Jika Saja

_20190517_154734
Photo Captured by Mahfud Achyar

Suatu malam di sebuah restoran cepat saji, seorang teman memulai percakapan. Katanya, “Kalian tahu bahwa bahasa cinta ada lima. Ada words of affirmation (pujian), quality time (menghabiskan waktu bersama), receiving gifts (hadiah), acts of service (dilayani), dan physical touch (sentuhan fisik). Dari lima bahasa cinta tersebut, mana yang sering kalian gunakan?” tanyanya penuh selidik.

Semua orang terdiam, memikirkan mana jawaban yang paling tepat yang menggambarkan kebiasaan yang sering disampaikan kepada orang-orang terkasih, entah itu orang tua, saudara, pasangan atau sahabat. Seorang teman menyeru, “Saya memilih quality time lantaran jadwal saya cukup padat, apalagi jika hari kerja. Mencari waktu untuk bertemu teman-teman saja susahnya minta ampun. Jadi, jika ada waktu luang, saya akan memanfaatkannya untuk bertemu dengan teman-teman dekat,” jelasnya.

Semua orang mendengarkan dengan seksama sembari mengangguk pertanda setuju. Lalu, ada juga teman yang memilih memberi hadiah untuk orang-orang yang disayangi, ada juga yang memilih mengekspresikan rasa sayang dengan pujian atau apresiasi. Jawaban tentang pertanyaan mana bahasa cinta yang sering digunakanpun beragam. Unik, nyatanya manusia memiliki bahasa cinta yang berbeda satu sama lainnya.

Gagasan tentang lima bahasa cinta ditulis oleh Gary Chapman pada bukunya yang berjudul “The Five Love Languages: How to Express Heartfelt Commitment to Your Mate” (1992). Salah Satu kutipan Gary Chapman pada buku tersebut berbunyi seperti ini, “For love, we will climb mountains, cross seas, traverse desert sands, and endure untold hardships. Without love, mountains become unclimbable, seas uncrossable, desert unbearable, and hardships our lot in life.” Terdengar sangat manis.

Cinta barangkali adalah senyawa yang menggerakkan hati dan pikiran kita untuk memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi. Bisa jadi, lantaran cinta, takada lagi sekat bahasa cinta yang harus dikotak-kotakan seperti yang disampaikan oleh Gary Chapman. Bahasa cinta bisa bertansformasi menjadi pekerjaan yang melebihi batas imajinasi, batas diri, dan batas-batas teori.

Obrolan malam itu terus berlanjut hingga akhirnya tiba giliran saya menjawab mana bahasa cinta yang sering saya gunakan. Saya bingung sebab saya sendiri tidak pernah mengidentifikasi jenis bahasa cinta yang paling sering saya gunakan. Saya melihat jauh ke dalam diri saya, menerawang sekiranya dari semua pilihan bahasa cinta yang ada, mana yang paling menggambarkan diri saya? Jujur, saya kesulitan.

Bisa dibilang, saya adalah tipikal orang yang selektif. Tidak mudah bagi saya untuk dekat dengan banyak orang. Butuh proses yang panjang: observasi, interaksi, hingga akhirnya memutuskan siapa saja pilih untuk saya curahkan sisi terbaik yang saya miliki. Terkesan pilih-pilih. Namun begitulah adanya.

Balik lagi pada pertanyaan tentang bahasa cinta, saya memilih words of affirmation dan pray. Untuk pilihan kedua memang tidak ada dalam bukunya Gary Chapman. Namun setelah melakukan internalisasi diri, memang itulah bahasa cinta yang sering saya gunakan. Saya memang terbiasa mengekspresikan rasa sayang melalui ungkapan kata-kata. Tidak ada alasan khusus. Namun sepertinya kata-kata adalah sesuatu yang tidak bisa terpisahkan dalam diri saya. Sementara untuk doa, ini adalah tahapan paling dalam dan paling akhir yang bisa saya upayakan untuk orang-orang yang saya sayangi. Saat kata takmampu lagi terucap, saat emosi taklagi mampu disampaikan dengan tepat, maka doa adalah pilihan yang terbaik. Menghadirkan Tuhan untuk menjembatani kata-kata yang tak tersampaikan.

Terlepas dari pembahasan tentang bahasa cinta, saya rasa kita semua bersepakat bahwa yang benar-benar kita inginkan untuk mereka yang terkasih hanyalah satu: yang terbaik untuk mereka. Namun sedihnya, terkadang kita harus berperang melawan rasa sesak saat kita mengetahui bahwa orang-orang yang kita sayangi memilih jalan yang kita rasa bukan jalan yang baik untuk mereka. Meski, mana jalan yang baik atau buruk, lagi-lagi bergantung pada sudut pandang.

Lantas pertanyaannya, manakah jalan yang benar-benar baik untuk kita? Setiap orang jelas memiliki jawabannya masing-masing. Belakangan saya berkontemplasi cukup lama untuk menemukan jawabannya. Saya rasa, untuk memutuskan jalan yang baik untuk kita, maka kita harus melibatkan hati kita yang terdalam, bukan melibatkan nafsu, pikiran, atau bahkan pendapat orang lain. Katakan pada diri kita, “Apakah ini yang betul-betul saya inginkan? Apakah ini yang betul-betul membuat saya bahagia? Apakah ini benar-benar diri saya yang sungguhnya?” Jika kita sudah bertanya dan menemukan jawaban yang bersumber dari hati kecil kita, ya, bisa jadi itulah jalan yang memang ditakdirkan Tuhan untuk kita.

Tentang orang-orang yang kita sayangi yang memilih jalan kita rasa tidak baik untuk mereka, upaya terbaik yang bisa kita lakukan yaitu sampaikan perasaan kita yang terdalam untuk mereka. Katakan bahwa kita benar-benar peduli kepada mereka, bicarakan dari hati-hati tanpa ada perasaan saling menghakimi. Namun jika tidak berhasil, kita memasuki tahap proses penerimaan, bahwa apa yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain.

Sedih memang saat kita mengulurkan tangan untuk menarik orang yang kita sayangi yang nyaris jatuh ke jurang, namun justru ia memilih untuk melepaskan tangan kita. Kita marah, sedih, kecewa, dan tentu saja patah hati. Namun apa boleh buat, manusia hidup dari satu pilihan ke pilihan lainnya. Jangan menyiksa diri dengan menyalahkan kondisi yang terjadi. Terimalah dengan hati yang lapang. Setidaknya kita sudah berupaya, setidaknya kita sudah mencoba.

Jika saja telepati itu memang ada, mungkin akan lebih mudah bagi kita menyampaikan rasa sayang kita kepada mereka yang terkasih. Jika saja telepati itu memang ada, mungkin akan lebih mudah bagi kita untuk berbisik kepada mereka yang terkasih, “Aku rasa kamu memilih jalan keliru. Bisakah kamu mendengarkan suaraku?”

Akan tetapi manusia memang makhluk yang tidak sempurna. Kita memiliki banyak keterbatasan. Namun untuk melewati keterbatasan itu, maka kita butuh Tuhan. Minta pada-Nya sebab Ia-lah yang memiliki hati setiap manusia. “When people are ready to, they change. They never do it before then, and sometimes they die before they get around to it. You can’t make them change if they don’t want to, just like when they do want to, you can’t stop them,” pesan Andy Warhol.

Jakarta,

17 Mei 2019

Advertisements

Saat Irisan Kematian Begitu Tipis

20190305_170519-01
Photo captured by. Harry Anggie

Never forget how blessed you are to see another day.” – Anonymous

Dalam hidup ini, betapa sering kita mendengar, membaca, dan melihat orang-orang yang ‘lolos’ dari kematian—mungkin salah satunya kita sendiri yang mengalami peristiwa ‘lolos’ dari kematian. Saya beberapa kali memiliki pengalaman ‘lolos’ dari kematian, setidaknya empat kali selama saya hidup.

Pertama, saya pernah tenggelam ketika masih kecil. Saat itu, saya belum bisa berenang. Namun saya terbiasa bermain di pinggiran kolam dan berpegangan pada dinding-dinding kolam. Saya pikir, itu cara yang paling aman untuk bisa tetap main di dalam air tanpa takut tenggelam.

Lalu, saya ke luar dari kolam dan berdiri di pinggir kolam. Suasana kolam saat itu cukup ramai. Banyak orang-orang berenang, termasuk anak-anak seusia saya. Tiba-tiba, ada yang mendorong saya ke kolam. Saya meronta-ronta, berupaya naik ke permukaan. Namun hasilnya nihil. Saya berkali-kali minum air kolam hingga saya batuk. Mata saya terasa perih. Saya sulit bernapas.

Semakin saya berusaha keras naik ke permukaan, semakin saya kesulitan untuk bernapas. Saya tidak berharap banyak. Mungkin itu akhir hidup saya. Namun tiba-tiba seseorang mengangkat tubuh saya lalu mendorong ke pinggir kolam. Saya hampir tidak sadar diri. Namun beruntung saya selamat.

Saya tidak tahu siapa yang menyelamatkan saya pada insiden itu. Namun saya sungguh berterima kasih. Andai saja saya mengenalnya, saya akan sampaikan ungkapan terima kasih secara langsung. Kebaikannya akan selalu saya kenang hingga kapanpun. Terima kasih wahai pahlawan masa kecil saya.

Sejak kejadian itu, saya bertekad untuk bisa berenang. Saya rutin untuk belajar berenang hingga akhirnya saya benar-benar bisa berenang. Senang rasanya bisa berpindah dari satu titik ke titik lain, entah itu di kolam, sungai, ataupun laut tanpa harus takut tenggelam.

Kedua, saya dan teman-teman saya pernah nyaris ditabrak kereta api saat melewati jalan yang menjadi perlintasan kereta api. Tidak ada petugas yang berjaga, tidak ada palang pintu kereta api, dan tidak ada sirine sebagai tanda kereta api akan melintas. Mobil kami melaju melewati perlintasan kereta api. Tidak ada rasa khawatir karena memang jalanan sepi dan tidak ada tanda-tanda bahaya. Namun tidak berselang lama, kereta api lewat. Jantung saya berdegup kencang. Saya rasa kondisi yang sama juga dialami teman-teman saya. Kami mengucap syukur karena ‘lolos’ dari kematian. Terima kasih, Tuhan.

Ketiga, kejadian ‘lolos’ dari kematian juga terjadi saat berada di dalam mobil. Masih lekat di benak saya, pada 30 September 2009, tiba-tiba bumi bergoncang begitu hebat. Saya dan keluarga berada di dalam mobil menuju kota Padang.

Saat itu, momen Hari Raya Idul Fitri. Saya pulang kampung. Kami sekeluarga baru saja mengunjungi rumah saudara yang ada di Painan, Pesisir Selatan. Jalanan dari Painan menuju Padang tidak begitu besar, hanya cukup dilewati dua mobil dari arah yang berlawanan. Kondisi jalan bisa dikatakan cukup ekstrem lantaran berada di antara tebing batu dan jurang yang langsung mengarah ke laut. Gempa membuat mobil kami oleng. Namun beruntung masih bisa dikendalikan dengan baik.

Lalu, pemandangan seketika berubah begitu menyeramkan. Batu-batu di atas bukit yang berukuran besar berjatuhan dan nyaris meniban mobil kami. Semua orang di dalam mobil berteriak. Kondisi saat itu mengingatkan saya pada salah satu adegan dalam film “Knowing” (2019) yang dibintangi Nicolas Cage, saat ia dan anaknya berada di dalam mobil dan berupaya terhindar dari jilatan gelombang panas.  

Perlahan, getaran gempa mulai berkurang. Batu-batu dari atas bukit juga tidak lagi berjatuhan. Kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan. Baru beberapa meter jalan, kami melihat pemandangan yang memilukan. Seorang pengendara sepeda motor tertiban batu yang berukuran besar. Sudah dipastikan ia tidak selamat. Tragis.

Keempat, kejadian ‘lolos’ dari kematian baru beberapa waktu lalu saya alami, tepatnya pada Minggu, 17 Maret 2019, saat penerbangan dari Balikpapan ke Jakarta. Sesuai jadwal penerbangan, pesawat saya seharusnya take off pukul 19.45 WITA. Namun ketika berada di ruang tunggu, ada pengumuman dari maskapai bahwa terjadi keterlambatan penerbangan sekitar 45 menit lantaran ada kendala teknis. Pukul 19.56 WITA, pesawat sudah bisa dinaiki penumpang dan siap lepas landas. Setelah kurang lebih 35 menit terbang, tiba-tiba ada pengumuman dari awak kabin yang mengatakan pesawat memiliki masalah teknis khususnya pada kemudi kendali otomatis sehingga terpaksa harus memutar balik ke Balikpapan.

Tangan saya berkeringat, saya mulai berpikir buruk, “Bagaimana jika hal buruk terjadi pada pesawat yang saya tumpangi?” Saya melepas headphone yang sedari tadi menempel di daun telinga. Zac Efron dan Zendaya masih saja terus bernyanyi, “…How do we rewrite the stars? Say you were made to be mine? Nothing can keep us apart. ‘Cause you are the one I was meant to find…”

Saya berusaha tenang, berusaha menghalau pikiran buruk, seraya berdoa. Saya hanya bisa pasrah, berharap Tuhan melindungi kami semua. Jika memang memang kematian sudah di ambang mata, saya bisa apa?

Pesawat memutar balik menuju Balikpapan. Semua orang tampak khawatir. Kami merapal doa, benar-benar berharap bisa mendarat dengan selamat di Balikpapan. Alhamdulillah, roda pesawat menyentuh landasan bandara. Kami semua selamat.

Semua penumpang satu persatu turun dari pesawat, melewati lorong menuju counter check-in. Pihak maskapai mengatakan bahwa tidak ada lagi penerbangan ke Jakarta. Penerbangan kami merupakan penerbangan terakhir. Mau tidak mau harus diundur hingga besok pagi.

Para penumpang antre untuk mengatur ulang jadwal penerbangan mereka. Ada yang memilih jadwal penerbangan pertama pada esok hari, ada yang siang, dan ada pula yang marah-marah kepada petugas maskapai lantaran jadwal perjalanan mereka jadi kacau. Namun saya pikir, keputusan pilot untuk kembali ke Balikpapan merupakan keputusan yang paling tepat. Bagaimana jika pihak maskapai tetap memaksakan penerbangan ke Jakarta? Tidak ada yang bisa jamin bahwa kami akan selamat. Sangat berisiko. Saya tidak ingin seperti penumpang lainnya yang mengeluh, protes keras, bahkan memaki-maki petugas maskapai. “Sudah sampai selamat kembali di Balikpapan saja saya sudah tenang,” saya membatin.

Beberapa kejadian ‘lolos’ dari kematian yang pernah saya alami membuat saya merenung bahwa sejatinya kematian akan selalu mengikuti manusia hingga kapanpun. Hanya kita tidak diberi kuasa oleh Tuhan kapan kematian benar-benar menghampiri kita dan berkata, “Saatnya kamu mengucapkan selamat tinggal pada dunia.”

Terkadang, saya sering memikirkan kematian dan berharap kematian segera menyapa saya pada usia yang masih muda. Saya teringat puisi yang ditulis Soe Hok Gie, “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

Entahlah, mungkin saya belum menemukan Ikigai – a reason for living atau mungkin saya hanya merasa lelah; melihat dunia yang semakin tidak nyaman untuk ditinggali, kekhawatiran akan banyak hal, dan semakin lama hidup maka akan semakin banyak dosa yang saya perbuat. Mungkin kematian satu-satunya jalan untuk mengistirahatkan pikiran dan perasaan saya. Namun saya juga khawatir bahwa saya tidak benar-benar siap untuk mati muda. Bekal saya untuk kehidupan berikutnya belum banyak. Mungkinkah di kehidupan berikutnya akan lebih menyenangkan?

Buku “Ikigai: The Japanes Secret to a Long and Happy Life” (2016) yang ditulis oleh Héctor García and Francesc Miralles mengemukakan gagasan bahwa setidaknya ada empat alasan mengapa kita harus terus bertahan untuk hidup, yaitu mission, vocation, profession, dan passion yang juga dibingkai dalam empat pertanyaan, “what you love, what the world needs, what you can be paid for, and what you are good at.

Barangkali ada benarnya bahwa jika kita lelah dengan hidup, mungkin kita perlu menemukan Ikigai kita sendiri dan itu sangatlah personal. Mungkin juga kita harus mengubah perspektif kita tentang hidup itu sendiri. Beruntung kita masih bisa bangun, masih bisa bernapas, masih bisa mandi, masih bisa sarapan, masih bisa datang ke kantor, masih bisa bekerja, dan banyak hal yang masih bisa kita lakukan.

Sementara di luar sana, ada orang-orang yang benar-benar berjuang untuk hidup dan itu tentulah tidak mudah. Kata sahabat saya, Harry, “Everyday is a gift grom God.” Maka balasan untuk hadiah yang diberikan Tuhan yaitu dengan cara bersyukur, menikmati hari-hari yang kita jalani walau terkadang diselingi air mata, kecewa, duka, dan perasaan-perasaan tidak mengenakkan hati lainnya. Perlakukan perasaan itu selayaknya tamu. Ia akan datang dan pergi. Ia tidak akan singgah terlalu lama. Jadi, biarkan ia hadir, biarkan ia bertamu, dan bila perlu ucapkan selamat tinggal jika memang waktunya ia harus pergi.

Jangan terlalu risaukan masa depan yang masih menjadi misteri. Hiduplah untuk hari ini, hiduplah untuk saat ini. Kita memang diminta untuk mempersiapkan masa depan. Namun yang lebih penting yaitu masa sekarang. Masa di mana kita masih bisa merasakan hembusan napas yang terasa hangat, masa di mana kita masih bisa melihat daun-daun yang berguguran, dan masa di mana kita masih bisa mendengar burung berkicau dengan merdunya.

Saya rasa, kejadian-kejadian ‘lolos’ dari kematian merupakan isyarat dari Tuhan bahwa kita masih punya waktu untuk menggapai mimpi-mimpi kita, bahwa kita masih bisa memperbaiki hubungan yang sempat retak dengan orang lain, bahwa kita masih bisa menunjukkan sisi terbaik kita kepada orang-orang yang kita sayangi.

Jangan meminta kematian menjemput lebih awal sebab tanpa dimintapun ia akan datang. Kematian tidak akan pernah datang lebih awal atau datang terlambat. Suatu saat ia akan menyapa kita pada tempat dan waktu yang tidak disangka-sangka. Untuk itu maknailah hidup selayaknya perkataan orang bijak, No matter how good or bad your life is, wake up each morning and be thankful that you still have one.

Jakarta,

18 April 2019

Mereka Tidak Benar-Benar Pergi

WhatsApp Image 2019-03-05 at 6.03.46 AM
Photo Captured by. Harry Anggie

Pagi ini, saya mendapatkan notifikasi dari Facebook, “Edrizal and 7 others have birthdays today. Help them celebrate!” begitu pesan Facebook. Biasanya, jika sempat, saya akan mengirim ucapan selamat ulang tahun ke teman-teman yang sedang ulang tahun. Di antara mereka ada teman-teman yang masih intens berkomunikasi hingga sekarang namun lebih banyaknya mereka yang sudah jarang sekali berkomunikasi, apalagi bertatap muka.

Momentum ulang tahun saya manfaatkan untuk menjalin yang sudah terputus, merekatkan yang sudah terlepas. Kata mama, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahmi.” Sebuah pesan yang sebetulnya sulit sekali saya terapkan lantaran saya  tergolong orang cukup cuek, terutama kepada orang-orang yang saya anggap tidak begitu dekat. Entahlah, apakah itu baik atau buruk. Namun yang jelas, saya berupaya agar hubungan yang sudah dibangun baik sejak awal tetap menjadi baik—hingga tiba waktunya saya taklagi berkewajiban menjalankan peran sebagai makhluk sosial.

Hari ini, pengingat dari Facebook membuat hati saya mendung. Pagi yang tadi cerah seketika berubah kelabu. Otak saya secara otomatis mencari kenangan yang tersimpan di hippocampus, bagian otak yang menyimpan memori. Hippocampus menampilkan mozaik kesedihan yang saya rasakan ketika salah seorang sahabat saya yang hari ini ulang tahun, meninggal dunia, tepatnya pada 4 November 2013.

Ia pergi pada usia yang masih sangat muda. Jauh sebelum ia sakit, kami berencana untuk bertemu untuk sekadar memastikan bahwa tidak banyak yang berubah dari kami. Namun sialnya terkadang dunia bekerja tidak seperti apa yang kita pikirkan. Hari-hari berikutnya ia menanggung beban yang takbisa ia bagi kepada saya. Ia terbaring sakit hingga akhirnya Tuhan mencukupkan rasa sakit yang ia derita. Kini, ia taklagi sakit. Ia sudah beristirahat dengan tenang di sana. Semoga Tuhan tempatkan ia di tempat terbaik di sisi-Nya.

Saya pernah mendengar ungkapan seperti ini, “”Orang-orang baik, konon katanya lebih cepat meninggal.” Saya tidak mafhum apakah teori ini akurat atau tidak. Namun ada hal yang cukup menganggu hari-hari saya, “Mengapa orang-orang yang baik kepada saya, satu persatu meninggalkan saya.”

Saya telah banyak kehilangan orang-orang yang saya sangat sayangi. Kehilangan paling berat yaitu ketika kehilangan sahabat baik sejak di bangku Sekolah Dasar lanjut kehilangan sahabat baik ketika di bangku Sekolah Menengah Pertama, terakhir kehilangan orang yang memiliki tempat istimewa di hati saya: nenek.

Takbanyak orang yang saya izinkan masuk ke dalam hati saya. Sejak kecil, saya sangat selektif memilih teman. Saya ingat pesan mama, katanya, “Jangan sembarangan memilih teman. Seseorang dilihat dari siapa ia berteman.”

Secara tidak langsung, pesan itu begitu melekat di benak saya sehingga dampaknya saya tidak begitu pandai bergaul. Teman saya ya itu-itu saja. Namun saya merasa sudah cukup memiliki beberapa orang teman yang baik yang mampu mendorong saya jauh lebih baik dari hari ke harinya.

Dalam hidup ini, ada hal yang bisa kita ubah dan ada hal yang masih bisa kita upayakan. Kita terlahir dari keluarga seperti apa, itu hal tidak mungkin kita ubah. Namun kita masih punya kesempatan memilih orang-orang yang kita sebut sebagai sahabat. Kita memiliki hak prerogatif untuk menyaring siapa saja yang boleh ada di hati kita dan siapa yang tidak. Siapapun tidak berhak menggugat hak itu.

Lantas, bagaimana jika mereka yang sudah kita pilih, secara bergantian tidak lagi bersama kita? Saat kehilangan mereka, saya merasa ada yang hilang dalam hati saya. Seketika dada terasa sesak, seketika anterior cingulate cortex (ACC) bekerja tanpa diperintah. Jika hati layaknya kumpulan puzzle, maka kehilangan orang yang terkasih menyebabkan kepingan puzzle turut hilang. Lambat laun, hati tidak lagi tersusun dari kumpulan puzzle yang utuh. Ada ruang yang kosong, ada ruang yang dingin, dan ada yang ruang yang hampa. Kini, semua tidak lagi sama.

Kamis, 22 Juni 2017 merupakan hari yang cukup berat dalam hidup saya. Hari itu, untuk terakhir kalinya saya melihat wajah, menyentuh tangan, dan membelai rambut orang yang sangat saya sayangi, nenek. Berulang kali saya menaruh jari telunjuk tepat di bawah lubang hidung nenek, memastikan nenek masih bernapas. Merasa takcukup, saya juga berulang kali menekan pembuluh nadi nenek, memastikan pembuluh nadinya masih berdenyut. Namun takada napas hangat yang saya rasakan, takada juga denyut nadi yang berdenyut lemah. Semuanya nihil.

Saya membuka kacamata, mengelap muka dengan tangan kiri saya. Saya belum bisa menerima bahwa nenek pergi untuk selamanya. Saat itu, tidak ada air mata yang menetes. Saya hanya merasa linglung. Saya sulit membedakan apakah saat itu saya berada dalam mimpi atau kenyataan. Lalu, kain panjang menutup muka nenek. Suara terdengar gaduh sementara saya merasa sepi. Lagi, ada puzzle yang hilang, semua kembali berulang.

Begitulah adanya hidup, ada yang terlahir dan ada pula yang meninggal. Saya membaca berita bahwa setidaknya ada tiga bayi terlahir setiap detik di seluruh dunia dan pada hari yang sama sekitar 153 ribu orang meninggal di seluruh dunia.

Mereka yang datang disambut suka cita, mereka yang pergi disambut dengan duka dan air mata. Datang dan pergi seolah menjadi hal yang takbisa kita hindari. Untuk mereka yang saya sayangi dan sudah pergi, ingin sekali saya katakan pada mereka bahwa sesungguhnya mereka tidak benar-benar pergi di hati saya. Mereka akan terus ada hingga kapanpun. Saya akan selalu mengingat mereka dalam ingatan yang baik, ingatan yang terjaga.

Mengutip pesan Sirius Black kepada anak baptisnya, Harry, “The ones who love us never really leave us, you can always find them in here (heart).” Saya berharap, pada suatu waktu, saya bisa kembali bertemu mereka, bercerita tentang hari-hari indah yang pernah kita jalani bersama.

Terima kasih untuk mereka yang pernah baik pada saya. Izinkan saya untuk selalu mengingat dalam ingatan yang baik, dalam ingatan yang terjaga.

 

Jakarta,

28 Maret 2019

 

 

Merasa Cukup

DSC_0013_19-01.jpeg
Photo captured by. Mahfud Achyar

“How’s life?”

Seorang teman mengirim pesan singkat di aplikasi WhatsApp.

“Good!” balas saya singkat.

Klise. Demikianlah percakapan yang acap kali terjadi antara satu manusia dengan manusia lainnya. Pertanyaan seputar kabar biasanya menjadi pertanyaan pembuka saat kita ingin menjalin komunikasi dengan orang lain. Apa yang kita harapkan saat bertanya kabar pada orang lain? Tentu berharap mereka dalam keadaan sehat dan bahagia. Layaknya sebuah harapan, maka jawaban-jawaban itulah yang akan kita terima.

Manusia begitu pandai menyembunyikan perasaan, terutama ketika berkomunikasi menggunakan bahasa teks. Saat ada yang bertanya kabar, maka secara otomotis biasanya kita akan menjawab, “kabar baik”. Namun mungkinkah kita benar-benar baik? Bisa jadi kita ingin menutupi keadaan yang terjadi sesungguhnya. Bukan bermaksud membohongi lawan bicara. Namun takingin membuat khawatir atau menambah beban.

Bisa juga mereka yang menjawab, “baik,” mungkin memang sesungguhnya dalam keadaan baik. Lagi-lagi, kita hanya akan terus berada pada ranah asumsi. Untuk cerita sesungguhnya di balik kata yang diproduksi biarlah menjadi rahasia sang pengujar kata. So, how’ life?

Hidup di tengah hiruk pikuk manusia, terutama di kota besar seperti Jakarta, ada fenomena yang cukup mencuat yaitu fenomena membanding-bandingkan. Saya sendiri mungkin salah satu orang yang terkena dampak fenomena ini. Sulit disangkal bahwa saya juga kerap kali membandingkan kehidupan saya dengan orang lain. Untuk konteks ini, membanding-bandingkan menjadi terminologi yang berkonotasi negatif. Saya merasa tidak puas dengan kehidupan saya saat ini, saya merasa tidak pernah cukup.

Salah satu aspek kehidupan yang membuat saya tidak pernah cukup yaitu masalah pekerjaan. Saya pernah bercerita kepada seorang teman tentang keinginan saya untuk pindah kerja. “Saya sudah lama bekerja di tempat yang sekarang. Saya merasa karir saya begitu-begitu saja. Usia saya kian bertambah, saya ingin bekerja di tempat yang lebih menjanjikan. Saya ingin lebih. Saya ingin seperti kebanyakan orang. Bekerja di tempat yang prestisius dengan jenjang karir yang jelas serta mendapatkan gaji yang sepadan sesuai dengan apa yang sudah saya berikan,” keluh saya.

Teman saya sesekali menganggukkan kepala pertanda ia setuju dengan apa yang saya sampaikan. Namun tak berselang lama, saya mengemukaan pandangan yang cukup kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya.

Eh, tapi katanya kita tidak boleh berkeluh kesah ya? Banyak orang di luar sana yang ingin berada di posisi saya. Sebetulnya, pekerjaan saya saat ini tidak begitu buruk. Jika dipikir-pikir, banyak keuntungan yang saya dapatkan di tempat kerja saat ini. Waktu kerja saya jelas, pukul delapan pagi hingga empat sore. Saya juga masih bisa beraktivitas di luar kantor. Okay, saya tidak ingin mengeluh. Saya harus merasa cukup. Jika memang ingin pindah kerja, pasti ada waktunya. Saya hanya perlu berdoa, bersabar, serta bersyukur atas apa yang saya punya sekarang.”

“Kamu ini ya, tanya sendiri jawab sendiri. Heran,” timpal teman saya.

Teman saya juga mengeluh tentang pekerjaannya. Ia merasa kurang diapresiasi ditambah ia sering menghadapi drama kantor yang menguras energi. Kami bersepakat bahwa memang sudah saatnya kami pindah kerja. Namun setelah diskusi cukup lama, kami sama-sama menyetujui bahwa permasalahan yang kami hadapi bukanlah sesuatu yang krusial, sesuatu yang masih bisa ditangani dengan baik. Lagipula mencari pekerjaan yang baru bukanlah persoalan yang mudah. Ada banyak orang di luar sana yang berjuang mencari pekerjaan, lamar sana-sini, wawancara, dan proses panjang yang melelahkan lainnya.

Saat kita mencari celah kekurangan kita, maka kita akan temukan itu dalam jumlah yang banyak. Kita merasa tidak seberuntung teman yang hampir setiap bulan liburan, kita merasa tidak sepintar teman yang baru saja promosi jabatan, kita merasa hidup kita begitu-begitu saja tanpa ada prestasi yang bisa dibanggakan.

Keadaan bertambah buruk saat kita melihat kehidupan di dunia kecil yang bernama media sosial. Hampir semua orang menampilkan kebahagiaan. Ada yang baru saja tunangan, ada yang baru membeli rumah serta potret-potret kebahagiaan lainnya. Sebetulnya tidak ada yang salah dengan media sosial. Layaknya etalase, media sosial hanya menampilkan barang-barang yang bagus, barang-barang yang memikat hati. Hampir jarang orang berbagi kegagalan, berbagi kesengsaraan, dan hal-hal buruk lainnya.

Saat melihat orang lain khususnya teman-teman kita sendiri sudah berada pada titik tertentu, seharusnya kita merasa bahagia. Artinya hal baik sedang menghampiri mereka. Namun jika kita merasakan hal yang lain, misal merasa rendah diri, maka saat itu juga kita harus menutup aplikasi media sosial. Ada sesuatu yang salah dengan diri kita. Mari ajak hati untuk berdiskusi.

Persoalan membanding-bandingkan tidak akan pernah habis. Sudah saatnya kita melihat ke dalam diri kita untuk menemukan banyak hal yang patut kita syukuri. Mungkin ini formula sederhana yang bisa kita lakukan agar kita bisa merasa cukup.

Merasa cukup bukan berarti kita berpuas diri atas pencapaian kita saat ini. Kita sangat dianjurkan melompat lebih tinggi dari waktu ke waktu. Kita berharap terus mengalami peningkatan entah itu dalam hal finansial, pendidikan, hubungan, dan aspek kehidupan lainnya. Namun saya selalu percaya bahwa setiap orang akan menemukan jalannya masing-masing. Menjadi ‘lebih’ mungkin baik. Namun merasa ‘cukup’ jauh lebih menenangkan.

Sometimes you are unsatisfied with your life, while many people in this world are dreaming of your life. A child on a farms sees a plane fly overhead and dreams of flying. But, a pilot on the plane sees the farmhouse and dreams of returning home. That’s life! If wealth is the secret to happiness, then the rich should be dancing on the streets. But only poor kids do do that. If power ensures security, then officials should walk unguarded. But thoses who live simply, sleep soundly. If beauty and fame bring ideal relationships, the celebrities should have the best marriages. Live simply. Walk humbly and love genuinely. All good will come back to you.” – Anonymous.

Jakarta,

27 Maret 2019

It’s Okay!

WhatsAppImage2019-02-06at11.57.23AM
Jakarta when the rain comes. 

Not everyday is a good day, live anyway. Not everyone will tell you the truth, be honest anyway. Not all you love will love you back, love anyway. Not all deals are fair, play fair anyway.” – Anonymous

Saya selalu terkesima dengan konsep “The Art of Conversation,” bahwa dalam setiap obrolan, setidaknya ada satu atau dua kalimat yang tiba-tiba membuat kita merinding. Merasakan kata-kata yang keluar seolah memiliki magic lalu kita tersadarkan bahwa kata-kata itu sangat tepat untuk kondisi kita saat ini—atau mungkin membawa kita pada ingatan masa lampau. Dalam diam, kita berkata pada diri sendiri, “Oh, ini jawaban dari pertanyaan saya selama ini.”

Kerap kali magic itu tidak hadir dalam setiap obrolan. Biasanya hanya keluar pada waktu-waktu tertentu yang kita sendiri sulit merekayasannya. Ia hadir melalui pembicaraan yang dilakukan secara intim, dalam, dan sangat personal. Maka takheran bila pertemuan yang terdiri dari banyak orang, misal lebih dari lima orang, hanya melahirkan obrolan-obrolan yang dangkal. Sekadar basa-basi lalu pulang tanpa membawa pesan yang berarti.

Semakin bertambah usia, saya menyadari ada banyak hal yang berubah dalam diri saya. Dulu, saya begitu bersemangat hadir dalam pertemuan-pertemuan dalam skala besar. Saya pikir, itu baik untuk saya. Bisa berkenalan dengan orang-orang baru yang tidak menutup kemungkinan bahwa mereka akan menjadi teman-teman baik saya di kemudian hari. Lalu, aktif di grup—menimpali obrolan hingga menjadi percakapan yang seru yang seolah tidak ada habis-habisnya.

Akan tetapi, everything has changed. Kini, pola komunikasi saya berubah. Saya lebih nyaman berkomunikasi secara personal, person to person. Hampir jarang aktif di grup besar—jika pun masih aktif di grup—hanya grup kecil yang dihuni beberapa orang yang membuat saya nyaman untuk berkomunikasi di sana.

Nyaman menjadi tujuan utama dalam membangun hubungan. Namun, nyaman bukan berarti tanpa percikan-percikan. Jelas masalah akan selalu datang menguji seberapa kuat fondasi hubungan yang kita bangun. Saat bergejolak, kita punya sudut pandang yang sama bahwa kita sama-sama bertumbuh, sama-sama belajar dari kesalahan. Nyaman juga berarti kita bisa menjadi diri kita apa adanya, berbagi tentang bagaimana cara kita melihat dunia serta saling mendukung untuk pribadi yang lebih baik.

Pernah suatu waktu, saya berkeluh kesah pada teman saya, “Mengapa dunia tidak bekerja sesuai dengan value yang berlaku secara universal?”

“Hah, maksudnya?”

“Iya maksud aku, mengapa orang jika punya masalah dengan orang lain harus mengumbarnya di media sosial, mengapa tidak diselesaikan secara langsung? Mengapa orang merokok sembarangan tanpa menghiraukan orang-orang yang tidak merokok? Mengapa orang memutuskan pertemanan tanpa ada niat untuk memperbaiki terlebih dahulu? Mengapa, mengapa, dan mengapa?”

“Setiap orang kan beda-beda. Tidak semua orang punya value yang sama.”

“Tapi kan itu value yang berlaku universal dan dibahas di banyak buku atau artikel.”

“Masalahnya, tidak semua orang punya referensi yang sama. Setiap orang memiliki self righting process. Kamu mungkin sudah di tahap yang lebih baik, namun orang lain belum tentu. Jangan pernah menyamakan diri kita dengan orang lain. Memang, kadang tidak sejalan dengan pikiran kita, tapi it’s okay. Coba lebih santai menanggapi sesuatu ya!”

Saya mencoba melumat mantra it’s okay. Terdengar sederhana namun sebetulnya sangat sulit untuk diterapkan. Tapi bukan hal yang mustahil mantra itu bisa saya kuasai asal mau terus berlatih setiap harinya. Jika ada lintasan pikiran negatif, saya akan bilang ke diri saya, “Go away negative thoughts.” Walau sulit, saya harus menantang diri saya untuk mengontrol pikiran saya sendiri.

Dua tahun belakangan, setidaknya ada dua orang teman yang memutuskan untuk menyudahi hubungan pertemanan dengan saya, tidak hanya di dunia nyata bahkan juga di dunia maya. Sebetulnya, saya bingung apa faktor yang menyebabkan mereka menyudahi pertemanan dengan saya. Berpikir, merenung, dan berkontemplasi sekiranya memang ada kesalahan yang telah saya perbuat saya mereka. Jikapun saya berbuat salah, saya akan mencoba memperbaikinya.

Saya selalu berpikir, tidak ada masalah yang tidak dapat dibicarakan. Mungkin lebih baik kita beradu argumen asal setelah itu kita bisa kembali berdamai. Jikapun tidak bisa seterbuka itu, setidaknya saya diberi alasan mengapa saya layak mendapatkan perlakuan seperti itu. Saya mencoba memulai, menanyakan kesalahan apa yang telah saya perbuat. Namun tidak ada jawaban hingga pada akhirnya saya memutuskan, “Let them go.”

Menyedihkan memang ketika kita mengetahui fakta, “We are not friends. We’re strangers with memories.” Namun apa boleh buat, orang-orang datang dan pergi silih berganti dalam hidup kita. Sekuat apapun kita menahan mereka untuk tetap bertahan namun ketika mereka milih untuk pergi—yang bisa kita lakukan hanyalah mengucapkan, “selamat jalan!” seraya berharap kebahagiaan senantiasa memenuhi  relung hati mereka.

Agaknya mantra it’s okay dapat sedikit meredam kekecewaan kita terhadap banyak hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita. It’s okay bukan berarti kita pasrah namun sikap menerima dengan hati yang lapang bahwa nyatanya banyak pertanyaan-pertanyaan dalam hidup ini yang tidak ada jawabannya. Kita selalu berharap pertanyaan akan dijawab setidaknya dengan begitu kita meresa lega—tidak lagi dihantui rasa penasaran. Namun lagi-lagi, terkadang dunia berjalan tidak sesuai dengan pikiran kita. Apa yang kita anggap itu ideal belum tentu ideal untuk orang lain, apa yang kita anggap baik belum tentu juga baik untuk orang lain. Once again, it’s okay!

 Jakarta,

6 Februari 2019

Surat untuk Kamu

p1011414

Teruntuk,

Kamu.

Tahun baru selalu datang setiap tahunnya. Tidak semua orang dapat menyapa tahun baru. Beberapa orang dekatmu atau orang-orang yang kamu kenal tidak lagi ada di tahun ini. Kata orang, waktu satu tahun sangatlah singkat. Namun dalam kurun waktu satu tahun, banyak hal yang bisa terjadi. Kamu tentu sangat paham maksudku. Jadi seharusnya kamu bersyukur masih bisa merasakan pergantian tahun. Artinya, Tuhan masih memberikan kesempatan untukmu untuk berbuat baik, memperbaiki kesalahanmu, mengejar mimpi-mimpimu, dan melakukan banyak hal yang menurutmu baik–setidaknya untuk dirimu sendiri. Cobalah sedikit bersemangat, cobalah sedikit antusias walau aku tahu itu agak berat untukmu.

Malam pergantian tahun waktu di mana banyak orang bersuka-cita merayakannya dengan pesta kembang api, berkumpul bersama keluarga dan teman, dan aktivitas menyenangkan lainnya–namun dirimu seperti biasa membenamkan diri dalam pertanyaan-pertanyaan kontemplatif. “Satu tahun, apa saja yang sudah saya lakukan?” Biasanya, dirimu membuat jurnal tahunan yang bercerita tentang peristiwa-peristiwa penting yang terjadi setiap bulannya. Tahun ini, aku amati, kamu tidak melakukannya lagi. Mengapa? Apa mungkin karena ritual tahunan itu menurutmu sangat melankolis? Kamu merasa tidak perlu lagi melakukan hal itu karena kamu berpikir perasaan melankolis seharusnya sudah tercabut dari seseorang yang hampir memasuki kepala tiga. Aku tanya padamu, memang salah jika seorang yang memasuki kepala tiga memiliki perasaan melankolis? Aku pikir itu justru kelebihanmu. Dirimu memiliki hati yang lembut dan mudah tersentuh. Kau tahu apa artinya itu? Artinya kamu masih memiliki cinta. Jika perasaan itu sirna maka itulah yang harusnya kamu khawatirkan. Terkadang aku heran dengan pola pikirmu. Rumit. Sering menyusahkan diri sendiri.

Satu tahun berlalu dan kamu merasa tidak melakukan banyak hal. Kamu merasa payah, kamu merasa tidak sehebat teman-temanmu, kamu merasa waktu banyak terbuang percuma, kamu merasa tidak menghasilkan progres yang baik, dan yang paling menyedihkan kamu terlalu sering menyalahkan diri sendiri atas apa yang sudah terjadi.

Maaf, aku terlalu berterus terang padamu. Hal ini semata-mata aku lakukan karena aku sangat sayang padamu. Satu tahun kemarin, aku melihat dirimu kian tumbuh menjadi manusia yang bijaksana. Kamu mulai berdamai dengan diri sendiri, kamu mulai memaafkan masa lalu, kamu mulai belajar melepaskan, kamu mulai belajar mengelola ekspektasi, dan kamu mulai belajar menjadi manusia yang seutuhnya. Menurutku, tidak banyak orang bisa melakukan itu. Aku melihat kamu bermetamorfosis menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Walau di beberapa aspek, aku melihat dirimu sangat lamban. Tapi bukankah keberhasilan sekecil apapun layak dirayakan?

Aku tahu, tahun ini benar-benar tidak mudah untukmu. Aku melihat bagaimana usahamu menahan perasaan, aku melihat bagaimana dirimu tersenyum ketika menerima kegagalan yang datang silih berganti, aku melihat upayamu untuk mengikhlaskan sesuatu yang sebetulnya enggan untuk kamu lepaskan, aku melihat usahamu untuk terus menjaga hubungan, aku melihat banyak hal. Ingin sekali aku memelukmu erat sambil berkata lirih, “Tidak apa-apa. Kamu sudah melalukan yang terbaik semampu yang kamu bisa. Jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Ambil waktu untuk mencintai diri sendiri.”

Untuk satu tahun yang sudah berlalu, jangan pernah ditangisi lagi. Wajar jika masih menyisakan begitu banyak kekecewaan. Kata orang, luka-luka dalam hati bisa dibasuh oleh waktu. Tapi menurutku itu tidak tepat. Ia hanya bisa sembuh dengan cara dirimu menerima bahwa hatimu memang penuh luka, bahwa kau merasakan sakit, bahwa perasaan itu sangat menganggu malam-malam panjangmu. Tidak masalah jika perasaan itu masih kau rasakan. Asal kau ingat satu hal, tidak ada yang sayang pada dirimu selain dirimu sendiri. Jadi, mulailah belajar melepaskan. Aku hanya berharap itu benar-benar bisa kau lakukan. Aku yakin kamu mampu sebab tidak ada yang lebih mengenal dirimu selain aku.

Tahun baru, ada 365 lembaran baru. Kamu sudah memiliki pulpen baru yang kamu beli di toko buku beberapa waktu lalu. Sudah siap menulis cerita-cerita baru? Aku tidak sabar membaca tulisan-tulisan yang dipenuhi kebahagiaan dan sedikit kesedihan. Selamat tahun baru untukmu dan untukku!

Dari orang yang sangat mengenal dirimu,

Aku.

Jakarta,

31 Desember 2018

Apa yang Saya Dapatkan dengan Menjadi Relawan?

Oleh: Mahfud Achyar

sahabat nusantarun photo by. bagus ernanda
Sahabat NusantaRun Chapter 6 (Foto Oleh: JF Bagus Ernanda Putra)

Suatu hari yang biasa, seorang teman mengirim pesan, “Salut sama kamu masih sempat ikut kegiatan kerelawanan.” Saya tidak langsung membalas pesan teman tersebut. Saya memikirkan apa respon terbaik yang bisa saya berikan, kemudian saya menulis, “Entah mengapa saya jatuh hati dengan dunia kerelawanan. Semacam saya punya tujuan hidup yang lebih penting dibandingkan hanya bekerja selama delapan jam dari pagi hingga sore.” Teman saya mengapreasiasi respon yang saya sampaikan walau setelah itu saya berpikir ulang apakah memang itu jawaban yang paling tepat. Saya sangsi.

Tahun 2018, ada dua kegiatan kerelawanan yang sangat berkesan untuk saya yaitu NusantaRun Chapter 6 dan Mural Kebaikan. Masih lekat di benak saya, awal tahun 2018, sahabat saya Harry Anggie mengajak untuk bergabung menjadi Sahabat NusantaRun (sebutan untuk panitia inti atau komite NusantaRun). Tanpa pikir panjang, saya pun mengiyakan ajakan Harry. Betapa tidak, tahun sebelumnya saya juga pernah menjadi relawan NusantaRun chapter 5. Saat itu, saya bertugas menjadi relawan dokumentasi. Menjadi relawan dokumentasi bukan kali pertama buat saya. Namun mengabadikan kegiatan lari tentu menjadi pengalaman pertama dan seperti orang-orang bilang, “Pengalaman pertama tidak pernah mengecewakan dan selalu berkesan.”

Selama bertugas menjadi relawan dokumentasi, saya melihat ratusan pasang mata yang memancarkan pesan kebaikan yang saya intip dari lensa kamera mirrorless Olympus berwarna silver. Saya bukanlah seorang cenayang. Namun saya pikir banyak orang yang bisa menangkap sorot mata ketulusan, kebaikan, dan kehangatan kendati dari orang-orang yang tidak dikenal sekalipun. Sebab mata adalah jendela jiwa. Dari mata banyak cerita yang bisa tercipta. Saya bersyukur melihat itu semua, cerita kebaikan yang menjadi pengharapan untuk hari-hari di masa depan. Sejatinya, orang-orang baik di negeri ini masih ada dan akan terus ada. Namun keberadaan mereka tertutupi oleh dominasi orang-orang jahat yang perlahan  namun pasti menggrogoti bumi pertiwi.

Dari dunia kerelawanan saya belajar bahwa perbedaan bukanlah halangan untuk kita bekerja sama, berkolaborasi, dan bersinergi. Tidak ada yang menanyakan agama, tidak ada yang menanyakan status sosial, tidak ada yang menanyakan pandangan politik. Selama masih berkontribusi, sekecil apapun akan diapresiasasi. Perbedaan bukanlah yang hal yang paling penting namun upaya kita bersama-sama mewujudkan sebuah misi itu yang menjadi lebih penting.

Setiap orang yang terlibat di NusantaRun memiliki tujuan yang sama, dunia pendidikan di Indonesia yang kian gemilang. Berharap tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang putus sekolah, fasilitas merata dari ujung barat hingga Timur Indonesia, dan semua orang memiliki kesempatan yang sama dalam hal akses pendidikan. Tidak besar upaya yang sudah dilakukan. Namun saya selalu percaya kebaikan itu menular. Semoga gerakan-gerakan kebaikan terus menggeliat hingga ke pelosok-pelosok tanah air. Semoga api semangat kebaikan terus menggolara di setiap hati manusia Indonesia.

Selain menjadi relawan NusantaRun, tahun 2018 menjadi sangat spesial lantaran untuk pertama kalinya saya menjadi seorang fundraiser. Selain para pelari, panitia inti juga diharapkan untuk menggalang donasi untuk mewujudkan misi #PendidikanUntukSemua melalui laman platform KitaBisa. Memang tidak diwajibkan. Saya sempat ragu apakah turut jadi fundraiser atau tidak. Cukup lama bagi saya memutuskan untuk menjadi seorang fundraiser. Saya khawatir bagaimana nanti jika saya tidak mencapai target? Bagaimana nanti jika tidak ada yang mau berdonasi melalui laman saya? Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk menjadi seorang fundraiser NusantaRun chapter 6.

“Jika bisa berbisik, mengapa harus berteriak?” Ini pesan yang disampaikan oleh Pak Iwan Esjepe ketika diskusi tentang dunia copywriting. Kata beliau, untuk menyentuh hati orang lain, tidak perlu menggunakan bahasa logika. Gunakanlah bahasa hati. Perlahan, saya mulai menulis wording di laman KitaBisa. Saya ingin setiap orang yang membaca frasa dan klausa di laman saya bisa tersentuh hatinya. Saya ingin memastikan bahwa pesan yang saya tulis mampu melewati retina mata hingga akhirnya mengetuk salah satu pintu hati mereka yang membaca. Selesai menulis wording dan menambahkan foto, saya bagikan tautan laman saya ke beberapa orang yang ada di daftar kontak ponsel saya.

kitabisa - mahfud achyar (1)
Kitabisa.com/achyarnr6

Beberapa di antara mereka adalah orang-orang yang intens berkomunikasi dengan saya, teman-teman yang sudah lama tidak dihubungi, dosen-dosen, serta kenalan-kenalan yang nomor mereka sempat saya simpan. Hasilnya, beberapa ada yang langsung merespon dan langsung donasi. Beberapa lagi pesan terkirim namun tidak dibalas. Beberapa lagi mungkin pesannya tidak terkirim lantaran ada yang ganti nomor ponsel. Tapi tidak masalah yang penting saya sudah mencoba mengajak mereka. Sayapun tidak ingin memaksa terlalu berlebihan. Mungkin hanya sedikit meneror untuk beberapa sahabat saya, “Sudah donasi belum?”

Sebetulnya, tidak sulit menjadi seorang fundraiser yang dibutuhkan hanya sedikit keberanian. Lagipula tujuan campaign ini sangat baik membantu pendidikan anak-anak disabilitas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerja sama dengan Kampus Guru Cikal. Saya begitu optimis akan mudah mengajak orang lain untuk donasi. Hasilnya, target donasi untuk NusantaRun chapter 6 yaitu sebesar Rp. 2,5 miliar tercapai sudah. Total donasi saat ini per tanggal 3 Januari 2018 yaitu sebesar Rp. 2.543.425926. Donasi masih dibuka hingga 13 Januari 2019 (tautan donasi: kitabisa.com/nusantarun).

Sementara target saya pribadi yaitu sebesar Rp. 5.000.000 dan sudah terkumpul Rp. 5.228.920. Saya tersentuh sudah bisa menggerakkan 32 orang dan laman saya sudah dibagikan sebanyak 52 kali di Facebook. Beberapa yang donasi menggunakan nama asli sehingga memudahkan saya untuk mengucapkan terima kasih secara langsung. Namun banyak juga yang menggunakan nama anonim. Saya sangat menghargai keputusan mereka. Terima kasih untuk mereka yang lembut hatinya.

Cerita lain di dunia kerelawanan tahun ini yaitu menjadi relawan Mural Kebaikan. Gerakan ini digagas oleh Chiki Fawzi. Ide muncul ketika peristiwa bom Surabaya pada 13 Mei 2018. Peristiwa itu menciderai toleransi antarumat beragama yang sudah susah payah dibangun bertahun-tahun lamanya. Saat itu, Chiki merasa tergerak. Ia harus melakukan sesuatu untuk merawat toleransi di Indonesia.

Akhirnya, Chiki menghubungi Kak Maria dan mengutarakan niatnya untuk memberikan mural gratis di Sekolah Minggu tempat Kak Maria mengajar. Chiki mengajak beberapa teman termasuk saya. Kamipun memural di Sekolah Minggu di Gereja Kristen Indonesia, Pulomas, Jakarta Timur. Video Mural Kebaikan bisa ditonton pada tautan berikut: https://www.youtube.com/watch?v=9OkCc3SSlJQ

Pada 11 Juni 2018, tepat ketika hari-hari terakhir bulan Ramadan, saya menulis keterangan foto dengan tulisan seperti ini:

mural kebaikan by chiki fawzi
Chiki and Her Friends

Ini adalah sebuah cerita yang ingin saya bagikan kepada dunia. Tentang persahabatan berbeda keyakinan yang dibalut rasa saling mengasihi dan saling menghormati.

Cerita bermula ketika  Chiki ingin merawat toleransi di bumi yang kita cintai ini, bumi Indonesia. Ia ingin berbagi dengan sesama melalui potensi yang ia miliki, salah satunya melalui mural. Niat baik Chiki disambut baik oleh Kak Maria. Ia menawarkan Chiki untuk memural Sekolah Minggu di Gereja Kristen Indonesia Pulomas. Kebetulan Kak Maria, begitu ia akrab disapa, menjadi salah satu pengajar di Sekolah Minggu tersebut. Saya beruntung menjadi salah satu yang diajak Chiki untuk melakukan project yang menyenangkan ini.

Bagi saya pribadi, ini pengalaman pertama. Saya begitu semangat untuk menjalankannya. Di GKI Pulomas, kami disambut baik oleh jemaat GKI Pulomas. Kami bahu membahu mengerjakan mural dengan perasaan suka cita. Takjarang gelak tawa menggelegar memenuhi setiap ruang di Sekolah Minggu. Rasanya, kami sangat dekat dan bisa bersahabat dengan begitu cepat.

Menjelang buka puasa, teman-teman GKI Pulomas menyediakan buka puasa. Kami beristirahat sejenak sembari menyantap hidangan penuh selera. Kehangatan terasa begitu nyata dan itu sulit kami dustai. Ah, mungkin ini momen yang nantinya saya rindukan. Saya bersyukur hidup di tengah perbedaan yang membuat saya belajar untuk membuka diri dan menghargai perbedaan. Hati saya merasa teduh. Ramadan Kareem. Semoga kehangatan ini menjadi pengingat ketika kelak (mungkin) kita akan mengalami masa-masa sulit. Semoga Indonesia terus rukun dalam bingkai perbedaan. Semoga.

Lantas, balik lagi ke pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini, apa yang saya dapatkan menjadi relawan? Jika hanya butuh satu kata, maka kata yang paling tepat yang mewakili perasaan saya yaitu kata ‘kebahagiaan’. Saya merasa bahagia sudah melakukan sesuatu bukan untuk saya melainkan untuk orang lain, untuk sesuatu yang lebih besar.

Saya merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk berbuat baik oleh Tuhan. Mungkin peran yang saya ambil tidak besar, tidak terlalu berisiko, dan tidak terlalu menghasilkan perubahan yang besar. Namun semoga kontribusi kecil yang sudah saya berikan bernilai setidaknya menjadi kenangan baik untuk diri saya sendiri. “Jangan lelah berbuat baik karena kebaikan akan kekal sementara lelah akan hilang,” tulis Chiki di akun Youtube-nya.