Photo Story: Kerja Bersama!

1. Foto Pembuka
Lomba panjat pinang merupakan salah satu lomba untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia setiap tahunnya. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Oleh: Mahfud Achyar

Indonesia Kerja Bersama.

Demikian tema yang diperkenalkan pemerintah kepada seluruh masyarakat Indonesia pada momentum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72 tahun. Melalui tema tersebut, saya berpendapat bahwa pemerintah ingin mengajak semua elemen bangsa untuk turut mengisi kemerdekaan Indonesia dengan kerja-kerja yang nyata.

Hari Kemerdekaan selalu menjadi momen yang spesial bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, kemerdekaan menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu setelah ratusan lamanya sejak Indonesia mengalami masa kependudukan: penjajahan. Untuk itu, tidak ada hal yang paling menggembirakan selain bersuka cita karena kemerdekaan sudah sepenuhnya diraih dan sekarang saatnya membuat bangsa Indonesia menjadi jauh lebih hebat.

Merayakan Dirgahayu Republik Indonesia, biasanya digelar berbagai perlombaan seperti lomba tarik tambang, lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba panjat pinang, dan berbagai perlombaan lainnya. Lomba-lomba tersebut dilaksanakan di seluruh penjuru negeri, mulai dari wilayah pedesaan hingga perkotaan. Secara umum, tujuan perlombaan-perlombaan tersebut yaitu untuk menggelorakan kembali sifat gotong royong yang menjadi nilai dari bangsa Indonesia.

Suatu ketika, Bung Karno, pernah menyampaikan pidato di depan BPUPK pada tanggal 1 Juni 1945. Bung Karno berkata, “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong” Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong: alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong.”

Wujud semangat gotong royong salah satunya dapat tercermin pada perlombaan panjat pinang. Saya mengabadikan momen demi momen lomba panjat pinang pada Jumat, (18/8/2017) di Kalibata, Jakarta Selatan. Rangkaian momen-momen tersebut tertuang dalam photo story yang berjudul “Kerja Bersama!”


2. Detil
Tanpa alas kaki, para peserta lomba panjat pinang tidak hanya adu fisik, namun juga ada strategi dan kekompakan. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Sejarah Lomba Panjat Pinang

Menurut budayawan Wijanarto, seperti yang dilansir pada laman Liputan6.com (14/8/2017) perlombaan panjat pinang sudah ada sejak masa pendudukan Belanda. Katanya, lomba panjat pinang digelar sebagai hiburan saat perayaan penting orang Belanda di Nusantara seperti pesta pernikahan dan ulang tahun.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa di Belanda, lomba panjat pinang disebut De Klimmast yang berarti panjat tiang. Lomba panjat pinang digelar setiap tanggal 31 Agustus yang bertepat dengan hari ulang tahun Ratu Wihelmina. Orang-orang pribumi berlomba mendapatkan hadiah yang digantungkan di puncak pohon pinang.

Setiap tahun, saat peringatan Dirgahayu Republik Indonesia, terjadi perdebatan di antara masyarakat, apakah lomba panjat pinang masih perlu dilestarikan atau tidak? Sebagian beranggapan bahwa lomba panjat pinang takusah dilakukan lagi lantaran pada masa silam lomba tersebut dianggap merendahkan harkat martabat bangsa Indonesia. Namun sebagian lain beranggapan sebaliknya. Lomba panjat pinang dirasa dapat merekatkan kekompakan dan membangun semangat gotong royong antarmasyarakat.

DSC_0051
Nyatanya untuk mencapai puncak pohon pinang tidaklah mudah, seringkali para peserta lomba jatuh berkali-kali hingga pada akhirnya bangkit untuk menggenapkan misi: menang. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
3. Portrait
Batang pohon pinang yang dilumuri oli membuat peserta merasa kewalahan. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_0437
Hampir dua jam lamanya, takada satupun tim yang berhasil mencapai puncak untuk menggapai hadiah-hadiah terbaik yang disiapkan panitia. Namun sore hari, akhirnya ada yang berhasil mencapai puncak. Takberlebihan jika ia layak disebut sebagai pemenang. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

 

4. Foto Penutup
Wajah-wajah yang bersuka cita setelah melewati masa-masa yang sulit.

Kendati terjadi pro dan kontra mengenai perlombaan panjat pinang, namun tidak dapat dipungkiri bahwa perlombaan tersebut sangat baik membangun kerja sama tim dan menumbuhkan semangat gotong royong.

Barangkali hadiah yang ditawarkan di atas puncak pohon pinang memang tidak begitu menggiurkan. Namun, nyatanya bukan ‘harga’ yang membuat perlombaan ini terus ada hingga sekarang. Kebersamaan, kerja keras, dan pengorbanan menjadi nilai-nilai yang harus terus ada dan harus tetap dipertahankan agar bangsa Indonesia terus menjadi bangsa yang berdaulat.

Indonesia merdeka!

Advertisements

Photo Story: Membangun Mimpi Anak Indonesia

Oleh: Mahfud Achyar

Ada yang berbeda dengan pagi ini. Tidak seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini saya berada di Bandung. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak cerita yang indah untuk dikenang.

Sebelum subuh, saya sudah bangun untuk mandi. Padahal saya baru tidur sekitar pukul 2 dini hari. Namun apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain untuk menyegerakan diri bersiap-siap menyambut hari yang penuh arti.

Rabu, (22/2/2017), saya dan 20 relawan Kelas Inspirasi Bandung 5 mengunjungi siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki Bandung. Bagi saya pribadi, ini kali pertama saya menjadi relawan Kelas Inspirasi Bandung. Sebelumnya, saya hanya ambil bagian menjadi relawan Kelas Inspirasi Jakarta dan Kelas Inspirasi Depok. Saya sungguh bersemangat sebab akan bertemu dengan orang-orang baik yang tergabung dalam Kelompok 9 serta tentunya akan bertemu dengan adik-adik yang menyenangkan.

P2221202
Gambar 1. Dua orang siswa SD Komara Budi dan Pasir Kaliki tengah bersantai pada pagi hari menjelang seremoni pembukaan Kelas Inspirasi Bandung 5.

 

P2221242
Gambar 2. Suasana salah satu kelas di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Terlihat prakarya siswa-siswi dipajang menjadi hiasan di atas lemari buku.

21 relawan yang bertugas di SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki terdiri dari 13 relawan pengajar, 5 relawan fotografer, 2 relawan videografer, serta 1 relawan fasilitator. Hal yang menarik sebagian besar relawan berasal dari luar Bandung seperti Semarang, Jakarta, Tangerang, dan Tegal.

Ragam profesi juga membuat kelompok 9 menjadi sangat berwarna. Ada yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan, ada yang menjadi psikolog anak, ada yang menjadi rescuer, dan sebagainya. Satu tujuan kami datang ke Bandung khususnya ke SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki yaitu membangun mimpi anak Indonesia!

P2220901
Gambar 3. Seorang siswi berlari melewati lukisan bendera dari delapan negara di salah satu tembok sekolah.

Bagaimana cara membangun mimpi anak Indonesia?

Rasanya pertanyaan itu sangat sulit dijawab oleh kami yang memang bukan praktisi pendidikan. Kami adalah kumpulan para profesional yang mungkin menguasai bidang kami, namun belum tentu dapat mengajar dengan baik. Sebagian dari kami belum memiliki pengalaman mengajar sama sekali. Namun ada juga yang sudah beberapa kali mengikuti program Kelas Inspirasi.

Kendatipun pernah mengajar, kami tetap saja merasa gugup. Maka karena itu, kamipun harus mempersiapkan diri dengan baik. Jauh-jauh hari, kami sudah mempersiapkan materi ajar untuk memberikan yang terbaik yang kami punya untuk siswa-siswi di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki.

Lantas apa yang kami ajarkan kepada mereka? Apakah matapelajaran matematika yang kerapkali dianggap momok menakutkan oleh banyak siswa-siswi? Tidak! Tidak sama sekali! Kami mengajar tentang diri kami, profesi kami, dan proses kami hingga menjadi seperti sekarang. Untuk apa? Apakah untuk pamer atau ‘gaya-gayaan’? Tidak. Sungguh tidak sama sekali. Kami menyadari dengan sepenuhnya bahwa kami bukanlah yang terbaik. Kami barangkali tidak layak menjadi contoh atau role model.

Walau kami tidak sempurna, kami memiliki hasrat yang besar untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya yang bisa kami lakukan yaitu berbagi dengan mereka. Kami datang untuk berbagi mimpi. Sesederhana itu.

P2221074
Gambar 4. Herawati merupakan seorang direktur di sebuah perusahaan di Bandung. Di kelas, ia berpesan kepada siswa-siswi, “Kita bisa menjadi apapun yang kita mau.”

 

Kami yakin, niat yang baik tentu akan mendapat impresi yang baik pula. Begitulah yang kami rasakan ketika setengah hari berada di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Kami merasa senang disambut dengan sangat baik oleh kepala sekolah dan jajaran guru. Lebih penting dari itu semua, kami menyaksikan betapa siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki memiliki semangat belajar yang sangat baik. Mereka antusias bertanya, mereka bersemangat untuk menjadi orang hebat di masa depan. Tidak ada hal yang membahagiakan bagi kami selain melihat pelita harapan masih nyala di hati mereka.

P2221120
Gambar 5. Berlari menggapai cita-cita.

Teruslah berjuang menggapai cita-cita, wahai generasi harapan bangsa. Doa kami akan terus ada untuk kalian.

Terakhir, kami mengutip pesan Bung Hatta, “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

 

Hari-Hari Tanpa Sekolah

 

Catatan Relawan Kelas Inspirasi

Oleh: Mahfud Achyar

IMG_1818
Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi (Foto oleh: Yeni Suryati)

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan

Saya bergabung menjadi keluarga besar Kelas Inspirasi sejak tahun 2014. Namun sebelum menjadi relawan Kelas Inspirasi, saya beberapa kali mengikuti kegiatan sosial yang digagas oleh relawan Kelas Inspirasi Jakarta 4 yang bertajuk “Kunjungan Inspirasi”. Sama halnya dengan program Kelas Inspirasi, kegiatan Kunjungan Inspirasi bertujuan untuk memberikan motivasi kepada anak-anak untuk berani bermimpi, berani mengajar cita-cita mereka. Segmentasi Kunjungan Inspirasi yaitu anak-anak binaan di beberapa Taman Baca di Jakarta. Sejak mengikuti kegiatan tersebut, saya jatuh cinta dengan aktifitas sosial khususnya di bidang pendidikan.

Oleh sebab itu, ketika panitia Kelas Inspirasi Depok 2 membuka pendaftaran relawan, tanpa banyak pertimbangan saya putuskan untuk  mendaftar menjadi relawan pengajar (baca: inspirator). Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya saya menerima surat elektronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi. Saat itu, rasa senang membucah dalam jiwa. Dalai Lama XIV pernah berkata, “Happines is not something ready made. It comes from your own actions.”

Satu hari cuti, seumur hidup menginspirasi. Begitulah semangat yang berusaha dipelihari oleh para relawan Kelas Inspirasi. Kami meyakini bahwa kegiatan Kelas Inspirasi (selanjutnya disingkat KI) tidak hanya menginspirasi anak-anak sekolah dasar, melainkan juga menginspirasi kami, para relawan. Sebelum Hari Inspirasi, semua relawan berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dari panitia KI mengenai gambaran kegiatan pada Hari Inspirasi. Merinding. Saya merinding menyaksikan ternyata masih banyak orang-orang baik di bumi pertiwi ini. Mereka, saya menyebutnya invisible hands, adalah orang-orang yang nantinya akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Kapan? Entahlah. Saya sendiri tidak bisa membuat prediksi yang presisi. Namun satu hal yang patut saya yakini, Indonesia masih memiliki harapan. Para relawan, barangkali merekalah segelintir harapan itu. Selama harapan masih ada dalam setiap dada generasi muda Indonesia, saya yakin kondisi sulit sekalipun dapat ditangani dengan baik. Saya meyakini hal itu. Sungguh.

Suatu hari di kelas penelitian kualitatif, dosen saya berkata, “Indonesia itu surga untuk penelitian. Betapa tidak, hampir semua masalah ada di Indonesia.” Saya pun secara spontan menganggukkan kepala pertanda saya sependapat dengan dosen tersebut. “Iya, Indonesia itu banyak masalah! Iya, Indonesia itu belum bisa semaju Amerika atau Inggris! Iya, Indonesia itu banyak kurang sana-sini! Lantas, apakah saya hanya bisa menyalahkan kondisi pelik yang  dihadapi oleh negara saya sendiri?” tanya saya dalam hati.

John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat (1917-1963), pernah berkata, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Semua orang bisa berteriak untuk menyalahkan, namun tidak semua orang bisa untuk berbuat, untuk turun tangan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Terkadang saya lelah melihat, membaca, dan mendengarkan orang-orang yang sering sekali memproduksi konten yang mendestruksi bangsa ini di berbagai lini masa. Saya akui terkadang saya juga melakukan hal yang sama. Namun belakangan saya berpikir ulang, jika saya melakukan hal yang sama dengan mereka, maka saya tidak ada bedanya. Menyedihkan.

Ada satu kutipan yang sangat menginspirasi dalam hidup saya. “Kondisi buruk terjadi bukan karena banyaknya orang jahat di muka bumi ini. Namun karena orang-orang baik hanya diam dan berpangku tangan.” Bagi saya pribadi, barangkali menjadi relawan KI barangkali adalah salah satu cara untuk making the world a better place. I hope so!

Pengalaman menjadi relawan pengajar di SDN Depok 5 pada tahun 2014 membuka telinga, mata, dan hati saya bahwa permasalahan dunia pendidikan Indonesia sangatlah pelik dan kompleks. Jika ada teman yang menanyakan pendapat saya mengenai profesi guru, saya selalu katakan, “Percayalah menjadi seorang guru tidaklah mudah!”

Pagi itu, sebelum mulai mengajar di kelas 2, jantung saya berdegup sangat kencang. Saya gugup dan saya tidak yakin bahwa hari itu Dewi Fortuna berpihak kepada saya. Kondisi semacam itu sejujurnya sudah seringkali saya alami, misalnya, ketika ujian kelulusan atau mungkin wawancara beasiswa. Perasaan yang selalu sama: kacau. Namun saya berusaha menenangkan diri sembari hanya bisa bergumam, “Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berlalu.” All is well.

Menit-menit pertama mengajar merupakan momen yang sangat menyenangkan. Saya mulai berhasil menguasai suasana kelas. Kekhawatiran saya tentang sulitnya menjelaskan istilah-istilah Marketing Communication mampu saya atasi dengan cukup baik. Anak-anak terlihat antusias, mereka bertanya ini dan itu. Saya merasa senang karena mereka terlihat antusias mengikuti proses belajar mengajar. Namun selanjutnya apa yang terjadi? Chaos!

Seorang siswa laki-laki entah mengapa tiba-tiba menangis. Sontak suasana kelas berubah mencekam. Kondisi semakin tidak terkendali ketika ada dua orang siswa yang berkelahi, saling pukul di antara mereka berdua pun tidak bisa dielakkan.

Sementara itu, anak-anak yang dari tadi antusias mendengarkan penjelasan saya juga ikut berteriak, membuat gaduh semakin riuh. Beruntung saat itu saya didampingi oleh teman saya. Kami pun berbagi tugas untuk mendamaikan anak-anak yang berkelahi dan membuat suasana kelas tetap kondusif. Saya pun menghampiri anak yang tadi berteriak dan menangis.

Sambil terisak ia berkata, “Tas saya disembunyikan pak!” Saya berusaha menenangkannya, namun  ia meronta. Seakan ia tidak butuh pertolongan. Seorang anak menyahut, “Dia emang cengeng pak!” Mendengar hal tersebut, si anak semakin marah dan kesal. Kondisi demikian membuat saya kewalahan. Perlahan, saya coba tenangkan dia dan memintanya untuk kembali duduk di kursinya. Ia sempat menolak, namun akhirnya luluh setelah saya bujuk berulang kali. Melelahkan.

Selidik demi selidik, ternyata anak tersebut memang sering menjadi objek bullying di kelasnya. Hampir setiap hari, ada saja yang membuat ia marah dan kesal. Mengetahui hal tersebut, saya hanya bisa terdiam. Seketika memori masa lampau hadir kembali.

Source - i(dot)huffpost(dot)com
Girl comforting her friend (Source: i.huffpost.com)

Dulu, ketika saya di bangku sekolah dasar, bullying merupakan fenomena yang sudah biasa. Dalam bahasa Indonesia, bullying memiliki serapan kata yaitu perundungan. Ada banyak faktor mengapa seorang siswa bisa menjadi objek perundungan, misalnya ia memiliki rambut keriting, kulit hitam, atau hidung pesek. Tidak hanya lantaran fisik semata, objek perundungan bisa juga lantaran sang anak memiliki nama yang “unik” dan sebagainya. Terlepas dari hal itu semua, siapa pun punya potensi yang sama untuk menjadi objek perundungan di sekolah. Jika sang anak telah menjadi korban bullying, maka hari-hari di sekolah adalah hari-hari yang menyeramkan.

Tiga kali menjadi relawan KI, mulai dari tahun 2014 hingga 2016, saya menyaksikan fenomena bullying selalu ada, bahkan telah menjadi efek bola salju. Sayangnya, pemerintah, pihak sekolah, maupun orang tua siswa tidak begitu aware dengan kasus ini. Padahal menurut saya, bullying laiknya dementor yang menghisap kebahagiaan anak-anak yang mendambakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Bayangkan, setiap hari anak-anak korban bullying harus menghadapi kondisi psikologis yang buruk. Mereka diejek, mereka ditolak, mereka dihina, dan mereka dimusuhi. Sangat menyakitkan.

2 Mei 2016 lalu, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, saya kembali menjadi relawan KI yang ditempatkan di SDN Cijantung 07 Pagi. Jika pada KI sebelumnya saya menjadi relawan pengajar dan fasilitator, tahun ini saya beranikan diri untuk menjadi relawan dokumentator, khususnya fotografer.

Ketika sesi pergantian pengajar, para relawan berkumpul di laboratorium yang menjadi base camp kami. Salah seorang relawan pengajar, Gicha Graciella (27 tahun), tampak kesal setelah mengajar di kelas 5. Ia bercerita bahwa ada seorang anak yang menjadi objek bullying teman-temannya lantaran bapaknya bekerja sebagai tukang parkir. Ia terus diejek oleh teman-temannya. Tidak hanya sekali, namun berulang kali. Gicha pun tidak tinggal diam. Sebagai seorang guru saat itu, ia berusaha memberi pengertian kepada para siswa bahwa sesama teman tidak boleh saling menyakiti. Kepada kami, Gicha kesal karena ternyata bullying menjadi hal yang dianggap lumrah terjadi di sekolah.

Senada dengan  Gicha, saya pun bersepakat bahwa seharusnya isu bullying menjadi perhatian banyak pihak. Apalagi pada tahun 2015 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir data yang mengejutkan dunia pendidikan Indonesia. “Jumlah anak sebagai pelaku kekerasan (bullying) di sekolah mengalami kenaikan dari 67 kasus pada 2014 menjadi 79 kasus pada 2015.” (Sumber: Republika.co.id, 30 Desember 2015).

Lebih lanjut, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan data naiknya jumlah anak sebagai pelaku kekerasan di sekolah menunjukkan adanya faktor lingkungan yang tidak kondusif bagi perlindungan anak.

Sebagai manusia dewasa, barangkali kita sulit memasuki perasaan anak-anak yang menjadi korban bullying. Bahkan, anak-anak korban bullying juga sulit untuk mengutarakan perasaan mereka yang setiap harinya dicela oleh teman-temannya. Menurut saya, akibat buruk dari bullying adalah timbulnya rasa benci dari korban bullying kepada teman-teman yang menjahatinya. Bahkan lebih parah, mereka benci dengan sekolah, mereka mungkin mendambakan hari-hari tanpa sekolah. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, saya berharap kasus bullying dapat menjadi fokus pemerintah, pihak sekolah, dan keluarga. Bukankah sekolah akan lebih menyenangkan bila tidak ada bullying? STOP BULLYING!

Jakarta,

7 Juni 2016

 

 

 

 

 

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU

Photo Story: Kelas Inspirasi Jakarta 5 “Satu Hari Kembali ke Sekolah”

Kelas Inspirasi (KI) merupakan salah satu program dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Program ini memfasilitasi para profesional untuk kembali ke sekolah khususnya Sekolah Dasar selama satu hari dengan tujuan menginspirasi anak-anak Indonesia untuk #BeraniBermimpi.

Secara sederhana, para profesional menceritakan profesi mereka kepada anak-anak SD dengan harapan kelak di masa depan mereka bisa menjadi seperti mereka atau bahkan jauh lebih hebat dari para inspirator (sebutan pengajar Kelas Inspirasi). Hal ini menjadi penting mengingat saat ini di dunia kerja begitu beragam profesi yang ada. Tidak hanya ada profesi yang populer seperti dokter, polisi, ataupun tentara. Nyatanya di dunia kerja ada profesi seperti chef, designer interior, dan masih banyak lagi.

Tahun ini, Kelas Inspirasi Jakarta kembali digelar untuk yang kelima kalinya. Bagi Kelas Inspirasi Jakarta 5, tahun ini sangat spesial karena Hari Inspirasi bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2016.

Saya menjadi relawan Kelas Inspirasi untuk kali ketiga. Namun pada Kelas Inspirasi tahun ini, saya mengambil peran menjadi relawan fotografer (amatir) yang tergabung dalam kumpulan orang-orang hebat di Kelompok 42.

Berikut 5 foto dokumentasi ketika Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur:

1
Foto 1

Menunggu Upacara Bendera

Siswi-siswi SDN 07 Cijantung Pagi Jakarta Timur pada Senin, (02/05/2016) terlihat begitu antusias menunggu upacara bendera. Pada hari itu, upacara bendera di sekolah mereka berbeda dibandingkan upacara-upacara sebelumnya. Betapa tidak, pada hari itu bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, sekolah mereka juga kedatangan para relawan Kelas Inspirasi Jakarta 5 yang akan berbagi cerita tentang profesi mereka. Bagi siswi-siswi tersebut, jelas hari itu adalah hari yang berbeda, hari yang spesial karena tidak ada PR.

 

2.JPG
Foto 2

Guru, Tidak Hanya Mengajar Namun Juga Mendidik

Gicha Graciella (27 tahun) merupakan seorang konsultan komunikasi. Ia baru pertama kali menjadi relawan Kelas Inspirasi. Ia menceritakan bahwa mengikuti Kelas Inspirasi bukan hanya tentang berbagi, namun juga sebagai bentuk komitmennya bahwa sesuatu yang baik dan berguna perlu disebarkan dengan lebih luas. Ia yakin setiap orang berilmu di negeri ini memiliki kewajiban untuk mendidik generasi mendatang. Ada satu pengalaman yang cukup berkesan ketika ia menjadi inspirator Kelas Inspirasi. Menurutnya, salah satu persoalan pelik di dunia pendidikan di Indonesia yaitu masalah bullying. Ia bercerita, “Selama saya mengikuti kelas inspirasi, saya melihat ada beberapa anak yang mendapat kekerasan verbal dari teman-temannya. Saya menyadari bahwa mendidik bukan hanya tentang mengajarkan mereka untuk mengerti mata pelajaran dan hal-hal yang bersifat teoritis.” Gicha, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa mendidik adalah tumbuh bersama mereka, memahami kebutuhan mereka, dan memenuhi hak-hak mereka.

3.JPG
Foto 3

Tidak Perlu Ada Sekat Antara Guru dengan Murid

Ada ungkapan yang mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Predikat menjadi seorang guru memang tidak mudah. Ia menjadi contoh, ia menjadi role model untuk anak didiknya. Hubungan guru dan murid tidak hanya sebatas orang yang mengajar dan orang yang diajar. Guru dan murid juga bisa saling bersahabat. Bukankah menyenangkan memiliki guru sekaligus sahabat?

4.JPG
Foto 4

Belajar Tidak Hanya di Kelas

Annisa Aulia Handika (23 tahun) mengajak siswa-siswinya untuk belajar di luar kelas. Sebelum ia mulai mengajar, seorang siswa membuang hajatnya di kelas. Hal tersebut membuat aroma kelas menjadi tidak sedap. Ollie, begitu ia memanggil namanya, mengatakan bahwa belajar tidak perlu di ruang kelas. Siswa-siswi bisa belajar dimana saja, asalkan ia nyaman menjalani proses belajar mengajar. Profesinya sebagai Oseanografer sangat menarik antusias anak-anak. “Ini pertama kalinya saya mengikuti Kelas Inspirasi dan langsung ketagihan untuk ikut lagi,” ungkap Ollie. Selama mengajar, Ollie berulang kali mengatakan bahwa laut di Indonesia itu sangat luas dan sangat indah. Oleh sebab itu, kita perlu bersama-sama menjaga kekayaan laut yang kita punya. Mengajar itu nagih! “Saya menjadi lebih bersemangat untuk terus berbuat lebih untuk banyak orang,” ungkapnya.

5.JPG
Foto 5

Dari Balik Jendela

Saya adalah seorang relawan fotografi. Saya memang tidak menginspirasi mereka secara langsung. Sungguh, tidak sama sekali. Hal yang terjadi justru sayalah yang terinspirasi dari anak-anak sekolah dasar. Saya menangkap momen ketika mereka tertawa lepas, ketika mereka marah, ketika mereka kesal, atau ketika mereka bosan. Namun dari semua mata yang sudah abadikan dengan kamera, ada satu hal yang membuat saya merinding. Saya melihat di dalam mata mereka ada binar harapan untuk masa depan yang jauh lebih hebat, jauh lebih gemilang. Teruslah bersemangat menggapai cita-cita wahai tunas bangsa!

Demikianlah, satu hari cuti satu hari menginspirasi! Ayo #BangunMimpiAnakIndonesia

Jakarta,

10 Mei 2016

Islamic Philanthropy Sebagai Upaya Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Madani

Oleh: Mahfud Achyar

Map of Indonesia (Source: http://www.warscapes.com/)
Map of Indonesia
(Source: http://www.warscapes.com/)

Tahun 2015, tepat Indonesia memasuki usia ke-70 tahun sejak merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Setiap tahunnya, masyarakat Indonesia senantiasa merayakan kemerdekaan Indonesia dengan berbagai ragam kegiatan: upacara kenegaraan, perlombaan-perlombaan, dan sebagainya. Namun, momentum kemerdekaan Indonesia terkesan sebatas euforia semata. Jarang sekali momentum kemerdekaan digunakan untuk kita merenung, berkontemplasi, dan gelisah memikirkan usia bangsa yang sudah taklagi belia.

Angka 70 tahun semestinya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memasuki fase yang jauh lebih matang, jauh lebih baik, dan jauh lebih sejahtera. Namun nyatanya semangat kemerdekaan Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial takkunjung mendekati kesempurnaan.

Indonesia, negeri yang subur dan indah ini nyatanya menyimpan begitu banyak persoalan yang seolah takhenti-hentinya datang silih berganti. Persoalan datang dari berbagai sektor; mulai dari aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya, sosial, dan teknologi. Kondisi demikian membuat Indonesia semakin terkucil di mata dunia dan semakin tertinggal dibandingkan negara-negara sahabat seperti Singapura dan Malaysia.

Mari sejenak kita melihat perkembangan salah satu negara sahabat kita yaitu Singapura. Pada tanggal 23 Maret 2015 lalu, mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew meninggal karena penyakit radang paru-paru. Meninggalnya bapak Singapura modern tersebut mengundang tangis dari 5 juta warga Singapura. Betapa tidak, Lee merupakan tokoh yang sangat berjasa bagi kemajuan Singapura. Ada salah satu ungkapan Lee yang barangkali akan selalu diingat oleh masyarakat Singapura. Ia berkata, “I don’t believe Singapore can produce two top class teams. We haven’t got the talent to produce two top class teams. We will wait and see how constructive the opposition can be, or will be.”

Sejak merdeka pada tanggal 9 Agustus 1965 (10 tahun setelah Indonesia merdeka), Singapura di bawah kepemimpinan Lee berkembang menjadi negara yang memiliki peran penting dalam perdagangan dan keuangan internasional. Singapura kian bersinar di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara bahkan sinarnya mampu menyaingi negara-negara yang dulu diklam sebagai negara maju.

Economist Intelligence Unit (EIU), lembaga kajian independen di bawah pengelolaan majalah The Economist melansir survei mengenai “Indeks Kualitas Hidup” yang menempatkan Singapura pada peringkat satu kualitas hidup terbaik di Asia dan kesebelas di dunia. Singapura juga dinobatkan sebagai negara yang memiliki cadangan devisa terbesar kesembilan di dunia. Tidak hanya sampai di situ, Singapura juga memiliki angkatan bersenjata yang maju dan juga berhasil menjadi negara meritokrasi, bebas korupsi, dan nyaman ditinggali untuk semua ras.

Keberhasilan Lee dalam memajukan Singapura dari negara miskin menjadi negara yang maju sudah sepatutnya menjadi pemantik semangat bagi Indonesia. Sayangnya, kerap kali banyak masyarakat Indonesia yang sinis menilai keberhasilan Singapura. Mereka menilai Indonesia dan Singapura tidak bisa dibandingkan secara apple to apple (komparasi yang seimbang dan cocok). Hal ini lantaran luas wilayah Singapura jauh lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia. Selain itu, permasalahan di Singapura tidak serumit permasalahan di Indonesia. Barangkali pendapat itu benar adanya. Namun, apakah argumen tersebut menjadi pledoi atau excuse bagi bangsa Indonesia sehingga terus terjebak pada kondisi yang stagnan atau bahkan menjadi jauh lebih buruk?

Potret Permasalahan di Bumi Pertiwi

Empowerment (Source: PKPU)
Empowerment (Source: PKPU)

Sebagai manusia yang lahir, besar, dan hidup di Indonesia tentu kita memahami dengan baik bahwa negara yang saat ini dipimpin oleh presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, tengah menghadapi berbagai persoalan yang pelik. Berdasarkan hasil survei dari salah satu televisi swasta nasional, setidaknya ada 10 masalah terbesar yang dihadapi Indonesia, yaitu (1) persoalan kestabilan ekonomi, (2) korupsi, (3) kemiskinan, (4) pengelolaan BBM, (5) sistem pendidikan, (6) pengangguran, (7) tingginya harga pangan, (8) bencana alam, (9) kelaparan dan krisis pangan, dan (10) krisis kepemimpinan.

Sebagai gambaran, barangkali kita bisa telisik lebih dalam persoalan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Untuk masalah di sektor pendidikan, berdasarkan laporan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2010, tercatat 1,3 juta anak usia 7-15 tahun di Indonesia terancam putus sekolah. Tingginya angka putus sekolah disebabkan salah salah satunya karena mahalnya biaya pendidikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, seperti yang dilansir pada laman okezone.com, mengatakan pihaknya menginginkan dukungan terhadap para pelajar yang berpotensi putus sekolah lebih diintensifkan. Lebih lanjut, Anies menilai bahwa konsekuensi dari putus sekolah berimplikasi dalam aspek kesejahteraan dan permasalahan sosial lainnya.

Selanjutnya, permasalahan pada sektor kesehatan menurut guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH, seperti yang dilansir pada laman liputan6.com, yaitu mengenai program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang kurang dikelola dengan baik. Dampaknya, bila tidak diantisipasi akan menyebabkan goncangan, keluhan, eksploitasi ketidakpuasan, campur aduk politik, dan teknis kesehatan.

Sebetulnya, JKN merupakan itikad baik dari pemerintah dalam menyediakan pelayanan kesehatan seluas-luasnya bagi masyarakat. Namun permasalahan yang timbul saat ini minimnya penyediaan layanan kesehatan yang mumpuni. Fasilitas layanan kesehatan di Indonesia tidak merata dan masih terkesan terfragmentasi. Pemerintah dinilai tidak serius menangani permasalahan rasio tenaga kesehatan dan penduduk, fasilitas layanan kesehatan yang belum terstandar, dan sistem rujukan layanan kesehatan yang masih semrawut.

Sementara itu, permasalahan lain datang dari sektor perekonomian. Menteri Ketenagakerjaaan, M. Hanif Dhakiri, seperti yang dilansir laman kontan.co.id, mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2014, jumlah penggangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,24 juta orang. Angka tersebut naik dibandingkan dengan data pada Februari 2014 yang berada pada angka 7,15 juta orang. Menurut Hanif, tingginya angka pengangguran di Indonesia disebabkan krisis ekonomi global dan terjadinya bonus demografi di Indonesia.

Jika menengok ke negara tetangga seperti Thailand, tingkat pengangguran di negeri Gajah Putih tersebut hanya berkisar 0,56 persen. Bloomberg melansir bahwa Thailand merupakan negara yang memiliki tingkat pengangguran terendah di dunia. Sebetulnya, pemerintah sudah berupaya menekan jumlah penggangguran di Indonesia hingga minimal mencapai angka 5,6 persen.

Dalam cakupan yang lebih makro, kondisi perekonomian di Indonesia terus menghadapi persoalan yang berat. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Hendar mengungkapkan bahwa perekonomian dalam negeri akan dibayang-bayangi sentimen dari eksternal maupun internal. Resiko yang harus diwaspadai oleh Indonesia antara lain: kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed, semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, peningkatan utang luar negeri, dan resiko peningkatan tekanan inflasi karena kenaikan LPG (Liquified Petroleum Gas) dan TTL (Tarif Tenaga Listrik).

Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengamankan kondisi perekonomian di Indonesia yaitu menaikan harga BBM bersubsidi. Namun, kebijakan yang diambil pemerintah tersebut dianggap tidak pro terhadap masyarakat. Apalagi pada tahun 2015 ini, pemerintah seolah galau dalam mengambil kebijakan bila harga minyak dunia naik.

Tercatat selama bulan Maret 2015, setidaknya pemerintah sudah dua kali menaikan harga BBM, khususnya jenis premium dan solar. Dampak dari naiknya BBM bersubsidi membuat harga bahan pokok melonjak, harga tarif angkutan umum naik, dan harga kebutuhan lainnya pun juga turut merangkak naik. Kondisi demikian menyebabkan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat kurang mampu semakin erat mengencangkan ikat pinggang. Lantas kapan masyarakat Indonesia dapat sejahtera dan hidup nyaman?

Berbagai upaya tentu sudah ditempuh pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Namun nyatanya, berbagai kajian yang dilahirkan oleh berbagai pakar yang mumpuni di bidangnya sangat sulit diimplementasikan. Banyak sekali faktor penghambat yang membuat Indonesia seolah sulit untuk menjadi negara yang seperti diamanahkan dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945.

Islamic Philanthropy Sebagai Solusi

Kendati Indonesia berada pada persimpangan jalan yang memprihatinkan, namun sudah selayaknya kita mengangkat kepala dan bertekad penuh bahwa kita dapat mengubah Indonesia menjadi lebih baik lagi. Pemerintah jelas tidak akan sanggup untuk mengatasi berbagai persoalan yang mendera bumi pertiwi. Untuk itu, partisipasi dari berbagai pihak merupakan nadi yang terus membuat Indonesia tetap hidup dan mampu memastikan bahwa setiap bayi yang lahir akan merasa bangga dan nyaman menjadi orang yang memiliki darah Indonesia.

Mengutip ungkapan salah satu pidato Presiden Sukarno, “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.”

Salah satu upaya yang dapat membantu akselerasi pembangunan bangsa dari berbagai aspek yaitu peran dari Islamic Philanthropy. Indonesia, sebagai mana kita ketahui adalah negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbanyak di dunia.

Hal tersebut dapat diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, yaitu lembaga riset yang berkedudukan Washington DC, Amerika Serikat yang bergerak pada penelitian demografi, analisis isi media, dan penelitian ilmu sosial. Pada tanggal 18 Desember 2012, Pew Research Center mempublikasikan risetnya tentang “The Global Religious Landscape” tentang penyebaran agama di seluruh dunia dengan cakupan lebih dari 230 negara.

Riset tersebut memaparkan total jumlah penduduk Muslim yang tersebar di berbagai negara yaitu sebanyak 1,6 miliar atau sekitar 23,2% dari total jumlah penduduk dunia. Indonesia merupakan negara sebagai peringkat pertama sebagai penganut agama Islam terbesar dengan total 209.120.000 jiwa (87,2%) dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.326 jiwa. Data tersebut juga diperkuat dari sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010.

Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin, agama rahmat bagi semua manusia. Artinya, Islam hadir bukannya hanya untuk Muslim, namun juga untuk non-Muslim (Ahli Dzimmah). Mereka mendapatkan hak yang sama dengan kaum Muslimin, kecuali beberapa perkara yang terbatas. Misalnya memeroleh perlindungan dari marabahaya yang datang dari eksternal. Hal tersebut senada dengan hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan Al-Baihaqi, “Siapa-siapa yang menzhalimi kafir mu’ahad atau mengurangi haknya, atau membebaninya di luar kesanggupannya, atau mengambil sesuatu daripadanya tanpa kerelaannya, maka akulah yang menjadi seterunya pada hari kiamat.”

Agama Islam menjadi dan melindungi non-Muslim; darah dan badan mereka, melindungi harta mereka, menjaga kehormatan mereka, memberikan jaminan sosial ketika dalam keadaan lemah, kebebasan beragama, kebebasan bekerja, berusaha dan menjadi pejabat. Demikianlah betapa santun dan mulianya Islam memperlakukan manusia sebagai makhluk sosial. Artinya, Islam sangat concern menanamkan nilai sosial dalam setiap jiwa pemeluknya.

Lantas apa yang dimaksud dengan nilai sosial? Menurut Clyde Kluckhohn dalam bukunya yang berjudul “Culture and Behavior”, ia mengatakan bahwa nilai sosial adalah sesuatu yang diusahakan sebagai hal yang pantas dan benar bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dalam pandangan Islam, nilai-nilai sosial yaitu berperilaku baik kepada sesama, dalam artian membantu orang yang sedang kesusahan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an AlMaidah ayat 2 yang berbunyi, “…..Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Nilai sosial dalam Islam dapat diwujudkan melalui aktifitas Islamic Philanthropy yang memiliki jangkauan kebermanfaatan yang jauh lebih luas. Istilah filantropi sendiri berasalah dari bahasa Yunani yaitu philein yang berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Secara sederhana, filantropi adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia sehingga bersedia menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain.

Dalam konteks kehidupan manusia modern, filantropi dikategorikan sebagai sektor ketiga setelah sektor negara (state) dan pasar (market). Ketiga sektor tersebut memiliki peran yang berbeda-beda dalam menyokong cita-cita suatu negara.

Istilah filantropi juga dipahami masyarakat sebagai organisasi non-profit dengan tujuan-tujuan mulia seperti mencintai (sesama umat manusia) dengan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan dan menaruh perhatian terhadap orang lain atau kemanusiaan. Tujuan dari aktifitas filantropi setidaknya terdiri dari empat spektrum pendekatan, yaitu (1) pendekatan kesejahteraan (welfare), (2) pendekatan pembangunan (developmentalis), (3) pendekatan pemberdayaan (empowerment), dan (4) pendekatan transformatif (transformasi sosial).

Dunia filantropi di Indonesia berkembang pesat pascareformasi. Selanjutnya, organisasi filantropi semakin diramaikan dengan kehadiran organisasi filantropi yang berbasis keagamaan, salah satunya kehadiran Islamic Philanthropy yang mulai concern pada pengelolaan dana zakat sebesar Rp 1,73 triliun pada tahun 2012.

Islamic Philanthropy dan Masyarakat Madani

Menyoal keberhasilan Islamic Philanthropy dalam mewujudkan masyarakat madani, barangkali kita dapat memetik hikmah dan pembelajaran dari kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau dikenal sebagai khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah yang sangat dicintai fakir miskin, anak yatim, janda-janda tua, dan semua lapisan masyarakat.

Menurut catatan sejarah, Umar bin Abdul Aziz lahir di kampung Hulwan, Mesir, pada tahun 63 Hijriah/681 Masehi. Ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan, menjabat gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul Malik. Ibunya, Ummu Asim Laila binti Asim, merupakan cucu Khalifah Umar bin Khattab. Umar diangkat menjadi Gubernur Madinah dalam usia 24 tahun. Di bawah kepemimpinan Umar, masyarakat Madinah hidup lebih sejahtera dan lebih tentram dibandingkan era sebelumnya.

Selanjutnya, pada usia 36 tahun, Umar dinobatkan sebagai khalifah di hadapan kaum muslimin yang sedang berkumpul di masjid. Menjadi seorang khalifah tidak membuat Umar berbangga diri. Ia justru menangis khawatir ia tidak dapat menjadi pemimpin yang baik. Bagi Umar sendiri, amanah merupakan tanggung jawab yang akan ditanya oleh Allah di akhirat kelak.

Selama menjadi khalifah, Umar berupaya keras untuk untuk menyejahterakan rakyatnya. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Umar yaitu dengan mengotimalkan pengelolaan dana zakat yang diterima dari muzakki (orang yang wajib zakat) untuk disalurkan kepada mustahik (orang yang menerima zakat). Prinsip zakat haruslah memiliki dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah sehingga mendorong meningkatnya suplai.

Pada masanya, Umar berhasil menjalankan aktifitas Islamic Philanthropy dengan sangat baik. Bahkan, jumlah muzakki terus meningkat sementara jumlah mustahik terus berkurang. Ibnu Abdil Hakam (dalam Lukman Hakim Zuhdi: 2010) menceritakan seorang petugas zakat bernama Yahya bin Said pernah diutus Umar untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungut, Yahya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin dan mustahik lainnya. Namun, setelah berkeliling ke seantero negeri, Yahya tidak menjumpai satu mustahik pun karena Umar telah menjadikan semua rakyatnya hidup berkecukupan.

Bukti lain yang menguatkan bahwa Islamic Philanthropy dapat membantu mewujudkan masyarakat madani datang dari Bangladesh. Adalah Muhammad Yunus yang lahir di Chittagong, East Bengkal, kini Bangladesh pada tanggal 28 Juni 1950. Muhammad Yunus mulai menekuni bidang social entrepreneur sejak tahun 1974 dengan mengembangkan konsep kredit mikro. Program tersebut berupa pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam uang dari bank umum. Ia menamakan program tersebut dengan sebutan Grameen Bank.

Misi Muhammad Yunus melalui Grameen Bank adalah untuk mengentaskan permasalahan kemiskinan di negaranya. Hasilnya, pada tahun 2006, ia menerima penghargaan nobel perdamaian berkat usahanya dalam memenangkan perperangan melawan kemiskinan. Program Grameen Bank berhasil membantu sekitar 47 ribu lebih pengemis di Bangladesh. Mereka tidak lagi berprofesi menjadi peminta-minta, namun telah berhasil menjadi pengusaha yang mandiri.

Di Indonesia sendiri, perkembangan Islamic Philanthropy menurut Dr. Amelia Fauzia dalam bukunya yang berjudul “Faith and the State: A History of Islamic Philanthropy” dalam Azyumardi Azra (Republika Online, 16 Mei 2013), sudah ada sejak awal Islamisasi Nusantara pada abad ke-13, melintasi masa kerajaan-kesultanan Islam, penjajahan Belanda, dan masa pascakemerdekaan, termasuk masa kontemporer.

Islamic Philanthropy di Indonesia dalam bentuk ziswaf (zakat, infak, sedekah, wakaf) memiliki potensi yang sangat besar. Berbagai kalangan memperkirakan potensi ziswaf Indonesia mencapai sekitar Rp 217 triliun setiap tahun. Namun, serapan dana ziswaf yang dikumpulkan oleh Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) baru berkisar pada angka 2,7 triliun. Artinya potensi ziswaf di Indonesia masih sangat besar. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi OPZ untuk terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kesadaran menunaikan ziswaf dan juga menyalurkan dana ziswaf untuk program-program yang mendorong kemandirian masyarakat.

Kehadiran Islamic Philanthropy diharapkan menawarkan solusi-solusi dari berbagai permasalahan yang melanda negeri ini. Sebab, pemerintah akan kesulitan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Apalagi Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk 252.370.792 jiwa yang tersebar dari Sabang hingga Mereuke, dari Natuna hingga Rote. Namun bukan berarti peran dari Islamic Philanthropy menjadi saingan pemerintah dalam mengentaskan persoalan bangsa. Melainkan sebagai mitra pemerintah dalam melayani seluruh masyarakat dalam rangka menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial.

Beberapa lembaga Islamic Philanthropy yang ada di Indonesia, di antaranya yaitu Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, LazizNU, LazisMU, Dewan Da’wah Infaq Club, BSMI, dan PKPU. Lembaga-lembaga tersebut bergerak dalam aktifitas kemanusiaan dengan cakupan sektor yang lebih luas, baik sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan kebencanaan.

Akan tetapi, keberadaan lembaga-lembaga Islamic Philanthropy tersebut rasanya belum memberikan perubahan yang signifikan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang madani. Hal ini lantaran setiap lembaga terlalu luas cakupan programnya sehingga tidak fokus untuk menyelesaikan permasalahan tertentu. Selain itu, lembaga-lembaga tersebut kurang bersinergis untuk mencari solusi bersama dalam upaya membantu pemerintah.

Barangkali pemerintah dapat menggandeng lembaga-lembaga Islamic Philanthropy untuk membahas blue print mengenai pencapaian jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang yang dapat dikolaborasikan secara bersama. Hal ini penting mengingat social movement tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri melainkan butuh kolaborasi dari berbagai pihak.

Selain kolaborasi dan sinergis untuk perubahan, lembaga-lembaga Islamic Philanthropy juga harus memiliki indikator yang terukur dalam menjalankan program-program kemanusiaan. Salah satu indikatornya adalah mengenai Quality of Live (QoL) para penerima manfaat program.

QoL didefinisikan sebagai tingkat kepuasan masyarakat terhadap kesejahteraan hidupnya sehingga tercipta suatu kebahagiaan hidup yang dibagi menjadi tiga aspek, yaitu fisik, psikologis, dan sosial. Selama ini pengukuran program kemanusiaan hanya dilihat dari segi kuantitas. Dengan QoL diharapkan organisasi-organisasi Islamic Philanthropy dapat mengukur kualitas program, sejauh mana program dapat meningkat kualitas hidup masyarakat yang berdampak pada outcome dan impact.

Dalam meningkatkan Quality of Life (QoL), saat ini lebih banyak indikator positif, seperti: kenyamanan, keamanan, dan lain sebagainya. Namun, semua QoL berujung pada apa yang benarbenar dibutuhkan oleh masyarakat. Setiap anggota masyarakat punya kemampuan berdasarkan potensi dan sumber daya yang ada. Bisa juga dilihat dari kemampuan outreach, influence, networking semakin penting untuk keperluan community capacity building.

Quality of Life
Quality of Life

Gambar 1.
Teori Hirarki Kebutuhan Manusia, Maslow.
(Teori Maslow ini dimodifikasi menjadi QoL Individu)

Kehadiran Islamic Philanthropy menjadi harapan bagi Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani. Jika menelisik referensi, masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya. Masyarakat madani menurut Anwar Ibrahim merupakan sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat.

Istilah masyarakat madani terinspirasi dari masyarakat Madinah yang dikenal memiliki tabiat yang baik; taat dan sadar hukum, kebersamaa, kemakmuran ekonomi, demokratis, cerdas, dan kritis. Semua itu tidak lepas dari keberhasilan nabi Muhammad saw yang memimpin masyarakat Madinah dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh ilmu pengetahuan.

Terakhir, mengutip kata bijak dari Eleanor Roosevelt, “I am who I am today because of the choices I made yesterday.” Salam perubahan!


Daftar Pustaka
Adzim Abdul. 2013. Madinah: Profil Masyarakat Madani. [Online]. Available at: http://sejarah.kompasiana.com/2013/04/09/madiniah-profil-masyarakat-madani-549813.html. (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Center, Pew Reseacrh. 2012. The Global Religious Landscape [Online]. Available at: http://www.pewforum.org/2012/12/18/global-religious-landscape-exec/ (diakses pada tanggal 24 Februari 2015).

Harahap, Rachmad Faisal. 2015. Prioritas Kemendikbud Tekan Jumlah Anak Putus Sekolah. [Online]. Available at: http://news.okezone.com/read/2015/01/27/65/1098074/prioritas-kemendikbud-tekan-jumlah-anak-putus-sekolah (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Syarifah Fitri. 2014. 6 Masalah Kesehatan yang Jadi ‘PR’ pada 2014. [Online]. Available at: http://health.liputan6.com/read/785102/6-masalah-kesehatan-yang-jadi-pr-pada-2014 (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Yudha, Satria Kartika. 2015. Pemerintah Targetkan Tingkat Pengangguran 5,6 Persen. [Online]. Available at: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/02/03/nj74ul-pemerintah-targetkan-tingkat-pengangguran-56-persen (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Ariyanti, Fikri. 2015. BBM Naik Dua Kali, RI Sulit Deflasi di Maret Ini. [Online]. Available at: http://bisnis.liputan6.com/read/2202729/bbm-naik-dua-kali-ri-sulit-deflasi-di-maret-ini (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Dee. 2014. 2015 Ekonomi RI Bakal Hadapi Tantangan Berat. Available at: http://www.jpnn.com/read/2014/12/05/273767/2015-Ekonomi-RI-Bakal-Hadapi-Tantangan-Berat (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Syairuddin, Ricki Valdy. 2012. Islam Sebagai Agama Rahmatan Lil’alamin. Available at: http://tazkiyah-tazkiyah.blogspot.com/2012/06/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar_24.html (diakses pada tanggal 20 April 2015).

______. Pengertian Nilai Sosial Menurut Para Ahli. Available at: http://ssbelajar.blogspot.com/2013/04/pengertian-nilai-sosial.html (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Zuhdi, Lukman Hakim. 2010. Umar bin Abdul Aziz, Potret Pemimpin Penyayang Kaum Dhuafa. Available at: https://komunitasamam.wordpress.com/2010/11/30/umar-bin-abdul-aziz-potret-pemimpin-penyayang-kaum-dhuafa/ (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Ariefyanto, M. Irwan. 2013. Negara dan Filantropi Islam. Available at: http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/05/15/mmuiqm-negara-dan-filantropi-islam (diakses pada tanggal 20 April 2015).
Muzakki, Khoirul. 2014. Potensi Filantropi Terhambat Regulasi. Available at: http://www.koran-sindo.com/read/932949/149/potensi-filantropi-terhambat-regulasi-1417674803 (diakses pada tanggal 20 April 2015).

PKPU. 2013. Draft Quality of Life. Jakarta: Lembaga Kemanusiaan Nasional.

Ironi Pendidikan di Bumi Pertiwi

Tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau yang biasa disingkat Hardiknas. Tanggal 2 Mei dipilih sebagai Hardiknas sebab pada tanggal tersebut merupakan tanggal lahirnya salah satu tokoh pendidikan di Indonesia, yaitu Ki Hadjar Dewantara, tepatnya pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta.

 

Ki Hadjar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara merupakan pahlawan nasional yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan di tanah air. Pada masa kolonialisme Belanda, ia berani menentang kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang hanya memperbolehkan anak-anak kelahiran Belanda atau orang kaya yang bisa mengeyam bangku pendidikan. Kritikan Ki Hadjar Dewantara kepada pemerintahan kolonial menyebabkan ia diasingkan ke Negeri Kincir Angin.

Pada bulan September 1919, ia kembali dipulangkan ke Indonesia dan kemudian mendirikan sebuah lembaga pendidikan bernama Taman Siswa (Nationaal Onderwijs Instituut) pada Juli 1922. Taman Siwa memberikan kesempatan bagi para pribumi untuk bisa memeroleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Ki Hadjar Dewantara terkenal dengan semboyan pendidikan dalam bahasa Jawa, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.” Dalam bahasa Indonesia, semboyan tersebut diterjemahkan, “Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.” Selain menjadi tokoh pendidikan, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama. Ia meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959.

Ki Hadjar Dewantara boleh saja sudah tidak membersamai kita lagi. Namun, semangat dan pengorbanannya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia tidak boleh padam. Sebab, pendidikan adalah gerbang yang akan menghantarkan Indonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang berwibawa, dan bangsa yang memberikan kebermanfaatan yang luas untuk dunia. Hal tersebut juga semakin dikuatkan dengan janji kemerdekaan yang diucapkan langsung oleh Bapak Bangsa, Presiden Sukarno, yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, “……mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Namun, apakah cita-cita yang dikobarkan sejak 70 tahun yang lalu sudah kita dapatkan? Masalah pendidikan seakan menjadi pekerjaan rumah yang amat berat bagi bangsa ini. Betapa tidak, sejak kemerdekaan hingga saat ini masih banyak persoalan-persoalan pendidikan yang belum mampu untuk ditangani dengan baik.

Mari sejenak kita merenungkan data yang disampaikan oleh Sosiolog Pendidikan dan Kemasyarakat Universitas Indonesia, Hanief Saha Ghafur, yang menyebutkan angka buta huruf di Indonesia masih relatif cukup tinggi. Jumlah penduduk buta aksara di Indonesia usia di atas 15 tahun sebanyak 6,7 juta atau sekitar 4,2 persen dari jumlah penduduk di Indonesia. Selain itu, berdasarkan laporan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2010, tercatat 1,3 juta anak usia 7-15 tahun di Indonesia terancam putus sekolah. Tingginya angka putus sekolah disebabkan salah salah satunya karena mahalnya biaya pendidikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, seperti yang dilansir pada laman Okezone, mengatakan pihaknya menginginkan dukungan terhadap para pelajar yang berpotensi putus sekolah lebih diintensifkan. Lebih lanjut, Anies menilai bahwa konsekuensi dari putus sekolah berimplikasi dalam aspek kesejahteraan dan permasalahan sosial lainnya.
Selain masalah buta aksara, masalah lain dari dunia pendidikan di Indonesia adalah Sistem Pendidikan Nasional (Sidkinas) yang dianggap belum berhasil menemukan formula tepat. Bahkan, media Aljazeera seperti yang dilansir Okezone menyebutkan sistem pendidikan di Indonesia sama dengan sistem pendidikan di zaman batu yang masih mengedepankan budaya menghafal, bukan berpikir kreatif.

Kualitas pendidikan di Indonesia semakin dipertanyakan. Kondisi demikian membuat Indonesia semakin tertinggal jauh dibandingkan negara-negara seperti Jepang dan Finlandia. Berbagai persoalan pendidikan yang mendera Indonesia di antaranya yaitu rendahnya kualitas sarana fisik, rendahnya kualitas guru, rendahnya kesejahteraan guru, rendahnya prestasi siswa, kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan, rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan, dan mahalnya biaya pendidikan.Lantas jika begitu, siapa yang harus disalahkan? Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah semata. Kendati hal tersebut memang tugas utama pemerintah. Namun sebagai civil society, kita juga dapat berperan aktif guna memajukan pendidikan di bumi pertiwi.

Terakhir, saya mengutip ungkapan sederhana dari Anies Baswedan, “Daripada kita lipat tangan, lebih baik kita turun tangan untuk melunasi janji kemerdekaan.” [Mahfud Achyar]