Dua Sisi Rembulan


IMG_20171125_120531_374
Stop this train. Photo by Mahfud Achyar.

Saya selalu jatuh hati dengan kata-kata. Entah sejak kapan saya menyadarinya. Mungkin sejak kali pertama saya bisa mengeja. Saya lupa bagaimana awalnya saya bisa mengeja hingga akhirnya bisa membaca. Seingat saya, ketika mendaftar sekolah dasar, saya diminta mengeja oleh kepala sekolah. Lalu dengan mudah saya mengeja setiap kata yang tertera pada buku ajar “Lancar Berbahasa Indonesia”.

Ketika kelas 1 sekolah dasar, guru bahasa Indonesia meminta saya untuk membaca kalimat di papan tulis. Banyak teman-teman yang belum lancar membaca. Tapi bagi saya, membaca merupakan pekerjaan yang paling mudah untuk anak usia enam tahun.

Sejak kemampuan membaca saya meningkat pesat, saya mulai tertarik dengan sastra. Mudah sekali bagi saya untuk melahap cerita-cerita pendek dalam durasi waktu yang sangat singkat. Tidak hanya sekadar membaca, saya juga memahami cerita yang saya baca. Membaca cerita pendek tidak pernah menjadi beban. Malah menjadi kesenangan karena saya menemukan dunia baru, dunia yang belum pernah saya kenal sebelumnya.

Bayangkan 26 abjad bisa melahirkan ratusan, ribuaan, bahkan jutaan gagasan. Bahkan, kata-kata baru muncul setiap tahunnya. Huruf seolah memiliki sihir yang dapat mengubah persepsi, membangkitkan imajinasi, hingga bisa membuat depresi. Beruntung bagi mereka yang dapat menggunakan kekuatan kata-kata untuk mencerahkan orang lain, membuat orang tergerak, membuat orang berpikir. Bukankah itu menakjubkan?

Saya pernah membaca kutipan dari seorang penulis yang bernama Salim A. Fillah pada bukunya yang berjudul “Dalam Dekapan Ukhuwah”. Buku tersebut saya baca ketika masih menjadi mahasiswa. Ada kutipan pada buku tersebut yang sangat membekas hingga saat ini. Isi kutipannya seperti ini, “Setiap orang ibarat bulan. Memiliki sisi kelam yang takpernah ia tunjukkan pada siapapun. Pun sungguh cukup bagi kita memandang sejuknya bulan pada sisi yang menghadapi bumi.”

Belakangan, saya teringat kembali kutipan tersebut lantaran sangat merepresentasikan pandangan saya terhadap bagaimana kita menilai orang lain. Manusia, takubahnya seperti rembulan. Ya, setiap hari kita mungkin dapat melihat bulan. Bahkan pada siang hari sekalipun. Kita juga terbiasa mengamati delapan fase bulan. Mulai dari dari fase bulan baru (new moon), hilal awal bulan/bulan sabit awal (waxing cresent), paruh awal (first quarter), cembung awal (waxing gibbous), bulan purnama (full moon), cembung akhir (wanning gibbous), paruh akhir (third quarter), hingga hilal akhir bulan/bulan sabit akhir (wanning cresent).

Padahal, di luar angkasa bentuk bulan tetaplah sama. Bulat. Namun karena kita melihatnya dari bumi, maka yang terlihat bentuk bulan yang berubah-ubah. Itulah yang dimaksud dengan fase bulan, perubahan bentuk bulan jika diamati dari bumi. Hal tersebut terjadi lantaran bulan mengelilingi bumi dari barat menuju timur yang membutuhkan waktu 29,5 hari.

Menggunakan mata telanjang atau teleskop sekalipun, kita hanya dapat melihat bulan dari satu sisi. Sisi belakangnya? Penuh misteri. Menggunakan perumpamaan bulan untuk menggambarkan seseorang, menurut saya itu hal yang jenius. Perumpamaan yang mudah diterima.

Manusia adalah makhluk yang kompleks karena terdiri dari sel-sel yang juga kompleks dan juga bekerja secara kompleks. Tapi untuk menyederhanakan itu semua, ada dua sisi pada manusia yang akan selalu ada; sisi kelam dan sisi terang. Sayangnya, sisi terang lebih banyak mendapatkan paparan dibandingkan sisi kelam. Orang-orang lebih senang memperlihatkan hal-hal yang indah seperti prestasi dan materi. Maka takheran kini kian banyak bermunculan media sosial untuk memfasilitasi orang-orang untuk memamerkan apa yang disebut sisi terang.

Untuk sisi kalam, seberapa banyak orang yang mau mengumbarnya? Walau ternyata ada juga orang-orang yang memberanikan diri untuk bercerita tentang sisi tergelap dalam hidup mereka. Tapi jumlah mereka tidak banyak. Banyak alasan mengapa sisi gelap tidak terpapar secara masif dibandingkan sisi terang. Ada perasaan malu, perasaan bersalah, dan perasaan-perasaan buruk lainnya. Pada akhirnya, sisi kelam hanya akan disimpan untuk diri sendiri atau mungkin diceritakan untuk orang-orang yang memang layakan untuk dipercaya.

Pun begitu, setiap manusia memiliki sisi kelamnya masing-masing, bukan? Beberapa di antaranya juga mungkin memiliki sisi abu-abu. Namun bukankah itu hal yang biasa? Manusia lahir dengan ‘ketidaksempurnaan’. Semua memiliki cacat, semua pernah berbuat salah.

Akan tetapi, jika kita terlalu fokus pada sisi kelam seseorang, maka kita abai bahwa ia juga memiliki sisi terang. Bisa jadi, setiap hari dia sedang berjuang untuk menyinari sisi gelapnya dengan berbuat baik—dan hal tersebut tidak ia umbar di media sosial.

Bicara tentang media sosial memang selalu melelahkan. Ilustrator Citra Marina pada bukunya yang berjudul “You’re Not As Alone As You Think: The Stories of Choo Choo” menulis pesan pengingat untuk kita semua. Menggunakan karakter Choo Choo yang sedang melihat ponsel pintar, Citra menyelipkan pesan, “Imagine seeing someone only through a small, tiny window… and thinking that you know their entire life.”

Media sosial secara sadar tidak sadar membuat kita mudah memberikan penilaian terhadap orang lain, mudah juga menghakimi. Sayapun sering begitu. Rasa-rasanya, mudah sekali membaca karakter seseorang dari feed mereka, lalu berkata, “Ah, dia orangnya seperti ini….bla…bla…bla…”. Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu seseorang sampai kita berada pada sepatu yang sama dengannya. “Don’t judge anyone until you have walked a mile in their shoes.”

Memang tidak mudah menerima seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Manusia akan selalu dihadapi dengan pertarungan-pertarungan sengit melawan perasaan yang tidak mengenakkan. Tapi bukankah lebih menenangkan bila kita lebih fokus pada sisi terang layaknya kita memandang bulan pada sisi yang menghadapi bumi?

 

Jakarta,

17 Januari 2020.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s