Sajak untuk Mereka yang Berhati Hangat


WhatsAppImage2019-11-14at5.39.47PM
Veteran St, Jakarta (Photo by. Mahfud Achyar)

Hari ini, 13 November, masyarakat di dunia merayakan World Kindness Day. Gagasan ini pertama kali tercetus pada 1998 yang bertujuan untuk mempromosikan kebaikan di seluruh dunia. Sederhananya, World Kindness Day merupakan alarm untuk mengingatkan orang-orang di seluruh dunia untuk selalu berbuat baik.

Saat ini, kita hidup di dunia yang penuh prasangka. Belum lagi, rumah yang kita tinggali kian renta. Hidup di zaman ini memang tidak mudah. Terkadang, hati terasa sesak, terkadang pikiran menjadi kalut. Rasa-rasanya ingin pergi galaksi nun jauh di sana. Berharap mungkin saja di sana ada rumah yang lebih ramah untuk ditinggali. Berharap mungkin saja di sana lebih mudah menemukan orang-orang yang berhati hangat.

Akan tetapi, Marcus Tullius Cicero pernah berkata, “While there’s life, there’s hope.” Percayalah, walau orang-orang jahat terlihat lebih banyak, akan selalu ada orang-orang yang berbuat baik. Mungkin, wajah mereka tidak familiar. Mungkin, nama mereka tidak terdengar. Mungkin, jasa mereka tidak pernah dicatat. Namun aroma kebaikan mereka akan terus menyeruak hingga menembus ruang, waktu, dan jarak.

Jika hidup terasa pahit, cobalah mengingat memori kebaikan yang pernah terjadi dalam hidup kita. Contohnya seperti yang saya alami hari ini. Usai makan siang dan hendak menyebrang jalan, tidak ada satupun pengendara yang mau memperlambat laju kendaraannya. Entahlah, mungkin semua orang sedang buru-buru. Persoalan menyebrang di jalanan Ibukota memang kadang menguras energi. Kendati kita menyebrang di jalur yang benar seperti zebra cross, selalu ada saja pengendara yang tidak mau mengalah. Sebagai pejalan kaki, kadang mau tidak mau kita juga harus nekat menerobos pengendara yang egois.

Pun begitu, akan selalu ada pengendara yang baik hati. Seorang pengendara motor memperlambat laju kendaraannya sembari memberi aba-aba agar saya dapat menyebrang. Hal yang sederhana, namun terasa begitu istimewa.

Kebaikan lainnya saya temukan di peron kereta. Seorang bapak paruh bayu mengeluarkan kotak plastik berisi makanan kucing. Ia menghampiri seekor kucing yang sedang berbaring. Kucing tersebut terlihat kurus. Jelas, ia kurang makan. Bapak itu kemudian memberinya makan dan sesekali mengelus badan kucing dengan penuh kasih sayang. Si kucing makan dengan lahap. Mungkin ia tidak menyangka akan mendapatkan makanan yang enak dari seorang bapak yang entah di mana rumahnya.

Dari jauh, saya hanya bisa melihat pemandangan yang membuat hati terasa hangat. Ingin mengabadikan momen saat itu. Namun urung saya lakukan. Rasanya, tidak semua momen harus didokumentasikan. Kadang cukup saya simpan sendiri. Tidak perlu dibagikan pada banyak orang.

Kereta listrik melaju, di perlintasan kereta api, ada petugas yang berjaga sepenuh hati untuk memastikan tidak ada satupun kendaraan yang lewat saat kereta melintas. Jika petugas tersebut lalai menjalankan tugas, sudah dapat dibayangkan hal buruk pasti terjadi. Untuk sang penjaga palang pintu kereta, terima kasih tiada terkira dari kami penumpang kereta.

Sementara di dalam kereta, orang-orang berharap mendapatkan kursi. Membayangkan perjalanan di kereta bisa digunakan untuk istirahat usai hari yang melelahkan. Namun sayangnya, apa yang kita harapkan kadang jauh dari kenyataan. Tidak mengapa toh masih muda dan masih banyak orang-orang yang butuh kursi, terutama mereka yang sudah menua.

Seorang pemuda yang sedang asik membaca buku kemudian berdiri. Ia mempersilakan seorang ibu di depannya untuk duduk. “Silakan duduk, Bu.” Ibu tersebut tersenyum sembari berucap, “Terima kasih, Nak.”

Ah, lagi-lagi hati terasa hangat. Nyatanya masih banyak orang-orang berhati lembut. Saya kemudian melihat ke bawah. Memandangi sepatu yang sedang dipakai oleh seorang wanita. Sepatu itu mengingatkan saya kepada sepatu lari saya yang hilang di masjid kantor. Hari itu, saya merasa sangat sial. Padahal, itu sepatu lari saya satu-satunya. Namun apa boleh buat, musibah siapa yang bisa prediksi? Akhirnya, seorang teman meminjamkan sepatu lari miliknya hingga akhirnya saya bisa lari selepas pulang kerja.

Dalam satu hari saja, ada begitu banyak kebaikan yang dapat kita temukan. Kebaikan akan selalu ada, bahkan dalam hal yang sederhana sekalipun. Seorang teman kantor yang menawari secangkir kopi hangat, seorang pengemudi ojek yang mengantarkan kita ke tempat tujuan kita dengan selamat, seorang penjual nasi goreng yang masih berjualan kendati waktu sudah menujukkan pukul 12 malam, seorang teman yang mengirimkan pesan inspiratif, dan seorang-seorang lainnya.

Untuk mereka yang berhati hangat, terimalah sajak berikut:

Kita mungkin takselalu bisa berbuat baik. Namun bila hati kita baik, kita akan selalu berupaya berbuat baik. Kebaikan yang sudah kita lakukan, bisa jadi tidak akan diingat, tapi bukankah itu tidak menjadi persoalan? Teruslah berbuat baik sebab dunia butuh lebih banyak orang baik.”

Jakarta,

13 November 2019

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s