Jangan Pernah Merasa Berjuang Sendiri


Pelican crossing at Thamrin Street Jakarta. Photo by Mahfud Achyar.

Jangan pernah merasa berjuang sendiri, yang lain juga sedang berjuang, tapi dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang memperlihatkan, ada juga yang menyembunyikan. Hanya kita tidak ada punya kuasa untuk mengetahui secara rinci permasalahan apa yang mereka hadapi. Ada yang memilih berbagi, ada juga yang memilih untuk menyimpan rapat-rapat. Lagi-lagi, semua kembali pada pilihan masing-masing orang. Tidak ada yang benar atau yang salah dalam perkara ini.

Kemarin, mungkin satu dari sekian banyak hari yang terberat dalam hidup saya. Ada masalah yang sedang saya hadapi dan sepertinya masalah tersebut berulang kali terjadi. Lalu, ditambah kemarin ada kejadian yang menguji kesabaran saya. Lengkap sudah.

Seperti biasa, setiap hari saya berangkat ke kantor menggunakan Transjakarta. Pagi itu, saat saya hendak tap in kartu uang elektronik, petugas Transjakarta mengatakan mesin untuk tap in mengalami gangguan. Jadi, harus menggunakan uang tunai sebesar dua ribu rupiah karena masih di bawah pukul 7 pagi. Sialnya, dompet saya saat itu kosong. Tidak ada uang sama sekali. Sementara lokasi mesin ATM cukup jauh. Penumpang lainya berhasil masuk karena mereka membawa uang tunai.

Saya punya pengalaman, sering ada penumpang yang tidak bisa tap in lantaran tidak membawa kartu uang elektronik atau saldo kartunya tidak cukup. Saya kemudian inisiatif menawari dia untuk menggunakan kartu saya hingga akhirnya ia berhasil masuk. Sebenarnya, saya agak ragu menulis hal ini khawatir saya mengingat-ingat kebaikan. Namun, pagi itu pikiran buruk terlintas di benak saya, “Mengapa saat saya lagi kesusahan tidak ada yang membantu?”

“Mas, mesin tap in yang rusak di halte ini saja atau semua halte?” tanya saya.

“Di halte ini saja mas,” jawabnya singkat.

Akhirnya dengan langkah yang berat, saya ke luar halte. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba terlintas pikiran, “Mengapa saya tidak bertanya kepada penumpang lain? Adakah yang bersedia meminjamkan kartu uang elektronik sehingga saya bisa masuk?” Namun anehnya, hal itu tidak saya lakukan. Saya memilih untuk ke luar halte dan berjalan menuju halte lainnya dengan perasaan kesal.

Berjalan beberapa meter, akhirnya saya tiba di halte berikutnya dan berhasil tap in. Di dalam Transjakarta, saya mengeluarkan earphone kemudian memutar playlist lagu-lagu favorit saya di Spotify. Saya melihat ke arah jendela. Lirih saya berkata, “Mengapa hari ini terasa berat?” Saya menghembuskan napas pelan-pelan, berharap dapat berpikir lebih jernih.

Lalu, saya melihat para penumpang Transjakarta. Ada yang sedang memainkan ponsel pintar, ada yang sedang tertidur, dan ada juga yang sedang melamun. Entah dari mana asalnya, tiba-tiba muncul lagi lintasan pikiran. Katanya, “Jangan pernah merasa berjuang sendirian, yang lain juga sedang berjuang.”

Orang-orang di dalam Transjakarta, bisa jadi memiliki masalah yang jauh lebih berat dibandingkan masalah yang sedang saya hadapi. Penumpang yang tertidur, barangkali ia ingin melupakan sejenak masalah rumah tangga yang sedang ia alami. Penumpang yang sedang memainkan ponsel pintar, barangkali ingin melepas penat dan stres lantaran pekerjaan kantornya takkunjung rampung. Penumpang yang sedang melamun, barangkali ia baru saja kehilangan orang yang dicintai.

Setelah melihat wajah para penumpang Transjakarta, saya berpikir bahwa perasaan sedih, kecewa, dan marah itu hal yang biasa. Tidak ada yang salah dengan perasaan-perasaan itu. Mereka akan terus menyapa kita. Mereka akan terus hadir menjadi bagian dari emosi kita. Mungkin kita tidak perlu mengusir mereka. Katakan pada mereka, “Baiklah, kali ini kamu boleh hadir, tapi jangan lama-lama ya. Semoga bisa pergi secepatnya.”

Begitulah kisah hidup anak manusia. Selalu ada dua cerita untuk setiap kehidupan; kehidupan yang kita jalani dan kehidupan yang kita ceritakan kepada orang lain. Tidak ada yang betul-betul tahu kehidupan seseorang. Kita mungkin bisa berasumsi, kita mungkin bisa menerka-nerka. Namun, cerita utuh dari kehidupan manusia hanya ia dan Tuhan-lah yang tahu. Bisa jadi, di balik senyuman, ada rasa resah dan gelisah. Bisa jadi juga dalam diam seseorang, ia sedang berbisik, “Dunia ramahlah padaku.”

Everybody has their own problems. No matter how big you think yours are, there is someone else that has bigger problems or different problems.” – Josh Hutcherson.

Jakarta,

5 November 2019

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s