Magical Lawu (Bagian 3)


Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Lawu

Oleh: Mahfud Achyar

IMG-20170123-WA0038
Puncak Gunung Lawu Berada di Ketinggian 3,265 Mdpl.

Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga. Nanang datang dengan langkah yang gontai mulai berjalan menghampiri kami. Ia tidak banyak bicara. Hanya menyapa sekadarnya kemudian membaringkan tubuhnya di atas tanah yang terasa dingin.

Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Pertanda senja merangkak malam. Saya biarkan Nanang beristirahat sejenak. Mengetahui Nanang baik-baik saja sudah membuat hati saya tentram. Saya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya. Apalagi ia belum makan siang. Ketika di pos 3, kami berulang kali memaksanya untuk makan siang. Namun sekeras apapun kami memaksanya, ia lebih keras lagi untuk menolaknya. “Gue makan bubur aja! Santai, kenyang kok!”

Bersahabat cukup lama dengan Nanang membuat saya mahfum bahwa dia memang cukup keras kepala. Namun apa boleh buat, bagaimanapun keras kepalanya Nanang, dia tetap baik dan menyenangkan.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Indra membuatkan teh hangat untuk kami bertiga. Cuaca dingin petang itu jelas membuat kami menggigil. Selain menikmati teh racikan Indra, kami juga menyantap cemilan berenergi tinggi. Sambil melihat dedaunan yang bergoyang-goyang, saya memikirkan nasib teman-teman saya yang sudah lebih dulu menuju pos 5. Saya berharap mereka sudah sampai di pos 5 dan sudah mendirikan tenda untuk kami.

Setelah dirasa cukup untuk istirahat dan memenuhi asupan energi, kami bertiga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Bagi saya pribadi, saya tidak begitu suka melakukan pendakian di malam hari. Entah apa sebab, saya merasa kurang nyaman. Mungkin karena saya hanya fokus terhadap jalanan setapak yang ada di depan saya. Sementara di sekeliling saya semuanya gelap. Penerangan seadanya membuat hati saya gusar. Untuk menepis gelisah yang membuncah, saya terus berdoa kepada Tuhan. Meminta pertolongan. Semoga perjalanan kami selamat.


Dan, drama baru dimulai.

 Kondisi fisik Nanang yang kurang prima memaksa kami untuk beristirahat dalam tempo yang terbilang sering.

“Nanang gak kuat, Yar!”

“Okay Nang, kita istirahat dulu ya!”

Momen selama istirahat kami gunakan untuk memulihkan energi, terutama Nanang. Berbekal air minum, cemilan, dan madu kami berharap kondisi fisik Nanang kian membaik. Memang tidak bisa dipaksakan untuk berjalan lebih cepat. Namun saya agak keras kepala untuk terus memaksa Nanang berjalan kendati dengan langkah yang teramat pelan.

Malam kian larut. Suasana di lereng hutan gunung Lawu terasa sangat sepi. Kami membisu. Tidak ada yang kami bicarakan selain berdialog secara intrapersonal. Saya hanya bisa berdizikir, memohon perlindungan dari Tuhan. Perasaan saya malam itu sungguh kalut. Ya, saya takut. Namun saya tepis rasa takut yang menggrogoti pikiran sehat saya. Perlahan, saya beranikan diri untuk terus berjalan di barisan paling depan.

Perjalanan menuju pos 5 terasa begitu lama. Bisa dikatakan perjalanan kami kurang mengenakkan. Beberapa kali, saya, Indra, dan Nanang beradu argumen. Misal, Nanang bersikukuh untuk ditinggal sendirian padahal mana mungkin hal tersebut terjadi. Saya berusaha berpikir logis. Mungkin jika saya yang mengalami kondisi serupa Nanang, saya akan melakukan hal yang sama. Namun saya terus memaksa agar kita terus berjalan hingga pos 5. Indra pun mendukung argumen saya. Nanang, sebagai satu-satunya suara minoritas mau tidak mau mengikuti kehendak kami.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami sepakat untuk mendirikan tenda bila menemukan lokasi yang agak luas. Kami terus berjalan hingga terhalang oleh pohon pinus yang tumbang. Di balik pohon, samar-samar saya melihat ada beberapa tenda yang berdiri. Sontak saya teriak memanggil nama Bowo. Selang beberapa detik, Bowo pun membalas panggilan saya.

“Iya Yar! Di sini!”

Saya lega, akhirnya kami tiba di pos 5 dengan selamat. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Saya, Indra, dan Bowo mendirikan tenda satu lagi sementara Nanang kami persilakan untuk makan malam dan istirahat.

Lelah. Saya ingin istirahat segera. Sebab besok, petualangan masih terus berlanjut.


IMG-20170128-WA0066
Selamat Pagi Hari yang Baru! (Foto Oleh: Saidah Humairo)

Habis gelap, terbitlah terang.

Hari yang baru menyapa. Minggu, 22 Januari 2017. Saya takjub. Ternyata kita berada di tengah-tengah padang savanna. Di sisi kiri dan kanan kami menjulang pohon-pohon pinus yang satu persatu daun-daunnya yang runcing berguguran. Saya sungguh menyukai lokasi perkemahan kami. Satu kata: tenang.

 

P1220810
Pos 5 Gunung Lawu via Candi Cetho (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
P1220827
Tenda, Rumah yang Sederhana di Gunung (Foto Oleh: Ardi Sadewo)
P1220770
Warna-Warni di Hamparan Savanna (Foto Oleh: Ardi Sadewo)
P1220778
Hutan Pinus yang Menjulang Tinggi (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Pukul 06.30 pagi. Kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Lawu yang berada di ketinggian 3,265 Mdpl. Namun sayang, Nanang memutuskan untuk tidak membersamai kami ke puncak. Ia lebih memilih untuk beristirahat di tenda dan berjanji akan menyuguhkan hidangan santap siang  yang menggugah selera. Kami menghargai pilihan Nanang dan berharap semoga ia bertugas dengan baik sebagai koki.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Lumut Tumbuhan Perintis (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Menuju puncak gunung Lawu, kami melewati padang savanna yang sungguh keren. Ah, apa kata yang paling tepat untuk mengekspresikan keindahan savanna di gunung Lawu selain kata amazing! Saya suka sekali savanna. Sungguh!

One of my favourite things is savanna. And I have to tell you that, darl!” 

P1220754
Hello, Savanna!
DSC_4808
Minus Indra dan Nanang.
DSC_4804
Imaji di Masa Kecil. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_4809.JPG
Lost in Savanna (Foto Oleh: Asih Juwariyah)
DSC_4818
Asih, Sai, dan Indra Riang Bersama.
DSC_4831
Jalur Menuju Pasar Dieng
DSC_4861
The Legend of Mbok Yem

Medan menuju puncak Lawu juga sangat-sangat menyenangkan. Hampir tidak ada tanjakan yang berarti. Kami hanya melewati savanna, hutan pinus, dan jalanan yang agak berbatu. Barangkali, summit ke puncak gunung Lawu merupakan summit yang paling mudah dibandingkan gunung-gunung lainnya yang sudah pernah saya daki.

Namun menukil perkataan Bowo bahwa medan pendakian gunung Lawu melalui candi Cetho itu mudah, saya ingin mengklarifikasinya bahwa itu hoax. Penipuan publik. Nyatanya yang mudah hanya jalur pendakian dari pos 5 hingga puncak. Sementara dari pos 1 hingga pos 5 cukup menguras perasaan, energi, dan juga akal sehat.

Sekitar pukul 9 pagi kami sudah sampai di puncak gunung Lawu. Horray! Berada di atas puncak membuat saya bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan anugrah kesehatan kepada saya sehingga saya masih bisa terus merangkak, berjalan, dan berlari. Tanpa anugrah sehat, mana mungkin saya telah menggapai puncak-puncak tertinggi di Indonesia.

DSC_4898
Pemandangan di Puncak Lawu (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Selain itu, saya juga bersyukur terlahir di negara yang begitu cantik. Namun sayang, tidak banyak orang menyadari bahwa ‘kepingan syurga untuk Indonesia’ sudah sepatutnya disyukuri dan dijaga.

“Today is your day! Your mountain is waiting. So…get on your way!” – Dr. Seuss.

(Selesai).


Dokumentasi lainnya:

P1220736.JPG
Resep Ala Chef Ardi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s