Ketika Sahabat Baik Kita Menikah

Processed with VSCO with hb1 preset

Suatu ketika, salah seorang sahabat saya meninggalkan sebuah pesan di grup WhatsApp. Pesannya, “Nanti kalau Dan (bukan nama sebenarnya) menikah, pasti kita akan jarang lagi kumpul-kumpul ya?” Tidak lama setelah sahabat saya menulis pesan, selang beberapa menit salah seorang sahabat saya yang akan menikah menimpali pesan yang bernada pesimistis tersebut. “Ya kumpul-kumpul aja. Tidak ada perubahan berarti kok. Namun mungkin intensitasnya saja yang tidak sama.”

Saya pun hanya bisa mengamati obrolan mereka tanpa harus ikut terlibat. Saya sungkan untuk mengemukakan pendapat. Lagi pula, setelah saya pikir-pikir lagi, menikah ataupun belum, kondisinya memang kami tidak setiap hari atau setiap pekan bertemu. Jika ada momen-momen tertentu, barulah kita bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Misalnya, salah seorang sahabat saya merayakan pergantian usia atau tiba-tiba kami semua tertarik untuk menonton film terbaru di bioskop.

Kembali ke pertanyaan sahabat saya tadi, bagaimana perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah? Jujur, dulu ketika saya tahu ada sahabat saya yang akan menikah, saya merasa seperti kehilangan. Agaknya berlebihan jika saya sempat merasakan hal demikan. Namun apa boleh buat, kondisi batin yang saya alami pada saat itu memang begitu adanya. Takdapat disangkal. Betapa tidak, kami terbiasa melakukan berbagai hal bersama, namun pernikahan membuat semuanya berubah. Kata Keane, “….I try to stay awake and remember my name. But everybody’s changing. And I don’t feel the same.”

Akan tetapi, semakin saya dewasa, semakin bertambah usia, saya sadar bahwa pada akhirnya setiap manusia bertranformasi dari satu fase ke fase yang lain, dari sudut pandang satu ke sudut pandang yang lain. Pun demikian, semua hal-hal baik akan terus kekal. Percayalah, rasanya masih akan tetap sama.

Sebagai seorang sahabat yang belum menikah, saya tidak mungkin menahan sahabat saya sembari berkata, “Hai, bisa tunggu saya sedikit lebih lama hingga saya juga menemukan teman hidup?”

Saya tidak pernah mengatakan hal tersebut kepada siapapun, termasuk sahabat dekat saya sendiri. Justru sebaliknya, sayalah orang yang paling bahagia ketika mengetahui bahwa sahabat baik saya telah menemukan teman berbagi, baik dalam kondisi suka maupun duka. Upaya terbaik yang bisa saya curahkan hanyalah berdoa semoga hatinya selalu diliputi ketenangan, kenyamanan, dan rasa syukur.

Kendati demikian, memang tidak bisa saya pungkiri bahwa pada akhirnya waktu mengubah segalanya. Jika dulu, indikator hubungan persahabatan yang sehat dinilai dari seberapa intens kita berkomunikasi dan bertemu, kini mengetahui sahabat kita dalam kondisi sehat, bahagia, dan baik-baik saja–saya rasa itu lebih dari cukup. Sesekali saya hanya bisa mengamati kondisi mereka dari lini media sosial. Terkadang saya beranikan diri untuk menanyakan kabar, memastikan kabar sahabat saya baik-baik saja. Namun sejak menikah, tentunya komunikasi antara kami mulai dibatasi. Saya pikir hal tersebut sudah selayaknya dilakukan oleh orang dewasa. Tujuannya taklain hanya untuk sama-sama menjaga peran.

Beruntung, saya memiliki sahabat dekat tidak hanya laki-laki namun juga perempuan. Saya pikir dulu tidak dikenal persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Saya khawatir “rasa” merusak makna persahabatan itu sendiri. Namun agaknya saya salah. Buktinya, saya memiliki sahabat perempuan yang sangat baik; mendukung saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Saya beruntung mengenal dan menjadi sahabat mereka.

Pernikahan memang mengubah hubungan persahabatan. Namun tidak mengubah banyak hal. Memang ada beberapa sahabat saya setelah menikah menyebabkan komunikasi di antara kami tidak sebaik dulu. Sayapun mafhum dengan kondisi tersebut. Ketika seseorang memutuskan untuk menikah, sejatinya mereka telah lahir menjadi manusia yang baru: ia memiliki tanggung jawab yang baru, peran yang baru, dan tentunya prioritas yang baru.

Kata Mama saya, “Jangan pernah memutuskan tali silaturahiim.” Beberapa kesempatan, saya mengirim pesan kepada sahabat-sahabat saya sudah mulai lost contact seperti menanyakan kabar, mengucapkan selamat ulang tahun, atau mengirim kutipan-kutipan inspiratif. Saya berupaya menjaga hubungan baik dengan sahabat-sahabat saya walau kini kami sudah terpisah dalam interval yang cukup jauh.

Saya pernah bercerita kepada sahabat saya bahwa semua doa-doa anak manusia diijabah oleh Tuhan. Ada yang dijawab langsung, ada yang ditunda, dan ada yang diganti dalam bentuk lain. Saya berkeyakinan bahwa memiliki sahabat-sahabat yang baik, positif, dan inspiratif merupakan jawaban doa dari Tuhan yang diganti dengan bentuk lain. Saya tidak henti-hentinya untuk mensyukuri hal tersebut hingga detik ini. Anugrah dari langit untuk penduduk bumi.

Ada hal yang menarik yang saya amati dari lingkaran persahabatan saya, kendati dari mereka sudah banyak menikah namun nyatanya kami masih bersahabat dengan baik. Bahkan, pasangan mereka (istri/suami) menjadi sahabat baik saya juga. Rasa-rasanya saya tidak akan pernah merasa kehilangan mereka. Jadi, kembali lagi pada pertanyaan, “Seperti apa perasaan saya ketika sahabat baik saya menikah?” Hati saya diliputi kebahagiaan. Bahagia mereka adalah bahagia saya. Duka mereka adalah duka saya. Begitulah adanya. Tidak ada yang pernah berubah: hari ini, esok, dan seterusnya.

Terakhir, izinkan saya mengutip perkataan Elbert Hubbard, “A friend is someone who knows all about you and still loves you.”

Jakarta,

29 Juli 2017.

Precognitive Dream

Deja Vu sebuah keadaan di mana kita merasa pernah mengalami sebuah momen atau kejadian pada masa lampau lantas kemudian terulang kembali. Rasanya hampir semua orang pernah mengalami hal demikian. Entah bagaimana cara kerjanya, sayapun tidak mengerti akan hal itu.

dreams_by_whisperfall
Source: https://msinop1.wordpress.com

Namun belakangan ini, saya mengalami journey semacam De Javu namun rasanya tidak tepat bila disebut De Javu. Journey yang saya maksud yaitu, saya beberapa kali datang ke sebuah tempat di mana tempat tersebut sudah pernah saya datangi sebelumnya. Datang dalam artian bukan perjalanan fisik, melainkan perjalanan ruh.

Ya, beberapa tempat yang saya datangi ternyata sudah pernah saya kunjungi sebelumnya di alam mimpi. Barangkali agak cukup rumit menjelaskannya. Namun ini tidak mengada-ada. Saya ingat dengan sangat jelas bahwa memang tempat-tempat seperti savanna di gunung Lawu, jalanan menuju Cidahu, dan sebagainya memang pernah saya datangi di dalam mimpi. Persis sekali.

Berulang kali saya bercerita kepada teman-teman saya, “Oh, saya sudah pernah berkunjung ke sini di alam mimpi.” Teman-teman saya hanya menanggapi seadanya. Mungkin mereka tidak ingin berdebat untuk topik yang tidak begitu penting. Ah, mau apalagi. Saya tidak bisa memaksa mereka untuk mencerna journey yang hingga detik ini membuat saya begitu kebingungan.

Mimpi, sebuah dimensi yang memiliki sejuta misteri. Mengapa di bangku sekolah kita tidak pernah belajar tentang mimpi. Padahal setiap tidur mungkin kita mengalaminya. Namun kita abaikan seolah mimpi bukanlah sesuatu yang penting untuk dipelajari dalam perspektif kajian sains.

Akhirnya karena begitu penasaran, saya mencari informasi atas apa yang saya alami. Menurut artikel yang saya baca, journey yang saya maksud tadi disebut dengan istilah precognitive dream, future sight (penglihatan masa depan) atau second sight (penglihatan kedua).

Precognitive dreams are dreams that appear to predict the future through a sixth sense; a way of accessing future information that is unrelated to any existing knowledge acquired through normal means.” (Source: http://www.world-of-lucid-dreaming.com).

Berdasarkan artikel yang sudah saya baca, secara sederhana precognitive dream berarti mimpi yang benar-benar terjadi di masa depan.

Entahlah, saya rasa kurang tepat bila definisi tersebut sesuai dengan apa yang alami. Sejauh ini, kondisi yang saya alami hanya sebatas mimpi berkunjung ke tempat-tempat yang nantinya benar-benar saya datangi. Tidak lebih dari itu. Misalnya, tahun kemarin saya mimpi ke sebuah tempat seperti hutan bakau. Beberapa waktu kemudian saya memang ke tempat yang sama. Tepatnya di hutan bakau di daerah Kendari, Sulawesi Tenggara. Begitu seterusnya.

Ah, setelah dipikir-pikir lagi mungkin memang ruh saya senang bertualang ke tempat-tempat yang baru. Saya berpikiran positif semoga memang benar suatu saat impian saya menjadi seorang petualang benar-benar terwujud. Aamiin.

 

Jakarta,

21 Maret 2017

 

Kisah Si Botol Kuning 

Tumbler Berwarna Kuning

Hari ini saya mau bercerita tentang botol atau tumbler berwarna kuning miliki saya. Saya tidak tahu apakah cerita ini spesial atau tidak, namun entah mengapa perasaan saya memaksa untuk bercerita. Lagi pula, lama juga saya tidak menulis lepas tanpa harus direncanakan.

Jadi, sore tadi saya menjadi penumpang uber motor untuk menuju ke fX Sudirman. Ketika melewati jalan Mampang Prapatan, tanpa saya sengaja tumbler kuning saya jatuh berguling-guling hingga ke tepi jalan. Untung saat itu tidak ada kendaraan lain yang menabraknya. Jika tidak, tentulah saya merasa kasihan. Ia pasti remuk redam.

Dengan kecepatan motor kira-kira 50-60 km per jam, saya ingin bilang ke supir uber untuk berhenti. Namun saya urungkan niat saya tersebut sembari menggurutu dalam hati. Setelah cukup jauh, saya baru kemudian menyesal namun tidak memungkinkan lagi untuk berhenti dan menyelamatkan tumbler yang digandrungi ibu-ibu itu.

Dalam hati terjadi percekcokan kecil. “Ah, harusnya berhenti!” Namun saya tidak berhenti. Motor terus melaju menyisir jalanan ibu kota. Berulangkali saya meyakinkan diri sendiri bahwa takada gunanya mengumpati kebodohan yang terang-terangan saya lakukan. Akhirnya, saya berusaha menerima kenyataan bahwa sore itu, saya resmi berpisah dengan “Si Botol Berwarna Kuning”.

Kemacetan di jalan Mampang Prapatan mulai menggeliat. Seketika kecepatan motor kamipun melambat. Tiba-tiba dari sisi kiri, ada dua orang pengendara motor yaitu mba-mba menghampiri kami sembari menyerahkan botol kuning saya.

“Mas, ini botolnya kan?”

“Iya mba, benar itu botol saya!”

Saya kaget. Saya terharu. Saya takjub dengan kebaikan hati mba-mba tadi. Saya pikir saya benar-benar berpisah dengan tumbler kesayangan saya. Saya pikir, botol itu sudah rezeki orang lain. Nyatanya saya salah besar. Ah, saya jadi merinding sendiri.

Hikmah dari kejadian sore tadi: bahwa rezeki setiap anak cucu adam tidak akan pernah tertukar.

Sekuat apapun kita mengklaim bahwa itu rezeki kita, maka jika Tuhan menetapkan bahwa itu bukan rezeki kita, maka yang terjadi terjadilah. Sebaliknya, jika Tuhan menetapkan sesuatu menjadi hak kita, menjadi rezeki kita, maka semesta akan berkonspirasi agar sesuatu itu layak untuk kita miliki.

Terima kasih untuk mereka yang masih peduli dan baik hatinya.

Jakarta,

12 Juli 2017.

 

Photo Story: Membangun Mimpi Anak Indonesia

Oleh: Mahfud Achyar

Ada yang berbeda dengan pagi ini. Tidak seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini saya berada di Bandung. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak cerita yang indah untuk dikenang.

Sebelum subuh, saya sudah bangun untuk mandi. Padahal saya baru tidur sekitar pukul 2 dini hari. Namun apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain untuk menyegerakan diri bersiap-siap menyambut hari yang penuh arti.

Rabu, (22/2/2017), saya dan 20 relawan Kelas Inspirasi Bandung 5 mengunjungi siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki Bandung. Bagi saya pribadi, ini kali pertama saya menjadi relawan Kelas Inspirasi Bandung. Sebelumnya, saya hanya ambil bagian menjadi relawan Kelas Inspirasi Jakarta dan Kelas Inspirasi Depok. Saya sungguh bersemangat sebab akan bertemu dengan orang-orang baik yang tergabung dalam Kelompok 9 serta tentunya akan bertemu dengan adik-adik yang menyenangkan.

P2221202
Gambar 1. Dua orang siswa SD Komara Budi dan Pasir Kaliki tengah bersantai pada pagi hari menjelang seremoni pembukaan Kelas Inspirasi Bandung 5.

 

P2221242
Gambar 2. Suasana salah satu kelas di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Terlihat prakarya siswa-siswi dipajang menjadi hiasan di atas lemari buku.

21 relawan yang bertugas di SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki terdiri dari 13 relawan pengajar, 5 relawan fotografer, 2 relawan videografer, serta 1 relawan fasilitator. Hal yang menarik sebagian besar relawan berasal dari luar Bandung seperti Semarang, Jakarta, Tangerang, dan Tegal.

Ragam profesi juga membuat kelompok 9 menjadi sangat berwarna. Ada yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan, ada yang menjadi psikolog anak, ada yang menjadi rescuer, dan sebagainya. Satu tujuan kami datang ke Bandung khususnya ke SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki yaitu membangun mimpi anak Indonesia!

P2220901
Gambar 3. Seorang siswi berlari melewati lukisan bendera dari delapan negara di salah satu tembok sekolah.

Bagaimana cara membangun mimpi anak Indonesia?

Rasanya pertanyaan itu sangat sulit dijawab oleh kami yang memang bukan praktisi pendidikan. Kami adalah kumpulan para profesional yang mungkin menguasai bidang kami, namun belum tentu dapat mengajar dengan baik. Sebagian dari kami belum memiliki pengalaman mengajar sama sekali. Namun ada juga yang sudah beberapa kali mengikuti program Kelas Inspirasi.

Kendatipun pernah mengajar, kami tetap saja merasa gugup. Maka karena itu, kamipun harus mempersiapkan diri dengan baik. Jauh-jauh hari, kami sudah mempersiapkan materi ajar untuk memberikan yang terbaik yang kami punya untuk siswa-siswi di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki.

Lantas apa yang kami ajarkan kepada mereka? Apakah matapelajaran matematika yang kerapkali dianggap momok menakutkan oleh banyak siswa-siswi? Tidak! Tidak sama sekali! Kami mengajar tentang diri kami, profesi kami, dan proses kami hingga menjadi seperti sekarang. Untuk apa? Apakah untuk pamer atau ‘gaya-gayaan’? Tidak. Sungguh tidak sama sekali. Kami menyadari dengan sepenuhnya bahwa kami bukanlah yang terbaik. Kami barangkali tidak layak menjadi contoh atau role model.

Walau kami tidak sempurna, kami memiliki hasrat yang besar untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya yang bisa kami lakukan yaitu berbagi dengan mereka. Kami datang untuk berbagi mimpi. Sesederhana itu.

P2221074
Gambar 4. Herawati merupakan seorang direktur di sebuah perusahaan di Bandung. Di kelas, ia berpesan kepada siswa-siswi, “Kita bisa menjadi apapun yang kita mau.”

 

Kami yakin, niat yang baik tentu akan mendapat impresi yang baik pula. Begitulah yang kami rasakan ketika setengah hari berada di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Kami merasa senang disambut dengan sangat baik oleh kepala sekolah dan jajaran guru. Lebih penting dari itu semua, kami menyaksikan betapa siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki memiliki semangat belajar yang sangat baik. Mereka antusias bertanya, mereka bersemangat untuk menjadi orang hebat di masa depan. Tidak ada hal yang membahagiakan bagi kami selain melihat pelita harapan masih nyala di hati mereka.

P2221120
Gambar 5. Berlari menggapai cita-cita.

Teruslah berjuang menggapai cita-cita, wahai generasi harapan bangsa. Doa kami akan terus ada untuk kalian.

Terakhir, kami mengutip pesan Bung Hatta, “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

 

Puluhan Januari Telah Terlewati

Processed with VSCO
Senja di Jakarta pada akhir Januari. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Saya adalah seorang pria pemuja kata-kata, sungguh. Saya selalu kagum dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah kalimat dan paragraf yang bermakna.

Sepekan yang lalu, saya menonton film yang berjudul “The Light Between Oceans,” sebuah film yang dirilis pada tahun 2016 yang diperankan dengan sangat baik oleh Michael Fassbender dan Alicia Vicander. Film tersebut berkisah tentang seorang penjaga mercusuar dan istrinya yang tinggal di sebuah pulau bernama Janus Rock. Dua tahun setelah pernikahan mereka, pasangan tersebut menemukan kapal sekoci yang membawa dua orang penumpang; seorang pria dan bayi perempuan. Bagaimana kisah selanjutnya? Silakan ditonton.

Akan tetapi, pada tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang-lebar tentang film yang mendapatkan rating 7,2 oleh satu situs IMDb. Lantas, apa yang ingin saya bagikan? Belakangan ini, saya terusik dengan sebuah pertanyaan, “Apakah standar utama yang membuat suatu karya, misalnya film, layak dinobatkan sebagai karya yang fenomenal?” Lama, lama sekali saya berpikir tentang hal tersebut hingga pada akhirnya saya menemukan simpulan yang paling tepat menurut perspektif saya sendiri. Bagi saya secara personal, film yang baik adalah film yang membuat saya merenung: memikirkan setiap dialog, adegan, dan semua tanda yang ditampilkan dalam film, baik kasat mata maupun tersirat.

Salah satu kutipan pada film “The Light Between Oceans” yang membuat saya impresif yaitu, “You only have to forgive once. To resent, you have to do it all day, every day.” Ungkapan ini membuat hati saya gusar. Membuat memori masa silam hadir kembali dengan cuplikan yang lebih utuh, lebih jelas. Ada banyak luka-luka di dalam hati saya yang belum sembuh hingga sekarang. Setiap hari, saya masih merasakan luka yang sama, tidak kurang sedikitpun. Berulang kali saya mencoba melupakannya. Nyatanya tidak semudah yang saya kira. Entahlah, barangkali saya memang belum bisa ikhlas atau mungkin masih ada hal yang belum tuntas. Saya pun tidak tahu harus menerjemahkannya seperti apa perasaan yang meliputi ruang hati saya. Namun satu hal yang pasti, saya memang harus mulai memaafkan dan berdamai dengan diri saya sendiri. Terkadang saya berpikir, saya terlalu keras dengan diri saya sendiri. Mulai hari ini, saat Januari telah pergi, saya mulai mencoba menjadi diri yang baru setiap harinya. Seorang anak manusia yang ingin memiliki hidup yang bahagia.

Januari, kini entah di orbit mana engkau berada? Saya pun alfa tentang hal itu. Ada satu rahasia yang ingin saya sampaikan padamu, “Tahukah kamu, kehadiranmu sungguh berarti. Engkau berada di dua garis yang berbeda. Satu wajahmu menghadap ke masa lalu (bulan Desember), satu lagi wajahmu menghadap ke masa depan (Februari). Bisakah kau sedikit mendoakan saya?

Jakarta,

1 Februari 2017

AQUA Grup Luncurkan Program Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP)

Laporan oleh: Mahfud Achyar

Processed with VSCO with a6 preset
Malam presentasi karya 10 peserta workshop storytelling AQUA x Suara Tirtha Emerging Photographers pada Senin, (30/1/2017) di AQUA Danone Menara 2 Cyber, Jakarta. 

JAKARTA – AQUA Grup meluncurkan program Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP) sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap kemajuan fotografer muda di Indonesia yang karyanya diharapkan dapat menginspirasi publik untuk lebih peduli pada lingkungan. Bentuk dari program yang dimulai sejak 26-30 Januari ini adalah workshop storytelling dengan tema “CARE” yang diselenggarakan di Bogor, Jawa Barat.

Proses seleksi peserta dilakukan dengan mengumumkan kegiatan ini secara resmi melalui website dan media sosial guna menjaring para fotografer muda dari seluruh Indonesia. Dari hasil seleksi, terpilih 10 fotografer yaitu, 1) Muhammad Ibnu Chazar – Karawang, Jawa Barat; 2) Esther Hasugian – Bogor, Jawa Barat; 3) Himawan Listya Nugraha – Banyumas, Jawa Tengah; 4) Bhima Pasanova – Jakarta, DKI Jakarta; 5) Danis Arbi Meigantara – Tangerang, Banten; 6) Risma Afifah – Jakarta, DKI Jakarta; 7) Eva Fauziah – Depok, Jawa Barat; 8) Muhammad Ihsan Mulya Pratama – Solo, Jawa Tengah; 9) Ajeng Dinar Ulfiana – Jakarta, DKI Jakarta; serta 10) Muhammad Ridwan – Padang, Sumatera Barat.

Ben KC Laksana, salah seorang juri tamu yang menyeleksi para pendaftar cukup terkesima dengan kualitas karya yang dikirimkan oleh para calon peserta. “Banyak dari karya mereka tidak hanya mempertunjukkan wawasan dan pengalaman estetika visual, namun juga komitmen terhadap proyek yang sangat personal dan dedikasi,” ungkap Ben.

Kesepuluh fotografer terpilih akan didampingi oleh dua mentor, yaitu Yoppy Pieter dan Muhammad Fadli dalam menafsirkan tema “CARE”. Selain itu, selama workshop, setiap peserta akan ditantang untuk menginterpretasikan sebuah tema ke dalam bentuk visual. Metode tersebut menuntut setiap peserta menjadi storyteller berbekal pemikiran kritis terhadap fenomena di sekitar mereka.

Salah satu hal yang menarik dari workshop ini, adalah lokasi penyelenggaraan acara di kawasan Ciherang yang merupakan salah satu penyangga konservasi Jakarta. Di daerah ini, AQUA Grup juga menjalankan operasionalnya dan mengembangkan berbagai program sosial dan lingkungan terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan melibatkan berbagai pihak.

Workshop ini mengajak para peserta mengunjungi kawasan konservasi yang diinsiasi AQUA Grup. Para peserta akan melihat secara langsung program-program sosial dan lingkungan AQUA Grup dalam menjaga kawasan konservasi Ciherang. Setelah melakukan kunjungan, peserta mendapatkan kuliah umum mengenai tema “CARE” yang menjadi spirit AQUA Grup.

Yoppy Pieter, mentor workshop storytelling STEP menjelaskan bahwa setiap peserta akan mengajukan ide story yang berkaitan dengan tema. “Story yang mereka ajukan bisa mengangkat beberapa program sosial dan lingkungan di sekitar kawasan Ciherang maupun hal-hal lain di luar kegiatan tersebut selama mereka mampu menerjemahkan konsep CARE dalam project mereka,” papar Yoppy.

Lebih lanjut, Yoppy menceritakan bahwa pada hari kedua hingga hari keempat, seluruh peserta harus sudah mengeksekusi project mereka. Pada hari terakhir, yaitu Senin, (30/1/2017) para peserta akan melakukan presentasi di hadapan para tamu undangan di kantor pusat AQUA Grup

Sebagai seorang mentor, Yoppy akan membagi pengetahuannya mengenai visual storytelling kepada para peserta workshop. Selain itu, para peserta workshop juga dituntun menjadi fotografer yang memiliki critical thinking. “Jadi program ini tidak hanya membahas fotografi dari segi teknis, namun sebuah program yang memperkenalkan tentang etika dan estetika dalam pembuatan sebuah proyek photostory. Hal ini yang akan ditekankan agar mereka nantinya sebagai visual storyteller akan lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka yang meliputi aspek sosial, budaya, maupun lingkungan,” terang Yoppy.

Sementara itu, Muhammad Fadli menambahkan bahwa output dari workshop storytelling STEP yaitu berupa photostory yang memperlihatkan narasi visual yang dirangkum dalam bentuk slideshow dan photobook yang menjadi medium komunikasi yang mudah dicerna oleh masyarakat luas.

Melalui kegiatan workshop storytelling STEP, Fadli berharap para fotografer muda mendapatkan pengetahuan mengenai storytelling serta memiliki semangat kompetisi melalui sistem submisi. “Sejak awal pendaftaran peserta sudah digiring memiliki pemikiran kritis terhadap tema CARE dan pandangan mereka terhadap fotografi hari ini. Lalu ke depannya kita berharap bahwa program pendidikan ini mampu meningkatkan rasa kepercayaan diri peserta dalam menyampaikan gagasan mereka,” imbuh Fadli.

Sementara itu, Ridzki Noviansyah yang juga juri tamu menambahkan bahwa para fotografer muda yang terpilih diharapkan dapat menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Tentang Workshop Storytelling STEP

Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP) yang diselenggarakan ini merupakan wujud untuk memajukan pendidikan dan perkembangan budaya visual di Indonesia. STEP tidak sebatas workshop storytelling yang membekali peserta dengan teori photostory, namun setiap peserta akan diberi tanggung jawab dalam mengelola dana hibah untuk mendanai proyek mereka selama program workshop berlangsung.

Tentang AQUA

AQUA merupakan pelopor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia yang didirikan pada tahun 1973. Sebagai perwujudan visi dan komitmen dalam mengelola operasional secara bertanggung jawab dalam sosial dan lingkungan, AQUA mengembangkan inisiatif AQUA Lestari yang terdiri dari empat pilar yaitu, Pelestarian Air dan Lingkungan, Praktik Perusahaan Ramah Lingkungan, Pengelolaan Distribusi Produk serta Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

AQUA adalah bagian dari kelompok usaha DANONE, salah satu produsen produk makanan dan minuman terbesar di dunia.   Di Indonesia sendiri, unit usaha DANONE meliputi tiga kategori utama, yaitu minuman (AMDK dan minuman ringan non karbonasi),  Nutrisi untuk Kehidupan Awal (Nutricia dan Sari Husada dengan produknya seperti SGM, Vita Plus, Lactamil, dan Vitalac), serta nutrisi medis. Laporan keberlanjutan AQUA dapat diakses melalui www.aqua.com.  Untuk masukan serta keluhan pelanggan, dapat disampaikan melalui AQUA Menyapa 08071588888 atau melalui Facebook Sehat AQUA dan www.aqua.com.

Informasi mengenai mengenai workshop ini dapat Anda baca pada: http://www.AQUA.com. Ikuti juga lini media sosial kami: Facebook Fan Page: AQUA LESTARI | Instagram: @aqualestari | Twitter: @aqua_lestari #CARE #AQUASTEP #AQUALESTARI

Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016: “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”

 

Processed with VSCO with a6 preset
Chiki Fawzi dan Band pada pembukaan pameran foto dan video Kelas Inspirasi Jakarta, Kamis, (10/11/2016) di Qubicle Center, Senopati 79, Jakarta Selatan. 

JAKARTA, INDONESIA – Tahun ini, Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta yang ke-2 kembali digelar dengan mengusung tema “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”. Jika pada tahun sebelumnya para pengunjung pameran hanya sebatas menikmati karya fotografi dari relawan Kelas Inspirasi Jakarta, maka pada tahun ini panitia akan menyuguhkan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengunjung tidak hanya sekadar melihat karya fotografi melainkan juga dapat berinteraksi secara langsung dengan para fotografer. Hal tersebut memungkinkan terjadi karena pameran yang dikurasi oleh Yoppy Pieter ini memilih konsep photo story.

Barangkali tidak banyak masyarakat umum yang mengetahui terminologi photo story. Secara sederhana, photo story merupakan serangkaian foto yang dilengkapi dengan narasi dan caption (80% foto, 10% narasi, dan 10% caption). Konsep photo story dipilih lantaran panitia ingin mengajak para pengunjung (khususnya yang belum pernah terlibat menjadi relawan Kelas Inspirasi) untuk turut hadir pada momen-momen berharga, inspiratif, dan berkesan selama penyelenggaran Kelas Inspirasi Jakarta ke-5 pada (2/05/2016) lalu.

Setidaknya, ada 880 relawan pengajar, 220 tim dokumentator (fotografer dan videografer), serta 89 fasilitator yang terlibat aktif guna menyukseskan Hari Inspirasi yang bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Para relawan Kelas Inspirasi disebar ke berbagai Sekolah Dasar (SD) dengan kategori sekolah marjinal dan satu Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) di Jakarta.

Relawan Kelas Inspirasi, merupakan para profesional dalam bidangnya masing-masing yang bercerita kepada para siswa-siswi Sekolah Dasar mengenai profesi mereka. Tidak hanya sekadar bercerita, mereka juga memberikan semangat, motivasi, dan asa agar generasi harapan bangsa berani menggapai cita-cita mereka. “Barangkali, bagi para relawan mereka hanya diminta untuk cuti satu hari bekerja. Namun sesungguhnya kehadiran mereka di tengah para siswa-siswi pada Hari Inspirasi sangatlah bermakna. Berbagi cerita, berbagi pengetahuan, serta berbagai pengalaman kepada siswa-siswi SD agar kelak mereka menjadi orang-orang yang hebat,” ujar Harry Anggie S. Tampubolon, Ketua Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016.

Sebagai informasi, Kelas Inspirasi (www.kelasinspirasi.org) merupakan program turunan dari Indonesia Mengajar (www.indonesiamengajar.org) yang memfasilitasi para profesional untuk berkontribusi secara nyata memajukan pendidikan di Indonesia. Kelas Inspirasi pertama kali diselenggarakan pada (25/04/2012) secara serentak di 25 Sekolah Dasar di Jakarta dan akan terus berjalan pada tahun-tahun berikutnya.

Kelas Inspirasi sudah dilaksanakan lebih dari 100 kali di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Gerakan ini terus berjalan dari tahun ke tahun. Kabar menggembirkan ternyata program sejenis Kelas Inspirasi telah banyak diselenggarakan di berbagai daerah dengan nama-nama yang berbeda. Kendati demikian, kami berkeyakinan bahwa semua gerakan yang ada memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta ke-2 akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November hingga 19 November 2016 di Senopati 79 a Qubicle Center, Jalan Senopati No. 79, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut Harry, Qubicle Center dipilih sebagai lokasi pameran tahun ini lantaran Qubicle Center merupakan salah satu tempat pusat kreativitas di Jakarta. Sebagai platform yang berdiri berdasarkan kerja sama dengan para komunitas seluruh Indonesia, Qubicle mendukung para konten kreator dan komunitas dengan adanya fasilitas di Qubicle Center. Oleh sebab itu, pihak Qubicle berbaik hati menyediakan fasilitas Qubicle Center guna mendukung terwujudnya Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016. “Selain sebagai pusat kreativitas, Qubicle Center dipilih karena lokasinya berada di kawasan ramai seperti SCBD (Sudirman Centran Bussiness District) serta mudah dijangkau dengan menggunakan moda transportasi umum,” jelas Harry.

Selain Qubicle, Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016 juga didukung oleh PGN, SKK Migas, Conoco Phillips, Dapur Icut, Printerous serta Seagate. Dukungan dari berbagai pihak dalam mewujudkan pameran tahun ini merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk terus menebar kebaikan, khususnya dalam bidang pendidikan.

Secara spesifik, tujuan dilaksanakan Pameran Kelas Foto dan Video Inspirasi Jakarta 2016 yaitu untuk menyosialisasikan kegiatan positif yang digawangi oleh lebih dari 2000 relawan Kelas Inspirasi selama 5 tahun ke belakang. Selain itu, pameran tersebut juga sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh relawan, siswa-siswi, guru, dan sekolah yang telah merasakan manfaat Kelas Inspirasi.

Selain pameran, kegiatan lain yang dapat diikuti oleh para pengunjung yaitu talkshow/workshop fotografi dan sharing session Kelas Inspirasi Jakarta. Tidak hanya itu, pengunjung juga akan dihibur dengan penampilan musik dari musisi tanah air. Pembukaan pameran pada Kamis, (10/11/2016) pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Celtic Room, Chiki Fawzi, dan Archie Wirija. Sementara untuk penutupan pada Sabtu, (19/11/2016) pukul 11.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Syahravi, Westjamnation, Huhu Popo, Resha and Friends, Nia Aladin, serta Juma & The Blehers.

Sementara itu, adapun 17 pameris yang terlibat pada pameran ini terdiri dari 13  fotografer yaitu Aad M. Fajri, Agil Frasetyo, Bagas Ardhianto, Bhima Pasanova, Darwin Sxander, Deasy Walda, Desi Bastias, Desita Ulfa, Dimitria Intan, M. Khansa Dwiputra, Ruben Hardjanto, Shofiyah Kartika dan Silvya; 3 videografer yaitu Fahiradynia Indri, Agus Hermawan, dan Yuni Amalia; serta 1 mural artis yaitu Popo Mangun. Sebagian besar dari mereka bukanlah fotografer dan videografer profesional. Ada yang masih berstatus mahasiswa, ada yang bekerja sebagai konsultan, dan lain sebagainya. Pun demikian, karya-karya mereka yang nanti akan dipamerkan patut untuk mendapatkan diacungi jempol. Informasi lebih detil mengenai profil singkat para fotografer dan videografer dapat dilihat pada situs berikut: http://pameranki.kelasinspirasijakarta.org/.

“Kami berharap melalui Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016, semakin banyak orang-orang baik di negeri ini yang peduli dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Kami berkeyakinan bahwa para generasi bangsa yang saat ini duduk di bangka Sekolah Dasar kelak akan menjadi generasi yang gemilang. Oleh sebab itu, kita semua tanpa terkecuali berkewajiban untuk memastikan agar para penerus bangsa mendapatkan akses pendidikan yang baik, merata, dan berkeadilan sosial,” tutup Harry.