Terhubung Kembali


“Everything’s okay?”

Suatu malam, saya menerima pesan baru di WhatsApp. Pesan tersebut dikirim oleh mantan atasan saya. Isi pesannya singkat: everything’s okay? Sebuah pesan yang biasa dan umum disampaikan banyak orang. Namun bagi saya pribadi, pesan tersebut sangat istimewa.

Sejak pindah kerja akhir tahun 2015, kami tidak begitu lagi intens berkomunikasi. Wajar, saya sudah pindah kerja. Jadi, tidak ada lagi hari-hari di mana kami berdiskusi tentang pekerjaan. Kami tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

Begitulah hidup. Kita bertemu dengan orang baru, menjalin relasi, kemudian berpisah. Benar kata orang, “People come and go. Everyone thats been in your life has been for there for a reason, to teach you, to love you, or to experience life with you”.

Jika dipikir-pikir, saya beruntung pernah mendapatkan atasan seperti beliau. Sosok pemimpin yang kharismatik, hangat, dan juga memiliki selera humor yang bagus. Beliau tidak hanya atasan, namun juga mentor sekaligus teman. Saya yakin, setiap orang yang pernah berinteraksi dengan beliau memiliki pendapat yang sama seperti saya.

Masi lekat di ingatan saya, ketika itu divisi kami sempat menjadi sorotan di kantor lantaran dianggap rebel. Tapi rebel bukan berarti selalu negatif, bukan? Saya mengerti mengapa stigma rebel tersemat untuk divisi saya. Orang-orang di dalamnya merupakan orang-orang kreatif yang memiliki cara berpikir yang berbeda dibandingkan orang-orang pada umumnya.

Biasanya, orang-orang kreatif lebih terus terang menyampaikan suaranya. Ketika mendengar, melihat, atau mengetahui sesuatu yang dinilai tidak adil, mereka lantang bersuara. Bisa disampaikan secara langsung atau melalui karya. Bagi segelintir orang, suara yang lantang kadang mengganggu dan mungkin sebaiknya harus dibungkam.

Sebetulnya, jauh sebelum saya bergabung di divisi tersebutpun, saya sudah mendengar banyak rumor bahwa divisi kreatif acapkali ditegur manajemen. Namun setelah saya bergabung dan berinteraksi dengan orang-orang di dalamnya, pandangan saya berubah. Mereka tidak sepenuhnya pembangkang. Mereka hanya perlu diapresiasi. Tidak lebih, tidak kurang.

Mantan atasan saya tadi membawa perubahan ketika memimin divisi kreatif. Perlahan, divisi kami mulai bersinar. Beliau melakukan pendekatan secara personal; menanyakan tantangan pekerjaan selama ini; menanyakan kebutuhan guna mendukung kerja; serta menciptakan suasana kerja yang santai dan menyenangkan.

Orang-orang di divisi kreatif menjadi bersemangat melahirkan karya-karya yang terbaik. Hari-hari dilalui dengan sangat menyenangkan. Ada saja ide baru yang layak untuk dieksekusi, ada saja topik baru yang layak didiskusikan. Pekerjaan tidak lagi menjadi beban melainkan menjadi sebuah kesenangan. Jika awalnya kami bertekad menunjukkan bahwa kami layak diapresiasi, namun tekad itu menjadi tidak relavan lagi. Nyatanya bukan itu yang kami harapkan. Kami ternyata hanya ingin didengar, ingin dipercaya, dan ingin diberi kesempatan. Apresiasi hanyalah bonus.

Menerima pesan dari mantan atasan yang menanyakan kabar, taklantas membuat saya membalasnya seketika. Saya kemudian mematung. Apa yang harus ketik? Saat itu, kondisi fisik saya memang baik, namun tidak dengan kondisi mental saya.

Hari itu, saya merasa gloomy. Pernah kamu merasa tidak cukup baik? Pernah kamu merasa tidak pantas untuk dicintai? Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang membebani saya sehingga membuat saya merasa cemas dan gelisah. But, it’s okay not to be okay, right?

“Kabar baik, Pak! Thanks for asking!” balas saya.

Kemudian, mantan atasan saya kembali menimpali pertanyaan-pertanyaan lain sehingga terjalin komunikasi antara kami berdua. Di akhir pembicaraan, kami saling mendoakan berharap satu sama lain sehat selalu.

Terharu. Saya merasa bahwa ternyata di luar sana, banyak orang-orang yang peduli kepada saya. Kepedulian adalah salah satu bentuk cinta. Seketika perasaan saya membaik. Sayapun menghubungi orang-orang yang juga saya sayangi. Menanyakan kabar mereka, mendoakan mereka semoga senantiasa selalu dalam keadaaan sehat. Lega rasanya mengetahui kabar mereka baik-baik saja.

Setiap hari, kita selalu mendapatkan kejutan. Entah itu kejutan yang tidak menyenangkan, atau kejutan yang menyenangkan. Kita tidak dapat memilih kejutan mana yang akan datang pada kita. Namun yang bisa kita persiapkan adalah respon terhadap kejutan-kejutan itu. Benar kata, John Major, “Life is full suprises.

Keesokan harinya, teman masa kecil saya juga mengirim pesan. Katanya, dia tiba-tiba teringat saya. Saya merasa tersentuh. Saya ucapkan terima kasih dan menanyakan balik kabarnya. Kini, kami kembali terhubung. Bahkan, kami saling mengikuti di media sosial.

Pesan dari mantan atasan dan teman masa kecil tadi, membuka pikiran saya bahwa saya tidak semestinya meremehkan sebuah pesan. Kadang, saya menganggap sepele pesan tentang menanyakan kabar. Berpikir itu hanya basa-basi. Padahal, itu bukan pertanyaan basa-basi. Itu adalah ungkapan rasa sayang. Maka, berterima kasihlah pada mereka yang sering menanyakan kabar kita.

Semalam, saya menulis catatan di ponsel dengan judul “These are my favorite people”. Isinya orang-orang selain keluarga yang akan saya investasikan sisi terbaik saya untuk mereka. Jumlahnya memang tidak banyak. Sejak dulu, saya memang begitu selektif memilih teman. Jumlah teman saya di media sosial mungkin lebih dari 2000, tapi jumlah orang-orang yang benar-benar saya pilih bisa dihitung jari. Bagi saya, kualitas jauh lebih penting dari kuantitas.

Saya ingin selalu terhubung dengan orang-orang yang saya sayangi. Tidak harus berkomunikasi setiap hari. Namun, ketika saya ingat mereka, saya akan menyapa mereka. Saya tidak akan malu mengungkapkan perhatian saya terhadap mereka. Mereka adalah orang-orang yang baik kepada saya. Mungkin itu hal sederhana yang bisa saya lakukan untuk mereka.

Benar, orang-orang datang dan pergi dalam hidup kita. Namun sebetulnya, kita masih punya pilihan untuk tetap terhubung dengan mereka. Seperti ungkapan kutipan terkenal, “When you connect with people are good for you, you feel it. This is a big deal. Don’t forget to acknowledge how great it is to be around someone who lights you up. Tell them, even if you feel a little weird. Your people love your weirdness.”

Jakarta,

14 Mei 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s