Magical Lawu (Bagian 1)

Sebuah Catatan Pendakian ke Gunung Lawu

Oleh: Mahfud Achyar

L-R: Achyar, Indra, Asih, Rendi, Nanang, Bowo, dan Sai

Adakah terminologi selain kata ‘candu’ untuk menggambarkan hasrat ingin naik gunung lagi, lagi, dan lagi. Padahal, saya paham betul, naik gunung itu luar biasa melelahkan. Terkadang, saat napas tersengal-sengal, saya bergumam dalam hati, “Saya kapok naik gunung. Saya tidak akan naik gunung lagi untuk waktu yang cukup lama.” Namun entah bagaimana, entah seperti apa cara kerjanya, sepekan setelah naik gunung saya kembali terobesesi untuk mendaki puncak-puncak gunung selanjutnya. Yep, begitulah yang saya alami sejak jatuh cinta pada aktivitas mendaki gunung.

Candu yang membawa rindu.

Gunung Lawu. Sebetulnya, sudah lama sekali saya ingin ke sana. Masih lekat di benak saya, pada November 2016, saya menemukan salah satu foto di Instagram yang membuat rindu kian membuncah untuk segera mendaki gunung Lawu. Sederhana: SAVANNA! Saya melihat dua orang pendaki tengah berjalan menyusuri savanna yang hijau sambil membawa tas carrier berukuran besar. Di sisi kiri-kanan mereka ada pohon pinus menjulang tinggi. Sontak saya berucap lirih, “Ah, indah sekali pemandangannya. Saya juga ingin ke sana!” Tanpa pikir panjang, saya mengajak beberapa teman yang memang sering melakoni dunia pendakian. Namun sayang, takbanyak respon positif yang saya dapatkan dari mereka. Rata-rata mereka tidak begitu tertarik naik gunung dalam waktu dekat, apalagi pada akhir tahun curah hujan cukup tinggi dan hampir merata di seluruh Indonesia. Saya pun memakluminya dan berharap pada awal tahun 2017, keinginan saya dapat terwujud.

Dream it, plan it, and make it happen!

Saya pun mengirim pesan ke beberapa teman untuk menawarkan kepada mereka tentang rencana pendakian ke gunung Lawu. Tidak banyak yang saya hubungi, saya hanya menghubungi beberapa orang yang saya pikir cukup dekat dan memang tertarik untuk melakukan pendakian bersama-sama.

Belakangan, semakin banyak gunung yang saya daki membuat saya semakin selektif untuk memilih tim yang akan ikut dalam pendakian yang saya gagas. Saya bukan bermaksud untuk pilih-pilih teman. Namun rasanya hal tersebut sulit sekali untuk dihindari. Apalagi beberapa kejadian dan musibah selama pendakian membuat saya semakin paham bahwa hobi yang saya cintai ini sangatlah beresiko. Untuk itu, saya harus pastikan bahwa teman-teman yang saya ajak telah memiliki kesiapan fisik dan perlengkapan yang baik. Hanya berupaya meminimalisasi resiko. Ya, saya pikir hanya itu.

Tahun 2017 ini, salah satu resolusi hidup saya yakni mendaki gunung setiap bulannya. Namun setelah saya pikir-pikir kembali, sebetulnya untuk apa saya harus membuat target semacam itu? Terkesan terlalu ambisius. Seakan-akan gunung hanya sebatas objek yang pelampiasan. Padahal seharusnya banyak hal yang perlu dipertimbangkan ketika berencana mendaki gunung. Misal, cuaca yang tidak mendukung, kondisi finansial yang tidak bersahabat, atau jadwal yang tidak cocok. Akhirnya saya memutuskan untuk menganut prinsip by it flow, biarkan berjalan secara alami.

Dari beberapa orang yang saya ajak mendaki gunung Lawu, hanya ada tujuh orang yang tertarik. Adalah Klep, Abah, Nanang, Bowo, Indra, Sai, dan Ajuw. Seperti biasa, kami membuat grup WhatsApp untuk mendiskusikan berbagai persiapan mendaki seperti membuat itinerary, pembagian tugas logistik, pemesanan tiket kereta, dan sebagainya.

Berhubung kami telah sering mendaki gunung bersama, takbanyak yang perlu kami bahas. Namun Bowo, salah satu sahabat saya, seringkali mengirimkan tautan berita mengenai cerita-cerita mistis yang dialami para pendaki selama di gunung Lawu. Sejujurnya, saya agak terganggu dengan hal tersebut. Kadang saya terdorong untuk membaca tulisan yang dibagikan Bowo. Namun saya urungkan niat tersebut. Saya paham persis, jika saya membaca tulisan-tulisan tersebut akan membuat imajinasi saya liar, membayangkan kondisi mencekam dan menakutkan di gunung Lawu. Saya tidak mau dibuat gila dengan ketakutan-ketakutan akan diganggu makhluk halus. Lagi pula, saya rasa di semua gunung tentu ada makhluk halus. Namun kita hanya perlu bersikap wajar dan selalu mengingat Tuhan dalam kondisi apapun.

Hari yang kami nantikan pun tiba.

Stasiun Senen Jakarta. Jumat, 20 Januari 2017.

Kami sepakat untuk kumpul pada pukul 15.30 sore lantaran kereta Brantas jurusan Pasar Senen – Solojebres berangkat tepat pada pukul 16.00 WIB. Selepas salat Jumat di kantor, saya pun minta izin ke atasan saya untuk pulang lebih awal. Saya ingin mengantisipasi agar tidak terjebak macet atau mengalami drama-drama yang menyebalkan. Beruntung jarak dari rumah ke stasiun Senen tidak begitu jauh. Hanya membutuhkan waktu sekitar 25 menit menggunakan jasa ojek daring.

Nanang menjadi orang pertama yang tiba di stasiun. Sepuluh menit kemudian, saya pun muncul di hadapannya dengan langsung merebut minuman soda miliknya. Hehe. Saat itu, waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Lima orang lainnya belum juga menampakkan batang hidung mereka. Saya mulai gusar, khawatir mereka telat. Saya amati, kondisi lalu lintas hari itu sangatlah kacau: macet di mana-mana. Belum lagi kawasan pertokoan persis di seberang stasiun Senen baru saja mengalami kebakaran. Akibatnya, kendaraan terjebak macet parah di perempatan Senen.

Dengan sedikit kesal, saya menanyakan keberadaan mereka. Rata-rata masih di jalan dan terjebak macet. Beruntung saya bertanya kepada Ajuw, apakah tiket kereta sudah dicetak atau belum. Ia menjawab belum. Lalu saya pun bergegas ke loket Cetak Tiket Mandiri (CTM) dengan perasaan yang teramat gelisah: takut ketinggalan kereta.

Jam sudah menunjukkan pukul 15.50 WIB. Satu persatu teman-teman saya sudah berada di stasiun. Namun masih belum lengkap. Klep, Bowo, dan Sai sama sekali belum terlihat. Detik berganti menit, jam sudah menunjukkan pukul 15.55 WIB. Saat itu, saya merasa waktu merangkak begitu cepat. Andai saja waktu bisa dihentikan sementara untuk menunggu kedatangan mereka bertiga. Sayangnya itu hanya imajinasi bodoh. Mana mungkin hal semacam itu benar-benar terjadi. Akhirnya kami membuat keputusan besar untuk langsung masuk ke peron. Tiga tiket kami titipkan di pintu pemeriksaan.

Ketika mulai masuk peron, tiba-tiba dari kejauhan, kami melihat Bowo yang mengenakan baju biru berlari menghampiri kami. Saya baru pertama kali melihat Bowo berlari begitu kencang. Membuat saya berpikir nampaknya Bowo berbakat menjadi atlet marathon. Ah, lagi-lagi pikiran aneh muncul pada saat yang tidak dibutuhkan. Kamipun bergegas menuruni anak tangga stasiun yang dengan langkah terburu-buru. Sungguh menyebalkan.

Kata petugas stasiun, “Cepat! Kereta akan berangkat!” Saya dag-dig-dug-ser tidak karuan. Saya tidak membayangkan akan mengalami drama akan ketinggalan kereta. Pasti akan sungguh menyebalkan. Namun akhirnya kaki-kaki kamipun berhasil mendarat di salah satu gerbong kereta Brantas. Kondisi gerbong terlihat sesak. Para penumpang masih hilir-mudik ke sana ke mari. Entah apa yang membuat mereka tidak bisa diam dan duduk tenang di kursi mereka masing-masing. Belum lagi suara mereka takubahnya seperti tawon yang ingin berperang, begitu memusingkan. Pelan-pelan, kami melewati para penumpang sambil membawa tas carrier yang berat. Untuk melewati satu gerbong saja susahnya minta ampun. Sementara kami masih belum bisa memastikan apakah Klep dan Sai juga sudah masuk kereta atau belum. Benar-benar melelahkan.

Setelah sampai di kursi yang tertera di tiket kami, ternyata kami belum berhasil menemukan Klep dan Sai. Saya buru-buru menelpon mereka. Ternyata mereka berdua tertahan di pintu keberangkatan. Mereka tidak diizinkan masuk oleh petugas stasun lantaran kereta akan berangkat.

Kereta pun mulai mengaum pertanda akan berangkat. Perlahan, kami meninggalkan stasiun Senen beserta drama yang membuat kecewa. Berulang kali kami menawarkan mereka untuk mencari jadwal kereta berikutnya. Namun hanya Sai yang menggubrisnya. Ia memutuskan untuk mencari tiket kereta langsung ke stasiun Gambir. Sementara Klep, ia memilih mundur dan menyerah dengan keadaan yang merundungnya. Semakin kami memaksa, semakian ia menolak. Benar-benar keras kepala. Ouch! Namun apa boleh buat, antara Klep dan Lawu mungkin memang belum jodoh. Saya hanya bisa mengangkat bahu. (Bersambung)

Foto bersama sebelum perjalanan yang panjang.
Advertisements

Precognitive Dream

Deja Vu sebuah keadaan di mana kita merasa pernah mengalami sebuah momen atau kejadian pada masa lampau lantas kemudian terulang kembali. Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal demikian. Entah bagaimana cara kerjanya, sayapun tidak mengerti akan hal itu.

dreams_by_whisperfall
Source: https://msinop1.wordpress.com

Namun belakangan ini, saya mengalami journey semacam De Javu namun rasanya tidak tepat bila disebut De Javu. Journey yang saya maksud yaitu, saya beberapa kali datang ke sebuah tempat di mana tempat tersebut sudah pernah saya datangi sebelumnya. Datang dalam artian bukan perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruh.

Ya, beberapa tempat yang saya datangi ternyata sudah pernah saya kunjungi sebelumnya di alam mimpi. Barangkali agak cukup rumit menjelaskannya. Namun ini tidak mengada-ada. Saya ingat dengan sangat jelas bahwa memang tempat-tempat seperti savanna di gunung Lawu, jalanan menuju Cidahu, dan sebagainya memang pernah saya datangi di dalam mimpi. Persis sekali.

Berulang kali saya bercerita kepada teman-teman saya, “Oh, saya sudah pernah berkunjung ke sini di alam mimpi.” Teman-teman saya hanya menanggapi seadanya. Mungkin mereka tidak ingin berdebat untuk topik yang tidak begitu penting. Ah, mau apalagi. Saya tidak bisa memaksa mereka untuk mencerna journey yang hingga detik ini membuat saya begitu kebingungan.

Mimpi, sebuah dimensi yang memiliki sejuta misteri. Mengapa di bangku sekolah kita tidak pernah belajar tentang mimpi. Padahal setiap tidur mungkin kita mengalaminya. Namun kita abaikan seolah mimpi bukanlah sesuatu yang penting untuk dipelajari dalam perspektif kajian sains.

Akhirnya karena begitu penasaran, saya mencari informasi atas apa yang saya alami. Menurut artikel yang saya baca, journey yang saya maksud tadi disebut dengan istilah precognitive dream, future sight (penglihatan masa depan) atau second sight (penglihatan kedua).

Precognitive dreams are dreams that appear to predict the future through a sixth sense; a way of accessing future information that is unrelated to any existing knowledge acquired through normal means.” (Source: http://www.world-of-lucid-dreaming.com).

Berdasarkan artikel yang sudah saya baca, secara sederhana precognitive dream berarti mimpi yang benar-benar terjadi di masa depan.

Entahlah, saya rasa kurang tepat bila definisi tersebut sesuai dengan apa yang alami. Sejauh ini, kondisi yang saya alami hanya sebatas mimpi berkunjung ke tempat-tempat yang nantinya benar-benar saya datangi. Tidak lebih dari itu. Misalnya, tahun kemarin saya mimpi ke sebuah tempat seperti hutan bakau. Beberapa waktu kemudian saya memang ke tempat yang sama. Tepatnya di hutan bakau di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. Begitu seterusnya.

Ah, setelah dipikir-pikir lagi mungkin memang ruh saya senang bertualang ke tempat-tempat yang baru. Saya berpikiran positif semoga memang benar suatu saat impian saya menjadi seorang petualang benar-benar terwujud. Aamiin.

 

Jakarta,

21 Maret 2017