Dialog Penutup

Di sini, tubuhku menggigil.
Bukan karena hujan yang setiap sore mengguyurku.
Juga bukan karena kulit ari-ku kian semakin tipis. Tidak, tidak karena itu.

Sementara…

Di atas sana, langit miris menatapku. Tatapan sinis.
“Ada isakan di sudut sebelah sana,” kata langit padaku dengan nada meninggi.
Aku pun bertanya kembali pada langit yang tiba-tiba sendu. “Di mana, di mana kau lihat itu, hai langit? Katakan padaku. Biar kuseka tangis itu.”

Tanya pada hatimu hai bumi! Mengapa kau taktumpahkan saja segala rupa isi perutmu agar mereka berhenti menangis.

“Untuk apa? Justru itu akan membuat tangis mereka kian menjadi-jadi. Aku, masih sayang pada mereka. Walau kutahu, takada isyarat cintaku yang berbalas. Untuk kondisi sekarang, aku tidak ingin menerka maksudmu, langit. Biarkan aku seperti ini, sampai waktu itu menghampiri kita semua. Kau tahu kapan waktu itu tiba?” tanyaku penuh selidik.

“Oh, kau jangan melankolis seperti itu bumi. Dari dulu sudah kubilang padamu. Tapi tetap saja kau tidak hiraukan omonganku. Kau selalu bilang bahwa aku tukang bual, omong kosong, dan terlalu mengada-ada. Kau masih saja keras kepala seperti sejak pertama kali kita berkenalan. Sudahlah, aku tidak akan menasehatimu lagi. Urus saja masalahmu sendiri!”

“Baiklah, jika itu maumu. Terima kasih langit atas perhatian dan juga nasehatmu. Doakan saja, semoga aku baik-baik saja di sini. Pun juga dirimu. Semoga kau kian indah setiap harinya. Itu saja pintaku.”

Jakarta,

15 September 2017

Advertisements

The Voyage to Maregé, Napak Tilas Orang Makassar ke Benua Kangguru

Oleh: Mahfud Achyar

PhotoGrid_1504369652575
L-R: Firly, Audrey, Cimeg, Silvy, Harry, Achyar, Moa, dan Christin

Hubungan antara Indonesia dan Australia nyatanya telah terbangun sejak lama, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal tersebut terungkap dari konser orkestra yang bertajuk “The Voyage to Maregé” yang gelar pada Kamis, (31/8/2017) di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat.

_20170827_195042
Poster Publikasi Konser

Biasanya, untuk menonton konser yang digawangi oleh pianis sekelas Ananda Sukarlan, kita harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Namun beruntung, penonton yang memadati Teater Jakarta malam itu takperlu mengeluarkan uang sepersen untuk menyaksikan suguhan bertaraf internasional. Konser tersebut digelar secara khusus sebagai kado dari pemerintah Australia atas ulang tahun Republik Indonesia yang ke-72 tahun. Sebagai negara sahabat, saya rasa kado yang diberikan oleh Australia sangatlah manis.

Bagi sebagian orang, menonton konser orkestra klasik barangkali membosankan. Namun bagi saya pribadi, saya sangat takjub menyaksikan dengan mata dan kepala saya sendiri bahwa alat-alat musik seperti piano, biola, cello, dan sebagainya dapat harmonis menghasilkan nada-nada yang membuat bulu kuduk saya merinding. Ah, mereka sungguh keren!

DSC_9297
Suasana Teater Jakarta

Andai saya memiliki bakat seperti mereka, pasti saya tidak akan menyia-nyiakannya. Saya akan mengoptimalkannya untuk sesuatu yang menakjubkan! Namun sayang, saya sepertinya memang terlahir bukan sebagai pelaku seni melainkan penikmati seni.

All humans are musical,” begitu tulis Mitch Albom pada bukunya yang berjudul “The Magic Strings of Frankie Presto” pada halaman 4. Menukil apa yang dikatakan Mitch, saya beranggapan bahwa kendati saya tidak dapat memainkan alat musik, namun setidaknya saya menjadi bagian dari pertunjukkan musik itu sendiri: penonton. So, everyone joins a band in this life, right?

Sebagai pembuka konser, penonton disuguhi karya monumental seperti Small Town (1976) dan Lagu-Lagu Manis (1994). Selanjutnya, untuk membuncahkan rasa cinta kita terhadap Indonesia, Marzuki Pianistica memainkan dua karya piano dan orkestra berdasarkan melodi karya Ismail Marzuki (2012/2016).

Menjelang penampilan Ananda Sukarlan, pianis Stephanie Onggowinoto membawakan dua lagu yaitu “Indonesia Pusaka” dan “Selendang Sutra”. Lagu “Indonesia Pusaka” menjadi salah satu lagu yang menarik perhatian saya. Entah mengapa, sejak kecil saya selalu suka lagu itu. Semacam ada kekuatan sihir yang membuat saya takbosan-bosannya mendengarkan lagu gubahan Ismail Marzuki tersebut.

Sebelum memimpin “The Voyage to Maregé”, Ananda Sukarlan menyampaikan pidato singkat mengenai cerita orang-orang Makassar yang bertualang ke Australia untuk berdagang. “Orang-orang Makassar membawa rempah-rempah seperti pala, cengkeh, dan jenis rempah-rempah lainnya untuk di jual ke Australia. Harga rempah-rempah saat itu mahal sekali. Bahkan lebih mahal dibandingkan harga emas. Orang-orang Makassar ke Australia untuk berdagang,” jelas Ananda.

Selain menceritakan tentang hubungan bisnis tradisional antara Makassar dan Australia, “The Voyage to Maregé” juga bercerita tentang kehidupan suku asli Australia yaitu suku Aborigin. Cerita kehidupan suku Aborigin dituangkan dalam alunan musik beritme semangat serta diiringi dengan penampilan teatrikal dari dua aktor yang menyerupai suku Aborigin asli. Dari pertunjukan tersebut, kita dapat memasuki dimensi lampau bagaimana suku asli benua Kangguru tersebut berinteraksi, bersosialisasi, dan bertahan hidup.

Hal menarik lainnya dari konser yang digelar tepat malam takbiran menjelang Hari Raya Idul Adha tersebut yaitu, aransemen suara adzan yang dikemas dalam section: “The Arrival of Islam”. Kata Ananda, “Saya sengaja memasukkan section ini dalam konser malam ini. Saya ingin menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang damai.”

Saya jelas merinding ketika suara adzan diaransemen begitu indahnya. Terasa damai. Saya beruntung lahir di negara yang memiliki kemajemukan. Namun sayang, banyak orang di bumi pertiwi ini yang begitu antipati terhadap perbedaan. Bukankah pelangi terlihat indah lantaran setiap warna memancarkan warna yang berbeda-beda: me-ji-ku-hi-ni-bi-u!

Di negara ini, saya belajar untuk menghargai perbedaan untuk menghasilkan kolaborasi yang menakjubkan. Mengutip perkataan Harry Anggie, “Perbedaan itu indah.” Jadi, siapkah kita melejit dengan pondasi perbedaan?

Tonton cuplikan video konser pada tautan ini: The Voyage to Maregé.

Rindu di Masa Lalu

Past…. (Image Source: http://blog.stockspot.com.au)

Malam kian larut. Orang-orang telah pergi menjelajah jauh ke dimensi-dimensi yang takdapat dilacak oleh radar berteknologi tinggi. Sementara aku, masih saja terbangun lantaran sepasang mata ini sulit sekali diajak kompromi. Ada banyak potongan episode kehidupan yang melintas di benakku. Hal itu jelas mengusik rasa nyamanku. Entahlah, beberapa kejadian masa lalu tiba-tiba muncul lagi. Masa kecilku, tempat yang pernah aku datangi, tempat bermain, serta orang-orang yang pernah dekat denganku. Semua itu seolah menjadi kisah balik yang sulit sekali dienyahkan.

Semuanya seakan nyata. Terlihat dengan sangat jelas dan detil. Seakan bergerak. Memaksaku untuk kembali memasuki ruang itu. Namun dimensinya berbeda. Aku tidak ingin larut dalam bayangan-bayangan itu. Hanya membuatku lemah. Tapi mau bagaimana lagi, malam ini telah menyeret paksa diriku untuk hadir lagi pada masa-masa itu.

Apalah ini namanya. Sulit juga untuk menerjemahkannya. Namun ada satu hal yang membuat dadaku sesak. Aku rindu. Rindu dengan masa-masa indah yang pernah kulewati. Rindu dengan orang-orang hebat yang pernah dekat denganku. Semakin lama, aku pun semakin jauh memasuki dimensi indah itu. Ingin sekali rasanya bertahan. Enggan menyapa kondisi sekarang yang seolah terasa berbeda. Pada akhirnya pun aku takluk. Bernyanyi, bercengkrama dengan waktu yang seakan tidak pernah membisu.

Kondisi semacam ini bukan kali pertama aku alami. Berulang kali aku meyakinkan diri bahwa ini hanyalah sebuah perjalanan yang tidak nyata. Aku harus menyudahi. Tapi rasanya sulit sekali. Ingin berteriak bahwa aku ingin lepas dari rayuan masa lalu. Namun ia seakan takmau pergi. Memang pada hakikatnya semua yang terjadi di masa lalu dan masa sekarang jelas berbeda. Aku harus paham dengan keniscayaan itu.

Akan tetapi, biarkan aku mengenang. Jika dengan begitu membuatku jauh lebih baik. Tidak masalah jika hal itu akan hanya akan menambah ketidakberterimaan. Biarlah, biarkan aku mengenang. Setelah aku penat dengan masa kini yang menjemukan, aku ingin ia mengajakku mengelilingi keabadian hingga malam ini cepat berakhir.

Ps: Tulisan lama yang hanya mengendap di salah satu folder di laptop pada tanggal 10 Januari 2012.

Ketika Sahabat Baik Kita Menikah

Processed with VSCO with hb1 preset

Suatu ketika, salah seorang sahabat saya meninggalkan sebuah pesan di grup WhatsApp. Pesannya, “Nanti kalau Dan (bukan nama sebenarnya) menikah, pasti kita akan jarang lagi kumpul-kumpul ya?” Tidak lama setelah sahabat saya menulis pesan, selang beberapa menit salah seorang sahabat saya yang akan menikah menimpali pesan yang bernada pesimistis tersebut. “Ya kumpul-kumpul aja. Tidak ada perubahan berarti kok. Namun mungkin intensitasnya saja yang tidak sama.”

Saya pun hanya bisa mengamati obrolan mereka tanpa harus ikut terlibat. Saya sungkan untuk mengemukakan pendapat. Lagi pula, setelah saya pikir-pikir lagi, menikah ataupun belum, kondisinya memang kami tidak setiap hari atau setiap pekan bertemu. Jika ada momen-momen tertentu, barulah kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Misalnya, salah seorang sahabat saya merayakan pergantian usia atau tiba-tiba kami semua tertarik untuk menonton film terbaru di bioskop.

Kembali ke pertanyaan sahabat saya tadi, bagaimana perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah? Jujur, dulu ketika saya tahu ada sahabat saya yang akan menikah, saya merasa seperti kehilangan. Agaknya berlebihan jika saya sempat merasakan hal demikan. Namun apa boleh buat, kondisi batin yang saya alami pada saat itu memang begitu adanya. Takdapat disangkal. Betapa tidak, kami terbiasa melakukan berbagai hal bersama, namun pernikahan membuat semuanya berubah. Kata Keane, “….I try to stay awake and remember my name. But everybody’s changing. And I don’t feel the same.”

Akan tetapi, semakin saya dewasa, semakin bertambah usia, saya sadar bahwa pada akhirnya setiap manusia bertranformasi dari satu fase ke fase yang lain, dari sudut pandang satu ke sudut pandang yang lain. Pun demikian, semua hal-hal baik akan terus kekal. Percayalah, rasanya masih akan tetap sama.

Sebagai seorang sahabat yang belum menikah, saya tidak mungkin menahan sahabat saya sembari berkata, “Hai, bisa tunggu saya sedikit lebih lama hingga saya juga menemukan teman hidup?”

Saya tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun, termasuk sahabat dekat saya sendiri. Justru sebaliknya, sayalah orang yang paling bahagia ketika mengetahui bahwa sahabat baik saya telah menemukan teman berbagi, baik dalam kondisi suka maupun duka. Upaya terbaik yang bisa saya curahkan hanyalah berdoa semoga hatinya selalu diliputi ketenangan, kenyamanan, dan rasa syukur.

Kendati demikian, memang tidak bisa saya pungkiri bahwa pada akhirnya waktu mengubah segalanya. Jika dulu, indikator hubungan persahabatan yang sehat dinilai dari seberapa intens kita berkomunikasi dan bertemu, kini mengetahui sahabat kita dalam kondisi sehat, bahagia, dan baik-baik saja–saya rasa itu lebih dari cukup. Sesekali saya hanya bisa mengamati kondisi mereka dari lini media sosial. Terkadang saya beranikan diri untuk menanyakan kabar, memastikan kabar sahabat saya baik-baik saja. Namun sejak menikah, tentunya komunikasi antara kami mulai dibatasi. Saya pikir hal tersebut sudah selayaknya dilakukan oleh orang dewasa. Tujuannya taklain hanya untuk sama-sama menjaga peran.

Beruntung, saya memiliki sahabat dekat tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Saya pikir dulu tidak dikenal persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Saya khawatir “rasa” merusak makna persahabatan itu sendiri. Namun agaknya saya salah. Buktinya, saya memiliki sahabat perempuan yang sangat baik; mendukung saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Saya beruntung mengenal dan menjadi sahabat mereka.

Pernikahan memang mengubah hubungan persahabatan. Namun tidak mengubah banyak hal. Memang ada beberapa sahabat saya setelah menikah menyebabkan komunikasi di antara kami tidak sebaik dulu. Sayapun mafhum dengan kondisi tersebut. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, sejatinya mereka telah lahir menjadi manusia yang baru: ia memiliki tanggung jawab yang baru, peran yang baru, dan tentunya prioritas yang baru.

Kata Mama saya, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahiim.” Beberapa kesempatan, saya mengirim pesan kepada sahabat-sahabat saya sudah mulai lost contact seperti menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun, atau mengirim kutipan-kutipan inspiratif. Saya berupaya menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat saya walau kini kami sudah terpisah dalam interval yang cukup jauh.

Saya pernah bercerita kepada sahabat saya bahwa semua doa-doa anak manusia diijabah oleh Tuhan. Ada yang dijawab langsung, ada yang ditunda, dan ada yang diganti dalam bentuk lain. Saya berkeyakinan bahwa memiliki sahabat-sahabat yang baik, positif, dan inspiratif merupakan jawaban doa dari Tuhan yang diganti dengan bentuk lain. Saya tidak henti-hentinya untuk mensyukuri hal tersebut hingga detik ini. Anugrah dari langit untuk penduduk bumi.

Ada hal yang menarik yang saya amati dari lingkaran persahabatan saya, kendati dari mereka sudah banyak menikah namun nyatanya kami masih bersahabat dengan baik. Bahkan, pasangan mereka (istri/suami) menjadi sahabat baik saya juga. Rasa-rasanya saya tidak akan pernah merasa kehilangan mereka. Jadi, kembali lagi pada pertanyaan, “Seperti apa perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah?” Hati saya diliputi kebahagiaan. Bahagia mereka adalah bahagia saya. Duka mereka adalah duka saya. Begitulah adanya. Tidak ada yang pernah berubah: hari ini, esok, dan seterusnya.

Terakhir, izinkan saya mengutip perkataan Elbert Hubbard, “A friend is someone who knows all about you and still loves you.”

Jakarta,

29 Juli 2017.

Precognitive Dream

Deja Vu sebuah keadaan di mana kita merasa pernah mengalami sebuah momen atau kejadian pada masa lampau lantas kemudian terulang kembali. Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal demikian. Entah bagaimana cara kerjanya, sayapun tidak mengerti akan hal itu.

dreams_by_whisperfall
Source: https://msinop1.wordpress.com

Namun belakangan ini, saya mengalami journey semacam De Javu namun rasanya tidak tepat bila disebut De Javu. Journey yang saya maksud yaitu, saya beberapa kali datang ke sebuah tempat di mana tempat tersebut sudah pernah saya datangi sebelumnya. Datang dalam artian bukan perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruh.

Ya, beberapa tempat yang saya datangi ternyata sudah pernah saya kunjungi sebelumnya di alam mimpi. Barangkali agak cukup rumit menjelaskannya. Namun ini tidak mengada-ada. Saya ingat dengan sangat jelas bahwa memang tempat-tempat seperti savanna di gunung Lawu, jalanan menuju Cidahu, dan sebagainya memang pernah saya datangi di dalam mimpi. Persis sekali.

Berulang kali saya bercerita kepada teman-teman saya, “Oh, saya sudah pernah berkunjung ke sini di alam mimpi.” Teman-teman saya hanya menanggapi seadanya. Mungkin mereka tidak ingin berdebat untuk topik yang tidak begitu penting. Ah, mau apalagi. Saya tidak bisa memaksa mereka untuk mencerna journey yang hingga detik ini membuat saya begitu kebingungan.

Mimpi, sebuah dimensi yang memiliki sejuta misteri. Mengapa di bangku sekolah kita tidak pernah belajar tentang mimpi. Padahal setiap tidur mungkin kita mengalaminya. Namun kita abaikan seolah mimpi bukanlah sesuatu yang penting untuk dipelajari dalam perspektif kajian sains.

Akhirnya karena begitu penasaran, saya mencari informasi atas apa yang saya alami. Menurut artikel yang saya baca, journey yang saya maksud tadi disebut dengan istilah precognitive dream, future sight (penglihatan masa depan) atau second sight (penglihatan kedua).

Precognitive dreams are dreams that appear to predict the future through a sixth sense; a way of accessing future information that is unrelated to any existing knowledge acquired through normal means.” (Source: http://www.world-of-lucid-dreaming.com).

Berdasarkan artikel yang sudah saya baca, secara sederhana precognitive dream berarti mimpi yang benar-benar terjadi di masa depan.

Entahlah, saya rasa kurang tepat bila definisi tersebut sesuai dengan apa yang alami. Sejauh ini, kondisi yang saya alami hanya sebatas mimpi berkunjung ke tempat-tempat yang nantinya benar-benar saya datangi. Tidak lebih dari itu. Misalnya, tahun kemarin saya mimpi ke sebuah tempat seperti hutan bakau. Beberapa waktu kemudian saya memang ke tempat yang sama. Tepatnya di hutan bakau di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. Begitu seterusnya.

Ah, setelah dipikir-pikir lagi mungkin memang ruh saya senang bertualang ke tempat-tempat yang baru. Saya berpikiran positif semoga memang benar suatu saat impian saya menjadi seorang petualang benar-benar terwujud. Aamiin.

 

Jakarta,

21 Maret 2017

 

Kisah Si Botol Kuning 

Tumbler Berwarna Kuning

Hari ini saya mau bercerita tentang botol atau tumbler berwarna kuning miliki saya. Saya tidak tahu apakah cerita ini spesial atau tidak, namun entah mengapa perasaan saya memaksa untuk bercerita. Lagi pula, lama juga saya tidak menulis lepas tanpa harus direncanakan.

Jadi, sore tadi saya menjadi penumpang uber motor untuk menuju ke fX Sudirman. Ketika melewati jalan Mampang Prapatan, tanpa saya sengaja tumbler kuning saya jatuh berguling-guling hingga ke tepi jalan. Untung saat itu tidak ada kendaraan lain yang menabraknya. Jika tidak, tentulah saya merasa kasihan. Ia pasti remuk redam.

Dengan kecepatan motor kira-kira 50-60 km per jam, saya ingin bilang ke supir uber untuk berhenti. Namun saya urungkan niat saya tersebut sembari menggurutu dalam hati. Setelah cukup jauh, saya baru kemudian menyesal namun tidak memungkinkan lagi untuk berhenti dan menyelamatkan tumbler yang digandrungi ibu-ibu itu.

Dalam hati terjadi percekcokan kecil. “Ah, harusnya berhenti!” Namun saya tidak berhenti. Motor terus melaju menyisir jalanan ibu kota. Berulangkali saya meyakinkan diri sendiri bahwa takada gunanya mengumpati kebodohan yang terang-terangan saya lakukan. Akhirnya, saya berusaha menerima kenyataan bahwa sore itu, saya resmi berpisah dengan “Si Botol Berwarna Kuning”.

Kemacetan di jalan Mampang Prapatan mulai menggeliat. Seketika kecepatan motor kamipun melambat. Tiba-tiba dari sisi kiri, ada dua orang pengendara motor yaitu mba-mba menghampiri kami sembari menyerahkan botol kuning saya.

“Mas, ini botolnya kan?”

“Iya mba, benar itu botol saya!”

Saya kaget. Saya terharu. Saya takjub dengan kebaikan hati mba-mba tadi. Saya pikir saya benar-benar berpisah dengan tumbler kesayangan saya. Saya pikir, botol itu sudah rezeki orang lain. Nyatanya saya salah besar. Ah, saya jadi merinding sendiri.

Hikmah dari kejadian sore tadi: bahwa rezeki setiap anak cucu adam tidak akan pernah tertukar.

Sekuat apapun kita mengklaim bahwa itu rezeki kita, maka jika Tuhan menetapkan bahwa itu bukan rezeki kita, maka yang terjadi terjadilah. Sebaliknya, jika Tuhan menetapkan sesuatu menjadi hak kita, menjadi rezeki kita, maka semesta akan berkonspirasi agar sesuatu itu layak untuk kita miliki.

Terima kasih untuk mereka yang masih peduli dan baik hatinya.

Jakarta,

12 Juli 2017.

 

Puluhan Januari Telah Terlewati

Processed with VSCO
Senja di Jakarta pada akhir Januari. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Saya adalah seorang pria pemuja kata-kata, sungguh. Saya selalu kagum dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah kalimat dan paragraf yang bermakna.

Sepekan yang lalu, saya menonton film yang berjudul “The Light Between Oceans,” sebuah film yang dirilis pada tahun 2016 yang diperankan dengan sangat baik oleh Michael Fassbender dan Alicia Vicander. Film tersebut berkisah tentang seorang penjaga mercusuar dan istrinya yang tinggal di sebuah pulau bernama Janus Rock. Dua tahun setelah pernikahan mereka, pasangan tersebut menemukan kapal sekoci yang membawa dua orang penumpang; seorang pria dan bayi perempuan. Bagaimana kisah selanjutnya? Silakan ditonton.

Akan tetapi, pada tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang-lebar tentang film yang mendapatkan rating 7,2 oleh satu situs IMDb. Lantas, apa yang ingin saya bagikan? Belakangan ini, saya terusik dengan sebuah pertanyaan, “Apakah standar utama yang membuat suatu karya, misalnya film, layak dinobatkan sebagai karya yang fenomenal?” Lama, lama sekali saya berpikir tentang hal tersebut hingga pada akhirnya saya menemukan simpulan yang paling tepat menurut perspektif saya sendiri. Bagi saya secara personal, film yang baik adalah film yang membuat saya merenung: memikirkan setiap dialog, adegan, dan semua tanda yang ditampilkan dalam film, baik kasat mata maupun tersirat.

Salah satu kutipan pada film “The Light Between Oceans” yang membuat saya impresif yaitu, “You only have to forgive once. To resent, you have to do it all day, every day.” Ungkapan ini membuat hati saya gusar. Membuat memori masa silam hadir kembali dengan cuplikan yang lebih utuh, lebih jelas. Ada banyak luka-luka di dalam hati saya yang belum sembuh hingga sekarang. Setiap hari, saya masih merasakan luka yang sama, tidak kurang sedikitpun. Berulang kali saya mencoba melupakannya. Nyatanya tidak semudah yang saya kira. Entahlah, barangkali saya memang belum bisa ikhlas atau mungkin masih ada hal yang belum tuntas. Saya pun tidak tahu harus menerjemahkannya seperti apa perasaan yang meliputi ruang hati saya. Namun satu hal yang pasti, saya memang harus mulai memaafkan dan berdamai dengan diri saya sendiri. Terkadang saya berpikir, saya terlalu keras dengan diri saya sendiri. Mulai hari ini, saat Januari telah pergi, saya mulai mencoba menjadi diri yang baru setiap harinya. Seorang anak manusia yang ingin memiliki hidup yang bahagia.

Januari, kini entah di orbit mana engkau berada? Saya pun alfa tentang hal itu. Ada satu rahasia yang ingin saya sampaikan padamu, “Tahukah kamu, kehadiranmu sungguh berarti. Engkau berada di dua garis yang berbeda. Satu wajahmu menghadap ke masa lalu (bulan Desember), satu lagi wajahmu menghadap ke masa depan (Februari). Bisakah kau sedikit mendoakan saya?

Jakarta,

1 Februari 2017