Dialog Penutup


Di sini, tubuhku menggigil.
Bukan karena hujan yang setiap sore mengguyurku.
Juga bukan karena kulit ari-ku kian semakin tipis. Tidak, tidak karena itu.

Sementara…

Di atas sana, langit miris menatapku. Tatapan sinis.
“Ada isakan di sudut sebelah sana,” kata langit padaku dengan nada meninggi.
Aku pun bertanya kembali pada langit yang tiba-tiba sendu. “Di mana, di mana kau lihat itu, hai langit? Katakan padaku. Biar kuseka tangis itu.”

Tanya pada hatimu hai bumi! Mengapa kau taktumpahkan saja segala rupa isi perutmu agar mereka berhenti menangis.

“Untuk apa? Justru itu akan membuat tangis mereka kian menjadi-jadi. Aku, masih sayang pada mereka. Walau kutahu, takada isyarat cintaku yang berbalas. Untuk kondisi sekarang, aku tidak ingin menerka maksudmu, langit. Biarkan aku seperti ini, sampai waktu itu menghampiri kita semua. Kau tahu kapan waktu itu tiba?” tanyaku penuh selidik.

“Oh, kau jangan melankolis seperti itu bumi. Dari dulu sudah kubilang padamu. Tapi tetap saja kau tidak hiraukan omonganku. Kau selalu bilang bahwa aku tukang bual, omong kosong, dan terlalu mengada-ada. Kau masih saja keras kepala seperti sejak pertama kali kita berkenalan. Sudahlah, aku tidak akan menasehatimu lagi. Urus saja masalahmu sendiri!”

“Baiklah, jika itu maumu. Terima kasih langit atas perhatian dan juga nasehatmu. Doakan saja, semoga aku baik-baik saja di sini. Pun juga dirimu. Semoga kau kian indah setiap harinya. Itu saja pintaku.”

Jakarta,

15 September 2017

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s