Puluhan Januari Telah Terlewati

Processed with VSCO
Senja di Jakarta pada akhir Januari. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Saya adalah seorang pria pemuja kata-kata, sungguh. Saya selalu kagum dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah kalimat dan paragraf yang bermakna.

Sepekan yang lalu, saya menonton film yang berjudul “The Light Between Oceans,” sebuah film yang dirilis pada tahun 2016 yang diperankan dengan sangat baik oleh Michael Fassbender dan Alicia Vicander. Film tersebut berkisah tentang seorang penjaga mercusuar dan istrinya yang tinggal di sebuah pulau bernama Janus Rock. Dua tahun setelah pernikahan mereka, pasangan tersebut menemukan kapal sekoci yang membawa dua orang penumpang; seorang pria dan bayi perempuan. Bagaimana kisah selanjutnya? Silakan ditonton.

Akan tetapi, pada tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang-lebar tentang film yang mendapatkan rating 7,2 oleh satu situs IMDb. Lantas, apa yang ingin saya bagikan? Belakangan ini, saya terusik dengan sebuah pertanyaan, “Apakah standar utama yang membuat suatu karya, misalnya film, layak dinobatkan sebagai karya yang fenomenal?” Lama, lama sekali saya berpikir tentang hal tersebut hingga pada akhirnya saya menemukan simpulan yang paling tepat menurut perspektif saya sendiri. Bagi saya secara personal, film yang baik adalah film yang membuat saya merenung: memikirkan setiap dialog, adegan, dan semua tanda yang ditampilkan dalam film, baik kasat mata maupun tersirat.

Salah satu kutipan pada film “The Light Between Oceans” yang membuat saya impresif yaitu, “You only have to forgive once. To resent, you have to do it all day, every day.” Ungkapan ini membuat hati saya gusar. Membuat memori masa silam hadir kembali dengan cuplikan yang lebih utuh, lebih jelas. Ada banyak luka-luka di dalam hati saya yang belum sembuh hingga sekarang. Setiap hari, saya masih merasakan luka yang sama, tidak kurang sedikitpun. Berulang kali saya mencoba melupakannya. Nyatanya tidak semudah yang saya kira. Entahlah, barangkali saya memang belum bisa ikhlas atau mungkin masih ada hal yang belum tuntas. Saya pun tidak tahu harus menerjemahkannya seperti apa perasaan yang meliputi ruang hati saya. Namun satu hal yang pasti, saya memang harus mulai memaafkan dan berdamai dengan diri saya sendiri. Terkadang saya berpikir, saya terlalu keras dengan diri saya sendiri. Mulai hari ini, saat Januari telah pergi, saya mulai mencoba menjadi diri yang baru setiap harinya. Seorang anak manusia yang ingin memiliki hidup yang bahagia.

Januari, kini entah di orbit mana engkau berada? Saya pun alfa tentang hal itu. Ada satu rahasia yang ingin saya sampaikan padamu, “Tahukah kamu, kehadiranmu sungguh berarti. Engkau berada di dua garis yang berbeda. Satu wajahmu menghadap ke masa lalu (bulan Desember), satu lagi wajahmu menghadap ke masa depan (Februari). Bisakah kau sedikit mendoakan saya?

Jakarta,

1 Februari 2017

Advertisements

Merawat Kenangan

“Bagaimana bila kita sama sekali tidak bisa mengingat apa yang sudah kita alami?”

Source: http://images.gizmag.com/
Source: http://images.gizmag.com/

Semalam, saya sempatkan untuk menonton film di laptop. Sudah banyak sekali koleksi film yang menumpuk di external hard disk, namun belum sempat saya tonton. Pilihan saya jatuh pada film The Giver. Entahlah, mengapa saya harus menonton film ini. Padahal juga banyak film lain bisa ditonton. Ada semacam dorongan besar dari dalam saya untuk menonton film tersebut. Sesuatu yang sulit saya jelaskan. Berlebihan? Saya pikir juga begitu.

Film ini mengisahkan seorang pemuda bernama Jonas yang terpilih sebagai Penerima Kenangan. Ia mendapatkan hak prerogatif untuk mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelum lahirnya Komunitas. Berbagai kenangan diterima Jonas, baik itu kenangan yang manis, indah, menakutkan, bahkan kenangan memuakkan. Singkat cerita, ia berjuang untuk mengembalikan kenangan agar semua orang bisa kembali menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia yang lahir, tumbuh, dan berkembang dengan begitu banyak kenangan. Selesai menonton film ini, saya kemudian merenung. Dalam benak saya, begitu banyak pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya. Dan film ini cukup membantu saya untuk menemukan jawaban atas kegelisahan saya selama ini.

Saya pernah berpikir, mengapa Tuhan tidak menciptakan semua manusia baik. Mengapa harus ada permusuhan, pertengkaran, dan perperangan? Belakangan saya baru menyadari seutuhnya bahwa pada dasarnya fitrah manusia itu baik. Manusia adalah aktor dan decision maker dalam hidupnya. Tuhan memberikan kita kebebasan untuk memilih jalan yang kita suka. Dan jalan itu dipilih oleh segumpal darah yang ada di dalam tubuh kita. Segumpal darah yang orang-orang sering menyebutnya HATI. Maka, sebagai manusia kita diminta untuk merawat hati agar kita tidak salah memilih. Kata orang bijak, jika kau ragu dengan berbagai pilihan dalam hidupmu, maka cobalah tanya pada hatimu. Hati tidak pernah berbohong. Namun bagaimana bisa hatimu berkata jujur? Jika selama ini terlalu banyak noda yang mengotorinya. Sehingga kau sendiri tidak yakin apa yang dikatakan hati.

Sebelum kita lahir, bukankah kita pernah hidup di alam rahim? Lantas apa yang bisa kita ingat? Tidak secuil pun. Bahkan saya pun tidak bisa mengingat perjanjian suci dengan Tuhan ketika Ia meniupkan ruh ke dalam jasad saya. Pada saat itu, saya berjanji bahwa saya mengakui Allah sebagai Tuhan semesta alam. Saya pun menerima syarat dari-Nya atas tiga hal yaitu jodoh, rezeki, dan kematian. Ya itu janji yang pernah terjadi. Bukankah itu kenangan? Mengapa saya tidak mengingatnya sama sekali. Sembilan bulan hidup dalam rahim ibu, menerima asupan gizi dari uterus tentu saya memiliki kenangan, namun lagi-lagi saya tidak bisa mengingatnya. Di mana kenangan itu tersimpan? Apakah di otak? Tapi mustahil jika kenangan tersimpan di otak karena perkembangan otak janin baru dimulai saat ia berusia 8 minggu. Sebelum itu, apakah ia takmemiliki kenangan sama sekali?

Belakangan saya juga berpikir apakah kenangan-kenangan buruk bisa dihapus? Yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan indah dan baik. Sebab selama ini saya selalu terusik dengan kenangan buruk yang membuat hidup saya tidak bahagia, membuat saya gelisah, dan membuat saya merasa benci. Apa iya kita bisa menghapus kenangan? Mungkinkah cara kerja otak itu seperti hard disk? Jika kita ingin memperbaiki kenangan, kita tinggal klik kanan kemudian klik error checking, selanjutnya klik optimise and defragment, dan terakhir clean-up history yang menurut kita perlu dihapus. Sehingga yang tersisa hanyalah folder-folder kenangan yang baik. Bisakah semudah itu?

Film The Giver membuat saya sadar bahwa seharusnya kita tidak perlu memilih dan memilah kenangan. Semua manusia memiliki sisi hitam dan putih. Kenangan baik membuat kita merasa bahagia, kenangan buruk membuat kita belajar. Semua kenangan pada akhirnya membuat kita menjadi manusia yang bijak. Membuat kita menjadi Sang Perawat Kenangan. Biarkanlah kenangan baik itu terus terjaga dengan baik. Bila kita sedih dan marah, ingatlah kenangan yang indah dalam hidup kita. Sementara kita juga perlu merawat kenangan buruk. Mungkin ia taksesempurna kenangan baik. Ia layaknya seperti kupu-kupu yang memiliki sayap yang robek. Namun bukankah sayap yang robek bisa kita sembuhkan? Perlahan, biarkan kita merawat sayap yang robek itu. Mungkin ia tidak akan baik seutuhnya. Namun percayalah kondisinya akan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Setiap orang ibarat bulan. Memiliki sisi kelam yang takpernah ia tunjukkan pada siapa pun. Pun sungguh cukup bagi kita memandang sejuknya bulan pada sisi yang menghadap bumi.” – Salim A. Fillah

Tidak ada manusia yang sempurna. Kita dibangun oleh kenangan-kenangan yang berasal dari dalam diri kita. Kenangan yang kita sendiri tidak tahu mengapa ia hadir dan dimana ia bersembunyi. Pun jika kita merasa sakit di masa lalu, kita takusah bersikeras untuk melupakannya. Upaya maksimal yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan masa lalu. Saya percaya bahwa setiap cobaan yang dihadapi oleh manusia adalah proses untuk ia mendapatkan derajat yang lebih baik di mata Tuhan. Jika saya dan kita semua masih menerima cobaan yang sama, kita perlu memeriksa hati kita. Mungkin hati kita sudah bebal dengan begitu banyak kesalahan yang sudah kita perbuat.

Saya ingin menjadi perawat kenangan. Namun jika saya dihadapkan dengan pilihan bahwa saya harus kehilangan kenangan, saya meminta pada Tuhan untuk menyisakan satu kenangan terbaik yang pernah yang miliki. Sebuah kenangan yang saya sendiri kita yakin apakah kenangan ini benar-benar ada atau tidak.

Suatu malam pada tahun 2013, saya bermimpi bertemu dengan seorang pria paruh baya mengenakan baju putih seperti pakaian ihram. Namun saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Saya hanya bisa mendengar suaranya. Saat itu saya bertanya padanya, “Siapakah ini?” Dengan suara berat ia menjawab, “Nabi Muhammad saw.” Saya terbangun dari mimpi saya. Jantung saya berdetak lebih kencang, napas saya tidak teratur, dan malam itu saya sungguh gelisah. Apa mungkin saya bertemu dengan Sang Pembawa Pesan? Saya tidak yakin dengan mimpi saya. Sebab yang saya tahu selama ini, untuk berjumpa dengan Rasulullah, kendati di alam mimpi, tidaklah mudah. Barangkali hanya orang-orang khusus yang memiliki hak istimewa semacam itu. Sementara siapalah saya? Seorang anak manusia yang hari-harinya hanya disibukkan dengan persoalan dunia dan seringkali berbuat maksiat.

Namun, jika pun kenangan itu taknyata. Saya tetap bahagia karena saya memiliki kenangan yang mungkin taksemua orang punya. Kenangan terbaik yang akan selalu saya rawat hingga kapan pun. Saya percaya, setiap orang memiliki kenangan-kenangan personal yang akan terus mereka rawat. Seperti Harry yang begitu mencintai kenangan saat ia dipeluk oleh kedua orang tuanya. Kenangan terbaik tersebut menjadi pancaran cahaya “Expecto Patronoum!” ketika merasa tertekan oleh kehadiran Dementor.

“Kenangan itu merupakan kebenaran.” – Jonas.

Tulisan ini mungkin sedikit rumit. Saya pun begitu sulit mencerna dan mengurainya untuk menjadi sebuah pesan yang mudah dipahami.

Menghapus Memori

Jakarta, (Rabu, 2 Mei 2012)

Andai otak sama halnya seperti perangkat memori PC atau USB, apa yang akan kau lakukan?

Kalau aku, aku akan membersihkannya menggunakan anti virus terbaik dan tercanggih saat ini. Mungkin, ada sejenis virus Trojan yang bersarang di dalam otakku. Atau mungkin, ada virus yang lebih harmful. Jika iya, maka aku tidak akan ragu-ragu untuk menghapusnya. Aku tidak akan mengquarantine virus-virus tersebut. Aku akan langsung menghapusnya, tidak bersisa satu pun. Dan jika sudah, aku ingin sekali lagi memastikan bahwa tidak ada satu pun virus yang masih bersarang di otakku. Jika sudah tidak ada lagi, aku akan melakukan scanning secara mendalam pada seluruh bagian otak. Otak kanan, otak tengah, dan otak kiri. Jika sudah, aku akan melakukan check terhadap bagian memori yang error. Kemudian, aku akan mendefragment untuk memulihkan bagian komponen otak yang bermasalah atau nyaris akan bermasalah. Setelah itu, aku akan melihat apa yang ada di dalam otakku.

conscious (source: google)

Waw! Banyak sekali kenangan yang tersimpan dengan baik di sana. Kemudian, untuk memudahkan penelusurin, aku akan menthumbnail file-file tersebut. Hingga akhirnya aku bisa memilih, mana kenangan yang harus dihapus dan mana yang harus diback-up di tempat terbaik. Kenangan yang sudah terhapus tadi, akan kuhapus ulang di folder recycle bin. Aku hanya memastikan, tidak ada yang merestore kenangan tadi untuk kemudian kembali ke dalam otakku. Dan aku pun sekarang hanya menyimpan kenangan-kenangan baik saja. Aku pun tidak akan pernah ingat bahwa ada kenangan buruk yang pernah aku alami.

Ah, andaikan otak seperti itu. Tapi bagaimana mungkin. Otak tidak akan bisa disamakan dengan seperangkat memori PC atau USB. Karena otak memiliki kompleksitas yang tersusun dari milyaran sel syaraf yang menghubungkan kita dengan memori terdahulu. Atau mungkin, ada cara yang masuk akal untuk melakukan apa yang kubilang tadi?

Hm, baiklah.

Isyarat untuk Tuhan

Jakarta, 03 April 2012 |Pukul 10: 52 PM.

Tinta pena sudah mengering, lembaran kertas kosong sudah takada ruang untuk ditulis dan tidak bisa pula untuk dihapus. Kitab itu sudah ditutup dan disimpan dalam berangkas-Nya. Kau tahu, bahwa pintu langit terkunci rapat. Entah siapa pemegang kuncinya. Segala rahasia tersimpan dengan baik. Taksatu pun setan yang tahu. Sementara itu, para abdi-Nya hanya bisa menunggu titah, kemudian berbuat.

Tengoklah hari kemarin, kini, atau esok. Tidak ada yang tahu jalan ceritanya. Bahkan, mengira-ngira pun takkuasa karena itulah garis batas kemampuan kita. Rasakanlah dengan sepenuh hati, ada yang takbiasa pada angin malam ini. Bisikannya bernada kelu. Dulu, ia merayu mesra, mencumbu lekat syaraf ubun hingga ujung kuku kaki. Besok siang datang menyapa. Ia ditemani penjaga bernama mentari. Tapi dia mendongak ke atas untuk menatap sinis pada bintang.

Aduhai pepohonan, pinjamilah aku kuasmu. Aduhai samudra, bisakah kuteguk sedikit sejukmu pelepas dahagaku? Aduhai langit luas, biarkan kujadikan punggungmu sebagai kanvas. Aku ingin melukis dengan sedikit warna indah pelangi dan sentuhan suci bidadari.

Lalu kau hujan, kau hadir tanpa permisi untuk melunturkan sekelumat imajinasi, mengangkasa bersama kabut. Rintikmu meniadakan harapan, hilang takberbekas.
aku berteriak, pada jutaan sabda alam.

“Apa maumu, hah?”

Letih dan papah telah menjadi kawan akrab. Kini, mereka bersatu padu dan berpeluk mesra. Lirih, aku berbisik dalam kalimat berpendar, “Tuhan, aku khawatir tidak jeli menangkap isyarat yang kau kirim pada fajar.”

Nasehat untuk Hati

Contemplation
Contemplation

Nasehat untuk Hati

Orang mulia menyalahkan dirinya, orang bodoh menyalahkan orang lain. Mengenal diri yang paling penting, adalah utama demi kesadaran hati. Berarti pula memahami kesalahan, serta kekeliruan masing-masing. Semakin banyak yang dipikirkan. Semakin banyak yang dibutuhkan. Berarti semakin menumpuk pula resikonya.

Semua yang ada di sekitar kita, meskipun tinggi nilainya, tidak ada artinya sama sekali. Tampaknya seakan semua gersang, jika kita terjangkit penyakit bosan. Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga, belum tentu bagus. Rata-rata, ternyata kesadaran itu lahirnya di ujung derita. Pedih bermula. Tetapi jika kita mampu menerimanya ternyata kita berada dalam pelukan Tuhan.

Yang kemarin, hanya ada dalam ingatan. Untuk besok, hanya kamu yang mampu dengan harapan. Yang sekarang, ini adalah yang sebenarnya. Dimana kamu harus terima, dengan penuh kesadarannya. Siapa sekarang yang tidak ingin membuka mata, besokpun akan tetap buta. Mengerti adalah syarat yang paling minimal.

Tetapi, mengerti saja apakah sudah cukup?

Anda harus ungkapkan perasaan hati Anda. Agar orang lain dapat mengetahui bahwa ia telah melukai hati Anda. Kemudian segera menyelesaikannya. Jangan menyimpannya. Berapa lamakah Anda dapat menyimpannya? Hawa kemarahan yang tertimbun dalam hati Anda dapat terbawa dari satu. kelahiran ke kelahiran berikutnya. Hingga suatu saat, jika hawa itu sangat besar, Anda bisa terlahir menjadi binatang. Jenis binatang yang sangat buas. Itu hanya disebabkan sentimen marah Anda tidak segera dihapuskan. Maka janganlah meremehkan hal ini. Itu adalah konsep pikiran yang salah. Janganlah merasa terlalu kecewa, tetapi jalanilah hidup setiap saat dengan sepenuh hati kamu. Apapun yang mesti kamu lakukan, lakukan dengan penuh ketulusan.

Benci takhilangkan kenangan yang tercipta. Benci takluluhkan hati yang mencinta. Benci hanya timbulkan rasa gundah di hati. Benci hanya hasilkan kebencian itu sendiri. Kemana akan kubawa hati ini. Hati yang penuh dengan kegundahan karena benci. Mengapa hati manusia bisa terluka. Mengapa manusia takhanya diberi bahagia. Seperti seorang Gibran pernah berkata tentang cinta. Biarkanlah dia memelukmu walaupun pedang di balik sayapnya melukaimu. Cinta takhanya memberi kebahagian. Tapi juga memberi kesedihan. Tapi kadang kesedihan yang diberikan cinta.

Adalah satu kebahagiaan seorang pecinta

Boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia teramat buruk bagimu. Dan bisa jadi kamu membenci sesuatu, tetapi sebenarnya ia baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak tahu banyak.