Menyimpan Masalah di Kantong Celana

IMG_5634
Autumn in Yogyakarta (2017) Photo by. Mahfud Achyar

“Aku amati, kamu seperti tidak punya masalah ya? Dari tadi, aku sudah cerita banyak tentang masalah-masalah yang hinggap di hidupku. Masalah pekerjaan, masalah asmara, dan masalah keluarga. Aku heran masalah datang silih berganti dalam hidupku,” ujar seorang sahabat mengganti topik pembicaraan malam itu, usai pulang kantor.

Saya pun langsung terperanjak. Sungguh, pertanyaan spontan yang keluar dari mulut sahabat saya tersebut membuat saya bingung. Seketika lidah saya kelu. Padahal, sejak tadi kita hanya fokus membahas permasalahan-permasalahan yang tengah ia hadapi. Lantas kemudian ia balik bertanya kepada saya, “Masalah kamu apa?”

Sejujurnya, saya bukanlah tipikal manusia yang ekspresif terutama ketika sedang menghadapi masalah. “Ekspresi muka kamu begitu-begitu saja ya?” timpal sahabat saya tadi.

Hmmm sepertinya itu benar. Eskpresi muka saya ya begitu-begitu saja. Tidak ada perubahan raut muka yang begitu mencolok. Jika saya bercermin, terkadang saya sulit membedakan eskpresi muka saya ketika kaget, cemas, marah, atau sedih. Mungkin tipikal manusia dengan minim ekspresi.

Bila saya dirundung masalah, saya jarang berbagi pada siapapun. Sejak dulu, saya tidak terbiasa curhat. Jika ada hal yang mengganjal di hati saya, saya hanya bisa diam, menyimpan rapat-rapat perasaan saya sesungguhnya. Bila terpaksa berbagi, saya hanya mengutarakan bagian ‘kulitnya’ saja. Mungkin ada beberapa sahabat yang membuat saya nyaman untuk bercerita banyak hal. Pada mereka, saya mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan mendengar keluh kesah saya.

Dulu, saya berpikir, orang yang sering curhat adalah orang yang lemah. Seolah mereka tidak kuasa menanggung beban yang menggelayut di pundak mereka.

Takdinyana, ternyata prinsip kuno seperti itu terus saya pupuk dan saya rawat. Saya enggan untuk bercerita kepada siapapun, termasuk kepada keluarga saya sendiri. Saya benar-benar setertutup itu. Seolah tidak mengizinkan seorangpun tahu apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang saya harapkan. Saya hanya bercerita kepada Tuhan perihal perasaan saya. Sebab, hanya Dia yang tahu apa yang sesungguhnya ada di dalam hati dan pikiran saya.

Akan tetapi, sekarang saya menyadari bahwa sesungguhnya kita perlu menyalurkan emosi kita kepada orang lain—entah itu sahabat, pasangan, atau keluarga. Kehadiran mereka mungkin tidak serta merta menyelesaikan permasalah yang kita alami. Namun ketika berbagi, hati kita merasa lega. Setidaknya kita mulai membuka diri bahwa ada orang-orang yang bisa kita percaya. Tanpa kepercayaan, kita hanyalah sekumpulan manusia yang hatinya diliputi prasangka dan curiga.

“Tidak ada masalah yang terlalu besar. Tenang, sejauh ini semuanya masih bisa ditangani dengan baik,” jawab saya diplomatis.

Kala itu, saya sama sekali tidak bermaksud berbohong kepada sahabat saya. Memang, ada beberapa masalah yang sedang saya hadapi. Namun, setelah mendengar curhat darinya, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi tidak ada artinya.

“Setiap orang punya masalah. Bedanya hanya terletak dari cara kita menghadapinya,” kata sahabat saya yang lainnya yang bernama Dea Tantyo pada suatu ketika di Jatinangor.

Buah pikiran Dea selalu melekat di benak saya hingga saat ini. Saya amati, memang benar adanya apa yang dikatakan Dea. Setiap orang punya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah.

Ada beberapa orang bila memiliki masalah atau bermasalah dengan orang lain, mereka lantas mengumbarnya di jejaring media sosial. Sayapun bingung entah apa tujuan mereka? Mungkin untuk melampiaskan kekesalalan atau bisa jadi untuk menyindir orang yang sedang bertikai dengannya. Saya bahkan pernah menjadi orang yang disindir atau merasa tersindir ketika hubungan saya dengan teman saya sedang tidak harmonis.

Kerap kali saya juga ingin membalas sindir-menyindir di media sosial. Namun kemudian saya berpikir, “Jika saya melakukan hal yang sama, lantas apa yang membedakan saya dengannya? Saya tidak membuat perbedaan sama sekali,” saya membatin.

Seorang dosen saya yang bernama Pak Irwansyah pernah berpesan ketika sesi perkuliahan di lantai 22 di daerah bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih pesannya seperti ini, “Ketika kalian masuk ke dunia digital. Maka berhati-hatilah. Sebab, apa yang kalian tulis dan konten yang kalian produksi akan terekam dengan baik.”

Malam itu, usai perkuliahan, saya mulai merefleksi diri agaknya banyak hal buruk sudah saya tinggalkan di media sosial. Banyak sahutan yang takberguna dan banyak keluh kesah yang tidak pada tempatnya.

Dulu, saya sangat reaktif. Mudah sekali mengomentari apapun yang tidak sejalan dengan pemikiran saya. Semuanya saya tumpahkan di media sosial. Jika ada masalah personal pun, saya juga terkadang curhat colongan di media sosial dengan menggunakan ragam gaya bahasa agar pesannya terlihat samar.

Jika dipikir-pikir lagi, apa gunanya saya curhat di media sosial?Agar dunia tahu saya sedang sengsara? Agar dunia bersimpati kepada saya? Padahal, ketika saya curhat di media sosial, orang-orang yang membaca curhatan saya tidak benar-benar ingin membantu saya. Mereka mungkin hanya penasaran terhadap masalah saya. Sisanya hanya akan mencibir bahwa saya tidak cukup berani menyelesaikan masalah secara langsung di dunia nyata.

Seharusnya kita lebih selektif untuk berbagi resah. Seperti perkataan Charity Barnum, “You don’t need everyone to love you, Phin, just a few good people”.

Sungguh, berulang kali, kita selalu diingatkan bahwa Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Jika sedang tidak punya masalah berat, nasehat tersebut begitu mudah saya terima. Namun sialnya ketika saya dirundung masalah berat, saya merasa Tuhan tidak adil kepada saya. Mengapa dari sekian milyar manusia di bumi ini sayalah yang terpilih untuk menanggung beban berat (dalam perspektif saya)? Seharusnya saya berlapang dada bahwasanya masalah seharusnya membuat saya kian kuat, kian naik kelas, dan kian hebat.

Jika saya mendapatkan masalah atau ujian yang sama, artinya saya belum layak naik level ke level yang lebih tinggi. Kata Nicole Reed, “Sometimes the bad things that happen in our lives put us directly on the path to the best things that will ever happen to us.”

Tentang menyikapi masalah secara bijak, beruntungnya saya di kelilingi oleh orang-orang yang hebat. Pada mereka saya belajar bahwa apapun masalah yang sedang kita hadapi, percayalah akan ada cara untuk menyudahinya. Semuanya akan dipergilirkan. Adalah waktu yang menjawab segalanya. Lambat atau cepat semuanya kini terasa relatif.

Jika masalah takubahnya seperti secarik kertas yang sudah remuk, maka mungkin ada baiknya kita menyimpannya di kantong celana. Suatu saat, kertas remuk itu akan kita buang. Ia akan pergi bersama aliran air hujan yang turun di penghujung April.

         Jakarta, 16 April 2018

Advertisements

On This Day

facebook-on-this-day-136397061517503901-150325095552

Setiap hari, Facebook selalu mengingatkan saya untuk membuka kenangan yang terjadi di masa lampau, baik berupa status, foto, video, maupun tautan.

Kenangan-kenangan tersebut terjadi pada tanggal dan bulan yang sama, hanya tahun saja yang berbeda. Logaritma yang dibangun Facebook memang patut diacungi jempol sebab kini setiap orang dapat bernostalgia atas kenangan-kenangan yang telah terjadi. Saya bergabung sebagai pengguna Facebook sejak tahun 2008. Rupanya banyak hal yang sudah terjadi: suka, duka, dan tentunya sedikit ke-alay-an.

Saya sering membuka notifikasi “On This Day”. Saya amati, ada beberapa status yang sepertinya perlu dihapus, ada foto-foto yang perlu di-untag (apa padanan bahasa Indonesia yang tepat untuk istilah ini?), serta ada juga tautan berita-berita yang nampaknya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini.

Yepp, seperti itulah cara kerja logaritma “On This Day” yang ditawarkan oleh Facebook. Saya berhak memilih mana kenangan yang seharusnya dihapus, mana pula yang patut untuk dipertahankan dan terus diingat. Mengutip perkataan Kurt Vonnegut, “We are what we pretend to be, so we must be careful about what we pretend to be.”

Sama halnya dengan hidup, kita mungkin tidak bisa mengubah masa lalu. Sebab kita tidak ada kuasa untuk itu. Kita tidak memungkinkan untuk meminjam alat chronosphere seperti yang digunakan Alice saat melakukan perjalanan waktu (travel time). Namun kabar baiknya, kita dapat memilih dan menentukan apa yang mau kita lakukan saat ini dan masa depan.

Intinya, kita adalah tuan untuk hati dan pikiran kita. Jadi, pergunakanlah pilihan hidup kita dengan baik agar kelak kita tidak perlu menyesal atas pilihan-pilihan hidup yang sudah kita jalankan.

Be wise, be brave!

Jakarta,
23 Februari 2018.

Kesempatan Terakhir

Kano (2014)

Bagi saya, pelajaran hidup bisa datang di mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa saja. Hari ini contohnya. Saya mendapatkan pelajaran hidup dari film yang baru saja saya tonton. Judul film tersebut yaitu “Kano”, sebuah film yang dirilis pada tahun 2014 yang bercerita tentang tim baseball SMA di Taiwan yang melakukan perjalanan ke Jepang pada tahun 1931 untuk mengikuti kompetisi Japanese High School Baseball Championship di stadion Koshien.

Anggota klub baseball Kano berasal dari berbagai etnis yang terdiri dari orang-orang asli Taiwan, pemain Han Taiwan, dan Jepang. Kano hanyalah klub baseball kecil di daerah bagian selatan Taiwan yang tidak populer. Bisa dikatakan, Kano minim prestasi. Namun, berkat asuhan pelatih bernama Hondo, perlahan Kano menjelma menjadi klub yang mulai dibicarakan dan mulai mendapat ruang di hati para penggemar baseball.

Singkat cerita, Kano berhasil menjadi perwakilan Taiwan pada ajang kompetisi bergengsi di Koshien Jepang. Sayangnya, Kano tidak berhasil membawa pulang gelar juara. Pun begitu, suara tepuk tangan riuh rendah menggaung di setiap sudut di stadion Koshien. Para penonton terbawa suasana haru usai menyaksikan pertandingan yang dramatis: penuh luka dan air mata.

Kendati Kano gagal menjadi pemenang, namun para penonton menjadi saksi betapa kegigihan, kerja keras, dan pengorbanan merupakan hal yang terindah dari sebuah proses menuju kesuksesan. Kano, sebuah klub yang tidak terkenal, jauh dari sorotan media, namun pada puncak pertandingan menyuguhkan sebuah pertunjukan yang akan selalu dikenang. Collateral beauty; it’s the beauty on the inside, now how you look but how you act and feel — basically your personality.

Saya tidak ingin bercerita banyak tentang film Kano. Namun dari sekian banyak adegan di film tersebut, ada adegan yang cukup membekas di benak saya serta menyentuh hingga ke relung jiwa. Adegan yang saya maksud yaitu ketika seorang guru bernama Hamada menjelaskan kepada anak-anak muridnya (anggota klub Kano) tentang filosofi pohon pepaya miliknya.

“Aku akan memberitahumu rahasia tentang pepaya ini. Tahun lalu, aku menanam paku pada akar setiap pohon pepaya. Setelah itu, setiap pohon menghasilkan buah yang besar dan lezat. Itu karena paku dipalu ke akar yang membuat pohon berpikir itu sekarat. Jadi berusaha sangat keras untuk menghasilkan buah yang manis untuk memastikan reproduksi sendiri. Ini adalah rahasia hidup atau mati yang membuat pohon pepaya meletakkan segala sesuatu ke dalam buahnya,” jelas Hamada.

Menonton adegan tersebut saya terdiam dan berupaya meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Hamada. Akal logis saya berusaha menolak argumen yang dilontarkan Hamada. Namun satu sisi, batin saya mengiyakan apa yang disampaikan Hamada benar adanya. Terkadang dalam hidup, tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua atau kesempatan ketiga.

Seringkali kita dihadapkan hanya satu pilihan, satu-satunya jalan, dan satu-satunya kesempatan. Jika kita abai, kita hanya akan berujung pada penyelesan yang tiada berkesudahan. Semua orang pernah mengalami itu, termasuk saya pribadi.

Dulu, ketika di bangku SMA, saya ditunjuk oleh guru Bahasa Indonesia sebagai perwakilan sekolah untuk lomba baca puisi. Saya berhasil mengalahkan teman saya yang menjadi saingan terberat saya. Kata guru saya, “Penghayatan saya bagus.” Ia yakin bahwa saya bisa membaca puisi dengan sangat baik.

Malam sebelum perlombaan, saya mendengarkan kaset kumpulan puisi dari para penyair legendaris seperti Chairil Anwar dan W.S. Rendra. Dari sekian banyak karya Chairil Anwar, saya memilih puisi yang berjudul “Aku” untuk materi lomba. Malam itu, saya yakin sekali akan menyuguhkan penampilan terbaik. Namun sayang, keyakinan saya tidak dibarengi dengan kerja keras. Ya, saya hanya sebatas mendengarkan Chairil membacakan puisi kemudian berlatih ala kadarnya.

Sejujurnya, saya tidak begitu serius mempersiapkan diri agar bisa menang lomba baca puisi. Padahal, saya sudah mendapatkan kepercayaan dari guru sebagai perwakilan sekolah. Saya terlalu meremehkan lomba baca puisi dengan tidak berlatih secara serius. Hasilnya, jelas saya tidak menjadi juara. Memalukan.

Saya malu bukan karena saya tidak menang. Namun saya malu pada diri saya sendiri karena telah menyia-nyiakan peluang yang saya dapatkan ketika di bangku SMA. Padahal, itu adalah kesempatan baik sekaligus kesempatan terakhir yang saya miliki sebelum lulus sekolah. Andai saja, saat itu saya berlatih dengan keras, serius, dan tekun mungkin ceritanya akan berbeda. Jikapun saya memang kalah, tapi setidaknya saya akan berani berkata, “Ya, saya sudah berupaya maksimal, terbaik semampu saya. Jika tidak menang, tidak masalah. Saya begitu menikmati proses perjuangan yang melelahkan. Itu sudah membuat saya bahagia.”

Sejak kejadian itu, saya belajar tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan. Jika ada kesempatan baik dan layak diperjuangkan, saya akan bersungguh-sungguh. Jikapun gagal, saya tidak harus menyesalinya. Sama seperti pohon pepaya yang dipaku tadi, setidaknya saya sudah memberikan yang terbaik, sebisa saya, semampu saya. Untuk hasil, biarkan Tuhan yang menjawabnya.

Jakarta,

29 Juli 2016

Nusa Indah dan Memori Masa Kecil

2018-02-0312.45.311
Mussaenda (Nusa Indah)

Hari ini, usai makan siang, saya memutuskan untuk bergegas ke mushola yang lokasinya persis berada di tengah kompleks Wisma Tenang Kementerian Dalam Negeri di Puncak, Bogor.

Ketika hendak wudhu, sepasang mata saya tertuju pada bunga berwarna merah yang tumbuh sumbur di pekarangan mushola. Agaknya, saya pernah melihat bunga tersebut di suatu tempat.

Ah ya, itu bunga yang sama dengan bunga yang pernah ditanam mama di pekarangan rumah.  Bunga yang memiliki tekstur lembut pada daunnya tersebut merupakan salah satu bunga favorit mama saya. Hampir setiap hari, mama selalu menyiramnya setiap pagi dan petang. Ia berharap bunga kesayangannya selalu mekar sehingga selalu menarik hati untuk dipandang tanpa perasaan jenuh.

Waktu itu saya masih kecil. Saya tidak tahu banyak nama-nama dan jenis-jenis bunga di negera tropis seperti Indonesia. Saya hanya tahu bunga mawar dan bunga melati. Sebab, kedua nama bunga tersebut dijadikan lagu anak-anak yang biasa dinyanyikan di Taman Kanak-Kanak.

Tentang bunga berwarna merah tadi, saya pernah bertanya pada mama apa nama bunga tersebut. Mama pernah mengatakannya dengan sangat jelas. Saya pun pernah mengingatnya kala itu. Ya, saya hapal betul nama bunga itu. Namun sayang, ketika di usia dewasa seperti sekarang, ingatan saya tidak setajam dulu. Saya berupaya keras mengingatnya. Tapi tidak membuahkan hasil yang menggembirakan.

Untunglah saya memiliki seorang sahabat yang berprofesi sebagai biologist. Padanya, saya bertanya nama bunga tersebut dengan mengirimkan foto ke akun sosial media miliknya. Nama teman saya itu Pipit. Selang beberapa menit, Pipit pun membalas pesan saya. “Oh, nama bunga itu mussaenda,” jelas Pipit dengan menyelipkan istilah yang populer di bidang Biologi.

Membaca penjelasan Pipit, rasa penasaran saya kian membuncah terhadap bunga mussaenda. Saya pun mencari tahu lebih lanjut tentang bunga mussaenda di laman pencarian. “Oh ya, ternyata nama popoler bunga mussaenda yaitu bunga nusa indah,” gumam saya dalam hati.

Ya, nusa indah. Nama itu sangat familiar untuk saya. Sewaktu kecil, ketika saya bertanya pada mama tentang bunga kesukaannya. Mama bilang, “Mama suka bunga nusa indah. Bunga ini spesial untuk mama.”

Kini, setelah bertahun-tahun lamanya, memori tentang mama dan nusa indah kembali hadir dalam ingatan saya. Nostalgia masa kecil. Saya bersyukur hadir pada workshop kehumasan di Wisma Tenang, Puncak Bogor. Agaknya, workhop ini menjadi jembatan yang menghubungan antara waktu sekarang dan kenangan indah pada masa lampau. Kata Peter Pan, “You are my happy thought.” Bunga nusa indah adalah happy thought saya bersama mama.

 

Puncak, 3 Februari 2018

 

Bahkan, Kegagalan Juga Layak Dirayakan!

 

Oleh: Mahfud Achyar

Siang menjelang sore di sebuah kedai bakmi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, seorang teman saya bersedih lantaran ia gagal seleksi penerimaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di salah satu kementerian.

Saat itu, kami tengah lahap menyantap semangkok bakmi dan semangkok es teler. Namun, suasana menjadi terasa kikuk ketika teman saya memasang ekspresi kecewa.

Katanya, “Gue udah bilang ke nyokap kalo gue lolos. Gue sih yakin lolos karena seleksi awal nilai gue termasuk yang paling tinggi. Tapi di tahap wawancara, gue merasa kurang puas.”

“Tapi sebetulnya, gue ga pengen banget jadi CPNS sih. Tapi gue juga sedih karena ga lolos,” imbuhnya.

It’s okay, neng. Gw juga ga lolos kok. Awalnya kecewa sih. Tapi mungkin bukan rejeki gue. Yakin deh, satu pintu tertutup, maka pintu lainnya terbuka,” saya mencoba menghibur Eneng, begitu teman saya akrab disapa.

Menyoal tentang kegagalan, rasa-rasanya hampir semua orang pernah merasakan hal itu. Kegalalan, menjadi momok menakutkan yang seakan terus membayang-bayangi perjalanan hidup kita.

Kata orang bijak, “Kegagalan adalah awal dari kesuksesan.” Namun bagi saya pribadi, kegagalan adalah sahabat baik saya sejak dulu. Jika dingat-ingat, ratusan bahkan ribuan kegagalan pernah saya alami. Misal, gagal menjadi peringkat satu ketika di bangku sekolah dasar, gagal menjadi pemenang lomba puisi, serta kegagalan-kegagalan lainnya.

Ketika saya gagal, saya merasa diri saya takubahnya seperti pecundang. Saya merasa kalah, saya merasa payah, dan saya merasa lelah untuk mencoba pada kesempatan lainnya. Saya berpikir, mungkin saya sebaiknya berhenti mencoba, berhenti berharap–maka dengan begitu saya tidak akan pernah kecewa.

Beberapa kesempatan, saya tenggelamkan jiwa saya dalam samudra kekecewaan yang begitu dalam. Saya mengutuk banyak hal untuk kondisi buruk yang menimpa saya. Namun beruntung pada saat yang bersamaan, saya disadarkan oleh suara hati yang berkata lirih, “Tenang, semuanya belum berakhir. Tidak masalah gagal. Asalkan terus mencoba, mencoba, dan mencoba.”

Dari kegagalan, saya menemukan formula yang tepat bagi saya untuk merekonsiliasi diri ketika menghadapi kegagalan. Jika saya gagal, berarti ada faktor-faktor yang menyebabkan mengapa saya gagal, misal saya kurang persiapan, saya kurang berdoa, atau mungkin barangkali saya kurang ikhtiar. Namun jika proses-proses tersebut sudah dilalui dengan baik, ya, mungkin belum rejeki saya. Sesederhana itu.

Yakin, rejeki setiap anak manusia sudah diatur oleh Tuhan. Rejeki anak manusia tidak akan pernah tertukar. Kita hanya perlu menjemput rejeki yang telah Tuhan tetapkan dengan cara-cara yang baik. Dengan begitu, hati kita merasa lebih tenang, lebih tentram.

Pun demikian, apa yang saya alami serta seperti apa formula saya dalam menghadapi kegagalan, tentu berbeda dengan yang apa dialami oleh orang lain. Mungkin saja kadar kegagalan saya lebih sedikit dibandingkan orang lain atau mungkin juga sebaliknya. Saya hanya bisa mengira-ngira.

Akan tetapi, saya pikir jalan tengah untuk menyikapi kegagalan yaitu dengan cara menerima kenyataan bahwa kita memang gagal. Kita bersedih karena gagal. Kita kecewa karena tidak bisa memenuhi ekspektasi diri kita atau orang lain. Namun setelah rasa tidak mengenakkan itu hadir menyeruak di dada kita, maka sikap terbaik yang patut kita hadirkan yaitu memaafkan diri kita. Jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Percayalah, setiap orang punya time zone yang berbeda-beda. Tidak semua hal perlu dijadikan kompetisi, bukan?

Dari kegagalan, saya mulai mengerti bahwa hidup takmelulu bicara tentang prestasi. Ada kalanya kita harus berhenti, menangisi takdir, lantas kemudian ceria kembali menyongsong hari dan kesempatan yang baru. Saya teringat sebuah pesan bijak, “Saya tidak tahu apakah ini musibah atau berkah, namun saya selalu berprasangka baik pada Tuhan.”

Usai cerita kegagalan teman karena tidak lolos seleksi CPNS, akhirnya kami memutuskan untuk merayakan kegagalan dengan memesan gelato di salah satu kafe di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Ah ya, nyatanya kegagalan juga layak dirayakan!

Jakarta, 6 Januari 2018

Sorry, It’s My Fault

DSC_0626
Contemplating.

Rasanya, takada satupun manusia yang tidak pernah berbuat salah, takterkecuali manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Ialah Adam, seorang anak manusia yang melanggar perintah Tuhan untuk tidak mendekati pohon khuldi, apalagi memakannya. Namun Adam melanggar larangan Tuhan sehingga ia dan istrinya, Hawa harus meninggalkan syurga.

Salah. Barangkali merupakan salah satu sifat yang sukar dicabut dalam diri manusia. Selama manusia masih bernapas dan masih dikategorikan sebagai manusia dalam perspektif biologis, maka ia akan terus berbuat salah. Akan terus seperti itu. Hanya mungkin intensitas dan tingkat kesalahan yang dibuat oleh manusia berbeda-beda.

  Salah. Kerap kali ia tidak diinginkan untuk menemani proses kehidupan manusia. Setiap manusia mungkin menginginkan kesempurnaan. Everything must be perfect. Padahal, ketika manusia berpikiran segala sesuatunya harus sempurna, maka ia berusaha lepas dari kodrat seorang manusia: berbuat salah.

      “All people make mistakes. But only the wise will learn from their mistakes.” – Anonymous

      Akan tetapi menjadi celaka, banyak orang yang enggan jika jari telunjuk mengarah ke mukanya: ia dipersalahkan. Lantas yang terjadi ia memasang pertahanan yang kuat. Ia takingin orang-orang mengusik harga dirinya dengan menjadi orang yang salah.

Jika begini ceritanya, semua orang tidak ingin dipersalahkan. Lantas siapa yang harus disalahkan? Apakah kesalahan itu sendiri?

Tentang mengakui kesalahan, mengapa jarang manusia enggan melakukannya. Seolah-olah menjadi orang yang salah membuat langit runtuh dan bumi bergoncang dengan hebat. Padahal, sejatinya kita mafhum bahwa manusia seringkali berbuat salah, sering kali alpa, dan sering kali membuat kecewa. Namun bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatakan kedua? Everyone deserves a second chance. Namun dengan catatan, not for the same mistake. Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang tidak ingin jatuh di lubang yang sama.

Maka jika kita memang melakukan kesalahan, untuk apa malu mengakuinya? Jadilah orang-orang yang pemberani. Jika memang terlanjur berbuat salah, introspeksi dirilah. Berbenahlah. Berkontemplasilah.

      Jika maaf takberhasil kita kantongi, beri jeda. Barangkali butuh waktu yang lama untuk seseorang ikhlas memaafkan segala kesalahan-kesalahan kita. Selalu percaya, bahwa hal baik akan selalu dibalas dengan hal-hal yang jauh lebih indah.

Tentang kesalahan, kita belajar tidak hanya meminta maaf kepada orang lain. Namun juga belajar memaafkan diri sendiri. Terkadang yang paling sulit dari semua proses rekonsiliasi kesalahan adalah berdamai dengan diri sendiri. Kerap kali hati kita hancur berkeping-keping. Rasa perih membuat kita merasa layak untuk dibenci. Membuat kita berkata, “Biarlah saya menanggung beban ini sendirian hingga takada lagi rasa sakit yang bisa dirasakan.”

Yakinlah satu hal, kesalahan-kesalahan yang kita perbuat tidak lantas membuat dunia ini benar-benar kiamat. Bukankah Tuhan Maha Pengampun? Yakini itu.

Jakarta, 6 November 2017.

 

 

 

Kabar dari Garis Terdepan Indonesia

PA300280
Warga desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Oleh: Mahfud Achyar

Jika Indonesia dianalogikan seperti rumah, maka Indonesia adalah rumah yang memiliki tanah yang luas dan bangunan yang  sangat besar. Untuk mengurus seperti itu, tentunya tidak mudah. Ketika kita asyik membersihkan halaman pekarangan, mungkin kita luput mengecek bahwa di dapur ternyata banyak debu yang sudah menempel di lantai dan juga kaca jendela. Untuk itu, perlu kesabaran dan ketekunan agar rumah (baca: Indonesia) menjadi hunian yang nyaman untuk ditempati.

Lantas, seberapa besar luas wilayah Indonesia? Berbagai sumber menyebutkan bahwa Indonesia merupakah salah satu negara terluas di dunia dengan total luas negara 5.193.250 km2 (mencakup daratan dan lautan). Kondisi demikian menempatkan Indonesia sebagai negara terluas ke-7 di dunia setelah Rusia, Kanada, Amerika Serikat, China, Brasil, dan Australia.

Sebagai negara kepulauan, Kementerian Kelauatan dan Perikanan (KKP) merilis data bahwa saat ini Indonesia memiliki 16.056 pulau yang sudah diberi nama dan terverifikasi. Selain itu, KKP juga akan menertibkan pulau-pulau di seluruh Indonesia, dimulai dari pengklasifikasian pulau-pulau kecil dan terdepan.

Sebelum tahun 2017, jumlah pulau kecil dan terdepan berjumlah 92 pulau. Namun terjadi perubahan karena pada tahun 2017 bertambah sebanyak 19 pulau lagi. Dengan demikian, total pulau kecil dan terdepan menjadi 111 pulau. (Sumber: http://www.mongabay.co.id).

Presiden Joko Widodo pada berbagai kesempatan berkali-kali mengatakan bahwa paradigma pembangunan Indonesia saat ini yaitu pembangunan dari daerah pinggir atau perbatasan. Langkah tersebut diambil oleh presiden lantaran daerah pinggiran maupun daerah perbatasan merupakan pintu gerbang Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Dapat dikatakan, daerah perbatasan merupakan simpul-simpul pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Indonesia memiliki garis perbatasan yang cukup panjang mencapai 99.000 kilometer. Saat ini, pemerintah telah membangun tujuh Pos Lintas Batas Negara (PBLN) di beberapa wilayah, yakni Aruk, Entikong, dan Nanga Badau di Kalimantan Barat; Motaain, Motamasin, dan Wini di Nusa Tenggara Timur; serta Skouw di Papua.

PB010213
PBLN Motamasin Indonesia – Timor Leste

Paradigma “Membangun Indonesia dari Perbatasan” merupakan salah satu janji Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang tertuang dalam Nawa Cita ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.”

Untuk menyukseskan Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, perlu sinergi dan kolaborasi dari berbagai sektor, mulai dari pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Salah satu program yang melibatkan lintas kementerian/lembaga yaitu program Kampung Sejahtera. Program ini diinisiasi oleh OASE Kabinet Kerja, sebuah organisasi khusus gagasan Ibu Negara dan Ibu Wakil Presiden serta disepakati oleh para pendamping menteri Kabinet Kerja untuk turut mendukung dan berperan dalam menyukseskan program Kabinet Kerja.

Sebagai pilot project, program Kampung Sejahtera dijalankan di desa Kohod, kecamatan Pakuhaji, kabupaten Tangerang, Banten. Lokasi desa Kohod tidak begitu jauh dari pusat pemerintahan di ibukota. Namun, sebelum mendapatkan intervensi dari program Kampung Sejahtera, kondisi desa Kohod cukup memprihatinkan.

Oleh sebab itu, sejak 2015 hingga 2017, lintas sektor bahu-membahu memperindah wajah desa Kohod menjadi lebih elok. Hasilnya, pada 2 Juli 2017 lalu, program Kampung Sejahtera di desa Kohod dinilai telah berhasil.

Kini, desa Kohod sudah berbenah. Banyak pembangunan infrastruktur dilakukan di sana. Tidak hanya program bersifat fisik, program non-fisik pun juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia warga desa Kohod.

Kendati dinilai sudah berhasil, tidak lantas menghentikan program-program di desa Kohod. Untuk selanjutnya, pemerintah kabupaten Tangerang diamanatkan untuk dapat menduplikasi program yang sama di desa-desa lainnya yang ada di kabupaten Tangerang, Banten.

Sementara itu, pemerintah pusat bersama OASE Kabinet Kerja mencari wilayah program lainnya, khususnya di luar pulau Jawa. Pemerintah berharap manfaat program Kampung Sejahtera tidak hanya dirasakan oleh warga desa Kohod, melainkan juga warga desa-desa lainnya. Pemerintah berupaya menghadirkan kembali negara di tengah-tengah masyarakat dengan tujuan menunaikan janji kemerdekaan Indonesia.

Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dan kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur diusulkan sebagai lokasi program Kampung Sejahtera berikutnya. Alasan utama dipilihnya dua kabupaten tersebut lantaran berbatasan langsung dengan negara tetangga. Kabupaten Nunukan berbatasan langsung dengan Malaysia, sementara kabupaten Malaka berbatasan langsung dengan Timor Leste.


PA310892.JPG
Wajah-Wajah Malaka (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Pada 30 Oktober hingga 1 November kemarin, kementerian/lembaga melakukan survei lapangan ke kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Lokasi desa yang disurvei yaitu desa Barada dan desa Alas Selatan.

Kedua desa tersebut dipilih berdasarkan usulan Pemkab Malaka. Alasannya, selain berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, kedua desa tersebut dikategorikan sebagai desa prasejahtera. Untuk itu, melalui program Kampung Sejahtera, diharapkan dapat mengubah profil dua desa tersebut menjadi lebih sejahtera.

Sebagai informasi, desa Barada merupakan pemekaran dari desa Kateri pada tahun 2009. Saat ini, desa Barada terdiri dari 7 dusun dengan luas wilayah 17.25 km2. Desa Barada terbagi dalam dua bagian, yaitu kampung atas dan kampung bawah. Kampung atas mencakup 4 dusun dan kampung bawah mencakup 3 dusun. Nama-nama dusun di desa Barada yaitu dusun Ferik Katuas, dusun  Lolobot, dusun Kali’a, dusun Kmileon, dusun Basdebu, dusun Wetaen, dan dusun Hae Truin.

Kondisi desa Barada cukup memprihatinkan. Sarana dan prasarana di sana masih sangat minim, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, peribadatan, transportasi, energi, permukiman, dan air minum. Salah satu persoalan utama di desa Barada yaitu sulitnya mendapatkan air bersih.

Untuk mendapatkan air bersih, warga di desa Barada mengambil air menggunakan dirigen di embung yang sudah disediakan pemerintah setempat. Namun, kapasitas air di sana sangat terbatas. Mereka harus mengantri dan menunggu lama agar dirigen-dirigen mereka terisi penuh.

Bila musim kemarau panjang tiba, persediaan air di sana kian menipis. Warga desa Barada harus berjalan berkilo-kilo ke sumber mata air Lama untuk mendapatkan air bersih. Untuk tiga dusun di desa Barada, sumber mata air Lama hanya menampung kapasitas air sebesar 1,5 m3. Warga desa Barada harus berhemat-hemat menggunakan air.

Hilarius Nahak Bria (49 tahun), seorang warga desa Barada bercerita, “Saya hanya bisa mandi 1 kali dalam seminggu. Air di sini sangat susah. Daripada untuk mandi, lebih baik untuk minum dan memasak.”

Sementara itu, desa Alas Selatan merupakan salah satu desa di kecamatan Kobalima, kabupaten Malaka yang langsung berbatasan dengan Timor Leste. Saat ini, desa Alas Selatan terdiri dari 12 dusun dengan luas wilaya 80.60 km2, di mana 50 km2 merupakan kawasan hutan.

Desa Alas Selatan terbagi dalam 2 bagian, yakni kampung atas dan kampung bawah. Kampung atas meliputi 7 dusun dengan letak dusun linear sepanjang jalan negara yang menghubungkan Betun sebagai ibukota kabupaten Malaka dan PLBN Motamasin dan kampung bawah mencakup 5 dusun.

Adapun nama dusun-dusun tersebut yaitu dusun Haliren, dusun Raisikun I, dusun Manehat, dusun Raisikun II, dusun Lalebun, dusun Mahkota Biru, dusun Taledu, dusun Tularaud, dusun Metamauk, dusun Motamasin, dusun Weluli, dan dusun Metamauk Oan.

Jika dibandingkan desa Barada, desa Alas Selatan jauh lebih beruntung dibandingkan untuk sektor sarana dan prasarana. Namun, kedua desa tersebut memiliki permasalahan yang hampir sama: persoalan kemiskinan. Jumlah keluarga miskin di desa Alas Selatan hingga akhir 2016 sebanyak 213 KK. Kebutuhan masyarakat desa Alas Selatan yang perlu menjadi prioritas dalam waktu dekat yaitu penyediaan air bersih dan fasilitas MCK.

Setelah melakukan survei lapangan, tim dari Pusat melakukan rapat koordinasi dengan Pemkab Malaka dan OPD terkait guna menindaklanjuti hasil survei lapangan. Selanjutnya, kesepakatan-kesepakatan hasil rapat koordinasi akan ditindaklanjuti dengan pertemuan dengan kementerian/lembaga bersama OASE Kabinet Kerja di Jakarta.