Menyimpan Masalah di Kantong Celana

IMG_5634
Autumn in Yogyakarta (2017) Photo by. Mahfud Achyar

“Aku amati, kamu seperti tidak punya masalah ya? Dari tadi, aku sudah cerita banyak tentang masalah-masalah yang hinggap di hidupku. Masalah pekerjaan, masalah asmara, dan masalah keluarga. Aku heran masalah datang silih berganti dalam hidupku,” ujar seorang sahabat mengganti topik pembicaraan malam itu, usai pulang kantor.

Saya pun langsung terperanjak. Sungguh, pertanyaan spontan yang keluar dari mulut sahabat saya tersebut membuat saya bingung. Seketika lidah saya kelu. Padahal, sejak tadi kita hanya fokus membahas permasalahan-permasalahan yang tengah ia hadapi. Lantas kemudian ia balik bertanya kepada saya, “Masalah kamu apa?”

Sejujurnya, saya bukanlah tipikal manusia yang ekspresif terutama ketika sedang menghadapi masalah. “Ekspresi muka kamu begitu-begitu saja ya?” timpal sahabat saya tadi.

Hmmm sepertinya itu benar. Eskpresi muka saya ya begitu-begitu saja. Tidak ada perubahan raut muka yang begitu mencolok. Jika saya bercermin, terkadang saya sulit membedakan eskpresi muka saya ketika kaget, cemas, marah, atau sedih. Mungkin tipikal manusia dengan minim ekspresi.

Bila saya dirundung masalah, saya jarang berbagi pada siapapun. Sejak dulu, saya tidak terbiasa curhat. Jika ada hal yang mengganjal di hati saya, saya hanya bisa diam, menyimpan rapat-rapat perasaan saya sesungguhnya. Bila terpaksa berbagi, saya hanya mengutarakan bagian ‘kulitnya’ saja. Mungkin ada beberapa sahabat yang membuat saya nyaman untuk bercerita banyak hal. Pada mereka, saya mengucapkan terima kasih karena sudah berkenan mendengar keluh kesah saya.

Dulu, saya berpikir, orang yang sering curhat adalah orang yang lemah. Seolah mereka tidak kuasa menanggung beban yang menggelayut di pundak mereka.

Takdinyana, ternyata prinsip kuno seperti itu terus saya pupuk dan saya rawat. Saya enggan untuk bercerita kepada siapapun, termasuk kepada keluarga saya sendiri. Saya benar-benar setertutup itu. Seolah tidak mengizinkan seorangpun tahu apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang saya harapkan. Saya hanya bercerita kepada Tuhan perihal perasaan saya. Sebab, hanya Dia yang tahu apa yang sesungguhnya ada di dalam hati dan pikiran saya.

Akan tetapi, sekarang saya menyadari bahwa sesungguhnya kita perlu menyalurkan emosi kita kepada orang lain—entah itu sahabat, pasangan, atau keluarga. Kehadiran mereka mungkin tidak serta merta menyelesaikan permasalah yang kita alami. Namun ketika berbagi, hati kita merasa lega. Setidaknya kita mulai membuka diri bahwa ada orang-orang yang bisa kita percaya. Tanpa kepercayaan, kita hanyalah sekumpulan manusia yang hatinya diliputi prasangka dan curiga.

“Tidak ada masalah yang terlalu besar. Tenang, sejauh ini semuanya masih bisa ditangani dengan baik,” jawab saya diplomatis.

Kala itu, saya sama sekali tidak bermaksud berbohong kepada sahabat saya. Memang, ada beberapa masalah yang sedang saya hadapi. Namun, setelah mendengar curhat darinya, saya merasa masalah yang sedang saya hadapi tidak ada artinya.

“Setiap orang punya masalah. Bedanya hanya terletak dari cara kita menghadapinya,” kata sahabat saya yang lainnya yang bernama Dea Tantyo pada suatu ketika di Jatinangor.

Buah pikiran Dea selalu melekat di benak saya hingga saat ini. Saya amati, memang benar adanya apa yang dikatakan Dea. Setiap orang punya masalah. Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak memiliki masalah.

Ada beberapa orang bila memiliki masalah atau bermasalah dengan orang lain, mereka lantas mengumbarnya di jejaring media sosial. Sayapun bingung entah apa tujuan mereka? Mungkin untuk melampiaskan kekesalalan atau bisa jadi untuk menyindir orang yang sedang bertikai dengannya. Saya bahkan pernah menjadi orang yang disindir atau merasa tersindir ketika hubungan saya dengan teman saya sedang tidak harmonis.

Kerap kali saya juga ingin membalas sindir-menyindir di media sosial. Namun kemudian saya berpikir, “Jika saya melakukan hal yang sama, lantas apa yang membedakan saya dengannya? Saya tidak membuat perbedaan sama sekali,” saya membatin.

Seorang dosen saya yang bernama Pak Irwansyah pernah berpesan ketika sesi perkuliahan di lantai 22 di daerah bilangan Jakarta Selatan. Kurang lebih pesannya seperti ini, “Ketika kalian masuk ke dunia digital. Maka berhati-hatilah. Sebab, apa yang kalian tulis dan konten yang kalian produksi akan terekam dengan baik.”

Malam itu, usai perkuliahan, saya mulai merefleksi diri agaknya banyak hal buruk sudah saya tinggalkan di media sosial. Banyak sahutan yang takberguna dan banyak keluh kesah yang tidak pada tempatnya.

Dulu, saya sangat reaktif. Mudah sekali mengomentari apapun yang tidak sejalan dengan pemikiran saya. Semuanya saya tumpahkan di media sosial. Jika ada masalah personal pun, saya juga terkadang curhat colongan di media sosial dengan menggunakan ragam gaya bahasa agar pesannya terlihat samar.

Jika dipikir-pikir lagi, apa gunanya saya curhat di media sosial?Agar dunia tahu saya sedang sengsara? Agar dunia bersimpati kepada saya? Padahal, ketika saya curhat di media sosial, orang-orang yang membaca curhatan saya tidak benar-benar ingin membantu saya. Mereka mungkin hanya penasaran terhadap masalah saya. Sisanya hanya akan mencibir bahwa saya tidak cukup berani menyelesaikan masalah secara langsung di dunia nyata.

Seharusnya kita lebih selektif untuk berbagi resah. Seperti perkataan Charity Barnum, “You don’t need everyone to love you, Phin, just a few good people”.

Sungguh, berulang kali, kita selalu diingatkan bahwa Tuhan tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya.

Jika sedang tidak punya masalah berat, nasehat tersebut begitu mudah saya terima. Namun sialnya ketika saya dirundung masalah berat, saya merasa Tuhan tidak adil kepada saya. Mengapa dari sekian milyar manusia di bumi ini sayalah yang terpilih untuk menanggung beban berat (dalam perspektif saya)? Seharusnya saya berlapang dada bahwasanya masalah seharusnya membuat saya kian kuat, kian naik kelas, dan kian hebat.

Jika saya mendapatkan masalah atau ujian yang sama, artinya saya belum layak naik level ke level yang lebih tinggi. Kata Nicole Reed, “Sometimes the bad things that happen in our lives put us directly on the path to the best things that will ever happen to us.”

Tentang menyikapi masalah secara bijak, beruntungnya saya di kelilingi oleh orang-orang yang hebat. Pada mereka saya belajar bahwa apapun masalah yang sedang kita hadapi, percayalah akan ada cara untuk menyudahinya. Semuanya akan dipergilirkan. Adalah waktu yang menjawab segalanya. Lambat atau cepat semuanya kini terasa relatif.

Jika masalah takubahnya seperti secarik kertas yang sudah remuk, maka mungkin ada baiknya kita menyimpannya di kantong celana. Suatu saat, kertas remuk itu akan kita buang. Ia akan pergi bersama aliran air hujan yang turun di penghujung April.

         Jakarta, 16 April 2018

Advertisements

Kesempatan Terakhir

Kano (2014)

Bagi saya, pelajaran hidup bisa datang di mana saja, kapan saja, dan dalam bentuk apa saja. Hari ini contohnya. Saya mendapatkan pelajaran hidup dari film yang baru saja saya tonton. Judul film tersebut yaitu “Kano”, sebuah film yang dirilis pada tahun 2014 yang bercerita tentang tim baseball SMA di Taiwan yang melakukan perjalanan ke Jepang pada tahun 1931 untuk mengikuti kompetisi Japanese High School Baseball Championship di stadion Koshien.

Anggota klub baseball Kano berasal dari berbagai etnis yang terdiri dari orang-orang asli Taiwan, pemain Han Taiwan, dan Jepang. Kano hanyalah klub baseball kecil di daerah bagian selatan Taiwan yang tidak populer. Bisa dikatakan, Kano minim prestasi. Namun, berkat asuhan pelatih bernama Hondo, perlahan Kano menjelma menjadi klub yang mulai dibicarakan dan mulai mendapat ruang di hati para penggemar baseball.

Singkat cerita, Kano berhasil menjadi perwakilan Taiwan pada ajang kompetisi bergengsi di Koshien Jepang. Sayangnya, Kano tidak berhasil membawa pulang gelar juara. Pun begitu, suara tepuk tangan riuh rendah menggaung di setiap sudut di stadion Koshien. Para penonton terbawa suasana haru usai menyaksikan pertandingan yang dramatis: penuh luka dan air mata.

Kendati Kano gagal menjadi pemenang, namun para penonton menjadi saksi betapa kegigihan, kerja keras, dan pengorbanan merupakan hal yang terindah dari sebuah proses menuju kesuksesan. Kano, sebuah klub yang tidak terkenal, jauh dari sorotan media, namun pada puncak pertandingan menyuguhkan sebuah pertunjukan yang akan selalu dikenang. Collateral beauty; it’s the beauty on the inside, now how you look but how you act and feel — basically your personality.

Saya tidak ingin bercerita banyak tentang film Kano. Namun dari sekian banyak adegan di film tersebut, ada adegan yang cukup membekas di benak saya serta menyentuh hingga ke relung jiwa. Adegan yang saya maksud yaitu ketika seorang guru bernama Hamada menjelaskan kepada anak-anak muridnya (anggota klub Kano) tentang filosofi pohon pepaya miliknya.

“Aku akan memberitahumu rahasia tentang pepaya ini. Tahun lalu, aku menanam paku pada akar setiap pohon pepaya. Setelah itu, setiap pohon menghasilkan buah yang besar dan lezat. Itu karena paku dipalu ke akar yang membuat pohon berpikir itu sekarat. Jadi berusaha sangat keras untuk menghasilkan buah yang manis untuk memastikan reproduksi sendiri. Ini adalah rahasia hidup atau mati yang membuat pohon pepaya meletakkan segala sesuatu ke dalam buahnya,” jelas Hamada.

Menonton adegan tersebut saya terdiam dan berupaya meresapi setiap kata yang diucapkan oleh Hamada. Akal logis saya berusaha menolak argumen yang dilontarkan Hamada. Namun satu sisi, batin saya mengiyakan apa yang disampaikan Hamada benar adanya. Terkadang dalam hidup, tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua atau kesempatan ketiga.

Seringkali kita dihadapkan hanya satu pilihan, satu-satunya jalan, dan satu-satunya kesempatan. Jika kita abai, kita hanya akan berujung pada penyelesan yang tiada berkesudahan. Semua orang pernah mengalami itu, termasuk saya pribadi.

Dulu, ketika di bangku SMA, saya ditunjuk oleh guru Bahasa Indonesia sebagai perwakilan sekolah untuk lomba baca puisi. Saya berhasil mengalahkan teman saya yang menjadi saingan terberat saya. Kata guru saya, “Penghayatan saya bagus.” Ia yakin bahwa saya bisa membaca puisi dengan sangat baik.

Malam sebelum perlombaan, saya mendengarkan kaset kumpulan puisi dari para penyair legendaris seperti Chairil Anwar dan W.S. Rendra. Dari sekian banyak karya Chairil Anwar, saya memilih puisi yang berjudul “Aku” untuk materi lomba. Malam itu, saya yakin sekali akan menyuguhkan penampilan terbaik. Namun sayang, keyakinan saya tidak dibarengi dengan kerja keras. Ya, saya hanya sebatas mendengarkan Chairil membacakan puisi kemudian berlatih ala kadarnya.

Sejujurnya, saya tidak begitu serius mempersiapkan diri agar bisa menang lomba baca puisi. Padahal, saya sudah mendapatkan kepercayaan dari guru sebagai perwakilan sekolah. Saya terlalu meremehkan lomba baca puisi dengan tidak berlatih secara serius. Hasilnya, jelas saya tidak menjadi juara. Memalukan.

Saya malu bukan karena saya tidak menang. Namun saya malu pada diri saya sendiri karena telah menyia-nyiakan peluang yang saya dapatkan ketika di bangku SMA. Padahal, itu adalah kesempatan baik sekaligus kesempatan terakhir yang saya miliki sebelum lulus sekolah. Andai saja, saat itu saya berlatih dengan keras, serius, dan tekun mungkin ceritanya akan berbeda. Jikapun saya memang kalah, tapi setidaknya saya akan berani berkata, “Ya, saya sudah berupaya maksimal, terbaik semampu saya. Jika tidak menang, tidak masalah. Saya begitu menikmati proses perjuangan yang melelahkan. Itu sudah membuat saya bahagia.”

Sejak kejadian itu, saya belajar tidak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan. Jika ada kesempatan baik dan layak diperjuangkan, saya akan bersungguh-sungguh. Jikapun gagal, saya tidak harus menyesalinya. Sama seperti pohon pepaya yang dipaku tadi, setidaknya saya sudah memberikan yang terbaik, sebisa saya, semampu saya. Untuk hasil, biarkan Tuhan yang menjawabnya.

Jakarta,

29 Juli 2016

Bahkan, Kegagalan Juga Layak Dirayakan!

 

Oleh: Mahfud Achyar

Siang menjelang sore di sebuah kedai bakmi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, seorang teman saya bersedih lantaran ia gagal seleksi penerimaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di salah satu kementerian.

Saat itu, kami tengah lahap menyantap semangkok bakmi dan semangkok es teler. Namun, suasana menjadi terasa kikuk ketika teman saya memasang ekspresi kecewa.

Katanya, “Gue udah bilang ke nyokap kalo gue lolos. Gue sih yakin lolos karena seleksi awal nilai gue termasuk yang paling tinggi. Tapi di tahap wawancara, gue merasa kurang puas.”

“Tapi sebetulnya, gue ga pengen banget jadi CPNS sih. Tapi gue juga sedih karena ga lolos,” imbuhnya.

It’s okay, neng. Gw juga ga lolos kok. Awalnya kecewa sih. Tapi mungkin bukan rejeki gue. Yakin deh, satu pintu tertutup, maka pintu lainnya terbuka,” saya mencoba menghibur Eneng, begitu teman saya akrab disapa.

Menyoal tentang kegagalan, rasa-rasanya hampir semua orang pernah merasakan hal itu. Kegalalan, menjadi momok menakutkan yang seakan terus membayang-bayangi perjalanan hidup kita.

Kata orang bijak, “Kegagalan adalah awal dari kesuksesan.” Namun bagi saya pribadi, kegagalan adalah sahabat baik saya sejak dulu. Jika dingat-ingat, ratusan bahkan ribuan kegagalan pernah saya alami. Misal, gagal menjadi peringkat satu ketika di bangku sekolah dasar, gagal menjadi pemenang lomba puisi, serta kegagalan-kegagalan lainnya.

Ketika saya gagal, saya merasa diri saya takubahnya seperti pecundang. Saya merasa kalah, saya merasa payah, dan saya merasa lelah untuk mencoba pada kesempatan lainnya. Saya berpikir, mungkin saya sebaiknya berhenti mencoba, berhenti berharap–maka dengan begitu saya tidak akan pernah kecewa.

Beberapa kesempatan, saya tenggelamkan jiwa saya dalam samudra kekecewaan yang begitu dalam. Saya mengutuk banyak hal untuk kondisi buruk yang menimpa saya. Namun beruntung pada saat yang bersamaan, saya disadarkan oleh suara hati yang berkata lirih, “Tenang, semuanya belum berakhir. Tidak masalah gagal. Asalkan terus mencoba, mencoba, dan mencoba.”

Dari kegagalan, saya menemukan formula yang tepat bagi saya untuk merekonsiliasi diri ketika menghadapi kegagalan. Jika saya gagal, berarti ada faktor-faktor yang menyebabkan mengapa saya gagal, misal saya kurang persiapan, saya kurang berdoa, atau mungkin barangkali saya kurang ikhtiar. Namun jika proses-proses tersebut sudah dilalui dengan baik, ya, mungkin belum rejeki saya. Sesederhana itu.

Yakin, rejeki setiap anak manusia sudah diatur oleh Tuhan. Rejeki anak manusia tidak akan pernah tertukar. Kita hanya perlu menjemput rejeki yang telah Tuhan tetapkan dengan cara-cara yang baik. Dengan begitu, hati kita merasa lebih tenang, lebih tentram.

Pun demikian, apa yang saya alami serta seperti apa formula saya dalam menghadapi kegagalan, tentu berbeda dengan yang apa dialami oleh orang lain. Mungkin saja kadar kegagalan saya lebih sedikit dibandingkan orang lain atau mungkin juga sebaliknya. Saya hanya bisa mengira-ngira.

Akan tetapi, saya pikir jalan tengah untuk menyikapi kegagalan yaitu dengan cara menerima kenyataan bahwa kita memang gagal. Kita bersedih karena gagal. Kita kecewa karena tidak bisa memenuhi ekspektasi diri kita atau orang lain. Namun setelah rasa tidak mengenakkan itu hadir menyeruak di dada kita, maka sikap terbaik yang patut kita hadirkan yaitu memaafkan diri kita. Jangan terlalu keras dengan diri sendiri. Percayalah, setiap orang punya time zone yang berbeda-beda. Tidak semua hal perlu dijadikan kompetisi, bukan?

Dari kegagalan, saya mulai mengerti bahwa hidup takmelulu bicara tentang prestasi. Ada kalanya kita harus berhenti, menangisi takdir, lantas kemudian ceria kembali menyongsong hari dan kesempatan yang baru. Saya teringat sebuah pesan bijak, “Saya tidak tahu apakah ini musibah atau berkah, namun saya selalu berprasangka baik pada Tuhan.”

Usai cerita kegagalan teman karena tidak lolos seleksi CPNS, akhirnya kami memutuskan untuk merayakan kegagalan dengan memesan gelato di salah satu kafe di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Ah ya, nyatanya kegagalan juga layak dirayakan!

Jakarta, 6 Januari 2018

Di Sini, Air Susah Kakak!

PA310676.JPG
Desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur.

Suatu waktu, saya pernah berkata pada teman saya, “Indonesia itu unik ya. Di belahan barat Indonesia, air selalu tumpah. Berlebih. Curah hujan tinggi. Sementara, di belahan timur, air sangat susah ditemukan. Tanah-tanah di sana kering kerontang.”

Air adalah sumber kehidupan. Jika tidak ada air, manusian akan nelangsa.

Perjalanan saya ke kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur pada 30 Oktober hingga 2 November lalu, sangat berkesan bagi saya secara personal.

Di sana, sumber mata air sangat sulit ditemukan. Jikapun ada, debit air sangat terbatas. Belum lagi kondisi air di sana tidak begitu jernih, terlihat keruh. Namun lebih baik keruh dibandingkan tidak ada sama sekali.

Untuk mendapatkan air bersih, warga di desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur mengambil air menggunakan dirigen di embung yang sudah disediakan pemerintah setempat. Namun sekali lagi, debit air di sana sangat terbatas. Mereka harus mengantri dan menunggu lama agar dirigen-dirigen mereka terisi penuh.

Bila musim kemarau panjang tiba, persediaan air di sana kian menipis. Warga desa harus berjalan berkilo-kilo ke sumber mata air Lama untuk mendapatkan air bersih.

Untuk tiga dusun di desa Barada, sumber mata air Lama hanya menampung kapasitas air sebesar 1,5 m3. Warga desa Barada harus berhemat-hemat menggunakan air.

PA300346.JPG
Pak Hilarius (49 Tahun) warga desa Barada.

Hilarius Nahak Bria (49 tahun), seorang warga desa Barada bercerita kepada saya, “Saya hanya bisa mandi 1 kali dalam seminggu. Air di sini sangat susah. Daripada untuk mandi, lebih baik untuk minum dan memasak.”

Ketika Pak Hilarius berkata demikian, sontak saya terenyuh. Selama ini, barangkali saya satu dari sekian banyak orang yang boros menggunakan air. Mungkin karena air berlimpah membuat saya tidak begitu menghargai keberadaannya. Sedih.


Pengalaman di desa Barada mengingatkan saya dengan memori pendakian di gunung Pangrango pada November 2016 kemarin. Di kaki gunung, tepatnya di desa Cibodas, air di sana sangat melimpah karena langsung mengalir dari sumber-sumber mata air di kawasan gunung Gede-Pangrango.

Saking melimpahnya, banyak air di sana terbuang percuma. Tidak ada penampungan. Air bersih dibiarkan mengalir deras begitu saja. Padahal andai kita sadar, bahwa di nun jauh di sana, di timur Indonesia, air begitu sulit didapatkan.

Barangkali kita harus ditampar terlebih dahulu untuk merasakan sakit.

Jakarta,
8 November 2017

 

Merawat Impian

Source: Tumblr

Oleh: Mahfud Achyar

Jakarta, 6 Oktober 2017.

Jumat sore, pukul 16.00 saya bergegas pulang dari kantor. Sebetulnya, jadwal pulang kantor pada hari Jumat yaitu pukul 16.30. Namun saya minta izin untuk pulang lebih awal dengan alasan menghadiri workshop astronomi. Beruntung izin berhasil saya kantongi. Saya pun lekas menuju AtAmerica menggunakan ojek daring guna menyisir kemacetan sepanjang jalan Pancoran dan Gatot Soebroto.

Lalu, apa gerangan sehingga saya harus buru-buru agar tiba di AtAmerica tepat waktu? Tidak lain tidak bukan karena saya akan bertemu dengan idola saya, Ibu Pratiwi Sudarmono. Beliau merupakan ilmuwan yang mendapatkan kesempatan dari NASA (The National Aeronautics and Space Administration) untuk ambil bagian dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H sebagai spesialis muatan pada Oktober 1985.

Secara sederhana, beliau akan menjadi wanita pertama Indonesia yang terbang ke luar angkasa. Namun sayang, akibat bencana Challenger impian Pratiwi menjadi astronaut kandas. Peluncuran ke-10 pesawat ulang-alik Challenger gagal. Menurut informasi, kendaraan ini meledak 73 detik setelah peluncuran pada 28 Januari 1986 sebagai hasil kegagalan sebuah segel karet cincin O (O-ring) di kanan roket pendorong padat (Solid Rocket Booster, SRB); hal ini menyebabkan kebocoran dengan percikan api yang menyebabkan kebocoran di tangki hidrogen.

Padahal, jika misi STS-51-L berhasil, maka misi STS-61 H juga akan segera diluncurkan. Pada misi STS-61-H, akan dilakukan pengiriman satelit komersial seperti Palapa B-3 milik Indonesia. Namun sayang misi tersebut dibatalkan. Kabar baiknya satelit Palapa B-3 tetap diluncurkan dengan sebuah roket yang bernama roket Delta.

Kendati Pratiwi gagal menjadi astronot taklantas membuat langkahnya terhenti untuk mengembangkan penelitian di Indonesia. Ia terus menjadi seorang ilmuwan dengan menggeluti bidang mikrobiologi dan nanoteknologi.

Saat ini, selain menjadi Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, beliau juga sering diundang sebagai pembicara pada forum-forum ilmiah tentang astronomi. Pratiwi telah mencatat sejarah. Ia telah membuat perbedaan. Banyak anak-anak muda Indonesia telah terinspirasi dari sosok wanita kelahiran 31 Juli 1952 tersebut, termasuk saya.

Me and Profesor Pratiwi Sudarmono

Selama workshop berlangsung, saya khidmat mendengarkan pengalaman Ibu Pratiwi ketika mendapatkan kesempatan belajar di NASA. Takjarang bulu roma saya merinding saat mendengar harapan-harapan beliau akan perkembangan dunia penelitian di Indonesia, khususnya di bidang nanoteknologi. Cerita yang mengalir dari bibir Ibu Pratiwi membawa saya ke masa kekanak, saat saya begitu terobsesi menjadi seorang astronot.

Ya, dulu sekali, ketika anak-anak saya ingin sekali menjadi seorang astronot. Tidak ada alasan spesifik yang membuat saya jatuh cinta terhadap profesi tersebut. Sederhana: saya ingin ke luar angkasa. Saya terobsesi dengan pesawat.

Kala itu, bagi saya pesawat merupakan teknologi terhebat yang pernah diciptakan oleh manusia. Siapa sangka, manusia yang takbersayap akhirnya bisa terbang; menjelajahi cakrawala dan angkasa. Selain itu, saya juga mengagumi luar angkasa. Sebuah dimensi tanpa batas, misterius, dan mengagumkan. Entahlah, saya pun bingung menjelaskan perasaan saya terhadap antariksa. Sesuatu yang kompleks, sesuatu yang saya cintai kendati saya belum pernah melihat secara langsung bagaimana rupa antariksa yang sesungguhnya.

Kini, setelah dewasa, saya menyadari bahwa menjadi seorang astronot tidaklah mudah. Banyak proses-proses sulit dan panjang yang harus dilalui. Tidak hanya bermodalkan impian menjelajahi antariksa, namun perlu bekal kecerdasan, kesehatan fisik, serta mental yang sekuat baja. Mungkinkah kriteria tersebut ada dalam diri saya? Saya meragu.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa impian saya menjadi seorang astronot tidak akan pernah terwujud. Sekeras apapun saya bermimpi, semakin jauh impian tersebut pergi. Bahkan untuk meraih bayangannya saja sulit. Ia melesat secepat komet Encke yang mencapai titik lintasan bintang (perihelion)–titik terdekat matahari pada 21 November 2013 lalu. Is it possible to reach my dream? I don’t think so.

Kendati mustahil, saya tidak akan pernah mengubur impian tersebut. Selama napas masih berhembus, saya akan terus merawatnya hingga saya mendapatkan kepastian dari Tuhan bahwa impian tersebut akan terwujud.

Selama ini, untuk tetap menjaga antusias saya terhadap dunia astronomi, saya kerap kali meluangkan waktu untuk membaca artikel-artikel yang dipublikasi NASA atau Langit Selatan. Selain itu, jika rindu membuncah, saya pergi ke Planetarium atau berselancar melihat benda-benda angkasa secara virtual di Stellarium. Bicara tentang antusiasme, izinkan saya mengutip perkataan Aldous Huxley. Katanya, “The secret of genius is to carry the spirit of the child into old age, which means never losing your enthuasism.”

Usai Ibu Pratiwi bercerita, saya mengangkat tangan. Saya ingin bertanya langsung kepada beliau tentang banyak hal, mulai dari Asgardia The Space Nation Project, zero gravity labs, hingga secrets of hidden valley on Mars. Namun sayang, lantaran waktu yang terbatas sehingga saya hanya diperbolehkan mengajukan pertanyaan saya.

Dari sekian banyak tanya yang terlintas di benak saya, akhirnya saya mengajukan satu pertanyaan, “Bu, apakah memungkinkan kita membuat laboraturium zero gravity di Indonesia?” tanya saya singkat.

Ibu Pratiwi menjawab pertanyaan saya dengan tenang. Katanya, tentu bisa di Indonesia menciptakan laboraturium zero gravity. Namun membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sejauh ini, para peneliti Indonesia menggunakan demo sederhana guna mendekati zero gravity. Padahal menurut Ibu Pratiwi, beberapa penelitian membutuhkan kondisi zero gravity untuk menghasilkan penilitian yang akurasi dan presisi.

Tentang merawat impian, saya berdoa pada Tuhan agar mendapatkan kesempatan untuk berkunjung Kennedy Space Center di Florida, Amerika Serikat. Selain itu, saya berdoa pada Tuhan, jika di dunia saya benar-benar takbisa ke luar angkasa, semoga nanti ketika ruh saya diangkat ke langit, saya diberi kesempatan satu kali saja untuk menjelajahi berbagai galaksi dan berkenalan secara langsung dengan benda-benda angkasa yang mengagumkan.

“Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people?” – Carl Sagan.

Hari Raya di Gunung Talang

DSC_7551
Lembah gunung Talang, kabupaten Solok, Sumatera Barat, Indonesia.

Pada Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah kemarin, saya berkesempatan mendaki gunung Talang yang berlokasi di kabupaten Solok, Sumatera Barat. Sebetulnya, saya sudah berencana jauh-jauh hari bahwa momen libur Hari Raya akan saya manfaatkan untuk mendaki gunung Kerinci melalui jalur Solok Selatan. Namun rencana tinggalah rencana.

Ada banyak kejadian yang takterduga yang menyebabkan saya harus menunda impian saya untuk mendaki gunung Kerinci, gunung tertinggi kedua di Indonesia. Salah satu alasan yang sulit saya hindari yaitu minimnya jatah cuti yang saya miliki selama libur Hari Raya. Namun saya tidak ingin berkecil hati. Saya ingin manfaatkan semaksimal mungkin momen Hari untuk silaturahiim dengan sanak saudara serta menjelajahi ranah Minang nan elok.

Kendati saya gagal mendaki gunung Kerinci, saya masih terobsesi untuk mendaki gunung yang ada di Sumatera Barat. Whatever! Betapa tidak, saya sudah membawa hampir semua perlengkapan gunung dari Jakarta. Jika tidak dimanfaatkan, tentu sia-sia sudah apa yang saya bawa.

Lagi pula, saya belum pernah mendaki gunung di Sumatera Barat. Padahal, Sumatera Barat merupakan kampung halaman saya. Sungguh menyebalkan bila di kampung halaman sendiri takada satupun gunung yang sudah saya daki. Sementara di pulau Jawa puluhan gunung saya datangi. Tidak hanya di pulau Jawa, saya bahkan sudah mendaki gunung di luar pulau Jawa seperti gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Seketika, watak keras kepala saya muncul. Saya bertekad bahwa apapun yang terjadi, saya harus mendaki salah satu gunung di Sumatera Barat. Titik. Tanda seru!

Akhirnya, pada Kamis, (29/6/2017) impian sederhana saya terwujud. Adik saya yang bernama Fajar mengusulkan ide gemilang agar kami melakukan pendakian bersama ke  gunung Talang. Katanya, medan gunung Talang tidak begitu sulit dan durasi pendakian hanya membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam. “Walaupun gunung Talang tergolong gunung yang tidak begitu tinggi, namun gunung Talang menawarkan panaroma yang tidak kalah hebat dibandingkan gunung-gunung tinggi lainnya di Sumatera Barat,” ujar Fajar meyakinkan saya.

Lantas tanpa banyak pertimbangan, saya pun mengiyakan tawaran Fajar. Kapan lagi saya bisa mendaki gunung bersama adik saya sendiri. Momen yang langka dan rasanya akan sulit untuk diulang kembali. Sejujurnya, hubungan saya dengan adik saya tidak begitu dekat. Maklum, masa-masa kecil kami dihabiskan dengan berkelahi: adu jotos untuk membuktikan siapa yang paling kuat. Huhu. Well, saya berharap dengan kami melakukan pendakian bersama akan membuat kami jauh lebih akrab, layaknya hubungan harmonis antara kakak dan adik.

DSC_7592.JPG
Me and my little brotha.

I may fight with my siblings. But once you lay a finger on them, you’ll be facing me!” – Anonymous.


Sebagai informasi, gunung Talang memiliki ketinggian 2,597 mdpl (meter di atas permukaan laut). Gunung yang berlokasi sekitar 40 km sebelah timur kota Padang ini tergolong jenis gunung stratovolcano (gunung api aktif). Berbagai sumber menyebutkan bahwa gunung Talang sudah pernah meletus berkali-kali sejak tahun 1833 hingga tahun 2007. Saat ini, kawah gunung Talang masih mengepulkan asap belerang.

Pendakian ke gunung Talang dilakoni oleh saya, Fajar, dan sepuluh orang temannya. Kami berangkat dari kota Solok menggunakan sepeda motor. Tidak butuh lama untuk mencapai kaki gunung Talang. Seingat saya hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam.

Selama perjalanan konvoi, saya tidak merasa bosan sama sekali. Betapa tidak, saya disuguhi lanskap ranah Minangkabau yang sungguh aduhai. Di antara jalan yang berkelok-kelok, terdapat hamparan kebun teh yang berundak-undak. Tidak hanya itu, saya juga takjub dengan gugusan bukit barisan yang seolah-olah laiknya seperti penjaga yang melindungi kota Solok dan kabupaten Solok dari serangan alien. (Okay, untuk kalimat terakhir abaikan).

Setelah menempuh perjalanan yang menyenangkan, akhirnya tibalah kami di posko gunung Talang via Ai Batumbuk sekitar pukul 12 siang. Udara pegunungan yang segar serta suara adzan Dzuhur yang berkumandang menyambut kehadiran kami. Siang itu, petualangan baru saja dimulai.

DSC_7472
Posko gunung Talang via Ai Batumbuk

Setelah registrasi dan membayar retribusi sebesar 10ribu, kami mulai melangkah memasuki gerbang perkebunan the PTPN VI. Tidak ada aktivitas panen teh kala itu. Barangkali musim panen memang belum tiba.

Beberapa kali bermain ke perkebunan teh, jarang sekali saya melihat para petani memanen. Sebetulnya saya ingin belajar bagaimana memilih teh yang berkualitas tinggi. Penasaran. Namun apa boleh buat, saya hanya bisa memandang daun teh yang berwarna hijau muda. Tampak subur dan terawat dengan baik. Kami menyusuri jalanan di tengah-tengah perkebunan teh sekitar 45 menit.

DSC_7483
PTPN VI di kaki gunung Talang.

Selanjutnya, kami berhenti di sebuah warung untuk beristirahat sejenak. Warung semi permanen tersebut menjual asupan energi yang dibutuhkan para pendaki, baik yang akan mendaki maupun yang sudah turun.

Oh ya, pendakian saya ke gunung Talang merupakan pendakian tektok. Jadi, kami takperlu susah-susah membawa tenda atau membawa keperluan logistik yang berlebihan. Hanya perlu membawa bekal secukupnya. Lagipula, berhubung gunung Talang tidak begitu tinggi, jadi kami memutuskan hanya sekadar hiking tidak camping. Mengutip perkataan orang bijak,Hike while you can! Hiking in undiscovered places is a lot of fun.”

Setelah melewati area perkebunan teh, kami mulai memasuki hutan dengan medan yang mulai menanjak. Saat itu, hujan turun sehingga memaksa kami untuk mengenakan jas hujan. Beruntung saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.

Kendati saya sudah memakai jas hujan, sejujurnya saya tidak suka pendakian ketika hujan. Sepertinya rasa kesal tidak hanya bersemayam di hati saya, namun juga teman-teman seperjalanan saya. Maklum, hujan membuat tanah menjadi sangat licin dan berlumpur. Berulang kali saya terjatuh. Sakit. Namun saya teringat pesan senior di kampus.

“Yar, tahu mengapa kita terjatuh?”

“Kenapa kang?”

“Karena kita harus bangkit lagi. Jadi, takmasalah seberapa sering kita jatuh. Hal yang terpenting kita harus selalu bangkit.”

“Oh begitu kang,” ujar saya sekenanya untuk menimpali petuah senior saya tersebut.


Sepanjang pendakian, tidak banyak pendaki lain yang kami temui. Seingat saya, ketika registrasi hanya ada dua kelompok yang mendaki gunung Talang siang itu. Satu kelompok kami, satu lagi kelompok lain yang saya tidak sempat bertanya banyak hal tentang mereka. Maklum, gunung Talang baru saja dibuka kembali tiga hari pasca Idul Fitri. Mungkin tidak banyak pendaki yang berpikiran untuk mendaki pada momen Hari Raya. Lebih baik berkumpul bersama keluarga atau menghabiskan waktu liburan di tempat-tempat keramaian.

Mendaki gunung Talang membawa saya ke memori pendakian ke gunung Slamet pada November 2015 lalu. Saya pikir, jalur pendakian gunung Talang dan gunung Slamet memiliki kesamaan. Bagi yang sudah pernah mendaki kedua gunung tersebut, tentu akan berpendapat sama. Namun bedanya, medan gunung Slamet jauh lebih terjal. Apalagi ditambah saat itu hujan cukup deras mengguyur hutan hujan tropis gunung Slamet sehingga membuat fisik saya terkuras dan tubuh saya menggigil kedinginan. Namun beruntung, hujan yang turun di gunung Talang tidak berlangsung lama. Jadi penderitaan di gunung Slamet tidak terulang kembali di gunung Talang.

“Bang, kalau kita beruntung, jika tidak ada kabut, kita bisa melihat tiga danau dari puncak gunung Talang yakni danau Di Atas, danau Di Bawah, dan Danau Talang. Selama saya mendaki gunung Talang, saya selalu tidak beruntung melihat pemandangan ketiga danau tersebut. Semoga kali ini abang beruntung ya,” ujar Baim salah seorang sahabat Fajar.

“Oh ya? Semoga ya tidak ada kabut,” imbuh saya mengamini.

Lazimnya di hampir semua gunung di Indonesia, setiap beberapa kilometer pendaki akan berhenti di pos-pos untuk beristirahat. Namun kondisi demikian tidak saya jumpai di gunung Talang. Tidak ada pos pemberhentian sama sekali. Hanya ada plang bertuliskan ‘asmaul husna (nama-nama Allah) dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia serta tanda ‘R’.

Sontak saya bertanya kepada Fajar.

“Jar itu ‘R’ maksudnya apa ya?”

“Oh , ‘R’ itu maksudnya ‘Rambu’. Jadi nanti setiap beberapa meter, tepatnya di tikungan, kita akan menjumpai plang dengan tanda ‘R’ mulai dari R.1 hingga R.99. Sengaja dibuat hingga R.99 agar sesuai dengan ‘asmaul husna yang berjumlah 99. Untuk R.99 sendiri nanti kita temukan di puncak,” jelas Fajar kepada saya dengan cukup detil.

Sayapun menganggukkan kepala pertanda mengerti. Tidak ada kendala yang berarti yang kami temui selama mendaki. Namun, ada satu orang teman Fajar yang merasa kelelahan lantaran kondisi fisiknya kurang prima. Salah seorang di antara kami berinisiatif untuk mengurangi beban yang dia bawa sehingga perjalanan dapat terus dilanjutkan.


Menurut saya, kehadiran plang ‘asmaul husna membuat pendakian terasa lebih relijius. Saya pernah mendengar bahwa Rasulullah pernah mengajarkan agar kita ummatnya, selama perjalanan menyebut subhanallah saat melewati jalan menurun dan menyebut Allahu akbar ketika melewati jalan mendaki. Hal tersebut barangkali menyadarkan kita bahwa sudah selayaknya kita terus mengingat Allah dalam kondisi apapun. Setiap tikungan, saya sempatkan untuk membaca ‘asmaul husna, mulai dari Ar-Rahman hingga seterusnya. Jika bisa dibilang, gunung Talang merupakan gunung syariah yang pernah saya daki selama hidup saya.

DSC_7508
R.51 di gunung Talang.

Tiba di R.51, saya sempatkan untuk swafoto di sana. Saya senang tiada terkira karena menemukan tulisan Ya Haq yang mengingatkan terhadap nama sahabat saya yang menyebalkan. Namanya, Arinal Haq Haqo. Dalam hati saya bergumam, “Nanti jika sudah dapat sinyal, saya akan mengirimkan foto ini ke Are (nama panggilan Arinal).”

Menuju lembah gunung Talang, saya melewati pohon-pohon yang memiliki daun panjang berduri. Saya tidak tahu apa nama jenis pohon tersebut. Sayapun bingung untuk menggunakan kata kunci yang tepat jika bertanya kepada Paman Gugel. Barangkali ada dari teman yang mengetahui pohon ini? Pohon-pohon tersebut mengingatkan saya terhadap eksistensi dinasaurus dan sahabat-sahabatnya yang sering lalu-lalang di perfilman hollywood.

DSC_7673.JPG
Ada yang tahu nama pohon ini?

Setelah mendaki selama kurang lebih 2,5 jam, akhirnya kamipun berhasil tiba di lembah gunung Talang. Lokasi tersebut digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda. Saat itu, hanya ada sekitar 3 tenda yang berdiri.

DSC_7594
Tenda pendaki di lembah gunung Talang.
DSC_7586
Deep thinkin’

Lembah gunung Talang terasa sepi, dingin, dan misterius. Namun saya menyukai kondisi demikian. Pemandangan dan perasaan kala itu belum pernah saya rasakan sebelumnya di gunung manapun. Sayapun berjalan menyusuri lembah savana yang tertutup kabut tipis. Angin bertiup kencang, menyeret paksa sekawanan kabut, lantas menghempaskannya.

Berjalan sendirian membuat saya tidak gusar. Justru yang timbul hanyalah rasa tentram yang entah dari mana perasaan itu hadir. Saya selalu menyukai suasana di gunung. Melihat reremputan liar tumbuh secara alami, kagum dengan bunga-bunga liar yang selalu berhasil membuat saya penasaran untuk mengetahui setiap nama mereka. Semakin jauh, saya semakin meninggalkan teman perjalanan saya yang lebih memilih berkumpul bersama-sama sembari menikmati secangkir teh atau kopi pengusir hawa dingin.

Saya suka dengan perasaan saya sore kala itu. Seolah saya merasa hadir menjadi diri saya yang seutuhnya. Berjalan, melihat sekitar, tersenyum, dan bersyukur. Saya mulai berjalan kian jauh hingga mendekati kawah gunung Talang. Saya ingin menuju puncak gunung Talang. Namun langkah saya terhenti saat tiba-tiba kabut tebal kembali hadir sehingga membuat perasaan saya tidak nyaman.

DSC_7613
Kawah gunung Talang.

Di lembah gunung Talang, takbanyak bungan edelweiss tumbuh. Namun mereka mekar seolah membuktikan kepada saya rasa takut akan selalu kalah dengan keberanian, hati yang teguh, dan kesucian cinta. Saya menyukai bunga edelweiss melebihi bunga apapun di bumi ini. Suatu hari, saya berharap bunga edelweiss akan terus abadi sesuai dengan julukannya ‘bunga abadi’.

DSC_7559.JPG
Edelweiss, Si Bunga Abadi
DSC_7542
Bunga kuning ini ada yang tahu namanya?
DSC_7622.JPG
Pattern.
DSC_7627.JPG
Sumber mata air di lembah gunung Talang.

Dari kejauhan, saya melihat ke bawah. Nun jauh di sana, ada tiga danau berdampingan. “Mungkinkah itu tiga danau yang dimaksud teman Fajar tadi?” ujar saya lirih. Sore berganti petang, kamipun memutuskan untuk turun sebelum matahari benar-benar tenggelam.

DSC_7511
Danau Talang, Danau Di Atas, dan Danau Di Bawah

Dalam perjalanan pulang, saya teringat ungkapan manis dari Paulo Coelho, “You don’t need to climb a mountain to know that it’s high.” Ya, saya tahu bahwa gunung akan selalu tinggi, bahwa gunung akan selalu menjadi rumah yang nyaman untuk siapapun. Jadi, berbaik hatilah dengan alam, berbaik hatilah dengan diri sendiri. [Mahfud Achyar]

Rindu di Masa Lalu

Past…. (Image Source: http://blog.stockspot.com.au)

Malam kian larut. Orang-orang telah pergi menjelajah jauh ke dimensi-dimensi yang takdapat dilacak oleh radar berteknologi tinggi. Sementara aku, masih saja terbangun lantaran sepasang mata ini sulit sekali diajak kompromi. Ada banyak potongan episode kehidupan yang melintas di benakku. Hal itu jelas mengusik rasa nyamanku. Entahlah, beberapa kejadian masa lalu tiba-tiba muncul lagi. Masa kecilku, tempat yang pernah aku datangi, tempat bermain, serta orang-orang yang pernah dekat denganku. Semua itu seolah menjadi kisah balik yang sulit sekali dienyahkan.

Semuanya seakan nyata. Terlihat dengan sangat jelas dan detil. Seakan bergerak. Memaksaku untuk kembali memasuki ruang itu. Namun dimensinya berbeda. Aku tidak ingin larut dalam bayangan-bayangan itu. Hanya membuatku lemah. Tapi mau bagaimana lagi, malam ini telah menyeret paksa diriku untuk hadir lagi pada masa-masa itu.

Apalah ini namanya. Sulit juga untuk menerjemahkannya. Namun ada satu hal yang membuat dadaku sesak. Aku rindu. Rindu dengan masa-masa indah yang pernah kulewati. Rindu dengan orang-orang hebat yang pernah dekat denganku. Semakin lama, aku pun semakin jauh memasuki dimensi indah itu. Ingin sekali rasanya bertahan. Enggan menyapa kondisi sekarang yang seolah terasa berbeda. Pada akhirnya pun aku takluk. Bernyanyi, bercengkrama dengan waktu yang seakan tidak pernah membisu.

Kondisi semacam ini bukan kali pertama aku alami. Berulang kali aku meyakinkan diri bahwa ini hanyalah sebuah perjalanan yang tidak nyata. Aku harus menyudahi. Tapi rasanya sulit sekali. Ingin berteriak bahwa aku ingin lepas dari rayuan masa lalu. Namun ia seakan takmau pergi. Memang pada hakikatnya semua yang terjadi di masa lalu dan masa sekarang jelas berbeda. Aku harus paham dengan keniscayaan itu.

Akan tetapi, biarkan aku mengenang. Jika dengan begitu membuatku jauh lebih baik. Tidak masalah jika hal itu akan hanya akan menambah ketidakberterimaan. Biarlah, biarkan aku mengenang. Setelah aku penat dengan masa kini yang menjemukan, aku ingin ia mengajakku mengelilingi keabadian hingga malam ini cepat berakhir.

Ps: Tulisan lama yang hanya mengendap di salah satu folder di laptop pada tanggal 10 Januari 2012.