Surat untuk Kamu

p1011414

Teruntuk,

Kamu.

Tahun baru selalu datang setiap tahunnya. Tidak semua orang dapat menyapa tahun baru. Beberapa orang dekatmu atau orang-orang yang kamu kenal tidak lagi ada di tahun ini. Kata orang, waktu satu tahun sangatlah singkat. Namun dalam kurun waktu satu tahun, banyak hal yang bisa terjadi. Kamu tentu sangat paham maksudku. Jadi seharusnya kamu bersyukur masih bisa merasakan pergantian tahun. Artinya, Tuhan masih memberikan kesempatan untukmu untuk berbuat baik, memperbaiki kesalahanmu, mengejar mimpi-mimpimu, dan melakukan banyak hal yang menurutmu baik–setidaknya untuk dirimu sendiri. Cobalah sedikit bersemangat, cobalah sedikit antusias walau aku tahu itu agak berat untukmu.

Malam pergantian tahun waktu di mana banyak orang bersuka-cita merayakannya dengan pesta kembang api, berkumpul bersama keluarga dan teman, dan aktivitas menyenangkan lainnya–namun dirimu seperti biasa membenamkan diri dalam pertanyaan-pertanyaan kontemplatif. “Satu tahun, apa saja yang sudah saya lakukan?” Biasanya, dirimu membuat jurnal tahunan yang bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi setiap bulannya. Tahun ini, aku amati, kamu tidak melakukannya lagi. Mengapa? Apa mungkin karena ritual tahunan itu menurutmu sangat melankolis? Kamu merasa tidak perlu lagi melakukan hal itu karena kamu berpikir perasaan melankolis seharusnya sudah tercabut dari seseorang yang hampir memasuki kepala tiga. Aku tanya padamu, memang salah jika seorang yang memasuki kepala tiga memiliki perasaan melankolis? Aku pikir itu justru kelebihanmu. Dirimu memiliki hati yang lembut dan mudah tersentuh. Kau tahu apa artinya itu? Artinya kamu masih memiliki cinta. Jika perasaan itu sirna maka itulah yang harusnya kamu khawatirkan. Terkadang aku heran dengan pola pikirmu. Rumit. Sering menyusahkan diri sendiri.

Satu tahun berlalu dan kamu merasa tidak melakukan banyak hal. Kamu merasa payah, kamu merasa tidak sehebat teman-temanmu, kamu merasa waktu banyak terbuang percuma, kamu merasa tidak menghasilkan progres yang baik, dan yang paling menyedihkan kamu terlalu sering menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi.

Maaf, aku terlalu berterus terang padamu. Hal ini semata-mata aku lakukan karena aku sangat sayang padamu. Satu tahun kemarin, aku melihat dirimu kian tumbuh menjadi manusia yang bijaksana. Kamu mulai berdamai dengan diri sendiri, kamu mulai memaafkan masa lalu, kamu mulai belajar melepaskan, kamu mulai belajar mengelola ekspektasi, dan kamu mulai belajar menjadi manusia yang seutuhnya. Menurutku, tidak banyak orang bisa melakukan itu. Aku melihat kamu bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Walau di beberapa aspek, aku melihat dirimu sangat lamban. Tapi bukankah keberhasilan sekecil apapun layak dirayakan?

Aku tahu, tahun ini benar-benar tidak mudah untukmu. Aku melihat bagaimana usahamu menahan perasaan, aku melihat bagaimana dirimu tersenyum ketika menerima kegagalan yang datang silih berganti, aku melihat upayamu untuk mengikhlaskan sesuatu yang sebetulnya enggan untuk kamu lepaskan, aku melihat usahamu untuk terus menjaga hubungan, aku melihat banyak hal. Ingin sekali aku memelukmu erat sambil berkata lirih, “Tidak apa-apa. Kamu sudah melalukan yang terbaik semampu yang kamu bisa. Jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Ambil waktu untuk mencintai diri sendiri.”

Untuk satu tahun yang sudah berlalu, jangan pernah ditangisi lagi. Wajar jika masih menyisakan begitu banyak kekecewaan. Kata orang, luka-luka dalam hati bisa dibasuh oleh waktu. Tapi menurutku itu tidak tepat. Ia hanya bisa sembuh dengan cara dirimu menerima bahwa hatimu memang penuh luka, bahwa kau merasakan sakit, bahwa perasaan itu sangat menganggu malam-malam panjangmu. Tidak masalah jika perasaan itu masih kau rasakan. Asal kau ingat satu hal, tidak ada yang sayang pada dirimu selain dirimu sendiri. Jadi, mulailah belajar melepaskan. Aku hanya berharap itu benar-benar bisa kau lakukan. Aku yakin kamu mampu sebab tidak ada yang lebih mengenal dirimu selain aku.

Tahun baru, ada 365 lembaran baru. Kamu sudah memiliki pulpen baru yang kamu beli di toko buku beberapa waktu lalu. Sudah siap menulis cerita-cerita baru? Aku tidak sabar membaca tulisan-tulisan yang dipenuhi kebahagiaan dan sedikit kesedihan. Selamat tahun baru untukmu dan untukku!

Dari orang yang sangat mengenal dirimu,

Aku.

Jakarta,

31 Desember 2018

Advertisements