Hari Raya di Gunung Talang


DSC_7551
Lembah gunung Talang, kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia.

Pada Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah kemarin, saya berkesempatan mendaki gunung Talang yang berlokasi di kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sebetulnya, saya sudah berencana jauh-jauh hari bahwa momen libur Hari Raya akan saya manfaatkan untuk mendaki gunung Kerinci melalui jalur Solok Selatan. Namun rencana tinggalah rencana.

Ada banyak kejadian yang takterduga yang menyebabkan saya harus menunda impian saya untuk mendaki gunung Kerinci, gunung tertinggi kedua di Indonesia. Salah satu alasan yang sulit saya hindari yaitu minimnya jatah cuti yang saya miliki selama libur Hari Raya. Namun saya tidak ingin berkecil hati. Saya ingin manfaatkan semaksimal mungkin momen Hari untuk silaturahiim dengan sanak saudara serta menjelajahi ranah Minang nan elok.

Kendati saya gagal mendaki gunung Kerinci, saya masih terobsesi untuk mendaki gunung yang ada di Sumatera Barat. Whatever! Betapa tidak, saya sudah membawa hampir semua perlengkapan gunung dari Jakarta. Jika tidak dimanfaatkan, tentu sia-sia sudah apa yang saya bawa.

Lagi pula, saya belum pernah mendaki gunung di Sumatera Barat. Padahal, Sumatera Barat merupakan kampung halaman saya. Sungguh menyebalkan bila di kampung halaman sendiri takada satupun gunung yang sudah saya daki. Sementara di pulau Jawa puluhan gunung saya datangi. Tidak hanya di pulau Jawa, saya bahkan sudah mendaki gunung di luar pulau Jawa seperti gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Seketika, watak keras kepala saya muncul. Saya bertekad bahwa apapun yang terjadi, saya harus mendaki salah satu gunung di Sumatera Barat. Titik. Tanda seru!

Akhirnya, pada Kamis, (29/6/2017) impian sederhana saya terwujud. Adik saya yang bernama Fajar mengusulkan ide gemilang agar kami melakukan pendakian bersama ke  gunung Talang. Katanya, medan gunung Talang tidak begitu sulit dan durasi pendakian hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. “Walaupun gunung Talang tergolong gunung yang tidak begitu tinggi, namun gunung Talang menawarkan panaroma yang tidak kalah hebat dibandingkan gunung-gunung tinggi lainnya di Sumatera Barat,” ujar Fajar meyakinkan saya.

Lantas tanpa banyak pertimbangan, saya pun mengiyakan tawaran Fajar. Kapan lagi saya bisa mendaki gunung bersama adik saya sendiri. Momen yang langka dan rasanya akan sulit untuk diulang kembali. Sejujurnya, hubungan saya dengan adik saya tidak begitu dekat. Maklum, masa-masa kecil kami dihabiskan dengan berkelahi: adu jotos untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Huhu. Well, saya berharap dengan kami melakukan pendakian bersama akan membuat kami jauh lebih akrab, layaknya hubungan harmonis antara kakak dan adik.

DSC_7592.JPG
Me and my little brotha.

I may fight with my siblings. But once you lay a finger on them, you’ll be facing me!” – Anonymous.


Sebagai informasi, gunung Talang memiliki ketinggian 2,597 mdpl (meter di atas permukaan laut). Gunung yang berlokasi sekitar 40 km sebelah timur kota Padang ini tergolong jenis gunung stratovolcano (gunung api aktif). Berbagai sumber menyebutkan bahwa gunung Talang sudah pernah meletus berkali-kali sejak tahun 1833 hingga tahun 2007. Saat ini, kawah gunung Talang masih mengepulkan asap belerang.

Pendakian ke gunung Talang dilakoni oleh saya, Fajar, dan sepuluh orang temannya. Kami berangkat dari kota Solok menggunakan sepeda motor. Tidak butuh lama untuk mencapai kaki gunung Talang. Seingat saya hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Selama perjalanan konvoi, saya tidak merasa bosan sama sekali. Betapa tidak, saya disuguhi lanskap ranah Minangkabau yang sungguh aduhai. Di antara jalan yang berkelok-kelok, terdapat hamparan kebun teh yang berundak-undak. Tidak hanya itu, saya juga takjub dengan gugusan bukit barisan yang seolah-olah laiknya seperti penjaga yang melindungi kota Solok dan kabupaten Solok dari serangan alien. (Okay, untuk kalimat terakhir abaikan).

Setelah menempuh perjalanan yang menyenangkan, akhirnya tibalah kami di posko gunung Talang via Ai Batumbuk sekitar pukul 12 siang. Udara pegunungan yang segar serta suara adzan Dzuhur yang berkumandang menyambut kehadiran kami. Siang itu, petualangan baru saja dimulai.

DSC_7472
Posko gunung Talang via Ai Batumbuk

Setelah registrasi dan membayar retribusi sebesar 10ribu, kami mulai melangkah memasuki gerbang perkebunan the PTPN VI. Tidak ada aktivitas panen teh kala itu. Barangkali musim panen memang belum tiba.

Beberapa kali bermain ke perkebunan teh, jarang sekali saya melihat para petani memanen. Sebetulnya saya ingin belajar bagaimana memilih teh yang berkualitas tinggi. Penasaran. Namun apa boleh buat, saya hanya bisa memandang daun teh yang berwarna hijau muda. Tampak subur dan terawat dengan baik. Kami menyusuri jalanan di tengah-tengah perkebunan teh sekitar 45 menit.

DSC_7483
PTPN VI di kaki gunung Talang.

Selanjutnya, kami berhenti di sebuah warung untuk beristirahat sejenak. Warung semi permanen tersebut menjual asupan energi yang dibutuhkan para pendaki, baik yang akan mendaki maupun yang sudah turun.

Oh ya, pendakian saya ke gunung Talang merupakan pendakian tektok. Jadi, kami takperlu susah-susah membawa tenda atau membawa keperluan logistik yang berlebihan. Hanya perlu membawa bekal secukupnya. Lagipula, berhubung gunung Talang tidak begitu tinggi, jadi kami memutuskan hanya sekadar hiking tidak camping. Mengutip perkataan orang bijak,Hike while you can! Hiking in undiscovered places is a lot of fun.”

Setelah melewati area perkebunan teh, kami mulai memasuki hutan dengan medan yang mulai menanjak. Saat itu, hujan turun sehingga memaksa kami untuk mengenakan jas hujan. Beruntung saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Kendati saya sudah memakai jas hujan, sejujurnya saya tidak suka pendakian ketika hujan. Sepertinya rasa kesal tidak hanya bersemayam di hati saya, namun juga teman-teman seperjalanan saya. Maklum, hujan membuat tanah menjadi sangat licin dan berlumpur. Berulang kali saya terjatuh. Sakit. Namun saya teringat pesan senior di kampus.

“Yar, tahu mengapa kita terjatuh?”

“Kenapa kang?”

“Karena kita harus bangkit lagi. Jadi, takmasalah seberapa sering kita jatuh. Hal yang terpenting kita harus selalu bangkit.”

“Oh begitu kang,” ujar saya sekenanya untuk menimpali petuah senior saya tersebut.


Sepanjang pendakian, tidak banyak pendaki lain yang kami temui. Seingat saya, ketika registrasi hanya ada dua kelompok yang mendaki gunung Talang siang itu. Satu kelompok kami, satu lagi kelompok lain yang saya tidak sempat bertanya banyak hal tentang mereka. Maklum, gunung Talang baru saja dibuka kembali tiga hari pasca Idul Fitri. Mungkin tidak banyak pendaki yang berpikiran untuk mendaki pada momen Hari Raya. Lebih baik berkumpul bersama keluarga atau menghabiskan waktu liburan di tempat-tempat keramaian.

Mendaki gunung Talang membawa saya ke memori pendakian ke gunung Slamet pada November 2015 lalu. Saya pikir, jalur pendakian gunung Talang dan gunung Slamet memiliki kesamaan. Bagi yang sudah pernah mendaki kedua gunung tersebut, tentu akan berpendapat sama. Namun bedanya, medan gunung Slamet jauh lebih terjal. Apalagi ditambah saat itu hujan cukup deras mengguyur hutan hujan tropis gunung Slamet sehingga membuat fisik saya terkuras dan tubuh saya menggigil kedinginan. Namun beruntung, hujan yang turun di gunung Talang tidak berlangsung lama. Jadi penderitaan di gunung Slamet tidak terulang kembali di gunung Talang.

“Bang, kalau kita beruntung, jika tidak ada kabut, kita bisa melihat tiga danau dari puncak gunung Talang yakni danau Di Atas, danau Di Bawah, dan Danau Talang. Selama saya mendaki gunung Talang, saya selalu tidak beruntung melihat pemandangan ketiga danau tersebut. Semoga kali ini abang beruntung ya,” ujar Baim salah seorang sahabat Fajar.

“Oh ya? Semoga ya tidak ada kabut,” imbuh saya mengamini.

Lazimnya di hampir semua gunung di Indonesia, setiap beberapa kilometer pendaki akan berhenti di pos-pos untuk beristirahat. Namun kondisi demikian tidak saya jumpai di gunung Talang. Tidak ada pos pemberhentian sama sekali. Hanya ada plang bertuliskan ‘asmaul husna (nama-nama Allah) dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia serta tanda ‘R’.

Sontak saya bertanya kepada Fajar.

“Jar itu ‘R’ maksudnya apa ya?”

“Oh , ‘R’ itu maksudnya ‘Rambu’. Jadi nanti setiap beberapa meter, tepatnya di tikungan, kita akan menjumpai plang dengan tanda ‘R’ mulai dari R.1 hingga R.99. Sengaja dibuat hingga R.99 agar sesuai dengan ‘asmaul husna yang berjumlah 99. Untuk R.99 sendiri nanti kita temukan di puncak,” jelas Fajar kepada saya dengan cukup detil.

Sayapun menganggukkan kepala pertanda mengerti. Tidak ada kendala yang berarti yang kami temui selama mendaki. Namun, ada satu orang teman Fajar yang merasa kelelahan lantaran kondisi fisiknya kurang prima. Salah seorang di antara kami berinisiatif untuk mengurangi beban yang dia bawa sehingga perjalanan dapat terus dilanjutkan.


Menurut saya, kehadiran plang ‘asmaul husna membuat pendakian terasa lebih relijius. Saya pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah mengajarkan agar kita ummatnya, selama perjalanan menyebut subhanallah saat melewati jalan menurun dan menyebut Allahu akbar ketika melewati jalan mendaki. Hal tersebut barangkali menyadarkan kita bahwa sudah selayaknya kita terus mengingat Allah dalam kondisi apapun. Setiap tikungan, saya sempatkan untuk membaca ‘asmaul husna, mulai dari Ar-Rahman hingga seterusnya. Jika bisa dibilang, gunung Talang merupakan gunung syariah yang pernah saya daki selama hidup saya.

DSC_7508
R.51 di gunung Talang.

Tiba di R.51, saya sempatkan untuk swafoto di sana. Saya senang tiada terkira karena menemukan tulisan Ya Haq yang mengingatkan terhadap nama sahabat saya yang menyebalkan. Namanya, Arinal Haq Haqo. Dalam hati saya bergumam, “Nanti jika sudah dapat sinyal, saya akan mengirimkan foto ini ke Are (nama panggilan Arinal).”

Menuju lembah gunung Talang, saya melewati pohon-pohon yang memiliki daun panjang berduri. Saya tidak tahu apa nama jenis pohon tersebut. Sayapun bingung untuk menggunakan kata kunci yang tepat jika bertanya kepada Paman Gugel. Barangkali ada dari teman yang mengetahui pohon ini? Pohon-pohon tersebut mengingatkan saya terhadap eksistensi dinasaurus dan sahabat-sahabatnya yang sering lalu-lalang di perfilman hollywood.

DSC_7673.JPG
Ada yang tahu nama pohon ini?

Setelah mendaki selama kurang lebih 2,5 jam, akhirnya kamipun berhasil tiba di lembah gunung Talang. Lokasi tersebut digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda. Saat itu, hanya ada sekitar 3 tenda yang berdiri.

DSC_7594
Tenda pendaki di lembah gunung Talang.
DSC_7586
Deep thinkin’

Lembah gunung Talang terasa sepi, dingin, dan misterius. Namun saya menyukai kondisi demikian. Pemandangan dan perasaan kala itu belum pernah saya rasakan sebelumnya di gunung manapun. Sayapun berjalan menyusuri lembah savana yang tertutup kabut tipis. Angin bertiup kencang, menyeret paksa sekawanan kabut, lantas menghempaskannya.

Berjalan sendirian membuat saya tidak gusar. Justru yang timbul hanyalah rasa tentram yang entah dari mana perasaan itu hadir. Saya selalu menyukai suasana di gunung. Melihat reremputan liar tumbuh secara alami, kagum dengan bunga-bunga liar yang selalu berhasil membuat saya penasaran untuk mengetahui setiap nama mereka. Semakin jauh, saya semakin meninggalkan teman perjalanan saya yang lebih memilih berkumpul bersama-sama sembari menikmati secangkir teh atau kopi pengusir hawa dingin.

Saya suka dengan perasaan saya sore kala itu. Seolah saya merasa hadir menjadi diri saya yang seutuhnya. Berjalan, melihat sekitar, tersenyum, dan bersyukur. Saya mulai berjalan kian jauh hingga mendekati kawah gunung Talang. Saya ingin menuju puncak gunung Talang. Namun langkah saya terhenti saat tiba-tiba kabut tebal kembali hadir sehingga membuat perasaan saya tidak nyaman.

DSC_7613
Kawah gunung Talang.

Di lembah gunung Talang, takbanyak bungan edelweiss tumbuh. Namun mereka mekar seolah membuktikan kepada saya rasa takut akan selalu kalah dengan keberanian, hati yang teguh, dan kesucian cinta. Saya menyukai bunga edelweiss melebihi bunga apapun di bumi ini. Suatu hari, saya berharap bunga edelweiss akan terus abadi sesuai dengan julukannya ‘bunga abadi’.

DSC_7559.JPG
Edelweiss, Si Bunga Abadi
DSC_7542
Bunga kuning ini ada yang tahu namanya?
DSC_7622.JPG
Pattern.
DSC_7627.JPG
Sumber mata air di lembah gunung Talang.

Dari kejauhan, saya melihat ke bawah. Nun jauh di sana, ada tiga danau berdampingan. “Mungkinkah itu tiga danau yang dimaksud teman Fajar tadi?” ujar saya lirih. Sore berganti petang, kamipun memutuskan untuk turun sebelum matahari benar-benar tenggelam.

DSC_7511
Danau Talang, Danau Di Atas, dan Danau Di Bawah

Dalam perjalanan pulang, saya teringat ungkapan manis dari Paulo Coelho, “You don’t need to climb a mountain to know that it’s high.” Ya, saya tahu bahwa gunung akan selalu tinggi, bahwa gunung akan selalu menjadi rumah yang nyaman untuk siapapun. Jadi, berbaik hatilah dengan alam, berbaik hatilah dengan diri sendiri. [Mahfud Achyar]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s