Kesempatan Terakhir


Kano (2014)

Bagi saya, pelajaran hidup bisa datang di mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa saja. Hari ini contohnya. Saya mendapatkan pelajaran hidup dari film yang baru saja saya tonton. Judul film tersebut yaitu “Kano”, sebuah film yang dirilis pada tahun 2014 yang bercerita tentang tim baseball SMA di Taiwan yang melakukan perjalanan ke Jepang pada tahun 1931 untuk mengikuti kompetisi Japanese High School Baseball Championship di stadion Koshien.

Anggota klub baseball Kano berasal dari berbagai etnis yang terdiri dari orang-orang asli Taiwan, pemain Han Taiwan, dan Jepang. Kano hanyalah klub baseball kecil di daerah bagian selatan Taiwan yang tidak populer. Bisa dikatakan, Kano minim prestasi. Namun, berkat asuhan pelatih bernama Hondo, perlahan Kano menjelma menjadi klub yang mulai dibicarakan dan mulai mendapat ruang di hati para penggemar baseball.

Singkat cerita, Kano berhasil menjadi perwakilan Taiwan pada ajang kompetisi bergengsi di Koshien Jepang. Sayangnya, Kano tidak berhasil membawa pulang gelar juara. Pun begitu, suara tepuk tangan riuh rendah menggaung di setiap sudut di stadion Koshien. Para penonton terbawa suasana haru usai menyaksikan pertandingan yang dramatis: penuh luka dan air mata.

Kendati Kano gagal menjadi pemenang, namun para penonton menjadi saksi betapa kegigihan, kerja keras, dan pengorbanan merupakan hal yang terindah dari sebuah proses menuju kesuksesan. Kano, sebuah klub yang tidak terkenal, jauh dari sorotan media, namun pada puncak pertandingan menyuguhkan sebuah pertunjukan yang akan selalu dikenang. Collateral beauty; it’s the beauty on the inside, now how you look but how you act and feel — basically your personality.

Saya tidak ingin bercerita banyak tentang film Kano. Namun dari sekian banyak adegan di film tersebut, ada adegan yang cukup membekas di benak saya serta menyentuh hingga ke relung jiwa. Adegan yang saya maksud yaitu ketika seorang guru bernama Hamada menjelaskan kepada anak-anak muridnya (anggota klub Kano) tentang filosofi pohon pepaya miliknya.

“Aku akan memberitahumu rahasia tentang pepaya ini. Tahun lalu, aku menanam paku pada akar setiap pohon pepaya. Setelah itu, setiap pohon menghasilkan buah yang besar dan lezat. Itu karena paku dipalu ke akar yang membuat pohon berpikir itu sekarat. Jadi berusaha sangat keras untuk menghasilkan buah yang manis untuk memastikan reproduksi sendiri. Ini adalah rahasia hidup atau mati yang membuat pohon pepaya meletakkan segala sesuatu ke dalam buahnya,” jelas Hamada.

Menonton adegan tersebut saya terdiam dan berupaya meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Hamada. Akal logis saya berusaha menolak argumen yang dilontarkan Hamada. Namun satu sisi, batin saya mengiyakan apa yang disampaikan Hamada benar adanya. Terkadang dalam hidup, tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua atau kesempatan ketiga.

Seringkali kita dihadapkan hanya satu pilihan, satu-satunya jalan, dan satu-satunya kesempatan. Jika kita abai, kita hanya akan berujung pada penyelesan yang tiada berkesudahan. Semua orang pernah mengalami itu, termasuk saya pribadi.

Dulu, ketika di bangku SMA, saya ditunjuk oleh guru Bahasa Indonesia sebagai perwakilan sekolah untuk lomba baca puisi. Saya berhasil mengalahkan teman saya yang menjadi saingan terberat saya. Kata guru saya, “Penghayatan saya bagus.” Ia yakin bahwa saya bisa membaca puisi dengan sangat baik.

Malam sebelum perlombaan, saya mendengarkan kaset kumpulan puisi dari para penyair legendaris seperti Chairil Anwar dan W.S. Rendra. Dari sekian banyak karya Chairil Anwar, saya memilih puisi yang berjudul “Aku” untuk materi lomba. Malam itu, saya yakin sekali akan menyuguhkan penampilan terbaik. Namun sayang, keyakinan saya tidak dibarengi dengan kerja keras. Ya, saya hanya sebatas mendengarkan Chairil membacakan puisi kemudian berlatih ala kadarnya.

Sejujurnya, saya tidak begitu serius mempersiapkan diri agar bisa menang lomba baca puisi. Padahal, saya sudah mendapatkan kepercayaan dari guru sebagai perwakilan sekolah. Saya terlalu meremehkan lomba baca puisi dengan tidak berlatih secara serius. Hasilnya, jelas saya tidak menjadi juara. Memalukan.

Saya malu bukan karena saya tidak menang. Namun saya malu pada diri saya sendiri karena telah menyia-nyiakan peluang yang saya dapatkan ketika di bangku SMA. Padahal, itu adalah kesempatan baik sekaligus kesempatan terakhir yang saya miliki sebelum lulus sekolah. Andai saja, saat itu saya berlatih dengan keras, serius, dan tekun mungkin ceritanya akan berbeda. Jikapun saya memang kalah, tapi setidaknya saya akan berani berkata, “Ya, saya sudah berupaya maksimal, terbaik semampu saya. Jika tidak menang, tidak masalah. Saya begitu menikmati proses perjuangan yang melelahkan. Itu sudah membuat saya bahagia.”

Sejak kejadian itu, saya belajar tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan. Jika ada kesempatan baik dan layak diperjuangkan, saya akan bersungguh-sungguh. Jikapun gagal, saya tidak harus menyesalinya. Sama seperti pohon pepaya yang dipaku tadi, setidaknya saya sudah memberikan yang terbaik, sebisa saya, semampu saya. Untuk hasil, biarkan Tuhan yang menjawabnya.

Jakarta,

29 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s