Ahok dan Tersendatnya Komunikasi Krisis

(Sumber foto: http://ributrukun.com/post/ahok-si-inspirasiku-1458646838)
(Sumber foto: http://ributrukun.com/post/ahok-si-inspirasiku-1458646838)

Beberapa hari ke belakang dan mungkin beberapa hari ke depan, berita-berita di media massa akan dipenuhi pemberitaan mengenai isu penistaan agama yang dialamatkan kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama.

Isu tersebut bermula ketika video Ahok, begitu beliau akrab disapa, menjadi viral di lini sosial media lantaran pernyataan beliau mengenai “…dibodohi dengan surat Al-Maidah 51.” Silakan tonton video lengkapnya pada tautan: https://www.youtube.com/shared?ci=tHI6wFdWl-Y.Kontan pernyataan tersebut menuai kontroversi di tengah masyarakat. Hampir sebagian besar masyarakat khususnya warga DKI Jakarta murka dengan pernyataan tersebut. Dampaknya gelombang protespun tidak dapat dihindarkan, tidak hanya dilayangkan di media sosial namun aksi turun ke jalanpun takdapat terelakkan. Berbagai organisasi masyarakat memenuhi jalan-jalan protokol di Jakarta untuk menyuarakan protes kepada Basuki Tjahja Purnama.

Menurut saya, protes dari masyarakat barangkali tidak dapat direduksi. Namun paling tidak dapat diminimalisasi andai saja ketika itu Bapak Basuki langsung minta maaf serta tidak berkelit dengan berbagai pledoi tentu dampaknya tidak serunyam sekarang. Namun apa boleh buat, nyatanya tidak semua lapisan masyarakat yang menerima ungkapan maaf dari beliau.

Tidak lama setelah video dugaan penistaan agama tersebut ramai diperbincangkan, dibagi, dan dikomentari di sosial media, Ahok pun membuat pernyataan bahwa apa yang ia sampaikan sama sekali tidak bermaksud menodai kepercayaan umat Islam. Barangkali ia ingin memasang badan dan membuat pembenaran. Namun nyatanya setelah dianalisis secara linguistik, tidak dapat disangkal lagi bahwa memang ia melakukan kekeliruan.

(Sumber: Official Fanpage @AhokBTP)
(Sumber: Official Fanpage @AhokBTP)

Dalam kasus ini, saya tidak bermaksud menjadi hakim yang berwenang menyatakan salah atau benar. Posisi saya pada kasus ini yaitu sebagai orang yang mencermati dalam perspektif komunikasi krisis. Andai saja saya menjadi bagian dari tim Ahok, maka saya tentu tidak akan gegabah dalam melontarkan pernyataan atau sikap. Kendati demikian, saya juga tidak ingin membiarkan isu berkembang liar menjadi diskursus yang kontraproduktif.

Jika boleh memberikan masukan, saya akan kaji lebih dahulu pernyataan Ahok pada saat kunjungan ke Pulau Seribu. Jika memang ditemukan ada kekeliruan maka langkah yang bisa diambil yaitu minta maaf dari hati yang terdalam. Sebagai pejabat publik, tentu bukan aib untuk minta maaf. Saya rasa masyarakat akan lebih jernih menilai bahwa siapa pun pernah melakukan kesalahan, tidak terkecuali seorang Ahok. Hal positif lainnya Ahok akan menerima simpati dari masyarakat dengan sikapnya yang rendah hati dan mau mengakui kesalahan. Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya. Ahok memang mengakui kesalahan namun sebelum itu ia melakukan pembenaran seolah-olah ia ‘bersih’ dari perbuatannya yang terlanjur melukai hati banyak orang.

Andai saja Ahok bisa lebih berstrategi, tentu ia tidak seterpuruk sekarang. Sejujurnya, saya mengapresiasi kerja-kerja hebat beliau dalam memajukan kota Jakarta. Namun nyatanya tidak semua orang hanya menilai kerja seseorang melainkan juga dari sikap dan perkataan. Saran saya semoga tim Ahok, khususnya tim komunikasi beliau, dapat memetik hikmah dari pelajaran “Surat Al-Maidah Ayat 51”. Sejatinya sebagai publik figur, lebih-lebih sebagai pejabat publik, kita harus mampu memilih dan memilah perkataan yang tepat untuk diperdengarkan di ruang publik.

Saya juga berharap unjuk rasa pada tanggal 4 November 2016 nanti dapat berlangsung damai. Ya, setiap warga negara berhak menyampaikan pendapat dan dilindungi konstitusi. Saya berharap bangsa ini senantiasa aman, penuh toleransi, dan dapat hidup nyaman dalam bingkai keberagaman.

Ditulis saat perjalanan ke kantor.
Jakarta, 2 November 2016.

Mahfud Achyar

Kerja Sembari Kuliah, Mungkinkah?

Catatan Mahasiswa Pascasarjana (Bagian 1)

Oleh: Mahfud Achyar

429096_3152865350840_1549738364_n
Alumni Universitas Padjadjaran, Bandung (2007-2011)
Setelah wisuda sarjana pada November 2011, ada dua hal yang betul-betul saya inginkan: bekerja atau lanjut kuliah?  Kedua pilihan tersebut sebetulnya sangat menggiurkan. Kala itu, saya ingin sekali lanjut kuliah. Saya pikir, menjadi dosen tentu akan sangat menyenangkan. Saya pun mencari informasi beasiswa S2 khususnya beasiswa Dikti yang memang diperuntukkan bagi calon dosen/tenaga akademik. Beberapa teman saya juga melakukan hal yang sama. Wajar, sejak kuliah memang beasiswa tersebut yang kami incar. Kami ingin sekali menjadi dosen di kampus kami. Berada di antara para pemburu beasiswa membuat saya begitu bersemangat dan tidak sabar untuk segera kuliah kembali! Saya pun telah mantap memilih Universitas Indonesia sebagai kampus pilihan untuk menimba ilmu, khususnya di bidang ilmu lingustik.

Akan tetapi, rencana tersebut berubah ketika saya pindah dari Bandung ke Jakarta. Entahlah, kadang saya sendiri merasa tidak yakin apakah rencana tersebut memang betul saya inginkan atau mungkin saya hanya ikut-ikutan. Integritas saya mulai dipertanyakan. Sejujurnya, dari hati kecil saya, hal utama yang saya dambakan yaitu mandiri secara finansial. Mungkin alasan tersebut terkesan klise. Namun begitulah apa adanya. Sejak kuliah, saya sudah terlalu banyak merepotkan kedua orang tua saya. Rasanya wajar bila pada usia yang ke-21 tahun, saya tidak ingin lagi menjadi anak yang menyusahkan. Seharusnya sayalah yang memberikan kontribusi untuk keluarga saya. Secara tegas, saya putuskan bahwa saya harus bekerja! Titik. Untuk urusan kuliah, saya rasa pasti suatu saat akan menemukan jalan yang tidak akan saya sangka-sangka. Tuhan bukankah artisitek yang Maha Hebat?

Lagipula, alasan saya bekerja tidak hanya sebatas untuk mendapatkan lembaran rupiah. Lebih jauh dari itu, saya butuh pekerjaan untuk mengaktualisasikan kemampuan yang saya miliki. Saya ingin menjadi praktisi komunikasi. Sebuah profesi yang sejak SMA sangat saya idam-idamkan. Rasanya akan sangat menarik bertemu dengan banyak orang, mengatur pesan, serta merancang program-program yang kreatif. Kadang, saya tidak bisa tidur hanya karena membayangkan diri saja bekerja dan menjadi bagian dari sebuah tim yang hebat.

Awal tahun 2012, saya mulai mengetuk pintu beberapa perusahaan ternama di Jakarta dengan harapan mereka tertarik dengan riwayat hidup saya kemudian menerima saya sebagai bagian dari perusahaan mereka. Namun nyatanya apa yang saya anggap sederhana (melamar-wawancara-diterima) jauh lebih pelik dan kompleks. Saya ingat betul, waktu itu hampir semua kesempatan kerja saya coba. Mulai dari walk in interview hingga datang ke pameran bursa kerja. Semuanya saya lakoni dengan sebaik mungkin. Bahkan, saya memiliki beberapa akun di situs penjaring kerja dengan perhitungan bahwa peluang untuk mendapatkan pekerjaan akan lebih besar. Berhasil? Belum!

Setiap hari, aktivitas utama yang saya lakukan yaitu mengecek surat elektronik untuk membaca pesan dari perusahaan-perusahaan yang saya lamar. Terkadang saya beruntung mendapatkan telefon dari perusahaan yang tertarik dengan riwayat hidup saya. Namun seringnya saya justru tidak lolos tahap akhir. Kecewa? Sudah sangat pasti. Boleh dikatakan, awal-awal tahun 2012 merupakan masa-masa tersulit dalam hidup saya. Acapkali saya merasa menjadi sangat emosional dan sentimentil. Saya sulit sekali membedakan maksud pesan dari orang-orang di sekitar saya yang acap bertanya, “Apakah saya sudah bekerja”” Perhatian dan prihatin seakan tidak ada bedanya. Sama-sama menyakitkan. Namun apabila dipikirkan lagi sekarang, seharusnya saya tidak perlu mengambil sikap seperti itu. Namun bagaimanapun, saya tidak bisa mengelak bahwa memang pada saat itu hati saya sungguh kacau dan otak saya tidak dapat berpikir secara jernih. Benar-benar tidak karuan! Mudah-mudahan bisa menjadi pengingat untuk saya hingga kapanpun.

Mei 2012. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan pekerjaan di salah satu NGO di Jakarta. Sebelum menerima tawaran tersebut, sebetulnya saya juga sudah diterima di salah satu perusahaan media terkenal di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Namun saya tolak tawaran tersebut lantaran ada satu alasan yang sangat personal.

Jika boleh bercerita, ketika masa-masa sulit tadi, saya merasa sangat jauh dengan Tuhan. Barangkali harusnya saya bisa lebih dekat dengan Tuhan, berkeluh kesah pada-Nya. Tapi yang terjadi justru saya merasa menjaga jarak dengan-Nya. Suatu kesempatan, saya berdoa kepada Tuhan agar saya mendapatkan pekerjaan yang membuat saya bisa dekat dengan-Nya. Secara sederhana, saya ingin nanti ketika saya bekerja minimal saya bisa menjalankan ibadah sholat lima waktu tanpa halangan berarti. Ya, demikianlah pinta saya pada-Nya. Setelah berpikir cukup lama dan berusaha melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan saya. Well, akhirnya saya memilih bekerja di NGO sebagai aktivis kemanusiaan.

Satu tahun lebih bekerja di NGO, banyak kesempatan emas yang mulai berdatangan. Salah satu kesempatan hebat yang tidak akan mungkin saya tepis yaitu kesempatan mendapatkan beasiswa program magister. Ada dua beasiswa yang saya incar, yaitu beasiswa Kemenpora dan beasiswa Medco Foundation-Universitas Paramadina. Kedua jenis beasiswa tersebut memang secara spesial diberikan kepada penggiat organisasi kepemudaan dan aktivis NGO.

Saya tahu mengenai beasiswa Kemenpora sejak kuliah di Unpad. Kebetulan, salah seorang senior saya di BEM pada saat itu menjadi penerima beasiswa tersebut. Saya mendapatkan informasi banyak dari beliau. Untuk informasi lebih detil, Anda bisa bisa baca dengan seksama pada tautan berikut: http://bit.ly/2bWVBOo. Persyaratan untuk mendapatkan beasiswa tersebut sebetulnya tidak begitu rumit. Kita hanya perlu menyediakan dokumen-dokumen yang diminta serta mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi untuk program pascasarjana di Universitas Indonesia atau Universitas Gadjah Mada.

Pada saat yang bersamaan, Universitas Paramadina bekerja sama dengan Medco Foundation juga membuka peluang beasiswa bagi aktivis NGO, jurnalis, dan tenaga pengajar. Informasi mengenai beasiswa ini dapat Anda temukan pada tautan berikut: http://bit.ly/2crTvS8. Worth to share yep!

Kedua beasiswa tersebut sejujurnya membuat saya bimbang. Saya seakan berada di persimpangan jalan, saya ragu jalan mana yang hendak saya pilih. Di satu sisi, pihak dari Universitas Indonesia beberapa kali menghubungi saya untuk mengambil kesempatan menjadi mahasiwa program studi Kajian Ketahanan Nasional . Namun di sisi lain, saya sangat tergoda dengan program studi Corporate Communication di Universitas Paramadina.

Sore itu, selepas pulang kantor, saya memantapkan hati saya untuk memilih Universitas Paramadina dengan berbagai pertimbangan. Pertama, saya bekerja sebagai praktisi komunikasi (Marketing Communication). Tentunya jika mengambil jurusan komunikasi maka akan sangat mendukung karir profesional saya. Kedua, saya rasa saya memiliki ikatan emosional dengan Universitas Paramadina. Dulu, saya pernah ingin berkunjung ke sana, namun tidak pernah berkesempatan. Entahlah, apakah itu alasan yang cukup berterima? Namun satu hal yang pasti, Universitas Paramadina sudah diakui keunggulannya dalam menyelenggarakan pendidikan. Apalagi saat itu, idola saya, Bapak Anies Baswedan menjabat sebagai Rektor Universitas Paramadina. Selain itu, setelah saya pikir-pikir ternyata Universitas Padjadjaran dan Universitas Paramadina memiliki kesamaan. Jika disingkat maka sama-sama UP! Aha, mungkin nanti jika ingin kuliah program doktor sepertinya saya perlu mencari kampus yang memiliki singkatan UP.

Oh ya, ada hal yang lupa saya ceritakan kepada tuan dan puan sekalian. Kuliah di Universitas Paramadina memungkinkan kita untuk bekerja sembari kuliah. Jadi pertanyaan pada judul tulisan, “Kerja sembari kuliah, mungkinkah?” Jawabannya sangat mungkin. Possible! Rata-rata beasiswa yang lain mewajibkan penerima beasiswa untuk mengikuti perkuliahan secara reguler (perkuliahan biasanya berlangsung hampir setiap hari dan jam kerja). Namun jika kalian kuliah di Universitas Paramadina, waktu kuliah biasanya dimulai pada pukul 7 malam dan berakhir pada pukul 9 malam (maksimal pukul 9.30 malam bergantung dosen). Anda tertarik mendapatkan beasiswa di Universitas Paramadina? Jika tertarik, pada tulisan berikutnya saya bercerita bagaimana perjuangan saya mendapatkan beasiswa beserta tips-tips yang mudah-mudahan bermanfaat. Viva Academia!

Jakarta, 7 September 2016.

Yuswandi A. Temenggung: Kepemimpinan Itu Datang dari Diri Sendiri

 

Oleh: Mahfud Achyar

*Tulisan ini dimuat pada Majalah Buletin “Jendela Pembangunan Daerah” Edisi 5 Januari – 5 Februari 2016.

Kepemimpinan, barangkali akan selalu menjadi topik yang seru untuk dibahas. Obrolan mengenai kepemimpinan barangkali terkesan langitan, namun sebetulnya cukup membumi.

Banyak orang di republik ini membahas tema kepemimpinan. Mulai dari orang-orang berdasi hingga para petani yang bersantai di warung kopi. Betapa tidak, kepemimpinan menjadi faktor kunci keberhasilan suatu negara, organisasi, lembaga, perusahaan, bahkan kehidupan rumah tangga. Selalu saja ada hal baru yang bisa digali mengenai kepemimpinan. Maka taksalah, buku-buku mengenai kepemimpinan banyak menjadi best seller di berbagai toko buku di dunia dan di Indonesia.

John C. Maxwell, seorang pakar kepemimpinan, pernah menulis ungkapan tentang kepemimpinan dalam salah satu bukunya. Ia menulis, “Leaders must be close enough to relate to others, but far enough ahead to motivate them.” Secara tegas, Maxwell mengatakan bahwa seorang pemimpin harus cukup dekat dengan orang yang dipimpinnya, namun cukup jauh ke depan untuk memotivasi mereka. Tidak hanya Maxwell yang bersuara lantang menyampaikan gagasan mengenai kepemimpinan, tokoh-tokoh penting di dunia juga turut menyampaikan gagasan mereka mengenai konsep kepemimpinan.

Yuswandi A. Temenggung, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, juga memiliki sudut pandang yang berbeda tentang kepemimpinan. Pada Kamis, (28/1/2016) lalu, tim buletin “Jendela Pembangunan Daerah” berhasil berdiskusi hangat dengan beliau di kantornya di Jalan Medan Merdeka Utara, No. 7, Jakarta Pusat.

DSC_0017
Yuswandi A Temenggung, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri

Sekjen Kemendagri yang lahir di Palembang pada 22 Juni 1957 ini berkata, “Kepemimpinan itu datang dari diri sendiri.” Menurutnya, seseorang tidak bisa dipaksa menjadi pemimpin jika tidak ada kemauan kuat dari dalam dirinya untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab, menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilalui, banyak hal yang harus dipersiapkan, dan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Akan tetapi, bila seorang pemimpin berhasil, maka ia dapat mengubah kondisi yang tidak baik menjadi lebih baik. Oleh karena itu, menurut Yuswandi hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin yaitu mengubah dirinya sendiri sembari mengubah lingkungan di sekitarnya. “Karena tidak bisa dibohongi, kalau kepemimpinan itu kita paksakan, ya susah juga. Kita paksakan seseorang menempati suatu tempat, ya kondisi organisasinya terseok-seok, dia juga tertekan. Gak optimal. Yang seharusnya dia dicarikan kondisi yang optimal ya,” jelasnya.

Efek kepemimpinan pertama kali dirasakan oleh pemimpin itu sendiri. Selanjutnya nomor dua dirasakan oleh lingkungannya. Secara pribadi, lulusan program doktor dari Cornell University, Amerika Serikat, ini menilai sukses atau tidaknya kepemimpinan seseorang juga ditentukan oleh faktor lingkungan. “Idealnya, gerakan itu bersama. Mana kala ada signal akan sesuatu kebaikan, kebaikan itu bisa dilakukan bersama. Tingkat kepemimpinan itu berbeda-beda. Kalau dia struktural eselon empat dengan scoope-nya, semakin tinggi saya kira semakin besar tanggung jawabnya. Kebersamaan itu penting. Tahu ada sesuatu sesuatu kebutuhan bersama. Kalau saya mau me-reform, melakukan perubahan, perubahan itu bisa diterima oleh semua,” imbuhnya.

Lantas, apa upaya yang harus dilakukan seorang pemimpin agar bisa diterima oleh follower-nya? “Nah, untuk diterima oleh semua, itu harus dijelaskan kepada semua. Kalau ada dari semua itu tidak ikut, ya itu salah. Jadi dalam manajemen itu, sebetulnya kalau kita lihat bisa jadi diprediksi 10 persen yang mau positif, sedikit kan? Mungkin 30 persen yang bandel, yang 60 persen swing. Mau dibawa ke mana itu? Kalau 30 persen itu menarik teman yang 60 persen hancur menjadi 90 persen. Tapi kalau yang 10 persen itu bisa menarik yang swing, dia jadi majority. Mayoritas 70 persen. Style ya harus dibuka, dibuktikan bahwa yang dipikirkan dalam kepemimpinan itu sesuatu yang memperbaiki dari kondisi yang sekarang. Tapi kalau orang diajak untuk lebih baik dia gak mau seperti yang 30 persen tadi, ya ini mesti juga ada terapi yang lain lagi,” tegas suami dari Ervina Murniati ini.

Lebih lanjut, bapak tiga anak ini juga menyarankan agar mengamankan para swing voters karena mereka dinilai potensial diajak ke arah yang positif. “Itu sudah lumayan dengan derajat yang berbeda. Kemudian, waktu akan menentukan yang 30 persen itu akan ikut. Itu teori matematikanya. Kita harus cek,” jelas beliau.

Kendati sudah mendapatkan dukungan dari banyak orang, seorang pemimpin tidak boleh berpuas diri. Ia harus mampu menguji konsep yang ia tawarkan dan harus mampu bekerja dengan profesionalitas yang baik. Jika hal tersebut tidak dilakukan, lambat laun para follower‑nya tidak akan menggubris apa yang ia katakan. “Kalau tidak profesional, tidak mempunyai kemampuan, orang bisa ikut namun ikut dengan terpaksa,” ujar Yuswandi.

Apa yang dikemukan Yuswandi tentang kepemimpinan tentunya berdasarkan pengalaman beliau yang sudah bertahun-tahun berkarir di pemerintahan. Tercatat pada tahun 1999 hingga 2001, beliau pernah menjadi Asisten Deputi Urusan Moneter Deputi I, Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (EKUIN). Tahun berikutnya hingga tahun 2002, beliau menjabat sebagai Direktur Bina Investasi Daerah Ditjen Otonomi Daerah, Departemen Dalam Negeri. Selanjutnya, pada 2002 hingga 2004, beliau menjabat sebagai Kepala Pusat Administrasi Kerjasama, Departemen Dalam Negeri. Pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Yuswandi menjabat sebagai Kepala Biro Perencanaan dan Anggaran, Kementerian Dalam Negeri. Sebelum menjadi menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, beliau juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri.

Ketika ditanya tentang kepemimpinan dalam perspektif gender, Yuswandi berpendapat bahwa ukuran kepemimpinan tidak dilihat dari gender saja melainkan kapasitasnya. “Perempuan itu beruntung. Kenapa saya katakan beruntung? Mencarinya susah. Jadi, kalau ada yang menonjol, kita tidak usah berbicara perspektif gender. Ada yang menonjol saja, gak ngawur, itu pasti ‘ditangkap’. Sekali lagi, tuntutan manajemen harus intelek terlepas dari gender. Kita tidak bisa lepaskan perempuan dan laki-laki,” tegas Yuswandi.

Menurutnya hal yang paling penting kembali kepada perempuan itu sendiri walaupun pertimbangan affirmative perlu dikedepankan. Ia menambahkan bahwa seorang karakter pemimpin itu berbeda-beda. “Ada orang yang bicara dengan konsep, ada orang yang bicara dengan koordinasi-bergantung orang dan penempatannya. Jadi seharusnya gender itu tidak menjadikan sesuatu penghalang bagi proses rekruitmen kepemimpinan,” jelasnya.

Menjadi salah satu pemimpin di Kementerian Dalam Negeri tentu tidaklah mudah. Apalagi Kementerian Dalam Negeri memiliki peran sangat strategis dan menjadi poros pemerintahan. Oleh karena itu, Yuswandi menilai bahwa setiap direktorat yang ada di Kementerian Dalam Negeri harus menjalankan perannya masing-masing dengan baik. “Saya tipe orangnya terbuka. Saya ingin keterbukaan itu bisa mendapatkan kebaikan. Caranya mungkin harus kita diskusikan. Bisa saja yang saya pikirkan tidak benar. Saya harus menerima kebenaran itu. Jadi, mencari suatu kebenaran itu suatu keharusan. Apabila kebenaran itu sudah kita peroleh, biasanya di alam pekerjaan dirumuskan di dalam norma-norma pengaturan. Mari kita ikuti norma itu. Bahasa sederhananya, jadilankanlah itu menjadi teman,” jelas Yuswandi.

Berkaitan dengan pembangunan daerah, Yuswandi memiliki harapan yang tinggi kepada Direktoral Jenderal Bina Pembangunan Daerah. “Pembangunan daerah dengan struktur yang baru itu dikonotasikan dalam bentuk urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Kalau urusan pendidikan sukses, maka pembangunan di bidang pendidikan sukses. Urusan pertanian sukses, syukur urusan irigasi dan pengairannya sukses,” jelas Yuswandi.

Kesuksesan kepemimpinan tidak lepas dari dukungan keluarga. Hal tersebut begitu dirasakan oleh Yuswandi. Menurutnya, salah satu dukungan terpentingan dari keluarga yaitu berupa doa. “Kita tidak tahu bahwa kita berdoa tidak dikasih atau tidak. Ternyata dikasih tuh. Buktinya kita sehat. Pada ukuran tertentu kita bahagia, ukuran tertentu kita dikasih kedudukan. Ukurannya ya, ukurannya dikasih,” ungkapnya.

Seorang pemimpin harus dekat dengan Tuhan. Begitulah Yuswandi berpesan. “Doa itu manjur. Jangankan doa, Tuhan akan berikan. Yang kita pikirkan saja itu bisa saja bahwa menjadi permintaan di mata Tuhan. Siapa yang yang memperkirakan bahwa besok ini, sekarang ini tidak bisa kita gambarkan adalah permintaan kita,” imbuh Yuswandi.

Salah satu hal yang dilakukan Yuswandi untuk mendapatkan mendapatkan inspirasi yaitu mencari suasana pedesaan. “Kalau senggang, jika dikasih opsi, saya cari kehijauan. Lebih mendukung inspirasi saya,” ungkap Yuswandi. Selain itu, menurutnya inspirasi juga bisa diperoleh ketika membaca otobiografi orang lain, berinteraksi dengan teman-teman, atau mungkin bertemu dengan orang-orang yang baru dikenal.

Keberhasilan sebuah organisasi atau lembaga tidak hanya ditentukan oleh seorang pemimpin. Melainkan juga ditentukan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Oleh sebab itu Yuswandi berpesan, “Kembalikan kepada orangnya, pekerjaanya sudah menunggu, laksanakan pekerjaannya, tingkatkan kapasitasnya, sesuai dengan mandat yang dikerjakan, dan ini akan snow bowlling. Terus perbaiki. Semakin baik, kita semakin ditengok orang. Semakin baik lagi tapi jangan lupa bahwa setiap orang ada kelebihan dan kekurangan.”

Krisis, Ancaman Bagi Perusahaan

Oleh: Mahfud Achyar, M.IK.

IMG_0502
Crisis, Make the Right Decision (Photograph by: Rini Aprilia)

Menurut Harrison (2008: 550) dalam Rachmat Kriyantononono (2012: 151-152), isu dan krisis berbeda. Ia menjelaskan bahwa isu adalah berbagai perkembangan, biasanya di dalam arena publik, yang jika berlanjut, dapat secara signifikan memengaruhi operasional atau kepentingan jangka panjang dari organisasi.

Isu adalah titik awal munculnya konflik jika tidak dikelola dengan baik. Menurut The Issu Management Council, jika terjadi gap atau perbedaan antara harapan publik dengan kebijakan, operasional, produk atau komitmen organisasi terhadap publiknya, maka di situlah muncul isu (Galloway & Kwansah-Aidoo, 2005; Regester & Larkin, 2008) dalam (Rachmat Kriyantononono, 2012: 152). Isu jika tidak dikelola dengan baik maka berpotensi menjadi krisis yang menjadi momok menakutkan bagi organisasi atau perusahaan. Kapan pun, dimana pun, dan dalam kondisi apa pun, kondisi krisis dapat menimpa organisasi atau perusahaan.

Krisis merupakan kondisi yang dikhawatirkan oleh banyak perusahaan atau organisasi. Devlin dalam bukunya Crisis Management Planning & Excution (2007:5) dalam Rachmat Kriyantono (2012: 171) mendefinisikan krisis sebagai “An unstable time for an organization. With a distinct possibility for an undersireable aoutcome”, sebuah situasi yang tidak stabil dengan berbagai kemungkinan menghasilkan yang tidak diinginkan.

Sementara itu, Seeger, Sellow & Ulmer (1998), seperti yang dikutip oleh Smudde (2001: 34) masih dalam Rachmat Kriyantono (2012: 172), berpendapat krisis sebagai “A spesific, unexpected, and noun – routine event or series of events that create high levels of un-certainty and threaten or are perceived to threaten an organization’s high-priority goals.” Dapat diartikan bahwa krisis biasanya bersifat spesifik, tidak diharapkan, dapat terjadi setiap saat dan merupakan rangkaian kejadian, menimbulkan ketidakpastiaan yang tinggi, dan dapat mengancam tujuan-tujuan organisasi.

Lantas apa dampak yang ditimbulkan oleh krisis? Menurut Rachmat Kriyantono (2012: 171), krisis dapat menyebabkan reputasi organisasi menjadi objek kritikan dan cemoohan masyarakat. Akibatnya, organisasi tersebut akan mengalami kerugian besar, misalnya menurunnya tingkat penjualan, modal, keuntungan, nilai saham, dan rasa percaya diri.

Reputasi merupakan hal yang penting bagi perusahaan atau organisasi. Anthony Bianco (2000) dalam Hardjana (2008: 2), menulis artikel berjudul The Enduring Corporation yang menyebutkan bahwa organisasi atau perusahaan yang lestari adalah yang memiliki daya adaptasi besar dan selalu mampu menemukan kembali dirinya (reinvent itself) untuk ekonomi global. Ungkapan “selalu mampu menemukan diri sendiri” berarti dengan seksama perusahaan mampu membina reputasi yang telah dicapai.

Buku The Crisis Manager: Facing Risk and Responsibility buku induk untuk manajemen krisis karya Lerbinger (1997: 19) dengan tegas menjelaskan bahwa di dalam krisis hanya dapat ditangani secara memadai bila organisasi memiliki sebuah strategic management plan yang lengkap. Di era yang penuh krisis ini (era of crisis), organisasi yang baik harus siap dengan perencanaan strategis, khususnya perencanaan untuk menghadapi situasi paling buruk (contingency planning: preparing for the worst).

Dalam berbagai kasus, reputasi perusahaan berimplikasi pada suistainability perusahaan atau organisasi. Jika perusahaan tersebut tidak melakukan reputation management saat terjadi krisis, maka dapat dipastikan perusahaan atau organisasi tersebut bisa jadi tidak dapat survive dan akan kehilangan kepercayaan dari publik. Namun jika perusahaan dapat mengantisipasi, mengelola, dan memulihkan reputasi, maka publik pun akan kembali bersimpati pada perusahaan yang terkena krisis.

Damayanti (2004: 10) menambahkan bahwa karakteristik krisis dapat terjadi secara tiba-tiba (suddenness), tidak menentu (uncertainly), dan keterbatasan waktu (time compression – decision stress). Sementara Ray O’Rourke dalam Argenti (2010:301) dalam Ressy Rahayuni (2013: 44), menyebutkan karakteristik-karakteristik krisis meliputi: (1) elemen kejutan; (2) tidak cukup informasi; (3) langkah kejadian yang cepat; dan (4) pemeriksaan intens. Karakteristik krisis tersebut dapat ditemui dalam setiap krisis yang terjadi yang disebabkan oleh berbagai hal. Sifat krisis yang cepat dan mengejutkan, memaksa organisasi untuk membuat persiapan-persiapan guna menanggulangi krisis yang terjadi. Krisis yang telah terjadi jika tidak ditangani secara tepat dan cepat, maka akan membawa kehancuran organisasi.

Menyadari bahwa krisis dapat menimpa organisasi atau perusahaan, maka diperlukan sebuah upaya untuk mengatasi krisis melalui serangkaian aktivitas. Devlin (2007: 1) dalam Rachmat Kriyantononono (2012: 180) mengatakan, “Crisis management is special measures taken to solve problems caused by a crisis.” Istilah solve diartikan bahwa upaya mengatasi krisis pada dasarnya merupakan proses bertahap (step by step).

Pada tahap awal, organisasi mesti membatasi persoalan atau area krisis untuk meminimalkan efek kerusakan bagi organisasi. Tujuan dari manajemen krisis adalah untuk menghentikan dampak negatif dari suatu peristiwa melalui upaya persiapan dan penerapan berbagai strategi dan taktik.

Menurut Gartner.com yang dikutip dari laman Jakartaconsulting.com, diperkirakan hanya 85% dari para perusahaan-perusahaan Global 2000 yang membuat rencana penanganan krisis dan hanya 15% yang menyusun rencana manajemen krisis yang lengkap. Fakta ini menunjukkan masih banyak perusahaan yang belum memperhitungkan beragam krisis yang mungkin terjadi dalam perencanaan bisnis mereka. CMP merupakan bagian yang penting dalam upaya krisis manajemen.

Dalam konteks manajemen krisis, reputasi perusahaan sangatlah ditentukan oleh tiga faktor persepsi publik: crisis responsibility, crisis history, dan prior reputational reputation. Crisis responsibility adalah atribusi publik tentang penyebab krisis dan siapa aktor yang bertanggungjawab. Crisis history adalah persepsi publik bahwa perusahaan pernah mengalami kasus yang sama di masa lalu, baik mencakup jenis krisisnya ataupun adanya kesamaan penanganan. Prior relational reputation adalah atribusi publik tentang berapa baik tingkat perhatian perusahaan terhadap publik. (Coombs, 2007a) dalam Rachmat Kriyantononono (2012: 362-363).

 

 

 

 

Liveable City Ala Ridwan Kamil

oleh: Mahfud Achyar

Ridwan Kamil - Foto Mahfud Achyar (2)
Ridwan Kamil dalam Forum FPCI (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Ridwan Kamil atau yang akrab disapa Kang Emil, barangkali adalah salah satu tokoh di Indonesia yang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Kendati ia menjabat sebagai walikota Bandung, Emil dikenal luas oleh masyarakat lantaran aktif berinteraksi dengan masyakat (netizen) melalui media sosial miliknya seperti Instagram, Facebook, dan juga Twitter.

Kerap kali Emil berujar bahwa ia adalah ‘Anak Twitter’ yang menjadi walikota. Maka takheran di sela-sela kesibukannya menjadi wali kota Bandung, Emil masih sempat menulis buku yang berjudul “#Tetot: Aku, Kamu, dan Media Sosial” yang diterbitkan pada tahun 2014 lalu. Buku tersebut berisi tentang pengalaman Emil, baik sebelum mendapatkan amanah menjadi walikota Bandung maupun sesudahnya. Ia berharap buku tersebut dapat menginspirasi banyak orang berkaitan dalam membangun dan mendesain kota yang livable.

Mercer’s Quality of Living Survey setiap tahunnya mengeluarkan daftar kota yang mendapatkan predikat sebagai “The World’s Most Livable Cities”. Survey ini membandingkan 215 kota berdasarkan 39 kriteria seperti keamanan, pendidikan, kebersihan, rekreasi, stabilitas politik-ekonomi, dan transportasi public.

Selain itu, The Economist juga melansir survei standar hidup setiap tahunnya. Pada tahun 2015 ini, kota Melbourne di Australia menduduki peringkat pertama sebagai “The World’s Most Livable City” kemudian pada peringkat runner-up diraih oleh kota Vienna, Austria.

Pada laman resmi The Economist, kriteria sebuah kota dikatakan sebagai livable city yaitu, “The ranking, which considers 30 factors related to things like safety, healthcare, educational resources, infrastructure and environment in 140 cities, shows that since 2010 average liveability across the world has fallen by 1%, led by a 2.2% fall in the score for stability and safety.” (The Economist, 18 Agustus 2015).

Menyoal livable city, Emil yang juga sebagai seorang arsitektur berupaya mewujudkan Bandung sebagai kota yang berbahagia melalui peningkatan indeks kebahagiaan. Emil mengatakan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari GDP (Gross Domestic Product) atau PDB (Produk Domestik Bruto), melainkan juga dilihat dari Happiness Index. Indonesia sendiri menduduki posisi 19 dari 150 negara. “Inovasi happiness adalah konsep yang usung untuk memperbaiki value di Bandung,” kata Ridwan Kamil saat Conference & Expo Indonesia Knowledge Forum III di Jakarta. (Tribunnews, 10 Oktober 2014).

Untuk mewujudkan cita-cita Emil menjadikan Bandung sebagai “Kota yang Berbahagia”, walikota yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Oktober 1971 ini menggulirkan program-program pamungkas di antaranya membuat taman tematik seperti Taman Jomblo, Taman Film, Taman Skate, Taman Pustaka Bunga, Taman Binatang Peliharaan (Pet Park), Taman Fotografi, Taman Musik Centrum, Taman Persib, Taman Super Hero, dan sebagainya.

IMG_5691
Gerbang Menuju Alun-Alun Kota Bandung

Emil berupaya menyediakan RTH (Ruang Terbuka Hijau) lebih banyak lagi dengan harapan warga Bandung khususnya dan juga warga di luar Bandung umumnya dapat menikmati suasana kota Bandung dengan hati riang gembira.  Dalam forum Super Mentor 3, Emil mengatakan bahwa untuk membuat orang lain bahagia dapat dilakukan dengan hal-hal yang sederhana seperti menyediakan ruang terbuka hijau yang memungkinkan orang-orang bisa berkumpul, saling menginspirasi, dan berbuat sesuatu yang positif untuk Bandung dan juga Indonesia.

Tidak hanya mempercantik kota ‘Kembang’ dengan taman-taman yang ciamik, putra dari pasangan Atje Misbach Muhjiddin dan Tjutju Sukaesih ini juga menggulirkan program-program inovatif seperti Culinary Night yang menjadi sarana bagi warga Bandung dalam mengembangkan jiwa entrepreneurship. Selain itu, bagi turis yang ingin berkeliling kota Bandung dapat menaiki Bandung Tour on de Bus (bus wisata Bandros) yang didesain unik menyerupai bus klasik di Eropa. Salah satu hal menarik lainnya di Bandung adalah, Emil juga memfasilitasi warga Bandung untuk ‘nonton bareng’ pertandingan klub sepak bola kebanggaan Bandung yaitu Persib yang digelar di Taman Film yang berlokasi di Jalan Layang Pasupati, Bandung.

Sejak menjabat sebagai walikota Bandung pada tahun 2013, telah banyak penghargaan yang dialamatkan untuk Bandung. Ridwan Kamil dan wakilnya, Oded M. Danial, tercatat telah menerima sekitar 149 penghargaan. Berbagai penghargaan yang diterima tidak lepas dari berbagai peran banyak pihak yang turut menyukseskan berbagai program yang dijalankan selama kurun waktu dua tahun ini. Prestasi paling anyar yaitu kota Bandung masuk finalis 6 besar dunia untuk inovasi Smart City dari World Smart City Organization di Barcelona. Pada fan page di Facebook, Ridwan Kamil mengatakan bahwa Bandung bersaing dengan kota-kota seperti Moskow, Dubai, Buenos Aires, Curitiba, dan Peterborough. “Bandung diapresiasi karena banyak memberikan ruang bagi warga untuk berinteraksi aktif dalam mengawasi pembangunan kota dengan inovasi “Connected Citizens: Encouraging Participatory Governance” seperti citizen complaint online, rapor camat/lurah oleh warga (SIP), monitoring program kerja Pemkot (Silakip), perizinan online (Hayu U), komunikasi aktif warga melalui akun Twitter setiap dinas, dan sebagainya,” tulis Emil (18/11/2015).

Pada hari jadi kota Bandung yang ke-205, suami dari Atalia Praratya Kamil ini berharap agar warga Bandung menjadi masyarakat paling bahagia se-Indonesia.  Kepada warga Bandung, Emil berpesan agar senantiasa mencintai Kota Bandung dengan aksi dan solusi. Dia meminta agar warga Bandung memperlakukan kotanya seperti ibu sendiri. (Kompas.com, 23 September 2015).

“Kini bukan jamannya mengubah jaman sendirian. Kita perlu bersama-sama, kita perlu berkolaborasi. Kolaborasi itu ibarat kunci pintu rumah yang bernama masyarakat madani,” pesan Emil.

Selamat Datang Arus #Qurbanisasi!

Oleh: Mahfud AchyarSelamat Datang Arus #QURBANISASI

Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU selalu memiliki cara unik dalam mengajak masyarakat untuk peduli berbagi. Setelah sukses dengan kampanye Sharefee (berbagi penghasilan) pada bulan Ramadhan lalu, menjelang Hari Raya Qurban atau Hari Raya Idul Adha, PKPU kembali meluncurkan tagline kampanye yang out of the box. Jika lazimnya lembaga amil zakat/lembaga sosial/NGOs cenderung menggunakan bahasa-bahasa langitan untuk merayu publik agar berbuat kebajikan, PKPU justru menempuh cara yang berbeda dengan memilih pendekatan komunikasi yang kekinian dan modern.

Senior Manager Marketing Communication & Public Relations PKPU, Fatih Abdul Aziez, mengungkapkan untuk event qurban, tagline kampanye yang diusung oleh PKPU yaitu Qurbanisasi. Menurutnya, sepintas barangkali masyarakat mungkin akan mengira bahwa taglinetersebut seperti istilah urbanisasi yang sudah begitu popular di telinga masyarakat. Namun jika ditelisik lebih jauh, nyatanya definisi antara urbanisasi dan qurbanisasi jauh bertolak belakang.

“Jika yang kita pahami bahwa urbanisasi adalah perpindahan masyarakat desa ke wilayah perkotaan, maka istilah qurbanisasi yaitu perpindahan distribusi hewan qurban dari masyarakat urban (perkotaan) ke wilayah-wilayah yang membutuhkan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri,” jelas Fatih.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Fatih, General Manger Ramadhan dan Qurban PKPU, Romdlon Hidayat, mengatakan bahwa qurbanisasi merupakan semangat atau gerakan yang dipelopori oleh masyarakat urban untuk menyalurkan hewan qurban mereka ke wilayah-wilayah kantong kemiskinan.

“Kami telah mendata daerah-daerah di Indonesia dan beberapa negara yang jarang sekali tersentuh distribusi hewan qurban. Padahal daerah-daerah tersebut merupakan wilayah yang mengalami krisis kemanusiaan. Bahkan banyak di antara mereka adalah minoritas Muslim yang jarang menikmati lezatnya daging qurban. Kami berpikir bahwa sudah saatnya distribusi daging qurban tidak hanya menumpuk di wilayah perkotaan. Manfaat qurban seharusnya dapat dirasakan oleh saudara-saudara kita yang membutuhkan. Untuk project qurban tahun ini, kami memilih daerah-daerah di Indonesia dan juga beberapa negara dengan pertimbangan antara lain: a) daerah tersebut jarang tersentuh distribusi daging qurban; b) daerah tersebut sedang mengalami krisis kemanusiaan (kelaparan dan konflik); dan c) daerah tersebut terdapat minoritas Muslim,” papar Romdlon.

Sementara itu, Presiden Direktur PKPU, Agung Notowiguno, mengatakan bahwa program qurban PKPU yaitu Sebar Qurban Nusantara (SQN) sudah dijalankan selama 15 tahun. Sejak tahun 2000, setidaknya lebih 120.665 pequrban telah memercayakan PKPU sebagai lembaga yang mendistribusikan hewan qurban mereka kepada lebih dari 2,1 juta keluarga penerima manfaat, mulai dari Aceh hingga Papua serta beberapa negara yang mengalami krisis kemanusiaan. Manfaat dari program SQN tidak hanya sebatas mendistribusikan hewan qurban kepada wilayah yang membutuhkan. Lebih jauh dari itu, program SQN juga mampu mendayagunakan peternak lokal dalam hal penyediaan hewan qurban.

PKPU juga berkomitmen dalam prinsip syariah mulai dari pemilihan hewan qurban, proses penyembelihan hewan qurban, distribusi daging qurban, serta laporan yang akuntabel dan transparan. Hal-hal tersebut dilakukan untuk memastikan agar program SQN tersebut dapat dikelola dengan baik, mulai dari hulu hingga hilir. Sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional yang memiliki aspek legal dari SK Menteri Agama, PKPU berharap pada tahun ini jauh lebih banyak masyarakat Indonesia yang berpartisipasi dalam program SQN sehingga spektrum kebermanfaatan program tersebut jauh lebih dirasakan oleh orang-orang yang membutuhkan. Melalui kampanye qurbanisasi, PKPU mengajak masyarakat Indonesia untuk bersyukur dengan cara berqurban.

Menyoal tentang pendekatan komunikasi, PKPU patut diacungi jempol karena berani berbeda dibandingkan lembaga-lembaga sejenis. Apabila kita melihat media-media promosi lembaga lain misalnya media OOH (out of home), banyak lembaga zakat yang menampilkan secara visual hewan qurban secara real dengan copy yang mainstream. Barangkali apa yang dilakukan oleh PKPU adalah terobosan baru dalam dunia marketing communication.

Indonesia Sebagai Tujuan Halal Tourism

Oleh: Mahfud Achyar

Probolinggo, Jawa Timur
Probolinggo, Jawa Timur

Pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20, bumi nusantara menjadi magnet yang kuat sehingga menarik banyak negara khususnya bangsa Eropa untuk datang. Hal ini lantaran Indonesia memiliki kekayaan alam berupa rempah-rempah yang tidak dimiliki oleh negara-negara di Eropa seperti Belanda, Inggris, dan Portugis. Bangsa Eropa sangat membutuhkan rempah-rempah, terutama pada saat musim dingin. Sebab rempah-rempah dapat diolah menjadi produk makanan dan minuman yang menghangatkan badan. Kekayaan alam tersebutlah yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai negara yang diperebutkan oleh banyak negara hingga pada akhirnya Indonesia memasuki era kolonoliasme di bawah pendudukan Belanda yang berlangsung selama 3,5 abad lamanya.

Tidak hanya dulu, hingga sekarang pun Indonesia masih dikenal sebagai negara yang subur dan memiliki hasil alam yang melimpah ruah. Namun sayangnya potensi hebat yang dimiliki Indonesia tidak lantas membuat Indonesia negara yang sejahtera dan makmur. Oleh sebab itu, rasanya kita perlu menggali kembali potensi Indonesia yang kiranya dapat menjadi aset yang dapat dibanggakan dan menjadi perhatian dunia. Apalagi pada penghujung tahun 2015 ini, Pasar Ekonomi Asean resmi dibuka. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara di kawasan Asean dan juga di tingkat global. Salah satu aset penting yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia itu sendiri. Potensi sumber daya manusia Indonesia tersebut bisa dijadikan landasan atau faktor dalam mengembangkan berbagai sektor di Indonesia. Salah satunya adalah sektor wisata.

Pada 30 hingga 2 November 2013 lalu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kegiatan Indonesia Halal Expo (Indhex) 2013 & Global Halal Forum meluncurkan produk baru dalam industri pariwisata yaitu halal tourism. Ide ini diusung mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Hal tersebut diketahui berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, yaitu lembaga riset yang berkedudukan Washington DC, Amerika Serikat, yang bergerak pada penelitian demografi, analisis isi media, dan penelitian ilmu sosial. Pada tanggal 18 Desember 2012, Pew Research Center mempublikasikan risetnya yang berjudul “The Global Religious Landscape” mengenai penyebaran agama di seluruh dunia dengan cakupan lebih dari 230 negara.

Riset tersebut memaparkan total jumlah penduduk Muslim yang tersebar di berbagai negara yang berjumlah 1,6 miliar atau sekitar 23,2% dari total jumlah penduduk dunia. Indonesia dinobatkan sebagai peringkat pertama penganut agama Islam terbesar dengan total 209.120.000 jiwa (87,2%) dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.326 jiwa. Data tersebut juga diperkuat oleh data sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010.

The Global Religious Landscape

The Global Religious Landscape

Tidak hanya sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, namun Indonesia juga diacungi jempol oleh dunia karena mampu menjalankan demokrasi dan dialog antarumat beragama dengan baik. Menteri Luar Negeri RI, Retno Lestari Marsudi, pada pembukaan “Confrence on Indonesia Foreign Policy 2015” yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, (13/06/2015) mengungkapkan, “Indonesia is a country where Islam and democracy can go hand in hand, at the same time interfaith dialogues are enabled.”

Artinya dengan potensi yang dimiliki Indonesia, semestinya Indonesia bisa menjadi negara yang sukses dalam mengembangkan halal tourism. Indonesia memiliki reputasi yang positif sebagai negara demokrasi dan negara yang toleran dalam beragama. Namun sayangnya, konsep mengenai halal tourism di Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Padahal Indonesia memiliki potensi wisata yang sudah diakui dunia. Berbagai ulasan di internet bahkan menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara yang wajib dikunjungi. Kecantikan, keelokkan, dan keunikan Indonesia memang tidak usah diragukan lagi.

Permintaan produk halal, baik itu makanan, minuman, maupun wisata halal semakin meningkat. Thomson Reuters memperkirakan, pada tahun 2019 pasar makanan halal bernilai US$ 2,537 miliar (21% dari pengeluaran global), pasar kosmetik halal menjadi US$ 73 miliar (6,78 % dari pengeluaran global), dan kebutuhan personal halal menjadi US$ 103 miliar (6,6 % dari pengeluaran global). “Untuk pasar terbesar makanan halal, yaitu Indonesia sebesar US$ 190 miliar, Turki US$ 168 miliar, dan Pakistan menempati urutan ketiga sebesar US$ 108 miliar. Lalu, Indonesia juga berada di urutan ketiga untuk pasar farmasi terbesar, yaitu dengan angka US$ 4,9 miliar. Sementara, Indonesia tidak menjadi pasar terbesar untuk kosmetik halal,” ujar Marco Tieman, CEO LBB International. (Marketeers edisi April 2015, hal 60).

Untuk sektor wisata, Sapta Nirwandar yang saat ini sebagai Perwakilan Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah, dalam (Marketeers edisi April 2015, hal 61) mengatakan potensi pariwisata halal begitu besar. Berdasarkan data dari UNWTO Tourism Highlights tahun 2014, terdapat sekitar 1 miliar wisatawan dunia dan diperkirakan akan naik menjadi 1,8 miliar pada tahun 2030 mendatang. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, Indonesia seharusnya mampu memaksimalkan potensi itu. Oleh karena itu, Indonesia sudah mulai mempromosikan diri sebagai negara tujuan pariwisata yang muslim-friendly.

Akan tetapi, Indonesia kurang memperluas segmentasi pasar untuk indsutri pariwisata, khususnya pasar untuk Muslim traveler. Kondisi demikian membuat Indonesia kurang mendapat tempat di hati para Muslim traveler. Sejatinya sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tentu mudah bagi Indonesia untuk mengembangkan konsep halal tourism. Namun nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Para pemain di industri pariwisata belum yakin pada potensi pasar wisata halal dengan dalih takut dianggap terlalu kaku dan tertutup. Pelabelan wisata halal di Indonesia belum lazim ditemukan.

Menanggapi hal tersebut, Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sapta Nirwandar, menilai bahwa dengan menonjolkan suku, agama, ras, dan golongan tertentu bukanlah hal yang populer. Ia berpendapat bahwa untuk meraih tujuan yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan bersama, pelabelan yang identik dengan agama atau suku, misalnya, itu boleh-boleh saja seperti halnya memberikan label wisata hala yang tujuannya mengembangkan kepariwisataan tanah air. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 149).

Situs The Halal Choice melansir data mengenai “8 Destinasi Wisata untuk Turis Muslim.” Dari delapan negara yang disebut, Indonesia sama sekali tidak masuk sebagai negara yang menjadi destinasi oleh Muslim traveler. Padahal potensi untuk segmentasi tersebut sangat besar. Jumlah umat Muslim di dunia yang mencapai 1,6 milir jiwa, sekitar 25% dari populasi dunia, tentunya hal tersebut menguntungkan bagi Indonesia. Tidak hanya itu, Global Islamic Economy report pada tahun 2013 menyatakan bahwa setidaknya ada US$ 140 miliar potensi yang bisa masuk dari Muslim traveler. Sayangnya Indonesia kurang memanfaatkan peluang tersebut.

Berikut delapan negara yang menjadi tujuan Muslim traveler dan telah mengembangkan konsep halal tourism seperti yang dipaparkan oleh The Halal Choice:

No. Nation Description
1. Malaysia This Asian country with 60% Muslims attracts most of the Muslim tourists worldwide and has been frontrunner with regards to anything halal. ‘Unity in Diversity’ is the national motto of this fantastic melting pot of Malay, Indian and Chinese cultures as well as a mixture of Islamic, Hindu, Buddhist and Animist traditions. The country can be divided into two: Peninsular Malaysia with its amazing cities, forested highlands and fringing islands, and East Malaysia, the north of the island of Borneo with its dense rainforests, orangutans and animist tribes.
2. Turkey This country has made a dramatic turn with regards to Islam and Muslims. Its founder Ataturk tried to exclude Islam out of public life and push Islam to become a private issue at home. However, Turkey has managed to become a major exporter of halal products with an interest in halal tourism and Islamic fashion. It has become an inviting country of great diversity, with quiet villages and busy cities. A country full of history where tradition coexists with modernity, where mobile phones ring in bazaars scented with saffron and traditional Turkish hospitality.
3. UEA Seven emirates make this country a giant with regards to tourism and not only Islamic tourism. Whereas Dubai and Abu Dhabi are the main regions to attract most of the tourists Sharjah is following closely and even Ras Al Khaimah and Ajman are massively participating on the halal market. The country is the greatest show on earth with an astonishing blend of Arabian tradition and super modern skyscrapers. Fabulous oil wealth and an undescribable business mentality have made out of an impoverished Bedouin backwater of the world’s most exciting cities with old-style souqs, wind towers, heritage villages, modern skyline, long corniches and fine beaches. Enjoy shopping in the biggest malls of this world, wadi-bashing (four-wheel-driving around oases) and a cultural mix of Arab and millions of Expats from the West and Asia.
4. Singapore Despite it not being a Muslim country this city-state is surrounded by a Muslim giant, Malaysia. This has automatically influenced Singapore’s interest in Islamic tourism and halal offers. Visit quirky ethnic neighbourhoods and world-class museums, historic places of worship and fabulous markets. Its ethnic mix of people gave this little city-state 4 official languages: Chinese, Malay, Tamil, English. It’s perfect for a family holiday with lots to do for the kids and the parents.
5. Russia After the breakup of the Soviet Union, Russia had to open to the world and to its massive Muslim population and Muslim neighbours. It has seen the potential of halal tourism and attracts many Russian-speaking Muslims and tries to promote halal products with an annual fair in Moscow. This massive country stretches across 11 time zones from the Baltic to the Bering Sea. Russia is home to the world’s largest forest (the taiga) and its deepest lake (Lake Baikal), stunning tsarist palaces, Stalinist skyscrapers, contrasting Orthodox Churches next to Mosques and a big Muslim minority in the South but also in the capital Moscow.
6. China As one of the next superpowers China has realised that the Muslims are good for business and offers Islamic heritage tours to its Muslim provinces and to its major cities. Although it is not a Muslim country, China has a lot of Islamic history and a Muslim minority of 60 to 100 million people. Home to one in six human beings on the planet, the new leader is not Chairman Mao but the yuan, and consumerism is the new religion; this massive country with an incredibly rich past and history has so much to offer that it would satisfy the needs of any traveller Muslim and Non-Muslim alike.
7. France This is the only Western European country which can be found in the top 8 and has been attracting Muslim tourists mainly to Paris. Despite its Islamophobic policy it has been trying to become a centre for Islamic Banking. There are about 10% Muslims in France and a massive percentage of French reverts who are the main push for their country to open to the Muslims. Don’t forget that this country offers Mediterranean culture and cuisine as well as Western European lifestyle. It is home to the biggest African diaspora in the world with areas that rather resemble Africa than Europe. Take a walk through Paris’ Latin Quarter and the famous Champs-Elysees, enjoy the French Alps, visit the great chateau in Versailles and feel at home in Marseille!
8. Thailand This Asian country has been receiving a big number of mainly Muslim Gulf Arabs and has started offering specific halal services to them. It has a smaller Muslim population especially in the south and will have to adjust its policy towards this minority in the future. For a traveller this country offers pretty much everything: great beaches, dense jungles, ruined cities at Sukhotai and Ayuthaya, pristine rainforests, exotic islands, golden monasteries, captivating coral reefs, relaxed locals, energetic cities, atmospheric tribal villages, floating markets, elephant rides, colour-coded curries, steamy tropical weather, mouth-watering cuisine with halal choice, luxury hotels and low cost accommodation.Thailand is hungrily eyeing the Muslim travel boom. Its tourism authority which has an office in Dubai is promoting halal spas for Muslim tourists, who require strict privacy for male and female clients. It also organised a month-long festival of Thai cuisine in the UAE from June 8 to July 7 2012. Crescentrating’s study ranked Bangkok’s Suvarnabhumi Airport the most Islam-friendly airport in a non-Muslim country.

Apa Itu Halal Tourism?

Wisata Syariah atau Halal Tourism adalah salah satu sistem pariwisata yang diperuntukan bagi wisatawan Muslim yang pelaksanaanya mematuhi aturan syariah. Dalam hal ini, hotel yang mengusung prisip syariah tidak melayani minuman beralkohol dan memiliki kolam renang dan fasilitas spa terpisah untuk pria dan wanita. (Ikhsan Arby, 2015: 1)

Lebih lanjut, Ikhsan Arby (2015: 1) menambahkan bahwa halal tourism lebih mengedepankan pelayanan berbasis standar halal umat Muslim seperti penyediaan makanan halal, tempat ibadah, informasi masjid terdekat, dan tidak adanya minuman beralkohol di hotel tempat wisatawan menginap. Kemenparekraf fokus melakukan pelatihan dan sosialisasi mengenai halal tourism pada empat jenis usaha pariwisata, yaitu hotel, restoran, biro perjalanan, dan spa.

Sementara itu, Sapta Nirwandar mengatakan bahwa keberadaan halal tourism adalah extended services. “Kalau tidak ada dicari, kalau ada, bisa membuat rasa aman. Halal tourism bisa bergandengan dengan yang lain. Sifatnya bisa berupa komplementer, bisa berupa produk sendiri. Misalnya ada hotel halal, berarti membuat orang yang mencari hotel yang menjamin kehalalan produknya akan mendapatkan opsi yang lebih luas. Ini justru memperluas pasar, bukan mengurangi. Dari yang tadinya tidak ada, jadi ada,” jelas Sapta. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 149).

Lebih lanjut, Sapta memaparkan bahwa tantangan kurang berkembangnya halal tourism di Indonesia lantaran adanya persepsi yang negatif terhadap Islam, terhadap Muslim traveler. Anehnya, ini datang dari umat Muslim sendiri. Mereka tidak percaya diri. Padahal, gaya hidup halal memberikan lebih banyak pilihan. “Contohnya dari sekian banyak restoran, ada halal food, kan, tenang. Adanya sertifikasi halal itu memberikan rasa aman. Untuk umat selain Islam, makanan halal juga bukan masalah kan? Justru menurut penelitian, makanan halal itu termasuk good food. Secara spritual, orang Muslim mendapatkan benefit. Secara fisik, untuk non-Muslim, ya, makanannya sehat,” tambah Sapta.

Selain itu, pemerintah sendiri mengakui bahwa promosi halal tourism di Indonesia belum optimal sehingga menyebabkan brand halal tourism belum dikenal luas oleh turis lokal dan mancanegara. Padahal jika pemerintah serius mengembangkan brand halal tourism tentu pariwisata di Indonesia jauh lebih berkembang.

Menurut penelitian dari Crescentrating, pengeluaran wisata Muslim dalam suatu perjalanan wisata sangat tinggi. Dapat dibayangkan uang yang dihabiskan wisatawan Muslim di dunia pada tahun 2011 mencapai 126 milyar dolar AS atau setara Rp. 1.222,1 triliun. Angka ini dua kali lebih besar dari seluruh uang yang dikeluarkan oleh wisatawan Cina yang mencapai 65 dolar AS atau setara Rp 630 triliun.

Pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia yaitu harus berani mempopulerkan halal destination. Sapta (dalam Marketeers edisi Juni 2015, hal 150) memaparkan bahwa hal utama yang harus dilakukan adalah mengubah mindset masyarakat Indonesia. Kemudian memberikan edukasi, informasi, baru masuk ke tataran policy. “Kalau pemahaman ini merata, kita bisa melaksanakan hal itu lebih mudah. Kalau kita mau kembali ke esensi orang, kita harus menghargai praktik yang dilakukan tiap individu. Kita memfasilitasi kebutuhan individu. Kita membuka opsi lebih banyak bagi orang-orang yang punya preferensi khusus,” terang Sapta.

Strategi Branding Halal Tourism

Brand halal tourism di Indonesia memang belum terlalu moncer sehingga takbanyak wisatawan lokal dan mancanegara yang mengetahui brand tersebut. Oleh sebab itu, pemerintah perlu bekerja lebih keras lagi untuk mempromosikan brand tersebut. Namun, sebetulnya persoalan promosi halal tourism juga bisa dilakukan oleh masyarakat umum, khususnya generasi muda yang melek teknologi.

Saat ini, kita memasuki era digital yang memungkinkan siapa pun untuk melakukan diplomasi secara personal kepada dunia. Internet (interconnection network) menghubungkan satu negara dengan negara lain, menghubungkan satu individu dengan individu lain. Maka keberadaan internet sudah selayaknya dimanfaatkan untuk mempromosikan brand halal tourism Indonesia kepada dunia internasional.

Dalam perspektif communication studies, sekarang mulai berkembang istilah digital marketing communication, yaitu suatu usaha untuk mempromosikan sebuah brand (merek) dengan menggunakan media digital yang dapat menjangkau konsumen secara tepat waktu, personal, dan relevan. Digital marketing communication turut menggabungkan faktor psikologis, humanis, antropologi, dan teknologi yang akan menjadi media baru dengan kapasitas besar, interaktif, dan multimedia. Hasil dari era baru berupa interaksi produsen, perantara pasar, interaktif, dan multimedia. Digital marketing communication mendukung pelayanan perusahaan dan keterlibatan dari konsumen. (Sumber: Wikipedia)

Berbeda dengan pemasaran konvensional melalui media massa, digital marketing communication menggunakan media baru yang dikenal dengan internet yang memiliki dampak pada meluasnya lingkup pemasaran dan melampaui batasan tradisional seperti zona waktu geografi dan batas regional. Era pemasaran digital juga mengubah prilaku konsumen yang dulu belum pernah dikenal dalam era pemasaran konvensional. Pada era pemasaran digital, peran konsumen tidak hanya sebatas objek dari produsen, namun konsumen memiliki peran penting dalam perkembangan bisnis sebuah perusahaan.

Dalam dunia digital, segala sesuatu bisa terjadi dalam satu juta mil perjam. Konsumen sudah terbiasa mendapatkan informasi yang mereka butuhkan secara cepat. Hal ini menunjukkan bahwa lambat laun strategi pemasaran konvensional semakin ditinggalkan. Konsumen lebih memilih menjadi aktor penting dalam pemasaran digital. Maka sudah sepatutnya, Indonesia harus menjawab kebutuhan halal tourism. Indonesia harus dapat memanfaatkan momentum pemasaran digital untuk melakukan ekspansi yang jauh lebih besar dari saat ini dicapai. Ketika semua proses sudah dijalankan dengan baik, maka Indonesia akan mudah menggaet Muslim traveler untuk menikmati produk halal tourism yang menjadi salah satu produk dalam industri pariwisata di Indonesia.

Dalam menjalakan strategi digital marketing communication (Mahfud Achyar, 2013), ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:

1. Digital Marketing Planning Framework – A Defining Participants Print & Goals

Tahapan “A Defining Participant & Goals” berguna untuk menangkap esensi dari sekelompok orang yang terdiri dari konsumen. Elemen-elemen kunci dari Participant Print yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia untuk memetakan potensi pasar halal tourism.

2. Digital Marketing Planning Framework – Creating Your Digital Platform

Digital Platform Proposition bertujuan untuk menjalin dan mengikat hubungan harmonis antara Kementerian Pariwisata dengan konsumennya dalam aktivitas keseharian. Kemenpar RI secara otomatis harus memberikan informasi-informasi berkaitan potensi halal tourism di Indonesia dan produk-produk yang dimiliki kepada konsumen.

3. Digital Marketing Planning Framework – Generating Awareness and Influence

Pada tahap ini, langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh Kemenpar RI adalah membangkitkan kesadaran dan pengaruh konsumen terhadap brand halal tourism. “Decisions at this stage include selecting your digital media and sponsorship options, developing a search marketing strategy, and integrating offline marketing activities with your Digimarketing activities.” Pemerintah harus merencanakan proses sehingga dapat menjawab pertanyaan, “How will people know about I’ve created?”

4. Digital Marketing Planning Framework – Hernessing Data, Analytic, and Optimization

Bagian ini membahas tentang pentingnya persoalan data dan disiplin analisis dari sudut pemasaran secara langsung. Dalam dunia pemasaran digital, data menjadi hal yang sangat penting dan krusial. Dengan datalah, para penggiat dunia marketing digital dapat mengeluarkan strategi-strategi yang pamungkas dan tepat sasaran. Oleh sebab itu, sudah semestinya perencanaan data yang akurat, detail, dan rinci menjadi hal pokok yang harus dipenuhi dalam DigiMarketing.

5. Social Media and Online Consumer Engagement – Engaging Online Consumer on Social Media

Pada bagian ini membahas tentang keterlibatan konsumen online dan media sosial.

6. Online Public Relations and Reputation Management

Pada bagian ini membahas tentang manajemen reputasi dan hubungan masyarakat online dalam komunikasi pemasaran digital. Dalam digital marketing communication, internet memiliki pengaruh yang luar biasa hebatnya. Suka atau tidak, internet merupakan salah satu alat opini yang paling kuat memberikan efek yang cepat. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia yang mulai fokus menggarap digital marketing communication, Kemenpar RI harus conncern mengelola hubungan yang baik dengan Muslim traveler.

7. Affiliate Marketing and Stategic Partnership

Bagian ini membahas afiliasi pemasaran dan pentingnya kerja sama strategis dalam komunikasi pemasaran digital.

8. Digital Mobil Platform and Marketing

Bagian ini membahas dasar komunikasi pemasaran berbasis digital dan dinamis (bergerak).

9. Game (Gamification) and Marketing

Bagian ini membahas tentang gamifikasi pemasaran digital melalui media baru.

Digital Media Planning, Campaign Return of Investment (ROI), Marketing Analysis, and Reporting
Bagian ini membahas tentang bagaimana menyusun perencanaan dalam media digital untuk komunikasi pemasaran; menghitung return of investment dalam kampanye digital; dan menganalisis serta melaporkan komunikasi pemasaran digital.

Dave Chaffey (2015) mengidentifikasi setidaknya ada enam tipe digital marketing communication yang dapat dimanfaatkan untuk menggaet pasar untuk membeli produk atau menggunakan jasa yang dipasarkan.

Types of Digital Media Communication Channels
Types of Digital Media Communication Channels

Lebih lanjut, agar Muslim traveler tertarik dengan brand halal tourism, Kemenpar RI harus mulai mengubah pola pendekatan kepada pasar yang mulanya customer path hanya 4A (Aware, Attitude, Act, dan Act Again), sekarang menjadi 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate). Perubahan tersebut terjadi karena konsumen masa kini sudah tidak bisa fokus terhadap dirinya sendiri. Sehingga, pembelian pun bukan semata-mata adalah kehendak pribadi, melainkan menjelma sebagai keputusan bersama. (Marketeers edisi Februari 2015, hal 12).

Chief Knowledge MarkPlus, Inc. Iwan Setiawan dalam (Marketeers edisi Februari 2015, hal 12) mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan perubahan tersebut adalah fenomena internet dan gadget yang telah memengaruhi kehidupan banyak orang. Iwan menyebutkan bahwa seseorang membuka kunci layar ponselnya setiap dua menit. Hal itu membuktikan, kehadiran gadget dapat membuat seseorang menjadi tidak fokus. Kondisi demikian menjadikan pola customer path berubah menjadi 5A, bisa dikatakan Aware, Appeal, Ask merupakan input, sedangkan Act dan Advocate adalah output dari suatu proses operasional pemasaran.

Menurut Sapta Nirwandar, hal utama yang harus dilakukan oleh para pemain industri halal tourism adalah membuat penawaran dan pilihan. Untuk travel agent, sediakan guide yang memahami tujuan dari wisata halal, interpretasi dari destinasi-destinasinya, yang dapat memperkaya pembelajaran. Fasilitas harus semakin serius diusahakan. “Kalau takut dengan tidak adanya pasar, penerapan halal tourism ini justru menguntungkan. Banyak sekali orang yang mencari dan menjadi pasar yang menjanjikan karena ada segmennya sendiri. Ironis sekali melihat masyarakat Indonesia tidak confidence dengan wisata halal. Masyarakat harus memiliki persepsi positif. Ini tidak terbatas hanya untuk umat Muslim melainkan sifatnya universal,” kata Sapta. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 150).

Apabila Indonesia sudah optimal memanfaatkan strategi digital marketing communication dalam membangun dan memperkuat brand halal touris, hal ini akan sangat menguntungkan sebab dapat memperluas pasar industri pariwisata di Indonesia. Segmentasi khusus untuk pasar halal tourism yaitu Muslim traveler yang tersebar di berbagai negara di penjuru dunia. Setidaknya ada 1,6 miliar Muslim di dunia dengan potensi US$ 140 miliar. Jika Indonesia sukses membangun dan mengembangkan brand halal tourism, tentunya akan memberikan efek positif untuk devisa negara dari sektor pariwisata.

Menurut hemat penulis, strategi digital marketing communication sangatlah tepat apabila ingin mempromosikan brand halal tourism di kancah dunia. Hal ini juga sejalan dengan misi pemerintah melalui Kemenpar RI untuk meningkatkan promosi pariwisata dalam meraup wisatawan sebanyak-banyaknya, terutama kalangan wisata mancanegara pada tahun 2015 adalah e-tourism. Langkah ini terbilang berani dan efektif terutama pada era teknologi seperti ini.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sarana digital menjadi sarana promosi yang baik. Secara biaya tentu jauh lebih murah apabila dibandingkan promosi dengan cara konvensional. E-tourism ini tidak hanya sekadar jargon atau angan-angan saja. Kemenpar sudah mempersiapkan beberapa aktivitas. Setidaknya sudah ada tujuh layanan berbasis teknologi yang berkaitan dengan promosi wisata secara digital. Di antaranya, Portal Pariwisata yang terintegarasi (hi-indonesia.com), Wonderful TV (WOI TV), mobile application (Hi Bali), Digital Photo Bank, Sinema Online, dan Sinema Digital, www.indonesafilm.net, dan apresiasi terhadap para travel blogger 2015. (Majalah Marketeers edisi April 2015, hal 58).

Referensi:

Achyar, Mahfud. (2014). Strategi Digital Marketing Communcation EIGER. Jakarta: Paramadina Graduate School.

Bachdar, Saviq. (2015). Menjadi Brand yang Diadvokasi. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi Februari.

Chaffey, Dave. (2015). Difinitions of E-Marketing Versus Internet Vs Digital Marketing. [Online] visit site: http://www.smartinsights.com/digital-marketing-strategy/online-marketing-mix/definitions-of-emarketing-vs-internet-vs-digital-marketing/ (diakses pada tanggal 24 Juni 2015).

Nirwandar, Sapta. (2015). Halal Tourism, Kenapa Kita Harus Takut? Jakarta: Majalah Marketeers Edisi Juni.

Triwijanarko, Ramadhan (2015). Andalkan Strategi Digital dan Pesona Indonesia, Kemenpar Kerek Jumlah Wisman. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi April.

Wijayani, Septi. (2015). Tingkatkan Pasar Produk Halal dengan Halal Supply Chain Management. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi April.

_________. (2014). Pemasaran Digital. [Online] visit site:

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran_digital (diakses pada tanggal 24 Juni 2015).

The Lost Art of Negotiation

Oleh: Husin Wijaya, Practice Head of MarkPlus Institute

negotiation source: http://negotiationsworkshops.us/
negotiation
source: http://negotiationsworkshops.us/

Negosiasi bukanlah perkara menang atau kalah. Negosiasi adalah sebuah seni. Termasuk di dalamnya seni mendengarkan dan mengedepankan cita rasa manusiawi.

Kita seringkali menggunakan negosiasi untuk mencapai tujuan jangka pendek dan bila perlu (bahkan seringkali) menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut. Hubungan-hubungan jangka pendek seperti itu tidaklah berguna. Alasannya, justru seharusnya kita berpikir untuk mencapai tujuan jangka panjang.

Pendekatan horizontal lebih penting ketimbang pendekatan vertikal. Pendekatan manusiawi justru bernilai lebih ketimbang solusi yang bersifat menang semata-mata. Jangan heran kalau negosiasi makin hari makin kreatif, makin inovatif, tetapi makin kecil juga profitnya, makin rumit prosesnya, dan makin tidak manusiawi sifatnya.

Menurut Roger Fisher dan William Ury di dalam bukunya Getting to Yes, ada empat kriteria penting di dalam negosiasi, yaitu people, interests, options, dan criterias.

People

Masalah utama dari manusia adalah di dalam level persepsi, emosi, dan komunikasi. Kita kadang lupa bahwa jika persepsi tidak sama, semua masalah tidak akan dapat dipecahkan. Persepsi merupakan bagian yang penting untuk diselaraskan karena persepsi salah akan berujung kepada emosi dan komunikasi yang salah.

Interests

Interests atau motif merupakan penggerak yang besar dan bersifat tersembunyi di dalam hati. Kita harus tahu motif dari manusia pada umumnya agar kita dapat melakukan negosiasi dengan baik.

Options

Opsi dapat bersifat masa kini dan masa depan, tetapi juga bersifat di dalam masalah dan di luar masalah. Kadang-kadang masalah yang sebenarnya justru tidak pernah dibicarakan dan tersembunyi di dalam benak dari partner negosiasi.

Simpulan

Negosiasi seharusnya ditujukan untuk memanusiakan kesepakatan. Bukan lagi hanya untuk menang dan kalah tetapi menang-menang. Fairness dan objektif serta tidak melakukan dirty tricks merupakan bagian penting di dalam memanusiawikan negosiasi.

Percayalah, Takmudah Menjadi Seorang Guru

(Catatan Relawan Pengajar Kelas Inspirasi Depok 2)

Oleh: Mahfud Achyar[i]

 

“What is a teacher? I’ll tell you: it isn’t someone who teaches something, but someone who inspires the student to give of her best in order to discover what she already knows.” – Paulo Coelho, The Witch of Portabello

After class, let us grufie! (Kelas 4b)
After class, let us grufie! (Kelas 4b)

Percayalah, takmudah menjadi seorang guru. Begitulah yang saya rasakan selepas menjadi relawan pengajar program Kelas Inspirasi Depok 2 di SDN Depok 5.

Keterlibatan saya dalam program Kelas Inspirasi bermula ketika saya memberanikan diri untuk mendaftar menjadi relawan pengajar pada tanggal 8 September 2014. Saya mendapatkan informasi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi dari salah seorang teman saya di komunitas yang juga concern pada dunia pendidikan.

Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga.

Minggu, 05 Oktober 2014, pukul 14.51 WIB, saya menerima surat eletronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan, “Atas berbagai pertimbangan, dengan senang hati kami sampaikan bahwa Mahfud Achyar telah TERPILIH menjadi relawan pengajar untuk menyelenggarakan Kelas Inspirasi Depok pada tanggal 20 Oktober 2014.” Apa yang saya rasakan saat itu? Saya merasa cukup kaget, senang, agak degdegan, dan sangat bersemangat. Sebab menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi adalah hal yang baru dalam hidup saya, kendati pengalaman mengajar bukanlah aktifitas yang baru bagi saya. Dulu ketika program KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa), saya pernah mengajar siswa-siswi di desa Tanjungjaya, Ciamis dan sekarang pun saya masih terlibat menjadi relawan pengajar di komunitas yang sebutkan tadi. Fixed! Achievement unlocked for me!

Sebelum hari-H mengajar, terlebih dahulu para relawan yang berjumlah sekitar 300 dikumpulkan di gedung Bank BJB, Depok untuk mendapatkan brief seputar program Kelas Inspirasi, metode mengajar yang efektif dan menyenangkan, berbagi pengalaman dari relawan yang sudah pernah mengajar, pembagian kelompok, pembagian sekolah tempat mengajar, dan yang paling penting adalah kami saling mentransfer energi positif.

Oya, saya menjadi bagian dari kelompok 12 yang terdiri dari para profesional dari berbagai profesi. Dengan kerendahan hati, izinkan saya memperkenalkan rekan-rekan relawan kelompok 12 yang penuh semangat dan selalu ceria! Perkenalkanlah (teteret!): Felix Nola (Equipment Management), Vini Charloth (Sps Lingkungan), Windrya Amartiwi (Finance Analyst), Saulina Laura Margaretha (Head of Operation Perusahaan Pelayaran), Nanang Hernanto (Trainer), Ratih Dwi Rahmadanti (Data Analyst), Yustiani Wardhani S (Business Analyst), Amantine Al Febyana (Nurse), Endang Pulungsari (Biro Perencanaan Kemenlu), Frick (Photographer), Rizka Kharisma Putri (Photographer), dan saya sendiri Mahfud Achyar (Marketing Communication). Komposisi relawan pengajar 10 dan relawan fotografer 2 (Frick dan Rizka a.k.a Kare). Di samping itu, kami juga didampingi oleh seorang fasilitator dari KI. Please welcome, Mega!

Sekilas tentang SDN Depok 5

Akses menuju SDN Depok 5 tidaklah susah. Sebab, SD ini berlokasi di jalan yang cukup strategis di kota Depok yaitu Jalan Pemuda No. 31 Pancoran Mas. Jika dari Stasiun Depok Baru barangkali hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit (menggunakan kendaraan).

Kondisi bangunan sekolah pun cukup baik. Terdiri dari dua lantai: lantai pertama untuk kelas 1 hingga kelas 4a (termasuk ruang majelis guru) dan lantai dua untuk kelas 4b hingga kelas 6. Para siswa masuk pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 12.00 siang. Jumlah siswa di SD ini berjumlah 271 siswa dengan rincian: kelas 1 (45 siswa), kelas 2 (45 siswa), kelas 3 (42 siswa), kelas 4a (27 siswa), kelas 4b (27 siswa), kelas 5 (45 siswa), dan kelas 6 (40 siswa).

Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5
Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5

Lesson and Learn

Satu pekan waktu yang kami punya untuk mempersiapkan lesson plan. Kendati kami memiliki kesibukan masing-masing dan terpisah dalam radius jarak yang cukup jauh, namun koordinasi kelompok tetap berjalan dengan baik. Teknologi memudahkan kami berkomunikasi satu sama lainn. Secara suka rela, ada di antar kami yang menyempatkan diri untuk survey lokasi mengajar, ada yang mempersiapkan logistik penunjang kegiatan mengajar, ada yang memberi semangat dan keceriaan, dan ada juga yang hanya bisa menjadi silent reader. Dan saya sepertinya masuk pada kategori terakhir. Hehe.

Dalam membuat lesson plan, setidaknya ada 6 pertanyaan kunci yang perlu disampaikan pada saat Proses Belajar Mengajar (PBM) yaitu: 1. Siapakah aku?; 2. Apa profesiku?; 3. Apa yang dilakukan profesiku setiap hari saat bekerja?; 4. Dimana aku bekerja?; 5. Apa peran dan manfaat dari profesiku di masyarakat?; dan 6. Bagaimana cara menjadi aku?

Tantangan terberat bagi saya adalah menyederhanakan bahasa agar mudah dimengerti dan dipahami siswa-siswi SD. Apalagi materi yang saya ajarkan adalah sesuatu yang kurang familiar didengar telinga anak-anak. Yap, materi tentang Materi Communication! Lebih dari itu, istilah-istilah dalam Marketing Communication banyak menggunakan bahasa Inggris seperti promotion, market, target audience, advertising, dan masih banyak lagi. Susah? Iya susah sekali! Namun beruntung karena memiliki pengalaman mengajar, jadi sedikit banyaknya saya sudah mengerti bagaimana menyampaikan pesan secara efektif kepada para peserta didik.

Lesson Plan, done!

Senin, 20 Oktober 2014 adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya. Saya diberikan kesempatan untuk berbagi dan berbuat baik. Just being a good person. Saya teringat pepatah lama, “Budi baik terkenang jua.” Hal senada juga pernah diungkapkan oleh Andrea Hirata dalam salah satu bukunya, “Memberilah sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.” Saya percaya, hidup itu laiknya suara gema. Suara yang kita dengar adalah suara yang kita teriakkan. Secara sederhana, kita akan menuai apa yang sudah kita tanam. Dalam kerendahan hati, saya berharap apa yang kami lakukan semoga menjadi catatan amal kebaikan untuk kami. Semoga.

Tepat pukul 07.00 pagi, pintu pagar sekolah ditutup! Bagi yang telat, silakan tunggu di luar hingga upacara bendera selesai. Sigh! Saya telat 5 menit dan upacara bendera sudah berlangsung. Padahal saya berangkat dari rumah pukul 05.00 pagi. Naik taksi ke Stasiun Cikini. Berharap kereta ke Bogor segera tiba. Hampir 1 jam lebih saya menunggu di stasiun. Namun Si Ular Besi Berlistrik takkunjung menyapa. Padahal mentari Senin pagi sudah menyapa. Memancarkan cahaya berwarna jingga dan menghangatkan tubuh anak-anak manusia. Telat bagi seorang guru adalah hal yang mengkhawatirkan. Sebab ia menjadi contoh keteladanan bagi para generasi bangsa. Dan keteladanan itu dimulai ketika Sang Guru dapat menghargai waktu dengan baik. Yep, menjadi guru tidaklah mudah.

Waktu untuk mengajar dijatah. Masing-masing pengajar diberi waktu sekitar 45 menit. Kami harus pintar mengelola waktu yang sempit tersebut. Saya kebagian mengajar kelas 2, kelas 4b, dan kelas 5. Sementara itu, relawan fotografer yaitu Frick dan Kare pun harus mengatur strategi untuk tidak kehilangan momen pada saat proses belajar mengajar. Mari kita mengajar dan belajar!

Kelas 2, Kelas 4b, dan Kelas 5

“Selamat pagi anak-anak! Hari ini Bu Feby dan Pa Achyar akan mengajar kalian. Siap?”

“Siap!”

Saya dan Feby (Perawat) mendapatkan giliran mengajar siswa-siswi kelas 2. Sesi pertama diambil alih oleh Feby. Sementara saya mengajar di sesi kedua. Tampak terlihat para siswa duduk rapi di bangku masing-masing. Formasi tempat duduk di kelas 2 dibentuk perkelompok. Ada 5 kelompok. Satu kelompok diisi sekitar 5-6 orang.

Menit-menit awal berjalan dengan baik. Namun pada menit kemudian mulai terdengar ada yang berteriak (entahlah karena semangat atau merasa bebas), ada juga yang berjalan kian ke mari, ada yang hanya diam (rata-rata siswi), ada yang menimpali temannya ketika bicara, dan beberapa menit kemudian apa yang terjadi? Suasana kelas mulai tidak terkendali.

Feby pun berusaha menenangkan para siswa. Kemudian ia melanjutkan mengajar seputar profesi perawat. Beberapa menit mengajar, ada seorang siswi yang menangis karena diledekin temannya. Lalu ada yang tiba-tiba ngamuk dengan melempar tas temannya. “Pak, penghapus saya diambil!” Ia menghampiri temannya untuk menantang duel. Saya pun bergegas memisahkan mereka, memberikan pengertian bahwa sesama sahabat tidak boleh berkelahi. Bocah laki-laki itu sedikit tenang, namun tiba-tiba ia menangis. Membuang buku-buku di atas meja. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Saya mendekatinya dan mengusap-usap bahunya.

“Jangan nangis ya, kita bantuin nyari penghapusnya bersama-sama.”

Salah seorang temannya yang bernama Salomon menghampirinya dan berkata, “Aku bantuin nyari ya.” Ia pun mengangguk pertanda setuju. Perlahan tangis bocak yang mengenakan seragam putih itu berhenti. Ia berusaha menarik napas dalam. Tampaknya ia berusaha mengendalikan emosi agar tidak meluapkan amarahnya kepada teman-teman di sekitarnya.

Saya dan Feby berbagi peran. Feby pun sepertinya punya PR yang sama yaitu membuat nyaman suasana kelas sehingga para siswa dapat menyerap dengan baik pelajaran. Feby meminta anak-anak yang “vokal” di kelas untuk menjadi ketua-ketua kelompok. Mereka tampak senang dan begitu antusias. Ya, walaupun suasana kelas tidak begitu kondusif, namun para siswa masih bisa diajak kerja sama untuk belajar.

Feby selesai, sekarang giliran saya mengajar. Saya meminta semua siswa duduk lesehan di depan. Secara spontan saya mengubah metode mengajar dengan bercerita. Saya memanfaatkan media berupa mading untuk menjelaskan materi ajar kepada mereka. Beberapa di antara mereka masih saja terlihat rusuh, tapi banyak juga di antara mereka yang mau mendengarkan. Wow! Mengajar di kelas 2 sungguh menantang, gumam saya dalam hati.

Di akhir sesi, kami meminta mereka menuliskan cita-cita mereka di atas kertas label. Selanjutnya mereka satu persatu menempelkan kertas tersebut pada sebuah pohon berwarna hitam berbahan infraboard yang kami beri nama Pohon Cita-Cita. Mereka terlihat senang. Kelas pun usai. Kami pun pamitan dan meninggalkan kelas. Betulkan, menjadi guru tidaklah mudah!

Selanjutnya saya mengajar di kelas 5. Kondisi kelas sangat bertolakbelakang dibandingkan kelas 2. Cukup kondusif. Barangkali karena sudah kelas 5, para siswa lebih mudah diajak bicara agak serius. Saya pun menyampaikan materi tentang Marketing Communication lebih lancar. Mereka pun mudah memahami materi yang saya sampaikan. Beberapa siswa saya minta untuk kembali menjelaskan apa yang sudah saya sampaikan, dan mereka dapat menjelaskannya dengan baik.

Menjelang waktu pulang sekolah, saya mengajar di kelas 4b. Tidak jauh berbeda dibandingkan kelas 5, suasana kelas juga sangat kondusif. Apalagi jumlah siswa relatif lebih sedikit dibandingkan kelas 2 dan kelas 5. Di kelas 4b, saya lebih banyak menyampaikan pesan-pesan semangat agar mereka tidak takut untuk bermimpi. Agar mereka selalu optimis. Semoga transfer energi yang saya sampaikan dapat mereka terima baik.

Kelas Inspirasi ditutup dengan seremoni pelepasan balon gas di lapangan. Balon berwarna-warni ditempeli cita-cita para siswa. Mereka taksabar ingin melihat balon-balon tersebut terbang mengangkasa ke langit luas. Saya pun merekam momen spesial tersebut. Tiba-tiba seorang siswa kelas 5 menghampir saya.

“Kak, kok kakak pulang?”

“Iya soalnya sudah selesai.”

Sepertinya ia masih ingin kami di sini. Berbagi keceriaan dan bermain bersama. Namun apa daya waktu yang kami punya hanya satu hari. Namun kami berharap kami terus bisa mengajar dan belajar bersama mereka.

Apa hikmah yang saya dapatkan setelah mengajar? Saya tersadarkan bahwa PR dunia pendidikan di Indonesia sangatlah banyak. Mulai dari sistem pendidikan, pengembangan guru, hingga persoalan yang barangkali tidak terlalu menjadi concern pemerintah yaitu BULLYING. Dari yang saya amati, banyak para siswa yang senang sekali membully. Seringkali saya mendengar kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang siswa sekolah dasar. Persoalan bullying harus menjadi fokus pemerintah. Sebab banyak akibat dari bullying yang sudah memakan banyak korban, mematikan karakter, membunuh mimpi-mimpi, dan membuat siswa-siswi merasa terpenjara di sekolahnya sendiri.

Well, saya perlu angkat topi untuk pengabdian para guru di seluruh Indonesia. Mengajar bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak semua orang memiliki kesabaran yang berlapis-lapis seperti seorang guru. Saya berharap semoga dunia pendidikan Indonesia semakin membaik. Terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman kelompok 12 Kelas Inspirasi Depok 2. Semoga langkah kita menjadi panutan, ujar kita menjadi pengetahuan, dan pengalaman kita bisa menjadi inspirasi untuk para penentu Indonesia di masa depan.

Kelompok 12 #KelasInspirasi
Kelompok 12 #KelasInspirasi

“When someone loves you, the way they talk about you is different. You feel safe and comfortable.”
– Jess C. Scott

[i] Mahfud Achyar adalah seorang praktisi Marketing Communication di salah satu NGO di Jakarta dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta, program studi Corporate Communication.

 

Hubungan Antara Media dan Perusahaan: Simbiosis Mutualisme!

Oleh: Mahfud Achyar

Student of Paramadina Graduate School | School of Communication | Corporate Communication |

 

Source: http://www.prco.com/wp-content/uploads/2011/08/on-and-offline-media-relations.jpg
Source: http://www.prco.com/wp-content/uploads/2011/08/on-and-offline-media-relations.jpg

 

Yosal Iriantara (2005:32) mengatakan bahwa praktisi Corporate Communication atau Public Relations perlu melakukan aktifitas media relations sebagai upaya membinan dan membangun hubungan baik dengan media massa sebagai sarana komunikasi antara organisasi (perusahaan) dengan publik untuk mencapai tujuan organisasi.

Hubungan antara media dan perusahaan semestinya bersifat simbiosis mutualisme, hubungan yang saling membutuhkan dan menguntungkan. Media membutuhkan informasi dari perusahaan berkaitan dengan pemberitaan seputar profil perusahaan, business core perusahaan, seputar investasi, saham, pemasaran, dan sebagainya. Begitu juga sebaliknya, perusahaan membutuhkan media untuk menjadi sarana guna mempublikasikan hal-hal positif perusahaan untuk diketahui oleh stake holder perusahaan seperti pemegang saham, konsumen, mitra perusahaan, dan masyarakat secara luas.

Oleh sebab itu, media relations menjadi penting karena media dalam dunia PR (Public Relations) membantu mempromosikan dan meningkatkan penjualan produk dan jasa; menjali komunikasi berkesinambungan; meningkatkan kepercayaan publik; dan meningkatkan citra perusahaan.

Kerja sama yang kerap dilakukan antara media dan perusahaan berkenaan dengan publisitas. Perusahaan membutuhkan ruang (space) pada media untuk mempublikasikan hal-hal yang perlu disampaikan kepada publik. Sementara media pun membutuhkan content dari perusahaan agar rubrik seputar dunia niaga terisi dengan informasi-informasi dari perusahaan. Dalam banyak kasus, praktisi PR memiliki strategi tersendiri agar publikasi perusahaannya dapat dimuat di berbagai media dengan efek positive image bagi perusahaan. Ada budget tersendiri yang sudah disiapkan oleh PR untuk membangun media relations. Budget yang tidak sedikit tentunya. Padahal semestinya hubungan antara media dan perusahaan haruslah bersifat simbosis mutualisme yang saling membutuhkan. Namun pada kenyataannya hal yang dianggap ideal tidak diimplikasikan di lapangan. Banyak praktik-praktik yang menggerus nilai idealisme para jurnalis.

Saya pernah bekerja sebagai reporter pada bagian PR di kampus saya. Saat itu, saya masih menjadi mahasiswa semester akhir. Saya menulis berita-berita seputar kampus saya yang kemudian dimuat di website resmi kampus saya. Bagi seorang PR, berita-berita seputar kampus yang dimuat di berbagai media tentu sangat menguntungkan. Artinya semakin luas jangkauan pembaca untuk mengetahui berita terkini seputar kampus. Namun kerap kali media massa ‘mencomot’ berita-berita yang ada di website resmi kampus tanpa mencantumkan nama penulisnya. Hal ini tentu bertentangan dengan etika jurnalistik dan etika akademik.

Ketika dikonfirmasi mengapa media tersebut melakukannya, mereka berdalih bahwa mereka sudah bekerjasama dengan pihak kampus. Selain itu mereka berpendapat bahwa justru seharusnya kampus senang karena berita-berita dimuat di media mereka. Sebetulnya alasan mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Namun alangkah lebih baiknya jika media tersebut mengakui kesalahannya dan berjanji untuk mencantumkan nama penulis untuk setiap berita yang mereka salin dari website kampus.

Barangkali perlu sebuah kesepahaman bahwa kendati antara perusahaan (organisasi) sudah bekerjasama dengan media tertentu dalam hal publisitas, namun hal-hal yang bersifat prinsipil harus dijalankan. Misalnya, praktisi PR tidak boleh mengintimidasi media agar berita-berita yang tidak jujur dari perusahaan harus dimuat untuk mendapatkan respon positif dari publik. Begitu juga sebaliknya media pun jangan sampai menggadaikan profesi jurnalistik untuk mendapatkan keuntungan dari perusahaan.

 

 

 

 

Secuil Pengalaman Menjadi Public Relations Kampus

Bandung, Senin 10 Mei 2010.

Tidak adil jika kesuksesan distandarkan berdasarkan kemapanan finansial. Setiap orang berhak menentukan standar kesuksesan masing-masing.

Sudah lama rasanya, saya tidak mendapatkan pesan singkat dari teh Marlia, Humas Unpad. Biasanya, beliau mengabari saya jika ada event Unpad yang mesti saya liput. Tapi belakangan ini, saya takmendapat kabar sama sekali. Mm, mungkinkah karena memang takada berita yang harus diliput. Atau jangan-jangan, saya sudah dibebastugaskan dari Humas Unpad?

Beberapa minggu yang lalu, teh Marlia memang pernah meminta saya agar meliput berita di Fkep. Namun, waktu itu saya tidak bisa. Karena sudah ada agenda yang tidak bisa diganggu gugat. Alhamdulillah, teh Marlia pun berlapang dada dan mengizinkan saya tidak meliput.Namun sejak saat itu, saya tidak pernah lagi mendapat instruksi dari teh Marlia lagi untuk meliput berita. Saya pun bertanya-tanya mengapa hal ini bisa terjadi.

Ok, Walaupun tidak ada instruksi meliput berita oleh teh Marlia ataupun Pa Erman, saya pun berinisiatif untuk mencari dan menulis berita sendiri. Saya pun kemudian meliput seminar kebahasaan yang diselenggarakan oleh himpunan jurusan saya, yaitu Gelanggang. Setelah meliput berita, saya mengirim tulisan ke email Pa Erman. Namun apa yang terjadi, ternyata berita saya tidak dimuat di website.

Saya pun semakin bingung. Hingga saat kemudian, saya pun mendapat email dari Pa Erman. Kurang lebih pesannya seperti ini, “Maaf, berita ini telah ditulis. Saya akan pertimbangkan posisi Achyar sebagai reporter freelance dengan Bu Weny. Soalnya, seringkali jadwal liputan bentrok dengan jadwal kuliah Achyar.”

Hah? Ternyata ini jawabannya. Hft. Dengan berat hati, saya pun membalas email Pa Erman. “Oh gpp pa. Maaf saya gak bisa optimal. Terima kasih atas kepercayaannya selama ini. saya senang, banyak pembelajaran saya dapat ketika bergabung di Humas Unpad.”

Ok, secara tidak langsung saya telah mengundurkan diri sebagai reporter. Tapi takmasalah. Yang jelas, saya sudah memiliki bekal pengalaman di sana. Sebenarnya, tujuan saya bergabung di UPT Humas Unpad bukan karena membutuhkan finansial. Tapi, saya ingin merasakan pengalaman kerja. Walaupun kerjaannya tidak terlalu berat. At least, banyak sekali hikmah yang saya dapati ketika bekerja sebagai reporter. Selain itu, pengalaman sebagai reporter bisa menambah daftar curriculum vitae hehe.

Oh ya, saya ingin mencerita sedikit pengalaman saya sebagai reporter. Mm, menjadi reporter adalah tugas yang cukup berat. Kenapa? Karena kita harus selalu menjaga mood kita. Yap, itulah yang rasakan selama kurun waktu tiga bulan dari bulan Januari-Maret. Karena jika mood kita gak baik ato lagi bad mood, nulis berita seakan susah banget. Padahal cuma dua halaman aja. Tapi sumpah, kalo moodnya gak bener kita bakal males banget nulis berita.

Selain menjaga mood, beban lain yang harus kita hilangkan adalah MENGHAPUS KATA DEADLINE. Bagi journalist, kata DEADLINE sangat menyebalkan. Pasalnya, kata tersebut sakti beut. Kalo udah deadline maka tulisan kita akan HANGUS. Ugh.. saya pernah mengalami hal itu. Ketika menulis kuliah umum tentang Museologi di FASA, saya telat menulisnya karena saya bingung harus menulis apa. Kenapa? Karena saya waktu itu lagi BETE. Mm, soalnya kuliah umum itu menggunakan BAHASA PERANCIS. Arg, gila aja mana ngarti ogud. Kalo bahasa Jerman ato Inggris ya, insyaAllah ngerti. Lah ini?

Ya, saya benci DEADLINE karena DEADLINE menyita jatah tidur saya. Hikss T_T harus menulis, menulis, dan menulis hingga larut malam. But, its okey. Its so nice experience for me. (Gak boleh mengeluh, nikmatin aja). Ok sippo, saya akan nikmatin proses ini.Walau dihujani katakutan akan DEADLINE. Namun, rasa kantuk karena menulis hingga larut malam pun terbayar ketika esoknya saya melihat tulisan saya dimuat.. wah, keren.. banyak orang yang baca pastinya.. Mm.. Alhamdulillah ya Rabb, hamba diberikan kemampun menulis. Yak, saya senang!

Dan semua itu terasa indah jika kita mengerjakannya dengan sepenuh hati. Alhamdulillah saya bisa melewati semua itu dengan cukup baik. oy teman, jadi reporter atau journalist itu gak buruk kok. Banyak keuntungannya lo! Pertama, kita bisa kenal banyak orang sukses. Selain itu kita juga dikenal (haha.. Im so famous^^). Nah, di samping itu, kita juga bisa makan enak dan tentunya bisa ikut acara2 tanpa harus bayar alias GRETONGAN.

Ok, now i wanna thanks to bu Wenny (Kepala Humas Unpad), pa Erman, teh Marlia, Nafielah (rekan kerja gue yang paling solid) dan buat semuanya yang udah mensupport saya. Thanks a lot!

Trend Bahasa Betawi di Kalangan Mahasiswa Unpad

betawi
Sumber: Tourjakarta

 

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Menurut Edward B. Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan yang mana akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.

Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bahasa merupakan salah satu dari tujuh unsur kebudayaan. Bahasa dianggap penting karena bahasa menjadi bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Di Indonesia, setidaknya ratusan bahasa lokal tersebar dari sabang sampai mereuke. Kita mengenal bahasa Gayo dari Aceh, bahasa Minang dari Padang, bahasa Betwi dari Jakarta, bahasa Sunda dari Jawa Barat, bahasa Jawa, dan lain sebaginya. Setiap bahasa memiliki ciri/karakteristiknya masing-masing.

Pada makalah saya ini, saya akan membahas tentang bahasa Betawi yang trend di kalangan mahasiswa. Jika saya amati, misalnya di Universitas Padjadjaran, bahasa Betawi seolah menjadi gaya hidup yang dianggap lebih popular dibandingkan bahasa lain, sebutlah bahasa Sunda. Banyak alasan yang melatar belakangi kenapa bahasa Betawi lebih trend dibandingkan bahasa Sunda.

Pengaruh mahasiswa yang berasal dari Jakarta
Universitas Padjadjaran terletak di wilayah priangan Jawa Barat, yaitu Bandung. Itu artinya, bahasa lokal yang seharusnya lazim digunakan mahasiswa Unpad adalah bahasa Sunda. Hal ini dikarenakan letak geografis dan kondisi masyarakat Sunda. Tapi pada kenyataannya, mahasiswa Unpad tidak hanya berasal dari wilayah Jabar. Melainkan, banyak mahasiswa yang datang dari luar daerah, seperti Jakarta. Tentunya hal ini membuat keragaman budaya dan bahasa menjadi hal yang tak terelakkan lagi dalam kehidupan mahasiswa Unpad.

Mahasiswa yang berasal dari Jakarta mengunakan dialek betawi sebagai ciri bahwa mereka adalah orang-orang yang berasal dari Jakarta. Hal ini berdampak kepada pengaruh bahasa Betawi terhadap bahasa Sunda sebagai tuan rumah, dan bahasa-bahasa lainnya. Pengaruh bahasa Betawi lebih cepat dibandingkan bahasa Sunda, dan bahasa-bahasa lain yang turut meramaikan bahasa-bahasa di Universitas Padjadjaran.
Media
Media mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam masalah ini. Setiap hari, kita (khususnya mahasiswa) menonton tayangan dalam bahasa Betawi di televisi. Sebutlah sinetron yang cukup fenomenal di era 90an yaitu Si Doel Anak Sekolahan, dan juga saat ini, tayangan seperti Lenong Betawi sangat digemari oleh masyarakat terutama mahasiswa. Penonton akan disuguhkan gelak tawa dari pemain lenong yang berdialek betawi.

Dua faktor tersebut saya rasa sangat berpengaruh terhadap trend berbahasa di kalangan mahasiswa. Jika dibandingkan antara bahasa Sunda, dan bahasa Betawi, maka yang saya amati adalah, banyak mahasiswa yang lebih senang menggunakan bahasa Betawi. Mereka menilai bahasa Betawi lebih gaul, dan lebih mewakili trend bahasa di Indonesia. Dampaknya adalah, pesona bahasa lokal selain bahasa Betawi seakan kurang kharismatik dan kurang trend di kalangan mahasiswa.

Bahasa lokal merupakan ciri khas/identitas yang dimiliki masing-masing daerah. Kekhasan ini membuat Indonesia semakin kaya akan khazanah kebudayaannya. Bagi mahasiswa, misalnya mahasiswa Unpad, bahasa merupakan bagian yang terpisahkan dalam proses interaksi komunikasi mereka. Mahasiswa Unpad berasal dari berbagai macam daerah yang ada di Indonesia. Untuk salin memahami komunikasi antara satu dengan lainnya, dibutuhkan bahasa pemersatu yaitu bahasa Indonesia. Namun pada kenyataannya, pengaruh bahasa Betawi lebih besar dibandingkan bahasa-bahasa daerah lainnya. Bahasa Betawi dianggap sebagai tren tersendiri. Bahkan, bahasa Betawi kerapa disandingkan dengan status mahasiswa yang gaul, supel, dan pintar berkomunkasi. Hal ini menyebabkan bahasa local yang ada di kalangan mahasiswa, seperti bahasa Sunda, Jawa, Minand, dan lainnya kurang memesona dan dianggap tidak popular.