Setelah Tiada, Seperti Apa Orang-Orang Mengenang Kita?


My shadow. Photo by. Mahfud Achyar.

Ponsel pintar dalam saku celana saya bergetar. Ternyata ada pesan masuk di grup WhatsApp. Seorang teman mengirim tautan berita daring dengan judul “BJ Habibie Meninggal Dunia”. Sontak saya kaget lalu membaca tautan berita tersebut. “Presiden RI ke-3, BJ Habibie, tutup usia. Habibie meninggal di RSPAD Gatot Soebroto dalam usia 83 tahun.” Begitu kalimat pembuka berita duka meninggalnya Presiden RI ke-3 yang akrab dipanggil Eyang Habibie.

Kepergian Eyang Habibie untuk selama-lamanya ke alam keabadian menyisakan duka yang teramat dalam bagi rakyat Indonesia, khususnya bagi orang-orang yang pernah berinteraksi secara langsung dengan beliau semasa hidupnya. Lini media sosial dibanjiri ucapan kalimat duka cita. Banyak juga yang mengunggah foto bersama Eyang Habibie lengkap dengan cerita kenangan mereka mengenal sosok Eyang Habibie; entah itu hanya sekali bertemu, beberapa kali, atau sering bertemu.

Semua orang mengenang sosok Eyang Habibie dengan kenangan yang baik. Ia tidak hanya dikenang sebagai salah satu presiden Indonesia yang progresif, namun juga dikenang sebagai orang yang telah menginspirasi banyak orang, khususnya anak-anak yang lahir era tahun 80-an hingga 90-an. Saya, mungkin satu dari sekian banyak anak-anak Indonesia pada masa itu yang bercita-cita menjadi seorang Habibie. Mungkin tidak ingin menjadi seorang insinyur seperti Habibie yang berhasil membuat pesawat sendiri melainkan menjadi orang pintar layaknya Habibie.

Ketika kecil, mama saya selalu berpesan, “Kamu harus rajin belajar agar nanti pintar seperti Habibie.” Bisa dikatakan, Habibie menjadi teladan anak-anak Indonesia untuk bersemangat meraih mimpi, untuk bersemangat membuat bangsa Indonesia dipandang terhormat di mata dunia.

Untuk mengenang jasa-jasa Eyang Habibie untuk Indonesia, pemerintah menginstruksikan untuk mengibarkan bendera setengah tiang selama tiga hari, mulai tanggal 12 September hingga 14 September 2019. “Selamat jalan, Eyang Habibie. Terima kasih sudah berkontribusi besar untuk bangsa ini. Terima kasih sudah menjadi teladan bagi banyak orang,” tulis saya di beranda Facebook.

Jauh sebelum kepergian Eyang Habibie, ketika kecil, ada dua kabar duka yang paling saya ingat, yaitu meninggalnya Ibu Tien Soeharto pada 28 April 1996 dan meninggalnya Lady Diana 31 Agustus 1997. Kepergian dua tokoh tersebut ramai disiarkan di televisi. Orang-orang berduka. Berbagai cara dilakukan untuk menunjukkan rasa simpati kepada ke dua tokoh tersebut, salah satunya mengirim karangan bunga.

Dari berita duka meninggalnya Eyang Habibie, Ibu Tien Soeharto, dan Lady Diana, lalu menyeruak satu pertanyaan yang hingga saat ini belum saya temukan jawabannya, “Setelah saya tiada, seperti apa orang-orang mengenang saya?”

Saya membayangkan jika hari itu tiba, mungkin saja orang-orang yang mengenal saya akan bersedih. Lalu, ada beberapa orang yang mengantarkan saya ke tempat perisitirahatan saya yang terakhir, ada juga mungkin yang mengunggah foto saya di media sosial, serta kemungkinan-kemungkinan lainnya. Namun beberapa hari kemudian, hidup kembali berjalan normal–ada atau tidak adanya saya. Keluarga saya kembali melanjutkan hidup, begitu juga dengan teman-teman saya. Sementara saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi di kehidupan saya berikutnya.

Kembali pada pertanyaan tadi, ketika kita sudah tiada, seperti apa orang-orang mengenang kita? Mungkin jawabannya akan beragam. Setiap orang yang pernah berinteraksi dengan kita memiliki sudut pandang yang berbeda-beda saat mengenang kita. Semua itu bergantung pengalaman mereka. Ada mungkin orang-orang yang pernah kita sentuh hatinya, ada mungkin orang-orang yang kita sakiti hatinya.

Saya kemudian bertanya pada salah seorang teman mengenai pertanyaan tadi. Ia menjawab singkat, “Pendiam.” Baginya, saya adalah orang yang pendiam dan mungkin hal itu benar adanya. Tidak ada ruang justifikasi untuk jawaban teman saya tersebut. Saya hanya mengucapkan terima kasih atas kejujurannya.

Terlepas dari jawaban yang mungkin berbeda-beda, sejujurnya ada satu kata sifat yang ingin sekali saya tinggalkan ketika saya sudah tidak ada lagi di dunia ini, yaitu big heart. Bahwa saya dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang saya miliki, saya berupaya memaafkan orang-orang yang pernah berbuat buruk terhadap saya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

Terkadang, saya masih ingat betul perlakuan buruk orang lain terhadap saya. Perih hati masih terasa sama. Namun, saya memilih memerdekakan hati saya. Biarlah yang sudah terjadi menjadi cerita kehidupan yang takharus disimpan, apalagi dikenang. Memaafkan sejatinya bukan untuk orang lain, namun justru untuk diri saya sendiri. Memaafkan berarti saya berdamai dengan masa lalu, kemudian memilih untuk menjalani hidup dengan hati yang lapang.

Selain itu, saya rasa saya termasuk jenis orang yang sering mengingat kebaikan walau jarang saya ungkapkan. Bahkan, saya berpikir harusnya saya mendapatkan balasan atas hal baik yang saya lakukan. Seperti ungkapan yang sering terdengar, “Take and give.” Namun belakangan saya menyadari bahwa saya keliru. Seharusnya jika memang saya berbuat baik, maka lakukanlah dengan sepenuh hati tanpa mengharapkan balasan. Jujur, bagi saya itu cukup berat. Namun, bukankah manusia akan diuji hal yang sama hingga ia berhasil melewati ujian tersebut?

Manusia tidak seharusnya menjadi tempat kita menyimpan pengharapan. Biarkan harapan kita satu-satunya kita percayakan kepada Sang Pencipta. Sebab, jika kita terlalu berharap pada manusia, maka siap-siap kita akan patah hati dan kecewa. Meski, patah hati dan kecewa juga tidak apa. Namun, bukankah hati terasa lebih merdeka saat kita takharus punya alasan untuk berbuat baik?

Entahlah, mungkin itu hanya sebatas cita-cita saat saya telah tiada. Hal sebaliknya sangat mungkin terjadi. Tapi setidaknya sekarang saya sudah cukup lega. Ada tujuan hidup yang menjadi pengingat saya dalam menjalani hari-hari yang masih tersisa. Persoalan seperti apa orang-orang mengenang saya ketika nanti saya tiada, sekarang menjadi tidak begitu penting lagi. Untuk apa saya memikirkan sesuatu yang sulit saya prediksi. Lebih baik, saya menjadi pribadi yang ingin saya cita-citakan untuk diri saya sendiri. Seorang pribadi yang memiliki hati yang lapang. Semoga.

Tentang kematian, rasanya kutipan dari Irving Berlin sangat mewakili suara hati saya, “The song is ended, but the melody lingers on.”

 

Jakarta,

12 November 2019.

2 thoughts on “Setelah Tiada, Seperti Apa Orang-Orang Mengenang Kita?

  1. Kamu memang pendiam.
    Tapi kamu berkarya dalam diammu. Kamu punya hati yang indah, punya keinginan yang besar untuk selalu berbagi dan berkontribusi untuk sekitarmu. Terimakasih untuk itu ya, Achyar. Terimakasih juga utk tulisan ini. Senang bisa mengenalmu:-)

    1. Ah, senang sekali Mba Vonny bisa singgah ke blog sederhana saya. Terima kasih ya, Mba. Aku beruntung bisa mengenal Mba Vonny. Banyak hal baik yang aku dapat dari Mba Vonny. Tetap menjadi diri Mba Vonny ya :’)
      Terus berkarya Mba Von, sehat selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s