The Voyage to Maregé, Napak Tilas Orang Makassar ke Benua Kangguru


Oleh: Mahfud Achyar

PhotoGrid_1504369652575
L-R: Firly, Audrey, Cimeg, Silvy, Harry, Achyar, Moa, dan Christin

Hubungan antara Indonesia dan Australia nyatanya telah terbangun sejak lama, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal tersebut terungkap dari konser orkestra yang bertajuk “The Voyage to Maregé” yang gelar pada Kamis, (31/8/2017) di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat.

_20170827_195042
Poster Publikasi Konser

Biasanya, untuk menonton konser yang digawangi oleh pianis sekelas Ananda Sukarlan, kita harus mengeluarkan kocek yang tidak sedikit. Namun beruntung, penonton yang memadati Teater Jakarta malam itu takperlu mengeluarkan uang sepersen untuk menyaksikan suguhan bertaraf internasional. Konser tersebut digelar secara khusus sebagai kado dari pemerintah Australia atas ulang tahun Republik Indonesia yang ke-72 tahun. Sebagai negara sahabat, saya rasa kado yang diberikan oleh Australia sangatlah manis.

Bagi sebagian orang, menonton konser orkestra klasik barangkali membosankan. Namun bagi saya pribadi, saya sangat takjub menyaksikan dengan mata dan kepala saya sendiri bahwa alat-alat musik seperti piano, biola, cello, dan sebagainya dapat harmonis menghasilkan nada-nada yang membuat bulu kuduk saya merinding. Ah, mereka sungguh keren!

DSC_9297
Suasana Teater Jakarta

Andai saya memiliki bakat seperti mereka, pasti saya tidak akan menyia-nyiakannya. Saya akan mengoptimalkannya untuk sesuatu yang menakjubkan! Namun sayang, saya sepertinya memang terlahir bukan sebagai pelaku seni melainkan penikmati seni.

All humans are musical,” begitu tulis Mitch Albom pada bukunya yang berjudul “The Magic Strings of Frankie Presto” pada halaman 4. Menukil apa yang dikatakan Mitch, saya beranggapan bahwa kendati saya tidak dapat memainkan alat musik, namun setidaknya saya menjadi bagian dari pertunjukkan musik itu sendiri: penonton. So, everyone joins a band in this life, right?

Sebagai pembuka konser, penonton disuguhi karya monumental seperti Small Town (1976) dan Lagu-Lagu Manis (1994). Selanjutnya, untuk membuncahkan rasa cinta kita terhadap Indonesia, Marzuki Pianistica memainkan dua karya piano dan orkestra berdasarkan melodi karya Ismail Marzuki (2012/2016).

Menjelang penampilan Ananda Sukarlan, pianis Stephanie Onggowinoto membawakan dua lagu yaitu “Indonesia Pusaka” dan “Selendang Sutra”. Lagu “Indonesia Pusaka” menjadi salah satu lagu yang menarik perhatian saya. Entah mengapa, sejak kecil saya selalu suka lagu itu. Semacam ada kekuatan sihir yang membuat saya takbosan-bosannya mendengarkan lagu gubahan Ismail Marzuki tersebut.

Sebelum memimpin “The Voyage to Maregé”, Ananda Sukarlan menyampaikan pidato singkat mengenai cerita orang-orang Makassar yang bertualang ke Australia untuk berdagang. “Orang-orang Makassar membawa rempah-rempah seperti pala, cengkeh, dan jenis rempah-rempah lainnya untuk di jual ke Australia. Harga rempah-rempah saat itu mahal sekali. Bahkan lebih mahal dibandingkan harga emas. Orang-orang Makassar ke Australia untuk berdagang,” jelas Ananda.

Selain menceritakan tentang hubungan bisnis tradisional antara Makassar dan Australia, “The Voyage to Maregé” juga bercerita tentang kehidupan suku asli Australia yaitu suku Aborigin. Cerita kehidupan suku Aborigin dituangkan dalam alunan musik beritme semangat serta diiringi dengan penampilan teatrikal dari dua aktor yang menyerupai suku Aborigin asli. Dari pertunjukan tersebut, kita dapat memasuki dimensi lampau bagaimana suku asli benua Kangguru tersebut berinteraksi, bersosialisasi, dan bertahan hidup.

Hal menarik lainnya dari konser yang digelar tepat malam takbiran menjelang Hari Raya Idul Adha tersebut yaitu, aransemen suara adzan yang dikemas dalam section: “The Arrival of Islam”. Kata Ananda, “Saya sengaja memasukkan section ini dalam konser malam ini. Saya ingin menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang damai.”

Saya jelas merinding ketika suara adzan diaransemen begitu indahnya. Terasa damai. Saya beruntung lahir di negara yang memiliki kemajemukan. Namun sayang, banyak orang di bumi pertiwi ini yang begitu antipati terhadap perbedaan. Bukankah pelangi terlihat indah lantaran setiap warna memancarkan warna yang berbeda-beda: me-ji-ku-hi-ni-bi-u!

Di negara ini, saya belajar untuk menghargai perbedaan untuk menghasilkan kolaborasi yang menakjubkan. Mengutip perkataan Harry Anggie, “Perbedaan itu indah.” Jadi, siapkah kita melejit dengan pondasi perbedaan?

Tonton cuplikan video konser pada tautan ini: The Voyage to Maregé.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s