Ketika Sahabat Baik Kita Menikah

Processed with VSCO with hb1 preset

Suatu ketika, salah seorang sahabat saya meninggalkan sebuah pesan di grup WhatsApp. Pesannya, “Nanti kalau Dan (bukan nama sebenarnya) menikah, pasti kita akan jarang lagi kumpul-kumpul ya?” Tidak lama setelah sahabat saya menulis pesan, selang beberapa menit salah seorang sahabat saya yang akan menikah menimpali pesan yang bernada pesimistis tersebut. “Ya kumpul-kumpul aja. Tidak ada perubahan berarti kok. Namun mungkin intensitasnya saja yang tidak sama.”

Saya pun hanya bisa mengamati obrolan mereka tanpa harus ikut terlibat. Saya sungkan untuk mengemukakan pendapat. Lagi pula, setelah saya pikir-pikir lagi, menikah ataupun belum, kondisinya memang kami tidak setiap hari atau setiap pekan bertemu. Jika ada momen-momen tertentu, barulah kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Misalnya, salah seorang sahabat saya merayakan pergantian usia atau tiba-tiba kami semua tertarik untuk menonton film terbaru di bioskop.

Kembali ke pertanyaan sahabat saya tadi, bagaimana perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah? Jujur, dulu ketika saya tahu ada sahabat saya yang akan menikah, saya merasa seperti kehilangan. Agaknya berlebihan jika saya sempat merasakan hal demikan. Namun apa boleh buat, kondisi batin yang saya alami pada saat itu memang begitu adanya. Takdapat disangkal. Betapa tidak, kami terbiasa melakukan berbagai hal bersama, namun pernikahan membuat semuanya berubah. Kata Keane, “….I try to stay awake and remember my name. But everybody’s changing. And I don’t feel the same.”

Akan tetapi, semakin saya dewasa, semakin bertambah usia, saya sadar bahwa pada akhirnya setiap manusia bertranformasi dari satu fase ke fase yang lain, dari sudut pandang satu ke sudut pandang yang lain. Pun demikian, semua hal-hal baik akan terus kekal. Percayalah, rasanya masih akan tetap sama.

Sebagai seorang sahabat yang belum menikah, saya tidak mungkin menahan sahabat saya sembari berkata, “Hai, bisa tunggu saya sedikit lebih lama hingga saya juga menemukan teman hidup?”

Saya tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun, termasuk sahabat dekat saya sendiri. Justru sebaliknya, sayalah orang yang paling bahagia ketika mengetahui bahwa sahabat baik saya telah menemukan teman berbagi, baik dalam kondisi suka maupun duka. Upaya terbaik yang bisa saya curahkan hanyalah berdoa semoga hatinya selalu diliputi ketenangan, kenyamanan, dan rasa syukur.

Kendati demikian, memang tidak bisa saya pungkiri bahwa pada akhirnya waktu mengubah segalanya. Jika dulu, indikator hubungan persahabatan yang sehat dinilai dari seberapa intens kita berkomunikasi dan bertemu, kini mengetahui sahabat kita dalam kondisi sehat, bahagia, dan baik-baik saja–saya rasa itu lebih dari cukup. Sesekali saya hanya bisa mengamati kondisi mereka dari lini media sosial. Terkadang saya beranikan diri untuk menanyakan kabar, memastikan kabar sahabat saya baik-baik saja. Namun sejak menikah, tentunya komunikasi antara kami mulai dibatasi. Saya pikir hal tersebut sudah selayaknya dilakukan oleh orang dewasa. Tujuannya taklain hanya untuk sama-sama menjaga peran.

Beruntung, saya memiliki sahabat dekat tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Saya pikir dulu tidak dikenal persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Saya khawatir “rasa” merusak makna persahabatan itu sendiri. Namun agaknya saya salah. Buktinya, saya memiliki sahabat perempuan yang sangat baik; mendukung saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Saya beruntung mengenal dan menjadi sahabat mereka.

Pernikahan memang mengubah hubungan persahabatan. Namun tidak mengubah banyak hal. Memang ada beberapa sahabat saya setelah menikah menyebabkan komunikasi di antara kami tidak sebaik dulu. Sayapun mafhum dengan kondisi tersebut. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, sejatinya mereka telah lahir menjadi manusia yang baru: ia memiliki tanggung jawab yang baru, peran yang baru, dan tentunya prioritas yang baru.

Kata Mama saya, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahiim.” Beberapa kesempatan, saya mengirim pesan kepada sahabat-sahabat saya sudah mulai lost contact seperti menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun, atau mengirim kutipan-kutipan inspiratif. Saya berupaya menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat saya walau kini kami sudah terpisah dalam interval yang cukup jauh.

Saya pernah bercerita kepada sahabat saya bahwa semua doa-doa anak manusia diijabah oleh Tuhan. Ada yang dijawab langsung, ada yang ditunda, dan ada yang diganti dalam bentuk lain. Saya berkeyakinan bahwa memiliki sahabat-sahabat yang baik, positif, dan inspiratif merupakan jawaban doa dari Tuhan yang diganti dengan bentuk lain. Saya tidak henti-hentinya untuk mensyukuri hal tersebut hingga detik ini. Anugrah dari langit untuk penduduk bumi.

Ada hal yang menarik yang saya amati dari lingkaran persahabatan saya, kendati dari mereka sudah banyak menikah namun nyatanya kami masih bersahabat dengan baik. Bahkan, pasangan mereka (istri/suami) menjadi sahabat baik saya juga. Rasa-rasanya saya tidak akan pernah merasa kehilangan mereka. Jadi, kembali lagi pada pertanyaan, “Seperti apa perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah?” Hati saya diliputi kebahagiaan. Bahagia mereka adalah bahagia saya. Duka mereka adalah duka saya. Begitulah adanya. Tidak ada yang pernah berubah: hari ini, esok, dan seterusnya.

Terakhir, izinkan saya mengutip perkataan Elbert Hubbard, “A friend is someone who knows all about you and still loves you.”

Jakarta,

29 Juli 2017.

Advertisements

Kawan, Bisakah Kita Memulai Cerita Baru?

“Sedih, bila kuingat pertengkaran itu. Membuat jarak antara kita. Mungkin karena egoku, mungkin karena egomu. Maaf aku buat begini, maaf aku begini. Bila ingat kembali janji persahabatan kita. Takkan mau berpisah karena ini. Pertengkaan kecil kemarin. Cukup jadi lembaran hikmah. Karena aku ingin dekat sahabatku.” (Pertengkaran Kecil, eDcoustic)

 

tumblr_m99frahcT01rya2qqo1_500

Sejenak kita pahami lirik lagu di atas. Sungguh, setiap rangkaian katanya menyimpan makna yang begitu dalam. Huruf-huruf di atas seolah terdiam membisu karena sedih dengan rintihan suara hati seseorang. Sedih karena pertengkaran kecil mewarnai persahabatan. Sedih, karena ia taklagi menemukan tawa canda dengan sahabat. Semua kenangan manis dengan sahabat tentunya menjadi catatan yang begitu indah untuk dikenang. Dulu, itu dulu. Semuanya telah berubah. Hanya Allah yang bisa membolak-balikan hati hamba-hamba-Nya.

Sahabat, pernah kau merasakan hal yang sama dengan kejadian di atas. Aku yakin, engkau pernah merasakan itu. Tidak tahu, sekali, dua kali, atau malah terlalu sering. Apa yang kau rasakan? Marah? Sedih? Pilu? Ataukah kau menyesalkan banyak hal? Mungkin hatimu tidak terima dengan kondisi yang tengah terjadi.

Pastinya, banyak harapan yang ingin kau sematkan pada sahabatmu. Mungkin, kau menginginkan sahabat yang memahami dirimu. Mungkin kau menginginkan sahabat yang senantiasa mengingatkan dalam kebajikan. Begitulah teman. Allah telah mengatur bagaimana hubungan kita dengan sahabat (saudara) kita. Apalagi yang kau risaukan. Jika kau telah memenuhi hak saudaramu, yakinlah ketentraman itu akan selalu memeluk hatimu.

Berat! Kupikir memang berat menjalani itu semua. Tapi yakinlah, tidak ada kata berat, jika kita memahami betul makna surat tersebut. Kadang, ketika kita berusaha melakukan yang terbaik untuk saudara kita. Ia (baca: saudara) tidak memberikan respon yang baik kepada kita. Takjarang, ia malah tidak menghargai nasehat kita. Padahal, cara-cara ahsan sudah kita tempuh. Namun tetap. Ia tidak menghargai usaha kita.

Apa yang kau rasakan saat itu? Mungkin kau kesal dan menganggap ia terlalu egois. Aku pikir, wajar hal itu terjadi pada dirimu. Akupun pernah merasakan itu. Ketika niatku hanya untuk menasehati saudaraku, tapi apa yang kudapat? Acuh dan ketus.

Lalu apa yang terjadi?

Pastinya, ada kerikil pertengkaran yang menusuk hatimu saat itu. Kerikil itu semakin tajam menusuk hatimu bahkan sangat dalam. Kemudian, pertengkaran kecilpun takbisa dielakkan. Hubungan persaudaraanmu dengan sahabatmu jadi dingin. Mungkin lebih dingin dari air yang ada di lemari pendingin yang bersuhu di bawah 0 derajat celcius.

Selanjutnya, hari-hari persaudaraan semakin beku. Hari-hari indah yang terajut dulu, hanya tinggal kenangan semata. Semua telah terkubur dan menjadi buih yang takberguna. Mungkin itu yang saat ini kau rasakan?

Teman, bukan hendak mengguruimu, aku begitu paham dengan apa yang kau rasakan saat ini. Aku katakan, aku juga pernah mengalami hal yang sama denganmu. Lalu, apakah kau akan membiarkan kondisi ini? Sampai kapan? Sampai saudaramu pergi untuk selama-lamanya dalam hidupmu? Tidak! Aku yakin kau tak menginginkan hal ini terjadi padamu. Sedih rasanya, jika kita kehilangan orang yang kita cintai.

Teman, jika saudaramu itu pergi untuk selama-lamanya, dan kau belum sempat baikan sama dia, apakah kau tak menyesal? Teman, Aku tak hendak menyalahkanmu atau ingin membela saudaramu yang menyakiti perasaanmu.

Teman, pertengkaran kecil antara dirimu dan dia, itu wajar. Bahkan sudah sunatullah. Allah telah mengatur ini semua teman. Bukankah daun kering yang jatuh dari ranting tak luput dari pantauan Allah? Bukankah debu pasir yang berterbangan di padang gurun juga tak luput dari pantauan Allah? Jadi, apa yang harus kau risaukan teman.

Aku yakin, ini adalah salah satu skenario yan dibikin Allah untuk hamba-hamba-Nya. Allah ingin mengetahui sejauh mana rasa cintamu pada saudaramu. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa orang beriman itu saling benci dan cinta karena Allah. Semua karena Allah, teman.

Cintailah saudaramu karena Allah, maka itu adalah salah satu bentuk kecintaanmu pada-Nya.
Sekarang, bagaimana perasaanmu? Masih adakah kerikil itu? Jika sudah tidak ada, maka bertasbihlah dengan menyebut nama Tuhanmu, Allah. Bersyukurlah bahwa Allah telah mengarahkan hatimu menuju cahaya kebenaran. Jika belum. Perbanyaklah berdoa dan beristighfar pada-Nya. Sekali lagi kukatakan, hanya Allah-lah yang bisa membolak-balikkan hati hamba-hamba-Nya.

Jagalah Allah, niscaya engkau akan bersama-Nya. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Ia mengenalimu di waktu susah. Ketahuilah bahwa segala perbuatan salahmu belum tentu mencelakaimu dan musibah yang menimpamu belum tentu akibibat kesalahanmu. Ketahuilah bahwa kemenangan beserta kesabaran, kebahagian beserta kedudukan, dan setiap keselulitan ada kemudahan. (H.R Tirmidzi).

Teman, jika kau masih sulit untuk melupakan pertengkaran kecil ini, maka berdoalah kepada Rabb yang jiwamu berada digenggaman-Nya. Pahamilah saudaramu, dan renungkanlah. Jadikan saat-saat seperti ini sebagai momentum untuk perenungan. Insya Allah dengan rahmat-Nya, kau akan sadar betapa ia merindukan saat seperti dulu dan kau akan semakin bijak memahami makna persaudaraan.
Persaudaraan harus saling memahami teman. Jika saudaramu pernah melukai hatimu, maafkanlah. Tidak ada yang sempurna di dunia ini, teman. Kesempurnaan hanya milik Allah. sekarang, pejamkan matamu, dengarkan suara hatimu. Suara hatimu berbisik betapa aku merindukan saat itu. Tawa dan canda yang pernah menjadi kanvas melukiskan betapa indahnya persaudaraan. Rasakanlah cinta hakiki itu teman. Setelah kau sedikit tenang, maka azamkan (tekadkan) bahwa kau ingin mengakhiri pertengkaran kecil ini. Cukup!

Sekarang, temuilah saudaramu. jabat tangannya. Seraya berkata, aku mencintaimu karena Allah. Kata-kata itu sering diucapkan oleh sahabat-sahabat Rasul tersebut, akan mampu meluluh-lantakkan semua duri yang ada di hatimu. Teman, mungkin hanya itu yang bisa kubantu. Maaf jika aku terlalu mengguruimu. Sungguh, takada niat apapun, selain hanyan mengharapkan cinta-Nya. Semoga tulisan yang kuketik di waktu Duha ini bermanfaat untukmu.

Bandung, 27 November 2008, Pukul 10.06 PM

 

Hi, Long Time No See!

1170811_10201741514009866_1735723249_n

“I don’t have to worry anymore cause you will be by my side, when I cry you always smile at me. I am blessed because you always shine forever hugging each other before me. Your smile has helped me endless time. Thing that we have missed you know. Best friend hastily at time, that’s these plenty happiness that I felt at this faces that always moment. All friends that I have here, being looked at you the best present. I am blessed because you always be by our side. Surely things that I have accomplished here, those things too. Give me strength, always my best friend.” ~