Menyimpan Masalah di Kantong Celana

IMG_5634
Autumn in Yogyakarta (2017) Photo by. Mahfud Achyar

“Aku amati, kamu seperti tidak punya masalah ya? Dari tadi, aku sudah cerita banyak tentang masalah-masalah yang hinggap di hidupku. Masalah pekerjaan, masalah asmara, dan masalah keluarga. Aku heran masalah datang silih berganti dalam hidupku,” ujar seorang sahabat mengganti topik pembicaraan malam itu, usai pulang kantor.

Saya pun langsung terperanjak. Sungguh, pertanyaan spontan yang keluar dari mulut sahabat saya tersebut membuat saya bingung. Seketika lidah saya kelu. Padahal, sejak tadi kita hanya fokus membahas permasalahan-permasalahan yang tengah ia hadapi. Lantas kemudian ia balik bertanya kepada saya, “Masalah kamu apa?”

Sejujurnya, saya bukanlah tipikal manusia yang ekspresif terutama ketika sedang menghadapi masalah. “Ekspresi muka kamu begitu-begitu saja ya?” timpal sahabat saya tadi.

Hmmm sepertinya itu benar. Eskpresi muka saya ya begitu-begitu saja. Tidak ada perubahan raut muka yang begitu mencolok. Jika saya bercermin, terkadang saya sulit membedakan eskpresi muka saya ketika kaget, cemas, marah, atau sedih. Mungkin tipikal manusia dengan minim ekspresi.

Bila saya dirundung masalah, saya jarang berbagi pada siapapun. Sejak dulu, saya tidak terbiasa curhat. Jika ada hal yang mengganjal di hati saya, saya hanya bisa diam, menyimpan rapat-rapat perasaan saya sesungguhnya. Bila terpaksa berbagi, saya hanya mengutarakan bagian ‘kulitnya’ saja. Mungkin ada beberapa sahabat yang membuat saya nyaman untuk bercerita banyak hal. Pada mereka, saya mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan mendengar keluh kesah saya.

Dulu, saya berpikir, orang yang sering curhat adalah orang yang lemah. Seolah mereka tidak kuasa menanggung beban yang menggelayut di pundak mereka.

Takdinyana, ternyata prinsip kuno seperti itu terus saya pupuk dan saya rawat. Saya enggan untuk bercerita kepada siapapun, termasuk kepada keluarga saya sendiri. Saya benar-benar setertutup itu. Seolah tidak mengizinkan seorangpun tahu apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang saya harapkan. Saya hanya bercerita kepada Tuhan perihal perasaan saya. Sebab, hanya Dia yang tahu apa yang sesungguhnya ada di dalam hati dan pikiran saya.

Akan tetapi, sekarang saya menyadari bahwa sesungguhnya kita perlu menyalurkan emosi kita kepada orang lain—entah itu sahabat, pasangan, atau keluarga. Kehadiran mereka mungkin tidak serta merta menyelesaikan permasalah yang kita alami. Namun ketika berbagi, hati kita merasa lega. Setidaknya kita mulai membuka diri bahwa ada orang-orang yang bisa kita percaya. Tanpa kepercayaan, kita hanyalah sekumpulan manusia yang hatinya diliputi prasangka dan curiga.

“Tidak ada masalah yang terlalu besar. Tenang, sejauh ini semuanya masih bisa ditangani dengan baik,” jawab saya diplomatis.

Kala itu, saya sama sekali tidak bermaksud berbohong kepada sahabat saya. Memang, ada beberapa masalah yang sedang saya hadapi. Namun, setelah mendengar curhat darinya, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi tidak ada artinya.

“Setiap orang punya masalah. Bedanya hanya terletak dari cara kita menghadapinya,” kata sahabat saya yang lainnya yang bernama Dea Tantyo pada suatu ketika di Jatinangor.

Buah pikiran Dea selalu melekat di benak saya hingga saat ini. Saya amati, memang benar adanya apa yang dikatakan Dea. Setiap orang punya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah.

Ada beberapa orang bila memiliki masalah atau bermasalah dengan orang lain, mereka lantas mengumbarnya di jejaring media sosial. Sayapun bingung entah apa tujuan mereka? Mungkin untuk melampiaskan kekesalalan atau bisa jadi untuk menyindir orang yang sedang bertikai dengannya. Saya bahkan pernah menjadi orang yang disindir atau merasa tersindir ketika hubungan saya dengan teman saya sedang tidak harmonis.

Kerap kali saya juga ingin membalas sindir-menyindir di media sosial. Namun kemudian saya berpikir, “Jika saya melakukan hal yang sama, lantas apa yang membedakan saya dengannya? Saya tidak membuat perbedaan sama sekali,” saya membatin.

Seorang dosen saya yang bernama Pak Irwansyah pernah berpesan ketika sesi perkuliahan di lantai 22 di daerah bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih pesannya seperti ini, “Ketika kalian masuk ke dunia digital. Maka berhati-hatilah. Sebab, apa yang kalian tulis dan konten yang kalian produksi akan terekam dengan baik.”

Malam itu, usai perkuliahan, saya mulai merefleksi diri agaknya banyak hal buruk sudah saya tinggalkan di media sosial. Banyak sahutan yang takberguna dan banyak keluh kesah yang tidak pada tempatnya.

Dulu, saya sangat reaktif. Mudah sekali mengomentari apapun yang tidak sejalan dengan pemikiran saya. Semuanya saya tumpahkan di media sosial. Jika ada masalah personal pun, saya juga terkadang curhat colongan di media sosial dengan menggunakan ragam gaya bahasa agar pesannya terlihat samar.

Jika dipikir-pikir lagi, apa gunanya saya curhat di media sosial?Agar dunia tahu saya sedang sengsara? Agar dunia bersimpati kepada saya? Padahal, ketika saya curhat di media sosial, orang-orang yang membaca curhatan saya tidak benar-benar ingin membantu saya. Mereka mungkin hanya penasaran terhadap masalah saya. Sisanya hanya akan mencibir bahwa saya tidak cukup berani menyelesaikan masalah secara langsung di dunia nyata.

Seharusnya kita lebih selektif untuk berbagi resah. Seperti perkataan Charity Barnum, “You don’t need everyone to love you, Phin, just a few good people”.

Sungguh, berulang kali, kita selalu diingatkan bahwa Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Jika sedang tidak punya masalah berat, nasehat tersebut begitu mudah saya terima. Namun sialnya ketika saya dirundung masalah berat, saya merasa Tuhan tidak adil kepada saya. Mengapa dari sekian milyar manusia di bumi ini sayalah yang terpilih untuk menanggung beban berat (dalam perspektif saya)? Seharusnya saya berlapang dada bahwasanya masalah seharusnya membuat saya kian kuat, kian naik kelas, dan kian hebat.

Jika saya mendapatkan masalah atau ujian yang sama, artinya saya belum layak naik level ke level yang lebih tinggi. Kata Nicole Reed, “Sometimes the bad things that happen in our lives put us directly on the path to the best things that will ever happen to us.”

Tentang menyikapi masalah secara bijak, beruntungnya saya di kelilingi oleh orang-orang yang hebat. Pada mereka saya belajar bahwa apapun masalah yang sedang kita hadapi, percayalah akan ada cara untuk menyudahinya. Semuanya akan dipergilirkan. Adalah waktu yang menjawab segalanya. Lambat atau cepat semuanya kini terasa relatif.

Jika masalah takubahnya seperti secarik kertas yang sudah remuk, maka mungkin ada baiknya kita menyimpannya di kantong celana. Suatu saat, kertas remuk itu akan kita buang. Ia akan pergi bersama aliran air hujan yang turun di penghujung April.

         Jakarta, 16 April 2018

Advertisements

On This Day

facebook-on-this-day-136397061517503901-150325095552

Setiap hari, Facebook selalu mengingatkan saya untuk membuka kenangan yang terjadi di masa lampau, baik berupa status, foto, video, maupun tautan.

Kenangan-kenangan tersebut terjadi pada tanggal dan bulan yang sama, hanya tahun saja yang berbeda. Logaritma yang dibangun Facebook memang patut diacungi jempol sebab kini setiap orang dapat bernostalgia atas kenangan-kenangan yang telah terjadi. Saya bergabung sebagai pengguna Facebook sejak tahun 2008. Rupanya banyak hal yang sudah terjadi: suka, duka, dan tentunya sedikit ke-alay-an.

Saya sering membuka notifikasi “On This Day”. Saya amati, ada beberapa status yang sepertinya perlu dihapus, ada foto-foto yang perlu di-untag (apa padanan bahasa Indonesia yang tepat untuk istilah ini?), serta ada juga tautan berita-berita yang nampaknya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini.

Yepp, seperti itulah cara kerja logaritma “On This Day” yang ditawarkan oleh Facebook. Saya berhak memilih mana kenangan yang seharusnya dihapus, mana pula yang patut untuk dipertahankan dan terus diingat. Mengutip perkataan Kurt Vonnegut, “We are what we pretend to be, so we must be careful about what we pretend to be.”

Sama halnya dengan hidup, kita mungkin tidak bisa mengubah masa lalu. Sebab kita tidak ada kuasa untuk itu. Kita tidak memungkinkan untuk meminjam alat chronosphere seperti yang digunakan Alice saat melakukan perjalanan waktu (travel time). Namun kabar baiknya, kita dapat memilih dan menentukan apa yang mau kita lakukan saat ini dan masa depan.

Intinya, kita adalah tuan untuk hati dan pikiran kita. Jadi, pergunakanlah pilihan hidup kita dengan baik agar kelak kita tidak perlu menyesal atas pilihan-pilihan hidup yang sudah kita jalankan.

Be wise, be brave!

Jakarta,
23 Februari 2018.

Sorry, It’s My Fault

DSC_0626
Contemplating.

Rasanya, takada satupun manusia yang tidak pernah berbuat salah, takterkecuali manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Ialah Adam, seorang anak manusia yang melanggar perintah Tuhan untuk tidak mendekati pohon khuldi, apalagi memakannya. Namun Adam melanggar larangan Tuhan sehingga ia dan istrinya, Hawa harus meninggalkan syurga.

Salah. Barangkali merupakan salah satu sifat yang sukar dicabut dalam diri manusia. Selama manusia masih bernapas dan masih dikategorikan sebagai manusia dalam perspektif biologis, maka ia akan terus berbuat salah. Akan terus seperti itu. Hanya mungkin intensitas dan tingkat kesalahan yang dibuat oleh manusia berbeda-beda.

  Salah. Kerap kali ia tidak diinginkan untuk menemani proses kehidupan manusia. Setiap manusia mungkin menginginkan kesempurnaan. Everything must be perfect. Padahal, ketika manusia berpikiran segala sesuatunya harus sempurna, maka ia berusaha lepas dari kodrat seorang manusia: berbuat salah.

      “All people make mistakes. But only the wise will learn from their mistakes.” – Anonymous

      Akan tetapi menjadi celaka, banyak orang yang enggan jika jari telunjuk mengarah ke mukanya: ia dipersalahkan. Lantas yang terjadi ia memasang pertahanan yang kuat. Ia takingin orang-orang mengusik harga dirinya dengan menjadi orang yang salah.

Jika begini ceritanya, semua orang tidak ingin dipersalahkan. Lantas siapa yang harus disalahkan? Apakah kesalahan itu sendiri?

Tentang mengakui kesalahan, mengapa jarang manusia enggan melakukannya. Seolah-olah menjadi orang yang salah membuat langit runtuh dan bumi bergoncang dengan hebat. Padahal, sejatinya kita mafhum bahwa manusia seringkali berbuat salah, sering kali alpa, dan sering kali membuat kecewa. Namun bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatakan kedua? Everyone deserves a second chance. Namun dengan catatan, not for the same mistake. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang tidak ingin jatuh di lubang yang sama.

Maka jika kita memang melakukan kesalahan, untuk apa malu mengakuinya? Jadilah orang-orang yang pemberani. Jika memang terlanjur berbuat salah, introspeksi dirilah. Berbenahlah. Berkontemplasilah.

      Jika maaf takberhasil kita kantongi, beri jeda. Barangkali butuh waktu yang lama untuk seseorang ikhlas memaafkan segala kesalahan-kesalahan kita. Selalu percaya, bahwa hal baik akan selalu dibalas dengan hal-hal yang jauh lebih indah.

Tentang kesalahan, kita belajar tidak hanya meminta maaf kepada orang lain. Namun juga belajar memaafkan diri sendiri. Terkadang yang paling sulit dari semua proses rekonsiliasi kesalahan adalah berdamai dengan diri sendiri. Kerap kali hati kita hancur berkeping-keping. Rasa perih membuat kita merasa layak untuk dibenci. Membuat kita berkata, “Biarlah saya menanggung beban ini sendirian hingga takada lagi rasa sakit yang bisa dirasakan.”

Yakinlah satu hal, kesalahan-kesalahan yang kita perbuat tidak lantas membuat dunia ini benar-benar kiamat. Bukankah Tuhan Maha Pengampun? Yakini itu.

Jakarta, 6 November 2017.

 

 

 

Puluhan Januari Telah Terlewati

Processed with VSCO
Senja di Jakarta pada akhir Januari. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Saya adalah seorang pria pemuja kata-kata, sungguh. Saya selalu kagum dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah kalimat dan paragraf yang bermakna.

Sepekan yang lalu, saya menonton film yang berjudul “The Light Between Oceans,” sebuah film yang dirilis pada tahun 2016 yang diperankan dengan sangat baik oleh Michael Fassbender dan Alicia Vicander. Film tersebut berkisah tentang seorang penjaga mercusuar dan istrinya yang tinggal di sebuah pulau bernama Janus Rock. Dua tahun setelah pernikahan mereka, pasangan tersebut menemukan kapal sekoci yang membawa dua orang penumpang; seorang pria dan bayi perempuan. Bagaimana kisah selanjutnya? Silakan ditonton.

Akan tetapi, pada tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang-lebar tentang film yang mendapatkan rating 7,2 oleh satu situs IMDb. Lantas, apa yang ingin saya bagikan? Belakangan ini, saya terusik dengan sebuah pertanyaan, “Apakah standar utama yang membuat suatu karya, misalnya film, layak dinobatkan sebagai karya yang fenomenal?” Lama, lama sekali saya berpikir tentang hal tersebut hingga pada akhirnya saya menemukan simpulan yang paling tepat menurut perspektif saya sendiri. Bagi saya secara personal, film yang baik adalah film yang membuat saya merenung: memikirkan setiap dialog, adegan, dan semua tanda yang ditampilkan dalam film, baik kasat mata maupun tersirat.

Salah satu kutipan pada film “The Light Between Oceans” yang membuat saya impresif yaitu, “You only have to forgive once. To resent, you have to do it all day, every day.” Ungkapan ini membuat hati saya gusar. Membuat memori masa silam hadir kembali dengan cuplikan yang lebih utuh, lebih jelas. Ada banyak luka-luka di dalam hati saya yang belum sembuh hingga sekarang. Setiap hari, saya masih merasakan luka yang sama, tidak kurang sedikitpun. Berulang kali saya mencoba melupakannya. Nyatanya tidak semudah yang saya kira. Entahlah, barangkali saya memang belum bisa ikhlas atau mungkin masih ada hal yang belum tuntas. Saya pun tidak tahu harus menerjemahkannya seperti apa perasaan yang meliputi ruang hati saya. Namun satu hal yang pasti, saya memang harus mulai memaafkan dan berdamai dengan diri saya sendiri. Terkadang saya berpikir, saya terlalu keras dengan diri saya sendiri. Mulai hari ini, saat Januari telah pergi, saya mulai mencoba menjadi diri yang baru setiap harinya. Seorang anak manusia yang ingin memiliki hidup yang bahagia.

Januari, kini entah di orbit mana engkau berada? Saya pun alfa tentang hal itu. Ada satu rahasia yang ingin saya sampaikan padamu, “Tahukah kamu, kehadiranmu sungguh berarti. Engkau berada di dua garis yang berbeda. Satu wajahmu menghadap ke masa lalu (bulan Desember), satu lagi wajahmu menghadap ke masa depan (Februari). Bisakah kau sedikit mendoakan saya?

Jakarta,

1 Februari 2017

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU

Photo Story: Kelas Inspirasi Jakarta 5 “Satu Hari Kembali ke Sekolah”

Kelas Inspirasi (KI) merupakan salah satu program dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Program ini memfasilitasi para profesional untuk kembali ke sekolah khususnya Sekolah Dasar selama satu hari dengan tujuan menginspirasi anak-anak Indonesia untuk #BeraniBermimpi.

Secara sederhana, para profesional menceritakan profesi mereka kepada anak-anak SD dengan harapan kelak di masa depan mereka bisa menjadi seperti mereka atau bahkan jauh lebih hebat dari para inspirator (sebutan pengajar Kelas Inspirasi). Hal ini menjadi penting mengingat saat ini di dunia kerja begitu beragam profesi yang ada. Tidak hanya ada profesi yang populer seperti dokter, polisi, ataupun tentara. Nyatanya di dunia kerja ada profesi seperti chef, designer interior, dan masih banyak lagi.

Tahun ini, Kelas Inspirasi Jakarta kembali digelar untuk yang kelima kalinya. Bagi Kelas Inspirasi Jakarta 5, tahun ini sangat spesial karena Hari Inspirasi bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2016.

Saya menjadi relawan Kelas Inspirasi untuk kali ketiga. Namun pada Kelas Inspirasi tahun ini, saya mengambil peran menjadi relawan fotografer (amatir) yang tergabung dalam kumpulan orang-orang hebat di Kelompok 42.

Berikut 5 foto dokumentasi ketika Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur:

1
Foto 1

Menunggu Upacara Bendera

Siswi-siswi SDN 07 Cijantung Pagi Jakarta Timur pada Senin, (02/05/2016) terlihat begitu antusias menunggu upacara bendera. Pada hari itu, upacara bendera di sekolah mereka berbeda dibandingkan upacara-upacara sebelumnya. Betapa tidak, pada hari itu bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, sekolah mereka juga kedatangan para relawan Kelas Inspirasi Jakarta 5 yang akan berbagi cerita tentang profesi mereka. Bagi siswi-siswi tersebut, jelas hari itu adalah hari yang berbeda, hari yang spesial karena tidak ada PR.

 

2.JPG
Foto 2

Guru, Tidak Hanya Mengajar Namun Juga Mendidik

Gicha Graciella (27 tahun) merupakan seorang konsultan komunikasi. Ia baru pertama kali menjadi relawan Kelas Inspirasi. Ia menceritakan bahwa mengikuti Kelas Inspirasi bukan hanya tentang berbagi, namun juga sebagai bentuk komitmennya bahwa sesuatu yang baik dan berguna perlu disebarkan dengan lebih luas. Ia yakin setiap orang berilmu di negeri ini memiliki kewajiban untuk mendidik generasi mendatang. Ada satu pengalaman yang cukup berkesan ketika ia menjadi inspirator Kelas Inspirasi. Menurutnya, salah satu persoalan pelik di dunia pendidikan di Indonesia yaitu masalah bullying. Ia bercerita, “Selama saya mengikuti kelas inspirasi, saya melihat ada beberapa anak yang mendapat kekerasan verbal dari teman-temannya. Saya menyadari bahwa mendidik bukan hanya tentang mengajarkan mereka untuk mengerti mata pelajaran dan hal-hal yang bersifat teoritis.” Gicha, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa mendidik adalah tumbuh bersama mereka, memahami kebutuhan mereka, dan memenuhi hak-hak mereka.

3.JPG
Foto 3

Tidak Perlu Ada Sekat Antara Guru dengan Murid

Ada ungkapan yang mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Predikat menjadi seorang guru memang tidak mudah. Ia menjadi contoh, ia menjadi role model untuk anak didiknya. Hubungan guru dan murid tidak hanya sebatas orang yang mengajar dan orang yang diajar. Guru dan murid juga bisa saling bersahabat. Bukankah menyenangkan memiliki guru sekaligus sahabat?

4.JPG
Foto 4

Belajar Tidak Hanya di Kelas

Annisa Aulia Handika (23 tahun) mengajak siswa-siswinya untuk belajar di luar kelas. Sebelum ia mulai mengajar, seorang siswa membuang hajatnya di kelas. Hal tersebut membuat aroma kelas menjadi tidak sedap. Ollie, begitu ia memanggil namanya, mengatakan bahwa belajar tidak perlu di ruang kelas. Siswa-siswi bisa belajar dimana saja, asalkan ia nyaman menjalani proses belajar mengajar. Profesinya sebagai Oseanografer sangat menarik antusias anak-anak. “Ini pertama kalinya saya mengikuti Kelas Inspirasi dan langsung ketagihan untuk ikut lagi,” ungkap Ollie. Selama mengajar, Ollie berulang kali mengatakan bahwa laut di Indonesia itu sangat luas dan sangat indah. Oleh sebab itu, kita perlu bersama-sama menjaga kekayaan laut yang kita punya. Mengajar itu nagih! “Saya menjadi lebih bersemangat untuk terus berbuat lebih untuk banyak orang,” ungkapnya.

5.JPG
Foto 5

Dari Balik Jendela

Saya adalah seorang relawan fotografi. Saya memang tidak menginspirasi mereka secara langsung. Sungguh, tidak sama sekali. Hal yang terjadi justru sayalah yang terinspirasi dari anak-anak sekolah dasar. Saya menangkap momen ketika mereka tertawa lepas, ketika mereka marah, ketika mereka kesal, atau ketika mereka bosan. Namun dari semua mata yang sudah abadikan dengan kamera, ada satu hal yang membuat saya merinding. Saya melihat di dalam mata mereka ada binar harapan untuk masa depan yang jauh lebih hebat, jauh lebih gemilang. Teruslah bersemangat menggapai cita-cita wahai tunas bangsa!

Demikianlah, satu hari cuti satu hari menginspirasi! Ayo #BangunMimpiAnakIndonesia

Jakarta,

10 Mei 2016

Diah Indrajati: Bekerja dengan Hati

Ir. Diah Indrajati, M.Sc., Plt Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah*

Profil beliau dimuat pada majalah “Jendela Bina Pembangunan Daerah” Edisi 5 Februari – 5 Maret 2016.

 

IMG_7744
Ir. Diah Indrajati, M.Sc. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

 

Ada sebuah kutipan yang cukup populer di telinga kita, “People come and go. Everyone thats been in your life has been there for a reason, to teach you, to love you, or to experience life with you.” Rasanya kutipan tersebut cukup related dengan kondisi Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda) saat ini. Betapa tidak, pada tahun 2015 lalu, Dr. Drs. Muhammad Marwan M.Si., Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Periode 2009-2015 resmi purnabakti.

Tentunya banyak hal hebat yang telah beliau persembahkan untuk Indonesia secara umum dan Ditjen Bina Bangda secara khusus. Kepemimpinan beliau mengajarkan kita bahwa usia sosial manusia sejatinya tanpa batas. Kendati beliau sudah tidak lagi berkarya di Ditjen Bina Bangda, namun keteladanan beliau akan terus mengabadi dan akan terus dikenang.

Kini, Ditjen Bina Bangda memiliki sosok pemimpin yang baru. Seorang wanita hebat yang telah mendedikasikan hidupnya bertahun-tahun untuk mengubah wajah republik ini menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Seorang wanita yang juga ibu dari Wenny Indriyarti Putri dan Randita Indrayanto. Perkenalkan, beliau adalah Diah Indrajati.

Sejak awal tahun 2016, istri dari Ir. Dadang Sudiyarto ini resmi dilantik menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Bina Bangda. Pada hari Jumat, (26/02/2016) tim buletin “Jendela Pembangunan Daerah” berkesempatan mewawancarai beliau di ruang kerjanya di Ditjen Bina Bangda, Jalan Makam Pahlawan, No. 20, Jakarta Selatan.

Saat itu, beliau tengah mengenakan busana batik yang menjadi identitas bangsa Indonesia dan telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (World Herigate). Topik pembuka obrolan dimulai dengan kisah awal karir beliau di Kementerian Dalam Negeri.

Diah, begitu beliau akrab disapa, mengatakan bahwa ia bergabung di Kementerian Dalam Negeri sejak tahun 1987. “Jadi pada tahun 1987, saya memang sudah ditempatkan di Ditjen Bina Bangda. Tadinya saya sempat satu tahun sebagai pegawai proyek. Saya penganten baru, saya bekerja untuk proyek “Upland Agriculture” kalau gak salah. Nah, kemudian di perjalanan saya mendapatkan kabar bahwa Depdagri menerima pegawai. Saya diberi tahu waktu itu oleh salah satu Kasubdit di Ditjen Bangda. Saya pun mengikuti tes dan Alhamdulillah diterima. Saya mengikuti Diklat di Jogja,” kenang Diah.

Lebih lanjut, beliau menceritakan bahwa awal-awal ia memulai karir di Kemendagri tidaklah mudah. Namun dengan tekad yang kuat, takbutuh waktu lama bagi Diah untuk belajar banyak hal tentang seluk beluk dunia birokrasi. “Kebetulan waktu itu, Kepala Bagian Perencanaan, almarhum Bapak Butarbutar seringkali meminta kita bedah buku, membaca peraturan, kemudian menulis summary tentang berbagai aturan. Setiap hari kita kumpul di ruangan untuk diskusi. Jadi memang terarah gitu,” ungkap Diah.

Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia merasa bekal sarjana yang ia miliki tidak cukup untuk menjawab berbagai tantangan yang ia hadapi di dunia kerja. Ia pun merasa terpanggil untuk melanjutkan jenjang pendidikan magister di Amerika Serikat. Ia sempat ragu untuk kuliah di luar negeri lantaran ia sudah berkeluarga dan sudah memiliki buah hati. Namun berkat dukungan penuh dari suami dan keluarga besar, ia pun akhirnya memantapkan diri untuk melanjutkan studi di California State University Fullerton.

“Dari sekian ratus yang melamar OTO Bappenas, akhirnya yang lolos kalau gak salah 2 waktu itu tahun 90-an. Prosesnya dari tahun 1987 hingga tahun 1988. Tapi pengumuman bahwa saya diterima itu tahun 1992. Selanjutnya pada tahun 1993, saya harus ikut kursus hingga lulus. Kemudian masuk lagi hingga tahap terakhir. Akhirnya, saya pun berangkat pada tahun 1994 sekolah ke Amerika. Dua tahun bersekolah, saya kembali. Kantornya waktu saya berangkat masih di Keramat Raya. Tapi waktu saya kembali sudah pindah ke sini (Kalibata, red),” jelas Diah.

Perjalanan karir Diah bisa dikatakan terbilang cukup panjang. Beliau baru mendapatkan eselon 2 pada tahun 2012. Menurutnya, persaingan di Kemendagri cukup ketat. Kendati demikian, ia tidak terlalu fokus untuk mendapatkan jabatan-jabatan tertentu. Ia hanya fokus untuk bekerja dengan baik. Ia yakin hasil tidak akan mengkhianati proses. Hal yang terpenting menurutnya yaitu bila mendapatkan tugas, maka harus amanah menjalankan tugas tersebut.

Sejak sebagai staf hingga menduduki posisi saat ini, wanita kelahiran Demak, 7 November 1958, ini membiasakan bekerja dengan hati. “Saya mencoba menekuni apa yang ditugaskan. Tidak usil kiri kanan. Fokus mengerjakan apa yang ditugaskan kepada saya ya itulah yang saya kerjakan. Saya tidak pantang bertanya. Sekarangpun jika saya tidak tahu, saya akan bertanya kepada teman-teman yang saya anggap lebih tahu,” tegas Diah.

Ia menilai bahwa posisi ia saat ini tidak banyak mengubah dirinya secara personal. Hanya ia dituntut lebih bijak, tidak mudah emosional. Ia menuturkan bahwa dulu ia kadang merasa gregetan bila ada stafnya yang bekerja tidak cekat. Namun sekarang, ia harus mampu memberikan contoh mana aturan yang tidak boleh dilanggar.

Ketika ditanya tentang pemimpin ideal, beliau menekankan bahwa seorang pemimpin harus paham substansi yang ia kerjakan dan harus mampu menjadi contoh. Dalam memimpin, ia tidak memiliki role model secara khusus. Hal ini dikarenakan ia ‘dibesarkan’ oleh banyak gaya kepemimpinan. “Yang jelas kalau dari amanah agama, kita harus mencontoh nabi besar kita, nabi Muhammad shalallahu’alai wassalam. Kita mencontoh cara kerja beliau; membedakan mana yang dinas, mana yang pribadi. Saya berusaha seperti itu walaupun tidak sempurna. Tapi saya mencoba mengambil contoh-contoh dari beliau,” ungkap Diah.

Berkaitan dengan harapan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, yang menginginkan semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan strategis di lingkup Kemendagri, Diah mengapresiasi hal tersebut. Namun bagi Diah sendiri, seseorang diangkat menjadi pemimpin haruslah berdasarkan kemampuannya. “Jadi, walaupun perempuan, dia harus mampu. Jangan karena perempuan kemudian minta diangkat menjadi pejabat. Saya juga gak setuju. Jabatan boleh siapa saja duduk di situ. Tapi kalau ilmu hanya kita yang punya. Jadi saya modalnya itu. Karena Pak Menteri kebijakannya seperti itu, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan beliau. Saya akan berbuat semampu saya untuk melaksanakan amanah itu. Saya juga menghimbau teman-teman juga bekerja dengan baik mudah-mudahan nanti pimpinan bisa melihat potensi teman-teman,” papar Diah.

Di sela-sela kesibukan, Diah masih menyempatkan diri untuk memperbaharui informasi-informasi yang bermanfaat khususnya informasi mengenai lingkungan. “Karena dulu saya mengambil S2 Lingkungan, saya paling aware untuk hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan. Isu suistainbale development cukup menarik perhatian saya,” kata Diah.

Selain membaca, waktu senggang juga dimanfaatkan Diah untuk memasak menu rumahan. Walaupun tidak memasak yang ‘aneh-aneh’ setidaknya masakan yang ia sajikan untuk keluarga dapat mengobati rasa rindu terhadap cita rasa masakan rumahan.

Sejak menjabat menjadi Plt Dirjen Bina Pembangunan Daerah, Diah mengaku harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Beruntungnya dukungan yang besar dari keluarga membuat beliau menikmati pekerjaannya saat ini. Ia pun berpesan kepada stakeholder Ditjen Bina Pembangunan Daerah untuk bekerja dengan baik. “Tunjukkan bahwa kita mampu. Sebab, kita sudah komitmen untuk bekerja. Ya, usahakan semaksimal mungkin dan profesional,” tutup Diah. [Mahfud Achyar]