Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016: “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”

 

Processed with VSCO with a6 preset
Chiki Fawzi dan Band pada pembukaan pameran foto dan video Kelas Inspirasi Jakarta, Kamis, (10/11/2016) di Qubicle Center, Senopati 79, Jakarta Selatan. 

JAKARTA, INDONESIA – Tahun ini, Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta yang ke-2 kembali digelar dengan mengusung tema “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”. Jika pada tahun sebelumnya para pengunjung pameran hanya sebatas menikmati karya fotografi dari relawan Kelas Inspirasi Jakarta, maka pada tahun ini panitia akan menyuguhkan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengunjung tidak hanya sekadar melihat karya fotografi melainkan juga dapat berinteraksi secara langsung dengan para fotografer. Hal tersebut memungkinkan terjadi karena pameran yang dikurasi oleh Yoppy Pieter ini memilih konsep photo story.

Barangkali tidak banyak masyarakat umum yang mengetahui terminologi photo story. Secara sederhana, photo story merupakan serangkaian foto yang dilengkapi dengan narasi dan caption (80% foto, 10% narasi, dan 10% caption). Konsep photo story dipilih lantaran panitia ingin mengajak para pengunjung (khususnya yang belum pernah terlibat menjadi relawan Kelas Inspirasi) untuk turut hadir pada momen-momen berharga, inspiratif, dan berkesan selama penyelenggaran Kelas Inspirasi Jakarta ke-5 pada (2/05/2016) lalu.

Setidaknya, ada 880 relawan pengajar, 220 tim dokumentator (fotografer dan videografer), serta 89 fasilitator yang terlibat aktif guna menyukseskan Hari Inspirasi yang bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Para relawan Kelas Inspirasi disebar ke berbagai Sekolah Dasar (SD) dengan kategori sekolah marjinal dan satu Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) di Jakarta.

Relawan Kelas Inspirasi, merupakan para profesional dalam bidangnya masing-masing yang bercerita kepada para siswa-siswi Sekolah Dasar mengenai profesi mereka. Tidak hanya sekadar bercerita, mereka juga memberikan semangat, motivasi, dan asa agar generasi harapan bangsa berani menggapai cita-cita mereka. “Barangkali, bagi para relawan mereka hanya diminta untuk cuti satu hari bekerja. Namun sesungguhnya kehadiran mereka di tengah para siswa-siswi pada Hari Inspirasi sangatlah bermakna. Berbagi cerita, berbagi pengetahuan, serta berbagai pengalaman kepada siswa-siswi SD agar kelak mereka menjadi orang-orang yang hebat,” ujar Harry Anggie S. Tampubolon, Ketua Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016.

Sebagai informasi, Kelas Inspirasi (www.kelasinspirasi.org) merupakan program turunan dari Indonesia Mengajar (www.indonesiamengajar.org) yang memfasilitasi para profesional untuk berkontribusi secara nyata memajukan pendidikan di Indonesia. Kelas Inspirasi pertama kali diselenggarakan pada (25/04/2012) secara serentak di 25 Sekolah Dasar di Jakarta dan akan terus berjalan pada tahun-tahun berikutnya.

Kelas Inspirasi sudah dilaksanakan lebih dari 100 kali di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Gerakan ini terus berjalan dari tahun ke tahun. Kabar menggembirkan ternyata program sejenis Kelas Inspirasi telah banyak diselenggarakan di berbagai daerah dengan nama-nama yang berbeda. Kendati demikian, kami berkeyakinan bahwa semua gerakan yang ada memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta ke-2 akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November hingga 19 November 2016 di Senopati 79 a Qubicle Center, Jalan Senopati No. 79, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut Harry, Qubicle Center dipilih sebagai lokasi pameran tahun ini lantaran Qubicle Center merupakan salah satu tempat pusat kreativitas di Jakarta. Sebagai platform yang berdiri berdasarkan kerja sama dengan para komunitas seluruh Indonesia, Qubicle mendukung para konten kreator dan komunitas dengan adanya fasilitas di Qubicle Center. Oleh sebab itu, pihak Qubicle berbaik hati menyediakan fasilitas Qubicle Center guna mendukung terwujudnya Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016. “Selain sebagai pusat kreativitas, Qubicle Center dipilih karena lokasinya berada di kawasan ramai seperti SCBD (Sudirman Centran Bussiness District) serta mudah dijangkau dengan menggunakan moda transportasi umum,” jelas Harry.

Selain Qubicle, Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016 juga didukung oleh PGN, SKK Migas, Conoco Phillips, Dapur Icut, Printerous serta Seagate. Dukungan dari berbagai pihak dalam mewujudkan pameran tahun ini merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk terus menebar kebaikan, khususnya dalam bidang pendidikan.

Secara spesifik, tujuan dilaksanakan Pameran Kelas Foto dan Video Inspirasi Jakarta 2016 yaitu untuk menyosialisasikan kegiatan positif yang digawangi oleh lebih dari 2000 relawan Kelas Inspirasi selama 5 tahun ke belakang. Selain itu, pameran tersebut juga sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh relawan, siswa-siswi, guru, dan sekolah yang telah merasakan manfaat Kelas Inspirasi.

Selain pameran, kegiatan lain yang dapat diikuti oleh para pengunjung yaitu talkshow/workshop fotografi dan sharing session Kelas Inspirasi Jakarta. Tidak hanya itu, pengunjung juga akan dihibur dengan penampilan musik dari musisi tanah air. Pembukaan pameran pada Kamis, (10/11/2016) pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Celtic Room, Chiki Fawzi, dan Archie Wirija. Sementara untuk penutupan pada Sabtu, (19/11/2016) pukul 11.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Syahravi, Westjamnation, Huhu Popo, Resha and Friends, Nia Aladin, serta Juma & The Blehers.

Sementara itu, adapun 17 pameris yang terlibat pada pameran ini terdiri dari 13  fotografer yaitu Aad M. Fajri, Agil Frasetyo, Bagas Ardhianto, Bhima Pasanova, Darwin Sxander, Deasy Walda, Desi Bastias, Desita Ulfa, Dimitria Intan, M. Khansa Dwiputra, Ruben Hardjanto, Shofiyah Kartika dan Silvya; 3 videografer yaitu Fahiradynia Indri, Agus Hermawan, dan Yuni Amalia; serta 1 mural artis yaitu Popo Mangun. Sebagian besar dari mereka bukanlah fotografer dan videografer profesional. Ada yang masih berstatus mahasiswa, ada yang bekerja sebagai konsultan, dan lain sebagainya. Pun demikian, karya-karya mereka yang nanti akan dipamerkan patut untuk mendapatkan diacungi jempol. Informasi lebih detil mengenai profil singkat para fotografer dan videografer dapat dilihat pada situs berikut: http://pameranki.kelasinspirasijakarta.org/.

“Kami berharap melalui Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016, semakin banyak orang-orang baik di negeri ini yang peduli dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Kami berkeyakinan bahwa para generasi bangsa yang saat ini duduk di bangka Sekolah Dasar kelak akan menjadi generasi yang gemilang. Oleh sebab itu, kita semua tanpa terkecuali berkewajiban untuk memastikan agar para penerus bangsa mendapatkan akses pendidikan yang baik, merata, dan berkeadilan sosial,” tutup Harry.

 

Advertisements

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU

Photo Story: Kelas Inspirasi Jakarta 5 “Satu Hari Kembali ke Sekolah”

Kelas Inspirasi (KI) merupakan salah satu program dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Program ini memfasilitasi para profesional untuk kembali ke sekolah khususnya Sekolah Dasar selama satu hari dengan tujuan menginspirasi anak-anak Indonesia untuk #BeraniBermimpi.

Secara sederhana, para profesional menceritakan profesi mereka kepada anak-anak SD dengan harapan kelak di masa depan mereka bisa menjadi seperti mereka atau bahkan jauh lebih hebat dari para inspirator (sebutan pengajar Kelas Inspirasi). Hal ini menjadi penting mengingat saat ini di dunia kerja begitu beragam profesi yang ada. Tidak hanya ada profesi yang populer seperti dokter, polisi, ataupun tentara. Nyatanya di dunia kerja ada profesi seperti chef, designer interior, dan masih banyak lagi.

Tahun ini, Kelas Inspirasi Jakarta kembali digelar untuk yang kelima kalinya. Bagi Kelas Inspirasi Jakarta 5, tahun ini sangat spesial karena Hari Inspirasi bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2016.

Saya menjadi relawan Kelas Inspirasi untuk kali ketiga. Namun pada Kelas Inspirasi tahun ini, saya mengambil peran menjadi relawan fotografer (amatir) yang tergabung dalam kumpulan orang-orang hebat di Kelompok 42.

Berikut 5 foto dokumentasi ketika Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur:

1
Foto 1

Menunggu Upacara Bendera

Siswi-siswi SDN 07 Cijantung Pagi Jakarta Timur pada Senin, (02/05/2016) terlihat begitu antusias menunggu upacara bendera. Pada hari itu, upacara bendera di sekolah mereka berbeda dibandingkan upacara-upacara sebelumnya. Betapa tidak, pada hari itu bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, sekolah mereka juga kedatangan para relawan Kelas Inspirasi Jakarta 5 yang akan berbagi cerita tentang profesi mereka. Bagi siswi-siswi tersebut, jelas hari itu adalah hari yang berbeda, hari yang spesial karena tidak ada PR.

 

2.JPG
Foto 2

Guru, Tidak Hanya Mengajar Namun Juga Mendidik

Gicha Graciella (27 tahun) merupakan seorang konsultan komunikasi. Ia baru pertama kali menjadi relawan Kelas Inspirasi. Ia menceritakan bahwa mengikuti Kelas Inspirasi bukan hanya tentang berbagi, namun juga sebagai bentuk komitmennya bahwa sesuatu yang baik dan berguna perlu disebarkan dengan lebih luas. Ia yakin setiap orang berilmu di negeri ini memiliki kewajiban untuk mendidik generasi mendatang. Ada satu pengalaman yang cukup berkesan ketika ia menjadi inspirator Kelas Inspirasi. Menurutnya, salah satu persoalan pelik di dunia pendidikan di Indonesia yaitu masalah bullying. Ia bercerita, “Selama saya mengikuti kelas inspirasi, saya melihat ada beberapa anak yang mendapat kekerasan verbal dari teman-temannya. Saya menyadari bahwa mendidik bukan hanya tentang mengajarkan mereka untuk mengerti mata pelajaran dan hal-hal yang bersifat teoritis.” Gicha, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa mendidik adalah tumbuh bersama mereka, memahami kebutuhan mereka, dan memenuhi hak-hak mereka.

3.JPG
Foto 3

Tidak Perlu Ada Sekat Antara Guru dengan Murid

Ada ungkapan yang mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Predikat menjadi seorang guru memang tidak mudah. Ia menjadi contoh, ia menjadi role model untuk anak didiknya. Hubungan guru dan murid tidak hanya sebatas orang yang mengajar dan orang yang diajar. Guru dan murid juga bisa saling bersahabat. Bukankah menyenangkan memiliki guru sekaligus sahabat?

4.JPG
Foto 4

Belajar Tidak Hanya di Kelas

Annisa Aulia Handika (23 tahun) mengajak siswa-siswinya untuk belajar di luar kelas. Sebelum ia mulai mengajar, seorang siswa membuang hajatnya di kelas. Hal tersebut membuat aroma kelas menjadi tidak sedap. Ollie, begitu ia memanggil namanya, mengatakan bahwa belajar tidak perlu di ruang kelas. Siswa-siswi bisa belajar dimana saja, asalkan ia nyaman menjalani proses belajar mengajar. Profesinya sebagai Oseanografer sangat menarik antusias anak-anak. “Ini pertama kalinya saya mengikuti Kelas Inspirasi dan langsung ketagihan untuk ikut lagi,” ungkap Ollie. Selama mengajar, Ollie berulang kali mengatakan bahwa laut di Indonesia itu sangat luas dan sangat indah. Oleh sebab itu, kita perlu bersama-sama menjaga kekayaan laut yang kita punya. Mengajar itu nagih! “Saya menjadi lebih bersemangat untuk terus berbuat lebih untuk banyak orang,” ungkapnya.

5.JPG
Foto 5

Dari Balik Jendela

Saya adalah seorang relawan fotografi. Saya memang tidak menginspirasi mereka secara langsung. Sungguh, tidak sama sekali. Hal yang terjadi justru sayalah yang terinspirasi dari anak-anak sekolah dasar. Saya menangkap momen ketika mereka tertawa lepas, ketika mereka marah, ketika mereka kesal, atau ketika mereka bosan. Namun dari semua mata yang sudah abadikan dengan kamera, ada satu hal yang membuat saya merinding. Saya melihat di dalam mata mereka ada binar harapan untuk masa depan yang jauh lebih hebat, jauh lebih gemilang. Teruslah bersemangat menggapai cita-cita wahai tunas bangsa!

Demikianlah, satu hari cuti satu hari menginspirasi! Ayo #BangunMimpiAnakIndonesia

Jakarta,

10 Mei 2016

Percayalah, Takmudah Menjadi Seorang Guru

(Catatan Relawan Pengajar Kelas Inspirasi Depok 2)

Oleh: Mahfud Achyar[i]

 

“What is a teacher? I’ll tell you: it isn’t someone who teaches something, but someone who inspires the student to give of her best in order to discover what she already knows.” – Paulo Coelho, The Witch of Portabello

After class, let us grufie! (Kelas 4b)
After class, let us grufie! (Kelas 4b)

Percayalah, takmudah menjadi seorang guru. Begitulah yang saya rasakan selepas menjadi relawan pengajar program Kelas Inspirasi Depok 2 di SDN Depok 5.

Keterlibatan saya dalam program Kelas Inspirasi bermula ketika saya memberanikan diri untuk mendaftar menjadi relawan pengajar pada tanggal 8 September 2014. Saya mendapatkan informasi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi dari salah seorang teman saya di komunitas yang juga concern pada dunia pendidikan.

Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga.

Minggu, 05 Oktober 2014, pukul 14.51 WIB, saya menerima surat eletronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan, “Atas berbagai pertimbangan, dengan senang hati kami sampaikan bahwa Mahfud Achyar telah TERPILIH menjadi relawan pengajar untuk menyelenggarakan Kelas Inspirasi Depok pada tanggal 20 Oktober 2014.” Apa yang saya rasakan saat itu? Saya merasa cukup kaget, senang, agak degdegan, dan sangat bersemangat. Sebab menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi adalah hal yang baru dalam hidup saya, kendati pengalaman mengajar bukanlah aktifitas yang baru bagi saya. Dulu ketika program KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa), saya pernah mengajar siswa-siswi di desa Tanjungjaya, Ciamis dan sekarang pun saya masih terlibat menjadi relawan pengajar di komunitas yang sebutkan tadi. Fixed! Achievement unlocked for me!

Sebelum hari-H mengajar, terlebih dahulu para relawan yang berjumlah sekitar 300 dikumpulkan di gedung Bank BJB, Depok untuk mendapatkan brief seputar program Kelas Inspirasi, metode mengajar yang efektif dan menyenangkan, berbagi pengalaman dari relawan yang sudah pernah mengajar, pembagian kelompok, pembagian sekolah tempat mengajar, dan yang paling penting adalah kami saling mentransfer energi positif.

Oya, saya menjadi bagian dari kelompok 12 yang terdiri dari para profesional dari berbagai profesi. Dengan kerendahan hati, izinkan saya memperkenalkan rekan-rekan relawan kelompok 12 yang penuh semangat dan selalu ceria! Perkenalkanlah (teteret!): Felix Nola (Equipment Management), Vini Charloth (Sps Lingkungan), Windrya Amartiwi (Finance Analyst), Saulina Laura Margaretha (Head of Operation Perusahaan Pelayaran), Nanang Hernanto (Trainer), Ratih Dwi Rahmadanti (Data Analyst), Yustiani Wardhani S (Business Analyst), Amantine Al Febyana (Nurse), Endang Pulungsari (Biro Perencanaan Kemenlu), Frick (Photographer), Rizka Kharisma Putri (Photographer), dan saya sendiri Mahfud Achyar (Marketing Communication). Komposisi relawan pengajar 10 dan relawan fotografer 2 (Frick dan Rizka a.k.a Kare). Di samping itu, kami juga didampingi oleh seorang fasilitator dari KI. Please welcome, Mega!

Sekilas tentang SDN Depok 5

Akses menuju SDN Depok 5 tidaklah susah. Sebab, SD ini berlokasi di jalan yang cukup strategis di kota Depok yaitu Jalan Pemuda No. 31 Pancoran Mas. Jika dari Stasiun Depok Baru barangkali hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit (menggunakan kendaraan).

Kondisi bangunan sekolah pun cukup baik. Terdiri dari dua lantai: lantai pertama untuk kelas 1 hingga kelas 4a (termasuk ruang majelis guru) dan lantai dua untuk kelas 4b hingga kelas 6. Para siswa masuk pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 12.00 siang. Jumlah siswa di SD ini berjumlah 271 siswa dengan rincian: kelas 1 (45 siswa), kelas 2 (45 siswa), kelas 3 (42 siswa), kelas 4a (27 siswa), kelas 4b (27 siswa), kelas 5 (45 siswa), dan kelas 6 (40 siswa).

Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5
Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5

Lesson and Learn

Satu pekan waktu yang kami punya untuk mempersiapkan lesson plan. Kendati kami memiliki kesibukan masing-masing dan terpisah dalam radius jarak yang cukup jauh, namun koordinasi kelompok tetap berjalan dengan baik. Teknologi memudahkan kami berkomunikasi satu sama lainn. Secara suka rela, ada di antar kami yang menyempatkan diri untuk survey lokasi mengajar, ada yang mempersiapkan logistik penunjang kegiatan mengajar, ada yang memberi semangat dan keceriaan, dan ada juga yang hanya bisa menjadi silent reader. Dan saya sepertinya masuk pada kategori terakhir. Hehe.

Dalam membuat lesson plan, setidaknya ada 6 pertanyaan kunci yang perlu disampaikan pada saat Proses Belajar Mengajar (PBM) yaitu: 1. Siapakah aku?; 2. Apa profesiku?; 3. Apa yang dilakukan profesiku setiap hari saat bekerja?; 4. Dimana aku bekerja?; 5. Apa peran dan manfaat dari profesiku di masyarakat?; dan 6. Bagaimana cara menjadi aku?

Tantangan terberat bagi saya adalah menyederhanakan bahasa agar mudah dimengerti dan dipahami siswa-siswi SD. Apalagi materi yang saya ajarkan adalah sesuatu yang kurang familiar didengar telinga anak-anak. Yap, materi tentang Materi Communication! Lebih dari itu, istilah-istilah dalam Marketing Communication banyak menggunakan bahasa Inggris seperti promotion, market, target audience, advertising, dan masih banyak lagi. Susah? Iya susah sekali! Namun beruntung karena memiliki pengalaman mengajar, jadi sedikit banyaknya saya sudah mengerti bagaimana menyampaikan pesan secara efektif kepada para peserta didik.

Lesson Plan, done!

Senin, 20 Oktober 2014 adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya. Saya diberikan kesempatan untuk berbagi dan berbuat baik. Just being a good person. Saya teringat pepatah lama, “Budi baik terkenang jua.” Hal senada juga pernah diungkapkan oleh Andrea Hirata dalam salah satu bukunya, “Memberilah sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.” Saya percaya, hidup itu laiknya suara gema. Suara yang kita dengar adalah suara yang kita teriakkan. Secara sederhana, kita akan menuai apa yang sudah kita tanam. Dalam kerendahan hati, saya berharap apa yang kami lakukan semoga menjadi catatan amal kebaikan untuk kami. Semoga.

Tepat pukul 07.00 pagi, pintu pagar sekolah ditutup! Bagi yang telat, silakan tunggu di luar hingga upacara bendera selesai. Sigh! Saya telat 5 menit dan upacara bendera sudah berlangsung. Padahal saya berangkat dari rumah pukul 05.00 pagi. Naik taksi ke Stasiun Cikini. Berharap kereta ke Bogor segera tiba. Hampir 1 jam lebih saya menunggu di stasiun. Namun Si Ular Besi Berlistrik takkunjung menyapa. Padahal mentari Senin pagi sudah menyapa. Memancarkan cahaya berwarna jingga dan menghangatkan tubuh anak-anak manusia. Telat bagi seorang guru adalah hal yang mengkhawatirkan. Sebab ia menjadi contoh keteladanan bagi para generasi bangsa. Dan keteladanan itu dimulai ketika Sang Guru dapat menghargai waktu dengan baik. Yep, menjadi guru tidaklah mudah.

Waktu untuk mengajar dijatah. Masing-masing pengajar diberi waktu sekitar 45 menit. Kami harus pintar mengelola waktu yang sempit tersebut. Saya kebagian mengajar kelas 2, kelas 4b, dan kelas 5. Sementara itu, relawan fotografer yaitu Frick dan Kare pun harus mengatur strategi untuk tidak kehilangan momen pada saat proses belajar mengajar. Mari kita mengajar dan belajar!

Kelas 2, Kelas 4b, dan Kelas 5

“Selamat pagi anak-anak! Hari ini Bu Feby dan Pa Achyar akan mengajar kalian. Siap?”

“Siap!”

Saya dan Feby (Perawat) mendapatkan giliran mengajar siswa-siswi kelas 2. Sesi pertama diambil alih oleh Feby. Sementara saya mengajar di sesi kedua. Tampak terlihat para siswa duduk rapi di bangku masing-masing. Formasi tempat duduk di kelas 2 dibentuk perkelompok. Ada 5 kelompok. Satu kelompok diisi sekitar 5-6 orang.

Menit-menit awal berjalan dengan baik. Namun pada menit kemudian mulai terdengar ada yang berteriak (entahlah karena semangat atau merasa bebas), ada juga yang berjalan kian ke mari, ada yang hanya diam (rata-rata siswi), ada yang menimpali temannya ketika bicara, dan beberapa menit kemudian apa yang terjadi? Suasana kelas mulai tidak terkendali.

Feby pun berusaha menenangkan para siswa. Kemudian ia melanjutkan mengajar seputar profesi perawat. Beberapa menit mengajar, ada seorang siswi yang menangis karena diledekin temannya. Lalu ada yang tiba-tiba ngamuk dengan melempar tas temannya. “Pak, penghapus saya diambil!” Ia menghampiri temannya untuk menantang duel. Saya pun bergegas memisahkan mereka, memberikan pengertian bahwa sesama sahabat tidak boleh berkelahi. Bocah laki-laki itu sedikit tenang, namun tiba-tiba ia menangis. Membuang buku-buku di atas meja. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Saya mendekatinya dan mengusap-usap bahunya.

“Jangan nangis ya, kita bantuin nyari penghapusnya bersama-sama.”

Salah seorang temannya yang bernama Salomon menghampirinya dan berkata, “Aku bantuin nyari ya.” Ia pun mengangguk pertanda setuju. Perlahan tangis bocak yang mengenakan seragam putih itu berhenti. Ia berusaha menarik napas dalam. Tampaknya ia berusaha mengendalikan emosi agar tidak meluapkan amarahnya kepada teman-teman di sekitarnya.

Saya dan Feby berbagi peran. Feby pun sepertinya punya PR yang sama yaitu membuat nyaman suasana kelas sehingga para siswa dapat menyerap dengan baik pelajaran. Feby meminta anak-anak yang “vokal” di kelas untuk menjadi ketua-ketua kelompok. Mereka tampak senang dan begitu antusias. Ya, walaupun suasana kelas tidak begitu kondusif, namun para siswa masih bisa diajak kerja sama untuk belajar.

Feby selesai, sekarang giliran saya mengajar. Saya meminta semua siswa duduk lesehan di depan. Secara spontan saya mengubah metode mengajar dengan bercerita. Saya memanfaatkan media berupa mading untuk menjelaskan materi ajar kepada mereka. Beberapa di antara mereka masih saja terlihat rusuh, tapi banyak juga di antara mereka yang mau mendengarkan. Wow! Mengajar di kelas 2 sungguh menantang, gumam saya dalam hati.

Di akhir sesi, kami meminta mereka menuliskan cita-cita mereka di atas kertas label. Selanjutnya mereka satu persatu menempelkan kertas tersebut pada sebuah pohon berwarna hitam berbahan infraboard yang kami beri nama Pohon Cita-Cita. Mereka terlihat senang. Kelas pun usai. Kami pun pamitan dan meninggalkan kelas. Betulkan, menjadi guru tidaklah mudah!

Selanjutnya saya mengajar di kelas 5. Kondisi kelas sangat bertolakbelakang dibandingkan kelas 2. Cukup kondusif. Barangkali karena sudah kelas 5, para siswa lebih mudah diajak bicara agak serius. Saya pun menyampaikan materi tentang Marketing Communication lebih lancar. Mereka pun mudah memahami materi yang saya sampaikan. Beberapa siswa saya minta untuk kembali menjelaskan apa yang sudah saya sampaikan, dan mereka dapat menjelaskannya dengan baik.

Menjelang waktu pulang sekolah, saya mengajar di kelas 4b. Tidak jauh berbeda dibandingkan kelas 5, suasana kelas juga sangat kondusif. Apalagi jumlah siswa relatif lebih sedikit dibandingkan kelas 2 dan kelas 5. Di kelas 4b, saya lebih banyak menyampaikan pesan-pesan semangat agar mereka tidak takut untuk bermimpi. Agar mereka selalu optimis. Semoga transfer energi yang saya sampaikan dapat mereka terima baik.

Kelas Inspirasi ditutup dengan seremoni pelepasan balon gas di lapangan. Balon berwarna-warni ditempeli cita-cita para siswa. Mereka taksabar ingin melihat balon-balon tersebut terbang mengangkasa ke langit luas. Saya pun merekam momen spesial tersebut. Tiba-tiba seorang siswa kelas 5 menghampir saya.

“Kak, kok kakak pulang?”

“Iya soalnya sudah selesai.”

Sepertinya ia masih ingin kami di sini. Berbagi keceriaan dan bermain bersama. Namun apa daya waktu yang kami punya hanya satu hari. Namun kami berharap kami terus bisa mengajar dan belajar bersama mereka.

Apa hikmah yang saya dapatkan setelah mengajar? Saya tersadarkan bahwa PR dunia pendidikan di Indonesia sangatlah banyak. Mulai dari sistem pendidikan, pengembangan guru, hingga persoalan yang barangkali tidak terlalu menjadi concern pemerintah yaitu BULLYING. Dari yang saya amati, banyak para siswa yang senang sekali membully. Seringkali saya mendengar kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang siswa sekolah dasar. Persoalan bullying harus menjadi fokus pemerintah. Sebab banyak akibat dari bullying yang sudah memakan banyak korban, mematikan karakter, membunuh mimpi-mimpi, dan membuat siswa-siswi merasa terpenjara di sekolahnya sendiri.

Well, saya perlu angkat topi untuk pengabdian para guru di seluruh Indonesia. Mengajar bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak semua orang memiliki kesabaran yang berlapis-lapis seperti seorang guru. Saya berharap semoga dunia pendidikan Indonesia semakin membaik. Terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman kelompok 12 Kelas Inspirasi Depok 2. Semoga langkah kita menjadi panutan, ujar kita menjadi pengetahuan, dan pengalaman kita bisa menjadi inspirasi untuk para penentu Indonesia di masa depan.

Kelompok 12 #KelasInspirasi
Kelompok 12 #KelasInspirasi

“When someone loves you, the way they talk about you is different. You feel safe and comfortable.”
– Jess C. Scott

[i] Mahfud Achyar adalah seorang praktisi Marketing Communication di salah satu NGO di Jakarta dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta, program studi Corporate Communication.