. Menu pagi itu: nugget, nutrijel, telor dadar, nasi, susu milo, dan apel. Kami pun menyantap sarapan dengan lahap. Sesekali kami tertawa, bercanda, foto-foto, dan kembali melanjutkan makan. Semuanya makanan habis! Kenyang. Ingin berleha-leha sejenak sembari menikmati pagi. Namun hal itu tidak memungkinkan. Kami harus bergegas packing. Tepat pukul 10.00 WIB, kami harus turun khawatir hujan turun.

Sarapan :D
Sarapan 😀

Semua barang-barang sudah masuk ke dalam ransel carrier masing-masing. Tas kembali berat. Namun tidak seberat waktu pemberangkatan. Terasa lebih ringan. Saatnya pulang. Selamat jalan Gunung Papandayan. Kami ucapkan terima kasih banyak. Jika ada kesempatan lagi, kami akan ke sini lagi. Ah, di sini indah sekali. Kami betul-betul menikmati kemewahan tiada terkira. Selesai.

Sayonara!!!!
Sayonara!!!!

Kami berencana ingin melakukan pendakian selanjutnya. Entah kemana, entah kapan. Lihat saja nanti.
Kami berencana ingin melakukan pendakian selanjutnya. Entah kemana, entah kapan. Lihat saja nanti.

***

terima kasih maPANDAyan!!!

@mahfudACHYAR

Join Us Zero Waste #untukbumiku

Zero Waste. Sumber: google
Zero Waste. Sumber: google

Kondisi bumi saat ini sdh berada pada fase yg butuh perhatian serius yg berdampak kepada suatu perubahan bsr dr sifat2 alamnya #untukbumiku
mahfudACHYAR 49 minutes ago

Pemanasan bumi yg terjadi menyebabkan musim tdk lg terletak pd bulannya msing2, permukaan laut terus naik, tanah turun. Lakukan #untukbumiku
mahfudACHYAR 47 minutes ago

Intergovernmental Panel on Chimate Change: kenaikan suhu bumi antara 0.13-0.150C pd tahun 1990-2005 & diperkirakan naik 4,20C #untukbumiku
mahfudACHYAR 45 minutes ago

Kenaikan suhu bumi yang mencapai 30C menyebabkan 40-70% spesies musnah. Ekosistem laut seperti terumbu karang juga akan punah. #untukbumiku
mahfudACHYAR 43 minutes ago

Kenaikan permukaan air laut yang mencapai 3mm/tahun menyebabkan kerusakan daya pantai mencapai 15-60 cm akibat gerusan ombak. #untukbumiku
mahfudACHYAR 41 minutes ago

Melelehnya gletser dpt menaikan permukaan air laut hingga 2,2 cm, menenggelamkan sekitar 2.200 pulau di Indonesia #untukbumiku
mahfudACHYAR 40 minutes ago

Pemanasan bumi disebabkan oleh beberapa faktor: peningkatan pemakaian SDA secara tidak bijak, emisi, dsb. Mari kita berbuat #untukbumiku
mahfudACHYAR 38 minutes ago

Dari semua penyebab tersebut, faktor berupa sampah dapat menjadi prioritas utama untuk diselesaikan secara cepat dan cerdas. #untukbumiku
mahfudACHYAR 38 minutes ago

Volume sampah yg tinggi tiap harinya menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak yang ditimbulkan jika tidak dikelola secara benar #untukbumiku
mahfudACHYAR 37 minutes ago

Hanya 42 % sampah yg dikelola dg baik. Sisanya 68% (300ribu ton) terbengkalai tidak terkelola dengan baik. Ah, banyak sampah! #untukbumiku
mahfudACHYAR 34 minutes ago

Dari tadi kita bicara fakta, lantas apa yg bisa kita lakukan? Gabung gerakan Zero Waste -Earth Day The Face of Climate Change #untukbumiku
mahfudACHYAR 32 minutes ago

How? 1. Mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat pemanasan bumi melalui pengimplementasian zero waste lifestyle #untukbumiku
mahfudACHYAR 32 minutes ago

2. Memberikan pengetahuan terkait perubahan iklim dan dampaknya terhadap lingkungan melalui training dan kampanye #untukbumiku
mahfudACHYAR 31 minutes ago

3. Menjadikan Earth day sbg momentum utk memulai kepedulian terhadap kondisi bumi guna penyelamatan lingkungan #untukbumiku
mahfudACHYAR 30 minutes ago

10 Langkah praktis menuju zero waste sebagai kepedulian kita #untukbumiku. Apa saja?
mahfudACHYAR 28 minutes ago

1.Berfikir berkali-kali saat ingin membeli sesuatu yang berpotensi menjadi sampah #zerowaste #untukbumiku
mahfudACHYAR 26 minutes ago

2. Hindari membeli barang dengan kemasaan sachet dan usahakan dengan kemasan paling besar. #zerowaste #untukbumiku
mahfudACHYAR 25 minutes ago

3.Membeli barang dg kualitas paling bagus agar tahan lama sehingga tdk terjadi penumpukan sampah akibat barang rusak #zerowaste #untukbumiku
mahfudACHYAR 24 minutes ago

4.Menghindari gaya hidup konsumtif (membeli sesuai keperluan) agar tdk menambah sampah. #zerowaste #untukbumiku
mahfudACHYAR 23 minutes ago

5.Memisahkan antara sampah organic, anorganik yang bisa didaur ulang dan yang tinggal dibuang. #zerowaste #untukbumiku
mahfudACHYAR 23 minutes ago

6.Mengkompos sampah organic dengan memanfaatkan takakura. Mudakan #zerowaste #untukbumiku
mahfudACHYAR 22 minutes ago

7.Menggunakan langkah 3R dalam pengolahan sampah anorganik. #zerowaste #untukbumiku
mahfudACHYAR 21 minutes ago

8.membawa tas belanja saat pergi ke tempat berbelanja. #zerowaste #untukbumiku
mahfudACHYAR 21 minutes ago

9.Membawa tempat makan dan minum agar tidak berpotensi menghasilkan sampah pembungkus makanan. #zerowaste #untukbumiku
mahfudACHYAR 20 minutes ago

10.Berkomitmen untuk melakukannya secara terus menerus dan menjadikannya sebagai gaya hidup #zerowaste #untukbumiku
mahfudACHYAR 20 minutes ago
Content from Twitter

#zerowaste reuse > recycle > compost = NO WASTE! Mari kita berbuat agar bumi kita tetap indah & nyaman bukti kecintaan kt #untukbumiku
mahfudACHYAR 18 minutes ago

#zerowaste reuse > recycle > compost = NO WASTE! Mari kita berbuat agar bumi kita tetap indah & nyaman bukti kecintaan kt #untukbumiku
mahfudACHYAR 18 minutes ago

Visit my chipstory http://chirpstory.com/li/69392

Valuable Experience: When I Surrender

Yeah, i can do the best!
Yeah, i can do the best!

9 November 2011. I was one of the many graduates received a degree cum laude Finally, I officially became a scholar. Next, I wanted to work and continue graduate school. However, I still have a moral responsibility to help friends in the student organization until December 2011.

January 2012. I also applied for various companies. Starting from the media, banking, insurance, and other private sector companies. Various application I have entered. I was then called to follow the test as psycho test, interviews, and so on. Not a few companies that I refuse to work at their companies. I sometimes feel hopeless. However, more painful, there are some companies that almost accepted me, but when I failed in the final selection.

I failed, and I feel desperate. I can’t forgive my self. Sometimes I ask into my heart, why my friends are so easy to get a job. And I? While in college, I actively participated in student organizations. I also have work experience and have a good GPA. So why would I not go get a job?

4 months of painful conditions such befall me. A lot of people are asking, you’ve worked? For me the question was very painful. I find it hard to distinguish whether it is a question of attention or concern? I do not know I was getting upset. Moreover, my parents almost every day asking if I was accepted to work or not? Happiness for my parents is very important. I do not want them to be disappointed and sad to know that I have not worked. Even sadder, I still get a money from my parents. At that time I feel to be useless.

Honestly, this condition is most severe in my life. I’ve prayed to God. I also have tried as much as possible. But the result? I have yet to find a job according to my passion. I was very disappointed with myself.

Praise of complicated conditions that befell me, I grew closer to God. I believe that every person in this world has their sustenance. I should not be jealous of others. I just need to be patient much longer, keep praying, and keep trying. Maybe God wants to know how much patience I have. I know exactly, that ordeal when it happened to me was a test for me can be better.

“I do not know if this disaster or challenges. But I always prejudiced either to God. ”

Finally, I surrender all to the Lord’s test. I believe God will not waste the people close to him. A few days later, many offers of work from various companies. But of the many companies, I chose to work in NGOs. For people that may sound screwy. However, I have an answer for all of my life choices. I just want to say that working in NGOs that have Islamic values are God’s way of always keeping me in kindness.

twitter: @mahfudACHYAR