Hari-Hari Tanpa Social Media


 

WhatsAppImage2020-02-07at3.47.36PM
Photo by Mahfud Achyar

Rabu malam, 7 Agustus 2019, usai nonton film “Spider-Man: Far From Home” di bioskop, saya masuk ke aplikasi Instagram. Niat hati ingin berselancar di dunia maya untuk mengetahui aktivitas terbaru dari orang-orang yang saya ikuti, malah yang saya dapatkan kabar buruk dari Instagram.

Ketika hendak saya log in, tiba-tiba muncul notifikasi, “Error. Your account has been disabled for violating our terms…” Sontak saya panik. Mengapa saya tidak bisa log in? Mungkinkah saya lupa kata sandi? Atau jangan-jangan, ada yang membajak akun Instagram saya? Saya berupaya menenangkan diri walau sejujurnya saat itu jantung saya berdegup kencang.

Saya bingung bercampur was-was. Saya khawatir ada yang membajak akun Instagram saya. Lalu, saya menghubungi seorang teman untuk menanyakan solusi atas kasus yang saya alami. Katanya, coba lapor dulu ke Instagram. “Semoga segera balik ya!” tulisnya singkat.

Akhirnya, prosedur yang disampaikan teman saya tadi saya lakukan. Berharap Instagram keliru lantaran sudah menutup akun saya. Sembari menunggu umpan balik dari Instagram, sayapun menelusuri artikel-artikel yang memuat informasi tentang kasus yang saya alami. Beberapa artikel menyebut bahwa penutupan akun yang dilakukan Instagram lantaran pengguna Instagram yang melanggar aturan yang dibuat untuk menciptakan rasa aman dan nyaman dalam komunitas Instagram.

Saya kemudian mundur ke belakang, memikirkan apakah memang saya termasuk pengguna Instagram yang buruk? Rasanya tidak. Foto terakhir yang saya unggah yaitu foto bersama teman-teman usai penutupan sebuah acara di Taman Ismail Marzuki. Lagi pula, saya tidak begitu sering memperbarui konten Instagram, entah itu Instagram Stories atau Feed. Selain itu, jika boleh memberikan penilaian terhadap diri sendiri, rasanya saya termasuk pengguna media sosial yang bijak.

Lagi, saya dibuat bingung oleh Instagram, mengapa dari sekian banyak pengguna, justru akun saya yang ditutup? Namun daripada terus bertanya-tanya tanpa ada jawaban yang jelas, akhirnya saya memutuskan untuk rehat menggunakan social media, khususnya Instagram.

Suatu malam di sebuah kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan, saya pernah membuka topik diskusi di hadapan teman-teman saya. Saat itu, saya katakan pada mereka saya lelah main social media. Saya katakan pada mereka, social media terutama Instagram, takubahnya seperti etalase di sebuah butik mewah. Pengguna Instragram, kerap kali hanya menampilkan konten-konten yang indah di akun mereka; foto liburan di pantai atau gunung, menyeruput secangkir cappucino di salah satu kafe ternama, promosi jabatan atau wisuda, dan aktivitas yang menyenangkan lainnya. Jarang sekali orang-orang menampilkan kisah sedih atau kisah gagal tentang hidup mereka. Jikapun ada, barangkali takbanyak. Namun begitulah manusia, siapa yang mau dibilang orang gagal? Siapa yang mau dibilang orang yang menyedihkan? Cukuplah hal-hal yang indah saja yang dibagikan di social media. Bukankah begitu?

Pada akhirnya, Instagram menciptakan rekonstruksi sosial. Kebahagiaan seseorang dinilai dari konten yang mereka bagikan di Instagram; berapa jumlah followers-nya, berapa jumlah likes-nya, seberapa tinggi engagement-nya, seberapa bagus tone fotonya, seberapa rapi feed-nya, dan hal-hal superficial lainnya. Terkesan begitu chessy namun begitulah paradoks yang terjadi di Instagram.

Sebagai seorang communications specialist, saya tahu persis cara kerja Instagram. Pengetahuan yang saya miliki, saya gunakan untuk memaksimalkan fungsi Instagram sehingga dapat memberikan dampak yang besar. Orang-orang yang sangat concern dan passionate terhadap konten biasanya disebut dengan istilah influencer. Ada juga yang menyebutnya content creator. Bebas.

Secara sederhana, begini cara kerja seorang influencer atau content creator; pikirkan konten yang akan dibagikan, tentukan prime time yang tepat, maksimalkan berbagai jenis aplikasi untuk menyunting foto/video (bergantung konten yang akan dibagikan), pikirkan caption yang kuat, kemudian selanjutnya ucapkan mantra, “Instagram, please do your magic!”

Ketika konten sudah dibagikan, persoalan tidak lantas selesai. Kita harus selalu memantau pergerakan jumlah likes, siapa saja yang meninggalkan komentar, seberapa jauh jangkauan konten kita terhadap pengguna lain, dan hal-hal yang melelahkan lainnya. Kerap kali juga, kita tidak puas dengan konten yang sudah kita bagikan sehingga kita mengarsip konten yang sudah tayang.

Melakukan hal tersebut kadang menyenangkan, namun lebih seringnya melelahkan. Menyenangkan karena melatih kreativitas kita untuk membuat konten yang menarik, konten yang impactful. Melelahkan karena kita begitu bergantung dengan penilaian orang lain. Jika yang menyukai konten kita sedikit, kita merasa sedih. Jika yang menyukai konten kita banyak, kita merasa bangga. Seolah-olah kita begitu haus pengakuan dari orang lain. Padahal jika niat kita memang untuk berkarya mengapa kita terlalu risau jika karya kita tidak diapresiasi orang lain? Berkarya saja. Jika ada yang mengapresiasi, anggap saja itu bonus.

Persoalan berikutnya, social media juga membuat kita tidak pernah merasa cukup dengan diri kita sendiri. Kita seringkali membandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Seperti kata pepatah, “Rumput tetangga terlihat lebih hijau.” Padahal bisa jadi, rumput kita kering kerontang lantaran tidak dirawat dengan baik.

Ingin sekali berpikiran positif bahwa apa yang terlihat di Instagram belum tentu semenarik itu. Rumput tetangga mungkin terlihat hijau, padahal mungkin saja rumput yang mereka punya sebenarnya adalah rumput sintetis. Namun sialnya, kadang kita tidak dapat mengontrol pikiran kita. Paparan konten di Instagram yang begitu intens, takjarang membuat kita merasa, “Kok hidup kita begini-begini saja sementara teman-teman kita hidupnya tampak sempurna?” Lantas, kita menyalahkan diri sendiri lantaran dewi fortuna tidak berpihak pada kita.

Selain itu, social media takubahnya seperti jendela berukuran kecil. Semua orang mengintip kehidupan orang lain melalui jendela kecil itu. Kita menerka-nerka kehidupan orang lain dari konten yang mereka bagikan. Lalu, kita bertransformasi menjadi cenayang yang seolah tahu betul detail kehidupan orang lain hanya dengan mengintipnya melalui jendela kecil.

Seorang teman, pernah mengutarakan kekecewaannya lantaran tidak diajak olahraga bersama oleh temannya. Hal itu terjadi tidak lama setelah ia melihat Instagram Stories temannya. Ia merasa tidak dianggap, ia merasa ditinggal. Padahal, apa yang ia pikirkan belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada. Bisa jadi, itu konten lama yang baru sempat ia unggah, atau sebenarnya sah-sah saja jika temannya tidak mengajaknya olahraga bersama. Bukankah itu hal yang biasa? Namun nyatanya, apa yang kita anggap biasa, belum tentu biasa bagi orang lain. Setiap orang berbeda-beda dalam menyikapi suatu hal.Tidak boleh kita pukul rata.

Sekelumit keresahan saya tentang social media khususnya Instagram, membuat saya berpikir ulang, “Untuk apa saya main social media jika saya mudah cemas, mudah khawatir, merasa rendah diri, merasa tidak pernah cukup, dan perasaaan-perasaan tidak enak lainnya?” Harusnya, social media menjadi medium yang menyenangkan! Bukan malah menjadi pemacu yang membuat kesehatan mental saya terganggu.

Menyadari bahwa social media justru membuat hati saya tidak tenang, membuat saya tidak pernah merasa cukup dengan diri saya sendiri, ditambah hilangnya akun Instagram saya—membuat saya merenung dan mengambil keputusan, “Mungkin tiba waktunya saat beristirahat menggunakan social media.”

Satu bulan berlalu, akun Instragam saya tidak pernah kembali. Selamat tinggal followers yang sudah mencapai angka ribuan, selamat tinggal konten yang saya buat sedemikian rupa, dan selamat tinggal perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan.

Tidak lama berselang, akhirnya saya membuat akun Instagram baru. Namun bedanya, akun saya saat ini digembok. Saya hanya mengikuti teman-teman dekat, orang-orang yang saya pikir baik untuk kesehatan mental saya, dan beberapa akun lainnya yang menarik untuk diikuti.

Sekarang, saya merasa lebih tenang. Saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu. Saya juga menemukan kembali diri saya yang lama, bahwa saya memang orang yang sangat tertutup. Saya hanya berbagi dengan orang-orang yang saya kenal. Saya ternyata tidak nyaman jika kehidupan saya dilihat oleh orang-orang yang tidak saya kenal. Jika social media diibaratkan seperti rumah, rasanya saya hanya akan membuka pintu rumah untuk orang-orang yang saya izinkan saja.

Bagi saya, jumlah likes dan sebagainya tidak lagi penting. Hal yang paling penting untuk saya saat ini yaitu inner peace. Saat kembali bermain social media, mungkin saya akan dihadapkan lagi persoalan yang sama, namun ketika saya sudah memiliki inner peace lebih mudah untuk saya mengelola pikiran dan perasaan saya. Saya jadi teringat pesan Stewart Udall, If you want inner peace, find it in solitude, not speed, and if you would find yourself, look the land from which you came and to which you go.”

 

Jakarta,

7 Februari 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s