Puluhan Januari Telah Terlewati

Processed with VSCO
Senja di Jakarta pada akhir Januari. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Saya adalah seorang pria pemuja kata-kata, sungguh. Saya selalu kagum dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah kalimat dan paragraf yang bermakna.

Sepekan yang lalu, saya menonton film yang berjudul “The Light Between Oceans,” sebuah film yang dirilis pada tahun 2016 yang diperankan dengan sangat baik oleh Michael Fassbender dan Alicia Vicander. Film tersebut berkisah tentang seorang penjaga mercusuar dan istrinya yang tinggal di sebuah pulau bernama Janus Rock. Dua tahun setelah pernikahan mereka, pasangan tersebut menemukan kapal sekoci yang membawa dua orang penumpang; seorang pria dan bayi perempuan. Bagaimana kisah selanjutnya? Silakan ditonton.

Akan tetapi, pada tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang-lebar tentang film yang mendapatkan rating 7,2 oleh satu situs IMDb. Lantas, apa yang ingin saya bagikan? Belakangan ini, saya terusik dengan sebuah pertanyaan, “Apakah standar utama yang membuat suatu karya, misalnya film, layak dinobatkan sebagai karya yang fenomenal?” Lama, lama sekali saya berpikir tentang hal tersebut hingga pada akhirnya saya menemukan simpulan yang paling tepat menurut perspektif saya sendiri. Bagi saya secara personal, film yang baik adalah film yang membuat saya merenung: memikirkan setiap dialog, adegan, dan semua tanda yang ditampilkan dalam film, baik kasat mata maupun tersirat.

Salah satu kutipan pada film “The Light Between Oceans” yang membuat saya impresif yaitu, “You only have to forgive once. To resent, you have to do it all day, every day.” Ungkapan ini membuat hati saya gusar. Membuat memori masa silam hadir kembali dengan cuplikan yang lebih utuh, lebih jelas. Ada banyak luka-luka di dalam hati saya yang belum sembuh hingga sekarang. Setiap hari, saya masih merasakan luka yang sama, tidak kurang sedikitpun. Berulang kali saya mencoba melupakannya. Nyatanya tidak semudah yang saya kira. Entahlah, barangkali saya memang belum bisa ikhlas atau mungkin masih ada hal yang belum tuntas. Saya pun tidak tahu harus menerjemahkannya seperti apa perasaan yang meliputi ruang hati saya. Namun satu hal yang pasti, saya memang harus mulai memaafkan dan berdamai dengan diri saya sendiri. Terkadang saya berpikir, saya terlalu keras dengan diri saya sendiri. Mulai hari ini, saat Januari telah pergi, saya mulai mencoba menjadi diri yang baru setiap harinya. Seorang anak manusia yang ingin memiliki hidup yang bahagia.

Januari, kini entah di orbit mana engkau berada? Saya pun alfa tentang hal itu. Ada satu rahasia yang ingin saya sampaikan padamu, “Tahukah kamu, kehadiranmu sungguh berarti. Engkau berada di dua garis yang berbeda. Satu wajahmu menghadap ke masa lalu (bulan Desember), satu lagi wajahmu menghadap ke masa depan (Februari). Bisakah kau sedikit mendoakan saya?

Jakarta,

1 Februari 2017

Advertisements

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU

Photo Story: Kelas Inspirasi Jakarta 5 “Satu Hari Kembali ke Sekolah”

Kelas Inspirasi (KI) merupakan salah satu program dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Program ini memfasilitasi para profesional untuk kembali ke sekolah khususnya Sekolah Dasar selama satu hari dengan tujuan menginspirasi anak-anak Indonesia untuk #BeraniBermimpi.

Secara sederhana, para profesional menceritakan profesi mereka kepada anak-anak SD dengan harapan kelak di masa depan mereka bisa menjadi seperti mereka atau bahkan jauh lebih hebat dari para inspirator (sebutan pengajar Kelas Inspirasi). Hal ini menjadi penting mengingat saat ini di dunia kerja begitu beragam profesi yang ada. Tidak hanya ada profesi yang populer seperti dokter, polisi, ataupun tentara. Nyatanya di dunia kerja ada profesi seperti chef, designer interior, dan masih banyak lagi.

Tahun ini, Kelas Inspirasi Jakarta kembali digelar untuk yang kelima kalinya. Bagi Kelas Inspirasi Jakarta 5, tahun ini sangat spesial karena Hari Inspirasi bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2016.

Saya menjadi relawan Kelas Inspirasi untuk kali ketiga. Namun pada Kelas Inspirasi tahun ini, saya mengambil peran menjadi relawan fotografer (amatir) yang tergabung dalam kumpulan orang-orang hebat di Kelompok 42.

Berikut 5 foto dokumentasi ketika Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur:

1
Foto 1

Menunggu Upacara Bendera

Siswi-siswi SDN 07 Cijantung Pagi Jakarta Timur pada Senin, (02/05/2016) terlihat begitu antusias menunggu upacara bendera. Pada hari itu, upacara bendera di sekolah mereka berbeda dibandingkan upacara-upacara sebelumnya. Betapa tidak, pada hari itu bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, sekolah mereka juga kedatangan para relawan Kelas Inspirasi Jakarta 5 yang akan berbagi cerita tentang profesi mereka. Bagi siswi-siswi tersebut, jelas hari itu adalah hari yang berbeda, hari yang spesial karena tidak ada PR.

 

2.JPG
Foto 2

Guru, Tidak Hanya Mengajar Namun Juga Mendidik

Gicha Graciella (27 tahun) merupakan seorang konsultan komunikasi. Ia baru pertama kali menjadi relawan Kelas Inspirasi. Ia menceritakan bahwa mengikuti Kelas Inspirasi bukan hanya tentang berbagi, namun juga sebagai bentuk komitmennya bahwa sesuatu yang baik dan berguna perlu disebarkan dengan lebih luas. Ia yakin setiap orang berilmu di negeri ini memiliki kewajiban untuk mendidik generasi mendatang. Ada satu pengalaman yang cukup berkesan ketika ia menjadi inspirator Kelas Inspirasi. Menurutnya, salah satu persoalan pelik di dunia pendidikan di Indonesia yaitu masalah bullying. Ia bercerita, “Selama saya mengikuti kelas inspirasi, saya melihat ada beberapa anak yang mendapat kekerasan verbal dari teman-temannya. Saya menyadari bahwa mendidik bukan hanya tentang mengajarkan mereka untuk mengerti mata pelajaran dan hal-hal yang bersifat teoritis.” Gicha, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa mendidik adalah tumbuh bersama mereka, memahami kebutuhan mereka, dan memenuhi hak-hak mereka.

3.JPG
Foto 3

Tidak Perlu Ada Sekat Antara Guru dengan Murid

Ada ungkapan yang mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Predikat menjadi seorang guru memang tidak mudah. Ia menjadi contoh, ia menjadi role model untuk anak didiknya. Hubungan guru dan murid tidak hanya sebatas orang yang mengajar dan orang yang diajar. Guru dan murid juga bisa saling bersahabat. Bukankah menyenangkan memiliki guru sekaligus sahabat?

4.JPG
Foto 4

Belajar Tidak Hanya di Kelas

Annisa Aulia Handika (23 tahun) mengajak siswa-siswinya untuk belajar di luar kelas. Sebelum ia mulai mengajar, seorang siswa membuang hajatnya di kelas. Hal tersebut membuat aroma kelas menjadi tidak sedap. Ollie, begitu ia memanggil namanya, mengatakan bahwa belajar tidak perlu di ruang kelas. Siswa-siswi bisa belajar dimana saja, asalkan ia nyaman menjalani proses belajar mengajar. Profesinya sebagai Oseanografer sangat menarik antusias anak-anak. “Ini pertama kalinya saya mengikuti Kelas Inspirasi dan langsung ketagihan untuk ikut lagi,” ungkap Ollie. Selama mengajar, Ollie berulang kali mengatakan bahwa laut di Indonesia itu sangat luas dan sangat indah. Oleh sebab itu, kita perlu bersama-sama menjaga kekayaan laut yang kita punya. Mengajar itu nagih! “Saya menjadi lebih bersemangat untuk terus berbuat lebih untuk banyak orang,” ungkapnya.

5.JPG
Foto 5

Dari Balik Jendela

Saya adalah seorang relawan fotografi. Saya memang tidak menginspirasi mereka secara langsung. Sungguh, tidak sama sekali. Hal yang terjadi justru sayalah yang terinspirasi dari anak-anak sekolah dasar. Saya menangkap momen ketika mereka tertawa lepas, ketika mereka marah, ketika mereka kesal, atau ketika mereka bosan. Namun dari semua mata yang sudah abadikan dengan kamera, ada satu hal yang membuat saya merinding. Saya melihat di dalam mata mereka ada binar harapan untuk masa depan yang jauh lebih hebat, jauh lebih gemilang. Teruslah bersemangat menggapai cita-cita wahai tunas bangsa!

Demikianlah, satu hari cuti satu hari menginspirasi! Ayo #BangunMimpiAnakIndonesia

Jakarta,

10 Mei 2016

Diah Indrajati: Bekerja dengan Hati

Ir. Diah Indrajati, M.Sc., Plt Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah*

Profil beliau dimuat pada majalah “Jendela Bina Pembangunan Daerah” Edisi 5 Februari – 5 Maret 2016.

 

IMG_7744
Ir. Diah Indrajati, M.Sc. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

 

Ada sebuah kutipan yang cukup populer di telinga kita, “People come and go. Everyone thats been in your life has been there for a reason, to teach you, to love you, or to experience life with you.” Rasanya kutipan tersebut cukup related dengan kondisi Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (Ditjen Bina Bangda) saat ini. Betapa tidak, pada tahun 2015 lalu, Dr. Drs. Muhammad Marwan M.Si., Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Periode 2009-2015 resmi purnabakti.

Tentunya banyak hal hebat yang telah beliau persembahkan untuk Indonesia secara umum dan Ditjen Bina Bangda secara khusus. Kepemimpinan beliau mengajarkan kita bahwa usia sosial manusia sejatinya tanpa batas. Kendati beliau sudah tidak lagi berkarya di Ditjen Bina Bangda, namun keteladanan beliau akan terus mengabadi dan akan terus dikenang.

Kini, Ditjen Bina Bangda memiliki sosok pemimpin yang baru. Seorang wanita hebat yang telah mendedikasikan hidupnya bertahun-tahun untuk mengubah wajah republik ini menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Seorang wanita yang juga ibu dari Wenny Indriyarti Putri dan Randita Indrayanto. Perkenalkan, beliau adalah Diah Indrajati.

Sejak awal tahun 2016, istri dari Ir. Dadang Sudiyarto ini resmi dilantik menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Dirjen Bina Bangda. Pada hari Jumat, (26/02/2016) tim buletin “Jendela Pembangunan Daerah” berkesempatan mewawancarai beliau di ruang kerjanya di Ditjen Bina Bangda, Jalan Makam Pahlawan, No. 20, Jakarta Selatan.

Saat itu, beliau tengah mengenakan busana batik yang menjadi identitas bangsa Indonesia dan telah dikukuhkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia (World Herigate). Topik pembuka obrolan dimulai dengan kisah awal karir beliau di Kementerian Dalam Negeri.

Diah, begitu beliau akrab disapa, mengatakan bahwa ia bergabung di Kementerian Dalam Negeri sejak tahun 1987. “Jadi pada tahun 1987, saya memang sudah ditempatkan di Ditjen Bina Bangda. Tadinya saya sempat satu tahun sebagai pegawai proyek. Saya penganten baru, saya bekerja untuk proyek “Upland Agriculture” kalau gak salah. Nah, kemudian di perjalanan saya mendapatkan kabar bahwa Depdagri menerima pegawai. Saya diberi tahu waktu itu oleh salah satu Kasubdit di Ditjen Bangda. Saya pun mengikuti tes dan Alhamdulillah diterima. Saya mengikuti Diklat di Jogja,” kenang Diah.

Lebih lanjut, beliau menceritakan bahwa awal-awal ia memulai karir di Kemendagri tidaklah mudah. Namun dengan tekad yang kuat, takbutuh waktu lama bagi Diah untuk belajar banyak hal tentang seluk beluk dunia birokrasi. “Kebetulan waktu itu, Kepala Bagian Perencanaan, almarhum Bapak Butarbutar seringkali meminta kita bedah buku, membaca peraturan, kemudian menulis summary tentang berbagai aturan. Setiap hari kita kumpul di ruangan untuk diskusi. Jadi memang terarah gitu,” ungkap Diah.

Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), ia merasa bekal sarjana yang ia miliki tidak cukup untuk menjawab berbagai tantangan yang ia hadapi di dunia kerja. Ia pun merasa terpanggil untuk melanjutkan jenjang pendidikan magister di Amerika Serikat. Ia sempat ragu untuk kuliah di luar negeri lantaran ia sudah berkeluarga dan sudah memiliki buah hati. Namun berkat dukungan penuh dari suami dan keluarga besar, ia pun akhirnya memantapkan diri untuk melanjutkan studi di California State University Fullerton.

“Dari sekian ratus yang melamar OTO Bappenas, akhirnya yang lolos kalau gak salah 2 waktu itu tahun 90-an. Prosesnya dari tahun 1987 hingga tahun 1988. Tapi pengumuman bahwa saya diterima itu tahun 1992. Selanjutnya pada tahun 1993, saya harus ikut kursus hingga lulus. Kemudian masuk lagi hingga tahap terakhir. Akhirnya, saya pun berangkat pada tahun 1994 sekolah ke Amerika. Dua tahun bersekolah, saya kembali. Kantornya waktu saya berangkat masih di Keramat Raya. Tapi waktu saya kembali sudah pindah ke sini (Kalibata, red),” jelas Diah.

Perjalanan karir Diah bisa dikatakan terbilang cukup panjang. Beliau baru mendapatkan eselon 2 pada tahun 2012. Menurutnya, persaingan di Kemendagri cukup ketat. Kendati demikian, ia tidak terlalu fokus untuk mendapatkan jabatan-jabatan tertentu. Ia hanya fokus untuk bekerja dengan baik. Ia yakin hasil tidak akan mengkhianati proses. Hal yang terpenting menurutnya yaitu bila mendapatkan tugas, maka harus amanah menjalankan tugas tersebut.

Sejak sebagai staf hingga menduduki posisi saat ini, wanita kelahiran Demak, 7 November 1958, ini membiasakan bekerja dengan hati. “Saya mencoba menekuni apa yang ditugaskan. Tidak usil kiri kanan. Fokus mengerjakan apa yang ditugaskan kepada saya ya itulah yang saya kerjakan. Saya tidak pantang bertanya. Sekarangpun jika saya tidak tahu, saya akan bertanya kepada teman-teman yang saya anggap lebih tahu,” tegas Diah.

Ia menilai bahwa posisi ia saat ini tidak banyak mengubah dirinya secara personal. Hanya ia dituntut lebih bijak, tidak mudah emosional. Ia menuturkan bahwa dulu ia kadang merasa gregetan bila ada stafnya yang bekerja tidak cekat. Namun sekarang, ia harus mampu memberikan contoh mana aturan yang tidak boleh dilanggar.

Ketika ditanya tentang pemimpin ideal, beliau menekankan bahwa seorang pemimpin harus paham substansi yang ia kerjakan dan harus mampu menjadi contoh. Dalam memimpin, ia tidak memiliki role model secara khusus. Hal ini dikarenakan ia ‘dibesarkan’ oleh banyak gaya kepemimpinan. “Yang jelas kalau dari amanah agama, kita harus mencontoh nabi besar kita, nabi Muhammad shalallahu’alai wassalam. Kita mencontoh cara kerja beliau; membedakan mana yang dinas, mana yang pribadi. Saya berusaha seperti itu walaupun tidak sempurna. Tapi saya mencoba mengambil contoh-contoh dari beliau,” ungkap Diah.

Berkaitan dengan harapan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, yang menginginkan semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan strategis di lingkup Kemendagri, Diah mengapresiasi hal tersebut. Namun bagi Diah sendiri, seseorang diangkat menjadi pemimpin haruslah berdasarkan kemampuannya. “Jadi, walaupun perempuan, dia harus mampu. Jangan karena perempuan kemudian minta diangkat menjadi pejabat. Saya juga gak setuju. Jabatan boleh siapa saja duduk di situ. Tapi kalau ilmu hanya kita yang punya. Jadi saya modalnya itu. Karena Pak Menteri kebijakannya seperti itu, mudah-mudahan saya tidak mengecewakan beliau. Saya akan berbuat semampu saya untuk melaksanakan amanah itu. Saya juga menghimbau teman-teman juga bekerja dengan baik mudah-mudahan nanti pimpinan bisa melihat potensi teman-teman,” papar Diah.

Di sela-sela kesibukan, Diah masih menyempatkan diri untuk memperbaharui informasi-informasi yang bermanfaat khususnya informasi mengenai lingkungan. “Karena dulu saya mengambil S2 Lingkungan, saya paling aware untuk hal-hal yang berhubungan dengan lingkungan. Isu suistainbale development cukup menarik perhatian saya,” kata Diah.

Selain membaca, waktu senggang juga dimanfaatkan Diah untuk memasak menu rumahan. Walaupun tidak memasak yang ‘aneh-aneh’ setidaknya masakan yang ia sajikan untuk keluarga dapat mengobati rasa rindu terhadap cita rasa masakan rumahan.

Sejak menjabat menjadi Plt Dirjen Bina Pembangunan Daerah, Diah mengaku harus pintar membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Beruntungnya dukungan yang besar dari keluarga membuat beliau menikmati pekerjaannya saat ini. Ia pun berpesan kepada stakeholder Ditjen Bina Pembangunan Daerah untuk bekerja dengan baik. “Tunjukkan bahwa kita mampu. Sebab, kita sudah komitmen untuk bekerja. Ya, usahakan semaksimal mungkin dan profesional,” tutup Diah. [Mahfud Achyar]

 

 

 

 

 

Belajar Social Entrepreneur dari Muhammad Yunus

“If you go out into the real world, you cannot miss seeing that the poor are poor not because they are untrained or illiterate but because they cannot retain the returns of their labor. They have no control over capital, and it is the ability to control capital that gives people the power to rise out of poverty.”

– Muhammad Yunus, Banker to the Poor: Micro-Lending and the Battle Against World Poverty.

Muhammad Yunus Source: www.cdn2.yourstory.com
Muhammad
Yunus
Source: http://www.cdn2.yourstory.com

Lahir di Chittagong, East Bengal, kini Bangladesh pada tanggal 28 Juni 1950, Muhammad Yunus mulai menekuni bidang social entrepreneur sejak tahun 1974 dengan mengembangkan konsep kredit mikro, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam uang dari bank umum. Ia menamakan program tersebut dengan sebutan Grameen Bank.

Misi Muhammad Yunus melalui program Grameen Bank adalah untuk mengentaskan permasalahan kemiskininan di negaranya, Bangladesh. Pada tahun 2006, ia menerima penghargaan nobel perdamaian berkat usahanya dalam memenangkan perperangan melawan kemiskinan. Grameen Bank merupakan organisasi unik yang didirikan dengan tujuan utama menyalurkan kredit mikro bagi masyarakat miskin. Melalui program tersebut, sekitar 47 ribu lebih pengemis di Bangladesh telah terbantu. Ribuan pengemis di Bangladesh sudah mampu mandiri dengan menjadi pengusaha kecil, tanpa meminta-minta lagi.

Ada enam hal penting yang dapat kita pelajari dari Muhammad Yunus dalam mengembangkan social entrepreneur seperti yang dilansir media online social.yourstory.com:

1. Fokus pada masyarakat yang belum terlayani dan kurang terlayani

Muhammad Yunus yang awalnya hanya seorang dosen yang ingin membantu seorang ibu dari keterpurukan, kini telah mampu memberi sesuatu yang jauh melebihi apa yang dibayangkannya, mengentaskan kemiskinan di negerinya.

2. Memiliki mimpi besar

Muhammad Yunus sejak kecil sudah berkeinginan besar untuk membantu menyelesaikan persoalan di negaranya. Ketika dewasa ia pun mendirikan Grameen Bank dengan harapan dapat membantu jutaan masyarakat agar terlepas dari kemiskinan.

3. Kolaborasi adalah kunci untuk pertumbuhan

Grameen Bank bekerja sama dengan beberapa mitra untuk mewujudkan mimpi besar Muhammad Yunus dalam mengembangkan konsep bisnis sosial.

4. Diversifikasi

Akhir tahun 1980-an, Grameen Bank mulai diversifikasi proyek-proyek lain untuk menumbuhkan dan mengembangkan organisasi yang ia kelola.

5. Terus membantu orang lain

Grameen Bank terus menciptakan bisnis sosial yang sejenis di seluruh dunia. Ia juga membantu lembaga-lembaga social entreprise seperti pengusaha sosial muda di bawah usia 25 tahun serta mengembangkan ide-ide bisnis sosial mereka.

6. Siap untuk dicela

Muhammad Yunus takjarang menuai kritik dari berbagai bidang. Ia bahkan diminta untuk mundur sebagai Managing Director of Grameen Bank karena dianggap tidak mumpuni. Namun ia terus maju memberikan yang terbaik.

Kisah Muhammad Yunus adalah bukti bahwa ketulusan yang disertai pengabdian akan memberikan hasil yang luar biasa. Apa yang bisa kita petik dari kisah Muhammad Yunus ini? Mulailah segala sesuatu dari yang sederhana, dari yang kecil, dari apa yang kita bisa. Asal dapat memberi manfaat bagi orang lain, dampaknya akan terus menular dan berkembang menjadi kebaikan yang akan terus menjadi besar. Muhammad Yunus adalah contoh nyata dan teladan pribadi yang luar biasa. Dia dapat memanfaatkan ilmu yang dimiliki, empati, serta cintanya yang besar terhadap kehidupan untuk menjawab kebutuhan banyak orang di sekelilingnya dengan solusi sederhana pada awalnya. [Source: info biografi]

 

Helvy Tiana Rosa: Saya Menulis untuk Mencerahkan

Helvy Tiana Rosa. Source: Fan Page Facebook
Helvy Tiana Rosa.
Source: Fan Page Facebook

“Ketika sebuah karya selesai ditulis, maka pengarang tidak mati. Ia baru saja memperpanjang umurnya lagi.” Demikian ujar Helvy Tiana Rosa saat kami temui pada sesi wawancara di kediamannya, di daerah Depok, pada hari Kamis, (29 Januari 2015) lalu.

Adalah Helvy Tiana Rosa, kelahiran Medan, 22 April 1970, yang merupakan pendiri Forum Lingkar Pena (FLP). Helvy, begitu ia akrab disapa, mengenal sastra dari ibunya. “Ibu saya senang bercerita, baik lisan maupun tulisan. Biasanya bila akan tidur, ibu menulis apa yang sudah ia lakukan dalam satu hari. Jadi semacam muhasabah (evaluasi diri, red). Ibu-lah orang pertama memotivasi saya untuk menulis,” kenang Helvy.

Kakak pertama dari penulis Asma Nadia ini mengaku sudah bisa membaca sejak umur 5 tahun. Ia membaca apa saja yang ia temui pada kertas-kertas koran untuk pembungkus cabai, pembungkus bawang, atau pembungkus sayur. Guna memenuhi hasratnya dalam membaca, Helvy dan adiknya, Asma juga meminjam buku dari teman-temannya. “Jika tidak membaca, kami bisa uring-uringan. Sementara kondisi keluarga kami saat itu kurang beruntung dari segi finansial. Jadi kami meminjam buku dari teman dan mengembalikannya maksimal tiga hari. Sebagai ucapan terima kasih, kami pun menyampulkan buku mereka sehingga terlihat lebih rapi,” jelas dosen Universitas Negeri Jakarta ini.

Helvy menceritakan bahwa waktu kecil ia hampir setiap hari ke tempat penyewaan buku bersama Asma hanya melihat orang-orang yang menyewa buku. Lagi-lagi, mereka tidak bisa menyewa buku karena tidak memiliki uang. Asma pun menangis karena seolah keinginan sederhananya untuk membaca kandas. Helvy memberikan suntikan motivasi pada Asma. Ia bilang, “Suatu saat nanti kita akan mendirikan taman bacaan di seluruh Indonesia. Jika bisa di seluruh dunia. Suatu saat nanti kita juga akan menulis. Tulisan-tulisan kita akan ada dimana-mana.” Asma kecil kemudian menimpali perkataan kakaknya, “Tapi kita hanya anak kecil. Kita tidak akan bisa melakukan hal itu.” Helvy pun kembali meyakini Asma bahwa suatu saat mereka akan dewasa. “Insya Allah kita bisa. Alhamdullillah, kini cita-cita kami waktu kecil sudah terwujud. Asma sendiri bahwa sudah punya Rumah Baca Asma Nadia,” ungkap Helvy dengan mata berkaca-kaca.

Karya pertama yang ditulis oleh Helvy yaitu puisi. Menurutnya, puisi adalah jembatan awal yang menjadikan ia sebagai seorang penulis. Saat kelas 3 SD, tulisan Helvy untuk pertama kalinya dimuat oleh salah satu majalah anak di Jakarta. Betapa senangnya Helvy sebab karyanya dapat dibaca oleh banyak orang. Sejak saat itulah, penulis yang mengidolakan sastrawan Muhammad Iqbal, Jalaluddin Rumi, dan Taufik Ismail tersebut semakin bersemangat untuk berbagi dengan menulis.

“Saya menulis untuk mencerahkan,” tegas Helvy. Menurutnya, seorang penulis yang baik adalah penulis yang dapat turut membangun karakter pembaca dan juga karakter penulis itu sendiri. Lebih lanjut, penulis yang pernah menjadi Redaktur Pelaksana majalah Annida ini menuturkan bahwa penulis yang ideal itu harus seperti apa yang ia sampaikan melalui tulisan-tulisannya. “Bagi saya, karya sastra yang baik itu adalah karya yang dapat membuat kita bergerak. Bukan hanya sekadar karya sastra yang membuat kita jadi pengkhayal dan terbuai dalam lautan kata-kata semata. Karya sastra semestinya dapat mengasah nurani kita untuk lebih peduli, membuat kita penuh cinta, dan membuat kita lebih bercahaya.”

Helvy merasa prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini yang kehilangan karakter. Ia menyayangkan tayangan-tayangan sinetron yang tidak mendidik. “Saya rasa apa yang ditampilkan sinetron-sinetron sekarang bukanlah karakter bangsa kita. Indonesia dulu memiliki karakter yang berbudi pekerti luhur seperti gotong-royong dan tenggang rasa. Namun sekarang terkikis,” pungkasnya dengan nada yang bersemangat.

Penulis yang namanya melejit berkat cerpen berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi” pada tahun 1993 ini mengatakan bahwa karakter bangsa Indonesia dapat dibangun melalui karya sastra. Namun Helvy juga menyesalkan takbanyak penulis memiliki semangat seperti demikian. Banyak yang menilai sastra hanya sebagai komoditas yang menguntungkan dalam menghasilkan pundi-pundi rupiah. Bahkan banyak di antara mereka yang kurang menekankan pesan-pesan moral dalam setiap tulisan mereka. “Hingga saat ini saya selalu memegang moto saya yaitu menulis cahaya. Saya ingin mencerahkan diri saya dan syukur-syukur saya juga dapat mencerahkan orang lain. Saya tidak akan menulis suatu hal yang membuat masyarakat menjadi bobrok. Saya harus menulis hal-hal penuh spirit yang membangkitkan dan dapat menggerakkan pembaca ke arah cahaya,” ungkap Helvy.

Menurut pandangannya, sastra jangan sampai menjadi ekslusif. Ia mengatakan bahwa sastrawan W.S Rendra pernah berpesan, “Untuk apa menulis sastra jika kita tinggalnya di menara gading.” Helvy menilai bahwa Rendra tidak ingin menjadi penyair salon yaitu penyair yang hanya bicara tentang anggur dan rembulan. Sastrawan harus terlibat dalam masyarakat. “Jadi untuk apa menjadi sastrawan bila tidak tahu persoalan masyarakat dan tidak memberikan solusi sama sekali. Jika kita tidak bisa membantu, paling tidak kita bisa berempati. Sementara empati sendiri adalah urusan sastra,” papar ibu yang memiliki dua anak ini.

Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis

Helvy sadar betul bahwa Allah sudah menganugrahkan talenta menulis untuknya. Menyadari hal tersebut, Helvy tidak tinggal diam bila ia menyaksikan musibah, bencana, dan kesemena-menaan terpampang jelas di depan matanya. “Saya gunakan pena untuk bersuara, berteriak, dan protes atas berbagai permasalahan yang terjadi. Saya pernah menulis cerita pendek tentang seorang anak Timur-timur yang tampak ketakutan ketika saya melihat berita di televisi. Nurani saya juga terketuk saat melihat tragedi kemanusiaan di Gaza, Palestina. Saya pikir kita harus berbuat sesuatu. Saya sendiri memilih dengan cara menulis,” terangnya.

Pada tahun 1997, Helvy bersama Asma Nadia dan Maimon Herawati mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP) yang bertujuan menyebarkan Gerakan Indonesia Membaca dan Menulis. FLP berupaya memotivasi kaum muda untuk menulis. “Saya tahu saat itu sangat banyak orang ingin menjadi penulis. Namun mereka tidak memiliki uang dan tidak memiliki kesempatan. FLP memberikan pelatihan kepenulisan dengan gratis. Alhamdulillah, banyak penulis-penulis hebat lahir dari organisasi yang sekarang anggotanya sudah berjumlah lebih dari 100.000 orang,” papar Helvy.

Masih lekat dalam ingatannya, dulu ia sering diundang oleh pelajar-pelajar SMA di berbagai daerah untuk mengisi pelatihan kepenulisan. Anak pertama Helvy, yaitu Abdurahman Faiz, menyebut Helvy sebagai relawan FLP. Faiz berpesan pada adiknya, Nadia, “Jika bunda pergi memberikan pelatihan menulis, jangan minta oleh-oleh. Pulang kembali ke rumah dengan selamat sudah lebih dari cukup.” Helvy teringat ketika awal-awal FLP berdiri, takjarang ia harus mengeluarkan kocek sendiri untuk ongkos pergi dan pulang demi mengisi pelatihan kepenulisan. “Dulu saya punya pengalaman berkesan dengan penulis muda yang saat ini sedang naik daun dalam dunia sastra yaitu Beni Arnas. Waktu dia SMA di Lubuk Linggau, ia meminta saya mengisi pelatihan di sana. Namun ia memiliki keterbatasan dana. Saya pun mengiyakan untuk mengisi. Hingga sakarang kejadian tersebut sangat membekas bagi dia. Saya merasa dulu tidak ada yang mengajarkan saya, kecual ibu saya sendiri. Jadi saya tidak mau terjadi pada remaja-remaja lain,” kenangnya.

Bagi Helvy sendiri, membaca dan menulis adalah kegiatan yang berpasangan. Tidak bisa berjalan sendirian. Apabila banyak membaca namun tidak menulis, maka tidak akan ideal. Terlalu banyak menulis namun tidak membaca, maka tulisan akan menjadi kering dan kosong. Ia mengatakan bahwa menulis itu ibarat gelas yang berisi air penuh. Agar tidak meluber, air dalam gelas tersebut harus dibagikan pada gelas lain. Hal itu namanya berbagi.

Lebih lanjut, Helvy berpendapat bahwa Indonesa harus memiliki banyak penulis. Sebab tingkat peradaban suatu bangsa ditentukan dari seberapa banyak orang membaca dan menulis. untuk itu, ia menyarankan agar setiap individu meluangkan waktu untuk menulis. Helvy pun memberikan tips-tips sederhana dalam menulis, yaitu: Pertama, luangkan waktu untuk menulis. Kedua, catat setiap ide yang terlintas di benak kita. Ketiga, jangan menulisa sambil menjadi editor (penyunting) sebab tulisan kita tidak akan selesai. Keempat, menulislah dari hari. Kelima, menuliskan dengan wawasan dan bidang yang kita kuasai.

Helvy mengatakan dalam menulis, bakat hanya berperan 10% dan 90% lagi ditentukan oleh tekad dan kemauan. “Ketika menulis, kita harus menggunakan dua mata. Satu mata penulis, dua mata pembaca. Jadi kita dapat memosisikan diri kita sebagai pembaca dan penulis sekaligus. Insya Allah karya kita akan lebih berterima,” tutup Helvy.

Saat ini, Helvy tengah sibuk mempersiapkan novel terbarunya dan menggarap film “Ketika Mas Gagah Pergi” yang akan direncanakan tayang pada akhir tahun 2015. Helvy menginspirasi kita lewat kata. Kita pun menginspirasi dunia dengan potensi yang kita miliki.

[MahfudAchyar/Rini Aprilia]

Social Movement

Anies Baswedan
Anies Baswedan

According to Paul van Seeters and Paul James defining a social movement entails a few minimal conditions of ‘coming together’:

“(1.) the formation of some kind of collective identity; (2.) the development of a shared normative orientation; (3.) the sharing of a concern for change of the status quo and (4.) the occurrence of moments of practical action that are at least subjectively connected together across time addressing this concern for change. Thus we define a social movement as a form of political association between persons who have at least a minimal sense of themselves as connected to others in common purpose and who come together across an extended period of time to effect social change in the name of that purpose.”

social movement, loosely organized but sustained campaign in support of a social goal, typically either the implementation or the prevention of a change in society‘s structure or values. Although social movements differ in size, they are all essentially collective. That is, they result from the more or less spontaneous coming together of people whose relationships are not defined by rules and procedures but who merely share a common outlook on society.

All definitions of social movement reflect the notion that social movements are intrinsically related to social change. They don’t encompass the activities of people as members of stable social groups with established, unquestioned structures, norms, and values. The behavior of members of social movements does not reflect the assumption that the social order will continue essentially as it is. It reflects, instead, the faith that people collectively can bring about or prevent social change if they will dedicate themselves to the pursuit of a goal. Uncommitted observers may regard these goals as illusions, but to the members they are hopes that are quite capable of realization. Asked about his activities, the member of a social movement would not reply, “I do this because it has always been done” or “It’s just the custom.” He is aware that his behaviour is influenced by the goal of the movement: to bring about a change in the way things have “always” been done or sometimes to prevent such a change from coming about.

Source http://www.britannica.com/EBchecked/topic/551335/social-movement