Puluhan Januari Telah Terlewati

Processed with VSCO
Senja di Jakarta pada akhir Januari. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Saya adalah seorang pria pemuja kata-kata, sungguh. Saya selalu kagum dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah kalimat dan paragraf yang bermakna.

Sepekan yang lalu, saya menonton film yang berjudul “The Light Between Oceans,” sebuah film yang dirilis pada tahun 2016 yang diperankan dengan sangat baik oleh Michael Fassbender dan Alicia Vicander. Film tersebut berkisah tentang seorang penjaga mercusuar dan istrinya yang tinggal di sebuah pulau bernama Janus Rock. Dua tahun setelah pernikahan mereka, pasangan tersebut menemukan kapal sekoci yang membawa dua orang penumpang; seorang pria dan bayi perempuan. Bagaimana kisah selanjutnya? Silakan ditonton.

Akan tetapi, pada tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang-lebar tentang film yang mendapatkan rating 7,2 oleh satu situs IMDb. Lantas, apa yang ingin saya bagikan? Belakangan ini, saya terusik dengan sebuah pertanyaan, “Apakah standar utama yang membuat suatu karya, misalnya film, layak dinobatkan sebagai karya yang fenomenal?” Lama, lama sekali saya berpikir tentang hal tersebut hingga pada akhirnya saya menemukan simpulan yang paling tepat menurut perspektif saya sendiri. Bagi saya secara personal, film yang baik adalah film yang membuat saya merenung: memikirkan setiap dialog, adegan, dan semua tanda yang ditampilkan dalam film, baik kasat mata maupun tersirat.

Salah satu kutipan pada film “The Light Between Oceans” yang membuat saya impresif yaitu, “You only have to forgive once. To resent, you have to do it all day, every day.” Ungkapan ini membuat hati saya gusar. Membuat memori masa silam hadir kembali dengan cuplikan yang lebih utuh, lebih jelas. Ada banyak luka-luka di dalam hati saya yang belum sembuh hingga sekarang. Setiap hari, saya masih merasakan luka yang sama, tidak kurang sedikitpun. Berulang kali saya mencoba melupakannya. Nyatanya tidak semudah yang saya kira. Entahlah, barangkali saya memang belum bisa ikhlas atau mungkin masih ada hal yang belum tuntas. Saya pun tidak tahu harus menerjemahkannya seperti apa perasaan yang meliputi ruang hati saya. Namun satu hal yang pasti, saya memang harus mulai memaafkan dan berdamai dengan diri saya sendiri. Terkadang saya berpikir, saya terlalu keras dengan diri saya sendiri. Mulai hari ini, saat Januari telah pergi, saya mulai mencoba menjadi diri yang baru setiap harinya. Seorang anak manusia yang ingin memiliki hidup yang bahagia.

Januari, kini entah di orbit mana engkau berada? Saya pun alfa tentang hal itu. Ada satu rahasia yang ingin saya sampaikan padamu, “Tahukah kamu, kehadiranmu sungguh berarti. Engkau berada di dua garis yang berbeda. Satu wajahmu menghadap ke masa lalu (bulan Desember), satu lagi wajahmu menghadap ke masa depan (Februari). Bisakah kau sedikit mendoakan saya?

Jakarta,

1 Februari 2017

Arigatou Minakata Jin

Cover of Jin by google.com

DESCRIPTION:

Episode: 22 episode
Broadcast Date: 2009.10.11-2009.12.20 until 2011.04.17-2011.06.26
Cast: Takao Osawa / Haruka Ayase / Miki Nakatani / Masaaki Uchino
Category: Family / Medical / Mystery/Thriller / Romance / Tearjerker /

PROLOG

Pada kesempatan ini, saya ingin bercerita tentang sebuah dorama (drama Jepang) yang menurut saya sangat bagus dan memiliki pesan kehidupan yang sangat dalam. Sebelum itu, saya ingin menyampaikan sebuah pesan singkat dari teman saya tentang sastra. Saya akan kutipkan kata mutiara itu untuk kita semua.

“Filsuf memahami dunia. Ilmuwan kemudian mengartikannya. Cendekiawan mengubah dunia. Tetapi apa yang didapat dari sastrawan dan seniman sejati? Mereka akan setia bersamamu kawan. Sastra memanusiakan manusia. Dengan sastra, kita bisa memberi arti pada sebuah makna.”

Film atau drama merupakan produk sastra dalam bentuk audio dan visual. Jelas, kisah yang diangkat dalam drama merupakan kisah rekaan yang mungkin saja terjadi di dunia nyata. Namun, cerita pada sebuah fiksi bukan berarti sebuah kisah yang hambar dan tidak memiliki nilai apa pun untuk kemudian kita ambil sebagai pembelajaran hidup.

Saya beruntung, dari kecil saya sudah mengenal sastra. Saya sudah akrab dengan bacaan seperti cerpen dan novel. Bahkan dulu, ketika duduk di bangku sekolah dasar, saya memiliki sebuah buku yang berisi kumpulan-kumpulan puisi yang ditulis oleh seorang anak yang tidak mengetahui teori sastra, seorang anak yang hanya berusaha menuangkan makna yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Namun sayang, buku kumpulan puisi itu hilang dan entah dimana. Saya menyesal karena tidak dapat menjaganya dengan baik.

Baik, kita kembali ke topik utama kita tentang dorama Jepang yang berjudul Jin. Jujur saya katakan, ini adalah dorama terbaik yang pernah saya tonton. Kendati menggunakan subtitle bahasa Inggris, bagi saya tidak masalah. Saya bisa menikmati fiksi dan sekaligus belajar bahasa Inggris. Beberapa kosa kata yang belum pernah saya dengar, kemudian saya catat dan saya hapal.

Entahlah, saya sebetulnya bingung sendiri ketika saya larut menikmati dunia fiksi seperti novel dan film/dorama. Ada semacam perasaan yang mendorong saya turut ambil bagian dalam kisah tersebut. Ah, mungkin karena memang saya sudah terlalu lama berinteraksi dengan sastra.

Dorama Jin mengisahkan tentang seorang dokter bernama Minakata Jin yang terjatuh dari gedung rumah sakit hingga kemudian ia koma. Masa koma tersebut memaksa Minakata Jin memasuki alam bawah sadar menuju pada sebuah dimensi yang berbeda. Sebuah dimensi yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, yaitu ia kembali ke zaman Edo (sebutan nama Tokyo zaman itu) pada tahun 1862.

Minakata Jin di zaman Edo

Kisah Minakata Jin dimulai ketika ia harus penyaksikan pertarungan samurai di sebuah semak belukar di malam hari. Ia melihat dengan kedua matanya bahwa di depannya, ada seorang samurai yang kepalanya ditebas oleh pedang hingga membuat samurai tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Menyaksikan tragedi tersebut, secara naluriah sisi humanisme Minakata Jin pun terpanggil untuk menyelamatkan samurai yang bernama Tachibana Kyotaro. Minakata Jin pun membawa Kyotaro-san ke rumahnya dan menyelamatkan nyawanya dengan operasi yang menggunakan peralatan sederhana.

Tentu menjadi tantangan bagi Minakata Jin sebagai seorang dokter yang hidup di era teknologi canggih, namun harus dihadapkan dengan tantangan untuk menyelematkan nyawan di zaman Edo yang minim fasilitas dan teknologi kedokteran.

Masyarakat Edo pun masih asing ilmu kedokteran sehingga masyarakat Edo merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Minakata Jin. Orang yang pertama kali mendukung cara pengobatan Minakata Jin adalah adik perempuan dari Kyotaro-san yaitu Saki-sama. (Aha, Saki-sama yang diperankan oleh Haruka Ayase sangat baik. Saya masih terkesima dengan aktingnya dalam film Cyborg-she)

Arigatou sensei! -Saki

Keberhasilan operasi yang dilakukan Minata Jin dan dibantu oleh Saki-sama terhadap Kyotaro-san didengar oleh banyak orang. Sejak peristiwa itu, berbagai tantangan berkaitan dengan pengobatan memaksa Minakata Jin untuk menyelesaikannya dengan baik. Mulai dari mengoperasi ibu dari Kicchi-san, mengobati penyakit kolera, mengoperasi tumor Nokaze-san, sivilis, mengatasi penyakit beri-beri yang menyerang banyak masyarakat Edo, dan bahkan sampai mengobati orang yang nyaris merenggut nyawanya. Tapi beruntung Minakata Jin tidak berjuang sendirian. Ia dibantu oleh sahabat-sahabatnya untuk mengatasi setiap tantangan yang terjadi.

“God only gives us challenges. So we can overcome them.” – Minakata Jin

Minakata Jin yakin bahwa setiap tantangan yang ia hadapi, pasti dapat ia atasi dengan baik. Apalagi ia memiliki sahabat dan orang-orang yang di sekitarnya yang mendukung dan mencintainya dengan sepenuh hati. Kendati, kerap kali ia dihantui perasaan gusar, sebetulnya apa alasan ia dikirim ke zaman Edo? Mungkinkah kehadiran ia di zaman tersebut menjadi syarat agar kekasihnya Miki bisa sadar dari komanya? Namun, ia akhirnya sadar bahwa ia kembali ke zaman Edo untuk mengubah masa depan dan hari esok yang lebih baik lagi. Walaupun kadang ia sendiri ragu dengan apa yang telah ia kerjakan. Namun, karena melihat semangat dan senyum tulus dari sahabat-sahabatnya, ia pun memiliki keyakinan penuh untuk mengubah sejarah Jepang menjadi lebih baik lagi.

Kondisi pelik di zaman Edo tidak hanya lantaran masalah kesahatan. Saat itu suasana Jepang berada dalam kondisi pada masa kekuasaan Keshogunan Tokugawa yang diambang kehancuran yang ditandai dengan Restorasi Meiji.

Menonton dorama ini, kita seakan diajak untuk kembali ke masa silam yaitu di zaman Edo. Apalagi diiringan dengan instrument musik Jepang yang sangat indah sehingga kita begitu menikmati setiap peristiwa yang terjadi di zaman tersebut.

Saki: “Sensei… Look at sunset.. Very beautiful right?”

Kadang, tulang saya terasa ngilu ketika menyaksikan operasi yang dilakukan Minakata Jin dan sahabatnya dengan hanya mengandalkan peralatan operasi seadanya. Terlebih ketika scene Nokaze-san yang harus dicaesarr tanpa mengggunakan anesthesia. Bagi saya itu sangat dramatis dan membuat saya tertarik dengan dunia kedokteran. Kadang saya berpikir, apakah di dunia ini masih banyak dokter yang memiliki visi dan semangat seperti Minakata Jin, Saki-sama, dan sahabat-sahabatnya.

Lega sekali ketika operasi berjalan dengan sukses. Terlihat dengan jelas raut wajah senang memancar dari wajah Minakata Jin dan sahabat-sahabatnya. Saya kagum dengan dokter. Mereka bisa menolong orang lain dengan sepenuh hati kendati dalam perasaan tertekan sekalipun. Saya berharap, saya sangat berharap masih ada dokter-dokter seperti Minakata Jin, Saki-sama, dan Saburi-san. Rasanya indah sekali jika dunia ini diisi oleh orang-orang baik dan senantiasa berbuat baik.

***

Sebuah drama tidak lengkap rasanya jika tidak ada kisah cinta di dalamnya. Drama Minakata Jin juga mengisahkan ketulusan hati Minakata Jin terhadap kekasihnya Miki yang terbaring koma di masa depan. Namun di zaman Edo; tempat ia berada sekarang, ada seorang gadis yang begitu tulusnya mencintai Minakata Jin yaitu Saki-sama. Namun, Saki-sama tidak mengungkapkan apa yang ia rasa. Ia hanya memendam perasaan tersebut dalam-dalam. Saki-sama mengetahui secara persis bahwa cinta Minakata Jin terhadap Miki sangatlah besar. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan cinta terbaik yang ia miliki untuk kebahagiaan Minakata Jin. Bukankah cinta itu tanpa syarat? Maka berkorbanlah untuk yang kita cintai, karena prinsip cinta itu memberi, bukan diberi.

Di akhir cerita, Minakata Jin harus kembali ke zamannya di masa depan. Padahal saat itu adalah saat-saat tersulit. Saki-sama nyaris tidak bisa diselamatkan akibat bakteri yang terus menggrogoti lengannya. Tapi beruntung, Kyotaro-san menemukan botol obat disinfektan yang dibawa oleh Minakata Jin ketika pertama kali terlempar dari masa depan ke zaman Edo.

Dokter Minakata Jin pun sadarkan diri. Ia terbangun dari tidurnya yang panjang. Betapa kagetnya, ia melihat peralatan-peralatan kedokteran yang canggih dan orang-orang yang dikenalnya di masa depan. Ya, dokter Minakata Jin kembali ke masa depan. Lantas bagaimana dengan kondisi kesehatan Saki-sama di zaman Edo? Rasa penasaran yang membuncah dihati Minakata Jin membuat ia mencari literasi tentang sejarah kedokteran Jepang. Ia pun menemukan literasi yang menuliskan bahwa kedokteran di zaman Edo berkembang berkat semangat Njinyo-do yang tidak lain sahabat-sahabat dari Minakata Jin. Air mata taksanggup lagi ia bendung. Ia pun menangis bahagia karena mengetahui sejarah Jepang terutama di dunia kedokteran berkembang pesat.

Never ending fighting!

Dalam suasana hati yang bercampur baur; sedih, senang, dan gelisah ia pun berkunjung ke sebuah rumah Tachibana di kota Tokyo yang dulu menjadi tempat tinggal Saki-sama dan keluarga Tachibana. Dan yang mengagetkan, ternyata Miki-san, kekasihnya merupakan penerus keluarga Tachibana.

Recommendation:

Untuk siapa saja yang membaca tulisan saya ini, saya sangat merekomendasikan kalian semua untuk menonton drama ini. Drama ini menyentuh sisi kemanusiaan kita; mengajarkan kita tentang filosofis kehidupan, dan kita bisa belajar banyak dari sikap orang Jepang yang sangat bersemangat dalam tolong menolong satu sama lainnya. Jujur saya katakan, saya meneteskan air mata berkali-kali saat menonton drama ini.

Drama ini layak ditonton oleh semua kalangan, terutama mahasiswa kedokteran atau orang-orang yang bergerak di bidang kesahatan. Bahwa pengabdian kalian sebagai seorang tenaga medis itu adalah sebuah kehormatan. Bukan materi yang dicari, tapi investasi jangka panjang. Yakinlah, kebaikan yang saat ini kita lakukan akan terus kita rasakan manfaatnya. Selamat menikmati.
Visit the site: http://www.tbs.co.jp/jin-final/

Ganbarimashou, Yume-san!

Di Balik Kesuksesan Film Tjoet Nja Dhien

Film Njoet Nja’ Dhien yang diproduksi oleh Kanta Film pada tahun 1988 menyabet delapan piala citra. Salah satunya yaitu pemeran wanita terbaik yang diperankan oleh Christine Hakim. Lantas, apa alasan dari juri piala citra menganugrahkan Christine Hakim sebagai pemeran wanita terbaik dalam film Njoet Nja’ Dhien tersebut?

Pada tulisan ini, penulis akan memaparkan mengapa Christine Hakim bisa menjadi pemeran wanita terbaik dalam film Njoet Nja’ Dhien. Analisis yang digunakan penulis berdasarkan perhatian penulis setelah menyaksikan film yang hingga saat ini masih populer di kalangan masyarakat Indonesia. Film tersebut merupakan film kolosal yang diangkat dari kisah seorang pahlawan wanita yang berasal dari Serambi Mekah, Aceh.

Tentunya, siapa yang tidak mengenal sosok wanita tersebut. Namanya sangat menyejarah dalam perjuangan masyarakat Indonesia dalam mengusir penjajah Belanda, terutama bagi masyarakat aceh.Jika menelisik sejarah, penjajah Belanda atas Indonesia berlangsung selama kurun waktu 350 tahun. Itu merupakan waktu yang terlama dibandingkan pendudukan pada masa Jepang atau masa Portugis. Lantas sekarang yang menjadi pertanyaan, mengapa mesti mengangkat napak tilas perjuangan Njoet Nja’ Dhien? Bukankah masih banyak tokoh pejuang wanita yang juga turut berperan andil dalam sejarah perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia. Sebut saja Dewi Sartika, Rohana Kudus, dan sebagainya. Namun sutradara dalam film ini nampaknya teliti untuk membuat sebuah film yang disukai oleh peminat film Indonesia.

Sutradara film ini tidak main-main untuk menentukan tema film dan siapa yang akan memainkan tokoh-tokoh dalam film ini.Aceh, diakui Belanda sebagai daerah yang cukup sulit untuk ditakluki. Pasalnya, masyarakat Aceh merupakan pejuang yang tangguh dan memiliki strategi perang yang rapi. Oleh sebab itu, dalam sejarah ditulis bagaimana kerepotannya Belanda untuk merebut daerah-daerah yang ada di Aceh. Salah satu pejuang yang tangguh yang ada di Aceh yaitu Teuku Umar. Beliau merupakan panglima perang Aceh yang memiliki prajurit perang yang handal dan tangguh. Selain itu, Teuku Umar dikenal sebagai pemimpin yang cerdik dalam mengatur strategi perang. Banyak serdadu-serdadu Belanda yang tewas karena pukulan pasukan Teuku Umar.

Pihak Belanda pun dibuat geram oleh Teuku Umar beserta pasukannya. Sehingga, Belanda dan sekutunya menyusun siasat bagaimana membunuh Teuku Umar dengan cara dan waktu yang tidak terduga. Saat itu, Teuku Umar dan pasukannya tengah bergerilya untuk menyusuri hutan untuk memerangi Belanda dan pengkhianat-pengkhianat bangsa. Namun, Belanda pun telah bersiap siaga untuk meluncurkan timah panas dan meluncur tepat ke dada Teuku Umar. Dengan beberapa kali tembakan, akhirnya Teuku Umar pun menjadi sasaran tembakan dan wafat sebagai syuhada dalam perang.

Kematian Teuku Umar sontan melucutkan semangat rakyat Aceh untuk mengusir Belanda dari tanah Aceh. Njoet Nja’ Dhien. Seorang wanita yang senatiasa mendampingi Teuku Umar dalam perjuangan mengusir kolonial Belanda. Setelah kepergian Teuku Umar, peran sebagai pemimpin pun digantikan oleh Njoet Nja’ Dhien.

Kisah perjuangan Teuku Umar dan Njoet Nja’ Dhien sangat menginspirasi bagi masyarakat Indonesia yang tidak melupakan sejarah. Maka pantaslah, Eros Djarot sebagai sutradara yang bertangan dingin menangkap sinyal yang bagus.

Jika kisah perjuangan Teuku Umar dan Njoet Nja’ Dhien didokumentasikan berupa film, tentu akan mendapatkan sambutan yang baik oleh masyarakat Indonesia. Namun, untuk melahirkan sebuah karya fenomenal harus didukung oleh kru yang mumpuni dalam film. Mulai dari produser, penata artistik, sinamatografi, dan sebagainya. Salah satu yang paling mendukung sebuah film dikatakan bagus atau tidak yaitu terletak siapa yang memainkan tokoh Njoet Nja’ Dhien dan Teuku Umar.

Sebagai seorang sutradara, kemampuan Eros Djarot tidak usah diragukan lagi. Karya-karyanya sudah diakui oleh banyak orang. Sama halnya dengan kemampuannya untuk menentukan siapa aktor dan aktris yang tepat untuk berperan dalam film Njoet Nja’ Dhien yang diproduksi oleh Kanta Film ini. Untuk tokoh Teuku Umar, Eros memercayai Slamat Rahardjo untuk memainkannya. Sementara itu, untuk tokoh utama yaitu Njoet Nja’ Dhien diperankan oleh seorang aktris yang hingga saat ini masih eksis di dunia perfilman Indonesia.

Dialah Christine Hakim yang sangat piawai berakting dalam film-film Indonesia. Bisa dikatakan, Christine Hakim merupakan ikon dalam dunia perfilman Indonesia. Namanya melambung sejak bermain dalam film ini. Maka tidak heran jika Christine Hakim mendapatkan banyak penghargaan dalam berbagai festival film yang ada di Indonesia dan di luar negeri. Salah satu prestasinya yang membanggakan Indonesia yaitu meraih penghargaan International Federation of Film Producers Association Award, yang berlangsung di Gold Coast, Queensland, Australia. Dan terakhir terlibat bersama Julia Roberts di film Eat Pray Love.

Selanjutnya, penulis akan membahas bagaimana kepiawaian Christine Hakim dalam film Njoet Nja’ Dhien. Menurut penulis, salah satu alasan mendasar mengapa Eros Djarot memilih Christine Hakim untuk memainkan peran Njoet Nja’ Dhien karena kemiripan fisiknya dengan tokoh Njoet Nja’ Dhien sebenarnya.

Kendati demikian, jika kita lihat secara detil dari scene-scene dalam di film, kita sebagai penonton mungkin akan berkata, Christine Hakim dan Njoet Nja’ Dhien tidak memiliki wajah yang mirip. Namun, jika kita cermati dalam scene saat Christine Hakim menggulung rambutnya seperti wanita-wanita Aceh, wajah Christine Hakim hampir tidak bisa kita bedakan dengan wajah Njoet Nja’ Dhien yang asli.

Pada dasarnya, penonton Indonesia mengatahui bagaimana ciri morfologis Njoet Nja’ Dhien hanya dari buku pelajaran Sejarah di bangku pendidikan. Hal tersebut bisa menguntungkan Eros Djarot untuk mengelabui penonton dengan menampilkan sosok Njoet Nja’ Dhien melalui tubuh Christine Hakim. Saya kira, penonton Indonesia juga tidak akan berpusing-pusing memikirkan kemiripan Christine Hakim dan Njoet Nja’ Dhien. Namun, penonton Indonesia jauh lebih memperhatikan bagaiman kepiawaian Christine Hakim dalam film tersebut.

Dari segi karakter, Christine Hakim rasanya pas didaulat sebagai pengganti Njoet Nja’ Dhien. Penulis tidak mengetahui persis bagaimana proses casting film ini sehingga Eros Djarot meminang Christine Hakim sehingga menjadi pemeran wanita terbaik dalam ajang penghargaan piala citra. Pasalnya, film ini digarap pada tahun 1988. Penulis akui, penulis menemukan kesulitan untuk mencari referensi yang banyak tentang detil film ini. Namun berdasarkan pengamatan penulis saat menonton film ini, semoga menjadi analisis yang cukup objektif.

Menurut penulis, Christine Hakim bermain sangat total dalam film Njoet Nja’ Dhien. Entahlah, apakah karena kesamaan karakter asli Christine Hakim dengan Njoet Nja’ Dhien atau seperti apa. Namun yang jelas, Christine Hakim sangat menghayati perannya sebagai Njoet Nja’ Dhien sesungguhnya. Hal ini terlihat dengan sangat dari penggunaan dialek Aceh yang cukup kental keluar dari mulut Christine Hakim. Nampaknya Christine Hakim sebelum proses syuting telah belajar bahasa Acehdan juga idealeknya. Bagi penonton yang tidak mengetahui asal daerah Christine Hakim tentu akan akan beranggapan bahwa dia memang betul berasal dari Aceh.

Namun kelemahan dalam film ini dari segi bahasa adalah, ada beberapa scene yang menggunakan bahasa Aceh tapi terjemahan dalam bahasa Indonesia tidak ditampilkan. Hal ini membuat penonton tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Christine Hakim dan beberapa actor lainnya. Namun secara umum, menurut penulis Christine Hakim sudah mahir berbahasa Aceh dalam film ini.

Dari segi penokohan, Christine Hakim berperan sangat memuaskan. Ia mampu menggambarkan bagaimana watak perempuan aceh yang tegar, kuat, dan memiliki komitmen yang tinggi. Sebagai pemimpin perang, ia pun mampu mempertegas kharismatik kepemimpinannya kepada rakyatnya melalui penggunaan bahasa yang tegas dan bijaksana. Njoet Nja’ Dhien memang tegas, namun ia adalah seorang pemimpin yang mampu merasa dengan hati, mencermati situasi dengan intuisi, dan berpikir jauh ke depan. Rasanya, sikap kepemimpinan ini tidak bisa dibuat-buat. Karena jika dibuat-buat, akan terlihat aneh dan ganjil. Tapi beruntung, melalui karakter yang kuat dari Christine Hakim, sosok Njoet Nja’ Dhien pun bisa hadir ke tengah-tengah penonton Indonesia yang tidak mengenal dengan jelas siapa itu Njoet Nja’ Dhien sesungguhnya.

Tidak hanya bicara tentang ketegasan, kepemimpinan, dan kebijaksanaaa Njoet Nja’ Dhien. Christine Hakim juga mampu mengejahwantahkan dengan baik bagaimana kondisi pelik yang dihadapi oleh Njoet Nja’ Dhien saat tubuhnya sudah papah, wajahnya pias, dan raut mukanya menandakan keketiran hatinya. Semua itu dapat terlukis dengan baik melalui ekspresi wajah yang ditampilkan Christine Hakim dalam film ini. Sebagai penonton yang menyaksikan film 1988 pada zaman ini, penulis memberikan apresiasi yang penuh kepada Christine Hakim karena telah bermain dengan sangat baik dalam film Njoet Nja’ Dhien.

Oleh karena itu, tidak heran jika film Njoet Nja’ Dhien mendapatkan delapan piala citra sekaligus. Terutama seperti yang telah penulis paparkan sebelumnya, yaitu film ini mengantarkan Christine Hakim sebagai pemeran wanita terbaik.Penulis akui, Njoet Nja’ Dhien menyejarah bagi bangsa Indonesia. Hal tersebut dikarenakan perjuangannya yang luar biasa dalam mengusir kolonial Belanda dari bumi pertiwi, khususnya Aceh. Namun, jika boleh penulis katakan, menyejarahnya Njoet Nja’ Dhien juga diperkuat dengan peran Christine Hakim sebagai seorang aktris. Penulis berani beragumen, pada tahun 1988 itu, tidak semua masyarakat Indonesia mengetahui bagaimana sejarah perjuangan Njoet Nja’ Dhien. Namun, setelah Eros Djarot menyuguhkan film dengan judul yang sama, penulis bisa memastikan sosok Njoet Nja’ Dhien semakin dikenang oleh hati masyarakat Indonesia.

Menurut penulis, film ini bagus terutama dari segi tokohnya. Mudah-mudahan ke depannya, dunia perfilman Indonesia lebih disemarakkan oleh tontonan napak tilas perjuangan pahlawan Indonesia yang telah berjuang merebut kemerdekaan.

Q and A, Novel yang Menginspirasi Film Slumdog Millionaire

slumdogposter
Sumber: Google

Dalam dunia seni atau sastra, sering kali terjadi transformasi dari satu bentuk karya ke bentuk karya lainnya. Bentuk karya tersebut bisa berupa novel menjadi puisi, puisi menjadi lukisan, lagu menjadi novel, novel menjadi film, dan sebagainya. Perubahan atau transformasi tersebut dikenal dengan istilah alih wahana.

Alih wahana sama artinya dengan perubahan. Banyak hal yang menyebabkan perubahan harus dilakukan jika sebuah karya sastra diubah menjadi media lain, seperti film. Perbedaan mendasar antara film dan karya sastra misalnya adalah pengembangan imajinasi pembaca dan penonton.
Dewasa ini, banyak sekali film-film yang diadopsi atau terinspirasi dari novel-novel. Namun yang menjadi catatan adalah, tidak semua film yang diadopsi dari novel sukses seperti yang diharapkan (dalam hal pembuat film). Oleh karena itu, belakang film-film yang sukses dipasaran diangkat dari novel yang berlabel “best seller”.

Fenomena ekranisasi hampir terjadi di semua negara. Di Indonesia, film seperti Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Perempuan Berkalung Sorban, dan Ketika Cinta Bertasbih adalah film sukses yang diangkat dari novel terkenal. Fakta selanjutnya, film Harry Potter adalah salah satu mega film Hollywood yang menyedot perhatian dunia. Film tersebut diangkat dari novel karangan J.K Rowling. Siapa yang tak mengenal Harry Potter, sang penyihir? Ternyata benar adanya bahwa film yang diangkat dari novel terkenal (tentu saja penggarapan yang baik) menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.
Bukti lain datang dari film Bollywood yang berjudul Slumdog Millionaire. Seperti diramalkan oleh banyak insan film di dunia, Film Slumdug Millionaire akhirnya menjadi jawara juga untuk kategori Film Terbaik di Ajang Penghargaan Film Oscar, Minggu (22/2) di Los Angeles waktu setempat. Tidak hanya itu, film ini merebut enam kategori sekaligus pada piala Oscar yang beberapa waktu lalu diselenggarakan di Amerika. Selain itu, film ini mendapatkan penghargaan Golden Globe 2009, sebagai Film Terbaik.

Apa sebenarnya kelebihan film tersebut sehingga dinobatkan sebagai film terbaik? Ternyata, Film Slumdog Millionaire merupakan film yang diangkat dari novel terkenal Q and A karangan Vikas Swarup. Pada makalah ini, penulis akan menganalisis film Slumdog Millionaire yang sukses pada ajang bergengsi piala Oscar. Selain itu, hal yang menarik dan menjadi catatan penulis, ternyata ada banyak perbedaan antara film Slumdog Millionaire dan novel Q and A.

Q and A atau Question and Answers adalah judul novel yang ditulis oleh diplomat bernama Vikas Swarup tersebut. Bersetting di India, Q and A bercerita tentang Ram Mohammad Thomas, seorang waiter muda yang mencatat sejarah dengan memenangkan kuis berhadiah jutaan rupee namun malah dipenjara oleh pihak berwajib dengan tuduhan melakukan kecurangan.

Menggunakan sudut pandang orang pertama, novel ini lantas mengikuti perjalanan hidup Ram yang diceritakannya kepada pengacara baik hati, Smita Shah. Sebuah pengalaman hidup menegangkan dan penuh petualangan yang memberinya jawaban untuk kedua belas pertanyaan dalam kuis tersebut. “Bukankah aku beruntung mereka hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang aku sudah ketahui jawabannya?” begitu komentar Ram polos.

Sepanjang buku ini pembaca akan dibawa mengikuti kisah hidup Ram yang pilu, keras, dan penuh cobaan, tapi berhasil membawanya memenangkan jackpot di kuis bergengsi tersebut.

Sebuah novel tentang seorang pelayan restoran yang menang kuis satu miliar rupee. Ram Mohammad Thomas, seorang pramusaji bar yang menyandang tiga nama agama, seolah merangkum pancarona nestapa realitas bangsa semiliar perkara dalam riwayat hidupnya yang asin-masam-pahit-manis, karau. Dia menjejak ke jagat raya ini tanpa tahu siapa ibu siapa ayahnya. Nasibnya dipelanting-lanting dari satu kota neraka ke kota-kota neraka lain, Delhi, Mumbai, Dharavi, Agra. Tapi ia juga dihibur film-film Bollywood, ditenteramkan keindahan Taj Mahal, dibuai kenikmatan lokalisasi.

Buku ini telah diterjemahkan dalam 32 bahasa, termasuk Perancis, Jerman, Italia, Belanda, Denmark, Finlandia, Turki, Eslandia, Rusia, Norwegia, Swedia, Serbia, Hindi, Indonesia, Thailand, Jepang, Yahudi hingga Portugis. Dan kini buku tersebut juga bisa dinikmati dalam bentuk audio, drama radio, panggung teater dan tentu saja film peraih Oscar yang disutradarai oleh Danny Boyle, Slumdog Millionaire.

Lalu, bagaimana cerita film Slumdog Millionaire? Film ini berkisah tentang seorang pemuda berusia 18 tahun yang bernama Jamal Malik. Ia adalah seorang pemuda yang terlahir dari kampung kumuh di kota Mumbai, India. Pengalaman luar biasa selama hidupnya mengantarkan dia menjadi seorang millionaire dalam acara “Who wants to be a millionaire?”

Bagaimana kisahnya sehingga Jamal—mampu menjawab 12 pertanyaan dalam kuis tersebut dan memenangkan uang sebesar 20 juta rupees? Bermula ketika dia bekerja sebagai asisten penerima telepon di sebuah persuhaan telekomunikasi, Mumbai, terpilih sebagai salah satu kontestan. Awalnya, pembawa acara (Anil Kapoor) meragukan kemampuan Jamal lantaran karena ia tidak memiliki latar pendidikan yang jelas. Hanya seorang asisten penerima telepon. Pertanyaan pertama yaitu, “Siapakan artis India yang terkenal pada tahun 1973?” Tanya pembawa acara. Jamal pun menjawab, “Amitha Bachan.” Setiap pertanyaan demi pertanyaan mampu dijawab dengan baik oleh Jamal. Sebenarnya kenapa Jamal bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan? Padahal ia hanya seorang anak dari perkampungan kumuh.

Jamal bukanlah orang cerdas. Akan tetapi, pengalaman hidupnya menjadi kunci dari setiap pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara. Jamal berasal dari perkampungan kumuh (slum, dalam bahasa Inggris) di kota Mumbai. Nasibnya sangatlah buruk. Sedari kecil banyak hal buruk yang telah ia lewati bersama kakaknya, Salim. Ibunya terbunuh ketika terjadi pembantaian kepada masyarakat muslim di kota Mumbai. Kekerasan, penindasan, kekacauan, kemiskinan, dan keburukan lainnya merupakan warna hitam yang terjadi di perkampungan Jamal.

Selanjutnya, Jamal beserta kakaknya Salim hidup berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Seorang gadis bernama Latika turut menjadi bagian terpenting dari kisah hidup Jamal yang penuh dinamika. Akan tetapi, Jamal sempat berpisah dengan Latika lantaran harus menyelematkan dirinya.

Suatu ketika, Jamal mengetahui bahwa Latika menjadi seorang gadis panggilan. Karena sudah lama tidak bertemu dengan Latika, Jamal dan Salim menemui Latika di sebuah tempat pelacuran. Namun, ternyata nasib baik tak berpihak pada Jamal dan Salim. Bandit yang dulu pernah berniat mencelakai Jamal, ternyata masih membayang-bayangi mereka. Kondisi mencekam terjadi saat itu. Tragisnya, Salim menembak bandit tersebut, dan ia pun mati.

Film tersebut menitik beratkan pada pengalaman hidup luar biasa (getir, tragis, buruk) yang dialami Jamal. Selain itu, pencarian cinta (takdir hidup) menjadi sorotan terpenting. Sehingga, pengalaman hidup itulah yang menjadi kunci jawaban dari semua pertanyaan dalam kuis “Who Wants To Be A Millionaire?”

Pada pertanyaan kesebelas, acara tersebut terhenti karena waktunya sudah habis, dan menyisakan satu pertanyaan lagi. Lalu apa yang terjadi? Jamal diseret ke kantor polisi karena diduga curang dalam kuis tersebut. “How could a street kid know so much?” Mana mungkin seorang slumdog bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan susah itu jika kamu tidak curang? Jamal pun menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah sesuatu yang dekat dengan kisah hidupnya.

Ia menceritakan tentang kehidupnya di rumah-rumah gubuk di mana ia dan saudaranya dibesarkan, petualangan mereka di jalan, bertarung dengan preman, dan Latika (Pinto), gadis yang dia kasihi dan telah hilang. Sehingga pada akhirnya, polisi yang mengintrogasinya percaya dengan penjelasan Jamal.

Jamal melanjutkan permainanya di acara “Who Wants To Be A Millionaire”. Semua warga India menyaksikan penampilan Jamal untuk memenangkan hadiah uang sebesar 20 juta rupees. Pertanyaan terakhir, “Di buku Alexander Dumas, tiga ksatria, dua diantaranya bernama Athos dan Parthos. Lalu, siapa nama yang satu lagi?” Pertanyaan terakhir ini sangat sulit bagi Jamal. Dalam benaknya, ia hanya tahu bahwa yang bisa menjawab pertanyaan tersebut kakaknya, Salim. Jamal pun menggunakan bantuan phone a friends—dan menghubungi Salim. Ironinya, Salim ditembak mati. Namun, telepon Salim diangkat oleh Latika. Akan tetapi, Latika tidak mengetahui jawaban pertanyaan tersebut. Jamal pun terdiam. Kemudian, Jamal menjawab Aramis sebagai final answers. Akhirnya, Jamal memenangkan kuis tersebut, dan ia pun berjumpa kembali dengan Latika.

Jika kita cermati, ternyata tidak sepenuhnya sama antara novel Q and A dan film Slumdog Millionaire. Ternyata ada perbedaan yang cukup berarti antara film dan novelnya. Analisis penulis, ketika film Slumdog Millionaire ingin divisualisasikan sesuai dengan cerita novelnya, bentuk yang paling memungkinkan adalah miniseri, atau semacam serial pendek. Sedangkan film hanya punya durasi 2-3 jam. Jadi sulit rasanya jika semua isi novel dipindahkan ke dalam bentuk film. Jika disingkat pun rasanya mustahil. Bagi penonton Slumdog Millionaire, yang pernah membaca novel Q and A menonton film ini seperti mereset ulang imaji yang terlanjur ditanam Vikas Swarup di liang memori mereka. Lupakan Ram Muhammad Thomas dengan koin ajaibnya serta sahabat sejatinya Salim. Anggap saja takdirnya sebagai Ram dengan lika-liku petualangannya dicabut. Lalu dia diberikan takdir baru sebagai Jamal Malik dengan Salim sebagai kakaknya.

Film dan prosa memang mempunyai keunggulan dan kekurangannya sendiri. Hingga tak ada yang bisa mengklaim film lebih unggul dari prosa atau sebaliknya. Dalam prosa cerita dipindahkan pengarang ke kepala pembaca melalui kekuatan kata-kata. Pengarang hanya kuasa memaparkan, bukan mendiktekan. Sebab imaji pembacalah yang mempersepsikan dan memvisualisasikan dalam alam imajinernya.

Nasib sastra adalah sejauh mana kata-kata mampu memberikan sensasi imajinasi di benak pembaca. Sedangkan dalam film, penonton tak diberi ruang untuk menciptakan dunianya sendiri. Visualisasi telah mengambil peran itu. Hal ini bisa dianggap keterbatasan atau kelebihan tergantung dari sudut memandang saja. Kekuatan film bukan hanya dicerita dan kekuatan karakter yang diperankan tokoh-tokohnya. Setting latar, tata warna, dan musik juga mengintervensi imajinasi pembaca. Paduan kesemua itu mampu menghipnotis penonton hingga mengalami ekstasenya sendiri. Ekstase yang berbeda dibanding membaca bukunya.

Selanjutnya, hal menarik yang menjadikan novel Q and A dan film Slumdog Millionaire adalah latar sosial-budaya masyarakat India. Dalam novel dan film tersebut, digambarkan potret sisi kehidupan masyarakat India kalangan bawah. Sebuah realitas kehidupan yang jauh dari kemewahan, pendidikan, kebahagian, dan kesejahteraan. Bagaimana perjuangan seorang rakyat kecil mencari cinta dan upaya memperbaiki taraf hidupnya. Walaupun film ini menceritakan kehidupan rakyat kecil di negara India, tapi realita kehidupan dalam film ini juga sangat banyak kita lihat di negara Indonesia. Miskin, kumuh, kehidupan yang keras, terzolimi dan mimpi-mimpi yang tak pasti.

Selain itu, kita (pembaca dan penonton) juga mengetahui bahwa ternyata di India pernah terjadi pembantaian kaum muslim. India merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua setelah Cina. Maka tak heran jika banyak konflik, pertikaian, dan permasalahan sosial menjadi bagian yang tak bisa dielakkan lagi. Pasalnya, ketika jumlah penduduk yang semakin banyak dan tidak diimbangi dengan kebutuhan fisik, yang terjadi adalah ketidakadilan.

Menurut analisis penulis, pengarang novel Q and A atau pun sutradara film Slumdog Millionaire ingin menyajikan sebuah kisah kaum yang termarginalkan dan jarang diangkat. Dengan teknik penceritaan yang baik (novel Q and A), dan pemvisualisasian yang baik pula (Slumdog Millionaire); tak heran jika dua buah karya tersebut layak sebagai karya terbaik dalam beberapa ajang penghargaan.
Pada dasarnya, alih wahana (novelisasi/ekranisasi) akan mengubah suatu karya menjadi karya lain. Seperti halnya film Slumdog Millionaire yang sebenarnya bukan diadopsi, melainkan terinspirasi dari novel Q and A.
Simpulan

Alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian ke kesenian lain. Misalnya novel diubah menjadi tari, drama, atau film. Sedangkan puisi bisa diubah menjadi lagu atau lukisan. Sebaliknya bisa terjadi, novel ditulis berdasarkan film atau drama. Puisi bisa lahir dari lukisan atau lagu.

Alih wahana sama dengan perubahan. Banyak hal yang menyebabkan perubahan harus dilakukan jika sebuah karya sastra diubah menjadi media lain. Belakangan ini, banyak film-film sukses diangkat dari novel-novel best seller. Sebutlah film Angels and Demons, Harry potter, Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih, dan Slumdog Millionaire.

Film Slumdog Millionaire merupakan film yang mendapatkan anugrah film terbaik pada piala Oscar. Menariknya, film ini terinspirasi dari novel dengan judul yang berbeda yaitu Q and A. Walaupun begitu, kisah antara film dan novel tersebut sama. Hanya ada beberapa perbedaan dari segi tokoh, alur, dan karakter. Akan tetapi, dua buah karya tersebut mampu mendulang prestasi sebagai karya yang luar biasa.

“Pengalaman adalah hal berharga dalam hidup kita. Jika kau menemukan sesuatu yang buruk pernah terjadi dalam hidupmu, jangan pernah kau sesalkan. Jadikan itu sebagai pembelajaran berharga. Dan kau bisa memulai hari dengan lebih baik.”

Novelisasi: Akeelah and The Bee

akeelah_wall_1_1280
Sumber: Google

“Kekuatan Cinta Mengalahkan Ketakutan dalam Diri”

Film dan novel “Akeelah and the Bee” bercerita tentang seorang anak perempuan berumur 11 tahun, yang bernama Akeelah Anderson. Ia adalah gadis berkulit hitam yang tinggal di Los Angeles, Amerika. Film ini berkisah tentang perlombaan yang bergengsi di Amerika, yaitu spelling bee (lomba mengeja). Bagi anak-anak di Amerika, menjadi salah satu peserta lomba mengeja adalah hal yang membangggakan. Pasalnya tidak semua anak di Amerika bisa mengikuti lomba ini. Butuh tahap-tahap menuju lomba mengeja tingkat nasional. Mulai dari seleksi di sekolah masing-masing, tingkat regional, dan baru bisa mengikuti lomba di tingkat nasional.

Seberapa banyak kata dalam bahasa Inggris yang bisa kamu eja dengan baik? Dalam perlombaan Spelling bee, peserta diminta mengeja kata-kata yang sulit, dan jarang diketahui banyak orang. Misalnya xylem, psychologies, dan sebagainya. Kata-kata tersebut tidak hanya berasal dari akarnya yaitu Inggris. Melainkan banyak kata yang berasal dari bahasa Latin, Yunani, dan lainnya.

Akeelah bisa dikatakan sebagai seorang anak kulit hitam yang cerdas. Ia merupakan siswa yang cerdas di sekolahnya. Walaupun sekolah tersebut bukanlah sekolah favorit, tetapi Akeelah mampu tumbuh menjadi siswa yang pintar terutama dalam mata pelajaran bahasa Inggris. Melihat kepintaran Akeelah, seorang gurunya meminta Akeelah untuk ikut lomba mengeja. Awalnya, Akeelah menolak permintaan dari gurunya. Alasannya karena ia menilai tidak mampu untuk ikut lomba berkelas seperti itu. Dalam kutipan dialog filmnya, Akeelah menyatakan bahwa ia bisa kencing berdiri kalau ditonton banyak orang. Akan tetapi, sejak ia melihat acara lomba tersebut di tv, ia tertarik dan memiliki keyakinan untuk ikut lomba mengeja.

Inspirator utama Akeelah adalah papanya. Setiap kali ia memiliki masalah, maka ia akan memandang wajah papanya, dan ia merasa tenang. Seorang gurunya memperkenalkan Akeelah dengan seorang pelatih mengeja yang bernama Dr. Joshua Larabee. Akeelah berlatih dengan baik, dan pada akhirnya ia bisa lolos mewakili sekolahnya untuk ikut lomba mengeja tingkat regional.

Ketika Akeelah mengikuti lomba mengeja tingkat regional, ia nyaris tidak bisa lolos ke babak selanjutnya lantaran tidak bisa mengeja satu kata. Akan tetapi, keberuntungan ternyata berpihak kepada Akeelah. Salah satu peserta didiskualifikasi karena ketahuan curang.

Menuju lomba mengeja tingkat nasional tidaklah mudah. Banyak sekali hambatan yang harus dihadapi Akeelah. Ibunya tidak mengizinkan Akeelah ikut lomba ini karena Akeelah harus menyelesaikan ketertinggalan pelajaran pada musim panas. Sempat Akeelah menyerah, dan putus asa.

Ketakutan terdalam kita adalah bukan karena kita tidak cakap. Kekuatan kita dalam mengukur. Kita bertanya pada diri kita sendiri siapa aku sehingga aku cerdas, hebat, berbakat, dan menakjubkan? Sebenarnya, siapa sebenarnya dirimu? Kita dilahirkan untuk membuat manifestasi. Kemuliaan Tuhan dalam diri kita. Dan begitu kita biarkan cahaya menyala, kita tanpa sadar berikan orang lain kesempatan untuk lakukan hal yang sama. Ketakutan itu ada dalam diri kita sendiri. Rangkaian kata yang ditunjukkan Dr. Larabee mampu membuat Akeelah yakin dengan kemampuan yang ia miliki. Sekarang, ia yakin bisa memenangi lomba mengeja di tingkat nasional.

Akeelah berlatih sungguh-sungguh dengan Dr. Larabee. Bahkan, ia berlatih dengan grup mengeja di sekolah Javier yang jauh dari sekolahnya. Ia bertemu dengan teman-teman Javier, dan bertemu dengan Dyland Chiu. Dyland adalah seorang anak keturunan Korea yang memiliki otak yang cerdas. Ia menjadi juara kedua pada lomba mengeja di tingkat nasional pada tahun lalu.

Perlombaan mengeja tingkat nasional sebentar lagi. Akan tetapi, Dr. Larabee tidak bisa jadi lagi menjadi pembimbing Akeelah. Dr. Larebee meminta Akeelah menghapal 5000 kata. Akeelah belajar mengeja dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Ketika perlombaan nasional berlangsung, Akeelah harus menyisihkan Dylan sebagai peserta tangguh yang menjadi juara kedua pada tahun lalu. Konflik mulai memuncak ketika Akeelah mengetahui bahwa Dyland sering ditekan oleh papanya agar bisa menjadi juara pada lomba mengeja tahun ini. Suasana semakin menegang. Pada akhirnya, Akeelah dan Dylan menjadi juara satu lomba mengeja tingkat nasional.

Ada kata-kata yang sangat menginspirasi saya dalam novel ini. Kata-kata ini diucapkan Akeelah di akhir cerita. “Kau tahu perasaan dimana semuanya berjalan dengan baik? Dimana kau tidak perlu kuatir dengan hari esok, atau kemarin. Tapi kau merasa aman dan tahu. Kau melakukan yang terbaik kau bisa? Ada kata untuk perasaan itu. Kata itu disebut L-O-V-E.

Dalam novel dan film Akeelah and The Bee banyak sekali pesan yang sangat inspiratif. Ketakutan yang terbesar itu ada dalam hidup kita adalah diri kita sendir. Menurut saya, novel dan film ini sangat inspiratif. Mengajarkan kita pentingnya keyakinan dalam diri kita, bahwa kita mampu melakukan yang terbaik dalam hidup kita. Lingkungan kita, dan semua orang yang ada di dekat kita bisa menjadi motivator untuk kita. Jadi? Jangan takut melakukan hal yang terbaik.

“Akeelah and The Bee adalah suatu karya yang dialih wahanakan dari film ke novel. Alih wahana tersebut disebut dengan novelisasi. Jika saya bandingkan, terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan antara film dan novel Akeelah and The Bee.

Jika saya bandingkan, film Akeelah and The Bee lebih bagus dibandingkan novelnya. Alasannya karena dalam film ini secara jelas kita bisa melihat kejadian yang utuh dalam kisah Akeelah. Baik itu karakter tokoh, alur cerita, dan pesan yang ingin disampaikan penulis naskah. Saya (sebagai penonton) bisa memahami konflik yang terjadi dalam filmnya, dan bisa merasakan kesenangan, kegembiraan, kesedihan, dan kebahagiaan yang dialami oleh Akeelah. Sedangkan pada novelnya, saya kurang bisa memvisulisasikan dengan jelas setiap rangkaian cerita yang dialami Akeelah. Tetapi kelebihannya, dalam novel Akeelah and The Bee alur cerita dijelaskan secara mendetail. Tapi tak jarang, dalam novelnya, diselipkan potongan-potongan foto dalam film.

Setidaknya, ada kelebihan dan kekurangan yang ada di novel dan film Akeela and The Bee Tapi yang jelas, kedua karya tersebut sangat inspiratif untuk kita (pembaca dan penonton).

Layakkah Novel dan Film Ayat-Ayat Cinta Sebagai Karya Fenomenal?

ayat-ayat-cinta1
Sumber: Google

Khazanah kesusastraan novel popular Indonesia kehadiran sebuah karya yang ditulis oleh seorang penulis yang bernama Habiburrahman El Shirazy. Nama kang Abik (begitu panggilan akrabnya) memang terhitung penulis baru di dunia sastra.

Akan tetapi, sejak hadirnya novel beliau yang berjudul “Ayat-ayat Cinta” di pasaran, nama kang Abik menjadi semakin popular. Novel “Ayat-ayat Cinta” dinobatkan sebagai novel best seller. Pasalnya, tak butuh lama untuk menjual novel ini. Ayat-ayat Cinta begitu laris di pasaran. Novel ini dibaca oleh berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, sampai orang dewasa. Bisa dikatakan novel ini menjadi penggerak semangat baca orang Indonesia akan sastra.

Novel ini bercerita tentang seorang pemuda bernama Fahri. Ia adalah pemuda Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir. Secara umum, seperti kebanyakan nvel popular lainnya, novel ini mengangkat tema percintaan yang memang sangat menarik untuk dibahas.

Selain itu, novel ini bergenre keislaman. Banyak muatan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam novel ini. Ceritanya yang mengharu biru membuat tak sedikit orang yang membacanya meneteskan air mata.
Sebenarnya, jika kita cermati (sebagai pembaca kritis) novel ini jauh sekali dari kesempurnaan. Ini terlihat dari ketidakrasionalan cerita yang diangkat. Seakan-akan masalah yang diangkat dalam novel ini terlalu mengada-ngada. Selain itu, penulis (Kang Abik, pen) ‘menciptakan’ tokoh-tokoh dalam novel ini sangat sempurna.

Fahri digambarkan sebagai seorang pemuda yang sholeh, tampan, baik hati, dan sifat yang baik lainnya. Tidaj hanya itu, tokoh sentral lain juga digambarkan memiliki sifat yang sempurna. Bagi saya, itu terlalu berlebihan. Alasannya karena pada zaman sekarang sulit sekali menemukan sosok manusia yang sempurna seperti digambarkan kang Abik.
Hal senada tidak hanya dakam novelnya.

Pada bulan Februari 2008 yang lalu, dunia perfilman Indonesia menggelegar karena hadirnya sebuah film adaptasi dari novel yang berjudul sama dengan novelnya. Yaitu Ayat-ayat cinta. Film ini disutradarai oleh sutradara yang tak asing lagi di industry perfilman Indonesia, yaitu Hanung. Film Ayat-ayat cinta dibintangi oleh artis papan atas Indonesia.
Film ini mengisahkan tokoh utama bernama Fahri bin Abdullah as-Shiddiq yang diperankan oleh Fedi Nuril. Ia dicintai empat wanita cantik, yaitu Maria Girgis (Carrisa Puteri), Nurul (Melanie Puteri), Aisya (Rianti Cartwright), dan Noura (Zaskia Adya Mecca).
Kendati secara umum plotnya tidak jauh beda dengan versi novel, sebagai hasil penerjemahan sutradaranya terhadap novel, film ini memiliki banyak sisi perbedaan yang sangat mendasar dengan versi novelnya. Perbedaan-perbedaan dengan versi novel ini yang menjadi salah satu kekuatan film ini.

Jika banyak sastrawan dan kritikus film yang menyatakan bahwa novel dan film Ayat-ayat Cinta biasa saja, lalu kenapa banyak orang meminati dua buah karya tersebut? Adakah keunikan dalam novel tersebut sehingga karya tersebut dinobatkan sebagai karya yang fenomenal?

Novel Ayat-ayat Cinta dapat digolongkan sebagai novel popular. Jika kita selidiki lebih lanjut, dalam novel popular salah satu ciri utamanya yaitu, novel popular sering mengangkat tema percintaan. Kenapa? Karena tema cinta merupakan gaya hidup tersendiri dalam novel popular yang segmentasinya jelas, yaitu masyarakat umum. Itu artinya, tema percintaan menjadi ‘barang’ yang laku di pasaran. Intinya adalah, novel Ayat-ayat cinta merupakan salah satu sekian banyak novel popular yang bergenre sama. Akan tetapi, banyak hal yang membedakan Ayat-ayat cinta berbeda dengan novel popular lainnya.

Memasuki tahun 2000an, khazanah kesusastraan Indonesia diramaikan dengan kehadiran novel yang bercerita tentang kehidupan remaja yang tak lepas dari yang namanya cinta. Kemudian, Ayat-ayat cinta hadir dengan membawa nuansa baru, dan pastinya dengan warna yang baru pula. Novel ini bisa dikatakan novel bergenre islami.

Hal ini dapat dibuktikan dari narasi cerita yang mengarah kepada pesan-pesan agama, serta cover dari novel itu sendiri. Pada cover novel ini, seorang wanita timur-tengah yang mengenakan cadar menjadi icon pembeda dengan cover kebanyakan. Hal ini menarik karena tidak banyak novel di Indonesia yang memakai cover serupa. Selain ceritanya yang berbeda dari kebanyakan novel saat itu, novel ini dibubuhi endorsement dari orang-orang yang popular di Indonesia yang menyatakan bahwa novel Ayat-ayat Cinta adalah novel pembangun jiwa yang sungguh menggugah. Nah, ketika kita (pembeli buku,pen) membaca endorsement tersebut, tentunya kita akan tertarik membelinya, dan pada akhirnya membaca novel tersebut. Selanjutnya yang terjadi adalah, novel Ayat-ayat Cinta dikenal banyak orang melalui pesan dari mulut ke mulut.

Lalu apa efek yang terjadi? Novel Ayat-ayat cinta dengan seketika diserbu oleh penikmat novel popular. Pada akhirnya novel ini dinobatkan sebagai novel best seller di Indonesia. Dalam hitungan hari saja, novel ini dicetak ulang untuk memenuhi kebutuhan pasar. Selanjutnya, novel ini ramai dibicarakan oleh banyak kalangan. Mulai dari mahasiswa, masyarakat, dan lain sebagainya.

Ketika sebuah novel telah berlabelkan best seller, maka pasti akan ada industry perfileman yang akan tertarik membuat sebuah film yang diangkat dari novel tersebut. Proses ini disebut ekranisasi, yaitu, perpindahan novel ke film. Sebuah production house di Indonesia yaitu MD Entertainment berinisiatif melayarlebarkan novel Ayat-ayat Cinta. Harapannya tentu tidak lepas dari keuntungan komersial yang sangat besar. Hal ini didasarkan dari asumsi pasar bahwa rata-rata masyarakat Indonesia mengenal novel kesuksesan Ayat-ayat Cinta sehingga hal ini juga berdampak suksesnya film yang mereka garap.

Lebih lanjut saya akan mencoba menganalisis kenapa film Ayat-ayat Cinta diminati banyak orang. Sebenarnya, ada beberapa alasan kenapa film ini dimintai. Diantaranya adalah: Pertama, jika versi novel beraliran romantis Islam murni yang menampilkan sosok Fahri yang tanpa cacat, secara agama sekalipun, versi film lebih cenderung realis. Kendati secara umum masih tetap beraliran romantis yang menguras air mata penonton dan mensakralkan cinta, sosok Fahri dalam versi film tidak lagi tanpa cacat.

Kedua, gagasan dakwah yang ingin disampikan dalam film sama sekali tidak mengganggu plot film. Ini berbeda dengan versi novel. Sebagaimana biasa terjadi dalam novel gagasan, dalam versi novel, semangat menjadikan novel sebagai media dakwah dalam beberapa hal bisa dikatakan menganggu, bahkan merusak plot novel.

Ketiga, adegan Fahri di dalam penjara sebagai klimaks film yang mengharubiru karena melepaskan kebahagiaan yang belum lama diraihnya bersama AishA, sang istri, yang juga membuat dirinya dipecat sebagai mahasiswa al-Azhar, dalam versi film ditampakkan dengan jelas sebagai plot dimana tokohnya sama dengan yang dialami Nabi Yusuf, karena dendam seorang perempuan yang cintanya tidak terbalas.

Keempat, sebagaimana versi novelnya yang mendapat banyak penghargaan dan sebagai novel megabestseller, dimana penulisnya telah mendapatkan royalty 1,5 milyar, film ini berhasil menguasai emosi penonton, karena selain plotnya yang baik, juga akting yang brilian dari para aktornya. Berbeda dengan sebagian besar film dan sinetron Indonesia, di mana pada saat menontonnya terasa sedang menonton orang sedang berakting, film ini agaknya berhasil membuat penonton melihat realitas yang diadegankan. Film ini berhasil bukan saja menguras air mata penonton, tetapi juga menghiburnya. Sebab itu, wajar jika pita film ini berhasil dibuat hingga 100 copy, melampaui jumlah pita film terbaik Holly Wood yang di Indonesia dicetak hanya 65-70 copy. Meski mungkin saja dipengaruhi juga daya tarik sisi agama, film ini berhasil menyedot penonton dari berbagai kalangan hingga lebih dari 3 juta orang.

Setelah saya paparkan bagaimana magnet Ayat-ayat Cinta sehingga diminati banyak orang, maka tak heran jika novel dan film Ayat-ayat Cinta merupakan salah satu karya anak bangsa yang cukup fenomenal. Walaupun pada dasarnya, kita kurang mengetahui dengan pasti apakah novel dan film Ayat-ayat Cinta berkualitas, tapi yang jelas Ayat-ayat Cinta mampu menyedot perhatian banyak orang. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.

Romantic Drama; A Walk In the Clouds

pctv-1770002249-hd
Sumber: Starag Startv

A walk in the clouds, sebuah film Bercerita tentang seorang tentara bernama Paul. Setelah perang duna ke-2, dia pergi ke rumah teman perempuannya, bernama Betty. Setelah itu, ia pergi ke sebuah desa yang tidak ia ketahui sebelumnya. Ketika dalam perjalanan, di kereta, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Victoria Sutto. Merekapun berbincang, dan seakan mereka telah mengenal satu sama lainnya. Film ini mengangkat kisah percintaan antara Paul dan Vicotria. Disamping itu, tokoh utama—Paul, mengalami halusinasi ketika ia memejamkan matanya. Ia selalu mimpi seram tentang perang. Dimana saat itu, ia melihat banyak tentara-tentara yang tewas. Dan kondisi perang sungguh membuat ia ketakutan.

Setelah bertemu dengan Victoria, inilah awal kisah drama romantis film “A walk in the clouds.” Entah kenapa, nasib mempertemukan Paul dan Victoria kembali. Setelah perjumpaan mereka di atas bis, mereka saling bercerita antara satu dan lainnya. Paul merupakan penjual coklat. Awal kisah romantis dan penuh liku, ini dimulai ketika Victoria menyatakan bahwa ia hamil. Padahal, ia belum menikah. Victoria merasa kebingungan dengan masalah yang tengah ia hadapi. Apalagi jika ia harus membayangkan bahwa Ayahnya, Mr. Aragon adalah seorang pria sangat keras kepala dan otoriter. Kemudian, Paul pun berinsiatif dan menyatakan, bagaimana kalau mereka pura-pura menikah saja.

Victoria mengajak Paul ke rumahnya, ia menyebutnya-Clouds, yaitu awan. Keluarga Victoria memiliki kebin anggur yang sangat luas. Dan biasanya, ketika mereka panen anggur, maka akan ada upacara dan pesta panen anggur.

Ketika Victoria memperkenalkan Paul kepada keluarganya, keluarganya menyambut gembira karena Victoria sudah menikah. Saat itu, mama, kakek dan neneknya bahagia karena ada anggota baru dikeluarganya. Tapi sayangnya, Mr. Aragon tampak tidak suka dengan kehadiran Paul. Victoria dan Paul harus berakting semanis mungkin agar—keluarga victoria tidak mengetahui kebohongan mereka. Mereka berpura-pura tidur seranjang. Padahal tidak.

Kakek Victoria sangat antusias dengan kehadiran Paul. Bahkan ia mengajal Paul untuk keliling kebun anggurnya, dan memperlihatkan akar anggur—menjadi cikal bakal tumbuhnya pohon anggur.

Ketika perayaan panen anggur, masyarakat di sana tampak bersuka cita. Tarian, musik dan tawa menghiasi pesta kala itu. Victoria dan Paul pun hanyut dalam buaiyan kasih sayang. tapi, kebahagiaan mereka bukan kebahagiaan yang mutlak. Karena memang, mereka bukan sepasang suami-istri. Paul sering sekali bermimpi sama. Mimpi perang. Agaknya ia mengalami traumatis akabita perang.

Mereka (Victoria dan Paul) tidak mampu lagi menutupi kebohongan mereka. Akhirnya, Victoria memutuskan untuk menceritakan perihal kebihongannya kepada keluarganya. Keluarganya, terutama ayahnya sangat kecewa. Ia merasa dibohongi. Paul memutuskan untuk kembali ke San Fransisco, menemui Betty. Ketika itu ia melihat Betty selingkuh dengan pria lain. Paul melanjutkan perjalanan (walking) ke rumah Victoria. Ketika ia sampai di sana, ia menemui Mr. Aragon yang tampak kelelahan dan tertidu. Ketika berusaha menyapanya, Mr. Aragon sentak bangun dan marah—serta mencaci Paul. Ia tidak mengizinkan Paul menjalin cinta dengannya. Pertengkaranpu tak dapat dielakkan. Yang pada akhirnya, Mr. Aragon melempar sebuah lampu minyak, dan lampu tersebut membakar seluruh perkebunan anggur milik keluarga Victoria. Semua orang berusaha mematikan api. Tapi sayangnya, usaha mereka gagal. Api begitu cepat menjalar dan menghabisi seluruh kebun anggur. Keluaga itu sedih karena kebun mereka hangus terbakar.

Akhir cerita, Paul yang teringat bahwa kakek Victoria pernah menunjukkan akan anggur, kemudia membokar akar tersebut, dan menunjukkan akar tersebut kepada Mr.Argon.
Mr. Argon terkesima, dan ia bilang, ”it’s live… semua orang tersenyum bahagia. Itu artinya, haparan itu masih ada. Akar anggur, akan menjadi kebun yang sangat luas. End.