Bahkan, Kegagalan Juga Layak Dirayakan!

 

Oleh: Mahfud Achyar

Siang menjelang sore di sebuah kedai bakmi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, seorang teman saya bersedih lantaran ia gagal seleksi penerimaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di salah satu kementerian.

Saat itu, kami tengah lahap menyantap semangkok bakmi dan semangkok es teler. Namun, suasana menjadi terasa kikuk ketika teman saya memasang ekspresi kecewa.

Katanya, “Gue udah bilang ke nyokap kalo gue lolos. Gue sih yakin lolos karena seleksi awal nilai gue termasuk yang paling tinggi. Tapi di tahap wawancara, gue merasa kurang puas.”

“Tapi sebetulnya, gue ga pengen banget jadi CPNS sih. Tapi gue juga sedih karena ga lolos,” imbuhnya.

It’s okay, neng. Gw juga ga lolos kok. Awalnya kecewa sih. Tapi mungkin bukan rejeki gue. Yakin deh, satu pintu tertutup, maka pintu lainnya terbuka,” saya mencoba menghibur Eneng, begitu teman saya akrab disapa.

Menyoal tentang kegagalan, rasa-rasanya hampir semua orang pernah merasakan hal itu. Kegalalan, menjadi momok menakutkan yang seakan terus membayang-bayangi perjalanan hidup kita.

Kata orang bijak, “Kegagalan adalah awal dari kesuksesan.” Namun bagi saya pribadi, kegagalan adalah sahabat baik saya sejak dulu. Jika dingat-ingat, ratusan bahkan ribuan kegagalan pernah saya alami. Misal, gagal menjadi peringkat satu ketika di bangku sekolah dasar, gagal menjadi pemenang lomba puisi, serta kegagalan-kegagalan lainnya.

Ketika saya gagal, saya merasa diri saya takubahnya seperti pecundang. Saya merasa kalah, saya merasa payah, dan saya merasa lelah untuk mencoba pada kesempatan lainnya. Saya berpikir, mungkin saya sebaiknya berhenti mencoba, berhenti berharap–maka dengan begitu saya tidak akan pernah kecewa.

Beberapa kesempatan, saya tenggelamkan jiwa saya dalam samudra kekecewaan yang begitu dalam. Saya mengutuk banyak hal untuk kondisi buruk yang menimpa saya. Namun beruntung pada saat yang bersamaan, saya disadarkan oleh suara hati yang berkata lirih, “Tenang, semuanya belum berakhir. Tidak masalah gagal. Asalkan terus mencoba, mencoba, dan mencoba.”

Dari kegagalan, saya menemukan formula yang tepat bagi saya untuk merekonsiliasi diri ketika menghadapi kegagalan. Jika saya gagal, berarti ada faktor-faktor yang menyebabkan mengapa saya gagal, misal saya kurang persiapan, saya kurang berdoa, atau mungkin barangkali saya kurang ikhtiar. Namun jika proses-proses tersebut sudah dilalui dengan baik, ya, mungkin belum rejeki saya. Sesederhana itu.

Yakin, rejeki setiap anak manusia sudah diatur oleh Tuhan. Rejeki anak manusia tidak akan pernah tertukar. Kita hanya perlu menjemput rejeki yang telah Tuhan tetapkan dengan cara-cara yang baik. Dengan begitu, hati kita merasa lebih tenang, lebih tentram.

Pun demikian, apa yang saya alami serta seperti apa formula saya dalam menghadapi kegagalan, tentu berbeda dengan yang apa dialami oleh orang lain. Mungkin saja kadar kegagalan saya lebih sedikit dibandingkan orang lain atau mungkin juga sebaliknya. Saya hanya bisa mengira-ngira.

Akan tetapi, saya pikir jalan tengah untuk menyikapi kegagalan yaitu dengan cara menerima kenyataan bahwa kita memang gagal. Kita bersedih karena gagal. Kita kecewa karena tidak bisa memenuhi ekspektasi diri kita atau orang lain. Namun setelah rasa tidak mengenakkan itu hadir menyeruak di dada kita, maka sikap terbaik yang patut kita hadirkan yaitu memaafkan diri kita. Jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Percayalah, setiap orang punya time zone yang berbeda-beda. Tidak semua hal perlu dijadikan kompetisi, bukan?

Dari kegagalan, saya mulai mengerti bahwa hidup takmelulu bicara tentang prestasi. Ada kalanya kita harus berhenti, menangisi takdir, lantas kemudian ceria kembali menyongsong hari dan kesempatan yang baru. Saya teringat sebuah pesan bijak, “Saya tidak tahu apakah ini musibah atau berkah, namun saya selalu berprasangka baik pada Tuhan.”

Usai cerita kegagalan teman karena tidak lolos seleksi CPNS, akhirnya kami memutuskan untuk merayakan kegagalan dengan memesan gelato di salah satu kafe di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Ah ya, nyatanya kegagalan juga layak dirayakan!

Jakarta, 6 Januari 2018

Menemukan Indonesia x Wajah-Wajah Malaka

Wajah-Wajah Malaka
Wajah-Wajah Malaka

Oleh: Mahfud Achyar

Petang lalu, aku memotret wajah orang-orang Malaka. Kala itu, matahari sudah berkemas. Ia berdiri dengan satu koper berukuran besar. Katanya, “Aku akan pulang ke peraduan.” Sementara di atas sana, bulan sudah siap sedia menggantikan posisi matahari. Berjaga menyinari anak manusia.

Petang itu terasa hangat. Menjelang pulang, matahari memendarkan cahaya oranye yang terasa lembut. Petang, selalu menjadi momen terbaik untuk berkumpul dengan orang-orang yang hangat hatinya.

Ketika lensa mulai membidik wajah orang-orang Malaka, mataku menerawang hingga tembus ke bola mata mereka. Kata orang, mata adalah jendela jiwa. Pada mata, kita akan temukan berjuta-juta cerita yang berharga untuk didengarkan. Tentang kebahagiaan, kepahitan, dan kepelikan. Semua terpancar jelas tanpa ada yang harus ditutupi. Takperlu banyak kata untuk mencurahkan rasa.

Petang itu, orang-orang Malaka bercerita kepadaku melalui mata. Mungkinkah mereka juga menangkap cerita tentangku melalui sorot mata yang sendu?

Kabupaten Malaka merupakan salah satu provinsi di Nusa Tenggara Timur. Kabupaten ini berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Pada 30 Oktober hingga 2 November 2017 kemarin, saya berkesempatan berkunjung ke dua desa di kabupaten Malaka, yaitu desa Barada dan desa Alas Selatan. Kondisi di sana cukup memprihatinkan. Desa Barada misalnya, di sana listrik belum masuk, sumber mata air sangat terbatas, jalan menuju desa rusak parah, masyarakat di sana banyak yang kelaparan, serta sarana dan prasarana lainnya benar-benar minim. Hal serupa juga dialami desa Alas Selatan. Banyak fasilitas publik yang rusak. Rata-rata, mereka hidup di bawah garis kemiskinan.

Di Sini, Air Susah Kakak!

PA310676.JPG
Desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.

Suatu waktu, saya pernah berkata pada teman saya, “Indonesia itu unik ya. Di belahan barat Indonesia, air selalu tumpah. Berlebih. Curah hujan tinggi. Sementara, di belahan timur, air sangat susah ditemukan. Tanah-tanah di sana kering kerontang.”

Air adalah sumber kehidupan. Jika tidak ada air, manusian akan nelangsa.

Perjalanan saya ke kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur pada 30 Oktober hingga 2 November lalu, sangat berkesan bagi saya secara personal.

Di sana, sumber mata air sangat sulit ditemukan. Jikapun ada, debit air sangat terbatas. Belum lagi kondisi air di sana tidak begitu jernih, terlihat keruh. Namun lebih baik keruh dibandingkan tidak ada sama sekali.

Untuk mendapatkan air bersih, warga di desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur mengambil air menggunakan dirigen di embung yang sudah disediakan pemerintah setempat. Namun sekali lagi, debit air di sana sangat terbatas. Mereka harus mengantri dan menunggu lama agar dirigen-dirigen mereka terisi penuh.

Bila musim kemarau panjang tiba, persediaan air di sana kian menipis. Warga desa harus berjalan berkilo-kilo ke sumber mata air Lama untuk mendapatkan air bersih.

Untuk tiga dusun di desa Barada, sumber mata air Lama hanya menampung kapasitas air sebesar 1,5 m3. Warga desa Barada harus berhemat-hemat menggunakan air.

PA300346.JPG
Pak Hilarius (49 Tahun) warga desa Barada.

Hilarius Nahak Bria (49 tahun), seorang warga desa Barada bercerita kepada saya, “Saya hanya bisa mandi 1 kali dalam seminggu. Air di sini sangat susah. Daripada untuk mandi, lebih baik untuk minum dan memasak.”

Ketika Pak Hilarius berkata demikian, sontak saya terenyuh. Selama ini, barangkali saya satu dari sekian banyak orang yang boros menggunakan air. Mungkin karena air berlimpah membuat saya tidak begitu menghargai keberadaannya. Sedih.


Pengalaman di desa Barada mengingatkan saya dengan memori pendakian di gunung Pangrango pada November 2016 kemarin. Di kaki gunung, tepatnya di desa Cibodas, air di sana sangat melimpah karena langsung mengalir dari sumber-sumber mata air di kawasan gunung Gede-Pangrango.

Saking melimpahnya, banyak air di sana terbuang percuma. Tidak ada penampungan. Air bersih dibiarkan mengalir deras begitu saja. Padahal andai kita sadar, bahwa di nun jauh di sana, di timur Indonesia, air begitu sulit didapatkan.

Barangkali kita harus ditampar terlebih dahulu untuk merasakan sakit.

Jakarta,
8 November 2017

 

Cinta, Menemukan atau Ditemukan?

 

 

DSC_0192

Captured by. Mahfud Achyar

Resensi Buku: Discover Love

Judul: Discover Love – Cinta Selalu Tahu Tempat Terbaiknya untuk Singgah

Penulis: Rula Creative Hub Batch I (Petronela Putri, Rosemerry F, Siti Yulianingsih, Ina Massijaya, Wesa Theslan Bhadrasana, Kia F, Arvi Resvita, Jane Mellisa, Michele Gracia, Melisa, Rahajeng Kurniawati, Isnia Nuruldita, Lady Octora, Chaca Atmika, Titis Ayuningsih, Farah Refina Hidayati)

Penerbit: Ellunar Publisher

Sampul: Soft cover

Cetakan: Pertama

Jenis Kertas, Jumlah Halaman: Bookpaper, 152 Halaman

Tahun Terbit: Juli, 2017

ISBN: 978-602-6567-53-6

Harga: Rp46.000

Bicara tentang cinta memang tidak ada habis-habisnya. Ia menjadi topik utama yang hadir di ruang-ruang kehidupan anak manusia; mulai sejak bangun tidur, berjalan kaki di trotoar, menyeduh secangkir kopi hitam di kedai kopi ternama, hingga mungkin saat mata terpejam menembus dimensi yang berbeda.

Setiap orang memiliki definisi yang berbeda-beda tentang cinta. Seorang penyair dan sastrawan seperti William Shakespeare contohnya. Pada bukunya yang berjudul “A Midsummer Night’s Dream,” ia berpendapat seperti ini tentang cinta. Ia mengatakan, “Love looks not with the eyes, but with the mind, and therefore is winghed Cupid painted blind.” Entahlah, pendapat siapa yang harus dirujuk untuk meredefinisi arti cinta yang dapat diterima secara universal. Namun yang jelas, setiap orang berhak mendefinisikan arti cinta menurut sudut pandang mereka masing-masing. Takboleh ada penghakiman untuk itu.

Lantas, pertanyaan selanjutnya apakah cinta itu ditemukan atau menemukan? Rasa-rasanya kita akan berdebat cukup alot untuk menemukan jawaban yang tepat dari pertanyaan tersebut. Barangkali kita perlu mendengar kisah dari 16 orang perempuan yang menuangkan gagasan dan mencurahkan perasaan mereka tentang cinta pada buku yang berjudul “Discover Love”.

Buku yang memiliki subjudul “Cinta selalu tahu tempat terbaiknya untuk singgah” ini merupakan kumpulan cerpen, setiap penulis diwakili oleh satu judul cerita. Namun benang merah yang menyatukan semua cerita ialah rasa yang tiba-tiba hadir, singgah, pergi, dan takkembali lagi. Ialah rasa cinta yang takmelulu berkisah tentang yang manis-manis. Seringkali cinta menyisakan rasa marah, kesal, dendam, hingga takada rasa yang bisa dirasakan sama sekali. Mati rasa.

Seorang Petronela Putri membuka cerita dengan memilih judul “Tempat untuk Pulang”. Pada cerita pendeknya, ia berkisah tentang seorang perempuan yang tengah merindu. Ia rindu dengan seseorang pria yang telah berhasil memasuki ruang yang sangat pribadi dalam dirinya: hati.

Perempuan yang sering berkunjung ke sebuah kafe bar kecil di tengah kota tersebut sedang dilanda rasa gelisah. Keluarga besarnya ingin di usianya yang sudah matang, ia lekas menikah. Namun ia memiliki cara pandang yang berbeda tentang pernikahan.

“Aku ingin bahagia, Adimas,” aku menyentuh punggung tangannya, “dan bahagia takselalu perkara menikah, kan?”

“Orang-orang menganggapnya begitu.”

“Jika kamu menganggapku seperti orang kebanyakan, berarti kamu takcukup mengenalku dengan baik.” (Halaman 5).

Bagi seorang Adista Cakra, perasaan cinta takharus diukir pada sebuah buku yang berlabel buku nikah. Ia memilih memerdekaan cinta walau berlabuh pada hati yang tidak tepat: suami orang. Namun begitulah realita yang ada. Jika begini persoalannya, siapa yang harus dihakimi? Adista Cakra atau cinta itu sendiri?

Lain kisah, seorang perempuan lainnya yang bernama Rahajeng Kurnia menulis sebuah judul yang membuat kepala menyergit. Judulnya, “Aku, Perjodohan Itu, dan Kamu.” Siapa sangka, hubungan yang sangat serius seperti tunangan bisa saja kandas. Kapanpun. Di manapun. Semuanya terjadi tiba-tiba. Alena, tiba-tiba memutuskan hubungan pertunangan dengan Rio di bandara, menjelang hari pernikahan mereka.

“Aku… aku merasa kita nggak cocok Rio. Jujur aku merasa terkekang waktu kita dekat. Aku rasa hubungan kita terlalu dipaksakan. Daripada nanti nggak bahagia lebih baik diakhir sekarang,” kataku lagi tanpa berani menatap mata Rio. (Halaman 107).

Bagi Alena, hubungan yang takdidasarkan atas nama cinta hanyalah kepura-puraan semata. Jauh, jauh dalam hatinya ia masih mencintai Daniel Sutanto; seorang pria yang takdiinginkan oleh keluarga besarnya. Tidak mapan dan tidak satu suku: klise. Lantas, Alena berupaya berdamai dengan dirinya sendiri. Ia selalu percaya, takada yang kebetulan. Pasti ada maksud Tuhan dari setiap peri hidup yang ia alami.

Membaca 16 kisah dari 16 perempuan yang berbeda tentu membuat penafsiran kita tentang cinta menjadi kaya. Atau mungkin, lahir definisi baru tentang cinta itu sendiri. Namun apapun itu, nyatanya yang lebih menarik dari cerita yang tersaji pada buku “Discover Love” bukanlah tentang cinta itu sendiri. Melainkan mereka yang telah melalui banyak kisah yang sangat berharga untuk dibagi. Manusia, adalah cinta itu sendiri. Ia menjelma dalam berbagai bentuk dan bekerja dengan cara yang sulit dinalar. Misterius.

Buku ini agaknya tepat dipilih untuk menemani perjalanan kita yang mungkin terasa panjang dan membosankan. Ia takubahnya seperti kawan yang bercerita dengan sangat intim—berbisik dari mulut tepat ke daun telinga. Bahasa yang digunakan setiap penulis begitu mudah untuk dimengerti, namun tidak murahan. Kita seakan diajak untuk terus digiring mengikuti bab demi bab hingga akhirnya cerita purna. Namun kisah-kisah perempuan pada buku “Discover Love” bukanlah kisah-kisah manis yang sering kita temukan pada buku kategori teenlit. Ini adalah kisah tentang perempuan-perempuan dewasa yang meredefinisi cinta yang lahir dari proses yang takmudah.

Hal menarik lainnya dari kumpulan cerpen ini yaitu cerita-ceritanya tidak bertele-tele. Namun setelah membaca satu kisah, kita seakan diminta untuk berhenti sejenak–merenung, memikirkan apakah kisah yang sama pernah kita alami? Barangkali iya, bisa jadi tidak.

Kendati banyak kelebihan yang terdapat pada buku tersebut, nyatanya tidak ada yang sempurna. There’s no perfect story. Ada beberapa cerita yang agak membosankan sehingga ingin sekali melewatkan kisah tersebut. Mungkin pemilihan tokoh yang tidak begitu kuat karakternya atau alur cerita yang mudah ditebak. Kondisi semacam demikian membuat kita enggan membaca dengan seksama setiap frasa dan klausa. Tidak begitu menarik hati.

Pun demikian, buku ini layak untuk dibaca dan dimiliki. Percayalah, ada hal baru yang bisa kita temukan, ada hal yang spesial yang bisa kita ceritakan ulang. Selamat membaca buku “Discover Love”! [Mahfud Achyar]

Hari Raya di Gunung Talang

DSC_7551
Lembah gunung Talang, kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia.
Pada Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah kemarin, saya berkesempatan mendaki gunung Talang yang berlokasi di kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sebetulnya, saya sudah berencana jauh-jauh hari bahwa momen libur Hari Raya akan saya manfaatkan untuk mendaki gunung Kerinci melalui jalur Solok Selatan. Namun rencana tinggalah rencana.

Ada banyak kejadian yang takterduga yang menyebabkan saya harus menunda impian saya untuk mendaki gunung Kerinci, gunung tertinggi kedua di Indonesia. Salah satu alasan yang sulit saya hindari yaitu minimnya jatah cuti yang saya miliki selama libur Hari Raya. Namun saya tidak ingin berkecil hati. Saya ingin manfaatkan semaksimal mungkin momen Hari untuk silaturahiim dengan sanak saudara serta menjelajahi ranah Minang nan elok.

Kendati saya gagal mendaki gunung Kerinci, saya masih terobsesi untuk mendaki gunung yang ada di Sumatera Barat. Whatever! Betapa tidak, saya sudah membawa hampir semua perlengkapan gunung dari Jakarta. Jika tidak dimanfaatkan, tentu sia-sia sudah apa yang saya bawa.

Lagi pula, saya belum pernah mendaki gunung di Sumatera Barat. Padahal, Sumatera Barat merupakan kampung halaman saya. Sungguh menyebalkan bila di kampung halaman sendiri takada satupun gunung yang sudah saya daki. Sementara di pulau Jawa puluhan gunung saya datangi. Tidak hanya di pulau Jawa, saya bahkan sudah mendaki gunung di luar pulau Jawa seperti gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Seketika, watak keras kepala saya muncul. Saya bertekad bahwa apapun yang terjadi, saya harus mendaki salah satu gunung di Sumatera Barat. Titik. Tanda seru!

Akhirnya, pada Kamis, (29/6/2017) impian sederhana saya terwujud. Adik saya yang bernama Fajar mengusulkan ide gemilang agar kami melakukan pendakian bersama ke  gunung Talang. Katanya, medan gunung Talang tidak begitu sulit dan durasi pendakian hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. “Walaupun gunung Talang tergolong gunung yang tidak begitu tinggi, namun gunung Talang menawarkan panaroma yang tidak kalah hebat dibandingkan gunung-gunung tinggi lainnya di Sumatera Barat,” ujar Fajar meyakinkan saya.

Lantas tanpa banyak pertimbangan, saya pun mengiyakan tawaran Fajar. Kapan lagi saya bisa mendaki gunung bersama adik saya sendiri. Momen yang langka dan rasanya akan sulit untuk diulang kembali. Sejujurnya, hubungan saya dengan adik saya tidak begitu dekat. Maklum, masa-masa kecil kami dihabiskan dengan berkelahi: adu jotos untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Huhu. Well, saya berharap dengan kami melakukan pendakian bersama akan membuat kami jauh lebih akrab, layaknya hubungan harmonis antara kakak dan adik.

I may fight with my siblings. But once you lay a finger on them, you’ll be facing me!” – Anonymous.


Sebagai informasi, gunung Talang memiliki ketinggian 2,597 mdpl (meter di atas permukaan laut). Gunung yang berlokasi sekitar 40 km sebelah timur kota Padang ini tergolong jenis gunung stratovolcano (gunung api aktif). Berbagai sumber menyebutkan bahwa gunung Talang sudah pernah meletus berkali-kali sejak tahun 1833 hingga tahun 2007. Saat ini, kawah gunung Talang masih mengepulkan asap belerang.

Pendakian ke gunung Talang dilakoni oleh saya, Fajar, dan sepuluh orang temannya. Kami berangkat dari kota Solok menggunakan sepeda motor. Tidak butuh lama untuk mencapai kaki gunung Talang. Seingat saya hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Selama perjalanan konvoi, saya tidak merasa bosan sama sekali. Betapa tidak, saya disuguhi lanskap ranah Minangkabau yang sungguh aduhai. Di antara jalan yang berkelok-kelok, terdapat hamparan kebun teh yang berundak-undak. Tidak hanya itu, saya juga takjub dengan gugusan bukit barisan yang seolah-olah laiknya seperti penjaga yang melindungi kota Solok dan kabupaten Solok dari serangan alien. (Okay, untuk kalimat terakhir abaikan).

Setelah menempuh perjalanan yang menyenangkan, akhirnya tibalah kami di posko gunung Talang via Ai Batumbuk sekitar pukul 12 siang. Udara pegunungan yang segar serta suara adzan Dzuhur yang berkumandang menyambut kehadiran kami. Siang itu, petualangan baru saja dimulai.

DSC_7472
Posko gunung Talang via Ai Batumbuk

Setelah registrasi dan membayar retribusi sebesar 10ribu, kami mulai melangkah memasuki gerbang perkebunan the PTPN VI. Tidak ada aktivitas panen teh kala itu. Barangkali musim panen memang belum tiba.

Beberapa kali bermain ke perkebunan teh, jarang sekali saya melihat para petani memanen. Sebetulnya saya ingin belajar bagaimana memilih teh yang berkualitas tinggi. Penasaran. Namun apa boleh buat, saya hanya bisa memandang daun teh yang berwarna hijau muda. Tampak subur dan terawat dengan baik. Kami menyusuri jalanan di tengah-tengah perkebunan teh sekitar 45 menit.

DSC_7483
PTPN VI di kaki gunung Talang.

Selanjutnya, kami berhenti di sebuah warung untuk beristirahat sejenak. Warung semi permanen tersebut menjual asupan energi yang dibutuhkan para pendaki, baik yang akan mendaki maupun yang sudah turun.

Oh ya, pendakian saya ke gunung Talang merupakan pendakian tektok. Jadi, kami takperlu susah-susah membawa tenda atau membawa keperluan logistik yang berlebihan. Hanya perlu membawa bekal secukupnya. Lagipula, berhubung gunung Talang tidak begitu tinggi, jadi kami memutuskan hanya sekadar hiking tidak camping. Mengutip perkataan orang bijak,Hike while you can! Hiking in undiscovered places is a lot of fun.”

Setelah melewati area perkebunan teh, kami mulai memasuki hutan dengan medan yang mulai menanjak. Saat itu, hujan turun sehingga memaksa kami untuk mengenakan jas hujan. Beruntung saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Kendati saya sudah memakai jas hujan, sejujurnya saya tidak suka pendakian ketika hujan. Sepertinya rasa kesal tidak hanya bersemayam di hati saya, namun juga teman-teman seperjalanan saya. Maklum, hujan membuat tanah menjadi sangat licin dan berlumpur. Berulang kali saya terjatuh. Sakit. Namun saya teringat pesan senior di kampus.

“Yar, tahu mengapa kita terjatuh?”

“Kenapa kang?”

“Karena kita harus bangkit lagi. Jadi, takmasalah seberapa sering kita jatuh. Hal yang terpenting kita harus selalu bangkit.”

“Oh begitu kang,” ujar saya sekenanya untuk menimpali petuah senior saya tersebut.


Sepanjang pendakian, tidak banyak pendaki lain yang kami temui. Seingat saya, ketika registrasi hanya ada dua kelompok yang mendaki gunung Talang siang itu. Satu kelompok kami, satu lagi kelompok lain yang saya tidak sempat bertanya banyak hal tentang mereka. Maklum, gunung Talang baru saja dibuka kembali tiga hari pasca Idul Fitri. Mungkin tidak banyak pendaki yang berpikiran untuk mendaki pada momen Hari Raya. Lebih baik berkumpul bersama keluarga atau menghabiskan waktu liburan di tempat-tempat keramaian.

Mendaki gunung Talang membawa saya ke memori pendakian ke gunung Slamet pada November 2015 lalu. Saya pikir, jalur pendakian gunung Talang dan gunung Slamet memiliki kesamaan. Bagi yang sudah pernah mendaki kedua gunung tersebut, tentu akan berpendapat sama. Namun bedanya, medan gunung Slamet jauh lebih terjal. Apalagi ditambah saat itu hujan cukup deras mengguyur hutan hujan tropis gunung Slamet sehingga membuat fisik saya terkuras dan tubuh saya menggigil kedinginan. Namun beruntung, hujan yang turun di gunung Talang tidak berlangsung lama. Jadi penderitaan di gunung Slamet tidak terulang kembali di gunung Talang.

“Bang, kalau kita beruntung, jika tidak ada kabut, kita bisa melihat tiga danau dari puncak gunung Talang yakni danau Di Atas, danau Di Bawah, dan Danau Talang. Selama saya mendaki gunung Talang, saya selalu tidak beruntung melihat pemandangan ketiga danau tersebut. Semoga kali ini abang beruntung ya,” ujar Baim salah seorang sahabat Fajar.

“Oh ya? Semoga ya tidak ada kabut,” imbuh saya mengamini.

Lazimnya di hampir semua gunung di Indonesia, setiap beberapa kilometer pendaki akan berhenti di pos-pos untuk beristirahat. Namun kondisi demikian tidak saya jumpai di gunung Talang. Tidak ada pos pemberhentian sama sekali. Hanya ada plang bertuliskan ‘asmaul husna (nama-nama Allah) dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia serta tanda ‘R’.

Sontak saya bertanya kepada Fajar.

“Jar itu ‘R’ maksudnya apa ya?”

“Oh , ‘R’ itu maksudnya ‘Rambu’. Jadi nanti setiap beberapa meter, tepatnya di tikungan, kita akan menjumpai plang dengan tanda ‘R’ mulai dari R.1 hingga R.99. Sengaja dibuat hingga R.99 agar sesuai dengan ‘asmaul husna yang berjumlah 99. Untuk R.99 sendiri nanti kita temukan di puncak,” jelas Fajar kepada saya dengan cukup detil.

Sayapun menganggukkan kepala pertanda mengerti. Tidak ada kendala yang berarti yang kami temui selama mendaki. Namun, ada satu orang teman Fajar yang merasa kelelahan lantaran kondisi fisiknya kurang prima. Salah seorang di antara kami berinisiatif untuk mengurangi beban yang dia bawa sehingga perjalanan dapat terus dilanjutkan.


Menurut saya, kehadiran plang ‘asmaul husna membuat pendakian terasa lebih relijius. Saya pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah mengajarkan agar kita ummatnya, selama perjalanan menyebut subhanallah saat melewati jalan menurun dan menyebut Allahu akbar ketika melewati jalan mendaki. Hal tersebut barangkali menyadarkan kita bahwa sudah selayaknya kita terus mengingat Allah dalam kondisi apapun. Setiap tikungan, saya sempatkan untuk membaca ‘asmaul husna, mulai dari Ar-Rahman hingga seterusnya. Jika bisa dibilang, gunung Talang merupakan gunung syariah yang pernah saya daki selama hidup saya.

DSC_7508
R.51 di gunung Talang.

Tiba di R.51, saya sempatkan untuk swafoto di sana. Saya senang tiada terkira karena menemukan tulisan Ya Haq yang mengingatkan terhadap nama sahabat saya yang menyebalkan. Namanya, Arinal Haq Haqo. Dalam hati saya bergumam, “Nanti jika sudah dapat sinyal, saya akan mengirimkan foto ini ke Are (nama panggilan Arinal).”

Menuju lembah gunung Talang, saya melewati pohon-pohon yang memiliki daun panjang berduri. Saya tidak tahu apa nama jenis pohon tersebut. Sayapun bingung untuk menggunakan kata kunci yang tepat jika bertanya kepada Paman Gugel. Barangkali ada dari teman yang mengetahui pohon ini? Pohon-pohon tersebut mengingatkan saya terhadap eksistensi dinasaurus dan sahabat-sahabatnya yang sering lalu-lalang di perfilman hollywood.

DSC_7673.JPG
Ada yang tahu nama pohon ini?

Setelah mendaki selama kurang lebih 2,5 jam, akhirnya kamipun berhasil tiba di lembah gunung Talang. Lokasi tersebut digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda. Saat itu, hanya ada sekitar 3 tenda yang berdiri.

DSC_7594
Tenda pendaki di lembah gunung Talang.
DSC_7586
Deep thinkin’

Lembah gunung Talang terasa sepi, dingin, dan misterius. Namun saya menyukai kondisi demikian. Pemandangan dan perasaan kala itu belum pernah saya rasakan sebelumnya di gunung manapun. Sayapun berjalan menyusuri lembah savana yang tertutup kabut tipis. Angin bertiup kencang, menyeret paksa sekawanan kabut, lantas menghempaskannya.

Berjalan sendirian membuat saya tidak gusar. Justru yang timbul hanyalah rasa tentram yang entah dari mana perasaan itu hadir. Saya selalu menyukai suasana di gunung. Melihat reremputan liar tumbuh secara alami, kagum dengan bunga-bunga liar yang selalu berhasil membuat saya penasaran untuk mengetahui setiap nama mereka. Semakin jauh, saya semakin meninggalkan teman perjalanan saya yang lebih memilih berkumpul bersama-sama sembari menikmati secangkir teh atau kopi pengusir hawa dingin.

Saya suka dengan perasaan saya sore kala itu. Seolah saya merasa hadir menjadi diri saya yang seutuhnya. Berjalan, melihat sekitar, tersenyum, dan bersyukur. Saya mulai berjalan kian jauh hingga mendekati kawah gunung Talang. Saya ingin menuju puncak gunung Talang. Namun langkah saya terhenti saat tiba-tiba kabut tebal kembali hadir sehingga membuat perasaan saya tidak nyaman.

DSC_7613
Kawah gunung Talang.

Di lembah gunung Talang, takbanyak bungan edelweiss tumbuh. Namun mereka mekar seolah membuktikan kepada saya rasa takut akan selalu kalah dengan keberanian, hati yang teguh, dan kesucian cinta. Saya menyukai bunga edelweiss melebihi bunga apapun di bumi ini. Suatu hari, saya berharap bunga edelweiss akan terus abadi sesuai dengan julukannya ‘bunga abadi’.

DSC_7559.JPG
Edelweiss, Si Bunga Abadi
DSC_7542
Bunga kuning ini ada yang tahu namanya?
DSC_7622.JPG
Pattern.
DSC_7627.JPG
Sumber mata air di lembah gunung Talang.

Dari kejauhan, saya melihat ke bawah. Nun jauh di sana, ada tiga danau berdampingan. “Mungkinkah itu tiga danau yang dimaksud teman Fajar tadi?” ujar saya lirih. Sore berganti petang, kamipun memutuskan untuk turun sebelum matahari benar-benar tenggelam.

DSC_7511
Danau Talang, Danau Di Atas, dan Danau Di Bawah

Dalam perjalanan pulang, saya teringat ungkapan manis dari Paulo Coelho, “You don’t need to climb a mountain to know that it’s high.” Ya, saya tahu bahwa gunung akan selalu tinggi, bahwa gunung akan selalu menjadi rumah yang nyaman untuk siapapun. Jadi, berbaik hatilah dengan alam, berbaik hatilah dengan diri sendiri. [Mahfud Achyar]

Magical Lawu (Bagian 3)

Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Lawu

Oleh: Mahfud Achyar

IMG-20170123-WA0038
Puncak Gunung Lawu Berada di Ketinggian 3,265 Mdpl.

Akhirnya yang kami tunggu-tunggu datang juga. Nanang datang dengan langkah yang gontai mulai berjalan menghampiri kami. Ia tidak banyak bicara. Hanya menyapa sekadarnya kemudian membaringkan tubuhnya di atas tanah yang terasa dingin.

Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB. Pertanda senja merangkak malam. Saya biarkan Nanang beristirahat sejenak. Mengetahui Nanang baik-baik saja sudah membuat hati saya tentram. Saya tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terhadapnya. Apalagi ia belum makan siang. Ketika di pos 3, kami berulang kali memaksanya untuk makan siang. Namun sekeras apapun kami memaksanya, ia lebih keras lagi untuk menolaknya. “Gue makan bubur aja! Santai, kenyang kok!”

Bersahabat cukup lama dengan Nanang membuat saya mahfum bahwa dia memang cukup keras kepala. Namun apa boleh buat, bagaimanapun keras kepalanya Nanang, dia tetap baik dan menyenangkan.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Indra membuatkan teh hangat untuk kami bertiga. Cuaca dingin petang itu jelas membuat kami menggigil. Selain menikmati teh racikan Indra, kami juga menyantap cemilan berenergi tinggi. Sambil melihat dedaunan yang bergoyang-goyang, saya memikirkan nasib teman-teman saya yang sudah lebih dulu menuju pos 5. Saya berharap mereka sudah sampai di pos 5 dan sudah mendirikan tenda untuk kami.

Setelah dirasa cukup untuk istirahat dan memenuhi asupan energi, kami bertiga memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Bagi saya pribadi, saya tidak begitu suka melakukan pendakian di malam hari. Entah apa sebab, saya merasa kurang nyaman. Mungkin karena saya hanya fokus terhadap jalanan setapak yang ada di depan saya. Sementara di sekeliling saya semuanya gelap. Penerangan seadanya membuat hati saya gusar. Untuk menepis gelisah yang membuncah, saya terus berdoa kepada Tuhan. Meminta pertolongan. Semoga perjalanan kami selamat.


Dan, drama baru dimulai.

 Kondisi fisik Nanang yang kurang prima memaksa kami untuk beristirahat dalam tempo yang terbilang sering.

“Nanang gak kuat, Yar!”

“Okay Nang, kita istirahat dulu ya!”

Momen selama istirahat kami gunakan untuk memulihkan energi, terutama Nanang. Berbekal air minum, cemilan, dan madu kami berharap kondisi fisik Nanang kian membaik. Memang tidak bisa dipaksakan untuk berjalan lebih cepat. Namun saya agak keras kepala untuk terus memaksa Nanang berjalan kendati dengan langkah yang teramat pelan.

Malam kian larut. Suasana di lereng hutan gunung Lawu terasa sangat sepi. Kami membisu. Tidak ada yang kami bicarakan selain berdialog secara intrapersonal. Saya hanya bisa berdizikir, memohon perlindungan dari Tuhan. Perasaan saya malam itu sungguh kalut. Ya, saya takut. Namun saya tepis rasa takut yang menggrogoti pikiran sehat saya. Perlahan, saya beranikan diri untuk terus berjalan di barisan paling depan.

Perjalanan menuju pos 5 terasa begitu lama. Bisa dikatakan perjalanan kami kurang mengenakkan. Beberapa kali, saya, Indra, dan Nanang beradu argumen. Misal, Nanang bersikukuh untuk ditinggal sendirian padahal mana mungkin hal tersebut terjadi. Saya berusaha berpikir logis. Mungkin jika saya yang mengalami kondisi serupa Nanang, saya akan melakukan hal yang sama. Namun saya terus memaksa agar kita terus berjalan hingga pos 5. Indra pun mendukung argumen saya. Nanang, sebagai satu-satunya suara minoritas mau tidak mau mengikuti kehendak kami.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan, kami sepakat untuk mendirikan tenda bila menemukan lokasi yang agak luas. Kami terus berjalan hingga terhalang oleh pohon pinus yang tumbang. Di balik pohon, samar-samar saya melihat ada beberapa tenda yang berdiri. Sontak saya teriak memanggil nama Bowo. Selang beberapa detik, Bowo pun membalas panggilan saya.

“Iya Yar! Di sini!”

Saya lega, akhirnya kami tiba di pos 5 dengan selamat. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Saya, Indra, dan Bowo mendirikan tenda satu lagi sementara Nanang kami persilakan untuk makan malam dan istirahat.

Lelah. Saya ingin istirahat segera. Sebab besok, petualangan masih terus berlanjut.


IMG-20170128-WA0066
Selamat Pagi Hari yang Baru! (Foto Oleh: Saidah Humairo)

Habis gelap, terbitlah terang.

Hari yang baru menyapa. Minggu, 22 Januari 2017. Saya takjub. Ternyata kita berada di tengah-tengah padang savanna. Di sisi kiri dan kanan kami menjulang pohon-pohon pinus yang satu persatu daun-daunnya yang runcing berguguran. Saya sungguh menyukai lokasi perkemahan kami. Satu kata: tenang.

 

P1220810
Pos 5 Gunung Lawu via Candi Cetho (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
P1220827
Tenda, Rumah yang Sederhana di Gunung (Foto Oleh: Ardi Sadewo)
P1220770
Warna-Warni di Hamparan Savanna (Foto Oleh: Ardi Sadewo)
P1220778
Hutan Pinus yang Menjulang Tinggi (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Pukul 06.30 pagi. Kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke puncak gunung Lawu yang berada di ketinggian 3,265 Mdpl. Namun sayang, Nanang memutuskan untuk tidak membersamai kami ke puncak. Ia lebih memilih untuk beristirahat di tenda dan berjanji akan menyuguhkan hidangan santap siang  yang menggugah selera. Kami menghargai pilihan Nanang dan berharap semoga ia bertugas dengan baik sebagai koki.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Lumut Tumbuhan Perintis (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Menuju puncak gunung Lawu, kami melewati padang savanna yang sungguh keren. Ah, apa kata yang paling tepat untuk mengekspresikan keindahan savanna di gunung Lawu selain kata amazing! Saya suka sekali savanna. Sungguh!

One of my favourite things is savanna. And I have to tell you that, darl!” 

P1220754
Hello, Savanna!
DSC_4808
Minus Indra dan Nanang.
DSC_4804
Imaji di Masa Kecil. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_4809.JPG
Lost in Savanna (Foto Oleh: Asih Juwariyah)
DSC_4818
Asih, Sai, dan Indra Riang Bersama.
DSC_4831
Jalur Menuju Pasar Dieng
DSC_4861
The Legend of Mbok Yem

Medan menuju puncak Lawu juga sangat-sangat menyenangkan. Hampir tidak ada tanjakan yang berarti. Kami hanya melewati savanna, hutan pinus, dan jalanan yang agak berbatu. Barangkali, summit ke puncak gunung Lawu merupakan summit yang paling mudah dibandingkan gunung-gunung lainnya yang sudah pernah saya daki.

Namun menukil perkataan Bowo bahwa medan pendakian gunung Lawu melalui candi Cetho itu mudah, saya ingin mengklarifikasinya bahwa itu hoax. Penipuan publik. Nyatanya yang mudah hanya jalur pendakian dari pos 5 hingga puncak. Sementara dari pos 1 hingga pos 5 cukup menguras perasaan, energi, dan juga akal sehat.

Sekitar pukul 9 pagi kami sudah sampai di puncak gunung Lawu. Horray! Berada di atas puncak membuat saya bersyukur bahwa Tuhan masih memberikan anugrah kesehatan kepada saya sehingga saya masih bisa terus merangkak, berjalan, dan berlari. Tanpa anugrah sehat, mana mungkin saya telah menggapai puncak-puncak tertinggi di Indonesia.

DSC_4898
Pemandangan di Puncak Lawu (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Selain itu, saya juga bersyukur terlahir di negara yang begitu cantik. Namun sayang, tidak banyak orang menyadari bahwa ‘kepingan syurga untuk Indonesia’ sudah sepatutnya disyukuri dan dijaga.

“Today is your day! Your mountain is waiting. So…get on your way!” – Dr. Seuss.

(Selesai).


Dokumentasi lainnya:

P1220736.JPG
Resep Ala Chef Ardi

Magical Lawu (Bagian 2)

Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Lawu

Oleh: Mahfud Achyar

P1010622
Stasiun Solojebres, Jawa Tengah (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Solo, Jawa Tengah.

Pukul 01.54 dini hari kami tiba di stasiun Solojebres. Suasana stasiun sangat sepi. Hanya ada beberapa penumpang yang terlihat duduk di kursi-kursi yang berjejer rapi. Mereka terlihat kelelahan bercampur rasa kantuk yang taktertahankan. Hal demikian terpancar dengan sangat jelas dari mata mereka yang sayu, seolah takbernyawa. Mereka takubahnya seperti zombi-zombi yang bergentayangan di kala sepinya kota Solo.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jika akhir pekan tiba, gerbong kereta menuju Solo didominasi oleh para pendaki. (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Seorang petugas stasiun menghampir kami. Ia meminta kami untuk tidak beristirahat di dalam stasiun. Kamipun berkilah hanya beristirahat sejenak untuk meregangkan otot-otot kaki yang terasa tegang. Sepanjang perjalanan di kereta, kami tidak bisa tidur dengan nyenyak. Maklum, kursi kereta ekonomi tidak begitu empuk dengan sandaran punggung benar-benar tegak lurus. Namun saya memaksakan mata untuk terpejam agar tubuh saya prima untuk mendaki gunung Lawu.

P1010613
Istirahat sejenak di peron stasiun. (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Akhirnya dengan langkah gontai, kamipun ke luar stasiun sembari menghubungi Abah dan Sai untuk menanyakan posisi mereka saat itu. Maklum, mereka tidak turun di stasiun yang sama melainkan turun di stasiun Solo Balapan. Berhubung mereka belum tiba, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk salat Subuh kemudian baru menjemput mereka berdua.

Kami salat takjauh dari stasiun Solojebres. Lokasinya dekat pasar tradisional. Sebelum subuh, para pedagang sudah terlihat sibuk menjajakan dagangannya, mulai dari sayur-mayur, lauk-pauk, hingga kebutuhan dapur lainnya. Saya salut kepada mereka yang begitu bersemangat menjemput rezeki sementara saya seringkali bermalas-malasan. Menyedihkan.

Subuh di Solo berbeda dengan subuh di Jakarta. Langit tampak masih gelap namun semburat jingga samar-samar mulai menyapa hari yang baru. Usai salat, kami bergegas menjemput Abah dan Sai menggunakan mobil pick-up berwarna hitam.


P1010639.JPG
Menjemput Abah dan Sai di Stasiun Solo Balapan (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Angin pagi di kota Solo berhembus kencang. Seolah-olah menampar lembut wajah kami yang kelelahan. Sesampai di stasiun Solo Balapan, kami menyapa Abah dan Sai. Mereka terlihat begitu senang menyaksikan kedatangan kami, seolah seperti melihat sekumpulan pemain sirkus yang siap beraksi. Pagi itu, petualangan kami dimulai.


Sebagai informasi, gunung Lawu terletak di perbatasan dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung yang memiliki ketinggian 3, 265 meter dari permukaan laut (mdpl) tersebut memiliki tiga puncak, yaitu Puncak Hargo Dalam, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah.

Untuk menuju puncak gunung Lawu, para pendaki dapat melalui tiga jalur, yaitu Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, dan Candi Cetho. Lazimnya, para pendaki akan memilih jalur Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Beberapa catatan perjalanan pun merekomendasikan kedua jalur tersebut lantaran waktu tempuh jauh lebih singkat dibandingkan jalur melalui Candi Cetho. Namun karena sejak awal saya sudah jatuh cinta dengan savanna yang hanya bisa dilihat bila melalui Candi Cetho, maka kamipun memutuskan untuk menjadi pendaki yang tidak biasa.

“Tenang saja, walau jalur melalui Candi Cetho terhitung panjang, namun medannya landai. Tidak begitu sulit,” tandas Bowo suatu hari di grup percakapan instan WhatsApp. Kamipun hanya bisa mengiyakan karena sejak awal Bowo-lah yang bertugas meriset pendakian ke gunung Lawu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam menggunakan mobil pick-up, akhirnya kamipun tiba di Candi Cetho. Sepanjang perjalanan, mata saya disuguhi dengan pemandangan yang eyesgasm. Kebun teh terhampar luas, laiknya seperti karpet hijau yang berundak-undak. Berada di atas mobil pick-up terbuka memberikan kesempatan untuk saya menghirup oksigen segar sepuas-puasanya. Alhamdulillah, Sabtu pagi kala itu jelas sempurna. Tipikal pegunungan: romantis.

P1210696
Gapura Candi Cetho (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Sekitar pukul 07.00 pagi, setelah re-pack dan sarapan, kami bergegas untuk menuju pos pendaftaran pendakian. Untuk mencapai pos pendaftaran, kami harus menaiki anak tangga yang cukup membuat napas tersengal-sengal. Namun rasa lelah saat itu terbayar lunas saat kami melihat pelangi melengkung sempurna. Jarak pelangi terasa begitu dekat. Hampir jarang rasanya bisa melihat pelangi sedekat itu.

“Eits, jangan menunjuk pelangi! Nanti jari kita bisa bengkok!”

Tiba-tiba saya ingat pesan tidak masuk akal di masa kecil. Jika dipikir-pikir, ternyata masa kecil saya banyak dipenuhi kebohongan. Huhu.

16473315_10212120343794124_546635348014720085_n
Hello Rainbow! (Foto Oleh: Asih Juwariyah)

Setelah mendaftar dan membayar retribusi Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) sebesar  17 ribu, penjaga pos bertanya apakah kami akan melalui jalur berbeda ketika pulang.

“Sepertinya kita akan turun di Cemoro Kandang, Pak!”

“Oh jika begitu, nanti tinggal lapor bahwa kalian naik melalui jalur Candi Cetho. Nanti kami bisa melapor bahwa kalian sudah sampai selamat.”

“Iya siap pak, terima kasih.”

P1210722
Foto Bersama di Posko Pendakian (Foto Oleh: Bapak Petugas)

Sebelum mendaki, kamipun berdoa–berharap pendakian kami berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti. Langkah demi langkah mulai dikonversi menjadi hitungan meter. Kami melewati beberapa situs candi di kawasan candi Cetho yang dibangun pada masa akhir era Majapahit sekitar abad ke-15 masehi.

Keberadaaan candi Hindu di kaki gunung Lawu selain sebagai tujuan wisata juga sebagai tujuan ziarah. Takjarang banyak masyarakat sekitar menjadikan candi Cetho sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen. Sayangnya, kami tidak sempat berkeliling untuk melihat peninggalan kerajaan Majapahit tersebut. Maklum, waktu yang kami miliki sangat terbatas. Jadi mau tidak mau, kami harus mempercepat langkah agar bisa tiba mendirikan tenda sebelum matahari tenggelam.

DSC_4721
Candi Kethek, Salah Satu Candi di Kawasan Wisata Candi Cetho (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_4718
Foto Bersama di depan Candi Kethek. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Seperti biasa, awal-awal perjalanan memang terasa lebih berat. Sebab, kondisi tubuh sedang beradaptasi dengan beban berat yang bertumpu di punggung. Biasanya berdasarkan pengalaman saya, kondisi demikian tidak berlangsung lama. Jika tubuh sudah mulai bisa beradaptasi, langkah yang tadi berat mulai berangsur agak ringan (walau ini sebenarnya hanya sugesti).

Untuk menuju pos 5 (pos terakhir yang biasa dipilih para pendaki untuk mendirikan tenda), kita harus menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam. Namun durasi perjalanan bisa lebih cepat atau lambat bergantung pace kelompok. Berhubung kami semua sudah sering naik gunung, saya pun optimis bisa tiba di pos 5 sesuai jadwal.

Kami sampai di pos 1 sekitar pukul 9.30 WIB. Di sana, berdiri semacam shelter yang ditutupi spanduk-spanduk bekas. Keberadaan shelter tersebut sangat membantu kami terlindung dari hujan yang mulai turun. Sejenak kami beristirahat guna meregangkan otot-otot kaki yang mulai terasa penat. Setelah cukup puas beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan dengan medan yang kian berat.

DSC_4728
Pos 1 (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Sebetulnya, menurut saya, jalur pendakian melalui candi Cetho terbilang bersahabat. Betapa tidak, jalur pendakian sudah terlihat jelas sehingga memudahkan para pendaki untuk mencapai puncak tanpa harus takut tersesat. Selain itu, sepanjang pendakian kita juga dihibur dengan suara nyanyian alam yang berasal dari gesekan dedaunan yang tertiup angin gunung. Jika angin berhembus kencang, dedaunan bernyanyi dengan lebih lantang.

Jika tidak salah ingat, waktu tempuh dari pos 1 ke pos 2 kurang lebih 2,5 jam. Sama halnya di pos 1, kami hanya beristirahat sejenak di pos 2 kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Saat itu, hujan turun cukup lebat. Kondisi demikian menyebabkan langkah kami menjadi lambat. Betapa tidak, kami harus ekstra hati-hati lantaran kondisi jalanan yang licin, becek, dan sempit.

Sekitar pukul 15.00 WIB, kami pun berhasil sampai di pos 3. Seperti kesepakatan di pos 2, di pos 3 kami akan berhenti cukup lama untuk makan siang dan salat jamak qashar Dzuhur dan Ashar. Usai santap siang dan salat, saya mulai merasa udara dingin mulai menusuk tulang, terutama bagi saya yang sedikit memiliki cadangan lemak. Berulang kali saya menggesekkan kedua telapak tangan agar menghasilkan energi panas. Namun sayangnya energi panas yang saya hasilkan tidak begitu signifikan. Saya mulai menggigil padahal perjalanan menuju pos 5 masih panjang.

Ketika saya mendongakkan kepala ke atas, saya melihat langit terlihat mendung. Kabut tebal mulai menutupi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Jika angin berhembus, pohon-pohon tersebut mengeluarkan nada seperti suara ombak.

Saya berpikir apakah saat ini saya berada di gunung atau di pantai. Namun saya berusaha menyadarkan diri bahwa saya terlalu banyak mengkhayal. Berada di hutan yang tertutup kabut tebal membuat perasaan menjadi tenang, namun kadang saya juga merinding. Entah apa frasa  yang tepat untuk mewakili perasaan saya kala itu.

DSC_4745
Kabut dan Angin Kencang di Jalur Pendakian. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Untuk mengusik rasa lelah, saya alihkan perhatian saya dengan terus menerus melihat jarum jam. Saya berharap masih memiliki banyak waktu untuk bisa tiba di pos 5 sesuai rencana: sebelum matahari tenggelam. Saya pun mempercepat langkah seperti seorang buronan yang dikejar waktu. Masing-masing di antara kami mengeluarkan kemampuan endurance terbaik. Saya, Bowo, dan Ajuw berada di posisi tiga teratas kemudian disusul Indra, Sai, dan Abah. Lalu bagaimana dengan Nanang? Ia tertinggal jauh di belakang kami. Ia berteriak memecah kesunyian sore itu, “Duluan saja. Nanang menyusul!”

Kami pun mengiyakan permintaan Nanang dan membuat kesepakatan bahwa kami akan menunggunya di pos 4. Sekitar pukul 16.00 WIB, kami tiba di pos 4. Kami pun beristirahat sejenak, memotret pemandangan lembah gunung yang ditutupi kabut, dan berbincang sekenanya. Cukup lama kami menunggu Nanang, namun ia takkunjung tiba. Seorang pendaki yang baru saja tiba di pos 4 berkata kepada kami, “Mas, itu di bawah temannya ya?! Dia sendirian duduk dan jaraknya lumayan jauh. Apa tidak disusul saja mas?”

“Iya mas, itu teman kita. Tapi tidak masalah mas. Memang dia sering seperti itu jika mendaki gunung. Kami menunggu dia di sini.”

“Oh begitu mas.”

Pembicaraan pun usai.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Nanang yang dari tadi kami tunggu takkunjung datang. Padahal matahari akan tenggelam sementara kami belum berhasil menuju pos 5. Akhirnya, saya memutuskan untuk membagi dua tim. Saya dan Indra bertugas menunggu Nanang. Sementara Bowo, Asih, Abah, dan Sai melanjutkan perjalanan ke pos 5.

Sebetulnya, tidak baik beristirahat terlalu lama selama pendakian. Namun apa boleh buat, mau tidak mau kami harus bersabar menunggu Nanang. Sembari menunggu Nanang, saya dan Indra memutuskan untuk menghangatkan tubuh di perapian yang bersumber dari kompor gas portable. Saat asik-asiknya menghangatkan tubuh ditemani secangkir the hangat, tiba-tiba perut saya mulai bereaksi.

Ouch! Pertanda saatnya saya buang air besar. Ternyata kondisi serupa juga dialami Indra. Akhirnya kami memutuskan untuk sama-sama buang hajat dengan mencari lokasi terpisah dalam radius yang tidak begitu jauh. Indra memutuskan untuk membuat hajat di dalam semak belukar. Sementara saya memutuskan untuk buang air besar di pinggir jurang dengan pemandangan golden sunset. Bagi saya, barangkali saat itu momen buang air besar yang paling spesial.

Sudah senja. Nanang belum juga terlihat. Kami pun khawatir. (Bersambung)

DSC_4778
Pemandangan Sunset  (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

 

Semangat dalam Secangkir Caffe Latte

Sejujurnya, saya bukanlah seorang penggemar kopi. Saya bahkan tidak begitu hapal jenis-jenis kopi di dunia beserta lengkap dengan filosofinya. Ketika menonton film Indonesia yang berjudul “Filosofi Kopi” yang diperankan oleh Chiko Jerikho, Rio Dewanto, dan Julie Estelle–saya takjub karena ternyata di dunia ini ada orang-orang yang begitu candu dengan kopi. Pada film tersebut, tokoh Ben, yang diperankan oleh Chiko Jerikho tampak natural memerankan peran sebagai barista yang sangat terobsesi meracik secangkir kopi dengan sempurna.

Processed with VSCO with a6 preset
Caffe Latte (Photo taken by: Mahfud Achyar)

Di kantor saya yang dulu, ada seorang teman yang juga mencintai kopi. Bahkan, ia memiliki alat peracik kopi manual. Sesekali saya perhatikan, ia terlihat menikmati proses pembuatan kopi, mulai dari menumbuk serbuk kopi yang masih berserat kasar, menuangkan air panas dengan derajat kepanasan yang pas, mengaduk kopi dengan sangat lembut, serta menyajikan secangkir kopi ke dalam cangkir berwarna putih. Ia sangat menyukai kopi hitam. Beberapa teman saya yang lainnya juga menyukai kopi hitam. Katanya, “Kopi itu harusnya tanpa gula.” Saya pun hanya bisa menganggukkan kepala.

Pernah suatu ketika, saya berdiskusi dengan seorang teman perempuan mengenai kelezatan kopi yang dijual di salah kedai kopi ternama di dunia. Saya berkata, “Gue suka kopi rasa espresso di Starbucks!” Kemudian teman saya yang ternyata penyukai kopi hitam (khususnya kopi Sumatera) menimpali celetukan saya, “Ah, kopi Starbucks mah kopi banci!” Seketika itu juga saya kaget dan meminta ia mengklarifikasi perkataannya. Ia pun menjawab, “Ya, menurut gue sih ga worth beli kopi mahal di Starbucks tapi rasanya kurang original. Gw lebih suka kopi tradisional yang gue racik sendiri. Menurut gue itu lebih enak.”

Saya pun hanya bisa terdiam dan berusaha mencerna setiap frasa yang keluarnya. Intonasi bicaranya sangat datar seolah tidak begitu menghargai penilaian saya terhadap cita rasa kopi. “Oke, barangkali setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda soal kopi. Pasti akan terjadi perdebatan yang berkepanjangan,” gumam saya dalam hati.

Kopi dan Selera

Menurut artikel yang saya baca, karakter seseorang dapat dilihat dari kopi yang ia minum. Konon bagi orang yang suka dengan kopi hitam, ia digambarkan sebagai pribadi yang misterius, pekerja keras, dan selalu fokus dalam bekerja.

Entahlah, kadang saya berpikir itu hanyalah teori yang yang masih diragukan keabsahannya. Namun bila benar ada penelitian semacam itu, mungkin saya akan mengubah sudut pandang saya mengenai kopi. Sejauh ini, saya berpendapat bahwa tidak ada relevansi kopi dan orang yang meminumnya, Saya pikir itu kopi bergantung selera masing-masing individu. Saya tidak terlalu suka kopi hitam. Bahkan sejujurnya, saya tidak terlalu menyukai kopi. Namun beberapa tahun ke belakang, saya mulai menyukai kopi, khususnya caffe latte tanpa gula. Ada rasa manis yang tidak berlebihan, ada rasa pahit yang tidak terlalu pekat. Menurut saya rasanya sangat pas di lidah. Perfecto!

Akan tetapi, jauh sebelum saya menyukai kopi, saya adalah pencinta susu dan teh. Sewaktu kecil hingga SMA, saya hampir setiap hari minum susu. Kata nenek saya, “Susu itu bagus untuk kecerdasan.” Saya pun menjadi ketagihan untuk minum susu tidak hanya pada pagi hari, namun terkadang juga malam hari sebelum tidur. Namun semenjak kuliah, saya sudah jarang minum susu. Maklum, tinggal jauh dari orang tua membuat saya harus pintar mengatur finansial yang terbatas. Maka, membeli susu bukanlah hal yang prioritas untuk saya. Setelah lulus kuliah kemudian bekerja, saya ingin mengembalikan kebiasaan saya untuk meminum susu. Sayangnya, kondisi sekarang jauh berbeda dibandingkan waktu saya kecil hingga SMA. Sekarang, jika saya minum susu pada pagi hari, sudah dapat dipastikan perut saya akan terasa sakit. Akibatnya, saya harus buang air besar. Lebih parah lagi saya bisa terserang diare.

Beberapa hari yang lalu, saya berkonsultasi dengan teman saya seorang dokter. Namanya Sari. Saat ini ia sedang bertugas menjadi salah satu dokter umum di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Secara spesifik, saya mengeluhkan tentang penolakan perut saya ketika mengkonsumsi susu pada pagi hari.

Berikut jawaban yang disampaikan oleh Sari.

Dear Achyar, kemungkinan terbesar kondisi yang mas alami adalah intoleransi laktosa (meskipun masih banyak kemungkinan lain). Intoleransi laktosa adalah suatu kondisi tubuh, di mana tubuh tidak dapat mencerna secara sempurna laktosa yang terdapat dalam susu dan produk olahannya karena kurangnya enzim laktase di dalam tubuh yang berfungsi untuk mencerna laktosa (gula dalam susu). Laktosa yang tidak tercerna akan mengalami proses fermentasi di imusus besar yang nantinya dapat menghasilkan gas yang menyebabkan perut tidak nyaman dan bahkan bisa menyebabkan diare. Biasanya kondisi ini terjadi pada remaja dan dewasa.

Intoleransi laktosa terjadi pada saat mengkonsumsi susu dan produk olahannya. Gejala yang dirasakan beragam seperti perut terasa todak nyaman, sering buang gas, dan bahkan diare. Saran yang dapat saya berikan: 1) Coba mengkonsumsi susu bukan pada pagi hari. Produksi asam lambung yang meningkat pada malam hari, biasanya jika perut dalam keadaan kosong dan diisi susu akan terjadi peningkatan produksi gas lambung yang menyebabkan rasa tidak nyaman. Coba konsumsi susu pada siang atau malam hari sebelum tidur; 2) Jika pada saat mengkonsumsi susu selain pagi hari masih terdapat keluhan yang sama, cobalah mengkonsumsi susu dicampur dengan bahan makanan lain misalnya oatmeal atau mengganti susu murni dengan produk olah susu lain dengan kandungan gizi yang sama; dan 3) Jika memang benar intoleransi laktosa, maka yang bisa dilakukan adalah menghindari susu serta produk olahannya. Zat gizi yang ingin diperoleh misalnya kalsium dan lain-lain bisa diperoleh dengan sumber gizi lain.

 Intoleransi laktosa bukan sesuatu yang berbahaya. Akan tetapi, lebih baik memerlukan penanganan lebih lanjut terutama untuk mengenali produk-produk apa saja yang menyebabkan munculnya gejala pada tiap individu. Konsultasi lebih lanjut dengan dokter tetap diperlukan. Terima kasih.”

Ah, menulis tentang susu saya jadi teringat dengan nenek saya. Dulu, hampir setiap pagi, neneklah orang yang paling berjasa membuatkan susu untuk saya. Kini, susu seolah menjadi musuh saya terutama jika diminum pada pagi hari. Pun demikian, bukan berarti saya sudah tidak minum susu lagi. Jika waktunya pas dan memang sedang ingin susu, pasti saya akan meminumnya.

Berbeda dengan nenek, mama saya sering membuatkan secangkir teh hangat untuk saya. Apalagi pada momen Ramadan, teh seakan menjadi minuman wajib ketika sahur atau buka puasa. Saya suka sekali teh. Salah satu jenis teh yang menjadi favorit saya yaitu Thai tea yang saya beli waktu liburan di Bangkok pada Februari lalu. Rasa Thai tea agaknya cocok dengan lidah saya. Enak.

Well, setelah membahas susu dan teh, selanjutnya mari kita kembali membahas kopi. Menurut literatur yang saya baca, kopi mulai dikenal masyarakat dunia pada saat Perang Salib sekitar tahun 1096-1099. Dikisahkan bahwa kopi merupakan minuman para tentara Muslim. Setelah kalah perang, konon kabarnya biji kopi menjadi harta rampasan perang yang dibawa oleh pasukan Katolik Roma ke daratan Eropa. Sejak saat itu, kopi mulai terkenal dan menjadi minuman favorit oleh masyarakat dunia. (Jika informasinya kurang berterima, mohon dikoreksi ya!)

Menyoal tentang minuman seperti susu, teh, dan kopi biasanya selalu saya kaitkan dengan beberapa orang. Jika susu merujuk pada nenek, teh merujuk pada mama atau kakak, maka kopi merujuk pada sahabat saya di kantor dulu yang kami juluki “Barista Terkeren Se-Jakarta.” Sejujurnya, julukan yang kami berikan (kami merujuk pada teman-teman satu divisi Marcomm) agar Sang Barista yang dimaksud bersedia mengeluarkan kemampuan terbaiknya dalam meracik caffee latte. Oh ya, nama teman saya itu Feri. Nama lengkapnya Feriyanto. Itu nama terpendek untuk zaman semodern saat ini.

Specifically, Feri adalah master caffee latte. Kami sangat menyukai kopi buatannya. Jika kantuk mulai menyerang dan diiringi rasa malas yang menggurita, maka kami tinggal merengek kepada Feri. Tara! Kopi pun siap diseduh! (Resep kopi ala Feri tidak dapat dipublikasikan pada tulisan ini. Resep rahasia).

Ada semangat dalam secangkir caffee latte. Mengutip perkataan Marcia Carrington, “A morning coffee is my favorite way of starting the day, settling the nerves so that they don’t later fray.”

Pagi hari, saat nyawa saya masih 50:50, saya begitu terobsesi dengan secangkir kopi. Terkadang saya menganggap kopi laiknya doping yang dibutuhkan oleh seorang pekerja Jakarta untuk menjadi produktif, semangat, dan riang gembira. Walau sekarang saya sudah menyukai kopi, saya tidak ingin bergantung padanya. Saya hanya akan meminumnya bila saya membutuhkannya.

Belakangan ini bila baru bangun tidur, saya membiasakan diri untuk meminum air putih hangat. Saya berharap organ dalam tubuh saya bisa bekerja maksimal hingga hari tua. Saya tidak ingin merepotkan orang! Fix! Tulisan ini sungguh acak dan absurd. Demikianlah hidup.

Jakarta,

23 Agustus 2016.

SAVANNA & MUHLENBERGIA CAPILLARIS DI GUNUNG GUNTUR

Catatan Pendakian Gunung Guntur (2,249 mdpl) di Garut Jawa Barat

 Oleh: Mahfud Achyar

1
Garut: Zwitsers van Java (Captured by: Mahfud Achyar)

Zwitsers van Java, begitulah julukan yang diberikan oleh Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda yang begitu kagum dengan keindahan alam Garut. Konon, Sang Ratu yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau jatuh hati dengan Garut. Ia pun dikabarkan memiliki tempat peristirahatan pribadi di Garut.

Selayaknya Ratu Wilhelmina, saya pun mengagumi Garut. Dulu, sewaktu kuliah saya telah bertualang ke tempat-tempat terbaik di Garut seperti pemandian air panas di Cipanas, pantai-pantai nan elok di Pamengpeuk, PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Kamojang, kebun teh di Cikajang, ladang akar wangi di Samarang, hutan mati di Gunung Papadandayan, serta wisata kuliner di Garut kota. Kendati sudah banyak tempat di Garut yang pernah saya datangi, namun saya masih penasaran dan sangat tergoda untuk mengunjungi lebih banyak ‘surga-surga tersembunyi’ di kabupaten yang hari lahirnya diperingati setiap tanggal 16 Februari.

Dari sekian banyak tempat menarik di Garut, saya memilih untuk mendaki gunung Guntur. Jika Anda pernah berwisata ke Garut, tentu Anda pernah melihat gunung Guntur dari sisi jalan. “Ah, gunung Guntur terlihat tidak terlalu tinggi. Pasti cukup mudah mencapai puncaknya!” Ya, hampir semua orang yang belum pernah mendaki gunung Guntur akan berujar hal yang sama. Saya pun dulu pernah mengatakan hal tersebut. Namun setelah mendaki gunung Guntur pada akhir pekan kemarin (21 hingga 22 Mei 2016), saya dengan tegas mengatakan, “Gunung Guntur itu kecil-kecil cabai rawit!”

Mengapa pada akhirnya saya memutuskan untuk mendaki gunung Guntur? Secara personal, saya menyukai gunung Guntur karena mirip dengan gunung Merbabu di Jawa Tengah. Lantas, apa kemiripan gunung Guntur dan gunung Merbabu? Savana! Ya, kedua gunung tersebut sama-sama memiliki savana yang luas, hijau, dan tentunya indah. Saya sangat terobsesi dengan savana. Bagi saya, ketika berada di hamparan savana, saya merasa merdeka. Seketika itu juga otak saya mulai berfantasi membayangkan film-film petualangan seperti Lord of the Rings, The Secret Life of Walter Mitty, Into the Wild, dan sebagainya. Berada di savana yang hijau membuat saya sangat bersemangat dan riang gembira. Saya membayangkan diri saya menjadi tokoh-tokoh fiksi dalam film dan novel yang bertema petualangan. Terasa sangat menyenangkan.

4
Savanna (Captured by: Mahfud Achyar)

“Terkadang kita perlu menjadi kekanak untuk dapat menikmati hidup. Namun terkadang juga kita perlu menjadi manusia dewasa yang sesungguhnya untuk dapat memahami peliknya hidup dan kehidupan. Jika berada di alam bebas, tentunya saya akan memilih menjadi kekanak. Bebas, lepas, dan penuh kreatifitas!”

Selain memiliki savana yang hijau dan luas, di gunung Guntur Anda juga akan menemukan bunga ilalang yang berwarna pink. Cantik! Dalam bahasa latin, bunga tersebut bernama muhlenbergia capillaris atau dikenal juga dengan sebutan muhly hairawn. “The plant itself includes a double layer; green leaf-like structures surround the understory, with purple-pink flowers out-growing them from the bottom up. The plant is a warm-season grass, meaning that leaves begin growth in the summer. During the summer, the leaves will stay green, but they morph during the fall to produce a more copper color.”

11
Muhlenbergia Capillaris at Mt. Guntur West Java (Captured by: Mahfud Achyar)

Pada pendakian ke gunung Guntur kemarin, saya ditemani oleh sahabat-sahabat perjalanan yang menyenangkan. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang sama saat melakoni pendakian ke beberapa gunung di Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Saya pikir, kami bertujuh sepakat bahwa pendakian kemarin memiliki cerita yang indah untuk dikenang. Begitu banyak drama, gelak tawa, serta suka cita yang menghiasi perjalanan kami selama dua hari satu malam.

Dari tujuh orang yang ikut pendakian, hanya satu orang yang pernah mendaki gunung Guntur. Sisanya belum pernah sama sekali. Kami berenam tidak ada gambaran yang jelas mengenai gunung Guntur. Namun tidak perlu gusar, tenang saja. Kami sudah memiliki banyak asupan informasi, baik dari internet maupun dari teman-teman yang sudah pernah mendaki gunung Guntur. Persiapan mendaki gunung Guntur kami siapkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Beruntung hampir semua anggota kelompok pernah mendaki gunung sehingga pembagian tugas menjadi lebih efektif. Oya, terima kasih saya ucapakan sedalam-dalamnya untuk Brian Acton dan Jan Koum yang telah menciptakan aplikasi WhatsApp. Thanks buddies! Koordinasi dan komunikasi kami dalam mempersiapan segala keperluan untuk mendaki menjadi lebih mudah.

So, let us walk together fellas!

DSC_0545
L-R: Iril, Abah, Imam, Achyar, Klep, Tami, Moa

 

Sebelum memulai pendakian, kami harus mengurus proses administrasi serta membayar retribusi sebesar 15ribu rupiah (sudah termasuk asuransi jika pendaki mengalami kecelakaan). Setelah semua prosedur kami lakukan, kami pun mulai mendaki sekitar pukul 09.00 WIB.

Saat itu, mentari bersinar tidak terlalu terik dan cuaca tidak terlalu panas. Kami sangat bersyukur. Alhamdulillah. Andai cuaca tidak bersahabat tentu kami akan kerepotan. Betapa tidak, sebelum memasuki kawasan hutan, kami harus berjalan sekitar 45 menit untuk menyusuri jalanan berkerikil dan berpasir. Kami melewati area tambang pasir persis di kaki gunung Guntur. Bila hujan turun sementara pada waktu yang bersamaan truk-truk pembawa pasir melewati jalan yang sama dengan kami, tentunya cukup berbahaya. Salah seorang sahabat bercerita bahwa ia pernah melihat truk pasir terguling dan di dalam truk pasir tersebut ada para pendaki yang menumpang. Lantas apa yang terjadi? Insiden pun tidak dapat terelakkan.

2
Memasuki area penambangan pasir di kaki gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Sepanjang perjalanan, saya berpikir, apabila pasir di kaki gunung Guntur terus dikeruk bukankah akan menyebabkan longsor? Saya menilai ada persoalan lingkungan di gunung Guntur yang harus menjadi concern pemerintah daerah Garut. Sepertinya harus dibuat regulasi mengenai penambangan pasir di kaki gunung Guntur tanpa abai terhadap mata pencaharian masyarakat di sekitar kaki gunung Guntur yang bekerja sebagai buruh penambang pasir.

Ada objek yang unik di sekitar area tambang pasir di kaki gunung Guntur yaitu bebatuan cadas yang mirip dengan situs geologi Gunung Padang di Cianjur atau Stone Garden di Padalarang. Namun sepertinya objek tersebut tidak begitu dihiraukan oleh para pendaki. Padahal sepertinya cukup menarik untuk dijadikan latar foto yang instagramable. Serius!

Setelah berhasil melewati area tambang pasir, kami pun memasuki kawasan hutan yang tidak terlalu rimbun. Namun sesampainya di hutan, udara sejuk pun mulai menyergap tubuh kami yang berkeringat. Kami seperti terlahir kembali (halah, klausa ini terlalu berlebihan). Semakin jauh berjalan, tantangan yang kami hadapi semakin menantang. Beberapa kali saya harus membenarkan posisi tas carier agar terasa nyaman dibawa. Keringat pun mulai mengucur dan napas mulai tidak teratur. Hanya bercanda dan foto-foto yang menjadi obat ampuh untuk menghilangkan rasa penat yang menggelayut di pundak. Kendati langkah terasa berat, kami terus melangkah dan menikmati setiap bunyi hembusan napas yang terdengar berat.

“Ayo semangat! Sebentar lagi Pos 1!”

Salah seorang dari kami tiba-tiba memecah kesunyian saat melewati hutan yang sepi. Di gunung, terkadang ungkapan “semangat” tidak lantas membuat kita bersemangat. Seringkali frasa “semangat” membuat kita semakin berpikir realistis bahwa perjalanan masih panjang. Sembari menghembuskan napas, saya bergumam, “Oke perjalanan masih panjang, Bung!” Tidak ada jalan lain kecuali terus melangkah dan menikmati setiap rasa yang timbul dari dalam diri: rasa kesal, lelah, dan payah.

Menurut saya, jalur pendakian di gunung Guntur tidak begitu susah. Namun mendekati Pos 3, saya mulai merasa kewalahan karena harus melewati jalur bebatuan yang memiliki kemiringan hingga 75⁰. Saya harus ekstra waspada dan harus memastikan kaki saya mendarat di batu yang solid dan kokoh. Jika tidak, saya bisa terpeleset dan akan berakibat fatal. Oleh sebab itu, bagi para pendaki yang melewati jalur tersebut diminta hati-hati. Watch your step, guys!

 

 Pukul 13.30 WIB kami tiba di Pos 3.

“SELAMAT DATANG DI POS 3,” tulisan pada sebuah gapura yang terbuat dari kayu berwarna coklat menyambut kedatangan kami. Saya mulai tersenyum sumringah. Aha, ternyata di pos 3 sudah banyak berdiri tenda warna-warni. Terlihat seperti bumi perkemahan yang bernuansa ceria. Oh ya, sebagai informasi pengelola gunung Guntur hanya mengizinkan mendirikan tenda di pos 3. Pendaki tidak diizinkan mendirikan tenda di puncak. Hal ini lantaran sering terjadi longsor di gunung Guntur. Apalagi mengingat curah hujan pada bulan Mei masih lumayan tinggi. Sejauh pengamatan saya, tidak ada satu pun pendaki yang melanggar himbauan tersebut. Good job!

P1220119
Pos 3 Gunung Guntur (Captured by: Klep)

Lagi pula, menurut saya memang paling nyaman dan paling enak berkemah di pos 3. Betapa tidak, kita tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan air. Jika Anda mau, Anda bisa bisa mendirikan tenda persis di samping sungai. Arena berkemah di pos 3 juga sangat luas. Anda tidak perlu khawatir tidak kebagian lahan untuk mendirikan tenda. Selain itu, jika summit pada dini hari Anda tidak perlu membawa tas carrier yang berat. Anda cukup membawa barang-barang penting. Sisanya, Anda bisa simpan di dalam tenda. Insya Allah aman.

Jika boleh dikatakan, pendakian di gunung Guntur tergolong pendakian leyeh-leyeh. Setelah selesai makan siang dan sholat kami pun tidur di luar tenda dengan beralaskan flysheet. Siang itu, matahari ditutupi awan putih yang tebal. Cuaca juga tidak terlalu dingin. Cukup pas untuk kita tidur siang. Salah satu dari kami menyeletuk, “Ayo kita tidur siang!” Akhirnya tanpa banyak kata dan suara, kami semua tertidur pulas. Saya terbangun dari tidur ketika tiba-tiba ada suara gaduh dari pendaki yang baru datang. Saya melihat jarum jam yang ternyata baru menunjukkan pukul 15.30 WIB. Ternyata saya tidur hanya sebentar namun terasa sangat lama. “Itu namanya tidur berkualitas,” celoteh teman saya.

Untuk mengisi waktu sore hari, kami pun bermain kartu uno. Bagi saya, bermain uno di gunung adalah pengalaman pertama. Biasanya waktu di gunung sangat terbatas. Namun ternyata sangat menyenangkan mengisi waktu bersama sahabat dengan hal-hal yang menyenangka. Jika ingat momen-momen bermain uno, saya hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ada saja kejadian lucu yang membuat saya tidak henti-hentinya tertawa. Misalnya ketika salah seorang sahabat bernasib sial karena harus menarik kartu uno dalam jumlah yang sangat banyak. Menyebalkan.

Dari sekian banyak momen lucu selama bermain kartu uno, ada satu momen yang akan terus menjadi bahan untuk ditertawakan. Ceritanya begini, ketika masing-masing dari kami sedang serius menyusun strategi untuk memenangkan pertarungan uno, tiba-tiba seorang sahabat saya (nama disamarkan demi menjaga harga diri) yang mendapatkan giliran mengeluarkan kartu tiba-tiba berteriak, “Kartu ungu!” Sontak saat itu semua terpaku diam membisu. Saya pun jadi kebingungan. Apa maksud dari kartu ungu? Selidik demi seledik, ternyata ada yang menimpali celetuk teman saya tersebut, “Kartu uno ungu yang seperti ini bukan?” Haha gelak tawa pecah seketika. Kami baru menyadari bahwa kartu uno berwarna ungu adalah kartu bonus yang tidak digunakan dalam permainan. Ah, sepertinya saya kurang mahir menggambarkan kelucuan pada saat itu. Namun yang jelas itu adalah momen yang menggelikan.

“Friendship.. is born at the moment when one man says to another, “What! You too? I thought that no one but my self.” – C.S. Lewis

Sore hari, saat asyik-asyiknya bermain kartu uno, langit terlihat mendung. Matahari seolah disergap oleh sekomplotan awan gemuk berwarna abu-abu. Jelas, hujan akan turun. Kami pun bergegas memasang flysheet guna melindungi tenda dari air hujan yang mengucur dari langit. Kami pun kembali ke tenda-tenda masing sembari menunggu hujan reda. Di dalam tenda, saya pun menyalakan ponsel genggam milik saya yang berwarna hitam. Saya membuka aplikasi recorder kemudian mereka suara hujan yang mengetuk kasar tenda yang berbahan parasut. Hujan dan sore adalah paket yang sempurna untuk mengantarkan khayal saya pada jutaan kenangan pada masa silam.

Pukul 03.00 WIB persiapan summit

Dini hari menjelang subuh, tepatnya pukul 03.30 WIB kami bersiap untuk summit ke puncak gunung Guntur. Kami pun berdoa, berharap pendakian menuju puncak tidak mengalami kendala yang berarti. Satu hal yang paling kami pinta kepada Tuhan, kami ingin kembali pulang dalam keadaaan selamat, sehat wal’afiat.

Tepat di atas kepala kami, bulan purnama terlihat bulat sempurna. Tidak banyak bintang pada malam itu. Cahaya purnama yang cukup terang membantu kami menunjukkan jalan menuju puncak. Jalur pendakian ke puncak gunung Guntur menantang. Banyak orang yang mengatakan bahwa gunung Guntur laiknya gunung Semeru versi mini. Perlahan, kami mulai menanjak lereng gunung Guntur yang berpasir dan berbatu kerikil. Kadang kami harus menghentikan langkah untuk mengambil napas dalam-dalam. Kami pun melihat ke arah puncak untuk memastikan bahwa kami sudah berjalan cukup jauh. Puncak memang terlihat begitu dekat, sangat dekat. Namun semakin lama kami berjalan, puncak seakan semakin menjauh, seperti oase di gurun pasir.

Saya tahu persis bahwa summit merupakan salah satu bagian tersulit dalam pendakian. Rasa lelah dan kepayahan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Lantas apakah saya harus menyerah setelah begitu banyak tantangan yang sudah saya hadapi. Tidak ada yang mampu memberikan semangat yang luar biasa besar untuk saya, kecuali semangat itu muncul dalam jiwa saya terasa panas. Saya akan terus berjalan kendati dalam keadaan sesulit apapun.

No pain, no gain.

5
Sunrise di Puncak 1 Gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Adzan Subuh berkumandang. Puncak sudah berada di depan mata. Tinggal beberapa langkah lagi saya berhasil mencapainya. Perlahan langit yang kelam mulai ditelan oleh cahaya berwarna oranye dan jingga. Pertanda sebentar lagi matahari baru segera terbit. Saya melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Saya terus memacu langkah, menguatkan hati yang mulai lemah. Akhirnya, dalam keadaan napas yang terengah-engah saya berhasil menginjakkan kaki di puncak gunung Guntur. Alhamdulillah. Sejenak saya menghempaskan tubuh saya di atas tanah berpasir yang terasa dingin. Saya melihat langit yang mulai terang. Saya hanya bisa terdiam. Dalam diam, saya hanya bisa berdoa.

“If you want to be reminded of the love of the Lord, just watch the sunrise.” – Jeannete Walls

6
Hallo Sunrise! (Captured by: Mahfud Achyar)

Setelah sholat Subuh, istirahat sejenak, dan foto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju puncak 3. Lazimnya para pendaki hanya sampai puncak 2 karena di sana ada semacam monumen yang menjadi tanda bahwa itu adalah puncak gunung Guntur. Beruntungnya jalur menuju puncak 2 dan puncak 3 tidak begitu susah dibandingkan jalur dari pos 3 ke puncak 1. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan savana yang ditumbuhi oleh bunga-bunga ilalang berwarna pink, muhlenbergia capillaris.

7
Gunung Cikurai (Captured by: Mahfud Achyar)
9
Savanna at Mt. Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Dari puncak gunung Guntur saya melihat gunung Cikurai yang terlihat gagah. Saya berharap suatu saat saya akan berada di atas puncak gunung Cikurai. Barangkali dalam waktu dekat. Berada di atas ketinggian 2,249 mdpl membuat saya sependapat dengan Ratu Wilhelmina bahwa Garut memang layak disebut Zwitsers van Java.

12
Puncak Gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)
14.jpg
Garut, Jawa Barat (Captured by: Mahfud Achyar)

Jakarta, 27 Mei 2016.

Catatan tambahan:

Itinerary Mt. Guntur
Itenerary Mt. Guntur

Mt. Guntur (2,249 M) – Garut West Java

Decemberain: Catatan Pendakian Gunung Gede

Oleh: Mahfud Achyar, M.IK

Saat ini, aktivitas pendakian tidak hanya sebatas aktivitas outdoor melainkan sudah menjadi lifestyle. Beberapa dekade lalu, tidak banyak orang yang senang mendaki gunung–aktivitas yang menguras fisik ini hanya dinikmati oleh beberapa kalangan, khususnya para pencinta alam. Namun sekarang, sejak era informasi digital, aktivitas pendakian kian digemari. Terlebih banyak film-film hollywood dan juga film-film Indonesia mengangkat tema petualangan.

IMG_0770
Jalur Pendakian Jalur Cibodas (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Sejak dirilisnya film “5 CM” pada tanggal 12 Desember 2012, animo masyarakat Indonesia untuk menikmati sunrise di puncak gunung kian tinggi. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin meningkatnya jumlah para pendaki setiap tahunnya. Film “5 CM” merupakan film garapan Rizal Mantovani yang bercerita tentang pendakian ke puncak Mahameru yang dilakoni oleh Fedi Nuril (Genta), Denny Sumargo (Arial), Herjunot Ali (Zafran), Raline Shah (Riani), dan Igor Saykoji (Ian).

Kehadiran film tersebut mendatangan reaksi yang beragam dari pencinta alam. Ada yang menyambut positif film tersebut karena membangkitkan semangat anak-anak muda Indonesia untuk bertualang, namun tidak sedikit juga yang mencibir film tersebut lantaran dianggap kurang memberikan edukasi mengenai safety procedure selama berada di alam bebas. Menurut saya sendiri, aktivitas di alam bebas tentunya beresiko. Namun bila dipersiapkan dengan baik, kita bisa meminimalisasi berbagai kemungkinan buruk yang tidak kita harapkan. Barangkali kita belum mampu menjadi pendaki yang pro, namun setidaknya kita berupaya untuk memastikan bahwa kita bukanlah pendaki yang konyol.

Selain itu, persiapan pendakian pada saat musim hujan tentu memiliki perlakuan yang berbeda dibandingkan musim kemarau. Lazimnya, para pendaki lebih memilih musim kemarau dibandingkan musim hujan karena dinilai lebih aman. Namun, ada juga yang berpendapat pendakian saat musim hujan justru menyenangkan. Apalagi pada saat musim hujan, cuaca di gunung tidak terlalu ekstrem dibandingkan musim kemarau. Hal tersebut lantaran pada musim hujan permukaan bumi dipenuhi oleh air, baik dalam bentuk cairan maupun uap. Air dalam bentuk cairan sebagian besar akan meresap ke dalam tanah, sedangkan air dalam bentuk uap akan larut di udara. Sebaliknya, pada musim kemarau, permukaan bumi lebih kering. Kandungan air di dalam tanah menipis dan uap air di udara pun sangat sedikit jumlahnya. (Dony Aris Yudono, 2012).

Pengalaman mendaki gunung saat musim hujan pernah saya alami bersama teman-teman saya. Tepatnya pada tanggal 20 Desember 2015, kami mengisi liburan akhir tahun dengan mendaki gunung yang mudah dijangkau dari Jakarta. Setelah berdiskusi cukup panjang melalui grup pesan instan WhatsApp, akhirnya kami memutuskan untuk mendaki gunung Gede yang berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Jawa Barat.

TNGGP merupakan taman nasional yang berfungsi untuk melindungi dan mengkonservasi ekosistem flora dan fauna di area seluas 21,975 hektare beserta tutupan hutan pegunungan di sekelilingnya. Ada beberapa alternatif jalur pendakian yang bisa dipilih untuk mencapai puncak Gede yang berada di ketinggian 2,958 m (9, 705 ft) di antaranya gerbang utama Cibodas dan Cipanas. Kedua jalur pendakian tersebut memiliki tantangan yang berbeda-beda. Namun pada umumnya, para pendaki yang baru pertama kali ke gunung Gede biasanya memilih jalur Cibodas. Bagi warga Jakarta, Anda bisa mencapai Cibodas dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam dengan jarak ± 100 km menggunakan kendaraan pribadi. Menurut berbagai informasi, jalur Cibodas dinilai lebih mudah dibandingkan jalur Cipanas.

Menurut saya, jalur Cibodas sangat ramah untuk para pendaki. Track pendakian menuju puncak gunung Gede sudah terakses dengan baik. Anda akan menapaki jalanan yang berbatu serta di kelilingi oleh hutan hujan tropis yang rimbun. Namun sebelum itu, Anda terlebih dahulu diwajibkan untuk melapor kepada pengelola TNGGP bahwa Anda sudah terdaftar dan diizinkan mendaki gunung Gede.

Untuk mendaftar atau reservasi, Anda bisa membuka situs http://booking.gedepangrango.org/. Pada situs tersebut, Anda akan mendapatkan informasi mengenai ketentuan umum pendakian gunung Gede – Pangrango. Intinya, setiap pendaki harus memiliki Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) pendakian yang dikeluarkan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP).

Gunung Gede dibuka untuk para pendaki hanya untuk waktu-waktu tertentu. Pada tanggal 31 Desember hingga 31 Maret, biasanya gunung Gede ditutup dengan alasan untuk memulihkan kondisi hutan. Selain itu, kuota pendaki juga dibatasi hanya 600 orang pendaki perharinya (300 melalui Cibodas, 100 melalui Salabintana, dan 200 melalui Gunung Putri). Oleh sebab itu, bila Anda ingin mendaki gunung Gede, Anda harus mempertimbangkan kapan waktu yang tepat untuk mengangkat carrier bag Anda.

Pesona gunung Gede memang patut diacungi jempol. Maka taksalah, banyak para pendaki domestik dan internasional yang bersaing ketat untuk berhasil mendapatkan Simaksi. Lokasi yang mudah dijangkau serta medan pendakian yang tidak terlalu susah membuat gunung Gede menjadi salah satu gunung yang patut untuk didaki.

Selain itu, keragaman flora dan fauna di TNGGP membuat kawasan ini tidak hanya worth untuk disinggahi namun juga menjadi laboratorium yang mampu meningkatkan khazanah kita mengenai ilmu pengetahuan alam. Menurut literatur yang saya baca, gunung Gede diselimuti oleh hutan pegunungan yang mencakup zona-zona submontana, montana, hingga ke subalpin di sekitar puncaknya. Hutan di kawasan ini merupakan salah satu yang paling kaya jenis flora di Indonesia, bahkan di kawasan Malesia. Maka rasanya pendakian menjadi lengkap bila ada teman pendakian kita yang menguasai ilmu botani. Sembari mendaki, kita juga belajar. Menyenangkan bukan?

Tentang pendakian, ada yang pernah berkata seperti ini, “Bukan kemana kita mendaki, namun dengan siapa kita mendaki.” Menurut saya, ungkapan tersebut cukup filosofis. Teman seperjalanan memang menjadi penentu apakah perjalanan kita akan berkesan atau justru terasa hambar. Teman perjalanan tidak melulu orang-orang dekat kita. Teman perjalanan bisa jadi orang-orang yang baru kita kenal namun mereka mampu memberikan makna dalam perjalanan panjang kita. Bersama mereka, perjalanan yang sulit pun terasa lebih ringan. Bersama mereka, berbagai rintangan dapat diatasi dengan baik. Perjalanan mengajarkan kita bagaimana cara membentuk tim yang hebat dalam durasi yang sangat singkat. Teman perjalanan saya saat melakukan pendakian ke gunung Gede adalah orang-orang hebat yang saya kenal di salah satu komunitas positif di Indonesia, Kelas Inspirasi. Berbeda dengan pendakian-pendakian sebelumnya yang mewajibkan untuk mendirikan tenda (menginap), pendakian ke gunung Gede kami lakukan secara tektok (pulang-pergi).

IMG_0723
Sahabat Positif – Kelas Inspirasi Depok 2

Kami mulai mendaki sekitar pukul 06.30 WIB. Saat cuaca terlihat mendung. Maklum bulan Desember adalah musim penghujan. Kami pun sudah mengantisipasinya dengan mempersiapkan rain coat kalau-kalau hujan turun. Belum setengah perjalanan, hujan turun dengan cukup deras. Pendakian saat hujan agak berat. Jalanan pasti akan lebih licin. Belum lagi bagi yang menggunakan kaca mata, tentunya kaca mata menjadi berembun. Kendati sudah memakai rain coat, tetap saja kita harus ekstra hati-hati. Kami pun terus melangkah melalui medan yang terjal, curam, dan sesekali harus melompat.

Ada banyak hal menarik yang bisa kita jumpai selama pendakian di gunung Gede. Beberapa objek wisata yang bisa kita temui yaitu telaga biru (1.575 mdpl), air terjun Cibeureum (2,8 km dari Cibodas), air panas (5,3 km dari Cibodas), Kandang Batu dan Kandang Badak (2.220 mdpl), alun-alun Surya Kencana, dan tentunya puncak dan kawah gunung Gede.

Jalur Gunung Gede (Sumber 2(dot)bp(dot)blogspot(dot)com)
Map of Mt. Gede (Source: http://www.2.bp.blogspot.com)

Akan tetapi mengingat terbatasnya waktu yang kami miliki, kami pun tidak sempat singgah lama-lama di beberapa objek wisata tersebut. Kami harus berpacu dengan waktu sebab kami harus turun juga pada hari itu. Sekitar pukul 11.00 WIB, kami pun tiba di Kandang Badak yang menjadi lokasi favorit para pendaki untuk mendirikan tenda. Kami singgah sebentar untuk menyiram tenggorokan yang kering dengan air teh hangat. Ah, rasanya saat itu nikmat sekali menyeruput teh. Saat kondisi badan yang sudah basah kuyup, tubuh terasa dingin, kemudian seketika menjadi kembali hangat. Oh God, thanks!

IMG_0857
Kabut Tipis di Gunung Gede (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Setelah cukup puas beristirahat di Kandang Badak, kami pun melanjutkan pendakian ke puncak gunung Gede. Menurut para pendaki, kami hanya perlu menanjak sekitar dua jam lagi untuk bisa mencapai puncak. Kami pun bergegas dengan mempercepat langkah agar bisa mencapai puncak secepatnya. Hujan kembali turun. Namun tidak terlalu deras. Beberapa pendaki terlihat baru turun dari puncak. Sepanjang perjalanan mereka menyemangati kami, “Semangat ya mas, semangat ya mba!” Kami pun membalas dengan mengucapkan terima kasih.

Akhirnya, sekitar pukul 14.00 WIB kami berhasil mencapai puncak. Horray! Beruntung hujan saat itu sudah reda. Kami pun bisa menikmati keindahan alam bumi Pasundan di atas ketinggian 2.958 mdpl. Di puncak gunung Gede, terdapat tiga kawah yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu, dan Wadon. Selebrasi paling mainstream saat tiba di puncak gunung yaitu berfoto di depan plang yang bertulis, “Puncak Gede.” Hah! Kami bersyukur mendapakan kesempatan yang berharga, kami bersyukur lahir di negara yang menyimpan semilyar pesona. Terima kasih Indonesia!

IMG_0874
Kawah di Puncak Gunung Gede (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

 

 

Menikmati Keindahan Pulau Lombok di Puncak Gunung Rinjani

Oleh: Mahfud Achyar

Gunung Rinjani
1. Savana Sembalun – 2. Sunset di Plawangan Sembalun – 3. Danau Sagara Anak – 4. Plawangan Sembalun (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) menyimpan sejuta pesona yang seolah tidak ada habis-habisnya untuk dijelajahi. Bagi Anda yang merindukan vitamin sea, Anda akan disuguhkan dengan keindahan pantai-pantai di Lombok yang berpasir putih. Sangat cocok untuk Anda yang ingin menarik diri dari kejenuhan rutinitas yang takberkesudahan.

Bosan dengan wisata pantai, Anda bisa bertualang ke gunung tertinggi di NTB, yaitu gunung Rinjani. Selain menjadi gunung tertinggi di NTB, gunung Rinjani juga dinobatkan sebagai gunung tertinggi ketiga di Indonesia setelah gunung Jayawijaya di Papua dan gunung Kerinci di Jambi. Puncak gunung Rinjani yang memiliki ketinggian 3.726 mdpl (meter di atas permukaan laut) sangat layak untuk Anda kunjungi.

Percayalah, Anda tidak akan menyesal bila memutuskan untuk bertualang ke gunung Rinjani. Saya pernah ke sana tahun kemarin, tepatnya pada bulan Mei 2015. Bagi saya, petualangan ke gunung Rinjani merupakan salah satu momen terbaik dalam hidup saya. Sebuah pengalaman hidup yang barangkali akan saya ceritakan kepada anak dan cucu saya kelak. Oleh karena itu, jika Anda yang masih ragu untuk menentukan destinasi liburan tahun 2016, gunung Rinjani adalah pilihan yang tepat. Namun, tentunya pengalaman perjalanan setiap orang berbeda-beda. Saya yakin, setiap kita memiliki cerita-cerita yang unik, berbeda, dan pastinya sarat dengan nilai-nilai kehidupan.

Waktu terbaik untuk mendaki gunung Rinjani yaitu sekitar bulan Mei hingga Agustus. Untuk itu, jauh-jauh hari sebelum pendakian, Anda disarankan untuk mempersiapkan diri dengan sangat baik. Mengutip perkataan Andrea Hirata, “Preparation perfect performance.” Menurut saya, pendakian tidak melulu soal kita berhasil mencapai puncak gunung. Namun yang lebih penting adalah, kita bisa kembali pulang dengan selamat. Saya selalu ingat pesan dari sahabat saya, “Jangan pernah berpikir untuk menaklukkan gunung. Bukan gunung yang harus kita taklukkan, melainkan ego dan kesombongan kitalah yang harus ditaklukkan.” Takheran, banyak para pendaki bernasib konyol karena kurangnya persiapan pendakian seperti kehabisan makanan dan minuman, hipotermia, dan sebagainya. Bukankah sudah seyogyanya kita mengantisipasi hal-hal di luar perkiraan kita?

Lantas, apa saja yang harus kita persiapkan sebelum mendaki? Berdasarkan pengalaman saya mendaki gunung-gunung di Indonesia, setidaknya ada tiga persiapan yang harus Anda perhatikan sebelum mendaki gunung yaitu persiapan logistik, persiapan fisik, serta persiapan mental.

Pertama, persiapan logistik berupa peralatan kelompok dan peralatan individu. Jauh-jauh hari sebelum pendakian, Anda harus memastikan bahwa semua perlengkapan logistik yang dibutuhkan sudah tersedia. Kedua, persiapan fisik dilakukan dengan rutin berolahraga seperti lari dan berenang. Kedua olahraga tersebut akan membantu fisik Anda menjadi prima dan sehat. Ketiga, persiapan mental menjadi faktor penting selama pendakian. Anda akan ditantang dengan medan pendakian yang menanjak, landai, dan curam. Setiap medan memiliki tantangan masing-masing. Kadang mungkin timbul perasaan ciut dari dalam diri Anda. Namun yakinlah, justru tantangan-tantangan tersebut yang membuat Anda menjadi lebih berani. Be brave!

Ada beberapa jalur pendakian menuju puncak gunung Rinjani. Di antaranya jalur Senaru, jalur Sembalun, dan jalur Torean. Ketiga jalur tersebut tentu memiliki keistimewaan berbeda-beda. Rasanya kurang bijak bila kita harus membandingkan bahwa jalur Sembalun lebih bagus dibandingkan jalur Senaru, jalur Senaru lebih bagus dibandingkan Torean, dan seterusnya. Namun lazimnya, para pendaki biasanya memilih pergi melalui jalur Sembalun dan pulang melalui jalur Senaru. Anda bebas memutuskan jalur mana yang akan Anda pilih.

Sebagai bahan pertimbangan, jalur pendakian Senaru merupakan jalur pendakian yang cukup ramai. Anda akan melewati hutan hujan tropis yang rimbun dan rindang. Jalur Senaru juga sering digunakan oleh masyarakat adat untuk melakukan ritual adat/keagamaan di puncak Rinjani atau danau Sagara Anak. Sementara jalur Sembalun merupakan jalur favorit para pendaki karena keindahan savana Sembalun yang tiada duanya. Berbeda dengan Senaru dan Sembalun, jalur Torean tidak begitu banyak dilalui para pendaki. Hal ini lantaran jalur Torean menurut banyak pendaki lebih susah dibandingkan jalur Senaru dan Sembalun. Anda akan melalui medan yang cukup berbahaya seperti jalan setapak yang diapit oleh tebing yang tinggi dan jurang yang dalam. Oleh sebab itu, Anda harus ekstra hati-hati. Pun demikian, kendati jalur Torean cukup sulit, namun pemandangan sepanjang pendakian sangat indah. Teman saya yang pernah melalui jalur Torean berkata, “Pemandangan di jalur Torean seperti pemandangan di film Lord of the Rings.”

Gunung Rinjani berada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Secara geografis, gunung Rinjani terletak pada lintang 8º25’ LS dan 116º28’ BT. TNGR memiliki luas sekitar 41.330 ha dan masih diusulkan penambahan luas hingga 76.000 ha ke arah barat dan timur. Suhu udara rata-rata di gunung Rinjani 20ºC dan terendah 12ºC. Angin kencang terjadi di puncak gunung Rinjani terjadi pada bulan Agustus.

Dari sekian banyak gunung yang sudah saya daki, saya berpendapat bahwa gunung Rinjani adalah gunung yang paling indah. Jika Anda melalui jalur Sembalun, Anda akan takjub dengan hamparan savana Sembalun yang luas. Anda seolah sedang melakoni peran seorang Frodo dalam film “Lord of the Rings” yang bertualang bersama sahabat-sahabatnya. Sore hari di Plawangan Sembalun adalah sore yang begitu menentramkan. Bayangkan, Anda berada di ketinggian yang begitu dekat dengan awan. Di ufuk barat, perlahan mentari mulai pulang keperaduannya. Cahaya mentari yang hangat mampu menghangatkan tubuh Anda yang mulai kedinginan. Lebih membahagiakan lagi, Anda dapat menikmati matahari yang perlahan terbenam. Matahari yang berwarna jingga keemasan. What a perfect moment!

Ketika malam datang, langit di gunung Rinjani bertabur bintang, memancarkan cahaya yang berpendar. Dini hari, saatnya Anda memutuskan untuk summit ke puncak gunung Rinjani. Berada di atas ketinggian 3,726 mdpl adalah pengalaman berkesan yang akan terus Anda kenang. Anda adalah orang yang beruntung. Mungkin pada momen yang sama masih banyak manusia yang terlelap, terbuai dalam dimensi mimpi. Sementara Anda memutuskan untuk menikmati pagi yang indah. Anda pasti akan bersyukur kepada Tuhan betapa istimewanya negeri zamrud khatulistiwa ini. Ah, betapa menyenangkan melihat cakrawala yang luas. Betapa berkesannya melihat danau Sagara Anak yang berwarna biru dan gunung Barujuari yang tepat berada di tengah danau. Tidak hanya itu, Anda juga bisa melihat garis pantai pulau Lombok yang terlihat menenangkan. Rasanya saat itu ingin rasanya menyanyikan lagu “What a wonderful world” yang dinyanyikan Louis Amstrong. “I see skies of blues of blue and clouds of white. The bright blessed day, the dark scared night. And I think to myself what a wonderful world.” – end.

 

Menyapa Dewi Anjani: Sebuah Catatan Perjalanan

Catatan Pendakian Gunung Rinjani

Oleh: Mahfud Achyar

Dari kecil hingga sekarang, saya selalu berambisi untuk bisa mengelilingi dunia. Tidak hanya mengelilingi dunia, saya juga ingin sekali bisa mengeksplorasi luar angkasa. Bagi saya, hidup itu dinamis. Hidup itu bergerak. Hidup itu berpindah-pindah. Saya ingin terus bergerak, saya ingin terus berjalan, saya ingin melihat hal-hal yang baru pada setiap jengkal yang ada di semesta ini.

Barangkali saya adalah seorang anak manusia yang candu untuk berkhayal dan bermimpi. Saya pikir, keinginan untuk mengeksplorasi semesta adalah impian yang sederhana. Namun itu dulu, saat masih kekanak, saat imajinasi saya tanpa batas. Ya, begitulah hidup. Kadang hal yang kita pikir sederhana, pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Mengutip kata Sujiwo Tejo, “Hidup tidak sebercanda itu.”

Saat menjadi dewasa, saya sempat berpikir untuk mengubur cita-cita menjadi seorang petualang sejati. Entahlah, semakin dewasa pikiran saya semakin kompleks. Perlahan, saya mulai menepis angan dan harapan saya untuk bertualang. Saya kemudian disibukkan dengan rutinitas sebagai orang dewasa yang menjemukan. Apalagi tinggal di kota besar seperti Jakarta, saya harus berpacu dengan waktu. Jika saya memiliki manajemen waktu yang buruk, maka saya harus siap dengan segala konsekuensi yang menyebalkan. Bila terlambat bangun, saya kemungkinan akan telat tiba di kantor. Bila saya mengundur-undur pekerjaan, maka saya akan kelabakan saat deadline sudah di ambang mata. Maka mau tidak mau, saya harus cerdik memanipulasi waktu, bagaimanapun caranya.

Masyarakat urban Jakarta juga terbiasa dibangunkan secara paksa oleh alarm dari jam weker atau ponsel pintar bernada keras. Alarm adalah monster yang mengusik rasa tentram saat kita sedang asyik-asyiknya dibuai mimpi. Pun demikian, itulah Jakarta. Sebuah kota yang terus hidup. Sebuah kota di mana impian-impian terus dibangun dan disangkutkan pada langit malam yang jarang terlihat gemintang.

Di hadapan saya, terbentang berbagai pilihan. Tugas saya hanya memilih. Maka, sebagai manusia dewasa, saya memilih untuk menikmati takdir hidup yang saat ini saya jalani. Untuk apa harus berkeluh kesah, sementara ada semilyar nikmat yang patut untuk saya syukuri. Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup saya adalah kesempatan untuk menjelajahi bumi Nusantara. Sebuah negeri dengan sejuta pesona. Sebuah negeri yang keindahannya membuat saya bangga karena lahir, tumbuh, dan hidup di negeri ini. Sejujurnya, saya belum mengunjungi setengahnya wilayah Indonesia. Namun saya berkeyakinan, suatu saat, saya akan melunasi hutang untuk menjelajahi Indonesia.

Salah satu pengalaman hidup yang tidak akan pernah saya lupakan yaitu saat saya bersama teman-teman saya melakukan ekspedisi pendakian ke gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya bersama tiga belas sahabat saya mendaki gunung Rinjani tahun kemarin. Tepatnya pada tanggal 13 hingga 17 Mei 2015. Beruntung saat itu kami berhasil mendapatkan tiket pesawat promo sehingga kami bisa menghemat anggaran perjalanan untuk keperluan lainnya.

Sejujurnya, bila mendaki gunung saya selalu takut dan khawatir. Entahlah, perasaan semacam itu selalu datang menghantui saya meskipun saya sudah mati-matian untuk membunuhnya. Saya kadang berpikir bahwa saya memiliki fisik yang tidak begitu kuat, saya takut jika terkena hipotermia, dan saya merasa sedih bila akhirnya saya tidak mencapai puncak. Saya pun kemudian berusaha menenangkan pikiran dan perasaan saya, “Oh tenanglah anak muda, semuanya akan berjalan baik-baik saja. Tidak hal yang patut dikhawatirkan. Persiapkan dirimu dengan baik. Biarkan jiwamu bebas bersama alam.”

Untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, saya pun rutin untuk olahraga (lari dan berenang), istirahat yang cukup, dan mempersiapkan logistik pendakian. Saya tidak ingin meremehkan apa pun, namun saya juga tidak ingin khawatir berlebihan. Setiap harinya, saya dan teman-teman saya berkoordinasi melalui grup WhatsApp. Kami membahas banyak hal. Mulai dari membahas jadwal latihan fisik, perlengkapan pendakian, konsumsi, akomodasi, dan hingga membahas hal-hal di luar konteks pendakian seperti jodoh-menjodohkan. Ya begitulah anak muda, obrolan seperti tidak akan luput dari pembahasan mereka (termasuk saya juga).

Kami tiba di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada hari Rabu (13/05/2015), pukul 07.55 WITA. Di bandara, kami sudah dijemput oleh beberapa porter yang sudah jauh-jauh hari dihubungi oleh salah satu teman saya. Menurut teman saya sudah pernah ke sana, sebaiknya bila mendaki gunung Rinjani, kita harus menggunakan jasa porter. Kendati kita mampu untuk membawa beban dalam tas carrier yang berkilo-kilo, namun dengan menyewa jasa porter, setidaknya kita sudah memberdayakan warga Lombok yang sebagian besar berprofesi sebagai porter.

Dari bandara, kami pun melaju ke desa Simbalun yang merupakan salah satu pos menuju puncak gunung Rinjani. Menurut informasi yang saya dengar, pos Sembalun merupakan pos yang paling populer bagi para pendaki dibandingkan pos Senaru dan pos Torean. Beberapa catatan perjalanan pun merekomendasikan untuk memilih pos Sembalun karena dinilai lebih banyak bonusnya (istilah para pendaki bila ada jalur yang landai). Tim kami pun juga bersepakat untuk pergi melalui jalur Sembalun dan pulang melalui jalur Senaru.

Perjalanan selalu menghadirikan cerita-cerita yang tidak terduga. Kami yang berjumlah 14 orang ternyata memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Namun dari perbedaan tersebutlah kami sepertinya bisa menjadi tim yang hebat. Ada orang yang bertugas menjadi time keeper, ada yang bertugas sebagai dokumentator yang handal, ada yang bertugas sebagai pengusik kesepian, ada yang bertugas sebagai koki, dan tentunya ada yang bertugas sebagai penikmat sejati dalam setiap obrolan yang takberkesudahan. Terkesan acak namun sesungguhnya terlihat sistematis. Alam membuat kita memainkan peran masing-masing. Tidak perlu dipaksakan, semuanya berjalan apa adanya.

IMG_3908
Pos 1 Sembalun 

Setiap kali memulai perjalanan, kami selalu berdoa dan melakukan pemanasan. Menurut kami, dua hal tersebut merupakan hal yang sangat krusial. Sebab di alam terbuka, kita bukanlah siapa-siapa. Kita hanya manusia biasa. Tidak ada yang perlu ditaklukkan, tidak ada yang perlu disombongkan. Kita tidak perlu memaksa diri untuk menyatu dengan alam. Biarkan kita beriringan bersama alam agar tercipta harmoni yang indah. Pemanasan kami lakukan untuk menghindari kemungkinan cedera otot. Maklum, perjalanan yang kami tempuh sangat sangat panjang. Kami butuh fisik yang prima agar misi kami menyapa Dewi Anjani bisa terwujud.

Sepanjang perjalanan dari Sembalun, yang terlihat adalah sabana yang sangat luas. Saya membayangkan diri menjadi seorang Frodo yang bertualang bersama sahabat-sahabatnya. Ah, kadang mencuri imajinasi anak kecil terasa sangat menyenangkan. Kita tidak perlu terjebak dalam pikiran-pikiran manusia dewasa yang banyak aturan.

IMG_3919
Sabana Sembalun, Gunung Rinjani (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Akan tetapi, pendakian tidak melulu soal hal-hal yang menyenangkan. Kendati kami disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah, namun tidak bisa dipungkiri kami merasa lelah. Tas carrier yang memiliki beban yang cukup berat membuat otot saya terasa perih, pegal, dan sakit. Ada momen di mana saya ingin sekali melempar tas carrier yang mengesalkan. Namun saya ingat sebuah kutipan dari Haruki Murakami, “Pain is inevitable. Suffering is optional.” Kesakitan hanyalah ilusi dari kebahagiaan yang berlebihan. Saya pun berusaha fokus untuk terus melangkah, sesekali berhenti. Seringkali saya menutup kedua mata yang dilindungi kaca mata berminus 4. Saya pun kemudian membiarkan angin gunung menyapu wajah saya dengan sangat lembut. Saya mencoba mensugesti diri saya dengan pikiran positif, “Saya sudah berjalan cukup jauh. Saya tidak akan pernah kembali sebelum saya menuntaskan perjalanan ini.”

Perlahan senja merangkak malam. Kabut tebal mulai menyergap jalanan setapak yang kami lewati. Matahari memutuskan untuk kembali keperaduannya. Langit yang sedari tadi berwarna biru seketika berubah menjadi berwarna abu-abu. Dalam hitungan menit, langit menjadi gelap pertanda malam sudah datang. Sementara, angin di Sembalun semakin tidak bersahabat. Terasa menusuk kulit tipis saya yang hanya dibalut manset berwarna hitam. Saya masih ingat pesan teman saya, “Jangan terlalu cepat menggunakan jaket jika udara sudah terasa dingin. Biarkan tubuh kita berkompromi dan beradaptasi dengan baik dengan angin  gunung.”

Demi keselamatan, kami pun memutuskan untuk mengeluarkan headlamp yang menjadi lentera yang menemani perjalanan malam kami. Saat itu, tidak terdengar tawa ataupun curhat yang keluar dari mulut teman-teman saya. Kami hanya fokus melihat ke bawah, memastikan kami menginjak tanah yang solid. Tujuan utama kami yaitu pos 3,5 yang akan kami jadikan sebagai rumah untuk mengistirahatkan tubuh yang terasa sangat lelah.

Semakin malam, angin berhembus semakin kencang. Malam kian pekat. Dari kejauhan, saya melihat cahaya-cahaya kecil yang ditimbulkan dari senter para pendaki. Rupanya masih begitu banyak para pendaki yang hendak mencapai Plawangan Sembalun. Malam sudah kian larut dan terasa lebih dingin. Sesampai di pos 3,5 kami pun mendirikan tenda dan masak untuk makan malam. Betapa bahagianya kami karena perut kami sudah diisi dengan santapan yang lezat. Kami berterima kasih kepada dua porter kami yaitu Bang Herkules dan Ama Ida.

Sebelum tidur, saya mendongakkan kepala saya ke atas. Sontak saya hanya bisa terdiam. Betapa tidak, pemandangan langit malam itu sangat indah. Barangkali saya tidak akan terlalu mahir mendeskripsikannya. Jarang, sangat jarang saya melihat langit malam yang bertabur bintang. Mungkin ada sekitar semilyar bintang. Ah, mungkin jumlah bintang-bintang malam itu tidak terhingga. Layaknya seorang bocah, saya hanya bisa terpana sembari mengarahkan jari telunjuk saya untuk menerka kira-kira rasi bintang apa saja yang bisa saya lukis. Saya berharap kenangan malam itu terus mengabadi hingga kapan pun. Hanya itu pinta saya.

Keesokan paginya, kami pun bergegas untuk menuju Plawangan Sembalun. Tantangan terberat menuju Plawangan Sembalun adalah, kami harus menanjang 7 Bukit Penyesalan. Menurut rumor yang saya dengar, penamaan 7 Bukit Penyesalan lantaran medan pendakian yang cukup menanjak dan sedikit bonusnya. Takjarang banyak para pendaki dibuat kewalahan oleh bukit-bukit tersebut. Padahal sebetulnya pemandangan selama jalur tersebut tidak kalah indahnya dibandingkan sabana Sembalun. Mata saya dimanjakan dengan hijaunya reremputan, rindangnya pohon pinus yang berjejer rapi, serta kepulan kabut tipis yang berlari-lari di antara ranting pepohonan.

IMG_3981
7 Bukit Penyesalan, Sembalun (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Waktu tempuh dari 7 Bukit Penyesalan ke Plawangan Sembalun sekitar 5 jam. Lagi-lagi bergantung kemampuan pendaki. Bila pace lebih cepat, tentu durasi pendakian bisa dipangkas. Begitu juga sebaliknya. Seingat saya, kami tiba di Plawangan Sembalun sore hari. Saat itu, kabut tebal seolah menjadi perisai gunung Rinjani. Namun beruntungnya angin sore tampak tidak begitu simpatik dengan kabut. Perlahan kabut pun diusir sehingga matahari bisa menyambut kedatangan kami dengan peluk hangat. Sempurna!

IMG_4018
Plawangan Sembalun (Foto oleh: Mahfud Achyar)
IMG_4050
Pemandangan di Plawangan Sembalun (Foto oleh: Mahfud Achyar)
IMG_4161
Plawangan Sembalun di Kala Senja (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Kami pun memutuskan untuk menginap di Plawangan Sembalun. Esoknya, waktu dini hari, kami bersiap untuk summit ke puncak Anjani.

Plawangan Sembalun, pukul 00.30 WITA. Kami berdoa, meregangkan badan, menyiapkan bekal seadanya, menyalakan headlamp, dan mulai melangkah perlahan menuju puncak Anjani. Medan yang kami lewati yaitu pasir berkerikil. Kami berjalan dengan ritme yang tidak terlalu cepat, agak santai. Tujuan kami sederhana, tiba di puncak dengan selamat.

Sepanjang pendakian mencapai puncak, saya dilanda rasa kantuk yang tidak tertahankan. Entahlah, barangkali karena semakin tinggi, kadar oksigen semakin menipis. Beberapa kali saya sempat tertidur walau hanya beberapa menit. Bahkan saya sempat berjalan sambil tertidur. Beruntung Tuhan sangat baik kepada saya. Padahal sisi kiri dan kanan menuju puncak adalah curang yang sangat curam. Kondisi saya yang mengantuk parah membuat saya berpikiri untuk menghempaskan tubuh di atas pasir gunung Rinjani yang terasa dingin. Namun, saya harus terus berjalan kendati harus pelan, kendati kadang harus merangkak.

Sesekali, saya melihat jam tangan dengan sorotan penerangan dari headlamp yang mulai meredup. Saya ingin memastikan saya sudah berapa lama kami berjalan. Tidak terasa, fajar segera menyingsing. Sementara bulan purnama sempurna masih saja bertengger cantik. Tiba-tiba, salah seorang teman saya bersorak, “Hai teman-teman! Lihat bulan purnama itu! Posisinya berada di bawah kita. Jarang-jarang kan bulan bisa kita lihat dari atas, bukan dari bawah.” Kami semua pun baru menyadari memang bulan purnama terlihat di bawah. Suasana hening saat itu berubah menjadi gelak tawa yang menggelikan.

Semakin ke atas, udara semakin dingin. Beberapa kali saya membasahi bibir saya agar tidak kering. Bahkan saya juga menutup bibir dengan menggunakan bandana berwarna coklat. Namun nyatanya kain tipis itu harus mengaku kalah dengan kekuatan angin gunung Rinjani. Bibir saya berdarah. Terasa asin. Saya mulai panik. Namun, saya berusaha tenang sembari tetap membasahi bibir saya agar pendarahannya bisa berhenti.

Akhirnya, fajar pun tiba. Langit malam tersapu dengan cahaya mentari yang mulai unjuk diri. Terlihat jelas warna kuning keemasan mulai menyapu langit yang tadi berwarna hitam keabu-abuan. Ah, itu matahari segera tiba. Saya sangat bahagia. Betapa tidak, saya rindu sekali dengan hangatnya sinar mentari. Saya berharap rasa dingin yang menempel pada jaket polar berwarna hijau stabilo yang saya kenakan bisa enyah.

IMG_4189
Sunrise di Gunung Rinjani (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Kami terus berjalan. Di depan mata kami sudah terlihat puncak Anjani yang indah dan menawan. Kami tidak sabaran untuk segera tiba di sana. Satu, dua, tiga. Saya hanya bisa menghembuskan napas dengan sangat perlahan. Yap, akhirnya saya berada di puncak Anjani, gunung Rinjani. “Hai Dewi Anjani. Saya hadir ke sini untuk menyapamu. Saya mengagumimu di atas ketinggian 3,726 mdpl.”  – end.

IMG_4231.JPG
Danau Sagara Anak (Foto oleh: Mahfud Achyar)
IMG_4200
Sunrise di Puncak Rinjani (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Liveable City Ala Ridwan Kamil

oleh: Mahfud Achyar

Ridwan Kamil - Foto Mahfud Achyar (2)
Ridwan Kamil dalam Forum FPCI (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil, barangkali adalah salah satu tokoh di Indonesia yang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Kendati ia menjabat sebagai walikota Bandung, Emil dikenal luas oleh masyarakat lantaran aktif berinteraksi dengan masyakat (netizen) melalui media sosial miliknya seperti Instagram, Facebook, dan juga Twitter.

Kerap kali Emil berujar bahwa ia adalah ‘Anak Twitter’ yang menjadi walikota. Maka takheran di sela-sela kesibukannya menjadi wali kota Bandung, Emil masih sempat menulis buku yang berjudul “#Tetot: Aku, Kamu, dan Media Sosial” yang diterbitkan pada tahun 2014 lalu. Buku tersebut berisi tentang pengalaman Emil, baik sebelum mendapatkan amanah menjadi walikota Bandung maupun sesudahnya. Ia berharap buku tersebut dapat menginspirasi banyak orang berkaitan dalam membangun dan mendesain kota yang livable.

Mercer’s Quality of Living Survey setiap tahunnya mengeluarkan daftar kota yang mendapatkan predikat sebagai “The World’s Most Livable Cities”. Survey ini membandingkan 215 kota berdasarkan 39 kriteria seperti keamanan, pendidikan, kebersihan, rekreasi, stabilitas politik-ekonomi, dan transportasi public.

Selain itu, The Economist juga melansir survei standar hidup setiap tahunnya. Pada tahun 2015 ini, kota Melbourne di Australia menduduki peringkat pertama sebagai “The World’s Most Livable City” kemudian pada peringkat runner-up diraih oleh kota Vienna, Austria.

Pada laman resmi The Economist, kriteria sebuah kota dikatakan sebagai livable city yaitu, “The ranking, which considers 30 factors related to things like safety, healthcare, educational resources, infrastructure and environment in 140 cities, shows that since 2010 average liveability across the world has fallen by 1%, led by a 2.2% fall in the score for stability and safety.” (The Economist, 18 Agustus 2015).

Menyoal livable city, Emil yang juga sebagai seorang arsitektur berupaya mewujudkan Bandung sebagai kota yang berbahagia melalui peningkatan indeks kebahagiaan. Emil mengatakan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari GDP (Gross Domestic Product) atau PDB (Produk Domestik Bruto), melainkan juga dilihat dari Happiness Index. Indonesia sendiri menduduki posisi 19 dari 150 negara. “Inovasi happiness adalah konsep yang usung untuk memperbaiki value di Bandung,” kata Ridwan Kamil saat Conference & Expo Indonesia Knowledge Forum III di Jakarta. (Tribunnews, 10 Oktober 2014).

Untuk mewujudkan cita-cita Emil menjadikan Bandung sebagai “Kota yang Berbahagia”, walikota yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Oktober 1971 ini menggulirkan program-program pamungkas di antaranya membuat taman tematik seperti Taman Jomblo, Taman Film, Taman Skate, Taman Pustaka Bunga, Taman Binatang Peliharaan (Pet Park), Taman Fotografi, Taman Musik Centrum, Taman Persib, Taman Super Hero, dan sebagainya.

IMG_5691
Gerbang Menuju Alun-Alun Kota Bandung

Emil berupaya menyediakan RTH (Ruang Terbuka Hijau) lebih banyak lagi dengan harapan warga Bandung khususnya dan juga warga di luar Bandung umumnya dapat menikmati suasana kota Bandung dengan hati riang gembira.  Dalam forum Super Mentor 3, Emil mengatakan bahwa untuk membuat orang lain bahagia dapat dilakukan dengan hal-hal yang sederhana seperti menyediakan ruang terbuka hijau yang memungkinkan orang-orang bisa berkumpul, saling menginspirasi, dan berbuat sesuatu yang positif untuk Bandung dan juga Indonesia.

Tidak hanya mempercantik kota ‘Kembang’ dengan taman-taman yang ciamik, putra dari pasangan Atje Misbach Muhjiddin dan Tjutju Sukaesih ini juga menggulirkan program-program inovatif seperti Culinary Night yang menjadi sarana bagi warga Bandung dalam mengembangkan jiwa entrepreneurship. Selain itu, bagi turis yang ingin berkeliling kota Bandung dapat menaiki Bandung Tour on de Bus (bus wisata Bandros) yang didesain unik menyerupai bus klasik di Eropa. Salah satu hal menarik lainnya di Bandung adalah, Emil juga memfasilitasi warga Bandung untuk ‘nonton bareng’ pertandingan klub sepak bola kebanggaan Bandung yaitu Persib yang digelar di Taman Film yang berlokasi di Jalan Layang Pasupati, Bandung.

Sejak menjabat sebagai walikota Bandung pada tahun 2013, telah banyak penghargaan yang dialamatkan untuk Bandung. Ridwan Kamil dan wakilnya, Oded M. Danial, tercatat telah menerima sekitar 149 penghargaan. Berbagai penghargaan yang diterima tidak lepas dari berbagai peran banyak pihak yang turut menyukseskan berbagai program yang dijalankan selama kurun waktu dua tahun ini. Prestasi paling anyar yaitu kota Bandung masuk finalis 6 besar dunia untuk inovasi Smart City dari World Smart City Organization di Barcelona. Pada fan page di Facebook, Ridwan Kamil mengatakan bahwa Bandung bersaing dengan kota-kota seperti Moskow, Dubai, Buenos Aires, Curitiba, dan Peterborough. “Bandung diapresiasi karena banyak memberikan ruang bagi warga untuk berinteraksi aktif dalam mengawasi pembangunan kota dengan inovasi “Connected Citizens: Encouraging Participatory Governance” seperti citizen complaint online, rapor camat/lurah oleh warga (SIP), monitoring program kerja Pemkot (Silakip), perizinan online (Hayu U), komunikasi aktif warga melalui akun Twitter setiap dinas, dan sebagainya,” tulis Emil (18/11/2015).

Pada hari jadi kota Bandung yang ke-205, suami dari Atalia Praratya Kamil ini berharap agar warga Bandung menjadi masyarakat paling bahagia se-Indonesia.  Kepada warga Bandung, Emil berpesan agar senantiasa mencintai Kota Bandung dengan aksi dan solusi. Dia meminta agar warga Bandung memperlakukan kotanya seperti ibu sendiri. (Kompas.com, 23 September 2015).

“Kini bukan jamannya mengubah jaman sendirian. Kita perlu bersama-sama, kita perlu berkolaborasi. Kolaborasi itu ibarat kunci pintu rumah yang bernama masyarakat madani,” pesan Emil.

Sunrise di Gunung Lembu Purwakarta: Perfecto!

Oleh: Mahfud Achyar

Sunrise di gunung Lembu Purwakarta
Sunrise di gunung Lembu Purwakarta

Keindahan alam Indonesia seakan takada habis-habisnya untuk terus dikagumi. Apalagi dengan dengan adanya media sosial, orang-orang dapat saling mengabarkan tentang objek wisata yang belum populer namun sangat patut untuk dikunjungi. Salah satu objek wisata yang saat ini menjadi incaran dan obrolan travellers yaitu pesona gunung Lembu di Purwakarta, Jawa Barat.

Gunung Lembu memang tidak setinggi gunung Semeru di Jawa Timur atau gunung Ciremai di Jawa Barat. Kendati demikian, gunung Lembu memiliki keunikan yang spesial yang barangkali tidak dimiliki oleh gunung-gunung lain. Gunung Lembu yang memiliki ketinggian hanya 780 mdpl (meter dari permukaan laut) seringkali dianggap bukit oleh banyak orang. Namun jika merujuk pada pendapat Encyclopedia Britannica, definisi gunung yaitu bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dengan ketinggian minimal 2000 kaki (610 m). Jadi secara definisi, gunung Lembu sudah layak disebut gunung!

Seperti kegiatan alam pada umumnya, sebelum Anda memutuskan untuk mendaki gunung Lembu, sebaiknya Anda perlu mempersiapkan segala sesuatu yang menunjang aktivitas Anda selama berada di alam bebas; mulai dari persiapan fisik,  persiapan mental, hingga persiapan logistik. Jangan pernah meremehkan alam dan jangan pernah berpikir untuk menaklukkan alam. Sebab bukan alam atau gunung yang harus kita taklukki melainkan diri kita sendiri. Jadi mari belajar menjadi pendaki yang bijak!

Untuk mencapai lokasi gunung Lembu sebetulnya tidak begitu susah. Akses ke sana bisa Anda jangkau dengan mudah menggunakan kereta api atau kendaraan pribadi. Bagi Anda yang berdomisili di Jakarta, Anda bisa menggunakan menggunakan kereta api kelas ekonomi dari stasiun Kota dengan merogok kocek sebesar Rp 6.000 dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Kereta menuju Purwakarta biasanya berangkat dari stasiun Kota sekitar pukul 10. Jadi jangan sampai ketinggalan kereta ya!

Perjalanan menuju Purwakarta memang cukup panjang, namun waktu akan terasa pendek bila Anda gunakan untuk berbincang-bincang dengan teman seperjalanan atau mungkin juga bisa tidur. Hal yang paling penting dari itu semua adalah, Anda harus menikmati perjalanan Anda.

Tiba di stasiun Purwakarta, Anda bisa menyewa mobil pick up yang akan mengantarkan Anda ke pos pendakian gunung Lembu di desa Panyindangan, kecamatan Sukatani, Purwakarta dengan waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Sepanjang perjalanan, mata Anda akan dimanjakan dengan pemandangan kabupaten Purwakarta yang dari tahun ke tahun semakin ciamik. Tidak hanya itu, Anda juga akan disambut dengan hamparan sawah serta bukit-bukit yang menjulang kokoh. Medan yang menanjak dan menurun sesekali melahirkan sensasi butterflies in stomach, seakan sedang menaiki wahana roller coaster.

Setelah tiba di pos pendakian, Anda wajib mendaftarkan kelompok Anda dengan membayar retribusi sebesar Rp 10.000/orang. Menariknya, Anda takperlu takut tersasar saat pendakian karena Anda akan dibekali peta jalur pendakian yang akan memudahkan Anda untuk mencapai puncak gunung Lembu. Sebelum pendakian, saatnya Anda meregangkan otot dengan pemanasan, berdoa, dan mari melangkah!

Jalur pendakian gunung Lembu terbilang curam. Namun Anda tidak perlu khawatir karena sekitar 45 menit mendaki, Anda akan sampai di pos 1. Di sana ada dua warung yang menjual es kelapa muda yang mampu menyegarkan dahaga para pendaki.  Durasi pendakian ke puncak gunung Lembu sekitar 2,5-3 jam bergantung kemampuan fisik dan bergantung lama atau tidaknya kita beristirahat. Namun disarankan jangan terlalu lama beristirahat. Segera angkat tas ransel dan carrier!

Vegetasi di gunung Lembu didominasi pohon bambu yang rindang serta pohon-pohon khas hutan tropis. Jika pada musim kemarau, tanah di sepanjang jalur pendakian gunung Lembu kering dan berdebu. Pun demikian, dengan langkah yang riang dan gembira Anda akan menikmati pendakian di salah satu gunung yang memiliki view sunrise terbaik di Indonesia.

Pendakian yang terasa lama dan melelahkan seakan tidak ada artinya bila kita melihat indahnya pemandangan waduk Jatiluhur dari atas puncak gunung Lembu. Sepanjang mata memandang yang terlihat waduk Jatiluhur yang sangat luas laiknya lautan. Salah satu bagian terbaik di gunung Lembu adalah pada saat sunrise. Para pendaki duduk di atas batu cadas yang luas dengan menghadap ke arah timur. Perlahan namun pasti, sinar mentari pagi mulai memancar dengan indah pertanda hari baru telah dimulai. Menyaksikan keindahan pagi dari puncak gunung Lembu membuat Anda bersyukur betapa beruntungnya kita menjadi orang Indonesia. Tuhan menciptakan negeri ini dengan semilyar pesona. Selamat bertualang! Salam lestari!

Every Sunrise Brings New Hope!

Mt. Sikunir, Dieng Plateu, Central Java, Indonesia
Mt. Sikunir, Dieng Plateu, Central Java, Indonesia

This photo has been placed in the “Top 10” in the Photography Competition at the 7th International Symposium of Overseas Indonesia Student’s Association held 8th – 10th August 2015 in Singapore.

Location: Mt. Sikunir, Dieng Plateu, Central Java, Indonesia.

Indonesia Sebagai Tujuan Halal Tourism

Oleh: Mahfud Achyar

Probolinggo, Jawa Timur
Probolinggo, Jawa Timur

Pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20, bumi nusantara menjadi magnet yang kuat sehingga menarik banyak negara khususnya bangsa Eropa untuk datang. Hal ini lantaran Indonesia memiliki kekayaan alam berupa rempah-rempah yang tidak dimiliki oleh negara-negara di Eropa seperti Belanda, Inggris, dan Portugis. Bangsa Eropa sangat membutuhkan rempah-rempah, terutama pada saat musim dingin. Sebab rempah-rempah dapat diolah menjadi produk makanan dan minuman yang menghangatkan badan. Kekayaan alam tersebutlah yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai negara yang diperebutkan oleh banyak negara hingga pada akhirnya Indonesia memasuki era kolonoliasme di bawah pendudukan Belanda yang berlangsung selama 3,5 abad lamanya.

Tidak hanya dulu, hingga sekarang pun Indonesia masih dikenal sebagai negara yang subur dan memiliki hasil alam yang melimpah ruah. Namun sayangnya potensi hebat yang dimiliki Indonesia tidak lantas membuat Indonesia negara yang sejahtera dan makmur. Oleh sebab itu, rasanya kita perlu menggali kembali potensi Indonesia yang kiranya dapat menjadi aset yang dapat dibanggakan dan menjadi perhatian dunia. Apalagi pada penghujung tahun 2015 ini, Pasar Ekonomi Asean resmi dibuka. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara di kawasan Asean dan juga di tingkat global. Salah satu aset penting yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia itu sendiri. Potensi sumber daya manusia Indonesia tersebut bisa dijadikan landasan atau faktor dalam mengembangkan berbagai sektor di Indonesia. Salah satunya adalah sektor wisata.

Pada 30 hingga 2 November 2013 lalu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kegiatan Indonesia Halal Expo (Indhex) 2013 & Global Halal Forum meluncurkan produk baru dalam industri pariwisata yaitu halal tourism. Ide ini diusung mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Hal tersebut diketahui berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, yaitu lembaga riset yang berkedudukan Washington DC, Amerika Serikat, yang bergerak pada penelitian demografi, analisis isi media, dan penelitian ilmu sosial. Pada tanggal 18 Desember 2012, Pew Research Center mempublikasikan risetnya yang berjudul “The Global Religious Landscape” mengenai penyebaran agama di seluruh dunia dengan cakupan lebih dari 230 negara.

Riset tersebut memaparkan total jumlah penduduk Muslim yang tersebar di berbagai negara yang berjumlah 1,6 miliar atau sekitar 23,2% dari total jumlah penduduk dunia. Indonesia dinobatkan sebagai peringkat pertama penganut agama Islam terbesar dengan total 209.120.000 jiwa (87,2%) dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.326 jiwa. Data tersebut juga diperkuat oleh data sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010.

The Global Religious Landscape

The Global Religious Landscape

Tidak hanya sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, namun Indonesia juga diacungi jempol oleh dunia karena mampu menjalankan demokrasi dan dialog antarumat beragama dengan baik. Menteri Luar Negeri RI, Retno Lestari Marsudi, pada pembukaan “Confrence on Indonesia Foreign Policy 2015” yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, (13/06/2015) mengungkapkan, “Indonesia is a country where Islam and democracy can go hand in hand, at the same time interfaith dialogues are enabled.”

Artinya dengan potensi yang dimiliki Indonesia, semestinya Indonesia bisa menjadi negara yang sukses dalam mengembangkan halal tourism. Indonesia memiliki reputasi yang positif sebagai negara demokrasi dan negara yang toleran dalam beragama. Namun sayangnya, konsep mengenai halal tourism di Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Padahal Indonesia memiliki potensi wisata yang sudah diakui dunia. Berbagai ulasan di internet bahkan menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara yang wajib dikunjungi. Kecantikan, keelokkan, dan keunikan Indonesia memang tidak usah diragukan lagi.

Permintaan produk halal, baik itu makanan, minuman, maupun wisata halal semakin meningkat. Thomson Reuters memperkirakan, pada tahun 2019 pasar makanan halal bernilai US$ 2,537 miliar (21% dari pengeluaran global), pasar kosmetik halal menjadi US$ 73 miliar (6,78 % dari pengeluaran global), dan kebutuhan personal halal menjadi US$ 103 miliar (6,6 % dari pengeluaran global). “Untuk pasar terbesar makanan halal, yaitu Indonesia sebesar US$ 190 miliar, Turki US$ 168 miliar, dan Pakistan menempati urutan ketiga sebesar US$ 108 miliar. Lalu, Indonesia juga berada di urutan ketiga untuk pasar farmasi terbesar, yaitu dengan angka US$ 4,9 miliar. Sementara, Indonesia tidak menjadi pasar terbesar untuk kosmetik halal,” ujar Marco Tieman, CEO LBB International. (Marketeers edisi April 2015, hal 60).

Untuk sektor wisata, Sapta Nirwandar yang saat ini sebagai Perwakilan Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah, dalam (Marketeers edisi April 2015, hal 61) mengatakan potensi pariwisata halal begitu besar. Berdasarkan data dari UNWTO Tourism Highlights tahun 2014, terdapat sekitar 1 miliar wisatawan dunia dan diperkirakan akan naik menjadi 1,8 miliar pada tahun 2030 mendatang. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, Indonesia seharusnya mampu memaksimalkan potensi itu. Oleh karena itu, Indonesia sudah mulai mempromosikan diri sebagai negara tujuan pariwisata yang muslim-friendly.

Akan tetapi, Indonesia kurang memperluas segmentasi pasar untuk indsutri pariwisata, khususnya pasar untuk Muslim traveler. Kondisi demikian membuat Indonesia kurang mendapat tempat di hati para Muslim traveler. Sejatinya sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tentu mudah bagi Indonesia untuk mengembangkan konsep halal tourism. Namun nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Para pemain di industri pariwisata belum yakin pada potensi pasar wisata halal dengan dalih takut dianggap terlalu kaku dan tertutup. Pelabelan wisata halal di Indonesia belum lazim ditemukan.

Menanggapi hal tersebut, Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sapta Nirwandar, menilai bahwa dengan menonjolkan suku, agama, ras, dan golongan tertentu bukanlah hal yang populer. Ia berpendapat bahwa untuk meraih tujuan yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan bersama, pelabelan yang identik dengan agama atau suku, misalnya, itu boleh-boleh saja seperti halnya memberikan label wisata hala yang tujuannya mengembangkan kepariwisataan tanah air. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 149).

Situs The Halal Choice melansir data mengenai “8 Destinasi Wisata untuk Turis Muslim.” Dari delapan negara yang disebut, Indonesia sama sekali tidak masuk sebagai negara yang menjadi destinasi oleh Muslim traveler. Padahal potensi untuk segmentasi tersebut sangat besar. Jumlah umat Muslim di dunia yang mencapai 1,6 milir jiwa, sekitar 25% dari populasi dunia, tentunya hal tersebut menguntungkan bagi Indonesia. Tidak hanya itu, Global Islamic Economy report pada tahun 2013 menyatakan bahwa setidaknya ada US$ 140 miliar potensi yang bisa masuk dari Muslim traveler. Sayangnya Indonesia kurang memanfaatkan peluang tersebut.

Berikut delapan negara yang menjadi tujuan Muslim traveler dan telah mengembangkan konsep halal tourism seperti yang dipaparkan oleh The Halal Choice:

No. Nation Description
1. Malaysia This Asian country with 60% Muslims attracts most of the Muslim tourists worldwide and has been frontrunner with regards to anything halal. ‘Unity in Diversity’ is the national motto of this fantastic melting pot of Malay, Indian and Chinese cultures as well as a mixture of Islamic, Hindu, Buddhist and Animist traditions. The country can be divided into two: Peninsular Malaysia with its amazing cities, forested highlands and fringing islands, and East Malaysia, the north of the island of Borneo with its dense rainforests, orangutans and animist tribes.
2. Turkey This country has made a dramatic turn with regards to Islam and Muslims. Its founder Ataturk tried to exclude Islam out of public life and push Islam to become a private issue at home. However, Turkey has managed to become a major exporter of halal products with an interest in halal tourism and Islamic fashion. It has become an inviting country of great diversity, with quiet villages and busy cities. A country full of history where tradition coexists with modernity, where mobile phones ring in bazaars scented with saffron and traditional Turkish hospitality.
3. UEA Seven emirates make this country a giant with regards to tourism and not only Islamic tourism. Whereas Dubai and Abu Dhabi are the main regions to attract most of the tourists Sharjah is following closely and even Ras Al Khaimah and Ajman are massively participating on the halal market. The country is the greatest show on earth with an astonishing blend of Arabian tradition and super modern skyscrapers. Fabulous oil wealth and an undescribable business mentality have made out of an impoverished Bedouin backwater of the world’s most exciting cities with old-style souqs, wind towers, heritage villages, modern skyline, long corniches and fine beaches. Enjoy shopping in the biggest malls of this world, wadi-bashing (four-wheel-driving around oases) and a cultural mix of Arab and millions of Expats from the West and Asia.
4. Singapore Despite it not being a Muslim country this city-state is surrounded by a Muslim giant, Malaysia. This has automatically influenced Singapore’s interest in Islamic tourism and halal offers. Visit quirky ethnic neighbourhoods and world-class museums, historic places of worship and fabulous markets. Its ethnic mix of people gave this little city-state 4 official languages: Chinese, Malay, Tamil, English. It’s perfect for a family holiday with lots to do for the kids and the parents.
5. Russia After the breakup of the Soviet Union, Russia had to open to the world and to its massive Muslim population and Muslim neighbours. It has seen the potential of halal tourism and attracts many Russian-speaking Muslims and tries to promote halal products with an annual fair in Moscow. This massive country stretches across 11 time zones from the Baltic to the Bering Sea. Russia is home to the world’s largest forest (the taiga) and its deepest lake (Lake Baikal), stunning tsarist palaces, Stalinist skyscrapers, contrasting Orthodox Churches next to Mosques and a big Muslim minority in the South but also in the capital Moscow.
6. China As one of the next superpowers China has realised that the Muslims are good for business and offers Islamic heritage tours to its Muslim provinces and to its major cities. Although it is not a Muslim country, China has a lot of Islamic history and a Muslim minority of 60 to 100 million people. Home to one in six human beings on the planet, the new leader is not Chairman Mao but the yuan, and consumerism is the new religion; this massive country with an incredibly rich past and history has so much to offer that it would satisfy the needs of any traveller Muslim and Non-Muslim alike.
7. France This is the only Western European country which can be found in the top 8 and has been attracting Muslim tourists mainly to Paris. Despite its Islamophobic policy it has been trying to become a centre for Islamic Banking. There are about 10% Muslims in France and a massive percentage of French reverts who are the main push for their country to open to the Muslims. Don’t forget that this country offers Mediterranean culture and cuisine as well as Western European lifestyle. It is home to the biggest African diaspora in the world with areas that rather resemble Africa than Europe. Take a walk through Paris’ Latin Quarter and the famous Champs-Elysees, enjoy the French Alps, visit the great chateau in Versailles and feel at home in Marseille!
8. Thailand This Asian country has been receiving a big number of mainly Muslim Gulf Arabs and has started offering specific halal services to them. It has a smaller Muslim population especially in the south and will have to adjust its policy towards this minority in the future. For a traveller this country offers pretty much everything: great beaches, dense jungles, ruined cities at Sukhotai and Ayuthaya, pristine rainforests, exotic islands, golden monasteries, captivating coral reefs, relaxed locals, energetic cities, atmospheric tribal villages, floating markets, elephant rides, colour-coded curries, steamy tropical weather, mouth-watering cuisine with halal choice, luxury hotels and low cost accommodation.Thailand is hungrily eyeing the Muslim travel boom. Its tourism authority which has an office in Dubai is promoting halal spas for Muslim tourists, who require strict privacy for male and female clients. It also organised a month-long festival of Thai cuisine in the UAE from June 8 to July 7 2012. Crescentrating’s study ranked Bangkok’s Suvarnabhumi Airport the most Islam-friendly airport in a non-Muslim country.

Apa Itu Halal Tourism?

Wisata Syariah atau Halal Tourism adalah salah satu sistem pariwisata yang diperuntukan bagi wisatawan Muslim yang pelaksanaanya mematuhi aturan syariah. Dalam hal ini, hotel yang mengusung prisip syariah tidak melayani minuman beralkohol dan memiliki kolam renang dan fasilitas spa terpisah untuk pria dan wanita. (Ikhsan Arby, 2015: 1)

Lebih lanjut, Ikhsan Arby (2015: 1) menambahkan bahwa halal tourism lebih mengedepankan pelayanan berbasis standar halal umat Muslim seperti penyediaan makanan halal, tempat ibadah, informasi masjid terdekat, dan tidak adanya minuman beralkohol di hotel tempat wisatawan menginap. Kemenparekraf fokus melakukan pelatihan dan sosialisasi mengenai halal tourism pada empat jenis usaha pariwisata, yaitu hotel, restoran, biro perjalanan, dan spa.

Sementara itu, Sapta Nirwandar mengatakan bahwa keberadaan halal tourism adalah extended services. “Kalau tidak ada dicari, kalau ada, bisa membuat rasa aman. Halal tourism bisa bergandengan dengan yang lain. Sifatnya bisa berupa komplementer, bisa berupa produk sendiri. Misalnya ada hotel halal, berarti membuat orang yang mencari hotel yang menjamin kehalalan produknya akan mendapatkan opsi yang lebih luas. Ini justru memperluas pasar, bukan mengurangi. Dari yang tadinya tidak ada, jadi ada,” jelas Sapta. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 149).

Lebih lanjut, Sapta memaparkan bahwa tantangan kurang berkembangnya halal tourism di Indonesia lantaran adanya persepsi yang negatif terhadap Islam, terhadap Muslim traveler. Anehnya, ini datang dari umat Muslim sendiri. Mereka tidak percaya diri. Padahal, gaya hidup halal memberikan lebih banyak pilihan. “Contohnya dari sekian banyak restoran, ada halal food, kan, tenang. Adanya sertifikasi halal itu memberikan rasa aman. Untuk umat selain Islam, makanan halal juga bukan masalah kan? Justru menurut penelitian, makanan halal itu termasuk good food. Secara spritual, orang Muslim mendapatkan benefit. Secara fisik, untuk non-Muslim, ya, makanannya sehat,” tambah Sapta.

Selain itu, pemerintah sendiri mengakui bahwa promosi halal tourism di Indonesia belum optimal sehingga menyebabkan brand halal tourism belum dikenal luas oleh turis lokal dan mancanegara. Padahal jika pemerintah serius mengembangkan brand halal tourism tentu pariwisata di Indonesia jauh lebih berkembang.

Menurut penelitian dari Crescentrating, pengeluaran wisata Muslim dalam suatu perjalanan wisata sangat tinggi. Dapat dibayangkan uang yang dihabiskan wisatawan Muslim di dunia pada tahun 2011 mencapai 126 milyar dolar AS atau setara Rp. 1.222,1 triliun. Angka ini dua kali lebih besar dari seluruh uang yang dikeluarkan oleh wisatawan Cina yang mencapai 65 dolar AS atau setara Rp 630 triliun.

Pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia yaitu harus berani mempopulerkan halal destination. Sapta (dalam Marketeers edisi Juni 2015, hal 150) memaparkan bahwa hal utama yang harus dilakukan adalah mengubah mindset masyarakat Indonesia. Kemudian memberikan edukasi, informasi, baru masuk ke tataran policy. “Kalau pemahaman ini merata, kita bisa melaksanakan hal itu lebih mudah. Kalau kita mau kembali ke esensi orang, kita harus menghargai praktik yang dilakukan tiap individu. Kita memfasilitasi kebutuhan individu. Kita membuka opsi lebih banyak bagi orang-orang yang punya preferensi khusus,” terang Sapta.

Strategi Branding Halal Tourism

Brand halal tourism di Indonesia memang belum terlalu moncer sehingga takbanyak wisatawan lokal dan mancanegara yang mengetahui brand tersebut. Oleh sebab itu, pemerintah perlu bekerja lebih keras lagi untuk mempromosikan brand tersebut. Namun, sebetulnya persoalan promosi halal tourism juga bisa dilakukan oleh masyarakat umum, khususnya generasi muda yang melek teknologi.

Saat ini, kita memasuki era digital yang memungkinkan siapa pun untuk melakukan diplomasi secara personal kepada dunia. Internet (interconnection network) menghubungkan satu negara dengan negara lain, menghubungkan satu individu dengan individu lain. Maka keberadaan internet sudah selayaknya dimanfaatkan untuk mempromosikan brand halal tourism Indonesia kepada dunia internasional.

Dalam perspektif communication studies, sekarang mulai berkembang istilah digital marketing communication, yaitu suatu usaha untuk mempromosikan sebuah brand (merek) dengan menggunakan media digital yang dapat menjangkau konsumen secara tepat waktu, personal, dan relevan. Digital marketing communication turut menggabungkan faktor psikologis, humanis, antropologi, dan teknologi yang akan menjadi media baru dengan kapasitas besar, interaktif, dan multimedia. Hasil dari era baru berupa interaksi produsen, perantara pasar, interaktif, dan multimedia. Digital marketing communication mendukung pelayanan perusahaan dan keterlibatan dari konsumen. (Sumber: Wikipedia)

Berbeda dengan pemasaran konvensional melalui media massa, digital marketing communication menggunakan media baru yang dikenal dengan internet yang memiliki dampak pada meluasnya lingkup pemasaran dan melampaui batasan tradisional seperti zona waktu geografi dan batas regional. Era pemasaran digital juga mengubah prilaku konsumen yang dulu belum pernah dikenal dalam era pemasaran konvensional. Pada era pemasaran digital, peran konsumen tidak hanya sebatas objek dari produsen, namun konsumen memiliki peran penting dalam perkembangan bisnis sebuah perusahaan.

Dalam dunia digital, segala sesuatu bisa terjadi dalam satu juta mil perjam. Konsumen sudah terbiasa mendapatkan informasi yang mereka butuhkan secara cepat. Hal ini menunjukkan bahwa lambat laun strategi pemasaran konvensional semakin ditinggalkan. Konsumen lebih memilih menjadi aktor penting dalam pemasaran digital. Maka sudah sepatutnya, Indonesia harus menjawab kebutuhan halal tourism. Indonesia harus dapat memanfaatkan momentum pemasaran digital untuk melakukan ekspansi yang jauh lebih besar dari saat ini dicapai. Ketika semua proses sudah dijalankan dengan baik, maka Indonesia akan mudah menggaet Muslim traveler untuk menikmati produk halal tourism yang menjadi salah satu produk dalam industri pariwisata di Indonesia.

Dalam menjalakan strategi digital marketing communication (Mahfud Achyar, 2013), ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:

1. Digital Marketing Planning Framework – A Defining Participants Print & Goals

Tahapan “A Defining Participant & Goals” berguna untuk menangkap esensi dari sekelompok orang yang terdiri dari konsumen. Elemen-elemen kunci dari Participant Print yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia untuk memetakan potensi pasar halal tourism.

2. Digital Marketing Planning Framework – Creating Your Digital Platform

Digital Platform Proposition bertujuan untuk menjalin dan mengikat hubungan harmonis antara Kementerian Pariwisata dengan konsumennya dalam aktivitas keseharian. Kemenpar RI secara otomatis harus memberikan informasi-informasi berkaitan potensi halal tourism di Indonesia dan produk-produk yang dimiliki kepada konsumen.

3. Digital Marketing Planning Framework – Generating Awareness and Influence

Pada tahap ini, langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh Kemenpar RI adalah membangkitkan kesadaran dan pengaruh konsumen terhadap brand halal tourism. “Decisions at this stage include selecting your digital media and sponsorship options, developing a search marketing strategy, and integrating offline marketing activities with your Digimarketing activities.” Pemerintah harus merencanakan proses sehingga dapat menjawab pertanyaan, “How will people know about I’ve created?”

4. Digital Marketing Planning Framework – Hernessing Data, Analytic, and Optimization

Bagian ini membahas tentang pentingnya persoalan data dan disiplin analisis dari sudut pemasaran secara langsung. Dalam dunia pemasaran digital, data menjadi hal yang sangat penting dan krusial. Dengan datalah, para penggiat dunia marketing digital dapat mengeluarkan strategi-strategi yang pamungkas dan tepat sasaran. Oleh sebab itu, sudah semestinya perencanaan data yang akurat, detail, dan rinci menjadi hal pokok yang harus dipenuhi dalam DigiMarketing.

5. Social Media and Online Consumer Engagement – Engaging Online Consumer on Social Media

Pada bagian ini membahas tentang keterlibatan konsumen online dan media sosial.

6. Online Public Relations and Reputation Management

Pada bagian ini membahas tentang manajemen reputasi dan hubungan masyarakat online dalam komunikasi pemasaran digital. Dalam digital marketing communication, internet memiliki pengaruh yang luar biasa hebatnya. Suka atau tidak, internet merupakan salah satu alat opini yang paling kuat memberikan efek yang cepat. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia yang mulai fokus menggarap digital marketing communication, Kemenpar RI harus conncern mengelola hubungan yang baik dengan Muslim traveler.

7. Affiliate Marketing and Stategic Partnership

Bagian ini membahas afiliasi pemasaran dan pentingnya kerja sama strategis dalam komunikasi pemasaran digital.

8. Digital Mobil Platform and Marketing

Bagian ini membahas dasar komunikasi pemasaran berbasis digital dan dinamis (bergerak).

9. Game (Gamification) and Marketing

Bagian ini membahas tentang gamifikasi pemasaran digital melalui media baru.

Digital Media Planning, Campaign Return of Investment (ROI), Marketing Analysis, and Reporting
Bagian ini membahas tentang bagaimana menyusun perencanaan dalam media digital untuk komunikasi pemasaran; menghitung return of investment dalam kampanye digital; dan menganalisis serta melaporkan komunikasi pemasaran digital.

Dave Chaffey (2015) mengidentifikasi setidaknya ada enam tipe digital marketing communication yang dapat dimanfaatkan untuk menggaet pasar untuk membeli produk atau menggunakan jasa yang dipasarkan.

Types of Digital Media Communication Channels
Types of Digital Media Communication Channels

Lebih lanjut, agar Muslim traveler tertarik dengan brand halal tourism, Kemenpar RI harus mulai mengubah pola pendekatan kepada pasar yang mulanya customer path hanya 4A (Aware, Attitude, Act, dan Act Again), sekarang menjadi 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate). Perubahan tersebut terjadi karena konsumen masa kini sudah tidak bisa fokus terhadap dirinya sendiri. Sehingga, pembelian pun bukan semata-mata adalah kehendak pribadi, melainkan menjelma sebagai keputusan bersama. (Marketeers edisi Februari 2015, hal 12).

Chief Knowledge MarkPlus, Inc. Iwan Setiawan dalam (Marketeers edisi Februari 2015, hal 12) mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan perubahan tersebut adalah fenomena internet dan gadget yang telah memengaruhi kehidupan banyak orang. Iwan menyebutkan bahwa seseorang membuka kunci layar ponselnya setiap dua menit. Hal itu membuktikan, kehadiran gadget dapat membuat seseorang menjadi tidak fokus. Kondisi demikian menjadikan pola customer path berubah menjadi 5A, bisa dikatakan Aware, Appeal, Ask merupakan input, sedangkan Act dan Advocate adalah output dari suatu proses operasional pemasaran.

Menurut Sapta Nirwandar, hal utama yang harus dilakukan oleh para pemain industri halal tourism adalah membuat penawaran dan pilihan. Untuk travel agent, sediakan guide yang memahami tujuan dari wisata halal, interpretasi dari destinasi-destinasinya, yang dapat memperkaya pembelajaran. Fasilitas harus semakin serius diusahakan. “Kalau takut dengan tidak adanya pasar, penerapan halal tourism ini justru menguntungkan. Banyak sekali orang yang mencari dan menjadi pasar yang menjanjikan karena ada segmennya sendiri. Ironis sekali melihat masyarakat Indonesia tidak confidence dengan wisata halal. Masyarakat harus memiliki persepsi positif. Ini tidak terbatas hanya untuk umat Muslim melainkan sifatnya universal,” kata Sapta. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 150).

Apabila Indonesia sudah optimal memanfaatkan strategi digital marketing communication dalam membangun dan memperkuat brand halal touris, hal ini akan sangat menguntungkan sebab dapat memperluas pasar industri pariwisata di Indonesia. Segmentasi khusus untuk pasar halal tourism yaitu Muslim traveler yang tersebar di berbagai negara di penjuru dunia. Setidaknya ada 1,6 miliar Muslim di dunia dengan potensi US$ 140 miliar. Jika Indonesia sukses membangun dan mengembangkan brand halal tourism, tentunya akan memberikan efek positif untuk devisa negara dari sektor pariwisata.

Menurut hemat penulis, strategi digital marketing communication sangatlah tepat apabila ingin mempromosikan brand halal tourism di kancah dunia. Hal ini juga sejalan dengan misi pemerintah melalui Kemenpar RI untuk meningkatkan promosi pariwisata dalam meraup wisatawan sebanyak-banyaknya, terutama kalangan wisata mancanegara pada tahun 2015 adalah e-tourism. Langkah ini terbilang berani dan efektif terutama pada era teknologi seperti ini.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sarana digital menjadi sarana promosi yang baik. Secara biaya tentu jauh lebih murah apabila dibandingkan promosi dengan cara konvensional. E-tourism ini tidak hanya sekadar jargon atau angan-angan saja. Kemenpar sudah mempersiapkan beberapa aktivitas. Setidaknya sudah ada tujuh layanan berbasis teknologi yang berkaitan dengan promosi wisata secara digital. Di antaranya, Portal Pariwisata yang terintegarasi (hi-indonesia.com), Wonderful TV (WOI TV), mobile application (Hi Bali), Digital Photo Bank, Sinema Online, dan Sinema Digital, www.indonesafilm.net, dan apresiasi terhadap para travel blogger 2015. (Majalah Marketeers edisi April 2015, hal 58).

Referensi:

Achyar, Mahfud. (2014). Strategi Digital Marketing Communcation EIGER. Jakarta: Paramadina Graduate School.

Bachdar, Saviq. (2015). Menjadi Brand yang Diadvokasi. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi Februari.

Chaffey, Dave. (2015). Difinitions of E-Marketing Versus Internet Vs Digital Marketing. [Online] visit site: http://www.smartinsights.com/digital-marketing-strategy/online-marketing-mix/definitions-of-emarketing-vs-internet-vs-digital-marketing/ (diakses pada tanggal 24 Juni 2015).

Nirwandar, Sapta. (2015). Halal Tourism, Kenapa Kita Harus Takut? Jakarta: Majalah Marketeers Edisi Juni.

Triwijanarko, Ramadhan (2015). Andalkan Strategi Digital dan Pesona Indonesia, Kemenpar Kerek Jumlah Wisman. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi April.

Wijayani, Septi. (2015). Tingkatkan Pasar Produk Halal dengan Halal Supply Chain Management. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi April.

_________. (2014). Pemasaran Digital. [Online] visit site:

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran_digital (diakses pada tanggal 24 Juni 2015).

Jonggol: Antara Sony Wakwaw dan Gunung Batu

Oleh: Mahfud Achyar

Pernah mendengar Jonggol sebelumnya? Saya pernah! Namun dulu saya tidak tahu secara persis di mana titik koordinat Jonggol di peta. Namun beberapa tempo ke belakang, nama Jonggol kian tenar berkat dipopulerkan oleh seorang aktor pendatang baru Sony Wakwaw yang sering berseliweran di layar kaca Indonesia. Ia kerap kali berguyon, “Bapak mana, bapak mana? Jonggol!”

Ulah guyonan Sony Wakwaw, nama Jonggol mulai akrab di telinga masyarakat Indonesia. Banyak orang yang kemudian mencari nama Jonggol melalui mesin pencari di internet. Mereka penasaran seperti apa itu Jonggol, apa saja yang bisa dijumpai di sana, dan bagaimana caranya bisa ke Jonggol. Barangkali karena rasa penasaran yang membuncah, akhirnya terkuaklah bahwa ada mutiara alam yang tersembunyi di Jonggol yaitu gunung Batu.

Bagi yang belum mengenal Jonggol, saya sampaikan sedikit informasi mengenai daerah ini. Menurut telusuran saya di Wikipedia, Jonggol adalah sebuah kecamatan di kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jonggol merupakan kecamatan yang dikenal dengan wilayah penghasil buah rambutan dan juga durian. Selain unggul dalam hasil perkebunan, ternyata Jonggol juga memiliki objek wisata gunung Batu yang takkalah aduhai. Bahkan salah satu situs travel mengatakan pemandangan di gunung Batu seolah membawa kita negeri di paling selatan bumi, yaitu New Zealand. Agaknya mungkin majas metafora yang ditulis pada situs itu agak berlebihan. Namun bisa jadi demikianlah yang memang rasakan penulisnya. Lagi-lagi penilaian bersifat relatif, tidak mutlak.

Gunung Batu. Photo taken by: Mahfud Achyar
Gunung Batu.
Photo taken by: Mahfud Achyar

Bagi Anda yang ingin mendaki gunung, namun masih ragu untuk mendaki gunung yang tinggi, rasanya pilihan mendaki gunung Batu adalah yang paling tepat. Mengapa? Sebab gunung ini (saya sendiri masih risih menggunakan istilah gunung karena lebih tepat disebut bukit) hanya memiliki ketinggian sekitar 875 meter dari permukaan laut. Selain itu, lokasi gunung Batu mudah diakses apalagi bagi Anda yang tinggal di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).

Dari Jakarta, perjalanan menuju gunung Batu sekitar 2,5 jam dengan jarak sekitar 55 kilometer. Anda bisa ke sana menggunakan sepeda motor dan mobil. Namun bagi Anda yang senang konfoi, menggunakan sepeda motor lebih disarankan. Untuk sampai di gunung Batu, Anda akan melewati Cibubur, Cileungis, Jonggol, Mengker, dan Gunung Batu. Ketika tiba di Mengker, Anda bisa belok kanan dan terus mengikuti jalan yang ke arah gunung Batu. Bila Anda sangsi, Anda dapat menggunakan GPS (Gunakan Penduduk Sekitar) untuk sekadar bertanya dan berkomunikasi dengan penduduk lokal. Sebetulnya lokasi gunung Batu bukanlah di Jonggol, melainkan di kampung Gunung Batu 01, desa Sukaharja, kecamatan Sukamakmur, Bogor. Saya sendiri kurang tahu mengapa banyak orang yang mengatakan bahwa gunung Batu itu di Jonggol. Jadi? (Hanya bisa mengangkat bahu).

Tiba di lokasi, Anda akan disambut oleh beberapa petugas parkir yang setia menunggu kedatangan para hikers. Untuk biaya parkir sepeda motor dikenakan sebesar 10ribu dan bila Anda ingin kemping maka parkir motor dikenakan 20ribu permalamnya. Relatif cukup murah, kan?

Pemandangan Gunung Batu dari Puncak. Photo taken by: Mahfud Achyar
Pemandangan Gunung Batu dari Puncak. Photo taken by: Mahfud Achyar

Gunung Batu memang tidak begitu tinggi. Namun jangan sampai kita bersikap abai dan meremehkan keselamatan. Kita tetap perlu stretching dan berdoa sebelum memulai pendakian. Berharap semoga kita senantiasa dijaga oleh Sang Pemilik Semesta.

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk sampai di puncak? Kira-kira 1 jam. Namun bisa cepat dan lambat bergantung kita. Jika lebih banyak foto-foto atau istirahat mungkin akan memakan waktu lebih lama. Jika kecepatan menanjak ditambah, tentu akan lebih cepat mencapai puncak. Sebetulnya bukan persoalan cepat atau lambat kita mendaki, namun bagaimana kita menikmati proses pendakian itu.

Kita perlu menikmati panaroma gunung Batu yang hijau dan indah, menghirup dalam-dalam udara yang segar, dan tentunya berhati dalam setiap langkah. Apalagi medan menuju puncak cukup berbahaya. Kita dihadapkan dengan tanjakan yang cukup terjal, bebatuan, jalan yang sempit, dan begitu banyak orang. Untuk mencapai puncak saja kita harus mengantri. Maklum karena jalan yang sempit, gunung yang takluas itu disesaki para pendaki. Jadi harus ekstra hati-hati dan sabar.

Saya bersama teman-teman saya ke sana pada tanggal 1 Mei 2015 lalu. Niat kami ke gunung Batu sebetulnya dalam rangka latihan fisik untuk persiapan ke gunung Rinjani pada tanggal 13 hingga 17 Mei 2015. Sebelumnya beberapa di antara kami sudah melakukan pendakian pemanasan ke gunung Papandayan dan ke gunung Gede (batal karena kuota sudah penuh). Mau tidak mau gunung Batu menjadi alternatif untuk latihan fisik kami. Menurut saya sendiri, mendaki gunung Batu cukup membuat otot-otot bekerja dan membuat tubuh terasa lebih fit.\

Di atas puncak, kita dapat menyaksikan anak-anak manusia yang tertawa bahagia sembari mengabadikan momen-momen bersama sahabat dengan ragam kamera: ponsel, poket, pro, dan DSLR. Semua tampak ceria dalam balutan suasana suka cita. Demi mendapatkan foto terbaik, takjarang juga ada pendaki yang selfie di pinggir jurang yang berbahaya. Saya sempat miris melihatnya. Bukan karena saya tidak berani. Namun saya tidak ingin mati konyol, terpeleset jatuh ke jurang. Puncak gunung Batu sama sekali belum diberi tanda peringatan atau tanda keamanan lainnya. Jadi wajar banyak pendaki yang berbuat sesuka hati. Lagi-lagi seharusnya kita mampu bersikap bijak di alam terbuka.

Selfie di tepi tebing
Selfie di tepi tebing

Gunung Batu indah. Sejauh mata memandang kita akan dimanjakan dengan hamparan reremputan yang hijau. Jika mata kita cermat, kita bisa melihat sungai yang mengalir dan perkebunan yang digarap begitu rapi. Bagi Anda yang ingin kabur dari kepenatan ibu kota, gunung Batu selalu terbuka menerima Anda. Selamat bertualang!

Sepasang Kepik.  Photo taken by: Mahfud Achyar
Sepasang Kepik.
Photo taken by: Mahfud Achyar

Stone Garden, Tawarkan Pesona Bandung Zaman Purba

Oleh: Mahfud Achyar

Stone Garden, Padalarang, West Java. Mahfud Achyar's photo.
Stone Garden, Padalarang, West Java. Mahfud Achyar’s photo.

Bandung takmelulu diidentik dengan aneka kuliner yang mengundang selera, wisata fesyen yang ternama, atau mungkin taman kota yang tertata. Bagi Anda yang bosan dengan wisata di Bandung yang itu-itu saja, kini ada baiknya Anda mulai mencari destinasi wisata yang takbiasa.

Salah destinasi wisata di Bandung yang ramai menjadi perbincangan para netizen di media sosial yaitu Stone Garden. Memang, lokasi Stone Garden tidak persis berada di pusat kota Bandung melainkan berada di Padalarang Kabupaten Bandung Barat. Bagi Anda yang terbiasa ke Bandung, tentu sudah tidak asing lagi mendengar nama daerah tersebut. Sebelum kita mengenal lebih jauh tentang Stone Garden, ada baiknya kita perlu mengetahui sekilas tentang asal-usul Bandung. Ada yang sudah tahu?

Menurut catatan para geologi, kawasan Bandung dan sekitarnya bisa diibaratkan mangkuk bentukan bumi ratusan ribu tahun lalu. Bentangan alam itu terbiasa disebut Cekungan Bandung yang berbentuk elips dengan arah timur tenggara-barat laut, dimulai dari Nagreg di sebelah timur hingga ke Padalarang di sebelah barat. Jarak horizontal cekungan sekitar 60 kilometer. Ada pun jarak utara-selatan sekitar 40 kilometer. Cekungan Bandung dikelilingi oleh jajaran kerucut gunung api berumur kuarter. Hanya bagian barat Cekungan Bandung yang dibatasi batuan berumur tersier dan batu gamping. (Kompas.com, 12 April 2012).

Bukti yang menguatkan bahwa Bandung merupakan danau kaldera purba dapat dilihat di Padalarang. Di sana, kita dapat menjumpai kars (batu kapur) pada zaman miosen awal (23-17 juta tahun lalu). Van Bemmelen (1935), seorang ahli geologi dari Belanda, menjelaskan bahwa dulu daerah Bandung utara merupakan laut. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya ditemukan fosil koral yang membentuk terumbu karang sepanjang punggungan bukit Rajamandala. Sekarang, terumbu karang tersebut menjadi batu kapur dan ditambang sebagai marmer yang berpolakan fauna purba di daerah Padalarang. (Pikiran Rakyat, 21 Maret 2004).

Stone Garden sendiri merupakan bukti yang masih tersisa tentang Bandung purba yang layak untuk Anda kunjungi. Untuk mencapai lokasi Stone Garden tidaklah sulit. Wisata eksotis ini berada di puncak Gunung Pawon persisnya di Kampung Girimulya, Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Anda dapat ke sana dengan menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua. Sesampai di sana, Anda harus mengeluarkan kocek yang sangat terjangkau yaitu sebesar 5.500 rupiah untuk harga tiket masuk. Setelah itu, Anda perlu hiking sejauh 1,5 km untuk berhasil mencapai puncak geowisata tersebut.

Saya sendiri pernah mengunjungi Stone Garden pada bulan Februari 2015 lalu. Saya begitu takjub dengan pemandangan di sana. Sejauh mata memandang, kita melihat tumpukan batu-batu besar yang tidak beraturan di antara reremputan yang hijau. Batu-batu tersebut seolah menyatu dan menjadi bagian dari bukit kars yang berwarna putih. Stone Garden sangat cocok bagi Anda yang menyukai wisata alam di atas bukit namun takperlu susah payah untuk menjangkaunya. Selain itu, sepasang mata Anda juga akan dimanjakan dengan pemandangan yang hijau, udara yang masih segar, serta Anda seolah kembali menyusuri lorong waktu menuju Bandung di zaman purba. Anda tertarik?

Finding the Hidden Paradise: Cikaniki Forest

Oleh: Mahfud Achyar

Canopy Trail, Cikaniki Forest
Canopy Trail, Cikaniki Forest

Cikaniki merupakan hutan hujan tropis yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (THGS), Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Hutan yang memiliki luas 113,000 hektare ini dinobatkan oleh Majalah Tempo sebagai satu dari “100 Surga Tersembunyi di Sekujur Nusantara” pada tahun 2013. Julukan tersebut rasanya memang pantas disandangkan untuk Cikaniki. Sebab, Cikaniki merupakan hutan yang dihuni oleh 500 spesies tumbuhan dan 200 spesies burung yang beraneka ragam dan langka. Selain itu, belum banyak wisatawan domestik yang mengetahui pesona memukau di balik tabir tersembunyi Cikaniki. Namun yang mengherankan justru wisatawan mancanegaralah yang lebih banyak dan sering berkunjung ke sana.

Pada tanggal 1 hingga 2 november 2014 lalu, saya bersama travelmates berkesempatan untuk menikmati oksigen segar yang diproduksi oleh hutan Cikaniki yang memiliki luas nyaris dua kali Jakarta. Sebagai penduduk urban yang terbiasa menghirup oksigen yang tidak sehat, liburan ke Cikaniki tentu merupakan liburan yang “mahal”. Kami berangkat dari Depok, Jawa Barat dengan menyewa bus elf pariwisata berkapasitas sekitar 15 orang. Tujuan utama kami adalah kampung Citalahab yang berada di jantung TNGHS.

Untuk menuju kampung Citalahab, perjalanan ditempuh sekitar 5 jam. Namun durasi perjalanan bisa lebih lama apabila jalanan macet, terlebih jika berpergian pada hari libur. Untuk mengusik rasa bosan selama perjalanan, barangkali bisa diisi dengan main games, ngobrol, menikmati pemandangan, atau mungkin bisa juga tidur. Namun jangan sampai melewati momen epic ketika memasuki gerbang THGS. Anda akan disuguhi dengan pemandangan yang memanjakan mata. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan kebun teh yang ditanam dengan begitu rapi. Perkebunan teh yang memiliki luas 900 hektar tersebut sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Kabut tipis pun terlihat menutupi beberapa bagian kebun teh. Hal tersebut menambah kesyahduan dan rasa damai yang menyeruak seketika dari dalam hati.

Jalan yang dilewati hanya bisa dilalui oleh dua mobil berukuran sedang. Jalan tersebut belum beraspal, berwarna coklat tua, dan masih berbatu. Takheran bila sesekali kendaraan yang kita tumpangi bergoncang ke kiri dan ke kanan. Kita seolah sedang menaiki wahana permainan yang membuat tertawa dan deg-degan. Namun menikmati perjalanan adalah hal penting yang harus kita pilih. Sekitar 30 menit dari gerbang TNGHS, kita pun tiba di kampung Citalahab yang dihuni sekitar 60 orang (dewasa dan anak-anak).

Kampun Citalahab berada pada ketinggian 1.070 meter di atas permukaan laut. Bisa dikatakan kampung Citalahab adalah desa tersembunyi di kaki gunung Halimun-Salak. Masyarakat Citalahab menjadikan rumah-rumah mereka sebagai guest house bagi para wisatawan. Kondisi demikian membuat kita dapat berinteraksi lebih dekat dengan para warga. Rumah-rumah panggung yang sederhana seolah memberikan kesan back to village kepadapara pengunjung. Kita pun bisa leluasa menikmati pemandangan berupa air terjun, sungai jernih, sawah, dan aneka tanaman tropis. Hal-hal menarik di Citalahab dapat dengan mudah dijangkau dengan berjalan kaki.

Hutan Cikaniki Sebagai Kawasan Konservasi

Hutan Cikaniki dijadikan sebagai kawasan konservasi yang bekerjasama dengan Lembaga Kerjasama Internasional Jepang (JICA). Bisa dikatakan Cikaniki adalah laboraturium hidup bagi para peneliti untuk meneliti berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi seperti elang jawa, macan tutul jawa, hewan primata, dan sebagainya. Seperti kebanyakan hujan tropis, hutan Cikaniki hampir setiap hari diguyur hujan terutama pada bulan Oktober hingga April.

Dulu, hutan Cikaniki hanya diperuntukkan untuk penelitian. Namun kini juga dibuka untuk para wisatawan. Ada beberapa objek wisata menarik yang dapat ditemukan di kawasan hutan Cikaniki seperti curug macan, loop trail (jalur interpretasi) sepanjang 1,8 km, canopy trail (jembatan tajuk) yang menghubungkan antara pepohonan sepanjang 100 m, dan glow mushroom (jamur bercahaya).

Glowing Mushroom
Glowing Mushroom

Namun menurut saya pribadi, keberadaan glowing mushroom adalah yang paling menarik dari hutan Cikaniki. Di Indonesia sendiri, glowing mushroom hanya tumbuh tujuh tempat yaitu di Taman Nasional Halimun-Salak, Jawa Barat; Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok; Gunung Meja, Manokwari; Taman Nasional Gunung Paling, Kalimantan Barat; Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh; Taman Nasional Gunung Kerinci, Jambi; dan Taman Nasional Tanjung Putih, Kalimantan Tengah.

Glowing mushroom di Cikaniki dapat dijumpai pada malam hari. Untuk melihat secara langsung glowing mushroom harus didampingi petugas stasiun Cikaniki, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak untuk faktor keselamatan. Jamur ini sendiri memiliki nama latin Mycena luxaeterna yang merupakan spesies jamur keluarga Mycenaceae. Lantas mengapa jamur ini dapat bercahaya? Glowing mushrooms dapat bercahaya karena mengandung zat Fosfor yang memancarkan sinar pigmen sehingga menimbulkan cahaya hijau. Selain menyaksikan keajaiban glowing mushroom, Anda juga akan takjub dengan cahaya- berpendar dari kunang-kunang.

Jika Anda bosan dengan objek wisata yang biasa-biasa saja, alangkah baiknya jika Anda merencanakan liburan ke Cikaniki. Selamat liburan!

 

Aku Jatuh Cinta Padamu, Prau!

Aku semakin yakin bahwa semua doa-doaku yang pernah aku minta pada Tuhan selalu dikabulkan. Mungkin besok, lusa, tahun depan, atau mungkin beberapa tahun lagi. Dan tahun ini, aku menjadi saksi atas kuasa Tuhan. Salah satu mimpiku saat di kampus terkabul sudah. Masih lekat dibenakku, pada tahun 2008, aku dan teman-temanku berencana liburan ke Dieng Plateu, Jawa Tengah. Saat itu, aku dan teman-temanku sesama pengurus BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) begitu antusias untuk bertualang ke Dieng.

Menurut pandangan kami, Dieng adalah salah satu tempat terbaik di Indonesia yang harus dikunjungi. Kami pun mencari informasi tentang Dieng dengan berselancar di internet. Memandangi foto-foto keindahan alam Dieng yang diabadikan oleh para travelers. Kami berdecak kagum. Sejak saat itu juga harus aku akui bahwa kami jatuh cinta pada Dieng. Namun rasa cintaku terhadap Dieng tidak tersampaikan. Seperti seorang pujangga yang hanya bisa memuja sang terkasih tanpa yakin akan memilikinya. Saat itu kami hanya bisa membuat rencana. Sebatas rencana. Pada akhirnya kami harus mengulum senyum hambar karena rencana kami ke Dieng batal! Maklum, sebagai aktivis BEM kami lumayan disibukkan dengan program-program yang harus dijalankan hingga akhir kepengurusan.

Kendati rencana kami gagal total. Aku pribadi tidak lantas membuang mimpiku untuk pergi ke Dieng. Dalam hati penuh takzim, aku berdoa dan berharap, semoga suatu saat aku bisa ke sana. Ya Dieng! Sebuah negeri yang konon kata orang merupakan negeri tempat istirahatnya para dewa.

Enam tahun berlalu begitu cepat. Sejak tahun 2008 hingga tahun 2014, sebetulnya aku masih terobsesi untuk pergi ke Dieng. Kadang aku memikirkan Dieng pada beberapa kesempatan, kadang aku sama sekali tidak peduli. Namun siapa sangka penantianku tidak berakhir sia-sia. Tuhan memberikanku kesempatan untuk pergi ke Dieng pada waktu yang tepat dan yang paling penting bersama sahabat-sahabat yang menyenangkan.

Jatinangor, 21 Juni 2014

Gongratulations, bro! Tepat hari Jumat, 21 Juni 2014 sahabat kami bernama Dwi Cahyo Akbar secara resmi menyandang gelar sarjana. Kami bangga dengan perjuangan hebatmu, bro! Oke, untuk merayakan kelulusan teman kami, akhirnya kami pun bersepakat untuk merayakannya di salah satu puncak gunung terindah di jawa yaitu Gunung Prau! Gunung yang terkenal dengan puncak-puncaknya indah, golden sunrise, hamparan padang rumput savana yang luas, dan melihat lebih dekat si kembar Sumbing dan Sindoro. Lebih mengagumkan lagi, Gunung Prau terletak di Dieng Pleteu yang masuk wilayah Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Achievement unlocked! Artinya mimpiku pada tahun 2008 terkabulkan. Dan ini di luar dugaanku. Siapa sangka saat aku tidak terlalu memikirkan Dieng, justru takdir membawaku dan sahabat-sahabat baikku untuk mengenal lebih dekat Dieng.

Bandung, 22 Juni 2014

Di terminal bus Cicaheum Bandung, aku dan lima sahabatku yaitu Cahyo, Abah, Ella, Ai, dan Nurida sudah sangat siap untuk berangkat ke Wonosobo. Masing-masing kami membawa tas carrier dan day pack yang berisi bekal dan persiapan untuk mendaki Gunung Prau.

Sore merangkak senja, senja pun merangkak malam. Langit kota Bandung terlihat mulai gelap. Aku pun menengok jam tangan untuk memastikan bahwa kami masih punya kesempatan untuk makan malam. Sebab perjalanan menuju Wonosobo tidaklah sebentar. Kami akan Kami akan menghabiskan malam yang panjang di bis sekitar 10 jam. Abah pun segera membeli karcis di loket khusus bus Po. Sinar Jaya dengan merogoh kocek sebesar 75ribu. Untungnya Abah sudah reservasi karcis terlebih dahulu. Jika tidak, kami tidak akan kebagian kursi. Paling parah kami tidak bisa berangkat pada malam itu.

Oya, jumlah tim kami totalnya adalah 7 orang. Namun dua orang sahabat kami tidak berangkat bersama dari Bandung. Kang Hassan berangkat dari terminal Rawamangun Jakarta dan Riyan berangkat dari Yogyakarta. Namun kami sudah janjian untuk bertemu pada hari Minggu pagi tanggal 23 Juni 2014 di terminal Mendolo, Wonosobo.

Perjalanan malam yang cukup panjang pun dimulai. Aku pernah dengar bahwa waktu yang terbaik untuk berpergian adalah malam hari. Sebab pada malam hari, jarak perjalanan seolah semakin pendek. Barangkali karena kita bisa tidur dan ketika kita bangun kita sudah sampai pada tujuan kita. Namun bagiku, perjalanan malam sayang sekali jika dihabiskan hanya untuk tidur. Aku dan sahabat-sahabatku sudah tidak sesering dulu bertemu di kampus. Sejak kami lulus kuliah, kami sibuk dengan aktifitas masing-masing. Sebetulnya lumayan sering berkomunikasi melalui media sosial, namun jarang bertemu langsung untuk sekadar berbincang-bincang dan bergurau.

Malam itu, kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu kami bersama. Kami pun bermain tebak-tebakkan konyol yang katanya games anak psikologi, bernyanyi saling bersaut-sautan, tertawa, saling meledek, dan bertepuk tangan. Jika mengingat momen itu, saya jadi tertawa sendiri. Seolah kita sebagai anak-anak manusia yang enggan menjadi dewasa.

Mata mulai terasa berat. Rasa kantuk tidak tertahankan. Kami pun tidur. Menjelajah dimensi lain yang tidak kami ketahui satu sama lainnya.

Wonosobo, 23 Juni 2014

Sekitar pukul 05.00 WIB, kami tiba di terminal Mendolo, Wonosobo. Menurutku, terminal Mendolo cukup rapi dan bersih. Jauh berbeda dibandingkan terminal di Jakarta atau pun Bandung. Selain Itu, udara pagi di Wonosobo juga menyegarkan paru-paru. Maklum, di Jakarta setiap hari aku terbiasa menghirup udara yang sudah terkontaminasi polusi. Angin dingin pun berhembus dan berlari-larian kecil di atas kulit sehingga membuat tubuhku sesekali menggigil. Yep, sekilas Itulah first impression-ku ketika menginjakkan Wonosobo untuk pertama kalinya.

Selanjutnya kami pun bergegas mencari masjid untuk sholat Subuh. Tidak jauh kami melangkah, kami pun menemukan sebuah masjid. Kami pun bergegas untuk sholat Subuh, personal hygine, dan menunggu dua sahabat kami yaitu Kang Hassan dan Riyan. Selang beberapa menit, Kang Hassan pun datang. Sementara Riyan baru tiba di Wonosobo sekitar pukul 09.00 WIB.

Sembari menunggu Riyan, kami pun repacking yang dibantu oleh Cahyo. Maklum, jam terbang Cahyo dalam hal per-packing-an sudah tidak diragukan lagi. Menurutnya, prinsip utama dalam packing adalah, jangan membiarkan ada ruang tersisa sehingga menjadi celah untuk udara masuk. Sebab jika masih ada ruang sisa, beban terasa lebih berat. Dia menambahkan, barang yang kita bawa sebetulnya bisa menjadi ringan asalkan kita telaten ketika packing. Kami pun hanya bisa angguk-angguk kepala, kendati kami tidak mengerti sepenuhnya apa yang disampaikan Cahyo. Hehe.

Urusan packing kami serahkan seutuhnya kepada Cahyo. Beberapa orang di antara kami yaitu Kang Hassan, Nurida, Ella, Ai, dan aku pun mendapat mandat mulia untuk ke pasar tradisional guna membeli perbekalan selama di gunung. Horray! Markipas, mari kita ke pasar.

Well, all my bags are paked!

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang. Riyan melempar senyum kepada kami. Kita pun saling berkenalan, berbincang-bincang ringan, dan tanpa mengulur waktu kami pun siap menjelajah alam Dieng yang indah dan permai.

Our long journey start here.

Untuk sampai ke Dieng, kita bisa menumpang elf dengan membayar ongkos sekitar 15ribu per orang. Pada hari itu, nampaknya hanya kami yang berstatus pelancong di dalam elf. Sisanya adalah warga lokal asli Wonosobo. Di antara mereka ada yang membawa sayur-sayuran dan membawa bahan pangan. Sepanjang perjalanan menuju Dieng, tolong jangan tidur. Tolong sekali! Sebab pemandangan di sisi kiri dan kanan sungguh indah.

Aneka sayuran berwarna hijau seperti daun bawang, kangkung, dan sawi terhampar luas berbentuk persegi empat yang teratur. Sementara itu, pada tanah yang lereng dibuat sengkedan berjenjang-jenjang yang ditumbuhi tanaman tumpang sari. Tanah di negeri Dieng sangatlah subur. Aduhai, asyik sekali sepertinya menjadi masyarakat Dieng. Rumah-rumah mereka berjejer rapi. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah hijau, hijau, dan hijau. Betapa tergila-gilanya aku pada warna itu. Mungkin benar kata orang, Indonesia ini tanahnya syurga. Untuk itu, sudah semestinya kita menjaga anugrah Tuhan yang takternilai harganya.

Elf melaju dengan kecepatan yang stabil, melewati jalan-jalan yang berkelok, dan menanjak semakin tinggi. Setengah jam berlalu, kami pun tiba di Dieng. Oya, sebagai informasi, jalur menuju puncak Gunung Prau ada dua, yaitu dari Patak Banteng dan Dieng. Dan kami memilih jalur Dieng. Menurut Cahyo, hiking melalui Dieng lebih santai dan pemandangannya pun lebih bagus. Aku sendiri kurang tahu persis sebab belum pernah hiking melalui Patak Banteng. Namun, Ella yang sebulan lalu kembali ke Prau via jalur Patak Banteng mengakui bahwa pemandangan via Dieng jauh lebih keren.

 

Jalur pendakian menuju Gunung Prau via Dieng
Jalur pendakian menuju Gunung Prau via Dieng

Kami mulai pendakian sekitar pukul 13.00 WIB. Jujur kuakui bahwa pemandangan sepanjang jalan menuju puncak Prau: PERFECT! Bayangkan, kami berjalan perlahan di atas jalan bebatuan yang tersusun rapi, menghirup oksigen yang segar, menikmati pemandangan desa yang damai, dan bibir kita takhenti-hentinya takjub dengan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna. Berlebihankah aku memujinya? Tentu tidak. Aku rasa itu deskripsi yang tepat menggambarkan keelokkan alam Dieng.

Rasa lelah sepanjang pendakian seolah takada artinya. Sebab kami selalu disuguhi hal-hal yang mengesankan: kanopi dari jejeran pohon pinus serta kabut tipis yang tiba-tiba datang dan pergi karena tiupan angin. Selain itu, sahabat kami Ai juga menjelaskan beberapa jenis tanaman yang tidak kami ketahui nama dan jenisnya. Sebagai seorang mahasiswa magister Biologi, jelas Ai menguasai hal-hal tersebut dibandingkan kami. Jadi bisa dikatakan perjalanan kami tidak hanya sebatas yang indah-indah saja, tapi ada pengetahuan baru yang kami dapatkan. Oh ya! Taksonomi nama ilmunya. Dalam Biologi, taksonomi ilmu yang mempelajari penggolongan atau sistematika makhluk hidup (termasuk tumbuhan). Sistem yang dipakai adalah penamaan dengan dua sebutan yang dikenal sebagai tata nama binomial atau binomial nomenclature.

Beberapa meter melangkah, kemudian berhenti. Bukan hanya karena kami lelah, tapi kami tidak ingin menyia-nyiakan momen yang kami lihat dengan mengabadikannya dengan kamera yang kami bawa. Semakin kami jauh berjalan, semakin kami lebih mengenal satu sama lainnya. Kendati sering berpergian bersama, ada saja hal-hal baru yang kami pahami dari karakter masing-masing. Berbeda, ya kami berbeda. Tapi bukankah perbedaan itu anugrah yang membuat kita semestinya lebih mengerti satu sama lainnya.

Cukup jauh berjalan, kaki mulai terasa berat untuk melangkah. Kami pun memutuskan untuk berhenti sejenak. Menikmati keindahan penaroma Dieng dari ketinggian.

“Hai teman-teman! Lihat di bawah sana ada telaga warna,” Ella bersorak.

Kami pun bergegas menuju tempat Ella. Penasaran ingin melihat apa yang Ella lihat. Yep, mengangumkan! Telaga warna terlihat sangat jelas kendati pada jarak yang terbentang sangat jauh. Kami dengan leluasa berputar 180 derajat untuk melihat pemandangan yang kami suka tanpa ada satu pun yang menghalangi bola mata kami. Burung-burung terbang di atas cakrawala. Mereka bergerombol menuju suatu tempat yang tidak kami ketahui. Mereka adalah sang petualang. Begitu juga dengan kami.

 

Telaga Warna dari Gunung Prau
Telaga Warna dari Gunung Prau

 

Setelah cukup puas istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Puncak Prau sudah terlihat. Aku agak sedikit de javu, merasa sudah pernah ke sini sebelumnya. Aku bingung dengan kerja otak.

“Ini kaya dimana ya?”

“Mirip kaya di Puntang, Ach!” balas Nurida.

“Oya bener mirip.”

Sore itu adalah salah sore terbaik dalam hidupku. Merasakan hidup sebagai manusia petualang seperti yang aku impikan sedari kecil. Padang savana yang terhampar luas. Sangat luas. Savana tersebut dipercantik karena tumbuh bunga kecil berwarna kuning, putih, dan ungu. Seperti bunga matahari tapi dalam ukuran yang lebih kecil. Kata Cahyo, nama bunga itu adalah bunga Daisy yang merupakan keluarga asteraceae sama seperti bunga aster. Belakangan aku mencari informasi lebih detil mengenai bunga Daisy. Aku baru tahu bahwa bunga Daisy memiliki filosofi yang melambangkan kerendahan hati, kestabilan, suci, simpati, dan keceriaan. Beruntungnya kami bisa melihat bunga Daisy bermekaran yang menjadi pengiring kami menuju puncak. Ya, puncak Prau dengan ketinggian 2.565 meter dari permukaan laut adalah tujuan kami.

 

Bunga Daisy
Bunga Daisy

 

Sang mentari yang dari tadi menjadi lentera perjalanan kami perlahan mulai beranjak pergi menuju peraduannya. Kami pun semakin mempercepat langkah agar tiba di puncak sebelum matahari benar-benar hilang. Gunung Prau memang unik. Aku kira kita sudah tiba di puncak. Namun kata kang Hassan, itu belum puncaknya. Tiba di puncak lainnya namun tetap itu bukan puncak aslinya. Takheran jika puncak Gunung Prau dijuluki dengan puncak seribu bukit.

Sekitar pukul 17.15 WIB, akhirnya kami pun tiba di puncak asli Gunung Prau. Alhamdulillah. Rasa syukur membuncah dari hati. Abah dan Cahyo bertugas mendirikan tenda; aku, Kang Hassan, Riyan bertugas mencari kayu bakar untuk acara api unggun; Nurida, Ai, dan Ella menyiapkan air panas. Oya, kami belum sholat Dzuhur. Kami pun bergantian untuk sholat jamak qashar Dzuhur dan Ashar.

Udara dingin pegunungan mulai menusuk hingga ke tulang. Apalagi bagi kami yang memiliki tubuh kurus yang hanya memiliki sedikit bantalan lemak. Jaket, syal, dan kupluk pun dipasang. Tenda berdiri kokoh dan menghadap langsung ke arah si kembar, Sumbing dan Sindoro. Sayang saat itu, si kembar ditutupi awan yang tebal. Kami tidak bisa leluasa memandangi mereka. Namun beberapa menit kemudian, kami tiba-tiba angin berhembus. Awan tebal yang menyelimuti si kembar pun perlahan mulai hilang. Menjelang senja saat cakrawala berwarna merah jingga, Gunung Sumbing dan Sindoro seolah menyapa kami. Membuat hati kami riang gembira. Taklupa kami mengabadikan momen indah dengan berbagai pose yang penuh keceriaan.

Malam pun menyapa. Angin gunung pada malam memang kurang bersahabat. Berhembus cukup kencang. Udara terasa semakin dingin. Kami berharap tidak ada satu pun dari kami yang terkena hyporthermia. Kami mengusik dingin malam dengan memasak bersama. Agar tubuh terus bergerak. Lagian perut dari tadi sudah keroncongan. Tidak sabar rasanya untuk makan malam yang diracik secara khusus oleh koki handal Nurida, Ella, dan Ai.

Alhamdulillah kenyang. Makan malam yang sangat nikmat.

Makan malam sudah, sholat Maghrib dan Isya sudah, acaranya selanjutnya adalah menghangatkan diri dengan duduk melingkari api unggun. Riyan, mahasiswa magister Sejarah, berkisah banyak hal kepada kami. Tentu saja tentang sejarah. Dari dulu, aku sangat suka sejarah. Kami pun antusias bertanya mengenai ini dan itu kepada Riyan. Obrolan kami malam itu diakhiri dengan padamnya api unggun. Jam sudah menunjukkan sekitar pukul 10 malam. Kami pun memutuskan untuk masuk ke tenda. Barangkali obrolan tentang sejarah bisa dilanjutkan di tenda.

Sementara itu, masih ada saja pendaki yang baru datang kendati sudah malam. Besok subuh adalah waktu yang paling aku tunggu. Sebab, aku ingin sekali menjadi saksi betapa cantiknya golden sunrise di puncak Gunung Prau.

Dieng Plateu, 24 Juni 2014

“Teman-teman, ayo bangun! Sebentar lagi sunrise. Ayo sholat!” Ella berteriak dari tenda sebelah.

Kami pun sholat Subuh berjamah. Usai sholat, kami pun menanti secercah cahaya yang menyeruak di balik awan kelabu yang masih terlihat gelap. Perlahan fajar mulai menyingsing. Cahaya mentari terpancar di antara sela-sela awan. Semakin lama semakin memancarkan cahaya dengan spektrum yang lebih luas. Menyinari cakrawala dengan cahaya berwarna keemasan. Benar sekali, sunrise di puncak Gunung Prau sungguh cantik. Laiknya seorang putri istana yang ditunggu-tunggu jutaan rakyatnya. Begitulah kami menunggu sang mentari. Menghangatkan tubuh kami yang dari tadi malam terasa menggigil. Memberi kami harapan baru dan semangat baru.

Golden Sunrise
Golden Sunrise

 

Wahai sang mentari pagi. Biarkan kami bersamamu lebih lama. Mendendangkan lagu terbaik yang kami bisa untukmu. “There’s always a story. It’s all stories, really. The sun coming up every day is a story. Everything’s got a story in it. Change the story, change the world.” – Terry Pratchett.

Aku membentangkan tangan menghadap matahari. Membiarkan angin pagi yang masih sama dinginnya saat malam hari yang dari tadi menampar-nampar wajahku. Ah, angin dingin pagi itu hanya ingin bercanda denganku. Sementara hangatnya sang mentari mulai merasuk hingga pembuluh vena dan arteri. Mengusir rasa dingin yang seolah enggan pergi.

Aku dan sahabat-sahabatku merasakan sesuatu yang sangat personal. Hubungan kita dengan alam memang sangatlah dekat. Alam bagi kami adalah rumah. Saat hati merasa jengah dan lelah, kami ingin kembali padanya. Bukankah setelah meninggal, kita akan kembali pada alam. Tentunya alam yang berbeda.

Terima kasih Tuhan. Terima kasih Dieng. Sekali lagi aku katakan padamu, aku jatuh cinta padamu. end!

Anak Kaki Langit
Anak Kaki Langit

 

 

Catatan Perjalanan: Akhir Tahun 2013 di Gunung Puntang

Pada akhir tahun 2013, tepatnya pada tanggal 28 hingga 29 Desember 2013, aku bersama sahabat-sahabatku bersepakat untuk mengikuti trip pendakian ke gunung Puntang yang berlokasi di Banjaran, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Berbeda dengan pendakian-pendakian sebelumnya yang biasanya hanya dilakoni oleh kurang dari 10 orang, namun pada pendakian ini ada sekitar 22 orang yang bertekad untuk sampai ke puncak gunung Puntang, yaitu puncak Mega yang memiliki ketinggian 2.223 Mdpl (meter dari permukaan laut).

Salah satu lokasi perkemahan di gunung Puntang. (Dokumentasi pribadi)
Salah satu lokasi perkemahan di gunung Puntang. (Dokumentasi pribadi)

Oya, pada pendakian ini kami tergabung dalam komunitas Ngeteng Mania yaitu komunitas para pencinta traveling yang diinisiasi oleh kang Fadli bersama teman-teman dari FKM UI. Lantas bagaimana ceritanya aku dan teman-temanku bisa gabung komunitas ini? Jawabannya takdirlah yang mempertemukan kita. Jadi ceritanya, aku sudah pernah kenal dengan teman-teman Ngeteng Mania saat kegiatan bakti sosial yang ada di adakan oleh kantorku di kaki gunung Salak, Bogor pada tahun 2013. Saat itu aku bertugas menjadi reporter berita. Jadi aku sempat mewawancarai beberapa di antara anggota Ngeteng Mania.

Sementara itu, sahabatku semasa kuliah yang bernama Nurida Sari Dewi, wanita asal Semarang yang pernah tinggal di Balikpapan, dan saat ini kuliah pascasarjana UI, nyatanya juga mengenal para anggota komunitas Ngeteng Mania. Bahkan beberapa dari anggota Ngeteng Mania juga menjadi teman kuliah Nurida di UI. Singkat cerita, aku diajak Nurida dan Nurida diajak Ngeteng Mania. Ya, kurang lebih seperti itu jalan ceritanya. Well, dunia ini memang sangat sempit kawan. Maka tertawalah. Haha.

Ada dua tim yang berangkat ke gunung Puntang. Yaitu tim dari Jakarta dan tim dari Bandung. Tim Jakarta terdiri dari Nurida dan teman-teman Ngeteng Mania. Selanjutnya tim dari Bandung terdiri dari aku, Cahyo, Ellak, dan Abah. Nurida bertugas sebagai supir yang hebat. Katanya sih begitu. Aku sih tidak terlalu percaya. Hihi. Sementara yang bertugas menjadi supir dari tim Bandung adalah Cahyo. Lalu apa tugasku, Ella, dan Abah? Kita makan-makan di mobil, berbincang-bincang ringan, tertawa, saling meledek, dan tidur. Sip. Tugas yang sangat sempurna. Hehe.

Anak Kaki Langit!
Anak Kaki Langit!

Perjalanan ke Banjaran dari Bandung membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Waktu yang cukup lama bukan? Padahal sebetulnya jarak antara Bandung dan Banjar tidak begitu jauh. Namun apalah daya, jalan raya Banjaran pada hari itu sangatlah macet. Seingatku kita berangkat pukul 09.00 pagi dari Jatinangor dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 11.30 WIB. Mobilnya Abah melaju dengan pelan dan untungnya tidak berlendir seperti Gery. Miau. Saat asyik-asyiknya menikmati pemandangan menuju Banjaran, Nurida dan Andin terus menelpon kami, kemudian sms, kemudian mengomeli kami. Kasihan sekali kami (karakter Nurida pada tulisan ini dibuat agak sedikit antagonis). Hehe.

“Kalian dimana sih? Kita udah nyampe di Puntang dari tadi loh. Kalian lambat dan berlendir.”

“Iya sebentar lagi kami sampe. Tunggu ya!”

“Udah dimana?”

“Dikit lagi nyampe!”

“Lama banget.”

Tuh kan, banyak sekali pertanyaan bertubi-tubi merambat melalui gelombang elektromagnetik ponsel yang kami genggam secara bergantian. Mulai dari aku, Ellak, dan Cahyo. Haha. Eh tapi sebenarnya Nurida pada dasarnya anak baik dan berpendidikan kok. Cerita yang Anda baca saat ini agak sedikit didramatisasi. Hoi!

For your information, gunung Puntang adalah salah satu gunung bersejarah di kawasan Bandung Selatan. Di kawasan gunung Puntang terdapat petilasan loji Belanda, yaitu goa Belanda yang pada zaman kolonial Belanda merupakan basis stasiun pemancar radio yang menyebarkan berita ke seluruh dunia. Hebat bukan? Namun sekarang keberadaan gunung Puntang difungsikan sebagai tempat rekreasi seperti untuk camping, hiking ke curug (air terjun), dan berbagai kegiatan alam lainnya. Sebelum berangkat ke gunung Puntang, aku sempat berselancar di google untuk mencari informasi tentang gunung Puntang. OMG! Keyword yang tersedia pada mesin pencari yaitu: gunung Puntang angker, misteri gunung Puntang, suasana mencekam di gunung Puntang, dan sebagainya. Ya ampun. Reputasi gunung Puntang cukup mengkhawatirkan di internet. Namun aku tidak terlalu ambil pusing. Markemon!

Curug Siliwangi

Sekitar pukul 12.00 WIB kami trekking ke curug Siliwangi yang konon kata pedagang-pedagang di sekitar kawasan wisata gunung Puntang merupakan curug yang indah dan tinggi. Salah seorang ibu penjaga warung bertutur kepadaku bahwa selama bertahun-tahun ia berdagang di tempat itu, ia belum pernah sama sekali melihat curug Siliwangi.

“Ih curug Siliwangi mah meuni jauh pisan. Ibu oge teu pernah ke ditu. Tapi anak ibu mah sering. Dia mah suka penelitian di hutan,” ujar ibu penjaga warung dalam idealek Sunda.

Oke, trekking ke curug Siliwangi pun dimulai. Bismillah. Kami pun berdoa dalam hati.

Pemandangan menuju curug Siliwangi sangatlah indah. Hamparan rumput hijau seakan menjadi green carpet yang mengantarkan kita bertualang pada siang itu. Belum lagi rindangnya pohon-pohon pinus yang berjajar dan rimbun. Mereka layaknya seperti pagar bagus yang sudah siap menunggu kehadiran kami sebagai tamu di kawasan wisata gunung Puntang. Ingat, kami hanyalah tamu. Sebagai tamu kita haruslah tahu diri. Jangan pernah merusak dan bersikap yang santunlah selama di “rumah” mereka.

Cahaya mentari yang hampir tepat di atas kepala pun menyelip di antara dahan-dahan pinus yang cukup rapat. Ah nampaknya cahaya mentari takingin ketinggalan menjadi lentera yang menuntun perjalanan kami. Belum lagi suara gemircik sungai yang seolah-olah mendendangkan musik klasik alam yang betul-betul menentramkan jiwa. Tidak kalah dengan arrangement musik klasik yang biasa kudengarkan seperti karya komposer seperti Kitaro, Kenny G, Bethoven, dan sebagainya. Alam membuat siapapun menjadi puitis. Beruntunglah jika kita memiliki ikatan dengan alam. Maka yang tercipta adalah sinergi yang harmoni. Saling memiliki dan saling terhubung.

Beberapa menit berjalan kondisi masih aman-aman saja. Namun kemudian kita dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Pilihan yang akan menentukan mana jalan yang tepat untuk diambil. Apakah ke kiri dengan menyusuri sungai yang memiliki arus yang cukup kencang. Atau mengambil jalur kanan dengan menapaki tebing yang terjal, kontur tanah yang tidak stabil dan licin, serta semak belukar yang tampak belum pernah dilewati oleh orang-orang.

Saat itu kami pun berdiskusi. Lebih tepatnya saling berasumsi untuk menentukan jalan yang paling benar.

“Kayanya lewat sini deh.”

“Bukan, kayanya lewat situ deh.”

Penggalan-penggalan frasa bermotif opini pun mulai mencuat. Beberapa di antara kami ada yang mulai berinisiatif untuk memilih membersihkan semak belukar di jalur dekat sungai. Barangkali itu jalan yang benar. Tetiba, aku pun menimpali asumsi yang tidak ada dasarnya.

“Eh kayanya jalur kiri yang benar. Soalnya ada tanda panah. Pasti itu tanda menuju curug. Iya kan?” aku bertanya retoris.

Celetukanku tidak digubris sama sekali. Kang Fadli masih asyik membersihkan jalur di bagian kiri. Sementara Cahyo mengeluarkan tali webbing yang akan digunakan untuk menyebrang sungai yang berarus deras. Oh, takada kata mufakat. Namun sepertinya mereka mengikuti saranku. Salah seorang di antara kami, seingatku kang Fajar sudah berhasil menyebrangi sungai. Cahyo pun melempar tali webbing ke seberang sungai dan ditangkap oleh kang Fajar. Aku pun berinsiatif memegang tali webbing agar orang-orang dapat memegang erat tali tersebut ketika menyebrang sungai.

Untuk menyebrang sungai tidak boleh asal-asalan. Harus hati-hati. Sebab kita menginjak bebatuan yang licin. Belum lagi arus sungai yang cukup deras. Jika kita terpeleset, maka terimalah takdir untuk basah kuyup. Satu persatu kami pun menyebrangi sungai. Kemudian tibalah giliran Nurida. Apa yang terjadi? Ia pun sangat hati-hati menyebrangi sungai. Sepasang tangannya begitu kuat memegang tali webbing. Ia berjalan sangat pelan-pelan. Dan seketika itu dia berteriak.

“Loh sendalku hanyut,” teriak Nurida dengan intonasi yang tidak terlalu tinggi. Cuma naik satu oktaf.

Kami pun cukup terkejut dan hanya bisa memandangi sendal jepit berwarna ungu yang terbawa arus sungai. Bye! Sendal itu pun hilang takberbekas. Namun sendal sepertinya tidak menjadi prioritas Nurida. Yang terpenting saat itu adalah ia dapat berhasil menyebrangi sungai dengan baik dan selamat. Yap, semuanya berhasil. Kami lolos menjadi peserta Benteng Takeshi. Hoho. Doakan kami pada rintangan selanjutnya ya!

Tantangan selanjutnya ada di depan mata! Kami harus menyusuri hutan yang rimbun, tebing yang terjal, turunan yang curam, dan menyusuri jalan setapak yang licin. Kami berjalan bersama-sama. Layaknya seperti bocah-bocah petualang yang begitu bergembira karena hiking bersama.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya kami mendengar suara air terjun. Semakin kami berjalan, suara air terjun semakin jelas terdengar. Jalan beberapa langkah lagi, akhirnya kami dapat melihat curug Siliwangi yang cukup tinggi. Mungkin Curug Siliwangi adalah salah satu curug tertinggi yang pernah aku lihat. Kami pun kemudian bergegas menuju curug, berfoto-foto, makan siang, sholat jamak qashar Dzuhur dan Ashar, kemudian kembali menuju perkemahan.

Well, perjalanan panjang menuju curug Siliwagi terbayar lunas. Lunas tanpa kredit. Curug yang memesona, anggun, dan agak sedikit misterius.

Curug Siliwangi
Curug Siliwangi

Summit Attack ke Puncak Mega

29 Desember 2013, pukul 02.00 dini hari. Suhu pada saat itu cukup dingin barangkali sekitar 16 derajat celcius. Bagiku yang memiliki tubuh kurus yang hanya dilapisi beberapa senti bantalan lemak, angin gunung sangat menusuk tulang. Tapi untung saya punya jaket waterproof berwarna hijau muda dan sedikit aksen hitam yang baru saya beli bersama Ellak. Model, warna, dan merek jaket kita sama persis. Hanya beda ukuran. Jaketku ukurannya L, sementara jaket Ellak ukurannya M. Kami seperti sepasang anak gunung yang kembar. Hehe. Ulah kekompakkan kami yang suka pamer jaket, Cahyo pun jadi naik pitam. Dia meledek jaket kami yang mahal dan berkualitas. Kemudian dia tertawa. Kami pun hanya bisa garuk-garuk kepala. Aneh.

Kami pun packing. Memasukkan beberapa barang penting ke day pack seperti air mineral, madu, flysheet, kamera, ponsel, dan lain sebagainya. Tidak lupa kami memasang head lamp dan mengganti kostum lapangan yang nyaman untuk pendakian. Whatezig! Kami pun siap untuk summit attack ke puncak Mega.

Oya, kalian harus tahu. Pendakian tidak pernah menyisakan duka. Justru yang timbul hanyalah cinta, cinta, dan cinta. Aku akan bercerita bagaimana kisah terjalin begitu apa adanya antara Abah dan seorang wanita berkaca mata. Penasaran? Aku pun begitu.

Sebelum memulai pendakian, terlebih dahulu kami mendaftar ke sekretariat PGPI (Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia). Setelah selesai mendaftar, kami pun berkumpul untuk berdoa bersama dan kemudian mulai mendaki. Kondisi saat itu tidak terlalu gelap. Sebab tepat di atas kepala kami bulan purnama sempurna memancarkan cahaya yang terang. Aku pun mendongakkan kepala ke atas melihat nanar bulan purnama. Ah, aku jadi teringat salah satu kutipan romantis dalam novel Burlian yang ditulis Tere Liye.

“Kau tahu, menurut kepercayaan orang Jepang, jika ada dua orang memandang bulan purnama di saat bersamaan, maka tidak peduli seberapa jauh kau berpisah dengannya, kau seolah saling melihat wajah satu sama lain.” – Burlian

Cahaya rembulan tidak hanya menjadi penghubung dengan orang-orang yang kita cintai. Namun juga menjadi penerang dari semesta yang menemani perjalanan kami menuju puncak gunung. Kami merasa sangat terbantu berkat cahaya berpendar yang dipancarkan bulan purnama saat itu.

Beberapa menit kami berjalan, salah seorang di antara kami menghempaskan badannya pada reremputan yang basah karena embun. Ia berkata pada kami bahwa ia kelelahan dan mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan. Barangkali ada hal yang membuatnya patah arang. Tapi bagaimana pun kami tidak bisa memaksa. Kami hanya bisa memaklumi. Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan. Namun kemudian lagi-lagi kami menemukan dua orang teman kami yang juga memutuskan untuk berhenti melangkah. Salah seorang di antara mereka sakit. Abah dan Cahyo pun mengantarkan mereka turun kembali.

Baiklah, mari kita melanjutkan perjalanan. Kami harus segera bergegas karena tidak ingin kehilangan momen langka untuk melihat semburat cahaya berwarna jingga di ufuk timur. Ritme langkah pun kami percepat. Apalagi jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB. Artinya sebentar lagi waktu sholat Subuh tiba. Selang beberapa menit, terdengar sayup-sayup suara adzan Subuh berkumandang. Suara adzan yang saling bersaut-sautan membangunkan anak manusia yang terlelap tidur untuk memenuhi seruan Tuhan. Aku jadi malu sendiri, di usiaku yang sudah tidak muda lagi berapa seringnya adzan Subuh yang tidak aku dengar. Aku terlelap tidur kemudian sholat Subuh pun kesiangan. Malu.

Kami pun sholat Subuh berjamaah. Sholat di alam terbuka, dingin, dan di gunung menjadi hal istimewa. Ini adalah satu dari sekian banyak momen epic yang paling aku sukai ketika mendaki gunung. Momen yang sangat jarang ditemui. Saat sholat di atas gunung, kita merasa menjadi manusia yang tidak ada apa-apanya, sementara kuasa Allah begitu besar. Lantas, apa yang harus kita sombongkan?

Perlahan tapi pasti, fajar terlihat menyingsing. Semburat berwarna jingga mulai terlihat walaupun masih ditutupi awan hitam yang tebal. Sementara itu, di bawah sana, suara ayam berkokok terdengar seperti suara terompet penanda hari yang baru telah datang. Aku pun jadi bersemangat. Sangat bersemangat saat itu. Ingin rasanya tiba di puncak Mega sesegera mungkin. Aku rasa, semangat yang membuncah di dalam hati juga dirasakan oleh teman-temanku. Tanpa banyak bicara, kami fokus mendaki jalanan yang terjal, sesekali istirahat untuk meneguk air mineral, dan berteriak untuk saling menyemangati.

Gugusan gunung-gunung yang dilihat dari atas Puncak Mega, gunung Puntang
Gugusan gunung-gunung yang dilihat dari atas Puncak Mega, gunung Puntang

Tiga jam berlalu. Tinggal 1,5 jam lagi kami akan sampai di puncak. Tapi sayang sekali keinginan kami untuk melihat sunrise secara langsung dari atas puncak Mega tidak akan terwujud. Sang mentari sudah terlihat dan mulai menyinari cakrawala pagi. Burung-burung pun bernyanyi dan terbang kian ke mari. Aku, Abah, Ellak, dan Fikroh berada di barisan belakang. Kami tertinggal cukup jauh dibandingkan yang lainnya. Bahkan ada yang sudah sampai puncak. Ingin sekali berlari agar cepat tiba. Tapi tidak mungkin. Kami diminta menjadi tim akhir untuk memastikan semua orang bisa mencapai puncak dengan selamat.

Nah, sekarang masuklah pada segmen cinta seperti yang aku tulis tadi. Cinta itu menyemangati, cinta itu menguatkan, dan cinta itu adalah kesetiaan. Bukan begitu Abah? Biarkan Abah bercerita lebih banyak untuk hal ini. Aku hanya bisa memantik saja. Hehe.

1,2,3 yap!

Akhirnya kita berhasil tiba di puncak Mega pada ketinggian 2.223 Mdpl. Perasaan pun campur aduk: senang, terharu, dan puas! Rasa lelah seketika tidak berarti apa-apa. Kami begitu senang bisa menikmati pagi pada akhir tahun 2013 di puncak gunung. Sepanjang mata memandang yang tampak hanyalah gugusan gunung-gunung yang sangat indah, kabut tipis, dan sisa-sisa semburat berwarna jingga yang memenuhi cakrawala. Saat itu dada kami dipenuhi rasa syukur tiada terkira. Sulit sekali diungkapkan. Sebab Allah telah menampakkan kuasa-Nya yang begitu indah dan menakjubkan.

Puncak Mega
Puncak Mega
Inilah kami, NGETENG MANIA!
Inilah kami, NGETENG MANIA!

 

Lagi, ini adalah kado terbaik dalam hidup kami. Terima kasih gunung Puntang. Akhir tahun yang sangat manis. [Mahfud Achyar]

 

 

 

Belajar Makna Kehidupan dari Suku Baduy Dalam di Banten (Bagian 2)

Stasiun Rangkasbitung, pukul 12.05 WIB

Akhirnya setelah menempuh perjalanan berjam-jam, berada di gerbong kereta yang panas dan sumpek, kami pun tiba di stasiun Rangkasbitung, Banten. Ini adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di stasiun ini. Sekilas saya perhatikan desain bangunan dari stasiun Rangkasbitung tidak jauh berbeda dengan desain bangun stasiun-stasiun di Indonesia: bergaya Belanda. Namun sepertinya keberadaan stasiun Rangkasbitung tidak seberuntung stasiun-stasiun yang pernah saya singgahi. Terlihat cat dinding berwarna putih sudah mengelupas. Sungguh sangat disayangkan. Andai stasiun klasik ini dirawat tentu akan terlihat indah dan nyaman.

Saat turun dari kereta, peron-peron sudah dipenuhi oleh orang-orang yang hendak pergi ke berbagai tujuan. Mungkin mereka ada yang pergi ke Jakarta atau mungkin juga mereka sedang menunggu orang-orang yang mereka cintai. Ah ya, menunggu kadang menjadi hal yang membosankan. Tapi menunggu untuk mereka yang kita cintai tentu tidak akan menjadi persoalan yang terlalu besar. Waktu berjam-jam mungkin bisa dikonversi menjadi menit atau bahkan mungkin menjadi detik. Saya tidak terlalu suka menunggu. Namun kadang terpaksa juga harus menunggu. Menunggu dan ditunggu. Itulah siklus hidup manusia yang tidak dapat dihindari.

Ternyata kehadiran kami sudah ditunggu oleh guide yang akan mengantarkan kami ke Cibolger, pintu gerbang menuju kampung-kampung Suku Baduy Dalam. Untuk menuju Cibolger, panitia (SIE BOLANGERS) menyediakan mobil elf sebanyak tiga unit. Tanpa banyak bicara, kami pun satu persatu langsung masuk elf. Tidak sabar rasanya ingin tidur di dalam mobil karena selama di kereta tidak bisa tidur dengan damai. Namun hasrat untuk bisa tidur lelap di elf hanya sebatas angan-angan kosong.

Platak-plotok!

Kumpulan manusia di mobil elf terguncang: ke kiri, ke kanan, ke depan, dan ke belakang. Jalan menuju Cibolger nyatanya tidak semulus yang saya bayangkan. Kita harus melalui ruas jalan yang tidak terlalu lebar, masih berbatu-batu, dan bahkan kita harus melewati jembatan yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja. Maka untuk melewati jembatan tersebut, mobil-mobil harus antri. Sang supir pun harus ekstra hati-hati karena jika tidak, maka bersiap-siaplah untuk nyemplung ke sungai. Perjalanan yang sedikit menegangkan. Bosan? Iya. Namun saya berusaha untuk menikmati perjalanan tersebut. Saya mencoba menepis rasa bosan dengan memikirkan hal-hal imajinatif selama trekking ke Baduy Dalam.

“Mengunjungi kampung suku Badu Dalam. Ah rasanya tidak pernah terlintas dalam benak saya. Dan hari ini saya akan mengunjungi suku sub-etnis Sunda yang memiliki populasi lebih dari 8.000 jiwa. Mungkin inilah yang disebut takdir yang misteri. Takdir yang bekerja dengan cara yang tidak disangka,” gumam saya dalam hati.

Menurut informasi yang saya dapatkan dari berbagai artikel yang berseliweran di internet, suku Baduy Dalam adalah cikal bakal dari suku Sunda yang mendiami wilayah Wetan (Timur, Ind). Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng, di desa Kenekes, Kecamatan Leuwidimar, Kabupaten Lebak, Rangkasbitung, Banten.

Suku Baduy Dalam, Banten
Suku Baduy Dalam, Banten

 

Jarak yang ditempuh untuk mencapai perkampungan suku Baduy Dalam sekitar 40 kilometer dari kota Rangkasbitung. Bahasa yang digunakan oleh suku Baduy Dalam adalah bahasa Sunda dengan dialek Sunda-Banten. Kendati mereka terbiasa menggunakan bahasa Sunda dalam kesehariannya, namun mereka dapat menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu, suku Baduy Dalam memiliki pengetahuan yang luas tentang aneka tetumbuhan yang baik untuk dikonsumsi, dijadikan obat-obatan, dan mengetahui tetumbuhan yang mengandung racun. Mereka tidak mengeyam bangku pendidikan secara formal di sekolah, namun alam mengajarkan mereka banyak hal.

Cibolger, pukul 12.05 WIB

Suasana di desa Cibolger yang merupakan pintu gerbang menuju perkampungan Suku Baduy Dalam tampak ramai. Bahkan sangat ramai. Banyak orang yang berkumpul di sana. Ada yang baru selesai berkunjung dari Suku Baduy Dalam, ada yang belanja souvenir khas Suku Baduy Dalam, dan ada juga yang baru datang seperti kami.

Kami pun sudah disambut hangat oleh beberapa perwakilan Suku Baduy Dalam yang selanjutnya bertugas sebagai porter sekaligus guide. Namun saya memilih tidak menggunakan jasa porter karena beban yang saya bawa dalam tas tidak terlalu berat. Lagian saya sudah terbiasa berjalan kaki dan membawa tas ketika hiking. Cukup filosofis alasannya. Saya ingin merasakan bahwa perjalanan panjang yang akan saya lewati tidak akan mudah. Apalagi ditambah dengan beban yang berat dipundak. Namun pada kondisi demikian saya berjuang, saya berusaha, dan saya berkeyakinan bahwa saya bisa melalui setapak demi setapak jalan yang lewati.

Salah satu guide yang menemani kami adalah seorang bocah berusia sekitar 10 tahun. Namanya saya lupa. Padahal saya sudah pernah sangat mengingatnya. Dia mengenakan pakaian khas Suku Baduy Dalam yang berwarna hitam. Ia pun memakai tas sederhana yang terbuat dari kain bertekstur kasar berwana putih untuk menyimpan barang-barang yang menurutnya perlu dimasukkan. Selain itu, seperti kebanyakan warga Suku Baduy Dalam, ia juga mengenakan pengikat kepala berbahan katun. Mereka berjalan berkilo-kilo tanpa menggunakan alas kaki seperti sandal atau sepatu. Pun demikian mereka tidak merasa kesekatin. Barangkali karena sudah terbiasa berjalan tanpa alas kaki, kerikil runcing yang menusuk pun mungkin tidak akan dirasa. Ya, kurang lebih begitulah style asli Suku Baduy Dalam yang membedakan mereka dengan Suku Baduy Luar.

 

Lantas apa perbedaan lain antara Suku Baduy Dalam dengan Suku Baduy Luar? Sebetulnya perbedaan antara dua entitas ini cukup mencolok. Suku Baduy Luar secara kasat mata sudah memiliki kebiasaan hidup sama dengan masyarakat Indonesia pada umumnya: memiliki rumah yang sudah dibeton, memiliki kendaraan seperti motor, memiliki perhiasaan, dan secara umum sudah tersentuh dengan teknologi informasi. Sementara Suku Baduy Dalam masih menjagi nilai-nilai luhur seperti tidak boleh membangun rumah dengan semen atau paku, tidak boleh menggunakan kendaraan apabila berpergian, tidak boleh hidup berlebihan, dan sebagainya. Nilai-nilai luhur tersebut dipertahankan semata-mata karena mereka sangat menghargai amanah dari leluhur mereka. Banyak hal yang membuat mereka tetap bertahan dengan tradisi mereka yang mungkin sebagian orang menganggapnya agak sedikit primitif.

Perjalanan menuju salah satu desa Suku Baduy Dalam yaitu desa Cibeo membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam. Kami berangkat sekitar pukul 13.00 WIB setelah selesai sholat dan makan siang. Sore menjelang maghrib, sekitar pukul 17.30 kami pun tiba di desa Cibeo. Ada 7 desa yang menjadi tempat tinggal Suku Baduy Dalam yaitu desa Cibolger, desa Kaduketuk, desa Gajeboh, desa Cibeo, desa Cikawartana, desa Cisagu, dan terakhir desa Cikeusik. Perjalanan dari satu desa ke desa lainnya tidaklah mudah. Kita harus menyusuri hutan hujan tropis Banten yang masih asri dan alami. Suku Baduy Dalam sangat menjaga keseimbangan alam. Selain itu, kami juga harus mendaki bukit-bukit yang terjalan, menyeberangi jembatan bambu yang di bawah sungai mengalir deras, meloncati jurang-jurang kecil, dan berjalan dengan hati-hati.

Perjalanan yang cukup melelahkan. Maka takheran jika kaus biru dongker yang saya kenakan basah, bermandikan keringat. Namun saya menikmati perjalanan yang panjang menuju desa Cibeo. Sebab rasa lelah dibayar lunas dengan pemandangan yang jarang saya temui. Semua yang terlihat dari sepasang mata saya sangat luar biasa hebat. Ada jembatan yang terbuat dari akar. Indah sekali dan begitu kokoh. Selain itu, kita juga akan takjub dengan bangunan unik seperti rumah panggung yang cukup tinggi yang bernama Leuit sebagai lumbung padi bagi masyarakat Baduy.

Rumah Suku Baduy Dalam Banten
Rumah Suku Baduy Dalam Banten

Sesampai di desa Cibeo, saya bersama teman-teman mandi di sungai yang segar dan jernih. Apakah yang dinamakan back to nature? Bisa jadi!

Kami menginap satu malam di rumah-rumah warga desa Cibeo yang sangat sederhana. Rumah bambu yang diterangi lampu obor, tanpa ruang tamu, tanpa kursi, dan tanpa perabotan yang berlebihan. Semuanya dibuat sesederhana mungkin. Saya beruntung bisa merasakan pengalaman semacam ini. Hidup sederhana, tidak berlebihan, tidak mengeluh, dan tidak gusar dengan hari esok. Sebab kita yakin, Tuhan sudah mempersiapkan rezeki dari langit dan bumi. Kita hanya perlu mengambil secukupnya dan bersyukur atas apa yang sudah kita dapatkan.

Setelah makan malam dengan menu nasi, mie goreng, dan ikan asin kami diundang oleh Kepala Suku untuk memperkenalkan diri, mendengarkan wejangan dari Kepala Suku, dan bertanya banyak hal kepada Kepala Suku tentang asal muasal Suku Baduy Dalam, falsafah hidup, dan sebagainya. Malam itu adalah diskusi yang sangat menarik. Saya mendapatkan banyak sekali informasi tentang Suku Baduy Dalam. Lebih dari itu, saya mendapatkan banyak pembelajaran tentang hidup dan kehidupan.

Malam dan gelap.

Kami pun tertidur pulas. Letih seharian berjalan kaki menjadi tidak terasa. Di luar sana, bintang-bintang berkerlap-kerlip memenuhi langit malam. Selamat malam.

Belajar Makna Kehidupan dari Suku Baduy Dalam di Banten (Bagian 1)

Catatan Perjalanan Archernar!

Jakarta – Sabtu, 8September 2014

Semoga saya tiba di stasiun Tanah Abang tepat waktu.”

Demikianlah doa saya selama berada dalam taxi Bluebird dari Pulo Mas menuju stasiun Tanah Abang. Saya khawatir telat, saya khawatir teman-teman saya meninggalkan saya. Saya pun terus berafirmasi agar tiba di stasiun tepat waktu.

Perjalanan terasa begitu lama. Detik berganti menit dan nyaris berganti jam. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 07.55 WIB. Beruntung dari beberapa meter saya sudah melihat stasiun Tanah Abang. Ada cukup banyak orang-orang yang masuk dan keluar stasiun. Barangkali pada hari libur seperti ini akan banyak orang-orang yang berpergian entah kemana.

Setelah selesai membayar taxi, saya pun langsung bergegas menyebrang dan menaiki tangga stasiun yang jumlah anak tangganya lebih dari 30.

Alhamdulillah.

Saya mendapati teman-teman saya masih menunggu. Mereka terlihat begitu girang bercampur kesal ketika mengetahui kedatangan saya. Tanpa banyak mengulur waktu, kami pun langsung membeli tiket, melewati pemeriksaan petugas kereta, dan memasuki area peron kereta api menuju stasiun Palmerah.

Selang beberapa menit, kereta listrik atau commuterlinepun tiba. Kami pun bergegas masuk dan mencari kursi yang masih kosong. Kami cukup beruntung karena jumlah kursi kosong yang tersedia masih sangat banyak. Alhasil kami pun dapat memilih kursi mana saja yang ingin kami duduki.

Ah ya, saya lupa! Di antara teman-teman saya yang ada dalam gerbong kereta, ada beberapa orang yang belum dikenal. Kami hanya sebatas tahu nama ketika melihat percakapan instan di whatsapp, surel, dan juga facebook.Seperti biasa, sebagai kumpulan manusia yang belum mengenal satu sama lain, kami pun berkenalan: menanyakan nama, tempat tinggal, tempat bekerja, dan pertanyaan artifisial lainnya. Mungkin ini terkesan basa-basi. Namun bagi saya pribadi justru “ritual” basa-basi inilah yang menjadi permulaan untuk kita bisa berkenalan lebih jauh. Saya sendiri juga tidak terlalu mengerti mengapa jika kita berkenalan dengan orang yang baru selalu menanyakan hal yang sama. Apakah karena saya orang Asia? Apakah orang Eropa dan Amerika menanyakan hal yang berbeda? Entahlah. Tapi saya kira siapa pun dan dari etnis mana pun, mungkin akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan standar.

Berada di dalam kereta dengan kondisi psikologis yang masih belum stabil membuat saya teringat dengan salah satu adegan dalam film “5 CM” yang tayang pada akhir 2012 lalu. Adegan ketika Yan (Igor Saikoji) yang nyaris ketinggalan kereta karena telat. Namun beruntung ia memiliki teman-teman yang setia dan berjuang agar Yan bisa naik kereta bersama mereka.

Hal sama yang dialami Yan juga terjadi pada saya. Kendati saya baru mengenal beberapa orang di antara mereka, tapi mereka sudah membuktikan bahwa mereka memang teman-teman yang setia.

Saya selalu takjub dengan para travelers.Mereka dapat berteman baik dalam durasi sangat singkat, mereka dapat berkorban kendati tidak saling mengenal, dan mereka bersikap ramah kendati mereka belum mengenal sepenuhnya orang-orang yang membersamai mereka dalam perjalanan.

Lantas apa yang membuat kami begitu begitu cair dan percaya satu sama lainnya? Sebab kami memiliki cara pandang yang sama tentang hidup. Sejatinya hidup itu adalah perjalanan yang cukup panjang. Selama dalam perjalanan tersebut, kita menemukan hal-hal yang di luar ekspektasi kita. Kerap kali kita menemukan hal-hal yang menjengkelkan. Namun sampai kapan kita harus selalu menaruh curiga pada orang lain? Sampai kapan kita harus lelah dengan pikiran-pikiran buruk yang menggelayut di benak kita? Maka pada perjalanan panjang, kami sadar betapa hidup ini tidak serumit yang kami pikirkan. Hidup itu pada dasarnya take and give.Jika dua hal tersebut sudah kita upayakan, yakinlah hati manusia akan cenderung baik pada kita, alam akan senantiasa bersahabat dengan kita, dan semesta akan senantiasa memberikan isyarat dan pertanda yang baik untuk kita. Ya, setidaknya itulah yang bisa kupahami setelah begitu banyak ranah yang kusinggahi.

Stasiun Palmerah, Jakarta Barat – Pukul 08.30 WIB

Akhirnya kami pun tiba di stasiun Palmerah. Rombongan saya dari stasiun Tanah Abang berjumlah 8 orang. Sementara itu, di stasiun Palmerah puluhan orang dengan ekspresi wajah yang ceria dan bahagia sedang asyik berkumpul. Terlihat ada yang tertawa, ada yang menelpon, ada yang berfoto ria, dan ada juga yang hanya sebatas memeriksa ponsel mereka.

Berfoto bersama di stasiun Palmerah. (Dokumentasi: Ekta)
Berfoto bersama di stasiun Palmerah. (Dokumentasi: Ekta)

Di stasiun ini, sekitar 30 orang pemuda dari berbagai latar belakang usia, agama, pendidikan, pekerjaan, dan etnis berkumpul untuk satu tujuan yaitu mengenal lebih dekat suku Baduy Dalam di Banten. Perjalanan ke Banten ini diinisiasi oleh teman kantor saya bersama kedua temannya. Mereka memproklamirkan geng mereka dengan sebutkan “SEI BOLANGERS” yaitu penggabungan nama mereka bertiga S untuk Sari, E untuk Ekta, dan I untuk Indi. Tidak ada yang menyangka jika semua orang yang ikut trip pada hari itu bahwa nama mereka bertiga akan menempel pada kaos berwarna biru muda yang kami pakai. Saya hanya tersenyum kecut. Begitu juga dengan beberapa teman lainnya. Kita seperti dibodohi. Bisa-bisanya nama mereka terpampang indah di kaos kami. Haha. Kami pun saling tertawa dan meledak satu sama lainnya.

Heart to Heart with Baduy Ethnic

Mengenal lebih dekat suku Baduy Dalam Banten. Apa yang ada di benak saya? Selama ini tidak banyak informasi tentang mereka yang saya terima. Saya hanya tahu bahwa mereka disebut sebagai etnis Sunda Wetan yang sudah mendiami hutan pedalaman di Banten berpuluh tahun lamanya.

Saya pun hanya bisa berasumsi tentang mereka tanpa saya berusaha untuk mencari informasi yang lebih dalam tentang mereka. Menurut saya suku Baduy Dalam adalah kelompok etnis yang sangat introvertdengan dunia luar dan memiliki kebiasaan yang tidak lazim dengan manusia modern. Jujur, itulah yang saya pahami tentang mereka saat itu. Saya katakan, saya sangat minim informasi. Sempat khawatir untuk tidak ke sana. Namun saya beranikan diri, saya yakin tidak ada hal yang berbahaya yang perlu saya takuti.

Sekitar pukul 10.00 WIB, kami pun berangkat ke Rangkas Bitung menggunakan kereta api Patas Jaya kelas ekonomi dengan merogoh kocek sekitar Rp. 4000. Harga yang cukup murah bukan? Naik kereta api kelas ekonomi bukan sesuatu yang baru untuk saya. Sebelumnya, saya sudah pernah naik kereta api ekonomi ke Yogyakarta. Saat itu saya berangkat dari stasiun Rancaekek, Bandung menuju stasiun Tugu, Yogyakarta.

Perjalanan menuju Rangkas Bitung akan ditempuh selama 3 jam. Menurut saya, gerbong kereta ekonomi menggambarkan potret kehidupan masyarakat Indonesia. Kita mungkin tidak akan tahu persis apa yang terjadi dalam gerbong kereta apabila kita tidur, menyumpel telinga dengan earphone,tertawa terbahak-bahak bersama teman-teman, atau sibuk dengan membaca buku. Cobalah luangkan waktu untuk melihat orang-orang yang ada di dalam kereta ekonomi. Tataplah wajah mereka satu-satu. Tampak jelas dari wajah mereka betapa mereka memiliki sejuta pengalaman hidup yang tidak mudah. Mungkin saya sendiri kurang mampu mendiskripsikannya atau barangkali karena saya kurang peka membaca apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Tapi yang jelas, saya yakin mereka masih memiliki pengharapan untuk hidup yang lebih baik dan sejahtera.

Pada gerbong kereta ekonomi ini saya sendiri ragu saya sedang berada dimana. Apakah saya berada di pasar atau saya berada di kereta. Sebab selang beberapa menit saja, satu persatu penjual asongan menjajakan barang dagangannya beragam jenis. Sesekali terdengar suara cempreng sang ibu penjual buah-buahan tropis, suara iba dan sikap memelas dari pedagang tisu, belum lagi ada seorang pemuda yang tampak lusuh dan kumal membersikan sampah-sampah di sepanjang gerbong. Satu sodokan sampah, ia pun menadahkan tangan meminta rupiah dari penumpang. Begitu seterusnya.

Kasihan. Hanya perasaan itu yang hanya mampu mendeskripsikan kondisi di gerbong kereta ekonomi. Saya berharap suatu saat mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, mereka dapat hidup lebih sejahtera. Saya tidak ingin menutup mata bahwa di negeri yang kaya ini begitu banyak rakyat yang masih perlu dikuatkan tekad dan mentalnya. Kita mungkin memang terlahir miskin, tapi kita jangan pernah bermental miskin. Kita mungkin terlahir menderita, namun kita punya pilihan untuk hidup bahagia. Bukankah hidup itu bicara pilihan? Kita berhak menentukan pilihan-pilihan yang ditawarkan hidup. Hanya saja kita seringkali salah memilih.

Dalam kereta, saya tidak terlalu banyak berbincang-bincang ringan dengan teman-teman atau penumpang lainnya. Saya hanya ingin membaca tanda-tanda yang ada di dalam kereta. Saya pun hanya ingin melihat pemandangan yang tampak tidak begitu indah dari kaca jendela kereta yang buram dan tidak bening.

Saya pun merasa mengantuk dan akhirnya tidur.

.. bersambung

Timbuktu, Legenda Islam di Afrika Barat

Kesan akan kota yang miskin dan terbelakang memang takbisa lepas dari Timbuktu saat ini. Namun siapa sangka, ratusan tahun silam kota ini pernah mencatatkan diri sebagi pusat peradaban Islam di Afrika Barat. Sampai dengan saat ini, sisa-sisa peninggalan kebudayaan Islam dari Abad ke 14 hingga 16 masih bisa disaksikan di kota yang kini menjadi bagian dari Republik Mali ini.

sumber: google

Timbuktu, Kota Perdagangan hingga Pusat Penyebaran Islam

Terletak di persimpangan antara Gurun Sahara dan Sungai Niger, Timbuktu awalnya hanyalah perkampungan musiman bagi Suku Tuareg yang nomaden. Hingga pada abad ke-12, Timbuktu berubah menjadi perkampungan permanen akibat semakin ramainya jalur perdagangan Afrika Barat yang melewati kota ini. Barang-barang komoditas dari Afrika dan luar Afrika seperti garam, emas, perak, gading, biji-bijian seperti gandum, dan hewan ternak. Secara cepat Islam pun masuk ke kota ini melalui hubungan dagang dengan para saudagar Arab.

Dalam sejarahnya, secara silih berganti Timbuktu beralih penguasa. Pada awal abad ke-14 masehi, Sultan Muansa Mussa dari Kerajaan Mali memerintahkan pembangunan Masjid Djinguereber sekembali beliau dari perjalanan ke Mekkah pada tahun 1324 masehi. Pada abad ke-15, penguasaan atas Timbuktu beralih ke Kerajaan Songhai. Masa pemerintahan Sultan Askia Mohammad I (1493-1528) tercatat sebagai masa keemasan Timbuktu. Terdapat lebih dari 180 madrasah dan takkurang dari 25.000 pelajar yang sebagian besar berasal dari luar Timbuktu menimba ilmu disini. Salah satu yang termasyur adalah Universitas. Singkat kata, Timbuku menjadi pusat peradaban dan penyebaran Islam di Afrika Barat pada masa itu.

Legenda yang Hidup Kembali

Kemunduran Timbuktu terjadi pada akhir tahun 1500-an ketika Kerajaan Maroko menguasai kota ini. Banyak madrasah termasuk Universitas Sankore ditutup. Ahmad Al Mansur, penguasa Maroko pada masa itu juga memenjarakan dan membunuh para cendekiawan dari Timbuktu, termasuk seorang ilmuwan Timbuktu paling terkenal, Ahmed Baba. Al Mansur bahkan memutus jalur perdagangan yang melewati Timbuktu, sehingga lengkaplah kemunduran Timbuktu. Ketika pada akhir abad ke-19 Afrika Barat berada dalam kekuasaan Perancis, nama Timbuktu hanya tinggal legenda saja.

Selama Puluhan tahun, nama “Timbuktu” cenderung diasosiasikan dengan negeri antah berantah dan terbelakang di Afrika. Bahkan menjadi bahan lelucon bagi sebagian orang di Barat. Kondisi ini berubah ketika pada tahun 1997, Henry Louis Gates, seorang warga Amerika Serikat berkulit hitam yang menjabat Direktur Studi Afrika-Amerika di Universitas Harvard secara pribadi mempelajari dan mempublikasikan keberadaan naskah-naskah kuno Timbuktu peninggalan abad 13 hingga 16. Sejak saat itu, secara khusus Barat mulai memberikan perhatian kepada kota ini karena nilai sejarahnya.

sumber: google

Warisan Takternilai dari Timbuktu

Warisan berharga Timbuktu tidak saja terletak pada bangunan-bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh hingga kini. Lebih dari itu adalah apa yang telah dihasilkan oleh masjid-masjid besar Djingareyber, Sankore and Sidi Yahia. Ketiganya dikenal sebagai pusat pengajaran Islam dan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan Timbuktu.

Masjid Djingareyber didirikan oleh Sultan Mussa yang kemudian dipugar dan diperluas dua abad kemudian, yakni 1570 dan 1583 oleh Qadi Timbuktu, Imam Al Aqib. Sedangkan masjid Sidi Yahia dibangun sekitar tahun 1400 oleh Sheikh El Moktar Mamalla dan dipugar oleh Imam Al Aqib pada 1577 hingga 1578. Masjid Sankore adalah yang paling masyur dengan Universitas Sankorenya dibangun pada abad ke-14. Pada tahun 1578 dan 1583, Imam Al Aqib merobohkan bangunan utama masjid dan membangunnya kembali sesuai dengan arah Ka’bah di Mekkah.

Universitas Sankore

Pad abad ke-14 hingga 16, universitas ini menampung ribuan pelajar dari luar Timbuktu. Sistem pengajaran di universitas ini dilakukan secara independen oleh beberapa sekolah yang masing-masing dijalankan oleh seorang guru atau imam. Para siswa belajar langsung dari imam dan kelas diselenggarakan di halaman masjid, di dalam masjid atau di tempat tinggal para imam tersebut.

Meskipun metode pembelajarannya sederhana, namun kurikulum yang diajarkan sangat luas dan intensif, terdiri atas kurikulum Agama Islam dan ilmu-ilmu umum. Wisuda bagi para siswa dilakukan dengan penyerahan turban yang melambangkan pencerahan, kebijaksanaan, pengetahuan dan perilaku yang menjunjung tinggi moral. Mereka yang telah lulus berkewajiban untuk mengamalkan ilmu yang dimilikinya.

Universitas Sankore telah melahirkan banyak ilmuwan seperti Ahmed Baba (1564-1627) yang telah menulis lebih dari 60 buku dalam bidang kedokteran, hukum, filsafat, matematika dan astronomi. Nama-nama lainnya adalah Mohammad Bagayogo as-Sudane, Modibo Mohammed al-Kaburi, Abu al-Abbas Ahmad Buryu, Abu Abdallah, Mukhtar an-Nawahi dan masih banyak lagi.

Naskah-naskah Kuno Timbuktu

Salah satu bukti nyata Timbuktu sebagai pusat peradaban Islam dan ilmu pengetahuan adalah keberadaan naskah-naskah kuno dari abad ke-13 hingga 16 yang diperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari satu juta naskah di Timbuktu dan dua puluh juta lainnya tersebar di Afrika. Naskah-naskah kuno yang sebagian besar berbahasa arab ini berisi tentang ilmu hukum, seni, arsitektur, fisafat, kedokteran, matematika, astronomi yang tidak saja berasal dari Timbuktu namun juga dari Andalusia, Afrika Utara dan Arab.

Naskah-naskah kuno Timbuktu merupakan naskah milik keluarga yang diwariskan secara turun temurun. Pada masa penjajahan Perancis, banyak keluarga di Timbuktu yang menyembunyikan dengan menimbun naskah-naskah mereka agar tidak dirampas oleh Pemerintah Perancis.

Meskipun pemerintah Mali melalui Ahmed Baba Institute telah melakukan penyelamatann 30.000 naskah kuno di Timbuktu, namun banyak pewaris naskah yang lebih memilih untuk mendirikan perpustakaan-perpustakaan pribadi daripada menjual atau menyerahkan naskah-naskah warisan tersebut kepada pemerintah. Saat ini tercatat lebih dari 60 perpustakaan berdiri di Timbuktu atas kerja keras Abdel Kader Haidara. Haidara adalah salah seorang pewaris 9.000 naskah kuno yang mendirikan Mamma Haidara Memorial Library untuk penyelamatan dan penyebarluasan isi naskah kuno agar umat Islam tidak kehilangan kebudayaan mereka yang berharga. Savama, sebuah LSM lokal secara rutin juga menyelenggarakan workshop mengenai naskah-naskah kuno Timbuktu.

Timbuktu saat ini telah terdaftar sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Timbuktu Manuscript Project untuk penyelamatan naskah-naskah kunonya juga sudah berjalan. Namun warisan-warisan berharga tersebut tetap terancam hilang karena dicuri, pemusnahan sebagai akibat dari berkecamuknya perang saudara di Mali, serta ancaman cuaca ekstrem Timbuktu. (Berbagai sumber)

Penulis: Dewi Nurul Maliki

Catatan Perjalanan: Menikmati Kemewahan di Gunung Papandayan

Tidak banyak yang mengetahui bahwa kabupaten Garut yang terletak di sebelah tenggara kota Bandung dijuluki sebagai Swiss van Java. Charly Caplin pernah berkunjung ke Garut. Ia mengagumi keindahan alam Garut dan Caplin-lah yang memperkenalkan Garut kepada dunia sebagai Swiss van Java.

Garut berada pada ketinggian 717 m/dpl yang dikelilingi gunung yang menjulang tinggi yaitu Gunung Karacak (1.838 m), Gunung Cikuray (2.821 m), Gunung Papandayan (2.622 m), dan Gunung Guntur (2.249 m).

Sabtu (30/03/2013), saya bersama sahabat saya Cahyo, Nurida, dan Nika berkesempatan untuk berpetualang ke Gunung Papandayan. Rencana pendakian ke Gunung Papandayan sudah kita rencanakan jauh-jauh hari. Seingat saya tiga minggu sebelum hari keberangkatan. Biasanya, jika mau mendaki gunung saya tidak terlalu ambil pusing. Saya cukup mempersiapkan bekal seadanya. Namun, pada pendakian kali ini, ketua kelompok kita Cahyo yang sudah memiliki traffic yang tinggi dalam mendaki gunung memberikan saran kepada kami bahwa segala sesuatunya harus dipersiapkan secara maksimal.

Kendati Gunung Papandayan salah satu gunung wisata, namun Cahyo berpesan bahwa kita harus mengantisipasi segala kemungkinan buruk. Cahyo pun meminta kami untuk berolahraga setiap hari minimal, mempersiapkan peralatan pribadi dan kelompok, dan membaca dengan seksama Rencana Operasional Pendakian (ROP) yang telah dikirim Cahyo melalui personal message di facebook.

Awalnya saya berpikiran mengapa harus terlalu detail? Namun kemudian saya teringat pesan Andrea Hirata dalam bukunya Laskar Pelangi “Preparation perfect performance!” Baiklah, segala sesuatunya harus dipersiapkan secara matang dan harus digarap secara serius. Jadi, mari kita berterima kasih sekali kepada ketua kelompok kita Cahyo yang sudah rewel menanyakan ini-itu berkaitan dengan persiapan mendaki Gunung Papandayan. Terima kasih bos!

Jatinangor, 30 Maret 2013, pukul 09.45 WIB

Kami mendata ulang perlengkapan kelompok dan pribadi. Mulai dari sleeping bag, matras, tenda, head lamp, senter, bekal makanan secukupnya, dan yang lainnya. Sip! Semuanya sudah lengkap. Saatnya berangkat!

Perjalanan dari Jatinangor ke Garut (kota) sebetulnya hanya 2 jam. Namun, karena lokasi Gunung Papandayan di Cisurupan yang cukup jauh dari pusat kota Garut, jadi kami memerlukan waktu yang lebih lama. Beruntung kami dibantu oleh teknologi GPS dan juga bantuan dari masyarakat Garut yang berbaik hati memberitahu kami rute menuju Cisurupan.

Memasuki kawasan Gunung Papandayan, kami perlu hati-hati karena jalan yang rusak berat. Ditambah saat itu hujan lebat mengguyur Garut sehingga kabut gunung pun menguap dan membuat jarak pandang semakin pendek.

Pukul 12.45 WIB.

Ban mobil kami terjebak ke dalam lubang jalan yang digenangi hujan dan lumpur. Beruntung saat itu hujan sudah mulai reda. Beberapa dari kami mendorong mobil dan ada juga yang bertugas selaku navigator yang memberikan arah kepada Cahyo, memilih jalan yang tepat dan aman untuk dilalui mobil. Alhamdulillah, kami juga dibantu oleh beberapa warga Cisurupan yang langsung turun dari truck berwarna kuning dari arah berlawanan. Mereka pun langsung mendorong mobil Xenia berwarna merah marun yang menjadi tumpangan kami. Satu, dua, tiga! Alhamdulillah ban mobil kami pun terbebas dari cengkraman lubang jalan yang sangat tidak bersahabat. Hatur nuhun bapak-bapak!

***

Selamat Datang di Gunung Papandayan!

Jalanan yang rusak berat membuat kami lebih ekstra hati-hati untuk memilih jalan yang paling aman untuk dilewati. Cahyo memerlukan fokus ekstra, sementara yang lainnya berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan sehingga kami dapat tiba di lokasi dengan selamat. Rintangan demi rintangan kami lewati. Alhamdulillah, saat-saat yang cukup mendebarkan sudah kami lewati. Tepat pukul 14.00 WIB, akhirnya kami tiba di kaki Gunung Papandayan, tepatnya di Camp David.

Pos Pendakian di Camp David. Sumber: Koleksi Pribadi
Pos Pendakian di Camp David. Sumber: Koleksi Pribadi

Karcis masuk Gunung Papandayan dan biaya parkir mobil totalnya seingat saya 15ribu. Selanjutnya, kami harus mendaftar di pos pendakian dan membayar biaya pendaftaran 10ribu. Ternyata, pada hari itu cukup banyak yang camping di Gunung Papandayan. Sepintas saya melihat ada teman-teman dari Unpad, ITB, Untar, dan beberapa kampus lainnya. Setelah selesai mengurusi pendaftaran, kami pun melakukan peregangan dan olahraga kecil supaya tubuh tetap fit.

Hujan gerimis kembali mengundang.

Kami tidak bisa hanya berdiam diri di Camp David. Kami harus segera berangkat agar tidak terlalu sore tiba di Pondok Saladah. Alhamdulillah, ternyata ada lima orang laki-laki asli Garut juga hendak camping di Pondok Saladah. Kami pun berkenalan dan bersepakat untuk mendaki bersama.

Sepanjang pendakian, terlihat banyak orang-orang yang turun dan tampak kelelahan. Di antara mereka kebanyakan pemuda sepantaran kami yang memberikan salam dan memberikan semangat kepada kami. Ah, mereka keren sekali. Kendati mereka membawa ransel carrier yang berat dan besar, serta kaki yang pegal karena berjalan jauh, namun mereka masih menyunggingkan seulas senyuman. Saya pikir, begitulah para pencinta alam. Walau kami tidak saling mengenal, namun kami dapat bersahabat dengan baik. Sebab itu memiliki kecintaan yang sama yaitu alam beserta keindahannya.

Kata Cahyo, satu jam perjalanan, dada akan terasa sesak karena membawa ransel carrier yang besar. “Tapi tenang saja, itu hanya untuk penyesuaian saja,” kata Cahyo. Selanjutnya, kita akan terbiasa berjalan dengan membawa ransel carrier dan menikmati perjalanan yang panjang. Ah ya, benar rupanya! Dada saya terasa sesak. Sesekali saya mengencangkan tali ransel dan berkata, “Saya pasti bisa!”

Berfoto dekat kawah belerang Gunung Papandayan.
Berfoto dekat kawah belerang Gunung Papandayan.

Tahukah kalian, jika kalian ingin mengenal siapa orang-orang di dekat kalian, maka ajaklah mereka melakukan perjalanan jauh seperti mendaki gunung. Maka, kalian akan mengenal secara seksama mereka. Alhamdulillah, saya merasa beruntung karena memiliki tim pendakian yang memiliki kerja sama yang baik, perhatian, dan saling menyemangati.

***

Hujan kembali turun.

Beruntung kami semua sudah menggunakan rain coat. Namun, kami tetap harus waspada mengingat jalanan yang licin. Kami pun berjalan santai di atas bebatuan yang berwarna abu-abu gelap. Di sisi kiri kami, ada kepulan asap kawah Gunung Papandayan. Di sisi kanan kami terlihat bukit pasir yang berbatu-batu. Kami juga sempat mencium aroma belerang yang cukup menyengat. Jadi kami tidak boleh menghirup oksigen dalam-dalam, cukup sekadarnya.

Sepanjang perjalanan, beberapa pengendara motor gunung turun melewati jalan yang curam dengan mahir. Kami pun takjub dengan aksi mereka.

Pendakian kami lalui dengan perasaan suka cita. Lelah sebetulnya, tapi kami terus bersemangat karena kami harus menyudahi apa yang sudah kami mulai. Guna menepis rasa lelah, kami berfoto di spot-spot yang memiliki angle bagus, istirahat sejenak, kemudian kembali berjalan.

1-2-3-15-30-27!

Kami sudah lupa berapa jumlah langkah kaki kami. Rasanya ratusan atau bahkan ribuan. Kami benar-benar lupa.

***

Hijau!
Hijau!

Setelah melewati lembah Gunung Papandayan yang tandus, kami pun memasuki area padang rumput hijau yang segar, kemudian hutan rendah yang ditumbuhi ragam vegetasi seperti Kendung (Helicia serrata), Segel (Wormia excelsa), dan pohon jenis yang paling dominan adalah jenis Anggrid (Neonauclea lanceolata). Kemiringan hutan sekitar 40-45 derajat dengan suhu sekitar 10 derajat celcius. Kendati udara yang cukup dingin, namun keringat yang membasahi baju membuat dinginnya Gunung Papandayan tidak begitu berarti. Jalanan di area hutan lebih licin dan terjal. Kami harus berpegangan di tumpuan kayu dan menggenggam reremputan agar kami bisa berhasil melewati berbagai rintangan.

Dari kejauhan, kabut tipis pun perlahan turun, menutupi bagian atas gunung seperti seorang anak kecil yang mungil yang tersipu malu, kemudian menutup wajahnya dengan selimut kesayangan miliknya. Ah, sempurna sekali sore kala itu.

Tiba di Pondok Saladah

Pukul 16.14 WIB, setelah melewati pendakian panjang, melelahkan, dan penuh tantangan, akhirnya kami tiba di perkemahan Pondok Saladah. Subhanallah, indah sekali!

Pesona keindahan Pondok Saladah
Pesona keindahan Pondok Saladah

Saat itu ternyata sudah banyak orang yang memasang tenda. Ada juga beberapa kelompok yang baru memasang tenda, mengambil air bersih, dan berbincang ringan bersama teman-teman. Ah ya! Mari kita memasang tenda. Kami pun bergegas mengeluarkan barang-barang, menyusun pola tenda, dan bekerjasama memasang tenda. Beberapa kali, kabut tipis ditemani angin gunung yang sejuk melewati tenda kami, kemudian sirna.

Tenda sudah berdiri kokoh. Selanjutnya, kami bersih-bersih dan mempersiapkan makan malam. Kami pun berbagi tugas: ada yang memotong kentang, wortel, buncis, daun bawang, menanak nasi, dan memanaskan air. Apa menu makan malam kami? Soup Papandayan ala Chef Cahyo (Hehe, makasih Cahyo sudah memikirkan makan malam kami). Oke, saatnya makan! Perut yang teramat lapar menambah nikmat makan malam kami. Menurut saya, malam itu adalah menu makan malam yang mahal yaitu sajian soup plus nasi dan segelas teh hangat di alam terbuka yang sangat indah di Gunung Papandayan. Mewah tidak selalu mahal bukan?

Tenda sudah terpasang dengan sempurna!
Tenda sudah terpasang dengan sempurna!

Apa yang paling saya suka ketika berada di alam bebas? Yaitu ketika kita bisa bermunajat kepada Allah. Saat itu, kita merasa kecil. Bahkan sangat kecil. Kita tidak ada apa-apanya. Lantas, apa yang harus kita sombongkan? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah untuk kesempatan yang berharga ini.

Rembulan kala itu
Rembulan kala itu

Minggu, 31 Maret 2013

Semalam saya tidak bisa tidur nyenyak. Sangat dingin. Padahal, sudah memakai kaos kaki, sarung tangan, syal, dan sleeping bag. Tapi mereka tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Mungkin karena kurangnya persediaan lemak dalam tubuh saya sehingga angin gunung begitu mudahnya menyelinap masuk hingga menusuk tulang saya yang tidak tahu apa-apa.

Sekitar pukul 02.00 WIB, saya terbangun. Mendongakkan kepala ke atas, melihat langit luas. Ada bulan yang begitu berbaik hati menyinari pekatnya malam sehingga langit menjadi agak terang berwarna biru. Udara memang tidak bisa diajak kompromi. Baik, saya putuskan kembali ke tenda.

Kami semua terbangun. Siap-siap menunaikan sholat Subuh berjamah. Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb. Sembari menunggu mentari terbit, kami berbagi tugas. Ada yang mengambil air, ada yang masak, dan ada yang bersih-bersih.

Perlahan, mentari pun terbit menyapu bersih kabut yang menggelayut di reranting pohon. Semburat cahaya pun menepis gelap yang telah menemani kami semalam suntuk. Sementara hangatnya mentari pagi mulai mengusik rasa dingin yang dari tubuh kami. Udara yang segar kami hirup sepuas-puasanya. Alhamdulillah, pagi yang indah dan berkah.

Indahnya pagi di Gunung Papandayan
Indahnya pagi di Gunung Papandayan

Menikmati waktu pagi di Gunung Papandayan memang tidak ada duanya. Selain mata kita dimanjakan dengan indahnya pemandangan di sekitar, kita juga bisa melihat secara langsung bunga Edelweiss (Anaphalis Javanica) yang saat itu baru bermekaran. Taklupa, kami pun mengabadikan moment berharga tersebut dengan kamera. Ah, andai setiap hari bisa menikmati indah pagi seperti moment di Gunung Papandayan, betapa bahagianya hidup ini.

Sebetulnya, tujuan akhir kami bukanlah Pondok Saladah. Melainkan kami ingin sekali menikmati keindahan alam Gunung Papandayan di puncak tertinggi yaitu Tegal Alun. Menghirup udara gunung yang segar, mencium aroma kesederhanaan bunga edelweiss, melihat luasnya padang rumput di sana, dan menikmati detik-detik berharga selama di Tegal Alun. Tapi rasanya niatan tersebut belum dapat terealisasi. Perjalanan dari Pondok Saladah ke Tegal Alun setidaknya memakan waktu selama 1 jam. Itu artinya, jika kami ingin bisa menyaksikan sun rise dan melihat langsung keindahan Tegal Alun, maka kami harus berangkat selepas sholat Subuh, sekitar jam 5 pagi. Namun, konsekuensinya, kami tidak bisa berangkat full team. Sebab, harus ada satu di antara kami yang bertugas menjaga tenda hingga kami kembali ke Pondok Saladah. Cahyo sebetulnya mengajukan diri untuk menjaga tenda beserta perlengkapannya. Namun, tentu tidak menarik karena kita tidak dapat berbagi kebahagiaan. Maka, dengan berat hati kami sampaikan, kami tidak jadi ke Tegal Alun.

Pun demikian, tidak menjadi apa-apa. Kami masih bisa melihat bunga-bunga edelweiss yang baru bermekaran di Pondok Saladah. Bagi kami itu sudah lebih dari cukup. Hal yang lebih penting adalah, kami bisa melewati setiap moment bersama-sama.

Tiba waktunya sarapan. Makanan pun sudah terhidang. Cahyo kembali bertugas menjadi koki. Sementara, saya, Nika, dan Nurida menjadi juri masak. Menu pagi itu: nugget, nutrijel, telor dadar, nasi, susu milo, dan apel. Kami pun menyantap sarapan dengan lahap. Sesekali kami tertawa, bercanda, foto-foto, dan kembali melanjutkan makan. Semuanya makanan habis! Kenyang. Ingin berleha-leha sejenak sembari menikmati pagi. Namun hal itu tidak memungkinkan. Kami harus bergegas packing. Tepat pukul 10.00 WIB, kami harus turun khawatir hujan turun.

Sarapan :D
Sarapan 😀

Semua barang-barang sudah masuk ke dalam ransel carrier masing-masing. Tas kembali berat. Namun tidak seberat waktu pemberangkatan. Terasa lebih ringan. Saatnya pulang. Selamat jalan Gunung Papandayan. Kami ucapkan terima kasih banyak. Jika ada kesempatan lagi, kami akan ke sini lagi. Ah, di sini indah sekali. Kami betul-betul menikmati kemewahan tiada terkira. Selesai.

Sayonara!!!!
Sayonara!!!!
Kami berencana ingin melakukan pendakian selanjutnya. Entah kemana, entah kapan. Lihat saja nanti.
Kami berencana ingin melakukan pendakian selanjutnya. Entah kemana, entah kapan. Lihat saja nanti.

***

terima kasih maPANDAyan!!!

@mahfudACHYAR

Berpetualang di Gunung Ijen pada Malam Hari, Bagaimana Rasanya?

Jawa Timur adalah syurga bagi para pelancong yang menawarkan keindahan alam nan eksotik dan sungguh menawan. Anda suka ke pantai? Daerah pantai selatan di Jawa Timur layak sekali untuk Anda kunjungi. Namun, jika Anda menyukai berpetualang di gunung; maka Anda jangan kebingungan untuk mencari destinasi wisata gunung di Jawa Timur. Ada gunung Semeru sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa yang berada di Lumajang, gunung Bromo yang eksotik di Probolinggo, gunung Kelud di Kediri, dan masih banyak gunung-gunung vulkanik aktif yang patut untuk Anda kunjungi.

Pada tanggal 23 Desember 2012, saya bersama teman kerja saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu destinasi andalan di perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi yaitu Gunung Ijen. Kesempatan berpetualang ke Gunung Ijen sama sekali tidak kami rencanakan–spontan dan tanpa persiapan.

Saat itu, kami bertugas hadir dalam penutupan program Budarzi (Ibu Sadar Gizi) di Bondowoso. Acaranya dimulai sekitar pukul 1 siang dan berakhir pukul 15.00 WIB. Selepas acara penutupan, awan tebal menutupi mentari yang sedari tadi memancarkan sinarnya yang cukup terik. Namun hanya selang beberapa menit, awan tebal tersebut berubah menjadi hujan lebat. Saya pun hanya bisa memandang kosong ke depan, melihat hujan turun disertai semilir angina yang berhembus kencang. Ah, bagaimana ini? Apakah rencana jalan-jalan ini dibatalkan? Sayang sekali.
Beberapa menit kemudian, hujan pun reda.

“Kita ke Gunung Ijen yuk,” imbuh salah satu teman saya.
“Yuuk-yuk!”

Semuanya pun sepakat kecuali salah satu rekan kami yang khawatir hujan kembali turun dan jalan yang licin. Namun setelah diskusi cukup panjang, akhirnya kami pun bersepakat untuk ke Gunung Ijen. Beruntung, ada penduduk asli Bondowoso yang juga kenalan kami bersedia menjadi guide ke sana. Yeah! Petualangan di mulai.

Perjalanan dari Bondowoso ke Gunung Ijen tidak terlalu jauh. Hanya sekitar dua jam. Namun saat itu hujan kembali turun dan membuat jarak pandang semakin pendek karena kabut yang menguap di sisi kiri dan kanan jalan. Untungnya driver yang mengantarkan kami sangatlah mahir dan cekatan sehingga kami pun menikmati perjalanan ke Gunung Ijen dengan penuh tantangan. Mobil kami pun melewati jalan yang lurus, berkelok, tanjakan, dan turunan. Air hujan pun semakin senang bermain di kaca mobil kami, kabut pun tidak ketinggalan menutupi jalan, dan sesekali genangan air menciprat ke luar bahu jalan. Ah, perjalanan sore ini sangatlah menyenangkan. Belum lagi jika kita menengok ke samping. Kita akan temukan hamparan rumput gajah yang sengaja di tanam oleh penduduk setempat untuk pakan ternak.

“Mirip di luar negeri ya?” celetuk teman saya.
“Iya mirip. Bagus sekali,” timpal saya.

***

Pukul 17.00 WIB.

Kami pun tiba di pos akhir kawasan Gunung Ijen yaitu Paltuding. Saat itu cuaca terlihat mendung karena hujan baru saja berhenti. Agak ragu sebetulnya apakah kami bisa mencapai puncak gunung Ijen dan melihat kawah gunung Ijen yang terkenal di seantero dunia. Konon katanya, kawah Ijen mengeluarkan blue fire yang hanya bisa dilihat pada dini hari hingga menjelang Subuh. Lebih spektakulernya lagi, blue fire kawah Ijen hanya ada dua di dunia, salah satunya di Indonesia. Hebat bukan? Tapi sebetulnya saya tidak ingin berekspektasi lebih untuk bisa melihat langsung indahnya blue fire kawah gunung Ijen yang eksotis itu. Sampai di puncaknya saja sudah sangat bersyukur mengingat sore yang akan merangkak senja. Waktu perjalanan yang akan ditempuh sekitar dua jam dengan jarak 3KM. Gunung Ijen sendiri memiliki ketinggian 2386 m/dpl. Lumayan jauh bukan? Oke mari kita mulai melangkah menuju puncak gunung Ijen!

Blue Fire Kawah Gunung Ijen. Sumber: google
Blue Fire Kawah Gunung Ijen. Sumber: google

Gunung Ijen memang salah satu gunung wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, baik wisatawan domestik maupun luar negeri. Namun medan gunung Ijen tidak seringan medan menuju gunung Bromo yang hanya melewati padang pasir atau gunung Kelud yang harus menaiki ratusan anak tangga untuk tiba di puncak gunung. Di gunung Ijen, kita layaknya mendaki gunung-gunung biasa didaki oleh para pendaki berpengalaman. Namun bedanya, medan yang ditempuh tidak terlalu berat. Jadi jangan terlalu gusar membayangkan track yang sulit dan berbahaya.

Untuk mencapai puncak gunung Ijen, kita hanya perlu mempersiapkan tenaga yang cukup dan air mineral. Ketika kita mulai melangkah, maka kita menginjaki tanah berpasir berwarna agak kecoklatan. Lihatlah di sepanjang jalan, tumbuh dengan suburnya pohon pinus. Senja pun kian menggulung cahaya, menyapu awan putih secara perlahan. Di ufuk barat, dapat kita lihat sinar lembayung senja yang tertutup ranting dan pepohonan. Senja kala itu berwarna jingga. Sangat cantik sekali. Aih, saya selalu suka senja dengan segala keindahannya.

Senja di gunung Ijen
Senja di gunung Ijen

Namun untuk kali ini, maaf senja, saya tidak bisa lama-lama bercengkrama denganmu. Ada misi yang harus saya tuntaskan dalam tempo waktu yang teramat singkat. Yaitu: tiba di puncak gunung Ijen. Ketika mendaki gunung, adakalanya kita tidak melulu menikmati indahnya perjalanan. Kerap kali rasa lelah yang bergelantungan di pundak dan kaki yang seakan membawa beban yang berat membuat saya mengurungkan niat untuk menyudahi ini semua. Ah, sudahlah. Sudah malam. Tidak usah kita lanjutkan perjalanan ini. Sontak saat itu rasa khawatir membuncah. Namun melihat semangat teman-teman membuat saya berpikir dua kali untuk berhenti melangkah. Oke, apa pun yang terjadi kita harus melanjutkan dan menyudahi perjalanan kita senja ini seperti apa yang sudah kita rencanakan.

Di antara rasa lelah dan kurangnya air minum karena harus berbagi dengan teman-teman, saya sangat takjub melihat seorang pria paruh bayu yang baru turun mendulang belerang dari kawah Ijen.

3 CapsulX-Penambang Kawah Ijen

“Mas itu berat belerangnya berapa?”
“80 Kilogram mas!”

Keren!

Pria yang sudah berumur itu mampu membawa belerang dengan berat 80 kilogram tanpa terlihat mengeluh atau berhenti melangkah. Saat itu pun saya bertekad bahwa saya pasti bisa menyudahi dengan baik perjalanan malam di gunung Ijen ini dengan perasaan puas dan lega ketika telah tiba di puncak.

Sekitar pukul 18.00 WIB, kami pun tiba di pos sebelum tiba puncak gunung. Di sana, ada kedai yang menjual minuman hangat seperti teh dan kopi. Kami pun singgah di sana dan memesan teh hangat. Cuaca yang dingin, keringat dingin yang mengucur, dan ritme napas yang tidak teratur harus dipulihkan sebelum melanjutkan perjalanan. Ah, nikmatnya minum teh hangat sembari melihat bulan yang baru muncul dari peraduannya, senja yang berubah menjadi malam, dan menikmati obrolan ringan dengan teman-teman. Kenangan yang sangat mandalam.

Setelah cukup puas beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan kami. Yeah! Sebentar lagi kami tiba di puncak gunung Ijen. Kabut gunung pun kini seakan menggulung kami dalam perjalanan. Untungnya salah satu kami membawa senter. Lumayan untuk penerangan. Pun begitu, kami masih aman karena saat itu cahaya bulan cukup menyinari bulan jalanan setapak yang kami lewati. Mulut kami pun berdzikir membaca almatsurat sebagai teman dalam perjalanan. Saya rasa ini bukan hanya perjalanan biasa, tapi ini perjalanan yang memiliki nilai ruhiah.

Rembulan di Gunung Ijen
Rembulan di Gunung Ijen

“Kaki terus melangkah, mulut selalu berdizikir, mata terus waspada, dan ucapan optimis selalu menjadi buluh penyemangat yang sangat berarti.”

***
Alhamdulillah.

Setelah mendaki selama dua jam, akhirnya kami pun tiba di puncak gunung Ijen. Tidak ada yang bisa dilihat saat itu kecuali cahaya senter yang seadanya. Kami pun tidak bisa melihat dengan mata kepala kami keindahan kawah gunung Ijen yang katanya indah. Kondisinya memang tidak memungkinkan. Tapi kami cukup senang karena guide kami menunjukkan arah di mana kawah gunung Ijen. Kami dapat mencium bau belerang yang agak tajam. Kami hanya bisa memvisualisasikan bagaimana keindahan kawah gunung Ijen dan berfoto-foto di salah satu papan yang bertulis “Dangerous Area”.

Plank peringatan di puncak gunung Ijen
Plank peringatan di puncak gunung Ijen

Kabut semakin membumbung tinggi. Kami pun memutuskan untuk segera turun. Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan kami kesempatan untuk menjadi saksi betapa hebatnya Kuasa-Mu menciptkan alam yang indah ini.

Bersama tim
Bersama tim
Ini loooo kawah Gunung Ijen yang keren abis! Sumber: google
Ini loooo kawah Gunung Ijen yang keren abis! Sumber: google

selesai.
by: @mahfudACHYAR

WOW! Ada Tempat Bersemedi Patih Gadjah Mada di Madakaripura!

Prolog:
Well, selamat datang tahun 2013! Saya sudah lama sekali tidak berkunjung dan mengisi blog senjaPELANGI yang sama-sama kita cintai. Saya berdoa, semoga impian dan cita-cita kita di tahun ini terwujud. Yeay!

Ayo acungkan tangan kalian! Siapa yang paling ke sering berpetualang ke wisata air terjun? Atau dalam bahasa Sunda lebih dikenal dengan curug? Siapa? Siapa? Sudah berapa kali? Mmm, pasti banyak sekali dari kita yang sudah berkunjung untuk melihat keindahan yang spektakuler dari air terjun yang ada di Indonesia. Kita beruntung sekali! Pasalnya di Indonesia, mata kita akan sangat sering dimanjakan dengan banyaknya variasi air terjun yang menawarkan pesona yang berbeda-beda. Sepakat?!

Nah, kali ini saya ingin mengajak sahabat senjaPELANGI untuk menyimak dengan seksama dengan konsentrasi yang sekhidmat-khidmatnya tentang salah satu air terjun di Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan Lumbang, Probolingo.

Taraaaa!!

Perkenalkan nama air terjunnya adalah air terjun Madakaripura. Nah, air terjun Madakaripura ini masih berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Bagi sahabat SP (singkatan SenjaPelangi) yang sedang berkunjung ke gunung Bromo dan bingung selepas dari Bromo hendak ke mana; air terjun Madakaripura sangat layak untuk dikunjungi.

Saya berkunjung ke air terjun Madakaripura tanggal 14 November 2012 bersama teman-teman kantor saya di Surabaya. Untuk sampai ke tempat tujuan, sahabat SP hanya perlu menempuh jarak sekitar 20 menit menggunakan kendaraan pribadi, bus pariwisata, dan motor. Sejauh pengamatan saya menuju lokasi wisata, memang tidak ada rute angkutan umum ke sana. Namun, sahabat SP harus waspada ketika kendaraan melaju karena ruas jalan ke sana tidak terlalu lebar dan di sisi kanan jalan ada jurang yang sebetulnya tidak begitu curam namun tetap harus berhati-hati.

Nah, saat sahabat SP tiba di lokasi, mungkin Anda akan berpikiran bahwa objek wisata air terjun Madakaripura tidak begitu spesial. Eitss tunggu dulu! Jangan patah semangat! Memang, nampaknya kawasan air terjun Madakaripura ini tidak begitu dikelola dengan baik sehingga kita masih sering menjumpai sampah-sampah yang berserakan di jalan, bangunan yang dicoret-coret tangan jahil, dan tata kelola parker yang berantakan. Ups saya lupa berapa harga karcis masuk air terjun Madakaripura. Seingat saya tidak terlalu mahal. Mungkin sekitar 5ribu rupiah. Hehe saya lupa.

Sebelum masuk lebih jauh untuk mengetahui di mana air terjun Madakaripura, sahabat SP akan melihat patung Patih Gadjah Mada yang sedang duduk bertapa dengan posisi tangan yang terlipat di dada. Jangan lupa ketinggalan untuk mengambil gambar di spot patung Patih Gadjah Mada ya!

Foto bareng dengan patung Gadjah Mada (Maaf agak usil ya om). Sumber: koleksi pribadi
Foto bareng dengan patung Gadjah Mada (Maaf agak usil ya om). Sumber: koleksi pribadi

Oke kawan! Saatnya kita berpetualang! Siapkan stamina yang baik, air minum secukupnya, dan jangan lupa untuk membawa kamera. Sudah siap? Oke mari kita hiking!

Sahabat SP, perjalanan menuju air terjun Madaripura akan ditempuh sekitar 1 jam. Waktu yang cukup lama bukan? Tapi saya yakin ini perjalanan yang sangat menyenangkan. Kita akan mengarungi sungai dangkal berbatuan, melewati tebing-tebing tinggi, menelusuri reremputan hutan yang hijau, dan melewati jembatan kecil yang menantang. Tidak hanya itu, sepanjang perjalanan, kita akan ditemani dengan alunan musik merdu bergenre klasik yang langsung dinyanyikan oleh burung-burung kecil di hutan kawasan air terjun Madakaripura. Bagaimana? Spektakuler bukan?

Tetesan keringat yang membasahi tubuh kita, rasa pegal yang berasal dari otot-otot kaki, dan mental yang mulai melemah akan segera dibayar lunas dengan pemandangan air terjun yang terlihat di antara semak belukar. Kita pun akan bersemangat untuk menyelesaikan petualangan kita menuju lokasi air terjun Madakaripura.

Bunga-bungan di sepanjang jalan menuju air terjun. Sumber: koleksi pribadi
Bunga-bungan di sepanjang jalan menuju air terjun. Sumber: koleksi pribadi
Jernihnya air sungai di sana
Jernihnya air sungai di sana

Horeeee! Kita tiba juga di air terjun Madakaripura. Teman-teman akan diajak untuk memasuki semacam ruangan yang besar di antara tebing-tebing tinggi yang ditumbuhi vegetasi hijau; kemudian ada tiga air terjun yang menetes secara perlahan; dan ada semburat cahaya yang terpancar dari atas. Konon kata pemandu wisata di sana, air terjun yang jatuh menghasilkan nada-nada yang berirama dan harmonis. Namun saat itu saya tidak terpikirkan untuk mendengarkan alunan nada dari tetesan air terjun Madakaripura.

Pesona salah satu air terjun Madakaripura
Pesona salah satu air terjun Madakaripura
Tebing tinggi yang hijau
Tebing tinggi yang hijau

IMG_1440

Untuk melepas penatnya kaki yang sudah berjalan cukup lama, ada baiknya sahabat SP untuk merendamkan kaki terlebih dahulu sembari melihat pemandangan alam yang memesona. Air terjun yang segar seketika akan melenyapkan rasa penat kaki kita. Penasaran? Silakan dicoba. Setelah cukup puas merendamkan kaki, menikmati pemandangan, dan berfoto-foto di sekitar tiga air terjun; silakan menuju ke air terjun utama yang berjarak beberapa meter saja. Jika sahabat SP siap basah-basahan, silakan coba untuk berdiri tepat di atas air terjun. Barangkali bisa menjadi alternative untuk pijak refleksi alami. Segarnya!

Di sisi kanan air terjun, sahabat SP akan melihat sebuah ruangan seperti goa. Konon kata pemandu wisata setempat, ruangan dari baru tersebut dulunya menjadi tempat bersemedia Patih Gadjah Mada. Oleh sebab itulah dinamakan air terjun Madakaripura. Madakaripura adalah nama tanah perdikan yang dimiliki mahapatih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit.
Bagaimana? Air terjun Madakaripura menarik bukan? Silakan kunjungi dan cintailah wisata nusantara!

IMG_1465

Bintang, Hijrah, dan Bromo

Rabu ketika malam hari. Tanggal 14 November 2012.

Suara mesin mobil avanza silver ini menderu pelan. Berpacu dengan puluhan mobil lainnya yang saling berkejar-kejaran. Seperti kekanak yang berlarian mengejar layang-layang di pematang sawah. Sesekali terdengar suara orang yang sedang asyik berbincang-bincang ringan. Tidak cukup jelas apa yang mereka bicarakan. Mata saya sudah tidak kuat menahan kantuk yang teramat.

Saya pun berpetualang di sebuah dimensi yang berbeda. Pada spasial waktu yang tidak diketahui siapa pun. Menjadi diri yang berbeda dan bertemu dengan orang yang berbeda pula. Saya tidak ingat sama sekali.

Plakkk.

Kepala saya terasa sakit sekali terantuk kaca mobil. Semuanya jadi buyar. Saya jadi kehilangan orientasi waktu. Mencoba sadar bahwa ini masih mimpi atau saya sudah terbangun. Pandangan masih kabur. Saya pun menengok ke luar ternyata sangat kelam. Sepintas saya melihat pepohonan pinus yang berjajar rapi. “Oh masih dalam perjalanan,” gumam saya dalam hati. Entah apa yang mendorong saya untuk melihat kembali suasa di luar. Saya pun mendongakkan leher ke sudut atas kaca mobil, melihat langit malam yang teramat luas. Kemudian saya pun berdecak kagum seakan saya sendiri masih belum percaya tentang apa yang sudah saya lihat. Ini sangat langka. Ini sangat jarang sekali saya temukan di Jakarta atau di Surabaya.

Langit malam yang sangat indah bertabur bintang gemintang yang sangat banyak. Kerlap-kerlip seakan menyambut kehadiran saya (lagi-lagi yang berimajinasi yang berlebihan). Bintang-bintang di langit itu sangatlah banyak. Bahkan saya pun sulit mengidentifikasi bintang-bintang tersebut. Apakah itu si bintang yang paling terang Sirius, Archernar, Vega, atau yang lainnya. Sangat banyak dan sangat mengagumkan. Andai setiap malam saya bisa melihat langit seperti ini betapa indahnya malam-malam yang saya lewati. Jemari saya pun kemudian menunjuk beberapa bintang. Titik satu, titik kedua, titik ketiga, dan titik keempat. Ya, itu rasi bintang pari yang seringkali bisa dijumpai. Saya mengagumi bintang-bintang dari kecil. Dulu, ketika saya masih kecil, saya dan kakak saya senang sekali bermain tebak-tebakan hanya untuk sekadar menentukan siapa yang lebih jago menebak rasi bintang.

night_sky-9030_0

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 WIB.

Kami pun akhirnya tiba di pintu masuk kawasan Wisata Nasional Bromo Tenger Semeru. Perlu kalian ketahui, berkunjung ke gunung Bromo adalah salah satu dari sekian tujuan wisata yang menjadi impian saya. Bahkan saya pun telah menulis semua tujuan wisata saya di dream book. Gunung Bromo berada di urutan ke-51 dalam list saya. Hasrat saya untuk berkunjung ke Bromo lantaran betapa seringnya saya melihat liputan di televisi tentang Bromo. Belum lagi sinema yang pernah diperankan oleh Ari Shihasale dan Maudy Koesnaedi yang bejudul “Camelia” yang mengambil lokasi syuting di sana. Tidak hanya itu, film yang berjudul “Pasir Berbisik” yang diperankan oleh Dian Sastro dan Christine Hakim juga berlokasi di sana. Teman-teman saya sudah banyak ke sini. Saya iri pada mereka dan berharap suatu saat bisa ke Bromo. Alhamdulillah malam ini impian saya terkabulkan. Terima kasih Allah.

Mengutip apa yang disampaikan ST. Augustine,

“Jika dunia diibaratkan sebuah buku, maka mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan, hanya membaca satu halaman.”

Saya sendiri sebetulnya tidak terlalu sering melakukan perjalanan. Baru beberapa tempat yang sudah saya kunjungi. Namun saya tetap berharap akan lebih banyak lagi tempat-tempat yang bisa saya kunjungi. Bukankah bumi Allah ini sangat luas? Saya tidak ingin berdiam diri dan pura-pura merasa nyaman dengan tempat saat ini saya berada. Saya ingin sekali melihat bumi di bagian barat, timur, utara, dan selatan. Tentunya akan sangat banyak tempat yang bisa saya kunjungi. Semoga.

Melakukan perjalanan bagi saya tidak hanya sebatas melepas kepenatan dari berbagai rutinitas yang saya jalani. Lebih dari itu, tujuan utama saya melakukan perjalanan adalah untuk melihat kekuasaan Tuhan yang tiada terhingga melalaui ayat-ayat Qauliyah-Nya. Saya hanya ingin sebagai seorang manusia yang bersyukur. Berharap saya akan menjadi pribadi yang memiliki pandangan yang luas seluasa bumi yang terbentang. Mungkin terlalu klise. Tapi itulah pengharapan terbesar saya.

***

Udara dingin gunung Bromo kini semakin menusuk tulang. Kami pun bergegas mempersiapkan atribut perjalanan kami ke gunung Bromo seperti syal, kupluk, jaket, kaos kaki, dan sarung tangan. Ah ya, saya lupa! Sarung tangan saya ketinggalan di Jakarta. Rasanya tidak mungkin saya nekad untuk melawan cuaca yang dingin ini. Kasian tubuh ringkih saya yang hanya dibalut oleh beberapa centi daging saja. Saya bisa saja nekad. Tapi saya harus terima resiko kedinginan. Setelah berpikir beberapa menit, saya dan beberapa di antara kami yang tidak membawa perlengkapan pengusir dingin akhirnya memutuskan untuk membeli beberapa kekerangan perlengkapan kepada seorang bocah. Apalah ini namanya, seorang bocah yang masih kecil, ya mungkin berusia 10 tahun harus menjajakan perlengkapan wisata gunung kepada para pengunjung. Luar biasa! Mereka sangat hebat.

Oke, semuanya sudah siap! Saatnya melanjutkan perjalanan.

Sejauh mata memandang, semuanya terlihat gelap! Sangat gelap! Penerangan hanya ada di sekitar pavilun penginapan dan di area pintu masuk Bromo. Sementara sepanjang jalan menuju lokasi sangat gelap. Tapi bagi saya itu tidak menjadi persoalan berarti. Kalian tahu, ada sesuatu yang spesial dari gelapnya malam ini. Ya, tepat di atas kepala saya, ada jutaan bahkan milyaran bintang yang berkerlap-kerlip. Saya hanya tinggal menunjuk satu bintang, kemudian jadikan ia teman dalam perjalanan, dan saya tidak akan merasa ketakutan.

Salah seorang dari tim kami kemudian berinisiatif memanfaatkan penerangan dari telepon genggam miliknya. Memang tidak terlalu terang, tapi saya rasa cukup untuk menyinari setapak demi setapak perjalanan kita. Tenang saja, tidak hanya kita yang akan melakukan jurit malam. Ada beberapa kelompok juga yang menyusuri padang pasir yang luas ini.

Saya ceritakan pada kalian, lautan pasir yang saya injak ini sangat lembut. Saya merasa sangat nyaman berjalan di atasnya. Kadang rasa penasaran saya pun memuncak. Saya jongkok, kemudian menggenggam pasir yang lembut itu. Tidak hanya lembut, tapi juga terasa dingin. Perlahan, pasir itu tertiup angin dan hilang entah kemana. Saya pun berpikir, mungkin itulah dunia. Kita hanya bisa menggenggamnya dengan tangan kita untuk sementara waktu. Namun kita perlu tahu bahwa semuanya akan hilang. Semuanya akan pergi.

Desiran angin gunung Bromo seakan menyanyikan senandung lagu klasik untuk kita. Mungkin untuk menemani perjalanan kita. Ah merdu sekali dan menentramkan. Sesekali gelak tawa menghiasi perjalanan kami. Tidak jarang decak kagum melengkapi romantisnya perjalanan kami. Kami sangat kagum dengan bintang, pasir, malam, angin, awan kelabu di langit, dan sinar senter yang terpancar dari titik-titik yang berbeda.

Melakukan perjalanan malam seperti ini, lebih-lebih bertepatan dengan tahun baru Islam 1434 Hijriah mengingatkan saya tentang sebuah peristiwa penting umat Islam. Pada tahun 622 Masehi, Rasulullah dan para sahabatnya hijrah dari kota Mekkah ke Madinah. Saya pun merenungi betapa hebatnya keteguhan hati umat Muslim saat itu. Berjalan kaki di hamparan padang gurun di malam hari. Setahu saya, angin gurun itu sangat ekstrim. Bahkan tanpa terprediksi badai pasir bisa datang kapan pun. Mereka sangat hebat. Ya Rabb, sampaikan salam kami untuk kekasihmu Muhammad dan para sahabatnya. Malam ini kami juga berjalanan di atas padang pasir yang luas. Tetapi bukan untuk berhijrah seperti apa yang dulu dilakukan Rasul dan sahabat-sahabatnya. Satu tujuan kami, kami hanya ingin mentafakuri ayat-ayat qauliyah yang Engkau bentangkan di bumi dan apa-apa yang kau hamparkan di langit.

Luar biasa. Selalu saja ada pembelajaran yang saya dapat ketika melakukan perjalanan.

Tidak ada patokan yang jelas jalan menuju ke lokasi gunung Bromo. Namun ada satu petanda yang menjadi kovensi dari tim kami. Di sana, di sebelah barat sana ada batok gunung Bromo. Memang tidak terlihat begitu jelas karena sangat gelap. Namun di sekitar sana ada beberapa cahaya lampu yang bisa dijadikan patokan. Setidaknya kami tidak akan tersasar.

Tidak terasa sudah lebih dari satu jam kami berjalan kaki. Saya pun melihat ke atas. Bintang-bintang yang mengagumkan itu menghilang satu persatu. Sementara awan kelabu di antara pekat langit malam juga semakin mendominasi. Nampaknya waktu Subuh akan segera datang. Saya pun melihat jam di telepon genggam saya. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB. Artinya waktu Subuh sudah tiba. Alhamdulillah kami sebentar lagi tiba di kaki gunung Bromo. Kami sudah melewati Pura suku Tengger yang konon katanya sangat dijaga dan dihormati.

Menurut informasi yang saya ketahui, suku Tengger adalah suku asli yang bermukim di sekitar gunung Bromo. Mereka menganut kepercayaan Hindu yang masih memelihara tradisi lelehur mereka. Terlepas dari itu semua, saya juga kagum pada mereka. Fisik mereka sangatlah kuat. Baik itu orang tua (laki-laki dan perempuan) maupun anak muda sudah terbiasa dengan cuaca dingin gunung Bromo. Pada waktu dini hari, beberapa orang tua suku Tengger sudah siap sedia menjajakan minuman hangat dan makanan ringan di kaki gunung. Pagi hari, para pemudanya sudah berdampingan dengan kuda-kuda untuk membawa turis-turis mengelilingi kawasan wisata Bromo. Ah mereka sungguh hebat. Saya takjub.

Untuk melihat sunrise yang cantik, kita perlu usaha lebih ekstra yaitu dengan menaiki tangga menuju puncak gunung Bromo. Saya sendiri tidak hapal berapa jumlah anak tangga di sana. Sempat terpikirkan untuk menghitungnya, namun di pertengahan jalan saking letihnya saya pun lupa saya sudah menghitung berapa anak tangga. Rasanya tidak mungkin saya untuk turun kembali ke bawah kemudian mengitung dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Sungguh pekerjaan yang melelahkan.

Oh ya, saya lupa. Sebelum naik tangga, kami pun sholat Subuh di area pasir yang agak landai. Tidak terlalu luas memang. Tapi cukup untuk jamaah yang berjumlah enam orang. Hei tidak ada air, mari kita tayamum. Saya pun melepas sarung tangan yang sudah sangat berjasa memberikan kehangatan untuk kedua telapak tangan saya. Wua, dingin sekali. Seolah saya seperti menggenggam salju di Rusia. Hah, lagi-lagi saya berimajinasi. Maklum sebagai penganut golongan darah B, saya kadang tidak kuasa membendung imajinasi saya yang liar. Huh.

BeFunky_IMG_0867

Subhanallahu. Saya selalu merasa tentram dan bahagia ketika sholat di alam bebas. Ada semacam perasaan yang tidak bisa diuraikan dengan kekata puitis. Namun satu yang saya tahu, saya merasa bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta. Terima kasih Allah.

***

Tiga. Dua. Satu.

Yap, akhirnya kami pun tiba di atas puncak gunung Bromo. Kepulan asap kawah gunung Bromo menguap ke atas. Aroma belerang menusuk hidung. Namun semuanya seakan tidak berarti apa-apa. Ada hal yang lebih penting. Saya bisa merasakan segarnya oksigen yang saya hirup. Ini sangat mahal untuk saya dapatkan di Jakarta. Terima kasih Allah.

Melihat ke timur, perlahan mentari kian menampakkan pesonanya. Barangkali mentari itu masih asyik di peraduannya dan enggan muncul. Tapi puluhan orang di atas puncak ini menunggu kedatangan matahari. Kami butuh kehangatanmu dan menyapu dingin angin Bromo yang dari tadi malam menyergap kami.

Romantic
Romantic

Menit pun berganti. Mentari kini terlihat sempurna terlihat di ufuk timur. Warna merah jingga mendominasi di langit pagi ini. Membuat suasana menjadi sangat romantis. Tubuh terasa hangat. Semua orang tampak takjub. Untuk mengabadikan moment berharga ini, maka berterima kasihlah pada kamera. Mata kita memang menangkap semuanya. Otak kita merekamnya. Namun, kamera digital juga membantu kita memvisualisasikan dengan lebih detail. Bersiap-siaplah mengabadikan kenangan ini!

Sunrise at Bromo
Sunrise at Bromo

Setelah cukup puas menikmati pagi di atas puncak, kami pun bergegas turun. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB. Kami memutuskan untuk pulang dan melanjutkan perjalanan berikutnya. Tapi perjalanan ke tempat parker mobil sangatlah lama dan melelahkan. Mungkin langit sudah terang, kami baru menyadari betapa jauhnya perjalanan kami tadi malam. Maka untuk mengusik rasa jenuh, kami pun menikmatinya dengan mengabadikan setiap moment perjalanan kami menggunakan kamera.

BeFunky_IMG_1125

Saya masih belum berhenti mengagumi keindahan alam Bromo. Sangat indah. Akhirnya saya bisa berkunjung ke sini. Menyaksikan secara langsung apa yang dulu hanya bisa saya saksikan di lacar kaca.

***

Malang, 16 November 2012.

Untuk kedua kalinya, saya kembali ke Bromo. Padahal baru dua hari yang lalu saya ke sana. Rasanya magnet Bromo sangatlah kuat untuk menarik saya kembali ke sana. Tentu dengan cerita yang hampir sama, namun dengan orang-orang berbeda. Saya kembali menikmati perjalanan ke Bromo. Bagi saya sendiri, Bromo adalah tempat spesial dan rumah kedua untuk saya. Di sina saya menemukan ketentraman. Terima kasih kepada orang-orang yang sudah mengajak saya ke sini. Terima kasih banyak.

Galeri:

BeFunky_IMG_1093

BeFunky_IMG_1200

BeFunky_IMG_1230

BeFunky_IMG_1277

BeFunky_IMG_1278

BeFunky_IMG_1332

BeFunky_IMG_1335

BeFunky_Instant_1

BeFunky_P1190690

BeFunky_P1190715

BeFunky_P1190757

BeFunky_P1190765

BeFunky_P1190781

Kebaikan dan Petualangan

Sang waktu merangkak malam. Perlahan, kabut tipis berembun pun membasahi kaca pada sebuah jendela. Memoles dengan sentuhan dingin, menyibak kotoran yang dari siang menempel. Kemudian menutupi hampir separuhnya. Malam ini, adalah waktu yang tepat. Menulis segala rasa yang dipendam hati, menumpahkan imajinasi pada kepala yang kian hari terasa berat. Tapi untung tidak sakit lagi seperti beberapa bulan lalu. Alhamdulillah, lagi-lagi Allah menganugrahi kebaikan pada diri ini.

Hai sang senja, aku ingin bercerita sedikit padamu. Tentang kisah yang ingin kubagi, ingin kutumpahkan pada wajah manismu. Tapi kini baru sempat aku ceritakan padamu. Maukah kau mendengarnya? Ayolah, aku butuh teman untuk berbagi cerita malam ini.

Sudahlah, jangan mengeluh. Biasanya kamu bisa menjadi tong sampahku. Mendengar dengan paksa kekesalan, kekecewaan, dan kebandelanku. Tapi aku janji padamu. Malam ini aku tidak akan menyusahkanmu. Hanya sedikit berbagi saja. Tentang kebaikan yang beberapa waktu kebelakang menghampiriku.

Ah, kebaikan itu terus mendekat padaku. Aku ingin mendekap kuat dan menatap lekat wajah kebaikan yang senantiasa Allah hadiahi padaku. Oh ya senja, mana temanmu pelangi? Ah, betapa senangnya aku pada dia. Dua hari yang lalu, ketika aku bersama saudara-saudaraku pada waktu kamu, melihat temanmu. Sungguh ingin kukatakan, aku mengagumi temanmu. Ups, tidak hanya temanmu tapi juga dirimu. Aku cinta kalian senja pelangi. Nampaknya agak norak. Tapi aku mana peduli. Kalau sudah cinta, susah ditahan-tahan.

Ah, kamu membuatku tidak sistematis. Sepertinya tulisanku malam ini cukup jelek sekali ya. Tidak tahu arah dan tujuan. Well, tidak apa. Yang penting aku ingin bercerita. Mau ya? Begini senja, aku ingin menyampaikan sesuatu yang ingin kuulang selama 1000 kali. He, banyak ya! Tapi benar, aku ingin mengulangnya. Hingga aku bosan sendiri. Atau bahkan bisa lebih. Aku ingin bilang itu saja. Hingga mulutku penat dan tidak bisa bicara lagi. Jadi apa yang ingin kuceritakan padamu, hah? Oh ya, aku baru ingat.

Aku mau bilang. Aku sangat cinta Allah. Itu saja. Keren ya? Iya memang keren. Entahlah, dari dulu aku memang cinta Allah. Tapi entah mengapa sekarang-sekarang ini aku makin cinta Allah. Hmm, Allah baik sekali padaku. Itu yang kurasa belakangan ini. Oke, aku akan merunut semua kebaikan itu. Tapi sayang, terlalu banyak. Bahkan banyak sekali.

Begini kawan, aku ingin bercerita tentang aktivitasku saat ini. Aktivitas yang memberikan banyak perubahan dalam hidupku. Dan aku bersyukur, Allah memberikan kesempatan padaku untuk berubah. Tapi ada yang kukhawatirkan kawan, aku takut ini hanya sesaat. Ah, mudah-mudahan kekhawatiranku tidak beralasan.

Hai senja, tolong sampaikan pada sahabatmu sang waktu. Mengapa belakangan ini aku serasa kekurangan sekali waktu. Dulu, banyak waktu luang yang diberikan padaku. Sekarang? Tapi tidak apa-apa, aku bahagia. Itu artinya, aku masih diberi kesempatan untuk meningkatkan produktivitas dalam kebaikan. Amiin.

Subhanallah, wal hamdulillah.

Allah beri aku kado di penghujung masa kuliahku. Adanya perubahan yang signifikan dalam hidup. Banyak, ya sangat banyak. AKU SAYANG ALLAH. Rasanya apa yang aku butuhkan begitu cepat terwujud. Sungguh, ini seriusan. Baiklah, akan aku paparan satu-satu. Financial lancar, skripsi lancar, organisasi lancar, amalan yaumiyah membaik, hubungan personal sesama manusia baik, dan semuanya berjalan baik. Aku sekarang ingin berlama-lama di kampus. Bercanda ria dengan teman-teman satu jurusan. Aku ingin berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara satu kontrakan. Aku ingin selalu menghiasi hari dengan saudara-saudara di BPM.

Jujur, aku makin cinta sama mereka. Cinta karena Allah. Kadang, aku benci perpisahan. Tapi sekarang aku lebih bijak, bahwa hidup itu berjalan. Tidak statis. Mau tidak mau, semuanya akan berubah. Tapi jangan khawatir. Aku telah menyiapkan pahat terbaik. Sudah kubeli dari pemahat Persia. Aku ingin memahat kebaikan Allah padaku di hati ini. Biar tidak hilang. Biar aku masih merasakan energi positif ini kapan pun dan dimana pun. Amiin. Doakan aku senja, biar selalu istiqomah. Amin.

Oh ya? Satu lagi, aku lupa bercerita padamu. Bahwa aku sudah menemukan kembali jiwa petualangku yang sempat menghilang. Ok, kamu mungkin sudah pernah kuceritakan bahwa aku sangat menyenangi petualangan. Itu sangat! Dari kekanak, aku bersama teman-teman senang sekali berpetualang. Instrumennya bisa menggunakan sepeda, bermodal dengkul, dan semangat. Haha, lagi-lagi nostalgia.

Sewaktu di SD, sahabat yang sering kuajak berpetualang namanya Ichsan. Subhanallah, dia never ending brother buatku, senja. Sayang sekali, sekarang kita sudah terpisah ruang dan jarak. Semoga dia masih ingat masa indah dulu.

Nah, waktu di SMP aku senang sasapedahan dengan Wahyu. (Ya Allah berilah sahabatku ini tempat terbaik di sisi-Mu. Amin). Kawan, temanku itu sudah menghadap ke haribaan-Nya. Yuk, kita doakan. Nah, pas SMA? Sama siapa yak? Hehe, oh ya nampaknya bersama teman-teman Rohis. Tapi petualangannya tidak terlalu kuingat. Soalnya kurang menarik. Nah, pas kuliah hasrat untuk berpetualang pun jadi tergerus. Halah, kaya idealisme aja yak. Tapi beruntung, dua hari lalu (6/04) saudara saya Rifky Zulfikar (a.k.a Qqlay) mengajak berpetualang ke Garut. Rutenya sederhana: Bandung-Tarogong-Samarang-Kamojang-Ibun-Faseh.

249551_1723740746096_6877895_n
Best bro: Rifky!

Tapi yang paling mengagumi pemandangannya kawan. Subhanallah, indah dan keren sekali. Berasa di luar negeri. Eh, maksudnya berasa mudik ke Munich. Hehe, ngarep. Itu benar, kami sangat mengagumi karya Allah. Begitu apik dan indah. Ah, susah sekali mendiskripsikannya. Tapi yang jelas, tempatnya sungguh indah. Kami pun mentadaburi ayat-ayat qauliyah. Hehe, jadi inget surat Al-imran 190-191. Kurang lebih artinya seperti ini, “Sesungguhnya di antara penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal…..” hingga akhirnya, setelah aku mengagumi dengan sepenuh hati lukisan Allah, aku pun bergumam, “Ini sungguh indah. Aku mengagumi. Tapi aku lebih mengagumi pencipta lukisan ini. Allah Maha Cinta.”