Berbagi Harapan

Sore di Jakarta. Captured by Mahfud Achyar.

Seorang senior di kampus pernah berkata, “Yar, tahu nggak apa itu bersyukur? Bersyukur berarti mendayagunakan potensi yang kita miliki untuk kebermanfaatan.” Pesan tersebut sangat membekas bagi saya. Dulu, saya berpikir wujud syukur hanyalah sebatas berterima kasih kepada Tuhan atas kebaikan hidup yang telah Ia berikan. Namun ternyata, syukur tidak hanya sebatas berterima kasih. Lebih jauh, bentuk syukur yang paling tinggi yaitu saat kita menyadari bahwa kita hidup tidak hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain.

Satu dari sekian banyak hal saya syukuri dalam hidup ini yaitu saya hampir tidak pernah dirawat di rumah sakit. Sejak kecil, saya tidak menyukai rumah sakit. Memori saya tentang rumah sakit buruk: lantai keramik yang dingin, aroma obat-obatan, dinding-dinding yang pucat pasi, dan aura kesedihan yang menyeruak melalui fentilasi kamar mayat.

Ketika kecil, saya pernah ke rumah sakit untuk beberapa urusan seperti membesuk keluarga yang sakit, mengantar mama melahirkan, dan menunggu anggota keluarga yang menjalani operasi. Saya berdoa pada Tuhan agar saya tidak perlu dirawat di rumah sakit. Jikapun saya sakit, saya meminta sakit yang ringan-ringan saja sehingga tidak perlu dirawat.

Kata mama, saya pernah dirawat di rumah sakit lantaran sakit tifus. Tapi usia saya waktu itu kira-kira dua atau tiga tahun. Sejujurnya, saya tidak memiliki ingatan tentang masa itu. Hingga sekarang, saya beruntung belum pernah dirawat di rumah sakit. Sebuah berkah yang patut saya syukuri. Sebuah berkah yang tidak pernah ingin saya tukar dengan siapapun. Saya benci dirawat bukan karena saya benci rumah sakit. Saya hanya benci merepotkan orang lain, termasuk keluarga sendiri.

Saya bertekad untuk hidup sehat. Jika tubuh saya sehat, maka saya dapat membantu orang lain. Jika dibandingkan orang yang benar-benar menerapkan pola hidup sehat, saya masih jauh. Namun, saya ingin memulai dari yang sederhana: berusaha mengontrol zat yang masuk ke dalam tubuh saya.

Di keluarga, saya satu-satunya pria yang tidak merokok. Saya heran mengapa banyak sekali orang-orang, terutama pria, yang senang merokok? Saya pernah mencobanya beberapa kali ketika di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kata teman saya, merokok itu menenangkan. Sayapun mengikuti sarannya. Saat masalah menimpa saya, saya coba mendistraksi pikiran saya dengan merokok. Hasilnya? Buruk. Alih-alih mendapatkan ketenangan, saya merasa bodoh karena telah menghisap tembakau yang rasanya pahit dan kecut. Saya tidak menemukan kenikmatan apapun dengan merokok.

Kesehatan adalah tanggung jawab masing-masing individu. Bukan tanggung jawab orang tua, teman, atau pasangan. Sebisa mungkin, saya berjanji pada tubuh saya bahwa saya tidak akan merusaknya. Semoga saja janji ini akan selalu saya pegang.

Kabar baik dari manfaat menerapkan pola hidup sehat, kita dapat berbagi harapan dengan orang lain. Seperti kata John Lennon, “What we’ve got to do is keep hope alive. Because without it we’ll sink”. Salah satu upaya yang baru bisa saya lakukan untuk menjaga harapan tetap hidup adalah mendonorkan darah yang saya miliki untuk mereka yang membutuhkan.

Banyak orang yang takut dengan donor darah, termasuk saya. Dulu, ketika di bangku Sekolah Dasar, saya paling takut jika guru mengumumkan bahwa akan dilakukan imunisasi untuk semua murid. Pikiran saya sudah kalut. Membayangkan lengan saya akan disuntik. “Ah, pasti rasanya sakit sekali,” saya membatin.

Akan tetapi, guru saya selalu mengingatkan bahwa sakit disuntik itu tidak ubahnya seperti digigit semut. Nyatanya? Tidak sama sekali. Jauh lebih sakit dibandingkan gigitan semut manapun pernah menggigit saya. Mungkin akan beda jika ada jenis semut lain yang menggigit persis seperti jarum suntik. Bisa jadi.

Ketika di kampus, untuk pertama kalinya saya putuskan donor darah. Saat itu, salah seorang teman saya dari Fakultas Kedokteran menjadi panitia donor darah. Kegiatan donor darah rutin dilaksanakan oleh fakultasnya. Teman saya yang pertama kali mengetes golongan darah saya kemudian mengantarkan saya kepada petugas Palang Merah Indonesia (PMI) untuk selanjutnya dilakukan pengambilan darah.

Apa yang saya rasakan untuk pertama kalinya donor darah? Lega dan bahagia. Lega karena ternyata donor darah tidak menakutkan seperti yang saya bayangkan. Memang terasa sakit saat jarum suntik berhasil menembus kulit dan mencapai pembuluh darah. Namun rasa sakitnya memang tidak seberapa. Saya pernah mengalami rasa sakit yang lebih parah dibandingkan disuntik. Serius.

Lega berikutnya karena ternyata saya bisa lolos donor darah. Banyak di antara pendonor yang takberhasil donor darah lantaran kadar hemoglobin darah yang kurang atau tekanan darah yang rendah. Kadar hemoglobin darah calon pendonor sekurang-kurangnya 12,5 gram/desiliter (g/dl) dan tekanan darah normal berkisar antara sistole 110-160 mmHG, diastole 70-100 mmHg.

Saya bahagia karena bisa membantu orang lain, khususnya mereka yang membutuhkan pertolongan secepatnya. Saya pernah mengobrol dengan petugas PMI yang mengatakan persediaan darah di PMI kerap kali terbatas. Menurut perhitungan WHO, kebutuhan darah 2% dari jumlah penduduk atau secara nasional 5,2 juta kantong darah yang dibutuhkan Indonesia setiap tahunnya. Secara data, kebutuhan itu baru terpenuhi sekitar 92% yang berasal dari PMI.

Ketika Ramadan apalagi seperti masa pandemi COVID-19, jumlah kantong darah yang tersedia di PMI kian terbatas. Padahal, permintaan darah selalu tinggi khususnya untuk pasien thalassemia (kelainan darah yang diakibatkan oleh faktor genetika) dan ibu melahirkan. “Biasanya, PMI datang ke kantor-kantor untuk mengambil darah. Namun di masa pandemi COVID-19, kantor-kantor tutup. Jadi, kami hanya mengandalkan pendonor yang sukarela datang ke PMI,” ujar seorang dokter yang bertugas di PMI Provinsi DKI Jakarta.

Bagi saya, donor darah adalah merayakan rasa syukur. Saya beruntung menjadi satu dari sekian banyak orang yang dapat mendonorkan darah. Saya tidak tahu apakah esok atau hari-hari berikutnya, saya masih dapat donor darah. Siapa yang tahu? Jadi, saya berjanji kepada diri saya sendiri, “Selama masih sehat, saya akan terus mendonorkan darah saya,” saya berkata lirih.

Masa muda, wajah yang rupawan, dan kesehatan adalah sesuatu yang fana. Kita tidak akan pernah tahu kapan Tuhan mencabut hadiah itu dari kita. Sewaktu-waktu, mereka dapat saja pergi meninggalkan kita. Tentu sedih rasanya saat mereka pergi, kita belum dapat berbuat apa-apa. Maka selagi bisa, lakukanlah.

Hal sekecil apapun yang kita lakukan, asal dilakukan dengan hati yang ikhlas, percayalah akan ada ganjaran yang diberikan Tuhan untuk kita. Mungkin tidak akan dibalas langsung dan tidak dibalas di dunia. Namun percayalah, Tuhan akan membalasnya dalam bentuk lain, dalam bentuk yang tidak kita sangka-sangka.

Saya pernah berbincang dengan seorang teman tentang keinginan saya mendonorkan organ tubuh ketika sudah meninggal. Nampaknya ini belum lazim di Indonesia. Informasi berkaitan dengan hal itu juga masih sangat minim. Mungkin, saya perlu bertanya ke rumah sakit tentang hal ini.  Barangkali dari sekian banyak organ tubuh yang saya miliki, ada satu atau dua yang kondisinya sehat sehingga layak untuk didonorkan.

Saya berpikir bahwa kita hidup tidak lama di dunia ini. Apa yang menjadi milik kita bukan sepenuhnya milik kita. Ada orang-orang di sana yang juga membutuhkan. Mungkin ini yang disebut dengan berbagi harapan. Bahwa seseorang yang terbaring takberdaya di rumah sakit memiliki harapan lantaran ada orang-orang di luar sana yang bersedia berkorban untuknya. Mereka, bisa jadi bukan keluarga atau teman pasien, namun orang biasa yang hanya ingin berbagi harapan.

                        Jakarta,

19 Mei 2020

Satu Bulan Lebih Swakarantina: Sebuah Memoar

Foto ini diambil pada masa physical distancing oleh Mahfud Achyar.

Sudah satu bulan lebih lamanya sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan warga dunia untuk melakukan self-quarantine (swakarantina) guna menghindari pandemi COVID-19. Betapa tidak, per April 2020, seperti yang dilansir laman https://www.worldmeters.info/coronavirus, ada 3,154,442 kasus virus corona, 218,795 meninggal, dan 965,397 dinyatakan sembuh.

Sementara di Indonesia pada tanggal yang sama, ada 9,771 kasus corona, 784 meninggal, dan 1,391 dinyatakan sembuh. Angka ini akan terus terus bertambah, kendati kita berharap pandemi ini segera berakhir.

Laporan BBC Indonesia menyebut kasus pertama virus corona diketahui pada 31 Desember 2019. Namun, satu kajian yang dilakukan para peneliti China, yang diterbitkan jurnal media “The Lancet”, mengklaim kasus virus pertama virus corona terjadi 1 Desember, jauh lebih awal dari keterangan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah China.

Kemudian, kasus baru ditemukan dan kian bertambah hingga membuat panik pemerintah China. Mengantisipasi penyebaran virus corona, pemerintah China mengambil kebijakan lockdown di wilayah Wuhan. Sejak saat itu, dunia turut panik. Mungkinkah virus di China bisa menyebar ke semua negara?

Seperti yang dilansir Kompas TV, pada 12 Maret 2020, WHO akhirnya menetapkan virus corona atau COVID-19 menjadi pandemi global. Pandemi merupakan sebuah endemi yang telah menyebar ke beberapa negara atau benua yang umumnya menjangkiti banyak orang. Penetapan COVID-19 sebagai pandemi global disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss pada 11 Maret 2020.

Ia menilai penetapan status pandemi lantaran penyebaran COVID-19 yang begitu cepat dan luas hingga ke wilayah yang jauh dari pusat wabah di Wuhan, China. “Oleh karena itu, kami menilai bahwa COVID-19 dapat dikategorikan sebagai pandemi,” katanya.

Pemerintah Indonesia pada awalnya tidak begitu memusingkan virus corona. Barangkali lantaran mengira virus baru tersebut tidak akan singgah di Indonesia. Ketika banyak negara menerapkan kebijakan travel warning bagi warganya ke luar negeri, Indonesia justru mendorong warganya untuk melancong, khususnya di dalam negeri. Banyak perusahaan maskapai yang menawarkan promo tiket pesat murah sehingga membuat siapapun tergiur untuk liburan.

Indonesia dapat dikatakan cukup santai merespon merebaknya virus corona. Tidak hanya pemerintah, melainkan juga warganya. Di lini media sosial, banyak berhamburan meme tentang ‘kesaktian’ warga Indonesia sehingga tidak mungkin terinfeksi virus corona. Misalnya, meme tentang imunitas warga Indonesia tanpa batas lantaran sering makan gorengan yang dimasak menggunakan minyak jelantah. Seketika jagat maya ramai. Semua orang saling berbalas; memproduksi konten untuk menertawakan virus corona.

Akan tetapi, pada Senin (2/3/2020), warga Indonesia dikagetkan dengan pemberitaan yang mengungkap fakta bahwa telah ditemukan kasus virus corona pertama di Indonesia. Dua warga Depok, Jawa Barat positif terinfeksi virus corona. Hal itu disampaikan langsung Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto langsung dari Istana Kepresidenan di Jakarta.

Beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar bahwa salah satu sahabat saya positif COVID-19. Hal itu saya ketahui dari seorang teman di WhatsApp Group. Seketika, saya langsung mengirim pesan kepada sahabat saya tersebut. Memberi dukungan secara khusus untuknya agar dapat melalui masa karantina yang saya tahu sangat membosankan. Sekarang, kondisinya baik. Dia dan suaminya dinyatakan sembuh. Terakhir yang saya intip di media sosial, ia menjadi narasumber dalam rangka memperingati ulang tahun teleskop Hubble NASA yang ke-30 tahun.

Kasus virus corona di Indonesia setiap hari terus bertambah. Pemerintah menghimbau warganya untuk melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Sejak saat itu, semuanya berubah. Orang-orang tidak lagi bekerja ke kantor melainkan harus bekerja di rumah atau yang akrab disebut #WorkfromHome. Selain itu, institusi pendidikan juga diliburkan, rumah ibadah ditutup, dan pusat belanja kecuali toko bahan makanan juga terpaksa ditutup. Semua kegiatan berpusat di rumah masing-masing.

Kebijakan swakarantina lanjut social distancing yang kemudian diubah menjadi physical distancing mengubah perilaku manusia. Sebelumnya, manusia menyukai aktivitas sosial; menonton film di bioskop, datang ke pesta, berkumpul bersama teman di café, dan ragam aktivitas lainnya. Namun kini, aktivitas-aktivitas tersebut hanya bisa dilakukan secara virtual. Untungnya, virus corona datang di abad 21 yang menawarkan kecanggihan teknologi. Bagaimana jika kita hidup pada 1918, saat pandemi Flu Spanyol (H1N1) yang menginfeksi sekitar 500 juta orang? Tidak bisa dibayangkan.

Aktris Angelina Jolie suatu kesempatan pernah berkata, “I do belive in the old saying, ‘What does not kill you makes you stronger?’ Our experiences, good and bad, make us who we are. By overcoming difficulties, we gain strength and maturity.” Saya selalu percaya, everything happens for a reason. Percayalah, pasti selalu ada hikmah di balik semua kejadian, termasuk pandemi COVID-19.

Pandemi COVID-19 yang ditetapkan menjadi bencana nasional nonalam telah merenggut banyak nyawa, terutama mereka yang berjuang di garis terdepan seperti tenaga kesehatan. Selain itu, pandemi ini juga membuat perekonomian kita terpuruk. Banyak perusahaan yang harus merumahkan para pegawainya tanpa digaji, banyak yang terkena impas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), serta banyak keluarga miskin yang tambah miskin.

Akan tetapi, kabar yang tidak kalah menyayat hati ketika mengetahui seorang perempuan berusaha 43 tahun bernama Yulie Nuramelia yang meninggal pada Senin (20/4/2020) diduga lantaran kelaparan.

Sebelumnya, perempuan tersebut, seperti yang dilansir Vice.com, pada 21 April 2020 sempat jadi perbincangan internet karena ia dan keluarganya (satu suami dan empat anak) kedapatan dua hari mengganjal lapar hanya dengan minum air. Setelah viral, baru pada Sabtu (18/4/2020) pemerintah setempat menyalurkan bantuan kepada korban yang tinggal di kelurahan Lontar Baru, kecamatan Serang, kabupaten Serang, Banten.

Pemerintah terus berupaya menekan angka penyebaran pandemi COVID-19. Berbagai kebijakan ditempuh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta contohnya, jauh sebelum daerah-daerah lainnya, telah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Walau kebijakan ini juga patut dievaluasi lantaran kurang berjalan efektif.

Satu dari sekian banyak kebijakan Pemprov DKI yang membekas di hati saya yaitu, kebijakan mengubah hotel berbintang milik Pemprov DKI menjadi tempat tinggal sementara untuk para tenaga kesehatan yang bertugas melawan pandemi COVID-19 di Jakarta.

Setiap pulang kantor, kebetulan saya masih bekerja dari kantor, saya selalu melewati hotel yang dijadikan tempat tinggal sementara para tenaga kesehatan DKI Jakarta. Di sana, tersedia bus Transjakarta yang siap mengantar para tenaga kesehatan ke rumah sakit yang tersebar di Jakarta. Selain mendapatkan fasilitas transportasi, asupan nutrisi mereka juga sangat diperhatikan. Angkat topi untuk kemurahan hati Pemprov DKI Jakarta. Untuk para tenaga kesehatan, selamat bertugas! Kalian pahlawan kemanusiaan!

Sementara sisi baik dari pandemi COVID-19, kita memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga. Banyak yang hal yang bisa kita kerjakan di rumah. Mulai dari bersih-bersih; menyalurkan hobi entah itu hobi masak, melukis, atau membaca; mempelajari sesuatu yang baru seperti mengikuti kursus daring yang diselenggarakan secara gratis; serta olahraga bersama teman-teman secara virtual.

Nyatanya, kita masih bisa terhubung di tengah pandemi. Pun demikian, pandemi ini menyadarkan kita bahwa keluarga merupakan harta berharga yang kita miliki. Keluarga kita mungkin tidak sempurna. Namun keluargalah satu-satunya tempat terakhir kita bersandar. Mungkin di masa pandemi seperti sekarang, kita pelan-pelan memperbaiki hubungan dalam keluarga yang sempat renggang, yang sempat bertikai.

Suatu waktu, saya pernah menulis kutipan seperti ini, “Kita akan merindukan hal yang dulu dianggap sederhana, namun kita terasa sangat istimewa”. Sebelum pandemi, kita mungkin tidak hadir sepenuhnya saat berbincang bersama teman. Saat teman kita bercerita tentang pekerjaannya, kita sibuk membalas komentar di media sosial. Mungkin setelah pandemi ini berakhir, kita akan menghargai hal-hal sederhana yang bisa jadi suatu saat direnggut dari genggaman kita.

Maka benar kata  orang bijak, hiduplah untuk hari ini. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi hari esok atau lusa. Lakukan hal yang terbaik yang bisa kita lakukan hari ini. Jika kita mencintai seseorang, sampaikanlah. Jika kita pernah berbuat salah, minta maaflah. Jangan lagi ditunda-tunda. Kadang, kesempatan datang hanya sekali.

Baru saja, seorang teman bertanya di pesan WhatsApp, “Kapan pandemi ini akan berakhir?” Saya jawab, “Tidak ada yang tahu”. Ada yang menyebut pandemi COVID-19 baru berakhir pada 2021, ada juga yang menyebut pada Juli mendatang kita akan kembali hidup normal. Mana yang harus kita percaya? Kita takubahnya seperti berjalan di lorong yang gelap. Sudah satu bulan lebih kita berjalan, namun belum juga tampak seberkas cahaya. Entahlah, sampai kapan ini berakhir. We shall overcome, some day.

Pandemi bisa jadi me time untuk bumi yang menjadi rumah kita bersama. Selama ini, mungkin kita abai menjaganya; lapisan ozon kian menipis, es di kutub utara mulai mencair, kebakaran hutan, polusi udara, dan kerusakan alam lainnya.

Sejak masa physical distancing, kabar baiknya lapisan ozon kian membaik, orang-orang di India dapat melihat Pegunungan Himalaya setelah 30 tahun tertutup polusi udara, kanal-kanal di Venesia terlihat jernih, serta keajaiban-keajaiban lainnya.

Kita semua tentu berharap pandemi COVID-19 segera berakhir. Namun, kita jangan pernah lupa hari ini. Apa yang bisa kita pelajari dari pandemi COVID-19? Mungkinkah kita akan terlahir menjadi manusia yang baru? Mungkinkah kita akan menjadi khalifah seperti yang pernah disampaikan Tuhan di hadapan para malaikat?

Jakarta,

29 April 2020.

Cerita Hujan

DSC_0236-01
It’s raining outside. Photo by Mahfud Achyar.

Hujan. Saya rasa semua orang di bumi ini menyukai hujan. Adakah yang tidak menyukai hujan? Saya rasa tidak ada. Semua orang senang saat hujan turun, apalagi anak-anak. Masih ingat betul dulu ketika masih kecil, saya selalu menantikan hujan turun. Saat gerimis datang lalu disusul hujan yang deras, saya sudah ancang-ancang untuk mandi hujan. Walau dilarang mama karena katanya mandi hujan akan bikin demam, tapi saya terlalu keras kepala. Tidak ada seorangpun yang dapat menghentikan saya untuk mandi hujan. Nasehat mama hanya masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Ah, benar-benar anak yang keras kepala.

Saat tetesan hujan menyentuh wajah saya, saya merasa sangat kegirangan. Seolah seperti tanaman asoka mama yang kering di pot berwarna putih yang tiba-tiba segar kembali setelah disiram di sore hari. Hujan benar-benar mendatangkan kebahagiaan secara instan. Mungkinkah dalam air hujan terdapat kandungan yang membuat seseorang bahagia seketika? Bisa jadi. Walau menurut ilmuwan, air hujan hanya mengandung uap air yang berkisar 90 hingga 99.9 persen.

Saya kemudian menciptakan teori mengapa saya begitu bahagia saat mandi hujan? Mungkin karena kandungan air dalam tubuh manusia sekitar 70 persen dari berat tubuh. Teori lainnya, mungkin karena selama dalam perut ibu, habitat kita di air ketuban ibu. Jadi, pada dasarnya air menjadi unsur utama dalam diri kita. Saat kita bertemu air, kita seolah bertemu dengan diri kita yang lain. Makanya tidak heran mengapa anak-anak senang berendam atau berenang. Bisa diterima teori yang saya kemukakan?

Ketika masih kecil, mandi hujan sangat populer di kalangan anak-anak. Hampir semua anak-anak melakukannya. Berlarian, kejar-kejaran, dan menciptakan cipratan-cipratan dari air hujan yang menjadi  senjata pamungkas untuk melawan ‘musuh’. Jika dikenang lagi hati terasa hangat. Kenangan masa kecil yang sangat menyenangkan.

Hingga akhirnya tiba di bangku kelas tiga sekolah dasar, saya baru mengetahui mengapa bisa turun hujan dari buku pelajaran IPA. Bahkan, guru saya memperkenalkan nyanyian untuk memudahkan para muridnya menghafal proses turunnya hujan. Saya sudah berusaha mencarinya di Google, tapi sayang saya tidak menemukannya. Ah, ingatan saya benar-benar terbatas. Menyedihkan.

Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga menyukai hujan. Bahkan, banyak karya-karya hebat lahir karena terinpirasi dari hujan. Misalnya puisi Sapardi Djoko Damono “Hujan di Bulan Juni”, film karya Gene Kelly dan Stanley Donen tahun 1952 yang berjudul “Singin’ in the Rain”, lagu Bob Dylan tahun 1963 yang berjudul “A Hard Rain’s A-Gonna Fall”, dan masih banyak lagi.

Berkat hujan, orang-orang menjadi pujangga. Hujan menjelma menjadi larik-larik puisi yang begitu memikat hati. Berkat hujan, orang-orang menjadi kontemplatif; memikirkan makna dari hidup dan kehidupan. Berkat hujan, luruh sudah polusi udara. Berkat hujan, tanah yang kering menjadi basah lalu tumbuhlah rumput, munculah pucuk-pucuk daun baru, dan bunga-bunga bermekaran. Berkat hujan, lahirlah kehidupan dan peradaban.

Hujan adalah perantara kasih dari langit untuk bumi. Langit dan bumi saling mencintai, namun mereka tidak dapat berjabat tangan, bercumbu mesra, atau berpelukan erat. Maka diutuslah hujan menjadi perantara keduanya yang menciptakan keterhubungan tanpa harus saling berdekatan. Begitulah hujan, ia menjadi sangat spesial.

Di negara tropis seperti Indonesia, dulu begitu mudah memprediksi kapan turunnya hujan. “Bulan-bulan berakhiran-er biasanya turun hujan,” kata guru saya. Namun kondisi sekarang berbeda. Hujan sulit diprediksi kapan turunnya.

Selama tahun 2019 kemarin, cuaca terasa sangat panas. Hujan jarang turun. Semua orang berdoa dan berharap hujan turun. Apalagi tahun kemarin terjadi kebakaran hutan yang membuat udara terasa sesak. Maka kehadiran hujan sangat ditunggu-tunggu. Di beberapa daerah, orang-orang menggelar ritual agar hujan turun, baik secara adat maupun secara agama. Pemerintah juga membuat hujan buatan. Hujan benar-benar ditunggu.

Awal tahun, hujan turun. Sangat deras. Ada orang-orang yang berbahagia lantaran hujan akhirnya turun. Namun ada juga yang mengutuk mengapa hujan harus turun saat malam pergantian tahun. Serba salah. Memang manusia memang kurang pandai bersyukur. Padahal di belahan bumi lain, ada yang benar-benar butuh hujan untuk menghentikan kebakaran hutan yang telah merenggut jutaan satwa. Ada juga yang sudah menunggu lama turunnya hujan karena daerah mereka kering kerontang.

Sejujurnya, hujan yang berlimpah di Jakarta sejak awal Januari hingga akhir Februari 2020 kemarin membuat saya was-was. Betapa tidak, untuk pertama kalinya saya merasakan dampak langsung bencana banjir sebanyak tiga kali. Repot sekali harus membersihkan rumah, merelakan barang-barang yang basah dan rusak, dan menunggu ketidakpastian kapan banjir surut.

Jika langit mendung atau terdengar suara gemuruh di langit, hati saya gelisah. Lirih saya berkata, “Mungkinkah akan banjir lagi?” Saya suka sekali hujan, tapi saya tidak suka banjir. Perasaan saya berkecamuk. Akhirnya, saya sadar bahwa banjir terjadi bukan salah hujan. Manusialah pelakunya. Kita abai dengan lingkungan: buang sampah sembarangan, drainase yang buruk, dan pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Hujan, maafkan saya yang pernah memiliki perasaan ingin menolak kehadiranmu. Saya merasa sangat menyesal. Kau adalah anugrah. Tidak hanya untuk saya melainkan untuk semua umat manusia. Kata John Updike, “Rain is grace; rain is the sky descending to the earth; without rain, there would be no life.”

Jakarta,

27 Maret 2020.

Hari-Hari Tanpa Social Media

 

WhatsAppImage2020-02-07at3.47.36PM
Photo by Mahfud Achyar

Rabu malam, 7 Agustus 2019, usai nonton film “Spider-Man: Far From Home” di bioskop, saya masuk ke aplikasi Instagram. Niat hati ingin berselancar di dunia maya untuk mengetahui aktivitas terbaru dari orang-orang yang saya ikuti, malah yang saya dapatkan kabar buruk dari Instagram.

Ketika hendak saya log in, tiba-tiba muncul notifikasi, “Error. Your account has been disabled for violating our terms…” Sontak saya panik. Mengapa saya tidak bisa log in? Mungkinkah saya lupa kata sandi? Atau jangan-jangan, ada yang membajak akun Instagram saya? Saya berupaya menenangkan diri walau sejujurnya saat itu jantung saya berdegup kencang.

Saya bingung bercampur was-was. Saya khawatir ada yang membajak akun Instagram saya. Lalu, saya menghubungi seorang teman untuk menanyakan solusi atas kasus yang saya alami. Katanya, coba lapor dulu ke Instagram. “Semoga segera balik ya!” tulisnya singkat.

Akhirnya, prosedur yang disampaikan teman saya tadi saya lakukan. Berharap Instagram keliru lantaran sudah menutup akun saya. Sembari menunggu umpan balik dari Instagram, sayapun menelusuri artikel-artikel yang memuat informasi tentang kasus yang saya alami. Beberapa artikel menyebut bahwa penutupan akun yang dilakukan Instagram lantaran pengguna Instagram yang melanggar aturan yang dibuat untuk menciptakan rasa aman dan nyaman dalam komunitas Instagram.

Saya kemudian mundur ke belakang, memikirkan apakah memang saya termasuk pengguna Instagram yang buruk? Rasanya tidak. Foto terakhir yang saya unggah yaitu foto bersama teman-teman usai penutupan sebuah acara di Taman Ismail Marzuki. Lagi pula, saya tidak begitu sering memperbarui konten Instagram, entah itu Instagram Stories atau Feed. Selain itu, jika boleh memberikan penilaian terhadap diri sendiri, rasanya saya termasuk pengguna media sosial yang bijak.

Lagi, saya dibuat bingung oleh Instagram, mengapa dari sekian banyak pengguna, justru akun saya yang ditutup? Namun daripada terus bertanya-tanya tanpa ada jawaban yang jelas, akhirnya saya memutuskan untuk rehat menggunakan social media, khususnya Instagram.

Suatu malam di sebuah kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan, saya pernah membuka topik diskusi di hadapan teman-teman saya. Saat itu, saya katakan pada mereka saya lelah main social media. Saya katakan pada mereka, social media terutama Instagram, takubahnya seperti etalase di sebuah butik mewah. Pengguna Instragram, kerap kali hanya menampilkan konten-konten yang indah di akun mereka; foto liburan di pantai atau gunung, menyeruput secangkir cappucino di salah satu kafe ternama, promosi jabatan atau wisuda, dan aktivitas yang menyenangkan lainnya. Jarang sekali orang-orang menampilkan kisah sedih atau kisah gagal tentang hidup mereka. Jikapun ada, barangkali takbanyak. Namun begitulah manusia, siapa yang mau dibilang orang gagal? Siapa yang mau dibilang orang yang menyedihkan? Cukuplah hal-hal yang indah saja yang dibagikan di social media. Bukankah begitu?

Pada akhirnya, Instagram menciptakan rekonstruksi sosial. Kebahagiaan seseorang dinilai dari konten yang mereka bagikan di Instagram; berapa jumlah followers-nya, berapa jumlah likes-nya, seberapa tinggi engagement-nya, seberapa bagus tone fotonya, seberapa rapi feed-nya, dan hal-hal superficial lainnya. Terkesan begitu chessy namun begitulah paradoks yang terjadi di Instagram.

Sebagai seorang communications specialist, saya tahu persis cara kerja Instagram. Pengetahuan yang saya miliki, saya gunakan untuk memaksimalkan fungsi Instagram sehingga dapat memberikan dampak yang besar. Orang-orang yang sangat concern dan passionate terhadap konten biasanya disebut dengan istilah influencer. Ada juga yang menyebutnya content creator. Bebas.

Secara sederhana, begini cara kerja seorang influencer atau content creator; pikirkan konten yang akan dibagikan, tentukan prime time yang tepat, maksimalkan berbagai jenis aplikasi untuk menyunting foto/video (bergantung konten yang akan dibagikan), pikirkan caption yang kuat, kemudian selanjutnya ucapkan mantra, “Instagram, please do your magic!”

Ketika konten sudah dibagikan, persoalan tidak lantas selesai. Kita harus selalu memantau pergerakan jumlah likes, siapa saja yang meninggalkan komentar, seberapa jauh jangkauan konten kita terhadap pengguna lain, dan hal-hal yang melelahkan lainnya. Kerap kali juga, kita tidak puas dengan konten yang sudah kita bagikan sehingga kita mengarsip konten yang sudah tayang.

Melakukan hal tersebut kadang menyenangkan, namun lebih seringnya melelahkan. Menyenangkan karena melatih kreativitas kita untuk membuat konten yang menarik, konten yang impactful. Melelahkan karena kita begitu bergantung dengan penilaian orang lain. Jika yang menyukai konten kita sedikit, kita merasa sedih. Jika yang menyukai konten kita banyak, kita merasa bangga. Seolah-olah kita begitu haus pengakuan dari orang lain. Padahal jika niat kita memang untuk berkarya mengapa kita terlalu risau jika karya kita tidak diapresiasi orang lain? Berkarya saja. Jika ada yang mengapresiasi, anggap saja itu bonus.

Persoalan berikutnya, social media juga membuat kita tidak pernah merasa cukup dengan diri kita sendiri. Kita seringkali membandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Seperti kata pepatah, “Rumput tetangga terlihat lebih hijau.” Padahal bisa jadi, rumput kita kering kerontang lantaran tidak dirawat dengan baik.

Ingin sekali berpikiran positif bahwa apa yang terlihat di Instagram belum tentu semenarik itu. Rumput tetangga mungkin terlihat hijau, padahal mungkin saja rumput yang mereka punya sebenarnya adalah rumput sintetis. Namun sialnya, kadang kita tidak dapat mengontrol pikiran kita. Paparan konten di Instagram yang begitu intens, takjarang membuat kita merasa, “Kok hidup kita begini-begini saja sementara teman-teman kita hidupnya tampak sempurna?” Lantas, kita menyalahkan diri sendiri lantaran dewi fortuna tidak berpihak pada kita.

Selain itu, social media takubahnya seperti jendela berukuran kecil. Semua orang mengintip kehidupan orang lain melalui jendela kecil itu. Kita menerka-nerka kehidupan orang lain dari konten yang mereka bagikan. Lalu, kita bertransformasi menjadi cenayang yang seolah tahu betul detail kehidupan orang lain hanya dengan mengintipnya melalui jendela kecil.

Seorang teman, pernah mengutarakan kekecewaannya lantaran tidak diajak olahraga bersama oleh temannya. Hal itu terjadi tidak lama setelah ia melihat Instagram Stories temannya. Ia merasa tidak dianggap, ia merasa ditinggal. Padahal, apa yang ia pikirkan belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada. Bisa jadi, itu konten lama yang baru sempat ia unggah, atau sebenarnya sah-sah saja jika temannya tidak mengajaknya olahraga bersama. Bukankah itu hal yang biasa? Namun nyatanya, apa yang kita anggap biasa, belum tentu biasa bagi orang lain. Setiap orang berbeda-beda dalam menyikapi suatu hal.Tidak boleh kita pukul rata.

Sekelumit keresahan saya tentang social media khususnya Instagram, membuat saya berpikir ulang, “Untuk apa saya main social media jika saya mudah cemas, mudah khawatir, merasa rendah diri, merasa tidak pernah cukup, dan perasaaan-perasaan tidak enak lainnya?” Harusnya, social media menjadi medium yang menyenangkan! Bukan malah menjadi pemacu yang membuat kesehatan mental saya terganggu.

Menyadari bahwa social media justru membuat hati saya tidak tenang, membuat saya tidak pernah merasa cukup dengan diri saya sendiri, ditambah hilangnya akun Instagram saya—membuat saya merenung dan mengambil keputusan, “Mungkin tiba waktunya saat beristirahat menggunakan social media.”

Satu bulan berlalu, akun Instragam saya tidak pernah kembali. Selamat tinggal followers yang sudah mencapai angka ribuan, selamat tinggal konten yang saya buat sedemikian rupa, dan selamat tinggal perasaan-perasaan yang tidak mengenakkan.

Tidak lama berselang, akhirnya saya membuat akun Instagram baru. Namun bedanya, akun saya saat ini digembok. Saya hanya mengikuti teman-teman dekat, orang-orang yang saya pikir baik untuk kesehatan mental saya, dan beberapa akun lainnya yang menarik untuk diikuti.

Sekarang, saya merasa lebih tenang. Saya tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu. Saya juga menemukan kembali diri saya yang lama, bahwa saya memang orang yang sangat tertutup. Saya hanya berbagi dengan orang-orang yang saya kenal. Saya ternyata tidak nyaman jika kehidupan saya dilihat oleh orang-orang yang tidak saya kenal. Jika social media diibaratkan seperti rumah, rasanya saya hanya akan membuka pintu rumah untuk orang-orang yang saya izinkan saja.

Bagi saya, jumlah likes dan sebagainya tidak lagi penting. Hal yang paling penting untuk saya saat ini yaitu inner peace. Saat kembali bermain social media, mungkin saya akan dihadapkan lagi persoalan yang sama, namun ketika saya sudah memiliki inner peace lebih mudah untuk saya mengelola pikiran dan perasaan saya. Saya jadi teringat pesan Stewart Udall, If you want inner peace, find it in solitude, not speed, and if you would find yourself, look the land from which you came and to which you go.”

 

Jakarta,

7 Februari 2020.

Dua Sisi Rembulan

IMG_20171125_120531_374
Stop this train. Photo by Mahfud Achyar.

Saya selalu jatuh hati dengan kata-kata. Entah sejak kapan saya menyadarinya. Mungkin sejak kali pertama saya bisa mengeja. Saya lupa bagaimana awalnya saya bisa mengeja hingga akhirnya bisa membaca. Seingat saya, ketika mendaftar sekolah dasar, saya diminta mengeja oleh kepala sekolah. Lalu dengan mudah saya mengeja setiap kata yang tertera pada buku ajar “Lancar Berbahasa Indonesia”.

Ketika kelas 1 sekolah dasar, guru bahasa Indonesia meminta saya untuk membaca kalimat di papan tulis. Banyak teman-teman yang belum lancar membaca. Tapi bagi saya, membaca merupakan pekerjaan yang paling mudah untuk anak usia enam tahun.

Sejak kemampuan membaca saya meningkat pesat, saya mulai tertarik dengan sastra. Mudah sekali bagi saya untuk melahap cerita-cerita pendek dalam durasi waktu yang sangat singkat. Tidak hanya sekadar membaca, saya juga memahami cerita yang saya baca. Membaca cerita pendek tidak pernah menjadi beban. Malah menjadi kesenangan karena saya menemukan dunia baru, dunia yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Bayangkan 26 abjad bisa melahirkan ratusan, ribuaan, bahkan jutaan gagasan. Bahkan, kata-kata baru muncul setiap tahunnya. Huruf seolah memiliki sihir yang dapat mengubah persepsi, membangkitkan imajinasi, hingga bisa membuat depresi. Beruntung bagi mereka yang dapat menggunakan kekuatan kata-kata untuk mencerahkan orang lain, membuat orang tergerak, membuat orang berpikir. Bukankah itu menakjubkan?

Saya pernah membaca kutipan dari seorang penulis yang bernama Salim A. Fillah pada bukunya yang berjudul “Dalam Dekapan Ukhuwah”. Buku tersebut saya baca ketika masih menjadi mahasiswa. Ada kutipan pada buku tersebut yang sangat membekas hingga saat ini. Isi kutipannya seperti ini, “Setiap orang ibarat bulan. Memiliki sisi kelam yang takpernah ia tunjukkan pada siapapun. Pun sungguh cukup bagi kita memandang sejuknya bulan pada sisi yang menghadapi bumi.”

Belakangan, saya teringat kembali kutipan tersebut lantaran sangat merepresentasikan pandangan saya terhadap bagaimana kita menilai orang lain. Manusia, takubahnya seperti rembulan. Ya, setiap hari kita mungkin dapat melihat bulan. Bahkan pada siang hari sekalipun. Kita juga terbiasa mengamati delapan fase bulan. Mulai dari dari fase bulan baru (new moon), hilal awal bulan/bulan sabit awal (waxing cresent), paruh awal (first quarter), cembung awal (waxing gibbous), bulan purnama (full moon), cembung akhir (wanning gibbous), paruh akhir (third quarter), hingga hilal akhir bulan/bulan sabit akhir (wanning cresent).

Padahal, di luar angkasa bentuk bulan tetaplah sama. Bulat. Namun karena kita melihatnya dari bumi, maka yang terlihat bentuk bulan yang berubah-ubah. Itulah yang dimaksud dengan fase bulan, perubahan bentuk bulan jika diamati dari bumi. Hal tersebut terjadi lantaran bulan mengelilingi bumi dari barat menuju timur yang membutuhkan waktu 29,5 hari.

Menggunakan mata telanjang atau teleskop sekalipun, kita hanya dapat melihat bulan dari satu sisi. Sisi belakangnya? Penuh misteri. Menggunakan perumpamaan bulan untuk menggambarkan seseorang, menurut saya itu hal yang jenius. Perumpamaan yang mudah diterima.

Manusia adalah makhluk yang kompleks karena terdiri dari sel-sel yang juga kompleks dan juga bekerja secara kompleks. Tapi untuk menyederhanakan itu semua, ada dua sisi pada manusia yang akan selalu ada; sisi kelam dan sisi terang. Sayangnya, sisi terang lebih banyak mendapatkan paparan dibandingkan sisi kelam. Orang-orang lebih senang memperlihatkan hal-hal yang indah seperti prestasi dan materi. Maka takheran kini kian banyak bermunculan media sosial untuk memfasilitasi orang-orang untuk memamerkan apa yang disebut sisi terang.

Untuk sisi kalam, seberapa banyak orang yang mau mengumbarnya? Walau ternyata ada juga orang-orang yang memberanikan diri untuk bercerita tentang sisi tergelap dalam hidup mereka. Tapi jumlah mereka tidak banyak. Banyak alasan mengapa sisi gelap tidak terpapar secara masif dibandingkan sisi terang. Ada perasaan malu, perasaan bersalah, dan perasaan-perasaan buruk lainnya. Pada akhirnya, sisi kelam hanya akan disimpan untuk diri sendiri atau mungkin diceritakan untuk orang-orang yang memang layakan untuk dipercaya.

Pun begitu, setiap manusia memiliki sisi kelamnya masing-masing, bukan? Beberapa di antaranya juga mungkin memiliki sisi abu-abu. Namun bukankah itu hal yang biasa? Manusia lahir dengan ‘ketidaksempurnaan’. Semua memiliki cacat, semua pernah berbuat salah.

Akan tetapi, jika kita terlalu fokus pada sisi kelam seseorang, maka kita abai bahwa ia juga memiliki sisi terang. Bisa jadi, setiap hari dia sedang berjuang untuk menyinari sisi gelapnya dengan berbuat baik—dan hal tersebut tidak ia umbar di media sosial.

Bicara tentang media sosial memang selalu melelahkan. Ilustrator Citra Marina pada bukunya yang berjudul “You’re Not As Alone As You Think: The Stories of Choo Choo” menulis pesan pengingat untuk kita semua. Menggunakan karakter Choo Choo yang sedang melihat ponsel pintar, Citra menyelipkan pesan, “Imagine seeing someone only through a small, tiny window… and thinking that you know their entire life.”

Media sosial secara sadar tidak sadar membuat kita mudah memberikan penilaian terhadap orang lain, mudah juga menghakimi. Sayapun sering begitu. Rasa-rasanya, mudah sekali membaca karakter seseorang dari feed mereka, lalu berkata, “Ah, dia orangnya seperti ini….bla…bla…bla…”. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu seseorang sampai kita berada pada sepatu yang sama dengannya. “Don’t judge anyone until you have walked a mile in their shoes.”

Memang tidak mudah menerima seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Manusia akan selalu dihadapi dengan pertarungan-pertarungan sengit melawan perasaan yang tidak mengenakkan. Tapi bukankah lebih menenangkan bila kita lebih fokus pada sisi terang layaknya kita memandang bulan pada sisi yang menghadapi bumi?

 

Jakarta,

17 Januari 2020.

Sajak untuk Mereka yang Berhati Hangat

WhatsAppImage2019-11-14at5.39.47PM
Veteran St, Jakarta (Photo by. Mahfud Achyar)

Hari ini, 13 November, masyarakat di dunia merayakan World Kindness Day. Gagasan ini pertama kali tercetus pada 1998 yang bertujuan untuk mempromosikan kebaikan di seluruh dunia. Sederhananya, World Kindness Day merupakan alarm untuk mengingatkan orang-orang di seluruh dunia untuk selalu berbuat baik.

Saat ini, kita hidup di dunia yang penuh prasangka. Belum lagi, rumah yang kita tinggali kian renta. Hidup di zaman ini memang tidak mudah. Terkadang, hati terasa sesak, terkadang pikiran menjadi kalut. Rasa-rasanya ingin pergi galaksi nun jauh di sana. Berharap mungkin saja di sana ada rumah yang lebih ramah untuk ditinggali. Berharap mungkin saja di sana lebih mudah menemukan orang-orang yang berhati hangat.

Akan tetapi, Marcus Tullius Cicero pernah berkata, “While there’s life, there’s hope.” Percayalah, walau orang-orang jahat terlihat lebih banyak, akan selalu ada orang-orang yang berbuat baik. Mungkin, wajah mereka tidak familiar. Mungkin, nama mereka tidak terdengar. Mungkin, jasa mereka tidak pernah dicatat. Namun aroma kebaikan mereka akan terus menyeruak hingga menembus ruang, waktu, dan jarak.

Jika hidup terasa pahit, cobalah mengingat memori kebaikan yang pernah terjadi dalam hidup kita. Contohnya seperti yang saya alami hari ini. Usai makan siang dan hendak menyebrang jalan, tidak ada satupun pengendara yang mau memperlambat laju kendaraannya. Entahlah, mungkin semua orang sedang buru-buru. Persoalan menyebrang di jalanan Ibukota memang kadang menguras energi. Kendati kita menyebrang di jalur yang benar seperti zebra cross, selalu ada saja pengendara yang tidak mau mengalah. Sebagai pejalan kaki, kadang mau tidak mau kita juga harus nekat menerobos pengendara yang egois.

Pun begitu, akan selalu ada pengendara yang baik hati. Seorang pengendara motor memperlambat laju kendaraannya sembari memberi aba-aba agar saya dapat menyebrang. Hal yang sederhana, namun terasa begitu istimewa.

Kebaikan lainnya saya temukan di peron kereta. Seorang bapak paruh bayu mengeluarkan kotak plastik berisi makanan kucing. Ia menghampiri seekor kucing yang sedang berbaring. Kucing tersebut terlihat kurus. Jelas, ia kurang makan. Bapak itu kemudian memberinya makan dan sesekali mengelus badan kucing dengan penuh kasih sayang. Si kucing makan dengan lahap. Mungkin ia tidak menyangka akan mendapatkan makanan yang enak dari seorang bapak yang entah di mana rumahnya.

Dari jauh, saya hanya bisa melihat pemandangan yang membuat hati terasa hangat. Ingin mengabadikan momen saat itu. Namun urung saya lakukan. Rasanya, tidak semua momen harus didokumentasikan. Kadang cukup saya simpan sendiri. Tidak perlu dibagikan pada banyak orang.

Kereta listrik melaju, di perlintasan kereta api, ada petugas yang berjaga sepenuh hati untuk memastikan tidak ada satupun kendaraan yang lewat saat kereta melintas. Jika petugas tersebut lalai menjalankan tugas, sudah dapat dibayangkan hal buruk pasti terjadi. Untuk sang penjaga palang pintu kereta, terima kasih tiada terkira dari kami penumpang kereta.

Sementara di dalam kereta, orang-orang berharap mendapatkan kursi. Membayangkan perjalanan di kereta bisa digunakan untuk istirahat usai hari yang melelahkan. Namun sayangnya, apa yang kita harapkan kadang jauh dari kenyataan. Tidak mengapa toh masih muda dan masih banyak orang-orang yang butuh kursi, terutama mereka yang sudah menua.

Seorang pemuda yang sedang asik membaca buku kemudian berdiri. Ia mempersilakan seorang ibu di depannya untuk duduk. “Silakan duduk, Bu.” Ibu tersebut tersenyum sembari berucap, “Terima kasih, Nak.”

Ah, lagi-lagi hati terasa hangat. Nyatanya masih banyak orang-orang berhati lembut. Saya kemudian melihat ke bawah. Memandangi sepatu yang sedang dipakai oleh seorang wanita. Sepatu itu mengingatkan saya kepada sepatu lari saya yang hilang di masjid kantor. Hari itu, saya merasa sangat sial. Padahal, itu sepatu lari saya satu-satunya. Namun apa boleh buat, musibah siapa yang bisa prediksi? Akhirnya, seorang teman meminjamkan sepatu lari miliknya hingga akhirnya saya bisa lari selepas pulang kerja.

Dalam satu hari saja, ada begitu banyak kebaikan yang dapat kita temukan. Kebaikan akan selalu ada, bahkan dalam hal yang sederhana sekalipun. Seorang teman kantor yang menawari secangkir kopi hangat, seorang pengemudi ojek yang mengantarkan kita ke tempat tujuan kita dengan selamat, seorang penjual nasi goreng yang masih berjualan kendati waktu sudah menujukkan pukul 12 malam, seorang teman yang mengirimkan pesan inspiratif, dan seorang-seorang lainnya.

Untuk mereka yang berhati hangat, terimalah sajak berikut:

Kita mungkin takselalu bisa berbuat baik. Namun bila hati kita baik, kita akan selalu berupaya berbuat baik. Kebaikan yang sudah kita lakukan, bisa jadi tidak akan diingat, tapi bukankah itu tidak menjadi persoalan? Teruslah berbuat baik sebab dunia butuh lebih banyak orang baik.”

Jakarta,

13 November 2019

Setelah Tiada, Seperti Apa Orang-Orang Mengenang Kita?

My shadow. Photo by. Mahfud Achyar.

Ponsel pintar dalam saku celana saya bergetar. Ternyata ada pesan masuk di grup WhatsApp. Seorang teman mengirim tautan berita daring dengan judul “BJ Habibie Meninggal Dunia”. Sontak saya kaget lalu membaca tautan berita tersebut. “Presiden RI ke-3, BJ Habibie, tutup usia. Habibie meninggal di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun.” Begitu kalimat pembuka berita duka meninggalnya Presiden RI ke-3 yang akrab dipanggil Eyang Habibie.

Kepergian Eyang Habibie untuk selama-lamanya ke alam keabadian menyisakan duka yang teramat dalam bagi rakyat Indonesia, khususnya bagi orang-orang yang pernah berinteraksi secara langsung dengan beliau semasa hidupnya. Lini media sosial dibanjiri ucapan kalimat duka cita. Banyak juga yang mengunggah foto bersama Eyang Habibie lengkap dengan cerita kenangan mereka mengenal sosok Eyang Habibie; entah itu hanya sekali bertemu, beberapa kali, atau sering bertemu.

Semua orang mengenang sosok Eyang Habibie dengan kenangan yang baik. Ia tidak hanya dikenang sebagai salah satu presiden Indonesia yang progresif, namun juga dikenang sebagai orang yang telah menginspirasi banyak orang, khususnya anak-anak yang lahir era tahun 80-an hingga 90-an. Saya, mungkin satu dari sekian banyak anak-anak Indonesia pada masa itu yang bercita-cita menjadi seorang Habibie. Mungkin tidak ingin menjadi seorang insinyur seperti Habibie yang berhasil membuat pesawat sendiri melainkan menjadi orang pintar layaknya Habibie.

Ketika kecil, mama saya selalu berpesan, “Kamu harus rajin belajar agar nanti pintar seperti Habibie.” Bisa dikatakan, Habibie menjadi teladan anak-anak Indonesia untuk bersemangat meraih mimpi, untuk bersemangat membuat bangsa Indonesia dipandang terhormat di mata dunia.

Untuk mengenang jasa-jasa Eyang Habibie untuk Indonesia, pemerintah menginstruksikan untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari, mulai tanggal 12 September hingga 14 September 2019. “Selamat jalan, Eyang Habibie. Terima kasih sudah berkontribusi besar untuk bangsa ini. Terima kasih sudah menjadi teladan bagi banyak orang,” tulis saya di beranda Facebook.

Jauh sebelum kepergian Eyang Habibie, ketika kecil, ada dua kabar duka yang paling saya ingat, yaitu meninggalnya Ibu Tien Soeharto pada 28 April 1996 dan meninggalnya Lady Diana 31 Agustus 1997. Kepergian dua tokoh tersebut ramai disiarkan di televisi. Orang-orang berduka. Berbagai cara dilakukan untuk menunjukkan rasa simpati kepada ke dua tokoh tersebut, salah satunya mengirim karangan bunga.

Dari berita duka meninggalnya Eyang Habibie, Ibu Tien Soeharto, dan Lady Diana, lalu menyeruak satu pertanyaan yang hingga saat ini belum saya temukan jawabannya, “Setelah saya tiada, seperti apa orang-orang mengenang saya?”

Saya membayangkan jika hari itu tiba, mungkin saja orang-orang yang mengenal saya akan bersedih. Lalu, ada beberapa orang yang mengantarkan saya ke tempat perisitirahatan saya yang terakhir, ada juga mungkin yang mengunggah foto saya di media sosial, serta kemungkinan-kemungkinan lainnya. Namun beberapa hari kemudian, hidup kembali berjalan normal–ada atau tidak adanya saya. Keluarga saya kembali melanjutkan hidup, begitu juga dengan teman-teman saya. Sementara saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi di kehidupan saya berikutnya.

Kembali pada pertanyaan tadi, ketika kita sudah tiada, seperti apa orang-orang mengenang kita? Mungkin jawabannya akan beragam. Setiap orang yang pernah berinteraksi dengan kita memiliki sudut pandang yang berbeda-beda saat mengenang kita. Semua itu bergantung pengalaman mereka. Ada mungkin orang-orang yang pernah kita sentuh hatinya, ada mungkin orang-orang yang kita sakiti hatinya.

Saya kemudian bertanya pada salah seorang teman mengenai pertanyaan tadi. Ia menjawab singkat, “Pendiam.” Baginya, saya adalah orang yang pendiam dan mungkin hal itu benar adanya. Tidak ada ruang justifikasi untuk jawaban teman saya tersebut. Saya hanya mengucapkan terima kasih atas kejujurannya.

Terlepas dari jawaban yang mungkin berbeda-beda, sejujurnya ada satu kata sifat yang ingin sekali saya tinggalkan ketika saya sudah tidak ada lagi di dunia ini, yaitu big heart. Bahwa saya dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang saya miliki, saya berupaya memaafkan orang-orang yang pernah berbuat buruk terhadap saya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Terkadang, saya masih ingat betul perlakuan buruk orang lain terhadap saya. Perih hati masih terasa sama. Namun, saya memilih memerdekakan hati saya. Biarlah yang sudah terjadi menjadi cerita kehidupan yang takharus disimpan, apalagi dikenang. Memaafkan sejatinya bukan untuk orang lain, namun justru untuk diri saya sendiri. Memaafkan berarti saya berdamai dengan masa lalu, kemudian memilih untuk menjalani hidup dengan hati yang lapang.

Selain itu, saya rasa saya termasuk jenis orang yang sering mengingat kebaikan walau jarang saya ungkapkan. Bahkan, saya berpikir harusnya saya mendapatkan balasan atas hal baik yang saya lakukan. Seperti ungkapan yang sering terdengar, “Take and give.” Namun belakangan saya menyadari bahwa saya keliru. Seharusnya jika memang saya berbuat baik, maka lakukanlah dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan balasan. Jujur, bagi saya itu cukup berat. Namun, bukankah manusia akan diuji hal yang sama hingga ia berhasil melewati ujian tersebut?

Manusia tidak seharusnya menjadi tempat kita menyimpan pengharapan. Biarkan harapan kita satu-satunya kita percayakan kepada Sang Pencipta. Sebab, jika kita terlalu berharap pada manusia, maka siap-siap kita akan patah hati dan kecewa. Meski, patah hati dan kecewa juga tidak apa. Namun, bukankah hati terasa lebih merdeka saat kita takharus punya alasan untuk berbuat baik?

Entahlah, mungkin itu hanya sebatas cita-cita saat saya telah tiada. Hal sebaliknya sangat mungkin terjadi. Tapi setidaknya sekarang saya sudah cukup lega. Ada tujuan hidup yang menjadi pengingat saya dalam menjalani hari-hari yang masih tersisa. Persoalan seperti apa orang-orang mengenang saya ketika nanti saya tiada, sekarang menjadi tidak begitu penting lagi. Untuk apa saya memikirkan sesuatu yang sulit saya prediksi. Lebih baik, saya menjadi pribadi yang ingin saya cita-citakan untuk diri saya sendiri. Seorang pribadi yang memiliki hati yang lapang. Semoga.

Tentang kematian, rasanya kutipan dari Irving Berlin sangat mewakili suara hati saya, “The song is ended, but the melody lingers on.”

 

Jakarta,

12 November 2019.

Jangan Pernah Merasa Berjuang Sendiri

Pelican crossing at Thamrin Street Jakarta. Photo by Mahfud Achyar.

Jangan pernah merasa berjuang sendiri, yang lain juga sedang berjuang, tapi dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang memperlihatkan, ada juga yang menyembunyikan. Hanya kita tidak ada punya kuasa untuk mengetahui secara rinci permasalahan apa yang mereka hadapi. Ada yang memilih berbagi, ada juga yang memilih untuk menyimpan rapat-rapat. Lagi-lagi, semua kembali pada pilihan masing-masing orang. Tidak ada yang benar atau yang salah dalam perkara ini.

Kemarin, mungkin satu dari sekian banyak hari yang terberat dalam hidup saya. Ada masalah yang sedang saya hadapi dan sepertinya masalah tersebut berulang kali terjadi. Lalu, ditambah kemarin ada kejadian yang menguji kesabaran saya. Lengkap sudah.

Seperti biasa, setiap hari saya berangkat ke kantor menggunakan Transjakarta. Pagi itu, saat saya hendak tap in kartu uang elektronik, petugas Transjakarta mengatakan mesin untuk tap in mengalami gangguan. Jadi, harus menggunakan uang tunai sebesar dua ribu rupiah karena masih di bawah pukul 7 pagi. Sialnya, dompet saya saat itu kosong. Tidak ada uang sama sekali. Sementara lokasi mesin ATM cukup jauh. Penumpang lainya berhasil masuk karena mereka membawa uang tunai.

Saya punya pengalaman, sering ada penumpang yang tidak bisa tap in lantaran tidak membawa kartu uang elektronik atau saldo kartunya tidak cukup. Saya kemudian inisiatif menawari dia untuk menggunakan kartu saya hingga akhirnya ia berhasil masuk. Sebenarnya, saya agak ragu menulis hal ini khawatir saya mengingat-ingat kebaikan. Namun, pagi itu pikiran buruk terlintas di benak saya, “Mengapa saat saya lagi kesusahan tidak ada yang membantu?”

“Mas, mesin tap in yang rusak di halte ini saja atau semua halte?” tanya saya.

“Di halte ini saja mas,” jawabnya singkat.

Akhirnya dengan langkah yang berat, saya ke luar halte. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba terlintas pikiran, “Mengapa saya tidak bertanya kepada penumpang lain? Adakah yang bersedia meminjamkan kartu uang elektronik sehingga saya bisa masuk?” Namun anehnya, hal itu tidak saya lakukan. Saya memilih untuk ke luar halte dan berjalan menuju halte lainnya dengan perasaan kesal.

Berjalan beberapa meter, akhirnya saya tiba di halte berikutnya dan berhasil tap in. Di dalam Transjakarta, saya mengeluarkan earphone kemudian memutar playlist lagu-lagu favorit saya di Spotify. Saya melihat ke arah jendela. Lirih saya berkata, “Mengapa hari ini terasa berat?” Saya menghembuskan napas pelan-pelan, berharap dapat berpikir lebih jernih.

Lalu, saya melihat para penumpang Transjakarta. Ada yang sedang memainkan ponsel pintar, ada yang sedang tertidur, dan ada juga yang sedang melamun. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul lagi lintasan pikiran. Katanya, “Jangan pernah merasa berjuang sendirian, yang lain juga sedang berjuang.”

Orang-orang di dalam Transjakarta, bisa jadi memiliki masalah yang jauh lebih berat dibandingkan masalah yang sedang saya hadapi. Penumpang yang tertidur, barangkali ia ingin melupakan sejenak masalah rumah tangga yang sedang ia alami. Penumpang yang sedang memainkan ponsel pintar, barangkali ingin melepas penat dan stres lantaran pekerjaan kantornya takkunjung rampung. Penumpang yang sedang melamun, barangkali ia baru saja kehilangan orang yang dicintai.

Setelah melihat wajah para penumpang Transjakarta, saya berpikir bahwa perasaan sedih, kecewa, dan marah itu hal yang biasa. Tidak ada yang salah dengan perasaan-perasaan itu. Mereka akan terus menyapa kita. Mereka akan terus hadir menjadi bagian dari emosi kita. Mungkin kita tidak perlu mengusir mereka. Katakan pada mereka, “Baiklah, kali ini kamu boleh hadir, tapi jangan lama-lama ya. Semoga bisa pergi secepatnya.”

Begitulah kisah hidup anak manusia. Selalu ada dua cerita untuk setiap kehidupan; kehidupan yang kita jalani dan kehidupan yang kita ceritakan kepada orang lain. Tidak ada yang betul-betul tahu kehidupan seseorang. Kita mungkin bisa berasumsi, kita mungkin bisa menerka-nerka. Namun, cerita utuh dari kehidupan manusia hanya ia dan Tuhan-lah yang tahu. Bisa jadi, di balik senyuman, ada rasa resah dan gelisah. Bisa jadi juga dalam diam seseorang, ia sedang berbisik, “Dunia ramahlah padaku.”

Everybody has their own problems. No matter how big you think yours are, there is someone else that has bigger problems or different problems.” – Josh Hutcherson.

Jakarta,

5 November 2019

 

Jika Saja

_20190517_154734
Photo Captured by Mahfud Achyar

Suatu malam di sebuah restoran cepat saji, seorang teman memulai percakapan. Katanya, “Kalian tahu bahwa bahasa cinta ada lima. Ada words of affirmation (pujian), quality time (menghabiskan waktu bersama), receiving gifts (hadiah), acts of service (dilayani), dan physical touch (sentuhan fisik). Dari lima bahasa cinta tersebut, mana yang sering kalian gunakan?” tanyanya penuh selidik.

Semua orang terdiam, memikirkan mana jawaban yang paling tepat yang menggambarkan kebiasaan yang sering disampaikan kepada orang-orang terkasih, entah itu orang tua, saudara, pasangan atau sahabat. Seorang teman menyeru, “Saya memilih quality time lantaran jadwal saya cukup padat, apalagi jika hari kerja. Mencari waktu untuk bertemu teman-teman saja susahnya minta ampun. Jadi, jika ada waktu luang, saya akan memanfaatkannya untuk bertemu dengan teman-teman dekat,” jelasnya.

Semua orang mendengarkan dengan seksama sembari mengangguk pertanda setuju. Lalu, ada juga teman yang memilih memberi hadiah untuk orang-orang yang disayangi, ada juga yang memilih mengekspresikan rasa sayang dengan pujian atau apresiasi. Jawaban tentang pertanyaan mana bahasa cinta yang sering digunakanpun beragam. Unik, nyatanya manusia memiliki bahasa cinta yang berbeda satu sama lainnya.

Gagasan tentang lima bahasa cinta ditulis oleh Gary Chapman pada bukunya yang berjudul “The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate” (1992). Salah Satu kutipan Gary Chapman pada buku tersebut berbunyi seperti ini, “For love, we will climb mountains, cross seas, traverse desert sands, and endure untold hardships. Without love, mountains become unclimbable, seas uncrossable, desert unbearable, and hardships our lot in life.” Terdengar sangat manis.

Cinta barangkali adalah senyawa yang menggerakkan hati dan pikiran kita untuk memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi. Bisa jadi, lantaran cinta, takada lagi sekat bahasa cinta yang harus dikotak-kotakan seperti yang disampaikan oleh Gary Chapman. Bahasa cinta bisa bertansformasi menjadi pekerjaan yang melebihi batas imajinasi, batas diri, dan batas-batas teori.

Obrolan malam itu terus berlanjut hingga akhirnya tiba giliran saya menjawab mana bahasa cinta yang sering saya gunakan. Saya bingung sebab saya sendiri tidak pernah mengidentifikasi jenis bahasa cinta yang paling sering saya gunakan. Saya melihat jauh ke dalam diri saya, menerawang sekiranya dari semua pilihan bahasa cinta yang ada, mana yang paling menggambarkan diri saya? Jujur, saya kesulitan.

Bisa dibilang, saya adalah tipikal orang yang selektif. Tidak mudah bagi saya untuk dekat dengan banyak orang. Butuh proses yang panjang: observasi, interaksi, hingga akhirnya memutuskan siapa saja pilih untuk saya curahkan sisi terbaik yang saya miliki. Terkesan pilih-pilih. Namun begitulah adanya.

Balik lagi pada pertanyaan tentang bahasa cinta, saya memilih words of affirmation dan pray. Untuk pilihan kedua memang tidak ada dalam bukunya Gary Chapman. Namun setelah melakukan internalisasi diri, memang itulah bahasa cinta yang sering saya gunakan. Saya memang terbiasa mengekspresikan rasa sayang melalui ungkapan kata-kata. Tidak ada alasan khusus. Namun sepertinya kata-kata adalah sesuatu yang tidak bisa terpisahkan dalam diri saya. Sementara untuk doa, ini adalah tahapan paling dalam dan paling akhir yang bisa saya upayakan untuk orang-orang yang saya sayangi. Saat kata takmampu lagi terucap, saat emosi taklagi mampu disampaikan dengan tepat, maka doa adalah pilihan yang terbaik. Menghadirkan Tuhan untuk menjembatani kata-kata yang tak tersampaikan.

Terlepas dari pembahasan tentang bahasa cinta, saya rasa kita semua bersepakat bahwa yang benar-benar kita inginkan untuk mereka yang terkasih hanyalah satu: yang terbaik untuk mereka. Namun sedihnya, terkadang kita harus berperang melawan rasa sesak saat kita mengetahui bahwa orang-orang yang kita sayangi memilih jalan yang kita rasa bukan jalan yang baik untuk mereka. Meski, mana jalan yang baik atau buruk, lagi-lagi bergantung pada sudut pandang.

Lantas pertanyaannya, manakah jalan yang benar-benar baik untuk kita? Setiap orang jelas memiliki jawabannya masing-masing. Belakangan saya berkontemplasi cukup lama untuk menemukan jawabannya. Saya rasa, untuk memutuskan jalan yang baik untuk kita, maka kita harus melibatkan hati kita yang terdalam, bukan melibatkan nafsu, pikiran, atau bahkan pendapat orang lain. Katakan pada diri kita, “Apakah ini yang betul-betul saya inginkan? Apakah ini yang betul-betul membuat saya bahagia? Apakah ini benar-benar diri saya yang sungguhnya?” Jika kita sudah bertanya dan menemukan jawaban yang bersumber dari hati kecil kita, ya, bisa jadi itulah jalan yang memang ditakdirkan Tuhan untuk kita.

Tentang orang-orang yang kita sayangi yang memilih jalan kita rasa tidak baik untuk mereka, upaya terbaik yang bisa kita lakukan yaitu sampaikan perasaan kita yang terdalam untuk mereka. Katakan bahwa kita benar-benar peduli kepada mereka, bicarakan dari hati ke hati tanpa ada perasaan saling menghakimi. Namun jika tidak berhasil, kita memasuki tahap proses penerimaan, bahwa apa yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain.

Sedih memang saat kita mengulurkan tangan untuk menarik orang yang kita sayangi yang nyaris jatuh ke jurang, namun justru ia memilih untuk melepaskan tangan kita. Kita marah, sedih, kecewa, dan tentu saja patah hati. Namun apa boleh buat, manusia hidup dari satu pilihan ke pilihan lainnya. Jangan menyiksa diri dengan menyalahkan kondisi yang terjadi. Terimalah dengan hati yang lapang. Setidaknya kita sudah berupaya, setidaknya kita sudah mencoba.

Jika saja telepati itu memang ada, mungkin akan lebih mudah bagi kita menyampaikan rasa sayang kita kepada mereka yang terkasih. Jika saja telepati itu memang ada, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk berbisik kepada mereka yang terkasih, “Aku rasa kamu memilih jalan keliru. Bisakah kamu mendengarkan suaraku?”

Akan tetapi manusia memang makhluk yang tidak sempurna. Kita memiliki banyak keterbatasan. Namun untuk melewati keterbatasan itu, maka kita butuh Tuhan. Minta pada-Nya sebab Ia-lah yang memiliki hati setiap manusia. “When people are ready to, they change. They never do it before then, and sometimes they die before they get around to it. You can’t make them change if they don’t want to, just like when they do want to, you can’t stop them,” pesan Andy Warhol.

Jakarta,

17 Mei 2019

Saat Irisan Kematian Begitu Tipis

20190305_170519-01
Photo captured by. Harry Anggie

Never forget how blessed you are to see another day.” – Anonymous

Dalam hidup ini, betapa sering kita mendengar, membaca, dan melihat orang-orang yang ‘lolos’ dari kematian—mungkin salah satunya kita sendiri yang mengalami peristiwa ‘lolos’ dari kematian. Saya beberapa kali memiliki pengalaman ‘lolos’ dari kematian, setidaknya empat kali selama saya hidup.

Pertama, saya pernah tenggelam ketika masih kecil. Saat itu, saya belum bisa berenang. Namun saya terbiasa bermain di pinggiran kolam dan berpegangan pada dinding-dinding kolam. Saya pikir, itu cara yang paling aman untuk bisa tetap main di dalam air tanpa takut tenggelam.

Lalu, saya ke luar dari kolam dan berdiri di pinggir kolam. Suasana kolam saat itu cukup ramai. Banyak orang-orang berenang, termasuk anak-anak seusia saya. Tiba-tiba, ada yang mendorong saya ke kolam. Saya meronta-ronta, berupaya naik ke permukaan. Namun hasilnya nihil. Saya berkali-kali minum air kolam hingga saya batuk. Mata saya terasa perih. Saya sulit bernapas.

Semakin saya berusaha keras naik ke permukaan, semakin saya kesulitan untuk bernapas. Saya tidak berharap banyak. Mungkin itu akhir hidup saya. Namun tiba-tiba seseorang mengangkat tubuh saya lalu mendorong ke pinggir kolam. Saya hampir tidak sadar diri. Namun beruntung saya selamat.

Saya tidak tahu siapa yang menyelamatkan saya pada insiden itu. Namun saya sungguh berterima kasih. Andai saja saya mengenalnya, saya akan sampaikan ungkapan terima kasih secara langsung. Kebaikannya akan selalu saya kenang hingga kapanpun. Terima kasih wahai pahlawan masa kecil saya.

Sejak kejadian itu, saya bertekad untuk bisa berenang. Saya rutin untuk belajar berenang hingga akhirnya saya benar-benar bisa berenang. Senang rasanya bisa berpindah dari satu titik ke titik lain, entah itu di kolam, sungai, ataupun laut tanpa harus takut tenggelam.

Kedua, saya dan teman-teman saya pernah nyaris ditabrak kereta api saat melewati jalan yang menjadi perlintasan kereta api. Tidak ada petugas yang berjaga, tidak ada palang pintu kereta api, dan tidak ada sirine sebagai tanda kereta api akan melintas. Mobil kami melaju melewati perlintasan kereta api. Tidak ada rasa khawatir karena memang jalanan sepi dan tidak ada tanda-tanda bahaya. Namun tidak berselang lama, kereta api lewat. Jantung saya berdegup kencang. Saya rasa kondisi yang sama juga dialami teman-teman saya. Kami mengucap syukur karena ‘lolos’ dari kematian. Terima kasih, Tuhan.

Ketiga, kejadian ‘lolos’ dari kematian juga terjadi saat berada di dalam mobil. Masih lekat di benak saya, pada 30 September 2009, tiba-tiba bumi bergoncang begitu hebat. Saya dan keluarga berada di dalam mobil menuju kota Padang.

Saat itu, momen Hari Raya Idul Fitri. Saya pulang kampung. Kami sekeluarga baru saja mengunjungi rumah saudara yang ada di Painan, Pesisir Selatan. Jalanan dari Painan menuju Padang tidak begitu besar, hanya cukup dilewati dua mobil dari arah yang berlawanan. Kondisi jalan bisa dikatakan cukup ekstrem lantaran berada di antara tebing batu dan jurang yang langsung mengarah ke laut. Gempa membuat mobil kami oleng. Namun beruntung masih bisa dikendalikan dengan baik.

Lalu, pemandangan seketika berubah begitu menyeramkan. Batu-batu di atas bukit yang berukuran besar berjatuhan dan nyaris meniban mobil kami. Semua orang di dalam mobil berteriak. Kondisi saat itu mengingatkan saya pada salah satu adegan dalam film “Knowing” (2019) yang dibintangi Nicolas Cage, saat ia dan anaknya berada di dalam mobil dan berupaya terhindar dari jilatan gelombang panas.  

Perlahan, getaran gempa mulai berkurang. Batu-batu dari atas bukit juga tidak lagi berjatuhan. Kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan. Baru beberapa meter jalan, kami melihat pemandangan yang memilukan. Seorang pengendara sepeda motor tertiban batu yang berukuran besar. Sudah dipastikan ia tidak selamat. Tragis.

Keempat, kejadian ‘lolos’ dari kematian baru beberapa waktu lalu saya alami, tepatnya pada Minggu, 17 Maret 2019, saat penerbangan dari Balikpapan ke Jakarta. Sesuai jadwal penerbangan, pesawat saya seharusnya take off pukul 19.45 WITA. Namun ketika berada di ruang tunggu, ada pengumuman dari maskapai bahwa terjadi keterlambatan penerbangan sekitar 45 menit lantaran ada kendala teknis. Pukul 19.56 WITA, pesawat sudah bisa dinaiki penumpang dan siap lepas landas. Setelah kurang lebih 35 menit terbang, tiba-tiba ada pengumuman dari awak kabin yang mengatakan pesawat memiliki masalah teknis khususnya pada kemudi kendali otomatis sehingga terpaksa harus memutar balik ke Balikpapan.

Tangan saya berkeringat, saya mulai berpikir buruk, “Bagaimana jika hal buruk terjadi pada pesawat yang saya tumpangi?” Saya melepas headphone yang sedari tadi menempel di daun telinga. Zac Efron dan Zendaya masih saja terus bernyanyi, “…How do we rewrite the stars? Say you were made to be mine? Nothing can keep us apart. ‘Cause you are the one I was meant to find…”

Saya berusaha tenang, berusaha menghalau pikiran buruk, seraya berdoa. Saya hanya bisa pasrah, berharap Tuhan melindungi kami semua. Jika memang memang kematian sudah di ambang mata, saya bisa apa?

Pesawat memutar balik menuju Balikpapan. Semua orang tampak khawatir. Kami merapal doa, benar-benar berharap bisa mendarat dengan selamat di Balikpapan. Alhamdulillah, roda pesawat menyentuh landasan bandara. Kami semua selamat.

Semua penumpang satu persatu turun dari pesawat, melewati lorong menuju counter check-in. Pihak maskapai mengatakan bahwa tidak ada lagi penerbangan ke Jakarta. Penerbangan kami merupakan penerbangan terakhir. Mau tidak mau harus diundur hingga besok pagi.

Para penumpang antre untuk mengatur ulang jadwal penerbangan mereka. Ada yang memilih jadwal penerbangan pertama pada esok hari, ada yang siang, dan ada pula yang marah-marah kepada petugas maskapai lantaran jadwal perjalanan mereka jadi kacau. Namun saya pikir, keputusan pilot untuk kembali ke Balikpapan merupakan keputusan yang paling tepat. Bagaimana jika pihak maskapai tetap memaksakan penerbangan ke Jakarta? Tidak ada yang bisa jamin bahwa kami akan selamat. Sangat berisiko. Saya tidak ingin seperti penumpang lainnya yang mengeluh, protes keras, bahkan memaki-maki petugas maskapai. “Sudah sampai selamat kembali di Balikpapan saja saya sudah tenang,” saya membatin.

Beberapa kejadian ‘lolos’ dari kematian yang pernah saya alami membuat saya merenung bahwa sejatinya kematian akan selalu mengikuti manusia hingga kapanpun. Hanya kita tidak diberi kuasa oleh Tuhan kapan kematian benar-benar menghampiri kita dan berkata, “Saatnya kamu mengucapkan selamat tinggal pada dunia.”

Terkadang, saya sering memikirkan kematian dan berharap kematian segera menyapa saya pada usia yang masih muda. Saya teringat puisi yang ditulis Soe Hok Gie, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Entahlah, mungkin saya belum menemukan Ikigai – a reason for living atau mungkin saya hanya merasa lelah; melihat dunia yang semakin tidak nyaman untuk ditinggali, kekhawatiran akan banyak hal, dan semakin lama hidup maka akan semakin banyak dosa yang saya perbuat. Mungkin kematian satu-satunya jalan untuk mengistirahatkan pikiran dan perasaan saya. Namun saya juga khawatir bahwa saya tidak benar-benar siap untuk mati muda. Bekal saya untuk kehidupan berikutnya belum banyak. Mungkinkah di kehidupan berikutnya akan lebih menyenangkan?

Buku “Ikigai: The Japanes Secret to a Long and Happy Life” (2016) yang ditulis oleh Héctor García and Francesc Miralles mengemukakan gagasan bahwa setidaknya ada empat alasan mengapa kita harus terus bertahan untuk hidup, yaitu mission, vocation, profession, dan passion yang juga dibingkai dalam empat pertanyaan, “what you love, what the world needs, what you can be paid for, and what you are good at.

Barangkali ada benarnya bahwa jika kita lelah dengan hidup, mungkin kita perlu menemukan Ikigai kita sendiri dan itu sangatlah personal. Mungkin juga kita harus mengubah perspektif kita tentang hidup itu sendiri. Beruntung kita masih bisa bangun, masih bisa bernapas, masih bisa mandi, masih bisa sarapan, masih bisa datang ke kantor, masih bisa bekerja, dan banyak hal yang masih bisa kita lakukan.

Sementara di luar sana, ada orang-orang yang benar-benar berjuang untuk hidup dan itu tentulah tidak mudah. Kata sahabat saya, Harry, “Everyday is a gift grom God.” Maka balasan untuk hadiah yang diberikan Tuhan yaitu dengan cara bersyukur, menikmati hari-hari yang kita jalani walau terkadang diselingi air mata, kecewa, duka, dan perasaan-perasaan tidak mengenakkan hati lainnya. Perlakukan perasaan itu selayaknya tamu. Ia akan datang dan pergi. Ia tidak akan singgah terlalu lama. Jadi, biarkan ia hadir, biarkan ia bertamu, dan bila perlu ucapkan selamat tinggal jika memang waktunya ia harus pergi.

Jangan terlalu risaukan masa depan yang masih menjadi misteri. Hiduplah untuk hari ini, hiduplah untuk saat ini. Kita memang diminta untuk mempersiapkan masa depan. Namun yang lebih penting yaitu masa sekarang. Masa di mana kita masih bisa merasakan hembusan napas yang terasa hangat, masa di mana kita masih bisa melihat daun-daun yang berguguran, dan masa di mana kita masih bisa mendengar burung berkicau dengan merdunya.

Saya rasa, kejadian-kejadian ‘lolos’ dari kematian merupakan isyarat dari Tuhan bahwa kita masih punya waktu untuk menggapai mimpi-mimpi kita, bahwa kita masih bisa memperbaiki hubungan yang sempat retak dengan orang lain, bahwa kita masih bisa menunjukkan sisi terbaik kita kepada orang-orang yang kita sayangi.

Jangan meminta kematian menjemput lebih awal sebab tanpa dimintapun ia akan datang. Kematian tidak akan pernah datang lebih awal atau datang terlambat. Suatu saat ia akan menyapa kita pada tempat dan waktu yang tidak disangka-sangka. Untuk itu maknailah hidup selayaknya perkataan orang bijak, No matter how good or bad your life is, wake up each morning and be thankful that you still have one.

Jakarta,

18 April 2019

Mereka Tidak Benar-Benar Pergi

WhatsApp Image 2019-03-05 at 6.03.46 AM
Photo Captured by. Harry Anggie

Pagi ini, saya mendapatkan notifikasi dari Facebook, “Edrizal and 7 others have birthdays today. Help them celebrate!” begitu pesan Facebook. Biasanya, jika sempat, saya akan mengirim ucapan selamat ulang tahun ke teman-teman yang sedang ulang tahun. Di antara mereka ada teman-teman yang masih intens berkomunikasi hingga sekarang namun lebih banyaknya mereka yang sudah jarang sekali berkomunikasi, apalagi bertatap muka.

Momentum ulang tahun saya manfaatkan untuk menjalin yang sudah terputus, merekatkan yang sudah terlepas. Kata mama, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahmi.” Sebuah pesan yang sebetulnya sulit sekali saya terapkan lantaran saya  tergolong orang cukup cuek, terutama kepada orang-orang yang saya anggap tidak begitu dekat. Entahlah, apakah itu baik atau buruk. Namun yang jelas, saya berupaya agar hubungan yang sudah dibangun baik sejak awal tetap menjadi baik—hingga tiba waktunya saya taklagi berkewajiban menjalankan peran sebagai makhluk sosial.

Hari ini, pengingat dari Facebook membuat hati saya mendung. Pagi yang tadi cerah seketika berubah kelabu. Otak saya secara otomatis mencari kenangan yang tersimpan di hippocampus, bagian otak yang menyimpan memori. Hippocampus menampilkan mozaik kesedihan yang saya rasakan ketika salah seorang sahabat saya yang hari ini ulang tahun, meninggal dunia, tepatnya pada 4 November 2013.

Ia pergi pada usia yang masih sangat muda. Jauh sebelum ia sakit, kami berencana untuk bertemu untuk sekadar memastikan bahwa tidak banyak yang berubah dari kami. Namun sialnya terkadang dunia bekerja tidak seperti apa yang kita pikirkan. Hari-hari berikutnya ia menanggung beban yang takbisa ia bagi kepada saya. Ia terbaring sakit hingga akhirnya Tuhan mencukupkan rasa sakit yang ia derita. Kini, ia taklagi sakit. Ia sudah beristirahat dengan tenang di sana. Semoga Tuhan tempatkan ia di tempat terbaik di sisi-Nya.

Saya pernah mendengar ungkapan seperti ini, “”Orang-orang baik, konon katanya lebih cepat meninggal.” Saya tidak mafhum apakah teori ini akurat atau tidak. Namun ada hal yang cukup menganggu hari-hari saya, “Mengapa orang-orang yang baik kepada saya, satu persatu meninggalkan saya.”

Saya telah banyak kehilangan orang-orang yang saya sangat sayangi. Kehilangan paling berat yaitu ketika kehilangan sahabat baik sejak di bangku Sekolah Dasar lanjut kehilangan sahabat baik ketika di bangku Sekolah Menengah Pertama, terakhir kehilangan orang yang memiliki tempat istimewa di hati saya: nenek.

Takbanyak orang yang saya izinkan masuk ke dalam hati saya. Sejak kecil, saya sangat selektif memilih teman. Saya ingat pesan mama, katanya, “Jangan sembarangan memilih teman. Seseorang dilihat dari siapa ia berteman.”

Secara tidak langsung, pesan itu begitu melekat di benak saya sehingga dampaknya saya tidak begitu pandai bergaul. Teman saya ya itu-itu saja. Namun saya merasa sudah cukup memiliki beberapa orang teman yang baik yang mampu mendorong saya jauh lebih baik dari hari ke harinya.

Dalam hidup ini, ada hal yang bisa kita ubah dan ada hal yang masih bisa kita upayakan. Kita terlahir dari keluarga seperti apa, itu hal tidak mungkin kita ubah. Namun kita masih punya kesempatan memilih orang-orang yang kita sebut sebagai sahabat. Kita memiliki hak prerogatif untuk menyaring siapa saja yang boleh ada di hati kita dan siapa yang tidak. Siapapun tidak berhak menggugat hak itu.

Lantas, bagaimana jika mereka yang sudah kita pilih, secara bergantian tidak lagi bersama kita? Saat kehilangan mereka, saya merasa ada yang hilang dalam hati saya. Seketika dada terasa sesak, seketika anterior cingulate cortex (ACC) bekerja tanpa diperintah. Jika hati layaknya kumpulan puzzle, maka kehilangan orang yang terkasih menyebabkan kepingan puzzle turut hilang. Lambat laun, hati tidak lagi tersusun dari kumpulan puzzle yang utuh. Ada ruang yang kosong, ada ruang yang dingin, dan ada yang ruang yang hampa. Kini, semua tidak lagi sama.

Kamis, 22 Juni 2017 merupakan hari yang cukup berat dalam hidup saya. Hari itu, untuk terakhir kalinya saya melihat wajah, menyentuh tangan, dan membelai rambut orang yang sangat saya sayangi, nenek. Berulang kali saya menaruh jari telunjuk tepat di bawah lubang hidung nenek, memastikan nenek masih bernapas. Merasa takcukup, saya juga berulang kali menekan pembuluh nadi nenek, memastikan pembuluh nadinya masih berdenyut. Namun takada napas hangat yang saya rasakan, takada juga denyut nadi yang berdenyut lemah. Semuanya nihil.

Saya membuka kacamata, mengelap muka dengan tangan kiri saya. Saya belum bisa menerima bahwa nenek pergi untuk selamanya. Saat itu, tidak ada air mata yang menetes. Saya hanya merasa linglung. Saya sulit membedakan apakah saat itu saya berada dalam mimpi atau kenyataan. Lalu, kain panjang menutup muka nenek. Suara terdengar gaduh sementara saya merasa sepi. Lagi, ada puzzle yang hilang, semua kembali berulang.

Begitulah adanya hidup, ada yang terlahir dan ada pula yang meninggal. Saya membaca berita bahwa setidaknya ada tiga bayi terlahir setiap detik di seluruh dunia dan pada hari yang sama sekitar 153 ribu orang meninggal di seluruh dunia.

Mereka yang datang disambut suka cita, mereka yang pergi disambut dengan duka dan air mata. Datang dan pergi seolah menjadi hal yang takbisa kita hindari. Untuk mereka yang saya sayangi dan sudah pergi, ingin sekali saya katakan pada mereka bahwa sesungguhnya mereka tidak benar-benar pergi di hati saya. Mereka akan terus ada hingga kapanpun. Saya akan selalu mengingat mereka dalam ingatan yang baik, ingatan yang terjaga.

Mengutip pesan Sirius Black kepada anak baptisnya, Harry, “The ones who love us never really leave us, you can always find them in here (heart).” Saya berharap, pada suatu waktu, saya bisa kembali bertemu mereka, bercerita tentang hari-hari indah yang pernah kita jalani bersama.

Terima kasih untuk mereka yang pernah baik pada saya. Izinkan saya untuk selalu mengingat dalam ingatan yang baik, dalam ingatan yang terjaga.

 

Jakarta,

28 Maret 2019

 

 

Merasa Cukup

DSC_0013_19-01.jpeg
Photo captured by. Mahfud Achyar

“How’s life?”

Seorang teman mengirim pesan singkat di aplikasi WhatsApp.

“Good!” balas saya singkat.

Klise. Demikianlah percakapan yang acap kali terjadi antara satu manusia dengan manusia lainnya. Pertanyaan seputar kabar biasanya menjadi pertanyaan pembuka saat kita ingin menjalin komunikasi dengan orang lain. Apa yang kita harapkan saat bertanya kabar pada orang lain? Tentu berharap mereka dalam keadaan sehat dan bahagia. Layaknya sebuah harapan, maka jawaban-jawaban itulah yang akan kita terima.

Manusia begitu pandai menyembunyikan perasaan, terutama ketika berkomunikasi menggunakan bahasa teks. Saat ada yang bertanya kabar, maka secara otomotis biasanya kita akan menjawab, “kabar baik”. Namun mungkinkah kita benar-benar baik? Bisa jadi kita ingin menutupi keadaan yang terjadi sesungguhnya. Bukan bermaksud membohongi lawan bicara. Namun takingin membuat khawatir atau menambah beban.

Bisa juga mereka yang menjawab, “baik,” mungkin memang sesungguhnya dalam keadaan baik. Lagi-lagi, kita hanya akan terus berada pada ranah asumsi. Untuk cerita sesungguhnya di balik kata yang diproduksi biarlah menjadi rahasia sang pengujar kata. So, how’ life?

Hidup di tengah hiruk pikuk manusia, terutama di kota besar seperti Jakarta, ada fenomena yang cukup mencuat yaitu fenomena membanding-bandingkan. Saya sendiri mungkin salah satu orang yang terkena dampak fenomena ini. Sulit disangkal bahwa saya juga kerap kali membandingkan kehidupan saya dengan orang lain. Untuk konteks ini, membanding-bandingkan menjadi terminologi yang berkonotasi negatif. Saya merasa tidak puas dengan kehidupan saya saat ini, saya merasa tidak pernah cukup.

Salah satu aspek kehidupan yang membuat saya tidak pernah cukup yaitu masalah pekerjaan. Saya pernah bercerita kepada seorang teman tentang keinginan saya untuk pindah kerja. “Saya sudah lama bekerja di tempat yang sekarang. Saya merasa karir saya begitu-begitu saja. Usia saya kian bertambah, saya ingin bekerja di tempat yang lebih menjanjikan. Saya ingin lebih. Saya ingin seperti kebanyakan orang. Bekerja di tempat yang prestisius dengan jenjang karir yang jelas serta mendapatkan gaji yang sepadan sesuai dengan apa yang sudah saya berikan,” keluh saya.

Teman saya sesekali menganggukkan kepala pertanda ia setuju dengan apa yang saya sampaikan. Namun tak berselang lama, saya mengemukaan pandangan yang cukup kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya.

Eh, tapi katanya kita tidak boleh berkeluh kesah ya? Banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi saya. Sebetulnya, pekerjaan saya saat ini tidak begitu buruk. Jika dipikir-pikir, banyak keuntungan yang saya dapatkan di tempat kerja saat ini. Waktu kerja saya jelas, pukul delapan pagi hingga empat sore. Saya juga masih bisa beraktivitas di luar kantor. Okay, saya tidak ingin mengeluh. Saya harus merasa cukup. Jika memang ingin pindah kerja, pasti ada waktunya. Saya hanya perlu berdoa, bersabar, serta bersyukur atas apa yang saya punya sekarang.”

“Kamu ini ya, tanya sendiri jawab sendiri. Heran,” timpal teman saya.

Teman saya juga mengeluh tentang pekerjaannya. Ia merasa kurang diapresiasi ditambah ia sering menghadapi drama kantor yang menguras energi. Kami bersepakat bahwa memang sudah saatnya kami pindah kerja. Namun setelah diskusi cukup lama, kami sama-sama menyetujui bahwa permasalahan yang kami hadapi bukanlah sesuatu yang krusial, sesuatu yang masih bisa ditangani dengan baik. Lagipula mencari pekerjaan yang baru bukanlah persoalan yang mudah. Ada banyak orang di luar sana yang berjuang mencari pekerjaan, lamar sana-sini, wawancara, dan proses panjang yang melelahkan lainnya.

Saat kita mencari celah kekurangan kita, maka kita akan temukan itu dalam jumlah yang banyak. Kita merasa tidak seberuntung teman yang hampir setiap bulan liburan, kita merasa tidak sepintar teman yang baru saja promosi jabatan, kita merasa hidup kita begitu-begitu saja tanpa ada prestasi yang bisa dibanggakan.

Keadaan bertambah buruk saat kita melihat kehidupan di dunia kecil yang bernama media sosial. Hampir semua orang menampilkan kebahagiaan. Ada yang baru saja tunangan, ada yang baru membeli rumah serta potret-potret kebahagiaan lainnya. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan media sosial. Layaknya etalase, media sosial hanya menampilkan barang-barang yang bagus, barang-barang yang memikat hati. Hampir jarang orang berbagi kegagalan, berbagi kesengsaraan, dan hal-hal buruk lainnya.

Saat melihat orang lain khususnya teman-teman kita sendiri sudah berada pada titik tertentu, seharusnya kita merasa bahagia. Artinya hal baik sedang menghampiri mereka. Namun jika kita merasakan hal yang lain, misal merasa rendah diri, maka saat itu juga kita harus menutup aplikasi media sosial. Ada sesuatu yang salah dengan diri kita. Mari ajak hati untuk berdiskusi.

Persoalan membanding-bandingkan tidak akan pernah habis. Sudah saatnya kita melihat ke dalam diri kita untuk menemukan banyak hal yang patut kita syukuri. Mungkin ini formula sederhana yang bisa kita lakukan agar kita bisa merasa cukup.

Merasa cukup bukan berarti kita berpuas diri atas pencapaian kita saat ini. Kita sangat dianjurkan melompat lebih tinggi dari waktu ke waktu. Kita berharap terus mengalami peningkatan entah itu dalam hal finansial, pendidikan, hubungan, dan aspek kehidupan lainnya. Namun saya selalu percaya bahwa setiap orang akan menemukan jalannya masing-masing. Menjadi ‘lebih’ mungkin baik. Namun merasa ‘cukup’ jauh lebih menenangkan.

Sometimes you are unsatisfied with your life, while many people in this world are dreaming of your life. A child on a farms sees a plane fly overhead and dreams of flying. But, a pilot on the plane sees the farmhouse and dreams of returning home. That’s life! If wealth is the secret to happiness, then the rich should be dancing on the streets. But only poor kids do do that. If power ensures security, then officials should walk unguarded. But thoses who live simply, sleep soundly. If beauty and fame bring ideal relationships, the celebrities should have the best marriages. Live simply. Walk humbly and love genuinely. All good will come back to you.” – Anonymous.

Jakarta,

27 Maret 2019

It’s Okay!

WhatsAppImage2019-02-06at11.57.23AM
Jakarta when the rain comes. 

Not everyday is a good day, live anyway. Not everyone will tell you the truth, be honest anyway. Not all you love will love you back, love anyway. Not all deals are fair, play fair anyway.” – Anonymous

Saya selalu terkesima dengan konsep “The Art of Conversation,” bahwa dalam setiap obrolan, setidaknya ada satu atau dua kalimat yang tiba-tiba membuat kita merinding. Merasakan kata-kata yang keluar seolah memiliki magic lalu kita tersadarkan bahwa kata-kata itu sangat tepat untuk kondisi kita saat ini—atau mungkin membawa kita pada ingatan masa lampau. Dalam diam, kita berkata pada diri sendiri, “Oh, ini jawaban dari pertanyaan saya selama ini.”

Kerap kali magic itu tidak hadir dalam setiap obrolan. Biasanya hanya keluar pada waktu-waktu tertentu yang kita sendiri sulit merekayasannya. Ia hadir melalui pembicaraan yang dilakukan secara intim, dalam, dan sangat personal. Maka takheran bila pertemuan yang terdiri dari banyak orang, misal lebih dari lima orang, hanya melahirkan obrolan-obrolan yang dangkal. Sekadar basa-basi lalu pulang tanpa membawa pesan yang berarti.

Semakin bertambah usia, saya menyadari ada banyak hal yang berubah dalam diri saya. Dulu, saya begitu bersemangat hadir dalam pertemuan-pertemuan dalam skala besar. Saya pikir, itu baik untuk saya. Bisa berkenalan dengan orang-orang baru yang tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menjadi teman-teman baik saya di kemudian hari. Lalu, aktif di grup—menimpali obrolan hingga menjadi percakapan yang seru yang seolah tidak ada habis-habisnya.

Akan tetapi, everything has changed. Kini, pola komunikasi saya berubah. Saya lebih nyaman berkomunikasi secara personal, person to person. Hampir jarang aktif di grup besar—jika pun masih aktif di grup—hanya grup kecil yang dihuni beberapa orang yang membuat saya nyaman untuk berkomunikasi di sana.

Nyaman menjadi tujuan utama dalam membangun hubungan. Namun, nyaman bukan berarti tanpa percikan-percikan. Jelas masalah akan selalu datang menguji seberapa kuat fondasi hubungan yang kita bangun. Saat bergejolak, kita punya sudut pandang yang sama bahwa kita sama-sama bertumbuh, sama-sama belajar dari kesalahan. Nyaman juga berarti kita bisa menjadi diri kita apa adanya, berbagi tentang bagaimana cara kita melihat dunia serta saling mendukung untuk pribadi yang lebih baik.

Pernah suatu waktu, saya berkeluh kesah pada teman saya, “Mengapa dunia tidak bekerja sesuai dengan value yang berlaku secara universal?”

“Hah, maksudnya?”

“Iya maksud aku, mengapa orang jika punya masalah dengan orang lain harus mengumbarnya di media sosial, mengapa tidak diselesaikan secara langsung? Mengapa orang merokok sembarangan tanpa menghiraukan orang-orang yang tidak merokok? Mengapa orang memutuskan pertemanan tanpa ada niat untuk memperbaiki terlebih dahulu? Mengapa, mengapa, dan mengapa?”

“Setiap orang kan beda-beda. Tidak semua orang punya value yang sama.”

“Tapi kan itu value yang berlaku universal dan dibahas di banyak buku atau artikel.”

“Masalahnya, tidak semua orang punya referensi yang sama. Setiap orang memiliki self righting process. Kamu mungkin sudah di tahap yang lebih baik, namun orang lain belum tentu. Jangan pernah menyamakan diri kita dengan orang lain. Memang, kadang tidak sejalan dengan pikiran kita, tapi it’s okay. Coba lebih santai menanggapi sesuatu ya!”

Saya mencoba melumat mantra it’s okay. Terdengar sederhana namun sebetulnya sangat sulit untuk diterapkan. Tapi bukan hal yang mustahil mantra itu bisa saya kuasai asal mau terus berlatih setiap harinya. Jika ada lintasan pikiran negatif, saya akan bilang ke diri saya, “Go away negative thoughts.” Walau sulit, saya harus menantang diri saya untuk mengontrol pikiran saya sendiri.

Dua tahun belakangan, setidaknya ada dua orang teman yang memutuskan untuk menyudahi hubungan pertemanan dengan saya, tidak hanya di dunia nyata bahkan juga di dunia maya. Sebetulnya, saya bingung apa faktor yang menyebabkan mereka menyudahi pertemanan dengan saya. Berpikir, merenung, dan berkontemplasi sekiranya memang ada kesalahan yang telah saya perbuat saya mereka. Jikapun saya berbuat salah, saya akan mencoba memperbaikinya.

Saya selalu berpikir, tidak ada masalah yang tidak dapat dibicarakan. Mungkin lebih baik kita beradu argumen asal setelah itu kita bisa kembali berdamai. Jikapun tidak bisa seterbuka itu, setidaknya saya diberi alasan mengapa saya layak mendapatkan perlakuan seperti itu. Saya mencoba memulai, menanyakan kesalahan apa yang telah saya perbuat. Namun tidak ada jawaban hingga pada akhirnya saya memutuskan, “Let them go.”

Menyedihkan memang ketika kita mengetahui fakta, “We are not friends. We’re strangers with memories.” Namun apa boleh buat, orang-orang datang dan pergi silih berganti dalam hidup kita. Sekuat apapun kita menahan mereka untuk tetap bertahan namun ketika mereka milih untuk pergi—yang bisa kita lakukan hanyalah mengucapkan, “selamat jalan!” seraya berharap kebahagiaan senantiasa memenuhi  relung hati mereka.

Agaknya mantra it’s okay dapat sedikit meredam kekecewaan kita terhadap banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. It’s okay bukan berarti kita pasrah namun sikap menerima dengan hati yang lapang bahwa nyatanya banyak pertanyaan-pertanyaan dalam hidup ini yang tidak ada jawabannya. Kita selalu berharap pertanyaan akan dijawab setidaknya dengan begitu kita meresa lega—tidak lagi dihantui rasa penasaran. Namun lagi-lagi, terkadang dunia berjalan tidak sesuai dengan pikiran kita. Apa yang kita anggap itu ideal belum tentu ideal untuk orang lain, apa yang kita anggap baik belum tentu juga baik untuk orang lain. Once again, it’s okay!

 Jakarta,

6 Februari 2019

Surat untuk Kamu

p1011414

Teruntuk,

Kamu.

Tahun baru selalu datang setiap tahunnya. Tidak semua orang dapat menyapa tahun baru. Beberapa orang dekatmu atau orang-orang yang kamu kenal tidak lagi ada di tahun ini. Kata orang, waktu satu tahun sangatlah singkat. Namun dalam kurun waktu satu tahun, banyak hal yang bisa terjadi. Kamu tentu sangat paham maksudku. Jadi seharusnya kamu bersyukur masih bisa merasakan pergantian tahun. Artinya, Tuhan masih memberikan kesempatan untukmu untuk berbuat baik, memperbaiki kesalahanmu, mengejar mimpi-mimpimu, dan melakukan banyak hal yang menurutmu baik–setidaknya untuk dirimu sendiri. Cobalah sedikit bersemangat, cobalah sedikit antusias walau aku tahu itu agak berat untukmu.

Malam pergantian tahun waktu di mana banyak orang bersuka-cita merayakannya dengan pesta kembang api, berkumpul bersama keluarga dan teman, dan aktivitas menyenangkan lainnya–namun dirimu seperti biasa membenamkan diri dalam pertanyaan-pertanyaan kontemplatif. “Satu tahun, apa saja yang sudah saya lakukan?” Biasanya, dirimu membuat jurnal tahunan yang bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi setiap bulannya. Tahun ini, aku amati, kamu tidak melakukannya lagi. Mengapa? Apa mungkin karena ritual tahunan itu menurutmu sangat melankolis? Kamu merasa tidak perlu lagi melakukan hal itu karena kamu berpikir perasaan melankolis seharusnya sudah tercabut dari seseorang yang hampir memasuki kepala tiga. Aku tanya padamu, memang salah jika seorang yang memasuki kepala tiga memiliki perasaan melankolis? Aku pikir itu justru kelebihanmu. Dirimu memiliki hati yang lembut dan mudah tersentuh. Kau tahu apa artinya itu? Artinya kamu masih memiliki cinta. Jika perasaan itu sirna maka itulah yang harusnya kamu khawatirkan. Terkadang aku heran dengan pola pikirmu. Rumit. Sering menyusahkan diri sendiri.

Satu tahun berlalu dan kamu merasa tidak melakukan banyak hal. Kamu merasa payah, kamu merasa tidak sehebat teman-temanmu, kamu merasa waktu banyak terbuang percuma, kamu merasa tidak menghasilkan progres yang baik, dan yang paling menyedihkan kamu terlalu sering menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi.

Maaf, aku terlalu berterus terang padamu. Hal ini semata-mata aku lakukan karena aku sangat sayang padamu. Satu tahun kemarin, aku melihat dirimu kian tumbuh menjadi manusia yang bijaksana. Kamu mulai berdamai dengan diri sendiri, kamu mulai memaafkan masa lalu, kamu mulai belajar melepaskan, kamu mulai belajar mengelola ekspektasi, dan kamu mulai belajar menjadi manusia yang seutuhnya. Menurutku, tidak banyak orang bisa melakukan itu. Aku melihat kamu bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Walau di beberapa aspek, aku melihat dirimu sangat lamban. Tapi bukankah keberhasilan sekecil apapun layak dirayakan?

Aku tahu, tahun ini benar-benar tidak mudah untukmu. Aku melihat bagaimana usahamu menahan perasaan, aku melihat bagaimana dirimu tersenyum ketika menerima kegagalan yang datang silih berganti, aku melihat upayamu untuk mengikhlaskan sesuatu yang sebetulnya enggan untuk kamu lepaskan, aku melihat usahamu untuk terus menjaga hubungan, aku melihat banyak hal. Ingin sekali aku memelukmu erat sambil berkata lirih, “Tidak apa-apa. Kamu sudah melalukan yang terbaik semampu yang kamu bisa. Jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Ambil waktu untuk mencintai diri sendiri.”

Untuk satu tahun yang sudah berlalu, jangan pernah ditangisi lagi. Wajar jika masih menyisakan begitu banyak kekecewaan. Kata orang, luka-luka dalam hati bisa dibasuh oleh waktu. Tapi menurutku itu tidak tepat. Ia hanya bisa sembuh dengan cara dirimu menerima bahwa hatimu memang penuh luka, bahwa kau merasakan sakit, bahwa perasaan itu sangat menganggu malam-malam panjangmu. Tidak masalah jika perasaan itu masih kau rasakan. Asal kau ingat satu hal, tidak ada yang sayang pada dirimu selain dirimu sendiri. Jadi, mulailah belajar melepaskan. Aku hanya berharap itu benar-benar bisa kau lakukan. Aku yakin kamu mampu sebab tidak ada yang lebih mengenal dirimu selain aku.

Tahun baru, ada 365 lembaran baru. Kamu sudah memiliki pulpen baru yang kamu beli di toko buku beberapa waktu lalu. Sudah siap menulis cerita-cerita baru? Aku tidak sabar membaca tulisan-tulisan yang dipenuhi kebahagiaan dan sedikit kesedihan. Selamat tahun baru untukmu dan untukku!

Dari orang yang sangat mengenal dirimu,

Aku.

Jakarta,

31 Desember 2018

Apa yang Saya Dapatkan dengan Menjadi Relawan?

Oleh: Mahfud Achyar

sahabat nusantarun photo by. bagus ernanda
Sahabat NusantaRun Chapter 6 (Foto Oleh: JF Bagus Ernanda Putra)

Suatu hari yang biasa, seorang teman mengirim pesan, “Salut sama kamu masih sempat ikut kegiatan kerelawanan.” Saya tidak langsung membalas pesan teman tersebut. Saya memikirkan apa respon terbaik yang bisa saya berikan, kemudian saya menulis, “Entah mengapa saya jatuh hati dengan dunia kerelawanan. Semacam saya punya tujuan hidup yang lebih penting dibandingkan hanya bekerja selama delapan jam dari pagi hingga sore.” Teman saya mengapreasiasi respon yang saya sampaikan walau setelah itu saya berpikir ulang apakah memang itu jawaban yang paling tepat. Saya sangsi.

Tahun 2018, ada dua kegiatan kerelawanan yang sangat berkesan untuk saya yaitu NusantaRun Chapter 6 dan Mural Kebaikan. Masih lekat di benak saya, awal tahun 2018, sahabat saya Harry Anggie mengajak untuk bergabung menjadi Sahabat NusantaRun (sebutan untuk panitia inti atau komite NusantaRun). Tanpa pikir panjang, saya pun mengiyakan ajakan Harry. Betapa tidak, tahun sebelumnya saya juga pernah menjadi relawan NusantaRun chapter 5. Saat itu, saya bertugas menjadi relawan dokumentasi. Menjadi relawan dokumentasi bukan kali pertama buat saya. Namun mengabadikan kegiatan lari tentu menjadi pengalaman pertama dan seperti orang-orang bilang, “Pengalaman pertama tidak pernah mengecewakan dan selalu berkesan.”

Selama bertugas menjadi relawan dokumentasi, saya melihat ratusan pasang mata yang memancarkan pesan kebaikan yang saya intip dari lensa kamera mirrorless Olympus berwarna silver. Saya bukanlah seorang cenayang. Namun saya pikir banyak orang yang bisa menangkap sorot mata ketulusan, kebaikan, dan kehangatan kendati dari orang-orang yang tidak dikenal sekalipun. Sebab mata adalah jendela jiwa. Dari mata banyak cerita yang bisa tercipta. Saya bersyukur melihat itu semua, cerita kebaikan yang menjadi pengharapan untuk hari-hari di masa depan. Sejatinya, orang-orang baik di negeri ini masih ada dan akan terus ada. Namun keberadaan mereka tertutupi oleh dominasi orang-orang jahat yang perlahan  namun pasti menggrogoti bumi pertiwi.

Dari dunia kerelawanan saya belajar bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk kita bekerja sama, berkolaborasi, dan bersinergi. Tidak ada yang menanyakan agama, tidak ada yang menanyakan status sosial, tidak ada yang menanyakan pandangan politik. Selama masih berkontribusi, sekecil apapun akan diapresiasasi. Perbedaan bukanlah yang hal yang paling penting namun upaya kita bersama-sama mewujudkan sebuah misi itu yang menjadi lebih penting.

Setiap orang yang terlibat di NusantaRun memiliki tujuan yang sama, dunia pendidikan di Indonesia yang kian gemilang. Berharap tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang putus sekolah, fasilitas merata dari ujung barat hingga Timur Indonesia, dan semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam hal akses pendidikan. Tidak besar upaya yang sudah dilakukan. Namun saya selalu percaya kebaikan itu menular. Semoga gerakan-gerakan kebaikan terus menggeliat hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Semoga api semangat kebaikan terus menggolara di setiap hati manusia Indonesia.

Selain menjadi relawan NusantaRun, tahun 2018 menjadi sangat spesial lantaran untuk pertama kalinya saya menjadi seorang fundraiser. Selain para pelari, panitia inti juga diharapkan untuk menggalang donasi untuk mewujudkan misi #PendidikanUntukSemua melalui laman platform KitaBisa. Memang tidak diwajibkan. Saya sempat ragu apakah turut jadi fundraiser atau tidak. Cukup lama bagi saya memutuskan untuk menjadi seorang fundraiser. Saya khawatir bagaimana nanti jika saya tidak mencapai target? Bagaimana nanti jika tidak ada yang mau berdonasi melalui laman saya? Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang fundraiser NusantaRun chapter 6.

“Jika bisa berbisik, mengapa harus berteriak?” Ini pesan yang disampaikan oleh Pak Iwan Esjepe ketika diskusi tentang dunia copywriting. Kata beliau, untuk menyentuh hati orang lain, tidak perlu menggunakan bahasa logika. Gunakanlah bahasa hati. Perlahan, saya mulai menulis wording di laman KitaBisa. Saya ingin setiap orang yang membaca frasa dan klausa di laman saya bisa tersentuh hatinya. Saya ingin memastikan bahwa pesan yang saya tulis mampu melewati retina mata hingga akhirnya mengetuk salah satu pintu hati mereka yang membaca. Selesai menulis wording dan menambahkan foto, saya bagikan tautan laman saya ke beberapa orang yang ada di daftar kontak ponsel saya.

kitabisa - mahfud achyar (1)
Kitabisa.com/achyarnr6

Beberapa di antara mereka adalah orang-orang yang intens berkomunikasi dengan saya, teman-teman yang sudah lama tidak dihubungi, dosen-dosen, serta kenalan-kenalan yang nomor mereka sempat saya simpan. Hasilnya, beberapa ada yang langsung merespon dan langsung donasi. Beberapa lagi pesan terkirim namun tidak dibalas. Beberapa lagi mungkin pesannya tidak terkirim lantaran ada yang ganti nomor ponsel. Tapi tidak masalah yang penting saya sudah mencoba mengajak mereka. Sayapun tidak ingin memaksa terlalu berlebihan. Mungkin hanya sedikit meneror untuk beberapa sahabat saya, “Sudah donasi belum?”

Sebetulnya, tidak sulit menjadi seorang fundraiser yang dibutuhkan hanya sedikit keberanian. Lagipula tujuan campaign ini sangat baik membantu pendidikan anak-anak disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerja sama dengan Kampus Guru Cikal. Saya begitu optimis akan mudah mengajak orang lain untuk donasi. Hasilnya, target donasi untuk NusantaRun chapter 6 yaitu sebesar Rp. 2,5 miliar tercapai sudah. Total donasi saat ini per tanggal 3 Januari 2018 yaitu sebesar Rp. 2.543.425926. Donasi masih dibuka hingga 13 Januari 2019 (tautan donasi: kitabisa.com/nusantarun).

Sementara target saya pribadi yaitu sebesar Rp. 5.000.000 dan sudah terkumpul Rp. 5.228.920. Saya tersentuh sudah bisa menggerakkan 32 orang dan laman saya sudah dibagikan sebanyak 52 kali di Facebook. Beberapa yang donasi menggunakan nama asli sehingga memudahkan saya untuk mengucapkan terima kasih secara langsung. Namun banyak juga yang menggunakan nama anonim. Saya sangat menghargai keputusan mereka. Terima kasih untuk mereka yang lembut hatinya.

Cerita lain di dunia kerelawanan tahun ini yaitu menjadi relawan Mural Kebaikan. Gerakan ini digagas oleh Chiki Fawzi. Ide muncul ketika peristiwa bom Surabaya pada 13 Mei 2018. Peristiwa itu menciderai toleransi antarumat beragama yang sudah susah payah dibangun bertahun-tahun lamanya. Saat itu, Chiki merasa tergerak. Ia harus melakukan sesuatu untuk merawat toleransi di Indonesia.

Akhirnya, Chiki menghubungi Kak Maria dan mengutarakan niatnya untuk memberikan mural gratis di Sekolah Minggu tempat Kak Maria mengajar. Chiki mengajak beberapa teman termasuk saya. Kamipun memural di Sekolah Minggu di Gereja Kristen Indonesia, Pulomas, Jakarta Timur. Video Mural Kebaikan bisa ditonton pada tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=9OkCc3SSlJQ

Pada 11 Juni 2018, tepat ketika hari-hari terakhir bulan Ramadan, saya menulis keterangan foto dengan tulisan seperti ini:

mural kebaikan by chiki fawzi
Chiki and Her Friends

Ini adalah sebuah cerita yang ingin saya bagikan kepada dunia. Tentang persahabatan berbeda keyakinan yang dibalut rasa saling mengasihi dan saling menghormati.

Cerita bermula ketika  Chiki ingin merawat toleransi di bumi yang kita cintai ini, bumi Indonesia. Ia ingin berbagi dengan sesama melalui potensi yang ia miliki, salah satunya melalui mural. Niat baik Chiki disambut baik oleh Kak Maria. Ia menawarkan Chiki untuk memural Sekolah Minggu di Gereja Kristen Indonesia Pulomas. Kebetulan Kak Maria, begitu ia akrab disapa, menjadi salah satu pengajar di Sekolah Minggu tersebut. Saya beruntung menjadi salah satu yang diajak Chiki untuk melakukan project yang menyenangkan ini.

Bagi saya pribadi, ini pengalaman pertama. Saya begitu semangat untuk menjalankannya. Di GKI Pulomas, kami disambut baik oleh jemaat GKI Pulomas. Kami bahu membahu mengerjakan mural dengan perasaan suka cita. Takjarang gelak tawa menggelegar memenuhi setiap ruang di Sekolah Minggu. Rasanya, kami sangat dekat dan bisa bersahabat dengan begitu cepat.

Menjelang buka puasa, teman-teman GKI Pulomas menyediakan buka puasa. Kami beristirahat sejenak sembari menyantap hidangan penuh selera. Kehangatan terasa begitu nyata dan itu sulit kami dustai. Ah, mungkin ini momen yang nantinya saya rindukan. Saya bersyukur hidup di tengah perbedaan yang membuat saya belajar untuk membuka diri dan menghargai perbedaan. Hati saya merasa teduh. Ramadan Kareem. Semoga kehangatan ini menjadi pengingat ketika kelak (mungkin) kita akan mengalami masa-masa sulit. Semoga Indonesia terus rukun dalam bingkai perbedaan. Semoga.

Lantas, balik lagi ke pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, apa yang saya dapatkan menjadi relawan? Jika hanya butuh satu kata, maka kata yang paling tepat yang mewakili perasaan saya yaitu kata ‘kebahagiaan’. Saya merasa bahagia sudah melakukan sesuatu bukan untuk saya melainkan untuk orang lain, untuk sesuatu yang lebih besar.

Saya merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk berbuat baik oleh Tuhan. Mungkin peran yang saya ambil tidak besar, tidak terlalu berisiko, dan tidak terlalu menghasilkan perubahan yang besar. Namun semoga kontribusi kecil yang sudah saya berikan bernilai setidaknya menjadi kenangan baik untuk diri saya sendiri. “Jangan lelah berbuat baik karena kebaikan akan kekal sementara lelah akan hilang,” tulis Chiki di akun Youtube-nya.

Perhatian/Prihatin

Processed with VSCO with b1 preset
You will be found. 

Suatu hari di bulan puasa pada tahun 2015.          

Buka puasa bersama menjadi salah satu tradisi yang kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia ketika bulan puasa tiba. Selama satu bulan puasa, biasanya orang-orang sudah mengagendakan jadwal buka bersama, mulai dari buka bersama dengan keluarga, teman-teman, hingga rekan kerja.

Buka bersama tidak hanya menjadi ajang untuk menyantap menu buka puasa yang menggugah selera namun juga menjadi ajang bertukar cerita. Bisa dikatakan buka bersama menjadi momen berkumpul dengan orang-orang yang sudah tidak lama berjumpa, misalnya teman-teman sekolah atau kuliah.

Reuni dengan teman-teman sekolah atau kuliah menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu ketika buka puasa. Betapa tidak, setelah berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama, bulan puasa menjadi alasan untuk berjumpa dengan mereka yang pernah mengisi hari-hari kita di masa lampau. Namun, reuni yang seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bisa berubah menjadi momen yang menyebalkan.

Usai menyantap hidangan berbuka, salah seorang teman bertanya kepada teman lain yang sudah menikah beberapa tahun, “belum isi?” katanya datar. Sontak raut wajah teman saya tadi berubah. Keceriaan yang terpancar dari wajahnya tiba-tiba memudar. Ia seolah baru saja mendengar suara petir yang menggelegar dan memekakkan gendang telinga. Petang itu, barangkali ia takpernah menduga akan mendapatkan pertanyaan yang tidak disangka-sangka. Pertanyaan yang membuat hatinya terluka.

Saya duduk persis di depannya. Terlihat ia sedang menyusun kalimat yang tepat untuk merespon pertanyaan teman saya tadi. Pelan, ia berkata, “Doakan saja ya.”

Usai menjawab pertanyaan tadi, ia melumat makanan dengan pelan-pelan. Dari sorot matanya, saya melihat dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan tentang kehamilan. Apalagi pertanyaan itu keluar dari mulut temannya sendiri dan dilontarkan di hadapan teman-teman lainnya. Mungkin ia merasa terintimidasi sekaligus merasa sedih. Kehamilan merupakan salah satu takdir baik yang dirindukan oleh pasangan yang sudah menikah. Ada pasangan yang cepat mendapatkan keturunan, ada juga yang harus menunggu.

Seketika susana mendadak hening dan kikuk. Saya berupaya mengganti topik pembicaraan sehingga tidak lagi membahas tentang kehamilan atau topik-topik yang sensitif untuk beberapa orang. Saya pikir, menjaga perasaan orang lain lebih penting dibandingkan memenuhi hasrat ingin tahu kita tentang kehidupan orang lain yang barangkali enggan untuk mereka bagi.

Kini, acara reuni kerap kali menjelma menjadi ajang untuk pamer, ajang untuk memojokkan orang lain secara tidak sadar, serta ajang yang dipenuhi pertanyaan basa-basi. Jika ada teman kita yang belum menikah, kita akan bertanya mengapa dia belum menikah. Jika ada teman kita yang belum mempunyai anak, kita akan bertanya mengapa dia belum punya anak. Jika ada teman kita yang belum menambah anak, kita akan bertanya mengapa dia belum menambah anak. Begitu seterusnya. Jika begitu, lama-lama orang akan malas untuk datang ke acara reuni, terutama untuk mereka yang akan menjadi sasaran pertanyaan.

Padahal, andai saja kita memang peduli dengan kondisi orang-orang di sekitar kita, tentu kita tidak akan pernah bertanya di depan banyak orang. Tentu kita tidak akan membuat ia merasa malu. Tentu kita tidak akan menambah bebannya. Tentu kita tidak akan membuat ia merasa tidak nyaman. Ya, andai kita memang benar-benar peduli, kita akan bertanya secara personal, menyusun kata dengan tepat, serta menunjukkan empati bahwa kita memang benar-benar peduli.

Saya pikir, hampir semua orang pernah mengalami kondisi di mana merasa terpojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita berpikir, “Apakah ini perhatian atau prihatin?”

Setelah lulus kuliah pada tahun 2011, saya sempat mengganggur selama kurang lebih lima bulan. Masa-masa penantian hingga akhirnya diterima bekerja menjadi masa-masa yang cukup berat dalam hidup saya. Saya ingat betul, setelah wisuda, saya mempersiapkan semua berkas untuk melamar pekerjaan: curriculum vitae, surat lamaran pekerjaan, dan sertifikat-sertifikat penunjang lainnya yang sekiranya dibutuhkan oleh calon perusahaan tempat saya nantinya bekerja.

Tidak ada satu haripun saya lewati tanpa mengecek surat elektronik, mencari informasi lowongan pekerjaan serta melamar hingga ratusan perusahaan. Usaha saya mendapatkan pekerjaan tidak hanya berhenti di depan komputer. Saya juga kerap kali datang ke job expo, mulai dari yang gratis hingga berbayar. Saya rasa, saya sudah melakukan upaya terbaik untuk mendapatkan pekerjaan.

Hari berganti hari, sudah takterhitung berapa banyak lamaran saya sudah saya kirimkan. Beberapa perusahaan ada yang memanggil untuk wawancara, beberapa kali saya nyaris diterima, sisanya berujung penolakan, “Maaf Anda belum bisa bergabung dengan perusahaan kami.”

Sementara lain cerita, teman-teman kuliah saya satu persatu sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan, banyak di antara mereka yang diterima bekerja tidak lama setelah wisuda. Sempat saya berpkir, mengapa nasib baik begitu mudah menghampiri mereka sedangkan saya belum ada tanda-tanda untuk menanggalkan predikat sebagai penggangguran. Padahal jika dipikir-pikir, prestasi saya jauh lebih hebat dibandingkan mereka dan pengalaman organisasi saya juga tidak main-main. Saya sempat tertegun, “Apa yang salah dengan saya? Mengapa saya takkunjung mendapatkan pekerjaan?”

Saya khawatir saya merasa sombong. Merasa lebih baik dibandingkan teman-teman saya. Padahal bisa jadi ini ujian untuk saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih sabar dan berbesar hati. Saya harus percaya bahwa masa-masa berat ini akan segera berakhir. Saya hanya perlu menunggu lebih lama, walau terkadang menunggu begitu sangat menyiksa batin saya.

Suatu kesempatan, saya bertemu dengan teman yang sudah bekerja. Tanpa basa-basi ia bertanya, “Mengapa belum juga bekerja? Apa tidak melamar ke sana ke mari?” Saya hanya bisa menjawab, “Belum rezeki. Doakan saja.” Sejujurnya, saat itu saya marah, dada saya terasa panas. Namun apa boleh buat tugas dia hanya bertanya dan tugas saya hanya menjawab.

Saya pikir, pertanyaan yang sama tidak akan pernah terulang. Namun saya keliru. Beberapa orang yang saya temui secara sengaja dan tidak sengaja menanyakan hal yang sama, “Mengapa belum juga bekerja?” Mungkin karena saat itu saya dalam kondisi yang sensitif, saya menilai pertanyaan yang mereka sampaikan merupakan pertanyaan yang merendahkan saya. “Mereka tidak tahu betapa keras perjuangan saya mendapatkan pekerjaan. Mereka tidak akan pernah tahu,” saya membatin.

Sejak saat itu, saya enggan bertemu dengan orang-orang. Saya habiskan waktu saya untuk fokus mencari pekerjaan. Di sela-sela waktu, saya menyempatkan untuk berjalan-jalan mengitari kota Jakarta dengan moda Transjakarta: dari ujung Utara-Selatan, Barat-Timur. Namun tujuan favorit saya saat itu yaitu pantai Ancol. Sebetulnya tidak ada alasan khusus mengapa saya memilih Ancol. Saya hanya membiarkan hati saya menuntun langkah ke mana ia harus pergi.

Berada di pantai, memandang lautan yang luas setidaknya membuat hati saya jauh lebih tenang. Saya berjanji, suatu ketika saya akan datang lagi dengan perasaan yang dipenuhi suka cita. Beberapa bulan kemudian, janji saya tunaikan. Saya akhirnya diterima bekerja.

Tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan terus datang, saya meminta kepada Tuhan agar diberi hati yang besar, agar saya tidak mudah tersinggung, agar saya bisa menjawab dengan santun. Namun saya berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan menjadi orang-orang yang saya ceritakan tadi. Saya akan lebih berhati-hati dalam bertanya. Jikapun harus bertanya, saya akan bertanya secara asertif. Sisanya, lebih baik saya mendokan karena sesuai kata pepatah, “Tiada kata seindah doa.”

Selama masa-masa menganggur, saya sempat menulis puisi yang menggambarkan perasaan saya saat itu.

seperti muri remaja gigih mencari tanaman untuk sangkarnya. seperti lelaki pucat pasi menanti kado terindah dari Tuhannya. seperti mentari yang menanti bumi pada suatu masa. saksikanlah kereta kencana bernama ketidakpastiaan. seolah semesta pun jadi ragu. inilah harapan. menjadi lentera temani kelam. inilah penantian, tentang sebuah jalan takberujung. nyanyikan keluhmu pada angin, bisa jadi ia merayu mesra. sandarkanlah kepalamu pada air bisa jadi ia penyegar dahaga. dan, titipkanlah hati pada Tuhan karena ragumu terjawab kalam-Nya. titiplah pikirmu pada satu cita yang kau tiduri. puji dan manjakanlah waktu, bacakan sajak ketenangan untuknya. ada jutaan malaikat menenun kebahagiaan. mintalah mereka curi rahasia hati dan malam pun akan menyelimuti rasa. bersabarlah, hanya itu mantra yang kita punya.

 

Jakarta, 26 September 2018

Hidup dalam Perisai Ketakutan

5083025373_e91ca47c1c_b
Source: Flickr

Dalam perjalanan pulang dari kantor, saya membaca sebuah buku yang diberikan oleh seorang teman, persis satu hari sebelum saya ulang tahun. Salah satu kutipan yang ada di buku tersebut membuat saya terpaku. Kurang lebih kutipannya berbunyi seperti ini, “Kita hidup dari satu ketakutan ke ketakutan lainnya.”

Agaknya benar apa yang penulis buku itu katakan. Ketakutan seolah memiliki ruang tersendiri di relung jiwa kita. Entah bagaimana caranya, ia selalu hadir kendati takpernah diundang. Ketakutan membuat hati kita merasa tidak nyaman, konsentrasi kita buyar, serta membuat napas kita tersengal-sengal.

Satu hari berikutnya, umur saya bertambah sementara jatah usia saya berkurang.

Sejak dulu, saya tidak pernah menganggap ulang tahun sebagai momen spesial, momen yang harus dirayakan dengan sepotong kue, meniup lilin, dan membuat permintaan. Pernah satu kali saya merengek pada mama agar ulang tahun saya dirayakan. Seingat saya ketika saya masih berusia belasan tahun. Mama membuat perayaan sederhana dengan mengundang beberapa orang tetangga. Saat itu, saya merasa bahagia.

Ketika di bangku sekolah, saya merasa beruntung karena lahir di bulan Juli. Biasanya, jika ada yang ulang tahun akan dikerjai oleh teman-teman sekelas. Misal, satu hari ia akan dicueki oleh teman-teman. Walau saya tahu itu hanya akting dan repetisi setiap tahunnya, tapi tetap saja teman yang sedang berulang tahun tertipu.

Jika Lonceng atau bel pulang sekolah sudah menggaung memenuhi setiap ruang kelas, maka siap-siaplah teman yang sedang berulang tahun tadi akan menjadi sasaran empuk oleh keisengan teman-teman sekelas. Hari itu bisa jadi hari yang paling menyebalkan. Lagi-lagi, saya beruntung tidak pernah mengalami hal itu di sekolah. Juli adalah waktu libur sekolah.

Saya pikir, tradisi mengerjai teman yang berulang tahun akan berhenti ketika kita sudah tidak menggunakan seragam sekolah. Namun saya keliru. Ketika di kampus, seorang teman saya yang sedang berulang tahun diikat oleh teman-teman lainnya di pohon. Ia pun hanya pasrah sembari tertawa geli. Beruntungnya, saya tahu apa yang dilakukan teman-teman saya itu hanya bercanda dan beruntungnya lagi teman saya yang berulang tahun tidak berkeberatan untuk dikerjai seperti itu. Jadinya, tidak ada unsur keterpaksaan dalam ritual ulang tahun kala itu. Anw, happy birthday!

Sejujurnya, saya menyukai pesta ulang tahun. Saya senang memberikan kejutan atau merencanakan pesta ulang tahun sederhana untuk teman-teman saya. Namun yang aneh, ketika saya ulang tahun, saya malah tidak ingin orang-orang merayakan ulang tahun saya. Terdengar tidak lazim. Namun begitulah adanya. Saya hanya tidak ingin merepotkan dan menjadi beban untuk orang lain. Biar, biarlah saya memaknai ulang tahun dengan cara saya sendiri.

Pun demikian, saya bersyukur untuk doa-doa baik yang disampaikan kepada saya secara langsung atau secara diam-diam. Saya sangat hargai itu. Doa adalah bentuk rasa sayang paling tinggi dari seorang manusia untuk manusia lainnya. Terima kasih wahai orang-orang yang lembut hatinya.

Di penghujung kepala dua, perasaan takut mulai menjalar melalui pembuluh darah. Ia mulai mengaktifkan hormon adrenalin oleh kelenjar adrenal. Harus saya akui, saya takut. Terkadang saya merasa di usia saya seperti sekarang, saya belum melakukan banyak hal. Saya merasa banyak sekali waktu terbuang dengan percuma. Saya merasa gagal dalam banyak hal. Saya khawatir tidak dapat memenuhi ekspektasi saya sendiri terhadap diri saya.

Di stasiun Gondangdia, saya terdiam.

Pandangan saya jauh ke depan, mata saya kosong. Suasana stasiun saat itu cukup ramai. Orang-orang berbondong-bondong memenuhi peron. Mereka takubahnya seperti sekawanan semut yang berebut masuk ke sarang. Dalam ramainya manusia, saya merasa sepi. “Kita hidup dari satu ketakutan ke ketakutan lainnya,” tiba-tiba kutipan itu melintas lagi di benak saya.

Terlalu banyak yang saya pikirkan, terlalu banyak hal yang membuat saya gusar. Kadang saya berpikir, apakah normal saya mengalami kondisi demikian? Pelan-pelan, saya coba pelajari perasaan yang mengganggu saya. Saya coba mendefinisikan perasaan takut yang mengusik ketentraman batin saya. Apa yang yang saya takutkan? Karir? Jodoh? Finansial? Kesehatan? Ternyata banyak.

Dalam kondisi demikian, mendadak saya lupa materi-materi motivasi yang biasa saya baca. Terkadang begitu mudah menasehati orang lain yang sedang dirundung masalah. Namun jika kita berada dalam kondisi yang sama, kita sendiri belum tentu bisa menerapkan apa yang sudah kita sampaikan kepada orang lain. Menyedihkan. Rasanya saat itu yang ingin saya lakukan hanyalah satu: menepi.

Mungkin ada baiknya saya rehat sejenak. Saya rasa ini isyarat dari Tuhan agar saya kembali pada-Nya, berkeluh kesah kepada Dzat yang tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

Sungguh, hingga kapanpun ketakutan akan selalu bersarang di hati manusia. Kita takut miskin, kita takut tidak dihargai, kita takut tidak mempunyai teman, kita takut mengecewakan, kita takut sakit, dan ketakutan-ketakutan lainnya.

Dalam hati yang remuk dan gelisah, saya berupaya menyerahkan semua ketakutan-ketakutan saya pada-Nya. Saya selalu percaya, Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang selalu berbuat baik, memanusiakan manusia, dan selalu ingat pada-Nya.

Satu pinta saya pada-Nya, “Penuhilah hati saya kosong.”

If you go deeper and deeper into your own heart, you’ll be living in a world with less fear, isolation and loneliness.” – Sharon Salzberg

Jakarta,

19 Juli 2018

Para Penghuni Ibukota

Processed with VSCO with b5 preset
Transjakarta Blok M – Jakarta Kota (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Suara azan subuh berkumandang. Merambat melalui gelombang bunyi yang berasal dari microphone masjid, menuju menara-menara yang menjulang tinggi pada sisi kiri dan kanan masjid, hingga pada akhirnya menggetarkan gendang telinga anak manusia.

Di sebuah rumah yang takjauh dari masjid, seorang pemuda terbangun dari mimpi-mimpi yang sedari tadi menjadi serpihan mozaik dalam tidurnya. Banyak sekali potongan peristiwa yang lalu-lalang melintas dalam alam bawah sadarnya. Teramat sulit baginya untuk kembali menuliskan narasi mimpi yang dialaminya dengan lebih runut dan sistematis. Mimpi takubahnya seperti cuplikan film-film yang takjelas alurnya. Tiba-tiba semuanya hilang, pergi entah kemana. Seketika ia lupa dengan semua semua peristiwa yang terjadi dalam mimpinya. Takada satu pun yang tersisa.

Pemuda tersebut terbangun dalam keadaan setengah sadar. Dengan kesal ia mematikan alarm yang berdering kencang, kemudian dengan langkah gontai ia pergi kamar mandi. Tepat pukul 08.00 pagi ia harus tiba di kantor. Begitu peraturan pekerjaan di kantornya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Sementara di tempat lain, seorang ibu paruh baya sudah bangun sejak pukul tiga pagi. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berwudu untuk salat malam, sholat tahajjud.

Menjelang subuh, ibu tersebut membaca Al-Quran dan membangunkan anggota keluarganya; suami dan anak-anaknya untuk bersiap menjalankan ibadah salat subuh di masjid yang takjauh dari rumahnya.

Processed with VSCO with b5 preset
Jakartans at Halte Harmoni

Kini, sinar mentari menelan fajar. Langit yang tadi kelam menjadi sedikit lebih cerah. Perlahan mentari naik menyinari bumi, burung-burung berkicau dengan merdunya menyambut indahnya pagi, dan kekanak rewel ketika disuruh berangkat ke sekolah. Namun sang ibu memiliki banyak cara untuk membujuk anak-anaknya. 1001 cara membujuk anak. Ilmu itu tidak ia dapat di bangku sekolah.

Di tempat yang lain, seorang perempuan yang duduk di halte bus terlihat kasak-kusuk. Betapa tidak, sudah hampir dua jam lamanya ia menunggu bus. Namun bus yang ia tunggu-tunggu takkunjung tiba. Ia pun semakin gelisah dan panik. Pasalnya, ia harus lekas tiba di sebuah perusahaan ternama karena ia dipanggil untuk wawancara kerja. 15 menit waktu yang ia punya. Jika tidak, ia akan kehilangan kesempatan untuk wawancara kerja. Ia semakin kesal, semakin gelisah, dan semakin mengutuk diri mengapa ia bernasib sial hari itu.

Masih di halte yang sama, seorang ibu pedagang kelontong yang menjajakan dagangannya seperti air mineral, permen, mie instan, dan roti. Ibu tersebut sangat berharap ada satu dari pulahan orang di halte yang berkenan membeli dagangannya. Pikiran ibu itu menjadi kalut. Ia khawatir jika barang dagangannya tidak ada yang membeli, maka anak-anaknya akan kelaparan.

Siang hari, hujan lebat mengguyur kota Jakarta. Para pengguna motor menepi ke jalan. Mereka mencari tempat berteduh di bawah jembatan penyebarangan, mampir di kios-kios, dan ada juga yang berteduh di terowongan jalan layang. Beberapa dari mereka terlihat kesal lantaran hujan yang turun tiba-tiba. “Ah, andai hujan tidak turun pasti saya bisa pulang ke rumah tepat waktu. Hujan sangat menghambat saya.”

Sementara itu, di tempat yang berbeda, puluhan orang keluar dari gedung berlantai tiga. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing setelah lebih dari delapan bekerja, bertemu klien, serta mengurusi pekerjaan yang seolah takada habis-habisnya. Mereka terlihat sangat kelelahan. Ingin rasanya cepat-cepat tiba di rumah untuk mandi, makan, dan kemudian istirahat sebab esok pagi ia harus kembali bekerja.

Malam hari, saat semua orang terlelap tidur; saat mereka berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain, seorang perempuan paruh baya bangun dari tidurnya. Padahal ia baru tertidur selama empat jam. Selama satu hari penuh ia berperan dengan sangat baik sebagai seorang ibu rumah tangga: menyiapkan makanan untuk keluarga, membersihkan rumah, dan membantu cucunya mengerjakan tugas sekolah. Namun perempuan paruh baya itu merasa waktu yang ia punya tidaklah banyak. Ia harus cerdas memanfaatkan dengan sebaik mungkin. Beberapa menit kemudian, perempuan baya itu mengenakan mukena warna putih. Ia pun larut dalam munajat cinta kepada Pencipta-Nya.

Satu hari terdiri dari 24 jam. Ada banyak orang menganggap waktu 24 jam dalam 1 hari sangatlah sempit karena begitu banyak pekerjaan dan aktivitas yang harus dilakukan. Sementara tidak sedikit juga yang mengganggap waktu 24 jam dalam sehari sangatlah lama. Mereka ingin waktu bergulir sangat cepat, bahkan lebih cepat. Mereka bingung untuk apa mereka hidup dan apa saja hal yang harus dilakukan untuk mengisi hidup. Mereka seolah gamang dengan hidup yang saat ini mereka jalani. Seperti seorang penunggang onta di lautan padang pasir yang tidak tahu kemana arah harus dituju. Kosong dan mereka tidak menyadari begitu banyak kekosongan-kekosongan yang memenuhi relung jiwa mereka.

Mungkin, saya salah satu dari seribu orang yang penat dengan hidup yang telah saya jalani. Saya kemudian bertanya tentang banyak hal yang sudah saya lalui. Kadang saya merasa jenuh, bosan, muak, dan semuanya seakan begitu melelahkan. Pernah, saya berada pada titik yang paling menjemukan sehingga saya bingung harus berbuat apa lagi. Tetap bertahan dengan angan-angan kosong takberkesudahan atau tetap menantang hari demi hari?

Mungkin, ada baiknya saya harus menarik diri dari keramaian manusia. Sejenak, saya perlu kembali ke gua, tempat yang membuat saya merasa nyaman dan merasa tentram. Saya perlu kembali merenungi atas berbagai hal yang pernah terjadi dalam hidup saya.

Rasanya, saya butuh waktu sejenak berpikir secara mendalam. Saya butuh merenung dan memetik hikmah dari jutaan memori yang pernah direkam otak saya. Ada banyak potongan peristiwa yang terjadi dalam hidup saya: kegagalan, keketiran, kepahitan, dan kebahagian. Semua hal itu rasanya perlu untuk diresapi hingga akhirnya saya siap lahir menjadi manusia yang baru. Reborn.

                                                Jakarta, 17 Mei 2013

Sebelum Terlambat

Source: https://pxhere.com/ru/photo/368492

Menjalin hubungan, tidak melulu berkisah tentang momen yang bahagia, menyenangkan, dan suka cita. Namun, ada juga momen yang tidak kita harapan hadir kemudian lahir menjadi  pengalaman yang tidak menyenangkan. Kerap kali, kita hanya menginginkan hari-hari kita dihiasi dengan tawa tanpa sedih dan duka.

Akan tetapi, nyatanya cerita hidup anak manusia hadir dalam paket yang lengkap; suka dan duka. Seringkali kita mengutuk nasib atas hal buruk terjadi dalam hidup kita atau orang-orang terdekat kita. Jika itu terjadi, lantas kita bisa berbuat apa? Kita hanyalah seorang aktor atau aktris yang memainkan skenario yang telah ditulis Tuhan sebagai Sang Sutradara. Jika ada hal yang kurang berkenan, anggap saja sebagai bagian cerita yang mau tidak mau harus kita perankan, walau harus dengan tertatih-tatih.

Pada 1 Maret 2015 lalu, saya mendapat kabar duka. Seorang sahabat saya, Arry Purwaningsih dipanggil oleh Tuhan pada usia yang masih sangat muda, 26 tahun. Mendengar kabar duka tersebut, hati saya remuk. Saya tidak menyangka ia akan pergi secepat itu, semendadak itu. Sebetulnya, Arry sudah sakit sejak lama, namun ternyata Tuhan sangat sayang terhadap Arry. Tuhan mengangkat rasa sakit Arry untuk selama-lamanya. Kini, ia beristirahat dengan tenang di sana. Semoga Tuhan berikan tempat yang terbaik untuk Arry. Selama mengenal Arry, ia merupakan pribadi yang baik, tulus, dan ceria.

Perginya Arry untuk selama-lamanya menyisakan rasa sesal dalam hati saya. Seingat saya, satu pekan sebelum ia meninggal, teman saya bernama Kantri mengajak saya ke Bandung untuk membesuk Arry. Namun karena saat itu saya sibuk dan berpikir bahwa jarak Jakarta ke Bandung tidaklah dekat, akhirnya saya urungkan niat untuk membesuk Arry.

Ya, penyesalan selalu datang belakangan, begitulah yang terus terjadi. Andai saja waktu itu saya memutuskan membesuk Arry, mungkin saya tidak akan merasa begitu bersalah. Setidaknya, saya bisa hadir pada hari-hari terakhir Arry. Memberikan dukungan moril dan turut merasakan beban atas apa yang ia rasakan. Sayangnya, itu hanya angan-angan kosong yang takakan mungkin terjadi.

Sejak kejadian itu, saya belajar satu hal: jangan pernah menunda-nunda kebaikan karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih sempat berbuat baik atau semuanya sudah terlambat, tidak ada artinya. Saya hanya tidak ingin menyesal pada kasus yang sama. Penyesalan membuat saya merasa bersalah. Sungguh tidak mengenakkan.

Semakin ke sini, jika ada orang-orang terdekat saya sedang sakit bahkan harus dirawat di rumah sakit, saya akan upayakan untuk bisa membesuknya tanpa harus mengulur-ulur waktu. Saya tahu, barangkali kehadiran saya mungkin tidak mempercepat kesembuhan, namun saya hanya ingin memastikan bahwa diri saya hadir di dekat orang-orang terdekat saya, terutama pada masa-masa yang sulit

Saya pernah sakit, semua orang pernah sakit. Ketika kita sakit, kita menjadi lebih sentimentil, kita merasa takberdaya, serta kita merasa sangat kesepian. Lebih menyedihkan, pada saat kita sakit, pikiran-pikiran buruk lalu lalang di otak kita tanpa kita undang. Ia menyajikan potongan-potongan peristiwa dalam hidup kita yang tidak mengenakkan. Layaknya Dementor yang menghisap sumber kebahagiaan. Benar-benar mengerikan.

Saya hanya berharap dan terus berharap semoga prinsip hidup ini terus saya amalkan. Entah saya kapan? Mungkin hingga saya dibebastugaskan oleh Tuhan sebagai seorang makhluk sosial. Saya rasa begitu.

“Don’t let bad memories kill you. You can make a new memory, a good one. Remember, good  can save your life.” – The Punisher. 

Tentang memori baik, rasanya takselalu menyajikan rangkaian pengalaman yang seru-seru saja. Saya pikir, hadir pada saat-saat berat untuk orang terdekat adalah memori baik yang selalu baik untuk diingat. Saya mungkin pengkoleksi memori, saya berharap saya pengkoleksi memori yang baik. Hanya itu.

 

Jakarta, 31 Januari 2018

Spektrum Kebaikan

Processed with VSCO with a6 preset
Happee Birthdae, Harry! 

Hari ini, saya dan teman saya yang bernama Christin memiliki rencana untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk sahabat kami, Harry. Sebetulnya, ulang tahun Harry kemarin, namun kami berpikir bahwa malam inilah yang paling tepat untuk memberikan kejutan untuknya. Betapa tidak, malam ini, kali pertama pada tahun 2018, kami latihan cardio ceria kembali sejak terakhir latihan pada Desember 2017.

Kamipun membeli kue di salah satu toko kue ternama di Jakarta. Tulisan pada kue tersebut bertuliskan, “Happee Birthdae, Harry.” Persis seperti tulisan pada kue ulang tahun Harry yang diberikan oleh Hagrid. Lantaran nama mereka mirip, sebagai seorang Potterhead, saya pikir itu ide yang cerdas.

Membawa kue serta memberikan kejutan sederhana untuk teman yang sedang ulang tahun, barangkali menjadi hal yang lumrah di muka bumi ini. Namun bagi saya pribadi, yang spesial dari ulang tahun itu bukan terletak pada kue yang enak atau ucapan selamat ulang tahun yang berduyun-duyun diterima dari orang-orang terdekat, melainkan momen ulang tahun itu sendiri.

Sejatinya, kita hidup dari satu momen ke momen lainnya. Seringkali, momen-momen yang terjadi dalam hidup kita terasa hambar, biasa saja. Untuk itu, kita butuh orang-orang di sekitar kita untuk bersinergi menciptakan momen yang berarti, momen yang akan selalu indah untuk dikenang. Bila kita merindukan momen tersebut, kita hanya perlu memanggilnya sesuka hati; kapan pun dan di mana pun.

Pada momen-momen yang menyejukkan hati, kita bersyukur dan bahagia.

Benar adanya apa yang pernah dikatakan Christopher McCandless, “Happiness is only real when shared.” Hanya dengan berbagi kita merasa layak mencintai dan dicintai sebagai seorang manusia yang jauh dari kesempurnaan.

Saya selalu bahagia hadir pada momen-momen penting dalam hidup orang-orang yang yang saya kasihi.

Dulu, ketika di kampus, saya selalu senang jika datang ke wisuda senior-senior di BEM. Seingat saya, ketika itu saya masih tingkat dua. Satu tahun kebersamaan kami sebagai pengurus BEM terasa sangat lekat dan hangat. Seolah tiada jarak yang membuat hubungan kami menjadi sungkan untuk berkata, “Ya, berteman baik.”

Hadir pada hari wisuda mereka, membawakan sekuntum bunga atau hadiah ala kadarnya, membuat hati saya bahagia. Energi kebahagiaan terasa mengalir hebat saat mereka menyunggingkan senyuman terbaik, saat mereka menjabat tangan saya, atau saat mereka mengucapkan terima kasih karena saya sudah hadir pada hari spesial mereka.

Kebahagiaan memancar memasuki relung hati saya yang terdalam. Melihat mereka bahagia, saya pun turut bahagia. Sesederhana itu. Apalagi, saya pernah menjadi saksi betapa tidak mudah perjalanan mereka menggapai gelar sarjana; begadang, menghabiskan waktu di depan laptop, serta berulang kali harus revisi atas titah dosen pembimbing. Namun proses yang sulit terasa sangat manis saat hari yang bahagia akhirnya tiba.

Akan tetapi, kerap kali ada bisik yang membuat saya harus menuntut atas apa yang sudah saya lakukan. “Bukankah hidup itu take and give? Sudah sepantasnya saya mendapatkan hal yang sama seperti apa yang sudah saya lakukan?” Saya tidak yakin, apakah itu suara hati saya yang sesungguhnya atau hanya suara dari sisi tergelap saya?

Namun dari kehidupan saya belajar, bila kita menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang lain, maka siap-siaplah untuk menerima kekecewaan. No one is perfect.

Ada masanya, orang-orang yang di dekat kita akan membuat kita kecewa, akan membuat hati terluka. Untuk itu, langkah terbijak yang bisa kita upayakan hanyalah berbuat baik tanpa menunggu balasan kebaikan datang dari orang-orang yang pernah kita sentuh hatinya. Mungkin ini terdengar klise, namun demikianlah formula yang paling sesuai untuk meredam kekecewaan.

Berbuat baik harusnya tanpa alasan. Berbuat baik harusnya membuat hati kita terkesan. Sebab, spektrum kebaikan menjangkau hingga mengetuk pintu langit. Percayalah, tidak ada kesia-siaan yang lahir dari benih kebaikan yang sudah kita tanam. Kelak, kita akan memanennya dalam bentuk buah yang ranum warnanya dan enak rasanya. Saya tidak yakin telah membuat perumpamaan yang benar. Namun saya hanya berusaha memastikan bahwa jangan pernah menyesal jika telah berbuat baik. Penyesalan hanya boleh terjadi jika kita memiliki rasa sesal itu sendiri.

Oleh sebab itu, berulang kali kita diminta untuk selalu memeriksa niat ketika hendak berbuat baik. Untuk apa dan siapa kita berbuat baik? Jika ada yang mengganjal di hati, ada baiknya kita selalu perbaiki niat. Sebab pada niat semua kebaikan kita akan dinilai Tuhan.

Saya selalu percaya, kindness is contagious. Kebaikan yang sudah kita perbuat, akan mendatangkan kebaikan-kebaikan lainnya. Bisa jadi, ada orang yang terinspirasi atas kebaikan yang kita lakukan kendati itu hanyalah kebaikan sederhana. Jadi, jangan pernah lelah berbuat baik selama hayat masih di kandung badan. Begitu pepatah lama berpesan kepada kita.

Jakarta, 11 Januari 2018

Menyimpan Masalah di Kantong Celana

IMG_5634
Autumn in Yogyakarta (2017) Photo by. Mahfud Achyar

“Aku amati, kamu seperti tidak punya masalah ya? Dari tadi, aku sudah cerita banyak tentang masalah-masalah yang hinggap di hidupku. Masalah pekerjaan, masalah asmara, dan masalah keluarga. Aku heran masalah datang silih berganti dalam hidupku,” ujar seorang sahabat mengganti topik pembicaraan malam itu, usai pulang kantor.

Saya pun langsung terperanjak. Sungguh, pertanyaan spontan yang keluar dari mulut sahabat saya tersebut membuat saya bingung. Seketika lidah saya kelu. Padahal, sejak tadi kita hanya fokus membahas permasalahan-permasalahan yang tengah ia hadapi. Lantas kemudian ia balik bertanya kepada saya, “Masalah kamu apa?”

Sejujurnya, saya bukanlah tipikal manusia yang ekspresif terutama ketika sedang menghadapi masalah. “Ekspresi muka kamu begitu-begitu saja ya?” timpal sahabat saya tadi.

Hmmm sepertinya itu benar. Eskpresi muka saya ya begitu-begitu saja. Tidak ada perubahan raut muka yang begitu mencolok. Jika saya bercermin, terkadang saya sulit membedakan eskpresi muka saya ketika kaget, cemas, marah, atau sedih. Mungkin tipikal manusia dengan minim ekspresi.

Bila saya dirundung masalah, saya jarang berbagi pada siapapun. Sejak dulu, saya tidak terbiasa curhat. Jika ada hal yang mengganjal di hati saya, saya hanya bisa diam, menyimpan rapat-rapat perasaan saya sesungguhnya. Bila terpaksa berbagi, saya hanya mengutarakan bagian ‘kulitnya’ saja. Mungkin ada beberapa sahabat yang membuat saya nyaman untuk bercerita banyak hal. Pada mereka, saya mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan mendengar keluh kesah saya.

Dulu, saya berpikir, orang yang sering curhat adalah orang yang lemah. Seolah mereka tidak kuasa menanggung beban yang menggelayut di pundak mereka.

Takdinyana, ternyata prinsip kuno seperti itu terus saya pupuk dan saya rawat. Saya enggan untuk bercerita kepada siapapun, termasuk kepada keluarga saya sendiri. Saya benar-benar setertutup itu. Seolah tidak mengizinkan seorangpun tahu apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang saya harapkan. Saya hanya bercerita kepada Tuhan perihal perasaan saya. Sebab, hanya Dia yang tahu apa yang sesungguhnya ada di dalam hati dan pikiran saya.

Akan tetapi, sekarang saya menyadari bahwa sesungguhnya kita perlu menyalurkan emosi kita kepada orang lain—entah itu sahabat, pasangan, atau keluarga. Kehadiran mereka mungkin tidak serta merta menyelesaikan permasalah yang kita alami. Namun ketika berbagi, hati kita merasa lega. Setidaknya kita mulai membuka diri bahwa ada orang-orang yang bisa kita percaya. Tanpa kepercayaan, kita hanyalah sekumpulan manusia yang hatinya diliputi prasangka dan curiga.

“Tidak ada masalah yang terlalu besar. Tenang, sejauh ini semuanya masih bisa ditangani dengan baik,” jawab saya diplomatis.

Kala itu, saya sama sekali tidak bermaksud berbohong kepada sahabat saya. Memang, ada beberapa masalah yang sedang saya hadapi. Namun, setelah mendengar curhat darinya, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi tidak ada artinya.

“Setiap orang punya masalah. Bedanya hanya terletak dari cara kita menghadapinya,” kata sahabat saya yang lainnya yang bernama Dea Tantyo pada suatu ketika di Jatinangor.

Buah pikiran Dea selalu melekat di benak saya hingga saat ini. Saya amati, memang benar adanya apa yang dikatakan Dea. Setiap orang punya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah.

Ada beberapa orang bila memiliki masalah atau bermasalah dengan orang lain, mereka lantas mengumbarnya di jejaring media sosial. Sayapun bingung entah apa tujuan mereka? Mungkin untuk melampiaskan kekesalalan atau bisa jadi untuk menyindir orang yang sedang bertikai dengannya. Saya bahkan pernah menjadi orang yang disindir atau merasa tersindir ketika hubungan saya dengan teman saya sedang tidak harmonis.

Kerap kali saya juga ingin membalas sindir-menyindir di media sosial. Namun kemudian saya berpikir, “Jika saya melakukan hal yang sama, lantas apa yang membedakan saya dengannya? Saya tidak membuat perbedaan sama sekali,” saya membatin.

Seorang dosen saya yang bernama Pak Irwansyah pernah berpesan ketika sesi perkuliahan di lantai 22 di daerah bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih pesannya seperti ini, “Ketika kalian masuk ke dunia digital. Maka berhati-hatilah. Sebab, apa yang kalian tulis dan konten yang kalian produksi akan terekam dengan baik.”

Malam itu, usai perkuliahan, saya mulai merefleksi diri agaknya banyak hal buruk sudah saya tinggalkan di media sosial. Banyak sahutan yang takberguna dan banyak keluh kesah yang tidak pada tempatnya.

Dulu, saya sangat reaktif. Mudah sekali mengomentari apapun yang tidak sejalan dengan pemikiran saya. Semuanya saya tumpahkan di media sosial. Jika ada masalah personal pun, saya juga terkadang curhat colongan di media sosial dengan menggunakan ragam gaya bahasa agar pesannya terlihat samar.

Jika dipikir-pikir lagi, apa gunanya saya curhat di media sosial?Agar dunia tahu saya sedang sengsara? Agar dunia bersimpati kepada saya? Padahal, ketika saya curhat di media sosial, orang-orang yang membaca curhatan saya tidak benar-benar ingin membantu saya. Mereka mungkin hanya penasaran terhadap masalah saya. Sisanya hanya akan mencibir bahwa saya tidak cukup berani menyelesaikan masalah secara langsung di dunia nyata.

Seharusnya kita lebih selektif untuk berbagi resah. Seperti perkataan Charity Barnum, “You don’t need everyone to love you, Phin, just a few good people”.

Sungguh, berulang kali, kita selalu diingatkan bahwa Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Jika sedang tidak punya masalah berat, nasehat tersebut begitu mudah saya terima. Namun sialnya ketika saya dirundung masalah berat, saya merasa Tuhan tidak adil kepada saya. Mengapa dari sekian milyar manusia di bumi ini sayalah yang terpilih untuk menanggung beban berat (dalam perspektif saya)? Seharusnya saya berlapang dada bahwasanya masalah seharusnya membuat saya kian kuat, kian naik kelas, dan kian hebat.

Jika saya mendapatkan masalah atau ujian yang sama, artinya saya belum layak naik level ke level yang lebih tinggi. Kata Nicole Reed, “Sometimes the bad things that happen in our lives put us directly on the path to the best things that will ever happen to us.”

Tentang menyikapi masalah secara bijak, beruntungnya saya di kelilingi oleh orang-orang yang hebat. Pada mereka saya belajar bahwa apapun masalah yang sedang kita hadapi, percayalah akan ada cara untuk menyudahinya. Semuanya akan dipergilirkan. Adalah waktu yang menjawab segalanya. Lambat atau cepat semuanya kini terasa relatif.

Jika masalah takubahnya seperti secarik kertas yang sudah remuk, maka mungkin ada baiknya kita menyimpannya di kantong celana. Suatu saat, kertas remuk itu akan kita buang. Ia akan pergi bersama aliran air hujan yang turun di penghujung April.

         Jakarta, 16 April 2018

Sorry, It’s My Fault

DSC_0626
Contemplating.

Rasanya, takada satupun manusia yang tidak pernah berbuat salah, takterkecuali manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Ialah Adam, seorang anak manusia yang melanggar perintah Tuhan untuk tidak mendekati pohon khuldi, apalagi memakannya. Namun Adam melanggar larangan Tuhan sehingga ia dan istrinya, Hawa harus meninggalkan syurga.

Salah. Barangkali merupakan salah satu sifat yang sukar dicabut dalam diri manusia. Selama manusia masih bernapas dan masih dikategorikan sebagai manusia dalam perspektif biologis, maka ia akan terus berbuat salah. Akan terus seperti itu. Hanya mungkin intensitas dan tingkat kesalahan yang dibuat oleh manusia berbeda-beda.

  Salah. Kerap kali ia tidak diinginkan untuk menemani proses kehidupan manusia. Setiap manusia mungkin menginginkan kesempurnaan. Everything must be perfect. Padahal, ketika manusia berpikiran segala sesuatunya harus sempurna, maka ia berusaha lepas dari kodrat seorang manusia: berbuat salah.

      “All people make mistakes. But only the wise will learn from their mistakes.” – Anonymous

      Akan tetapi menjadi celaka, banyak orang yang enggan jika jari telunjuk mengarah ke mukanya: ia dipersalahkan. Lantas yang terjadi ia memasang pertahanan yang kuat. Ia takingin orang-orang mengusik harga dirinya dengan menjadi orang yang salah.

Jika begini ceritanya, semua orang tidak ingin dipersalahkan. Lantas siapa yang harus disalahkan? Apakah kesalahan itu sendiri?

Tentang mengakui kesalahan, mengapa jarang manusia enggan melakukannya. Seolah-olah menjadi orang yang salah membuat langit runtuh dan bumi bergoncang dengan hebat. Padahal, sejatinya kita mafhum bahwa manusia seringkali berbuat salah, sering kali alpa, dan sering kali membuat kecewa. Namun bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatakan kedua? Everyone deserves a second chance. Namun dengan catatan, not for the same mistake. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang tidak ingin jatuh di lubang yang sama.

Maka jika kita memang melakukan kesalahan, untuk apa malu mengakuinya? Jadilah orang-orang yang pemberani. Jika memang terlanjur berbuat salah, introspeksi dirilah. Berbenahlah. Berkontemplasilah.

      Jika maaf takberhasil kita kantongi, beri jeda. Barangkali butuh waktu yang lama untuk seseorang ikhlas memaafkan segala kesalahan-kesalahan kita. Selalu percaya, bahwa hal baik akan selalu dibalas dengan hal-hal yang jauh lebih indah.

Tentang kesalahan, kita belajar tidak hanya meminta maaf kepada orang lain. Namun juga belajar memaafkan diri sendiri. Terkadang yang paling sulit dari semua proses rekonsiliasi kesalahan adalah berdamai dengan diri sendiri. Kerap kali hati kita hancur berkeping-keping. Rasa perih membuat kita merasa layak untuk dibenci. Membuat kita berkata, “Biarlah saya menanggung beban ini sendirian hingga takada lagi rasa sakit yang bisa dirasakan.”

Yakinlah satu hal, kesalahan-kesalahan yang kita perbuat tidak lantas membuat dunia ini benar-benar kiamat. Bukankah Tuhan Maha Pengampun? Yakini itu.

Jakarta, 6 November 2017.

 

 

 

Ketika Sahabat Baik Kita Menikah

Processed with VSCO with hb1 preset

Suatu ketika, salah seorang sahabat saya meninggalkan sebuah pesan di grup WhatsApp. Pesannya, “Nanti kalau Dan (bukan nama sebenarnya) menikah, pasti kita akan jarang lagi kumpul-kumpul ya?” Tidak lama setelah sahabat saya menulis pesan, selang beberapa menit salah seorang sahabat saya yang akan menikah menimpali pesan yang bernada pesimistis tersebut. “Ya kumpul-kumpul aja. Tidak ada perubahan berarti kok. Namun mungkin intensitasnya saja yang tidak sama.”

Saya pun hanya bisa mengamati obrolan mereka tanpa harus ikut terlibat. Saya sungkan untuk mengemukakan pendapat. Lagi pula, setelah saya pikir-pikir lagi, menikah ataupun belum, kondisinya memang kami tidak setiap hari atau setiap pekan bertemu. Jika ada momen-momen tertentu, barulah kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Misalnya, salah seorang sahabat saya merayakan pergantian usia atau tiba-tiba kami semua tertarik untuk menonton film terbaru di bioskop.

Kembali ke pertanyaan sahabat saya tadi, bagaimana perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah? Jujur, dulu ketika saya tahu ada sahabat saya yang akan menikah, saya merasa seperti kehilangan. Agaknya berlebihan jika saya sempat merasakan hal demikan. Namun apa boleh buat, kondisi batin yang saya alami pada saat itu memang begitu adanya. Takdapat disangkal. Betapa tidak, kami terbiasa melakukan berbagai hal bersama, namun pernikahan membuat semuanya berubah. Kata Keane, “….I try to stay awake and remember my name. But everybody’s changing. And I don’t feel the same.”

Akan tetapi, semakin saya dewasa, semakin bertambah usia, saya sadar bahwa pada akhirnya setiap manusia bertranformasi dari satu fase ke fase yang lain, dari sudut pandang satu ke sudut pandang yang lain. Pun demikian, semua hal-hal baik akan terus kekal. Percayalah, rasanya masih akan tetap sama.

Sebagai seorang sahabat yang belum menikah, saya tidak mungkin menahan sahabat saya sembari berkata, “Hai, bisa tunggu saya sedikit lebih lama hingga saya juga menemukan teman hidup?”

Saya tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun, termasuk sahabat dekat saya sendiri. Justru sebaliknya, sayalah orang yang paling bahagia ketika mengetahui bahwa sahabat baik saya telah menemukan teman berbagi, baik dalam kondisi suka maupun duka. Upaya terbaik yang bisa saya curahkan hanyalah berdoa semoga hatinya selalu diliputi ketenangan, kenyamanan, dan rasa syukur.

Kendati demikian, memang tidak bisa saya pungkiri bahwa pada akhirnya waktu mengubah segalanya. Jika dulu, indikator hubungan persahabatan yang sehat dinilai dari seberapa intens kita berkomunikasi dan bertemu, kini mengetahui sahabat kita dalam kondisi sehat, bahagia, dan baik-baik saja–saya rasa itu lebih dari cukup. Sesekali saya hanya bisa mengamati kondisi mereka dari lini media sosial. Terkadang saya beranikan diri untuk menanyakan kabar, memastikan kabar sahabat saya baik-baik saja. Namun sejak menikah, tentunya komunikasi antara kami mulai dibatasi. Saya pikir hal tersebut sudah selayaknya dilakukan oleh orang dewasa. Tujuannya taklain hanya untuk sama-sama menjaga peran.

Beruntung, saya memiliki sahabat dekat tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Saya pikir dulu tidak dikenal persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Saya khawatir “rasa” merusak makna persahabatan itu sendiri. Namun agaknya saya salah. Buktinya, saya memiliki sahabat perempuan yang sangat baik; mendukung saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Saya beruntung mengenal dan menjadi sahabat mereka.

Pernikahan memang mengubah hubungan persahabatan. Namun tidak mengubah banyak hal. Memang ada beberapa sahabat saya setelah menikah menyebabkan komunikasi di antara kami tidak sebaik dulu. Sayapun mafhum dengan kondisi tersebut. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, sejatinya mereka telah lahir menjadi manusia yang baru: ia memiliki tanggung jawab yang baru, peran yang baru, dan tentunya prioritas yang baru.

Kata Mama saya, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahiim.” Beberapa kesempatan, saya mengirim pesan kepada sahabat-sahabat saya sudah mulai lost contact seperti menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun, atau mengirim kutipan-kutipan inspiratif. Saya berupaya menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat saya walau kini kami sudah terpisah dalam interval yang cukup jauh.

Saya pernah bercerita kepada sahabat saya bahwa semua doa-doa anak manusia diijabah oleh Tuhan. Ada yang dijawab langsung, ada yang ditunda, dan ada yang diganti dalam bentuk lain. Saya berkeyakinan bahwa memiliki sahabat-sahabat yang baik, positif, dan inspiratif merupakan jawaban doa dari Tuhan yang diganti dengan bentuk lain. Saya tidak henti-hentinya untuk mensyukuri hal tersebut hingga detik ini. Anugrah dari langit untuk penduduk bumi.

Ada hal yang menarik yang saya amati dari lingkaran persahabatan saya, kendati dari mereka sudah banyak menikah namun nyatanya kami masih bersahabat dengan baik. Bahkan, pasangan mereka (istri/suami) menjadi sahabat baik saya juga. Rasa-rasanya saya tidak akan pernah merasa kehilangan mereka. Jadi, kembali lagi pada pertanyaan, “Seperti apa perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah?” Hati saya diliputi kebahagiaan. Bahagia mereka adalah bahagia saya. Duka mereka adalah duka saya. Begitulah adanya. Tidak ada yang pernah berubah: hari ini, esok, dan seterusnya.

Terakhir, izinkan saya mengutip perkataan Elbert Hubbard, “A friend is someone who knows all about you and still loves you.”

Jakarta,

29 Juli 2017.