Hidup dalam Perisai Ketakutan


5083025373_e91ca47c1c_b
Source: Flickr

Dalam perjalanan pulang dari kantor, saya membaca sebuah buku yang diberikan oleh seorang teman, persis satu hari sebelum saya ulang tahun. Salah satu kutipan yang ada di buku tersebut membuat saya terpaku. Kurang lebih kutipannya berbunyi seperti ini, “Kita hidup dari satu ketakutan ke ketakutan lainnya.”

Agaknya benar apa yang penulis buku itu katakan. Ketakutan seolah memiliki ruang tersendiri di relung jiwa kita. Entah bagaimana caranya, ia selalu hadir kendati takpernah diundang. Ketakutan membuat hati kita merasa tidak nyaman, konsentrasi kita buyar, serta membuat napas kita tersengal-sengal.

Satu hari berikutnya, umur saya bertambah sementara jatah usia saya berkurang.

Sejak dulu, saya tidak pernah menganggap ulang tahun sebagai momen spesial, momen yang harus dirayakan dengan sepotong kue, meniup lilin, dan membuat permintaan. Pernah satu kali saya merengek pada mama agar ulang tahun saya dirayakan. Seingat saya ketika saya masih berusia belasan tahun. Mama membuat perayaan sederhana dengan mengundang beberapa orang tetangga. Saat itu, saya merasa bahagia.

Ketika di bangku sekolah, saya merasa beruntung karena lahir di bulan Juli. Biasanya, jika ada yang ulang tahun akan dikerjai oleh teman-teman sekelas. Misal, satu hari ia akan dicueki oleh teman-teman. Walau saya tahu itu hanya akting dan repetisi setiap tahunnya, tapi tetap saja teman yang sedang berulang tahun tertipu.

Jika Lonceng atau bel pulang sekolah sudah menggaung memenuhi setiap ruang kelas, maka siap-siaplah teman yang sedang berulang tahun tadi akan menjadi sasaran empuk oleh keisengan teman-teman sekelas. Hari itu bisa jadi hari yang paling menyebalkan. Lagi-lagi, saya beruntung tidak pernah mengalami hal itu di sekolah. Juli adalah waktu libur sekolah.

Saya pikir, tradisi mengerjai teman yang berulang tahun akan berhenti ketika kita sudah tidak menggunakan seragam sekolah. Namun saya keliru. Ketika di kampus, seorang teman saya yang sedang berulang tahun diikat oleh teman-teman lainnya di pohon. Ia pun hanya pasrah sembari tertawa geli. Beruntungnya, saya tahu apa yang dilakukan teman-teman saya itu hanya bercanda dan beruntungnya lagi teman saya yang berulang tahun tidak berkeberatan untuk dikerjai seperti itu. Jadinya, tidak ada unsur keterpaksaan dalam ritual ulang tahun kala itu. Anw, happy birthday!

Sejujurnya, saya menyukai pesta ulang tahun. Saya senang memberikan kejutan atau merencanakan pesta ulang tahun sederhana untuk teman-teman saya. Namun yang aneh, ketika saya ulang tahun, saya malah tidak ingin orang-orang merayakan ulang tahun saya. Terdengar tidak lazim. Namun begitulah adanya. Saya hanya tidak ingin merepotkan dan menjadi beban untuk orang lain. Biar, biarlah saya memaknai ulang tahun dengan cara saya sendiri.

Pun demikian, saya bersyukur untuk doa-doa baik yang disampaikan kepada saya secara langsung atau secara diam-diam. Saya sangat hargai itu. Doa adalah bentuk rasa sayang paling tinggi dari seorang manusia untuk manusia lainnya. Terima kasih wahai orang-orang yang lembut hatinya.

Di penghujung kepala dua, perasaan takut mulai menjalar melalui pembuluh darah. Ia mulai mengaktifkan hormon adrenalin oleh kelenjar adrenal. Harus saya akui, saya takut. Terkadang saya merasa di usia saya seperti sekarang, saya belum melakukan banyak hal. Saya merasa banyak sekali waktu terbuang dengan percuma. Saya merasa gagal dalam banyak hal. Saya khawatir tidak dapat memenuhi ekspektasi saya sendiri terhadap diri saya.

Di stasiun Gondangdia, saya terdiam.

Pandangan saya jauh ke depan, mata saya kosong. Suasana stasiun saat itu cukup ramai. Orang-orang berbondong-bondong memenuhi peron. Mereka takubahnya seperti sekawanan semut yang berebut masuk ke sarang. Dalam ramainya manusia, saya merasa sepi. “Kita hidup dari satu ketakutan ke ketakutan lainnya,” tiba-tiba kutipan itu melintas lagi di benak saya.

Terlalu banyak yang saya pikirkan, terlalu banyak hal yang membuat saya gusar. Kadang saya berpikir, apakah normal saya mengalami kondisi demikian? Pelan-pelan, saya coba pelajari perasaan yang mengganggu saya. Saya coba mendefinisikan perasaan takut yang mengusik ketentraman batin saya. Apa yang yang saya takutkan? Karir? Jodoh? Finansial? Kesehatan? Ternyata banyak.

Dalam kondisi demikian, mendadak saya lupa materi-materi motivasi yang biasa saya baca. Terkadang begitu mudah menasehati orang lain yang sedang dirundung masalah. Namun jika kita berada dalam kondisi yang sama, kita sendiri belum tentu bisa menerapkan apa yang sudah kita sampaikan kepada orang lain. Menyedihkan. Rasanya saat itu yang ingin saya lakukan hanyalah satu: menepi.

Mungkin ada baiknya saya rehat sejenak. Saya rasa ini isyarat dari Tuhan agar saya kembali pada-Nya, berkeluh kesah kepada Dzat yang tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

Sungguh, hingga kapanpun ketakutan akan selalu bersarang di hati manusia. Kita takut miskin, kita takut tidak dihargai, kita takut tidak mempunyai teman, kita takut mengecewakan, kita takut sakit, dan ketakutan-ketakutan lainnya.

Dalam hati yang remuk dan gelisah, saya berupaya menyerahkan semua ketakutan-ketakutan saya pada-Nya. Saya selalu percaya, Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang selalu berbuat baik, memanusiakan manusia, dan selalu ingat pada-Nya.

Satu pinta saya pada-Nya, “Penuhilah hati saya kosong.”

If you go deeper and deeper into your own heart, you’ll be living in a world with less fear, isolation and loneliness.” – Sharon Salzberg

Jakarta,

19 Juli 2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s