Hidup dalam Perisai Ketakutan

5083025373_e91ca47c1c_b
Source: Flickr

Dalam perjalanan pulang dari kantor, saya membaca sebuah buku yang diberikan oleh seorang teman, persis satu hari sebelum saya ulang tahun. Salah satu kutipan yang ada di buku tersebut membuat saya terpaku. Kurang lebih kutipannya berbunyi seperti ini, “Kita hidup dari satu ketakutan ke ketakutan lainnya.”

Agaknya benar apa yang penulis buku itu katakan. Ketakutan seolah memiliki ruang tersendiri di relung jiwa kita. Entah bagaimana caranya, ia selalu hadir kendati takpernah diundang. Ketakutan membuat hati kita merasa tidak nyaman, konsentrasi kita buyar, serta membuat napas kita tersengal-sengal.

Satu hari berikutnya, umur saya bertambah sementara jatah usia saya berkurang.

Sejak dulu, saya tidak pernah menganggap ulang tahun sebagai momen spesial, momen yang harus dirayakan dengan sepotong kue, meniup lilin, dan membuat permintaan. Pernah satu kali saya merengek pada mama agar ulang tahun saya dirayakan. Seingat saya ketika saya masih berusia belasan tahun. Mama membuat perayaan sederhana dengan mengundang beberapa orang tetangga. Saat itu, saya merasa bahagia.

Ketika di bangku sekolah, saya merasa beruntung karena lahir di bulan Juli. Biasanya, jika ada yang ulang tahun akan dikerjai oleh teman-teman sekelas. Misal, satu hari ia akan dicueki oleh teman-teman. Walau saya tahu itu hanya akting dan repetisi setiap tahunnya, tapi tetap saja teman yang sedang berulang tahun tertipu.

Jika Lonceng atau bel pulang sekolah sudah menggaung memenuhi setiap ruang kelas, maka siap-siaplah teman yang sedang berulang tahun tadi akan menjadi sasaran empuk oleh keisengan teman-teman sekelas. Hari itu bisa jadi hari yang paling menyebalkan. Lagi-lagi, saya beruntung tidak pernah mengalami hal itu di sekolah. Juli adalah waktu libur sekolah.

Saya pikir, tradisi mengerjai teman yang berulang tahun akan berhenti ketika kita sudah tidak menggunakan seragam sekolah. Namun saya keliru. Ketika di kampus, seorang teman saya yang sedang berulang tahun diikat oleh teman-teman lainnya di pohon. Ia pun hanya pasrah sembari tertawa geli. Beruntungnya, saya tahu apa yang dilakukan teman-teman saya itu hanya bercanda dan beruntungnya lagi teman saya yang berulang tahun tidak berkeberatan untuk dikerjai seperti itu. Jadinya, tidak ada unsur keterpaksaan dalam ritual ulang tahun kala itu. Anw, happy birthday!

Sejujurnya, saya menyukai pesta ulang tahun. Saya senang memberikan kejutan atau merencanakan pesta ulang tahun sederhana untuk teman-teman saya. Namun yang aneh, ketika saya ulang tahun, saya malah tidak ingin orang-orang merayakan ulang tahun saya. Terdengar tidak lazim. Namun begitulah adanya. Saya hanya tidak ingin merepotkan dan menjadi beban untuk orang lain. Biar, biarlah saya memaknai ulang tahun dengan cara saya sendiri.

Pun demikian, saya bersyukur untuk doa-doa baik yang disampaikan kepada saya secara langsung atau secara diam-diam. Saya sangat hargai itu. Doa adalah bentuk rasa sayang paling tinggi dari seorang manusia untuk manusia lainnya. Terima kasih wahai orang-orang yang lembut hatinya.

Di penghujung kepala dua, perasaan takut mulai menjalar melalui pembuluh darah. Ia mulai mengaktifkan hormon adrenalin oleh kelenjar adrenal. Harus saya akui, saya takut. Terkadang saya merasa di usia saya seperti sekarang, saya belum melakukan banyak hal. Saya merasa banyak sekali waktu terbuang dengan percuma. Saya merasa gagal dalam banyak hal. Saya khawatir tidak dapat memenuhi ekspektasi saya sendiri terhadap diri saya.

Di stasiun Gondangdia, saya terdiam.

Pandangan saya jauh ke depan, mata saya kosong. Suasana stasiun saat itu cukup ramai. Orang-orang berbondong-bondong memenuhi peron. Mereka takubahnya seperti sekawanan semut yang berebut masuk ke sarang. Dalam ramainya manusia, saya merasa sepi. “Kita hidup dari satu ketakutan ke ketakutan lainnya,” tiba-tiba kutipan itu melintas lagi di benak saya.

Terlalu banyak yang saya pikirkan, terlalu banyak hal yang membuat saya gusar. Kadang saya berpikir, apakah normal saya mengalami kondisi demikian? Pelan-pelan, saya coba pelajari perasaan yang mengganggu saya. Saya coba mendefinisikan perasaan takut yang mengusik ketentraman batin saya. Apa yang yang saya takutkan? Karir? Jodoh? Finansial? Kesehatan? Ternyata banyak.

Dalam kondisi demikian, mendadak saya lupa materi-materi motivasi yang biasa saya baca. Terkadang begitu mudah menasehati orang lain yang sedang dirundung masalah. Namun jika kita berada dalam kondisi yang sama, kita sendiri belum tentu bisa menerapkan apa yang sudah kita sampaikan kepada orang lain. Menyedihkan. Rasanya saat itu yang ingin saya lakukan hanyalah satu: menepi.

Mungkin ada baiknya saya rehat sejenak. Saya rasa ini isyarat dari Tuhan agar saya kembali pada-Nya, berkeluh kesah kepada Dzat yang tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

Sungguh, hingga kapanpun ketakutan akan selalu bersarang di hati manusia. Kita takut miskin, kita takut tidak dihargai, kita takut tidak mempunyai teman, kita takut mengecewakan, kita takut sakit, dan ketakutan-ketakutan lainnya.

Dalam hati yang remuk dan gelisah, saya berupaya menyerahkan semua ketakutan-ketakutan saya pada-Nya. Saya selalu percaya, Tuhan tidak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya yang selalu berbuat baik, memanusiakan manusia, dan selalu ingat pada-Nya.

Satu pinta saya pada-Nya, “Penuhilah hati saya kosong.”

If you go deeper and deeper into your own heart, you’ll be living in a world with less fear, isolation and loneliness.” – Sharon Salzberg

Jakarta,

19 Juli 2018

Advertisements

Para Penghuni Ibukota

Processed with VSCO with b5 preset
Transjakarta Blok M – Jakarta Kota (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Suara azan subuh berkumandang. Merambat melalui gelombang bunyi yang berasal dari microphone masjid, menuju menara-menara yang menjulang tinggi pada sisi kiri dan kanan masjid, hingga pada akhirnya menggetarkan gendang telinga anak manusia.

Di sebuah rumah yang takjauh dari masjid, seorang pemuda terbangun dari mimpi-mimpi yang sedari tadi menjadi serpihan mozaik dalam tidurnya. Banyak sekali potongan peristiwa yang lalu-lalang melintas dalam alam bawah sadarnya. Teramat sulit baginya untuk kembali menuliskan narasi mimpi yang dialaminya dengan lebih runut dan sistematis. Mimpi takubahnya seperti cuplikan film-film yang takjelas alurnya. Tiba-tiba semuanya hilang, pergi entah kemana. Seketika ia lupa dengan semua semua peristiwa yang terjadi dalam mimpinya. Takada satu pun yang tersisa.

Pemuda tersebut terbangun dalam keadaan setengah sadar. Dengan kesal ia mematikan alarm yang berdering kencang, kemudian dengan langkah gontai ia pergi kamar mandi. Tepat pukul 08.00 pagi ia harus tiba di kantor. Begitu peraturan pekerjaan di kantornya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Sementara di tempat lain, seorang ibu paruh baya sudah bangun sejak pukul tiga pagi. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berwudu untuk salat malam, sholat tahajjud.

Menjelang subuh, ibu tersebut membaca Al-Quran dan membangunkan anggota keluarganya; suami dan anak-anaknya untuk bersiap menjalankan ibadah salat subuh di masjid yang takjauh dari rumahnya.

Processed with VSCO with b5 preset
Jakartans at Halte Harmoni

Kini, sinar mentari menelan fajar. Langit yang tadi kelam menjadi sedikit lebih cerah. Perlahan mentari naik menyinari bumi, burung-burung berkicau dengan merdunya menyambut indahnya pagi, dan kekanak rewel ketika disuruh berangkat ke sekolah. Namun sang ibu memiliki banyak cara untuk membujuk anak-anaknya. 1001 cara membujuk anak. Ilmu itu tidak ia dapat di bangku sekolah.

Di tempat yang lain, seorang perempuan yang duduk di halte bus terlihat kasak-kusuk. Betapa tidak, sudah hampir dua jam lamanya ia menunggu bus. Namun bus yang ia tunggu-tunggu takkunjung tiba. Ia pun semakin gelisah dan panik. Pasalnya, ia harus lekas tiba di sebuah perusahaan ternama karena ia dipanggil untuk wawancara kerja. 15 menit waktu yang ia punya. Jika tidak, ia akan kehilangan kesempatan untuk wawancara kerja. Ia semakin kesal, semakin gelisah, dan semakin mengutuk diri mengapa ia bernasib sial hari itu.

Masih di halte yang sama, seorang ibu pedagang kelontong yang menjajakan dagangannya seperti air mineral, permen, mie instan, dan roti. Ibu tersebut sangat berharap ada satu dari pulahan orang di halte yang berkenan membeli dagangannya. Pikiran ibu itu menjadi kalut. Ia khawatir jika barang dagangannya tidak ada yang membeli, maka anak-anaknya akan kelaparan.

Siang hari, hujan lebat mengguyur kota Jakarta. Para pengguna motor menepi ke jalan. Mereka mencari tempat berteduh di bawah jembatan penyebarangan, mampir di kios-kios, dan ada juga yang berteduh di terowongan jalan layang. Beberapa dari mereka terlihat kesal lantaran hujan yang turun tiba-tiba. “Ah, andai hujan tidak turun pasti saya bisa pulang ke rumah tepat waktu. Hujan sangat menghambat saya.”

Sementara itu, di tempat yang berbeda, puluhan orang keluar dari gedung berlantai tiga. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing setelah lebih dari delapan bekerja, bertemu klien, serta mengurusi pekerjaan yang seolah takada habis-habisnya. Mereka terlihat sangat kelelahan. Ingin rasanya cepat-cepat tiba di rumah untuk mandi, makan, dan kemudian istirahat sebab esok pagi ia harus kembali bekerja.

Malam hari, saat semua orang terlelap tidur; saat mereka berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain, seorang perempuan paruh baya bangun dari tidurnya. Padahal ia baru tertidur selama empat jam. Selama satu hari penuh ia berperan dengan sangat baik sebagai seorang ibu rumah tangga: menyiapkan makanan untuk keluarga, membersihkan rumah, dan membantu cucunya mengerjakan tugas sekolah. Namun perempuan paruh baya itu merasa waktu yang ia punya tidaklah banyak. Ia harus cerdas memanfaatkan dengan sebaik mungkin. Beberapa menit kemudian, perempuan baya itu mengenakan mukena warna putih. Ia pun larut dalam munajat cinta kepada Pencipta-Nya.

Satu hari terdiri dari 24 jam. Ada banyak orang menganggap waktu 24 jam dalam 1 hari sangatlah sempit karena begitu banyak pekerjaan dan aktivitas yang harus dilakukan. Sementara tidak sedikit juga yang mengganggap waktu 24 jam dalam sehari sangatlah lama. Mereka ingin waktu bergulir sangat cepat, bahkan lebih cepat. Mereka bingung untuk apa mereka hidup dan apa saja hal yang harus dilakukan untuk mengisi hidup. Mereka seolah gamang dengan hidup yang saat ini mereka jalani. Seperti seorang penunggang onta di lautan padang pasir yang tidak tahu kemana arah harus dituju. Kosong dan mereka tidak menyadari begitu banyak kekosongan-kekosongan yang memenuhi relung jiwa mereka.

Mungkin, saya salah satu dari seribu orang yang penat dengan hidup yang telah saya jalani. Saya kemudian bertanya tentang banyak hal yang sudah saya lalui. Kadang saya merasa jenuh, bosan, muak, dan semuanya seakan begitu melelahkan. Pernah, saya berada pada titik yang paling menjemukan sehingga saya bingung harus berbuat apa lagi. Tetap bertahan dengan angan-angan kosong takberkesudahan atau tetap menantang hari demi hari?

Mungkin, ada baiknya saya harus menarik diri dari keramaian manusia. Sejenak, saya perlu kembali ke gua, tempat yang membuat saya merasa nyaman dan merasa tentram. Saya perlu kembali merenungi atas berbagai hal yang pernah terjadi dalam hidup saya.

Rasanya, saya butuh waktu sejenak berpikir secara mendalam. Saya butuh merenung dan memetik hikmah dari jutaan memori yang pernah direkam otak saya. Ada banyak potongan peristiwa yang terjadi dalam hidup saya: kegagalan, keketiran, kepahitan, dan kebahagian. Semua hal itu rasanya perlu untuk diresapi hingga akhirnya saya siap lahir menjadi manusia yang baru. Reborn.

                                                Jakarta, 17 Mei 2013

Sebelum Terlambat

Source: https://pxhere.com/ru/photo/368492

Menjalin hubungan, tidak melulu berkisah tentang momen yang bahagia, menyenangkan, dan suka cita. Namun, ada juga momen yang tidak kita harapan hadir kemudian lahir menjadi  pengalaman yang tidak menyenangkan. Kerap kali, kita hanya menginginkan hari-hari kita dihiasi dengan tawa tanpa sedih dan duka.

Akan tetapi, nyatanya cerita hidup anak manusia hadir dalam paket yang lengkap; suka dan duka. Seringkali kita mengutuk nasib atas hal buruk terjadi dalam hidup kita atau orang-orang terdekat kita. Jika itu terjadi, lantas kita bisa berbuat apa? Kita hanyalah seorang aktor atau aktris yang memainkan skenario yang telah ditulis Tuhan sebagai Sang Sutradara. Jika ada hal yang kurang berkenan, anggap saja sebagai bagian cerita yang mau tidak mau harus kita perankan, walau harus dengan tertatih-tatih.

Pada 1 Maret 2015 lalu, saya mendapat kabar duka. Seorang sahabat saya, Arry Purwaningsih dipanggil oleh Tuhan pada usia yang masih sangat muda, 26 tahun. Mendengar kabar duka tersebut, hati saya remuk. Saya tidak menyangka ia akan pergi secepat itu, semendadak itu. Sebetulnya, Arry sudah sakit sejak lama, namun ternyata Tuhan sangat sayang terhadap Arry. Tuhan mengangkat rasa sakit Arry untuk selama-lamanya. Kini, ia beristirahat dengan tenang di sana. Semoga Tuhan berikan tempat yang terbaik untuk Arry. Selama mengenal Arry, ia merupakan pribadi yang baik, tulus, dan ceria.

Perginya Arry untuk selama-lamanya menyisakan rasa sesal dalam hati saya. Seingat saya, satu pekan sebelum ia meninggal, teman saya bernama Kantri mengajak saya ke Bandung untuk membesuk Arry. Namun karena saat itu saya sibuk dan berpikir bahwa jarak Jakarta ke Bandung tidaklah dekat, akhirnya saya urungkan niat untuk membesuk Arry.

Ya, penyesalan selalu datang belakangan, begitulah yang terus terjadi. Andai saja waktu itu saya memutuskan membesuk Arry, mungkin saya tidak akan merasa begitu bersalah. Setidaknya, saya bisa hadir pada hari-hari terakhir Arry. Memberikan dukungan moril dan turut merasakan beban atas apa yang ia rasakan. Sayangnya, itu hanya angan-angan kosong yang takakan mungkin terjadi.

Sejak kejadian itu, saya belajar satu hal: jangan pernah menunda-nunda kebaikan karena kita tidak pernah tahu apakah kita masih sempat berbuat baik atau semuanya sudah terlambat, tidak ada artinya. Saya hanya tidak ingin menyesal pada kasus yang sama. Penyesalan membuat saya merasa bersalah. Sungguh tidak mengenakkan.

Semakin ke sini, jika ada orang-orang terdekat saya sedang sakit bahkan harus dirawat di rumah sakit, saya akan upayakan untuk bisa membesuknya tanpa harus mengulur-ulur waktu. Saya tahu, barangkali kehadiran saya mungkin tidak mempercepat kesembuhan, namun saya hanya ingin memastikan bahwa diri saya hadir di dekat orang-orang terdekat saya, terutama pada masa-masa yang sulit

Saya pernah sakit, semua orang pernah sakit. Ketika kita sakit, kita menjadi lebih sentimentil, kita merasa takberdaya, serta kita merasa sangat kesepian. Lebih menyedihkan, pada saat kita sakit, pikiran-pikiran buruk lalu lalang di otak kita tanpa kita undang. Ia menyajikan potongan-potongan peristiwa dalam hidup kita yang tidak mengenakkan. Layaknya Dementor yang menghisap sumber kebahagiaan. Benar-benar mengerikan.

Saya hanya berharap dan terus berharap semoga prinsip hidup ini terus saya amalkan. Entah saya kapan? Mungkin hingga saya dibebastugaskan oleh Tuhan sebagai seorang makhluk sosial. Saya rasa begitu.

“Don’t let bad memories kill you. You can make a new memory, a good one. Remember, good  can save your life.” – The Punisher. 

Tentang memori baik, rasanya takselalu menyajikan rangkaian pengalaman yang seru-seru saja. Saya pikir, hadir pada saat-saat berat untuk orang terdekat adalah memori baik yang selalu baik untuk diingat. Saya mungkin pengkoleksi memori, saya berharap saya pengkoleksi memori yang baik. Hanya itu.

 

Jakarta, 31 Januari 2018

Spektrum Kebaikan

Processed with VSCO with a6 preset
Happee Birthdae, Harry! 

Hari ini, saya dan teman saya yang bernama Christin memiliki rencana untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk sahabat kami, Harry. Sebetulnya, ulang tahun Harry kemarin, namun kami berpikir bahwa malam inilah yang paling tepat untuk memberikan kejutan untuknya. Betapa tidak, malam ini, kali pertama pada tahun 2018, kami latihan cardio ceria kembali sejak terakhir latihan pada Desember 2017.

Kamipun membeli kue di salah satu toko kue ternama di Jakarta. Tulisan pada kue tersebut bertuliskan, “Happee Birthdae, Harry.” Persis seperti tulisan pada kue ulang tahun Harry yang diberikan oleh Hagrid. Lantaran nama mereka mirip, sebagai seorang Potterhead, saya pikir itu ide yang cerdas.

Membawa kue serta memberikan kejutan sederhana untuk teman yang sedang ulang tahun, barangkali menjadi hal yang lumrah di muka bumi ini. Namun bagi saya pribadi, yang spesial dari ulang tahun itu bukan terletak pada kue yang enak atau ucapan selamat ulang tahun yang berduyun-duyun diterima dari orang-orang terdekat, melainkan momen ulang tahun itu sendiri.

Sejatinya, kita hidup dari satu momen ke momen lainnya. Seringkali, momen-momen yang terjadi dalam hidup kita terasa hambar, biasa saja. Untuk itu, kita butuh orang-orang di sekitar kita untuk bersinergi menciptakan momen yang berarti, momen yang akan selalu indah untuk dikenang. Bila kita merindukan momen tersebut, kita hanya perlu memanggilnya sesuka hati; kapan pun dan di mana pun.

Pada momen-momen yang menyejukkan hati, kita bersyukur dan bahagia.

Benar adanya apa yang pernah dikatakan Christopher McCandless, “Happiness is only real when shared.” Hanya dengan berbagi kita merasa layak mencintai dan dicintai sebagai seorang manusia yang jauh dari kesempurnaan.

Saya selalu bahagia hadir pada momen-momen penting dalam hidup orang-orang yang yang saya kasihi.

Dulu, ketika di kampus, saya selalu senang jika datang ke wisuda senior-senior di BEM. Seingat saya, ketika itu saya masih tingkat dua. Satu tahun kebersamaan kami sebagai pengurus BEM terasa sangat lekat dan hangat. Seolah tiada jarak yang membuat hubungan kami menjadi sungkan untuk berkata, “Ya, berteman baik.”

Hadir pada hari wisuda mereka, membawakan sekuntum bunga atau hadiah ala kadarnya, membuat hati saya bahagia. Energi kebahagiaan terasa mengalir hebat saat mereka menyunggingkan senyuman terbaik, saat mereka menjabat tangan saya, atau saat mereka mengucapkan terima kasih karena saya sudah hadir pada hari spesial mereka.

Kebahagiaan memancar memasuki relung hati saya yang terdalam. Melihat mereka bahagia, saya pun turut bahagia. Sesederhana itu. Apalagi, saya pernah menjadi saksi betapa tidak mudah perjalanan mereka menggapai gelar sarjana; begadang, menghabiskan waktu di depan laptop, serta berulang kali harus revisi atas titah dosen pembimbing. Namun proses yang sulit terasa sangat manis saat hari yang bahagia akhirnya tiba.

Akan tetapi, kerap kali ada bisik yang membuat saya harus menuntut atas apa yang sudah saya lakukan. “Bukankah hidup itu take and give? Sudah sepantasnya saya mendapatkan hal yang sama seperti apa yang sudah saya lakukan?” Saya tidak yakin, apakah itu suara hati saya yang sesungguhnya atau hanya suara dari sisi tergelap saya?

Namun dari kehidupan saya belajar, bila kita menggantungkan kebahagiaan kita kepada orang lain, maka siap-siaplah untuk menerima kekecewaan. No one is perfect.

Ada masanya, orang-orang yang di dekat kita akan membuat kita kecewa, akan membuat hati terluka. Untuk itu, langkah terbijak yang bisa kita upayakan hanyalah berbuat baik tanpa menunggu balasan kebaikan datang dari orang-orang yang pernah kita sentuh hatinya. Mungkin ini terdengar klise, namun demikianlah formula yang paling sesuai untuk meredam kekecewaan.

Berbuat baik harusnya tanpa alasan. Berbuat baik harusnya membuat hati kita terkesan. Sebab, spektrum kebaikan menjangkau hingga mengetuk pintu langit. Percayalah, tidak ada kesia-siaan yang lahir dari benih kebaikan yang sudah kita tanam. Kelak, kita akan memanennya dalam bentuk buah yang ranum warnanya dan enak rasanya. Saya tidak yakin telah membuat perumpamaan yang benar. Namun saya hanya berusaha memastikan bahwa jangan pernah menyesal jika telah berbuat baik. Penyesalan hanya boleh terjadi jika kita memiliki rasa sesal itu sendiri.

Oleh sebab itu, berulang kali kita diminta untuk selalu memeriksa niat ketika hendak berbuat baik. Untuk apa dan siapa kita berbuat baik? Jika ada yang mengganjal di hati, ada baiknya kita selalu perbaiki niat. Sebab pada niat semua kebaikan kita akan dinilai Tuhan.

Saya selalu percaya, kindness is contagious. Kebaikan yang sudah kita perbuat, akan mendatangkan kebaikan-kebaikan lainnya. Bisa jadi, ada orang yang terinspirasi atas kebaikan yang kita lakukan kendati itu hanyalah kebaikan sederhana. Jadi, jangan pernah lelah berbuat baik selama hayat masih di kandung badan. Begitu pepatah lama berpesan kepada kita.

Jakarta, 11 Januari 2018

Menyimpan Masalah di Kantong Celana

IMG_5634
Autumn in Yogyakarta (2017) Photo by. Mahfud Achyar

“Aku amati, kamu seperti tidak punya masalah ya? Dari tadi, aku sudah cerita banyak tentang masalah-masalah yang hinggap di hidupku. Masalah pekerjaan, masalah asmara, dan masalah keluarga. Aku heran masalah datang silih berganti dalam hidupku,” ujar seorang sahabat mengganti topik pembicaraan malam itu, usai pulang kantor.

Saya pun langsung terperanjak. Sungguh, pertanyaan spontan yang keluar dari mulut sahabat saya tersebut membuat saya bingung. Seketika lidah saya kelu. Padahal, sejak tadi kita hanya fokus membahas permasalahan-permasalahan yang tengah ia hadapi. Lantas kemudian ia balik bertanya kepada saya, “Masalah kamu apa?”

Sejujurnya, saya bukanlah tipikal manusia yang ekspresif terutama ketika sedang menghadapi masalah. “Ekspresi muka kamu begitu-begitu saja ya?” timpal sahabat saya tadi.

Hmmm sepertinya itu benar. Eskpresi muka saya ya begitu-begitu saja. Tidak ada perubahan raut muka yang begitu mencolok. Jika saya bercermin, terkadang saya sulit membedakan eskpresi muka saya ketika kaget, cemas, marah, atau sedih. Mungkin tipikal manusia dengan minim ekspresi.

Bila saya dirundung masalah, saya jarang berbagi pada siapapun. Sejak dulu, saya tidak terbiasa curhat. Jika ada hal yang mengganjal di hati saya, saya hanya bisa diam, menyimpan rapat-rapat perasaan saya sesungguhnya. Bila terpaksa berbagi, saya hanya mengutarakan bagian ‘kulitnya’ saja. Mungkin ada beberapa sahabat yang membuat saya nyaman untuk bercerita banyak hal. Pada mereka, saya mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan mendengar keluh kesah saya.

Dulu, saya berpikir, orang yang sering curhat adalah orang yang lemah. Seolah mereka tidak kuasa menanggung beban yang menggelayut di pundak mereka.

Takdinyana, ternyata prinsip kuno seperti itu terus saya pupuk dan saya rawat. Saya enggan untuk bercerita kepada siapapun, termasuk kepada keluarga saya sendiri. Saya benar-benar setertutup itu. Seolah tidak mengizinkan seorangpun tahu apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang saya harapkan. Saya hanya bercerita kepada Tuhan perihal perasaan saya. Sebab, hanya Dia yang tahu apa yang sesungguhnya ada di dalam hati dan pikiran saya.

Akan tetapi, sekarang saya menyadari bahwa sesungguhnya kita perlu menyalurkan emosi kita kepada orang lain—entah itu sahabat, pasangan, atau keluarga. Kehadiran mereka mungkin tidak serta merta menyelesaikan permasalah yang kita alami. Namun ketika berbagi, hati kita merasa lega. Setidaknya kita mulai membuka diri bahwa ada orang-orang yang bisa kita percaya. Tanpa kepercayaan, kita hanyalah sekumpulan manusia yang hatinya diliputi prasangka dan curiga.

“Tidak ada masalah yang terlalu besar. Tenang, sejauh ini semuanya masih bisa ditangani dengan baik,” jawab saya diplomatis.

Kala itu, saya sama sekali tidak bermaksud berbohong kepada sahabat saya. Memang, ada beberapa masalah yang sedang saya hadapi. Namun, setelah mendengar curhat darinya, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi tidak ada artinya.

“Setiap orang punya masalah. Bedanya hanya terletak dari cara kita menghadapinya,” kata sahabat saya yang lainnya yang bernama Dea Tantyo pada suatu ketika di Jatinangor.

Buah pikiran Dea selalu melekat di benak saya hingga saat ini. Saya amati, memang benar adanya apa yang dikatakan Dea. Setiap orang punya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah.

Ada beberapa orang bila memiliki masalah atau bermasalah dengan orang lain, mereka lantas mengumbarnya di jejaring media sosial. Sayapun bingung entah apa tujuan mereka? Mungkin untuk melampiaskan kekesalalan atau bisa jadi untuk menyindir orang yang sedang bertikai dengannya. Saya bahkan pernah menjadi orang yang disindir atau merasa tersindir ketika hubungan saya dengan teman saya sedang tidak harmonis.

Kerap kali saya juga ingin membalas sindir-menyindir di media sosial. Namun kemudian saya berpikir, “Jika saya melakukan hal yang sama, lantas apa yang membedakan saya dengannya? Saya tidak membuat perbedaan sama sekali,” saya membatin.

Seorang dosen saya yang bernama Pak Irwansyah pernah berpesan ketika sesi perkuliahan di lantai 22 di daerah bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih pesannya seperti ini, “Ketika kalian masuk ke dunia digital. Maka berhati-hatilah. Sebab, apa yang kalian tulis dan konten yang kalian produksi akan terekam dengan baik.”

Malam itu, usai perkuliahan, saya mulai merefleksi diri agaknya banyak hal buruk sudah saya tinggalkan di media sosial. Banyak sahutan yang takberguna dan banyak keluh kesah yang tidak pada tempatnya.

Dulu, saya sangat reaktif. Mudah sekali mengomentari apapun yang tidak sejalan dengan pemikiran saya. Semuanya saya tumpahkan di media sosial. Jika ada masalah personal pun, saya juga terkadang curhat colongan di media sosial dengan menggunakan ragam gaya bahasa agar pesannya terlihat samar.

Jika dipikir-pikir lagi, apa gunanya saya curhat di media sosial?Agar dunia tahu saya sedang sengsara? Agar dunia bersimpati kepada saya? Padahal, ketika saya curhat di media sosial, orang-orang yang membaca curhatan saya tidak benar-benar ingin membantu saya. Mereka mungkin hanya penasaran terhadap masalah saya. Sisanya hanya akan mencibir bahwa saya tidak cukup berani menyelesaikan masalah secara langsung di dunia nyata.

Seharusnya kita lebih selektif untuk berbagi resah. Seperti perkataan Charity Barnum, “You don’t need everyone to love you, Phin, just a few good people”.

Sungguh, berulang kali, kita selalu diingatkan bahwa Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Jika sedang tidak punya masalah berat, nasehat tersebut begitu mudah saya terima. Namun sialnya ketika saya dirundung masalah berat, saya merasa Tuhan tidak adil kepada saya. Mengapa dari sekian milyar manusia di bumi ini sayalah yang terpilih untuk menanggung beban berat (dalam perspektif saya)? Seharusnya saya berlapang dada bahwasanya masalah seharusnya membuat saya kian kuat, kian naik kelas, dan kian hebat.

Jika saya mendapatkan masalah atau ujian yang sama, artinya saya belum layak naik level ke level yang lebih tinggi. Kata Nicole Reed, “Sometimes the bad things that happen in our lives put us directly on the path to the best things that will ever happen to us.”

Tentang menyikapi masalah secara bijak, beruntungnya saya di kelilingi oleh orang-orang yang hebat. Pada mereka saya belajar bahwa apapun masalah yang sedang kita hadapi, percayalah akan ada cara untuk menyudahinya. Semuanya akan dipergilirkan. Adalah waktu yang menjawab segalanya. Lambat atau cepat semuanya kini terasa relatif.

Jika masalah takubahnya seperti secarik kertas yang sudah remuk, maka mungkin ada baiknya kita menyimpannya di kantong celana. Suatu saat, kertas remuk itu akan kita buang. Ia akan pergi bersama aliran air hujan yang turun di penghujung April.

         Jakarta, 16 April 2018

On This Day

facebook-on-this-day-136397061517503901-150325095552

Setiap hari, Facebook selalu mengingatkan saya untuk membuka kenangan yang terjadi di masa lampau, baik berupa status, foto, video, maupun tautan.

Kenangan-kenangan tersebut terjadi pada tanggal dan bulan yang sama, hanya tahun saja yang berbeda. Logaritma yang dibangun Facebook memang patut diacungi jempol sebab kini setiap orang dapat bernostalgia atas kenangan-kenangan yang telah terjadi. Saya bergabung sebagai pengguna Facebook sejak tahun 2008. Rupanya banyak hal yang sudah terjadi: suka, duka, dan tentunya sedikit ke-alay-an.

Saya sering membuka notifikasi “On This Day”. Saya amati, ada beberapa status yang sepertinya perlu dihapus, ada foto-foto yang perlu di-untag (apa padanan bahasa Indonesia yang tepat untuk istilah ini?), serta ada juga tautan berita-berita yang nampaknya sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini.

Yepp, seperti itulah cara kerja logaritma “On This Day” yang ditawarkan oleh Facebook. Saya berhak memilih mana kenangan yang seharusnya dihapus, mana pula yang patut untuk dipertahankan dan terus diingat. Mengutip perkataan Kurt Vonnegut, “We are what we pretend to be, so we must be careful about what we pretend to be.”

Sama halnya dengan hidup, kita mungkin tidak bisa mengubah masa lalu. Sebab kita tidak ada kuasa untuk itu. Kita tidak memungkinkan untuk meminjam alat chronosphere seperti yang digunakan Alice saat melakukan perjalanan waktu (travel time). Namun kabar baiknya, kita dapat memilih dan menentukan apa yang mau kita lakukan saat ini dan masa depan.

Intinya, kita adalah tuan untuk hati dan pikiran kita. Jadi, pergunakanlah pilihan hidup kita dengan baik agar kelak kita tidak perlu menyesal atas pilihan-pilihan hidup yang sudah kita jalankan.

Be wise, be brave!

Jakarta,
23 Februari 2018.

Kesempatan Terakhir

Kano (2014)

Bagi saya, pelajaran hidup bisa datang di mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa saja. Hari ini contohnya. Saya mendapatkan pelajaran hidup dari film yang baru saja saya tonton. Judul film tersebut yaitu “Kano”, sebuah film yang dirilis pada tahun 2014 yang bercerita tentang tim baseball SMA di Taiwan yang melakukan perjalanan ke Jepang pada tahun 1931 untuk mengikuti kompetisi Japanese High School Baseball Championship di stadion Koshien.

Anggota klub baseball Kano berasal dari berbagai etnis yang terdiri dari orang-orang asli Taiwan, pemain Han Taiwan, dan Jepang. Kano hanyalah klub baseball kecil di daerah bagian selatan Taiwan yang tidak populer. Bisa dikatakan, Kano minim prestasi. Namun, berkat asuhan pelatih bernama Hondo, perlahan Kano menjelma menjadi klub yang mulai dibicarakan dan mulai mendapat ruang di hati para penggemar baseball.

Singkat cerita, Kano berhasil menjadi perwakilan Taiwan pada ajang kompetisi bergengsi di Koshien Jepang. Sayangnya, Kano tidak berhasil membawa pulang gelar juara. Pun begitu, suara tepuk tangan riuh rendah menggaung di setiap sudut di stadion Koshien. Para penonton terbawa suasana haru usai menyaksikan pertandingan yang dramatis: penuh luka dan air mata.

Kendati Kano gagal menjadi pemenang, namun para penonton menjadi saksi betapa kegigihan, kerja keras, dan pengorbanan merupakan hal yang terindah dari sebuah proses menuju kesuksesan. Kano, sebuah klub yang tidak terkenal, jauh dari sorotan media, namun pada puncak pertandingan menyuguhkan sebuah pertunjukan yang akan selalu dikenang. Collateral beauty; it’s the beauty on the inside, now how you look but how you act and feel — basically your personality.

Saya tidak ingin bercerita banyak tentang film Kano. Namun dari sekian banyak adegan di film tersebut, ada adegan yang cukup membekas di benak saya serta menyentuh hingga ke relung jiwa. Adegan yang saya maksud yaitu ketika seorang guru bernama Hamada menjelaskan kepada anak-anak muridnya (anggota klub Kano) tentang filosofi pohon pepaya miliknya.

“Aku akan memberitahumu rahasia tentang pepaya ini. Tahun lalu, aku menanam paku pada akar setiap pohon pepaya. Setelah itu, setiap pohon menghasilkan buah yang besar dan lezat. Itu karena paku dipalu ke akar yang membuat pohon berpikir itu sekarat. Jadi berusaha sangat keras untuk menghasilkan buah yang manis untuk memastikan reproduksi sendiri. Ini adalah rahasia hidup atau mati yang membuat pohon pepaya meletakkan segala sesuatu ke dalam buahnya,” jelas Hamada.

Menonton adegan tersebut saya terdiam dan berupaya meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Hamada. Akal logis saya berusaha menolak argumen yang dilontarkan Hamada. Namun satu sisi, batin saya mengiyakan apa yang disampaikan Hamada benar adanya. Terkadang dalam hidup, tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua atau kesempatan ketiga.

Seringkali kita dihadapkan hanya satu pilihan, satu-satunya jalan, dan satu-satunya kesempatan. Jika kita abai, kita hanya akan berujung pada penyelesan yang tiada berkesudahan. Semua orang pernah mengalami itu, termasuk saya pribadi.

Dulu, ketika di bangku SMA, saya ditunjuk oleh guru Bahasa Indonesia sebagai perwakilan sekolah untuk lomba baca puisi. Saya berhasil mengalahkan teman saya yang menjadi saingan terberat saya. Kata guru saya, “Penghayatan saya bagus.” Ia yakin bahwa saya bisa membaca puisi dengan sangat baik.

Malam sebelum perlombaan, saya mendengarkan kaset kumpulan puisi dari para penyair legendaris seperti Chairil Anwar dan W.S. Rendra. Dari sekian banyak karya Chairil Anwar, saya memilih puisi yang berjudul “Aku” untuk materi lomba. Malam itu, saya yakin sekali akan menyuguhkan penampilan terbaik. Namun sayang, keyakinan saya tidak dibarengi dengan kerja keras. Ya, saya hanya sebatas mendengarkan Chairil membacakan puisi kemudian berlatih ala kadarnya.

Sejujurnya, saya tidak begitu serius mempersiapkan diri agar bisa menang lomba baca puisi. Padahal, saya sudah mendapatkan kepercayaan dari guru sebagai perwakilan sekolah. Saya terlalu meremehkan lomba baca puisi dengan tidak berlatih secara serius. Hasilnya, jelas saya tidak menjadi juara. Memalukan.

Saya malu bukan karena saya tidak menang. Namun saya malu pada diri saya sendiri karena telah menyia-nyiakan peluang yang saya dapatkan ketika di bangku SMA. Padahal, itu adalah kesempatan baik sekaligus kesempatan terakhir yang saya miliki sebelum lulus sekolah. Andai saja, saat itu saya berlatih dengan keras, serius, dan tekun mungkin ceritanya akan berbeda. Jikapun saya memang kalah, tapi setidaknya saya akan berani berkata, “Ya, saya sudah berupaya maksimal, terbaik semampu saya. Jika tidak menang, tidak masalah. Saya begitu menikmati proses perjuangan yang melelahkan. Itu sudah membuat saya bahagia.”

Sejak kejadian itu, saya belajar tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan. Jika ada kesempatan baik dan layak diperjuangkan, saya akan bersungguh-sungguh. Jikapun gagal, saya tidak harus menyesalinya. Sama seperti pohon pepaya yang dipaku tadi, setidaknya saya sudah memberikan yang terbaik, sebisa saya, semampu saya. Untuk hasil, biarkan Tuhan yang menjawabnya.

Jakarta,

29 Juli 2016