Puluhan Januari Telah Terlewati

Processed with VSCO
Senja di Jakarta pada akhir Januari. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Saya adalah seorang pria pemuja kata-kata, sungguh. Saya selalu kagum dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah kalimat dan paragraf yang bermakna.

Sepekan yang lalu, saya menonton film yang berjudul “The Light Between Oceans,” sebuah film yang dirilis pada tahun 2016 yang diperankan dengan sangat baik oleh Michael Fassbender dan Alicia Vicander. Film tersebut berkisah tentang seorang penjaga mercusuar dan istrinya yang tinggal di sebuah pulau bernama Janus Rock. Dua tahun setelah pernikahan mereka, pasangan tersebut menemukan kapal sekoci yang membawa dua orang penumpang; seorang pria dan bayi perempuan. Bagaimana kisah selanjutnya? Silakan ditonton.

Akan tetapi, pada tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang-lebar tentang film yang mendapatkan rating 7,2 oleh satu situs IMDb. Lantas, apa yang ingin saya bagikan? Belakangan ini, saya terusik dengan sebuah pertanyaan, “Apakah standar utama yang membuat suatu karya, misalnya film, layak dinobatkan sebagai karya yang fenomenal?” Lama, lama sekali saya berpikir tentang hal tersebut hingga pada akhirnya saya menemukan simpulan yang paling tepat menurut perspektif saya sendiri. Bagi saya secara personal, film yang baik adalah film yang membuat saya merenung: memikirkan setiap dialog, adegan, dan semua tanda yang ditampilkan dalam film, baik kasat mata maupun tersirat.

Salah satu kutipan pada film “The Light Between Oceans” yang membuat saya impresif yaitu, “You only have to forgive once. To resent, you have to do it all day, every day.” Ungkapan ini membuat hati saya gusar. Membuat memori masa silam hadir kembali dengan cuplikan yang lebih utuh, lebih jelas. Ada banyak luka-luka di dalam hati saya yang belum sembuh hingga sekarang. Setiap hari, saya masih merasakan luka yang sama, tidak kurang sedikitpun. Berulang kali saya mencoba melupakannya. Nyatanya tidak semudah yang saya kira. Entahlah, barangkali saya memang belum bisa ikhlas atau mungkin masih ada hal yang belum tuntas. Saya pun tidak tahu harus menerjemahkannya seperti apa perasaan yang meliputi ruang hati saya. Namun satu hal yang pasti, saya memang harus mulai memaafkan dan berdamai dengan diri saya sendiri. Terkadang saya berpikir, saya terlalu keras dengan diri saya sendiri. Mulai hari ini, saat Januari telah pergi, saya mulai mencoba menjadi diri yang baru setiap harinya. Seorang anak manusia yang ingin memiliki hidup yang bahagia.

Januari, kini entah di orbit mana engkau berada? Saya pun alfa tentang hal itu. Ada satu rahasia yang ingin saya sampaikan padamu, “Tahukah kamu, kehadiranmu sungguh berarti. Engkau berada di dua garis yang berbeda. Satu wajahmu menghadap ke masa lalu (bulan Desember), satu lagi wajahmu menghadap ke masa depan (Februari). Bisakah kau sedikit mendoakan saya?

Jakarta,

1 Februari 2017

Hari-Hari Tanpa Sekolah

 

Catatan Relawan Kelas Inspirasi

Oleh: Mahfud Achyar

IMG_1818
Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi (Foto oleh: Yeni Suryati)

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” ― Anies Baswedan

Saya bergabung menjadi keluarga besar Kelas Inspirasi sejak tahun 2014. Namun sebelum menjadi relawan Kelas Inspirasi, saya beberapa kali mengikuti kegiatan sosial yang digagas oleh relawan Kelas Inspirasi Jakarta 4 yang bertajuk “Kunjungan Inspirasi”. Sama halnya dengan program Kelas Inspirasi, kegiatan Kunjungan Inspirasi bertujuan untuk memberikan motivasi kepada anak-anak untuk berani bermimpi, berani mengajar cita-cita mereka. Segmentasi Kunjungan Inspirasi yaitu anak-anak binaan di beberapa Taman Baca di Jakarta. Sejak mengikuti kegiatan tersebut, saya jatuh cinta dengan aktifitas sosial khususnya di bidang pendidikan.

Oleh sebab itu, ketika panitia Kelas Inspirasi Depok 2 membuka pendaftaran relawan, tanpa banyak pertimbangan saya putuskan untuk  mendaftar menjadi relawan pengajar (baca: inspirator). Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya saya menerima surat elektronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan bahwa saya lolos seleksi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi. Saat itu, rasa senang membucah dalam jiwa. Dalai Lama XIV pernah berkata, “Happines is not something ready made. It comes from your own actions.”

Satu hari cuti, seumur hidup menginspirasi. Begitulah semangat yang berusaha dipelihari oleh para relawan Kelas Inspirasi. Kami meyakini bahwa kegiatan Kelas Inspirasi (selanjutnya disingkat KI) tidak hanya menginspirasi anak-anak sekolah dasar, melainkan juga menginspirasi kami, para relawan. Sebelum Hari Inspirasi, semua relawan berkumpul untuk mendapatkan pengarahan dari panitia KI mengenai gambaran kegiatan pada Hari Inspirasi. Merinding. Saya merinding menyaksikan ternyata masih banyak orang-orang baik di bumi pertiwi ini. Mereka, saya menyebutnya invisible hands, adalah orang-orang yang nantinya akan membuat bangsa ini menjadi lebih baik lagi. Kapan? Entahlah. Saya sendiri tidak bisa membuat prediksi yang presisi. Namun satu hal yang patut saya yakini, Indonesia masih memiliki harapan. Para relawan, barangkali merekalah segelintir harapan itu. Selama harapan masih ada dalam setiap dada generasi muda Indonesia, saya yakin kondisi sulit sekalipun dapat ditangani dengan baik. Saya meyakini hal itu. Sungguh.

Suatu hari di kelas penelitian kualitatif, dosen saya berkata, “Indonesia itu surga untuk penelitian. Betapa tidak, hampir semua masalah ada di Indonesia.” Saya pun secara spontan menganggukkan kepala pertanda saya sependapat dengan dosen tersebut. “Iya, Indonesia itu banyak masalah! Iya, Indonesia itu belum bisa semaju Amerika atau Inggris! Iya, Indonesia itu banyak kurang sana-sini! Lantas, apakah saya hanya bisa menyalahkan kondisi pelik yang  dihadapi oleh negara saya sendiri?” tanya saya dalam hati.

John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat (1917-1963), pernah berkata, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country.” Semua orang bisa berteriak untuk menyalahkan, namun tidak semua orang bisa untuk berbuat, untuk turun tangan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri. Terkadang saya lelah melihat, membaca, dan mendengarkan orang-orang yang sering sekali memproduksi konten yang mendestruksi bangsa ini di berbagai lini masa. Saya akui terkadang saya juga melakukan hal yang sama. Namun belakangan saya berpikir ulang, jika saya melakukan hal yang sama dengan mereka, maka saya tidak ada bedanya. Menyedihkan.

Ada satu kutipan yang sangat menginspirasi dalam hidup saya. “Kondisi buruk terjadi bukan karena banyaknya orang jahat di muka bumi ini. Namun karena orang-orang baik hanya diam dan berpangku tangan.” Bagi saya pribadi, barangkali menjadi relawan KI barangkali adalah salah satu cara untuk making the world a better place. I hope so!

Pengalaman menjadi relawan pengajar di SDN Depok 5 pada tahun 2014 membuka telinga, mata, dan hati saya bahwa permasalahan dunia pendidikan Indonesia sangatlah pelik dan kompleks. Jika ada teman yang menanyakan pendapat saya mengenai profesi guru, saya selalu katakan, “Percayalah menjadi seorang guru tidaklah mudah!”

Pagi itu, sebelum mulai mengajar di kelas 2, jantung saya berdegup sangat kencang. Saya gugup dan saya tidak yakin bahwa hari itu Dewi Fortuna berpihak kepada saya. Kondisi semacam itu sejujurnya sudah seringkali saya alami, misalnya, ketika ujian kelulusan atau mungkin wawancara beasiswa. Perasaan yang selalu sama: kacau. Namun saya berusaha menenangkan diri sembari hanya bisa bergumam, “Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berlalu.” All is well.

Menit-menit pertama mengajar merupakan momen yang sangat menyenangkan. Saya mulai berhasil menguasai suasana kelas. Kekhawatiran saya tentang sulitnya menjelaskan istilah-istilah Marketing Communication mampu saya atasi dengan cukup baik. Anak-anak terlihat antusias, mereka bertanya ini dan itu. Saya merasa senang karena mereka terlihat antusias mengikuti proses belajar mengajar. Namun selanjutnya apa yang terjadi? Chaos!

Seorang siswa laki-laki entah mengapa tiba-tiba menangis. Sontak suasana kelas berubah mencekam. Kondisi semakin tidak terkendali ketika ada dua orang siswa yang berkelahi, saling pukul di antara mereka berdua pun tidak bisa dielakkan.

Sementara itu, anak-anak yang dari tadi antusias mendengarkan penjelasan saya juga ikut berteriak, membuat gaduh semakin riuh. Beruntung saat itu saya didampingi oleh teman saya. Kami pun berbagi tugas untuk mendamaikan anak-anak yang berkelahi dan membuat suasana kelas tetap kondusif. Saya pun menghampiri anak yang tadi berteriak dan menangis.

Sambil terisak ia berkata, “Tas saya disembunyikan pak!” Saya berusaha menenangkannya, namun  ia meronta. Seakan ia tidak butuh pertolongan. Seorang anak menyahut, “Dia emang cengeng pak!” Mendengar hal tersebut, si anak semakin marah dan kesal. Kondisi demikian membuat saya kewalahan. Perlahan, saya coba tenangkan dia dan memintanya untuk kembali duduk di kursinya. Ia sempat menolak, namun akhirnya luluh setelah saya bujuk berulang kali. Melelahkan.

Selidik demi selidik, ternyata anak tersebut memang sering menjadi objek bullying di kelasnya. Hampir setiap hari, ada saja yang membuat ia marah dan kesal. Mengetahui hal tersebut, saya hanya bisa terdiam. Seketika memori masa lampau hadir kembali.

Source - i(dot)huffpost(dot)com
Girl comforting her friend (Source: i.huffpost.com)

Dulu, ketika saya di bangku sekolah dasar, bullying merupakan fenomena yang sudah biasa. Dalam bahasa Indonesia, bullying memiliki serapan kata yaitu perundungan. Ada banyak faktor mengapa seorang siswa bisa menjadi objek perundungan, misalnya ia memiliki rambut keriting, kulit hitam, atau hidung pesek. Tidak hanya lantaran fisik semata, objek perundungan bisa juga lantaran sang anak memiliki nama yang “unik” dan sebagainya. Terlepas dari hal itu semua, siapa pun punya potensi yang sama untuk menjadi objek perundungan di sekolah. Jika sang anak telah menjadi korban bullying, maka hari-hari di sekolah adalah hari-hari yang menyeramkan.

Tiga kali menjadi relawan KI, mulai dari tahun 2014 hingga 2016, saya menyaksikan fenomena bullying selalu ada, bahkan telah menjadi efek bola salju. Sayangnya, pemerintah, pihak sekolah, maupun orang tua siswa tidak begitu aware dengan kasus ini. Padahal menurut saya, bullying laiknya dementor yang menghisap kebahagiaan anak-anak yang mendambakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Bayangkan, setiap hari anak-anak korban bullying harus menghadapi kondisi psikologis yang buruk. Mereka diejek, mereka ditolak, mereka dihina, dan mereka dimusuhi. Sangat menyakitkan.

2 Mei 2016 lalu, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, saya kembali menjadi relawan KI yang ditempatkan di SDN Cijantung 07 Pagi. Jika pada KI sebelumnya saya menjadi relawan pengajar dan fasilitator, tahun ini saya beranikan diri untuk menjadi relawan dokumentator, khususnya fotografer.

Ketika sesi pergantian pengajar, para relawan berkumpul di laboratorium yang menjadi base camp kami. Salah seorang relawan pengajar, Gicha Graciella (27 tahun), tampak kesal setelah mengajar di kelas 5. Ia bercerita bahwa ada seorang anak yang menjadi objek bullying teman-temannya lantaran bapaknya bekerja sebagai tukang parkir. Ia terus diejek oleh teman-temannya. Tidak hanya sekali, namun berulang kali. Gicha pun tidak tinggal diam. Sebagai seorang guru saat itu, ia berusaha memberi pengertian kepada para siswa bahwa sesama teman tidak boleh saling menyakiti. Kepada kami, Gicha kesal karena ternyata bullying menjadi hal yang dianggap lumrah terjadi di sekolah.

Senada dengan  Gicha, saya pun bersepakat bahwa seharusnya isu bullying menjadi perhatian banyak pihak. Apalagi pada tahun 2015 Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir data yang mengejutkan dunia pendidikan Indonesia. “Jumlah anak sebagai pelaku kekerasan (bullying) di sekolah mengalami kenaikan dari 67 kasus pada 2014 menjadi 79 kasus pada 2015.” (Sumber: Republika.co.id, 30 Desember 2015).

Lebih lanjut, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Asrorun Ni’am Sholeh, mengatakan data naiknya jumlah anak sebagai pelaku kekerasan di sekolah menunjukkan adanya faktor lingkungan yang tidak kondusif bagi perlindungan anak.

Sebagai manusia dewasa, barangkali kita sulit memasuki perasaan anak-anak yang menjadi korban bullying. Bahkan, anak-anak korban bullying juga sulit untuk mengutarakan perasaan mereka yang setiap harinya dicela oleh teman-temannya. Menurut saya, akibat buruk dari bullying adalah timbulnya rasa benci dari korban bullying kepada teman-teman yang menjahatinya. Bahkan lebih parah, mereka benci dengan sekolah, mereka mungkin mendambakan hari-hari tanpa sekolah. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini, saya berharap kasus bullying dapat menjadi fokus pemerintah, pihak sekolah, dan keluarga. Bukankah sekolah akan lebih menyenangkan bila tidak ada bullying? STOP BULLYING!

Jakarta,

7 Juni 2016

 

 

 

 

 

Tentang Keyakinan

Source: http://i.huffpost.com/
Source: http://i.huffpost.com/

Kemarin, 5 April 2015, salah seorang teman saya mengirimkan pesan melalui WhatsApp. Dia menanyakan pendapat saya, apakah sebaiknya kita sebagai seorang Muslim turut mengucapkan Happy Easter kepada teman kita yang Christian?

Jawaban saya: sebagai pribadi yang berada di lingkungan yang heterogen, tentunya kerap kali kita dihadapkan pada persolan dilematis yang menyangkut hubungan horizontal: hubungan sesama manusia dan hubungan antar umat beragama. Namun, kadang kita juga sering lupa memberikan batas mana sikap yang menujukkan toleransi, mana pula yang menunjukkan hal yang prinsipil bagi kita.

Sejauh ini, saya berteman baik dengan siapa pun: tanpa membedakan agama, suku, ras, atau pun kelas sosial. Satu prinsip yang hingga saat ini saya pegang adalah, saya ingin menjadi sahabat baik untuk siapa pun. Tidak terkecuali bagi sahabat yang berbeda keyakinan. Sikap toleransi sebetulnya tidak hanya dilihat dari seberapa sering kita mengucapkan selamat pada hari-hari besar yang dirayakan oleh sahabat kita yang berbeda keyakinan. Lebih dari itu, sikap toleransi yang utama adalah, kita memberi kenyamanan bagi mereka untuk menjalankan ibadah mereka. Selain itu, kita juga menghargai keyakinan mereka dan tidak memaksakan agama kita kepada mereka. Sebab Allah berpesan, tidak ada paksaan dalam beragama.

Apabila datang hari-hari besar, biasanya saya mengucapkan ucapan yang bersifat lebih umum. Misalnya, “Selamat liburan teman! Semoga hari-hari ke depan menyenangkan!”

Intinya, sebagai seorang Muslim, tugas utama kita adalah menjadi agen Muslim yang baik. Menghargai siapa pun dan bersikap baik pada siapa pun. Kita adalah cerminan agama kita. Hingga saat ini pun saya jauh dari agen Muslim yang baik. Saya akan terus mencoba. Semoga. Semoga saya bisa. Sulit? Sangat.

Menunggu untuk Ditunggu

BeFunky_CAtByyTUYAA56an.jpg

Dulu, aku takbegitu senang untuk menunggu. Bagiku, menunggu adalah hal yang menyebalkan, membuang waktu, dan ketika menunggu aku merasa seperti orang bodoh. Apabila ingin membuat janji bertemu dengan seseorang, aku akan menganalisis secara matematis agar waktu menunggu bisa lebih efektif. Namun sayangnya, seringkali perhitunganku tidak begitu akurat, seringkali malah di luar ekspektasi.

Namun sekarang sepertinya aku mulai menikmati waktu menunggu. Kemarin, (Minggu, 23 Maret 2015), aku menunggu kedatangan Papa di terminal 1B Bandara Internasional Soekarno Hatta. Untungnya pesawat yang ditumpangi Papa tidak delay. Jadi, aku tidak perlu menunggu terlalu lama atau menunggu dengan perasaan yang kacau: tidak sabaran.

Kadang aku berpikir, bagaimana bila orang yang kita tunggu takjadi datang? Bukan karena ia membatalkan janji. Ia bahkan takpunya niatan untuk membatalkan secara sepihak. Ia hanya takkuasa untuk menolak permintaan untuk bertemu segera dengan Sang Pengatur Janji.

Barangkali demikianlah yang terjadi terhadap ratusan penumpang Malaysia Airlines Flight MH370 yang hilang entah kemana. Kondisi serupa juga dialami oleh 155 penumpang Air Asia QZ8501 yang hendak bertemu dengan karib kerabat, sahabat, dan orang-orang yang mereka cintai di Singapura. Percayalah, mereka tidak bermaksud untuk ingkar janji. Hanya saja, mereka sudah membuat janji terlebih dahulu dengan-Nya jauh sebelum ia berkata, “Okay, kita akan bertemu di Bandara setelah landing.”

Begitulah, kadang ada yang sengaja menunggu, namun orang yang ditunggu malah berlalu. Ada juga yang telah lama ditunggu, namun isyaratnya kerap keliru. Nyatanya bukan dia yang menunggu. Tapi kita yang ditunggu. Menunggu dan ditunggu, apakah itu akan selalu berbeda?

“If I die, I will wait for you, do you understand? No matter how long. I will watch from beyond to make sure you live every year you have to its fullest, and then we’ll have so much to talk about when I see you again.” – Jeaniene Frost

Merawat Kenangan

“Bagaimana bila kita sama sekali tidak bisa mengingat apa yang sudah kita alami?”

Source: http://images.gizmag.com/
Source: http://images.gizmag.com/

Semalam, saya sempatkan untuk menonton film di laptop. Sudah banyak sekali koleksi film yang menumpuk di external hard disk, namun belum sempat saya tonton. Pilihan saya jatuh pada film The Giver. Entahlah, mengapa saya harus menonton film ini. Padahal juga banyak film lain bisa ditonton. Ada semacam dorongan besar dari dalam saya untuk menonton film tersebut. Sesuatu yang sulit saya jelaskan. Berlebihan? Saya pikir juga begitu.

Film ini mengisahkan seorang pemuda bernama Jonas yang terpilih sebagai Penerima Kenangan. Ia mendapatkan hak prerogatif untuk mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelum lahirnya Komunitas. Berbagai kenangan diterima Jonas, baik itu kenangan yang manis, indah, menakutkan, bahkan kenangan memuakkan. Singkat cerita, ia berjuang untuk mengembalikan kenangan agar semua orang bisa kembali menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia yang lahir, tumbuh, dan berkembang dengan begitu banyak kenangan. Selesai menonton film ini, saya kemudian merenung. Dalam benak saya, begitu banyak pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya. Dan film ini cukup membantu saya untuk menemukan jawaban atas kegelisahan saya selama ini.

Saya pernah berpikir, mengapa Tuhan tidak menciptakan semua manusia baik. Mengapa harus ada permusuhan, pertengkaran, dan perperangan? Belakangan saya baru menyadari seutuhnya bahwa pada dasarnya fitrah manusia itu baik. Manusia adalah aktor dan decision maker dalam hidupnya. Tuhan memberikan kita kebebasan untuk memilih jalan yang kita suka. Dan jalan itu dipilih oleh segumpal darah yang ada di dalam tubuh kita. Segumpal darah yang orang-orang sering menyebutnya HATI. Maka, sebagai manusia kita diminta untuk merawat hati agar kita tidak salah memilih. Kata orang bijak, jika kau ragu dengan berbagai pilihan dalam hidupmu, maka cobalah tanya pada hatimu. Hati tidak pernah berbohong. Namun bagaimana bisa hatimu berkata jujur? Jika selama ini terlalu banyak noda yang mengotorinya. Sehingga kau sendiri tidak yakin apa yang dikatakan hati.

Sebelum kita lahir, bukankah kita pernah hidup di alam rahim? Lantas apa yang bisa kita ingat? Tidak secuil pun. Bahkan saya pun tidak bisa mengingat perjanjian suci dengan Tuhan ketika Ia meniupkan ruh ke dalam jasad saya. Pada saat itu, saya berjanji bahwa saya mengakui Allah sebagai Tuhan semesta alam. Saya pun menerima syarat dari-Nya atas tiga hal yaitu jodoh, rezeki, dan kematian. Ya itu janji yang pernah terjadi. Bukankah itu kenangan? Mengapa saya tidak mengingatnya sama sekali. Sembilan bulan hidup dalam rahim ibu, menerima asupan gizi dari uterus tentu saya memiliki kenangan, namun lagi-lagi saya tidak bisa mengingatnya. Di mana kenangan itu tersimpan? Apakah di otak? Tapi mustahil jika kenangan tersimpan di otak karena perkembangan otak janin baru dimulai saat ia berusia 8 minggu. Sebelum itu, apakah ia takmemiliki kenangan sama sekali?

Belakangan saya juga berpikir apakah kenangan-kenangan buruk bisa dihapus? Yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan indah dan baik. Sebab selama ini saya selalu terusik dengan kenangan buruk yang membuat hidup saya tidak bahagia, membuat saya gelisah, dan membuat saya merasa benci. Apa iya kita bisa menghapus kenangan? Mungkinkah cara kerja otak itu seperti hard disk? Jika kita ingin memperbaiki kenangan, kita tinggal klik kanan kemudian klik error checking, selanjutnya klik optimise and defragment, dan terakhir clean-up history yang menurut kita perlu dihapus. Sehingga yang tersisa hanyalah folder-folder kenangan yang baik. Bisakah semudah itu?

Film The Giver membuat saya sadar bahwa seharusnya kita tidak perlu memilih dan memilah kenangan. Semua manusia memiliki sisi hitam dan putih. Kenangan baik membuat kita merasa bahagia, kenangan buruk membuat kita belajar. Semua kenangan pada akhirnya membuat kita menjadi manusia yang bijak. Membuat kita menjadi Sang Perawat Kenangan. Biarkanlah kenangan baik itu terus terjaga dengan baik. Bila kita sedih dan marah, ingatlah kenangan yang indah dalam hidup kita. Sementara kita juga perlu merawat kenangan buruk. Mungkin ia taksesempurna kenangan baik. Ia layaknya seperti kupu-kupu yang memiliki sayap yang robek. Namun bukankah sayap yang robek bisa kita sembuhkan? Perlahan, biarkan kita merawat sayap yang robek itu. Mungkin ia tidak akan baik seutuhnya. Namun percayalah kondisinya akan jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.

“Setiap orang ibarat bulan. Memiliki sisi kelam yang takpernah ia tunjukkan pada siapa pun. Pun sungguh cukup bagi kita memandang sejuknya bulan pada sisi yang menghadap bumi.” – Salim A. Fillah

Tidak ada manusia yang sempurna. Kita dibangun oleh kenangan-kenangan yang berasal dari dalam diri kita. Kenangan yang kita sendiri tidak tahu mengapa ia hadir dan dimana ia bersembunyi. Pun jika kita merasa sakit di masa lalu, kita takusah bersikeras untuk melupakannya. Upaya maksimal yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan masa lalu. Saya percaya bahwa setiap cobaan yang dihadapi oleh manusia adalah proses untuk ia mendapatkan derajat yang lebih baik di mata Tuhan. Jika saya dan kita semua masih menerima cobaan yang sama, kita perlu memeriksa hati kita. Mungkin hati kita sudah bebal dengan begitu banyak kesalahan yang sudah kita perbuat.

Saya ingin menjadi perawat kenangan. Namun jika saya dihadapkan dengan pilihan bahwa saya harus kehilangan kenangan, saya meminta pada Tuhan untuk menyisakan satu kenangan terbaik yang pernah yang miliki. Sebuah kenangan yang saya sendiri kita yakin apakah kenangan ini benar-benar ada atau tidak.

Suatu malam pada tahun 2013, saya bermimpi bertemu dengan seorang pria paruh baya mengenakan baju putih seperti pakaian ihram. Namun saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Saya hanya bisa mendengar suaranya. Saat itu saya bertanya padanya, “Siapakah ini?” Dengan suara berat ia menjawab, “Nabi Muhammad saw.” Saya terbangun dari mimpi saya. Jantung saya berdetak lebih kencang, napas saya tidak teratur, dan malam itu saya sungguh gelisah. Apa mungkin saya bertemu dengan Sang Pembawa Pesan? Saya tidak yakin dengan mimpi saya. Sebab yang saya tahu selama ini, untuk berjumpa dengan Rasulullah, kendati di alam mimpi, tidaklah mudah. Barangkali hanya orang-orang khusus yang memiliki hak istimewa semacam itu. Sementara siapalah saya? Seorang anak manusia yang hari-harinya hanya disibukkan dengan persoalan dunia dan seringkali berbuat maksiat.

Namun, jika pun kenangan itu taknyata. Saya tetap bahagia karena saya memiliki kenangan yang mungkin taksemua orang punya. Kenangan terbaik yang akan selalu saya rawat hingga kapan pun. Saya percaya, setiap orang memiliki kenangan-kenangan personal yang akan terus mereka rawat. Seperti Harry yang begitu mencintai kenangan saat ia dipeluk oleh kedua orang tuanya. Kenangan terbaik tersebut menjadi pancaran cahaya “Expecto Patronoum!” ketika merasa tertekan oleh kehadiran Dementor.

“Kenangan itu merupakan kebenaran.” – Jonas.

Tulisan ini mungkin sedikit rumit. Saya pun begitu sulit mencerna dan mengurainya untuk menjadi sebuah pesan yang mudah dipahami.

Transjakarta, Malam, dan Hujan

Jakarta, 03 Februari 2014.


Naik bus Transjakarta selepas kuliah adalah pilihan yang takdapat kuelakkan. Sebab hanya transjakarta-lah moda transportasi umum yang kupilih untuk mengantarkan pulang setelah seharian beraktifitas: kerja dan kuliah. Namun bagiku pribadi, aku takterlalu mempersoalakan menaiki transportasi publik. Semestinya aku sudah dapat membeli motor, namun hasratku tersebut kubiarkan tertunda. Alasannya karena saat ini aku masih nyaman menggunakan Transjakarta kendati banyak warga Jakarta yang mengeluhkan bis yang berwarna biru, oranye, dan abu-abu itu. Apalagi untuk naik transjakarta butuh perjuangan yang takmudah–mengantri lama, desak-desakkan, jumlah bis yang masih sedikit, dan pelayanan yang masih seadanya dari pengelola Transjakarta. Barangkali alasan tersebutlah yang membuat segelintir warga Jakarta mengurungkan niat untuk naik Transjakarta. Mereka lebih memilih naik mobil atau motor.

Bagiku , Transjakarta adalah bagian dari keseharianku. Betapa tidak, setiap hari aku menaiki angkutan tersebut. Berangkat kerja, berangkat kuliah, dan pulang. Aku pun takterlalu merisaukan ketidaknyamanan menjadi penumpang transjakarta. Sebetulnya semuanya kembali pada diri kita. Jika kita menikmati apa yang terjadi, tentulah tidak ada yang tidak nyaman. Semuanya akan dijalani dengan riang, gembira, suka dan cita.

Lagian, takmelulu naik transjakarta itu kurang mengenakkan. Banyak hal positif yang dapat aku temui selama menyandang status sebagai penumpang. Misalnya, aku dapat lebih memahami karakter orang-orang. Selama dalam bis, aku seperti melihat perwakilan karakter-karakter manusia. Ada yang cuek, ada yang bikin kesal, ada yang murah senyum, ada yang wajahnya datar tanpa ekspresi, ada yang memasang raut wajah pongah dan angkuh, dan bahkan ada juga yang menjadikan Transjakarta sebagai tempat tidur yang menyenangkan. Maka sesekali mendengar suara orang mendengkur bukanlah hal yang aneh. Sudah biasa.

Aku sendiri adalah orang yang sama dengan mereka. Kadang cuek sekali, takmenghiraukan orang-orang sekitar. Kadang juga memanfaatkan waktu selama di bis untuk membaca buku, tilawah, memainkan ponsel pintar, mendengarkan musik, dan aktifitas yang paling sering kujalani adalah tidur. Bahkan karena seringnya tidur di Transjakarta, aku terbiasa terbangun pas di shelter yang menjadi tempatku berhanti. Ritual yang biasa kulakukan adalah, aku bergumam dalam hati semoga aku dibangunkan di shelter yang tepat. Namun kadang kala, aku juga tidur kebablasan. Aku pernah “kelewatan” halte Pulomas sehingga mau tidak mau aku harus turun di halte Pulogadung. Hal sama juga terjadi beberapa hari lalu. Aku yang tertidur pulas sembari mendengarkan musik tiba-tiba terbangun di shelter Senayan JCC. Padahal seharusnya aku berhenti di shelter Semanggi. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi. Aku tidak usah mengeluh dan mengutuki kebodohanku. Aku selalu percaya bahwa ada hikmah dari setiap hal yang terjadi dalam hidupku. Aku yakin, Tuhan sudah mengatur skenario hidupku dengan baik dan sempurna. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

***

Malam ini sudah menunjukkan pukul 22:43 WIB. Aku masih terjebak hujan deras di shelter Pulomas.

Aku sudah menghubungi kakak perempuanku agar menjemputku menggunakan payung yang ia beli kemarin. Apa boleh buat. Sedari tadi aku sudah menelfonnya kedua nomor yang ia punya. Tapi yang jawab bukan kakakku. Melainkan mesin penjawab yang meledekku bahwa nomor yang aku panggil sedang tidak aktif.

Ah, kini aku menikmati malam di shelter ini. Shelter yang setiap hari menjadi saksi bahwa aku pernah berlari-lari mengejar Transjakarta. Takjarang aku kesal dan mengekspresikan wajah manyun. Kupikir, shelter ini juga sering mengamatiku yang terlihat kelelahan, kepayahan, dan juga senyum yang biasa kusunggingkan. Aku ingin selalu tersenyum dan bersikap baik. Aku ingin orang-orang mengenangku kelak sebagai pribadi yang senang tersenyum.

Di shelter ini juga, saat hujan takkunjung berhenti, ada sekitar 15 orang yang bernasib sama denganku. Menunggu hujan reda. Ada yang melamun sembari menyandarkan tubuhnya pada tiang, ada yang memainkan ponsel, ada yang berbincang-bincang ringan dengan teman-temannya, dan ada juga yang tampak gelisah.

Aku ingin mengatakan bahwa aku menikmati perjalanan menggunakan Transjakarta malam ini. Apalagi aku kebagian menumpang Transjakarta gandeng yang masih baru, jurusan Pulogadung-Senayan. Aku pun takusah transit di shelter Harmoni.

Air hujan mengalir di sisi kiri dan kanan jendela. Kupandangi kaca dengan takzim. Ada pemandangan yang begitu menentramkan. Cahaya lampu malam berubah keemasan. Aku pun masih asyik membaca novel dan mendengarkan musik favorit yang diputar secara otomatis di ponsel pintarku.

Lagi-lagi, aku beruntung. Sebab ada hal yang bisa kujadikan bekal hidup. Pelajaran yang mungkin takkujumpai di perkuliahan. Terima kasih hujan. Kau selalu menawarkan momen berharga yang takpernah kuduga. Selesai

Semesta, Keluarga, dan Asa

*catatan acak mahasiswa

Jatinangor, 04:25 wib

https://i1.wp.com/www.hdwallpapers.in/walls/clean_home_sky-wide.jpg

Sayup-sayup suara adzan terdengar dari Mushola Al-Islam. Mushola itu tidak terlalu jauh dari kostanku. Hanya beberapa langkah, aku pasti tiba di Mushola. Biasanya, suara adzan yang berkumandang terdengar sangat jelas. Tapi sekarang, sejak bapak yang jadi muadzin sedang sakit, maka suaranya yang lantang pun tak terdengar lagi.
Aku sentak tersadar dari dimensi mimpi yang dari tadi kujelajahi. Walau agak berat, kucoba perlahan-lahan membuka mata ini. Susah sekali membukanya. Agaknya, setan-setan masih bergelantungan di mataku. Atau mungkin, mataku telah dikencingi oleh mereka. Sudahlah. Nanti saja bangunnya. Tidur saja dulu! Bisikan itu jelas terdengar di kedua telingaku. Astaghfirulah. Aku berusaha bangkit dari kasur yang dari tadi memaksaku untuk tidur kembali. Selimut tebal berwarna merah itu pun kubuang jauh-jauh. Aku bergegas ke kamar mandi.

Langkah kaki berjalan gontai. Aku mulai mengambil air wudhu. Pertama, kucuci tanganku yang kotor ini. Selanjutnya, air dingin di bak mandi itu membasahkan mukaku. Aku merasakan kesegaran, dan sungguh ini adalah nikmat yang sulit untuk aku ungkapkan.

Beruntunglah orang-orang yang bisa bangun dan mengerjakan sholat subuh. Suara iqomat terdengar dari mushola Al-Islam. Itu artinya, sholat akan segera dilaksanakan. Semua jamaah bergegas menuju mushola. Alhamdulillah, aku telah selesai menunaikan sholat subuh berjamaah.

Kawan, tahukan kamu keistemewaan sholat Subuh? Sholat subuh adalah pembeda antara orang yang benar beriman dan orang munfik. Bahkan, di katakan dalam sebuah hadits, “Jika kalian tahu bagaimana istemewanya sholat subuh berjamaah, maka kalian akan sholat walau dengan merangkak.” Subhanallah sekali, Allah hanya menganugrahkan nikmat subuh yang hanya dirasakan oleh umat Islam.
Setelah selesai sholat, aku memandang langit yang tampak masih gelap. Udara pagi Jatinangor masih menusuk tulangku. Bahkan angin berhembus membelai seluruh tubuhku ini. seolah ada seseuatu yang ingin ia bisikan kepadaku. Kutatap nanar langit subuh. Di atas sana, sebuah lukisan terpampang dengan begitu indahnya. Maha Karya Allah yang telah melukisnya. Pantaslah dalam surat Al-Imran, Allah berfirman: “Sesungguhnya diantara penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berfikir.”

Allah telah memperlihatkan kekuasaan-Nya padaku. Aku takbisa berkata-kata lagi. Semua terlukis begitu sempurna. Langit-langit bertaburan bintang yang gemintang. Indah dan sungguh memesona. Lihatlah, bintang-bintang itu berkelip bersamaan. Jika disatukan, aku tak dapat membayangkan betapa indahnya alam semesta ini. Aku yakin, seorang penyair sekaliber Kahlil Gibran pun takakan mampu untuk menarasikannya. Labih dari itu, aku melihat bintang-bintang itu bertasbih kepada Allah. Bintang-bintang itu membentuk gugusan yang sangat indah. Ada yang berupa gugusan layang-layang, dan bahkan ada yang menyerupai gugusan lafaz Allah. Sungguh ini menakjubkan, kawan! Sang rembulan tampak anggun dikelilingi bintang-bintang. Ia seakan menjadi ratu di tengah cahaya. Di ufuk timur sana, sang fajar mulai menyeruak membiaskan cahayanya. Langit yang tadi gelap, perlahan ditutupi cahaya yang kemilau. Cahayanya berwarna kuning oranye. Dan satu persatu, bintang-bintang itu mengilang. Entahlah, aku tak tahu bintang-bintang itu hilang kemana. Semuanya hilang tanpa bekas.

 

***

Hari ini hari Minggu. Hampir genap dua tahun aku berada di sini, di Jatinangor. Tiba-tiba saja, aku melihat foto keluarga yang terpampang di pojok meja belajarku. Foto itu adalah aku, mama, papa, dan adikku. Ya Allah, aku merindukan mereka. Apa yang sedang mereka lakukan? Apakah merasakan hal yang sama denganku? Rindu yang memuncak. Hari ini adalah hari libur. Biasanya, setiap hari libur aku pasti dibangunkan lebih awal oleh mamaku. Tuhan, aku sangat merindukan mamaku. Bagiku, ia adalah wanita yang luar biasa. Ia sangat perhatian kepada keluarganya.

“Nak.. bangun nak. Sholat subuh dulu. Sekarang hari libur. Ya, kata-kata itulah hampir kudengar setiap subuh dari malaikatku yang kupanggil mama. Tapi sekarang, aku harus bangun sendiri. Aku harus mandiri, kawan! Dan pada pagi harinya, mama pasti telah menyiapkan sarapan untukku. Satu gelas susu, dan lontong sayur. Sarapan yang sangat enak. Ia tidak pernah lelah untuk membangunkanku setiap pagi. Sering, aku tidak membalas pengorbanan mama kepadaku. Malah aku sering sekali mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk kuucapkan. Aku sungguh berdosa. Aku sering sekali menuntut hakku seenak hatiku.

Mama selalu memenuhi permintaanku. Aku tahu betapa besarnya pengorbanan mama padaku. Andai aku bisa memutar waktu, akan keperbaiki semua salahku pada mama. Kawan, banyak kisah yang ada di benak ini tentang mama. Aku beruntung sekali memiliki seorang malaikat seperti mama.
Pagi-pagi benar papaku juga sudah bangun. Tuhan aku merindukan lelaki itu. Papa sering sekali mengenakan kemeja. Ia memang gagah, dan kesahajaannya selalu terukir dengan seluas senyuman. Kawan, aku memang taksering berkomunikasi dengan papa. Ia adalah lelaki yang takbanyak bicara. Bisa dikatakan, papa sangat berbeda denganku.Komunikasi yang sering ia gunakan adalah komunikasi non verbal. Jika ia tidak senang akan sifatku, ia cukup mengerutkan keningnya. Dan aku pun paham apa yang ada di benak papa. Walau tak sering berbincang, tapi aku sering di ajak bertamasya ke luar kota. Bertahun-tahun. Mulai dari kecil sampai aku SMP. Tapi setelah SMP, semuanya berubah kawan! Aku tak bisa menceritakannya padamu. Cukup hanya aku yang tahu. Bahkan, ketika aku duduk di bangku SMA, kami sering sekali berbeda pandangan. Papa memiliki cara pandang yang berbeda, sedangkan aku juga berbeda. Sampai akhirnya, hubungan aku dengan papa sempat renggang beberapa bulan. Sekarang ketika aku telah jauh dari papa, aku sangat merindukan sosok beliau. Sosok ayah yang sangat perhatian kepada anaknya.

Tuhan pemilik nyawaku. Betapa lemah diriku ini. berat ujian darimu. Kini kupasrahkan pada-Mu. Sebuah bait di atas cukup mewakili perasaan yang pernah kurasakan ketika kondisi sakit yang pernah merenggut nikmat sehatku.