Photo Story: Membangun Mimpi Anak Indonesia

Oleh: Mahfud Achyar

Ada yang berbeda dengan pagi ini. Tidak seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini saya berada di Bandung. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak cerita yang indah untuk dikenang.

Sebelum subuh, saya sudah bangun untuk mandi. Padahal saya baru tidur sekitar pukul 2 dini hari. Namun apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain untuk menyegerakan diri bersiap-siap menyambut hari yang penuh arti.

Rabu, (22/2/2017), saya dan 20 relawan Kelas Inspirasi Bandung 5 mengunjungi siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki Bandung. Bagi saya pribadi, ini kali pertama saya menjadi relawan Kelas Inspirasi Bandung. Sebelumnya, saya hanya ambil bagian menjadi relawan Kelas Inspirasi Jakarta dan Kelas Inspirasi Depok. Saya sungguh bersemangat sebab akan bertemu dengan orang-orang baik yang tergabung dalam Kelompok 9 serta tentunya akan bertemu dengan adik-adik yang menyenangkan.

P2221202
Gambar 1. Dua orang siswa SD Komara Budi dan Pasir Kaliki tengah bersantai pada pagi hari menjelang seremoni pembukaan Kelas Inspirasi Bandung 5.

 

P2221242
Gambar 2. Suasana salah satu kelas di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Terlihat prakarya siswa-siswi dipajang menjadi hiasan di atas lemari buku.

21 relawan yang bertugas di SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki terdiri dari 13 relawan pengajar, 5 relawan fotografer, 2 relawan videografer, serta 1 relawan fasilitator. Hal yang menarik sebagian besar relawan berasal dari luar Bandung seperti Semarang, Jakarta, Tangerang, dan Tegal.

Ragam profesi juga membuat kelompok 9 menjadi sangat berwarna. Ada yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan, ada yang menjadi psikolog anak, ada yang menjadi rescuer, dan sebagainya. Satu tujuan kami datang ke Bandung khususnya ke SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki yaitu membangun mimpi anak Indonesia!

P2220901
Gambar 3. Seorang siswi berlari melewati lukisan bendera dari delapan negara di salah satu tembok sekolah.

Bagaimana cara membangun mimpi anak Indonesia?

Rasanya pertanyaan itu sangat sulit dijawab oleh kami yang memang bukan praktisi pendidikan. Kami adalah kumpulan para profesional yang mungkin menguasai bidang kami, namun belum tentu dapat mengajar dengan baik. Sebagian dari kami belum memiliki pengalaman mengajar sama sekali. Namun ada juga yang sudah beberapa kali mengikuti program Kelas Inspirasi.

Kendatipun pernah mengajar, kami tetap saja merasa gugup. Maka karena itu, kamipun harus mempersiapkan diri dengan baik. Jauh-jauh hari, kami sudah mempersiapkan materi ajar untuk memberikan yang terbaik yang kami punya untuk siswa-siswi di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki.

Lantas apa yang kami ajarkan kepada mereka? Apakah matapelajaran matematika yang kerapkali dianggap momok menakutkan oleh banyak siswa-siswi? Tidak! Tidak sama sekali! Kami mengajar tentang diri kami, profesi kami, dan proses kami hingga menjadi seperti sekarang. Untuk apa? Apakah untuk pamer atau ‘gaya-gayaan’? Tidak. Sungguh tidak sama sekali. Kami menyadari dengan sepenuhnya bahwa kami bukanlah yang terbaik. Kami barangkali tidak layak menjadi contoh atau role model.

Walau kami tidak sempurna, kami memiliki hasrat yang besar untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya yang bisa kami lakukan yaitu berbagi dengan mereka. Kami datang untuk berbagi mimpi. Sesederhana itu.

P2221074
Gambar 4. Herawati merupakan seorang direktur di sebuah perusahaan di Bandung. Di kelas, ia berpesan kepada siswa-siswi, “Kita bisa menjadi apapun yang kita mau.”

 

Kami yakin, niat yang baik tentu akan mendapat impresi yang baik pula. Begitulah yang kami rasakan ketika setengah hari berada di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Kami merasa senang disambut dengan sangat baik oleh kepala sekolah dan jajaran guru. Lebih penting dari itu semua, kami menyaksikan betapa siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki memiliki semangat belajar yang sangat baik. Mereka antusias bertanya, mereka bersemangat untuk menjadi orang hebat di masa depan. Tidak ada hal yang membahagiakan bagi kami selain melihat pelita harapan masih nyala di hati mereka.

P2221120
Gambar 5. Berlari menggapai cita-cita.

Teruslah berjuang menggapai cita-cita, wahai generasi harapan bangsa. Doa kami akan terus ada untuk kalian.

Terakhir, kami mengutip pesan Bung Hatta, “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

 

Advertisements

Hari-Hari Tanpa Sekolah

 

Catatan Relawan Kelas Inspirasi

Oleh: Mahfud Achyar

IMG_1818
Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi (Foto oleh: Yeni Suryati)

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan

Saya bergabung menjadi keluarga besar Kelas Inspirasi sejak tahun 2014. Namun sebelum menjadi relawan Kelas Inspirasi, saya beberapa kali mengikuti kegiatan sosial yang digagas oleh relawan Kelas Inspirasi Jakarta 4 yang bertajuk “Kunjungan Inspirasi”. Sama halnya dengan program Kelas Inspirasi, kegiatan Kunjungan Inspirasi bertujuan untuk memberikan motivasi kepada anak-anak untuk berani bermimpi, berani mengajar cita-cita mereka. Segmentasi Kunjungan Inspirasi yaitu anak-anak binaan di beberapa Taman Baca di Jakarta. Sejak mengikuti kegiatan tersebut, saya jatuh cinta dengan aktifitas sosial khususnya di bidang pendidikan.

Oleh sebab itu, ketika panitia Kelas Inspirasi Depok 2 membuka pendaftaran relawan, tanpa banyak pertimbangan saya putuskan untuk  mendaftar menjadi relawan pengajar (baca: inspirator). Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya saya menerima surat elektronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi. Saat itu, rasa senang membucah dalam jiwa. Dalai Lama XIV pernah berkata, “Happines is not something ready made. It comes from your own actions.”

Satu hari cuti, seumur hidup menginspirasi. Begitulah semangat yang berusaha dipelihari oleh para relawan Kelas Inspirasi. Kami meyakini bahwa kegiatan Kelas Inspirasi (selanjutnya disingkat KI) tidak hanya menginspirasi anak-anak sekolah dasar, melainkan juga menginspirasi kami, para relawan. Sebelum Hari Inspirasi, semua relawan berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dari panitia KI mengenai gambaran kegiatan pada Hari Inspirasi. Merinding. Saya merinding menyaksikan ternyata masih banyak orang-orang baik di bumi pertiwi ini. Mereka, saya menyebutnya invisible hands, adalah orang-orang yang nantinya akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Kapan? Entahlah. Saya sendiri tidak bisa membuat prediksi yang presisi. Namun satu hal yang patut saya yakini, Indonesia masih memiliki harapan. Para relawan, barangkali merekalah segelintir harapan itu. Selama harapan masih ada dalam setiap dada generasi muda Indonesia, saya yakin kondisi sulit sekalipun dapat ditangani dengan baik. Saya meyakini hal itu. Sungguh.

Suatu hari di kelas penelitian kualitatif, dosen saya berkata, “Indonesia itu surga untuk penelitian. Betapa tidak, hampir semua masalah ada di Indonesia.” Saya pun secara spontan menganggukkan kepala pertanda saya sependapat dengan dosen tersebut. “Iya, Indonesia itu banyak masalah! Iya, Indonesia itu belum bisa semaju Amerika atau Inggris! Iya, Indonesia itu banyak kurang sana-sini! Lantas, apakah saya hanya bisa menyalahkan kondisi pelik yang  dihadapi oleh negara saya sendiri?” tanya saya dalam hati.

John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat (1917-1963), pernah berkata, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Semua orang bisa berteriak untuk menyalahkan, namun tidak semua orang bisa untuk berbuat, untuk turun tangan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Terkadang saya lelah melihat, membaca, dan mendengarkan orang-orang yang sering sekali memproduksi konten yang mendestruksi bangsa ini di berbagai lini masa. Saya akui terkadang saya juga melakukan hal yang sama. Namun belakangan saya berpikir ulang, jika saya melakukan hal yang sama dengan mereka, maka saya tidak ada bedanya. Menyedihkan.

Ada satu kutipan yang sangat menginspirasi dalam hidup saya. “Kondisi buruk terjadi bukan karena banyaknya orang jahat di muka bumi ini. Namun karena orang-orang baik hanya diam dan berpangku tangan.” Bagi saya pribadi, barangkali menjadi relawan KI barangkali adalah salah satu cara untuk making the world a better place. I hope so!

Pengalaman menjadi relawan pengajar di SDN Depok 5 pada tahun 2014 membuka telinga, mata, dan hati saya bahwa permasalahan dunia pendidikan Indonesia sangatlah pelik dan kompleks. Jika ada teman yang menanyakan pendapat saya mengenai profesi guru, saya selalu katakan, “Percayalah menjadi seorang guru tidaklah mudah!”

Pagi itu, sebelum mulai mengajar di kelas 2, jantung saya berdegup sangat kencang. Saya gugup dan saya tidak yakin bahwa hari itu Dewi Fortuna berpihak kepada saya. Kondisi semacam itu sejujurnya sudah seringkali saya alami, misalnya, ketika ujian kelulusan atau mungkin wawancara beasiswa. Perasaan yang selalu sama: kacau. Namun saya berusaha menenangkan diri sembari hanya bisa bergumam, “Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berlalu.” All is well.

Menit-menit pertama mengajar merupakan momen yang sangat menyenangkan. Saya mulai berhasil menguasai suasana kelas. Kekhawatiran saya tentang sulitnya menjelaskan istilah-istilah Marketing Communication mampu saya atasi dengan cukup baik. Anak-anak terlihat antusias, mereka bertanya ini dan itu. Saya merasa senang karena mereka terlihat antusias mengikuti proses belajar mengajar. Namun selanjutnya apa yang terjadi? Chaos!

Seorang siswa laki-laki entah mengapa tiba-tiba menangis. Sontak suasana kelas berubah mencekam. Kondisi semakin tidak terkendali ketika ada dua orang siswa yang berkelahi, saling pukul di antara mereka berdua pun tidak bisa dielakkan.

Sementara itu, anak-anak yang dari tadi antusias mendengarkan penjelasan saya juga ikut berteriak, membuat gaduh semakin riuh. Beruntung saat itu saya didampingi oleh teman saya. Kami pun berbagi tugas untuk mendamaikan anak-anak yang berkelahi dan membuat suasana kelas tetap kondusif. Saya pun menghampiri anak yang tadi berteriak dan menangis.

Sambil terisak ia berkata, “Tas saya disembunyikan pak!” Saya berusaha menenangkannya, namun  ia meronta. Seakan ia tidak butuh pertolongan. Seorang anak menyahut, “Dia emang cengeng pak!” Mendengar hal tersebut, si anak semakin marah dan kesal. Kondisi demikian membuat saya kewalahan. Perlahan, saya coba tenangkan dia dan memintanya untuk kembali duduk di kursinya. Ia sempat menolak, namun akhirnya luluh setelah saya bujuk berulang kali. Melelahkan.

Selidik demi selidik, ternyata anak tersebut memang sering menjadi objek bullying di kelasnya. Hampir setiap hari, ada saja yang membuat ia marah dan kesal. Mengetahui hal tersebut, saya hanya bisa terdiam. Seketika memori masa lampau hadir kembali.

Source - i(dot)huffpost(dot)com
Girl comforting her friend (Source: i.huffpost.com)

Dulu, ketika saya di bangku sekolah dasar, bullying merupakan fenomena yang sudah biasa. Dalam bahasa Indonesia, bullying memiliki serapan kata yaitu perundungan. Ada banyak faktor mengapa seorang siswa bisa menjadi objek perundungan, misalnya ia memiliki rambut keriting, kulit hitam, atau hidung pesek. Tidak hanya lantaran fisik semata, objek perundungan bisa juga lantaran sang anak memiliki nama yang “unik” dan sebagainya. Terlepas dari hal itu semua, siapa pun punya potensi yang sama untuk menjadi objek perundungan di sekolah. Jika sang anak telah menjadi korban bullying, maka hari-hari di sekolah adalah hari-hari yang menyeramkan.

Tiga kali menjadi relawan KI, mulai dari tahun 2014 hingga 2016, saya menyaksikan fenomena bullying selalu ada, bahkan telah menjadi efek bola salju. Sayangnya, pemerintah, pihak sekolah, maupun orang tua siswa tidak begitu aware dengan kasus ini. Padahal menurut saya, bullying laiknya dementor yang menghisap kebahagiaan anak-anak yang mendambakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Bayangkan, setiap hari anak-anak korban bullying harus menghadapi kondisi psikologis yang buruk. Mereka diejek, mereka ditolak, mereka dihina, dan mereka dimusuhi. Sangat menyakitkan.

2 Mei 2016 lalu, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, saya kembali menjadi relawan KI yang ditempatkan di SDN Cijantung 07 Pagi. Jika pada KI sebelumnya saya menjadi relawan pengajar dan fasilitator, tahun ini saya beranikan diri untuk menjadi relawan dokumentator, khususnya fotografer.

Ketika sesi pergantian pengajar, para relawan berkumpul di laboratorium yang menjadi base camp kami. Salah seorang relawan pengajar, Gicha Graciella (27 tahun), tampak kesal setelah mengajar di kelas 5. Ia bercerita bahwa ada seorang anak yang menjadi objek bullying teman-temannya lantaran bapaknya bekerja sebagai tukang parkir. Ia terus diejek oleh teman-temannya. Tidak hanya sekali, namun berulang kali. Gicha pun tidak tinggal diam. Sebagai seorang guru saat itu, ia berusaha memberi pengertian kepada para siswa bahwa sesama teman tidak boleh saling menyakiti. Kepada kami, Gicha kesal karena ternyata bullying menjadi hal yang dianggap lumrah terjadi di sekolah.

Senada dengan  Gicha, saya pun bersepakat bahwa seharusnya isu bullying menjadi perhatian banyak pihak. Apalagi pada tahun 2015 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir data yang mengejutkan dunia pendidikan Indonesia. “Jumlah anak sebagai pelaku kekerasan (bullying) di sekolah mengalami kenaikan dari 67 kasus pada 2014 menjadi 79 kasus pada 2015.” (Sumber: Republika.co.id, 30 Desember 2015).

Lebih lanjut, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan data naiknya jumlah anak sebagai pelaku kekerasan di sekolah menunjukkan adanya faktor lingkungan yang tidak kondusif bagi perlindungan anak.

Sebagai manusia dewasa, barangkali kita sulit memasuki perasaan anak-anak yang menjadi korban bullying. Bahkan, anak-anak korban bullying juga sulit untuk mengutarakan perasaan mereka yang setiap harinya dicela oleh teman-temannya. Menurut saya, akibat buruk dari bullying adalah timbulnya rasa benci dari korban bullying kepada teman-teman yang menjahatinya. Bahkan lebih parah, mereka benci dengan sekolah, mereka mungkin mendambakan hari-hari tanpa sekolah. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, saya berharap kasus bullying dapat menjadi fokus pemerintah, pihak sekolah, dan keluarga. Bukankah sekolah akan lebih menyenangkan bila tidak ada bullying? STOP BULLYING!

Jakarta,

7 Juni 2016

 

 

 

 

 

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU

Bejo Juga Ingin Pintar Seperti Mereka!

1

Bekasi, 12 Juni 2012

SIANG itu, matahari merangkak naik tepat di atas ubun-ubun kepala. Seorang anak kecil mendongakkan kepalanya ke atas. Matanya pun menyipit karena cahaya mentari siang itu terlalu menyilaukan pandangannya. Sesekali, ia mengelap keringat di dahinya. Takjarang tetesan keringat mengucur jatuh di sudut kiri wajahnya. Kemudian, ia pun berjalan dengan ritme langkah yang cepat menuju sebuah bangunan yang berdiri kokoh. Anak laki-laki itu beristirahat dengan menyandarkan tubuhnya pada sebuah tiang di pelataran teras gedung yang dicat berwarna putih. Ia beristirahat tidak lama. Hanya sekitar 15 menit. Tepat pukul 13.00 WIB, ia harus menjajakan dagangannya kepada para mahasiswa yang baru selesai perkuliahan. Baginya, waktu singkat ketika jam istirahat sangatlah penting. Ia sangat berharap kripik dagangannya laku terjual. Tapi kadang, apa yang ia harapkan tidak sesuai dengan kenyataannya. Dagangannya tidak melulu laku. Ada masa ia harus menelan kecewa karena kripik dagangannya hanya terjual beberapa bungkus saja. Bocah lelaki itu pun pulang dengan sedikit perasaan bersalah. Ia khawatir ibunya di rumah kecewa karena dagangannya tidak laku terjual.

Anak laki-laki itu bernama Bejo. Ia masih duduk di bangku kelas 5 SD. Umur Bejo 10 tahun. Setiap harinya, selepas pulang sekolah, Bejo harus membantu menunjang perekonomian keluarga dengan berjualan di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Para mahasiswa di sana mengenal Bejo sebagai anak pintar dan murah senyum. Maka takheran jika banyak mahasiswa di universitas tersebut yang senang berbincang ringan dengan Bejo. Ada mahasiswa yang bertanya tentang prestasi Bejo di sekolah, ada juga yang bertanya lebih pribadi tentang kondisi perekonomian Bejo. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak membuat Bejo risih ataupun merasa malu. Bejo yang rendah hati pun tidak sungkan menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan kepadanya.

Bejo bercerita lepas tentang prestasinya yang gemilang di kelas. Ia sangat bersyukur. Kendati ekonomi keluarganya memprihatinkan, namun ia tetap berprestasi. Bejo selalu mendapatkan juara kelas dan menjadi murid kebanggaan guru-guru di sekolahnya. Namun, kadang ada kalanya Bejo menudukkan wajahnya ketika ia menceritakan tentang kondisi keluarganya terutama jika ia bercerita tentang bapaknya. Bejo sangat sayang pada bapaknya. Namun bapaknya telah meninggalkannya. Ia sendiri tidak tahu kemana bapaknya pergi. Satu hal yang ia tahu bahwa ia sekarang menjadi tulang punggung keluarga bagi ibu dan adiknya yang masih berumur 7 tahun.

Bejo menyadari bahwa ia memang tidak seberuntung teman-temannya. Jika teman-temannya memiliki waktu yang sangat banyak untuk belajar dan bermain, maka lain halnya dengan Bejo. Ia harus pandai-pandai mengatur waktunya untuk belajar dan berjualan. Pun begitu, Bejo tidak pernah mengeluh. Ia selalu bersemangat setiap harinya baik ketika ia harus menjadi seorang murid di sekolah, atau pun ketika ia menjadi penjual kripik di kampus.

Akan tetapi, kerap kali ada rasa gelisah yang mengusik ketenangannya. Bejo khawatir. Apakah ia bisa terus bersekolah dan bisa pintar seperti mahasiswa-mahasiswa yang menjadi pelanggan keripiknya. Bejo ingin sekali menjadi dokter. Cita-cita Bejo sangatlah sederhana, tapi sungguh mulia. Bejo ingin menyembuhkan sakit yang diderita ibunya. Ia berharap dan berdoa pada Tuhan agar ibunya bisa kembali sembuh seperti sedia kala. Namun, tetap saja perasaan khawatir itu terus menghantui Bejo. Bagaimana jika ternyata ia tidak bisa melanjutkan sekolah?

Kawan, itulah sepenggal kisah dari seorang bocah bernama Bejo. Tahukah kita, bahwa di bumi pertiwi ini mungkin ada ratusan bahkan ribuan anak Indonesia yang mengalami nasib serupa dengan Bejo. Lantas, apakah kita hanya terus berpangku tangan kemudian membuang muka? Bukankah mereka generasi bangsa? Bukankah mereka aset berharga? Bukankah mereka penerus estafet perubahan? Bagaimana jika ratusan atau bahkan ribuan Bejo di Indonesia ini tidak bisa meraih mimpi-mimpi mereka? Bagaimana jika mereka harus hidup di jalan sebagai pengamen atau mungkin sebagai peminta-minta. Ironis.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2010 persentase masyarakat Indonesia umur 15 tahun ke atas yang mengalami buta huruf mencapai 7.09 persen. Berdasarkan data tersebut, dapat kita ketahui bahwa secara kuantitas ada banyak calon penerus bangsa (usia produktif) yang tidak memiliki kesempatan untuk mengenyam manisnya pendidikan. Lantas yang menjadi pertanyaan, bagaimana nasib mereka? Setidaknya ada sekitar 155.965 anak Indonesia hidup di jalan dan sekitar 12 juta anak sekolah putus sekolah. Mereka menghabiskan masa kekanak menjadi pekerja di jejalanan kota-kota besar. Ada yang menjadi pengamen, penjual Koran, dan bahkan ada yang menjadi pengemis. Tingginya angka buta huruf yang dialami anak Indonesia tentunya inheren dengan kebodohan yang berdampak pada kemiskinan.

Potret suram nasib anak Indonesia tentunya membuat kita menghela napas dalam-dalam dan mengelus dada. Bagaimana mungkin bangsa yang sebesar ini luput memperhatinkan kondisi sang penerus bangsa? Sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas muslim, sebetulnya ada solusi untuk membantu mereka yaitu dengan mengeluarkan zakat.

Secara harfiyah, zakat berkonotasi pemberdayaan (Azzakah = Annama). Dalam surat At-Taubah ayat 103 Allah swt. berfirman: “Ambilah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketentraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” Keutamaan zakat tidak hanya untuk membersihkan harta namun juga bermanfaat sebagai penyubur jiwa dan pembawa berkah.

Sebetulnya umat Islam di Indonesia sudah mengetahui keutamaan zakat. Sayangnya, masih banyak umat Islam yang enggan menunaikan rukun Islam yang keempat ini karena pelbagai alasan. Ada orang yang berlimpah rejeki tapi enggan berzakat. Ah, andaikan semua muslim di Indonesia yang sudah wajib zakat mau mengeluarkan zakat, tentu Bejo sang penjual kripik tadi takusah khawatir memikirkan masa depan dan pendidikannya. Mungkin tidak ada lagi jutaan anak Indonesia yang putus sekolah dan hidup di jalanan.

Salah satu Lembaga Amil Zakat Nasional yang bertugas mendayagunakan zakat dari Muzaki (pemberi zakat) adalah PKPU. Zakat yang diterima dari Muzaki kemudian dikelola dan disalurkan kepada mustahik (penerima manfaat) berdasarkan prinsip pemberdayaan. Misalnya dalam bidang pendidikan, PKPU memberikan beasiswa pendidikan kepada pelajar yang kurang mampu. Hal ini penting dilakukan mengingat pendidikan merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi.

“Sebagai bangsa kita bukan hanya bercita-cita, tapi harus berjanji. Kita hanya diberi dua pilihan; melipat tangan atau turun tangan. Pendidikan adalah upaya kita memenuhi janji kemerdekaan.” (Anies Baswedan, Pendiri Yayasan Indonesia Mengajar).

Kita adalah bangsa yang sebesar. Maka jangan kerdilkan bangsa kita dengan ketidakpedulian. Di negeri yang permai ini ada berjuta anak yang ingin bersekolah dan ingin sekali mengenyam pendidikan. InsyaAllah dengan kita mengeluarkan zakat, Bejo dan anak Indonesia lainnya yang kurang mampu akan bisa meraih mimpi-mimpi mereka. Lihatlah, mereka tersenyum dengan senyuman terindah dan berlari menuju puncak kemandirian.

Memoles Wajah Pendidikan Indonesia

inline-dunce-new-tech-ckit

Bicara masalah pendidikan berarti bicara masa depan. Pendidikan merupakan salah satu langkah kita untuk menapaki hari esok dengan lebih baik. Bisa dikatakan bahwa pendidikan merupakan modal utama untuk membangun mimpi-mimpi pada masa depan. Manusia mengenal pendidikan ketika ia lahir ke dunia. Ketika kita mulai merangkak, berjalan, dan berlari, itu merupakan sebuah proses pendidikan yang cukup panjang. Bahkan kita harus melewati proses itu sampai sekarang. Lalu, apa sebenarnya makna pendidikan untuk kita?

Pendidikan merupakan rangkaian perjalanan hidup manusia yang harus dilalui. Dengan pendidikan, kita bisa memahami makna kehidupan dengan bijak. Kita bisa mengetahui apa yang ada di alam semesta ini. Apapun itu! Mulai dari berhitung, membaca dan menulis. Sebenarnya, tujuan dari pendidikan itu sendiri adalah ilmu. Karena dengan ilmu kita mampu merubah pola pikir kita menjadi lebih baik, mampu merubah dunia, dan mampu menjadi orang yang sukses. Namun sayang, tidak semua orang memahami bagaimana pentingnya pendidikan. Banyak orang berfikir bahwa pendidikan tidak terlalu penting. Sebenarnya apa yang membuat banyak orang berfikir klise seperti itu? Apakah karena sistem pendidikan kita (baca: Indonesia) yang salah? Atau karena pola pikir yang utopis? Dua kemungkinan tesebut bisa jadi sebagai faktor yang menghambat kemajuan pendidikan di Indonesia.

Pada tahap sekarang ini, Indonesia telah memasuki tahap pembangunanan dalam dunia pendidikan. Walaupun tampaknya dunia pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Namun di balik itu, dunia pendidikan di Indonesia telah mengalami sedikit peningkatan bila dibandingkan dengan dunia pendidikan yang sebelumnya. Sebenarnya masih banyak hal yang perlu di perbaiki dalam dunia pendidikan yang ada di Indonesia, antara lain sistem pendidikan yang ada sekarang ini.

Sistem pendidikan yang ada di Indonesia sepertinya perlu ada perumbakan. Dalam arti tidak merumbak untuk menghancurkan sistem pendidikan yang lama dengan mengganti metode yang baru, namun kita harus bisa sama-sama menutupi lobang-lobang yang ada dalam dunia pendidikan sekarang ini. Jika kita lihat, sistem pendidikan di Indonesia kurang berjalan dengan baik. Tepatnya sistem pendidikan di Indonesia masih buruk. Di lihat dari segi kurikulum, sistem pendidikan kita bisa dikatakan tidak konsisten.

Pada tahun 2004, sistem pendidikan di Indonesia menggunakan kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum ini bertujuan agar siswa dapat belajar mandiri. Namun kenyataannya, siswa dibebani dengan kurikulum tersebut. Banyak siswa yang merasa kewalahan karena setiap hari harus dipaksa menelan pelajaran. Padahal belajar itu merupakan sebuah proses yang menyenangkan. Jika proses itu di rancang dengan sistem yang menakutkan, tentunya ilmu tidak terserap dengan baik. Akibatnya, banyak siswa yang malah semakin malas, bahkan taksedikit siswa yang menyontek ketika ujian.

Jika kita berkaca pada negara maju, sebut saja Jepang, maka pendidikan di sana jauh lebih maju dan terarah. Di Jepang, siswa dididik dengan metode kemandirian tanpa ada paksaan. Efeknya, siswa-siswa di Jepang jauh lebih cerdas dan menikmati proses belajar.

Sebenarnya, pemerintah Indonesia telah berusaha untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada. Mulai dari merancang, merevisi, dan mengubah undang-undang pendidikan. Tapi upaya yang dilakukan belum menjadi wujud yang nyata sampai sekarang ini. Pendidikan di Indonesia masih tertinggal jauh. Bahkan Indonesia menempati posisi bawah untuk peringkat kualitas pendidikan. Lalu, siapa yang bertanggung jawab untuk memperbaiki sistem pendidikan yang ada? Apakah hanya tugas menteri pendidikan? Jawabannya adalah kita.

Kita memiliki peranan masing-masing untuk memperbaiki wajah pendidikan kita. Bukan suatu yang mustahil jika suatu saat nanti pendidikan di Indonesia, akan menjadi lokomotif percontohan pendidikan di dunia. Bahkan secara otomatis Indonesia akan terangkat martabatnya sebagai negara yang berpendidikan. Sekarang butuh waktu dan usaha yang maksimal untuk mencapai mimpi kita. Yakinlah bahwa wajah pendidikan di Indonesia akan cerah dan semakin bersinar.

Mahfud Achyar

Bandung, 28 Oktober 2008 pukul 13.13 WIB