Precognitive Dream

Deja Vu sebuah keadaan di mana kita merasa pernah mengalami sebuah momen atau kejadian pada masa lampau lantas kemudian terulang kembali. Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal demikian. Entah bagaimana cara kerjanya, sayapun tidak mengerti akan hal itu.

dreams_by_whisperfall
Source: https://msinop1.wordpress.com

Namun belakangan ini, saya mengalami journey semacam De Javu namun rasanya tidak tepat bila disebut De Javu. Journey yang saya maksud yaitu, saya beberapa kali datang ke sebuah tempat di mana tempat tersebut sudah pernah saya datangi sebelumnya. Datang dalam artian bukan perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruh.

Ya, beberapa tempat yang saya datangi ternyata sudah pernah saya kunjungi sebelumnya di alam mimpi. Barangkali agak cukup rumit menjelaskannya. Namun ini tidak mengada-ada. Saya ingat dengan sangat jelas bahwa memang tempat-tempat seperti savanna di gunung Lawu, jalanan menuju Cidahu, dan sebagainya memang pernah saya datangi di dalam mimpi. Persis sekali.

Berulang kali saya bercerita kepada teman-teman saya, “Oh, saya sudah pernah berkunjung ke sini di alam mimpi.” Teman-teman saya hanya menanggapi seadanya. Mungkin mereka tidak ingin berdebat untuk topik yang tidak begitu penting. Ah, mau apalagi. Saya tidak bisa memaksa mereka untuk mencerna journey yang hingga detik ini membuat saya begitu kebingungan.

Mimpi, sebuah dimensi yang memiliki sejuta misteri. Mengapa di bangku sekolah kita tidak pernah belajar tentang mimpi. Padahal setiap tidur mungkin kita mengalaminya. Namun kita abaikan seolah mimpi bukanlah sesuatu yang penting untuk dipelajari dalam perspektif kajian sains.

Akhirnya karena begitu penasaran, saya mencari informasi atas apa yang saya alami. Menurut artikel yang saya baca, journey yang saya maksud tadi disebut dengan istilah precognitive dream, future sight (penglihatan masa depan) atau second sight (penglihatan kedua).

Precognitive dreams are dreams that appear to predict the future through a sixth sense; a way of accessing future information that is unrelated to any existing knowledge acquired through normal means.” (Source: http://www.world-of-lucid-dreaming.com).

Berdasarkan artikel yang sudah saya baca, secara sederhana precognitive dream berarti mimpi yang benar-benar terjadi di masa depan.

Entahlah, saya rasa kurang tepat bila definisi tersebut sesuai dengan apa yang alami. Sejauh ini, kondisi yang saya alami hanya sebatas mimpi berkunjung ke tempat-tempat yang nantinya benar-benar saya datangi. Tidak lebih dari itu. Misalnya, tahun kemarin saya mimpi ke sebuah tempat seperti hutan bakau. Beberapa waktu kemudian saya memang ke tempat yang sama. Tepatnya di hutan bakau di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. Begitu seterusnya.

Ah, setelah dipikir-pikir lagi mungkin memang ruh saya senang bertualang ke tempat-tempat yang baru. Saya berpikiran positif semoga memang benar suatu saat impian saya menjadi seorang petualang benar-benar terwujud. Aamiin.

 

Jakarta,

21 Maret 2017

 

Advertisements