Magical Lawu (Bagian 3)

Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Lawu

Oleh: Mahfud Achyar

IMG-20170123-WA0038
Puncak Gunung Lawu Berada di Ketinggian 3,265 Mdpl.

Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga. Nanang datang dengan langkah yang gontai mulai berjalan menghampiri kami. Ia tidak banyak bicara. Hanya menyapa sekadarnya kemudian membaringkan tubuhnya di atas tanah yang terasa dingin.

Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Pertanda senja merangkak malam. Saya biarkan Nanang beristirahat sejenak. Mengetahui Nanang baik-baik saja sudah membuat hati saya tentram. Saya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya. Apalagi ia belum makan siang. Ketika di pos 3, kami berulang kali memaksanya untuk makan siang. Namun sekeras apapun kami memaksanya, ia lebih keras lagi untuk menolaknya. “Gue makan bubur aja! Santai, kenyang kok!”

Bersahabat cukup lama dengan Nanang membuat saya mahfum bahwa dia memang cukup keras kepala. Namun apa boleh buat, bagaimanapun keras kepalanya Nanang, dia tetap baik dan menyenangkan.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Indra membuatkan teh hangat untuk kami bertiga. Cuaca dingin petang itu jelas membuat kami menggigil. Selain menikmati teh racikan Indra, kami juga menyantap cemilan berenergi tinggi. Sambil melihat dedaunan yang bergoyang-goyang, saya memikirkan nasib teman-teman saya yang sudah lebih dulu menuju pos 5. Saya berharap mereka sudah sampai di pos 5 dan sudah mendirikan tenda untuk kami.

Setelah dirasa cukup untuk istirahat dan memenuhi asupan energi, kami bertiga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Bagi saya pribadi, saya tidak begitu suka melakukan pendakian di malam hari. Entah apa sebab, saya merasa kurang nyaman. Mungkin karena saya hanya fokus terhadap jalanan setapak yang ada di depan saya. Sementara di sekeliling saya semuanya gelap. Penerangan seadanya membuat hati saya gusar. Untuk menepis gelisah yang membuncah, saya terus berdoa kepada Tuhan. Meminta pertolongan. Semoga perjalanan kami selamat.


Dan, drama baru dimulai.

 Kondisi fisik Nanang yang kurang prima memaksa kami untuk beristirahat dalam tempo yang terbilang sering.

“Nanang gak kuat, Yar!”

“Okay Nang, kita istirahat dulu ya!”

Momen selama istirahat kami gunakan untuk memulihkan energi, terutama Nanang. Berbekal air minum, cemilan, dan madu kami berharap kondisi fisik Nanang kian membaik. Memang tidak bisa dipaksakan untuk berjalan lebih cepat. Namun saya agak keras kepala untuk terus memaksa Nanang berjalan kendati dengan langkah yang teramat pelan.

Malam kian larut. Suasana di lereng hutan gunung Lawu terasa sangat sepi. Kami membisu. Tidak ada yang kami bicarakan selain berdialog secara intrapersonal. Saya hanya bisa berdizikir, memohon perlindungan dari Tuhan. Perasaan saya malam itu sungguh kalut. Ya, saya takut. Namun saya tepis rasa takut yang menggrogoti pikiran sehat saya. Perlahan, saya beranikan diri untuk terus berjalan di barisan paling depan.

Perjalanan menuju pos 5 terasa begitu lama. Bisa dikatakan perjalanan kami kurang mengenakkan. Beberapa kali, saya, Indra, dan Nanang beradu argumen. Misal, Nanang bersikukuh untuk ditinggal sendirian padahal mana mungkin hal tersebut terjadi. Saya berusaha berpikir logis. Mungkin jika saya yang mengalami kondisi serupa Nanang, saya akan melakukan hal yang sama. Namun saya terus memaksa agar kita terus berjalan hingga pos 5. Indra pun mendukung argumen saya. Nanang, sebagai satu-satunya suara minoritas mau tidak mau mengikuti kehendak kami.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami sepakat untuk mendirikan tenda bila menemukan lokasi yang agak luas. Kami terus berjalan hingga terhalang oleh pohon pinus yang tumbang. Di balik pohon, samar-samar saya melihat ada beberapa tenda yang berdiri. Sontak saya teriak memanggil nama Bowo. Selang beberapa detik, Bowo pun membalas panggilan saya.

“Iya Yar! Di sini!”

Saya lega, akhirnya kami tiba di pos 5 dengan selamat. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Saya, Indra, dan Bowo mendirikan tenda satu lagi sementara Nanang kami persilakan untuk makan malam dan istirahat.

Lelah. Saya ingin istirahat segera. Sebab besok, petualangan masih terus berlanjut.


IMG-20170128-WA0066
Selamat Pagi Hari yang Baru! (Foto Oleh: Saidah Humairo)

Habis gelap, terbitlah terang.

Hari yang baru menyapa. Minggu, 22 Januari 2017. Saya takjub. Ternyata kita berada di tengah-tengah padang savanna. Di sisi kiri dan kanan kami menjulang pohon-pohon pinus yang satu persatu daun-daunnya yang runcing berguguran. Saya sungguh menyukai lokasi perkemahan kami. Satu kata: tenang.

 

P1220810
Pos 5 Gunung Lawu via Candi Cetho (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
P1220827
Tenda, Rumah yang Sederhana di Gunung (Foto Oleh: Ardi Sadewo)
P1220770
Warna-Warni di Hamparan Savanna (Foto Oleh: Ardi Sadewo)
P1220778
Hutan Pinus yang Menjulang Tinggi (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Pukul 06.30 pagi. Kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Lawu yang berada di ketinggian 3,265 Mdpl. Namun sayang, Nanang memutuskan untuk tidak membersamai kami ke puncak. Ia lebih memilih untuk beristirahat di tenda dan berjanji akan menyuguhkan hidangan santap siang  yang menggugah selera. Kami menghargai pilihan Nanang dan berharap semoga ia bertugas dengan baik sebagai koki.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Lumut Tumbuhan Perintis (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Menuju puncak gunung Lawu, kami melewati padang savanna yang sungguh keren. Ah, apa kata yang paling tepat untuk mengekspresikan keindahan savanna di gunung Lawu selain kata amazing! Saya suka sekali savanna. Sungguh!

One of my favourite things is savanna. And I have to tell you that, darl!” 

P1220754
Hello, Savanna!
DSC_4808
Minus Indra dan Nanang.
DSC_4804
Imaji di Masa Kecil. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_4809.JPG
Lost in Savanna (Foto Oleh: Asih Juwariyah)
DSC_4818
Asih, Sai, dan Indra Riang Bersama.
DSC_4831
Jalur Menuju Pasar Dieng
DSC_4861
The Legend of Mbok Yem

Medan menuju puncak Lawu juga sangat-sangat menyenangkan. Hampir tidak ada tanjakan yang berarti. Kami hanya melewati savanna, hutan pinus, dan jalanan yang agak berbatu. Barangkali, summit ke puncak gunung Lawu merupakan summit yang paling mudah dibandingkan gunung-gunung lainnya yang sudah pernah saya daki.

Namun menukil perkataan Bowo bahwa medan pendakian gunung Lawu melalui candi Cetho itu mudah, saya ingin mengklarifikasinya bahwa itu hoax. Penipuan publik. Nyatanya yang mudah hanya jalur pendakian dari pos 5 hingga puncak. Sementara dari pos 1 hingga pos 5 cukup menguras perasaan, energi, dan juga akal sehat.

Sekitar pukul 9 pagi kami sudah sampai di puncak gunung Lawu. Horray! Berada di atas puncak membuat saya bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan anugrah kesehatan kepada saya sehingga saya masih bisa terus merangkak, berjalan, dan berlari. Tanpa anugrah sehat, mana mungkin saya telah menggapai puncak-puncak tertinggi di Indonesia.

DSC_4898
Pemandangan di Puncak Lawu (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Selain itu, saya juga bersyukur terlahir di negara yang begitu cantik. Namun sayang, tidak banyak orang menyadari bahwa ‘kepingan syurga untuk Indonesia’ sudah sepatutnya disyukuri dan dijaga.

“Today is your day! Your mountain is waiting. So…get on your way!” – Dr. Seuss.

(Selesai).


Dokumentasi lainnya:

P1220736.JPG
Resep Ala Chef Ardi
Advertisements

Magical Lawu (Bagian 2)

Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Lawu

Oleh: Mahfud Achyar

P1010622
Stasiun Solojebres, Jawa Tengah (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Solo, Jawa Tengah.

Pukul 01.54 dini hari kami tiba di stasiun Solojebres. Suasana stasiun sangat sepi. Hanya ada beberapa penumpang yang terlihat duduk di kursi-kursi yang berjejer rapi. Mereka terlihat kelelahan bercampur rasa kantuk yang taktertahankan. Hal demikian terpancar dengan sangat jelas dari mata mereka yang sayu, seolah takbernyawa. Mereka takubahnya seperti zombi-zombi yang bergentayangan di kala sepinya kota Solo.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jika akhir pekan tiba, gerbong kereta menuju Solo didominasi oleh para pendaki. (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Seorang petugas stasiun menghampir kami. Ia meminta kami untuk tidak beristirahat di dalam stasiun. Kamipun berkilah hanya beristirahat sejenak untuk meregangkan otot-otot kaki yang terasa tegang. Sepanjang perjalanan di kereta, kami tidak bisa tidur dengan nyenyak. Maklum, kursi kereta ekonomi tidak begitu empuk dengan sandaran punggung benar-benar tegak lurus. Namun saya memaksakan mata untuk terpejam agar tubuh saya prima untuk mendaki gunung Lawu.

P1010613
Istirahat sejenak di peron stasiun. (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Akhirnya dengan langkah gontai, kamipun ke luar stasiun sembari menghubungi Abah dan Sai untuk menanyakan posisi mereka saat itu. Maklum, mereka tidak turun di stasiun yang sama melainkan turun di stasiun Solo Balapan. Berhubung mereka belum tiba, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk salat Subuh kemudian baru menjemput mereka berdua.

Kami salat takjauh dari stasiun Solojebres. Lokasinya dekat pasar tradisional. Sebelum subuh, para pedagang sudah terlihat sibuk menjajakan dagangannya, mulai dari sayur-mayur, lauk-pauk, hingga kebutuhan dapur lainnya. Saya salut kepada mereka yang begitu bersemangat menjemput rezeki sementara saya seringkali bermalas-malasan. Menyedihkan.

Subuh di Solo berbeda dengan subuh di Jakarta. Langit tampak masih gelap namun semburat jingga samar-samar mulai menyapa hari yang baru. Usai salat, kami bergegas menjemput Abah dan Sai menggunakan mobil pick-up berwarna hitam.


P1010639.JPG
Menjemput Abah dan Sai di Stasiun Solo Balapan (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Angin pagi di kota Solo berhembus kencang. Seolah-olah menampar lembut wajah kami yang kelelahan. Sesampai di stasiun Solo Balapan, kami menyapa Abah dan Sai. Mereka terlihat begitu senang menyaksikan kedatangan kami, seolah seperti melihat sekumpulan pemain sirkus yang siap beraksi. Pagi itu, petualangan kami dimulai.


Sebagai informasi, gunung Lawu terletak di perbatasan dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung yang memiliki ketinggian 3, 265 meter dari permukaan laut (mdpl) tersebut memiliki tiga puncak, yaitu Puncak Hargo Dalam, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah.

Untuk menuju puncak gunung Lawu, para pendaki dapat melalui tiga jalur, yaitu Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, dan Candi Cetho. Lazimnya, para pendaki akan memilih jalur Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Beberapa catatan perjalanan pun merekomendasikan kedua jalur tersebut lantaran waktu tempuh jauh lebih singkat dibandingkan jalur melalui Candi Cetho. Namun karena sejak awal saya sudah jatuh cinta dengan savanna yang hanya bisa dilihat bila melalui Candi Cetho, maka kamipun memutuskan untuk menjadi pendaki yang tidak biasa.

“Tenang saja, walau jalur melalui Candi Cetho terhitung panjang, namun medannya landai. Tidak begitu sulit,” tandas Bowo suatu hari di grup percakapan instan WhatsApp. Kamipun hanya bisa mengiyakan karena sejak awal Bowo-lah yang bertugas meriset pendakian ke gunung Lawu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam menggunakan mobil pick-up, akhirnya kamipun tiba di Candi Cetho. Sepanjang perjalanan, mata saya disuguhi dengan pemandangan yang eyesgasm. Kebun teh terhampar luas, laiknya seperti karpet hijau yang berundak-undak. Berada di atas mobil pick-up terbuka memberikan kesempatan untuk saya menghirup oksigen segar sepuas-puasanya. Alhamdulillah, Sabtu pagi kala itu jelas sempurna. Tipikal pegunungan: romantis.

P1210696
Gapura Candi Cetho (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Sekitar pukul 07.00 pagi, setelah re-pack dan sarapan, kami bergegas untuk menuju pos pendaftaran pendakian. Untuk mencapai pos pendaftaran, kami harus menaiki anak tangga yang cukup membuat napas tersengal-sengal. Namun rasa lelah saat itu terbayar lunas saat kami melihat pelangi melengkung sempurna. Jarak pelangi terasa begitu dekat. Hampir jarang rasanya bisa melihat pelangi sedekat itu.

“Eits, jangan menunjuk pelangi! Nanti jari kita bisa bengkok!”

Tiba-tiba saya ingat pesan tidak masuk akal di masa kecil. Jika dipikir-pikir, ternyata masa kecil saya banyak dipenuhi kebohongan. Huhu.

16473315_10212120343794124_546635348014720085_n
Hello Rainbow! (Foto Oleh: Asih Juwariyah)

Setelah mendaftar dan membayar retribusi Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) sebesar  17 ribu, penjaga pos bertanya apakah kami akan melalui jalur berbeda ketika pulang.

“Sepertinya kita akan turun di Cemoro Kandang, Pak!”

“Oh jika begitu, nanti tinggal lapor bahwa kalian naik melalui jalur Candi Cetho. Nanti kami bisa melapor bahwa kalian sudah sampai selamat.”

“Iya siap pak, terima kasih.”

P1210722
Foto Bersama di Posko Pendakian (Foto Oleh: Bapak Petugas)

Sebelum mendaki, kamipun berdoa–berharap pendakian kami berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti. Langkah demi langkah mulai dikonversi menjadi hitungan meter. Kami melewati beberapa situs candi di kawasan candi Cetho yang dibangun pada masa akhir era Majapahit sekitar abad ke-15 masehi.

Keberadaaan candi Hindu di kaki gunung Lawu selain sebagai tujuan wisata juga sebagai tujuan ziarah. Takjarang banyak masyarakat sekitar menjadikan candi Cetho sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen. Sayangnya, kami tidak sempat berkeliling untuk melihat peninggalan kerajaan Majapahit tersebut. Maklum, waktu yang kami miliki sangat terbatas. Jadi mau tidak mau, kami harus mempercepat langkah agar bisa tiba mendirikan tenda sebelum matahari tenggelam.

DSC_4721
Candi Kethek, Salah Satu Candi di Kawasan Wisata Candi Cetho (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_4718
Foto Bersama di depan Candi Kethek. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Seperti biasa, awal-awal perjalanan memang terasa lebih berat. Sebab, kondisi tubuh sedang beradaptasi dengan beban berat yang bertumpu di punggung. Biasanya berdasarkan pengalaman saya, kondisi demikian tidak berlangsung lama. Jika tubuh sudah mulai bisa beradaptasi, langkah yang tadi berat mulai berangsur agak ringan (walau ini sebenarnya hanya sugesti).

Untuk menuju pos 5 (pos terakhir yang biasa dipilih para pendaki untuk mendirikan tenda), kita harus menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam. Namun durasi perjalanan bisa lebih cepat atau lambat bergantung pace kelompok. Berhubung kami semua sudah sering naik gunung, saya pun optimis bisa tiba di pos 5 sesuai jadwal.

Kami sampai di pos 1 sekitar pukul 9.30 WIB. Di sana, berdiri semacam shelter yang ditutupi spanduk-spanduk bekas. Keberadaan shelter tersebut sangat membantu kami terlindung dari hujan yang mulai turun. Sejenak kami beristirahat guna meregangkan otot-otot kaki yang mulai terasa penat. Setelah cukup puas beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan dengan medan yang kian berat.

DSC_4728
Pos 1 (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Sebetulnya, menurut saya, jalur pendakian melalui candi Cetho terbilang bersahabat. Betapa tidak, jalur pendakian sudah terlihat jelas sehingga memudahkan para pendaki untuk mencapai puncak tanpa harus takut tersesat. Selain itu, sepanjang pendakian kita juga dihibur dengan suara nyanyian alam yang berasal dari gesekan dedaunan yang tertiup angin gunung. Jika angin berhembus kencang, dedaunan bernyanyi dengan lebih lantang.

Jika tidak salah ingat, waktu tempuh dari pos 1 ke pos 2 kurang lebih 2,5 jam. Sama halnya di pos 1, kami hanya beristirahat sejenak di pos 2 kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Saat itu, hujan turun cukup lebat. Kondisi demikian menyebabkan langkah kami menjadi lambat. Betapa tidak, kami harus ekstra hati-hati lantaran kondisi jalanan yang licin, becek, dan sempit.

Sekitar pukul 15.00 WIB, kami pun berhasil sampai di pos 3. Seperti kesepakatan di pos 2, di pos 3 kami akan berhenti cukup lama untuk makan siang dan salat jamak qashar Dzuhur dan Ashar. Usai santap siang dan salat, saya mulai merasa udara dingin mulai menusuk tulang, terutama bagi saya yang sedikit memiliki cadangan lemak. Berulang kali saya menggesekkan kedua telapak tangan agar menghasilkan energi panas. Namun sayangnya energi panas yang saya hasilkan tidak begitu signifikan. Saya mulai menggigil padahal perjalanan menuju pos 5 masih panjang.

Ketika saya mendongakkan kepala ke atas, saya melihat langit terlihat mendung. Kabut tebal mulai menutupi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Jika angin berhembus, pohon-pohon tersebut mengeluarkan nada seperti suara ombak.

Saya berpikir apakah saat ini saya berada di gunung atau di pantai. Namun saya berusaha menyadarkan diri bahwa saya terlalu banyak mengkhayal. Berada di hutan yang tertutup kabut tebal membuat perasaan menjadi tenang, namun kadang saya juga merinding. Entah apa frasa  yang tepat untuk mewakili perasaan saya kala itu.

DSC_4745
Kabut dan Angin Kencang di Jalur Pendakian. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Untuk mengusik rasa lelah, saya alihkan perhatian saya dengan terus menerus melihat jarum jam. Saya berharap masih memiliki banyak waktu untuk bisa tiba di pos 5 sesuai rencana: sebelum matahari tenggelam. Saya pun mempercepat langkah seperti seorang buronan yang dikejar waktu. Masing-masing di antara kami mengeluarkan kemampuan endurance terbaik. Saya, Bowo, dan Ajuw berada di posisi tiga teratas kemudian disusul Indra, Sai, dan Abah. Lalu bagaimana dengan Nanang? Ia tertinggal jauh di belakang kami. Ia berteriak memecah kesunyian sore itu, “Duluan saja. Nanang menyusul!”

Kami pun mengiyakan permintaan Nanang dan membuat kesepakatan bahwa kami akan menunggunya di pos 4. Sekitar pukul 16.00 WIB, kami tiba di pos 4. Kami pun beristirahat sejenak, memotret pemandangan lembah gunung yang ditutupi kabut, dan berbincang sekenanya. Cukup lama kami menunggu Nanang, namun ia takkunjung tiba. Seorang pendaki yang baru saja tiba di pos 4 berkata kepada kami, “Mas, itu di bawah temannya ya?! Dia sendirian duduk dan jaraknya lumayan jauh. Apa tidak disusul saja mas?”

“Iya mas, itu teman kita. Tapi tidak masalah mas. Memang dia sering seperti itu jika mendaki gunung. Kami menunggu dia di sini.”

“Oh begitu mas.”

Pembicaraan pun usai.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Nanang yang dari tadi kami tunggu takkunjung datang. Padahal matahari akan tenggelam sementara kami belum berhasil menuju pos 5. Akhirnya, saya memutuskan untuk membagi dua tim. Saya dan Indra bertugas menunggu Nanang. Sementara Bowo, Asih, Abah, dan Sai melanjutkan perjalanan ke pos 5.

Sebetulnya, tidak baik beristirahat terlalu lama selama pendakian. Namun apa boleh buat, mau tidak mau kami harus bersabar menunggu Nanang. Sembari menunggu Nanang, saya dan Indra memutuskan untuk menghangatkan tubuh di perapian yang bersumber dari kompor gas portable. Saat asik-asiknya menghangatkan tubuh ditemani secangkir the hangat, tiba-tiba perut saya mulai bereaksi.

Ouch! Pertanda saatnya saya buang air besar. Ternyata kondisi serupa juga dialami Indra. Akhirnya kami memutuskan untuk sama-sama buang hajat dengan mencari lokasi terpisah dalam radius yang tidak begitu jauh. Indra memutuskan untuk membuat hajat di dalam semak belukar. Sementara saya memutuskan untuk buang air besar di pinggir jurang dengan pemandangan golden sunset. Bagi saya, barangkali saat itu momen buang air besar yang paling spesial.

Sudah senja. Nanang belum juga terlihat. Kami pun khawatir. (Bersambung)

DSC_4778
Pemandangan Sunset  (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

 

Magical Lawu (Bagian 1)

Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Lawu

Oleh: Mahfud Achyar

L-R: Achyar, Indra, Asih, Rendi, Nanang, Bowo, dan Sai

Adakah terminologi selain kata ‘candu’ untuk menggambarkan hasrat ingin naik gunung lagi, lagi, dan lagi. Padahal, saya paham betul, naik gunung itu luar biasa melelahkan. Terkadang, saat napas tersengal-sengal, saya bergumam dalam hati, “Saya kapok naik gunung. Saya tidak akan naik gunung lagi untuk waktu yang cukup lama.” Namun entah bagaimana, entah seperti apa cara kerjanya, sepekan setelah naik gunung saya kembali terobesesi untuk mendaki puncak-puncak gunung selanjutnya. Yep, begitulah yang saya alami sejak jatuh cinta pada aktivitas mendaki gunung.

Candu yang membawa rindu.

Gunung Lawu. Sebetulnya, sudah lama sekali saya ingin ke sana. Masih lekat di benak saya, pada November 2016, saya menemukan salah satu foto di Instagram yang membuat rindu kian membuncah untuk segera mendaki gunung Lawu. Sederhana: SAVANNA! Saya melihat dua orang pendaki tengah berjalan menyusuri savanna yang hijau sambil membawa tas carrier berukuran besar. Di sisi kiri-kanan mereka ada pohon pinus menjulang tinggi. Sontak saya berucap lirih, “Ah, indah sekali pemandangannya. Saya juga ingin ke sana!” Tanpa pikir panjang, saya mengajak beberapa teman yang memang sering melakoni dunia pendakian. Namun sayang, takbanyak respon positif yang saya dapatkan dari mereka. Rata-rata mereka tidak begitu tertarik naik gunung dalam waktu dekat, apalagi pada akhir tahun curah hujan cukup tinggi dan hampir merata di seluruh Indonesia. Saya pun memakluminya dan berharap pada awal tahun 2017, keinginan saya dapat terwujud.

Dream it, plan it, and make it happen!

Saya pun mengirim pesan ke beberapa teman untuk menawarkan kepada mereka tentang rencana pendakian ke gunung Lawu. Tidak banyak yang saya hubungi, saya hanya menghubungi beberapa orang yang saya pikir cukup dekat dan memang tertarik untuk melakukan pendakian bersama-sama.

Belakangan, semakin banyak gunung yang saya daki membuat saya semakin selektif untuk memilih tim yang akan ikut dalam pendakian yang saya gagas. Saya bukan bermaksud untuk pilih-pilih teman. Namun rasanya hal tersebut sulit sekali untuk dihindari. Apalagi beberapa kejadian dan musibah selama pendakian membuat saya semakin paham bahwa hobi yang saya cintai ini sangatlah beresiko. Untuk itu, saya harus pastikan bahwa teman-teman yang saya ajak telah memiliki kesiapan fisik dan perlengkapan yang baik. Hanya berupaya meminimalisasi resiko. Ya, saya pikir hanya itu.

Tahun 2017 ini, salah satu resolusi hidup saya yakni mendaki gunung setiap bulannya. Namun setelah saya pikir-pikir kembali, sebetulnya untuk apa saya harus membuat target semacam itu? Terkesan terlalu ambisius. Seakan-akan gunung hanya sebatas objek yang pelampiasan. Padahal seharusnya banyak hal yang perlu dipertimbangkan ketika berencana mendaki gunung. Misal, cuaca yang tidak mendukung, kondisi finansial yang tidak bersahabat, atau jadwal yang tidak cocok. Akhirnya saya memutuskan untuk menganut prinsip by it flow, biarkan berjalan secara alami.

Dari beberapa orang yang saya ajak mendaki gunung Lawu, hanya ada tujuh orang yang tertarik. Adalah Klep, Abah, Nanang, Bowo, Indra, Sai, dan Ajuw. Seperti biasa, kami membuat grup WhatsApp untuk mendiskusikan berbagai persiapan mendaki seperti membuat itinerary, pembagian tugas logistik, pemesanan tiket kereta, dan sebagainya.

Berhubung kami telah sering mendaki gunung bersama, takbanyak yang perlu kami bahas. Namun Bowo, salah satu sahabat saya, seringkali mengirimkan tautan berita mengenai cerita-cerita mistis yang dialami para pendaki selama di gunung Lawu. Sejujurnya, saya agak terganggu dengan hal tersebut. Kadang saya terdorong untuk membaca tulisan yang dibagikan Bowo. Namun saya urungkan niat tersebut. Saya paham persis, jika saya membaca tulisan-tulisan tersebut akan membuat imajinasi saya liar, membayangkan kondisi mencekam dan menakutkan di gunung Lawu. Saya tidak mau dibuat gila dengan ketakutan-ketakutan akan diganggu makhluk halus. Lagi pula, saya rasa di semua gunung tentu ada makhluk halus. Namun kita hanya perlu bersikap wajar dan selalu mengingat Tuhan dalam kondisi apapun.

Hari yang kami nantikan pun tiba.

Stasiun Senen Jakarta. Jumat, 20 Januari 2017.

Kami sepakat untuk kumpul pada pukul 15.30 sore lantaran kereta Brantas jurusan Pasar Senen – Solojebres berangkat tepat pada pukul 16.00 WIB. Selepas salat Jumat di kantor, saya pun minta izin ke atasan saya untuk pulang lebih awal. Saya ingin mengantisipasi agar tidak terjebak macet atau mengalami drama-drama yang menyebalkan. Beruntung jarak dari rumah ke stasiun Senen tidak begitu jauh. Hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit menggunakan jasa ojek daring.

Nanang menjadi orang pertama yang tiba di stasiun. Sepuluh menit kemudian, saya pun muncul di hadapannya dengan langsung merebut minuman soda miliknya. Hehe. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Lima orang lainnya belum juga menampakkan batang hidung mereka. Saya mulai gusar, khawatir mereka telat. Saya amati, kondisi lalu lintas hari itu sangatlah kacau: macet di mana-mana. Belum lagi kawasan pertokoan persis di seberang stasiun Senen baru saja mengalami kebakaran. Akibatnya, kendaraan terjebak macet parah di perempatan Senen.

Dengan sedikit kesal, saya menanyakan keberadaan mereka. Rata-rata masih di jalan dan terjebak macet. Beruntung saya bertanya kepada Ajuw, apakah tiket kereta sudah dicetak atau belum. Ia menjawab belum. Lalu saya pun bergegas ke loket Cetak Tiket Mandiri (CTM) dengan perasaan yang teramat gelisah: takut ketinggalan kereta.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.50 WIB. Satu persatu teman-teman saya sudah berada di stasiun. Namun masih belum lengkap. Klep, Bowo, dan Sai sama sekali belum terlihat. Detik berganti menit, jam sudah menunjukkan pukul 15.55 WIB. Saat itu, saya merasa waktu merangkak begitu cepat. Andai saja waktu bisa dihentikan sementara untuk menunggu kedatangan mereka bertiga. Sayangnya itu hanya imajinasi bodoh. Mana mungkin hal semacam itu benar-benar terjadi. Akhirnya kami membuat keputusan besar untuk langsung masuk ke peron. Tiga tiket kami titipkan di pintu pemeriksaan.

Ketika mulai masuk peron, tiba-tiba dari kejauhan, kami melihat Bowo yang mengenakan baju biru berlari menghampiri kami. Saya baru pertama kali melihat Bowo berlari begitu kencang. Membuat saya berpikir nampaknya Bowo berbakat menjadi atlet marathon. Ah, lagi-lagi pikiran aneh muncul pada saat yang tidak dibutuhkan. Kamipun bergegas menuruni anak tangga stasiun yang dengan langkah terburu-buru. Sungguh menyebalkan.

Kata petugas stasiun, “Cepat! Kereta akan berangkat!” Saya dag-dig-dug-ser tidak karuan. Saya tidak membayangkan akan mengalami drama akan ketinggalan kereta. Pasti akan sungguh menyebalkan. Namun akhirnya kaki-kaki kamipun berhasil mendarat di salah satu gerbong kereta Brantas. Kondisi gerbong terlihat sesak. Para penumpang masih hilir-mudik ke sana ke mari. Entah apa yang membuat mereka tidak bisa diam dan duduk tenang di kursi mereka masing-masing. Belum lagi suara mereka takubahnya seperti tawon yang ingin berperang, begitu memusingkan. Pelan-pelan, kami melewati para penumpang sambil membawa tas carrier yang berat. Untuk melewati satu gerbong saja susahnya minta ampun. Sementara kami masih belum bisa memastikan apakah Klep dan Sai juga sudah masuk kereta atau belum. Benar-benar melelahkan.

Setelah sampai di kursi yang tertera di tiket kami, ternyata kami belum berhasil menemukan Klep dan Sai. Saya buru-buru menelpon mereka. Ternyata mereka berdua tertahan di pintu keberangkatan. Mereka tidak diizinkan masuk oleh petugas stasun lantaran kereta akan berangkat.

Kereta pun mulai mengaum pertanda akan berangkat. Perlahan, kami meninggalkan stasiun Senen beserta drama yang membuat kecewa. Berulang kali kami menawarkan mereka untuk mencari jadwal kereta berikutnya. Namun hanya Sai yang menggubrisnya. Ia memutuskan untuk mencari tiket kereta langsung ke stasiun Gambir. Sementara Klep, ia memilih mundur dan menyerah dengan keadaan yang merundungnya. Semakin kami memaksa, semakian ia menolak. Benar-benar keras kepala. Ouch! Namun apa boleh buat, antara Klep dan Lawu mungkin memang belum jodoh. Saya hanya bisa mengangkat bahu. (Bersambung)

Foto bersama sebelum perjalanan yang panjang.

Ketika Sahabat Baik Kita Menikah

Processed with VSCO with hb1 preset

Suatu ketika, salah seorang sahabat saya meninggalkan sebuah pesan di grup WhatsApp. Pesannya, “Nanti kalau Dan (bukan nama sebenarnya) menikah, pasti kita akan jarang lagi kumpul-kumpul ya?” Tidak lama setelah sahabat saya menulis pesan, selang beberapa menit salah seorang sahabat saya yang akan menikah menimpali pesan yang bernada pesimistis tersebut. “Ya kumpul-kumpul aja. Tidak ada perubahan berarti kok. Namun mungkin intensitasnya saja yang tidak sama.”

Saya pun hanya bisa mengamati obrolan mereka tanpa harus ikut terlibat. Saya sungkan untuk mengemukakan pendapat. Lagi pula, setelah saya pikir-pikir lagi, menikah ataupun belum, kondisinya memang kami tidak setiap hari atau setiap pekan bertemu. Jika ada momen-momen tertentu, barulah kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Misalnya, salah seorang sahabat saya merayakan pergantian usia atau tiba-tiba kami semua tertarik untuk menonton film terbaru di bioskop.

Kembali ke pertanyaan sahabat saya tadi, bagaimana perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah? Jujur, dulu ketika saya tahu ada sahabat saya yang akan menikah, saya merasa seperti kehilangan. Agaknya berlebihan jika saya sempat merasakan hal demikan. Namun apa boleh buat, kondisi batin yang saya alami pada saat itu memang begitu adanya. Takdapat disangkal. Betapa tidak, kami terbiasa melakukan berbagai hal bersama, namun pernikahan membuat semuanya berubah. Kata Keane, “….I try to stay awake and remember my name. But everybody’s changing. And I don’t feel the same.”

Akan tetapi, semakin saya dewasa, semakin bertambah usia, saya sadar bahwa pada akhirnya setiap manusia bertranformasi dari satu fase ke fase yang lain, dari sudut pandang satu ke sudut pandang yang lain. Pun demikian, semua hal-hal baik akan terus kekal. Percayalah, rasanya masih akan tetap sama.

Sebagai seorang sahabat yang belum menikah, saya tidak mungkin menahan sahabat saya sembari berkata, “Hai, bisa tunggu saya sedikit lebih lama hingga saya juga menemukan teman hidup?”

Saya tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun, termasuk sahabat dekat saya sendiri. Justru sebaliknya, sayalah orang yang paling bahagia ketika mengetahui bahwa sahabat baik saya telah menemukan teman berbagi, baik dalam kondisi suka maupun duka. Upaya terbaik yang bisa saya curahkan hanyalah berdoa semoga hatinya selalu diliputi ketenangan, kenyamanan, dan rasa syukur.

Kendati demikian, memang tidak bisa saya pungkiri bahwa pada akhirnya waktu mengubah segalanya. Jika dulu, indikator hubungan persahabatan yang sehat dinilai dari seberapa intens kita berkomunikasi dan bertemu, kini mengetahui sahabat kita dalam kondisi sehat, bahagia, dan baik-baik saja–saya rasa itu lebih dari cukup. Sesekali saya hanya bisa mengamati kondisi mereka dari lini media sosial. Terkadang saya beranikan diri untuk menanyakan kabar, memastikan kabar sahabat saya baik-baik saja. Namun sejak menikah, tentunya komunikasi antara kami mulai dibatasi. Saya pikir hal tersebut sudah selayaknya dilakukan oleh orang dewasa. Tujuannya taklain hanya untuk sama-sama menjaga peran.

Beruntung, saya memiliki sahabat dekat tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Saya pikir dulu tidak dikenal persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Saya khawatir “rasa” merusak makna persahabatan itu sendiri. Namun agaknya saya salah. Buktinya, saya memiliki sahabat perempuan yang sangat baik; mendukung saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Saya beruntung mengenal dan menjadi sahabat mereka.

Pernikahan memang mengubah hubungan persahabatan. Namun tidak mengubah banyak hal. Memang ada beberapa sahabat saya setelah menikah menyebabkan komunikasi di antara kami tidak sebaik dulu. Sayapun mafhum dengan kondisi tersebut. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, sejatinya mereka telah lahir menjadi manusia yang baru: ia memiliki tanggung jawab yang baru, peran yang baru, dan tentunya prioritas yang baru.

Kata Mama saya, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahiim.” Beberapa kesempatan, saya mengirim pesan kepada sahabat-sahabat saya sudah mulai lost contact seperti menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun, atau mengirim kutipan-kutipan inspiratif. Saya berupaya menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat saya walau kini kami sudah terpisah dalam interval yang cukup jauh.

Saya pernah bercerita kepada sahabat saya bahwa semua doa-doa anak manusia diijabah oleh Tuhan. Ada yang dijawab langsung, ada yang ditunda, dan ada yang diganti dalam bentuk lain. Saya berkeyakinan bahwa memiliki sahabat-sahabat yang baik, positif, dan inspiratif merupakan jawaban doa dari Tuhan yang diganti dengan bentuk lain. Saya tidak henti-hentinya untuk mensyukuri hal tersebut hingga detik ini. Anugrah dari langit untuk penduduk bumi.

Ada hal yang menarik yang saya amati dari lingkaran persahabatan saya, kendati dari mereka sudah banyak menikah namun nyatanya kami masih bersahabat dengan baik. Bahkan, pasangan mereka (istri/suami) menjadi sahabat baik saya juga. Rasa-rasanya saya tidak akan pernah merasa kehilangan mereka. Jadi, kembali lagi pada pertanyaan, “Seperti apa perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah?” Hati saya diliputi kebahagiaan. Bahagia mereka adalah bahagia saya. Duka mereka adalah duka saya. Begitulah adanya. Tidak ada yang pernah berubah: hari ini, esok, dan seterusnya.

Terakhir, izinkan saya mengutip perkataan Elbert Hubbard, “A friend is someone who knows all about you and still loves you.”

Jakarta,

29 Juli 2017.

Precognitive Dream

Deja Vu sebuah keadaan di mana kita merasa pernah mengalami sebuah momen atau kejadian pada masa lampau lantas kemudian terulang kembali. Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal demikian. Entah bagaimana cara kerjanya, sayapun tidak mengerti akan hal itu.

dreams_by_whisperfall
Source: https://msinop1.wordpress.com

Namun belakangan ini, saya mengalami journey semacam De Javu namun rasanya tidak tepat bila disebut De Javu. Journey yang saya maksud yaitu, saya beberapa kali datang ke sebuah tempat di mana tempat tersebut sudah pernah saya datangi sebelumnya. Datang dalam artian bukan perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruh.

Ya, beberapa tempat yang saya datangi ternyata sudah pernah saya kunjungi sebelumnya di alam mimpi. Barangkali agak cukup rumit menjelaskannya. Namun ini tidak mengada-ada. Saya ingat dengan sangat jelas bahwa memang tempat-tempat seperti savanna di gunung Lawu, jalanan menuju Cidahu, dan sebagainya memang pernah saya datangi di dalam mimpi. Persis sekali.

Berulang kali saya bercerita kepada teman-teman saya, “Oh, saya sudah pernah berkunjung ke sini di alam mimpi.” Teman-teman saya hanya menanggapi seadanya. Mungkin mereka tidak ingin berdebat untuk topik yang tidak begitu penting. Ah, mau apalagi. Saya tidak bisa memaksa mereka untuk mencerna journey yang hingga detik ini membuat saya begitu kebingungan.

Mimpi, sebuah dimensi yang memiliki sejuta misteri. Mengapa di bangku sekolah kita tidak pernah belajar tentang mimpi. Padahal setiap tidur mungkin kita mengalaminya. Namun kita abaikan seolah mimpi bukanlah sesuatu yang penting untuk dipelajari dalam perspektif kajian sains.

Akhirnya karena begitu penasaran, saya mencari informasi atas apa yang saya alami. Menurut artikel yang saya baca, journey yang saya maksud tadi disebut dengan istilah precognitive dream, future sight (penglihatan masa depan) atau second sight (penglihatan kedua).

Precognitive dreams are dreams that appear to predict the future through a sixth sense; a way of accessing future information that is unrelated to any existing knowledge acquired through normal means.” (Source: http://www.world-of-lucid-dreaming.com).

Berdasarkan artikel yang sudah saya baca, secara sederhana precognitive dream berarti mimpi yang benar-benar terjadi di masa depan.

Entahlah, saya rasa kurang tepat bila definisi tersebut sesuai dengan apa yang alami. Sejauh ini, kondisi yang saya alami hanya sebatas mimpi berkunjung ke tempat-tempat yang nantinya benar-benar saya datangi. Tidak lebih dari itu. Misalnya, tahun kemarin saya mimpi ke sebuah tempat seperti hutan bakau. Beberapa waktu kemudian saya memang ke tempat yang sama. Tepatnya di hutan bakau di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. Begitu seterusnya.

Ah, setelah dipikir-pikir lagi mungkin memang ruh saya senang bertualang ke tempat-tempat yang baru. Saya berpikiran positif semoga memang benar suatu saat impian saya menjadi seorang petualang benar-benar terwujud. Aamiin.

 

Jakarta,

21 Maret 2017

 

Kisah Si Botol Kuning 

Tumbler Berwarna Kuning

Hari ini saya mau bercerita tentang botol atau tumbler berwarna kuning miliki saya. Saya tidak tahu apakah cerita ini spesial atau tidak, namun entah mengapa perasaan saya memaksa untuk bercerita. Lagi pula, lama juga saya tidak menulis lepas tanpa harus direncanakan.

Jadi, sore tadi saya menjadi penumpang uber motor untuk menuju ke fX Sudirman. Ketika melewati jalan Mampang Prapatan, tanpa saya sengaja tumbler kuning saya jatuh berguling-guling hingga ke tepi jalan. Untung saat itu tidak ada kendaraan lain yang menabraknya. Jika tidak, tentulah saya merasa kasihan. Ia pasti remuk redam.

Dengan kecepatan motor kira-kira 50-60 km per jam, saya ingin bilang ke supir uber untuk berhenti. Namun saya urungkan niat saya tersebut sembari menggurutu dalam hati. Setelah cukup jauh, saya baru kemudian menyesal namun tidak memungkinkan lagi untuk berhenti dan menyelamatkan tumbler yang digandrungi ibu-ibu itu.

Dalam hati terjadi percekcokan kecil. “Ah, harusnya berhenti!” Namun saya tidak berhenti. Motor terus melaju menyisir jalanan ibu kota. Berulangkali saya meyakinkan diri sendiri bahwa takada gunanya mengumpati kebodohan yang terang-terangan saya lakukan. Akhirnya, saya berusaha menerima kenyataan bahwa sore itu, saya resmi berpisah dengan “Si Botol Berwarna Kuning”.

Kemacetan di jalan Mampang Prapatan mulai menggeliat. Seketika kecepatan motor kamipun melambat. Tiba-tiba dari sisi kiri, ada dua orang pengendara motor yaitu mba-mba menghampiri kami sembari menyerahkan botol kuning saya.

“Mas, ini botolnya kan?”

“Iya mba, benar itu botol saya!”

Saya kaget. Saya terharu. Saya takjub dengan kebaikan hati mba-mba tadi. Saya pikir saya benar-benar berpisah dengan tumbler kesayangan saya. Saya pikir, botol itu sudah rezeki orang lain. Nyatanya saya salah besar. Ah, saya jadi merinding sendiri.

Hikmah dari kejadian sore tadi: bahwa rezeki setiap anak cucu adam tidak akan pernah tertukar.

Sekuat apapun kita mengklaim bahwa itu rezeki kita, maka jika Tuhan menetapkan bahwa itu bukan rezeki kita, maka yang terjadi terjadilah. Sebaliknya, jika Tuhan menetapkan sesuatu menjadi hak kita, menjadi rezeki kita, maka semesta akan berkonspirasi agar sesuatu itu layak untuk kita miliki.

Terima kasih untuk mereka yang masih peduli dan baik hatinya.

Jakarta,

12 Juli 2017.

 

Photo Story: Membangun Mimpi Anak Indonesia

Oleh: Mahfud Achyar

Ada yang berbeda dengan pagi ini. Tidak seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini saya berada di Bandung. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak cerita yang indah untuk dikenang.

Sebelum subuh, saya sudah bangun untuk mandi. Padahal saya baru tidur sekitar pukul 2 dini hari. Namun apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain untuk menyegerakan diri bersiap-siap menyambut hari yang penuh arti.

Rabu, (22/2/2017), saya dan 20 relawan Kelas Inspirasi Bandung 5 mengunjungi siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki Bandung. Bagi saya pribadi, ini kali pertama saya menjadi relawan Kelas Inspirasi Bandung. Sebelumnya, saya hanya ambil bagian menjadi relawan Kelas Inspirasi Jakarta dan Kelas Inspirasi Depok. Saya sungguh bersemangat sebab akan bertemu dengan orang-orang baik yang tergabung dalam Kelompok 9 serta tentunya akan bertemu dengan adik-adik yang menyenangkan.

P2221202
Gambar 1. Dua orang siswa SD Komara Budi dan Pasir Kaliki tengah bersantai pada pagi hari menjelang seremoni pembukaan Kelas Inspirasi Bandung 5.

 

P2221242
Gambar 2. Suasana salah satu kelas di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Terlihat prakarya siswa-siswi dipajang menjadi hiasan di atas lemari buku.

21 relawan yang bertugas di SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki terdiri dari 13 relawan pengajar, 5 relawan fotografer, 2 relawan videografer, serta 1 relawan fasilitator. Hal yang menarik sebagian besar relawan berasal dari luar Bandung seperti Semarang, Jakarta, Tangerang, dan Tegal.

Ragam profesi juga membuat kelompok 9 menjadi sangat berwarna. Ada yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan, ada yang menjadi psikolog anak, ada yang menjadi rescuer, dan sebagainya. Satu tujuan kami datang ke Bandung khususnya ke SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki yaitu membangun mimpi anak Indonesia!

P2220901
Gambar 3. Seorang siswi berlari melewati lukisan bendera dari delapan negara di salah satu tembok sekolah.

Bagaimana cara membangun mimpi anak Indonesia?

Rasanya pertanyaan itu sangat sulit dijawab oleh kami yang memang bukan praktisi pendidikan. Kami adalah kumpulan para profesional yang mungkin menguasai bidang kami, namun belum tentu dapat mengajar dengan baik. Sebagian dari kami belum memiliki pengalaman mengajar sama sekali. Namun ada juga yang sudah beberapa kali mengikuti program Kelas Inspirasi.

Kendatipun pernah mengajar, kami tetap saja merasa gugup. Maka karena itu, kamipun harus mempersiapkan diri dengan baik. Jauh-jauh hari, kami sudah mempersiapkan materi ajar untuk memberikan yang terbaik yang kami punya untuk siswa-siswi di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki.

Lantas apa yang kami ajarkan kepada mereka? Apakah matapelajaran matematika yang kerapkali dianggap momok menakutkan oleh banyak siswa-siswi? Tidak! Tidak sama sekali! Kami mengajar tentang diri kami, profesi kami, dan proses kami hingga menjadi seperti sekarang. Untuk apa? Apakah untuk pamer atau ‘gaya-gayaan’? Tidak. Sungguh tidak sama sekali. Kami menyadari dengan sepenuhnya bahwa kami bukanlah yang terbaik. Kami barangkali tidak layak menjadi contoh atau role model.

Walau kami tidak sempurna, kami memiliki hasrat yang besar untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya yang bisa kami lakukan yaitu berbagi dengan mereka. Kami datang untuk berbagi mimpi. Sesederhana itu.

P2221074
Gambar 4. Herawati merupakan seorang direktur di sebuah perusahaan di Bandung. Di kelas, ia berpesan kepada siswa-siswi, “Kita bisa menjadi apapun yang kita mau.”

 

Kami yakin, niat yang baik tentu akan mendapat impresi yang baik pula. Begitulah yang kami rasakan ketika setengah hari berada di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Kami merasa senang disambut dengan sangat baik oleh kepala sekolah dan jajaran guru. Lebih penting dari itu semua, kami menyaksikan betapa siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki memiliki semangat belajar yang sangat baik. Mereka antusias bertanya, mereka bersemangat untuk menjadi orang hebat di masa depan. Tidak ada hal yang membahagiakan bagi kami selain melihat pelita harapan masih nyala di hati mereka.

P2221120
Gambar 5. Berlari menggapai cita-cita.

Teruslah berjuang menggapai cita-cita, wahai generasi harapan bangsa. Doa kami akan terus ada untuk kalian.

Terakhir, kami mengutip pesan Bung Hatta, “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”