Magical Lawu (Bagian 2)


Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Lawu

Oleh: Mahfud Achyar

P1010622
Stasiun Solojebres, Jawa Tengah (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Solo, Jawa Tengah.

Pukul 01.54 dini hari kami tiba di stasiun Solojebres. Suasana stasiun sangat sepi. Hanya ada beberapa penumpang yang terlihat duduk di kursi-kursi yang berjejer rapi. Mereka terlihat kelelahan bercampur rasa kantuk yang taktertahankan. Hal demikian terpancar dengan sangat jelas dari mata mereka yang sayu, seolah takbernyawa. Mereka takubahnya seperti zombi-zombi yang bergentayangan di kala sepinya kota Solo.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jika akhir pekan tiba, gerbong kereta menuju Solo didominasi oleh para pendaki. (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Seorang petugas stasiun menghampir kami. Ia meminta kami untuk tidak beristirahat di dalam stasiun. Kamipun berkilah hanya beristirahat sejenak untuk meregangkan otot-otot kaki yang terasa tegang. Sepanjang perjalanan di kereta, kami tidak bisa tidur dengan nyenyak. Maklum, kursi kereta ekonomi tidak begitu empuk dengan sandaran punggung benar-benar tegak lurus. Namun saya memaksakan mata untuk terpejam agar tubuh saya prima untuk mendaki gunung Lawu.

P1010613
Istirahat sejenak di peron stasiun. (Foto oleh: Ardi Sadewo)

Akhirnya dengan langkah gontai, kamipun ke luar stasiun sembari menghubungi Abah dan Sai untuk menanyakan posisi mereka saat itu. Maklum, mereka tidak turun di stasiun yang sama melainkan turun di stasiun Solo Balapan. Berhubung mereka belum tiba, kami memanfaatkan waktu yang ada untuk salat Subuh kemudian baru menjemput mereka berdua.

Kami salat takjauh dari stasiun Solojebres. Lokasinya dekat pasar tradisional. Sebelum subuh, para pedagang sudah terlihat sibuk menjajakan dagangannya, mulai dari sayur-mayur, lauk-pauk, hingga kebutuhan dapur lainnya. Saya salut kepada mereka yang begitu bersemangat menjemput rezeki sementara saya seringkali bermalas-malasan. Menyedihkan.

Subuh di Solo berbeda dengan subuh di Jakarta. Langit tampak masih gelap namun semburat jingga samar-samar mulai menyapa hari yang baru. Usai salat, kami bergegas menjemput Abah dan Sai menggunakan mobil pick-up berwarna hitam.


P1010639.JPG
Menjemput Abah dan Sai di Stasiun Solo Balapan (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Angin pagi di kota Solo berhembus kencang. Seolah-olah menampar lembut wajah kami yang kelelahan. Sesampai di stasiun Solo Balapan, kami menyapa Abah dan Sai. Mereka terlihat begitu senang menyaksikan kedatangan kami, seolah seperti melihat sekumpulan pemain sirkus yang siap beraksi. Pagi itu, petualangan kami dimulai.


Sebagai informasi, gunung Lawu terletak di perbatasan dua provinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung yang memiliki ketinggian 3, 265 meter dari permukaan laut (mdpl) tersebut memiliki tiga puncak, yaitu Puncak Hargo Dalam, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah.

Untuk menuju puncak gunung Lawu, para pendaki dapat melalui tiga jalur, yaitu Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, dan Candi Cetho. Lazimnya, para pendaki akan memilih jalur Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Beberapa catatan perjalanan pun merekomendasikan kedua jalur tersebut lantaran waktu tempuh jauh lebih singkat dibandingkan jalur melalui Candi Cetho. Namun karena sejak awal saya sudah jatuh cinta dengan savanna yang hanya bisa dilihat bila melalui Candi Cetho, maka kamipun memutuskan untuk menjadi pendaki yang tidak biasa.

“Tenang saja, walau jalur melalui Candi Cetho terhitung panjang, namun medannya landai. Tidak begitu sulit,” tandas Bowo suatu hari di grup percakapan instan WhatsApp. Kamipun hanya bisa mengiyakan karena sejak awal Bowo-lah yang bertugas meriset pendakian ke gunung Lawu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam menggunakan mobil pick-up, akhirnya kamipun tiba di Candi Cetho. Sepanjang perjalanan, mata saya disuguhi dengan pemandangan yang eyesgasm. Kebun teh terhampar luas, laiknya seperti karpet hijau yang berundak-undak. Berada di atas mobil pick-up terbuka memberikan kesempatan untuk saya menghirup oksigen segar sepuas-puasanya. Alhamdulillah, Sabtu pagi kala itu jelas sempurna. Tipikal pegunungan: romantis.

P1210696
Gapura Candi Cetho (Foto Oleh: Ardi Sadewo)

Sekitar pukul 07.00 pagi, setelah re-pack dan sarapan, kami bergegas untuk menuju pos pendaftaran pendakian. Untuk mencapai pos pendaftaran, kami harus menaiki anak tangga yang cukup membuat napas tersengal-sengal. Namun rasa lelah saat itu terbayar lunas saat kami melihat pelangi melengkung sempurna. Jarak pelangi terasa begitu dekat. Hampir jarang rasanya bisa melihat pelangi sedekat itu.

“Eits, jangan menunjuk pelangi! Nanti jari kita bisa bengkok!”

Tiba-tiba saya ingat pesan tidak masuk akal di masa kecil. Jika dipikir-pikir, ternyata masa kecil saya banyak dipenuhi kebohongan. Huhu.

16473315_10212120343794124_546635348014720085_n
Hello Rainbow! (Foto Oleh: Asih Juwariyah)

Setelah mendaftar dan membayar retribusi Simaksi (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) sebesar  17 ribu, penjaga pos bertanya apakah kami akan melalui jalur berbeda ketika pulang.

“Sepertinya kita akan turun di Cemoro Kandang, Pak!”

“Oh jika begitu, nanti tinggal lapor bahwa kalian naik melalui jalur Candi Cetho. Nanti kami bisa melapor bahwa kalian sudah sampai selamat.”

“Iya siap pak, terima kasih.”

P1210722
Foto Bersama di Posko Pendakian (Foto Oleh: Bapak Petugas)

Sebelum mendaki, kamipun berdoa–berharap pendakian kami berjalan lancar tanpa ada kendala yang berarti. Langkah demi langkah mulai dikonversi menjadi hitungan meter. Kami melewati beberapa situs candi di kawasan candi Cetho yang dibangun pada masa akhir era Majapahit sekitar abad ke-15 masehi.

Keberadaaan candi Hindu di kaki gunung Lawu selain sebagai tujuan wisata juga sebagai tujuan ziarah. Takjarang banyak masyarakat sekitar menjadikan candi Cetho sebagai tempat pertapaan bagi kalangan penganut kepercayaan asli Jawa/Kejawen. Sayangnya, kami tidak sempat berkeliling untuk melihat peninggalan kerajaan Majapahit tersebut. Maklum, waktu yang kami miliki sangat terbatas. Jadi mau tidak mau, kami harus mempercepat langkah agar bisa tiba mendirikan tenda sebelum matahari tenggelam.

DSC_4721
Candi Kethek, Salah Satu Candi di Kawasan Wisata Candi Cetho (Foto Oleh: Mahfud Achyar)
DSC_4718
Foto Bersama di depan Candi Kethek. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Seperti biasa, awal-awal perjalanan memang terasa lebih berat. Sebab, kondisi tubuh sedang beradaptasi dengan beban berat yang bertumpu di punggung. Biasanya berdasarkan pengalaman saya, kondisi demikian tidak berlangsung lama. Jika tubuh sudah mulai bisa beradaptasi, langkah yang tadi berat mulai berangsur agak ringan (walau ini sebenarnya hanya sugesti).

Untuk menuju pos 5 (pos terakhir yang biasa dipilih para pendaki untuk mendirikan tenda), kita harus menempuh perjalanan kurang lebih delapan jam. Namun durasi perjalanan bisa lebih cepat atau lambat bergantung pace kelompok. Berhubung kami semua sudah sering naik gunung, saya pun optimis bisa tiba di pos 5 sesuai jadwal.

Kami sampai di pos 1 sekitar pukul 9.30 WIB. Di sana, berdiri semacam shelter yang ditutupi spanduk-spanduk bekas. Keberadaan shelter tersebut sangat membantu kami terlindung dari hujan yang mulai turun. Sejenak kami beristirahat guna meregangkan otot-otot kaki yang mulai terasa penat. Setelah cukup puas beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan dengan medan yang kian berat.

DSC_4728
Pos 1 (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Sebetulnya, menurut saya, jalur pendakian melalui candi Cetho terbilang bersahabat. Betapa tidak, jalur pendakian sudah terlihat jelas sehingga memudahkan para pendaki untuk mencapai puncak tanpa harus takut tersesat. Selain itu, sepanjang pendakian kita juga dihibur dengan suara nyanyian alam yang berasal dari gesekan dedaunan yang tertiup angin gunung. Jika angin berhembus kencang, dedaunan bernyanyi dengan lebih lantang.

Jika tidak salah ingat, waktu tempuh dari pos 1 ke pos 2 kurang lebih 2,5 jam. Sama halnya di pos 1, kami hanya beristirahat sejenak di pos 2 kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Saat itu, hujan turun cukup lebat. Kondisi demikian menyebabkan langkah kami menjadi lambat. Betapa tidak, kami harus ekstra hati-hati lantaran kondisi jalanan yang licin, becek, dan sempit.

Sekitar pukul 15.00 WIB, kami pun berhasil sampai di pos 3. Seperti kesepakatan di pos 2, di pos 3 kami akan berhenti cukup lama untuk makan siang dan salat jamak qashar Dzuhur dan Ashar. Usai santap siang dan salat, saya mulai merasa udara dingin mulai menusuk tulang, terutama bagi saya yang sedikit memiliki cadangan lemak. Berulang kali saya menggesekkan kedua telapak tangan agar menghasilkan energi panas. Namun sayangnya energi panas yang saya hasilkan tidak begitu signifikan. Saya mulai menggigil padahal perjalanan menuju pos 5 masih panjang.

Ketika saya mendongakkan kepala ke atas, saya melihat langit terlihat mendung. Kabut tebal mulai menutupi pohon-pohon yang menjulang tinggi. Jika angin berhembus, pohon-pohon tersebut mengeluarkan nada seperti suara ombak.

Saya berpikir apakah saat ini saya berada di gunung atau di pantai. Namun saya berusaha menyadarkan diri bahwa saya terlalu banyak mengkhayal. Berada di hutan yang tertutup kabut tebal membuat perasaan menjadi tenang, namun kadang saya juga merinding. Entah apa frasa  yang tepat untuk mewakili perasaan saya kala itu.

DSC_4745
Kabut dan Angin Kencang di Jalur Pendakian. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Untuk mengusik rasa lelah, saya alihkan perhatian saya dengan terus menerus melihat jarum jam. Saya berharap masih memiliki banyak waktu untuk bisa tiba di pos 5 sesuai rencana: sebelum matahari tenggelam. Saya pun mempercepat langkah seperti seorang buronan yang dikejar waktu. Masing-masing di antara kami mengeluarkan kemampuan endurance terbaik. Saya, Bowo, dan Ajuw berada di posisi tiga teratas kemudian disusul Indra, Sai, dan Abah. Lalu bagaimana dengan Nanang? Ia tertinggal jauh di belakang kami. Ia berteriak memecah kesunyian sore itu, “Duluan saja. Nanang menyusul!”

Kami pun mengiyakan permintaan Nanang dan membuat kesepakatan bahwa kami akan menunggunya di pos 4. Sekitar pukul 16.00 WIB, kami tiba di pos 4. Kami pun beristirahat sejenak, memotret pemandangan lembah gunung yang ditutupi kabut, dan berbincang sekenanya. Cukup lama kami menunggu Nanang, namun ia takkunjung tiba. Seorang pendaki yang baru saja tiba di pos 4 berkata kepada kami, “Mas, itu di bawah temannya ya?! Dia sendirian duduk dan jaraknya lumayan jauh. Apa tidak disusul saja mas?”

“Iya mas, itu teman kita. Tapi tidak masalah mas. Memang dia sering seperti itu jika mendaki gunung. Kami menunggu dia di sini.”

“Oh begitu mas.”

Pembicaraan pun usai.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Nanang yang dari tadi kami tunggu takkunjung datang. Padahal matahari akan tenggelam sementara kami belum berhasil menuju pos 5. Akhirnya, saya memutuskan untuk membagi dua tim. Saya dan Indra bertugas menunggu Nanang. Sementara Bowo, Asih, Abah, dan Sai melanjutkan perjalanan ke pos 5.

Sebetulnya, tidak baik beristirahat terlalu lama selama pendakian. Namun apa boleh buat, mau tidak mau kami harus bersabar menunggu Nanang. Sembari menunggu Nanang, saya dan Indra memutuskan untuk menghangatkan tubuh di perapian yang bersumber dari kompor gas portable. Saat asik-asiknya menghangatkan tubuh ditemani secangkir the hangat, tiba-tiba perut saya mulai bereaksi.

Ouch! Pertanda saatnya saya buang air besar. Ternyata kondisi serupa juga dialami Indra. Akhirnya kami memutuskan untuk sama-sama buang hajat dengan mencari lokasi terpisah dalam radius yang tidak begitu jauh. Indra memutuskan untuk membuat hajat di dalam semak belukar. Sementara saya memutuskan untuk buang air besar di pinggir jurang dengan pemandangan golden sunset. Bagi saya, barangkali saat itu momen buang air besar yang paling spesial.

Sudah senja. Nanang belum juga terlihat. Kami pun khawatir. (Bersambung)

DSC_4778
Pemandangan Sunset  (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s