Hari Raya di Gunung Talang

DSC_7551
Lembah gunung Talang, kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia.

Pada Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah kemarin, saya berkesempatan mendaki gunung Talang yang berlokasi di kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sebetulnya, saya sudah berencana jauh-jauh hari bahwa momen libur Hari Raya akan saya manfaatkan untuk mendaki gunung Kerinci melalui jalur Solok Selatan. Namun rencana tinggalah rencana.

Ada banyak kejadian yang takterduga yang menyebabkan saya harus menunda impian saya untuk mendaki gunung Kerinci, gunung tertinggi kedua di Indonesia. Salah satu alasan yang sulit saya hindari yaitu minimnya jatah cuti yang saya miliki selama libur Hari Raya. Namun saya tidak ingin berkecil hati. Saya ingin manfaatkan semaksimal mungkin momen Hari untuk silaturahiim dengan sanak saudara serta menjelajahi ranah Minang nan elok.

Kendati saya gagal mendaki gunung Kerinci, saya masih terobsesi untuk mendaki gunung yang ada di Sumatera Barat. Whatever! Betapa tidak, saya sudah membawa hampir semua perlengkapan gunung dari Jakarta. Jika tidak dimanfaatkan, tentu sia-sia sudah apa yang saya bawa.

Lagi pula, saya belum pernah mendaki gunung di Sumatera Barat. Padahal, Sumatera Barat merupakan kampung halaman saya. Sungguh menyebalkan bila di kampung halaman sendiri takada satupun gunung yang sudah saya daki. Sementara di pulau Jawa puluhan gunung saya datangi. Tidak hanya di pulau Jawa, saya bahkan sudah mendaki gunung di luar pulau Jawa seperti gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Seketika, watak keras kepala saya muncul. Saya bertekad bahwa apapun yang terjadi, saya harus mendaki salah satu gunung di Sumatera Barat. Titik. Tanda seru!

Akhirnya, pada Kamis, (29/6/2017) impian sederhana saya terwujud. Adik saya yang bernama Fajar mengusulkan ide gemilang agar kami melakukan pendakian bersama ke  gunung Talang. Katanya, medan gunung Talang tidak begitu sulit dan durasi pendakian hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. “Walaupun gunung Talang tergolong gunung yang tidak begitu tinggi, namun gunung Talang menawarkan panaroma yang tidak kalah hebat dibandingkan gunung-gunung tinggi lainnya di Sumatera Barat,” ujar Fajar meyakinkan saya.

Lantas tanpa banyak pertimbangan, saya pun mengiyakan tawaran Fajar. Kapan lagi saya bisa mendaki gunung bersama adik saya sendiri. Momen yang langka dan rasanya akan sulit untuk diulang kembali. Sejujurnya, hubungan saya dengan adik saya tidak begitu dekat. Maklum, masa-masa kecil kami dihabiskan dengan berkelahi: adu jotos untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Huhu. Well, saya berharap dengan kami melakukan pendakian bersama akan membuat kami jauh lebih akrab, layaknya hubungan harmonis antara kakak dan adik.

DSC_7592.JPG
Me and my little brotha.

I may fight with my siblings. But once you lay a finger on them, you’ll be facing me!” – Anonymous.


Sebagai informasi, gunung Talang memiliki ketinggian 2,597 mdpl (meter di atas permukaan laut). Gunung yang berlokasi sekitar 40 km sebelah timur kota Padang ini tergolong jenis gunung stratovolcano (gunung api aktif). Berbagai sumber menyebutkan bahwa gunung Talang sudah pernah meletus berkali-kali sejak tahun 1833 hingga tahun 2007. Saat ini, kawah gunung Talang masih mengepulkan asap belerang.

Pendakian ke gunung Talang dilakoni oleh saya, Fajar, dan sepuluh orang temannya. Kami berangkat dari kota Solok menggunakan sepeda motor. Tidak butuh lama untuk mencapai kaki gunung Talang. Seingat saya hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Selama perjalanan konvoi, saya tidak merasa bosan sama sekali. Betapa tidak, saya disuguhi lanskap ranah Minangkabau yang sungguh aduhai. Di antara jalan yang berkelok-kelok, terdapat hamparan kebun teh yang berundak-undak. Tidak hanya itu, saya juga takjub dengan gugusan bukit barisan yang seolah-olah laiknya seperti penjaga yang melindungi kota Solok dan kabupaten Solok dari serangan alien. (Okay, untuk kalimat terakhir abaikan).

Setelah menempuh perjalanan yang menyenangkan, akhirnya tibalah kami di posko gunung Talang via Ai Batumbuk sekitar pukul 12 siang. Udara pegunungan yang segar serta suara adzan Dzuhur yang berkumandang menyambut kehadiran kami. Siang itu, petualangan baru saja dimulai.

DSC_7472
Posko gunung Talang via Ai Batumbuk

Setelah registrasi dan membayar retribusi sebesar 10ribu, kami mulai melangkah memasuki gerbang perkebunan the PTPN VI. Tidak ada aktivitas panen teh kala itu. Barangkali musim panen memang belum tiba.

Beberapa kali bermain ke perkebunan teh, jarang sekali saya melihat para petani memanen. Sebetulnya saya ingin belajar bagaimana memilih teh yang berkualitas tinggi. Penasaran. Namun apa boleh buat, saya hanya bisa memandang daun teh yang berwarna hijau muda. Tampak subur dan terawat dengan baik. Kami menyusuri jalanan di tengah-tengah perkebunan teh sekitar 45 menit.

DSC_7483
PTPN VI di kaki gunung Talang.

Selanjutnya, kami berhenti di sebuah warung untuk beristirahat sejenak. Warung semi permanen tersebut menjual asupan energi yang dibutuhkan para pendaki, baik yang akan mendaki maupun yang sudah turun.

Oh ya, pendakian saya ke gunung Talang merupakan pendakian tektok. Jadi, kami takperlu susah-susah membawa tenda atau membawa keperluan logistik yang berlebihan. Hanya perlu membawa bekal secukupnya. Lagipula, berhubung gunung Talang tidak begitu tinggi, jadi kami memutuskan hanya sekadar hiking tidak camping. Mengutip perkataan orang bijak,Hike while you can! Hiking in undiscovered places is a lot of fun.”

Setelah melewati area perkebunan teh, kami mulai memasuki hutan dengan medan yang mulai menanjak. Saat itu, hujan turun sehingga memaksa kami untuk mengenakan jas hujan. Beruntung saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Kendati saya sudah memakai jas hujan, sejujurnya saya tidak suka pendakian ketika hujan. Sepertinya rasa kesal tidak hanya bersemayam di hati saya, namun juga teman-teman seperjalanan saya. Maklum, hujan membuat tanah menjadi sangat licin dan berlumpur. Berulang kali saya terjatuh. Sakit. Namun saya teringat pesan senior di kampus.

“Yar, tahu mengapa kita terjatuh?”

“Kenapa kang?”

“Karena kita harus bangkit lagi. Jadi, takmasalah seberapa sering kita jatuh. Hal yang terpenting kita harus selalu bangkit.”

“Oh begitu kang,” ujar saya sekenanya untuk menimpali petuah senior saya tersebut.


Sepanjang pendakian, tidak banyak pendaki lain yang kami temui. Seingat saya, ketika registrasi hanya ada dua kelompok yang mendaki gunung Talang siang itu. Satu kelompok kami, satu lagi kelompok lain yang saya tidak sempat bertanya banyak hal tentang mereka. Maklum, gunung Talang baru saja dibuka kembali tiga hari pasca Idul Fitri. Mungkin tidak banyak pendaki yang berpikiran untuk mendaki pada momen Hari Raya. Lebih baik berkumpul bersama keluarga atau menghabiskan waktu liburan di tempat-tempat keramaian.

Mendaki gunung Talang membawa saya ke memori pendakian ke gunung Slamet pada November 2015 lalu. Saya pikir, jalur pendakian gunung Talang dan gunung Slamet memiliki kesamaan. Bagi yang sudah pernah mendaki kedua gunung tersebut, tentu akan berpendapat sama. Namun bedanya, medan gunung Slamet jauh lebih terjal. Apalagi ditambah saat itu hujan cukup deras mengguyur hutan hujan tropis gunung Slamet sehingga membuat fisik saya terkuras dan tubuh saya menggigil kedinginan. Namun beruntung, hujan yang turun di gunung Talang tidak berlangsung lama. Jadi penderitaan di gunung Slamet tidak terulang kembali di gunung Talang.

“Bang, kalau kita beruntung, jika tidak ada kabut, kita bisa melihat tiga danau dari puncak gunung Talang yakni danau Di Atas, danau Di Bawah, dan Danau Talang. Selama saya mendaki gunung Talang, saya selalu tidak beruntung melihat pemandangan ketiga danau tersebut. Semoga kali ini abang beruntung ya,” ujar Baim salah seorang sahabat Fajar.

“Oh ya? Semoga ya tidak ada kabut,” imbuh saya mengamini.

Lazimnya di hampir semua gunung di Indonesia, setiap beberapa kilometer pendaki akan berhenti di pos-pos untuk beristirahat. Namun kondisi demikian tidak saya jumpai di gunung Talang. Tidak ada pos pemberhentian sama sekali. Hanya ada plang bertuliskan ‘asmaul husna (nama-nama Allah) dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia serta tanda ‘R’.

Sontak saya bertanya kepada Fajar.

“Jar itu ‘R’ maksudnya apa ya?”

“Oh , ‘R’ itu maksudnya ‘Rambu’. Jadi nanti setiap beberapa meter, tepatnya di tikungan, kita akan menjumpai plang dengan tanda ‘R’ mulai dari R.1 hingga R.99. Sengaja dibuat hingga R.99 agar sesuai dengan ‘asmaul husna yang berjumlah 99. Untuk R.99 sendiri nanti kita temukan di puncak,” jelas Fajar kepada saya dengan cukup detil.

Sayapun menganggukkan kepala pertanda mengerti. Tidak ada kendala yang berarti yang kami temui selama mendaki. Namun, ada satu orang teman Fajar yang merasa kelelahan lantaran kondisi fisiknya kurang prima. Salah seorang di antara kami berinisiatif untuk mengurangi beban yang dia bawa sehingga perjalanan dapat terus dilanjutkan.


Menurut saya, kehadiran plang ‘asmaul husna membuat pendakian terasa lebih relijius. Saya pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah mengajarkan agar kita ummatnya, selama perjalanan menyebut subhanallah saat melewati jalan menurun dan menyebut Allahu akbar ketika melewati jalan mendaki. Hal tersebut barangkali menyadarkan kita bahwa sudah selayaknya kita terus mengingat Allah dalam kondisi apapun. Setiap tikungan, saya sempatkan untuk membaca ‘asmaul husna, mulai dari Ar-Rahman hingga seterusnya. Jika bisa dibilang, gunung Talang merupakan gunung syariah yang pernah saya daki selama hidup saya.

DSC_7508
R.51 di gunung Talang.

Tiba di R.51, saya sempatkan untuk swafoto di sana. Saya senang tiada terkira karena menemukan tulisan Ya Haq yang mengingatkan terhadap nama sahabat saya yang menyebalkan. Namanya, Arinal Haq Haqo. Dalam hati saya bergumam, “Nanti jika sudah dapat sinyal, saya akan mengirimkan foto ini ke Are (nama panggilan Arinal).”

Menuju lembah gunung Talang, saya melewati pohon-pohon yang memiliki daun panjang berduri. Saya tidak tahu apa nama jenis pohon tersebut. Sayapun bingung untuk menggunakan kata kunci yang tepat jika bertanya kepada Paman Gugel. Barangkali ada dari teman yang mengetahui pohon ini? Pohon-pohon tersebut mengingatkan saya terhadap eksistensi dinasaurus dan sahabat-sahabatnya yang sering lalu-lalang di perfilman hollywood.

DSC_7673.JPG
Ada yang tahu nama pohon ini?

Setelah mendaki selama kurang lebih 2,5 jam, akhirnya kamipun berhasil tiba di lembah gunung Talang. Lokasi tersebut digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda. Saat itu, hanya ada sekitar 3 tenda yang berdiri.

DSC_7594
Tenda pendaki di lembah gunung Talang.
DSC_7586
Deep thinkin’

Lembah gunung Talang terasa sepi, dingin, dan misterius. Namun saya menyukai kondisi demikian. Pemandangan dan perasaan kala itu belum pernah saya rasakan sebelumnya di gunung manapun. Sayapun berjalan menyusuri lembah savana yang tertutup kabut tipis. Angin bertiup kencang, menyeret paksa sekawanan kabut, lantas menghempaskannya.

Berjalan sendirian membuat saya tidak gusar. Justru yang timbul hanyalah rasa tentram yang entah dari mana perasaan itu hadir. Saya selalu menyukai suasana di gunung. Melihat reremputan liar tumbuh secara alami, kagum dengan bunga-bunga liar yang selalu berhasil membuat saya penasaran untuk mengetahui setiap nama mereka. Semakin jauh, saya semakin meninggalkan teman perjalanan saya yang lebih memilih berkumpul bersama-sama sembari menikmati secangkir teh atau kopi pengusir hawa dingin.

Saya suka dengan perasaan saya sore kala itu. Seolah saya merasa hadir menjadi diri saya yang seutuhnya. Berjalan, melihat sekitar, tersenyum, dan bersyukur. Saya mulai berjalan kian jauh hingga mendekati kawah gunung Talang. Saya ingin menuju puncak gunung Talang. Namun langkah saya terhenti saat tiba-tiba kabut tebal kembali hadir sehingga membuat perasaan saya tidak nyaman.

DSC_7613
Kawah gunung Talang.

Di lembah gunung Talang, takbanyak bungan edelweiss tumbuh. Namun mereka mekar seolah membuktikan kepada saya rasa takut akan selalu kalah dengan keberanian, hati yang teguh, dan kesucian cinta. Saya menyukai bunga edelweiss melebihi bunga apapun di bumi ini. Suatu hari, saya berharap bunga edelweiss akan terus abadi sesuai dengan julukannya ‘bunga abadi’.

DSC_7559.JPG
Edelweiss, Si Bunga Abadi
DSC_7542
Bunga kuning ini ada yang tahu namanya?
DSC_7622.JPG
Pattern.
DSC_7627.JPG
Sumber mata air di lembah gunung Talang.

Dari kejauhan, saya melihat ke bawah. Nun jauh di sana, ada tiga danau berdampingan. “Mungkinkah itu tiga danau yang dimaksud teman Fajar tadi?” ujar saya lirih. Sore berganti petang, kamipun memutuskan untuk turun sebelum matahari benar-benar tenggelam.

DSC_7511
Danau Talang, Danau Di Atas, dan Danau Di Bawah

Dalam perjalanan pulang, saya teringat ungkapan manis dari Paulo Coelho, “You don’t need to climb a mountain to know that it’s high.” Ya, saya tahu bahwa gunung akan selalu tinggi, bahwa gunung akan selalu menjadi rumah yang nyaman untuk siapapun. Jadi, berbaik hatilah dengan alam, berbaik hatilah dengan diri sendiri. [Mahfud Achyar]

SAVANNA & MUHLENBERGIA CAPILLARIS DI GUNUNG GUNTUR

Catatan Pendakian Gunung Guntur (2,249 mdpl) di Garut Jawa Barat

 Oleh: Mahfud Achyar

1
Garut: Zwitsers van Java (Captured by: Mahfud Achyar)

Zwitsers van Java, begitulah julukan yang diberikan oleh Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda yang begitu kagum dengan keindahan alam Garut. Konon, Sang Ratu yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau jatuh hati dengan Garut. Ia pun dikabarkan memiliki tempat peristirahatan pribadi di Garut.

Selayaknya Ratu Wilhelmina, saya pun mengagumi Garut. Dulu, sewaktu kuliah saya telah bertualang ke tempat-tempat terbaik di Garut seperti pemandian air panas di Cipanas, pantai-pantai nan elok di Pamengpeuk, PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Kamojang, kebun teh di Cikajang, ladang akar wangi di Samarang, hutan mati di Gunung Papadandayan, serta wisata kuliner di Garut kota. Kendati sudah banyak tempat di Garut yang pernah saya datangi, namun saya masih penasaran dan sangat tergoda untuk mengunjungi lebih banyak ‘surga-surga tersembunyi’ di kabupaten yang hari lahirnya diperingati setiap tanggal 16 Februari.

Dari sekian banyak tempat menarik di Garut, saya memilih untuk mendaki gunung Guntur. Jika Anda pernah berwisata ke Garut, tentu Anda pernah melihat gunung Guntur dari sisi jalan. “Ah, gunung Guntur terlihat tidak terlalu tinggi. Pasti cukup mudah mencapai puncaknya!” Ya, hampir semua orang yang belum pernah mendaki gunung Guntur akan berujar hal yang sama. Saya pun dulu pernah mengatakan hal tersebut. Namun setelah mendaki gunung Guntur pada akhir pekan kemarin (21 hingga 22 Mei 2016), saya dengan tegas mengatakan, “Gunung Guntur itu kecil-kecil cabai rawit!”

Mengapa pada akhirnya saya memutuskan untuk mendaki gunung Guntur? Secara personal, saya menyukai gunung Guntur karena mirip dengan gunung Merbabu di Jawa Tengah. Lantas, apa kemiripan gunung Guntur dan gunung Merbabu? Savana! Ya, kedua gunung tersebut sama-sama memiliki savana yang luas, hijau, dan tentunya indah. Saya sangat terobsesi dengan savana. Bagi saya, ketika berada di hamparan savana, saya merasa merdeka. Seketika itu juga otak saya mulai berfantasi membayangkan film-film petualangan seperti Lord of the Rings, The Secret Life of Walter Mitty, Into the Wild, dan sebagainya. Berada di savana yang hijau membuat saya sangat bersemangat dan riang gembira. Saya membayangkan diri saya menjadi tokoh-tokoh fiksi dalam film dan novel yang bertema petualangan. Terasa sangat menyenangkan.

4
Savanna (Captured by: Mahfud Achyar)

“Terkadang kita perlu menjadi kekanak untuk dapat menikmati hidup. Namun terkadang juga kita perlu menjadi manusia dewasa yang sesungguhnya untuk dapat memahami peliknya hidup dan kehidupan. Jika berada di alam bebas, tentunya saya akan memilih menjadi kekanak. Bebas, lepas, dan penuh kreatifitas!”

Selain memiliki savana yang hijau dan luas, di gunung Guntur Anda juga akan menemukan bunga ilalang yang berwarna pink. Cantik! Dalam bahasa latin, bunga tersebut bernama muhlenbergia capillaris atau dikenal juga dengan sebutan muhly hairawn. “The plant itself includes a double layer; green leaf-like structures surround the understory, with purple-pink flowers out-growing them from the bottom up. The plant is a warm-season grass, meaning that leaves begin growth in the summer. During the summer, the leaves will stay green, but they morph during the fall to produce a more copper color.”

11
Muhlenbergia Capillaris at Mt. Guntur West Java (Captured by: Mahfud Achyar)

Pada pendakian ke gunung Guntur kemarin, saya ditemani oleh sahabat-sahabat perjalanan yang menyenangkan. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang sama saat melakoni pendakian ke beberapa gunung di Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Saya pikir, kami bertujuh sepakat bahwa pendakian kemarin memiliki cerita yang indah untuk dikenang. Begitu banyak drama, gelak tawa, serta suka cita yang menghiasi perjalanan kami selama dua hari satu malam.

Dari tujuh orang yang ikut pendakian, hanya satu orang yang pernah mendaki gunung Guntur. Sisanya belum pernah sama sekali. Kami berenam tidak ada gambaran yang jelas mengenai gunung Guntur. Namun tidak perlu gusar, tenang saja. Kami sudah memiliki banyak asupan informasi, baik dari internet maupun dari teman-teman yang sudah pernah mendaki gunung Guntur. Persiapan mendaki gunung Guntur kami siapkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Beruntung hampir semua anggota kelompok pernah mendaki gunung sehingga pembagian tugas menjadi lebih efektif. Oya, terima kasih saya ucapakan sedalam-dalamnya untuk Brian Acton dan Jan Koum yang telah menciptakan aplikasi WhatsApp. Thanks buddies! Koordinasi dan komunikasi kami dalam mempersiapan segala keperluan untuk mendaki menjadi lebih mudah.

So, let us walk together fellas!

DSC_0545
L-R: Iril, Abah, Imam, Achyar, Klep, Tami, Moa

 

Sebelum memulai pendakian, kami harus mengurus proses administrasi serta membayar retribusi sebesar 15ribu rupiah (sudah termasuk asuransi jika pendaki mengalami kecelakaan). Setelah semua prosedur kami lakukan, kami pun mulai mendaki sekitar pukul 09.00 WIB.

Saat itu, mentari bersinar tidak terlalu terik dan cuaca tidak terlalu panas. Kami sangat bersyukur. Alhamdulillah. Andai cuaca tidak bersahabat tentu kami akan kerepotan. Betapa tidak, sebelum memasuki kawasan hutan, kami harus berjalan sekitar 45 menit untuk menyusuri jalanan berkerikil dan berpasir. Kami melewati area tambang pasir persis di kaki gunung Guntur. Bila hujan turun sementara pada waktu yang bersamaan truk-truk pembawa pasir melewati jalan yang sama dengan kami, tentunya cukup berbahaya. Salah seorang sahabat bercerita bahwa ia pernah melihat truk pasir terguling dan di dalam truk pasir tersebut ada para pendaki yang menumpang. Lantas apa yang terjadi? Insiden pun tidak dapat terelakkan.

2
Memasuki area penambangan pasir di kaki gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Sepanjang perjalanan, saya berpikir, apabila pasir di kaki gunung Guntur terus dikeruk bukankah akan menyebabkan longsor? Saya menilai ada persoalan lingkungan di gunung Guntur yang harus menjadi concern pemerintah daerah Garut. Sepertinya harus dibuat regulasi mengenai penambangan pasir di kaki gunung Guntur tanpa abai terhadap mata pencaharian masyarakat di sekitar kaki gunung Guntur yang bekerja sebagai buruh penambang pasir.

Ada objek yang unik di sekitar area tambang pasir di kaki gunung Guntur yaitu bebatuan cadas yang mirip dengan situs geologi Gunung Padang di Cianjur atau Stone Garden di Padalarang. Namun sepertinya objek tersebut tidak begitu dihiraukan oleh para pendaki. Padahal sepertinya cukup menarik untuk dijadikan latar foto yang instagramable. Serius!

Setelah berhasil melewati area tambang pasir, kami pun memasuki kawasan hutan yang tidak terlalu rimbun. Namun sesampainya di hutan, udara sejuk pun mulai menyergap tubuh kami yang berkeringat. Kami seperti terlahir kembali (halah, klausa ini terlalu berlebihan). Semakin jauh berjalan, tantangan yang kami hadapi semakin menantang. Beberapa kali saya harus membenarkan posisi tas carier agar terasa nyaman dibawa. Keringat pun mulai mengucur dan napas mulai tidak teratur. Hanya bercanda dan foto-foto yang menjadi obat ampuh untuk menghilangkan rasa penat yang menggelayut di pundak. Kendati langkah terasa berat, kami terus melangkah dan menikmati setiap bunyi hembusan napas yang terdengar berat.

“Ayo semangat! Sebentar lagi Pos 1!”

Salah seorang dari kami tiba-tiba memecah kesunyian saat melewati hutan yang sepi. Di gunung, terkadang ungkapan “semangat” tidak lantas membuat kita bersemangat. Seringkali frasa “semangat” membuat kita semakin berpikir realistis bahwa perjalanan masih panjang. Sembari menghembuskan napas, saya bergumam, “Oke perjalanan masih panjang, Bung!” Tidak ada jalan lain kecuali terus melangkah dan menikmati setiap rasa yang timbul dari dalam diri: rasa kesal, lelah, dan payah.

Menurut saya, jalur pendakian di gunung Guntur tidak begitu susah. Namun mendekati Pos 3, saya mulai merasa kewalahan karena harus melewati jalur bebatuan yang memiliki kemiringan hingga 75⁰. Saya harus ekstra waspada dan harus memastikan kaki saya mendarat di batu yang solid dan kokoh. Jika tidak, saya bisa terpeleset dan akan berakibat fatal. Oleh sebab itu, bagi para pendaki yang melewati jalur tersebut diminta hati-hati. Watch your step, guys!

 

 Pukul 13.30 WIB kami tiba di Pos 3.

“SELAMAT DATANG DI POS 3,” tulisan pada sebuah gapura yang terbuat dari kayu berwarna coklat menyambut kedatangan kami. Saya mulai tersenyum sumringah. Aha, ternyata di pos 3 sudah banyak berdiri tenda warna-warni. Terlihat seperti bumi perkemahan yang bernuansa ceria. Oh ya, sebagai informasi pengelola gunung Guntur hanya mengizinkan mendirikan tenda di pos 3. Pendaki tidak diizinkan mendirikan tenda di puncak. Hal ini lantaran sering terjadi longsor di gunung Guntur. Apalagi mengingat curah hujan pada bulan Mei masih lumayan tinggi. Sejauh pengamatan saya, tidak ada satu pun pendaki yang melanggar himbauan tersebut. Good job!

P1220119
Pos 3 Gunung Guntur (Captured by: Klep)

Lagi pula, menurut saya memang paling nyaman dan paling enak berkemah di pos 3. Betapa tidak, kita tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan air. Jika Anda mau, Anda bisa bisa mendirikan tenda persis di samping sungai. Arena berkemah di pos 3 juga sangat luas. Anda tidak perlu khawatir tidak kebagian lahan untuk mendirikan tenda. Selain itu, jika summit pada dini hari Anda tidak perlu membawa tas carrier yang berat. Anda cukup membawa barang-barang penting. Sisanya, Anda bisa simpan di dalam tenda. Insya Allah aman.

Jika boleh dikatakan, pendakian di gunung Guntur tergolong pendakian leyeh-leyeh. Setelah selesai makan siang dan sholat kami pun tidur di luar tenda dengan beralaskan flysheet. Siang itu, matahari ditutupi awan putih yang tebal. Cuaca juga tidak terlalu dingin. Cukup pas untuk kita tidur siang. Salah satu dari kami menyeletuk, “Ayo kita tidur siang!” Akhirnya tanpa banyak kata dan suara, kami semua tertidur pulas. Saya terbangun dari tidur ketika tiba-tiba ada suara gaduh dari pendaki yang baru datang. Saya melihat jarum jam yang ternyata baru menunjukkan pukul 15.30 WIB. Ternyata saya tidur hanya sebentar namun terasa sangat lama. “Itu namanya tidur berkualitas,” celoteh teman saya.

Untuk mengisi waktu sore hari, kami pun bermain kartu uno. Bagi saya, bermain uno di gunung adalah pengalaman pertama. Biasanya waktu di gunung sangat terbatas. Namun ternyata sangat menyenangkan mengisi waktu bersama sahabat dengan hal-hal yang menyenangka. Jika ingat momen-momen bermain uno, saya hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ada saja kejadian lucu yang membuat saya tidak henti-hentinya tertawa. Misalnya ketika salah seorang sahabat bernasib sial karena harus menarik kartu uno dalam jumlah yang sangat banyak. Menyebalkan.

Dari sekian banyak momen lucu selama bermain kartu uno, ada satu momen yang akan terus menjadi bahan untuk ditertawakan. Ceritanya begini, ketika masing-masing dari kami sedang serius menyusun strategi untuk memenangkan pertarungan uno, tiba-tiba seorang sahabat saya (nama disamarkan demi menjaga harga diri) yang mendapatkan giliran mengeluarkan kartu tiba-tiba berteriak, “Kartu ungu!” Sontak saat itu semua terpaku diam membisu. Saya pun jadi kebingungan. Apa maksud dari kartu ungu? Selidik demi seledik, ternyata ada yang menimpali celetuk teman saya tersebut, “Kartu uno ungu yang seperti ini bukan?” Haha gelak tawa pecah seketika. Kami baru menyadari bahwa kartu uno berwarna ungu adalah kartu bonus yang tidak digunakan dalam permainan. Ah, sepertinya saya kurang mahir menggambarkan kelucuan pada saat itu. Namun yang jelas itu adalah momen yang menggelikan.

“Friendship.. is born at the moment when one man says to another, “What! You too? I thought that no one but my self.” – C.S. Lewis

Sore hari, saat asyik-asyiknya bermain kartu uno, langit terlihat mendung. Matahari seolah disergap oleh sekomplotan awan gemuk berwarna abu-abu. Jelas, hujan akan turun. Kami pun bergegas memasang flysheet guna melindungi tenda dari air hujan yang mengucur dari langit. Kami pun kembali ke tenda-tenda masing sembari menunggu hujan reda. Di dalam tenda, saya pun menyalakan ponsel genggam milik saya yang berwarna hitam. Saya membuka aplikasi recorder kemudian mereka suara hujan yang mengetuk kasar tenda yang berbahan parasut. Hujan dan sore adalah paket yang sempurna untuk mengantarkan khayal saya pada jutaan kenangan pada masa silam.

Pukul 03.00 WIB persiapan summit

Dini hari menjelang subuh, tepatnya pukul 03.30 WIB kami bersiap untuk summit ke puncak gunung Guntur. Kami pun berdoa, berharap pendakian menuju puncak tidak mengalami kendala yang berarti. Satu hal yang paling kami pinta kepada Tuhan, kami ingin kembali pulang dalam keadaaan selamat, sehat wal’afiat.

Tepat di atas kepala kami, bulan purnama terlihat bulat sempurna. Tidak banyak bintang pada malam itu. Cahaya purnama yang cukup terang membantu kami menunjukkan jalan menuju puncak. Jalur pendakian ke puncak gunung Guntur menantang. Banyak orang yang mengatakan bahwa gunung Guntur laiknya gunung Semeru versi mini. Perlahan, kami mulai menanjak lereng gunung Guntur yang berpasir dan berbatu kerikil. Kadang kami harus menghentikan langkah untuk mengambil napas dalam-dalam. Kami pun melihat ke arah puncak untuk memastikan bahwa kami sudah berjalan cukup jauh. Puncak memang terlihat begitu dekat, sangat dekat. Namun semakin lama kami berjalan, puncak seakan semakin menjauh, seperti oase di gurun pasir.

Saya tahu persis bahwa summit merupakan salah satu bagian tersulit dalam pendakian. Rasa lelah dan kepayahan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Lantas apakah saya harus menyerah setelah begitu banyak tantangan yang sudah saya hadapi. Tidak ada yang mampu memberikan semangat yang luar biasa besar untuk saya, kecuali semangat itu muncul dalam jiwa saya terasa panas. Saya akan terus berjalan kendati dalam keadaan sesulit apapun.

No pain, no gain.

5
Sunrise di Puncak 1 Gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Adzan Subuh berkumandang. Puncak sudah berada di depan mata. Tinggal beberapa langkah lagi saya berhasil mencapainya. Perlahan langit yang kelam mulai ditelan oleh cahaya berwarna oranye dan jingga. Pertanda sebentar lagi matahari baru segera terbit. Saya melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Saya terus memacu langkah, menguatkan hati yang mulai lemah. Akhirnya, dalam keadaan napas yang terengah-engah saya berhasil menginjakkan kaki di puncak gunung Guntur. Alhamdulillah. Sejenak saya menghempaskan tubuh saya di atas tanah berpasir yang terasa dingin. Saya melihat langit yang mulai terang. Saya hanya bisa terdiam. Dalam diam, saya hanya bisa berdoa.

“If you want to be reminded of the love of the Lord, just watch the sunrise.” – Jeannete Walls

6
Hallo Sunrise! (Captured by: Mahfud Achyar)

Setelah sholat Subuh, istirahat sejenak, dan foto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju puncak 3. Lazimnya para pendaki hanya sampai puncak 2 karena di sana ada semacam monumen yang menjadi tanda bahwa itu adalah puncak gunung Guntur. Beruntungnya jalur menuju puncak 2 dan puncak 3 tidak begitu susah dibandingkan jalur dari pos 3 ke puncak 1. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan savana yang ditumbuhi oleh bunga-bunga ilalang berwarna pink, muhlenbergia capillaris.

7
Gunung Cikurai (Captured by: Mahfud Achyar)
9
Savanna at Mt. Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Dari puncak gunung Guntur saya melihat gunung Cikurai yang terlihat gagah. Saya berharap suatu saat saya akan berada di atas puncak gunung Cikurai. Barangkali dalam waktu dekat. Berada di atas ketinggian 2,249 mdpl membuat saya sependapat dengan Ratu Wilhelmina bahwa Garut memang layak disebut Zwitsers van Java.

12
Puncak Gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)
14.jpg
Garut, Jawa Barat (Captured by: Mahfud Achyar)

Jakarta, 27 Mei 2016.

Catatan tambahan:

Itinerary Mt. Guntur
Itenerary Mt. Guntur

Mt. Guntur (2,249 M) – Garut West Java