Ketika Sahabat Baik Kita Menikah

Processed with VSCO with hb1 preset

Suatu ketika, salah seorang sahabat saya meninggalkan sebuah pesan di grup WhatsApp. Pesannya, “Nanti kalau Dan (bukan nama sebenarnya) menikah, pasti kita akan jarang lagi kumpul-kumpul ya?” Tidak lama setelah sahabat saya menulis pesan, selang beberapa menit salah seorang sahabat saya yang akan menikah menimpali pesan yang bernada pesimistis tersebut. “Ya kumpul-kumpul aja. Tidak ada perubahan berarti kok. Namun mungkin intensitasnya saja yang tidak sama.”

Saya pun hanya bisa mengamati obrolan mereka tanpa harus ikut terlibat. Saya sungkan untuk mengemukakan pendapat. Lagi pula, setelah saya pikir-pikir lagi, menikah ataupun belum, kondisinya memang kami tidak setiap hari atau setiap pekan bertemu. Jika ada momen-momen tertentu, barulah kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Misalnya, salah seorang sahabat saya merayakan pergantian usia atau tiba-tiba kami semua tertarik untuk menonton film terbaru di bioskop.

Kembali ke pertanyaan sahabat saya tadi, bagaimana perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah? Jujur, dulu ketika saya tahu ada sahabat saya yang akan menikah, saya merasa seperti kehilangan. Agaknya berlebihan jika saya sempat merasakan hal demikan. Namun apa boleh buat, kondisi batin yang saya alami pada saat itu memang begitu adanya. Takdapat disangkal. Betapa tidak, kami terbiasa melakukan berbagai hal bersama, namun pernikahan membuat semuanya berubah. Kata Keane, “….I try to stay awake and remember my name. But everybody’s changing. And I don’t feel the same.”

Akan tetapi, semakin saya dewasa, semakin bertambah usia, saya sadar bahwa pada akhirnya setiap manusia bertranformasi dari satu fase ke fase yang lain, dari sudut pandang satu ke sudut pandang yang lain. Pun demikian, semua hal-hal baik akan terus kekal. Percayalah, rasanya masih akan tetap sama.

Sebagai seorang sahabat yang belum menikah, saya tidak mungkin menahan sahabat saya sembari berkata, “Hai, bisa tunggu saya sedikit lebih lama hingga saya juga menemukan teman hidup?”

Saya tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun, termasuk sahabat dekat saya sendiri. Justru sebaliknya, sayalah orang yang paling bahagia ketika mengetahui bahwa sahabat baik saya telah menemukan teman berbagi, baik dalam kondisi suka maupun duka. Upaya terbaik yang bisa saya curahkan hanyalah berdoa semoga hatinya selalu diliputi ketenangan, kenyamanan, dan rasa syukur.

Kendati demikian, memang tidak bisa saya pungkiri bahwa pada akhirnya waktu mengubah segalanya. Jika dulu, indikator hubungan persahabatan yang sehat dinilai dari seberapa intens kita berkomunikasi dan bertemu, kini mengetahui sahabat kita dalam kondisi sehat, bahagia, dan baik-baik saja–saya rasa itu lebih dari cukup. Sesekali saya hanya bisa mengamati kondisi mereka dari lini media sosial. Terkadang saya beranikan diri untuk menanyakan kabar, memastikan kabar sahabat saya baik-baik saja. Namun sejak menikah, tentunya komunikasi antara kami mulai dibatasi. Saya pikir hal tersebut sudah selayaknya dilakukan oleh orang dewasa. Tujuannya taklain hanya untuk sama-sama menjaga peran.

Beruntung, saya memiliki sahabat dekat tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Saya pikir dulu tidak dikenal persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Saya khawatir “rasa” merusak makna persahabatan itu sendiri. Namun agaknya saya salah. Buktinya, saya memiliki sahabat perempuan yang sangat baik; mendukung saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Saya beruntung mengenal dan menjadi sahabat mereka.

Pernikahan memang mengubah hubungan persahabatan. Namun tidak mengubah banyak hal. Memang ada beberapa sahabat saya setelah menikah menyebabkan komunikasi di antara kami tidak sebaik dulu. Sayapun mafhum dengan kondisi tersebut. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, sejatinya mereka telah lahir menjadi manusia yang baru: ia memiliki tanggung jawab yang baru, peran yang baru, dan tentunya prioritas yang baru.

Kata Mama saya, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahiim.” Beberapa kesempatan, saya mengirim pesan kepada sahabat-sahabat saya sudah mulai lost contact seperti menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun, atau mengirim kutipan-kutipan inspiratif. Saya berupaya menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat saya walau kini kami sudah terpisah dalam interval yang cukup jauh.

Saya pernah bercerita kepada sahabat saya bahwa semua doa-doa anak manusia diijabah oleh Tuhan. Ada yang dijawab langsung, ada yang ditunda, dan ada yang diganti dalam bentuk lain. Saya berkeyakinan bahwa memiliki sahabat-sahabat yang baik, positif, dan inspiratif merupakan jawaban doa dari Tuhan yang diganti dengan bentuk lain. Saya tidak henti-hentinya untuk mensyukuri hal tersebut hingga detik ini. Anugrah dari langit untuk penduduk bumi.

Ada hal yang menarik yang saya amati dari lingkaran persahabatan saya, kendati dari mereka sudah banyak menikah namun nyatanya kami masih bersahabat dengan baik. Bahkan, pasangan mereka (istri/suami) menjadi sahabat baik saya juga. Rasa-rasanya saya tidak akan pernah merasa kehilangan mereka. Jadi, kembali lagi pada pertanyaan, “Seperti apa perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah?” Hati saya diliputi kebahagiaan. Bahagia mereka adalah bahagia saya. Duka mereka adalah duka saya. Begitulah adanya. Tidak ada yang pernah berubah: hari ini, esok, dan seterusnya.

Terakhir, izinkan saya mengutip perkataan Elbert Hubbard, “A friend is someone who knows all about you and still loves you.”

Jakarta,

29 Juli 2017.

Secangkir Kopi Bersama Sahabat

“Dan Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis, lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi.” – Pidi Baiq

 

2016-04-02 05.49.39 1.jpg
Sabtu Bersama Sahabat (Lokasi Rumah Makan Ponyo)

Ada saja alasan yang membuat saya untuk kembali ke Bandung, kota sejuta kenangan. Saya selalu rindu dengan suasana di kota kembang ini. Bagi saya, terlalu banyak kenangan baik tercipta di sini. Hampir semua sudut di kota ini menyimpan cerita-cerita, yang bila diceritakan ulang membuat saya tersenyum, lantas kemudian hanya terpaku diam. Maka biarkanlah kenangan itu terus mengabadi. Di sini, tepat di hati saya. Bila saya merasa merindu, saya akan menghadirkannya kembali. Kapan pun itu!

Pagi ini, saya bertemu lagi dengan salah satu sahabat terbaik saya sewaktu di Unpad. Kita pernah satu tim dua tahun di BEM Kema Unpad (Departemen Komunikasi dan Informatika). Selanjutnya, pada tahun ketiga kami berbeda divisi. Namun kita masih sering berdiskusi banyak hal, terutama tentang dunia fotografi. Saya belajar banyak dari sahabat saya ini, misalnya, bagaimana cara mengambil foto dengan angle yang bagus, dsb. Saya dari dulu sangat menyukai dunia fotografi. Namun, saya tidak begitu menguasai teknik fotografi lantaran sewaktu kuliah tidak memiliki kamera. Namun dari karya-karya fotografi Rijal Asy’ari (bisa dilihat di Instagram https://www.instagram.com/titikterang/) sedikit banyaknya saya mulai paham tentang seluk-beluk fotografi.

Obrolan pagi tadi ditemani secangkir kopi late. Kami kembali berdiskusi di sebuah tempat yang historis yaitu Rumah Makan Ponyo di bilangin Cinunuk, Bandung. Di sebuah saung khas Sunda kami bernostalgia tentang masa sewaktu kuliah. Oh ya, mengapa Rumah Makan Ponyo tersebut saya sebut historis? Sebab di tempat tersebutlah kami pernah membahas impian, harapan, serta asa untuk menjadikan BEM Kema Unpad menjadi lembaga kemahasiswaan yang down to earth dan memiliki program-program high impact. Tidak hanya membahas hal-hal yang serius, kami juga beberapa kali pernah bersenda gurau sembari menunggu waktu berbuka puasa dengan menu favorit khas Sunda seperti ayam penyet, lalapan, dsb.

Oya, kami tidak membahas dunia fotografi lagi. Saya lebih tertarik menanyakan konsep bisnis dan value dari Rumah Makan Ponyo yang sudah digarap Rijal sejak beberapa tahun belakang. Sangat menarik. Ia menceritakan bagaimana strategi bisnis Rumah Makan Ponyo sehingga tetap menjadi rumah makan yang memiliki tempat spesial di hati pelanggan. Bisnis keluarga @makanponyo (IG) sudah digarap sejak tahun 1972. Tentu banyak pelanggan yang sudah jatuh hati dengan rumah makan ini. Oleh sebab itu, Rijal pun bercerita bahwa ia ingin meningkatkan segmentasi pelanggan, khususnya generasi Y (lahir tahun 80-an hingga 90-an).

Jujur, bagi saya dunia bisnis itu menarik. Kadang saya berpikir untuk mencoba terjun dan mengerahkan kemampuan saya dalam membangun, mengelola, dan mengembangkan bisnis. Namun entahlah, saya masih ragu. Saya berpikir tidak memiliki gift dan bakat di sektor tersebut. Tapi saya masih penasaran untuk mengaplikasikan ilmu Marketing Communication yang sudah saya dapatkan di bangku kuliah. Barangkali suatu saat ya!

Well, hari ini saya belajar silaturahim tidak hanya sebatas bertemu. Lebih jauh dari itu, saya belajar banyak hal. Hatur nuhun pisan Lur atas ilmuna. Sukses pokokna mah!

Xoxo,
Hari kedua pada bulan April.

Ditulis di Jatinangor,
2 April 2016.

Mahfud Achyar

Ps: Bila tertarik dengan menu Rumah Makan Ponyo, silakan buka websitenya: makanponyo.com

Diah Indrajati: Bekerja dengan Hati

Ir. Diah Indrajati, M.Sc., Plt Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah*

Profil beliau dimuat pada majalah “Jendela Bina Pembangunan Daerah” Edisi 5 Februari – 5 Maret 2016.

 

IMG_7744
Ir. Diah Indrajati, M.Sc. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

 

Ada sebuah kutipan yang cukup populer di telinga kita, “People come and go. Everyone thats been in your life has been there for a reason, to teach you, to love you, or to experience life with you.” Rasanya kutipan tersebut cukup related dengan kondisi Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda) saat ini. Betapa tidak, pada tahun 2015 lalu, Dr. Drs. Muhammad Marwan M.Si., Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Periode 2009-2015 resmi purnabakti.

Tentunya banyak hal hebat yang telah beliau persembahkan untuk Indonesia secara umum dan Ditjen Bina Bangda secara khusus. Kepemimpinan beliau mengajarkan kita bahwa usia sosial manusia sejatinya tanpa batas. Kendati beliau sudah tidak lagi berkarya di Ditjen Bina Bangda, namun keteladanan beliau akan terus mengabadi dan akan terus dikenang.

Kini, Ditjen Bina Bangda memiliki sosok pemimpin yang baru. Seorang wanita hebat yang telah mendedikasikan hidupnya bertahun-tahun untuk mengubah wajah republik ini menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Seorang wanita yang juga ibu dari Wenny Indriyarti Putri dan Randita Indrayanto. Perkenalkan, beliau adalah Diah Indrajati.

Sejak awal tahun 2016, istri dari Ir. Dadang Sudiyarto ini resmi dilantik menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Bina Bangda. Pada hari Jumat, (26/02/2016) tim buletin “Jendela Pembangunan Daerah” berkesempatan mewawancarai beliau di ruang kerjanya di Ditjen Bina Bangda, Jalan Makam Pahlawan, No. 20, Jakarta Selatan.

Saat itu, beliau tengah mengenakan busana batik yang menjadi identitas bangsa Indonesia dan telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (World Herigate). Topik pembuka obrolan dimulai dengan kisah awal karir beliau di Kementerian Dalam Negeri.

Diah, begitu beliau akrab disapa, mengatakan bahwa ia bergabung di Kementerian Dalam Negeri sejak tahun 1987. “Jadi pada tahun 1987, saya memang sudah ditempatkan di Ditjen Bina Bangda. Tadinya saya sempat satu tahun sebagai pegawai proyek. Saya penganten baru, saya bekerja untuk proyek “Upland Agriculture” kalau gak salah. Nah, kemudian di perjalanan saya mendapatkan kabar bahwa Depdagri menerima pegawai. Saya diberi tahu waktu itu oleh salah satu Kasubdit di Ditjen Bangda. Saya pun mengikuti tes dan Alhamdulillah diterima. Saya mengikuti Diklat di Jogja,” kenang Diah.

Lebih lanjut, beliau menceritakan bahwa awal-awal ia memulai karir di Kemendagri tidaklah mudah. Namun dengan tekad yang kuat, takbutuh waktu lama bagi Diah untuk belajar banyak hal tentang seluk beluk dunia birokrasi. “Kebetulan waktu itu, Kepala Bagian Perencanaan, almarhum Bapak Butarbutar seringkali meminta kita bedah buku, membaca peraturan, kemudian menulis summary tentang berbagai aturan. Setiap hari kita kumpul di ruangan untuk diskusi. Jadi memang terarah gitu,” ungkap Diah.

Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia merasa bekal sarjana yang ia miliki tidak cukup untuk menjawab berbagai tantangan yang ia hadapi di dunia kerja. Ia pun merasa terpanggil untuk melanjutkan jenjang pendidikan magister di Amerika Serikat. Ia sempat ragu untuk kuliah di luar negeri lantaran ia sudah berkeluarga dan sudah memiliki buah hati. Namun berkat dukungan penuh dari suami dan keluarga besar, ia pun akhirnya memantapkan diri untuk melanjutkan studi di California State University Fullerton.

“Dari sekian ratus yang melamar OTO Bappenas, akhirnya yang lolos kalau gak salah 2 waktu itu tahun 90-an. Prosesnya dari tahun 1987 hingga tahun 1988. Tapi pengumuman bahwa saya diterima itu tahun 1992. Selanjutnya pada tahun 1993, saya harus ikut kursus hingga lulus. Kemudian masuk lagi hingga tahap terakhir. Akhirnya, saya pun berangkat pada tahun 1994 sekolah ke Amerika. Dua tahun bersekolah, saya kembali. Kantornya waktu saya berangkat masih di Keramat Raya. Tapi waktu saya kembali sudah pindah ke sini (Kalibata, red),” jelas Diah.

Perjalanan karir Diah bisa dikatakan terbilang cukup panjang. Beliau baru mendapatkan eselon 2 pada tahun 2012. Menurutnya, persaingan di Kemendagri cukup ketat. Kendati demikian, ia tidak terlalu fokus untuk mendapatkan jabatan-jabatan tertentu. Ia hanya fokus untuk bekerja dengan baik. Ia yakin hasil tidak akan mengkhianati proses. Hal yang terpenting menurutnya yaitu bila mendapatkan tugas, maka harus amanah menjalankan tugas tersebut.

Sejak sebagai staf hingga menduduki posisi saat ini, wanita kelahiran Demak, 7 November 1958, ini membiasakan bekerja dengan hati. “Saya mencoba menekuni apa yang ditugaskan. Tidak usil kiri kanan. Fokus mengerjakan apa yang ditugaskan kepada saya ya itulah yang saya kerjakan. Saya tidak pantang bertanya. Sekarangpun jika saya tidak tahu, saya akan bertanya kepada teman-teman yang saya anggap lebih tahu,” tegas Diah.

Ia menilai bahwa posisi ia saat ini tidak banyak mengubah dirinya secara personal. Hanya ia dituntut lebih bijak, tidak mudah emosional. Ia menuturkan bahwa dulu ia kadang merasa gregetan bila ada stafnya yang bekerja tidak cekat. Namun sekarang, ia harus mampu memberikan contoh mana aturan yang tidak boleh dilanggar.

Ketika ditanya tentang pemimpin ideal, beliau menekankan bahwa seorang pemimpin harus paham substansi yang ia kerjakan dan harus mampu menjadi contoh. Dalam memimpin, ia tidak memiliki role model secara khusus. Hal ini dikarenakan ia ‘dibesarkan’ oleh banyak gaya kepemimpinan. “Yang jelas kalau dari amanah agama, kita harus mencontoh nabi besar kita, nabi Muhammad shalallahu’alai wassalam. Kita mencontoh cara kerja beliau; membedakan mana yang dinas, mana yang pribadi. Saya berusaha seperti itu walaupun tidak sempurna. Tapi saya mencoba mengambil contoh-contoh dari beliau,” ungkap Diah.

Berkaitan dengan harapan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, yang menginginkan semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan strategis di lingkup Kemendagri, Diah mengapresiasi hal tersebut. Namun bagi Diah sendiri, seseorang diangkat menjadi pemimpin haruslah berdasarkan kemampuannya. “Jadi, walaupun perempuan, dia harus mampu. Jangan karena perempuan kemudian minta diangkat menjadi pejabat. Saya juga gak setuju. Jabatan boleh siapa saja duduk di situ. Tapi kalau ilmu hanya kita yang punya. Jadi saya modalnya itu. Karena Pak Menteri kebijakannya seperti itu, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan beliau. Saya akan berbuat semampu saya untuk melaksanakan amanah itu. Saya juga menghimbau teman-teman juga bekerja dengan baik mudah-mudahan nanti pimpinan bisa melihat potensi teman-teman,” papar Diah.

Di sela-sela kesibukan, Diah masih menyempatkan diri untuk memperbaharui informasi-informasi yang bermanfaat khususnya informasi mengenai lingkungan. “Karena dulu saya mengambil S2 Lingkungan, saya paling aware untuk hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan. Isu suistainbale development cukup menarik perhatian saya,” kata Diah.

Selain membaca, waktu senggang juga dimanfaatkan Diah untuk memasak menu rumahan. Walaupun tidak memasak yang ‘aneh-aneh’ setidaknya masakan yang ia sajikan untuk keluarga dapat mengobati rasa rindu terhadap cita rasa masakan rumahan.

Sejak menjabat menjadi Plt Dirjen Bina Pembangunan Daerah, Diah mengaku harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Beruntungnya dukungan yang besar dari keluarga membuat beliau menikmati pekerjaannya saat ini. Ia pun berpesan kepada stakeholder Ditjen Bina Pembangunan Daerah untuk bekerja dengan baik. “Tunjukkan bahwa kita mampu. Sebab, kita sudah komitmen untuk bekerja. Ya, usahakan semaksimal mungkin dan profesional,” tutup Diah. [Mahfud Achyar]

 

 

 

 

 

‘WARDAH’ Kampanyekan Tiga Konsep Cantik!

Nurhayati Subakat
Nurhayati Subakat

Nurhayati Subakat, istri dari Subakat Hadi dan ibu dari tiga anak ini lahir di Padang PanjangSumatera Barat, 64 tahun yang lalu. Ia adalah seorang pengusaha kosmetik asal Indonesia. Yang mendirikan PT Pusaka Tradisi Ibu, yang mengelola merek kosmetik muslimah Wardah dan Zahra. Nurhayati merupakan putri kedua dari delapan bersaudara yang berasal dari Minangkabau. Ia menghabiskan masa kecilnya di kota kelahiran, Padang Panjang. Kemudian ia merantau ke tanah jawa guna melanjutkan pendidikannya di Jurusan Farmasi, Institut Teknologi Bandung.

Nurhayati memulai kariernya sebagai apoteker di Rumah Sakit Umum Padang. Kemudian ia pindah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan kosmetik Wella, sebagai staf quality control. Dari situlah ia mencoba berinsiatif untuk berbisnis sendiri. Pada tahun 1985, ia memulai usahanya dari industri rumahan dengan memproduksi sampo bermerek Putri. Sukses membesut produk pertama, ia mendirikan pabrik di Cibodas dan Tangerang. Selain sampo, kini produk-produknya juga mencakup perawatan kulit, perlengkapan make-up, hingga produk bayi. “Latar belakang saya di bidang farmasi tentu sangat mendukung dengan bidang bisnis yang saya jalankan saat ini. Karena dengan dasar ilmu yang memadai, kami bisa membuat produk kosmetik sesuai dengan standar CPKB/GMP (Good Manufacturing Practice) dan bisa menghasilkan produk yang aman digunakan. Tidak asal meracik saja,” ungkap Nurhayati.

Di Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam, kemunculan produk kosmetik untuk Muslimah dan bersertifikat halal menjadi salah satu alternatif yang sangat solutif. Namun produk Wardah tidak mengkhususkan diri hanya dipakai untuk wanita Muslimah saja karena sekarang pengguna Wardah sangat universal dan berasal dari kalangan manapun.

Di awal-awal membangun brand Wardah, Nurhayati mengatakan bahwa perlu usaha yang sangat keras. Namu pada akhirnya Wardah meyakini  bahwa kualitas di atas segalanya. Ketika orang puas dengan produk Wardah, informasi tersebut akan menyebar sebagai rekomendasi dari mulut ke mulut. Selain aktivitas promosi seperti memasang iklan, Wardah memutuskan untuk mengambil brand positioning yang saat itu belum populer sama sekali, yakni kosmetik untuk Muslimah dengan label halal.

Pada tahun 2002 hingga 2009, Wardah melakukan inovasi dalam hal branding, mulai dari menyusun portfolio brand agar Wardah tampil modern dan universal seperti membuat iklan tvc, dan meluncurkan campaign-campaign yang segar seperti “Travel In Style” yang akhirnya booming dan mengukuhkan Wardah sebagai brand kosmetik yang inspiratif. “Kami juga mengaktifkan media digital dan social media yang saat ini sangat populer. Alhamdulillah, kami memiliki basis konsumen loyal yang tinggi. Dalam kurun waktu 2 tahun terakhir ini, kami juga cukup intens mengkampanyekan Earth, Love, Life dan True Colors sebagai umbrella campaign dari seluruh aktivitas brand Wardah,” jelas Nurhayati.

Banyak hal yang dilakukan Wardah untuk membesarkan brand di kalangan masyarakat umum, di antaranya memilih inspiring Brand Ambassador, ikut berpartisipasi di event-event besar dan menjadi sponsor official make up pada acara-acara televisi ternama dan mendukung berbagai aktivitas sosial melalui program CSR (Corporate Social Responsibility). “Memang butuh waktu supaya Wardah dapat dilirik orang, namun dengan positioning brand yang pas dan tepat kepada wanita Indonesia sekarang,” imbuh Nurhayati.

Pada awal-awal launching, kosmetik dengan label halal yang menggunakan atribut wanita berkerudung menjadi hal yang belum populer, terlebih banyak kompetitor dan brand luar negeri yang menggunakan model tidak berjilbab. “Seiring dengan berjalannya waktu dan edukasi yg takhenti-hentinya kami lakukan kepada konsumen, akhirnya konsep Halal justru saat ini yang dicari, karena menurut survei yang kami baca, halal diidentik dengan rasa aman dan kenyamanan sehingga atribut halal menjadi hal yang dipertimbangkan dan memiliki keunggulan,” terang Nurhayati.

Berbagai penghargaan sudah banyak diterima oleh Wardah di antaranya adalah Top Brand Award 2014 dan 2015; Indonesia Most Favourite Woman Brand 2014; ICSA 2014; Superbrand 2014;  Nurhayati juga mendapatkan penghargaan “People of the Year 2015” sebagai Most Innovative Company; dan Anugerah Kepemimpinan Perempuan Indonesia.

Hampir sama dengan brand-brand lain yang sukses dan berhasil di pasaran terlebih dulu, Wardah bisa menerapkan marketing mix dengan sangat baik dengan menempatkan brand dan positioning yang pas dengan wanita Indonesia sekarang. Wardah dinilai sebagai kosmetik yang meaningful, inspiring, dan mengusung nilai-nilai positif. Faktor utama lainnya yaitu kualitas produk yang bagus (great product), harga yang sesuai (value for money), cocok untuk kulit wanita Indonesia, dan inovasi terus menerus. Wardah adalah salah satu brand yang sangat produktif dan cukup rajin mengeluarkan produk atau campaign terbaru sehingga konsumen merasa senang dan tidak bosan.

Wardah mengusung tiga konsep cantik yang tidak dimiliki oleh brand lain. Tiga konsep tersebut yakni Pure and Safe, artinya Wardah dibuat dari bahan-bahan berkualitas dan aman. Beauty Expert, artinya Wardah diciptakan untuk bisa memenuhi berbagai kebutuhan wanita akan sebuah produk kosmetik. Produk Wardah bisa digunakan untuk berbagai suasana. Mulai make-up harian yang simpel, hingga make-up untuk momen spesial seperti wisuda dan pernikahan. Inspiring Beauty, artinya Wardah meyakini bahwa kecantikan bukanlah hanya yang tampak dari luar, tapi juga harus dari hati. Wardah ingin semua wanita yang menggunakan Wardah bisa menjadi inspirasi bagi orang-orang dan komunitas di sekitarnya. “Harapan kami bisa menjangkau lebih banyak konsumen dan meningkatkan image brand Wardah di mata konsumen. Wardah menjadi brand Indonesia nomor wahid saat ini.  Hal yang belum dicapai, kami ingin brand Wardah bisa lebih go international lagi,” tutupnya. [Mahfud Achyar & Rini Aprilia]

Islamic Philanthropy Sebagai Upaya Mewujudkan Masyarakat Indonesia yang Madani

Oleh: Mahfud Achyar

Map of Indonesia (Source: http://www.warscapes.com/)
Map of Indonesia
(Source: http://www.warscapes.com/)

Tahun 2015, tepat Indonesia memasuki usia ke-70 tahun sejak merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Setiap tahunnya, masyarakat Indonesia senantiasa merayakan kemerdekaan Indonesia dengan berbagai ragam kegiatan: upacara kenegaraan, perlombaan-perlombaan, dan sebagainya. Namun, momentum kemerdekaan Indonesia terkesan sebatas euforia semata. Jarang sekali momentum kemerdekaan digunakan untuk kita merenung, berkontemplasi, dan gelisah memikirkan usia bangsa yang sudah taklagi belia.

Angka 70 tahun semestinya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memasuki fase yang jauh lebih matang, jauh lebih baik, dan jauh lebih sejahtera. Namun nyatanya semangat kemerdekaan Indonesia yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial takkunjung mendekati kesempurnaan.

Indonesia, negeri yang subur dan indah ini nyatanya menyimpan begitu banyak persoalan yang seolah takhenti-hentinya datang silih berganti. Persoalan datang dari berbagai sektor; mulai dari aspek pendidikan, kesehatan, ekonomi, budaya, sosial, dan teknologi. Kondisi demikian membuat Indonesia semakin terkucil di mata dunia dan semakin tertinggal dibandingkan negara-negara sahabat seperti Singapura dan Malaysia.

Mari sejenak kita melihat perkembangan salah satu negara sahabat kita yaitu Singapura. Pada tanggal 23 Maret 2015 lalu, mantan Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew meninggal karena penyakit radang paru-paru. Meninggalnya bapak Singapura modern tersebut mengundang tangis dari 5 juta warga Singapura. Betapa tidak, Lee merupakan tokoh yang sangat berjasa bagi kemajuan Singapura. Ada salah satu ungkapan Lee yang barangkali akan selalu diingat oleh masyarakat Singapura. Ia berkata, “I don’t believe Singapore can produce two top class teams. We haven’t got the talent to produce two top class teams. We will wait and see how constructive the opposition can be, or will be.”

Sejak merdeka pada tanggal 9 Agustus 1965 (10 tahun setelah Indonesia merdeka), Singapura di bawah kepemimpinan Lee berkembang menjadi negara yang memiliki peran penting dalam perdagangan dan keuangan internasional. Singapura kian bersinar di antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara bahkan sinarnya mampu menyaingi negara-negara yang dulu diklam sebagai negara maju.

Economist Intelligence Unit (EIU), lembaga kajian independen di bawah pengelolaan majalah The Economist melansir survei mengenai “Indeks Kualitas Hidup” yang menempatkan Singapura pada peringkat satu kualitas hidup terbaik di Asia dan kesebelas di dunia. Singapura juga dinobatkan sebagai negara yang memiliki cadangan devisa terbesar kesembilan di dunia. Tidak hanya sampai di situ, Singapura juga memiliki angkatan bersenjata yang maju dan juga berhasil menjadi negara meritokrasi, bebas korupsi, dan nyaman ditinggali untuk semua ras.

Keberhasilan Lee dalam memajukan Singapura dari negara miskin menjadi negara yang maju sudah sepatutnya menjadi pemantik semangat bagi Indonesia. Sayangnya, kerap kali banyak masyarakat Indonesia yang sinis menilai keberhasilan Singapura. Mereka menilai Indonesia dan Singapura tidak bisa dibandingkan secara apple to apple (komparasi yang seimbang dan cocok). Hal ini lantaran luas wilayah Singapura jauh lebih kecil dibandingkan dengan Indonesia. Selain itu, permasalahan di Singapura tidak serumit permasalahan di Indonesia. Barangkali pendapat itu benar adanya. Namun, apakah argumen tersebut menjadi pledoi atau excuse bagi bangsa Indonesia sehingga terus terjebak pada kondisi yang stagnan atau bahkan menjadi jauh lebih buruk?

Potret Permasalahan di Bumi Pertiwi

Empowerment (Source: PKPU)
Empowerment (Source: PKPU)

Sebagai manusia yang lahir, besar, dan hidup di Indonesia tentu kita memahami dengan baik bahwa negara yang saat ini dipimpin oleh presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo, tengah menghadapi berbagai persoalan yang pelik. Berdasarkan hasil survei dari salah satu televisi swasta nasional, setidaknya ada 10 masalah terbesar yang dihadapi Indonesia, yaitu (1) persoalan kestabilan ekonomi, (2) korupsi, (3) kemiskinan, (4) pengelolaan BBM, (5) sistem pendidikan, (6) pengangguran, (7) tingginya harga pangan, (8) bencana alam, (9) kelaparan dan krisis pangan, dan (10) krisis kepemimpinan.

Sebagai gambaran, barangkali kita bisa telisik lebih dalam persoalan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Untuk masalah di sektor pendidikan, berdasarkan laporan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2010, tercatat 1,3 juta anak usia 7-15 tahun di Indonesia terancam putus sekolah. Tingginya angka putus sekolah disebabkan salah salah satunya karena mahalnya biaya pendidikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan, seperti yang dilansir pada laman okezone.com, mengatakan pihaknya menginginkan dukungan terhadap para pelajar yang berpotensi putus sekolah lebih diintensifkan. Lebih lanjut, Anies menilai bahwa konsekuensi dari putus sekolah berimplikasi dalam aspek kesejahteraan dan permasalahan sosial lainnya.

Selanjutnya, permasalahan pada sektor kesehatan menurut guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH, seperti yang dilansir pada laman liputan6.com, yaitu mengenai program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang kurang dikelola dengan baik. Dampaknya, bila tidak diantisipasi akan menyebabkan goncangan, keluhan, eksploitasi ketidakpuasan, campur aduk politik, dan teknis kesehatan.

Sebetulnya, JKN merupakan itikad baik dari pemerintah dalam menyediakan pelayanan kesehatan seluas-luasnya bagi masyarakat. Namun permasalahan yang timbul saat ini minimnya penyediaan layanan kesehatan yang mumpuni. Fasilitas layanan kesehatan di Indonesia tidak merata dan masih terkesan terfragmentasi. Pemerintah dinilai tidak serius menangani permasalahan rasio tenaga kesehatan dan penduduk, fasilitas layanan kesehatan yang belum terstandar, dan sistem rujukan layanan kesehatan yang masih semrawut.

Sementara itu, permasalahan lain datang dari sektor perekonomian. Menteri Ketenagakerjaaan, M. Hanif Dhakiri, seperti yang dilansir laman kontan.co.id, mengatakan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2014, jumlah penggangguran terbuka di Indonesia mencapai 7,24 juta orang. Angka tersebut naik dibandingkan dengan data pada Februari 2014 yang berada pada angka 7,15 juta orang. Menurut Hanif, tingginya angka pengangguran di Indonesia disebabkan krisis ekonomi global dan terjadinya bonus demografi di Indonesia.

Jika menengok ke negara tetangga seperti Thailand, tingkat pengangguran di negeri Gajah Putih tersebut hanya berkisar 0,56 persen. Bloomberg melansir bahwa Thailand merupakan negara yang memiliki tingkat pengangguran terendah di dunia. Sebetulnya, pemerintah sudah berupaya menekan jumlah penggangguran di Indonesia hingga minimal mencapai angka 5,6 persen.

Dalam cakupan yang lebih makro, kondisi perekonomian di Indonesia terus menghadapi persoalan yang berat. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Hendar mengungkapkan bahwa perekonomian dalam negeri akan dibayang-bayangi sentimen dari eksternal maupun internal. Resiko yang harus diwaspadai oleh Indonesia antara lain: kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika The Fed, semakin melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, peningkatan utang luar negeri, dan resiko peningkatan tekanan inflasi karena kenaikan LPG (Liquified Petroleum Gas) dan TTL (Tarif Tenaga Listrik).

Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengamankan kondisi perekonomian di Indonesia yaitu menaikan harga BBM bersubsidi. Namun, kebijakan yang diambil pemerintah tersebut dianggap tidak pro terhadap masyarakat. Apalagi pada tahun 2015 ini, pemerintah seolah galau dalam mengambil kebijakan bila harga minyak dunia naik.

Tercatat selama bulan Maret 2015, setidaknya pemerintah sudah dua kali menaikan harga BBM, khususnya jenis premium dan solar. Dampak dari naiknya BBM bersubsidi membuat harga bahan pokok melonjak, harga tarif angkutan umum naik, dan harga kebutuhan lainnya pun juga turut merangkak naik. Kondisi demikian menyebabkan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat kurang mampu semakin erat mengencangkan ikat pinggang. Lantas kapan masyarakat Indonesia dapat sejahtera dan hidup nyaman?

Berbagai upaya tentu sudah ditempuh pemerintah untuk mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang mampu berdiri di atas kaki sendiri. Namun nyatanya, berbagai kajian yang dilahirkan oleh berbagai pakar yang mumpuni di bidangnya sangat sulit diimplementasikan. Banyak sekali faktor penghambat yang membuat Indonesia seolah sulit untuk menjadi negara yang seperti diamanahkan dalam Undang-undang Dasar (UUD) 1945.

Islamic Philanthropy Sebagai Solusi

Kendati Indonesia berada pada persimpangan jalan yang memprihatinkan, namun sudah selayaknya kita mengangkat kepala dan bertekad penuh bahwa kita dapat mengubah Indonesia menjadi lebih baik lagi. Pemerintah jelas tidak akan sanggup untuk mengatasi berbagai persoalan yang mendera bumi pertiwi. Untuk itu, partisipasi dari berbagai pihak merupakan nadi yang terus membuat Indonesia tetap hidup dan mampu memastikan bahwa setiap bayi yang lahir akan merasa bangga dan nyaman menjadi orang yang memiliki darah Indonesia.

Mengutip ungkapan salah satu pidato Presiden Sukarno, “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.”

Salah satu upaya yang dapat membantu akselerasi pembangunan bangsa dari berbagai aspek yaitu peran dari Islamic Philanthropy. Indonesia, sebagai mana kita ketahui adalah negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbanyak di dunia.

Hal tersebut dapat diketahui dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, yaitu lembaga riset yang berkedudukan Washington DC, Amerika Serikat yang bergerak pada penelitian demografi, analisis isi media, dan penelitian ilmu sosial. Pada tanggal 18 Desember 2012, Pew Research Center mempublikasikan risetnya tentang “The Global Religious Landscape” tentang penyebaran agama di seluruh dunia dengan cakupan lebih dari 230 negara.

Riset tersebut memaparkan total jumlah penduduk Muslim yang tersebar di berbagai negara yaitu sebanyak 1,6 miliar atau sekitar 23,2% dari total jumlah penduduk dunia. Indonesia merupakan negara sebagai peringkat pertama sebagai penganut agama Islam terbesar dengan total 209.120.000 jiwa (87,2%) dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.326 jiwa. Data tersebut juga diperkuat dari sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010.

Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin, agama rahmat bagi semua manusia. Artinya, Islam hadir bukannya hanya untuk Muslim, namun juga untuk non-Muslim (Ahli Dzimmah). Mereka mendapatkan hak yang sama dengan kaum Muslimin, kecuali beberapa perkara yang terbatas. Misalnya memeroleh perlindungan dari marabahaya yang datang dari eksternal. Hal tersebut senada dengan hadis yang diriwayatkan Abu Daud dan Al-Baihaqi, “Siapa-siapa yang menzhalimi kafir mu’ahad atau mengurangi haknya, atau membebaninya di luar kesanggupannya, atau mengambil sesuatu daripadanya tanpa kerelaannya, maka akulah yang menjadi seterunya pada hari kiamat.”

Agama Islam menjadi dan melindungi non-Muslim; darah dan badan mereka, melindungi harta mereka, menjaga kehormatan mereka, memberikan jaminan sosial ketika dalam keadaan lemah, kebebasan beragama, kebebasan bekerja, berusaha dan menjadi pejabat. Demikianlah betapa santun dan mulianya Islam memperlakukan manusia sebagai makhluk sosial. Artinya, Islam sangat concern menanamkan nilai sosial dalam setiap jiwa pemeluknya.

Lantas apa yang dimaksud dengan nilai sosial? Menurut Clyde Kluckhohn dalam bukunya yang berjudul “Culture and Behavior”, ia mengatakan bahwa nilai sosial adalah sesuatu yang diusahakan sebagai hal yang pantas dan benar bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dalam pandangan Islam, nilai-nilai sosial yaitu berperilaku baik kepada sesama, dalam artian membantu orang yang sedang kesusahan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an AlMaidah ayat 2 yang berbunyi, “…..Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

Nilai sosial dalam Islam dapat diwujudkan melalui aktifitas Islamic Philanthropy yang memiliki jangkauan kebermanfaatan yang jauh lebih luas. Istilah filantropi sendiri berasalah dari bahasa Yunani yaitu philein yang berarti cinta dan anthropos yang berarti manusia. Secara sederhana, filantropi adalah tindakan seseorang yang mencintai sesama manusia sehingga bersedia menyumbangkan waktu, uang, dan tenaganya untuk menolong orang lain.

Dalam konteks kehidupan manusia modern, filantropi dikategorikan sebagai sektor ketiga setelah sektor negara (state) dan pasar (market). Ketiga sektor tersebut memiliki peran yang berbeda-beda dalam menyokong cita-cita suatu negara.

Istilah filantropi juga dipahami masyarakat sebagai organisasi non-profit dengan tujuan-tujuan mulia seperti mencintai (sesama umat manusia) dengan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan dan menaruh perhatian terhadap orang lain atau kemanusiaan. Tujuan dari aktifitas filantropi setidaknya terdiri dari empat spektrum pendekatan, yaitu (1) pendekatan kesejahteraan (welfare), (2) pendekatan pembangunan (developmentalis), (3) pendekatan pemberdayaan (empowerment), dan (4) pendekatan transformatif (transformasi sosial).

Dunia filantropi di Indonesia berkembang pesat pascareformasi. Selanjutnya, organisasi filantropi semakin diramaikan dengan kehadiran organisasi filantropi yang berbasis keagamaan, salah satunya kehadiran Islamic Philanthropy yang mulai concern pada pengelolaan dana zakat sebesar Rp 1,73 triliun pada tahun 2012.

Islamic Philanthropy dan Masyarakat Madani

Menyoal keberhasilan Islamic Philanthropy dalam mewujudkan masyarakat madani, barangkali kita dapat memetik hikmah dan pembelajaran dari kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau dikenal sebagai khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah yang sangat dicintai fakir miskin, anak yatim, janda-janda tua, dan semua lapisan masyarakat.

Menurut catatan sejarah, Umar bin Abdul Aziz lahir di kampung Hulwan, Mesir, pada tahun 63 Hijriah/681 Masehi. Ayahnya, Abdul Aziz bin Marwan, menjabat gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul Malik. Ibunya, Ummu Asim Laila binti Asim, merupakan cucu Khalifah Umar bin Khattab. Umar diangkat menjadi Gubernur Madinah dalam usia 24 tahun. Di bawah kepemimpinan Umar, masyarakat Madinah hidup lebih sejahtera dan lebih tentram dibandingkan era sebelumnya.

Selanjutnya, pada usia 36 tahun, Umar dinobatkan sebagai khalifah di hadapan kaum muslimin yang sedang berkumpul di masjid. Menjadi seorang khalifah tidak membuat Umar berbangga diri. Ia justru menangis khawatir ia tidak dapat menjadi pemimpin yang baik. Bagi Umar sendiri, amanah merupakan tanggung jawab yang akan ditanya oleh Allah di akhirat kelak.

Selama menjadi khalifah, Umar berupaya keras untuk untuk menyejahterakan rakyatnya. Salah satu upaya yang dilakukan oleh Umar yaitu dengan mengotimalkan pengelolaan dana zakat yang diterima dari muzakki (orang yang wajib zakat) untuk disalurkan kepada mustahik (orang yang menerima zakat). Prinsip zakat haruslah memiliki dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah sehingga mendorong meningkatnya suplai.

Pada masanya, Umar berhasil menjalankan aktifitas Islamic Philanthropy dengan sangat baik. Bahkan, jumlah muzakki terus meningkat sementara jumlah mustahik terus berkurang. Ibnu Abdil Hakam (dalam Lukman Hakim Zuhdi: 2010) menceritakan seorang petugas zakat bernama Yahya bin Said pernah diutus Umar untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungut, Yahya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin dan mustahik lainnya. Namun, setelah berkeliling ke seantero negeri, Yahya tidak menjumpai satu mustahik pun karena Umar telah menjadikan semua rakyatnya hidup berkecukupan.

Bukti lain yang menguatkan bahwa Islamic Philanthropy dapat membantu mewujudkan masyarakat madani datang dari Bangladesh. Adalah Muhammad Yunus yang lahir di Chittagong, East Bengkal, kini Bangladesh pada tanggal 28 Juni 1950. Muhammad Yunus mulai menekuni bidang social entrepreneur sejak tahun 1974 dengan mengembangkan konsep kredit mikro. Program tersebut berupa pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam uang dari bank umum. Ia menamakan program tersebut dengan sebutan Grameen Bank.

Misi Muhammad Yunus melalui Grameen Bank adalah untuk mengentaskan permasalahan kemiskinan di negaranya. Hasilnya, pada tahun 2006, ia menerima penghargaan nobel perdamaian berkat usahanya dalam memenangkan perperangan melawan kemiskinan. Program Grameen Bank berhasil membantu sekitar 47 ribu lebih pengemis di Bangladesh. Mereka tidak lagi berprofesi menjadi peminta-minta, namun telah berhasil menjadi pengusaha yang mandiri.

Di Indonesia sendiri, perkembangan Islamic Philanthropy menurut Dr. Amelia Fauzia dalam bukunya yang berjudul “Faith and the State: A History of Islamic Philanthropy” dalam Azyumardi Azra (Republika Online, 16 Mei 2013), sudah ada sejak awal Islamisasi Nusantara pada abad ke-13, melintasi masa kerajaan-kesultanan Islam, penjajahan Belanda, dan masa pascakemerdekaan, termasuk masa kontemporer.

Islamic Philanthropy di Indonesia dalam bentuk ziswaf (zakat, infak, sedekah, wakaf) memiliki potensi yang sangat besar. Berbagai kalangan memperkirakan potensi ziswaf Indonesia mencapai sekitar Rp 217 triliun setiap tahun. Namun, serapan dana ziswaf yang dikumpulkan oleh Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) baru berkisar pada angka 2,7 triliun. Artinya potensi ziswaf di Indonesia masih sangat besar. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi OPZ untuk terus berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kesadaran menunaikan ziswaf dan juga menyalurkan dana ziswaf untuk program-program yang mendorong kemandirian masyarakat.

Kehadiran Islamic Philanthropy diharapkan menawarkan solusi-solusi dari berbagai permasalahan yang melanda negeri ini. Sebab, pemerintah akan kesulitan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Apalagi Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk 252.370.792 jiwa yang tersebar dari Sabang hingga Mereuke, dari Natuna hingga Rote. Namun bukan berarti peran dari Islamic Philanthropy menjadi saingan pemerintah dalam mengentaskan persoalan bangsa. Melainkan sebagai mitra pemerintah dalam melayani seluruh masyarakat dalam rangka menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial.

Beberapa lembaga Islamic Philanthropy yang ada di Indonesia, di antaranya yaitu Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, LazizNU, LazisMU, Dewan Da’wah Infaq Club, BSMI, dan PKPU. Lembaga-lembaga tersebut bergerak dalam aktifitas kemanusiaan dengan cakupan sektor yang lebih luas, baik sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, dan kebencanaan.

Akan tetapi, keberadaan lembaga-lembaga Islamic Philanthropy tersebut rasanya belum memberikan perubahan yang signifikan untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang madani. Hal ini lantaran setiap lembaga terlalu luas cakupan programnya sehingga tidak fokus untuk menyelesaikan permasalahan tertentu. Selain itu, lembaga-lembaga tersebut kurang bersinergis untuk mencari solusi bersama dalam upaya membantu pemerintah.

Barangkali pemerintah dapat menggandeng lembaga-lembaga Islamic Philanthropy untuk membahas blue print mengenai pencapaian jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang yang dapat dikolaborasikan secara bersama. Hal ini penting mengingat social movement tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri melainkan butuh kolaborasi dari berbagai pihak.

Selain kolaborasi dan sinergis untuk perubahan, lembaga-lembaga Islamic Philanthropy juga harus memiliki indikator yang terukur dalam menjalankan program-program kemanusiaan. Salah satu indikatornya adalah mengenai Quality of Live (QoL) para penerima manfaat program.

QoL didefinisikan sebagai tingkat kepuasan masyarakat terhadap kesejahteraan hidupnya sehingga tercipta suatu kebahagiaan hidup yang dibagi menjadi tiga aspek, yaitu fisik, psikologis, dan sosial. Selama ini pengukuran program kemanusiaan hanya dilihat dari segi kuantitas. Dengan QoL diharapkan organisasi-organisasi Islamic Philanthropy dapat mengukur kualitas program, sejauh mana program dapat meningkat kualitas hidup masyarakat yang berdampak pada outcome dan impact.

Dalam meningkatkan Quality of Life (QoL), saat ini lebih banyak indikator positif, seperti: kenyamanan, keamanan, dan lain sebagainya. Namun, semua QoL berujung pada apa yang benarbenar dibutuhkan oleh masyarakat. Setiap anggota masyarakat punya kemampuan berdasarkan potensi dan sumber daya yang ada. Bisa juga dilihat dari kemampuan outreach, influence, networking semakin penting untuk keperluan community capacity building.

Quality of Life
Quality of Life

Gambar 1.
Teori Hirarki Kebutuhan Manusia, Maslow.
(Teori Maslow ini dimodifikasi menjadi QoL Individu)

Kehadiran Islamic Philanthropy menjadi harapan bagi Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani. Jika menelisik referensi, masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya. Masyarakat madani menurut Anwar Ibrahim merupakan sistem sosial yang subur berdasarkan prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan kestabilan masyarakat.

Istilah masyarakat madani terinspirasi dari masyarakat Madinah yang dikenal memiliki tabiat yang baik; taat dan sadar hukum, kebersamaa, kemakmuran ekonomi, demokratis, cerdas, dan kritis. Semua itu tidak lepas dari keberhasilan nabi Muhammad saw yang memimpin masyarakat Madinah dari zaman kegelapan menuju zaman yang penuh ilmu pengetahuan.

Terakhir, mengutip kata bijak dari Eleanor Roosevelt, “I am who I am today because of the choices I made yesterday.” Salam perubahan!


Daftar Pustaka
Adzim Abdul. 2013. Madinah: Profil Masyarakat Madani. [Online]. Available at: http://sejarah.kompasiana.com/2013/04/09/madiniah-profil-masyarakat-madani-549813.html. (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Center, Pew Reseacrh. 2012. The Global Religious Landscape [Online]. Available at: http://www.pewforum.org/2012/12/18/global-religious-landscape-exec/ (diakses pada tanggal 24 Februari 2015).

Harahap, Rachmad Faisal. 2015. Prioritas Kemendikbud Tekan Jumlah Anak Putus Sekolah. [Online]. Available at: http://news.okezone.com/read/2015/01/27/65/1098074/prioritas-kemendikbud-tekan-jumlah-anak-putus-sekolah (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Syarifah Fitri. 2014. 6 Masalah Kesehatan yang Jadi ‘PR’ pada 2014. [Online]. Available at: http://health.liputan6.com/read/785102/6-masalah-kesehatan-yang-jadi-pr-pada-2014 (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Yudha, Satria Kartika. 2015. Pemerintah Targetkan Tingkat Pengangguran 5,6 Persen. [Online]. Available at: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/02/03/nj74ul-pemerintah-targetkan-tingkat-pengangguran-56-persen (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Ariyanti, Fikri. 2015. BBM Naik Dua Kali, RI Sulit Deflasi di Maret Ini. [Online]. Available at: http://bisnis.liputan6.com/read/2202729/bbm-naik-dua-kali-ri-sulit-deflasi-di-maret-ini (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Dee. 2014. 2015 Ekonomi RI Bakal Hadapi Tantangan Berat. Available at: http://www.jpnn.com/read/2014/12/05/273767/2015-Ekonomi-RI-Bakal-Hadapi-Tantangan-Berat (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Syairuddin, Ricki Valdy. 2012. Islam Sebagai Agama Rahmatan Lil’alamin. Available at: http://tazkiyah-tazkiyah.blogspot.com/2012/06/normal-0-false-false-false-in-x-none-ar_24.html (diakses pada tanggal 20 April 2015).

______. Pengertian Nilai Sosial Menurut Para Ahli. Available at: http://ssbelajar.blogspot.com/2013/04/pengertian-nilai-sosial.html (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Zuhdi, Lukman Hakim. 2010. Umar bin Abdul Aziz, Potret Pemimpin Penyayang Kaum Dhuafa. Available at: https://komunitasamam.wordpress.com/2010/11/30/umar-bin-abdul-aziz-potret-pemimpin-penyayang-kaum-dhuafa/ (diakses pada tanggal 20 April 2015).

Ariefyanto, M. Irwan. 2013. Negara dan Filantropi Islam. Available at: http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/13/05/15/mmuiqm-negara-dan-filantropi-islam (diakses pada tanggal 20 April 2015).
Muzakki, Khoirul. 2014. Potensi Filantropi Terhambat Regulasi. Available at: http://www.koran-sindo.com/read/932949/149/potensi-filantropi-terhambat-regulasi-1417674803 (diakses pada tanggal 20 April 2015).

PKPU. 2013. Draft Quality of Life. Jakarta: Lembaga Kemanusiaan Nasional.

Tentang Keyakinan

Source: http://i.huffpost.com/
Source: http://i.huffpost.com/

Kemarin, 5 April 2015, salah seorang teman saya mengirimkan pesan melalui WhatsApp. Dia menanyakan pendapat saya, apakah sebaiknya kita sebagai seorang Muslim turut mengucapkan Happy Easter kepada teman kita yang Christian?

Jawaban saya: sebagai pribadi yang berada di lingkungan yang heterogen, tentunya kerap kali kita dihadapkan pada persolan dilematis yang menyangkut hubungan horizontal: hubungan sesama manusia dan hubungan antar umat beragama. Namun, kadang kita juga sering lupa memberikan batas mana sikap yang menujukkan toleransi, mana pula yang menunjukkan hal yang prinsipil bagi kita.

Sejauh ini, saya berteman baik dengan siapa pun: tanpa membedakan agama, suku, ras, atau pun kelas sosial. Satu prinsip yang hingga saat ini saya pegang adalah, saya ingin menjadi sahabat baik untuk siapa pun. Tidak terkecuali bagi sahabat yang berbeda keyakinan. Sikap toleransi sebetulnya tidak hanya dilihat dari seberapa sering kita mengucapkan selamat pada hari-hari besar yang dirayakan oleh sahabat kita yang berbeda keyakinan. Lebih dari itu, sikap toleransi yang utama adalah, kita memberi kenyamanan bagi mereka untuk menjalankan ibadah mereka. Selain itu, kita juga menghargai keyakinan mereka dan tidak memaksakan agama kita kepada mereka. Sebab Allah berpesan, tidak ada paksaan dalam beragama.

Apabila datang hari-hari besar, biasanya saya mengucapkan ucapan yang bersifat lebih umum. Misalnya, “Selamat liburan teman! Semoga hari-hari ke depan menyenangkan!”

Intinya, sebagai seorang Muslim, tugas utama kita adalah menjadi agen Muslim yang baik. Menghargai siapa pun dan bersikap baik pada siapa pun. Kita adalah cerminan agama kita. Hingga saat ini pun saya jauh dari agen Muslim yang baik. Saya akan terus mencoba. Semoga. Semoga saya bisa. Sulit? Sangat.

Belajar Social Entrepreneur dari Muhammad Yunus

“If you go out into the real world, you cannot miss seeing that the poor are poor not because they are untrained or illiterate but because they cannot retain the returns of their labor. They have no control over capital, and it is the ability to control capital that gives people the power to rise out of poverty.”

– Muhammad Yunus, Banker to the Poor: Micro-Lending and the Battle Against World Poverty.

Muhammad Yunus Source: www.cdn2.yourstory.com
Muhammad
Yunus
Source: http://www.cdn2.yourstory.com

Lahir di Chittagong, East Bengal, kini Bangladesh pada tanggal 28 Juni 1950, Muhammad Yunus mulai menekuni bidang social entrepreneur sejak tahun 1974 dengan mengembangkan konsep kredit mikro, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam uang dari bank umum. Ia menamakan program tersebut dengan sebutan Grameen Bank.

Misi Muhammad Yunus melalui program Grameen Bank adalah untuk mengentaskan permasalahan kemiskininan di negaranya, Bangladesh. Pada tahun 2006, ia menerima penghargaan nobel perdamaian berkat usahanya dalam memenangkan perperangan melawan kemiskinan. Grameen Bank merupakan organisasi unik yang didirikan dengan tujuan utama menyalurkan kredit mikro bagi masyarakat miskin. Melalui program tersebut, sekitar 47 ribu lebih pengemis di Bangladesh telah terbantu. Ribuan pengemis di Bangladesh sudah mampu mandiri dengan menjadi pengusaha kecil, tanpa meminta-minta lagi.

Ada enam hal penting yang dapat kita pelajari dari Muhammad Yunus dalam mengembangkan social entrepreneur seperti yang dilansir media online social.yourstory.com:

1. Fokus pada masyarakat yang belum terlayani dan kurang terlayani

Muhammad Yunus yang awalnya hanya seorang dosen yang ingin membantu seorang ibu dari keterpurukan, kini telah mampu memberi sesuatu yang jauh melebihi apa yang dibayangkannya, mengentaskan kemiskinan di negerinya.

2. Memiliki mimpi besar

Muhammad Yunus sejak kecil sudah berkeinginan besar untuk membantu menyelesaikan persoalan di negaranya. Ketika dewasa ia pun mendirikan Grameen Bank dengan harapan dapat membantu jutaan masyarakat agar terlepas dari kemiskinan.

3. Kolaborasi adalah kunci untuk pertumbuhan

Grameen Bank bekerja sama dengan beberapa mitra untuk mewujudkan mimpi besar Muhammad Yunus dalam mengembangkan konsep bisnis sosial.

4. Diversifikasi

Akhir tahun 1980-an, Grameen Bank mulai diversifikasi proyek-proyek lain untuk menumbuhkan dan mengembangkan organisasi yang ia kelola.

5. Terus membantu orang lain

Grameen Bank terus menciptakan bisnis sosial yang sejenis di seluruh dunia. Ia juga membantu lembaga-lembaga social entreprise seperti pengusaha sosial muda di bawah usia 25 tahun serta mengembangkan ide-ide bisnis sosial mereka.

6. Siap untuk dicela

Muhammad Yunus takjarang menuai kritik dari berbagai bidang. Ia bahkan diminta untuk mundur sebagai Managing Director of Grameen Bank karena dianggap tidak mumpuni. Namun ia terus maju memberikan yang terbaik.

Kisah Muhammad Yunus adalah bukti bahwa ketulusan yang disertai pengabdian akan memberikan hasil yang luar biasa. Apa yang bisa kita petik dari kisah Muhammad Yunus ini? Mulailah segala sesuatu dari yang sederhana, dari yang kecil, dari apa yang kita bisa. Asal dapat memberi manfaat bagi orang lain, dampaknya akan terus menular dan berkembang menjadi kebaikan yang akan terus menjadi besar. Muhammad Yunus adalah contoh nyata dan teladan pribadi yang luar biasa. Dia dapat memanfaatkan ilmu yang dimiliki, empati, serta cintanya yang besar terhadap kehidupan untuk menjawab kebutuhan banyak orang di sekelilingnya dengan solusi sederhana pada awalnya. [Source: info biografi]

 

Helvy Tiana Rosa: Saya Menulis untuk Mencerahkan

Helvy Tiana Rosa. Source: Fan Page Facebook
Helvy Tiana Rosa.
Source: Fan Page Facebook

“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tidak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi.” Demikian ujar Helvy Tiana Rosa saat kami temui pada sesi wawancara di kediamannya, di daerah Depok, pada hari Kamis, (29 Januari 2015) lalu.

Adalah Helvy Tiana Rosa, kelahiran Medan, 22 April 1970, yang merupakan pendiri Forum Lingkar Pena (FLP). Helvy, begitu ia akrab disapa, mengenal sastra dari ibunya. “Ibu saya senang bercerita, baik lisan maupun tulisan. Biasanya bila akan tidur, ibu menulis apa yang sudah ia lakukan dalam satu hari. Jadi semacam muhasabah (evaluasi diri, red). Ibu-lah orang pertama memotivasi saya untuk menulis,” kenang Helvy.

Kakak pertama dari penulis Asma Nadia ini mengaku sudah bisa membaca sejak umur 5 tahun. Ia membaca apa saja yang ia temui pada kertas-kertas koran untuk pembungkus cabai, pembungkus bawang, atau pembungkus sayur. Guna memenuhi hasratnya dalam membaca, Helvy dan adiknya, Asma juga meminjam buku dari teman-temannya. “Jika tidak membaca, kami bisa uring-uringan. Sementara kondisi keluarga kami saat itu kurang beruntung dari segi finansial. Jadi kami meminjam buku dari teman dan mengembalikannya maksimal tiga hari. Sebagai ucapan terima kasih, kami pun menyampulkan buku mereka sehingga terlihat lebih rapi,” jelas dosen Universitas Negeri Jakarta ini.

Helvy menceritakan bahwa waktu kecil ia hampir setiap hari ke tempat penyewaan buku bersama Asma hanya melihat orang-orang yang menyewa buku. Lagi-lagi, mereka tidak bisa menyewa buku karena tidak memiliki uang. Asma pun menangis karena seolah keinginan sederhananya untuk membaca kandas. Helvy memberikan suntikan motivasi pada Asma. Ia bilang, “Suatu saat nanti kita akan mendirikan taman bacaan di seluruh Indonesia. Jika bisa di seluruh dunia. Suatu saat nanti kita juga akan menulis. Tulisan-tulisan kita akan ada dimana-mana.” Asma kecil kemudian menimpali perkataan kakaknya, “Tapi kita hanya anak kecil. Kita tidak akan bisa melakukan hal itu.” Helvy pun kembali meyakini Asma bahwa suatu saat mereka akan dewasa. “Insya Allah kita bisa. Alhamdullillah, kini cita-cita kami waktu kecil sudah terwujud. Asma sendiri bahwa sudah punya Rumah Baca Asma Nadia,” ungkap Helvy dengan mata berkaca-kaca.

Karya pertama yang ditulis oleh Helvy yaitu puisi. Menurutnya, puisi adalah jembatan awal yang menjadikan ia sebagai seorang penulis. Saat kelas 3 SD, tulisan Helvy untuk pertama kalinya dimuat oleh salah satu majalah anak di Jakarta. Betapa senangnya Helvy sebab karyanya dapat dibaca oleh banyak orang. Sejak saat itulah, penulis yang mengidolakan sastrawan Muhammad Iqbal, Jalaluddin Rumi, dan Taufik Ismail tersebut semakin bersemangat untuk berbagi dengan menulis.

“Saya menulis untuk mencerahkan,” tegas Helvy. Menurutnya, seorang penulis yang baik adalah penulis yang dapat turut membangun karakter pembaca dan juga karakter penulis itu sendiri. Lebih lanjut, penulis yang pernah menjadi Redaktur Pelaksana majalah Annida ini menuturkan bahwa penulis yang ideal itu harus seperti apa yang ia sampaikan melalui tulisan-tulisannya. “Bagi saya, karya sastra yang baik itu adalah karya yang dapat membuat kita bergerak. Bukan hanya sekadar karya sastra yang membuat kita jadi pengkhayal dan terbuai dalam lautan kata-kata semata. Karya sastra semestinya dapat mengasah nurani kita untuk lebih peduli, membuat kita penuh cinta, dan membuat kita lebih bercahaya.”

Helvy merasa prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini yang kehilangan karakter. Ia menyayangkan tayangan-tayangan sinetron yang tidak mendidik. “Saya rasa apa yang ditampilkan sinetron-sinetron sekarang bukanlah karakter bangsa kita. Indonesia dulu memiliki karakter yang berbudi pekerti luhur seperti gotong-royong dan tenggang rasa. Namun sekarang terkikis,” pungkasnya dengan nada yang bersemangat.

Penulis yang namanya melejit berkat cerpen berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi” pada tahun 1993 ini mengatakan bahwa karakter bangsa Indonesia dapat dibangun melalui karya sastra. Namun Helvy juga menyesalkan takbanyak penulis memiliki semangat seperti demikian. Banyak yang menilai sastra hanya sebagai komoditas yang menguntungkan dalam menghasilkan pundi-pundi rupiah. Bahkan banyak di antara mereka yang kurang menekankan pesan-pesan moral dalam setiap tulisan mereka. “Hingga saat ini saya selalu memegang moto saya yaitu menulis cahaya. Saya ingin mencerahkan diri saya dan syukur-syukur saya juga dapat mencerahkan orang lain. Saya tidak akan menulis suatu hal yang membuat masyarakat menjadi bobrok. Saya harus menulis hal-hal penuh spirit yang membangkitkan dan dapat menggerakkan pembaca ke arah cahaya,” ungkap Helvy.

Menurut pandangannya, sastra jangan sampai menjadi ekslusif. Ia mengatakan bahwa sastrawan W.S Rendra pernah berpesan, “Untuk apa menulis sastra jika kita tinggalnya di menara gading.” Helvy menilai bahwa Rendra tidak ingin menjadi penyair salon yaitu penyair yang hanya bicara tentang anggur dan rembulan. Sastrawan harus terlibat dalam masyarakat. “Jadi untuk apa menjadi sastrawan bila tidak tahu persoalan masyarakat dan tidak memberikan solusi sama sekali. Jika kita tidak bisa membantu, paling tidak kita bisa berempati. Sementara empati sendiri adalah urusan sastra,” papar ibu yang memiliki dua anak ini.

Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis

Helvy sadar betul bahwa Allah sudah menganugrahkan talenta menulis untuknya. Menyadari hal tersebut, Helvy tidak tinggal diam bila ia menyaksikan musibah, bencana, dan kesemena-menaan terpampang jelas di depan matanya. “Saya gunakan pena untuk bersuara, berteriak, dan protes atas berbagai permasalahan yang terjadi. Saya pernah menulis cerita pendek tentang seorang anak Timur-timur yang tampak ketakutan ketika saya melihat berita di televisi. Nurani saya juga terketuk saat melihat tragedi kemanusiaan di Gaza, Palestina. Saya pikir kita harus berbuat sesuatu. Saya sendiri memilih dengan cara menulis,” terangnya.

Pada tahun 1997, Helvy bersama Asma Nadia dan Maimon Herawati mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) yang bertujuan menyebarkan Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis. FLP berupaya memotivasi kaum muda untuk menulis. “Saya tahu saat itu sangat banyak orang ingin menjadi penulis. Namun mereka tidak memiliki uang dan tidak memiliki kesempatan. FLP memberikan pelatihan kepenulisan dengan gratis. Alhamdulillah, banyak penulis-penulis hebat lahir dari organisasi yang sekarang anggotanya sudah berjumlah lebih dari 100.000 orang,” papar Helvy.

Masih lekat dalam ingatannya, dulu ia sering diundang oleh pelajar-pelajar SMA di berbagai daerah untuk mengisi pelatihan kepenulisan. Anak pertama Helvy, yaitu Abdurahman Faiz, menyebut Helvy sebagai relawan FLP. Faiz berpesan pada adiknya, Nadia, “Jika bunda pergi memberikan pelatihan menulis, jangan minta oleh-oleh. Pulang kembali ke rumah dengan selamat sudah lebih dari cukup.” Helvy teringat ketika awal-awal FLP berdiri, takjarang ia harus mengeluarkan kocek sendiri untuk ongkos pergi dan pulang demi mengisi pelatihan kepenulisan. “Dulu saya punya pengalaman berkesan dengan penulis muda yang saat ini sedang naik daun dalam dunia sastra yaitu Beni Arnas. Waktu dia SMA di Lubuk Linggau, ia meminta saya mengisi pelatihan di sana. Namun ia memiliki keterbatasan dana. Saya pun mengiyakan untuk mengisi. Hingga sakarang kejadian tersebut sangat membekas bagi dia. Saya merasa dulu tidak ada yang mengajarkan saya, kecual ibu saya sendiri. Jadi saya tidak mau terjadi pada remaja-remaja lain,” kenangnya.

Bagi Helvy sendiri, membaca dan menulis adalah kegiatan yang berpasangan. Tidak bisa berjalan sendirian. Apabila banyak membaca namun tidak menulis, maka tidak akan ideal. Terlalu banyak menulis namun tidak membaca, maka tulisan akan menjadi kering dan kosong. Ia mengatakan bahwa menulis itu ibarat gelas yang berisi air penuh. Agar tidak meluber, air dalam gelas tersebut harus dibagikan pada gelas lain. Hal itu namanya berbagi.

Lebih lanjut, Helvy berpendapat bahwa Indonesa harus memiliki banyak penulis. Sebab tingkat peradaban suatu bangsa ditentukan dari seberapa banyak orang membaca dan menulis. untuk itu, ia menyarankan agar setiap individu meluangkan waktu untuk menulis. Helvy pun memberikan tips-tips sederhana dalam menulis, yaitu: Pertama, luangkan waktu untuk menulis. Kedua, catat setiap ide yang terlintas di benak kita. Ketiga, jangan menulisa sambil menjadi editor (penyunting) sebab tulisan kita tidak akan selesai. Keempat, menulislah dari hari. Kelima, menuliskan dengan wawasan dan bidang yang kita kuasai.

Helvy mengatakan dalam menulis, bakat hanya berperan 10% dan 90% lagi ditentukan oleh tekad dan kemauan. “Ketika menulis, kita harus menggunakan dua mata. Satu mata penulis, dua mata pembaca. Jadi kita dapat memosisikan diri kita sebagai pembaca dan penulis sekaligus. Insya Allah karya kita akan lebih berterima,” tutup Helvy.

Saat ini, Helvy tengah sibuk mempersiapkan novel terbarunya dan menggarap film “Ketika Mas Gagah Pergi” yang akan direncanakan tayang pada akhir tahun 2015. Helvy menginspirasi kita lewat kata. Kita pun menginspirasi dunia dengan potensi yang kita miliki.

[MahfudAchyar/Rini Aprilia]

Indonesia Berbagi!

Source: http://unmine.pley.com/
Source: http://unmine.pley.com/

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berbagi merupakan kata kerja yang berarti pemakaian secara bersama atas sumber daya, ruang, dan sebagainya. Sebagai makhluk sosial, manusia saling membutuhkan satu sama lain. Untuk itu, berbagi adalah hal yang tidak dapat kita sangkal sebab menjadi bagian dari individu itu sendiri.

Debasish Mridha, penulis buku “Sweet Rhymes from Sweet Hearts” memiliki pendapat indah mengenai cinta, kepedulian, dan berbagi. Dalam bukunya, ia menulis, “Love, caring, and the spirit of kindness always bring happiness. Our greatest happiness depends on what we love, how we care, and how we share.” Sejatinya, berbagi membuat kita merasakan kebahagiaan yang mendalam (heartwarming) yang barangkali tidak dapat dinilai dari sesuatu yang bersifat artificial.

Frasa berbagi menjadi semangat yang ingin kami sampaikan kepada siapa pun: tanpa ada batasan gender, usia, latar belakang pendidikan, dan profesi. Semua orang sebetulnya dapat berbagi. Namun yang membedakannya adalah, tools apa dan cara seperti apa yang digunakan untuk berbagi? Bagi orang yang memiliki kemampuan finansial yang baik, barangkali ia dapat berbagi melalui materi yang ia punya. Bagi seorang penulis, ia dapat berbagi melalui tulisannya yang menggugah. Bagi yang papah sekalipun, ia dapat berbagi dengan memberikan senyum dan mendoakan kebaikan. Kadang, hal-hal sederhana yang kita lakukan tanpa kita sadari adalah bentuk lain dari berbagi.

Barangkali kita dapat belajar dari sosok seperti Helvy Tiana Rosa yang berbagi melalui dunia kepenulisan atau dari Muhammad Yunus yang berhasil mengembangkan social entrepreneur. Semua upaya yang dilakukan berbagai entitas tersebut semata-mata untuk memberikan perubahan yang jauh lebih baik dan signifikan untuk masyarakat, lingkungan, dan dunia. Oleh karena itu, berbagi adalah syarat mutlak untuk membuat kita menjadi manusia yang seutuhnya, menjadi manusia yang takhanya sekadar ada, dan menjadi manusia yang memberikan kebermanfaatan untuk sesama. Berbagi tidak membuat kita menjadi miskin. Justru dengan berbagi, Tuhan akan menambahkan kenikmatan untuk kita. Tentunya kita berharap amal berbagi akan menjadi bekal berharga untuk kita menyongsong hidup setelah mati.

Terakhir, kami sampaikan selamat membaca! Salam care, share, inspire!

 

#JeSuisCharlieHabdo, #JeSuisAhmed, dan #WhoIsMuhammad

oleh: Mahfud Achyar

Campaign on Social Media
Campaign on Social Media

Insiden penembakan yang terjadi di kantor tabloid Charlie Hebdo pada tanggal 7 Januari 2015 diduga dilakukan oleh oknum yang mengatasnamakan Islam. Dua orang bersenjata yang mengenakan pakaian serba hitam dan bersenjata AK-47, melakukan serangan membabi buta sehingga menewaskan setidaknya 12 orang dan melukai 10 orang. Islam kembali dikaitan dengan aksi teror di negeri mode tersebut. Dua hari setelah insiden penembakan, pada 9 Januari 2015, Al Qaeda di Yaman yang dikenal sebagai AQAP menegaskan bahwa pihaknya bertanggung jawab atas serangan di kantor Charlie Hebdo. Ia mengatakan, “Itu balas dendam atas kehormatan Islam.”

Atas pernyataan tersebut, banyak media yang memberitakan Islam dengan nada negatif. Islam dinilai sebagai agama teror yang tidak menghargai hak azazi manusia. Donald Tusk, presiden baru Dewan Eropa mengutuk keras serangan tersebut. Ia mengatakan bahwa penyerangan ke kantor tabloid Charlie Hebdo merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai dasar UE, kebebasan berekspresi, dan pilar demokrasi.

Pemberitaan tidak berimbang dari berbagai media mengakibatkan terjadinya aksi Islamophobia di Perancis. Setidaknya, ada 116 serangan Islamophobia dalam waktu dua pekan setelah terjadinya insiden di Charlie Hebdo. Menurut Abdallah Zekri, Kepala Observatorium yang berbasis di Perancis, serangan Islamophobia meningkat 110 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Charlie Hebdo memang acap kali menimbulkan kontroversi karena sering memuat tulisan, kartun, dan karikatur yang isinya menyerang gerakan ekstrem kanan, agama (Katolik, Islam, Yahudi), politik, dan budaya. Penembakan yang dilakukan oleh dua bersaudara Cherif dan Said Kouachi pada tanggal 7 Januari 2015 diduga akibat penerbitan kartun-kartun yang menghina nabi Muhammad saw.

Masyarakat dunia pun beramai-ramai berkampanye di linimasa twiiter dengan tagar (hash tag) “Je Suis Charlie” sebagai bentuk aksi simpatik terhadap insiden berdarah di kantor Charlie Hebdo. Namun sangat disayangkan banyak media yang bias dalam pemberitaan berkaitan insiden tersebut. Faktanya, hanya sedikit media yang mengabarkan bahwa seorang polisi Perancis yang bernama Ahmed Marebat juga merupakan korban penembakan.

Ahmed adalah seorang muslim yang baik, setidaknya demikian diceritakan dalam berbagai sumber. Menurut kesaksian keluarga dan teman-temannya, Ahmed sangat marah dan tidak menyukai kartun-kartun Charlie Hebdo yang menghina nabi Muhammad. Namun ketika terjadi penyerangan di kantor Charlie Hebdo, ia justru berupaya menghentikan aksi penembakan tersebut. Sayang, ia menjadi korban yang merenggang nyawa di lokasi kejadian. Aksi teror tersebut jelas tidak ada kaitannya dengan Islam.

Setelah kampanye “Je Suis Charlie”, kampanye “Je Suis Ahmed” menjadi tagar yang ramai di linimasa twitter. Salah satu netizen mengatakan, “Je Suis Ahmed, saya adalah Ahmed. Umat Islam akan marah kepada para pengina nabi Muhammad, namun Islam adalah agama damai rahmatan lil ‘alamin yang membela hak hidup manusia.”

Tidak lama setelah itu, kampanye di twitter dengan tagar #WhoIsMuhammad muncul. Kampanye tersebut mengajak seluruh umat Muslim di dunia untuk mendeskripsikan nabi Muhammad. Hal tersebut merupakan bentuk protes karikatur nabi Muhammad yang menjadi sampul tabloid Charlie Hebdo pasca insiden 7 Januari 2015.

Maher Zain, penyanyi Swedia, menulis dalam akun twitternya, “Even a smile is charity.” #WhoIsMuhammad #PeaceBeUponHim.” Sementara itu, salah seorang netizen dengan akun @TSPMuslim menulis, “Best question I ever asked, “#WhoIsMuhammad?” Now I am a Muslim.” pada tanggal 15 Januari 2015.

Media bisa saja memberitakan hal-hal yang tidak baik tentang Islam dan nabi Muhammad. Namun Allah memiliki rencana terbaik yang tidak diketahui oleh siapa pun. Alhamdulillah, kini ribuan orang kini tercerahkan tentang sosok teladan nabi Muhammad saw. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri telada yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21).

 

Merawat Kenangan

“Bagaimana bila kita sama sekali tidak bisa mengingat apa yang sudah kita alami?”

Source: http://images.gizmag.com/
Source: http://images.gizmag.com/

Semalam, saya sempatkan untuk menonton film di laptop. Sudah banyak sekali koleksi film yang menumpuk di external hard disk, namun belum sempat saya tonton. Pilihan saya jatuh pada film The Giver. Entahlah, mengapa saya harus menonton film ini. Padahal juga banyak film lain bisa ditonton. Ada semacam dorongan besar dari dalam saya untuk menonton film tersebut. Sesuatu yang sulit saya jelaskan. Berlebihan? Saya pikir juga begitu.

Film ini mengisahkan seorang pemuda bernama Jonas yang terpilih sebagai Penerima Kenangan. Ia mendapatkan hak prerogatif untuk mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelum lahirnya Komunitas. Berbagai kenangan diterima Jonas, baik itu kenangan yang manis, indah, menakutkan, bahkan kenangan memuakkan. Singkat cerita, ia berjuang untuk mengembalikan kenangan agar semua orang bisa kembali menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia yang lahir, tumbuh, dan berkembang dengan begitu banyak kenangan. Selesai menonton film ini, saya kemudian merenung. Dalam benak saya, begitu banyak pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya. Dan film ini cukup membantu saya untuk menemukan jawaban atas kegelisahan saya selama ini.

Saya pernah berpikir, mengapa Tuhan tidak menciptakan semua manusia baik. Mengapa harus ada permusuhan, pertengkaran, dan perperangan? Belakangan saya baru menyadari seutuhnya bahwa pada dasarnya fitrah manusia itu baik. Manusia adalah aktor dan decision maker dalam hidupnya. Tuhan memberikan kita kebebasan untuk memilih jalan yang kita suka. Dan jalan itu dipilih oleh segumpal darah yang ada di dalam tubuh kita. Segumpal darah yang orang-orang sering menyebutnya HATI. Maka, sebagai manusia kita diminta untuk merawat hati agar kita tidak salah memilih. Kata orang bijak, jika kau ragu dengan berbagai pilihan dalam hidupmu, maka cobalah tanya pada hatimu. Hati tidak pernah berbohong. Namun bagaimana bisa hatimu berkata jujur? Jika selama ini terlalu banyak noda yang mengotorinya. Sehingga kau sendiri tidak yakin apa yang dikatakan hati.

Sebelum kita lahir, bukankah kita pernah hidup di alam rahim? Lantas apa yang bisa kita ingat? Tidak secuil pun. Bahkan saya pun tidak bisa mengingat perjanjian suci dengan Tuhan ketika Ia meniupkan ruh ke dalam jasad saya. Pada saat itu, saya berjanji bahwa saya mengakui Allah sebagai Tuhan semesta alam. Saya pun menerima syarat dari-Nya atas tiga hal yaitu jodoh, rezeki, dan kematian. Ya itu janji yang pernah terjadi. Bukankah itu kenangan? Mengapa saya tidak mengingatnya sama sekali. Sembilan bulan hidup dalam rahim ibu, menerima asupan gizi dari uterus tentu saya memiliki kenangan, namun lagi-lagi saya tidak bisa mengingatnya. Di mana kenangan itu tersimpan? Apakah di otak? Tapi mustahil jika kenangan tersimpan di otak karena perkembangan otak janin baru dimulai saat ia berusia 8 minggu. Sebelum itu, apakah ia takmemiliki kenangan sama sekali?

Belakangan saya juga berpikir apakah kenangan-kenangan buruk bisa dihapus? Yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan indah dan baik. Sebab selama ini saya selalu terusik dengan kenangan buruk yang membuat hidup saya tidak bahagia, membuat saya gelisah, dan membuat saya merasa benci. Apa iya kita bisa menghapus kenangan? Mungkinkah cara kerja otak itu seperti hard disk? Jika kita ingin memperbaiki kenangan, kita tinggal klik kanan kemudian klik error checking, selanjutnya klik optimise and defragment, dan terakhir clean-up history yang menurut kita perlu dihapus. Sehingga yang tersisa hanyalah folder-folder kenangan yang baik. Bisakah semudah itu?

Film The Giver membuat saya sadar bahwa seharusnya kita tidak perlu memilih dan memilah kenangan. Semua manusia memiliki sisi hitam dan putih. Kenangan baik membuat kita merasa bahagia, kenangan buruk membuat kita belajar. Semua kenangan pada akhirnya membuat kita menjadi manusia yang bijak. Membuat kita menjadi Sang Perawat Kenangan. Biarkanlah kenangan baik itu terus terjaga dengan baik. Bila kita sedih dan marah, ingatlah kenangan yang indah dalam hidup kita. Sementara kita juga perlu merawat kenangan buruk. Mungkin ia taksesempurna kenangan baik. Ia layaknya seperti kupu-kupu yang memiliki sayap yang robek. Namun bukankah sayap yang robek bisa kita sembuhkan? Perlahan, biarkan kita merawat sayap yang robek itu. Mungkin ia tidak akan baik seutuhnya. Namun percayalah kondisinya akan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Setiap orang ibarat bulan. Memiliki sisi kelam yang takpernah ia tunjukkan pada siapa pun. Pun sungguh cukup bagi kita memandang sejuknya bulan pada sisi yang menghadap bumi.” – Salim A. Fillah

Tidak ada manusia yang sempurna. Kita dibangun oleh kenangan-kenangan yang berasal dari dalam diri kita. Kenangan yang kita sendiri tidak tahu mengapa ia hadir dan dimana ia bersembunyi. Pun jika kita merasa sakit di masa lalu, kita takusah bersikeras untuk melupakannya. Upaya maksimal yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan masa lalu. Saya percaya bahwa setiap cobaan yang dihadapi oleh manusia adalah proses untuk ia mendapatkan derajat yang lebih baik di mata Tuhan. Jika saya dan kita semua masih menerima cobaan yang sama, kita perlu memeriksa hati kita. Mungkin hati kita sudah bebal dengan begitu banyak kesalahan yang sudah kita perbuat.

Saya ingin menjadi perawat kenangan. Namun jika saya dihadapkan dengan pilihan bahwa saya harus kehilangan kenangan, saya meminta pada Tuhan untuk menyisakan satu kenangan terbaik yang pernah yang miliki. Sebuah kenangan yang saya sendiri kita yakin apakah kenangan ini benar-benar ada atau tidak.

Suatu malam pada tahun 2013, saya bermimpi bertemu dengan seorang pria paruh baya mengenakan baju putih seperti pakaian ihram. Namun saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Saya hanya bisa mendengar suaranya. Saat itu saya bertanya padanya, “Siapakah ini?” Dengan suara berat ia menjawab, “Nabi Muhammad saw.” Saya terbangun dari mimpi saya. Jantung saya berdetak lebih kencang, napas saya tidak teratur, dan malam itu saya sungguh gelisah. Apa mungkin saya bertemu dengan Sang Pembawa Pesan? Saya tidak yakin dengan mimpi saya. Sebab yang saya tahu selama ini, untuk berjumpa dengan Rasulullah, kendati di alam mimpi, tidaklah mudah. Barangkali hanya orang-orang khusus yang memiliki hak istimewa semacam itu. Sementara siapalah saya? Seorang anak manusia yang hari-harinya hanya disibukkan dengan persoalan dunia dan seringkali berbuat maksiat.

Namun, jika pun kenangan itu taknyata. Saya tetap bahagia karena saya memiliki kenangan yang mungkin taksemua orang punya. Kenangan terbaik yang akan selalu saya rawat hingga kapan pun. Saya percaya, setiap orang memiliki kenangan-kenangan personal yang akan terus mereka rawat. Seperti Harry yang begitu mencintai kenangan saat ia dipeluk oleh kedua orang tuanya. Kenangan terbaik tersebut menjadi pancaran cahaya “Expecto Patronoum!” ketika merasa tertekan oleh kehadiran Dementor.

“Kenangan itu merupakan kebenaran.” – Jonas.

Tulisan ini mungkin sedikit rumit. Saya pun begitu sulit mencerna dan mengurainya untuk menjadi sebuah pesan yang mudah dipahami.

Alone

source: www.devianart.com
source: http://www.devianart.com

Ali bin Abi Tholib ra. berpesan, “Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.”

– HR. Bukhari

 

David Chalik: Jangan Pernah Merasa Kita Lebih Hebat

David Chalik
Image source: https://www.instagram.com/davidchalik/

David Chalik bisa dikatakan sebagai artis yang multi-talent. Pasalnya, David begitu ia akrab dipanggil tidak hanya dikenal sebagai aktor melainkan juga ia dikenal sebagai host, bintang iklan, model, pebisnis, dan juga aktif berkicimbung di dunia sosial. Sejumlah film dan sinetron sudah ia bintangi sepeti sinetron film Negeri 5 Menara (2011) dan Putri Bidadari (2012).

Pria kelahiran 13 April 1977 ini juga kerap menjadi host dalam berbagai acara yang ditayangkan oleh stasiun tv swasta seperti Damai Indonesiaku (tvOne) dan Oase Ramadhan (Metro TV). Tidak hanya sampai di situ, David juga merambah dunia bisnis dalam bidang rumah produksi dan trading. Ragam profesi sudah ia lakoni.

Perjuangan David untuk mencapai cita-citanya tidaklah mudah. Begitu banyak tantangan yang harus ia lalui. Seperti apa perjalanan hidup David Chalik? Bagaimana ia mampu mewujudkan cita-citanya? Berikut petikan wawancara Mahfud Achyar bersama David Chalik yang ditemui di acara seminar ?Menjadi Pelatih Emosi Anak? yang diadakan di bilangan Cipete, Jakarta Selatan.

Bisa diceritakan sosok Anda di masa kecil?

Saya waktu kecil suka main. Jarang dapat rangking atau juara. Namun kelas 6 ada seorang guru bernama bu Tini yang menemukan potensi dan bakat saya sehingga saya bisa mendapatkan rangking tiga di kelas enam dan berlanjut di SMP dan SMA. Sewaktu SD, seingat saya pelajaran PMP dimana kita harus menghapal butir-butir undang-undang, dan saat itu saya belum belajar. Akhirnya saya pun nyontek dengan menaru buku di dalam laci. Lagi asyik nyontek, eh ternyata guru saya ada di depan saya ngeliatin. Trus ibu guru bilang, pokoknya kalau ada ulangan, David harus duduk di depan biar ga nyontek.

Lantas sejak kapan mulai masuk dunia entertaint?

Waktu saya SMP atau SMA, ibu saya selalu mengirimkan foto-foto saya ke majalah dan akhirnya sata terpilih menjadi cover majalah Aneka Yess!

Ada kesulitan ketika awal-awal menjadi aktor?

Iya pasti ada kesulitan karena dunia seni peran bukan bidang saya, namun karena banyaknya motivasi dan dorongan dari orang-orang terdekat yang mengatakan bahwa saya pasti bisa.

Bagaimana cara mendalami setiap karakter?

Aku pernah berperan sebagai orang suku Tengger, aku harus belajar bahasa mereka, belajar cara mereka hidup, belajar kebudayaan mereka. Aku juga pernah berperan sebagai ustad di film Negeri 5 Menara dan aku harus pake logat Minang. Walaupun sebenarnya orang tua berdarah Minang, namun sejak kecil aku berbahasa Indonesia. Aku sering dengar bahasa Minang, tapi aku tidak terlalu mahir, jadi saya harus belajar lagi.

Peran yang Anda bawa pernah terbawa dalam dunia nyata?

Tentu pernah, misalnya ketika saya acting marah dan sangat marah, padahal saya tidak pernah seperti itu.

Value apa yang Anda dapat?

Banyak diberikan akses baik itu positif maupun negatif. Namun semua itu kembali pada diri kita.

Belakangan, Anda juga kerap kali memerankan tokoh sebagai Ustad dalam film dan sinetron yang Anda bintangi, ada kesulitan?

Challenges pasti ada. Cuman bebannya lebih berat lagi karena kan saya bawain acara religi. Saya bukan ustad, itu benar. Tapi yang saya ingin dalam hidup adalah menjadi manusia yang lebih baik. Image saya sering membawa acara religi membuat masyarakat beranggapan lebih bahwa saya menjadi ustad. Saya manusia biasa yang mempunyai kekurangan dan saya belum pantas dipanggil ustad. Jadi, saya tahu diri saya, apa yang harus saya benahi. Saya minta doanya saja semoga saya bisa menjadi orang baik. Jika nanti saya berpulang ke Rahmatullah, saya bisa khusnul khatimah, mati masuk syurga. Aamiin. Itu saja harapan saya. Jadi kalau ditanya beban, ya ada, bebannya saya bukan ustad. Saya hanya orang biasa yang berusaha benahi diri. Itu saja.

Bagaimana Anda mendalami karakter tersebut?

Sebetulnya sudah diarahi oleh sutradaranya. Tapi jika bicara untuk menjadi ustad, kebetulan saya dipermudah karena saya memang senang membaca buku-buku Islam. Saya senang koreksi diri saya, saya senang diskusi soal agama sama orang-orang yang lebih paham agama. Kadang kala ada beberapa hal dalam sinetron yang keluar begitu saja karena hasil pembicaraan atau hasil yang saya baca, hasil belajar. Jadi lebih mudah. Namun ada kalanya, jika saya menyampaikan sesuatu dalam hal naskah sinetron, saya tanya dulu dengan guru saya, “Ini benar ga kaya gini, ini salah ga nih interpretasinya, kalau saya bicara begini nanti gimana.” Jadi ga sembarangan karena sutradara dan produser pastinya juga harus paham Islam. Jika tayangan itu bawa unsur-unsur Islam dan unsur-unsur agama jangan ada kesan menjual belikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Jadi memang konteksnya harus pas dan tidak sembarangan.

Selain memerankan peran ustad, Anda juga sering membawakan acara agama, bagaimana tanggapan Anda?

Jadi dulu ada imej di kalangan artis-artis muda, dulu ya, tapi sekarang udah gak. Jangan pernah mau membawa acara agama nanti imejnya akan terus jadi host acara agama. Rezekinya akan tertutup, akan di situ-situ saja. Waktu ada orang yang ngomong kaya gitu, otak saya berpikir bahwa kenapa kok kita harus takut sih? “Orang agama gue Islam, kita ada rejeki juga karena orang tua, dan rezeki dari Allah, jadi kenapa harus takut untuk menjadi host acara agama.” Jangan takut, justru harus menjadi kebanggaan kita sebagai umat Islam, sebagai kebanggaan wujud cinta kita kepada Allah bahwa dari rezeki yang Allah kasih, nikmat yang Allah kasih; paras, otak, kemampuan berpikir, kemampuan berucap yang baik, kenapa ga kita manfaatin di jalan Islam. Toh acaranya acara religi dan thayyib.

Saya bawain acara bulan Ramadhan tahun 2004 hingga 2009 bersama mas Anto Lupus yang dipercayakan ke saya. Saya senang aja. Terus RCTI minta saya lagi bawain acara bersama Ustad Hidayat Nurwahid. Tahun 2006 acara “Menuju Taubat” tentang bagaimana proses orang membenahi dirinya seperti para mantan narapidana. Dari situ berlanjut acara Ramadhan dan Damai Indonesiaku di tvOne. Saya melihat bahwa anggapan manusia tentang rezeki itu tidak tepat. Rezeki itu di tangan Allah. Kalau pun memang hari ini kita bawa acara religi, besok-besok kita bawain acara lain asalkan tidak bertentang dengan agama kenapa gak? Namun begitu ada acara yang aneh-aneh, gak deh. Semakin lama kita belajar, kita semakin mengerti. Kita bertemu dengan ulama untuk bertanya mana yang boleh, mana yang enggak. Kita jangan bawain acara gosiplah itu bertolak belakang dengan agama manapun yang tidak mengajarkan umatnya untuk membicarakan aib orang. Dengan membawakan acara agama menjadi benteng sendiri untuk kita. Saya merasakan faedahnya dengan membawakan acara agama. Selain memang passion saya dari kecil, saya pernah ngobrol sama mama. Ibu saya sempat bilang, “Mudah-mudahan David bisa jadi ustad.” Pengen jadi ustad, tapi ustad yang bagaimana dulu, ustad itu kan guru. Seengak-enggaknya jadi ustad untuk diri sendiri dan keluarga dulu.

Merasa diri kita lebih dari orang lain, itu menjadi kehancuran dan kegagalan untuk diri kita. Jadi, bagaimana kita harus membenahi diri kita, keluarga kita, ummat pelan-pelan kalau ada ilmu yang bermanfaat bisa kita bagikan kepada mereka dengan cara yang thayyib, yang baik bukan untuk mencari nafkah. Di satu sisi, saya terus berusaha menjadi pengusaha juga. Bikin usaha ini, usaha itu segala macam supaya suatu saat waktunya tiba, Allah berkehendak, Allah mengijinkan misalnya saya maish diberi kepercayaan kelebihan ilmu, rezeki, dan segala macam untuk syiar, ya kenapa enggak. Syiar itu kan banyak cara ga harus menjadi pendakwah, pendakwah itu banyak caranya juga ga harus menjadi kiyai atau ustad-ustad, namun bisa lewat media-media lain.

Anda juga merambah dunia bisnis, sejak kapan Anda mulai tertarik dan menukeni bisnis?

Saya lebih banyak main di bidang pakaian dan spanduk. Jadi pakaian yang saya buat itu macam-macam. Mulai dari pakaian seragam sampai baju olahraga tapi semakin ke sini semakin fokus ke sepatu olahraga dan pakaian olahraga. Saya lagi coba ngembangin satu merek sendiri, merek sepatunya MARCH. Itu sepatu olahraga dengan apparelnya baju olahraga, celana olahraga, tas, dan sebagainya. Kita coba kembangkan mudah-mudahan bisa launching bulan Agustus tahun ini insya Allah.

Saya mulai bisnis dari tahun 2007. Sebenarnya dari kuliah saya sudah mulai bisnis. Sambil syuting saya juga suka ngelobby bisnis. Dalam artian ada orang bikin apa, “Kamu bisa bikin ini ga?” Jadi sambil syuting, ada yang mau bikin kaos, saya yang ngerjain. Saya cari penjahitnya dan cari bahannya. Lumayan dapet duit. Ada teman yang nanya, “Vid lo kan udah main sinetron masih kurang aja lo?”

Bukan itu masalahnya. Beda. Kalau sinetron, kita yang dilatih kemampuan skill seni kita, kemampuan art kita, kreasi kita. Kalau bisnis kan dilatih semuanya baik itu otak kanan, otak kiri, dealing sama orang, bagaimana komitmen kita menjaga komitmen dengan orang, belajar bahan jualan kita apa, gimana menjual, berapa harga pasar, gimana supaya ga rugi, dan sebagainya. Jadi sangat banyak. jadi challenging buat saya melatih otak saya dan juga diri saya.

Seperti halnya Nabi Nuh as. beliau menyiapkan perahu pada saat banjir. Jadi kalau banjir, beliau sudah mempunyai perahu untuk menyelamatkan kaumnya saat itu termasuk keluarganya. Saya pun demikian. Saya berprinsip bahwa saya pikir perusahaan adalah perahu untuk keluarga, untuk semuanya, dan untuk orang-orang yang nantinya bekerja di perusahaan saya bahwa dengan perahu inilah saya akan menjemput rejeki dari Allah.

Jika suatu saat nanti saya sudah tidak main sinetron lagi atau apa, setidaknya saya bisa lebih fokus ke bisnis. Mungkin seengak-enggaknya saya sudah ada perahu buat saya dan keluarga saya.

Apa sebetulnya yang harus dipersiapkan ketika menjalani bisnis?

Pertama harus punya kesungguhan karena jika kita sungguh-sungguh pasti ada jalan. Kedua, jangan takut masalah modal karena modal itu akan datang dengan sendirinya pada saat kita bersungguh-sungguh. Ketiga, harus banyak silaturahim sama oran-orang yang mengerti di bidang yang mereka geluti. Terus pelajari betul bisnisnya. Keempat, banyak-banyak berdoa minta sama Allah. Kelima, banyak-banyak sedekah insya Allah akan membuka segala sesuatu yang ketutup dan menutupi kita. Jadi kalau kita sudah pegang lima kunci itu, In Shaa Allah akan dibukakan jalan usaha kita dan insya Allah pasti bisa jadi sukses.

Bagaimana Anda membangun brand imej terhadap bisnis yang Anda kembangkan?

Saya belajar bahwa membangun bisnis itu tidak cukup hanya dengan dikenal. Tapi bagaimana kita membangun kepercayaan dengan orang-orang yang bermitra dengan kita. Bagaimana kita membangun imej kita untuk menjadi orang yang dipercaya. Saat orang pertama dengan kita, branding yang ada di otak mereka adalah tentang produk kita. Misalnya, saya jualan sepatu olahraga, ketika suatu saat saya bertemu dengan orang itu dia akan bilang, “Oh kalau sepatu bikin sama dia aja, beli sepatu di dia aja, kualitasnya bagus, kenapa ga dia aja.”

Bagi saya itu challenges bagaimana membangunnya dengan silaturahim sebagaimana kita memperlakukan mereka sebagai teman, mereka juga akan memperlakukan kita sebagai teman. Kalau kita menganggap mereka saudara, mereka juga akan menganggap kita saudara juga. Ada ga orang curang dan culas sama kita? Tentu ada. Tinggal kedewasaan kita berpikir bahwa ya itulah manusia. Maka kuncinya kita harus ikhlas. Pada saat kita ikhlas melakukan apa pun, mau kita diapain, mau kita kaya pasti mudah jalannya. Masalahnya apakah saya sudah menjadi manusia ikhlas dalam mengerjakan apa pun dan segala resiko? Saya masih proses belajar. Pengusaha-pengusaha sukses itu biasanya sudah mengukur rezeki. Jadi pada saat mereka berjalan dan ada kendala ya udah santai ajalah.

Siapa tokoh yang paling menginspirasi Anda dalam bisnis?

Saya sih yang menginspirasi saya pastinya nabi Muhammad saw karena Rasulullah itu seorang pendakwah yang dengan ikhlas menyiarkan Islam dan beliau juga seorang pengusaha. Beliau dengan hartanya berjihad di jalan Allah. Jadi cara beliau untuk menjadi seorang pedagang yang amana itu yang saya coba terapkan bahwa kadang dalam usaha kita jangan hanya berpikir It’s all about profit, but think about benefit.

Kalau kita bicara profit, maka kita akan bicara angka. Saat kita bicara angka yang namanya benefit jadi lupa.

Apa sih benefit? Benefit adalah keuntungan di luar angka. Benefit itu dapat meningkatkan capital kita. Misalnya harga sepatu kita sekian kita pengen untung besar, jual saja berapa kali lipat. Mungkin dibeli orang, tapi suatu saat orang melihat punya kita. Mereka jadi enggan membeli lagi. Bicara benefit misalnya kita jual sepatu dengan harga sekian, terus kita bilang, “Oh kita ngasih harga ga terlalu tinggi. Modalnya sekian, jualnya sekian, bapak mau berapa?” Kita memberikan harga kan harus reasonable buat orang, terbeli apa gak, kualitasnya sesuai dengan yang kita punya, dan sebagainya. Jika sudah terjalin terus, pada saat dia sulit kita selalu ada untuk dia walaupun untung tipis. Tapi dia akan selalu ingat kita, dia akan pakai kita terus. Bayangkan, sekali dia membeli produk kita dengan untung yang berlipat-lipat tapi besok dia ga mau order lagi.

Sedangkan satu lagi kita baik sama dia, harganya juga sangat kompetitif, harganya sangat reasonable mereka juga mendapatkan benefit-benefit lain di luar masalah keuntungan misalnya pertemanan pasti dia akan pilih kita. Nah itu yang saya bilang, “Business is not just about profit, but also about the benefit. If you concern benefit, you?ll get lots of profit.” Nah itu yang saya lihat dari Rasulullah. Sikap santunnya dalam berdagang, etika beliau dalam berdagang, itulah yang menyebabkan beliau mendapatkan gelar Al-Amin. Pada saat kita menjadi pedagang yang Al-Amin, In Shaa Allah rezeki akan datang kepada kita. Sekarang jika kita diculasi sama orang, bisa jadi dia harganya murah. Tapi karena kita ga percaya , ga jadi deh di sini aja. Walau harganya mahal dikit, tapi kualitasnya bagus. Atau ga karena saya kenal dia, dia orang yang saya dipercaya, ya udah gpp deh sama dia aja. Saya tau kualitasnya, jadi kalau ada apa-apa dia siap ganti. Itu hal yang harus dipelajari dalam bisnis.

Selain banyaknya aktifitas yang harus Anda kerjakan, Anda juga masih sempat untuk mengikuti kegiatan sosial, mengapa?

Saya senang karena saya juga dulu bukan dari keluarga yang berkecukupan. Jadi, saya bisa merasakan apa yang dirasakan orang yang lagi susah. Ngomongin banjir, saya juga pernah jadi korban banjir di Grogol waktu saya tinggal di sana. Kira-kira senangnya seperti apa ketika orang datang bawa makanan pada saat kita terjebak banjir, pada saat kita tertimpa musibah, saat kita merasa susah ada orang lain menolongi itu kaya gimana gitu.

Jadi, pada saat PKPU waktu itu ada kegiatan menjadi relawan bencana saya ikut kerena memang saya melihat ada value dalam PKPU yang bisa saya rasakan. Pada saat aktif menjadi relawan PKPU, kita aktif dimana-mana. Saya bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat yang ditimpa musibah. Di situ saya bisa belajar berempati, mengolah rasa, mengolah hati, mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Walaupun saat itu bukan saya langsung mengalaminya, kadang kala orang harus mengalami langsung tapi saya bersama mereka. Kita harus pandai-pandai bersyukur dalam hidup. Allah itu ngasih rejeki kepada kita kapan aja, jumlahnya berapa aja; bisa besar-bisa kecil. Allah pun bisa mengambil kapan saja yang ia mau. Anytime dengan cara seperti apa pun. Tinggal saat rezeki itu ada sama kita, maka pandai-pandailah bersyukur, pandai memanfaatkan, dan jangan pernah merasa memiliki apa yang kita punya karena apa yang kita punya itu bisa saja diambil kapan pun Allah mau.

Kata kiyai Zainuddin MZ, “Kalau prinsip itu kaya tukang parkir. Mobilnya banyak. kalau mobilnya diambil sama yang punya dia ga marah.” Jadi kaya gitu memaknai hidup.

Demikian wawancara singkat saya dengan David Chalik. Semoga menginspirasi Anda semua.

Sebentar Lagi, Ia Kembali Datang

Tamu agung itu sebentar lagi akan datang. Hanya tinggal beberapa langkah, ia pun tiba di teras rumah, kemudian mengetuk pintu seraya mengucapkan salam, “Assalamualaykum.” Sang pemilik rumah taklantas membukakan pintu dan mempersilakan tamu itu masuk. Layaknya sebagai seorang tuan rumah, mestinya ia menyuguhkan pelayanan terbaik kepada tamu itu. Tapi ia tidak melakukannya. Ia terlihat panik dan gusar. Sebab, ia tidak mempersiapkan diri dengan baik untuk menyambut kedatangan tamu agung itu. Piring-piring menumpuk di atas meja, lantai berdebu karena belum dipel, ruang tamu berantakan, dan kertas berserakan di mana-mana. Ia malu membuka pintu, ia merasa bersalah, dan ia pun tertunduk lemas. Ia pun berkata lirih dalam hati, “Tamu agung itu telah datang, aku malu bertemu dengannya.”

Sudah berapa kali Ramadhan membersamai kita? 20 tahun? Atau mungkin sudah lebih dari setengah abad? Betapa beruntungnya kita karena sudah bertahun-tahun Ramadhan hadir dalam hidup kita. Ia menyapa, menghampiri, dan mengajak kita untuk menjadi sahabatnya selama 1 bulan. Ia tawarkan kebaikan, kemuliaan, dan begitu banyak keberkahan. Lantas bagaimana sikap kita? Mungkin karena padatnya aktifitas yang kita lakukan sehingga kita pun lupa bahwa ia akan datang, ia telah datang, dan kemudian ia telah pergi. Hal tersebut terjadi berulang kali. Bahkan kita pun lupa, apa saja momen-momen indah yang sudah kita lalui bersamanya? Padahal, ia sangat baik; ia adalah sahabat terbaik.

Tahun ini, Insya Allah tamu agung itu akan datang. Kita sangat berharap kepada Allah agar kita bisa berjumpa lagi dengannya. Tahun-tahun ke belakang, bisa jadi kita tidak terlalu mempedulikan kehadirannya. Berjanjilah dalam hati kita yang terdalam bahwa kita tidak akan menyia-nyiakan kehadirannya. Ia adalah tamu agung yang membawa banyak sekali kebaikan, pahala, dan keutamaan dibandingkan bulan-bulan yang lainnya. Sambutlah kehadirannya dengan senyum terbaik, amalan terbaik, dan kemudia berkata padanya, “Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang tamu agung. Aku sudah menunggu kehadiranmu. Aku sudah mempersiapkan diri dengan baik.”

Quote: “Suatu pagi di sebuah hutan di Afrika, seekor singa ketika terbangun langsung berlari untuk memangsa rusa yang masih tertidur. Jika tidak, dia akan mati kelaparan. Sementara di tempat yang sama, seekor rusa ketika terbangun juga langsung berlari untuk menghindari terkaman singa. Jika tidak, dia juga akan mati menjadi mangsa singa.”

Ramadhan Bikin Malu!
Ramadhan Bikin Malu!

Bintang, Hijrah, dan Bromo

Rabu ketika malam hari. Tanggal 14 November 2012.

Suara mesin mobil avanza silver ini menderu pelan. Berpacu dengan puluhan mobil lainnya yang saling berkejar-kejaran. Seperti kekanak yang berlarian mengejar layang-layang di pematang sawah. Sesekali terdengar suara orang yang sedang asyik berbincang-bincang ringan. Tidak cukup jelas apa yang mereka bicarakan. Mata saya sudah tidak kuat menahan kantuk yang teramat.

Saya pun berpetualang di sebuah dimensi yang berbeda. Pada spasial waktu yang tidak diketahui siapa pun. Menjadi diri yang berbeda dan bertemu dengan orang yang berbeda pula. Saya tidak ingat sama sekali.

Plakkk.

Kepala saya terasa sakit sekali terantuk kaca mobil. Semuanya jadi buyar. Saya jadi kehilangan orientasi waktu. Mencoba sadar bahwa ini masih mimpi atau saya sudah terbangun. Pandangan masih kabur. Saya pun menengok ke luar ternyata sangat kelam. Sepintas saya melihat pepohonan pinus yang berjajar rapi. “Oh masih dalam perjalanan,” gumam saya dalam hati. Entah apa yang mendorong saya untuk melihat kembali suasa di luar. Saya pun mendongakkan leher ke sudut atas kaca mobil, melihat langit malam yang teramat luas. Kemudian saya pun berdecak kagum seakan saya sendiri masih belum percaya tentang apa yang sudah saya lihat. Ini sangat langka. Ini sangat jarang sekali saya temukan di Jakarta atau di Surabaya.

Langit malam yang sangat indah bertabur bintang gemintang yang sangat banyak. Kerlap-kerlip seakan menyambut kehadiran saya (lagi-lagi yang berimajinasi yang berlebihan). Bintang-bintang di langit itu sangatlah banyak. Bahkan saya pun sulit mengidentifikasi bintang-bintang tersebut. Apakah itu si bintang yang paling terang Sirius, Archernar, Vega, atau yang lainnya. Sangat banyak dan sangat mengagumkan. Andai setiap malam saya bisa melihat langit seperti ini betapa indahnya malam-malam yang saya lewati. Jemari saya pun kemudian menunjuk beberapa bintang. Titik satu, titik kedua, titik ketiga, dan titik keempat. Ya, itu rasi bintang pari yang seringkali bisa dijumpai. Saya mengagumi bintang-bintang dari kecil. Dulu, ketika saya masih kecil, saya dan kakak saya senang sekali bermain tebak-tebakan hanya untuk sekadar menentukan siapa yang lebih jago menebak rasi bintang.

night_sky-9030_0

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB.

Kami pun akhirnya tiba di pintu masuk kawasan Wisata Nasional Bromo Tenger Semeru. Perlu kalian ketahui, berkunjung ke gunung Bromo adalah salah satu dari sekian tujuan wisata yang menjadi impian saya. Bahkan saya pun telah menulis semua tujuan wisata saya di dream book. Gunung Bromo berada di urutan ke-51 dalam list saya. Hasrat saya untuk berkunjung ke Bromo lantaran betapa seringnya saya melihat liputan di televisi tentang Bromo. Belum lagi sinema yang pernah diperankan oleh Ari Shihasale dan Maudy Koesnaedi yang bejudul “Camelia” yang mengambil lokasi syuting di sana. Tidak hanya itu, film yang berjudul “Pasir Berbisik” yang diperankan oleh Dian Sastro dan Christine Hakim juga berlokasi di sana. Teman-teman saya sudah banyak ke sini. Saya iri pada mereka dan berharap suatu saat bisa ke Bromo. Alhamdulillah malam ini impian saya terkabulkan. Terima kasih Allah.

Mengutip apa yang disampaikan ST. Augustine,

“Jika dunia diibaratkan sebuah buku, maka mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan, hanya membaca satu halaman.”

Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu sering melakukan perjalanan. Baru beberapa tempat yang sudah saya kunjungi. Namun saya tetap berharap akan lebih banyak lagi tempat-tempat yang bisa saya kunjungi. Bukankah bumi Allah ini sangat luas? Saya tidak ingin berdiam diri dan pura-pura merasa nyaman dengan tempat saat ini saya berada. Saya ingin sekali melihat bumi di bagian barat, timur, utara, dan selatan. Tentunya akan sangat banyak tempat yang bisa saya kunjungi. Semoga.

Melakukan perjalanan bagi saya tidak hanya sebatas melepas kepenatan dari berbagai rutinitas yang saya jalani. Lebih dari itu, tujuan utama saya melakukan perjalanan adalah untuk melihat kekuasaan Tuhan yang tiada terhingga melalaui ayat-ayat Qauliyah-Nya. Saya hanya ingin sebagai seorang manusia yang bersyukur. Berharap saya akan menjadi pribadi yang memiliki pandangan yang luas seluasa bumi yang terbentang. Mungkin terlalu klise. Tapi itulah pengharapan terbesar saya.

***

Udara dingin gunung Bromo kini semakin menusuk tulang. Kami pun bergegas mempersiapkan atribut perjalanan kami ke gunung Bromo seperti syal, kupluk, jaket, kaos kaki, dan sarung tangan. Ah ya, saya lupa! Sarung tangan saya ketinggalan di Jakarta. Rasanya tidak mungkin saya nekad untuk melawan cuaca yang dingin ini. Kasian tubuh ringkih saya yang hanya dibalut oleh beberapa centi daging saja. Saya bisa saja nekad. Tapi saya harus terima resiko kedinginan. Setelah berpikir beberapa menit, saya dan beberapa di antara kami yang tidak membawa perlengkapan pengusir dingin akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa kekerangan perlengkapan kepada seorang bocah. Apalah ini namanya, seorang bocah yang masih kecil, ya mungkin berusia 10 tahun harus menjajakan perlengkapan wisata gunung kepada para pengunjung. Luar biasa! Mereka sangat hebat.

Oke, semuanya sudah siap! Saatnya melanjutkan perjalanan.

Sejauh mata memandang, semuanya terlihat gelap! Sangat gelap! Penerangan hanya ada di sekitar pavilun penginapan dan di area pintu masuk Bromo. Sementara sepanjang jalan menuju lokasi sangat gelap. Tapi bagi saya itu tidak menjadi persoalan berarti. Kalian tahu, ada sesuatu yang spesial dari gelapnya malam ini. Ya, tepat di atas kepala saya, ada jutaan bahkan milyaran bintang yang berkerlap-kerlip. Saya hanya tinggal menunjuk satu bintang, kemudian jadikan ia teman dalam perjalanan, dan saya tidak akan merasa ketakutan.

Salah seorang dari tim kami kemudian berinisiatif memanfaatkan penerangan dari telepon genggam miliknya. Memang tidak terlalu terang, tapi saya rasa cukup untuk menyinari setapak demi setapak perjalanan kita. Tenang saja, tidak hanya kita yang akan melakukan jurit malam. Ada beberapa kelompok juga yang menyusuri padang pasir yang luas ini.

Saya ceritakan pada kalian, lautan pasir yang saya injak ini sangat lembut. Saya merasa sangat nyaman berjalan di atasnya. Kadang rasa penasaran saya pun memuncak. Saya jongkok, kemudian menggenggam pasir yang lembut itu. Tidak hanya lembut, tapi juga terasa dingin. Perlahan, pasir itu tertiup angin dan hilang entah kemana. Saya pun berpikir, mungkin itulah dunia. Kita hanya bisa menggenggamnya dengan tangan kita untuk sementara waktu. Namun kita perlu tahu bahwa semuanya akan hilang. Semuanya akan pergi.

Desiran angin gunung Bromo seakan menyanyikan senandung lagu klasik untuk kita. Mungkin untuk menemani perjalanan kita. Ah merdu sekali dan menentramkan. Sesekali gelak tawa menghiasi perjalanan kami. Tidak jarang decak kagum melengkapi romantisnya perjalanan kami. Kami sangat kagum dengan bintang, pasir, malam, angin, awan kelabu di langit, dan sinar senter yang terpancar dari titik-titik yang berbeda.

Melakukan perjalanan malam seperti ini, lebih-lebih bertepatan dengan tahun baru Islam 1434 Hijriah mengingatkan saya tentang sebuah peristiwa penting umat Islam. Pada tahun 622 Masehi, Rasulullah dan para sahabatnya hijrah dari kota Mekkah ke Madinah. Saya pun merenungi betapa hebatnya keteguhan hati umat Muslim saat itu. Berjalan kaki di hamparan padang gurun di malam hari. Setahu saya, angin gurun itu sangat ekstrim. Bahkan tanpa terprediksi badai pasir bisa datang kapan pun. Mereka sangat hebat. Ya Rabb, sampaikan salam kami untuk kekasihmu Muhammad dan para sahabatnya. Malam ini kami juga berjalanan di atas padang pasir yang luas. Tetapi bukan untuk berhijrah seperti apa yang dulu dilakukan Rasul dan sahabat-sahabatnya. Satu tujuan kami, kami hanya ingin mentafakuri ayat-ayat qauliyah yang Engkau bentangkan di bumi dan apa-apa yang kau hamparkan di langit.

Luar biasa. Selalu saja ada pembelajaran yang saya dapat ketika melakukan perjalanan.

Tidak ada patokan yang jelas jalan menuju ke lokasi gunung Bromo. Namun ada satu petanda yang menjadi kovensi dari tim kami. Di sana, di sebelah barat sana ada batok gunung Bromo. Memang tidak terlihat begitu jelas karena sangat gelap. Namun di sekitar sana ada beberapa cahaya lampu yang bisa dijadikan patokan. Setidaknya kami tidak akan tersasar.

Tidak terasa sudah lebih dari satu jam kami berjalan kaki. Saya pun melihat ke atas. Bintang-bintang yang mengagumkan itu menghilang satu persatu. Sementara awan kelabu di antara pekat langit malam juga semakin mendominasi. Nampaknya waktu Subuh akan segera datang. Saya pun melihat jam di telepon genggam saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB. Artinya waktu Subuh sudah tiba. Alhamdulillah kami sebentar lagi tiba di kaki gunung Bromo. Kami sudah melewati Pura suku Tengger yang konon katanya sangat dijaga dan dihormati.

Menurut informasi yang saya ketahui, suku Tengger adalah suku asli yang bermukim di sekitar gunung Bromo. Mereka menganut kepercayaan Hindu yang masih memelihara tradisi lelehur mereka. Terlepas dari itu semua, saya juga kagum pada mereka. Fisik mereka sangatlah kuat. Baik itu orang tua (laki-laki dan perempuan) maupun anak muda sudah terbiasa dengan cuaca dingin gunung Bromo. Pada waktu dini hari, beberapa orang tua suku Tengger sudah siap sedia menjajakan minuman hangat dan makanan ringan di kaki gunung. Pagi hari, para pemudanya sudah berdampingan dengan kuda-kuda untuk membawa turis-turis mengelilingi kawasan wisata Bromo. Ah mereka sungguh hebat. Saya takjub.

Untuk melihat sunrise yang cantik, kita perlu usaha lebih ekstra yaitu dengan menaiki tangga menuju puncak gunung Bromo. Saya sendiri tidak hapal berapa jumlah anak tangga di sana. Sempat terpikirkan untuk menghitungnya, namun di pertengahan jalan saking letihnya saya pun lupa saya sudah menghitung berapa anak tangga. Rasanya tidak mungkin saya untuk turun kembali ke bawah kemudian mengitung dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Sungguh pekerjaan yang melelahkan.

Oh ya, saya lupa. Sebelum naik tangga, kami pun sholat Subuh di area pasir yang agak landai. Tidak terlalu luas memang. Tapi cukup untuk jamaah yang berjumlah enam orang. Hei tidak ada air, mari kita tayamum. Saya pun melepas sarung tangan yang sudah sangat berjasa memberikan kehangatan untuk kedua telapak tangan saya. Wua, dingin sekali. Seolah saya seperti menggenggam salju di Rusia. Hah, lagi-lagi saya berimajinasi. Maklum sebagai penganut golongan darah B, saya kadang tidak kuasa membendung imajinasi saya yang liar. Huh.

BeFunky_IMG_0867

Subhanallahu. Saya selalu merasa tentram dan bahagia ketika sholat di alam bebas. Ada semacam perasaan yang tidak bisa diuraikan dengan kekata puitis. Namun satu yang saya tahu, saya merasa bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Terima kasih Allah.

***

Tiga. Dua. Satu.

Yap, akhirnya kami pun tiba di atas puncak gunung Bromo. Kepulan asap kawah gunung Bromo menguap ke atas. Aroma belerang menusuk hidung. Namun semuanya seakan tidak berarti apa-apa. Ada hal yang lebih penting. Saya bisa merasakan segarnya oksigen yang saya hirup. Ini sangat mahal untuk saya dapatkan di Jakarta. Terima kasih Allah.

Melihat ke timur, perlahan mentari kian menampakkan pesonanya. Barangkali mentari itu masih asyik di peraduannya dan enggan muncul. Tapi puluhan orang di atas puncak ini menunggu kedatangan matahari. Kami butuh kehangatanmu dan menyapu dingin angin Bromo yang dari tadi malam menyergap kami.

Romantic
Romantic

Menit pun berganti. Mentari kini terlihat sempurna terlihat di ufuk timur. Warna merah jingga mendominasi di langit pagi ini. Membuat suasana menjadi sangat romantis. Tubuh terasa hangat. Semua orang tampak takjub. Untuk mengabadikan moment berharga ini, maka berterima kasihlah pada kamera. Mata kita memang menangkap semuanya. Otak kita merekamnya. Namun, kamera digital juga membantu kita memvisualisasikan dengan lebih detail. Bersiap-siaplah mengabadikan kenangan ini!

Sunrise at Bromo
Sunrise at Bromo

Setelah cukup puas menikmati pagi di atas puncak, kami pun bergegas turun. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Kami memutuskan untuk pulang dan melanjutkan perjalanan berikutnya. Tapi perjalanan ke tempat parker mobil sangatlah lama dan melelahkan. Mungkin langit sudah terang, kami baru menyadari betapa jauhnya perjalanan kami tadi malam. Maka untuk mengusik rasa jenuh, kami pun menikmatinya dengan mengabadikan setiap moment perjalanan kami menggunakan kamera.

BeFunky_IMG_1125

Saya masih belum berhenti mengagumi keindahan alam Bromo. Sangat indah. Akhirnya saya bisa berkunjung ke sini. Menyaksikan secara langsung apa yang dulu hanya bisa saya saksikan di lacar kaca.

***

Malang, 16 November 2012.

Untuk kedua kalinya, saya kembali ke Bromo. Padahal baru dua hari yang lalu saya ke sana. Rasanya magnet Bromo sangatlah kuat untuk menarik saya kembali ke sana. Tentu dengan cerita yang hampir sama, namun dengan orang-orang berbeda. Saya kembali menikmati perjalanan ke Bromo. Bagi saya sendiri, Bromo adalah tempat spesial dan rumah kedua untuk saya. Di sina saya menemukan ketentraman. Terima kasih kepada orang-orang yang sudah mengajak saya ke sini. Terima kasih banyak.

Galeri:

BeFunky_IMG_1093

BeFunky_IMG_1200

BeFunky_IMG_1230

BeFunky_IMG_1277

BeFunky_IMG_1278

BeFunky_IMG_1332

BeFunky_IMG_1335

BeFunky_Instant_1

BeFunky_P1190690

BeFunky_P1190715

BeFunky_P1190757

BeFunky_P1190765

BeFunky_P1190781

Spiritual Journey to Cheng Hoo Mosque

Surabaya, November 3.

Sunday. I was confused where i’m going. Perhaps I’ll spend the time in the house to read a books, listen to music, and watching the movies. Surabaya’s hot weather and blazing sun will make anyone lazy to get out. The city is unique. While many cities in Indonesia have often rain, rain is very rare in Surabaya. If any rain, rainfall is definitely a bit and takes place in a very short period of time. I love the rain, hopefully the following days will be rainy in a long time in this city.

After thinking for a long time, finally decided to come out with Bowo. Our main goal is to bookstore. Understandably, as a young vibrant Indonesia, earlier this month is a routine to visit the bookstore. I usually buy a few books. But this month, I withhold my desire to buy the book, cause there are many books that I have not read. Especially recently I get sent a books from my best friend, Dani Ferdian. The title is “Badai Pemikiran Anak Kedokteran” which also has not read. Ah, I know envy when it turns out a lot of my friends have produced a masterpiece in the form of a book. When i? Pathetic.

Visit to the bookstore, always arise jealousy. Seeing display books cover neat and very interesting book. Again a scolding for myself, when I’ll have the book? When? At the age of 23 years should I have spawned several book’s. Crummy.

The first bookstore we visited was Togamas Bookstore in Pucang street. Actually, who intend to Bowo’s book. I just envelop book. Next we all to Manyar Bookstore. But the book was not being sought bowo found. Eventually we had to Gramedia Bookstore in Basuki Rachmat street. We think that Gramedia is a great bookstore, of course, a large collection of books and hopefully look for books that we found successful. My eyes focused attention to each book are arranged neatly on a bookshelf. Then I was feeling tired from standing too long. Finally I decided to sit down to wait Bowo managed to find the book he was looking for.

Then I showed up bright idea. I want to Muhammad Cheng Hoo Mosque. A long time ago, I wanted to go there but have not materialized. I also track the location of Cheng Hoo Mosque nokia drive equipped with GPS 3D. Apparently its location near. I also propose to Bowo go there by navigation of nokia drive. Travel time to the location is only about 13 minutes (if I recall) and we also managed to find the location of Muhammad Cheng Hoo Mosque.

Painting of Cheng Hoo at beside of mosque
Painting of Cheng Hoo at beside of mosque

Cheng Hoo is one of the Muslim leaders that I admire. He was an accomplished sailor who has been around the world and sail the ocean, long before the Europeans managed to explore earth. Cheng Hoo first sailed the Dead Sea, the Atlantic Ocean and other oceans. In addition, as a Muslim who came from China, Cheng Hoo is known as a devout Muslim, brave, kind, and friendly.

Zheng_he (Wikipedia.com)
Zheng_he (Wikipedia.com)

Cheng Ho or Zheng He ( Hanzi traditional:郑和, Hanzi is simple:郑和, Hanyu Pinyin: Zheng He, Wade-Giles: Cheng Ho’s real name: 马三宝 Hanyu Pinyin: Ma Sanbao; Arabic name: Haji Mahmud Shams) (1371 – 1433 ), was a sailor and explorer of China famous for doing some exploration between the years 1405 to 1433. Zheng He was a eunuch Muslim who became a close confidant Yongle Emperor of China (reigned in 1403-1424, the third emperor of the Ming Dynasty. His original name was Ma He, also known as Ma Sanbao (马三保) / Sam Po Bo, the province Yunnan. When army conquered Yunnan Sun, Cheng Ho was arrested and then made eunuchs. He was a Hui tribes, tribes that are physically similar to the Han, but a Muslim. Zheng He sailed to Malacca in the 15th century. In 1424, Emperor Yongle died. His successor, Emperor Hongxi (to power in 1424 – 1425, decided to reduce the influence of eunuchs in the palace. Cheng Ho did the expedition again during the reign of Xuande Emperor (reigned 1426-1435).

Muhammad Cheng Hoo Mosque is located at Gading street 2 Surabaya. Cheng Hoo Mosque is not only in Surabaya. As I know, the city of Semarang and also Pasuruan Cheng Hoo Mosque. Why Cheng Hoo Mosque in Surabaya also? Since Surabaya is one of the places visited by Cheng Hoo. Muhammad Cheng Hoo Mosque was established by the Muslim community blooded Chinese Surabaya. The mosque is unique because the design of the mosque is an Arabic and Chinese acculturation. Actually Muhammad Cheng Hoo Mosque size is not too large. But once the mosque is very convenient for worship cause there is no wall so the wind more freely into the room mosque.

The name of Allah (Cheng Hoo Mosque)
The name of Allah (Cheng Hoo Mosque)
Lomogram_2012-12-02_03-44-41-PMLomogram_2012-12-02_03-46-12-PMLomogram_2012-12-02_06-42-35-PM

Besides being a place of worship, Muhammad Cheng Hoo Mosque also serve as a center of Islamic religious recognition, spiritual tourism sites, learning Mandarin, and a gathering place of bloody Muslim Chinese. On the porch of the mosque reserved guest book. I also fill in the guest book. Apparently Cheng Hoo Mosque visitors not only from the city of Surabaya, but from other cities like Jakarta. Perhaps the main reason of their and I visited this mosque is to marvel at how great Islam and the extraordinary figure of Cheng Hoo as Muslims who have come out to different parts of the world.

2012_12_02_19_01_12

Islam has spread to various around the world, including in China, Xianjiang. First, Islam is only growing in Arab lands. Recently, Islamic Islam growing and accepted by the people because Islam is human nature itself.
Alhamdulillah, Islam in Europe is currently growing. France is one of the countries in Europe with the highest number of Muslims. Admiral Cheng Hoo is one preacher who spread the beauty of Islam in humans.

Grateful to Cheng Hoo, tribute for Him 😉

Galerry:

Lomogram_2012-12-02_03-30-01-PMLomogram_2012-12-02_03-41-24-PMLomogram_2012-12-02_03-42-13-PMLomogram_2012-12-02_03-52-07-PMCheng hooLomogram_2012-12-02_03-55-21-PMLomogram_2012-12-02_03-56-06-PMLomogram_2012-12-02_03-58-14-PMLomogram_2012-12-02_03-59-22-PMLomogram_2012-12-02_04-00-26-PMLomogram_2012-12-02_04-01-08-PMLomogram_2012-12-02_04-01-47-PMLomogram_2012-12-02_04-02-55-PM
* i’m sorry my english so bad!

Sabar

Teman, pernah dirimu merasa kesal kepada seseorang. Bahkan kekesalan di hatimu semakin membesar seperti bola salju dan lama kelamaan pecah hingga menjadi sungai gletser. Pecah, dan tumpah sudah. Entahlah, bagaimana perasaanmu saat itu. Mungkin emosi jiwa menyelimuti hatimu hingga ke ujung ubun-ubun. Ekspresi wajahmu berubah, suasana hatipun tidak karuan. Keriangan seketika berubah menjadi kekesalan.

Hah! Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan pelan-pelan. Tarik O2 sebanyak-banyaknya. Bisa saja otakmu tengah kekurangan oksigen. Jangan biarkan amarah menguasaimu. Duduklah, duduklah. Jika belum reda, maka berwudu’lah.

Pesan Rasulullah kepada kita umatnya ,”Jangan marah. Jangan marah.”

Well, siapa yang tidak pernah sakit hati atau kesal? Apalagi bertemu orang yang susah sekali diberi pengertian. Serasa paling pintar dan naudzubillah. Ya, mungkin sunatullah bila kita terbawa amarah. Tapi, tetap tenang. Kata teman saya mah, “Stay cool in area aja!” 

Sejujurnya, kita patur beruntung bisa bertemu dengan karakter orang yang berbeda-beda. Yak, every body is unique. Jadi tidak bisa kita pukul rata bahwa semua orang itu sama! Cara yang bijak adalah, kita harus mengalah. Mengapa? Karena jika kita kepancing emosi, kita akan kehabisan banyak energi. Kemudian muka kita jadi jelek karena bad mood. Perasaan kita jadi gundah gulana dan tidak ada untungnya. Justru jika kita terbawa emosi membuat kita tidak dewasa dan kekanak-kanakkan.

Nah, bagaimana caranya untuk menghindari marah?Ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan.

1. Kalo posisi kamu lagi berdiri, coba duduk. Dengan begitu, darah yang ada di pembuluh tidak mengalir dengan cepat ke otak kita.

2. Tetap tersenyum & bersikap santai. Posisikan dirimu bukan sebagai rival dia. Kalo memang yang dikatakan dia itu bener, kamu mesti dengan lapang dada/legowo menerimanya.

3. Tetaplah menjadi pendengar yang baik. Gawat kan, kalo gak ada yang mau mendengarkan! Bisa-bisa terjadi pembunuhan.

4. Jika konflik belum redam, maka berlalulah agar permasalahannya tidak semakin runyam.

5. Berwudu’lah & istighfar.

Terakhir, kamu coba ingat lagi deh gimana kisah kesabaran nama nabi Ayyub, nabi Ibrahim, nabi Yusuf, dan tokoh-tokoh yang menginspirasi lainnya. InsyaAllah akan diberikan semangat kesabaran. Amiin.

Finally, inget pesen Ust. Rachmat Abdullah, “Ada dua hal yang mesti kita lupakan.
1. Kebaikan kita kepada orang lain: 2. Kejahatan orang lain kepada kita.”

 

Rasa Syukur

Selasa, 7 september 2010. Hari ini ke-28 di bulan Ramadhan. Itu artinya, tersisa dua hari lagi puasa di bulan Ramadhan kali ini. Tahun ini, tahun keempat aku puasa di Bandung sejak tahun 2007 silam.

Tahun ini, hampir sama dengan empat tahun yang lalu, aku tidak berlebaran di kota kelahiranku. Sebenarnya, tidak ada alasan khusus yang memaksaku berlebaran di sini, jauh dari orang tua. Alasannya, lantaran berbagai pertimbangan; aku akan pulang ba’da lebaran karena abangku akan nikah bulan November. Kupikir untuk apa pulang sekarang, toh nanti juga akan pulang.

Pikiran senada pun juga terlintas di benak dua kakakku. Hingga pada akhirnya, kami bertiga memutuskan untuk menunda kepulangan di waktu yang tepat. Pun begitu, di hari lebaran nanti rasanya kami juga tidak berkumpul bersama-sama. Ada alasan khusus yang menyebabkan semua ini mesti terjadi.

Kakakku yang pertama berlebaran di rumah suaminya di Subang. Abangku di Surabaya, dan tetehku di Jakarta. Sedangkan aku sendiri, memutuskan untuk berlebaran di rumah om, di Dago Bandung. Agaknya, sudah lama kami tidak berkumpul bersama-sama di rumah seperti dulu. Sampai kapan, sampai pada waktu yang tidak bisa kuprediksi.

Huhhhf, kuhela napas ini cukup panjang dan dalam. Aku pun menyadari, ini memang pilihan yang sulit karena mau bagaimana lagi. Kita semua sadar telah memilih jalan masing-masing. Dan tidak ada yang salah.

Setelah pikiran ini berkelabat cukup hebat, kuputuskan untuk melanjutkan membaca Al-Qur’an. Di sini, di masjid yang megah ini aku sendirian. Alhamdulillah, senang rasanya karena aku bisa i’tiqaf di masjid BI. Dulu, hanya sebatas rencana. Sekarang bisa terealisasi.

Sebenarnya, rencana I’tiqaf di sini, sudah jauh-jauh hari kurencanakan. Sudah banyak orang kuajak untuk bisa beri’tiqaf di sini, termasuk malam ini. Rencananya–aku, k’hassan, dan k’gena akan I’tiqah bersama pada malam 29 ini. Namun nyatanya, keadaan bicara lain. Tidak apa, justru kesendirian seperti inilah yang kurindukan. Lama, lama sekali tidak merasakan getaran seperti ini. Getaran yang cukup kuat namun menenangkan.

“Rabb, terima kasih karena Engkau masih memberikan rasa ini pada hamba. Rasa keimanan yang memuncak saat kalam-Mu dibacakan oleh mulut-mulut perindu syurga. Rasa dimana kudengar isakan tangis menghamba dari hati terdalam. Rasa dimana ketika darah ini mengalir begitu cepat saat lafadz nama-Mu berulang kali disebut. Rasa ini ya Rabb, yang sudah lama kunantikan. Rasa mahabbahku kepada-Mu, ya Rabb”

Dari sekian banyak lakon yang telah kuperani, menjadi lakon seperti inilah yang kuinginkan. Aku ingin selalu seperti ini. Hingga suatu saat aku bisa memberikan senyuman terbaikku pada saat waktu yang tidak kutentu. Kapan waktu itu akan datang?

Renungan Sore Menjelang Ramadan

Alikhwan, penuh cerita di sini. Tidak terasa, tinggal beberapa jam lagi bulan Ramadhan pun hadir menyapa dengan penuh kelembutan.Berjabat salam dengan tangan kebaikan. Mengecup halus dengan kasih sayang tiada terperi. Seperti seorang ibu yang bersuka ria menyambut ketika bayinya hadir ke bumi. Begitu pulalah yang ditawarkan ramadhan padaku.

Sudah sejak lama dia mengetok pintu depan rumahku. Kupikir satu atau dua bulan yang lalu. Tapi tidak kuhiraukan dia. Membiarkan dia seolah-olah bukan tamu yang spesial. Jangankan menyahut, menoleh untuk sekedar mengintip pun aku tidak mau.

Kugumamkan kata dalam hati, “Ah, aku tengah sibuk. Nanti saja kubuka pintu hatiku untukmu. Maaf pintu rumah maksudku.”Cukup lama dia berdiri di sana. Ah, kurasa bukan cukup lama tapi sangat lama. Inginku intip dari kejauhan pandang tamu itu. Tapi agaknya rasa malas memaksa kudiam dan kukatakan aku masih sibuk. “Lah, apa yang dia lakukan? Kenapa tidak marah dan berlalu saja? Sudah tahu aku sibuk.”

Tiba-tiba, kesibukanku terhenti sejenak entah karena apa. Ada yang berbisik padaku, “Ayolah, barangkali kamu harus mempersilakan dia masuk. Kasihan dari tadi dia sudah berada di luar. Cobalah kau amati, bukankah dia amat setia. Bahkan lebih setia dibandingkan kesetiaan Romeo yang rela mati bersama dengan sang terkasih, Juliet? Coba kau pertimbangkan dulu sebelum mengambil keputusan untuk tidak membukakan pintu untuknya. Aku hanya sedikit memberi saran untukmu. Selepas itu, terserah apa yang kau perbuat.”Aku pun terdiam. Bisikan itu seakan begitu nyata. Menggaung di setiap sudut kamarku yang dicat berwarna hijau.

“Naudzubillah,. Aku tersentak kaget. Segera kubangun dari kasur yang empuk dan bergegas keluar untuk membukakan pintu kepada tamuku itu. Dengan wajah sumringah, kubuka pintu dan kukatakan padanya Ahlan wa Sahlan wahai tamu agung. Afwan aku sudah membiarkanmu berdiri lama di luar untuk menungguku membukakan pintu untukmu.”

Segera, kupeluk erat tamu itu. Kurangkul sangat erat. Tidak ingin membiarkannya pergi. Karena jika tidak, mungkin itu pertemuan terakhirku dengannya dan aku harus bersedia untuk pergi dari dunia ini.Dalam eratnya pelukan itu, tamu itu berkata padaku, “Terima kasih kamu telah menyambutku. Aku hadiri di sini, sengaja untukmu. Allah anugrahkan kebaikan melaluiku.”Takterasa air mata pun menetes di sudut pipi. Lirih kuberkata padanya, “Maafkan aku tidak menghiraukan kamu tadi wahai tamuku. Marhaban ya Ramadhan.”

Berarti, sudah tahun ke-4 Ramadhan aku di sini. Di sebuah rumah yang sederhana. Entah kenapa, tiba-tiba kuteringat dengan saudara-saudara yang pernah singgah dan mengisi lembaran catatan harianku dulu. Agak banyak cerita, tidak mungkin kutuliskan pada sebuah renungan di sore ini.

Mereka hadir, dan kemudian pergi. Aku tidak diizinkan mengenal mereka dan menoreh kebaikan yang agak lama bersama mereka. Tidak ada yang salah menurutku. Mungkin itulah sisi yang tidak bisa kupahami pada waktu yang terus saja berlalu tanpa permisi. Ah, itu hanya perasaaan kusaja. InsyaAllah, inilah cara Allah mengajarkanku tentang bagaimana ukhuwah yang dibangun atas dasar benci dan cinta karena Allah. Dan saat ini pun, aku memahami proses betapa aku merindukan mereka atas segala kebaikan itu.

Aku hanya ingin mengenang, bukan untuk mengingat karena itu agak sulit bagiku. Biarkan ini hanya menjadi ceritaku saja. Kurasa itu sudah cukup bagiku. Mm, ternyata benar juga apa yang pernah dikatakan sang pujangga kahlil gibran, “Kebaikan sahabatmu akan terlihat sangat jelas saat mereka tidak ada di dekatmu,” dan aku menyadari bahwa aku mencintai mereka karena Allah.

Suatu saat, aku juga akan mengalami situasi seperti mereka. terpaksa pergi dari rumah ini untuk berjuang di ruang yang berbeda. hingga aku pun berkata, “Aku merindukan tempat ini”.

Teruntukmu yang kurindu, Ramadhan dan saudara-saudaraku.Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga Ramadhan tahun ini Ramadhan terbaik kita. Amiiin.

Jatinangor, 10 Agustus 2010.

Motivasi Diri: Siapa Aku?

 

img_9204

Pertanyaan mendasar yang mungkin dihiraukan oleh manusia adalah siapa aku? Lantas, apa definisi yang mampu mengurai pertanyaan tersebut? Pada dasarnya, siapa pun mampu menerjemahkannya dengan menggunakan paradigmanya masing-masing.

Bagi saya sendiri, pertanyaan tersebut begitu krusial karena merupakan sebuah titik awal untuk memaknai kehidupan ini dengan lebih bijak. Menurut agama yang saya yakini, Aku (baca: manusia) adalah kumpulan materi yang berasal dari setetes air mani lalu segumpal darah, segumpal daging, dan kemudian ditiupkan ruh sebagai bukti bahwa manusia bukan hanya bersifat materi. Ruh merupakan sebuah pernyataan sikap yang nantinya akan menentukan bagaimana kita memahami kehidupan ini sesungguhnya.

Aku makhluk Tuhan

Saya adalah makhluk Rabbani, tiupan yang suci, ruh yang termasuk urusan Allah, Dia menciptakannya dengan tangan-Nya, Dia meniupkan ke dalam tubuh saya dari ruh ciptaan-Nya, dia memerintahkan malaikat untuk sujud kepada saya, yang mengajari saya semua nama, membebenani saya amanah yang saya sanggupi, menganugrahkan nikmat pada saya baik lahir maupun batin, yang menundukkan untuk saya semua yang ada di langit dan di bumi, yang memuliakan saya dengan pemuliaan yang besar. Dia menciptakan saya dalam bentuk yang sesempurnanya, menganugrahi pendengaran, penglihatan dan hati, menjelaskan kepada saya dua jalan menunjuki saya kepada kedua arah, yang memudahkan jalan bagimu. Dengan izin-Nya, saya dapat menyelam di air, menembus ruang angkasa, dan Ia menanugrahkan saya kemampuan akal dan pikiran untuk menyimak kebesaran-Nya.

Kata orang bijak, “Jika seseorang sudah mengenal jelas siapa dirinya, maka ia akan ia telah mengenal Tuhannya. Jika sudah mengenal Tuhannya, berarti ia sudah mampu memosisikan dirinya sebagai manusia berakal yang senantiasa memberikan kebermanfaatan. Ketika kita sudah mengenal siapa diri kita, lantas kita harus tahu untuk apa kita di bumi ini?

Dalam surat Adz-Dzariyat: 56-57 Allah berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.”

Tujuan kita hidup di bumi ini untuk beribadah kepada-Nya, kawan! Lantas, bagaimanakah kontekstual ibadah itu sendiri? ibadah takhanya melingkupi kegiatan-kegiatan yang sifatnya rohani saja. Tapi pengertian ibadah itu luas, tergantung pada niat, tujuan, dan manfaatnya. Misalnya seperti ini, jika Anda berkunjung ke rumah teman Anda dengan niat silaturahim itu termasuk ibadah, kawan! Pada dasarnya, ibadah itu bersifat veritikal (hubungan dengan Tuhan) dan horisontal (hubungan dengan sesama makhluk hidup).

Berbicara tentang siapa aku, banyak kajian untuk mengungkapnya. Menurut Aristoteles, (yang dikenal sebagai bapak ilmu pengetahuan dan ahli filsafat), setidaknya ada empat aspek untuk mengetahui aku. Salah satunya agama. Bagi saya sendiri, agama mampu mengintegralkan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak saya. In my humble opinion.

Semesta Bertasbih

Jatinangor, 04:25 wib tahun 2009

Sayup-sayup suara adzan terdengar dari Mushola Al-Islam. Mushola itu tidak terlalu jauh dari kostanku. Hanya beberapa langkah, aku pasti tiba di Mushola. Biasanya, suara adzan yang berkumandang terdengar sangat jelas. Tapi sekarang, sejak bapak yang jadi muadzin sedang sakit, maka suaranya yang lantang pun takterdengar lagi.

Aku tersadar dari dimensi mimpi yang dari tadi kujelajahi. Walau agak berat, kucoba perlahan-lahan membuka mata ini. Susah sekali membukanya. Agaknya, setan-setan masih bergelantungan di mataku. Atau mungkin, mataku telah dikencingi oleh mereka. Sudahlah. Nanti saja bangunnya. Tidur saja dulu! Bisikan itu jelas terdengar di kedua telingaku. Astaghfirulah. Aku berusaha bangkit dari kasur yang dari tadi memaksaku untuk tidur kembali. Selimut tebal berwarna merah itu pun kubuang jauh-jauh. Aku bergegas ke kamar mandi. Langkah kaki berjalan gontai. Aku mulai mengambil air wudhu.

Pertama, kucuci tanganku yang kotor ini. Selanjutnya, air dingin di bak mandi itu membasahkan mukaku. Aku merasakan kesegaran, dan sungguh ini adalah nikmat yang sulit untuk aku ungkapkan. Beruntunglah orang-orang yang bisa bangun dan mengerjakan sholat subuh. Suara iqomat terdengar dari mushola. Itu artinya, sholat akan segera dilaksanakan. Semua jamaah bergegas menuju mushola. Alhamdulillah, aku telah selesai menunaikan sholat subuh berjamaah. Kawan, tahukan kamu keistemewaan sholat subuh? Sholat subuh adalah pembeda antara orang yang benar beriman dan orang munfik. Bahkan, dikatakan dalam sebuah hadits, “Jika kalian tahu bagaimana istemewanya sholat subuh berjamaah, maka kalian akan sholat walau dengan merangkak.”

Subhanallah sekali, Allah hanya menganugrahkan nikmat subuh yang hanya dirasakan oleh umat Islam.

Setelah selesai sholat, aku memandang langit yang tampak masih gelap. Udara pagi Jatinangor masih menusuk tulangku. Bahkan angin berhembus membelai seluruh tubuhku ini. seolah ada seseuatu yang ingin ia bisikan kepadaku. Kutatap nanar langit subuh. Di atas sana, sebuah lukisan terpampang dengan begitu indahnya. Maha Karya Allah yang telah melukisnya. Pantaslah dalam surat Al-Imran, Allah berfirman, “Sesungguhnya diantara penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berpikir.” Allah telah memperlihatkan kekuasaan-Nya padaku. Aku takbisa berkata-kata lagi. Semua terlukis begitu sempurna. Langit-langit bertaburan bintang yang gemintang. Indah dan sungguh memesona. Lihatlah, bintang-bintang itu berkelip bersamaan. Jika disatukan, aku tak dapat membayangkan betapa indahnya alam semesta ini. Aku yakin, seorang penyair sekaliber Kahlil Gibran pun takakan mampu untuk menarasikannya.

Labih dari itu, aku melihat bintang-bintang itu bertasbih kepada Allah. Bintang-bintang itu membentuk gugusan yang sangat indah. Ada yang berupa gugusan layang-layang, dan bahkan ada yang menyerupai gugusan lafaz Allah. Sungguh ini menakjubkan, kawan! Sang rembulan tampak anggun dikelilingi bintang-bintang. Ia seakan menjadi ratu di tengah cahaya. Di ufuk timur sana, sang fajar mulai menyeruak membiaskan cahayanya. Langit yang tadi gelap, perlahan ditutupi cahaya yang kemilau. Cahayanya berwarna kuning oranye. Dan satu persatu, bintang-bintang itu mengilang. Entahlah, aku taktahu bintang-bintang itu hilang kemana. Semuanya hilang tanpa bekas.

 

Mengapa Sholat Subuh Spesial?

img_9224

Di antara sholat lima waktu, sholat shubuh punya keistimewaan sendiri. Sholat itu dilakukan di awal perjalanan harian kita melawan diri sendiri. Melawan kantuk dan alas. Sedang sholat-sholat lain secara umum dilakukan dalam kondisi terjaga. Tentu dengan pengecualian bagi mereka yang seluruh harinya adalah tidur. Sholat shubuh adalah kekuatan. Kekuatan yang hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang kuat. Kita menjadi benar-benar kuat bila mengambil sumber kekuatan dari Yang Maha Kuat. Maka sholat shubuh, pada dasarnya ini adalah soal bagaimana mengambil energi dari langit.

Sholat shubuh adalah perlawanan. Perlawanan yang hanya bisa dimenangkan oleh rang-orang kuat. Ketika syetan mengubah telinga-telinga manusia menjadi kubangan lumpur, orang-orang lemah terlelap kembali. Dan pagi berlalu tanpa sempat mengambil energi kekuatan. Sementara orang-orang kuat bergegas dengan semangatnya melawan tipu daya syetan, mengurai tiga ikatan itu satu demi satu. Sumber kekuatan harian itu dimulai dari sini. Di shubuh itu. Satuan-satuan waktu yang kita pakai untuk bertarung menundukkan kehidupan ini adalah satuan harian. Maka setiap hari pula kita memasuki dunia baru, hidup baru, masalah baru, suasana baru, dan tantangan baru. Maka setiap hari pula kita memerlukan kekuatan baru, kesegaran baru, semangat baru untuk mengawali segala tantangan yang baru. Sumber kekuatan harian itu dimulai dari sini.

Di shubuh ini. Perlawanan terbesar dalam hidup dimulai dari sini. Dari perlawanan kita terhadap diri sendiri di shubuh yang dingin dan menenggelamkan. Setelah itu, semuanya menjadi ringan. Hubungannya dengan shubuh? Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk sholat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan sholat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (An Nisa’:142). Lalu Rasulullah menegaskan, sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah sholat isya’ dan sholat shubuh. Sebuah perjuangan harus kita mulai dari sini.

Di subuh ini. Bila lagi dan lagi subuh kita terlambat, kita hanya akan melengkapi deretan generasi belakangan yang jelek dan menyia-nyiakan sholat. Negeri ini hanya akan bisa bangkit di tangan orang-orang kuat, yang punya energi subuh. Semoga kita semua punya energi itu, energi subuh yang hanya dimiliki oleh orang-orang kuat.

Tersenyumlah pada Dunia

Abu Yazid Al Busthami, pada suatu hari pernah didatangi seorang lelaki yang wajahnya kusam dan keningnya selalu berkerut. Dengan murung lelaki itu mengadu, “Tuan Guru, sepanjang hidup saya, rasanya takpernah lepas saya beribadah kepada Allah. Orang lain sudah lelap, saya masih bermunajat. Isteri saya belum bangun, saya sudah mengaji. Saya juga bukan pemalas yang enggan mencari rezeki. Tetapi mengapa saya selalu malang dan kehidupan saya penuh kesulitan?”

Sang Guru menjawab sederhana, “Perbaiki penampilanmu dan rubahlah roman mukamu. Kau tahu, Rasulullah saw adalah penduduk dunia yang miskin namun wajahnya takpernah keruh dan selalu ceria. Sebab menurut Rasulullah saw, salah satu tanda penghuni neraka ialah muka masam yang membuat orang curiga kepadanya.” Lelaki itu tertunduk. Ia pun berjanji akan memperbaiki penampilannya.

Mulai hari itu, wajahnya senantiasa berseri. Setiap kesedihan diterima dengan sabar, tanpa mengeluh. Alhamdulillah sesudah itu ia takpernah datang lagi untuk berkeluh kesah. Keserasian selalu dijaga. Sikapnya ramah,wajahnya senantiasa mengulum senyum bersahabat. Roman mukanya berseri.

Takheran jika Imam Hasan Al Basri berpendapat, awal keberhasilan suatu pekerjaan adalah roman muka yang ramah dan penuh senyum. Bahkan Rasulullah saw menegaskan, senyum adalah sedekah paling murah tetapi paling besar pahalanya. Demikian pula seorang suami atau seorang isteri. Alangkah celakanya rumahtangga jika suami isteri selalu berwajah tegang. Begitu juga celakanya persahabatan sekiranya dikalangan mereka saling tidak berteguran. Sebab tak ada persoalan yang diselesaikan dengan mudah melalui kekeruhan dan ketegangan. Dalam hati yang tenang, pikiran yang dingin dan wajah cerah, Insya Allah, apapun persoalannya nescaya dapat diatasi. Inilah yang dinamakan keluarga sakinah, yang didalamnya penuh dengan cinta dan kasih sayang.

Pergi Selamanya

Has gone. (Source: Tumblr)
Has gone. (Source: Tumblr)

Apa kabar sahabatku? Lama nian kita takjumpa dan takbertegur sapa. Saya yakin bukan karena kebencian di antara kita. Sayapun yakin bukan karena apa-apa. Tapi rutinitas kesibukan yang tlah menjebak kita.

Satu hal sebagai bahan renungan kita. Tukmerenungkan indahnya malam pertama. Tapi bukan malam penuh kenikmatan duniawiah semata. Bukan malam pertama masuk ke peraduan Adam dan Hawa.

Justeru malam pertama perkawinan kita dengan Sang. Maut. Sebuah malam yang meninggalkan isak tangis sanak saudara. Hari itu, mempelai sangat dimanjakan. Mandipun harus dimandikan. Seluruh badan kita terbuka. Takada sehelai benangpun menutupinya. Takada sedikitpun rasa malu. Seluruh badan digosok dan dibersihkan. Kotoran dari lubang hidung dan anus dikeluarkan. Bahkan lubang – lubang itupun ditutupi kapas putih. Itulah sosok kita. Itulah jasad kita waktu itu.

Setelah dimandikan. Kita pun akan dipakaikan gaun cantik berwarna putih. Kain itu jarang orang memakainya. Karena bermerk sangat terkenal bernama Kafan Wewangian yang ditaburkan ke baju
kita. Bagian kepala, badan, dan kaki diikatkan. Tataplah, tataplah, itulah wajah kita. Keranda pelaminan. Langsung disiapkan. Pengantin bersanding sendirian.

Mempelai diarak keliling kampung bertandukan tetangga. Menuju istana keabadian sebagai simbol asal usul kita. Diiringi langkah gontai seluruh keluarga serta rasa haru para handai taulan gamelan syahdu bersyairkan adzan dan kalimah kudus. Akad nikahnya bacaan talkin. Berwalikan liang lahat. Saksi-saksinya nisan-nisan yang telah tiba duluan. Siraman air mawar pengantar akhir kerinduan.

Dan akhirnya tiba masa pengantin. Menunggu dan ditinggal sendirian. Tukmempertanggungjawab kan seluruh langkah kehidupan. Malam pertama bersama kekasih. Ditemani rayap-rayap dan cacing tanah. Di kamar bertilamkan tanah. Dan ketika 7 langkah telah pergi. Kita pun akan ditanyai oleh sang Malaikat. Kita taktahu apakah akan memperoleh nikmat kubur. Ataukah kita akan memperoleh siksa kubur. Kita taktahu. Dan takseorangpun yang tahu. Tapi anehnya kita takpernah galau ketakutan. Padahal nikmat atau siksa yang akan kita terima. Kita sungkan sekali meneteskan air mata. Seolah barang berharga yang sangat mahal.

Dan Dia Kekasih itu. Menetapkanmu ke syurga. Atau melemparkan dirimu ke neraka. Tentunya kita berharap menjadi ahli syurga. Tapi, tapi sudah pantaskah sikap kita selama ini? Untuk disebut sebagai ahli syurga?

Sahabat, mohon maaf jika malam itu aku takmenemanimu. Bukan aku taksetia. Bukan aku berkhianat. Tapi itulah komitmen azali tentang hidup dan kehidupan. Tapi percayalah aku pasti akan mendoakanmu. Karena aku sungguh menyayangimu. Rasa sayangku padamu lebih dari apa yang kau duga. Aku berdoa semoga kau jadi ahli syurga. Aamiin.

Sahabat, jika ini adalah bacaan terakhirmu. Jika ini adalah renungan peringatan dari Kekasihmu Ambillah hikmahnya. Tapi jika ini adalah salahku, maafkan aku. Terlebih jika aku harus mendahuluimu. Ikhlaskan dan maafkan seluruh khilafku.

 

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

Happiness (source: tumblr)
Happiness (source: tumblr)

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu:

1. Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : “Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

2. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

3. Al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya” . Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?” Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

4. Albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

5.Al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

6.Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

7.umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

(Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana)