Bahkan, Kegagalan Juga Layak Dirayakan!

 

Oleh: Mahfud Achyar

Siang menjelang sore di sebuah kedai bakmi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, seorang teman saya bersedih lantaran ia gagal seleksi penerimaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di salah satu kementerian.

Saat itu, kami tengah lahap menyantap semangkok bakmi dan semangkok es teler. Namun, suasana menjadi terasa kikuk ketika teman saya memasang ekspresi kecewa.

Katanya, “Gue udah bilang ke nyokap kalo gue lolos. Gue sih yakin lolos karena seleksi awal nilai gue termasuk yang paling tinggi. Tapi di tahap wawancara, gue merasa kurang puas.”

“Tapi sebetulnya, gue ga pengen banget jadi CPNS sih. Tapi gue juga sedih karena ga lolos,” imbuhnya.

It’s okay, neng. Gw juga ga lolos kok. Awalnya kecewa sih. Tapi mungkin bukan rejeki gue. Yakin deh, satu pintu tertutup, maka pintu lainnya terbuka,” saya mencoba menghibur Eneng, begitu teman saya akrab disapa.

Menyoal tentang kegagalan, rasa-rasanya hampir semua orang pernah merasakan hal itu. Kegalalan, menjadi momok menakutkan yang seakan terus membayang-bayangi perjalanan hidup kita.

Kata orang bijak, “Kegagalan adalah awal dari kesuksesan.” Namun bagi saya pribadi, kegagalan adalah sahabat baik saya sejak dulu. Jika dingat-ingat, ratusan bahkan ribuan kegagalan pernah saya alami. Misal, gagal menjadi peringkat satu ketika di bangku sekolah dasar, gagal menjadi pemenang lomba puisi, serta kegagalan-kegagalan lainnya.

Ketika saya gagal, saya merasa diri saya takubahnya seperti pecundang. Saya merasa kalah, saya merasa payah, dan saya merasa lelah untuk mencoba pada kesempatan lainnya. Saya berpikir, mungkin saya sebaiknya berhenti mencoba, berhenti berharap–maka dengan begitu saya tidak akan pernah kecewa.

Beberapa kesempatan, saya tenggelamkan jiwa saya dalam samudra kekecewaan yang begitu dalam. Saya mengutuk banyak hal untuk kondisi buruk yang menimpa saya. Namun beruntung pada saat yang bersamaan, saya disadarkan oleh suara hati yang berkata lirih, “Tenang, semuanya belum berakhir. Tidak masalah gagal. Asalkan terus mencoba, mencoba, dan mencoba.”

Dari kegagalan, saya menemukan formula yang tepat bagi saya untuk merekonsiliasi diri ketika menghadapi kegagalan. Jika saya gagal, berarti ada faktor-faktor yang menyebabkan mengapa saya gagal, misal saya kurang persiapan, saya kurang berdoa, atau mungkin barangkali saya kurang ikhtiar. Namun jika proses-proses tersebut sudah dilalui dengan baik, ya, mungkin belum rejeki saya. Sesederhana itu.

Yakin, rejeki setiap anak manusia sudah diatur oleh Tuhan. Rejeki anak manusia tidak akan pernah tertukar. Kita hanya perlu menjemput rejeki yang telah Tuhan tetapkan dengan cara-cara yang baik. Dengan begitu, hati kita merasa lebih tenang, lebih tentram.

Pun demikian, apa yang saya alami serta seperti apa formula saya dalam menghadapi kegagalan, tentu berbeda dengan yang apa dialami oleh orang lain. Mungkin saja kadar kegagalan saya lebih sedikit dibandingkan orang lain atau mungkin juga sebaliknya. Saya hanya bisa mengira-ngira.

Akan tetapi, saya pikir jalan tengah untuk menyikapi kegagalan yaitu dengan cara menerima kenyataan bahwa kita memang gagal. Kita bersedih karena gagal. Kita kecewa karena tidak bisa memenuhi ekspektasi diri kita atau orang lain. Namun setelah rasa tidak mengenakkan itu hadir menyeruak di dada kita, maka sikap terbaik yang patut kita hadirkan yaitu memaafkan diri kita. Jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Percayalah, setiap orang punya time zone yang berbeda-beda. Tidak semua hal perlu dijadikan kompetisi, bukan?

Dari kegagalan, saya mulai mengerti bahwa hidup takmelulu bicara tentang prestasi. Ada kalanya kita harus berhenti, menangisi takdir, lantas kemudian ceria kembali menyongsong hari dan kesempatan yang baru. Saya teringat sebuah pesan bijak, “Saya tidak tahu apakah ini musibah atau berkah, namun saya selalu berprasangka baik pada Tuhan.”

Usai cerita kegagalan teman karena tidak lolos seleksi CPNS, akhirnya kami memutuskan untuk merayakan kegagalan dengan memesan gelato di salah satu kafe di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Ah ya, nyatanya kegagalan juga layak dirayakan!

Jakarta, 6 Januari 2018

Advertisements

Sorry, It’s My Fault

DSC_0626
Contemplating.

Rasanya, takada satupun manusia yang tidak pernah berbuat salah, takterkecuali manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Ialah Adam, seorang anak manusia yang melanggar perintah Tuhan untuk tidak mendekati pohon khuldi, apalagi memakannya. Namun Adam melanggar larangan Tuhan sehingga ia dan istrinya, Hawa harus meninggalkan syurga.

Salah. Barangkali merupakan salah satu sifat yang sukar dicabut dalam diri manusia. Selama manusia masih bernapas dan masih dikategorikan sebagai manusia dalam perspektif biologis, maka ia akan terus berbuat salah. Akan terus seperti itu. Hanya mungkin intensitas dan tingkat kesalahan yang dibuat oleh manusia berbeda-beda.

  Salah. Kerap kali ia tidak diinginkan untuk menemani proses kehidupan manusia. Setiap manusia mungkin menginginkan kesempurnaan. Everything must be perfect. Padahal, ketika manusia berpikiran segala sesuatunya harus sempurna, maka ia berusaha lepas dari kodrat seorang manusia: berbuat salah.

      “All people make mistakes. But only the wise will learn from their mistakes.” – Anonymous

      Akan tetapi menjadi celaka, banyak orang yang enggan jika jari telunjuk mengarah ke mukanya: ia dipersalahkan. Lantas yang terjadi ia memasang pertahanan yang kuat. Ia takingin orang-orang mengusik harga dirinya dengan menjadi orang yang salah.

Jika begini ceritanya, semua orang tidak ingin dipersalahkan. Lantas siapa yang harus disalahkan? Apakah kesalahan itu sendiri?

Tentang mengakui kesalahan, mengapa jarang manusia enggan melakukannya. Seolah-olah menjadi orang yang salah membuat langit runtuh dan bumi bergoncang dengan hebat. Padahal, sejatinya kita mafhum bahwa manusia seringkali berbuat salah, sering kali alpa, dan sering kali membuat kecewa. Namun bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatakan kedua? Everyone deserves a second chance. Namun dengan catatan, not for the same mistake. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang tidak ingin jatuh di lubang yang sama.

Maka jika kita memang melakukan kesalahan, untuk apa malu mengakuinya? Jadilah orang-orang yang pemberani. Jika memang terlanjur berbuat salah, introspeksi dirilah. Berbenahlah. Berkontemplasilah.

      Jika maaf takberhasil kita kantongi, beri jeda. Barangkali butuh waktu yang lama untuk seseorang ikhlas memaafkan segala kesalahan-kesalahan kita. Selalu percaya, bahwa hal baik akan selalu dibalas dengan hal-hal yang jauh lebih indah.

Tentang kesalahan, kita belajar tidak hanya meminta maaf kepada orang lain. Namun juga belajar memaafkan diri sendiri. Terkadang yang paling sulit dari semua proses rekonsiliasi kesalahan adalah berdamai dengan diri sendiri. Kerap kali hati kita hancur berkeping-keping. Rasa perih membuat kita merasa layak untuk dibenci. Membuat kita berkata, “Biarlah saya menanggung beban ini sendirian hingga takada lagi rasa sakit yang bisa dirasakan.”

Yakinlah satu hal, kesalahan-kesalahan yang kita perbuat tidak lantas membuat dunia ini benar-benar kiamat. Bukankah Tuhan Maha Pengampun? Yakini itu.

Jakarta, 6 November 2017.

 

 

 

Kabar dari Garis Terdepan Indonesia

PA300280
Warga desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Oleh: Mahfud Achyar

Jika Indonesia dianalogikan seperti rumah, maka Indonesia adalah rumah yang memiliki tanah yang luas dan bangunan yang  sangat besar. Untuk mengurus seperti itu, tentunya tidak mudah. Ketika kita asyik membersihkan halaman pekarangan, mungkin kita luput mengecek bahwa di dapur ternyata banyak debu yang sudah menempel di lantai dan juga kaca jendela. Untuk itu, perlu kesabaran dan ketekunan agar rumah (baca: Indonesia) menjadi hunian yang nyaman untuk ditempati.

Lantas, seberapa besar luas wilayah Indonesia? Berbagai sumber menyebutkan bahwa Indonesia merupakah salah satu negara terluas di dunia dengan total luas negara 5.193.250 km2 (mencakup daratan dan lautan). Kondisi demikian menempatkan Indonesia sebagai negara terluas ke-7 di dunia setelah Rusia, Kanada, Amerika Serikat, China, Brasil, dan Australia.

Sebagai negara kepulauan, Kementerian Kelauatan dan Perikanan (KKP) merilis data bahwa saat ini Indonesia memiliki 16.056 pulau yang sudah diberi nama dan terverifikasi. Selain itu, KKP juga akan menertibkan pulau-pulau di seluruh Indonesia, dimulai dari pengklasifikasian pulau-pulau kecil dan terdepan.

Sebelum tahun 2017, jumlah pulau kecil dan terdepan berjumlah 92 pulau. Namun terjadi perubahan karena pada tahun 2017 bertambah sebanyak 19 pulau lagi. Dengan demikian, total pulau kecil dan terdepan menjadi 111 pulau. (Sumber: http://www.mongabay.co.id).

Presiden Joko Widodo pada berbagai kesempatan berkali-kali mengatakan bahwa paradigma pembangunan Indonesia saat ini yaitu pembangunan dari daerah pinggir atau perbatasan. Langkah tersebut diambil oleh presiden lantaran daerah pinggiran maupun daerah perbatasan merupakan pintu gerbang Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Dapat dikatakan, daerah perbatasan merupakan simpul-simpul pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Indonesia memiliki garis perbatasan yang cukup panjang mencapai 99.000 kilometer. Saat ini, pemerintah telah membangun tujuh Pos Lintas Batas Negara (PBLN) di beberapa wilayah, yakni Aruk, Entikong, dan Nanga Badau di Kalimantan Barat; Motaain, Motamasin, dan Wini di Nusa Tenggara Timur; serta Skouw di Papua.

PB010213
PBLN Motamasin Indonesia – Timor Leste

Paradigma “Membangun Indonesia dari Perbatasan” merupakan salah satu janji Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang tertuang dalam Nawa Cita ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.”

Untuk menyukseskan Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, perlu sinergi dan kolaborasi dari berbagai sektor, mulai dari pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Salah satu program yang melibatkan lintas kementerian/lembaga yaitu program Kampung Sejahtera. Program ini diinisiasi oleh OASE Kabinet Kerja, sebuah organisasi khusus gagasan Ibu Negara dan Ibu Wakil Presiden serta disepakati oleh para pendamping menteri Kabinet Kerja untuk turut mendukung dan berperan dalam menyukseskan program Kabinet Kerja.

Sebagai pilot project, program Kampung Sejahtera dijalankan di desa Kohod, kecamatan Pakuhaji, kabupaten Tangerang, Banten. Lokasi desa Kohod tidak begitu jauh dari pusat pemerintahan di ibukota. Namun, sebelum mendapatkan intervensi dari program Kampung Sejahtera, kondisi desa Kohod cukup memprihatinkan.

Oleh sebab itu, sejak 2015 hingga 2017, lintas sektor bahu-membahu memperindah wajah desa Kohod menjadi lebih elok. Hasilnya, pada 2 Juli 2017 lalu, program Kampung Sejahtera di desa Kohod dinilai telah berhasil.

Kini, desa Kohod sudah berbenah. Banyak pembangunan infrastruktur dilakukan di sana. Tidak hanya program bersifat fisik, program non-fisik pun juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia warga desa Kohod.

Kendati dinilai sudah berhasil, tidak lantas menghentikan program-program di desa Kohod. Untuk selanjutnya, pemerintah kabupaten Tangerang diamanatkan untuk dapat menduplikasi program yang sama di desa-desa lainnya yang ada di kabupaten Tangerang, Banten.

Sementara itu, pemerintah pusat bersama OASE Kabinet Kerja mencari wilayah program lainnya, khususnya di luar pulau Jawa. Pemerintah berharap manfaat program Kampung Sejahtera tidak hanya dirasakan oleh warga desa Kohod, melainkan juga warga desa-desa lainnya. Pemerintah berupaya menghadirkan kembali negara di tengah-tengah masyarakat dengan tujuan menunaikan janji kemerdekaan Indonesia.

Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dan kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur diusulkan sebagai lokasi program Kampung Sejahtera berikutnya. Alasan utama dipilihnya dua kabupaten tersebut lantaran berbatasan langsung dengan negara tetangga. Kabupaten Nunukan berbatasan langsung dengan Malaysia, sementara kabupaten Malaka berbatasan langsung dengan Timor Leste.


PA310892.JPG
Wajah-Wajah Malaka (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Pada 30 Oktober hingga 1 November kemarin, kementerian/lembaga melakukan survei lapangan ke kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Lokasi desa yang disurvei yaitu desa Barada dan desa Alas Selatan.

Kedua desa tersebut dipilih berdasarkan usulan Pemkab Malaka. Alasannya, selain berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, kedua desa tersebut dikategorikan sebagai desa prasejahtera. Untuk itu, melalui program Kampung Sejahtera, diharapkan dapat mengubah profil dua desa tersebut menjadi lebih sejahtera.

Sebagai informasi, desa Barada merupakan pemekaran dari desa Kateri pada tahun 2009. Saat ini, desa Barada terdiri dari 7 dusun dengan luas wilayah 17.25 km2. Desa Barada terbagi dalam dua bagian, yaitu kampung atas dan kampung bawah. Kampung atas mencakup 4 dusun dan kampung bawah mencakup 3 dusun. Nama-nama dusun di desa Barada yaitu dusun Ferik Katuas, dusun  Lolobot, dusun Kali’a, dusun Kmileon, dusun Basdebu, dusun Wetaen, dan dusun Hae Truin.

Kondisi desa Barada cukup memprihatinkan. Sarana dan prasarana di sana masih sangat minim, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, peribadatan, transportasi, energi, permukiman, dan air minum. Salah satu persoalan utama di desa Barada yaitu sulitnya mendapatkan air bersih.

Untuk mendapatkan air bersih, warga di desa Barada mengambil air menggunakan dirigen di embung yang sudah disediakan pemerintah setempat. Namun, kapasitas air di sana sangat terbatas. Mereka harus mengantri dan menunggu lama agar dirigen-dirigen mereka terisi penuh.

Bila musim kemarau panjang tiba, persediaan air di sana kian menipis. Warga desa Barada harus berjalan berkilo-kilo ke sumber mata air Lama untuk mendapatkan air bersih. Untuk tiga dusun di desa Barada, sumber mata air Lama hanya menampung kapasitas air sebesar 1,5 m3. Warga desa Barada harus berhemat-hemat menggunakan air.

Hilarius Nahak Bria (49 tahun), seorang warga desa Barada bercerita, “Saya hanya bisa mandi 1 kali dalam seminggu. Air di sini sangat susah. Daripada untuk mandi, lebih baik untuk minum dan memasak.”

Sementara itu, desa Alas Selatan merupakan salah satu desa di kecamatan Kobalima, kabupaten Malaka yang langsung berbatasan dengan Timor Leste. Saat ini, desa Alas Selatan terdiri dari 12 dusun dengan luas wilaya 80.60 km2, di mana 50 km2 merupakan kawasan hutan.

Desa Alas Selatan terbagi dalam 2 bagian, yakni kampung atas dan kampung bawah. Kampung atas meliputi 7 dusun dengan letak dusun linear sepanjang jalan negara yang menghubungkan Betun sebagai ibukota kabupaten Malaka dan PLBN Motamasin dan kampung bawah mencakup 5 dusun.

Adapun nama dusun-dusun tersebut yaitu dusun Haliren, dusun Raisikun I, dusun Manehat, dusun Raisikun II, dusun Lalebun, dusun Mahkota Biru, dusun Taledu, dusun Tularaud, dusun Metamauk, dusun Motamasin, dusun Weluli, dan dusun Metamauk Oan.

Jika dibandingkan desa Barada, desa Alas Selatan jauh lebih beruntung dibandingkan untuk sektor sarana dan prasarana. Namun, kedua desa tersebut memiliki permasalahan yang hampir sama: persoalan kemiskinan. Jumlah keluarga miskin di desa Alas Selatan hingga akhir 2016 sebanyak 213 KK. Kebutuhan masyarakat desa Alas Selatan yang perlu menjadi prioritas dalam waktu dekat yaitu penyediaan air bersih dan fasilitas MCK.

Setelah melakukan survei lapangan, tim dari Pusat melakukan rapat koordinasi dengan Pemkab Malaka dan OPD terkait guna menindaklanjuti hasil survei lapangan. Selanjutnya, kesepakatan-kesepakatan hasil rapat koordinasi akan ditindaklanjuti dengan pertemuan dengan kementerian/lembaga bersama OASE Kabinet Kerja di Jakarta.

Di Sini, Air Susah Kakak!

PA310676.JPG
Desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.

Suatu waktu, saya pernah berkata pada teman saya, “Indonesia itu unik ya. Di belahan barat Indonesia, air selalu tumpah. Berlebih. Curah hujan tinggi. Sementara, di belahan timur, air sangat susah ditemukan. Tanah-tanah di sana kering kerontang.”

Air adalah sumber kehidupan. Jika tidak ada air, manusian akan nelangsa.

Perjalanan saya ke kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur pada 30 Oktober hingga 2 November lalu, sangat berkesan bagi saya secara personal.

Di sana, sumber mata air sangat sulit ditemukan. Jikapun ada, debit air sangat terbatas. Belum lagi kondisi air di sana tidak begitu jernih, terlihat keruh. Namun lebih baik keruh dibandingkan tidak ada sama sekali.

Untuk mendapatkan air bersih, warga di desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur mengambil air menggunakan dirigen di embung yang sudah disediakan pemerintah setempat. Namun sekali lagi, debit air di sana sangat terbatas. Mereka harus mengantri dan menunggu lama agar dirigen-dirigen mereka terisi penuh.

Bila musim kemarau panjang tiba, persediaan air di sana kian menipis. Warga desa harus berjalan berkilo-kilo ke sumber mata air Lama untuk mendapatkan air bersih.

Untuk tiga dusun di desa Barada, sumber mata air Lama hanya menampung kapasitas air sebesar 1,5 m3. Warga desa Barada harus berhemat-hemat menggunakan air.

PA300346.JPG
Pak Hilarius (49 Tahun) warga desa Barada.

Hilarius Nahak Bria (49 tahun), seorang warga desa Barada bercerita kepada saya, “Saya hanya bisa mandi 1 kali dalam seminggu. Air di sini sangat susah. Daripada untuk mandi, lebih baik untuk minum dan memasak.”

Ketika Pak Hilarius berkata demikian, sontak saya terenyuh. Selama ini, barangkali saya satu dari sekian banyak orang yang boros menggunakan air. Mungkin karena air berlimpah membuat saya tidak begitu menghargai keberadaannya. Sedih.


Pengalaman di desa Barada mengingatkan saya dengan memori pendakian di gunung Pangrango pada November 2016 kemarin. Di kaki gunung, tepatnya di desa Cibodas, air di sana sangat melimpah karena langsung mengalir dari sumber-sumber mata air di kawasan gunung Gede-Pangrango.

Saking melimpahnya, banyak air di sana terbuang percuma. Tidak ada penampungan. Air bersih dibiarkan mengalir deras begitu saja. Padahal andai kita sadar, bahwa di nun jauh di sana, di timur Indonesia, air begitu sulit didapatkan.

Barangkali kita harus ditampar terlebih dahulu untuk merasakan sakit.

Jakarta,
8 November 2017

 

Merawat Impian

Source: Tumblr

Oleh: Mahfud Achyar

Jakarta, 6 Oktober 2017.

Jumat sore, pukul 16.00 saya bergegas pulang dari kantor. Sebetulnya, jadwal pulang kantor pada hari Jumat yaitu pukul 16.30. Namun saya minta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan menghadiri workshop astronomi. Beruntung izin berhasil saya kantongi. Saya pun lekas menuju AtAmerica menggunakan ojek daring guna menyisir kemacetan sepanjang jalan Pancoran dan Gatot Soebroto.

Lalu, apa gerangan sehingga saya harus buru-buru agar tiba di AtAmerica tepat waktu? Tidak lain tidak bukan karena saya akan bertemu dengan idola saya, Ibu Pratiwi Sudarmono. Beliau merupakan ilmuwan yang mendapatkan kesempatan dari NASA (The National Aeronautics and Space Administration) untuk ambil bagian dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H sebagai spesialis muatan pada Oktober 1985.

Secara sederhana, beliau akan menjadi wanita pertama Indonesia yang terbang ke luar angkasa. Namun sayang, akibat bencana Challenger impian Pratiwi menjadi astronaut kandas. Peluncuran ke-10 pesawat ulang-alik Challenger gagal. Menurut informasi, kendaraan ini meledak 73 detik setelah peluncuran pada 28 Januari 1986 sebagai hasil kegagalan sebuah segel karet cincin O (O-ring) di kanan roket pendorong padat (Solid Rocket Booster, SRB); hal ini menyebabkan kebocoran dengan percikan api yang menyebabkan kebocoran di tangki hidrogen.

Padahal, jika misi STS-51-L berhasil, maka misi STS-61 H juga akan segera diluncurkan. Pada misi STS-61-H, akan dilakukan pengiriman satelit komersial seperti Palapa B-3 milik Indonesia. Namun sayang misi tersebut dibatalkan. Kabar baiknya satelit Palapa B-3 tetap diluncurkan dengan sebuah roket yang bernama roket Delta.

Kendati Pratiwi gagal menjadi astronot taklantas membuat langkahnya terhenti untuk mengembangkan penelitian di Indonesia. Ia terus menjadi seorang ilmuwan dengan menggeluti bidang mikrobiologi dan nanoteknologi.

Saat ini, selain menjadi Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, beliau juga sering diundang sebagai pembicara pada forum-forum ilmiah tentang astronomi. Pratiwi telah mencatat sejarah. Ia telah membuat perbedaan. Banyak anak-anak muda Indonesia telah terinspirasi dari sosok wanita kelahiran 31 Juli 1952 tersebut, termasuk saya.

Me and Profesor Pratiwi Sudarmono

Selama workshop berlangsung, saya khidmat mendengarkan pengalaman Ibu Pratiwi ketika mendapatkan kesempatan belajar di NASA. Takjarang bulu roma saya merinding saat mendengar harapan-harapan beliau akan perkembangan dunia penelitian di Indonesia, khususnya di bidang nanoteknologi. Cerita yang mengalir dari bibir Ibu Pratiwi membawa saya ke masa kekanak, saat saya begitu terobsesi menjadi seorang astronot.

Ya, dulu sekali, ketika anak-anak saya ingin sekali menjadi seorang astronot. Tidak ada alasan spesifik yang membuat saya jatuh cinta terhadap profesi tersebut. Sederhana: saya ingin ke luar angkasa. Saya terobsesi dengan pesawat.

Kala itu, bagi saya pesawat merupakan teknologi terhebat yang pernah diciptakan oleh manusia. Siapa sangka, manusia yang takbersayap akhirnya bisa terbang; menjelajahi cakrawala dan angkasa. Selain itu, saya juga mengagumi luar angkasa. Sebuah dimensi tanpa batas, misterius, dan mengagumkan. Entahlah, saya pun bingung menjelaskan perasaan saya terhadap antariksa. Sesuatu yang kompleks, sesuatu yang saya cintai kendati saya belum pernah melihat secara langsung bagaimana rupa antariksa yang sesungguhnya.

Kini, setelah dewasa, saya menyadari bahwa menjadi seorang astronot tidaklah mudah. Banyak proses-proses sulit dan panjang yang harus dilalui. Tidak hanya bermodalkan impian menjelajahi antariksa, namun perlu bekal kecerdasan, kesehatan fisik, serta mental yang sekuat baja. Mungkinkah kriteria tersebut ada dalam diri saya? Saya meragu.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa impian saya menjadi seorang astronot tidak akan pernah terwujud. Sekeras apapun saya bermimpi, semakin jauh impian tersebut pergi. Bahkan untuk meraih bayangannya saja sulit. Ia melesat secepat komet Encke yang mencapai titik lintasan bintang (perihelion)–titik terdekat matahari pada 21 November 2013 lalu. Is it possible to reach my dream? I don’t think so.

Kendati mustahil, saya tidak akan pernah mengubur impian tersebut. Selama napas masih berhembus, saya akan terus merawatnya hingga saya mendapatkan kepastian dari Tuhan bahwa impian tersebut akan terwujud.

Selama ini, untuk tetap menjaga antusias saya terhadap dunia astronomi, saya kerap kali meluangkan waktu untuk membaca artikel-artikel yang dipublikasi NASA atau Langit Selatan. Selain itu, jika rindu membuncah, saya pergi ke Planetarium atau berselancar melihat benda-benda angkasa secara virtual di Stellarium. Bicara tentang antusiasme, izinkan saya mengutip perkataan Aldous Huxley. Katanya, “The secret of genius is to carry the spirit of the child into old age, which means never losing your enthuasism.”

Usai Ibu Pratiwi bercerita, saya mengangkat tangan. Saya ingin bertanya langsung kepada beliau tentang banyak hal, mulai dari Asgardia The Space Nation Project, zero gravity labs, hingga secrets of hidden valley on Mars. Namun sayang, lantaran waktu yang terbatas sehingga saya hanya diperbolehkan mengajukan pertanyaan saya.

Dari sekian banyak tanya yang terlintas di benak saya, akhirnya saya mengajukan satu pertanyaan, “Bu, apakah memungkinkan kita membuat laboraturium zero gravity di Indonesia?” tanya saya singkat.

Ibu Pratiwi menjawab pertanyaan saya dengan tenang. Katanya, tentu bisa di Indonesia menciptakan laboraturium zero gravity. Namun membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sejauh ini, para peneliti Indonesia menggunakan demo sederhana guna mendekati zero gravity. Padahal menurut Ibu Pratiwi, beberapa penelitian membutuhkan kondisi zero gravity untuk menghasilkan penilitian yang akurasi dan presisi.

Tentang merawat impian, saya berdoa pada Tuhan agar mendapatkan kesempatan untuk berkunjung Kennedy Space Center di Florida, Amerika Serikat. Selain itu, saya berdoa pada Tuhan, jika di dunia saya benar-benar takbisa ke luar angkasa, semoga nanti ketika ruh saya diangkat ke langit, saya diberi kesempatan satu kali saja untuk menjelajahi berbagai galaksi dan berkenalan secara langsung dengan benda-benda angkasa yang mengagumkan.

“Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people?” – Carl Sagan.

Hari Raya di Gunung Talang

DSC_7551
Lembah gunung Talang, kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia.

Pada Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah kemarin, saya berkesempatan mendaki gunung Talang yang berlokasi di kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sebetulnya, saya sudah berencana jauh-jauh hari bahwa momen libur Hari Raya akan saya manfaatkan untuk mendaki gunung Kerinci melalui jalur Solok Selatan. Namun rencana tinggalah rencana.

Ada banyak kejadian yang takterduga yang menyebabkan saya harus menunda impian saya untuk mendaki gunung Kerinci, gunung tertinggi kedua di Indonesia. Salah satu alasan yang sulit saya hindari yaitu minimnya jatah cuti yang saya miliki selama libur Hari Raya. Namun saya tidak ingin berkecil hati. Saya ingin manfaatkan semaksimal mungkin momen Hari untuk silaturahiim dengan sanak saudara serta menjelajahi ranah Minang nan elok.

Kendati saya gagal mendaki gunung Kerinci, saya masih terobsesi untuk mendaki gunung yang ada di Sumatera Barat. Whatever! Betapa tidak, saya sudah membawa hampir semua perlengkapan gunung dari Jakarta. Jika tidak dimanfaatkan, tentu sia-sia sudah apa yang saya bawa.

Lagi pula, saya belum pernah mendaki gunung di Sumatera Barat. Padahal, Sumatera Barat merupakan kampung halaman saya. Sungguh menyebalkan bila di kampung halaman sendiri takada satupun gunung yang sudah saya daki. Sementara di pulau Jawa puluhan gunung saya datangi. Tidak hanya di pulau Jawa, saya bahkan sudah mendaki gunung di luar pulau Jawa seperti gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Seketika, watak keras kepala saya muncul. Saya bertekad bahwa apapun yang terjadi, saya harus mendaki salah satu gunung di Sumatera Barat. Titik. Tanda seru!

Akhirnya, pada Kamis, (29/6/2017) impian sederhana saya terwujud. Adik saya yang bernama Fajar mengusulkan ide gemilang agar kami melakukan pendakian bersama ke  gunung Talang. Katanya, medan gunung Talang tidak begitu sulit dan durasi pendakian hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. “Walaupun gunung Talang tergolong gunung yang tidak begitu tinggi, namun gunung Talang menawarkan panaroma yang tidak kalah hebat dibandingkan gunung-gunung tinggi lainnya di Sumatera Barat,” ujar Fajar meyakinkan saya.

Lantas tanpa banyak pertimbangan, saya pun mengiyakan tawaran Fajar. Kapan lagi saya bisa mendaki gunung bersama adik saya sendiri. Momen yang langka dan rasanya akan sulit untuk diulang kembali. Sejujurnya, hubungan saya dengan adik saya tidak begitu dekat. Maklum, masa-masa kecil kami dihabiskan dengan berkelahi: adu jotos untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Huhu. Well, saya berharap dengan kami melakukan pendakian bersama akan membuat kami jauh lebih akrab, layaknya hubungan harmonis antara kakak dan adik.

DSC_7592.JPG
Me and my little brotha.

I may fight with my siblings. But once you lay a finger on them, you’ll be facing me!” – Anonymous.


Sebagai informasi, gunung Talang memiliki ketinggian 2,597 mdpl (meter di atas permukaan laut). Gunung yang berlokasi sekitar 40 km sebelah timur kota Padang ini tergolong jenis gunung stratovolcano (gunung api aktif). Berbagai sumber menyebutkan bahwa gunung Talang sudah pernah meletus berkali-kali sejak tahun 1833 hingga tahun 2007. Saat ini, kawah gunung Talang masih mengepulkan asap belerang.

Pendakian ke gunung Talang dilakoni oleh saya, Fajar, dan sepuluh orang temannya. Kami berangkat dari kota Solok menggunakan sepeda motor. Tidak butuh lama untuk mencapai kaki gunung Talang. Seingat saya hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Selama perjalanan konvoi, saya tidak merasa bosan sama sekali. Betapa tidak, saya disuguhi lanskap ranah Minangkabau yang sungguh aduhai. Di antara jalan yang berkelok-kelok, terdapat hamparan kebun teh yang berundak-undak. Tidak hanya itu, saya juga takjub dengan gugusan bukit barisan yang seolah-olah laiknya seperti penjaga yang melindungi kota Solok dan kabupaten Solok dari serangan alien. (Okay, untuk kalimat terakhir abaikan).

Setelah menempuh perjalanan yang menyenangkan, akhirnya tibalah kami di posko gunung Talang via Ai Batumbuk sekitar pukul 12 siang. Udara pegunungan yang segar serta suara adzan Dzuhur yang berkumandang menyambut kehadiran kami. Siang itu, petualangan baru saja dimulai.

DSC_7472
Posko gunung Talang via Ai Batumbuk

Setelah registrasi dan membayar retribusi sebesar 10ribu, kami mulai melangkah memasuki gerbang perkebunan the PTPN VI. Tidak ada aktivitas panen teh kala itu. Barangkali musim panen memang belum tiba.

Beberapa kali bermain ke perkebunan teh, jarang sekali saya melihat para petani memanen. Sebetulnya saya ingin belajar bagaimana memilih teh yang berkualitas tinggi. Penasaran. Namun apa boleh buat, saya hanya bisa memandang daun teh yang berwarna hijau muda. Tampak subur dan terawat dengan baik. Kami menyusuri jalanan di tengah-tengah perkebunan teh sekitar 45 menit.

DSC_7483
PTPN VI di kaki gunung Talang.

Selanjutnya, kami berhenti di sebuah warung untuk beristirahat sejenak. Warung semi permanen tersebut menjual asupan energi yang dibutuhkan para pendaki, baik yang akan mendaki maupun yang sudah turun.

Oh ya, pendakian saya ke gunung Talang merupakan pendakian tektok. Jadi, kami takperlu susah-susah membawa tenda atau membawa keperluan logistik yang berlebihan. Hanya perlu membawa bekal secukupnya. Lagipula, berhubung gunung Talang tidak begitu tinggi, jadi kami memutuskan hanya sekadar hiking tidak camping. Mengutip perkataan orang bijak,Hike while you can! Hiking in undiscovered places is a lot of fun.”

Setelah melewati area perkebunan teh, kami mulai memasuki hutan dengan medan yang mulai menanjak. Saat itu, hujan turun sehingga memaksa kami untuk mengenakan jas hujan. Beruntung saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Kendati saya sudah memakai jas hujan, sejujurnya saya tidak suka pendakian ketika hujan. Sepertinya rasa kesal tidak hanya bersemayam di hati saya, namun juga teman-teman seperjalanan saya. Maklum, hujan membuat tanah menjadi sangat licin dan berlumpur. Berulang kali saya terjatuh. Sakit. Namun saya teringat pesan senior di kampus.

“Yar, tahu mengapa kita terjatuh?”

“Kenapa kang?”

“Karena kita harus bangkit lagi. Jadi, takmasalah seberapa sering kita jatuh. Hal yang terpenting kita harus selalu bangkit.”

“Oh begitu kang,” ujar saya sekenanya untuk menimpali petuah senior saya tersebut.


Sepanjang pendakian, tidak banyak pendaki lain yang kami temui. Seingat saya, ketika registrasi hanya ada dua kelompok yang mendaki gunung Talang siang itu. Satu kelompok kami, satu lagi kelompok lain yang saya tidak sempat bertanya banyak hal tentang mereka. Maklum, gunung Talang baru saja dibuka kembali tiga hari pasca Idul Fitri. Mungkin tidak banyak pendaki yang berpikiran untuk mendaki pada momen Hari Raya. Lebih baik berkumpul bersama keluarga atau menghabiskan waktu liburan di tempat-tempat keramaian.

Mendaki gunung Talang membawa saya ke memori pendakian ke gunung Slamet pada November 2015 lalu. Saya pikir, jalur pendakian gunung Talang dan gunung Slamet memiliki kesamaan. Bagi yang sudah pernah mendaki kedua gunung tersebut, tentu akan berpendapat sama. Namun bedanya, medan gunung Slamet jauh lebih terjal. Apalagi ditambah saat itu hujan cukup deras mengguyur hutan hujan tropis gunung Slamet sehingga membuat fisik saya terkuras dan tubuh saya menggigil kedinginan. Namun beruntung, hujan yang turun di gunung Talang tidak berlangsung lama. Jadi penderitaan di gunung Slamet tidak terulang kembali di gunung Talang.

“Bang, kalau kita beruntung, jika tidak ada kabut, kita bisa melihat tiga danau dari puncak gunung Talang yakni danau Di Atas, danau Di Bawah, dan Danau Talang. Selama saya mendaki gunung Talang, saya selalu tidak beruntung melihat pemandangan ketiga danau tersebut. Semoga kali ini abang beruntung ya,” ujar Baim salah seorang sahabat Fajar.

“Oh ya? Semoga ya tidak ada kabut,” imbuh saya mengamini.

Lazimnya di hampir semua gunung di Indonesia, setiap beberapa kilometer pendaki akan berhenti di pos-pos untuk beristirahat. Namun kondisi demikian tidak saya jumpai di gunung Talang. Tidak ada pos pemberhentian sama sekali. Hanya ada plang bertuliskan ‘asmaul husna (nama-nama Allah) dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia serta tanda ‘R’.

Sontak saya bertanya kepada Fajar.

“Jar itu ‘R’ maksudnya apa ya?”

“Oh , ‘R’ itu maksudnya ‘Rambu’. Jadi nanti setiap beberapa meter, tepatnya di tikungan, kita akan menjumpai plang dengan tanda ‘R’ mulai dari R.1 hingga R.99. Sengaja dibuat hingga R.99 agar sesuai dengan ‘asmaul husna yang berjumlah 99. Untuk R.99 sendiri nanti kita temukan di puncak,” jelas Fajar kepada saya dengan cukup detil.

Sayapun menganggukkan kepala pertanda mengerti. Tidak ada kendala yang berarti yang kami temui selama mendaki. Namun, ada satu orang teman Fajar yang merasa kelelahan lantaran kondisi fisiknya kurang prima. Salah seorang di antara kami berinisiatif untuk mengurangi beban yang dia bawa sehingga perjalanan dapat terus dilanjutkan.


Menurut saya, kehadiran plang ‘asmaul husna membuat pendakian terasa lebih relijius. Saya pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah mengajarkan agar kita ummatnya, selama perjalanan menyebut subhanallah saat melewati jalan menurun dan menyebut Allahu akbar ketika melewati jalan mendaki. Hal tersebut barangkali menyadarkan kita bahwa sudah selayaknya kita terus mengingat Allah dalam kondisi apapun. Setiap tikungan, saya sempatkan untuk membaca ‘asmaul husna, mulai dari Ar-Rahman hingga seterusnya. Jika bisa dibilang, gunung Talang merupakan gunung syariah yang pernah saya daki selama hidup saya.

DSC_7508
R.51 di gunung Talang.

Tiba di R.51, saya sempatkan untuk swafoto di sana. Saya senang tiada terkira karena menemukan tulisan Ya Haq yang mengingatkan terhadap nama sahabat saya yang menyebalkan. Namanya, Arinal Haq Haqo. Dalam hati saya bergumam, “Nanti jika sudah dapat sinyal, saya akan mengirimkan foto ini ke Are (nama panggilan Arinal).”

Menuju lembah gunung Talang, saya melewati pohon-pohon yang memiliki daun panjang berduri. Saya tidak tahu apa nama jenis pohon tersebut. Sayapun bingung untuk menggunakan kata kunci yang tepat jika bertanya kepada Paman Gugel. Barangkali ada dari teman yang mengetahui pohon ini? Pohon-pohon tersebut mengingatkan saya terhadap eksistensi dinasaurus dan sahabat-sahabatnya yang sering lalu-lalang di perfilman hollywood.

DSC_7673.JPG
Ada yang tahu nama pohon ini?

Setelah mendaki selama kurang lebih 2,5 jam, akhirnya kamipun berhasil tiba di lembah gunung Talang. Lokasi tersebut digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda. Saat itu, hanya ada sekitar 3 tenda yang berdiri.

DSC_7594
Tenda pendaki di lembah gunung Talang.
DSC_7586
Deep thinkin’

Lembah gunung Talang terasa sepi, dingin, dan misterius. Namun saya menyukai kondisi demikian. Pemandangan dan perasaan kala itu belum pernah saya rasakan sebelumnya di gunung manapun. Sayapun berjalan menyusuri lembah savana yang tertutup kabut tipis. Angin bertiup kencang, menyeret paksa sekawanan kabut, lantas menghempaskannya.

Berjalan sendirian membuat saya tidak gusar. Justru yang timbul hanyalah rasa tentram yang entah dari mana perasaan itu hadir. Saya selalu menyukai suasana di gunung. Melihat reremputan liar tumbuh secara alami, kagum dengan bunga-bunga liar yang selalu berhasil membuat saya penasaran untuk mengetahui setiap nama mereka. Semakin jauh, saya semakin meninggalkan teman perjalanan saya yang lebih memilih berkumpul bersama-sama sembari menikmati secangkir teh atau kopi pengusir hawa dingin.

Saya suka dengan perasaan saya sore kala itu. Seolah saya merasa hadir menjadi diri saya yang seutuhnya. Berjalan, melihat sekitar, tersenyum, dan bersyukur. Saya mulai berjalan kian jauh hingga mendekati kawah gunung Talang. Saya ingin menuju puncak gunung Talang. Namun langkah saya terhenti saat tiba-tiba kabut tebal kembali hadir sehingga membuat perasaan saya tidak nyaman.

DSC_7613
Kawah gunung Talang.

Di lembah gunung Talang, takbanyak bungan edelweiss tumbuh. Namun mereka mekar seolah membuktikan kepada saya rasa takut akan selalu kalah dengan keberanian, hati yang teguh, dan kesucian cinta. Saya menyukai bunga edelweiss melebihi bunga apapun di bumi ini. Suatu hari, saya berharap bunga edelweiss akan terus abadi sesuai dengan julukannya ‘bunga abadi’.

DSC_7559.JPG
Edelweiss, Si Bunga Abadi
DSC_7542
Bunga kuning ini ada yang tahu namanya?
DSC_7622.JPG
Pattern.
DSC_7627.JPG
Sumber mata air di lembah gunung Talang.

Dari kejauhan, saya melihat ke bawah. Nun jauh di sana, ada tiga danau berdampingan. “Mungkinkah itu tiga danau yang dimaksud teman Fajar tadi?” ujar saya lirih. Sore berganti petang, kamipun memutuskan untuk turun sebelum matahari benar-benar tenggelam.

DSC_7511
Danau Talang, Danau Di Atas, dan Danau Di Bawah

Dalam perjalanan pulang, saya teringat ungkapan manis dari Paulo Coelho, “You don’t need to climb a mountain to know that it’s high.” Ya, saya tahu bahwa gunung akan selalu tinggi, bahwa gunung akan selalu menjadi rumah yang nyaman untuk siapapun. Jadi, berbaik hatilah dengan alam, berbaik hatilah dengan diri sendiri. [Mahfud Achyar]

Photo Story: Kerja Bersama!

1. Foto Pembuka
Lomba panjat pinang merupakan salah satu lomba untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia setiap tahunnya. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Oleh: Mahfud Achyar

Indonesia Kerja Bersama.

Demikian tema yang diperkenalkan pemerintah kepada seluruh masyarakat Indonesia pada momentum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72 tahun. Melalui tema tersebut, saya berpendapat bahwa pemerintah ingin mengajak semua elemen bangsa untuk turut mengisi kemerdekaan Indonesia dengan kerja-kerja yang nyata.

Hari Kemerdekaan selalu menjadi momen yang spesial bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, kemerdekaan menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu setelah ratusan lamanya sejak Indonesia mengalami masa kependudukan: penjajahan. Untuk itu, tidak ada hal yang paling menggembirakan selain bersuka cita karena kemerdekaan sudah sepenuhnya diraih dan sekarang saatnya membuat bangsa Indonesia menjadi jauh lebih hebat.

Merayakan Dirgahayu Republik Indonesia, biasanya digelar berbagai perlombaan seperti lomba tarik tambang, lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba panjat pinang, dan berbagai perlombaan lainnya. Lomba-lomba tersebut dilaksanakan di seluruh penjuru negeri, mulai dari wilayah pedesaan hingga perkotaan. Secara umum, tujuan perlombaan-perlombaan tersebut yaitu untuk menggelorakan kembali sifat gotong royong yang menjadi nilai dari bangsa Indonesia.

Suatu ketika, Bung Karno, pernah menyampaikan pidato di depan BPUPK pada tanggal 1 Juni 1945. Bung Karno berkata, “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong” Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong: alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong.”

Wujud semangat gotong royong salah satunya dapat tercermin pada perlombaan panjat pinang. Saya mengabadikan momen demi momen lomba panjat pinang pada Jumat, (18/8/2017) di Kalibata, Jakarta Selatan. Rangkaian momen-momen tersebut tertuang dalam photo story yang berjudul “Kerja Bersama!”


2. Detil
Tanpa alas kaki, para peserta lomba panjat pinang tidak hanya adu fisik, namun juga ada strategi dan kekompakan. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Sejarah Lomba Panjat Pinang

Menurut budayawan Wijanarto, seperti yang dilansir pada laman Liputan6.com (14/8/2017) perlombaan panjat pinang sudah ada sejak masa pendudukan Belanda. Katanya, lomba panjat pinang digelar sebagai hiburan saat perayaan penting orang Belanda di Nusantara seperti pesta pernikahan dan ulang tahun.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa di Belanda, lomba panjat pinang disebut De Klimmast yang berarti panjat tiang. Lomba panjat pinang digelar setiap tanggal 31 Agustus yang bertepat dengan hari ulang tahun Ratu Wihelmina. Orang-orang pribumi berlomba mendapatkan hadiah yang digantungkan di puncak pohon pinang.

Setiap tahun, saat peringatan Dirgahayu Republik Indonesia, terjadi perdebatan di antara masyarakat, apakah lomba panjat pinang masih perlu dilestarikan atau tidak? Sebagian beranggapan bahwa lomba panjat pinang takusah dilakukan lagi lantaran pada masa silam lomba tersebut dianggap merendahkan harkat martabat bangsa Indonesia. Namun sebagian lain beranggapan sebaliknya. Lomba panjat pinang dirasa dapat merekatkan kekompakan dan membangun semangat gotong royong antarmasyarakat.

DSC_0051
Nyatanya untuk mencapai puncak pohon pinang tidaklah mudah, seringkali para peserta lomba jatuh berkali-kali hingga pada akhirnya bangkit untuk menggenapkan misi: menang. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
3. Portrait
Batang pohon pinang yang dilumuri oli membuat peserta merasa kewalahan. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_0437
Hampir dua jam lamanya, takada satupun tim yang berhasil mencapai puncak untuk menggapai hadiah-hadiah terbaik yang disiapkan panitia. Namun sore hari, akhirnya ada yang berhasil mencapai puncak. Takberlebihan jika ia layak disebut sebagai pemenang. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

 

4. Foto Penutup
Wajah-wajah yang bersuka cita setelah melewati masa-masa yang sulit.

Kendati terjadi pro dan kontra mengenai perlombaan panjat pinang, namun tidak dapat dipungkiri bahwa perlombaan tersebut sangat baik membangun kerja sama tim dan menumbuhkan semangat gotong royong.

Barangkali hadiah yang ditawarkan di atas puncak pohon pinang memang tidak begitu menggiurkan. Namun, nyatanya bukan ‘harga’ yang membuat perlombaan ini terus ada hingga sekarang. Kebersamaan, kerja keras, dan pengorbanan menjadi nilai-nilai yang harus terus ada dan harus tetap dipertahankan agar bangsa Indonesia terus menjadi bangsa yang berdaulat.

Indonesia merdeka!