Para Penghuni Ibukota

Processed with VSCO with b5 preset
Transjakarta Blok M – Jakarta Kota (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Suara azan subuh berkumandang. Merambat melalui gelombang bunyi yang berasal dari microphone masjid, menuju menara-menara yang menjulang tinggi pada sisi kiri dan kanan masjid, hingga pada akhirnya menggetarkan gendang telinga anak manusia.

Di sebuah rumah yang takjauh dari masjid, seorang pemuda terbangun dari mimpi-mimpi yang sedari tadi menjadi serpihan mozaik dalam tidurnya. Banyak sekali potongan peristiwa yang lalu-lalang melintas dalam alam bawah sadarnya. Teramat sulit baginya untuk kembali menuliskan narasi mimpi yang dialaminya dengan lebih runut dan sistematis. Mimpi takubahnya seperti cuplikan film-film yang takjelas alurnya. Tiba-tiba semuanya hilang, pergi entah kemana. Seketika ia lupa dengan semua semua peristiwa yang terjadi dalam mimpinya. Takada satu pun yang tersisa.

Pemuda tersebut terbangun dalam keadaan setengah sadar. Dengan kesal ia mematikan alarm yang berdering kencang, kemudian dengan langkah gontai ia pergi kamar mandi. Tepat pukul 08.00 pagi ia harus tiba di kantor. Begitu peraturan pekerjaan di kantornya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Sementara di tempat lain, seorang ibu paruh baya sudah bangun sejak pukul tiga pagi. Ia bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan berwudu untuk salat malam, sholat tahajjud.

Menjelang subuh, ibu tersebut membaca Al-Quran dan membangunkan anggota keluarganya; suami dan anak-anaknya untuk bersiap menjalankan ibadah salat subuh di masjid yang takjauh dari rumahnya.

Processed with VSCO with b5 preset
Jakartans at Halte Harmoni

Kini, sinar mentari menelan fajar. Langit yang tadi kelam menjadi sedikit lebih cerah. Perlahan mentari naik menyinari bumi, burung-burung berkicau dengan merdunya menyambut indahnya pagi, dan kekanak rewel ketika disuruh berangkat ke sekolah. Namun sang ibu memiliki banyak cara untuk membujuk anak-anaknya. 1001 cara membujuk anak. Ilmu itu tidak ia dapat di bangku sekolah.

Di tempat yang lain, seorang perempuan yang duduk di halte bus terlihat kasak-kusuk. Betapa tidak, sudah hampir dua jam lamanya ia menunggu bus. Namun bus yang ia tunggu-tunggu takkunjung tiba. Ia pun semakin gelisah dan panik. Pasalnya, ia harus lekas tiba di sebuah perusahaan ternama karena ia dipanggil untuk wawancara kerja. 15 menit waktu yang ia punya. Jika tidak, ia akan kehilangan kesempatan untuk wawancara kerja. Ia semakin kesal, semakin gelisah, dan semakin mengutuk diri mengapa ia bernasib sial hari itu.

Masih di halte yang sama, seorang ibu pedagang kelontong yang menjajakan dagangannya seperti air mineral, permen, mie instan, dan roti. Ibu tersebut sangat berharap ada satu dari pulahan orang di halte yang berkenan membeli dagangannya. Pikiran ibu itu menjadi kalut. Ia khawatir jika barang dagangannya tidak ada yang membeli, maka anak-anaknya akan kelaparan.

Siang hari, hujan lebat mengguyur kota Jakarta. Para pengguna motor menepi ke jalan. Mereka mencari tempat berteduh di bawah jembatan penyebarangan, mampir di kios-kios, dan ada juga yang berteduh di terowongan jalan layang. Beberapa dari mereka terlihat kesal lantaran hujan yang turun tiba-tiba. “Ah, andai hujan tidak turun pasti saya bisa pulang ke rumah tepat waktu. Hujan sangat menghambat saya.”

Sementara itu, di tempat yang berbeda, puluhan orang keluar dari gedung berlantai tiga. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing setelah lebih dari delapan bekerja, bertemu klien, serta mengurusi pekerjaan yang seolah takada habis-habisnya. Mereka terlihat sangat kelelahan. Ingin rasanya cepat-cepat tiba di rumah untuk mandi, makan, dan kemudian istirahat sebab esok pagi ia harus kembali bekerja.

Malam hari, saat semua orang terlelap tidur; saat mereka berpindah dari satu dimensi ke dimensi lain, seorang perempuan paruh baya bangun dari tidurnya. Padahal ia baru tertidur selama empat jam. Selama satu hari penuh ia berperan dengan sangat baik sebagai seorang ibu rumah tangga: menyiapkan makanan untuk keluarga, membersihkan rumah, dan membantu cucunya mengerjakan tugas sekolah. Namun perempuan paruh baya itu merasa waktu yang ia punya tidaklah banyak. Ia harus cerdas memanfaatkan dengan sebaik mungkin. Beberapa menit kemudian, perempuan baya itu mengenakan mukena warna putih. Ia pun larut dalam munajat cinta kepada Pencipta-Nya.

Satu hari terdiri dari 24 jam. Ada banyak orang menganggap waktu 24 jam dalam 1 hari sangatlah sempit karena begitu banyak pekerjaan dan aktivitas yang harus dilakukan. Sementara tidak sedikit juga yang mengganggap waktu 24 jam dalam sehari sangatlah lama. Mereka ingin waktu bergulir sangat cepat, bahkan lebih cepat. Mereka bingung untuk apa mereka hidup dan apa saja hal yang harus dilakukan untuk mengisi hidup. Mereka seolah gamang dengan hidup yang saat ini mereka jalani. Seperti seorang penunggang onta di lautan padang pasir yang tidak tahu kemana arah harus dituju. Kosong dan mereka tidak menyadari begitu banyak kekosongan-kekosongan yang memenuhi relung jiwa mereka.

Mungkin, saya salah satu dari seribu orang yang penat dengan hidup yang telah saya jalani. Saya kemudian bertanya tentang banyak hal yang sudah saya lalui. Kadang saya merasa jenuh, bosan, muak, dan semuanya seakan begitu melelahkan. Pernah, saya berada pada titik yang paling menjemukan sehingga saya bingung harus berbuat apa lagi. Tetap bertahan dengan angan-angan kosong takberkesudahan atau tetap menantang hari demi hari?

Mungkin, ada baiknya saya harus menarik diri dari keramaian manusia. Sejenak, saya perlu kembali ke gua, tempat yang membuat saya merasa nyaman dan merasa tentram. Saya perlu kembali merenungi atas berbagai hal yang pernah terjadi dalam hidup saya.

Rasanya, saya butuh waktu sejenak berpikir secara mendalam. Saya butuh merenung dan memetik hikmah dari jutaan memori yang pernah direkam otak saya. Ada banyak potongan peristiwa yang terjadi dalam hidup saya: kegagalan, keketiran, kepahitan, dan kebahagian. Semua hal itu rasanya perlu untuk diresapi hingga akhirnya saya siap lahir menjadi manusia yang baru. Reborn.

                                                Jakarta, 17 Mei 2013

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU

Sepotong Malam di Jakarta

Sayang, malam ini sendiri kulihat wajah Jakarta dihiasi lelampu kota yang menyimpan kemegahan asa. Sesekali redup, tapi cahaya kerlap-kerlip mendominasi, sayang. Aku ingin berkata, itu bukan penerangan sayang. Bagiku, agak ilusi yang dibungkus hawa imajinasi.

Sayang, Jakarta ini sudah kelam. Kulihat wajah ibu kota dipoles kemahsyuran tapi penuh keanggkuhan. Di sana-sini, wajah-wajah lelah menyandarkan kepala tanpa sadar, sayang.
Aku ingin menceritakan itu sedikit saja. Di antara embun malam yang melepaskan kepergian malam. Di antara musik sendu pengantar istirahat malam. Di antara deru mesin bis malam yang dipaksa berteriak. Di antara mimpi dan harapan kita, sayang.

Jakartamu sudah tua.
Tapi aku tidak peduli sayang. Biarkan kutemani kau sejenak melepas rindumu pada kampung halaman. Sayang, aku ingin katakan padamu. Di kota ini, aku tulis sedikit ceritaku malam ini padamu.

Biarkan malam ini abadi. 
Atas cinta dan kebaikan nurani.

Jakarta, 4 Agustus 2010