Sajak untuk Mereka yang Berhati Hangat

WhatsAppImage2019-11-14at5.39.47PM
Veteran St, Jakarta (Photo by. Mahfud Achyar)

Hari ini, 13 November, masyarakat di dunia merayakan World Kindness Day. Gagasan ini pertama kali tercetus pada 1998 yang bertujuan untuk mempromosikan kebaikan di seluruh dunia. Sederhananya, World Kindness Day merupakan alarm untuk mengingatkan orang-orang di seluruh dunia untuk selalu berbuat baik.

Saat ini, kita hidup di dunia yang penuh prasangka. Belum lagi, rumah yang kita tinggali kian renta. Hidup di zaman ini memang tidak mudah. Terkadang, hati terasa sesak, terkadang pikiran menjadi kalut. Rasa-rasanya ingin pergi galaksi nun jauh di sana. Berharap mungkin saja di sana ada rumah yang lebih ramah untuk ditinggali. Berharap mungkin saja di sana lebih mudah menemukan orang-orang yang berhati hangat.

Akan tetapi, Marcus Tullius Cicero pernah berkata, “While there’s life, there’s hope.” Percayalah, walau orang-orang jahat terlihat lebih banyak, akan selalu ada orang-orang yang berbuat baik. Mungkin, wajah mereka tidak familiar. Mungkin, nama mereka tidak terdengar. Mungkin, jasa mereka tidak pernah dicatat. Namun aroma kebaikan mereka akan terus menyeruak hingga menembus ruang, waktu, dan jarak.

Jika hidup terasa pahit, cobalah mengingat memori kebaikan yang pernah terjadi dalam hidup kita. Contohnya seperti yang saya alami hari ini. Usai makan siang dan hendak menyebrang jalan, tidak ada satupun pengendara yang mau memperlambat laju kendaraannya. Entahlah, mungkin semua orang sedang buru-buru. Persoalan menyebrang di jalanan Ibukota memang kadang menguras energi. Kendati kita menyebrang di jalur yang benar seperti zebra cross, selalu ada saja pengendara yang tidak mau mengalah. Sebagai pejalan kaki, kadang mau tidak mau kita juga harus nekat menerobos pengendara yang egois.

Pun begitu, akan selalu ada pengendara yang baik hati. Seorang pengendara motor memperlambat laju kendaraannya sembari memberi aba-aba agar saya dapat menyebrang. Hal yang sederhana, namun terasa begitu istimewa.

Kebaikan lainnya saya temukan di peron kereta. Seorang bapak paruh bayu mengeluarkan kotak plastik berisi makanan kucing. Ia menghampiri seekor kucing yang sedang berbaring. Kucing tersebut terlihat kurus. Jelas, ia kurang makan. Bapak itu kemudian memberinya makan dan sesekali mengelus badan kucing dengan penuh kasih sayang. Si kucing makan dengan lahap. Mungkin ia tidak menyangka akan mendapatkan makanan yang enak dari seorang bapak yang entah di mana rumahnya.

Dari jauh, saya hanya bisa melihat pemandangan yang membuat hati terasa hangat. Ingin mengabadikan momen saat itu. Namun urung saya lakukan. Rasanya, tidak semua momen harus didokumentasikan. Kadang cukup saya simpan sendiri. Tidak perlu dibagikan pada banyak orang.

Kereta listrik melaju, di perlintasan kereta api, ada petugas yang berjaga sepenuh hati untuk memastikan tidak ada satupun kendaraan yang lewat saat kereta melintas. Jika petugas tersebut lalai menjalankan tugas, sudah dapat dibayangkan hal buruk pasti terjadi. Untuk sang penjaga palang pintu kereta, terima kasih tiada terkira dari kami penumpang kereta.

Sementara di dalam kereta, orang-orang berharap mendapatkan kursi. Membayangkan perjalanan di kereta bisa digunakan untuk istirahat usai hari yang melelahkan. Namun sayangnya, apa yang kita harapkan kadang jauh dari kenyataan. Tidak mengapa toh masih muda dan masih banyak orang-orang yang butuh kursi, terutama mereka yang sudah menua.

Seorang pemuda yang sedang asik membaca buku kemudian berdiri. Ia mempersilakan seorang ibu di depannya untuk duduk. “Silakan duduk, Bu.” Ibu tersebut tersenyum sembari berucap, “Terima kasih, Nak.”

Ah, lagi-lagi hati terasa hangat. Nyatanya masih banyak orang-orang berhati lembut. Saya kemudian melihat ke bawah. Memandangi sepatu yang sedang dipakai oleh seorang wanita. Sepatu itu mengingatkan saya kepada sepatu lari saya yang hilang di masjid kantor. Hari itu, saya merasa sangat sial. Padahal, itu sepatu lari saya satu-satunya. Namun apa boleh buat, musibah siapa yang bisa prediksi? Akhirnya, seorang teman meminjamkan sepatu lari miliknya hingga akhirnya saya bisa lari selepas pulang kerja.

Dalam satu hari saja, ada begitu banyak kebaikan yang dapat kita temukan. Kebaikan akan selalu ada, bahkan dalam hal yang sederhana sekalipun. Seorang teman kantor yang menawari secangkir kopi hangat, seorang pengemudi ojek yang mengantarkan kita ke tempat tujuan kita dengan selamat, seorang penjual nasi goreng yang masih berjualan kendati waktu sudah menujukkan pukul 12 malam, seorang teman yang mengirimkan pesan inspiratif, dan seorang-seorang lainnya.

Untuk mereka yang berhati hangat, terimalah sajak berikut:

Kita mungkin takselalu bisa berbuat baik. Namun bila hati kita baik, kita akan selalu berupaya berbuat baik. Kebaikan yang sudah kita lakukan, bisa jadi tidak akan diingat, tapi bukankah itu tidak menjadi persoalan? Teruslah berbuat baik sebab dunia butuh lebih banyak orang baik.”

Jakarta,

13 November 2019

Setelah Tiada, Seperti Apa Orang-Orang Mengenang Kita?

My shadow. Photo by. Mahfud Achyar.

Ponsel pintar dalam saku celana saya bergetar. Ternyata ada pesan masuk di grup WhatsApp. Seorang teman mengirim tautan berita daring dengan judul “BJ Habibie Meninggal Dunia”. Sontak saya kaget lalu membaca tautan berita tersebut. “Presiden RI ke-3, BJ Habibie, tutup usia. Habibie meninggal di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun.” Begitu kalimat pembuka berita duka meninggalnya Presiden RI ke-3 yang akrab dipanggil Eyang Habibie.

Kepergian Eyang Habibie untuk selama-lamanya ke alam keabadian menyisakan duka yang teramat dalam bagi rakyat Indonesia, khususnya bagi orang-orang yang pernah berinteraksi secara langsung dengan beliau semasa hidupnya. Lini media sosial dibanjiri ucapan kalimat duka cita. Banyak juga yang mengunggah foto bersama Eyang Habibie lengkap dengan cerita kenangan mereka mengenal sosok Eyang Habibie; entah itu hanya sekali bertemu, beberapa kali, atau sering bertemu.

Semua orang mengenang sosok Eyang Habibie dengan kenangan yang baik. Ia tidak hanya dikenang sebagai salah satu presiden Indonesia yang progresif, namun juga dikenang sebagai orang yang telah menginspirasi banyak orang, khususnya anak-anak yang lahir era tahun 80-an hingga 90-an. Saya, mungkin satu dari sekian banyak anak-anak Indonesia pada masa itu yang bercita-cita menjadi seorang Habibie. Mungkin tidak ingin menjadi seorang insinyur seperti Habibie yang berhasil membuat pesawat sendiri melainkan menjadi orang pintar layaknya Habibie.

Ketika kecil, mama saya selalu berpesan, “Kamu harus rajin belajar agar nanti pintar seperti Habibie.” Bisa dikatakan, Habibie menjadi teladan anak-anak Indonesia untuk bersemangat meraih mimpi, untuk bersemangat membuat bangsa Indonesia dipandang terhormat di mata dunia.

Untuk mengenang jasa-jasa Eyang Habibie untuk Indonesia, pemerintah menginstruksikan untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari, mulai tanggal 12 September hingga 14 September 2019. “Selamat jalan, Eyang Habibie. Terima kasih sudah berkontribusi besar untuk bangsa ini. Terima kasih sudah menjadi teladan bagi banyak orang,” tulis saya di beranda Facebook.

Jauh sebelum kepergian Eyang Habibie, ketika kecil, ada dua kabar duka yang paling saya ingat, yaitu meninggalnya Ibu Tien Soeharto pada 28 April 1996 dan meninggalnya Lady Diana 31 Agustus 1997. Kepergian dua tokoh tersebut ramai disiarkan di televisi. Orang-orang berduka. Berbagai cara dilakukan untuk menunjukkan rasa simpati kepada ke dua tokoh tersebut, salah satunya mengirim karangan bunga.

Dari berita duka meninggalnya Eyang Habibie, Ibu Tien Soeharto, dan Lady Diana, lalu menyeruak satu pertanyaan yang hingga saat ini belum saya temukan jawabannya, “Setelah saya tiada, seperti apa orang-orang mengenang saya?”

Saya membayangkan jika hari itu tiba, mungkin saja orang-orang yang mengenal saya akan bersedih. Lalu, ada beberapa orang yang mengantarkan saya ke tempat perisitirahatan saya yang terakhir, ada juga mungkin yang mengunggah foto saya di media sosial, serta kemungkinan-kemungkinan lainnya. Namun beberapa hari kemudian, hidup kembali berjalan normal–ada atau tidak adanya saya. Keluarga saya kembali melanjutkan hidup, begitu juga dengan teman-teman saya. Sementara saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi di kehidupan saya berikutnya.

Kembali pada pertanyaan tadi, ketika kita sudah tiada, seperti apa orang-orang mengenang kita? Mungkin jawabannya akan beragam. Setiap orang yang pernah berinteraksi dengan kita memiliki sudut pandang yang berbeda-beda saat mengenang kita. Semua itu bergantung pengalaman mereka. Ada mungkin orang-orang yang pernah kita sentuh hatinya, ada mungkin orang-orang yang kita sakiti hatinya.

Saya kemudian bertanya pada salah seorang teman mengenai pertanyaan tadi. Ia menjawab singkat, “Pendiam.” Baginya, saya adalah orang yang pendiam dan mungkin hal itu benar adanya. Tidak ada ruang justifikasi untuk jawaban teman saya tersebut. Saya hanya mengucapkan terima kasih atas kejujurannya.

Terlepas dari jawaban yang mungkin berbeda-beda, sejujurnya ada satu kata sifat yang ingin sekali saya tinggalkan ketika saya sudah tidak ada lagi di dunia ini, yaitu big heart. Bahwa saya dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang saya miliki, saya berupaya memaafkan orang-orang yang pernah berbuat buruk terhadap saya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Terkadang, saya masih ingat betul perlakuan buruk orang lain terhadap saya. Perih hati masih terasa sama. Namun, saya memilih memerdekakan hati saya. Biarlah yang sudah terjadi menjadi cerita kehidupan yang takharus disimpan, apalagi dikenang. Memaafkan sejatinya bukan untuk orang lain, namun justru untuk diri saya sendiri. Memaafkan berarti saya berdamai dengan masa lalu, kemudian memilih untuk menjalani hidup dengan hati yang lapang.

Selain itu, saya rasa saya termasuk jenis orang yang sering mengingat kebaikan walau jarang saya ungkapkan. Bahkan, saya berpikir harusnya saya mendapatkan balasan atas hal baik yang saya lakukan. Seperti ungkapan yang sering terdengar, “Take and give.” Namun belakangan saya menyadari bahwa saya keliru. Seharusnya jika memang saya berbuat baik, maka lakukanlah dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan balasan. Jujur, bagi saya itu cukup berat. Namun, bukankah manusia akan diuji hal yang sama hingga ia berhasil melewati ujian tersebut?

Manusia tidak seharusnya menjadi tempat kita menyimpan pengharapan. Biarkan harapan kita satu-satunya kita percayakan kepada Sang Pencipta. Sebab, jika kita terlalu berharap pada manusia, maka siap-siap kita akan patah hati dan kecewa. Meski, patah hati dan kecewa juga tidak apa. Namun, bukankah hati terasa lebih merdeka saat kita takharus punya alasan untuk berbuat baik?

Entahlah, mungkin itu hanya sebatas cita-cita saat saya telah tiada. Hal sebaliknya sangat mungkin terjadi. Tapi setidaknya sekarang saya sudah cukup lega. Ada tujuan hidup yang menjadi pengingat saya dalam menjalani hari-hari yang masih tersisa. Persoalan seperti apa orang-orang mengenang saya ketika nanti saya tiada, sekarang menjadi tidak begitu penting lagi. Untuk apa saya memikirkan sesuatu yang sulit saya prediksi. Lebih baik, saya menjadi pribadi yang ingin saya cita-citakan untuk diri saya sendiri. Seorang pribadi yang memiliki hati yang lapang. Semoga.

Tentang kematian, rasanya kutipan dari Irving Berlin sangat mewakili suara hati saya, “The song is ended, but the melody lingers on.”

 

Jakarta,

12 November 2019.

Jangan Pernah Merasa Berjuang Sendiri

Pelican crossing at Thamrin Street Jakarta. Photo by Mahfud Achyar.

Jangan pernah merasa berjuang sendiri, yang lain juga sedang berjuang, tapi dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang memperlihatkan, ada juga yang menyembunyikan. Hanya kita tidak ada punya kuasa untuk mengetahui secara rinci permasalahan apa yang mereka hadapi. Ada yang memilih berbagi, ada juga yang memilih untuk menyimpan rapat-rapat. Lagi-lagi, semua kembali pada pilihan masing-masing orang. Tidak ada yang benar atau yang salah dalam perkara ini.

Kemarin, mungkin satu dari sekian banyak hari yang terberat dalam hidup saya. Ada masalah yang sedang saya hadapi dan sepertinya masalah tersebut berulang kali terjadi. Lalu, ditambah kemarin ada kejadian yang menguji kesabaran saya. Lengkap sudah.

Seperti biasa, setiap hari saya berangkat ke kantor menggunakan Transjakarta. Pagi itu, saat saya hendak tap in kartu uang elektronik, petugas Transjakarta mengatakan mesin untuk tap in mengalami gangguan. Jadi, harus menggunakan uang tunai sebesar dua ribu rupiah karena masih di bawah pukul 7 pagi. Sialnya, dompet saya saat itu kosong. Tidak ada uang sama sekali. Sementara lokasi mesin ATM cukup jauh. Penumpang lainya berhasil masuk karena mereka membawa uang tunai.

Saya punya pengalaman, sering ada penumpang yang tidak bisa tap in lantaran tidak membawa kartu uang elektronik atau saldo kartunya tidak cukup. Saya kemudian inisiatif menawari dia untuk menggunakan kartu saya hingga akhirnya ia berhasil masuk. Sebenarnya, saya agak ragu menulis hal ini khawatir saya mengingat-ingat kebaikan. Namun, pagi itu pikiran buruk terlintas di benak saya, “Mengapa saat saya lagi kesusahan tidak ada yang membantu?”

“Mas, mesin tap in yang rusak di halte ini saja atau semua halte?” tanya saya.

“Di halte ini saja mas,” jawabnya singkat.

Akhirnya dengan langkah yang berat, saya ke luar halte. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba terlintas pikiran, “Mengapa saya tidak bertanya kepada penumpang lain? Adakah yang bersedia meminjamkan kartu uang elektronik sehingga saya bisa masuk?” Namun anehnya, hal itu tidak saya lakukan. Saya memilih untuk ke luar halte dan berjalan menuju halte lainnya dengan perasaan kesal.

Berjalan beberapa meter, akhirnya saya tiba di halte berikutnya dan berhasil tap in. Di dalam Transjakarta, saya mengeluarkan earphone kemudian memutar playlist lagu-lagu favorit saya di Spotify. Saya melihat ke arah jendela. Lirih saya berkata, “Mengapa hari ini terasa berat?” Saya menghembuskan napas pelan-pelan, berharap dapat berpikir lebih jernih.

Lalu, saya melihat para penumpang Transjakarta. Ada yang sedang memainkan ponsel pintar, ada yang sedang tertidur, dan ada juga yang sedang melamun. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul lagi lintasan pikiran. Katanya, “Jangan pernah merasa berjuang sendirian, yang lain juga sedang berjuang.”

Orang-orang di dalam Transjakarta, bisa jadi memiliki masalah yang jauh lebih berat dibandingkan masalah yang sedang saya hadapi. Penumpang yang tertidur, barangkali ia ingin melupakan sejenak masalah rumah tangga yang sedang ia alami. Penumpang yang sedang memainkan ponsel pintar, barangkali ingin melepas penat dan stres lantaran pekerjaan kantornya takkunjung rampung. Penumpang yang sedang melamun, barangkali ia baru saja kehilangan orang yang dicintai.

Setelah melihat wajah para penumpang Transjakarta, saya berpikir bahwa perasaan sedih, kecewa, dan marah itu hal yang biasa. Tidak ada yang salah dengan perasaan-perasaan itu. Mereka akan terus menyapa kita. Mereka akan terus hadir menjadi bagian dari emosi kita. Mungkin kita tidak perlu mengusir mereka. Katakan pada mereka, “Baiklah, kali ini kamu boleh hadir, tapi jangan lama-lama ya. Semoga bisa pergi secepatnya.”

Begitulah kisah hidup anak manusia. Selalu ada dua cerita untuk setiap kehidupan; kehidupan yang kita jalani dan kehidupan yang kita ceritakan kepada orang lain. Tidak ada yang betul-betul tahu kehidupan seseorang. Kita mungkin bisa berasumsi, kita mungkin bisa menerka-nerka. Namun, cerita utuh dari kehidupan manusia hanya ia dan Tuhan-lah yang tahu. Bisa jadi, di balik senyuman, ada rasa resah dan gelisah. Bisa jadi juga dalam diam seseorang, ia sedang berbisik, “Dunia ramahlah padaku.”

Everybody has their own problems. No matter how big you think yours are, there is someone else that has bigger problems or different problems.” – Josh Hutcherson.

Jakarta,

5 November 2019

 

Mereka Tidak Benar-Benar Pergi

WhatsApp Image 2019-03-05 at 6.03.46 AM
Photo Captured by. Harry Anggie

Pagi ini, saya mendapatkan notifikasi dari Facebook, “Edrizal and 7 others have birthdays today. Help them celebrate!” begitu pesan Facebook. Biasanya, jika sempat, saya akan mengirim ucapan selamat ulang tahun ke teman-teman yang sedang ulang tahun. Di antara mereka ada teman-teman yang masih intens berkomunikasi hingga sekarang namun lebih banyaknya mereka yang sudah jarang sekali berkomunikasi, apalagi bertatap muka.

Momentum ulang tahun saya manfaatkan untuk menjalin yang sudah terputus, merekatkan yang sudah terlepas. Kata mama, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahmi.” Sebuah pesan yang sebetulnya sulit sekali saya terapkan lantaran saya  tergolong orang cukup cuek, terutama kepada orang-orang yang saya anggap tidak begitu dekat. Entahlah, apakah itu baik atau buruk. Namun yang jelas, saya berupaya agar hubungan yang sudah dibangun baik sejak awal tetap menjadi baik—hingga tiba waktunya saya taklagi berkewajiban menjalankan peran sebagai makhluk sosial.

Hari ini, pengingat dari Facebook membuat hati saya mendung. Pagi yang tadi cerah seketika berubah kelabu. Otak saya secara otomatis mencari kenangan yang tersimpan di hippocampus, bagian otak yang menyimpan memori. Hippocampus menampilkan mozaik kesedihan yang saya rasakan ketika salah seorang sahabat saya yang hari ini ulang tahun, meninggal dunia, tepatnya pada 4 November 2013.

Ia pergi pada usia yang masih sangat muda. Jauh sebelum ia sakit, kami berencana untuk bertemu untuk sekadar memastikan bahwa tidak banyak yang berubah dari kami. Namun sialnya terkadang dunia bekerja tidak seperti apa yang kita pikirkan. Hari-hari berikutnya ia menanggung beban yang takbisa ia bagi kepada saya. Ia terbaring sakit hingga akhirnya Tuhan mencukupkan rasa sakit yang ia derita. Kini, ia taklagi sakit. Ia sudah beristirahat dengan tenang di sana. Semoga Tuhan tempatkan ia di tempat terbaik di sisi-Nya.

Saya pernah mendengar ungkapan seperti ini, “”Orang-orang baik, konon katanya lebih cepat meninggal.” Saya tidak mafhum apakah teori ini akurat atau tidak. Namun ada hal yang cukup menganggu hari-hari saya, “Mengapa orang-orang yang baik kepada saya, satu persatu meninggalkan saya.”

Saya telah banyak kehilangan orang-orang yang saya sangat sayangi. Kehilangan paling berat yaitu ketika kehilangan sahabat baik sejak di bangku Sekolah Dasar lanjut kehilangan sahabat baik ketika di bangku Sekolah Menengah Pertama, terakhir kehilangan orang yang memiliki tempat istimewa di hati saya: nenek.

Takbanyak orang yang saya izinkan masuk ke dalam hati saya. Sejak kecil, saya sangat selektif memilih teman. Saya ingat pesan mama, katanya, “Jangan sembarangan memilih teman. Seseorang dilihat dari siapa ia berteman.”

Secara tidak langsung, pesan itu begitu melekat di benak saya sehingga dampaknya saya tidak begitu pandai bergaul. Teman saya ya itu-itu saja. Namun saya merasa sudah cukup memiliki beberapa orang teman yang baik yang mampu mendorong saya jauh lebih baik dari hari ke harinya.

Dalam hidup ini, ada hal yang bisa kita ubah dan ada hal yang masih bisa kita upayakan. Kita terlahir dari keluarga seperti apa, itu hal tidak mungkin kita ubah. Namun kita masih punya kesempatan memilih orang-orang yang kita sebut sebagai sahabat. Kita memiliki hak prerogatif untuk menyaring siapa saja yang boleh ada di hati kita dan siapa yang tidak. Siapapun tidak berhak menggugat hak itu.

Lantas, bagaimana jika mereka yang sudah kita pilih, secara bergantian tidak lagi bersama kita? Saat kehilangan mereka, saya merasa ada yang hilang dalam hati saya. Seketika dada terasa sesak, seketika anterior cingulate cortex (ACC) bekerja tanpa diperintah. Jika hati layaknya kumpulan puzzle, maka kehilangan orang yang terkasih menyebabkan kepingan puzzle turut hilang. Lambat laun, hati tidak lagi tersusun dari kumpulan puzzle yang utuh. Ada ruang yang kosong, ada ruang yang dingin, dan ada yang ruang yang hampa. Kini, semua tidak lagi sama.

Kamis, 22 Juni 2017 merupakan hari yang cukup berat dalam hidup saya. Hari itu, untuk terakhir kalinya saya melihat wajah, menyentuh tangan, dan membelai rambut orang yang sangat saya sayangi, nenek. Berulang kali saya menaruh jari telunjuk tepat di bawah lubang hidung nenek, memastikan nenek masih bernapas. Merasa takcukup, saya juga berulang kali menekan pembuluh nadi nenek, memastikan pembuluh nadinya masih berdenyut. Namun takada napas hangat yang saya rasakan, takada juga denyut nadi yang berdenyut lemah. Semuanya nihil.

Saya membuka kacamata, mengelap muka dengan tangan kiri saya. Saya belum bisa menerima bahwa nenek pergi untuk selamanya. Saat itu, tidak ada air mata yang menetes. Saya hanya merasa linglung. Saya sulit membedakan apakah saat itu saya berada dalam mimpi atau kenyataan. Lalu, kain panjang menutup muka nenek. Suara terdengar gaduh sementara saya merasa sepi. Lagi, ada puzzle yang hilang, semua kembali berulang.

Begitulah adanya hidup, ada yang terlahir dan ada pula yang meninggal. Saya membaca berita bahwa setidaknya ada tiga bayi terlahir setiap detik di seluruh dunia dan pada hari yang sama sekitar 153 ribu orang meninggal di seluruh dunia.

Mereka yang datang disambut suka cita, mereka yang pergi disambut dengan duka dan air mata. Datang dan pergi seolah menjadi hal yang takbisa kita hindari. Untuk mereka yang saya sayangi dan sudah pergi, ingin sekali saya katakan pada mereka bahwa sesungguhnya mereka tidak benar-benar pergi di hati saya. Mereka akan terus ada hingga kapanpun. Saya akan selalu mengingat mereka dalam ingatan yang baik, ingatan yang terjaga.

Mengutip pesan Sirius Black kepada anak baptisnya, Harry, “The ones who love us never really leave us, you can always find them in here (heart).” Saya berharap, pada suatu waktu, saya bisa kembali bertemu mereka, bercerita tentang hari-hari indah yang pernah kita jalani bersama.

Terima kasih untuk mereka yang pernah baik pada saya. Izinkan saya untuk selalu mengingat dalam ingatan yang baik, dalam ingatan yang terjaga.

 

Jakarta,

28 Maret 2019

 

 

Merasa Cukup

DSC_0013_19-01.jpeg
Photo captured by. Mahfud Achyar

“How’s life?”

Seorang teman mengirim pesan singkat di aplikasi WhatsApp.

“Good!” balas saya singkat.

Klise. Demikianlah percakapan yang acap kali terjadi antara satu manusia dengan manusia lainnya. Pertanyaan seputar kabar biasanya menjadi pertanyaan pembuka saat kita ingin menjalin komunikasi dengan orang lain. Apa yang kita harapkan saat bertanya kabar pada orang lain? Tentu berharap mereka dalam keadaan sehat dan bahagia. Layaknya sebuah harapan, maka jawaban-jawaban itulah yang akan kita terima.

Manusia begitu pandai menyembunyikan perasaan, terutama ketika berkomunikasi menggunakan bahasa teks. Saat ada yang bertanya kabar, maka secara otomotis biasanya kita akan menjawab, “kabar baik”. Namun mungkinkah kita benar-benar baik? Bisa jadi kita ingin menutupi keadaan yang terjadi sesungguhnya. Bukan bermaksud membohongi lawan bicara. Namun takingin membuat khawatir atau menambah beban.

Bisa juga mereka yang menjawab, “baik,” mungkin memang sesungguhnya dalam keadaan baik. Lagi-lagi, kita hanya akan terus berada pada ranah asumsi. Untuk cerita sesungguhnya di balik kata yang diproduksi biarlah menjadi rahasia sang pengujar kata. So, how’ life?

Hidup di tengah hiruk pikuk manusia, terutama di kota besar seperti Jakarta, ada fenomena yang cukup mencuat yaitu fenomena membanding-bandingkan. Saya sendiri mungkin salah satu orang yang terkena dampak fenomena ini. Sulit disangkal bahwa saya juga kerap kali membandingkan kehidupan saya dengan orang lain. Untuk konteks ini, membanding-bandingkan menjadi terminologi yang berkonotasi negatif. Saya merasa tidak puas dengan kehidupan saya saat ini, saya merasa tidak pernah cukup.

Salah satu aspek kehidupan yang membuat saya tidak pernah cukup yaitu masalah pekerjaan. Saya pernah bercerita kepada seorang teman tentang keinginan saya untuk pindah kerja. “Saya sudah lama bekerja di tempat yang sekarang. Saya merasa karir saya begitu-begitu saja. Usia saya kian bertambah, saya ingin bekerja di tempat yang lebih menjanjikan. Saya ingin lebih. Saya ingin seperti kebanyakan orang. Bekerja di tempat yang prestisius dengan jenjang karir yang jelas serta mendapatkan gaji yang sepadan sesuai dengan apa yang sudah saya berikan,” keluh saya.

Teman saya sesekali menganggukkan kepala pertanda ia setuju dengan apa yang saya sampaikan. Namun tak berselang lama, saya mengemukaan pandangan yang cukup kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya.

Eh, tapi katanya kita tidak boleh berkeluh kesah ya? Banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi saya. Sebetulnya, pekerjaan saya saat ini tidak begitu buruk. Jika dipikir-pikir, banyak keuntungan yang saya dapatkan di tempat kerja saat ini. Waktu kerja saya jelas, pukul delapan pagi hingga empat sore. Saya juga masih bisa beraktivitas di luar kantor. Okay, saya tidak ingin mengeluh. Saya harus merasa cukup. Jika memang ingin pindah kerja, pasti ada waktunya. Saya hanya perlu berdoa, bersabar, serta bersyukur atas apa yang saya punya sekarang.”

“Kamu ini ya, tanya sendiri jawab sendiri. Heran,” timpal teman saya.

Teman saya juga mengeluh tentang pekerjaannya. Ia merasa kurang diapresiasi ditambah ia sering menghadapi drama kantor yang menguras energi. Kami bersepakat bahwa memang sudah saatnya kami pindah kerja. Namun setelah diskusi cukup lama, kami sama-sama menyetujui bahwa permasalahan yang kami hadapi bukanlah sesuatu yang krusial, sesuatu yang masih bisa ditangani dengan baik. Lagipula mencari pekerjaan yang baru bukanlah persoalan yang mudah. Ada banyak orang di luar sana yang berjuang mencari pekerjaan, lamar sana-sini, wawancara, dan proses panjang yang melelahkan lainnya.

Saat kita mencari celah kekurangan kita, maka kita akan temukan itu dalam jumlah yang banyak. Kita merasa tidak seberuntung teman yang hampir setiap bulan liburan, kita merasa tidak sepintar teman yang baru saja promosi jabatan, kita merasa hidup kita begitu-begitu saja tanpa ada prestasi yang bisa dibanggakan.

Keadaan bertambah buruk saat kita melihat kehidupan di dunia kecil yang bernama media sosial. Hampir semua orang menampilkan kebahagiaan. Ada yang baru saja tunangan, ada yang baru membeli rumah serta potret-potret kebahagiaan lainnya. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan media sosial. Layaknya etalase, media sosial hanya menampilkan barang-barang yang bagus, barang-barang yang memikat hati. Hampir jarang orang berbagi kegagalan, berbagi kesengsaraan, dan hal-hal buruk lainnya.

Saat melihat orang lain khususnya teman-teman kita sendiri sudah berada pada titik tertentu, seharusnya kita merasa bahagia. Artinya hal baik sedang menghampiri mereka. Namun jika kita merasakan hal yang lain, misal merasa rendah diri, maka saat itu juga kita harus menutup aplikasi media sosial. Ada sesuatu yang salah dengan diri kita. Mari ajak hati untuk berdiskusi.

Persoalan membanding-bandingkan tidak akan pernah habis. Sudah saatnya kita melihat ke dalam diri kita untuk menemukan banyak hal yang patut kita syukuri. Mungkin ini formula sederhana yang bisa kita lakukan agar kita bisa merasa cukup.

Merasa cukup bukan berarti kita berpuas diri atas pencapaian kita saat ini. Kita sangat dianjurkan melompat lebih tinggi dari waktu ke waktu. Kita berharap terus mengalami peningkatan entah itu dalam hal finansial, pendidikan, hubungan, dan aspek kehidupan lainnya. Namun saya selalu percaya bahwa setiap orang akan menemukan jalannya masing-masing. Menjadi ‘lebih’ mungkin baik. Namun merasa ‘cukup’ jauh lebih menenangkan.

Sometimes you are unsatisfied with your life, while many people in this world are dreaming of your life. A child on a farms sees a plane fly overhead and dreams of flying. But, a pilot on the plane sees the farmhouse and dreams of returning home. That’s life! If wealth is the secret to happiness, then the rich should be dancing on the streets. But only poor kids do do that. If power ensures security, then officials should walk unguarded. But thoses who live simply, sleep soundly. If beauty and fame bring ideal relationships, the celebrities should have the best marriages. Live simply. Walk humbly and love genuinely. All good will come back to you.” – Anonymous.

Jakarta,

27 Maret 2019

It’s Okay!

WhatsAppImage2019-02-06at11.57.23AM
Jakarta when the rain comes. 

Not everyday is a good day, live anyway. Not everyone will tell you the truth, be honest anyway. Not all you love will love you back, love anyway. Not all deals are fair, play fair anyway.” – Anonymous

Saya selalu terkesima dengan konsep “The Art of Conversation,” bahwa dalam setiap obrolan, setidaknya ada satu atau dua kalimat yang tiba-tiba membuat kita merinding. Merasakan kata-kata yang keluar seolah memiliki magic lalu kita tersadarkan bahwa kata-kata itu sangat tepat untuk kondisi kita saat ini—atau mungkin membawa kita pada ingatan masa lampau. Dalam diam, kita berkata pada diri sendiri, “Oh, ini jawaban dari pertanyaan saya selama ini.”

Kerap kali magic itu tidak hadir dalam setiap obrolan. Biasanya hanya keluar pada waktu-waktu tertentu yang kita sendiri sulit merekayasannya. Ia hadir melalui pembicaraan yang dilakukan secara intim, dalam, dan sangat personal. Maka takheran bila pertemuan yang terdiri dari banyak orang, misal lebih dari lima orang, hanya melahirkan obrolan-obrolan yang dangkal. Sekadar basa-basi lalu pulang tanpa membawa pesan yang berarti.

Semakin bertambah usia, saya menyadari ada banyak hal yang berubah dalam diri saya. Dulu, saya begitu bersemangat hadir dalam pertemuan-pertemuan dalam skala besar. Saya pikir, itu baik untuk saya. Bisa berkenalan dengan orang-orang baru yang tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menjadi teman-teman baik saya di kemudian hari. Lalu, aktif di grup—menimpali obrolan hingga menjadi percakapan yang seru yang seolah tidak ada habis-habisnya.

Akan tetapi, everything has changed. Kini, pola komunikasi saya berubah. Saya lebih nyaman berkomunikasi secara personal, person to person. Hampir jarang aktif di grup besar—jika pun masih aktif di grup—hanya grup kecil yang dihuni beberapa orang yang membuat saya nyaman untuk berkomunikasi di sana.

Nyaman menjadi tujuan utama dalam membangun hubungan. Namun, nyaman bukan berarti tanpa percikan-percikan. Jelas masalah akan selalu datang menguji seberapa kuat fondasi hubungan yang kita bangun. Saat bergejolak, kita punya sudut pandang yang sama bahwa kita sama-sama bertumbuh, sama-sama belajar dari kesalahan. Nyaman juga berarti kita bisa menjadi diri kita apa adanya, berbagi tentang bagaimana cara kita melihat dunia serta saling mendukung untuk pribadi yang lebih baik.

Pernah suatu waktu, saya berkeluh kesah pada teman saya, “Mengapa dunia tidak bekerja sesuai dengan value yang berlaku secara universal?”

“Hah, maksudnya?”

“Iya maksud aku, mengapa orang jika punya masalah dengan orang lain harus mengumbarnya di media sosial, mengapa tidak diselesaikan secara langsung? Mengapa orang merokok sembarangan tanpa menghiraukan orang-orang yang tidak merokok? Mengapa orang memutuskan pertemanan tanpa ada niat untuk memperbaiki terlebih dahulu? Mengapa, mengapa, dan mengapa?”

“Setiap orang kan beda-beda. Tidak semua orang punya value yang sama.”

“Tapi kan itu value yang berlaku universal dan dibahas di banyak buku atau artikel.”

“Masalahnya, tidak semua orang punya referensi yang sama. Setiap orang memiliki self righting process. Kamu mungkin sudah di tahap yang lebih baik, namun orang lain belum tentu. Jangan pernah menyamakan diri kita dengan orang lain. Memang, kadang tidak sejalan dengan pikiran kita, tapi it’s okay. Coba lebih santai menanggapi sesuatu ya!”

Saya mencoba melumat mantra it’s okay. Terdengar sederhana namun sebetulnya sangat sulit untuk diterapkan. Tapi bukan hal yang mustahil mantra itu bisa saya kuasai asal mau terus berlatih setiap harinya. Jika ada lintasan pikiran negatif, saya akan bilang ke diri saya, “Go away negative thoughts.” Walau sulit, saya harus menantang diri saya untuk mengontrol pikiran saya sendiri.

Dua tahun belakangan, setidaknya ada dua orang teman yang memutuskan untuk menyudahi hubungan pertemanan dengan saya, tidak hanya di dunia nyata bahkan juga di dunia maya. Sebetulnya, saya bingung apa faktor yang menyebabkan mereka menyudahi pertemanan dengan saya. Berpikir, merenung, dan berkontemplasi sekiranya memang ada kesalahan yang telah saya perbuat saya mereka. Jikapun saya berbuat salah, saya akan mencoba memperbaikinya.

Saya selalu berpikir, tidak ada masalah yang tidak dapat dibicarakan. Mungkin lebih baik kita beradu argumen asal setelah itu kita bisa kembali berdamai. Jikapun tidak bisa seterbuka itu, setidaknya saya diberi alasan mengapa saya layak mendapatkan perlakuan seperti itu. Saya mencoba memulai, menanyakan kesalahan apa yang telah saya perbuat. Namun tidak ada jawaban hingga pada akhirnya saya memutuskan, “Let them go.”

Menyedihkan memang ketika kita mengetahui fakta, “We are not friends. We’re strangers with memories.” Namun apa boleh buat, orang-orang datang dan pergi silih berganti dalam hidup kita. Sekuat apapun kita menahan mereka untuk tetap bertahan namun ketika mereka milih untuk pergi—yang bisa kita lakukan hanyalah mengucapkan, “selamat jalan!” seraya berharap kebahagiaan senantiasa memenuhi  relung hati mereka.

Agaknya mantra it’s okay dapat sedikit meredam kekecewaan kita terhadap banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. It’s okay bukan berarti kita pasrah namun sikap menerima dengan hati yang lapang bahwa nyatanya banyak pertanyaan-pertanyaan dalam hidup ini yang tidak ada jawabannya. Kita selalu berharap pertanyaan akan dijawab setidaknya dengan begitu kita meresa lega—tidak lagi dihantui rasa penasaran. Namun lagi-lagi, terkadang dunia berjalan tidak sesuai dengan pikiran kita. Apa yang kita anggap itu ideal belum tentu ideal untuk orang lain, apa yang kita anggap baik belum tentu juga baik untuk orang lain. Once again, it’s okay!

 Jakarta,

6 Februari 2019

Perhatian/Prihatin

Processed with VSCO with b1 preset
You will be found. 

Suatu hari di bulan puasa pada tahun 2015.          

Buka puasa bersama menjadi salah satu tradisi yang kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia ketika bulan puasa tiba. Selama satu bulan puasa, biasanya orang-orang sudah mengagendakan jadwal buka bersama, mulai dari buka bersama dengan keluarga, teman-teman, hingga rekan kerja.

Buka bersama tidak hanya menjadi ajang untuk menyantap menu buka puasa yang menggugah selera namun juga menjadi ajang bertukar cerita. Bisa dikatakan buka bersama menjadi momen berkumpul dengan orang-orang yang sudah tidak lama berjumpa, misalnya teman-teman sekolah atau kuliah.

Reuni dengan teman-teman sekolah atau kuliah menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu ketika buka puasa. Betapa tidak, setelah berpisah dalam kurun waktu yang cukup lama, bulan puasa menjadi alasan untuk berjumpa dengan mereka yang pernah mengisi hari-hari kita di masa lampau. Namun, reuni yang seharusnya menjadi momen yang menyenangkan bisa berubah menjadi momen yang menyebalkan.

Usai menyantap hidangan berbuka, salah seorang teman bertanya kepada teman lain yang sudah menikah beberapa tahun, “belum isi?” katanya datar. Sontak raut wajah teman saya tadi berubah. Keceriaan yang terpancar dari wajahnya tiba-tiba memudar. Ia seolah baru saja mendengar suara petir yang menggelegar dan memekakkan gendang telinga. Petang itu, barangkali ia takpernah menduga akan mendapatkan pertanyaan yang tidak disangka-sangka. Pertanyaan yang membuat hatinya terluka.

Saya duduk persis di depannya. Terlihat ia sedang menyusun kalimat yang tepat untuk merespon pertanyaan teman saya tadi. Pelan, ia berkata, “Doakan saja ya.”

Usai menjawab pertanyaan tadi, ia melumat makanan dengan pelan-pelan. Dari sorot matanya, saya melihat dia merasa tidak nyaman dengan pertanyaan tentang kehamilan. Apalagi pertanyaan itu keluar dari mulut temannya sendiri dan dilontarkan di hadapan teman-teman lainnya. Mungkin ia merasa terintimidasi sekaligus merasa sedih. Kehamilan merupakan salah satu takdir baik yang dirindukan oleh pasangan yang sudah menikah. Ada pasangan yang cepat mendapatkan keturunan, ada juga yang harus menunggu.

Seketika susana mendadak hening dan kikuk. Saya berupaya mengganti topik pembicaraan sehingga tidak lagi membahas tentang kehamilan atau topik-topik yang sensitif untuk beberapa orang. Saya pikir, menjaga perasaan orang lain lebih penting dibandingkan memenuhi hasrat ingin tahu kita tentang kehidupan orang lain yang barangkali enggan untuk mereka bagi.

Kini, acara reuni kerap kali menjelma menjadi ajang untuk pamer, ajang untuk memojokkan orang lain secara tidak sadar, serta ajang yang dipenuhi pertanyaan basa-basi. Jika ada teman kita yang belum menikah, kita akan bertanya mengapa dia belum menikah. Jika ada teman kita yang belum mempunyai anak, kita akan bertanya mengapa dia belum punya anak. Jika ada teman kita yang belum menambah anak, kita akan bertanya mengapa dia belum menambah anak. Begitu seterusnya. Jika begitu, lama-lama orang akan malas untuk datang ke acara reuni, terutama untuk mereka yang akan menjadi sasaran pertanyaan.

Padahal, andai saja kita memang peduli dengan kondisi orang-orang di sekitar kita, tentu kita tidak akan pernah bertanya di depan banyak orang. Tentu kita tidak akan membuat ia merasa malu. Tentu kita tidak akan menambah bebannya. Tentu kita tidak akan membuat ia merasa tidak nyaman. Ya, andai kita memang benar-benar peduli, kita akan bertanya secara personal, menyusun kata dengan tepat, serta menunjukkan empati bahwa kita memang benar-benar peduli.

Saya pikir, hampir semua orang pernah mengalami kondisi di mana merasa terpojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat kita berpikir, “Apakah ini perhatian atau prihatin?”

Setelah lulus kuliah pada tahun 2011, saya sempat mengganggur selama kurang lebih lima bulan. Masa-masa penantian hingga akhirnya diterima bekerja menjadi masa-masa yang cukup berat dalam hidup saya. Saya ingat betul, setelah wisuda, saya mempersiapkan semua berkas untuk melamar pekerjaan: curriculum vitae, surat lamaran pekerjaan, dan sertifikat-sertifikat penunjang lainnya yang sekiranya dibutuhkan oleh calon perusahaan tempat saya nantinya bekerja.

Tidak ada satu haripun saya lewati tanpa mengecek surat elektronik, mencari informasi lowongan pekerjaan serta melamar hingga ratusan perusahaan. Usaha saya mendapatkan pekerjaan tidak hanya berhenti di depan komputer. Saya juga kerap kali datang ke job expo, mulai dari yang gratis hingga berbayar. Saya rasa, saya sudah melakukan upaya terbaik untuk mendapatkan pekerjaan.

Hari berganti hari, sudah takterhitung berapa banyak lamaran saya sudah saya kirimkan. Beberapa perusahaan ada yang memanggil untuk wawancara, beberapa kali saya nyaris diterima, sisanya berujung penolakan, “Maaf Anda belum bisa bergabung dengan perusahaan kami.”

Sementara lain cerita, teman-teman kuliah saya satu persatu sudah mendapatkan pekerjaan. Bahkan, banyak di antara mereka yang diterima bekerja tidak lama setelah wisuda. Sempat saya berpkir, mengapa nasib baik begitu mudah menghampiri mereka sedangkan saya belum ada tanda-tanda untuk menanggalkan predikat sebagai penggangguran. Padahal jika dipikir-pikir, prestasi saya jauh lebih hebat dibandingkan mereka dan pengalaman organisasi saya juga tidak main-main. Saya sempat tertegun, “Apa yang salah dengan saya? Mengapa saya takkunjung mendapatkan pekerjaan?”

Saya khawatir saya merasa sombong. Merasa lebih baik dibandingkan teman-teman saya. Padahal bisa jadi ini ujian untuk saya agar bisa menjadi pribadi yang lebih sabar dan berbesar hati. Saya harus percaya bahwa masa-masa berat ini akan segera berakhir. Saya hanya perlu menunggu lebih lama, walau terkadang menunggu begitu sangat menyiksa batin saya.

Suatu kesempatan, saya bertemu dengan teman yang sudah bekerja. Tanpa basa-basi ia bertanya, “Mengapa belum juga bekerja? Apa tidak melamar ke sana ke mari?” Saya hanya bisa menjawab, “Belum rezeki. Doakan saja.” Sejujurnya, saat itu saya marah, dada saya terasa panas. Namun apa boleh buat tugas dia hanya bertanya dan tugas saya hanya menjawab.

Saya pikir, pertanyaan yang sama tidak akan pernah terulang. Namun saya keliru. Beberapa orang yang saya temui secara sengaja dan tidak sengaja menanyakan hal yang sama, “Mengapa belum juga bekerja?” Mungkin karena saat itu saya dalam kondisi yang sensitif, saya menilai pertanyaan yang mereka sampaikan merupakan pertanyaan yang merendahkan saya. “Mereka tidak tahu betapa keras perjuangan saya mendapatkan pekerjaan. Mereka tidak akan pernah tahu,” saya membatin.

Sejak saat itu, saya enggan bertemu dengan orang-orang. Saya habiskan waktu saya untuk fokus mencari pekerjaan. Di sela-sela waktu, saya menyempatkan untuk berjalan-jalan mengitari kota Jakarta dengan moda Transjakarta: dari ujung Utara-Selatan, Barat-Timur. Namun tujuan favorit saya saat itu yaitu pantai Ancol. Sebetulnya tidak ada alasan khusus mengapa saya memilih Ancol. Saya hanya membiarkan hati saya menuntun langkah ke mana ia harus pergi.

Berada di pantai, memandang lautan yang luas setidaknya membuat hati saya jauh lebih tenang. Saya berjanji, suatu ketika saya akan datang lagi dengan perasaan yang dipenuhi suka cita. Beberapa bulan kemudian, janji saya tunaikan. Saya akhirnya diterima bekerja.

Tentang pertanyaan-pertanyaan yang akan terus datang, saya meminta kepada Tuhan agar diberi hati yang besar, agar saya tidak mudah tersinggung, agar saya bisa menjawab dengan santun. Namun saya berjanji pada diri saya sendiri, saya tidak akan menjadi orang-orang yang saya ceritakan tadi. Saya akan lebih berhati-hati dalam bertanya. Jikapun harus bertanya, saya akan bertanya secara asertif. Sisanya, lebih baik saya mendokan karena sesuai kata pepatah, “Tiada kata seindah doa.”

Selama masa-masa menganggur, saya sempat menulis puisi yang menggambarkan perasaan saya saat itu.

seperti muri remaja gigih mencari tanaman untuk sangkarnya. seperti lelaki pucat pasi menanti kado terindah dari Tuhannya. seperti mentari yang menanti bumi pada suatu masa. saksikanlah kereta kencana bernama ketidakpastiaan. seolah semesta pun jadi ragu. inilah harapan. menjadi lentera temani kelam. inilah penantian, tentang sebuah jalan takberujung. nyanyikan keluhmu pada angin, bisa jadi ia merayu mesra. sandarkanlah kepalamu pada air bisa jadi ia penyegar dahaga. dan, titipkanlah hati pada Tuhan karena ragumu terjawab kalam-Nya. titiplah pikirmu pada satu cita yang kau tiduri. puji dan manjakanlah waktu, bacakan sajak ketenangan untuknya. ada jutaan malaikat menenun kebahagiaan. mintalah mereka curi rahasia hati dan malam pun akan menyelimuti rasa. bersabarlah, hanya itu mantra yang kita punya.

 

Jakarta, 26 September 2018