Menyimpan Masalah di Kantong Celana

IMG_5634
Autumn in Yogyakarta (2017) Photo by. Mahfud Achyar

“Aku amati, kamu seperti tidak punya masalah ya? Dari tadi, aku sudah cerita banyak tentang masalah-masalah yang hinggap di hidupku. Masalah pekerjaan, masalah asmara, dan masalah keluarga. Aku heran masalah datang silih berganti dalam hidupku,” ujar seorang sahabat mengganti topik pembicaraan malam itu, usai pulang kantor.

Saya pun langsung terperanjak. Sungguh, pertanyaan spontan yang keluar dari mulut sahabat saya tersebut membuat saya bingung. Seketika lidah saya kelu. Padahal, sejak tadi kita hanya fokus membahas permasalahan-permasalahan yang tengah ia hadapi. Lantas kemudian ia balik bertanya kepada saya, “Masalah kamu apa?”

Sejujurnya, saya bukanlah tipikal manusia yang ekspresif terutama ketika sedang menghadapi masalah. “Ekspresi muka kamu begitu-begitu saja ya?” timpal sahabat saya tadi.

Hmmm sepertinya itu benar. Eskpresi muka saya ya begitu-begitu saja. Tidak ada perubahan raut muka yang begitu mencolok. Jika saya bercermin, terkadang saya sulit membedakan eskpresi muka saya ketika kaget, cemas, marah, atau sedih. Mungkin tipikal manusia dengan minim ekspresi.

Bila saya dirundung masalah, saya jarang berbagi pada siapapun. Sejak dulu, saya tidak terbiasa curhat. Jika ada hal yang mengganjal di hati saya, saya hanya bisa diam, menyimpan rapat-rapat perasaan saya sesungguhnya. Bila terpaksa berbagi, saya hanya mengutarakan bagian ‘kulitnya’ saja. Mungkin ada beberapa sahabat yang membuat saya nyaman untuk bercerita banyak hal. Pada mereka, saya mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan mendengar keluh kesah saya.

Dulu, saya berpikir, orang yang sering curhat adalah orang yang lemah. Seolah mereka tidak kuasa menanggung beban yang menggelayut di pundak mereka.

Takdinyana, ternyata prinsip kuno seperti itu terus saya pupuk dan saya rawat. Saya enggan untuk bercerita kepada siapapun, termasuk kepada keluarga saya sendiri. Saya benar-benar setertutup itu. Seolah tidak mengizinkan seorangpun tahu apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang saya harapkan. Saya hanya bercerita kepada Tuhan perihal perasaan saya. Sebab, hanya Dia yang tahu apa yang sesungguhnya ada di dalam hati dan pikiran saya.

Akan tetapi, sekarang saya menyadari bahwa sesungguhnya kita perlu menyalurkan emosi kita kepada orang lain—entah itu sahabat, pasangan, atau keluarga. Kehadiran mereka mungkin tidak serta merta menyelesaikan permasalah yang kita alami. Namun ketika berbagi, hati kita merasa lega. Setidaknya kita mulai membuka diri bahwa ada orang-orang yang bisa kita percaya. Tanpa kepercayaan, kita hanyalah sekumpulan manusia yang hatinya diliputi prasangka dan curiga.

“Tidak ada masalah yang terlalu besar. Tenang, sejauh ini semuanya masih bisa ditangani dengan baik,” jawab saya diplomatis.

Kala itu, saya sama sekali tidak bermaksud berbohong kepada sahabat saya. Memang, ada beberapa masalah yang sedang saya hadapi. Namun, setelah mendengar curhat darinya, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi tidak ada artinya.

“Setiap orang punya masalah. Bedanya hanya terletak dari cara kita menghadapinya,” kata sahabat saya yang lainnya yang bernama Dea Tantyo pada suatu ketika di Jatinangor.

Buah pikiran Dea selalu melekat di benak saya hingga saat ini. Saya amati, memang benar adanya apa yang dikatakan Dea. Setiap orang punya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah.

Ada beberapa orang bila memiliki masalah atau bermasalah dengan orang lain, mereka lantas mengumbarnya di jejaring media sosial. Sayapun bingung entah apa tujuan mereka? Mungkin untuk melampiaskan kekesalalan atau bisa jadi untuk menyindir orang yang sedang bertikai dengannya. Saya bahkan pernah menjadi orang yang disindir atau merasa tersindir ketika hubungan saya dengan teman saya sedang tidak harmonis.

Kerap kali saya juga ingin membalas sindir-menyindir di media sosial. Namun kemudian saya berpikir, “Jika saya melakukan hal yang sama, lantas apa yang membedakan saya dengannya? Saya tidak membuat perbedaan sama sekali,” saya membatin.

Seorang dosen saya yang bernama Pak Irwansyah pernah berpesan ketika sesi perkuliahan di lantai 22 di daerah bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih pesannya seperti ini, “Ketika kalian masuk ke dunia digital. Maka berhati-hatilah. Sebab, apa yang kalian tulis dan konten yang kalian produksi akan terekam dengan baik.”

Malam itu, usai perkuliahan, saya mulai merefleksi diri agaknya banyak hal buruk sudah saya tinggalkan di media sosial. Banyak sahutan yang takberguna dan banyak keluh kesah yang tidak pada tempatnya.

Dulu, saya sangat reaktif. Mudah sekali mengomentari apapun yang tidak sejalan dengan pemikiran saya. Semuanya saya tumpahkan di media sosial. Jika ada masalah personal pun, saya juga terkadang curhat colongan di media sosial dengan menggunakan ragam gaya bahasa agar pesannya terlihat samar.

Jika dipikir-pikir lagi, apa gunanya saya curhat di media sosial?Agar dunia tahu saya sedang sengsara? Agar dunia bersimpati kepada saya? Padahal, ketika saya curhat di media sosial, orang-orang yang membaca curhatan saya tidak benar-benar ingin membantu saya. Mereka mungkin hanya penasaran terhadap masalah saya. Sisanya hanya akan mencibir bahwa saya tidak cukup berani menyelesaikan masalah secara langsung di dunia nyata.

Seharusnya kita lebih selektif untuk berbagi resah. Seperti perkataan Charity Barnum, “You don’t need everyone to love you, Phin, just a few good people”.

Sungguh, berulang kali, kita selalu diingatkan bahwa Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Jika sedang tidak punya masalah berat, nasehat tersebut begitu mudah saya terima. Namun sialnya ketika saya dirundung masalah berat, saya merasa Tuhan tidak adil kepada saya. Mengapa dari sekian milyar manusia di bumi ini sayalah yang terpilih untuk menanggung beban berat (dalam perspektif saya)? Seharusnya saya berlapang dada bahwasanya masalah seharusnya membuat saya kian kuat, kian naik kelas, dan kian hebat.

Jika saya mendapatkan masalah atau ujian yang sama, artinya saya belum layak naik level ke level yang lebih tinggi. Kata Nicole Reed, “Sometimes the bad things that happen in our lives put us directly on the path to the best things that will ever happen to us.”

Tentang menyikapi masalah secara bijak, beruntungnya saya di kelilingi oleh orang-orang yang hebat. Pada mereka saya belajar bahwa apapun masalah yang sedang kita hadapi, percayalah akan ada cara untuk menyudahinya. Semuanya akan dipergilirkan. Adalah waktu yang menjawab segalanya. Lambat atau cepat semuanya kini terasa relatif.

Jika masalah takubahnya seperti secarik kertas yang sudah remuk, maka mungkin ada baiknya kita menyimpannya di kantong celana. Suatu saat, kertas remuk itu akan kita buang. Ia akan pergi bersama aliran air hujan yang turun di penghujung April.

         Jakarta, 16 April 2018

Advertisements

Sorry, It’s My Fault

DSC_0626
Contemplating.

Rasanya, takada satupun manusia yang tidak pernah berbuat salah, takterkecuali manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Ialah Adam, seorang anak manusia yang melanggar perintah Tuhan untuk tidak mendekati pohon khuldi, apalagi memakannya. Namun Adam melanggar larangan Tuhan sehingga ia dan istrinya, Hawa harus meninggalkan syurga.

Salah. Barangkali merupakan salah satu sifat yang sukar dicabut dalam diri manusia. Selama manusia masih bernapas dan masih dikategorikan sebagai manusia dalam perspektif biologis, maka ia akan terus berbuat salah. Akan terus seperti itu. Hanya mungkin intensitas dan tingkat kesalahan yang dibuat oleh manusia berbeda-beda.

  Salah. Kerap kali ia tidak diinginkan untuk menemani proses kehidupan manusia. Setiap manusia mungkin menginginkan kesempurnaan. Everything must be perfect. Padahal, ketika manusia berpikiran segala sesuatunya harus sempurna, maka ia berusaha lepas dari kodrat seorang manusia: berbuat salah.

      “All people make mistakes. But only the wise will learn from their mistakes.” – Anonymous

      Akan tetapi menjadi celaka, banyak orang yang enggan jika jari telunjuk mengarah ke mukanya: ia dipersalahkan. Lantas yang terjadi ia memasang pertahanan yang kuat. Ia takingin orang-orang mengusik harga dirinya dengan menjadi orang yang salah.

Jika begini ceritanya, semua orang tidak ingin dipersalahkan. Lantas siapa yang harus disalahkan? Apakah kesalahan itu sendiri?

Tentang mengakui kesalahan, mengapa jarang manusia enggan melakukannya. Seolah-olah menjadi orang yang salah membuat langit runtuh dan bumi bergoncang dengan hebat. Padahal, sejatinya kita mafhum bahwa manusia seringkali berbuat salah, sering kali alpa, dan sering kali membuat kecewa. Namun bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatakan kedua? Everyone deserves a second chance. Namun dengan catatan, not for the same mistake. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang tidak ingin jatuh di lubang yang sama.

Maka jika kita memang melakukan kesalahan, untuk apa malu mengakuinya? Jadilah orang-orang yang pemberani. Jika memang terlanjur berbuat salah, introspeksi dirilah. Berbenahlah. Berkontemplasilah.

      Jika maaf takberhasil kita kantongi, beri jeda. Barangkali butuh waktu yang lama untuk seseorang ikhlas memaafkan segala kesalahan-kesalahan kita. Selalu percaya, bahwa hal baik akan selalu dibalas dengan hal-hal yang jauh lebih indah.

Tentang kesalahan, kita belajar tidak hanya meminta maaf kepada orang lain. Namun juga belajar memaafkan diri sendiri. Terkadang yang paling sulit dari semua proses rekonsiliasi kesalahan adalah berdamai dengan diri sendiri. Kerap kali hati kita hancur berkeping-keping. Rasa perih membuat kita merasa layak untuk dibenci. Membuat kita berkata, “Biarlah saya menanggung beban ini sendirian hingga takada lagi rasa sakit yang bisa dirasakan.”

Yakinlah satu hal, kesalahan-kesalahan yang kita perbuat tidak lantas membuat dunia ini benar-benar kiamat. Bukankah Tuhan Maha Pengampun? Yakini itu.

Jakarta, 6 November 2017.

 

 

 

Ketika Sahabat Baik Kita Menikah

Processed with VSCO with hb1 preset

Suatu ketika, salah seorang sahabat saya meninggalkan sebuah pesan di grup WhatsApp. Pesannya, “Nanti kalau Dan (bukan nama sebenarnya) menikah, pasti kita akan jarang lagi kumpul-kumpul ya?” Tidak lama setelah sahabat saya menulis pesan, selang beberapa menit salah seorang sahabat saya yang akan menikah menimpali pesan yang bernada pesimistis tersebut. “Ya kumpul-kumpul aja. Tidak ada perubahan berarti kok. Namun mungkin intensitasnya saja yang tidak sama.”

Saya pun hanya bisa mengamati obrolan mereka tanpa harus ikut terlibat. Saya sungkan untuk mengemukakan pendapat. Lagi pula, setelah saya pikir-pikir lagi, menikah ataupun belum, kondisinya memang kami tidak setiap hari atau setiap pekan bertemu. Jika ada momen-momen tertentu, barulah kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Misalnya, salah seorang sahabat saya merayakan pergantian usia atau tiba-tiba kami semua tertarik untuk menonton film terbaru di bioskop.

Kembali ke pertanyaan sahabat saya tadi, bagaimana perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah? Jujur, dulu ketika saya tahu ada sahabat saya yang akan menikah, saya merasa seperti kehilangan. Agaknya berlebihan jika saya sempat merasakan hal demikan. Namun apa boleh buat, kondisi batin yang saya alami pada saat itu memang begitu adanya. Takdapat disangkal. Betapa tidak, kami terbiasa melakukan berbagai hal bersama, namun pernikahan membuat semuanya berubah. Kata Keane, “….I try to stay awake and remember my name. But everybody’s changing. And I don’t feel the same.”

Akan tetapi, semakin saya dewasa, semakin bertambah usia, saya sadar bahwa pada akhirnya setiap manusia bertranformasi dari satu fase ke fase yang lain, dari sudut pandang satu ke sudut pandang yang lain. Pun demikian, semua hal-hal baik akan terus kekal. Percayalah, rasanya masih akan tetap sama.

Sebagai seorang sahabat yang belum menikah, saya tidak mungkin menahan sahabat saya sembari berkata, “Hai, bisa tunggu saya sedikit lebih lama hingga saya juga menemukan teman hidup?”

Saya tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun, termasuk sahabat dekat saya sendiri. Justru sebaliknya, sayalah orang yang paling bahagia ketika mengetahui bahwa sahabat baik saya telah menemukan teman berbagi, baik dalam kondisi suka maupun duka. Upaya terbaik yang bisa saya curahkan hanyalah berdoa semoga hatinya selalu diliputi ketenangan, kenyamanan, dan rasa syukur.

Kendati demikian, memang tidak bisa saya pungkiri bahwa pada akhirnya waktu mengubah segalanya. Jika dulu, indikator hubungan persahabatan yang sehat dinilai dari seberapa intens kita berkomunikasi dan bertemu, kini mengetahui sahabat kita dalam kondisi sehat, bahagia, dan baik-baik saja–saya rasa itu lebih dari cukup. Sesekali saya hanya bisa mengamati kondisi mereka dari lini media sosial. Terkadang saya beranikan diri untuk menanyakan kabar, memastikan kabar sahabat saya baik-baik saja. Namun sejak menikah, tentunya komunikasi antara kami mulai dibatasi. Saya pikir hal tersebut sudah selayaknya dilakukan oleh orang dewasa. Tujuannya taklain hanya untuk sama-sama menjaga peran.

Beruntung, saya memiliki sahabat dekat tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Saya pikir dulu tidak dikenal persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Saya khawatir “rasa” merusak makna persahabatan itu sendiri. Namun agaknya saya salah. Buktinya, saya memiliki sahabat perempuan yang sangat baik; mendukung saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Saya beruntung mengenal dan menjadi sahabat mereka.

Pernikahan memang mengubah hubungan persahabatan. Namun tidak mengubah banyak hal. Memang ada beberapa sahabat saya setelah menikah menyebabkan komunikasi di antara kami tidak sebaik dulu. Sayapun mafhum dengan kondisi tersebut. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, sejatinya mereka telah lahir menjadi manusia yang baru: ia memiliki tanggung jawab yang baru, peran yang baru, dan tentunya prioritas yang baru.

Kata Mama saya, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahiim.” Beberapa kesempatan, saya mengirim pesan kepada sahabat-sahabat saya sudah mulai lost contact seperti menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun, atau mengirim kutipan-kutipan inspiratif. Saya berupaya menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat saya walau kini kami sudah terpisah dalam interval yang cukup jauh.

Saya pernah bercerita kepada sahabat saya bahwa semua doa-doa anak manusia diijabah oleh Tuhan. Ada yang dijawab langsung, ada yang ditunda, dan ada yang diganti dalam bentuk lain. Saya berkeyakinan bahwa memiliki sahabat-sahabat yang baik, positif, dan inspiratif merupakan jawaban doa dari Tuhan yang diganti dengan bentuk lain. Saya tidak henti-hentinya untuk mensyukuri hal tersebut hingga detik ini. Anugrah dari langit untuk penduduk bumi.

Ada hal yang menarik yang saya amati dari lingkaran persahabatan saya, kendati dari mereka sudah banyak menikah namun nyatanya kami masih bersahabat dengan baik. Bahkan, pasangan mereka (istri/suami) menjadi sahabat baik saya juga. Rasa-rasanya saya tidak akan pernah merasa kehilangan mereka. Jadi, kembali lagi pada pertanyaan, “Seperti apa perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah?” Hati saya diliputi kebahagiaan. Bahagia mereka adalah bahagia saya. Duka mereka adalah duka saya. Begitulah adanya. Tidak ada yang pernah berubah: hari ini, esok, dan seterusnya.

Terakhir, izinkan saya mengutip perkataan Elbert Hubbard, “A friend is someone who knows all about you and still loves you.”

Jakarta,

29 Juli 2017.