Sajak untuk Mereka yang Berhati Hangat

WhatsAppImage2019-11-14at5.39.47PM
Veteran St, Jakarta (Photo by. Mahfud Achyar)

Hari ini, 13 November, masyarakat di dunia merayakan World Kindness Day. Gagasan ini pertama kali tercetus pada 1998 yang bertujuan untuk mempromosikan kebaikan di seluruh dunia. Sederhananya, World Kindness Day merupakan alarm untuk mengingatkan orang-orang di seluruh dunia untuk selalu berbuat baik.

Saat ini, kita hidup di dunia yang penuh prasangka. Belum lagi, rumah yang kita tinggali kian renta. Hidup di zaman ini memang tidak mudah. Terkadang, hati terasa sesak, terkadang pikiran menjadi kalut. Rasa-rasanya ingin pergi galaksi nun jauh di sana. Berharap mungkin saja di sana ada rumah yang lebih ramah untuk ditinggali. Berharap mungkin saja di sana lebih mudah menemukan orang-orang yang berhati hangat.

Akan tetapi, Marcus Tullius Cicero pernah berkata, “While there’s life, there’s hope.” Percayalah, walau orang-orang jahat terlihat lebih banyak, akan selalu ada orang-orang yang berbuat baik. Mungkin, wajah mereka tidak familiar. Mungkin, nama mereka tidak terdengar. Mungkin, jasa mereka tidak pernah dicatat. Namun aroma kebaikan mereka akan terus menyeruak hingga menembus ruang, waktu, dan jarak.

Jika hidup terasa pahit, cobalah mengingat memori kebaikan yang pernah terjadi dalam hidup kita. Contohnya seperti yang saya alami hari ini. Usai makan siang dan hendak menyebrang jalan, tidak ada satupun pengendara yang mau memperlambat laju kendaraannya. Entahlah, mungkin semua orang sedang buru-buru. Persoalan menyebrang di jalanan Ibukota memang kadang menguras energi. Kendati kita menyebrang di jalur yang benar seperti zebra cross, selalu ada saja pengendara yang tidak mau mengalah. Sebagai pejalan kaki, kadang mau tidak mau kita juga harus nekat menerobos pengendara yang egois.

Pun begitu, akan selalu ada pengendara yang baik hati. Seorang pengendara motor memperlambat laju kendaraannya sembari memberi aba-aba agar saya dapat menyebrang. Hal yang sederhana, namun terasa begitu istimewa.

Kebaikan lainnya saya temukan di peron kereta. Seorang bapak paruh bayu mengeluarkan kotak plastik berisi makanan kucing. Ia menghampiri seekor kucing yang sedang berbaring. Kucing tersebut terlihat kurus. Jelas, ia kurang makan. Bapak itu kemudian memberinya makan dan sesekali mengelus badan kucing dengan penuh kasih sayang. Si kucing makan dengan lahap. Mungkin ia tidak menyangka akan mendapatkan makanan yang enak dari seorang bapak yang entah di mana rumahnya.

Dari jauh, saya hanya bisa melihat pemandangan yang membuat hati terasa hangat. Ingin mengabadikan momen saat itu. Namun urung saya lakukan. Rasanya, tidak semua momen harus didokumentasikan. Kadang cukup saya simpan sendiri. Tidak perlu dibagikan pada banyak orang.

Kereta listrik melaju, di perlintasan kereta api, ada petugas yang berjaga sepenuh hati untuk memastikan tidak ada satupun kendaraan yang lewat saat kereta melintas. Jika petugas tersebut lalai menjalankan tugas, sudah dapat dibayangkan hal buruk pasti terjadi. Untuk sang penjaga palang pintu kereta, terima kasih tiada terkira dari kami penumpang kereta.

Sementara di dalam kereta, orang-orang berharap mendapatkan kursi. Membayangkan perjalanan di kereta bisa digunakan untuk istirahat usai hari yang melelahkan. Namun sayangnya, apa yang kita harapkan kadang jauh dari kenyataan. Tidak mengapa toh masih muda dan masih banyak orang-orang yang butuh kursi, terutama mereka yang sudah menua.

Seorang pemuda yang sedang asik membaca buku kemudian berdiri. Ia mempersilakan seorang ibu di depannya untuk duduk. “Silakan duduk, Bu.” Ibu tersebut tersenyum sembari berucap, “Terima kasih, Nak.”

Ah, lagi-lagi hati terasa hangat. Nyatanya masih banyak orang-orang berhati lembut. Saya kemudian melihat ke bawah. Memandangi sepatu yang sedang dipakai oleh seorang wanita. Sepatu itu mengingatkan saya kepada sepatu lari saya yang hilang di masjid kantor. Hari itu, saya merasa sangat sial. Padahal, itu sepatu lari saya satu-satunya. Namun apa boleh buat, musibah siapa yang bisa prediksi? Akhirnya, seorang teman meminjamkan sepatu lari miliknya hingga akhirnya saya bisa lari selepas pulang kerja.

Dalam satu hari saja, ada begitu banyak kebaikan yang dapat kita temukan. Kebaikan akan selalu ada, bahkan dalam hal yang sederhana sekalipun. Seorang teman kantor yang menawari secangkir kopi hangat, seorang pengemudi ojek yang mengantarkan kita ke tempat tujuan kita dengan selamat, seorang penjual nasi goreng yang masih berjualan kendati waktu sudah menujukkan pukul 12 malam, seorang teman yang mengirimkan pesan inspiratif, dan seorang-seorang lainnya.

Untuk mereka yang berhati hangat, terimalah sajak berikut:

Kita mungkin takselalu bisa berbuat baik. Namun bila hati kita baik, kita akan selalu berupaya berbuat baik. Kebaikan yang sudah kita lakukan, bisa jadi tidak akan diingat, tapi bukankah itu tidak menjadi persoalan? Teruslah berbuat baik sebab dunia butuh lebih banyak orang baik.”

Jakarta,

13 November 2019

Setelah Tiada, Seperti Apa Orang-Orang Mengenang Kita?

My shadow. Photo by. Mahfud Achyar.

Ponsel pintar dalam saku celana saya bergetar. Ternyata ada pesan masuk di grup WhatsApp. Seorang teman mengirim tautan berita daring dengan judul “BJ Habibie Meninggal Dunia”. Sontak saya kaget lalu membaca tautan berita tersebut. “Presiden RI ke-3, BJ Habibie, tutup usia. Habibie meninggal di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun.” Begitu kalimat pembuka berita duka meninggalnya Presiden RI ke-3 yang akrab dipanggil Eyang Habibie.

Kepergian Eyang Habibie untuk selama-lamanya ke alam keabadian menyisakan duka yang teramat dalam bagi rakyat Indonesia, khususnya bagi orang-orang yang pernah berinteraksi secara langsung dengan beliau semasa hidupnya. Lini media sosial dibanjiri ucapan kalimat duka cita. Banyak juga yang mengunggah foto bersama Eyang Habibie lengkap dengan cerita kenangan mereka mengenal sosok Eyang Habibie; entah itu hanya sekali bertemu, beberapa kali, atau sering bertemu.

Semua orang mengenang sosok Eyang Habibie dengan kenangan yang baik. Ia tidak hanya dikenang sebagai salah satu presiden Indonesia yang progresif, namun juga dikenang sebagai orang yang telah menginspirasi banyak orang, khususnya anak-anak yang lahir era tahun 80-an hingga 90-an. Saya, mungkin satu dari sekian banyak anak-anak Indonesia pada masa itu yang bercita-cita menjadi seorang Habibie. Mungkin tidak ingin menjadi seorang insinyur seperti Habibie yang berhasil membuat pesawat sendiri melainkan menjadi orang pintar layaknya Habibie.

Ketika kecil, mama saya selalu berpesan, “Kamu harus rajin belajar agar nanti pintar seperti Habibie.” Bisa dikatakan, Habibie menjadi teladan anak-anak Indonesia untuk bersemangat meraih mimpi, untuk bersemangat membuat bangsa Indonesia dipandang terhormat di mata dunia.

Untuk mengenang jasa-jasa Eyang Habibie untuk Indonesia, pemerintah menginstruksikan untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari, mulai tanggal 12 September hingga 14 September 2019. “Selamat jalan, Eyang Habibie. Terima kasih sudah berkontribusi besar untuk bangsa ini. Terima kasih sudah menjadi teladan bagi banyak orang,” tulis saya di beranda Facebook.

Jauh sebelum kepergian Eyang Habibie, ketika kecil, ada dua kabar duka yang paling saya ingat, yaitu meninggalnya Ibu Tien Soeharto pada 28 April 1996 dan meninggalnya Lady Diana 31 Agustus 1997. Kepergian dua tokoh tersebut ramai disiarkan di televisi. Orang-orang berduka. Berbagai cara dilakukan untuk menunjukkan rasa simpati kepada ke dua tokoh tersebut, salah satunya mengirim karangan bunga.

Dari berita duka meninggalnya Eyang Habibie, Ibu Tien Soeharto, dan Lady Diana, lalu menyeruak satu pertanyaan yang hingga saat ini belum saya temukan jawabannya, “Setelah saya tiada, seperti apa orang-orang mengenang saya?”

Saya membayangkan jika hari itu tiba, mungkin saja orang-orang yang mengenal saya akan bersedih. Lalu, ada beberapa orang yang mengantarkan saya ke tempat perisitirahatan saya yang terakhir, ada juga mungkin yang mengunggah foto saya di media sosial, serta kemungkinan-kemungkinan lainnya. Namun beberapa hari kemudian, hidup kembali berjalan normal–ada atau tidak adanya saya. Keluarga saya kembali melanjutkan hidup, begitu juga dengan teman-teman saya. Sementara saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi di kehidupan saya berikutnya.

Kembali pada pertanyaan tadi, ketika kita sudah tiada, seperti apa orang-orang mengenang kita? Mungkin jawabannya akan beragam. Setiap orang yang pernah berinteraksi dengan kita memiliki sudut pandang yang berbeda-beda saat mengenang kita. Semua itu bergantung pengalaman mereka. Ada mungkin orang-orang yang pernah kita sentuh hatinya, ada mungkin orang-orang yang kita sakiti hatinya.

Saya kemudian bertanya pada salah seorang teman mengenai pertanyaan tadi. Ia menjawab singkat, “Pendiam.” Baginya, saya adalah orang yang pendiam dan mungkin hal itu benar adanya. Tidak ada ruang justifikasi untuk jawaban teman saya tersebut. Saya hanya mengucapkan terima kasih atas kejujurannya.

Terlepas dari jawaban yang mungkin berbeda-beda, sejujurnya ada satu kata sifat yang ingin sekali saya tinggalkan ketika saya sudah tidak ada lagi di dunia ini, yaitu big heart. Bahwa saya dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang saya miliki, saya berupaya memaafkan orang-orang yang pernah berbuat buruk terhadap saya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Terkadang, saya masih ingat betul perlakuan buruk orang lain terhadap saya. Perih hati masih terasa sama. Namun, saya memilih memerdekakan hati saya. Biarlah yang sudah terjadi menjadi cerita kehidupan yang takharus disimpan, apalagi dikenang. Memaafkan sejatinya bukan untuk orang lain, namun justru untuk diri saya sendiri. Memaafkan berarti saya berdamai dengan masa lalu, kemudian memilih untuk menjalani hidup dengan hati yang lapang.

Selain itu, saya rasa saya termasuk jenis orang yang sering mengingat kebaikan walau jarang saya ungkapkan. Bahkan, saya berpikir harusnya saya mendapatkan balasan atas hal baik yang saya lakukan. Seperti ungkapan yang sering terdengar, “Take and give.” Namun belakangan saya menyadari bahwa saya keliru. Seharusnya jika memang saya berbuat baik, maka lakukanlah dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan balasan. Jujur, bagi saya itu cukup berat. Namun, bukankah manusia akan diuji hal yang sama hingga ia berhasil melewati ujian tersebut?

Manusia tidak seharusnya menjadi tempat kita menyimpan pengharapan. Biarkan harapan kita satu-satunya kita percayakan kepada Sang Pencipta. Sebab, jika kita terlalu berharap pada manusia, maka siap-siap kita akan patah hati dan kecewa. Meski, patah hati dan kecewa juga tidak apa. Namun, bukankah hati terasa lebih merdeka saat kita takharus punya alasan untuk berbuat baik?

Entahlah, mungkin itu hanya sebatas cita-cita saat saya telah tiada. Hal sebaliknya sangat mungkin terjadi. Tapi setidaknya sekarang saya sudah cukup lega. Ada tujuan hidup yang menjadi pengingat saya dalam menjalani hari-hari yang masih tersisa. Persoalan seperti apa orang-orang mengenang saya ketika nanti saya tiada, sekarang menjadi tidak begitu penting lagi. Untuk apa saya memikirkan sesuatu yang sulit saya prediksi. Lebih baik, saya menjadi pribadi yang ingin saya cita-citakan untuk diri saya sendiri. Seorang pribadi yang memiliki hati yang lapang. Semoga.

Tentang kematian, rasanya kutipan dari Irving Berlin sangat mewakili suara hati saya, “The song is ended, but the melody lingers on.”

 

Jakarta,

12 November 2019.

Jangan Pernah Merasa Berjuang Sendiri

Pelican crossing at Thamrin Street Jakarta. Photo by Mahfud Achyar.

Jangan pernah merasa berjuang sendiri, yang lain juga sedang berjuang, tapi dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang memperlihatkan, ada juga yang menyembunyikan. Hanya kita tidak ada punya kuasa untuk mengetahui secara rinci permasalahan apa yang mereka hadapi. Ada yang memilih berbagi, ada juga yang memilih untuk menyimpan rapat-rapat. Lagi-lagi, semua kembali pada pilihan masing-masing orang. Tidak ada yang benar atau yang salah dalam perkara ini.

Kemarin, mungkin satu dari sekian banyak hari yang terberat dalam hidup saya. Ada masalah yang sedang saya hadapi dan sepertinya masalah tersebut berulang kali terjadi. Lalu, ditambah kemarin ada kejadian yang menguji kesabaran saya. Lengkap sudah.

Seperti biasa, setiap hari saya berangkat ke kantor menggunakan Transjakarta. Pagi itu, saat saya hendak tap in kartu uang elektronik, petugas Transjakarta mengatakan mesin untuk tap in mengalami gangguan. Jadi, harus menggunakan uang tunai sebesar dua ribu rupiah karena masih di bawah pukul 7 pagi. Sialnya, dompet saya saat itu kosong. Tidak ada uang sama sekali. Sementara lokasi mesin ATM cukup jauh. Penumpang lainya berhasil masuk karena mereka membawa uang tunai.

Saya punya pengalaman, sering ada penumpang yang tidak bisa tap in lantaran tidak membawa kartu uang elektronik atau saldo kartunya tidak cukup. Saya kemudian inisiatif menawari dia untuk menggunakan kartu saya hingga akhirnya ia berhasil masuk. Sebenarnya, saya agak ragu menulis hal ini khawatir saya mengingat-ingat kebaikan. Namun, pagi itu pikiran buruk terlintas di benak saya, “Mengapa saat saya lagi kesusahan tidak ada yang membantu?”

“Mas, mesin tap in yang rusak di halte ini saja atau semua halte?” tanya saya.

“Di halte ini saja mas,” jawabnya singkat.

Akhirnya dengan langkah yang berat, saya ke luar halte. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba terlintas pikiran, “Mengapa saya tidak bertanya kepada penumpang lain? Adakah yang bersedia meminjamkan kartu uang elektronik sehingga saya bisa masuk?” Namun anehnya, hal itu tidak saya lakukan. Saya memilih untuk ke luar halte dan berjalan menuju halte lainnya dengan perasaan kesal.

Berjalan beberapa meter, akhirnya saya tiba di halte berikutnya dan berhasil tap in. Di dalam Transjakarta, saya mengeluarkan earphone kemudian memutar playlist lagu-lagu favorit saya di Spotify. Saya melihat ke arah jendela. Lirih saya berkata, “Mengapa hari ini terasa berat?” Saya menghembuskan napas pelan-pelan, berharap dapat berpikir lebih jernih.

Lalu, saya melihat para penumpang Transjakarta. Ada yang sedang memainkan ponsel pintar, ada yang sedang tertidur, dan ada juga yang sedang melamun. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul lagi lintasan pikiran. Katanya, “Jangan pernah merasa berjuang sendirian, yang lain juga sedang berjuang.”

Orang-orang di dalam Transjakarta, bisa jadi memiliki masalah yang jauh lebih berat dibandingkan masalah yang sedang saya hadapi. Penumpang yang tertidur, barangkali ia ingin melupakan sejenak masalah rumah tangga yang sedang ia alami. Penumpang yang sedang memainkan ponsel pintar, barangkali ingin melepas penat dan stres lantaran pekerjaan kantornya takkunjung rampung. Penumpang yang sedang melamun, barangkali ia baru saja kehilangan orang yang dicintai.

Setelah melihat wajah para penumpang Transjakarta, saya berpikir bahwa perasaan sedih, kecewa, dan marah itu hal yang biasa. Tidak ada yang salah dengan perasaan-perasaan itu. Mereka akan terus menyapa kita. Mereka akan terus hadir menjadi bagian dari emosi kita. Mungkin kita tidak perlu mengusir mereka. Katakan pada mereka, “Baiklah, kali ini kamu boleh hadir, tapi jangan lama-lama ya. Semoga bisa pergi secepatnya.”

Begitulah kisah hidup anak manusia. Selalu ada dua cerita untuk setiap kehidupan; kehidupan yang kita jalani dan kehidupan yang kita ceritakan kepada orang lain. Tidak ada yang betul-betul tahu kehidupan seseorang. Kita mungkin bisa berasumsi, kita mungkin bisa menerka-nerka. Namun, cerita utuh dari kehidupan manusia hanya ia dan Tuhan-lah yang tahu. Bisa jadi, di balik senyuman, ada rasa resah dan gelisah. Bisa jadi juga dalam diam seseorang, ia sedang berbisik, “Dunia ramahlah padaku.”

Everybody has their own problems. No matter how big you think yours are, there is someone else that has bigger problems or different problems.” – Josh Hutcherson.

Jakarta,

5 November 2019

 

Jika Saja

_20190517_154734
Photo Captured by Mahfud Achyar

Suatu malam di sebuah restoran cepat saji, seorang teman memulai percakapan. Katanya, “Kalian tahu bahwa bahasa cinta ada lima. Ada words of affirmation (pujian), quality time (menghabiskan waktu bersama), receiving gifts (hadiah), acts of service (dilayani), dan physical touch (sentuhan fisik). Dari lima bahasa cinta tersebut, mana yang sering kalian gunakan?” tanyanya penuh selidik.

Semua orang terdiam, memikirkan mana jawaban yang paling tepat yang menggambarkan kebiasaan yang sering disampaikan kepada orang-orang terkasih, entah itu orang tua, saudara, pasangan atau sahabat. Seorang teman menyeru, “Saya memilih quality time lantaran jadwal saya cukup padat, apalagi jika hari kerja. Mencari waktu untuk bertemu teman-teman saja susahnya minta ampun. Jadi, jika ada waktu luang, saya akan memanfaatkannya untuk bertemu dengan teman-teman dekat,” jelasnya.

Semua orang mendengarkan dengan seksama sembari mengangguk pertanda setuju. Lalu, ada juga teman yang memilih memberi hadiah untuk orang-orang yang disayangi, ada juga yang memilih mengekspresikan rasa sayang dengan pujian atau apresiasi. Jawaban tentang pertanyaan mana bahasa cinta yang sering digunakanpun beragam. Unik, nyatanya manusia memiliki bahasa cinta yang berbeda satu sama lainnya.

Gagasan tentang lima bahasa cinta ditulis oleh Gary Chapman pada bukunya yang berjudul “The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate” (1992). Salah Satu kutipan Gary Chapman pada buku tersebut berbunyi seperti ini, “For love, we will climb mountains, cross seas, traverse desert sands, and endure untold hardships. Without love, mountains become unclimbable, seas uncrossable, desert unbearable, and hardships our lot in life.” Terdengar sangat manis.

Cinta barangkali adalah senyawa yang menggerakkan hati dan pikiran kita untuk memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi. Bisa jadi, lantaran cinta, takada lagi sekat bahasa cinta yang harus dikotak-kotakan seperti yang disampaikan oleh Gary Chapman. Bahasa cinta bisa bertansformasi menjadi pekerjaan yang melebihi batas imajinasi, batas diri, dan batas-batas teori.

Obrolan malam itu terus berlanjut hingga akhirnya tiba giliran saya menjawab mana bahasa cinta yang sering saya gunakan. Saya bingung sebab saya sendiri tidak pernah mengidentifikasi jenis bahasa cinta yang paling sering saya gunakan. Saya melihat jauh ke dalam diri saya, menerawang sekiranya dari semua pilihan bahasa cinta yang ada, mana yang paling menggambarkan diri saya? Jujur, saya kesulitan.

Bisa dibilang, saya adalah tipikal orang yang selektif. Tidak mudah bagi saya untuk dekat dengan banyak orang. Butuh proses yang panjang: observasi, interaksi, hingga akhirnya memutuskan siapa saja pilih untuk saya curahkan sisi terbaik yang saya miliki. Terkesan pilih-pilih. Namun begitulah adanya.

Balik lagi pada pertanyaan tentang bahasa cinta, saya memilih words of affirmation dan pray. Untuk pilihan kedua memang tidak ada dalam bukunya Gary Chapman. Namun setelah melakukan internalisasi diri, memang itulah bahasa cinta yang sering saya gunakan. Saya memang terbiasa mengekspresikan rasa sayang melalui ungkapan kata-kata. Tidak ada alasan khusus. Namun sepertinya kata-kata adalah sesuatu yang tidak bisa terpisahkan dalam diri saya. Sementara untuk doa, ini adalah tahapan paling dalam dan paling akhir yang bisa saya upayakan untuk orang-orang yang saya sayangi. Saat kata takmampu lagi terucap, saat emosi taklagi mampu disampaikan dengan tepat, maka doa adalah pilihan yang terbaik. Menghadirkan Tuhan untuk menjembatani kata-kata yang tak tersampaikan.

Terlepas dari pembahasan tentang bahasa cinta, saya rasa kita semua bersepakat bahwa yang benar-benar kita inginkan untuk mereka yang terkasih hanyalah satu: yang terbaik untuk mereka. Namun sedihnya, terkadang kita harus berperang melawan rasa sesak saat kita mengetahui bahwa orang-orang yang kita sayangi memilih jalan yang kita rasa bukan jalan yang baik untuk mereka. Meski, mana jalan yang baik atau buruk, lagi-lagi bergantung pada sudut pandang.

Lantas pertanyaannya, manakah jalan yang benar-benar baik untuk kita? Setiap orang jelas memiliki jawabannya masing-masing. Belakangan saya berkontemplasi cukup lama untuk menemukan jawabannya. Saya rasa, untuk memutuskan jalan yang baik untuk kita, maka kita harus melibatkan hati kita yang terdalam, bukan melibatkan nafsu, pikiran, atau bahkan pendapat orang lain. Katakan pada diri kita, “Apakah ini yang betul-betul saya inginkan? Apakah ini yang betul-betul membuat saya bahagia? Apakah ini benar-benar diri saya yang sungguhnya?” Jika kita sudah bertanya dan menemukan jawaban yang bersumber dari hati kecil kita, ya, bisa jadi itulah jalan yang memang ditakdirkan Tuhan untuk kita.

Tentang orang-orang yang kita sayangi yang memilih jalan kita rasa tidak baik untuk mereka, upaya terbaik yang bisa kita lakukan yaitu sampaikan perasaan kita yang terdalam untuk mereka. Katakan bahwa kita benar-benar peduli kepada mereka, bicarakan dari hati ke hati tanpa ada perasaan saling menghakimi. Namun jika tidak berhasil, kita memasuki tahap proses penerimaan, bahwa apa yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain.

Sedih memang saat kita mengulurkan tangan untuk menarik orang yang kita sayangi yang nyaris jatuh ke jurang, namun justru ia memilih untuk melepaskan tangan kita. Kita marah, sedih, kecewa, dan tentu saja patah hati. Namun apa boleh buat, manusia hidup dari satu pilihan ke pilihan lainnya. Jangan menyiksa diri dengan menyalahkan kondisi yang terjadi. Terimalah dengan hati yang lapang. Setidaknya kita sudah berupaya, setidaknya kita sudah mencoba.

Jika saja telepati itu memang ada, mungkin akan lebih mudah bagi kita menyampaikan rasa sayang kita kepada mereka yang terkasih. Jika saja telepati itu memang ada, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk berbisik kepada mereka yang terkasih, “Aku rasa kamu memilih jalan keliru. Bisakah kamu mendengarkan suaraku?”

Akan tetapi manusia memang makhluk yang tidak sempurna. Kita memiliki banyak keterbatasan. Namun untuk melewati keterbatasan itu, maka kita butuh Tuhan. Minta pada-Nya sebab Ia-lah yang memiliki hati setiap manusia. “When people are ready to, they change. They never do it before then, and sometimes they die before they get around to it. You can’t make them change if they don’t want to, just like when they do want to, you can’t stop them,” pesan Andy Warhol.

Jakarta,

17 Mei 2019

Saat Irisan Kematian Begitu Tipis

20190305_170519-01
Photo captured by. Harry Anggie

Never forget how blessed you are to see another day.” – Anonymous

Dalam hidup ini, betapa sering kita mendengar, membaca, dan melihat orang-orang yang ‘lolos’ dari kematian—mungkin salah satunya kita sendiri yang mengalami peristiwa ‘lolos’ dari kematian. Saya beberapa kali memiliki pengalaman ‘lolos’ dari kematian, setidaknya empat kali selama saya hidup.

Pertama, saya pernah tenggelam ketika masih kecil. Saat itu, saya belum bisa berenang. Namun saya terbiasa bermain di pinggiran kolam dan berpegangan pada dinding-dinding kolam. Saya pikir, itu cara yang paling aman untuk bisa tetap main di dalam air tanpa takut tenggelam.

Lalu, saya ke luar dari kolam dan berdiri di pinggir kolam. Suasana kolam saat itu cukup ramai. Banyak orang-orang berenang, termasuk anak-anak seusia saya. Tiba-tiba, ada yang mendorong saya ke kolam. Saya meronta-ronta, berupaya naik ke permukaan. Namun hasilnya nihil. Saya berkali-kali minum air kolam hingga saya batuk. Mata saya terasa perih. Saya sulit bernapas.

Semakin saya berusaha keras naik ke permukaan, semakin saya kesulitan untuk bernapas. Saya tidak berharap banyak. Mungkin itu akhir hidup saya. Namun tiba-tiba seseorang mengangkat tubuh saya lalu mendorong ke pinggir kolam. Saya hampir tidak sadar diri. Namun beruntung saya selamat.

Saya tidak tahu siapa yang menyelamatkan saya pada insiden itu. Namun saya sungguh berterima kasih. Andai saja saya mengenalnya, saya akan sampaikan ungkapan terima kasih secara langsung. Kebaikannya akan selalu saya kenang hingga kapanpun. Terima kasih wahai pahlawan masa kecil saya.

Sejak kejadian itu, saya bertekad untuk bisa berenang. Saya rutin untuk belajar berenang hingga akhirnya saya benar-benar bisa berenang. Senang rasanya bisa berpindah dari satu titik ke titik lain, entah itu di kolam, sungai, ataupun laut tanpa harus takut tenggelam.

Kedua, saya dan teman-teman saya pernah nyaris ditabrak kereta api saat melewati jalan yang menjadi perlintasan kereta api. Tidak ada petugas yang berjaga, tidak ada palang pintu kereta api, dan tidak ada sirine sebagai tanda kereta api akan melintas. Mobil kami melaju melewati perlintasan kereta api. Tidak ada rasa khawatir karena memang jalanan sepi dan tidak ada tanda-tanda bahaya. Namun tidak berselang lama, kereta api lewat. Jantung saya berdegup kencang. Saya rasa kondisi yang sama juga dialami teman-teman saya. Kami mengucap syukur karena ‘lolos’ dari kematian. Terima kasih, Tuhan.

Ketiga, kejadian ‘lolos’ dari kematian juga terjadi saat berada di dalam mobil. Masih lekat di benak saya, pada 30 September 2009, tiba-tiba bumi bergoncang begitu hebat. Saya dan keluarga berada di dalam mobil menuju kota Padang.

Saat itu, momen Hari Raya Idul Fitri. Saya pulang kampung. Kami sekeluarga baru saja mengunjungi rumah saudara yang ada di Painan, Pesisir Selatan. Jalanan dari Painan menuju Padang tidak begitu besar, hanya cukup dilewati dua mobil dari arah yang berlawanan. Kondisi jalan bisa dikatakan cukup ekstrem lantaran berada di antara tebing batu dan jurang yang langsung mengarah ke laut. Gempa membuat mobil kami oleng. Namun beruntung masih bisa dikendalikan dengan baik.

Lalu, pemandangan seketika berubah begitu menyeramkan. Batu-batu di atas bukit yang berukuran besar berjatuhan dan nyaris meniban mobil kami. Semua orang di dalam mobil berteriak. Kondisi saat itu mengingatkan saya pada salah satu adegan dalam film “Knowing” (2019) yang dibintangi Nicolas Cage, saat ia dan anaknya berada di dalam mobil dan berupaya terhindar dari jilatan gelombang panas.  

Perlahan, getaran gempa mulai berkurang. Batu-batu dari atas bukit juga tidak lagi berjatuhan. Kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan. Baru beberapa meter jalan, kami melihat pemandangan yang memilukan. Seorang pengendara sepeda motor tertiban batu yang berukuran besar. Sudah dipastikan ia tidak selamat. Tragis.

Keempat, kejadian ‘lolos’ dari kematian baru beberapa waktu lalu saya alami, tepatnya pada Minggu, 17 Maret 2019, saat penerbangan dari Balikpapan ke Jakarta. Sesuai jadwal penerbangan, pesawat saya seharusnya take off pukul 19.45 WITA. Namun ketika berada di ruang tunggu, ada pengumuman dari maskapai bahwa terjadi keterlambatan penerbangan sekitar 45 menit lantaran ada kendala teknis. Pukul 19.56 WITA, pesawat sudah bisa dinaiki penumpang dan siap lepas landas. Setelah kurang lebih 35 menit terbang, tiba-tiba ada pengumuman dari awak kabin yang mengatakan pesawat memiliki masalah teknis khususnya pada kemudi kendali otomatis sehingga terpaksa harus memutar balik ke Balikpapan.

Tangan saya berkeringat, saya mulai berpikir buruk, “Bagaimana jika hal buruk terjadi pada pesawat yang saya tumpangi?” Saya melepas headphone yang sedari tadi menempel di daun telinga. Zac Efron dan Zendaya masih saja terus bernyanyi, “…How do we rewrite the stars? Say you were made to be mine? Nothing can keep us apart. ‘Cause you are the one I was meant to find…”

Saya berusaha tenang, berusaha menghalau pikiran buruk, seraya berdoa. Saya hanya bisa pasrah, berharap Tuhan melindungi kami semua. Jika memang memang kematian sudah di ambang mata, saya bisa apa?

Pesawat memutar balik menuju Balikpapan. Semua orang tampak khawatir. Kami merapal doa, benar-benar berharap bisa mendarat dengan selamat di Balikpapan. Alhamdulillah, roda pesawat menyentuh landasan bandara. Kami semua selamat.

Semua penumpang satu persatu turun dari pesawat, melewati lorong menuju counter check-in. Pihak maskapai mengatakan bahwa tidak ada lagi penerbangan ke Jakarta. Penerbangan kami merupakan penerbangan terakhir. Mau tidak mau harus diundur hingga besok pagi.

Para penumpang antre untuk mengatur ulang jadwal penerbangan mereka. Ada yang memilih jadwal penerbangan pertama pada esok hari, ada yang siang, dan ada pula yang marah-marah kepada petugas maskapai lantaran jadwal perjalanan mereka jadi kacau. Namun saya pikir, keputusan pilot untuk kembali ke Balikpapan merupakan keputusan yang paling tepat. Bagaimana jika pihak maskapai tetap memaksakan penerbangan ke Jakarta? Tidak ada yang bisa jamin bahwa kami akan selamat. Sangat berisiko. Saya tidak ingin seperti penumpang lainnya yang mengeluh, protes keras, bahkan memaki-maki petugas maskapai. “Sudah sampai selamat kembali di Balikpapan saja saya sudah tenang,” saya membatin.

Beberapa kejadian ‘lolos’ dari kematian yang pernah saya alami membuat saya merenung bahwa sejatinya kematian akan selalu mengikuti manusia hingga kapanpun. Hanya kita tidak diberi kuasa oleh Tuhan kapan kematian benar-benar menghampiri kita dan berkata, “Saatnya kamu mengucapkan selamat tinggal pada dunia.”

Terkadang, saya sering memikirkan kematian dan berharap kematian segera menyapa saya pada usia yang masih muda. Saya teringat puisi yang ditulis Soe Hok Gie, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Entahlah, mungkin saya belum menemukan Ikigai – a reason for living atau mungkin saya hanya merasa lelah; melihat dunia yang semakin tidak nyaman untuk ditinggali, kekhawatiran akan banyak hal, dan semakin lama hidup maka akan semakin banyak dosa yang saya perbuat. Mungkin kematian satu-satunya jalan untuk mengistirahatkan pikiran dan perasaan saya. Namun saya juga khawatir bahwa saya tidak benar-benar siap untuk mati muda. Bekal saya untuk kehidupan berikutnya belum banyak. Mungkinkah di kehidupan berikutnya akan lebih menyenangkan?

Buku “Ikigai: The Japanes Secret to a Long and Happy Life” (2016) yang ditulis oleh Héctor García and Francesc Miralles mengemukakan gagasan bahwa setidaknya ada empat alasan mengapa kita harus terus bertahan untuk hidup, yaitu mission, vocation, profession, dan passion yang juga dibingkai dalam empat pertanyaan, “what you love, what the world needs, what you can be paid for, and what you are good at.

Barangkali ada benarnya bahwa jika kita lelah dengan hidup, mungkin kita perlu menemukan Ikigai kita sendiri dan itu sangatlah personal. Mungkin juga kita harus mengubah perspektif kita tentang hidup itu sendiri. Beruntung kita masih bisa bangun, masih bisa bernapas, masih bisa mandi, masih bisa sarapan, masih bisa datang ke kantor, masih bisa bekerja, dan banyak hal yang masih bisa kita lakukan.

Sementara di luar sana, ada orang-orang yang benar-benar berjuang untuk hidup dan itu tentulah tidak mudah. Kata sahabat saya, Harry, “Everyday is a gift grom God.” Maka balasan untuk hadiah yang diberikan Tuhan yaitu dengan cara bersyukur, menikmati hari-hari yang kita jalani walau terkadang diselingi air mata, kecewa, duka, dan perasaan-perasaan tidak mengenakkan hati lainnya. Perlakukan perasaan itu selayaknya tamu. Ia akan datang dan pergi. Ia tidak akan singgah terlalu lama. Jadi, biarkan ia hadir, biarkan ia bertamu, dan bila perlu ucapkan selamat tinggal jika memang waktunya ia harus pergi.

Jangan terlalu risaukan masa depan yang masih menjadi misteri. Hiduplah untuk hari ini, hiduplah untuk saat ini. Kita memang diminta untuk mempersiapkan masa depan. Namun yang lebih penting yaitu masa sekarang. Masa di mana kita masih bisa merasakan hembusan napas yang terasa hangat, masa di mana kita masih bisa melihat daun-daun yang berguguran, dan masa di mana kita masih bisa mendengar burung berkicau dengan merdunya.

Saya rasa, kejadian-kejadian ‘lolos’ dari kematian merupakan isyarat dari Tuhan bahwa kita masih punya waktu untuk menggapai mimpi-mimpi kita, bahwa kita masih bisa memperbaiki hubungan yang sempat retak dengan orang lain, bahwa kita masih bisa menunjukkan sisi terbaik kita kepada orang-orang yang kita sayangi.

Jangan meminta kematian menjemput lebih awal sebab tanpa dimintapun ia akan datang. Kematian tidak akan pernah datang lebih awal atau datang terlambat. Suatu saat ia akan menyapa kita pada tempat dan waktu yang tidak disangka-sangka. Untuk itu maknailah hidup selayaknya perkataan orang bijak, No matter how good or bad your life is, wake up each morning and be thankful that you still have one.

Jakarta,

18 April 2019

Mereka Tidak Benar-Benar Pergi

WhatsApp Image 2019-03-05 at 6.03.46 AM
Photo Captured by. Harry Anggie

Pagi ini, saya mendapatkan notifikasi dari Facebook, “Edrizal and 7 others have birthdays today. Help them celebrate!” begitu pesan Facebook. Biasanya, jika sempat, saya akan mengirim ucapan selamat ulang tahun ke teman-teman yang sedang ulang tahun. Di antara mereka ada teman-teman yang masih intens berkomunikasi hingga sekarang namun lebih banyaknya mereka yang sudah jarang sekali berkomunikasi, apalagi bertatap muka.

Momentum ulang tahun saya manfaatkan untuk menjalin yang sudah terputus, merekatkan yang sudah terlepas. Kata mama, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahmi.” Sebuah pesan yang sebetulnya sulit sekali saya terapkan lantaran saya  tergolong orang cukup cuek, terutama kepada orang-orang yang saya anggap tidak begitu dekat. Entahlah, apakah itu baik atau buruk. Namun yang jelas, saya berupaya agar hubungan yang sudah dibangun baik sejak awal tetap menjadi baik—hingga tiba waktunya saya taklagi berkewajiban menjalankan peran sebagai makhluk sosial.

Hari ini, pengingat dari Facebook membuat hati saya mendung. Pagi yang tadi cerah seketika berubah kelabu. Otak saya secara otomatis mencari kenangan yang tersimpan di hippocampus, bagian otak yang menyimpan memori. Hippocampus menampilkan mozaik kesedihan yang saya rasakan ketika salah seorang sahabat saya yang hari ini ulang tahun, meninggal dunia, tepatnya pada 4 November 2013.

Ia pergi pada usia yang masih sangat muda. Jauh sebelum ia sakit, kami berencana untuk bertemu untuk sekadar memastikan bahwa tidak banyak yang berubah dari kami. Namun sialnya terkadang dunia bekerja tidak seperti apa yang kita pikirkan. Hari-hari berikutnya ia menanggung beban yang takbisa ia bagi kepada saya. Ia terbaring sakit hingga akhirnya Tuhan mencukupkan rasa sakit yang ia derita. Kini, ia taklagi sakit. Ia sudah beristirahat dengan tenang di sana. Semoga Tuhan tempatkan ia di tempat terbaik di sisi-Nya.

Saya pernah mendengar ungkapan seperti ini, “”Orang-orang baik, konon katanya lebih cepat meninggal.” Saya tidak mafhum apakah teori ini akurat atau tidak. Namun ada hal yang cukup menganggu hari-hari saya, “Mengapa orang-orang yang baik kepada saya, satu persatu meninggalkan saya.”

Saya telah banyak kehilangan orang-orang yang saya sangat sayangi. Kehilangan paling berat yaitu ketika kehilangan sahabat baik sejak di bangku Sekolah Dasar lanjut kehilangan sahabat baik ketika di bangku Sekolah Menengah Pertama, terakhir kehilangan orang yang memiliki tempat istimewa di hati saya: nenek.

Takbanyak orang yang saya izinkan masuk ke dalam hati saya. Sejak kecil, saya sangat selektif memilih teman. Saya ingat pesan mama, katanya, “Jangan sembarangan memilih teman. Seseorang dilihat dari siapa ia berteman.”

Secara tidak langsung, pesan itu begitu melekat di benak saya sehingga dampaknya saya tidak begitu pandai bergaul. Teman saya ya itu-itu saja. Namun saya merasa sudah cukup memiliki beberapa orang teman yang baik yang mampu mendorong saya jauh lebih baik dari hari ke harinya.

Dalam hidup ini, ada hal yang bisa kita ubah dan ada hal yang masih bisa kita upayakan. Kita terlahir dari keluarga seperti apa, itu hal tidak mungkin kita ubah. Namun kita masih punya kesempatan memilih orang-orang yang kita sebut sebagai sahabat. Kita memiliki hak prerogatif untuk menyaring siapa saja yang boleh ada di hati kita dan siapa yang tidak. Siapapun tidak berhak menggugat hak itu.

Lantas, bagaimana jika mereka yang sudah kita pilih, secara bergantian tidak lagi bersama kita? Saat kehilangan mereka, saya merasa ada yang hilang dalam hati saya. Seketika dada terasa sesak, seketika anterior cingulate cortex (ACC) bekerja tanpa diperintah. Jika hati layaknya kumpulan puzzle, maka kehilangan orang yang terkasih menyebabkan kepingan puzzle turut hilang. Lambat laun, hati tidak lagi tersusun dari kumpulan puzzle yang utuh. Ada ruang yang kosong, ada ruang yang dingin, dan ada yang ruang yang hampa. Kini, semua tidak lagi sama.

Kamis, 22 Juni 2017 merupakan hari yang cukup berat dalam hidup saya. Hari itu, untuk terakhir kalinya saya melihat wajah, menyentuh tangan, dan membelai rambut orang yang sangat saya sayangi, nenek. Berulang kali saya menaruh jari telunjuk tepat di bawah lubang hidung nenek, memastikan nenek masih bernapas. Merasa takcukup, saya juga berulang kali menekan pembuluh nadi nenek, memastikan pembuluh nadinya masih berdenyut. Namun takada napas hangat yang saya rasakan, takada juga denyut nadi yang berdenyut lemah. Semuanya nihil.

Saya membuka kacamata, mengelap muka dengan tangan kiri saya. Saya belum bisa menerima bahwa nenek pergi untuk selamanya. Saat itu, tidak ada air mata yang menetes. Saya hanya merasa linglung. Saya sulit membedakan apakah saat itu saya berada dalam mimpi atau kenyataan. Lalu, kain panjang menutup muka nenek. Suara terdengar gaduh sementara saya merasa sepi. Lagi, ada puzzle yang hilang, semua kembali berulang.

Begitulah adanya hidup, ada yang terlahir dan ada pula yang meninggal. Saya membaca berita bahwa setidaknya ada tiga bayi terlahir setiap detik di seluruh dunia dan pada hari yang sama sekitar 153 ribu orang meninggal di seluruh dunia.

Mereka yang datang disambut suka cita, mereka yang pergi disambut dengan duka dan air mata. Datang dan pergi seolah menjadi hal yang takbisa kita hindari. Untuk mereka yang saya sayangi dan sudah pergi, ingin sekali saya katakan pada mereka bahwa sesungguhnya mereka tidak benar-benar pergi di hati saya. Mereka akan terus ada hingga kapanpun. Saya akan selalu mengingat mereka dalam ingatan yang baik, ingatan yang terjaga.

Mengutip pesan Sirius Black kepada anak baptisnya, Harry, “The ones who love us never really leave us, you can always find them in here (heart).” Saya berharap, pada suatu waktu, saya bisa kembali bertemu mereka, bercerita tentang hari-hari indah yang pernah kita jalani bersama.

Terima kasih untuk mereka yang pernah baik pada saya. Izinkan saya untuk selalu mengingat dalam ingatan yang baik, dalam ingatan yang terjaga.

 

Jakarta,

28 Maret 2019

 

 

Merasa Cukup

DSC_0013_19-01.jpeg
Photo captured by. Mahfud Achyar

“How’s life?”

Seorang teman mengirim pesan singkat di aplikasi WhatsApp.

“Good!” balas saya singkat.

Klise. Demikianlah percakapan yang acap kali terjadi antara satu manusia dengan manusia lainnya. Pertanyaan seputar kabar biasanya menjadi pertanyaan pembuka saat kita ingin menjalin komunikasi dengan orang lain. Apa yang kita harapkan saat bertanya kabar pada orang lain? Tentu berharap mereka dalam keadaan sehat dan bahagia. Layaknya sebuah harapan, maka jawaban-jawaban itulah yang akan kita terima.

Manusia begitu pandai menyembunyikan perasaan, terutama ketika berkomunikasi menggunakan bahasa teks. Saat ada yang bertanya kabar, maka secara otomotis biasanya kita akan menjawab, “kabar baik”. Namun mungkinkah kita benar-benar baik? Bisa jadi kita ingin menutupi keadaan yang terjadi sesungguhnya. Bukan bermaksud membohongi lawan bicara. Namun takingin membuat khawatir atau menambah beban.

Bisa juga mereka yang menjawab, “baik,” mungkin memang sesungguhnya dalam keadaan baik. Lagi-lagi, kita hanya akan terus berada pada ranah asumsi. Untuk cerita sesungguhnya di balik kata yang diproduksi biarlah menjadi rahasia sang pengujar kata. So, how’ life?

Hidup di tengah hiruk pikuk manusia, terutama di kota besar seperti Jakarta, ada fenomena yang cukup mencuat yaitu fenomena membanding-bandingkan. Saya sendiri mungkin salah satu orang yang terkena dampak fenomena ini. Sulit disangkal bahwa saya juga kerap kali membandingkan kehidupan saya dengan orang lain. Untuk konteks ini, membanding-bandingkan menjadi terminologi yang berkonotasi negatif. Saya merasa tidak puas dengan kehidupan saya saat ini, saya merasa tidak pernah cukup.

Salah satu aspek kehidupan yang membuat saya tidak pernah cukup yaitu masalah pekerjaan. Saya pernah bercerita kepada seorang teman tentang keinginan saya untuk pindah kerja. “Saya sudah lama bekerja di tempat yang sekarang. Saya merasa karir saya begitu-begitu saja. Usia saya kian bertambah, saya ingin bekerja di tempat yang lebih menjanjikan. Saya ingin lebih. Saya ingin seperti kebanyakan orang. Bekerja di tempat yang prestisius dengan jenjang karir yang jelas serta mendapatkan gaji yang sepadan sesuai dengan apa yang sudah saya berikan,” keluh saya.

Teman saya sesekali menganggukkan kepala pertanda ia setuju dengan apa yang saya sampaikan. Namun tak berselang lama, saya mengemukaan pandangan yang cukup kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya.

Eh, tapi katanya kita tidak boleh berkeluh kesah ya? Banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi saya. Sebetulnya, pekerjaan saya saat ini tidak begitu buruk. Jika dipikir-pikir, banyak keuntungan yang saya dapatkan di tempat kerja saat ini. Waktu kerja saya jelas, pukul delapan pagi hingga empat sore. Saya juga masih bisa beraktivitas di luar kantor. Okay, saya tidak ingin mengeluh. Saya harus merasa cukup. Jika memang ingin pindah kerja, pasti ada waktunya. Saya hanya perlu berdoa, bersabar, serta bersyukur atas apa yang saya punya sekarang.”

“Kamu ini ya, tanya sendiri jawab sendiri. Heran,” timpal teman saya.

Teman saya juga mengeluh tentang pekerjaannya. Ia merasa kurang diapresiasi ditambah ia sering menghadapi drama kantor yang menguras energi. Kami bersepakat bahwa memang sudah saatnya kami pindah kerja. Namun setelah diskusi cukup lama, kami sama-sama menyetujui bahwa permasalahan yang kami hadapi bukanlah sesuatu yang krusial, sesuatu yang masih bisa ditangani dengan baik. Lagipula mencari pekerjaan yang baru bukanlah persoalan yang mudah. Ada banyak orang di luar sana yang berjuang mencari pekerjaan, lamar sana-sini, wawancara, dan proses panjang yang melelahkan lainnya.

Saat kita mencari celah kekurangan kita, maka kita akan temukan itu dalam jumlah yang banyak. Kita merasa tidak seberuntung teman yang hampir setiap bulan liburan, kita merasa tidak sepintar teman yang baru saja promosi jabatan, kita merasa hidup kita begitu-begitu saja tanpa ada prestasi yang bisa dibanggakan.

Keadaan bertambah buruk saat kita melihat kehidupan di dunia kecil yang bernama media sosial. Hampir semua orang menampilkan kebahagiaan. Ada yang baru saja tunangan, ada yang baru membeli rumah serta potret-potret kebahagiaan lainnya. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan media sosial. Layaknya etalase, media sosial hanya menampilkan barang-barang yang bagus, barang-barang yang memikat hati. Hampir jarang orang berbagi kegagalan, berbagi kesengsaraan, dan hal-hal buruk lainnya.

Saat melihat orang lain khususnya teman-teman kita sendiri sudah berada pada titik tertentu, seharusnya kita merasa bahagia. Artinya hal baik sedang menghampiri mereka. Namun jika kita merasakan hal yang lain, misal merasa rendah diri, maka saat itu juga kita harus menutup aplikasi media sosial. Ada sesuatu yang salah dengan diri kita. Mari ajak hati untuk berdiskusi.

Persoalan membanding-bandingkan tidak akan pernah habis. Sudah saatnya kita melihat ke dalam diri kita untuk menemukan banyak hal yang patut kita syukuri. Mungkin ini formula sederhana yang bisa kita lakukan agar kita bisa merasa cukup.

Merasa cukup bukan berarti kita berpuas diri atas pencapaian kita saat ini. Kita sangat dianjurkan melompat lebih tinggi dari waktu ke waktu. Kita berharap terus mengalami peningkatan entah itu dalam hal finansial, pendidikan, hubungan, dan aspek kehidupan lainnya. Namun saya selalu percaya bahwa setiap orang akan menemukan jalannya masing-masing. Menjadi ‘lebih’ mungkin baik. Namun merasa ‘cukup’ jauh lebih menenangkan.

Sometimes you are unsatisfied with your life, while many people in this world are dreaming of your life. A child on a farms sees a plane fly overhead and dreams of flying. But, a pilot on the plane sees the farmhouse and dreams of returning home. That’s life! If wealth is the secret to happiness, then the rich should be dancing on the streets. But only poor kids do do that. If power ensures security, then officials should walk unguarded. But thoses who live simply, sleep soundly. If beauty and fame bring ideal relationships, the celebrities should have the best marriages. Live simply. Walk humbly and love genuinely. All good will come back to you.” – Anonymous.

Jakarta,

27 Maret 2019