Merawat Impian

Source: Tumblr

Oleh: Mahfud Achyar

Jakarta, 6 Oktober 2017.

Jumat sore, pukul 16.00 saya bergegas pulang dari kantor. Sebetulnya, jadwal pulang kantor pada hari Jumat yaitu pukul 16.30. Namun saya minta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan menghadiri workshop astronomi. Beruntung izin berhasil saya kantongi. Saya pun lekas menuju AtAmerica menggunakan ojek daring guna menyisir kemacetan sepanjang jalan Pancoran dan Gatot Soebroto.

Lalu, apa gerangan sehingga saya harus buru-buru agar tiba di AtAmerica tepat waktu? Tidak lain tidak bukan karena saya akan bertemu dengan idola saya, Ibu Pratiwi Sudarmono. Beliau merupakan ilmuwan yang mendapatkan kesempatan dari NASA (The National Aeronautics and Space Administration) untuk ambil bagian dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H sebagai spesialis muatan pada Oktober 1985.

Secara sederhana, beliau akan menjadi wanita pertama Indonesia yang terbang ke luar angkasa. Namun sayang, akibat bencana Challenger impian Pratiwi menjadi astronaut kandas. Peluncuran ke-10 pesawat ulang-alik Challenger gagal. Menurut informasi, kendaraan ini meledak 73 detik setelah peluncuran pada 28 Januari 1986 sebagai hasil kegagalan sebuah segel karet cincin O (O-ring) di kanan roket pendorong padat (Solid Rocket Booster, SRB); hal ini menyebabkan kebocoran dengan percikan api yang menyebabkan kebocoran di tangki hidrogen.

Padahal, jika misi STS-51-L berhasil, maka misi STS-61 H juga akan segera diluncurkan. Pada misi STS-61-H, akan dilakukan pengiriman satelit komersial seperti Palapa B-3 milik Indonesia. Namun sayang misi tersebut dibatalkan. Kabar baiknya satelit Palapa B-3 tetap diluncurkan dengan sebuah roket yang bernama roket Delta.

Kendati Pratiwi gagal menjadi astronot taklantas membuat langkahnya terhenti untuk mengembangkan penelitian di Indonesia. Ia terus menjadi seorang ilmuwan dengan menggeluti bidang mikrobiologi dan nanoteknologi.

Saat ini, selain menjadi Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, beliau juga sering diundang sebagai pembicara pada forum-forum ilmiah tentang astronomi. Pratiwi telah mencatat sejarah. Ia telah membuat perbedaan. Banyak anak-anak muda Indonesia telah terinspirasi dari sosok wanita kelahiran 31 Juli 1952 tersebut, termasuk saya.

Me and Profesor Pratiwi Sudarmono

Selama workshop berlangsung, saya khidmat mendengarkan pengalaman Ibu Pratiwi ketika mendapatkan kesempatan belajar di NASA. Takjarang bulu roma saya merinding saat mendengar harapan-harapan beliau akan perkembangan dunia penelitian di Indonesia, khususnya di bidang nanoteknologi. Cerita yang mengalir dari bibir Ibu Pratiwi membawa saya ke masa kekanak, saat saya begitu terobsesi menjadi seorang astronot.

Ya, dulu sekali, ketika anak-anak saya ingin sekali menjadi seorang astronot. Tidak ada alasan spesifik yang membuat saya jatuh cinta terhadap profesi tersebut. Sederhana: saya ingin ke luar angkasa. Saya terobsesi dengan pesawat.

Kala itu, bagi saya pesawat merupakan teknologi terhebat yang pernah diciptakan oleh manusia. Siapa sangka, manusia yang takbersayap akhirnya bisa terbang; menjelajahi cakrawala dan angkasa. Selain itu, saya juga mengagumi luar angkasa. Sebuah dimensi tanpa batas, misterius, dan mengagumkan. Entahlah, saya pun bingung menjelaskan perasaan saya terhadap antariksa. Sesuatu yang kompleks, sesuatu yang saya cintai kendati saya belum pernah melihat secara langsung bagaimana rupa antariksa yang sesungguhnya.

Kini, setelah dewasa, saya menyadari bahwa menjadi seorang astronot tidaklah mudah. Banyak proses-proses sulit dan panjang yang harus dilalui. Tidak hanya bermodalkan impian menjelajahi antariksa, namun perlu bekal kecerdasan, kesehatan fisik, serta mental yang sekuat baja. Mungkinkah kriteria tersebut ada dalam diri saya? Saya meragu.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa impian saya menjadi seorang astronot tidak akan pernah terwujud. Sekeras apapun saya bermimpi, semakin jauh impian tersebut pergi. Bahkan untuk meraih bayangannya saja sulit. Ia melesat secepat komet Encke yang mencapai titik lintasan bintang (perihelion)–titik terdekat matahari pada 21 November 2013 lalu. Is it possible to reach my dream? I don’t think so.

Kendati mustahil, saya tidak akan pernah mengubur impian tersebut. Selama napas masih berhembus, saya akan terus merawatnya hingga saya mendapatkan kepastian dari Tuhan bahwa impian tersebut akan terwujud.

Selama ini, untuk tetap menjaga antusias saya terhadap dunia astronomi, saya kerap kali meluangkan waktu untuk membaca artikel-artikel yang dipublikasi NASA atau Langit Selatan. Selain itu, jika rindu membuncah, saya pergi ke Planetarium atau berselancar melihat benda-benda angkasa secara virtual di Stellarium. Bicara tentang antusiasme, izinkan saya mengutip perkataan Aldous Huxley. Katanya, “The secret of genius is to carry the spirit of the child into old age, which means never losing your enthuasism.”

Usai Ibu Pratiwi bercerita, saya mengangkat tangan. Saya ingin bertanya langsung kepada beliau tentang banyak hal, mulai dari Asgardia The Space Nation Project, zero gravity labs, hingga secrets of hidden valley on Mars. Namun sayang, lantaran waktu yang terbatas sehingga saya hanya diperbolehkan mengajukan pertanyaan saya.

Dari sekian banyak tanya yang terlintas di benak saya, akhirnya saya mengajukan satu pertanyaan, “Bu, apakah memungkinkan kita membuat laboraturium zero gravity di Indonesia?” tanya saya singkat.

Ibu Pratiwi menjawab pertanyaan saya dengan tenang. Katanya, tentu bisa di Indonesia menciptakan laboraturium zero gravity. Namun membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sejauh ini, para peneliti Indonesia menggunakan demo sederhana guna mendekati zero gravity. Padahal menurut Ibu Pratiwi, beberapa penelitian membutuhkan kondisi zero gravity untuk menghasilkan penilitian yang akurasi dan presisi.

Tentang merawat impian, saya berdoa pada Tuhan agar mendapatkan kesempatan untuk berkunjung Kennedy Space Center di Florida, Amerika Serikat. Selain itu, saya berdoa pada Tuhan, jika di dunia saya benar-benar takbisa ke luar angkasa, semoga nanti ketika ruh saya diangkat ke langit, saya diberi kesempatan satu kali saja untuk menjelajahi berbagai galaksi dan berkenalan secara langsung dengan benda-benda angkasa yang mengagumkan.

“Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people?” – Carl Sagan.

Advertisements

Hari Raya di Gunung Talang

DSC_7551
Lembah gunung Talang, kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia.

Pada Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah kemarin, saya berkesempatan mendaki gunung Talang yang berlokasi di kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sebetulnya, saya sudah berencana jauh-jauh hari bahwa momen libur Hari Raya akan saya manfaatkan untuk mendaki gunung Kerinci melalui jalur Solok Selatan. Namun rencana tinggalah rencana.

Ada banyak kejadian yang takterduga yang menyebabkan saya harus menunda impian saya untuk mendaki gunung Kerinci, gunung tertinggi kedua di Indonesia. Salah satu alasan yang sulit saya hindari yaitu minimnya jatah cuti yang saya miliki selama libur Hari Raya. Namun saya tidak ingin berkecil hati. Saya ingin manfaatkan semaksimal mungkin momen Hari untuk silaturahiim dengan sanak saudara serta menjelajahi ranah Minang nan elok.

Kendati saya gagal mendaki gunung Kerinci, saya masih terobsesi untuk mendaki gunung yang ada di Sumatera Barat. Whatever! Betapa tidak, saya sudah membawa hampir semua perlengkapan gunung dari Jakarta. Jika tidak dimanfaatkan, tentu sia-sia sudah apa yang saya bawa.

Lagi pula, saya belum pernah mendaki gunung di Sumatera Barat. Padahal, Sumatera Barat merupakan kampung halaman saya. Sungguh menyebalkan bila di kampung halaman sendiri takada satupun gunung yang sudah saya daki. Sementara di pulau Jawa puluhan gunung saya datangi. Tidak hanya di pulau Jawa, saya bahkan sudah mendaki gunung di luar pulau Jawa seperti gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Seketika, watak keras kepala saya muncul. Saya bertekad bahwa apapun yang terjadi, saya harus mendaki salah satu gunung di Sumatera Barat. Titik. Tanda seru!

Akhirnya, pada Kamis, (29/6/2017) impian sederhana saya terwujud. Adik saya yang bernama Fajar mengusulkan ide gemilang agar kami melakukan pendakian bersama ke  gunung Talang. Katanya, medan gunung Talang tidak begitu sulit dan durasi pendakian hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. “Walaupun gunung Talang tergolong gunung yang tidak begitu tinggi, namun gunung Talang menawarkan panaroma yang tidak kalah hebat dibandingkan gunung-gunung tinggi lainnya di Sumatera Barat,” ujar Fajar meyakinkan saya.

Lantas tanpa banyak pertimbangan, saya pun mengiyakan tawaran Fajar. Kapan lagi saya bisa mendaki gunung bersama adik saya sendiri. Momen yang langka dan rasanya akan sulit untuk diulang kembali. Sejujurnya, hubungan saya dengan adik saya tidak begitu dekat. Maklum, masa-masa kecil kami dihabiskan dengan berkelahi: adu jotos untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Huhu. Well, saya berharap dengan kami melakukan pendakian bersama akan membuat kami jauh lebih akrab, layaknya hubungan harmonis antara kakak dan adik.

DSC_7592.JPG
Me and my little brotha.

I may fight with my siblings. But once you lay a finger on them, you’ll be facing me!” – Anonymous.


Sebagai informasi, gunung Talang memiliki ketinggian 2,597 mdpl (meter di atas permukaan laut). Gunung yang berlokasi sekitar 40 km sebelah timur kota Padang ini tergolong jenis gunung stratovolcano (gunung api aktif). Berbagai sumber menyebutkan bahwa gunung Talang sudah pernah meletus berkali-kali sejak tahun 1833 hingga tahun 2007. Saat ini, kawah gunung Talang masih mengepulkan asap belerang.

Pendakian ke gunung Talang dilakoni oleh saya, Fajar, dan sepuluh orang temannya. Kami berangkat dari kota Solok menggunakan sepeda motor. Tidak butuh lama untuk mencapai kaki gunung Talang. Seingat saya hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Selama perjalanan konvoi, saya tidak merasa bosan sama sekali. Betapa tidak, saya disuguhi lanskap ranah Minangkabau yang sungguh aduhai. Di antara jalan yang berkelok-kelok, terdapat hamparan kebun teh yang berundak-undak. Tidak hanya itu, saya juga takjub dengan gugusan bukit barisan yang seolah-olah laiknya seperti penjaga yang melindungi kota Solok dan kabupaten Solok dari serangan alien. (Okay, untuk kalimat terakhir abaikan).

Setelah menempuh perjalanan yang menyenangkan, akhirnya tibalah kami di posko gunung Talang via Ai Batumbuk sekitar pukul 12 siang. Udara pegunungan yang segar serta suara adzan Dzuhur yang berkumandang menyambut kehadiran kami. Siang itu, petualangan baru saja dimulai.

DSC_7472
Posko gunung Talang via Ai Batumbuk

Setelah registrasi dan membayar retribusi sebesar 10ribu, kami mulai melangkah memasuki gerbang perkebunan the PTPN VI. Tidak ada aktivitas panen teh kala itu. Barangkali musim panen memang belum tiba.

Beberapa kali bermain ke perkebunan teh, jarang sekali saya melihat para petani memanen. Sebetulnya saya ingin belajar bagaimana memilih teh yang berkualitas tinggi. Penasaran. Namun apa boleh buat, saya hanya bisa memandang daun teh yang berwarna hijau muda. Tampak subur dan terawat dengan baik. Kami menyusuri jalanan di tengah-tengah perkebunan teh sekitar 45 menit.

DSC_7483
PTPN VI di kaki gunung Talang.

Selanjutnya, kami berhenti di sebuah warung untuk beristirahat sejenak. Warung semi permanen tersebut menjual asupan energi yang dibutuhkan para pendaki, baik yang akan mendaki maupun yang sudah turun.

Oh ya, pendakian saya ke gunung Talang merupakan pendakian tektok. Jadi, kami takperlu susah-susah membawa tenda atau membawa keperluan logistik yang berlebihan. Hanya perlu membawa bekal secukupnya. Lagipula, berhubung gunung Talang tidak begitu tinggi, jadi kami memutuskan hanya sekadar hiking tidak camping. Mengutip perkataan orang bijak,Hike while you can! Hiking in undiscovered places is a lot of fun.”

Setelah melewati area perkebunan teh, kami mulai memasuki hutan dengan medan yang mulai menanjak. Saat itu, hujan turun sehingga memaksa kami untuk mengenakan jas hujan. Beruntung saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Kendati saya sudah memakai jas hujan, sejujurnya saya tidak suka pendakian ketika hujan. Sepertinya rasa kesal tidak hanya bersemayam di hati saya, namun juga teman-teman seperjalanan saya. Maklum, hujan membuat tanah menjadi sangat licin dan berlumpur. Berulang kali saya terjatuh. Sakit. Namun saya teringat pesan senior di kampus.

“Yar, tahu mengapa kita terjatuh?”

“Kenapa kang?”

“Karena kita harus bangkit lagi. Jadi, takmasalah seberapa sering kita jatuh. Hal yang terpenting kita harus selalu bangkit.”

“Oh begitu kang,” ujar saya sekenanya untuk menimpali petuah senior saya tersebut.


Sepanjang pendakian, tidak banyak pendaki lain yang kami temui. Seingat saya, ketika registrasi hanya ada dua kelompok yang mendaki gunung Talang siang itu. Satu kelompok kami, satu lagi kelompok lain yang saya tidak sempat bertanya banyak hal tentang mereka. Maklum, gunung Talang baru saja dibuka kembali tiga hari pasca Idul Fitri. Mungkin tidak banyak pendaki yang berpikiran untuk mendaki pada momen Hari Raya. Lebih baik berkumpul bersama keluarga atau menghabiskan waktu liburan di tempat-tempat keramaian.

Mendaki gunung Talang membawa saya ke memori pendakian ke gunung Slamet pada November 2015 lalu. Saya pikir, jalur pendakian gunung Talang dan gunung Slamet memiliki kesamaan. Bagi yang sudah pernah mendaki kedua gunung tersebut, tentu akan berpendapat sama. Namun bedanya, medan gunung Slamet jauh lebih terjal. Apalagi ditambah saat itu hujan cukup deras mengguyur hutan hujan tropis gunung Slamet sehingga membuat fisik saya terkuras dan tubuh saya menggigil kedinginan. Namun beruntung, hujan yang turun di gunung Talang tidak berlangsung lama. Jadi penderitaan di gunung Slamet tidak terulang kembali di gunung Talang.

“Bang, kalau kita beruntung, jika tidak ada kabut, kita bisa melihat tiga danau dari puncak gunung Talang yakni danau Di Atas, danau Di Bawah, dan Danau Talang. Selama saya mendaki gunung Talang, saya selalu tidak beruntung melihat pemandangan ketiga danau tersebut. Semoga kali ini abang beruntung ya,” ujar Baim salah seorang sahabat Fajar.

“Oh ya? Semoga ya tidak ada kabut,” imbuh saya mengamini.

Lazimnya di hampir semua gunung di Indonesia, setiap beberapa kilometer pendaki akan berhenti di pos-pos untuk beristirahat. Namun kondisi demikian tidak saya jumpai di gunung Talang. Tidak ada pos pemberhentian sama sekali. Hanya ada plang bertuliskan ‘asmaul husna (nama-nama Allah) dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia serta tanda ‘R’.

Sontak saya bertanya kepada Fajar.

“Jar itu ‘R’ maksudnya apa ya?”

“Oh , ‘R’ itu maksudnya ‘Rambu’. Jadi nanti setiap beberapa meter, tepatnya di tikungan, kita akan menjumpai plang dengan tanda ‘R’ mulai dari R.1 hingga R.99. Sengaja dibuat hingga R.99 agar sesuai dengan ‘asmaul husna yang berjumlah 99. Untuk R.99 sendiri nanti kita temukan di puncak,” jelas Fajar kepada saya dengan cukup detil.

Sayapun menganggukkan kepala pertanda mengerti. Tidak ada kendala yang berarti yang kami temui selama mendaki. Namun, ada satu orang teman Fajar yang merasa kelelahan lantaran kondisi fisiknya kurang prima. Salah seorang di antara kami berinisiatif untuk mengurangi beban yang dia bawa sehingga perjalanan dapat terus dilanjutkan.


Menurut saya, kehadiran plang ‘asmaul husna membuat pendakian terasa lebih relijius. Saya pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah mengajarkan agar kita ummatnya, selama perjalanan menyebut subhanallah saat melewati jalan menurun dan menyebut Allahu akbar ketika melewati jalan mendaki. Hal tersebut barangkali menyadarkan kita bahwa sudah selayaknya kita terus mengingat Allah dalam kondisi apapun. Setiap tikungan, saya sempatkan untuk membaca ‘asmaul husna, mulai dari Ar-Rahman hingga seterusnya. Jika bisa dibilang, gunung Talang merupakan gunung syariah yang pernah saya daki selama hidup saya.

DSC_7508
R.51 di gunung Talang.

Tiba di R.51, saya sempatkan untuk swafoto di sana. Saya senang tiada terkira karena menemukan tulisan Ya Haq yang mengingatkan terhadap nama sahabat saya yang menyebalkan. Namanya, Arinal Haq Haqo. Dalam hati saya bergumam, “Nanti jika sudah dapat sinyal, saya akan mengirimkan foto ini ke Are (nama panggilan Arinal).”

Menuju lembah gunung Talang, saya melewati pohon-pohon yang memiliki daun panjang berduri. Saya tidak tahu apa nama jenis pohon tersebut. Sayapun bingung untuk menggunakan kata kunci yang tepat jika bertanya kepada Paman Gugel. Barangkali ada dari teman yang mengetahui pohon ini? Pohon-pohon tersebut mengingatkan saya terhadap eksistensi dinasaurus dan sahabat-sahabatnya yang sering lalu-lalang di perfilman hollywood.

DSC_7673.JPG
Ada yang tahu nama pohon ini?

Setelah mendaki selama kurang lebih 2,5 jam, akhirnya kamipun berhasil tiba di lembah gunung Talang. Lokasi tersebut digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda. Saat itu, hanya ada sekitar 3 tenda yang berdiri.

DSC_7594
Tenda pendaki di lembah gunung Talang.
DSC_7586
Deep thinkin’

Lembah gunung Talang terasa sepi, dingin, dan misterius. Namun saya menyukai kondisi demikian. Pemandangan dan perasaan kala itu belum pernah saya rasakan sebelumnya di gunung manapun. Sayapun berjalan menyusuri lembah savana yang tertutup kabut tipis. Angin bertiup kencang, menyeret paksa sekawanan kabut, lantas menghempaskannya.

Berjalan sendirian membuat saya tidak gusar. Justru yang timbul hanyalah rasa tentram yang entah dari mana perasaan itu hadir. Saya selalu menyukai suasana di gunung. Melihat reremputan liar tumbuh secara alami, kagum dengan bunga-bunga liar yang selalu berhasil membuat saya penasaran untuk mengetahui setiap nama mereka. Semakin jauh, saya semakin meninggalkan teman perjalanan saya yang lebih memilih berkumpul bersama-sama sembari menikmati secangkir teh atau kopi pengusir hawa dingin.

Saya suka dengan perasaan saya sore kala itu. Seolah saya merasa hadir menjadi diri saya yang seutuhnya. Berjalan, melihat sekitar, tersenyum, dan bersyukur. Saya mulai berjalan kian jauh hingga mendekati kawah gunung Talang. Saya ingin menuju puncak gunung Talang. Namun langkah saya terhenti saat tiba-tiba kabut tebal kembali hadir sehingga membuat perasaan saya tidak nyaman.

DSC_7613
Kawah gunung Talang.

Di lembah gunung Talang, takbanyak bungan edelweiss tumbuh. Namun mereka mekar seolah membuktikan kepada saya rasa takut akan selalu kalah dengan keberanian, hati yang teguh, dan kesucian cinta. Saya menyukai bunga edelweiss melebihi bunga apapun di bumi ini. Suatu hari, saya berharap bunga edelweiss akan terus abadi sesuai dengan julukannya ‘bunga abadi’.

DSC_7559.JPG
Edelweiss, Si Bunga Abadi
DSC_7542
Bunga kuning ini ada yang tahu namanya?
DSC_7622.JPG
Pattern.
DSC_7627.JPG
Sumber mata air di lembah gunung Talang.

Dari kejauhan, saya melihat ke bawah. Nun jauh di sana, ada tiga danau berdampingan. “Mungkinkah itu tiga danau yang dimaksud teman Fajar tadi?” ujar saya lirih. Sore berganti petang, kamipun memutuskan untuk turun sebelum matahari benar-benar tenggelam.

DSC_7511
Danau Talang, Danau Di Atas, dan Danau Di Bawah

Dalam perjalanan pulang, saya teringat ungkapan manis dari Paulo Coelho, “You don’t need to climb a mountain to know that it’s high.” Ya, saya tahu bahwa gunung akan selalu tinggi, bahwa gunung akan selalu menjadi rumah yang nyaman untuk siapapun. Jadi, berbaik hatilah dengan alam, berbaik hatilah dengan diri sendiri. [Mahfud Achyar]

Photo Story: Kerja Bersama!

1. Foto Pembuka
Lomba panjat pinang merupakan salah satu lomba untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia setiap tahunnya. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Oleh: Mahfud Achyar

Indonesia Kerja Bersama.

Demikian tema yang diperkenalkan pemerintah kepada seluruh masyarakat Indonesia pada momentum peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-72 tahun. Melalui tema tersebut, saya berpendapat bahwa pemerintah ingin mengajak semua elemen bangsa untuk turut mengisi kemerdekaan Indonesia dengan kerja-kerja yang nyata.

Hari Kemerdekaan selalu menjadi momen yang spesial bagi bangsa Indonesia. Betapa tidak, kemerdekaan menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu setelah ratusan lamanya sejak Indonesia mengalami masa kependudukan: penjajahan. Untuk itu, tidak ada hal yang paling menggembirakan selain bersuka cita karena kemerdekaan sudah sepenuhnya diraih dan sekarang saatnya membuat bangsa Indonesia menjadi jauh lebih hebat.

Merayakan Dirgahayu Republik Indonesia, biasanya digelar berbagai perlombaan seperti lomba tarik tambang, lomba balap karung, lomba makan kerupuk, lomba panjat pinang, dan berbagai perlombaan lainnya. Lomba-lomba tersebut dilaksanakan di seluruh penjuru negeri, mulai dari wilayah pedesaan hingga perkotaan. Secara umum, tujuan perlombaan-perlombaan tersebut yaitu untuk menggelorakan kembali sifat gotong royong yang menjadi nilai dari bangsa Indonesia.

Suatu ketika, Bung Karno, pernah menyampaikan pidato di depan BPUPK pada tanggal 1 Juni 1945. Bung Karno berkata, “Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong” Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong: alangkah hebatnya! Negara Gotong Royong.”

Wujud semangat gotong royong salah satunya dapat tercermin pada perlombaan panjat pinang. Saya mengabadikan momen demi momen lomba panjat pinang pada Jumat, (18/8/2017) di Kalibata, Jakarta Selatan. Rangkaian momen-momen tersebut tertuang dalam photo story yang berjudul “Kerja Bersama!”


2. Detil
Tanpa alas kaki, para peserta lomba panjat pinang tidak hanya adu fisik, namun juga ada strategi dan kekompakan. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Sejarah Lomba Panjat Pinang

Menurut budayawan Wijanarto, seperti yang dilansir pada laman Liputan6.com (14/8/2017) perlombaan panjat pinang sudah ada sejak masa pendudukan Belanda. Katanya, lomba panjat pinang digelar sebagai hiburan saat perayaan penting orang Belanda di Nusantara seperti pesta pernikahan dan ulang tahun.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa di Belanda, lomba panjat pinang disebut De Klimmast yang berarti panjat tiang. Lomba panjat pinang digelar setiap tanggal 31 Agustus yang bertepat dengan hari ulang tahun Ratu Wihelmina. Orang-orang pribumi berlomba mendapatkan hadiah yang digantungkan di puncak pohon pinang.

Setiap tahun, saat peringatan Dirgahayu Republik Indonesia, terjadi perdebatan di antara masyarakat, apakah lomba panjat pinang masih perlu dilestarikan atau tidak? Sebagian beranggapan bahwa lomba panjat pinang takusah dilakukan lagi lantaran pada masa silam lomba tersebut dianggap merendahkan harkat martabat bangsa Indonesia. Namun sebagian lain beranggapan sebaliknya. Lomba panjat pinang dirasa dapat merekatkan kekompakan dan membangun semangat gotong royong antarmasyarakat.

DSC_0051
Nyatanya untuk mencapai puncak pohon pinang tidaklah mudah, seringkali para peserta lomba jatuh berkali-kali hingga pada akhirnya bangkit untuk menggenapkan misi: menang. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
3. Portrait
Batang pohon pinang yang dilumuri oli membuat peserta merasa kewalahan. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_0437
Hampir dua jam lamanya, takada satupun tim yang berhasil mencapai puncak untuk menggapai hadiah-hadiah terbaik yang disiapkan panitia. Namun sore hari, akhirnya ada yang berhasil mencapai puncak. Takberlebihan jika ia layak disebut sebagai pemenang. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

 

4. Foto Penutup
Wajah-wajah yang bersuka cita setelah melewati masa-masa yang sulit.

Kendati terjadi pro dan kontra mengenai perlombaan panjat pinang, namun tidak dapat dipungkiri bahwa perlombaan tersebut sangat baik membangun kerja sama tim dan menumbuhkan semangat gotong royong.

Barangkali hadiah yang ditawarkan di atas puncak pohon pinang memang tidak begitu menggiurkan. Namun, nyatanya bukan ‘harga’ yang membuat perlombaan ini terus ada hingga sekarang. Kebersamaan, kerja keras, dan pengorbanan menjadi nilai-nilai yang harus terus ada dan harus tetap dipertahankan agar bangsa Indonesia terus menjadi bangsa yang berdaulat.

Indonesia merdeka!

The Voyage to Maregé, Napak Tilas Orang Makassar ke Benua Kangguru

Oleh: Mahfud Achyar

PhotoGrid_1504369652575
L-R: Firly, Audrey, Cimeg, Silvy, Harry, Achyar, Moa, dan Christin

Hubungan antara Indonesia dan Australia nyatanya telah terbangun sejak lama, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal tersebut terungkap dari konser orkestra yang bertajuk “The Voyage to Maregé” yang gelar pada Kamis, (31/8/2017) di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat.

_20170827_195042
Poster Publikasi Konser

Biasanya, untuk menonton konser yang digawangi oleh pianis sekelas Ananda Sukarlan, kita harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Namun beruntung, penonton yang memadati Teater Jakarta malam itu takperlu mengeluarkan uang sepersen untuk menyaksikan suguhan bertaraf internasional. Konser tersebut digelar secara khusus sebagai kado dari pemerintah Australia atas ulang tahun Republik Indonesia yang ke-72 tahun. Sebagai negara sahabat, saya rasa kado yang diberikan oleh Australia sangatlah manis.

Bagi sebagian orang, menonton konser orkestra klasik barangkali membosankan. Namun bagi saya pribadi, saya sangat takjub menyaksikan dengan mata dan kepala saya sendiri bahwa alat-alat musik seperti piano, biola, cello, dan sebagainya dapat harmonis menghasilkan nada-nada yang membuat bulu kuduk saya merinding. Ah, mereka sungguh keren!

DSC_9297
Suasana Teater Jakarta

Andai saya memiliki bakat seperti mereka, pasti saya tidak akan menyia-nyiakannya. Saya akan mengoptimalkannya untuk sesuatu yang menakjubkan! Namun sayang, saya sepertinya memang terlahir bukan sebagai pelaku seni melainkan penikmati seni.

All humans are musical,” begitu tulis Mitch Albom pada bukunya yang berjudul “The Magic Strings of Frankie Presto” pada halaman 4. Menukil apa yang dikatakan Mitch, saya beranggapan bahwa kendati saya tidak dapat memainkan alat musik, namun setidaknya saya menjadi bagian dari pertunjukkan musik itu sendiri: penonton. So, everyone joins a band in this life, right?

Sebagai pembuka konser, penonton disuguhi karya monumental seperti Small Town (1976) dan Lagu-Lagu Manis (1994). Selanjutnya, untuk membuncahkan rasa cinta kita terhadap Indonesia, Marzuki Pianistica memainkan dua karya piano dan orkestra berdasarkan melodi karya Ismail Marzuki (2012/2016).

Menjelang penampilan Ananda Sukarlan, pianis Stephanie Onggowinoto membawakan dua lagu yaitu “Indonesia Pusaka” dan “Selendang Sutra”. Lagu “Indonesia Pusaka” menjadi salah satu lagu yang menarik perhatian saya. Entah mengapa, sejak kecil saya selalu suka lagu itu. Semacam ada kekuatan sihir yang membuat saya takbosan-bosannya mendengarkan lagu gubahan Ismail Marzuki tersebut.

Sebelum memimpin “The Voyage to Maregé”, Ananda Sukarlan menyampaikan pidato singkat mengenai cerita orang-orang Makassar yang bertualang ke Australia untuk berdagang. “Orang-orang Makassar membawa rempah-rempah seperti pala, cengkeh, dan jenis rempah-rempah lainnya untuk di jual ke Australia. Harga rempah-rempah saat itu mahal sekali. Bahkan lebih mahal dibandingkan harga emas. Orang-orang Makassar ke Australia untuk berdagang,” jelas Ananda.

Selain menceritakan tentang hubungan bisnis tradisional antara Makassar dan Australia, “The Voyage to Maregé” juga bercerita tentang kehidupan suku asli Australia yaitu suku Aborigin. Cerita kehidupan suku Aborigin dituangkan dalam alunan musik beritme semangat serta diiringi dengan penampilan teatrikal dari dua aktor yang menyerupai suku Aborigin asli. Dari pertunjukan tersebut, kita dapat memasuki dimensi lampau bagaimana suku asli benua Kangguru tersebut berinteraksi, bersosialisasi, dan bertahan hidup.

Hal menarik lainnya dari konser yang digelar tepat malam takbiran menjelang Hari Raya Idul Adha tersebut yaitu, aransemen suara adzan yang dikemas dalam section: “The Arrival of Islam”. Kata Ananda, “Saya sengaja memasukkan section ini dalam konser malam ini. Saya ingin menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang damai.”

Saya jelas merinding ketika suara adzan diaransemen begitu indahnya. Terasa damai. Saya beruntung lahir di negara yang memiliki kemajemukan. Namun sayang, banyak orang di bumi pertiwi ini yang begitu antipati terhadap perbedaan. Bukankah pelangi terlihat indah lantaran setiap warna memancarkan warna yang berbeda-beda: me-ji-ku-hi-ni-bi-u!

Di negara ini, saya belajar untuk menghargai perbedaan untuk menghasilkan kolaborasi yang menakjubkan. Mengutip perkataan Harry Anggie, “Perbedaan itu indah.” Jadi, siapkah kita melejit dengan pondasi perbedaan?

Tonton cuplikan video konser pada tautan ini: The Voyage to Maregé.

Rindu di Masa Lalu

Past…. (Image Source: http://blog.stockspot.com.au)

Malam kian larut. Orang-orang telah pergi menjelajah jauh ke dimensi-dimensi yang takdapat dilacak oleh radar berteknologi tinggi. Sementara aku, masih saja terbangun lantaran sepasang mata ini sulit sekali diajak kompromi. Ada banyak potongan episode kehidupan yang melintas di benakku. Hal itu jelas mengusik rasa nyamanku. Entahlah, beberapa kejadian masa lalu tiba-tiba muncul lagi. Masa kecilku, tempat yang pernah aku datangi, tempat bermain, serta orang-orang yang pernah dekat denganku. Semua itu seolah menjadi kisah balik yang sulit sekali dienyahkan.

Semuanya seakan nyata. Terlihat dengan sangat jelas dan detil. Seakan bergerak. Memaksaku untuk kembali memasuki ruang itu. Namun dimensinya berbeda. Aku tidak ingin larut dalam bayangan-bayangan itu. Hanya membuatku lemah. Tapi mau bagaimana lagi, malam ini telah menyeret paksa diriku untuk hadir lagi pada masa-masa itu.

Apalah ini namanya. Sulit juga untuk menerjemahkannya. Namun ada satu hal yang membuat dadaku sesak. Aku rindu. Rindu dengan masa-masa indah yang pernah kulewati. Rindu dengan orang-orang hebat yang pernah dekat denganku. Semakin lama, aku pun semakin jauh memasuki dimensi indah itu. Ingin sekali rasanya bertahan. Enggan menyapa kondisi sekarang yang seolah terasa berbeda. Pada akhirnya pun aku takluk. Bernyanyi, bercengkrama dengan waktu yang seakan tidak pernah membisu.

Kondisi semacam ini bukan kali pertama aku alami. Berulang kali aku meyakinkan diri bahwa ini hanyalah sebuah perjalanan yang tidak nyata. Aku harus menyudahi. Tapi rasanya sulit sekali. Ingin berteriak bahwa aku ingin lepas dari rayuan masa lalu. Namun ia seakan takmau pergi. Memang pada hakikatnya semua yang terjadi di masa lalu dan masa sekarang jelas berbeda. Aku harus paham dengan keniscayaan itu.

Akan tetapi, biarkan aku mengenang. Jika dengan begitu membuatku jauh lebih baik. Tidak masalah jika hal itu akan hanya akan menambah ketidakberterimaan. Biarlah, biarkan aku mengenang. Setelah aku penat dengan masa kini yang menjemukan, aku ingin ia mengajakku mengelilingi keabadian hingga malam ini cepat berakhir.

Ps: Tulisan lama yang hanya mengendap di salah satu folder di laptop pada tanggal 10 Januari 2012.

Magical Lawu (Bagian 3)

Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Lawu

Oleh: Mahfud Achyar

IMG-20170123-WA0038
Puncak Gunung Lawu Berada di Ketinggian 3,265 Mdpl.

Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga. Nanang datang dengan langkah yang gontai mulai berjalan menghampiri kami. Ia tidak banyak bicara. Hanya menyapa sekadarnya kemudian membaringkan tubuhnya di atas tanah yang terasa dingin.

Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Pertanda senja merangkak malam. Saya biarkan Nanang beristirahat sejenak. Mengetahui Nanang baik-baik saja sudah membuat hati saya tentram. Saya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya. Apalagi ia belum makan siang. Ketika di pos 3, kami berulang kali memaksanya untuk makan siang. Namun sekeras apapun kami memaksanya, ia lebih keras lagi untuk menolaknya. “Gue makan bubur aja! Santai, kenyang kok!”

Bersahabat cukup lama dengan Nanang membuat saya mahfum bahwa dia memang cukup keras kepala. Namun apa boleh buat, bagaimanapun keras kepalanya Nanang, dia tetap baik dan menyenangkan.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Indra membuatkan teh hangat untuk kami bertiga. Cuaca dingin petang itu jelas membuat kami menggigil. Selain menikmati teh racikan Indra, kami juga menyantap cemilan berenergi tinggi. Sambil melihat dedaunan yang bergoyang-goyang, saya memikirkan nasib teman-teman saya yang sudah lebih dulu menuju pos 5. Saya berharap mereka sudah sampai di pos 5 dan sudah mendirikan tenda untuk kami.

Setelah dirasa cukup untuk istirahat dan memenuhi asupan energi, kami bertiga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Bagi saya pribadi, saya tidak begitu suka melakukan pendakian di malam hari. Entah apa sebab, saya merasa kurang nyaman. Mungkin karena saya hanya fokus terhadap jalanan setapak yang ada di depan saya. Sementara di sekeliling saya semuanya gelap. Penerangan seadanya membuat hati saya gusar. Untuk menepis gelisah yang membuncah, saya terus berdoa kepada Tuhan. Meminta pertolongan. Semoga perjalanan kami selamat.


Dan, drama baru dimulai.

 Kondisi fisik Nanang yang kurang prima memaksa kami untuk beristirahat dalam tempo yang terbilang sering.

“Nanang gak kuat, Yar!”

“Okay Nang, kita istirahat dulu ya!”

Momen selama istirahat kami gunakan untuk memulihkan energi, terutama Nanang. Berbekal air minum, cemilan, dan madu kami berharap kondisi fisik Nanang kian membaik. Memang tidak bisa dipaksakan untuk berjalan lebih cepat. Namun saya agak keras kepala untuk terus memaksa Nanang berjalan kendati dengan langkah yang teramat pelan.

Malam kian larut. Suasana di lereng hutan gunung Lawu terasa sangat sepi. Kami membisu. Tidak ada yang kami bicarakan selain berdialog secara intrapersonal. Saya hanya bisa berdizikir, memohon perlindungan dari Tuhan. Perasaan saya malam itu sungguh kalut. Ya, saya takut. Namun saya tepis rasa takut yang menggrogoti pikiran sehat saya. Perlahan, saya beranikan diri untuk terus berjalan di barisan paling depan.

Perjalanan menuju pos 5 terasa begitu lama. Bisa dikatakan perjalanan kami kurang mengenakkan. Beberapa kali, saya, Indra, dan Nanang beradu argumen. Misal, Nanang bersikukuh untuk ditinggal sendirian padahal mana mungkin hal tersebut terjadi. Saya berusaha berpikir logis. Mungkin jika saya yang mengalami kondisi serupa Nanang, saya akan melakukan hal yang sama. Namun saya terus memaksa agar kita terus berjalan hingga pos 5. Indra pun mendukung argumen saya. Nanang, sebagai satu-satunya suara minoritas mau tidak mau mengikuti kehendak kami.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami sepakat untuk mendirikan tenda bila menemukan lokasi yang agak luas. Kami terus berjalan hingga terhalang oleh pohon pinus yang tumbang. Di balik pohon, samar-samar saya melihat ada beberapa tenda yang berdiri. Sontak saya teriak memanggil nama Bowo. Selang beberapa detik, Bowo pun membalas panggilan saya.

“Iya Yar! Di sini!”

Saya lega, akhirnya kami tiba di pos 5 dengan selamat. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Saya, Indra, dan Bowo mendirikan tenda satu lagi sementara Nanang kami persilakan untuk makan malam dan istirahat.

Lelah. Saya ingin istirahat segera. Sebab besok, petualangan masih terus berlanjut.


IMG-20170128-WA0066
Selamat Pagi Hari yang Baru! (Foto Oleh: Saidah Humairo)

Habis gelap, terbitlah terang.

Hari yang baru menyapa. Minggu, 22 Januari 2017. Saya takjub. Ternyata kita berada di tengah-tengah padang savanna. Di sisi kiri dan kanan kami menjulang pohon-pohon pinus yang satu persatu daun-daunnya yang runcing berguguran. Saya sungguh menyukai lokasi perkemahan kami. Satu kata: tenang.

 

P1220810
Pos 5 Gunung Lawu via Candi Cetho (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
P1220827
Tenda, Rumah yang Sederhana di Gunung (Foto Oleh: Ardi Sadewo)
P1220770
Warna-Warni di Hamparan Savanna (Foto Oleh: Ardi Sadewo)
P1220778
Hutan Pinus yang Menjulang Tinggi (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Pukul 06.30 pagi. Kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Lawu yang berada di ketinggian 3,265 Mdpl. Namun sayang, Nanang memutuskan untuk tidak membersamai kami ke puncak. Ia lebih memilih untuk beristirahat di tenda dan berjanji akan menyuguhkan hidangan santap siang  yang menggugah selera. Kami menghargai pilihan Nanang dan berharap semoga ia bertugas dengan baik sebagai koki.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Lumut Tumbuhan Perintis (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Menuju puncak gunung Lawu, kami melewati padang savanna yang sungguh keren. Ah, apa kata yang paling tepat untuk mengekspresikan keindahan savanna di gunung Lawu selain kata amazing! Saya suka sekali savanna. Sungguh!

One of my favourite things is savanna. And I have to tell you that, darl!” 

P1220754
Hello, Savanna!
DSC_4808
Minus Indra dan Nanang.
DSC_4804
Imaji di Masa Kecil. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_4809.JPG
Lost in Savanna (Foto Oleh: Asih Juwariyah)
DSC_4818
Asih, Sai, dan Indra Riang Bersama.
DSC_4831
Jalur Menuju Pasar Dieng
DSC_4861
The Legend of Mbok Yem

Medan menuju puncak Lawu juga sangat-sangat menyenangkan. Hampir tidak ada tanjakan yang berarti. Kami hanya melewati savanna, hutan pinus, dan jalanan yang agak berbatu. Barangkali, summit ke puncak gunung Lawu merupakan summit yang paling mudah dibandingkan gunung-gunung lainnya yang sudah pernah saya daki.

Namun menukil perkataan Bowo bahwa medan pendakian gunung Lawu melalui candi Cetho itu mudah, saya ingin mengklarifikasinya bahwa itu hoax. Penipuan publik. Nyatanya yang mudah hanya jalur pendakian dari pos 5 hingga puncak. Sementara dari pos 1 hingga pos 5 cukup menguras perasaan, energi, dan juga akal sehat.

Sekitar pukul 9 pagi kami sudah sampai di puncak gunung Lawu. Horray! Berada di atas puncak membuat saya bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan anugrah kesehatan kepada saya sehingga saya masih bisa terus merangkak, berjalan, dan berlari. Tanpa anugrah sehat, mana mungkin saya telah menggapai puncak-puncak tertinggi di Indonesia.

DSC_4898
Pemandangan di Puncak Lawu (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Selain itu, saya juga bersyukur terlahir di negara yang begitu cantik. Namun sayang, tidak banyak orang menyadari bahwa ‘kepingan syurga untuk Indonesia’ sudah sepatutnya disyukuri dan dijaga.

“Today is your day! Your mountain is waiting. So…get on your way!” – Dr. Seuss.

(Selesai).


Dokumentasi lainnya:

P1220736.JPG
Resep Ala Chef Ardi

Magical Lawu (Bagian 2)

Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Lawu

Oleh: Mahfud Achyar

P1010622
Stasiun Solojebres, Jawa Tengah (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Solo, Jawa Tengah.

Pukul 01.54 dini hari kami tiba di stasiun Solojebres. Suasana stasiun sangat sepi. Hanya ada beberapa penumpang yang terlihat duduk di kursi-kursi yang berjejer rapi. Mereka terlihat kelelahan bercampur rasa kantuk yang taktertahankan. Hal demikian terpancar dengan sangat jelas dari mata mereka yang sayu, seolah takbernyawa. Mereka takubahnya seperti zombi-zombi yang bergentayangan di kala sepinya kota Solo.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jika akhir pekan tiba, gerbong kereta menuju Solo didominasi oleh para pendaki. (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Seorang petugas stasiun menghampir kami. Ia meminta kami untuk tidak beristirahat di dalam stasiun. Kamipun berkilah hanya beristirahat sejenak untuk meregangkan otot-otot kaki yang terasa tegang. Sepanjang perjalanan di kereta, kami tidak bisa tidur dengan nyenyak. Maklum, kursi kereta ekonomi tidak begitu empuk dengan sandaran punggung benar-benar tegak lurus. Namun saya memaksakan mata untuk terpejam agar tubuh saya prima untuk mendaki gunung Lawu.

P1010613
Istirahat sejenak di peron stasiun. (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Akhirnya dengan langkah gontai, kamipun ke luar stasiun sembari menghubungi Abah dan Sai untuk menanyakan posisi mereka saat itu. Maklum, mereka tidak turun di stasiun yang sama melainkan turun di stasiun Solo Balapan. Berhubung mereka belum tiba, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk salat Subuh kemudian baru menjemput mereka berdua.

Kami salat takjauh dari stasiun Solojebres. Lokasinya dekat pasar tradisional. Sebelum subuh, para pedagang sudah terlihat sibuk menjajakan dagangannya, mulai dari sayur-mayur, lauk-pauk, hingga kebutuhan dapur lainnya. Saya salut kepada mereka yang begitu bersemangat menjemput rezeki sementara saya seringkali bermalas-malasan. Menyedihkan.

Subuh di Solo berbeda dengan subuh di Jakarta. Langit tampak masih gelap namun semburat jingga samar-samar mulai menyapa hari yang baru. Usai salat, kami bergegas menjemput Abah dan Sai menggunakan mobil pick-up berwarna hitam.


P1010639.JPG
Menjemput Abah dan Sai di Stasiun Solo Balapan (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Angin pagi di kota Solo berhembus kencang. Seolah-olah menampar lembut wajah kami yang kelelahan. Sesampai di stasiun Solo Balapan, kami menyapa Abah dan Sai. Mereka terlihat begitu senang menyaksikan kedatangan kami, seolah seperti melihat sekumpulan pemain sirkus yang siap beraksi. Pagi itu, petualangan kami dimulai.


Sebagai informasi, gunung Lawu terletak di perbatasan dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung yang memiliki ketinggian 3, 265 meter dari permukaan laut (mdpl) tersebut memiliki tiga puncak, yaitu Puncak Hargo Dalam, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah.

Untuk menuju puncak gunung Lawu, para pendaki dapat melalui tiga jalur, yaitu Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, dan Candi Cetho. Lazimnya, para pendaki akan memilih jalur Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Beberapa catatan perjalanan pun merekomendasikan kedua jalur tersebut lantaran waktu tempuh jauh lebih singkat dibandingkan jalur melalui Candi Cetho. Namun karena sejak awal saya sudah jatuh cinta dengan savanna yang hanya bisa dilihat bila melalui Candi Cetho, maka kamipun memutuskan untuk menjadi pendaki yang tidak biasa.

“Tenang saja, walau jalur melalui Candi Cetho terhitung panjang, namun medannya landai. Tidak begitu sulit,” tandas Bowo suatu hari di grup percakapan instan WhatsApp. Kamipun hanya bisa mengiyakan karena sejak awal Bowo-lah yang bertugas meriset pendakian ke gunung Lawu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam menggunakan mobil pick-up, akhirnya kamipun tiba di Candi Cetho. Sepanjang perjalanan, mata saya disuguhi dengan pemandangan yang eyesgasm. Kebun teh terhampar luas, laiknya seperti karpet hijau yang berundak-undak. Berada di atas mobil pick-up terbuka memberikan kesempatan untuk saya menghirup oksigen segar sepuas-puasanya. Alhamdulillah, Sabtu pagi kala itu jelas sempurna. Tipikal pegunungan: romantis.

P1210696
Gapura Candi Cetho (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Sekitar pukul 07.00 pagi, setelah re-pack dan sarapan, kami bergegas untuk menuju pos pendaftaran pendakian. Untuk mencapai pos pendaftaran, kami harus menaiki anak tangga yang cukup membuat napas tersengal-sengal. Namun rasa lelah saat itu terbayar lunas saat kami melihat pelangi melengkung sempurna. Jarak pelangi terasa begitu dekat. Hampir jarang rasanya bisa melihat pelangi sedekat itu.

“Eits, jangan menunjuk pelangi! Nanti jari kita bisa bengkok!”

Tiba-tiba saya ingat pesan tidak masuk akal di masa kecil. Jika dipikir-pikir, ternyata masa kecil saya banyak dipenuhi kebohongan. Huhu.

16473315_10212120343794124_546635348014720085_n
Hello Rainbow! (Foto Oleh: Asih Juwariyah)

Setelah mendaftar dan membayar retribusi Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) sebesar  17 ribu, penjaga pos bertanya apakah kami akan melalui jalur berbeda ketika pulang.

“Sepertinya kita akan turun di Cemoro Kandang, Pak!”

“Oh jika begitu, nanti tinggal lapor bahwa kalian naik melalui jalur Candi Cetho. Nanti kami bisa melapor bahwa kalian sudah sampai selamat.”

“Iya siap pak, terima kasih.”

P1210722
Foto Bersama di Posko Pendakian (Foto Oleh: Bapak Petugas)

Sebelum mendaki, kamipun berdoa–berharap pendakian kami berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti. Langkah demi langkah mulai dikonversi menjadi hitungan meter. Kami melewati beberapa situs candi di kawasan candi Cetho yang dibangun pada masa akhir era Majapahit sekitar abad ke-15 masehi.

Keberadaaan candi Hindu di kaki gunung Lawu selain sebagai tujuan wisata juga sebagai tujuan ziarah. Takjarang banyak masyarakat sekitar menjadikan candi Cetho sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen. Sayangnya, kami tidak sempat berkeliling untuk melihat peninggalan kerajaan Majapahit tersebut. Maklum, waktu yang kami miliki sangat terbatas. Jadi mau tidak mau, kami harus mempercepat langkah agar bisa tiba mendirikan tenda sebelum matahari tenggelam.

DSC_4721
Candi Kethek, Salah Satu Candi di Kawasan Wisata Candi Cetho (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_4718
Foto Bersama di depan Candi Kethek. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Seperti biasa, awal-awal perjalanan memang terasa lebih berat. Sebab, kondisi tubuh sedang beradaptasi dengan beban berat yang bertumpu di punggung. Biasanya berdasarkan pengalaman saya, kondisi demikian tidak berlangsung lama. Jika tubuh sudah mulai bisa beradaptasi, langkah yang tadi berat mulai berangsur agak ringan (walau ini sebenarnya hanya sugesti).

Untuk menuju pos 5 (pos terakhir yang biasa dipilih para pendaki untuk mendirikan tenda), kita harus menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam. Namun durasi perjalanan bisa lebih cepat atau lambat bergantung pace kelompok. Berhubung kami semua sudah sering naik gunung, saya pun optimis bisa tiba di pos 5 sesuai jadwal.

Kami sampai di pos 1 sekitar pukul 9.30 WIB. Di sana, berdiri semacam shelter yang ditutupi spanduk-spanduk bekas. Keberadaan shelter tersebut sangat membantu kami terlindung dari hujan yang mulai turun. Sejenak kami beristirahat guna meregangkan otot-otot kaki yang mulai terasa penat. Setelah cukup puas beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan dengan medan yang kian berat.

DSC_4728
Pos 1 (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Sebetulnya, menurut saya, jalur pendakian melalui candi Cetho terbilang bersahabat. Betapa tidak, jalur pendakian sudah terlihat jelas sehingga memudahkan para pendaki untuk mencapai puncak tanpa harus takut tersesat. Selain itu, sepanjang pendakian kita juga dihibur dengan suara nyanyian alam yang berasal dari gesekan dedaunan yang tertiup angin gunung. Jika angin berhembus kencang, dedaunan bernyanyi dengan lebih lantang.

Jika tidak salah ingat, waktu tempuh dari pos 1 ke pos 2 kurang lebih 2,5 jam. Sama halnya di pos 1, kami hanya beristirahat sejenak di pos 2 kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Saat itu, hujan turun cukup lebat. Kondisi demikian menyebabkan langkah kami menjadi lambat. Betapa tidak, kami harus ekstra hati-hati lantaran kondisi jalanan yang licin, becek, dan sempit.

Sekitar pukul 15.00 WIB, kami pun berhasil sampai di pos 3. Seperti kesepakatan di pos 2, di pos 3 kami akan berhenti cukup lama untuk makan siang dan salat jamak qashar Dzuhur dan Ashar. Usai santap siang dan salat, saya mulai merasa udara dingin mulai menusuk tulang, terutama bagi saya yang sedikit memiliki cadangan lemak. Berulang kali saya menggesekkan kedua telapak tangan agar menghasilkan energi panas. Namun sayangnya energi panas yang saya hasilkan tidak begitu signifikan. Saya mulai menggigil padahal perjalanan menuju pos 5 masih panjang.

Ketika saya mendongakkan kepala ke atas, saya melihat langit terlihat mendung. Kabut tebal mulai menutupi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Jika angin berhembus, pohon-pohon tersebut mengeluarkan nada seperti suara ombak.

Saya berpikir apakah saat ini saya berada di gunung atau di pantai. Namun saya berusaha menyadarkan diri bahwa saya terlalu banyak mengkhayal. Berada di hutan yang tertutup kabut tebal membuat perasaan menjadi tenang, namun kadang saya juga merinding. Entah apa frasa  yang tepat untuk mewakili perasaan saya kala itu.

DSC_4745
Kabut dan Angin Kencang di Jalur Pendakian. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Untuk mengusik rasa lelah, saya alihkan perhatian saya dengan terus menerus melihat jarum jam. Saya berharap masih memiliki banyak waktu untuk bisa tiba di pos 5 sesuai rencana: sebelum matahari tenggelam. Saya pun mempercepat langkah seperti seorang buronan yang dikejar waktu. Masing-masing di antara kami mengeluarkan kemampuan endurance terbaik. Saya, Bowo, dan Ajuw berada di posisi tiga teratas kemudian disusul Indra, Sai, dan Abah. Lalu bagaimana dengan Nanang? Ia tertinggal jauh di belakang kami. Ia berteriak memecah kesunyian sore itu, “Duluan saja. Nanang menyusul!”

Kami pun mengiyakan permintaan Nanang dan membuat kesepakatan bahwa kami akan menunggunya di pos 4. Sekitar pukul 16.00 WIB, kami tiba di pos 4. Kami pun beristirahat sejenak, memotret pemandangan lembah gunung yang ditutupi kabut, dan berbincang sekenanya. Cukup lama kami menunggu Nanang, namun ia takkunjung tiba. Seorang pendaki yang baru saja tiba di pos 4 berkata kepada kami, “Mas, itu di bawah temannya ya?! Dia sendirian duduk dan jaraknya lumayan jauh. Apa tidak disusul saja mas?”

“Iya mas, itu teman kita. Tapi tidak masalah mas. Memang dia sering seperti itu jika mendaki gunung. Kami menunggu dia di sini.”

“Oh begitu mas.”

Pembicaraan pun usai.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Nanang yang dari tadi kami tunggu takkunjung datang. Padahal matahari akan tenggelam sementara kami belum berhasil menuju pos 5. Akhirnya, saya memutuskan untuk membagi dua tim. Saya dan Indra bertugas menunggu Nanang. Sementara Bowo, Asih, Abah, dan Sai melanjutkan perjalanan ke pos 5.

Sebetulnya, tidak baik beristirahat terlalu lama selama pendakian. Namun apa boleh buat, mau tidak mau kami harus bersabar menunggu Nanang. Sembari menunggu Nanang, saya dan Indra memutuskan untuk menghangatkan tubuh di perapian yang bersumber dari kompor gas portable. Saat asik-asiknya menghangatkan tubuh ditemani secangkir the hangat, tiba-tiba perut saya mulai bereaksi.

Ouch! Pertanda saatnya saya buang air besar. Ternyata kondisi serupa juga dialami Indra. Akhirnya kami memutuskan untuk sama-sama buang hajat dengan mencari lokasi terpisah dalam radius yang tidak begitu jauh. Indra memutuskan untuk membuat hajat di dalam semak belukar. Sementara saya memutuskan untuk buang air besar di pinggir jurang dengan pemandangan golden sunset. Bagi saya, barangkali saat itu momen buang air besar yang paling spesial.

Sudah senja. Nanang belum juga terlihat. Kami pun khawatir. (Bersambung)

DSC_4778
Pemandangan Sunset  (Foto Oleh: Mahfud Achyar)