Merawat Impian

Source: Tumblr

Oleh: Mahfud Achyar

Jakarta, 6 Oktober 2017.

Jumat sore, pukul 16.00 saya bergegas pulang dari kantor. Sebetulnya, jadwal pulang kantor pada hari Jumat yaitu pukul 16.30. Namun saya minta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan menghadiri workshop astronomi. Beruntung izin berhasil saya kantongi. Saya pun lekas menuju AtAmerica menggunakan ojek daring guna menyisir kemacetan sepanjang jalan Pancoran dan Gatot Soebroto.

Lalu, apa gerangan sehingga saya harus buru-buru agar tiba di AtAmerica tepat waktu? Tidak lain tidak bukan karena saya akan bertemu dengan idola saya, Ibu Pratiwi Sudarmono. Beliau merupakan ilmuwan yang mendapatkan kesempatan dari NASA (The National Aeronautics and Space Administration) untuk ambil bagian dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H sebagai spesialis muatan pada Oktober 1985.

Secara sederhana, beliau akan menjadi wanita pertama Indonesia yang terbang ke luar angkasa. Namun sayang, akibat bencana Challenger impian Pratiwi menjadi astronaut kandas. Peluncuran ke-10 pesawat ulang-alik Challenger gagal. Menurut informasi, kendaraan ini meledak 73 detik setelah peluncuran pada 28 Januari 1986 sebagai hasil kegagalan sebuah segel karet cincin O (O-ring) di kanan roket pendorong padat (Solid Rocket Booster, SRB); hal ini menyebabkan kebocoran dengan percikan api yang menyebabkan kebocoran di tangki hidrogen.

Padahal, jika misi STS-51-L berhasil, maka misi STS-61 H juga akan segera diluncurkan. Pada misi STS-61-H, akan dilakukan pengiriman satelit komersial seperti Palapa B-3 milik Indonesia. Namun sayang misi tersebut dibatalkan. Kabar baiknya satelit Palapa B-3 tetap diluncurkan dengan sebuah roket yang bernama roket Delta.

Kendati Pratiwi gagal menjadi astronot taklantas membuat langkahnya terhenti untuk mengembangkan penelitian di Indonesia. Ia terus menjadi seorang ilmuwan dengan menggeluti bidang mikrobiologi dan nanoteknologi.

Saat ini, selain menjadi Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, beliau juga sering diundang sebagai pembicara pada forum-forum ilmiah tentang astronomi. Pratiwi telah mencatat sejarah. Ia telah membuat perbedaan. Banyak anak-anak muda Indonesia telah terinspirasi dari sosok wanita kelahiran 31 Juli 1952 tersebut, termasuk saya.

Me and Profesor Pratiwi Sudarmono

Selama workshop berlangsung, saya khidmat mendengarkan pengalaman Ibu Pratiwi ketika mendapatkan kesempatan belajar di NASA. Takjarang bulu roma saya merinding saat mendengar harapan-harapan beliau akan perkembangan dunia penelitian di Indonesia, khususnya di bidang nanoteknologi. Cerita yang mengalir dari bibir Ibu Pratiwi membawa saya ke masa kekanak, saat saya begitu terobsesi menjadi seorang astronot.

Ya, dulu sekali, ketika anak-anak saya ingin sekali menjadi seorang astronot. Tidak ada alasan spesifik yang membuat saya jatuh cinta terhadap profesi tersebut. Sederhana: saya ingin ke luar angkasa. Saya terobsesi dengan pesawat.

Kala itu, bagi saya pesawat merupakan teknologi terhebat yang pernah diciptakan oleh manusia. Siapa sangka, manusia yang takbersayap akhirnya bisa terbang; menjelajahi cakrawala dan angkasa. Selain itu, saya juga mengagumi luar angkasa. Sebuah dimensi tanpa batas, misterius, dan mengagumkan. Entahlah, saya pun bingung menjelaskan perasaan saya terhadap antariksa. Sesuatu yang kompleks, sesuatu yang saya cintai kendati saya belum pernah melihat secara langsung bagaimana rupa antariksa yang sesungguhnya.

Kini, setelah dewasa, saya menyadari bahwa menjadi seorang astronot tidaklah mudah. Banyak proses-proses sulit dan panjang yang harus dilalui. Tidak hanya bermodalkan impian menjelajahi antariksa, namun perlu bekal kecerdasan, kesehatan fisik, serta mental yang sekuat baja. Mungkinkah kriteria tersebut ada dalam diri saya? Saya meragu.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa impian saya menjadi seorang astronot tidak akan pernah terwujud. Sekeras apapun saya bermimpi, semakin jauh impian tersebut pergi. Bahkan untuk meraih bayangannya saja sulit. Ia melesat secepat komet Encke yang mencapai titik lintasan bintang (perihelion)–titik terdekat matahari pada 21 November 2013 lalu. Is it possible to reach my dream? I don’t think so.

Kendati mustahil, saya tidak akan pernah mengubur impian tersebut. Selama napas masih berhembus, saya akan terus merawatnya hingga saya mendapatkan kepastian dari Tuhan bahwa impian tersebut akan terwujud.

Selama ini, untuk tetap menjaga antusias saya terhadap dunia astronomi, saya kerap kali meluangkan waktu untuk membaca artikel-artikel yang dipublikasi NASA atau Langit Selatan. Selain itu, jika rindu membuncah, saya pergi ke Planetarium atau berselancar melihat benda-benda angkasa secara virtual di Stellarium. Bicara tentang antusiasme, izinkan saya mengutip perkataan Aldous Huxley. Katanya, “The secret of genius is to carry the spirit of the child into old age, which means never losing your enthuasism.”

Usai Ibu Pratiwi bercerita, saya mengangkat tangan. Saya ingin bertanya langsung kepada beliau tentang banyak hal, mulai dari Asgardia The Space Nation Project, zero gravity labs, hingga secrets of hidden valley on Mars. Namun sayang, lantaran waktu yang terbatas sehingga saya hanya diperbolehkan mengajukan pertanyaan saya.

Dari sekian banyak tanya yang terlintas di benak saya, akhirnya saya mengajukan satu pertanyaan, “Bu, apakah memungkinkan kita membuat laboraturium zero gravity di Indonesia?” tanya saya singkat.

Ibu Pratiwi menjawab pertanyaan saya dengan tenang. Katanya, tentu bisa di Indonesia menciptakan laboraturium zero gravity. Namun membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sejauh ini, para peneliti Indonesia menggunakan demo sederhana guna mendekati zero gravity. Padahal menurut Ibu Pratiwi, beberapa penelitian membutuhkan kondisi zero gravity untuk menghasilkan penilitian yang akurasi dan presisi.

Tentang merawat impian, saya berdoa pada Tuhan agar mendapatkan kesempatan untuk berkunjung Kennedy Space Center di Florida, Amerika Serikat. Selain itu, saya berdoa pada Tuhan, jika di dunia saya benar-benar takbisa ke luar angkasa, semoga nanti ketika ruh saya diangkat ke langit, saya diberi kesempatan satu kali saja untuk menjelajahi berbagai galaksi dan berkenalan secara langsung dengan benda-benda angkasa yang mengagumkan.

“Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people?” – Carl Sagan.

Advertisements

Precognitive Dream

Deja Vu sebuah keadaan di mana kita merasa pernah mengalami sebuah momen atau kejadian pada masa lampau lantas kemudian terulang kembali. Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal demikian. Entah bagaimana cara kerjanya, sayapun tidak mengerti akan hal itu.

dreams_by_whisperfall
Source: https://msinop1.wordpress.com

Namun belakangan ini, saya mengalami journey semacam De Javu namun rasanya tidak tepat bila disebut De Javu. Journey yang saya maksud yaitu, saya beberapa kali datang ke sebuah tempat di mana tempat tersebut sudah pernah saya datangi sebelumnya. Datang dalam artian bukan perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruh.

Ya, beberapa tempat yang saya datangi ternyata sudah pernah saya kunjungi sebelumnya di alam mimpi. Barangkali agak cukup rumit menjelaskannya. Namun ini tidak mengada-ada. Saya ingat dengan sangat jelas bahwa memang tempat-tempat seperti savanna di gunung Lawu, jalanan menuju Cidahu, dan sebagainya memang pernah saya datangi di dalam mimpi. Persis sekali.

Berulang kali saya bercerita kepada teman-teman saya, “Oh, saya sudah pernah berkunjung ke sini di alam mimpi.” Teman-teman saya hanya menanggapi seadanya. Mungkin mereka tidak ingin berdebat untuk topik yang tidak begitu penting. Ah, mau apalagi. Saya tidak bisa memaksa mereka untuk mencerna journey yang hingga detik ini membuat saya begitu kebingungan.

Mimpi, sebuah dimensi yang memiliki sejuta misteri. Mengapa di bangku sekolah kita tidak pernah belajar tentang mimpi. Padahal setiap tidur mungkin kita mengalaminya. Namun kita abaikan seolah mimpi bukanlah sesuatu yang penting untuk dipelajari dalam perspektif kajian sains.

Akhirnya karena begitu penasaran, saya mencari informasi atas apa yang saya alami. Menurut artikel yang saya baca, journey yang saya maksud tadi disebut dengan istilah precognitive dream, future sight (penglihatan masa depan) atau second sight (penglihatan kedua).

Precognitive dreams are dreams that appear to predict the future through a sixth sense; a way of accessing future information that is unrelated to any existing knowledge acquired through normal means.” (Source: http://www.world-of-lucid-dreaming.com).

Berdasarkan artikel yang sudah saya baca, secara sederhana precognitive dream berarti mimpi yang benar-benar terjadi di masa depan.

Entahlah, saya rasa kurang tepat bila definisi tersebut sesuai dengan apa yang alami. Sejauh ini, kondisi yang saya alami hanya sebatas mimpi berkunjung ke tempat-tempat yang nantinya benar-benar saya datangi. Tidak lebih dari itu. Misalnya, tahun kemarin saya mimpi ke sebuah tempat seperti hutan bakau. Beberapa waktu kemudian saya memang ke tempat yang sama. Tepatnya di hutan bakau di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. Begitu seterusnya.

Ah, setelah dipikir-pikir lagi mungkin memang ruh saya senang bertualang ke tempat-tempat yang baru. Saya berpikiran positif semoga memang benar suatu saat impian saya menjadi seorang petualang benar-benar terwujud. Aamiin.

 

Jakarta,

21 Maret 2017

 

Kerja Sembari Kuliah, Mungkinkah?

Catatan Mahasiswa Pascasarjana (Bagian 1)

Oleh: Mahfud Achyar

429096_3152865350840_1549738364_n
Alumni Universitas Padjadjaran, Bandung (2007-2011)
Setelah wisuda sarjana pada November 2011, ada dua hal yang betul-betul saya inginkan: bekerja atau lanjut kuliah?  Kedua pilihan tersebut sebetulnya sangat menggiurkan. Kala itu, saya ingin sekali lanjut kuliah. Saya pikir, menjadi dosen tentu akan sangat menyenangkan. Saya pun mencari informasi beasiswa S2 khususnya beasiswa Dikti yang memang diperuntukkan bagi calon dosen/tenaga akademik. Beberapa teman saya juga melakukan hal yang sama. Wajar, sejak kuliah memang beasiswa tersebut yang kami incar. Kami ingin sekali menjadi dosen di kampus kami. Berada di antara para pemburu beasiswa membuat saya begitu bersemangat dan tidak sabar untuk segera kuliah kembali! Saya pun telah mantap memilih Universitas Indonesia sebagai kampus pilihan untuk menimba ilmu, khususnya di bidang ilmu lingustik.

Akan tetapi, rencana tersebut berubah ketika saya pindah dari Bandung ke Jakarta. Entahlah, kadang saya sendiri merasa tidak yakin apakah rencana tersebut memang betul saya inginkan atau mungkin saya hanya ikut-ikutan. Integritas saya mulai dipertanyakan. Sejujurnya, dari hati kecil saya, hal utama yang saya dambakan yaitu mandiri secara finansial. Mungkin alasan tersebut terkesan klise. Namun begitulah apa adanya. Sejak kuliah, saya sudah terlalu banyak merepotkan kedua orang tua saya. Rasanya wajar bila pada usia yang ke-21 tahun, saya tidak ingin lagi menjadi anak yang menyusahkan. Seharusnya sayalah yang memberikan kontribusi untuk keluarga saya. Secara tegas, saya putuskan bahwa saya harus bekerja! Titik. Untuk urusan kuliah, saya rasa pasti suatu saat akan menemukan jalan yang tidak akan saya sangka-sangka. Tuhan bukankah artisitek yang Maha Hebat?

Lagipula, alasan saya bekerja tidak hanya sebatas untuk mendapatkan lembaran rupiah. Lebih jauh dari itu, saya butuh pekerjaan untuk mengaktualisasikan kemampuan yang saya miliki. Saya ingin menjadi praktisi komunikasi. Sebuah profesi yang sejak SMA sangat saya idam-idamkan. Rasanya akan sangat menarik bertemu dengan banyak orang, mengatur pesan, serta merancang program-program yang kreatif. Kadang, saya tidak bisa tidur hanya karena membayangkan diri saja bekerja dan menjadi bagian dari sebuah tim yang hebat.

Awal tahun 2012, saya mulai mengetuk pintu beberapa perusahaan ternama di Jakarta dengan harapan mereka tertarik dengan riwayat hidup saya kemudian menerima saya sebagai bagian dari perusahaan mereka. Namun nyatanya apa yang saya anggap sederhana (melamar-wawancara-diterima) jauh lebih pelik dan kompleks. Saya ingat betul, waktu itu hampir semua kesempatan kerja saya coba. Mulai dari walk in interview hingga datang ke pameran bursa kerja. Semuanya saya lakoni dengan sebaik mungkin. Bahkan, saya memiliki beberapa akun di situs penjaring kerja dengan perhitungan bahwa peluang untuk mendapatkan pekerjaan akan lebih besar. Berhasil? Belum!

Setiap hari, aktivitas utama yang saya lakukan yaitu mengecek surat elektronik untuk membaca pesan dari perusahaan-perusahaan yang saya lamar. Terkadang saya beruntung mendapatkan telefon dari perusahaan yang tertarik dengan riwayat hidup saya. Namun seringnya saya justru tidak lolos tahap akhir. Kecewa? Sudah sangat pasti. Boleh dikatakan, awal-awal tahun 2012 merupakan masa-masa tersulit dalam hidup saya. Acapkali saya merasa menjadi sangat emosional dan sentimentil. Saya sulit sekali membedakan maksud pesan dari orang-orang di sekitar saya yang acap bertanya, “Apakah saya sudah bekerja”” Perhatian dan prihatin seakan tidak ada bedanya. Sama-sama menyakitkan. Namun apabila dipikirkan lagi sekarang, seharusnya saya tidak perlu mengambil sikap seperti itu. Namun bagaimanapun, saya tidak bisa mengelak bahwa memang pada saat itu hati saya sungguh kacau dan otak saya tidak dapat berpikir secara jernih. Benar-benar tidak karuan! Mudah-mudahan bisa menjadi pengingat untuk saya hingga kapanpun.

Mei 2012. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di salah satu NGO di Jakarta. Sebelum menerima tawaran tersebut, sebetulnya saya juga sudah diterima di salah satu perusahaan media terkenal di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Namun saya tolak tawaran tersebut lantaran ada satu alasan yang sangat personal.

Jika boleh bercerita, ketika masa-masa sulit tadi, saya merasa sangat jauh dengan Tuhan. Barangkali harusnya saya bisa lebih dekat dengan Tuhan, berkeluh kesah pada-Nya. Tapi yang terjadi justru saya merasa menjaga jarak dengan-Nya. Suatu kesempatan, saya berdoa kepada Tuhan agar saya mendapatkan pekerjaan yang membuat saya bisa dekat dengan-Nya. Secara sederhana, saya ingin nanti ketika saya bekerja minimal saya bisa menjalankan ibadah sholat lima waktu tanpa halangan berarti. Ya, demikianlah pinta saya pada-Nya. Setelah berpikir cukup lama dan berusaha melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan saya. Well, akhirnya saya memilih bekerja di NGO sebagai aktivis kemanusiaan.

Satu tahun lebih bekerja di NGO, banyak kesempatan emas yang mulai berdatangan. Salah satu kesempatan hebat yang tidak akan mungkin saya tepis yaitu kesempatan mendapatkan beasiswa program magister. Ada dua beasiswa yang saya incar, yaitu beasiswa Kemenpora dan beasiswa Medco Foundation-Universitas Paramadina. Kedua jenis beasiswa tersebut memang secara spesial diberikan kepada penggiat organisasi kepemudaan dan aktivis NGO.

Saya tahu mengenai beasiswa Kemenpora sejak kuliah di Unpad. Kebetulan, salah seorang senior saya di BEM pada saat itu menjadi penerima beasiswa tersebut. Saya mendapatkan informasi banyak dari beliau. Untuk informasi lebih detil, Anda bisa bisa baca dengan seksama pada tautan berikut: http://bit.ly/2bWVBOo. Persyaratan untuk mendapatkan beasiswa tersebut sebetulnya tidak begitu rumit. Kita hanya perlu menyediakan dokumen-dokumen yang diminta serta mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi untuk program pascasarjana di Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada.

Pada saat yang bersamaan, Universitas Paramadina bekerja sama dengan Medco Foundation juga membuka peluang beasiswa bagi aktivis NGO, jurnalis, dan tenaga pengajar. Informasi mengenai beasiswa ini dapat Anda temukan pada tautan berikut: http://bit.ly/2crTvS8. Worth to share yep!

Kedua beasiswa tersebut sejujurnya membuat saya bimbang. Saya seakan berada di persimpangan jalan, saya ragu jalan mana yang hendak saya pilih. Di satu sisi, pihak dari Universitas Indonesia beberapa kali menghubungi saya untuk mengambil kesempatan menjadi mahasiwa program studi Kajian Ketahanan Nasional . Namun di sisi lain, saya sangat tergoda dengan program studi Corporate Communication di Universitas Paramadina.

Sore itu, selepas pulang kantor, saya memantapkan hati saya untuk memilih Universitas Paramadina dengan berbagai pertimbangan. Pertama, saya bekerja sebagai praktisi komunikasi (Marketing Communication). Tentunya jika mengambil jurusan komunikasi maka akan sangat mendukung karir profesional saya. Kedua, saya rasa saya memiliki ikatan emosional dengan Universitas Paramadina. Dulu, saya pernah ingin berkunjung ke sana, namun tidak pernah berkesempatan. Entahlah, apakah itu alasan yang cukup berterima? Namun satu hal yang pasti, Universitas Paramadina sudah diakui keunggulannya dalam menyelenggarakan pendidikan. Apalagi saat itu, idola saya, Bapak Anies Baswedan menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina. Selain itu, setelah saya pikir-pikir ternyata Universitas Padjadjaran dan Universitas Paramadina memiliki kesamaan. Jika disingkat maka sama-sama UP! Aha, mungkin nanti jika ingin kuliah program doktor sepertinya saya perlu mencari kampus yang memiliki singkatan UP.

Oh ya, ada hal yang lupa saya ceritakan kepada tuan dan puan sekalian. Kuliah di Universitas Paramadina memungkinkan kita untuk bekerja sembari kuliah. Jadi pertanyaan pada judul tulisan, “Kerja sembari kuliah, mungkinkah?” Jawabannya sangat mungkin. Possible! Rata-rata beasiswa yang lain mewajibkan penerima beasiswa untuk mengikuti perkuliahan secara reguler (perkuliahan biasanya berlangsung hampir setiap hari dan jam kerja). Namun jika kalian kuliah di Universitas Paramadina, waktu kuliah biasanya dimulai pada pukul 7 malam dan berakhir pada pukul 9 malam (maksimal pukul 9.30 malam bergantung dosen). Anda tertarik mendapatkan beasiswa di Universitas Paramadina? Jika tertarik, pada tulisan berikutnya saya bercerita bagaimana perjuangan saya mendapatkan beasiswa beserta tips-tips yang mudah-mudahan bermanfaat. Viva Academia!

Jakarta, 7 September 2016.

Hari-Hari Tanpa Sekolah

 

Catatan Relawan Kelas Inspirasi

Oleh: Mahfud Achyar

IMG_1818
Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi (Foto oleh: Yeni Suryati)

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan

Saya bergabung menjadi keluarga besar Kelas Inspirasi sejak tahun 2014. Namun sebelum menjadi relawan Kelas Inspirasi, saya beberapa kali mengikuti kegiatan sosial yang digagas oleh relawan Kelas Inspirasi Jakarta 4 yang bertajuk “Kunjungan Inspirasi”. Sama halnya dengan program Kelas Inspirasi, kegiatan Kunjungan Inspirasi bertujuan untuk memberikan motivasi kepada anak-anak untuk berani bermimpi, berani mengajar cita-cita mereka. Segmentasi Kunjungan Inspirasi yaitu anak-anak binaan di beberapa Taman Baca di Jakarta. Sejak mengikuti kegiatan tersebut, saya jatuh cinta dengan aktifitas sosial khususnya di bidang pendidikan.

Oleh sebab itu, ketika panitia Kelas Inspirasi Depok 2 membuka pendaftaran relawan, tanpa banyak pertimbangan saya putuskan untuk  mendaftar menjadi relawan pengajar (baca: inspirator). Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya saya menerima surat elektronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi. Saat itu, rasa senang membucah dalam jiwa. Dalai Lama XIV pernah berkata, “Happines is not something ready made. It comes from your own actions.”

Satu hari cuti, seumur hidup menginspirasi. Begitulah semangat yang berusaha dipelihari oleh para relawan Kelas Inspirasi. Kami meyakini bahwa kegiatan Kelas Inspirasi (selanjutnya disingkat KI) tidak hanya menginspirasi anak-anak sekolah dasar, melainkan juga menginspirasi kami, para relawan. Sebelum Hari Inspirasi, semua relawan berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dari panitia KI mengenai gambaran kegiatan pada Hari Inspirasi. Merinding. Saya merinding menyaksikan ternyata masih banyak orang-orang baik di bumi pertiwi ini. Mereka, saya menyebutnya invisible hands, adalah orang-orang yang nantinya akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Kapan? Entahlah. Saya sendiri tidak bisa membuat prediksi yang presisi. Namun satu hal yang patut saya yakini, Indonesia masih memiliki harapan. Para relawan, barangkali merekalah segelintir harapan itu. Selama harapan masih ada dalam setiap dada generasi muda Indonesia, saya yakin kondisi sulit sekalipun dapat ditangani dengan baik. Saya meyakini hal itu. Sungguh.

Suatu hari di kelas penelitian kualitatif, dosen saya berkata, “Indonesia itu surga untuk penelitian. Betapa tidak, hampir semua masalah ada di Indonesia.” Saya pun secara spontan menganggukkan kepala pertanda saya sependapat dengan dosen tersebut. “Iya, Indonesia itu banyak masalah! Iya, Indonesia itu belum bisa semaju Amerika atau Inggris! Iya, Indonesia itu banyak kurang sana-sini! Lantas, apakah saya hanya bisa menyalahkan kondisi pelik yang  dihadapi oleh negara saya sendiri?” tanya saya dalam hati.

John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat (1917-1963), pernah berkata, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Semua orang bisa berteriak untuk menyalahkan, namun tidak semua orang bisa untuk berbuat, untuk turun tangan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Terkadang saya lelah melihat, membaca, dan mendengarkan orang-orang yang sering sekali memproduksi konten yang mendestruksi bangsa ini di berbagai lini masa. Saya akui terkadang saya juga melakukan hal yang sama. Namun belakangan saya berpikir ulang, jika saya melakukan hal yang sama dengan mereka, maka saya tidak ada bedanya. Menyedihkan.

Ada satu kutipan yang sangat menginspirasi dalam hidup saya. “Kondisi buruk terjadi bukan karena banyaknya orang jahat di muka bumi ini. Namun karena orang-orang baik hanya diam dan berpangku tangan.” Bagi saya pribadi, barangkali menjadi relawan KI barangkali adalah salah satu cara untuk making the world a better place. I hope so!

Pengalaman menjadi relawan pengajar di SDN Depok 5 pada tahun 2014 membuka telinga, mata, dan hati saya bahwa permasalahan dunia pendidikan Indonesia sangatlah pelik dan kompleks. Jika ada teman yang menanyakan pendapat saya mengenai profesi guru, saya selalu katakan, “Percayalah menjadi seorang guru tidaklah mudah!”

Pagi itu, sebelum mulai mengajar di kelas 2, jantung saya berdegup sangat kencang. Saya gugup dan saya tidak yakin bahwa hari itu Dewi Fortuna berpihak kepada saya. Kondisi semacam itu sejujurnya sudah seringkali saya alami, misalnya, ketika ujian kelulusan atau mungkin wawancara beasiswa. Perasaan yang selalu sama: kacau. Namun saya berusaha menenangkan diri sembari hanya bisa bergumam, “Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berlalu.” All is well.

Menit-menit pertama mengajar merupakan momen yang sangat menyenangkan. Saya mulai berhasil menguasai suasana kelas. Kekhawatiran saya tentang sulitnya menjelaskan istilah-istilah Marketing Communication mampu saya atasi dengan cukup baik. Anak-anak terlihat antusias, mereka bertanya ini dan itu. Saya merasa senang karena mereka terlihat antusias mengikuti proses belajar mengajar. Namun selanjutnya apa yang terjadi? Chaos!

Seorang siswa laki-laki entah mengapa tiba-tiba menangis. Sontak suasana kelas berubah mencekam. Kondisi semakin tidak terkendali ketika ada dua orang siswa yang berkelahi, saling pukul di antara mereka berdua pun tidak bisa dielakkan.

Sementara itu, anak-anak yang dari tadi antusias mendengarkan penjelasan saya juga ikut berteriak, membuat gaduh semakin riuh. Beruntung saat itu saya didampingi oleh teman saya. Kami pun berbagi tugas untuk mendamaikan anak-anak yang berkelahi dan membuat suasana kelas tetap kondusif. Saya pun menghampiri anak yang tadi berteriak dan menangis.

Sambil terisak ia berkata, “Tas saya disembunyikan pak!” Saya berusaha menenangkannya, namun  ia meronta. Seakan ia tidak butuh pertolongan. Seorang anak menyahut, “Dia emang cengeng pak!” Mendengar hal tersebut, si anak semakin marah dan kesal. Kondisi demikian membuat saya kewalahan. Perlahan, saya coba tenangkan dia dan memintanya untuk kembali duduk di kursinya. Ia sempat menolak, namun akhirnya luluh setelah saya bujuk berulang kali. Melelahkan.

Selidik demi selidik, ternyata anak tersebut memang sering menjadi objek bullying di kelasnya. Hampir setiap hari, ada saja yang membuat ia marah dan kesal. Mengetahui hal tersebut, saya hanya bisa terdiam. Seketika memori masa lampau hadir kembali.

Source - i(dot)huffpost(dot)com
Girl comforting her friend (Source: i.huffpost.com)

Dulu, ketika saya di bangku sekolah dasar, bullying merupakan fenomena yang sudah biasa. Dalam bahasa Indonesia, bullying memiliki serapan kata yaitu perundungan. Ada banyak faktor mengapa seorang siswa bisa menjadi objek perundungan, misalnya ia memiliki rambut keriting, kulit hitam, atau hidung pesek. Tidak hanya lantaran fisik semata, objek perundungan bisa juga lantaran sang anak memiliki nama yang “unik” dan sebagainya. Terlepas dari hal itu semua, siapa pun punya potensi yang sama untuk menjadi objek perundungan di sekolah. Jika sang anak telah menjadi korban bullying, maka hari-hari di sekolah adalah hari-hari yang menyeramkan.

Tiga kali menjadi relawan KI, mulai dari tahun 2014 hingga 2016, saya menyaksikan fenomena bullying selalu ada, bahkan telah menjadi efek bola salju. Sayangnya, pemerintah, pihak sekolah, maupun orang tua siswa tidak begitu aware dengan kasus ini. Padahal menurut saya, bullying laiknya dementor yang menghisap kebahagiaan anak-anak yang mendambakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Bayangkan, setiap hari anak-anak korban bullying harus menghadapi kondisi psikologis yang buruk. Mereka diejek, mereka ditolak, mereka dihina, dan mereka dimusuhi. Sangat menyakitkan.

2 Mei 2016 lalu, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, saya kembali menjadi relawan KI yang ditempatkan di SDN Cijantung 07 Pagi. Jika pada KI sebelumnya saya menjadi relawan pengajar dan fasilitator, tahun ini saya beranikan diri untuk menjadi relawan dokumentator, khususnya fotografer.

Ketika sesi pergantian pengajar, para relawan berkumpul di laboratorium yang menjadi base camp kami. Salah seorang relawan pengajar, Gicha Graciella (27 tahun), tampak kesal setelah mengajar di kelas 5. Ia bercerita bahwa ada seorang anak yang menjadi objek bullying teman-temannya lantaran bapaknya bekerja sebagai tukang parkir. Ia terus diejek oleh teman-temannya. Tidak hanya sekali, namun berulang kali. Gicha pun tidak tinggal diam. Sebagai seorang guru saat itu, ia berusaha memberi pengertian kepada para siswa bahwa sesama teman tidak boleh saling menyakiti. Kepada kami, Gicha kesal karena ternyata bullying menjadi hal yang dianggap lumrah terjadi di sekolah.

Senada dengan  Gicha, saya pun bersepakat bahwa seharusnya isu bullying menjadi perhatian banyak pihak. Apalagi pada tahun 2015 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir data yang mengejutkan dunia pendidikan Indonesia. “Jumlah anak sebagai pelaku kekerasan (bullying) di sekolah mengalami kenaikan dari 67 kasus pada 2014 menjadi 79 kasus pada 2015.” (Sumber: Republika.co.id, 30 Desember 2015).

Lebih lanjut, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan data naiknya jumlah anak sebagai pelaku kekerasan di sekolah menunjukkan adanya faktor lingkungan yang tidak kondusif bagi perlindungan anak.

Sebagai manusia dewasa, barangkali kita sulit memasuki perasaan anak-anak yang menjadi korban bullying. Bahkan, anak-anak korban bullying juga sulit untuk mengutarakan perasaan mereka yang setiap harinya dicela oleh teman-temannya. Menurut saya, akibat buruk dari bullying adalah timbulnya rasa benci dari korban bullying kepada teman-teman yang menjahatinya. Bahkan lebih parah, mereka benci dengan sekolah, mereka mungkin mendambakan hari-hari tanpa sekolah. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, saya berharap kasus bullying dapat menjadi fokus pemerintah, pihak sekolah, dan keluarga. Bukankah sekolah akan lebih menyenangkan bila tidak ada bullying? STOP BULLYING!

Jakarta,

7 Juni 2016

 

 

 

 

 

Yuswandi A. Temenggung: Kepemimpinan Itu Datang dari Diri Sendiri

 

Oleh: Mahfud Achyar

*Tulisan ini dimuat pada Majalah Buletin “Jendela Pembangunan Daerah” Edisi 5 Januari – 5 Februari 2016.

Kepemimpinan, barangkali akan selalu menjadi topik yang seru untuk dibahas. Obrolan mengenai kepemimpinan barangkali terkesan langitan, namun sebetulnya cukup membumi.

Banyak orang di republik ini membahas tema kepemimpinan. Mulai dari orang-orang berdasi hingga para petani yang bersantai di warung kopi. Betapa tidak, kepemimpinan menjadi faktor kunci keberhasilan suatu negara, organisasi, lembaga, perusahaan, bahkan kehidupan rumah tangga. Selalu saja ada hal baru yang bisa digali mengenai kepemimpinan. Maka taksalah, buku-buku mengenai kepemimpinan banyak menjadi best seller di berbagai toko buku di dunia dan di Indonesia.

John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan, pernah menulis ungkapan tentang kepemimpinan dalam salah satu bukunya. Ia menulis, “Leaders must be close enough to relate to others, but far enough ahead to motivate them.” Secara tegas, Maxwell mengatakan bahwa seorang pemimpin harus cukup dekat dengan orang yang dipimpinnya, namun cukup jauh ke depan untuk memotivasi mereka. Tidak hanya Maxwell yang bersuara lantang menyampaikan gagasan mengenai kepemimpinan, tokoh-tokoh penting di dunia juga turut menyampaikan gagasan mereka mengenai konsep kepemimpinan.

Yuswandi A. Temenggung, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, juga memiliki sudut pandang yang berbeda tentang kepemimpinan. Pada Kamis, (28/1/2016) lalu, tim buletin “Jendela Pembangunan Daerah” berhasil berdiskusi hangat dengan beliau di kantornya di Jalan Medan Merdeka Utara, No. 7, Jakarta Pusat.

DSC_0017
Yuswandi A Temenggung, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri

Sekjen Kemendagri yang lahir di Palembang pada 22 Juni 1957 ini berkata, “Kepemimpinan itu datang dari diri sendiri.” Menurutnya, seseorang tidak bisa dipaksa menjadi pemimpin jika tidak ada kemauan kuat dari dalam dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab, menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilalui, banyak hal yang harus dipersiapkan, dan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Akan tetapi, bila seorang pemimpin berhasil, maka ia dapat mengubah kondisi yang tidak baik menjadi lebih baik. Oleh karena itu, menurut Yuswandi hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin yaitu mengubah dirinya sendiri sembari mengubah lingkungan di sekitarnya. “Karena tidak bisa dibohongi, kalau kepemimpinan itu kita paksakan, ya susah juga. Kita paksakan seseorang menempati suatu tempat, ya kondisi organisasinya terseok-seok, dia juga tertekan. Gak optimal. Yang seharusnya dia dicarikan kondisi yang optimal ya,” jelasnya.

Efek kepemimpinan pertama kali dirasakan oleh pemimpin itu sendiri. Selanjutnya nomor dua dirasakan oleh lingkungannya. Secara pribadi, lulusan program doktor dari Cornell University, Amerika Serikat, ini menilai sukses atau tidaknya kepemimpinan seseorang juga ditentukan oleh faktor lingkungan. “Idealnya, gerakan itu bersama. Mana kala ada signal akan sesuatu kebaikan, kebaikan itu bisa dilakukan bersama. Tingkat kepemimpinan itu berbeda-beda. Kalau dia struktural eselon empat dengan scoope-nya, semakin tinggi saya kira semakin besar tanggung jawabnya. Kebersamaan itu penting. Tahu ada sesuatu sesuatu kebutuhan bersama. Kalau saya mau me-reform, melakukan perubahan, perubahan itu bisa diterima oleh semua,” imbuhnya.

Lantas, apa upaya yang harus dilakukan seorang pemimpin agar bisa diterima oleh follower-nya? “Nah, untuk diterima oleh semua, itu harus dijelaskan kepada semua. Kalau ada dari semua itu tidak ikut, ya itu salah. Jadi dalam manajemen itu, sebetulnya kalau kita lihat bisa jadi diprediksi 10 persen yang mau positif, sedikit kan? Mungkin 30 persen yang bandel, yang 60 persen swing. Mau dibawa ke mana itu? Kalau 30 persen itu menarik teman yang 60 persen hancur menjadi 90 persen. Tapi kalau yang 10 persen itu bisa menarik yang swing, dia jadi majority. Mayoritas 70 persen. Style ya harus dibuka, dibuktikan bahwa yang dipikirkan dalam kepemimpinan itu sesuatu yang memperbaiki dari kondisi yang sekarang. Tapi kalau orang diajak untuk lebih baik dia gak mau seperti yang 30 persen tadi, ya ini mesti juga ada terapi yang lain lagi,” tegas suami dari Ervina Murniati ini.

Lebih lanjut, bapak tiga anak ini juga menyarankan agar mengamankan para swing voters karena mereka dinilai potensial diajak ke arah yang positif. “Itu sudah lumayan dengan derajat yang berbeda. Kemudian, waktu akan menentukan yang 30 persen itu akan ikut. Itu teori matematikanya. Kita harus cek,” jelas beliau.

Kendati sudah mendapatkan dukungan dari banyak orang, seorang pemimpin tidak boleh berpuas diri. Ia harus mampu menguji konsep yang ia tawarkan dan harus mampu bekerja dengan profesionalitas yang baik. Jika hal tersebut tidak dilakukan, lambat laun para follower‑nya tidak akan menggubris apa yang ia katakan. “Kalau tidak profesional, tidak mempunyai kemampuan, orang bisa ikut namun ikut dengan terpaksa,” ujar Yuswandi.

Apa yang dikemukan Yuswandi tentang kepemimpinan tentunya berdasarkan pengalaman beliau yang sudah bertahun-tahun berkarir di pemerintahan. Tercatat pada tahun 1999 hingga 2001, beliau pernah menjadi Asisten Deputi Urusan Moneter Deputi I, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (EKUIN). Tahun berikutnya hingga tahun 2002, beliau menjabat sebagai Direktur Bina Investasi Daerah Ditjen Otonomi Daerah, Departemen Dalam Negeri. Selanjutnya, pada 2002 hingga 2004, beliau menjabat sebagai Kepala Pusat Administrasi Kerjasama, Departemen Dalam Negeri. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Yuswandi menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran, Kementerian Dalam Negeri. Sebelum menjadi menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, beliau juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri.

Ketika ditanya tentang kepemimpinan dalam perspektif gender, Yuswandi berpendapat bahwa ukuran kepemimpinan tidak dilihat dari gender saja melainkan kapasitasnya. “Perempuan itu beruntung. Kenapa saya katakan beruntung? Mencarinya susah. Jadi, kalau ada yang menonjol, kita tidak usah berbicara perspektif gender. Ada yang menonjol saja, gak ngawur, itu pasti ‘ditangkap’. Sekali lagi, tuntutan manajemen harus intelek terlepas dari gender. Kita tidak bisa lepaskan perempuan dan laki-laki,” tegas Yuswandi.

Menurutnya hal yang paling penting kembali kepada perempuan itu sendiri walaupun pertimbangan affirmative perlu dikedepankan. Ia menambahkan bahwa seorang karakter pemimpin itu berbeda-beda. “Ada orang yang bicara dengan konsep, ada orang yang bicara dengan koordinasi-bergantung orang dan penempatannya. Jadi seharusnya gender itu tidak menjadikan sesuatu penghalang bagi proses rekruitmen kepemimpinan,” jelasnya.

Menjadi salah satu pemimpin di Kementerian Dalam Negeri tentu tidaklah mudah. Apalagi Kementerian Dalam Negeri memiliki peran sangat strategis dan menjadi poros pemerintahan. Oleh karena itu, Yuswandi menilai bahwa setiap direktorat yang ada di Kementerian Dalam Negeri harus menjalankan perannya masing-masing dengan baik. “Saya tipe orangnya terbuka. Saya ingin keterbukaan itu bisa mendapatkan kebaikan. Caranya mungkin harus kita diskusikan. Bisa saja yang saya pikirkan tidak benar. Saya harus menerima kebenaran itu. Jadi, mencari suatu kebenaran itu suatu keharusan. Apabila kebenaran itu sudah kita peroleh, biasanya di alam pekerjaan dirumuskan di dalam norma-norma pengaturan. Mari kita ikuti norma itu. Bahasa sederhananya, jadilankanlah itu menjadi teman,” jelas Yuswandi.

Berkaitan dengan pembangunan daerah, Yuswandi memiliki harapan yang tinggi kepada Direktoral Jenderal Bina Pembangunan Daerah. “Pembangunan daerah dengan struktur yang baru itu dikonotasikan dalam bentuk urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Kalau urusan pendidikan sukses, maka pembangunan di bidang pendidikan sukses. Urusan pertanian sukses, syukur urusan irigasi dan pengairannya sukses,” jelas Yuswandi.

Kesuksesan kepemimpinan tidak lepas dari dukungan keluarga. Hal tersebut begitu dirasakan oleh Yuswandi. Menurutnya, salah satu dukungan terpentingan dari keluarga yaitu berupa doa. “Kita tidak tahu bahwa kita berdoa tidak dikasih atau tidak. Ternyata dikasih tuh. Buktinya kita sehat. Pada ukuran tertentu kita bahagia, ukuran tertentu kita dikasih kedudukan. Ukurannya ya, ukurannya dikasih,” ungkapnya.

Seorang pemimpin harus dekat dengan Tuhan. Begitulah Yuswandi berpesan. “Doa itu manjur. Jangankan doa, Tuhan akan berikan. Yang kita pikirkan saja itu bisa saja bahwa menjadi permintaan di mata Tuhan. Siapa yang yang memperkirakan bahwa besok ini, sekarang ini tidak bisa kita gambarkan adalah permintaan kita,” imbuh Yuswandi.

Salah satu hal yang dilakukan Yuswandi untuk mendapatkan mendapatkan inspirasi yaitu mencari suasana pedesaan. “Kalau senggang, jika dikasih opsi, saya cari kehijauan. Lebih mendukung inspirasi saya,” ungkap Yuswandi. Selain itu, menurutnya inspirasi juga bisa diperoleh ketika membaca otobiografi orang lain, berinteraksi dengan teman-teman, atau mungkin bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal.

Keberhasilan sebuah organisasi atau lembaga tidak hanya ditentukan oleh seorang pemimpin. Melainkan juga ditentukan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oleh sebab itu Yuswandi berpesan, “Kembalikan kepada orangnya, pekerjaanya sudah menunggu, laksanakan pekerjaannya, tingkatkan kapasitasnya, sesuai dengan mandat yang dikerjakan, dan ini akan snow bowlling. Terus perbaiki. Semakin baik, kita semakin ditengok orang. Semakin baik lagi tapi jangan lupa bahwa setiap orang ada kelebihan dan kekurangan.”

Resep Sukses Ala Chef ‘Abuba’

Photo Taken By: Luddy Prasetyo
Photo Taken By: Luddy Prasetyo

Belakangan ini, profesi chef atau juru masak kian digandrungi oleh banyak masyarakat Indonesia. Apalagi, banyak stasiun televisi swasta yang juga turut mempromosikan profesi chef melalui program pencarian bakat untuk mencari master chef yang handal dan profesional. Biasanya, ketika anak-anak Indonesia ditanya mengenai cita-cita, banyak di antara mereka yang berkeinginan menjadi seorang guru, pilot, polisi, astronom, dan sebagainya. Namun kini, cita-cita menjadi seorang chef menjadi salah satu pilihan utama. Betapa tidak, seorang chef dinilai piawai dalam meracik bumbu makanan, mengolah makanan, dan menyajikan makanan yang mengundang selera. Apalagi bisnis food and beverage terus berkembang dan dicari oleh banyak orang guna memanjakan lidah dalam berburu rasa.

Menjadi seorang chef sekaligus entrepreneur secara bersamaan tentu tidaklah mudah. Barangkali, itulah yang dialami oleh Abu Bakar saat pertama kali memiliki ide untuk mengembangkan bisnis kuliner khususnya makanan steak di Jakarta. Sebagaimana kita tahu, steak merupakan jenis makanan western berupa potongan daging yang dipanggang atau digoreng. Biasanya steak dapat nikmati di hotel-hotel berbintang atau restoran-restoran mewah. Namun Abu, begitu ia akrap disapa, berpikir bahwa steak seharusnya dapat dinikmati oleh banyak orang dengan harga yang terjangkau tanpa mengabaikan kualitas dari steak itu sendiri.

Bagi Anda penikmat steak di Jakarta tentu sudah tidak asing lagi mendengar nama restoran Abuba Steak. Restoran ini pertama kali dibuka di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Kini, Abuba Steak semakin berkembang sehingga berhasil membuka 14 cabang outlet di berbagai kota khususnya di Jakarta, Tangerang, Bekasi, Bandung, dan Bogor. Menjadi sukses seperti sekarang tentu tidaklah mudah. Butuh proses yang panjang, kesabaran, dan pembelajaran yang takpernah henti-hentinya.

Lantas bagaimana resep sukses Abuba Steak sehingga bisa seperti sekarang? Tim redaksi HI News berkesempatan untuk mewawancarai putra tunggal pemilik Abuba Steak, yaitu Muhammad Ali Ariansyah di bilangan Cipete, Jakarta Selatan pada hari Rabu, (15/04/2015).

Ali mengatakan untuk menjadi sekarang memang butuh proses yang takmudah. Ia menceritakan bahwa ayahnya merupakan seorang anak yang lahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bahkan tidak memiliki bekal pendidikan formal yang mumpuni. Ia putus sekolah sejak duduk di bangku SD kelas 5 lantaran ayahnya menderita sakit dan akhirnya meninggal. Pada usia 13 tahun, Abu merantau ke Jakarta dengan harapan dapat memperbaiki kondisi perekonomian keluarganya. Awal-awal hidup di Jakarta merupakan kondisi yang sulit bagi Abu. Ia bekerja serabutan seperti menjadi kuli batu dan buruh.

Menjelang dewasa, tepatnya saat usianya ke-17 tahun, pria kelahiran Cirebon tersebut mendapatkan kesempatan untuk bekerja di sebuah restoran di Kemang, Jakarta Selatan sebagai tukang cuci piring. Selanjutnya, ia pun dipercaya menjadi juru masak di berbagai restoran dan hotel terkemuka di Jakarta. Selama bergulat di dapur, Abu belajar banyak hal tentang berbagai menu masakan, baik lokal maupun western. Bekal ilmu yang ia dapat akhirnya memantapkan Abu untuk membuka restoran sendiri.

Menurut penuturan Ali, Abuba Steak yang berdiri sejak tahun 1992 bermula dari warung tenda di daerah Cipete, Jakarta Selatan. “Jika boleh cerita, Abuba Steak sendiri berawal dari ketidaksengajaan. Mengapa? Sebab saat itu ayah saya sedang menganggur cukup lama sekitar enam bulan. Kesulitan ekonomi terus menghimpit keluarga kami. Akhirnya ayah saya memutuskan untuk membuka usaha kuliner. Kami menjual beberapa macam menu makanan. Namun dari sekian banyak menu, steak menjadi menu favorit pelanggan kami. Dengan background dan experience sebagai chef yang dimilih ayah saya selama 25 tahun, ayah saya kemudian memutuskan untuk menjual steak,” jelas Ali.

Doa, kerja keras, dan semangat pantang menyerah merupakan kunci keberhasilan Abuba Steak. “Saya masih ingat dulu kita jualan di depan toko orang pada malam hari. Modal kami saat itu hanya 3 juta. Itu pun hasil tabungan sendiri dan pinjaman dari sahabat dan sanak saudara. Kemudian kami pun pindah ke salah satu gang di Kemang. Seiring berjalannya waktu, alhamdulillah akhirnya kami memiliki modal yang cukup sehingga bisa menyewa tempat di Jalan Raya Cipete, No. 6 Jakarta Selatan. Tahun 2008, kami pindah lagi ke daerah yang cukup strategis dan memiliki tempat parkir yang memadai di Jalan Raya Cipete No. 14-A hingga sekarang,” kenang Ali.

Pada tahun 2004, Ali diberi kepercayaan oleh ayahnya untuk mengelola Abuba Steak. Saat itu ia baru selesai mengenyam pendidikan di Switzerland, mengambil program studi Hospitality (Perhotelan). “Kebetulan saya adalah anak satu-satunya. Saya ingin perusahaan ini dapat berkembang, semakin memberikan manfaat untuk orang banyak, dan lebih baik lagi,” ungkap Ali.

Dengan kepemimpinannya, Ali berharap stake holder dari Abuba Steak mendapatkan manfaat; customer yang mendapatkan produk yang lebih baik, tempat yang lebih nyaman dan representatif; dan karyawan Abuba Steak yang sudah mencapai 600 orang juga harus menerima hak mereka dengan baik dan layak.

Menghadapi persaingan, Abuba Steak optimis untuk terus berkembang. “Saya terus berusaha agar usaha ini bisa terus bertumbuh dan berkembang. Saya juga berharap Abuba Steak mampu bersaing dengan usaha-usaha lain, baik kompetitor yang baru bermunculan atau pun brand-brand yang datang dari luar,” jelas Ali dengan penuh keyakinan.

Ditanya mengenai makna berbagi, Ali menyatakan bahwa dengan berbagi usaha kita akan berkah. Hal itulah yang diajarkan oleh kedua orang tua saya. Sebab rezeki yang diterima dari Allah harus dibagi. Insya Allah lebih berkah. [Destie Mulyaningsih/Mahfud Achyar]

 

Aku Jatuh Cinta Padamu, Prau!

Aku semakin yakin bahwa semua doa-doaku yang pernah aku minta pada Tuhan selalu dikabulkan. Mungkin besok, lusa, tahun depan, atau mungkin beberapa tahun lagi. Dan tahun ini, aku menjadi saksi atas kuasa Tuhan. Salah satu mimpiku saat di kampus terkabul sudah. Masih lekat dibenakku, pada tahun 2008, aku dan teman-temanku berencana liburan ke Dieng Plateu, Jawa Tengah. Saat itu, aku dan teman-temanku sesama pengurus BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) begitu antusias untuk bertualang ke Dieng.

Menurut pandangan kami, Dieng adalah salah satu tempat terbaik di Indonesia yang harus dikunjungi. Kami pun mencari informasi tentang Dieng dengan berselancar di internet. Memandangi foto-foto keindahan alam Dieng yang diabadikan oleh para travelers. Kami berdecak kagum. Sejak saat itu juga harus aku akui bahwa kami jatuh cinta pada Dieng. Namun rasa cintaku terhadap Dieng tidak tersampaikan. Seperti seorang pujangga yang hanya bisa memuja sang terkasih tanpa yakin akan memilikinya. Saat itu kami hanya bisa membuat rencana. Sebatas rencana. Pada akhirnya kami harus mengulum senyum hambar karena rencana kami ke Dieng batal! Maklum, sebagai aktivis BEM kami lumayan disibukkan dengan program-program yang harus dijalankan hingga akhir kepengurusan.

Kendati rencana kami gagal total. Aku pribadi tidak lantas membuang mimpiku untuk pergi ke Dieng. Dalam hati penuh takzim, aku berdoa dan berharap, semoga suatu saat aku bisa ke sana. Ya Dieng! Sebuah negeri yang konon kata orang merupakan negeri tempat istirahatnya para dewa.

Enam tahun berlalu begitu cepat. Sejak tahun 2008 hingga tahun 2014, sebetulnya aku masih terobsesi untuk pergi ke Dieng. Kadang aku memikirkan Dieng pada beberapa kesempatan, kadang aku sama sekali tidak peduli. Namun siapa sangka penantianku tidak berakhir sia-sia. Tuhan memberikanku kesempatan untuk pergi ke Dieng pada waktu yang tepat dan yang paling penting bersama sahabat-sahabat yang menyenangkan.

Jatinangor, 21 Juni 2014

Gongratulations, bro! Tepat hari Jumat, 21 Juni 2014 sahabat kami bernama Dwi Cahyo Akbar secara resmi menyandang gelar sarjana. Kami bangga dengan perjuangan hebatmu, bro! Oke, untuk merayakan kelulusan teman kami, akhirnya kami pun bersepakat untuk merayakannya di salah satu puncak gunung terindah di jawa yaitu Gunung Prau! Gunung yang terkenal dengan puncak-puncaknya indah, golden sunrise, hamparan padang rumput savana yang luas, dan melihat lebih dekat si kembar Sumbing dan Sindoro. Lebih mengagumkan lagi, Gunung Prau terletak di Dieng Pleteu yang masuk wilayah Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Achievement unlocked! Artinya mimpiku pada tahun 2008 terkabulkan. Dan ini di luar dugaanku. Siapa sangka saat aku tidak terlalu memikirkan Dieng, justru takdir membawaku dan sahabat-sahabat baikku untuk mengenal lebih dekat Dieng.

Bandung, 22 Juni 2014

Di terminal bus Cicaheum Bandung, aku dan lima sahabatku yaitu Cahyo, Abah, Ella, Ai, dan Nurida sudah sangat siap untuk berangkat ke Wonosobo. Masing-masing kami membawa tas carrier dan day pack yang berisi bekal dan persiapan untuk mendaki Gunung Prau.

Sore merangkak senja, senja pun merangkak malam. Langit kota Bandung terlihat mulai gelap. Aku pun menengok jam tangan untuk memastikan bahwa kami masih punya kesempatan untuk makan malam. Sebab perjalanan menuju Wonosobo tidaklah sebentar. Kami akan Kami akan menghabiskan malam yang panjang di bis sekitar 10 jam. Abah pun segera membeli karcis di loket khusus bus Po. Sinar Jaya dengan merogoh kocek sebesar 75ribu. Untungnya Abah sudah reservasi karcis terlebih dahulu. Jika tidak, kami tidak akan kebagian kursi. Paling parah kami tidak bisa berangkat pada malam itu.

Oya, jumlah tim kami totalnya adalah 7 orang. Namun dua orang sahabat kami tidak berangkat bersama dari Bandung. Kang Hassan berangkat dari terminal Rawamangun Jakarta dan Riyan berangkat dari Yogyakarta. Namun kami sudah janjian untuk bertemu pada hari Minggu pagi tanggal 23 Juni 2014 di terminal Mendolo, Wonosobo.

Perjalanan malam yang cukup panjang pun dimulai. Aku pernah dengar bahwa waktu yang terbaik untuk berpergian adalah malam hari. Sebab pada malam hari, jarak perjalanan seolah semakin pendek. Barangkali karena kita bisa tidur dan ketika kita bangun kita sudah sampai pada tujuan kita. Namun bagiku, perjalanan malam sayang sekali jika dihabiskan hanya untuk tidur. Aku dan sahabat-sahabatku sudah tidak sesering dulu bertemu di kampus. Sejak kami lulus kuliah, kami sibuk dengan aktifitas masing-masing. Sebetulnya lumayan sering berkomunikasi melalui media sosial, namun jarang bertemu langsung untuk sekadar berbincang-bincang dan bergurau.

Malam itu, kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu kami bersama. Kami pun bermain tebak-tebakkan konyol yang katanya games anak psikologi, bernyanyi saling bersaut-sautan, tertawa, saling meledek, dan bertepuk tangan. Jika mengingat momen itu, saya jadi tertawa sendiri. Seolah kita sebagai anak-anak manusia yang enggan menjadi dewasa.

Mata mulai terasa berat. Rasa kantuk tidak tertahankan. Kami pun tidur. Menjelajah dimensi lain yang tidak kami ketahui satu sama lainnya.

Wonosobo, 23 Juni 2014

Sekitar pukul 05.00 WIB, kami tiba di terminal Mendolo, Wonosobo. Menurutku, terminal Mendolo cukup rapi dan bersih. Jauh berbeda dibandingkan terminal di Jakarta atau pun Bandung. Selain Itu, udara pagi di Wonosobo juga menyegarkan paru-paru. Maklum, di Jakarta setiap hari aku terbiasa menghirup udara yang sudah terkontaminasi polusi. Angin dingin pun berhembus dan berlari-larian kecil di atas kulit sehingga membuat tubuhku sesekali menggigil. Yep, sekilas Itulah first impression-ku ketika menginjakkan Wonosobo untuk pertama kalinya.

Selanjutnya kami pun bergegas mencari masjid untuk sholat Subuh. Tidak jauh kami melangkah, kami pun menemukan sebuah masjid. Kami pun bergegas untuk sholat Subuh, personal hygine, dan menunggu dua sahabat kami yaitu Kang Hassan dan Riyan. Selang beberapa menit, Kang Hassan pun datang. Sementara Riyan baru tiba di Wonosobo sekitar pukul 09.00 WIB.

Sembari menunggu Riyan, kami pun repacking yang dibantu oleh Cahyo. Maklum, jam terbang Cahyo dalam hal per-packing-an sudah tidak diragukan lagi. Menurutnya, prinsip utama dalam packing adalah, jangan membiarkan ada ruang tersisa sehingga menjadi celah untuk udara masuk. Sebab jika masih ada ruang sisa, beban terasa lebih berat. Dia menambahkan, barang yang kita bawa sebetulnya bisa menjadi ringan asalkan kita telaten ketika packing. Kami pun hanya bisa angguk-angguk kepala, kendati kami tidak mengerti sepenuhnya apa yang disampaikan Cahyo. Hehe.

Urusan packing kami serahkan seutuhnya kepada Cahyo. Beberapa orang di antara kami yaitu Kang Hassan, Nurida, Ella, Ai, dan aku pun mendapat mandat mulia untuk ke pasar tradisional guna membeli perbekalan selama di gunung. Horray! Markipas, mari kita ke pasar.

Well, all my bags are paked!

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Riyan melempar senyum kepada kami. Kita pun saling berkenalan, berbincang-bincang ringan, dan tanpa mengulur waktu kami pun siap menjelajah alam Dieng yang indah dan permai.

Our long journey start here.

Untuk sampai ke Dieng, kita bisa menumpang elf dengan membayar ongkos sekitar 15ribu per orang. Pada hari itu, nampaknya hanya kami yang berstatus pelancong di dalam elf. Sisanya adalah warga lokal asli Wonosobo. Di antara mereka ada yang membawa sayur-sayuran dan membawa bahan pangan. Sepanjang perjalanan menuju Dieng, tolong jangan tidur. Tolong sekali! Sebab pemandangan di sisi kiri dan kanan sungguh indah.

Aneka sayuran berwarna hijau seperti daun bawang, kangkung, dan sawi terhampar luas berbentuk persegi empat yang teratur. Sementara itu, pada tanah yang lereng dibuat sengkedan berjenjang-jenjang yang ditumbuhi tanaman tumpang sari. Tanah di negeri Dieng sangatlah subur. Aduhai, asyik sekali sepertinya menjadi masyarakat Dieng. Rumah-rumah mereka berjejer rapi. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah hijau, hijau, dan hijau. Betapa tergila-gilanya aku pada warna itu. Mungkin benar kata orang, Indonesia ini tanahnya syurga. Untuk itu, sudah semestinya kita menjaga anugrah Tuhan yang takternilai harganya.

Elf melaju dengan kecepatan yang stabil, melewati jalan-jalan yang berkelok, dan menanjak semakin tinggi. Setengah jam berlalu, kami pun tiba di Dieng. Oya, sebagai informasi, jalur menuju puncak Gunung Prau ada dua, yaitu dari Patak Banteng dan Dieng. Dan kami memilih jalur Dieng. Menurut Cahyo, hiking melalui Dieng lebih santai dan pemandangannya pun lebih bagus. Aku sendiri kurang tahu persis sebab belum pernah hiking melalui Patak Banteng. Namun, Ella yang sebulan lalu kembali ke Prau via jalur Patak Banteng mengakui bahwa pemandangan via Dieng jauh lebih keren.

 

Jalur pendakian menuju Gunung Prau via Dieng
Jalur pendakian menuju Gunung Prau via Dieng

Kami mulai pendakian sekitar pukul 13.00 WIB. Jujur kuakui bahwa pemandangan sepanjang jalan menuju puncak Prau: PERFECT! Bayangkan, kami berjalan perlahan di atas jalan bebatuan yang tersusun rapi, menghirup oksigen yang segar, menikmati pemandangan desa yang damai, dan bibir kita takhenti-hentinya takjub dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Berlebihankah aku memujinya? Tentu tidak. Aku rasa itu deskripsi yang tepat menggambarkan keelokkan alam Dieng.

Rasa lelah sepanjang pendakian seolah takada artinya. Sebab kami selalu disuguhi hal-hal yang mengesankan: kanopi dari jejeran pohon pinus serta kabut tipis yang tiba-tiba datang dan pergi karena tiupan angin. Selain itu, sahabat kami Ai juga menjelaskan beberapa jenis tanaman yang tidak kami ketahui nama dan jenisnya. Sebagai seorang mahasiswa magister Biologi, jelas Ai menguasai hal-hal tersebut dibandingkan kami. Jadi bisa dikatakan perjalanan kami tidak hanya sebatas yang indah-indah saja, tapi ada pengetahuan baru yang kami dapatkan. Oh ya! Taksonomi nama ilmunya. Dalam Biologi, taksonomi ilmu yang mempelajari penggolongan atau sistematika makhluk hidup (termasuk tumbuhan). Sistem yang dipakai adalah penamaan dengan dua sebutan yang dikenal sebagai tata nama binomial atau binomial nomenclature.

Beberapa meter melangkah, kemudian berhenti. Bukan hanya karena kami lelah, tapi kami tidak ingin menyia-nyiakan momen yang kami lihat dengan mengabadikannya dengan kamera yang kami bawa. Semakin kami jauh berjalan, semakin kami lebih mengenal satu sama lainnya. Kendati sering berpergian bersama, ada saja hal-hal baru yang kami pahami dari karakter masing-masing. Berbeda, ya kami berbeda. Tapi bukankah perbedaan itu anugrah yang membuat kita semestinya lebih mengerti satu sama lainnya.

Cukup jauh berjalan, kaki mulai terasa berat untuk melangkah. Kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak. Menikmati keindahan penaroma Dieng dari ketinggian.

“Hai teman-teman! Lihat di bawah sana ada telaga warna,” Ella bersorak.

Kami pun bergegas menuju tempat Ella. Penasaran ingin melihat apa yang Ella lihat. Yep, mengangumkan! Telaga warna terlihat sangat jelas kendati pada jarak yang terbentang sangat jauh. Kami dengan leluasa berputar 180 derajat untuk melihat pemandangan yang kami suka tanpa ada satu pun yang menghalangi bola mata kami. Burung-burung terbang di atas cakrawala. Mereka bergerombol menuju suatu tempat yang tidak kami ketahui. Mereka adalah sang petualang. Begitu juga dengan kami.

 

Telaga Warna dari Gunung Prau
Telaga Warna dari Gunung Prau

 

Setelah cukup puas istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Puncak Prau sudah terlihat. Aku agak sedikit de javu, merasa sudah pernah ke sini sebelumnya. Aku bingung dengan kerja otak.

“Ini kaya dimana ya?”

“Mirip kaya di Puntang, Ach!” balas Nurida.

“Oya bener mirip.”

Sore itu adalah salah sore terbaik dalam hidupku. Merasakan hidup sebagai manusia petualang seperti yang aku impikan sedari kecil. Padang savana yang terhampar luas. Sangat luas. Savana tersebut dipercantik karena tumbuh bunga kecil berwarna kuning, putih, dan ungu. Seperti bunga matahari tapi dalam ukuran yang lebih kecil. Kata Cahyo, nama bunga itu adalah bunga Daisy yang merupakan keluarga asteraceae sama seperti bunga aster. Belakangan aku mencari informasi lebih detil mengenai bunga Daisy. Aku baru tahu bahwa bunga Daisy memiliki filosofi yang melambangkan kerendahan hati, kestabilan, suci, simpati, dan keceriaan. Beruntungnya kami bisa melihat bunga Daisy bermekaran yang menjadi pengiring kami menuju puncak. Ya, puncak Prau dengan ketinggian 2.565 meter dari permukaan laut adalah tujuan kami.

 

Bunga Daisy
Bunga Daisy

 

Sang mentari yang dari tadi menjadi lentera perjalanan kami perlahan mulai beranjak pergi menuju peraduannya. Kami pun semakin mempercepat langkah agar tiba di puncak sebelum matahari benar-benar hilang. Gunung Prau memang unik. Aku kira kita sudah tiba di puncak. Namun kata kang Hassan, itu belum puncaknya. Tiba di puncak lainnya namun tetap itu bukan puncak aslinya. Takheran jika puncak Gunung Prau dijuluki dengan puncak seribu bukit.

Sekitar pukul 17.15 WIB, akhirnya kami pun tiba di puncak asli Gunung Prau. Alhamdulillah. Rasa syukur membuncah dari hati. Abah dan Cahyo bertugas mendirikan tenda; aku, Kang Hassan, Riyan bertugas mencari kayu bakar untuk acara api unggun; Nurida, Ai, dan Ella menyiapkan air panas. Oya, kami belum sholat Dzuhur. Kami pun bergantian untuk sholat jamak qashar Dzuhur dan Ashar.

Udara dingin pegunungan mulai menusuk hingga ke tulang. Apalagi bagi kami yang memiliki tubuh kurus yang hanya memiliki sedikit bantalan lemak. Jaket, syal, dan kupluk pun dipasang. Tenda berdiri kokoh dan menghadap langsung ke arah si kembar, Sumbing dan Sindoro. Sayang saat itu, si kembar ditutupi awan yang tebal. Kami tidak bisa leluasa memandangi mereka. Namun beberapa menit kemudian, kami tiba-tiba angin berhembus. Awan tebal yang menyelimuti si kembar pun perlahan mulai hilang. Menjelang senja saat cakrawala berwarna merah jingga, Gunung Sumbing dan Sindoro seolah menyapa kami. Membuat hati kami riang gembira. Taklupa kami mengabadikan momen indah dengan berbagai pose yang penuh keceriaan.

Malam pun menyapa. Angin gunung pada malam memang kurang bersahabat. Berhembus cukup kencang. Udara terasa semakin dingin. Kami berharap tidak ada satu pun dari kami yang terkena hyporthermia. Kami mengusik dingin malam dengan memasak bersama. Agar tubuh terus bergerak. Lagian perut dari tadi sudah keroncongan. Tidak sabar rasanya untuk makan malam yang diracik secara khusus oleh koki handal Nurida, Ella, dan Ai.

Alhamdulillah kenyang. Makan malam yang sangat nikmat.

Makan malam sudah, sholat Maghrib dan Isya sudah, acaranya selanjutnya adalah menghangatkan diri dengan duduk melingkari api unggun. Riyan, mahasiswa magister Sejarah, berkisah banyak hal kepada kami. Tentu saja tentang sejarah. Dari dulu, aku sangat suka sejarah. Kami pun antusias bertanya mengenai ini dan itu kepada Riyan. Obrolan kami malam itu diakhiri dengan padamnya api unggun. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 10 malam. Kami pun memutuskan untuk masuk ke tenda. Barangkali obrolan tentang sejarah bisa dilanjutkan di tenda.

Sementara itu, masih ada saja pendaki yang baru datang kendati sudah malam. Besok subuh adalah waktu yang paling aku tunggu. Sebab, aku ingin sekali menjadi saksi betapa cantiknya golden sunrise di puncak Gunung Prau.

Dieng Plateu, 24 Juni 2014

“Teman-teman, ayo bangun! Sebentar lagi sunrise. Ayo sholat!” Ella berteriak dari tenda sebelah.

Kami pun sholat Subuh berjamah. Usai sholat, kami pun menanti secercah cahaya yang menyeruak di balik awan kelabu yang masih terlihat gelap. Perlahan fajar mulai menyingsing. Cahaya mentari terpancar di antara sela-sela awan. Semakin lama semakin memancarkan cahaya dengan spektrum yang lebih luas. Menyinari cakrawala dengan cahaya berwarna keemasan. Benar sekali, sunrise di puncak Gunung Prau sungguh cantik. Laiknya seorang putri istana yang ditunggu-tunggu jutaan rakyatnya. Begitulah kami menunggu sang mentari. Menghangatkan tubuh kami yang dari tadi malam terasa menggigil. Memberi kami harapan baru dan semangat baru.

Golden Sunrise
Golden Sunrise

 

Wahai sang mentari pagi. Biarkan kami bersamamu lebih lama. Mendendangkan lagu terbaik yang kami bisa untukmu. “There’s always a story. It’s all stories, really. The sun coming up every day is a story. Everything’s got a story in it. Change the story, change the world.” – Terry Pratchett.

Aku membentangkan tangan menghadap matahari. Membiarkan angin pagi yang masih sama dinginnya saat malam hari yang dari tadi menampar-nampar wajahku. Ah, angin dingin pagi itu hanya ingin bercanda denganku. Sementara hangatnya sang mentari mulai merasuk hingga pembuluh vena dan arteri. Mengusir rasa dingin yang seolah enggan pergi.

Aku dan sahabat-sahabatku merasakan sesuatu yang sangat personal. Hubungan kita dengan alam memang sangatlah dekat. Alam bagi kami adalah rumah. Saat hati merasa jengah dan lelah, kami ingin kembali padanya. Bukankah setelah meninggal, kita akan kembali pada alam. Tentunya alam yang berbeda.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Dieng. Sekali lagi aku katakan padamu, aku jatuh cinta padamu. end!

Anak Kaki Langit
Anak Kaki Langit