Kabar dari Garis Terdepan Indonesia

PA300280
Warga desa Barada, kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Oleh: Mahfud Achyar

Jika Indonesia dianalogikan seperti rumah, maka Indonesia adalah rumah yang memiliki tanah yang luas dan bangunan yang  sangat besar. Untuk mengurus seperti itu, tentunya tidak mudah. Ketika kita asyik membersihkan halaman pekarangan, mungkin kita luput mengecek bahwa di dapur ternyata banyak debu yang sudah menempel di lantai dan juga kaca jendela. Untuk itu, perlu kesabaran dan ketekunan agar rumah (baca: Indonesia) menjadi hunian yang nyaman untuk ditempati.

Lantas, seberapa besar luas wilayah Indonesia? Berbagai sumber menyebutkan bahwa Indonesia merupakah salah satu negara terluas di dunia dengan total luas negara 5.193.250 km2 (mencakup daratan dan lautan). Kondisi demikian menempatkan Indonesia sebagai negara terluas ke-7 di dunia setelah Rusia, Kanada, Amerika Serikat, China, Brasil, dan Australia.

Sebagai negara kepulauan, Kementerian Kelauatan dan Perikanan (KKP) merilis data bahwa saat ini Indonesia memiliki 16.056 pulau yang sudah diberi nama dan terverifikasi. Selain itu, KKP juga akan menertibkan pulau-pulau di seluruh Indonesia, dimulai dari pengklasifikasian pulau-pulau kecil dan terdepan.

Sebelum tahun 2017, jumlah pulau kecil dan terdepan berjumlah 92 pulau. Namun terjadi perubahan karena pada tahun 2017 bertambah sebanyak 19 pulau lagi. Dengan demikian, total pulau kecil dan terdepan menjadi 111 pulau. (Sumber: http://www.mongabay.co.id).

Presiden Joko Widodo pada berbagai kesempatan berkali-kali mengatakan bahwa paradigma pembangunan Indonesia saat ini yaitu pembangunan dari daerah pinggir atau perbatasan. Langkah tersebut diambil oleh presiden lantaran daerah pinggiran maupun daerah perbatasan merupakan pintu gerbang Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Dapat dikatakan, daerah perbatasan merupakan simpul-simpul pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Indonesia memiliki garis perbatasan yang cukup panjang mencapai 99.000 kilometer. Saat ini, pemerintah telah membangun tujuh Pos Lintas Batas Negara (PBLN) di beberapa wilayah, yakni Aruk, Entikong, dan Nanga Badau di Kalimantan Barat; Motaain, Motamasin, dan Wini di Nusa Tenggara Timur; serta Skouw di Papua.

PB010213
PBLN Motamasin Indonesia – Timor Leste

Paradigma “Membangun Indonesia dari Perbatasan” merupakan salah satu janji Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang tertuang dalam Nawa Cita ketiga, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.”

Untuk menyukseskan Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, perlu sinergi dan kolaborasi dari berbagai sektor, mulai dari pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Salah satu program yang melibatkan lintas kementerian/lembaga yaitu program Kampung Sejahtera. Program ini diinisiasi oleh OASE Kabinet Kerja, sebuah organisasi khusus gagasan Ibu Negara dan Ibu Wakil Presiden serta disepakati oleh para pendamping menteri Kabinet Kerja untuk turut mendukung dan berperan dalam menyukseskan program Kabinet Kerja.

Sebagai pilot project, program Kampung Sejahtera dijalankan di desa Kohod, kecamatan Pakuhaji, kabupaten Tangerang, Banten. Lokasi desa Kohod tidak begitu jauh dari pusat pemerintahan di ibukota. Namun, sebelum mendapatkan intervensi dari program Kampung Sejahtera, kondisi desa Kohod cukup memprihatinkan.

Oleh sebab itu, sejak 2015 hingga 2017, lintas sektor bahu-membahu memperindah wajah desa Kohod menjadi lebih elok. Hasilnya, pada 2 Juli 2017 lalu, program Kampung Sejahtera di desa Kohod dinilai telah berhasil.

Kini, desa Kohod sudah berbenah. Banyak pembangunan infrastruktur dilakukan di sana. Tidak hanya program bersifat fisik, program non-fisik pun juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia warga desa Kohod.

Kendati dinilai sudah berhasil, tidak lantas menghentikan program-program di desa Kohod. Untuk selanjutnya, pemerintah kabupaten Tangerang diamanatkan untuk dapat menduplikasi program yang sama di desa-desa lainnya yang ada di kabupaten Tangerang, Banten.

Sementara itu, pemerintah pusat bersama OASE Kabinet Kerja mencari wilayah program lainnya, khususnya di luar pulau Jawa. Pemerintah berharap manfaat program Kampung Sejahtera tidak hanya dirasakan oleh warga desa Kohod, melainkan juga warga desa-desa lainnya. Pemerintah berupaya menghadirkan kembali negara di tengah-tengah masyarakat dengan tujuan menunaikan janji kemerdekaan Indonesia.

Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara dan kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur diusulkan sebagai lokasi program Kampung Sejahtera berikutnya. Alasan utama dipilihnya dua kabupaten tersebut lantaran berbatasan langsung dengan negara tetangga. Kabupaten Nunukan berbatasan langsung dengan Malaysia, sementara kabupaten Malaka berbatasan langsung dengan Timor Leste.


PA310892.JPG
Wajah-Wajah Malaka (Foto Oleh: Mahfud Achyar)

Pada 30 Oktober hingga 1 November kemarin, kementerian/lembaga melakukan survei lapangan ke kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Lokasi desa yang disurvei yaitu desa Barada dan desa Alas Selatan.

Kedua desa tersebut dipilih berdasarkan usulan Pemkab Malaka. Alasannya, selain berbatasan langsung dengan negara Timor Leste, kedua desa tersebut dikategorikan sebagai desa prasejahtera. Untuk itu, melalui program Kampung Sejahtera, diharapkan dapat mengubah profil dua desa tersebut menjadi lebih sejahtera.

Sebagai informasi, desa Barada merupakan pemekaran dari desa Kateri pada tahun 2009. Saat ini, desa Barada terdiri dari 7 dusun dengan luas wilayah 17.25 km2. Desa Barada terbagi dalam dua bagian, yaitu kampung atas dan kampung bawah. Kampung atas mencakup 4 dusun dan kampung bawah mencakup 3 dusun. Nama-nama dusun di desa Barada yaitu dusun Ferik Katuas, dusun  Lolobot, dusun Kali’a, dusun Kmileon, dusun Basdebu, dusun Wetaen, dan dusun Hae Truin.

Kondisi desa Barada cukup memprihatinkan. Sarana dan prasarana di sana masih sangat minim, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, peribadatan, transportasi, energi, permukiman, dan air minum. Salah satu persoalan utama di desa Barada yaitu sulitnya mendapatkan air bersih.

Untuk mendapatkan air bersih, warga di desa Barada mengambil air menggunakan dirigen di embung yang sudah disediakan pemerintah setempat. Namun, kapasitas air di sana sangat terbatas. Mereka harus mengantri dan menunggu lama agar dirigen-dirigen mereka terisi penuh.

Bila musim kemarau panjang tiba, persediaan air di sana kian menipis. Warga desa Barada harus berjalan berkilo-kilo ke sumber mata air Lama untuk mendapatkan air bersih. Untuk tiga dusun di desa Barada, sumber mata air Lama hanya menampung kapasitas air sebesar 1,5 m3. Warga desa Barada harus berhemat-hemat menggunakan air.

Hilarius Nahak Bria (49 tahun), seorang warga desa Barada bercerita, “Saya hanya bisa mandi 1 kali dalam seminggu. Air di sini sangat susah. Daripada untuk mandi, lebih baik untuk minum dan memasak.”

Sementara itu, desa Alas Selatan merupakan salah satu desa di kecamatan Kobalima, kabupaten Malaka yang langsung berbatasan dengan Timor Leste. Saat ini, desa Alas Selatan terdiri dari 12 dusun dengan luas wilaya 80.60 km2, di mana 50 km2 merupakan kawasan hutan.

Desa Alas Selatan terbagi dalam 2 bagian, yakni kampung atas dan kampung bawah. Kampung atas meliputi 7 dusun dengan letak dusun linear sepanjang jalan negara yang menghubungkan Betun sebagai ibukota kabupaten Malaka dan PLBN Motamasin dan kampung bawah mencakup 5 dusun.

Adapun nama dusun-dusun tersebut yaitu dusun Haliren, dusun Raisikun I, dusun Manehat, dusun Raisikun II, dusun Lalebun, dusun Mahkota Biru, dusun Taledu, dusun Tularaud, dusun Metamauk, dusun Motamasin, dusun Weluli, dan dusun Metamauk Oan.

Jika dibandingkan desa Barada, desa Alas Selatan jauh lebih beruntung dibandingkan untuk sektor sarana dan prasarana. Namun, kedua desa tersebut memiliki permasalahan yang hampir sama: persoalan kemiskinan. Jumlah keluarga miskin di desa Alas Selatan hingga akhir 2016 sebanyak 213 KK. Kebutuhan masyarakat desa Alas Selatan yang perlu menjadi prioritas dalam waktu dekat yaitu penyediaan air bersih dan fasilitas MCK.

Setelah melakukan survei lapangan, tim dari Pusat melakukan rapat koordinasi dengan Pemkab Malaka dan OPD terkait guna menindaklanjuti hasil survei lapangan. Selanjutnya, kesepakatan-kesepakatan hasil rapat koordinasi akan ditindaklanjuti dengan pertemuan dengan kementerian/lembaga bersama OASE Kabinet Kerja di Jakarta.

Photo Story: Membangun Mimpi Anak Indonesia

Oleh: Mahfud Achyar

Ada yang berbeda dengan pagi ini. Tidak seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini saya berada di Bandung. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak cerita yang indah untuk dikenang.

Sebelum subuh, saya sudah bangun untuk mandi. Padahal saya baru tidur sekitar pukul 2 dini hari. Namun apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain untuk menyegerakan diri bersiap-siap menyambut hari yang penuh arti.

Rabu, (22/2/2017), saya dan 20 relawan Kelas Inspirasi Bandung 5 mengunjungi siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki Bandung. Bagi saya pribadi, ini kali pertama saya menjadi relawan Kelas Inspirasi Bandung. Sebelumnya, saya hanya ambil bagian menjadi relawan Kelas Inspirasi Jakarta dan Kelas Inspirasi Depok. Saya sungguh bersemangat sebab akan bertemu dengan orang-orang baik yang tergabung dalam Kelompok 9 serta tentunya akan bertemu dengan adik-adik yang menyenangkan.

P2221202
Gambar 1. Dua orang siswa SD Komara Budi dan Pasir Kaliki tengah bersantai pada pagi hari menjelang seremoni pembukaan Kelas Inspirasi Bandung 5.

 

P2221242
Gambar 2. Suasana salah satu kelas di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Terlihat prakarya siswa-siswi dipajang menjadi hiasan di atas lemari buku.

21 relawan yang bertugas di SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki terdiri dari 13 relawan pengajar, 5 relawan fotografer, 2 relawan videografer, serta 1 relawan fasilitator. Hal yang menarik sebagian besar relawan berasal dari luar Bandung seperti Semarang, Jakarta, Tangerang, dan Tegal.

Ragam profesi juga membuat kelompok 9 menjadi sangat berwarna. Ada yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan, ada yang menjadi psikolog anak, ada yang menjadi rescuer, dan sebagainya. Satu tujuan kami datang ke Bandung khususnya ke SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki yaitu membangun mimpi anak Indonesia!

P2220901
Gambar 3. Seorang siswi berlari melewati lukisan bendera dari delapan negara di salah satu tembok sekolah.

Bagaimana cara membangun mimpi anak Indonesia?

Rasanya pertanyaan itu sangat sulit dijawab oleh kami yang memang bukan praktisi pendidikan. Kami adalah kumpulan para profesional yang mungkin menguasai bidang kami, namun belum tentu dapat mengajar dengan baik. Sebagian dari kami belum memiliki pengalaman mengajar sama sekali. Namun ada juga yang sudah beberapa kali mengikuti program Kelas Inspirasi.

Kendatipun pernah mengajar, kami tetap saja merasa gugup. Maka karena itu, kamipun harus mempersiapkan diri dengan baik. Jauh-jauh hari, kami sudah mempersiapkan materi ajar untuk memberikan yang terbaik yang kami punya untuk siswa-siswi di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki.

Lantas apa yang kami ajarkan kepada mereka? Apakah matapelajaran matematika yang kerapkali dianggap momok menakutkan oleh banyak siswa-siswi? Tidak! Tidak sama sekali! Kami mengajar tentang diri kami, profesi kami, dan proses kami hingga menjadi seperti sekarang. Untuk apa? Apakah untuk pamer atau ‘gaya-gayaan’? Tidak. Sungguh tidak sama sekali. Kami menyadari dengan sepenuhnya bahwa kami bukanlah yang terbaik. Kami barangkali tidak layak menjadi contoh atau role model.

Walau kami tidak sempurna, kami memiliki hasrat yang besar untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya yang bisa kami lakukan yaitu berbagi dengan mereka. Kami datang untuk berbagi mimpi. Sesederhana itu.

P2221074
Gambar 4. Herawati merupakan seorang direktur di sebuah perusahaan di Bandung. Di kelas, ia berpesan kepada siswa-siswi, “Kita bisa menjadi apapun yang kita mau.”

 

Kami yakin, niat yang baik tentu akan mendapat impresi yang baik pula. Begitulah yang kami rasakan ketika setengah hari berada di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Kami merasa senang disambut dengan sangat baik oleh kepala sekolah dan jajaran guru. Lebih penting dari itu semua, kami menyaksikan betapa siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki memiliki semangat belajar yang sangat baik. Mereka antusias bertanya, mereka bersemangat untuk menjadi orang hebat di masa depan. Tidak ada hal yang membahagiakan bagi kami selain melihat pelita harapan masih nyala di hati mereka.

P2221120
Gambar 5. Berlari menggapai cita-cita.

Teruslah berjuang menggapai cita-cita, wahai generasi harapan bangsa. Doa kami akan terus ada untuk kalian.

Terakhir, kami mengutip pesan Bung Hatta, “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

 

AQUA Grup Luncurkan Program Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP)

Laporan oleh: Mahfud Achyar

Processed with VSCO with a6 preset
Malam presentasi karya 10 peserta workshop storytelling AQUA x Suara Tirtha Emerging Photographers pada Senin, (30/1/2017) di AQUA Danone Menara 2 Cyber, Jakarta. 

JAKARTA – AQUA Grup meluncurkan program Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP) sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap kemajuan fotografer muda di Indonesia yang karyanya diharapkan dapat menginspirasi publik untuk lebih peduli pada lingkungan. Bentuk dari program yang dimulai sejak 26-30 Januari ini adalah workshop storytelling dengan tema “CARE” yang diselenggarakan di Bogor, Jawa Barat.

Proses seleksi peserta dilakukan dengan mengumumkan kegiatan ini secara resmi melalui website dan media sosial guna menjaring para fotografer muda dari seluruh Indonesia. Dari hasil seleksi, terpilih 10 fotografer yaitu, 1) Muhammad Ibnu Chazar – Karawang, Jawa Barat; 2) Esther Hasugian – Bogor, Jawa Barat; 3) Himawan Listya Nugraha – Banyumas, Jawa Tengah; 4) Bhima Pasanova – Jakarta, DKI Jakarta; 5) Danis Arbi Meigantara – Tangerang, Banten; 6) Risma Afifah – Jakarta, DKI Jakarta; 7) Eva Fauziah – Depok, Jawa Barat; 8) Muhammad Ihsan Mulya Pratama – Solo, Jawa Tengah; 9) Ajeng Dinar Ulfiana – Jakarta, DKI Jakarta; serta 10) Muhammad Ridwan – Padang, Sumatera Barat.

Ben KC Laksana, salah seorang juri tamu yang menyeleksi para pendaftar cukup terkesima dengan kualitas karya yang dikirimkan oleh para calon peserta. “Banyak dari karya mereka tidak hanya mempertunjukkan wawasan dan pengalaman estetika visual, namun juga komitmen terhadap proyek yang sangat personal dan dedikasi,” ungkap Ben.

Kesepuluh fotografer terpilih akan didampingi oleh dua mentor, yaitu Yoppy Pieter dan Muhammad Fadli dalam menafsirkan tema “CARE”. Selain itu, selama workshop, setiap peserta akan ditantang untuk menginterpretasikan sebuah tema ke dalam bentuk visual. Metode tersebut menuntut setiap peserta menjadi storyteller berbekal pemikiran kritis terhadap fenomena di sekitar mereka.

Salah satu hal yang menarik dari workshop ini, adalah lokasi penyelenggaraan acara di kawasan Ciherang yang merupakan salah satu penyangga konservasi Jakarta. Di daerah ini, AQUA Grup juga menjalankan operasionalnya dan mengembangkan berbagai program sosial dan lingkungan terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan melibatkan berbagai pihak.

Workshop ini mengajak para peserta mengunjungi kawasan konservasi yang diinsiasi AQUA Grup. Para peserta akan melihat secara langsung program-program sosial dan lingkungan AQUA Grup dalam menjaga kawasan konservasi Ciherang. Setelah melakukan kunjungan, peserta mendapatkan kuliah umum mengenai tema “CARE” yang menjadi spirit AQUA Grup.

Yoppy Pieter, mentor workshop storytelling STEP menjelaskan bahwa setiap peserta akan mengajukan ide story yang berkaitan dengan tema. “Story yang mereka ajukan bisa mengangkat beberapa program sosial dan lingkungan di sekitar kawasan Ciherang maupun hal-hal lain di luar kegiatan tersebut selama mereka mampu menerjemahkan konsep CARE dalam project mereka,” papar Yoppy.

Lebih lanjut, Yoppy menceritakan bahwa pada hari kedua hingga hari keempat, seluruh peserta harus sudah mengeksekusi project mereka. Pada hari terakhir, yaitu Senin, (30/1/2017) para peserta akan melakukan presentasi di hadapan para tamu undangan di kantor pusat AQUA Grup

Sebagai seorang mentor, Yoppy akan membagi pengetahuannya mengenai visual storytelling kepada para peserta workshop. Selain itu, para peserta workshop juga dituntun menjadi fotografer yang memiliki critical thinking. “Jadi program ini tidak hanya membahas fotografi dari segi teknis, namun sebuah program yang memperkenalkan tentang etika dan estetika dalam pembuatan sebuah proyek photostory. Hal ini yang akan ditekankan agar mereka nantinya sebagai visual storyteller akan lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka yang meliputi aspek sosial, budaya, maupun lingkungan,” terang Yoppy.

Sementara itu, Muhammad Fadli menambahkan bahwa output dari workshop storytelling STEP yaitu berupa photostory yang memperlihatkan narasi visual yang dirangkum dalam bentuk slideshow dan photobook yang menjadi medium komunikasi yang mudah dicerna oleh masyarakat luas.

Melalui kegiatan workshop storytelling STEP, Fadli berharap para fotografer muda mendapatkan pengetahuan mengenai storytelling serta memiliki semangat kompetisi melalui sistem submisi. “Sejak awal pendaftaran peserta sudah digiring memiliki pemikiran kritis terhadap tema CARE dan pandangan mereka terhadap fotografi hari ini. Lalu ke depannya kita berharap bahwa program pendidikan ini mampu meningkatkan rasa kepercayaan diri peserta dalam menyampaikan gagasan mereka,” imbuh Fadli.

Sementara itu, Ridzki Noviansyah yang juga juri tamu menambahkan bahwa para fotografer muda yang terpilih diharapkan dapat menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Tentang Workshop Storytelling STEP

Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP) yang diselenggarakan ini merupakan wujud untuk memajukan pendidikan dan perkembangan budaya visual di Indonesia. STEP tidak sebatas workshop storytelling yang membekali peserta dengan teori photostory, namun setiap peserta akan diberi tanggung jawab dalam mengelola dana hibah untuk mendanai proyek mereka selama program workshop berlangsung.

Tentang AQUA

AQUA merupakan pelopor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia yang didirikan pada tahun 1973. Sebagai perwujudan visi dan komitmen dalam mengelola operasional secara bertanggung jawab dalam sosial dan lingkungan, AQUA mengembangkan inisiatif AQUA Lestari yang terdiri dari empat pilar yaitu, Pelestarian Air dan Lingkungan, Praktik Perusahaan Ramah Lingkungan, Pengelolaan Distribusi Produk serta Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

AQUA adalah bagian dari kelompok usaha DANONE, salah satu produsen produk makanan dan minuman terbesar di dunia.   Di Indonesia sendiri, unit usaha DANONE meliputi tiga kategori utama, yaitu minuman (AMDK dan minuman ringan non karbonasi),  Nutrisi untuk Kehidupan Awal (Nutricia dan Sari Husada dengan produknya seperti SGM, Vita Plus, Lactamil, dan Vitalac), serta nutrisi medis. Laporan keberlanjutan AQUA dapat diakses melalui www.aqua.com.  Untuk masukan serta keluhan pelanggan, dapat disampaikan melalui AQUA Menyapa 08071588888 atau melalui Facebook Sehat AQUA dan www.aqua.com.

Informasi mengenai mengenai workshop ini dapat Anda baca pada: http://www.AQUA.com. Ikuti juga lini media sosial kami: Facebook Fan Page: AQUA LESTARI | Instagram: @aqualestari | Twitter: @aqua_lestari #CARE #AQUASTEP #AQUALESTARI

Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016: “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”

 

Processed with VSCO with a6 preset
Chiki Fawzi dan Band pada pembukaan pameran foto dan video Kelas Inspirasi Jakarta, Kamis, (10/11/2016) di Qubicle Center, Senopati 79, Jakarta Selatan. 

JAKARTA, INDONESIA – Tahun ini, Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta yang ke-2 kembali digelar dengan mengusung tema “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”. Jika pada tahun sebelumnya para pengunjung pameran hanya sebatas menikmati karya fotografi dari relawan Kelas Inspirasi Jakarta, maka pada tahun ini panitia akan menyuguhkan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengunjung tidak hanya sekadar melihat karya fotografi melainkan juga dapat berinteraksi secara langsung dengan para fotografer. Hal tersebut memungkinkan terjadi karena pameran yang dikurasi oleh Yoppy Pieter ini memilih konsep photo story.

Barangkali tidak banyak masyarakat umum yang mengetahui terminologi photo story. Secara sederhana, photo story merupakan serangkaian foto yang dilengkapi dengan narasi dan caption (80% foto, 10% narasi, dan 10% caption). Konsep photo story dipilih lantaran panitia ingin mengajak para pengunjung (khususnya yang belum pernah terlibat menjadi relawan Kelas Inspirasi) untuk turut hadir pada momen-momen berharga, inspiratif, dan berkesan selama penyelenggaran Kelas Inspirasi Jakarta ke-5 pada (2/05/2016) lalu.

Setidaknya, ada 880 relawan pengajar, 220 tim dokumentator (fotografer dan videografer), serta 89 fasilitator yang terlibat aktif guna menyukseskan Hari Inspirasi yang bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Para relawan Kelas Inspirasi disebar ke berbagai Sekolah Dasar (SD) dengan kategori sekolah marjinal dan satu Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) di Jakarta.

Relawan Kelas Inspirasi, merupakan para profesional dalam bidangnya masing-masing yang bercerita kepada para siswa-siswi Sekolah Dasar mengenai profesi mereka. Tidak hanya sekadar bercerita, mereka juga memberikan semangat, motivasi, dan asa agar generasi harapan bangsa berani menggapai cita-cita mereka. “Barangkali, bagi para relawan mereka hanya diminta untuk cuti satu hari bekerja. Namun sesungguhnya kehadiran mereka di tengah para siswa-siswi pada Hari Inspirasi sangatlah bermakna. Berbagi cerita, berbagi pengetahuan, serta berbagai pengalaman kepada siswa-siswi SD agar kelak mereka menjadi orang-orang yang hebat,” ujar Harry Anggie S. Tampubolon, Ketua Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016.

Sebagai informasi, Kelas Inspirasi (www.kelasinspirasi.org) merupakan program turunan dari Indonesia Mengajar (www.indonesiamengajar.org) yang memfasilitasi para profesional untuk berkontribusi secara nyata memajukan pendidikan di Indonesia. Kelas Inspirasi pertama kali diselenggarakan pada (25/04/2012) secara serentak di 25 Sekolah Dasar di Jakarta dan akan terus berjalan pada tahun-tahun berikutnya.

Kelas Inspirasi sudah dilaksanakan lebih dari 100 kali di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Gerakan ini terus berjalan dari tahun ke tahun. Kabar menggembirkan ternyata program sejenis Kelas Inspirasi telah banyak diselenggarakan di berbagai daerah dengan nama-nama yang berbeda. Kendati demikian, kami berkeyakinan bahwa semua gerakan yang ada memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta ke-2 akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November hingga 19 November 2016 di Senopati 79 a Qubicle Center, Jalan Senopati No. 79, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut Harry, Qubicle Center dipilih sebagai lokasi pameran tahun ini lantaran Qubicle Center merupakan salah satu tempat pusat kreativitas di Jakarta. Sebagai platform yang berdiri berdasarkan kerja sama dengan para komunitas seluruh Indonesia, Qubicle mendukung para konten kreator dan komunitas dengan adanya fasilitas di Qubicle Center. Oleh sebab itu, pihak Qubicle berbaik hati menyediakan fasilitas Qubicle Center guna mendukung terwujudnya Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016. “Selain sebagai pusat kreativitas, Qubicle Center dipilih karena lokasinya berada di kawasan ramai seperti SCBD (Sudirman Centran Bussiness District) serta mudah dijangkau dengan menggunakan moda transportasi umum,” jelas Harry.

Selain Qubicle, Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016 juga didukung oleh PGN, SKK Migas, Conoco Phillips, Dapur Icut, Printerous serta Seagate. Dukungan dari berbagai pihak dalam mewujudkan pameran tahun ini merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk terus menebar kebaikan, khususnya dalam bidang pendidikan.

Secara spesifik, tujuan dilaksanakan Pameran Kelas Foto dan Video Inspirasi Jakarta 2016 yaitu untuk menyosialisasikan kegiatan positif yang digawangi oleh lebih dari 2000 relawan Kelas Inspirasi selama 5 tahun ke belakang. Selain itu, pameran tersebut juga sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh relawan, siswa-siswi, guru, dan sekolah yang telah merasakan manfaat Kelas Inspirasi.

Selain pameran, kegiatan lain yang dapat diikuti oleh para pengunjung yaitu talkshow/workshop fotografi dan sharing session Kelas Inspirasi Jakarta. Tidak hanya itu, pengunjung juga akan dihibur dengan penampilan musik dari musisi tanah air. Pembukaan pameran pada Kamis, (10/11/2016) pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Celtic Room, Chiki Fawzi, dan Archie Wirija. Sementara untuk penutupan pada Sabtu, (19/11/2016) pukul 11.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Syahravi, Westjamnation, Huhu Popo, Resha and Friends, Nia Aladin, serta Juma & The Blehers.

Sementara itu, adapun 17 pameris yang terlibat pada pameran ini terdiri dari 13  fotografer yaitu Aad M. Fajri, Agil Frasetyo, Bagas Ardhianto, Bhima Pasanova, Darwin Sxander, Deasy Walda, Desi Bastias, Desita Ulfa, Dimitria Intan, M. Khansa Dwiputra, Ruben Hardjanto, Shofiyah Kartika dan Silvya; 3 videografer yaitu Fahiradynia Indri, Agus Hermawan, dan Yuni Amalia; serta 1 mural artis yaitu Popo Mangun. Sebagian besar dari mereka bukanlah fotografer dan videografer profesional. Ada yang masih berstatus mahasiswa, ada yang bekerja sebagai konsultan, dan lain sebagainya. Pun demikian, karya-karya mereka yang nanti akan dipamerkan patut untuk mendapatkan diacungi jempol. Informasi lebih detil mengenai profil singkat para fotografer dan videografer dapat dilihat pada situs berikut: http://pameranki.kelasinspirasijakarta.org/.

“Kami berharap melalui Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016, semakin banyak orang-orang baik di negeri ini yang peduli dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Kami berkeyakinan bahwa para generasi bangsa yang saat ini duduk di bangka Sekolah Dasar kelak akan menjadi generasi yang gemilang. Oleh sebab itu, kita semua tanpa terkecuali berkewajiban untuk memastikan agar para penerus bangsa mendapatkan akses pendidikan yang baik, merata, dan berkeadilan sosial,” tutup Harry.

 

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU

Indonesia Sebagai Tujuan Halal Tourism

Oleh: Mahfud Achyar

Probolinggo, Jawa Timur
Probolinggo, Jawa Timur

Pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20, bumi nusantara menjadi magnet yang kuat sehingga menarik banyak negara khususnya bangsa Eropa untuk datang. Hal ini lantaran Indonesia memiliki kekayaan alam berupa rempah-rempah yang tidak dimiliki oleh negara-negara di Eropa seperti Belanda, Inggris, dan Portugis. Bangsa Eropa sangat membutuhkan rempah-rempah, terutama pada saat musim dingin. Sebab rempah-rempah dapat diolah menjadi produk makanan dan minuman yang menghangatkan badan. Kekayaan alam tersebutlah yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai negara yang diperebutkan oleh banyak negara hingga pada akhirnya Indonesia memasuki era kolonoliasme di bawah pendudukan Belanda yang berlangsung selama 3,5 abad lamanya.

Tidak hanya dulu, hingga sekarang pun Indonesia masih dikenal sebagai negara yang subur dan memiliki hasil alam yang melimpah ruah. Namun sayangnya potensi hebat yang dimiliki Indonesia tidak lantas membuat Indonesia negara yang sejahtera dan makmur. Oleh sebab itu, rasanya kita perlu menggali kembali potensi Indonesia yang kiranya dapat menjadi aset yang dapat dibanggakan dan menjadi perhatian dunia. Apalagi pada penghujung tahun 2015 ini, Pasar Ekonomi Asean resmi dibuka. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara di kawasan Asean dan juga di tingkat global. Salah satu aset penting yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia itu sendiri. Potensi sumber daya manusia Indonesia tersebut bisa dijadikan landasan atau faktor dalam mengembangkan berbagai sektor di Indonesia. Salah satunya adalah sektor wisata.

Pada 30 hingga 2 November 2013 lalu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kegiatan Indonesia Halal Expo (Indhex) 2013 & Global Halal Forum meluncurkan produk baru dalam industri pariwisata yaitu halal tourism. Ide ini diusung mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Hal tersebut diketahui berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, yaitu lembaga riset yang berkedudukan Washington DC, Amerika Serikat, yang bergerak pada penelitian demografi, analisis isi media, dan penelitian ilmu sosial. Pada tanggal 18 Desember 2012, Pew Research Center mempublikasikan risetnya yang berjudul “The Global Religious Landscape” mengenai penyebaran agama di seluruh dunia dengan cakupan lebih dari 230 negara.

Riset tersebut memaparkan total jumlah penduduk Muslim yang tersebar di berbagai negara yang berjumlah 1,6 miliar atau sekitar 23,2% dari total jumlah penduduk dunia. Indonesia dinobatkan sebagai peringkat pertama penganut agama Islam terbesar dengan total 209.120.000 jiwa (87,2%) dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.326 jiwa. Data tersebut juga diperkuat oleh data sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010.

The Global Religious Landscape

The Global Religious Landscape

Tidak hanya sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, namun Indonesia juga diacungi jempol oleh dunia karena mampu menjalankan demokrasi dan dialog antarumat beragama dengan baik. Menteri Luar Negeri RI, Retno Lestari Marsudi, pada pembukaan “Confrence on Indonesia Foreign Policy 2015” yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, (13/06/2015) mengungkapkan, “Indonesia is a country where Islam and democracy can go hand in hand, at the same time interfaith dialogues are enabled.”

Artinya dengan potensi yang dimiliki Indonesia, semestinya Indonesia bisa menjadi negara yang sukses dalam mengembangkan halal tourism. Indonesia memiliki reputasi yang positif sebagai negara demokrasi dan negara yang toleran dalam beragama. Namun sayangnya, konsep mengenai halal tourism di Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Padahal Indonesia memiliki potensi wisata yang sudah diakui dunia. Berbagai ulasan di internet bahkan menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara yang wajib dikunjungi. Kecantikan, keelokkan, dan keunikan Indonesia memang tidak usah diragukan lagi.

Permintaan produk halal, baik itu makanan, minuman, maupun wisata halal semakin meningkat. Thomson Reuters memperkirakan, pada tahun 2019 pasar makanan halal bernilai US$ 2,537 miliar (21% dari pengeluaran global), pasar kosmetik halal menjadi US$ 73 miliar (6,78 % dari pengeluaran global), dan kebutuhan personal halal menjadi US$ 103 miliar (6,6 % dari pengeluaran global). “Untuk pasar terbesar makanan halal, yaitu Indonesia sebesar US$ 190 miliar, Turki US$ 168 miliar, dan Pakistan menempati urutan ketiga sebesar US$ 108 miliar. Lalu, Indonesia juga berada di urutan ketiga untuk pasar farmasi terbesar, yaitu dengan angka US$ 4,9 miliar. Sementara, Indonesia tidak menjadi pasar terbesar untuk kosmetik halal,” ujar Marco Tieman, CEO LBB International. (Marketeers edisi April 2015, hal 60).

Untuk sektor wisata, Sapta Nirwandar yang saat ini sebagai Perwakilan Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah, dalam (Marketeers edisi April 2015, hal 61) mengatakan potensi pariwisata halal begitu besar. Berdasarkan data dari UNWTO Tourism Highlights tahun 2014, terdapat sekitar 1 miliar wisatawan dunia dan diperkirakan akan naik menjadi 1,8 miliar pada tahun 2030 mendatang. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, Indonesia seharusnya mampu memaksimalkan potensi itu. Oleh karena itu, Indonesia sudah mulai mempromosikan diri sebagai negara tujuan pariwisata yang muslim-friendly.

Akan tetapi, Indonesia kurang memperluas segmentasi pasar untuk indsutri pariwisata, khususnya pasar untuk Muslim traveler. Kondisi demikian membuat Indonesia kurang mendapat tempat di hati para Muslim traveler. Sejatinya sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tentu mudah bagi Indonesia untuk mengembangkan konsep halal tourism. Namun nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Para pemain di industri pariwisata belum yakin pada potensi pasar wisata halal dengan dalih takut dianggap terlalu kaku dan tertutup. Pelabelan wisata halal di Indonesia belum lazim ditemukan.

Menanggapi hal tersebut, Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sapta Nirwandar, menilai bahwa dengan menonjolkan suku, agama, ras, dan golongan tertentu bukanlah hal yang populer. Ia berpendapat bahwa untuk meraih tujuan yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan bersama, pelabelan yang identik dengan agama atau suku, misalnya, itu boleh-boleh saja seperti halnya memberikan label wisata hala yang tujuannya mengembangkan kepariwisataan tanah air. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 149).

Situs The Halal Choice melansir data mengenai “8 Destinasi Wisata untuk Turis Muslim.” Dari delapan negara yang disebut, Indonesia sama sekali tidak masuk sebagai negara yang menjadi destinasi oleh Muslim traveler. Padahal potensi untuk segmentasi tersebut sangat besar. Jumlah umat Muslim di dunia yang mencapai 1,6 milir jiwa, sekitar 25% dari populasi dunia, tentunya hal tersebut menguntungkan bagi Indonesia. Tidak hanya itu, Global Islamic Economy report pada tahun 2013 menyatakan bahwa setidaknya ada US$ 140 miliar potensi yang bisa masuk dari Muslim traveler. Sayangnya Indonesia kurang memanfaatkan peluang tersebut.

Berikut delapan negara yang menjadi tujuan Muslim traveler dan telah mengembangkan konsep halal tourism seperti yang dipaparkan oleh The Halal Choice:

No. Nation Description
1. Malaysia This Asian country with 60% Muslims attracts most of the Muslim tourists worldwide and has been frontrunner with regards to anything halal. ‘Unity in Diversity’ is the national motto of this fantastic melting pot of Malay, Indian and Chinese cultures as well as a mixture of Islamic, Hindu, Buddhist and Animist traditions. The country can be divided into two: Peninsular Malaysia with its amazing cities, forested highlands and fringing islands, and East Malaysia, the north of the island of Borneo with its dense rainforests, orangutans and animist tribes.
2. Turkey This country has made a dramatic turn with regards to Islam and Muslims. Its founder Ataturk tried to exclude Islam out of public life and push Islam to become a private issue at home. However, Turkey has managed to become a major exporter of halal products with an interest in halal tourism and Islamic fashion. It has become an inviting country of great diversity, with quiet villages and busy cities. A country full of history where tradition coexists with modernity, where mobile phones ring in bazaars scented with saffron and traditional Turkish hospitality.
3. UEA Seven emirates make this country a giant with regards to tourism and not only Islamic tourism. Whereas Dubai and Abu Dhabi are the main regions to attract most of the tourists Sharjah is following closely and even Ras Al Khaimah and Ajman are massively participating on the halal market. The country is the greatest show on earth with an astonishing blend of Arabian tradition and super modern skyscrapers. Fabulous oil wealth and an undescribable business mentality have made out of an impoverished Bedouin backwater of the world’s most exciting cities with old-style souqs, wind towers, heritage villages, modern skyline, long corniches and fine beaches. Enjoy shopping in the biggest malls of this world, wadi-bashing (four-wheel-driving around oases) and a cultural mix of Arab and millions of Expats from the West and Asia.
4. Singapore Despite it not being a Muslim country this city-state is surrounded by a Muslim giant, Malaysia. This has automatically influenced Singapore’s interest in Islamic tourism and halal offers. Visit quirky ethnic neighbourhoods and world-class museums, historic places of worship and fabulous markets. Its ethnic mix of people gave this little city-state 4 official languages: Chinese, Malay, Tamil, English. It’s perfect for a family holiday with lots to do for the kids and the parents.
5. Russia After the breakup of the Soviet Union, Russia had to open to the world and to its massive Muslim population and Muslim neighbours. It has seen the potential of halal tourism and attracts many Russian-speaking Muslims and tries to promote halal products with an annual fair in Moscow. This massive country stretches across 11 time zones from the Baltic to the Bering Sea. Russia is home to the world’s largest forest (the taiga) and its deepest lake (Lake Baikal), stunning tsarist palaces, Stalinist skyscrapers, contrasting Orthodox Churches next to Mosques and a big Muslim minority in the South but also in the capital Moscow.
6. China As one of the next superpowers China has realised that the Muslims are good for business and offers Islamic heritage tours to its Muslim provinces and to its major cities. Although it is not a Muslim country, China has a lot of Islamic history and a Muslim minority of 60 to 100 million people. Home to one in six human beings on the planet, the new leader is not Chairman Mao but the yuan, and consumerism is the new religion; this massive country with an incredibly rich past and history has so much to offer that it would satisfy the needs of any traveller Muslim and Non-Muslim alike.
7. France This is the only Western European country which can be found in the top 8 and has been attracting Muslim tourists mainly to Paris. Despite its Islamophobic policy it has been trying to become a centre for Islamic Banking. There are about 10% Muslims in France and a massive percentage of French reverts who are the main push for their country to open to the Muslims. Don’t forget that this country offers Mediterranean culture and cuisine as well as Western European lifestyle. It is home to the biggest African diaspora in the world with areas that rather resemble Africa than Europe. Take a walk through Paris’ Latin Quarter and the famous Champs-Elysees, enjoy the French Alps, visit the great chateau in Versailles and feel at home in Marseille!
8. Thailand This Asian country has been receiving a big number of mainly Muslim Gulf Arabs and has started offering specific halal services to them. It has a smaller Muslim population especially in the south and will have to adjust its policy towards this minority in the future. For a traveller this country offers pretty much everything: great beaches, dense jungles, ruined cities at Sukhotai and Ayuthaya, pristine rainforests, exotic islands, golden monasteries, captivating coral reefs, relaxed locals, energetic cities, atmospheric tribal villages, floating markets, elephant rides, colour-coded curries, steamy tropical weather, mouth-watering cuisine with halal choice, luxury hotels and low cost accommodation.Thailand is hungrily eyeing the Muslim travel boom. Its tourism authority which has an office in Dubai is promoting halal spas for Muslim tourists, who require strict privacy for male and female clients. It also organised a month-long festival of Thai cuisine in the UAE from June 8 to July 7 2012. Crescentrating’s study ranked Bangkok’s Suvarnabhumi Airport the most Islam-friendly airport in a non-Muslim country.

Apa Itu Halal Tourism?

Wisata Syariah atau Halal Tourism adalah salah satu sistem pariwisata yang diperuntukan bagi wisatawan Muslim yang pelaksanaanya mematuhi aturan syariah. Dalam hal ini, hotel yang mengusung prisip syariah tidak melayani minuman beralkohol dan memiliki kolam renang dan fasilitas spa terpisah untuk pria dan wanita. (Ikhsan Arby, 2015: 1)

Lebih lanjut, Ikhsan Arby (2015: 1) menambahkan bahwa halal tourism lebih mengedepankan pelayanan berbasis standar halal umat Muslim seperti penyediaan makanan halal, tempat ibadah, informasi masjid terdekat, dan tidak adanya minuman beralkohol di hotel tempat wisatawan menginap. Kemenparekraf fokus melakukan pelatihan dan sosialisasi mengenai halal tourism pada empat jenis usaha pariwisata, yaitu hotel, restoran, biro perjalanan, dan spa.

Sementara itu, Sapta Nirwandar mengatakan bahwa keberadaan halal tourism adalah extended services. “Kalau tidak ada dicari, kalau ada, bisa membuat rasa aman. Halal tourism bisa bergandengan dengan yang lain. Sifatnya bisa berupa komplementer, bisa berupa produk sendiri. Misalnya ada hotel halal, berarti membuat orang yang mencari hotel yang menjamin kehalalan produknya akan mendapatkan opsi yang lebih luas. Ini justru memperluas pasar, bukan mengurangi. Dari yang tadinya tidak ada, jadi ada,” jelas Sapta. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 149).

Lebih lanjut, Sapta memaparkan bahwa tantangan kurang berkembangnya halal tourism di Indonesia lantaran adanya persepsi yang negatif terhadap Islam, terhadap Muslim traveler. Anehnya, ini datang dari umat Muslim sendiri. Mereka tidak percaya diri. Padahal, gaya hidup halal memberikan lebih banyak pilihan. “Contohnya dari sekian banyak restoran, ada halal food, kan, tenang. Adanya sertifikasi halal itu memberikan rasa aman. Untuk umat selain Islam, makanan halal juga bukan masalah kan? Justru menurut penelitian, makanan halal itu termasuk good food. Secara spritual, orang Muslim mendapatkan benefit. Secara fisik, untuk non-Muslim, ya, makanannya sehat,” tambah Sapta.

Selain itu, pemerintah sendiri mengakui bahwa promosi halal tourism di Indonesia belum optimal sehingga menyebabkan brand halal tourism belum dikenal luas oleh turis lokal dan mancanegara. Padahal jika pemerintah serius mengembangkan brand halal tourism tentu pariwisata di Indonesia jauh lebih berkembang.

Menurut penelitian dari Crescentrating, pengeluaran wisata Muslim dalam suatu perjalanan wisata sangat tinggi. Dapat dibayangkan uang yang dihabiskan wisatawan Muslim di dunia pada tahun 2011 mencapai 126 milyar dolar AS atau setara Rp. 1.222,1 triliun. Angka ini dua kali lebih besar dari seluruh uang yang dikeluarkan oleh wisatawan Cina yang mencapai 65 dolar AS atau setara Rp 630 triliun.

Pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia yaitu harus berani mempopulerkan halal destination. Sapta (dalam Marketeers edisi Juni 2015, hal 150) memaparkan bahwa hal utama yang harus dilakukan adalah mengubah mindset masyarakat Indonesia. Kemudian memberikan edukasi, informasi, baru masuk ke tataran policy. “Kalau pemahaman ini merata, kita bisa melaksanakan hal itu lebih mudah. Kalau kita mau kembali ke esensi orang, kita harus menghargai praktik yang dilakukan tiap individu. Kita memfasilitasi kebutuhan individu. Kita membuka opsi lebih banyak bagi orang-orang yang punya preferensi khusus,” terang Sapta.

Strategi Branding Halal Tourism

Brand halal tourism di Indonesia memang belum terlalu moncer sehingga takbanyak wisatawan lokal dan mancanegara yang mengetahui brand tersebut. Oleh sebab itu, pemerintah perlu bekerja lebih keras lagi untuk mempromosikan brand tersebut. Namun, sebetulnya persoalan promosi halal tourism juga bisa dilakukan oleh masyarakat umum, khususnya generasi muda yang melek teknologi.

Saat ini, kita memasuki era digital yang memungkinkan siapa pun untuk melakukan diplomasi secara personal kepada dunia. Internet (interconnection network) menghubungkan satu negara dengan negara lain, menghubungkan satu individu dengan individu lain. Maka keberadaan internet sudah selayaknya dimanfaatkan untuk mempromosikan brand halal tourism Indonesia kepada dunia internasional.

Dalam perspektif communication studies, sekarang mulai berkembang istilah digital marketing communication, yaitu suatu usaha untuk mempromosikan sebuah brand (merek) dengan menggunakan media digital yang dapat menjangkau konsumen secara tepat waktu, personal, dan relevan. Digital marketing communication turut menggabungkan faktor psikologis, humanis, antropologi, dan teknologi yang akan menjadi media baru dengan kapasitas besar, interaktif, dan multimedia. Hasil dari era baru berupa interaksi produsen, perantara pasar, interaktif, dan multimedia. Digital marketing communication mendukung pelayanan perusahaan dan keterlibatan dari konsumen. (Sumber: Wikipedia)

Berbeda dengan pemasaran konvensional melalui media massa, digital marketing communication menggunakan media baru yang dikenal dengan internet yang memiliki dampak pada meluasnya lingkup pemasaran dan melampaui batasan tradisional seperti zona waktu geografi dan batas regional. Era pemasaran digital juga mengubah prilaku konsumen yang dulu belum pernah dikenal dalam era pemasaran konvensional. Pada era pemasaran digital, peran konsumen tidak hanya sebatas objek dari produsen, namun konsumen memiliki peran penting dalam perkembangan bisnis sebuah perusahaan.

Dalam dunia digital, segala sesuatu bisa terjadi dalam satu juta mil perjam. Konsumen sudah terbiasa mendapatkan informasi yang mereka butuhkan secara cepat. Hal ini menunjukkan bahwa lambat laun strategi pemasaran konvensional semakin ditinggalkan. Konsumen lebih memilih menjadi aktor penting dalam pemasaran digital. Maka sudah sepatutnya, Indonesia harus menjawab kebutuhan halal tourism. Indonesia harus dapat memanfaatkan momentum pemasaran digital untuk melakukan ekspansi yang jauh lebih besar dari saat ini dicapai. Ketika semua proses sudah dijalankan dengan baik, maka Indonesia akan mudah menggaet Muslim traveler untuk menikmati produk halal tourism yang menjadi salah satu produk dalam industri pariwisata di Indonesia.

Dalam menjalakan strategi digital marketing communication (Mahfud Achyar, 2013), ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:

1. Digital Marketing Planning Framework – A Defining Participants Print & Goals

Tahapan “A Defining Participant & Goals” berguna untuk menangkap esensi dari sekelompok orang yang terdiri dari konsumen. Elemen-elemen kunci dari Participant Print yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia untuk memetakan potensi pasar halal tourism.

2. Digital Marketing Planning Framework – Creating Your Digital Platform

Digital Platform Proposition bertujuan untuk menjalin dan mengikat hubungan harmonis antara Kementerian Pariwisata dengan konsumennya dalam aktivitas keseharian. Kemenpar RI secara otomatis harus memberikan informasi-informasi berkaitan potensi halal tourism di Indonesia dan produk-produk yang dimiliki kepada konsumen.

3. Digital Marketing Planning Framework – Generating Awareness and Influence

Pada tahap ini, langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh Kemenpar RI adalah membangkitkan kesadaran dan pengaruh konsumen terhadap brand halal tourism. “Decisions at this stage include selecting your digital media and sponsorship options, developing a search marketing strategy, and integrating offline marketing activities with your Digimarketing activities.” Pemerintah harus merencanakan proses sehingga dapat menjawab pertanyaan, “How will people know about I’ve created?”

4. Digital Marketing Planning Framework – Hernessing Data, Analytic, and Optimization

Bagian ini membahas tentang pentingnya persoalan data dan disiplin analisis dari sudut pemasaran secara langsung. Dalam dunia pemasaran digital, data menjadi hal yang sangat penting dan krusial. Dengan datalah, para penggiat dunia marketing digital dapat mengeluarkan strategi-strategi yang pamungkas dan tepat sasaran. Oleh sebab itu, sudah semestinya perencanaan data yang akurat, detail, dan rinci menjadi hal pokok yang harus dipenuhi dalam DigiMarketing.

5. Social Media and Online Consumer Engagement – Engaging Online Consumer on Social Media

Pada bagian ini membahas tentang keterlibatan konsumen online dan media sosial.

6. Online Public Relations and Reputation Management

Pada bagian ini membahas tentang manajemen reputasi dan hubungan masyarakat online dalam komunikasi pemasaran digital. Dalam digital marketing communication, internet memiliki pengaruh yang luar biasa hebatnya. Suka atau tidak, internet merupakan salah satu alat opini yang paling kuat memberikan efek yang cepat. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia yang mulai fokus menggarap digital marketing communication, Kemenpar RI harus conncern mengelola hubungan yang baik dengan Muslim traveler.

7. Affiliate Marketing and Stategic Partnership

Bagian ini membahas afiliasi pemasaran dan pentingnya kerja sama strategis dalam komunikasi pemasaran digital.

8. Digital Mobil Platform and Marketing

Bagian ini membahas dasar komunikasi pemasaran berbasis digital dan dinamis (bergerak).

9. Game (Gamification) and Marketing

Bagian ini membahas tentang gamifikasi pemasaran digital melalui media baru.

Digital Media Planning, Campaign Return of Investment (ROI), Marketing Analysis, and Reporting
Bagian ini membahas tentang bagaimana menyusun perencanaan dalam media digital untuk komunikasi pemasaran; menghitung return of investment dalam kampanye digital; dan menganalisis serta melaporkan komunikasi pemasaran digital.

Dave Chaffey (2015) mengidentifikasi setidaknya ada enam tipe digital marketing communication yang dapat dimanfaatkan untuk menggaet pasar untuk membeli produk atau menggunakan jasa yang dipasarkan.

Types of Digital Media Communication Channels
Types of Digital Media Communication Channels

Lebih lanjut, agar Muslim traveler tertarik dengan brand halal tourism, Kemenpar RI harus mulai mengubah pola pendekatan kepada pasar yang mulanya customer path hanya 4A (Aware, Attitude, Act, dan Act Again), sekarang menjadi 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate). Perubahan tersebut terjadi karena konsumen masa kini sudah tidak bisa fokus terhadap dirinya sendiri. Sehingga, pembelian pun bukan semata-mata adalah kehendak pribadi, melainkan menjelma sebagai keputusan bersama. (Marketeers edisi Februari 2015, hal 12).

Chief Knowledge MarkPlus, Inc. Iwan Setiawan dalam (Marketeers edisi Februari 2015, hal 12) mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan perubahan tersebut adalah fenomena internet dan gadget yang telah memengaruhi kehidupan banyak orang. Iwan menyebutkan bahwa seseorang membuka kunci layar ponselnya setiap dua menit. Hal itu membuktikan, kehadiran gadget dapat membuat seseorang menjadi tidak fokus. Kondisi demikian menjadikan pola customer path berubah menjadi 5A, bisa dikatakan Aware, Appeal, Ask merupakan input, sedangkan Act dan Advocate adalah output dari suatu proses operasional pemasaran.

Menurut Sapta Nirwandar, hal utama yang harus dilakukan oleh para pemain industri halal tourism adalah membuat penawaran dan pilihan. Untuk travel agent, sediakan guide yang memahami tujuan dari wisata halal, interpretasi dari destinasi-destinasinya, yang dapat memperkaya pembelajaran. Fasilitas harus semakin serius diusahakan. “Kalau takut dengan tidak adanya pasar, penerapan halal tourism ini justru menguntungkan. Banyak sekali orang yang mencari dan menjadi pasar yang menjanjikan karena ada segmennya sendiri. Ironis sekali melihat masyarakat Indonesia tidak confidence dengan wisata halal. Masyarakat harus memiliki persepsi positif. Ini tidak terbatas hanya untuk umat Muslim melainkan sifatnya universal,” kata Sapta. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 150).

Apabila Indonesia sudah optimal memanfaatkan strategi digital marketing communication dalam membangun dan memperkuat brand halal touris, hal ini akan sangat menguntungkan sebab dapat memperluas pasar industri pariwisata di Indonesia. Segmentasi khusus untuk pasar halal tourism yaitu Muslim traveler yang tersebar di berbagai negara di penjuru dunia. Setidaknya ada 1,6 miliar Muslim di dunia dengan potensi US$ 140 miliar. Jika Indonesia sukses membangun dan mengembangkan brand halal tourism, tentunya akan memberikan efek positif untuk devisa negara dari sektor pariwisata.

Menurut hemat penulis, strategi digital marketing communication sangatlah tepat apabila ingin mempromosikan brand halal tourism di kancah dunia. Hal ini juga sejalan dengan misi pemerintah melalui Kemenpar RI untuk meningkatkan promosi pariwisata dalam meraup wisatawan sebanyak-banyaknya, terutama kalangan wisata mancanegara pada tahun 2015 adalah e-tourism. Langkah ini terbilang berani dan efektif terutama pada era teknologi seperti ini.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sarana digital menjadi sarana promosi yang baik. Secara biaya tentu jauh lebih murah apabila dibandingkan promosi dengan cara konvensional. E-tourism ini tidak hanya sekadar jargon atau angan-angan saja. Kemenpar sudah mempersiapkan beberapa aktivitas. Setidaknya sudah ada tujuh layanan berbasis teknologi yang berkaitan dengan promosi wisata secara digital. Di antaranya, Portal Pariwisata yang terintegarasi (hi-indonesia.com), Wonderful TV (WOI TV), mobile application (Hi Bali), Digital Photo Bank, Sinema Online, dan Sinema Digital, www.indonesafilm.net, dan apresiasi terhadap para travel blogger 2015. (Majalah Marketeers edisi April 2015, hal 58).

Referensi:

Achyar, Mahfud. (2014). Strategi Digital Marketing Communcation EIGER. Jakarta: Paramadina Graduate School.

Bachdar, Saviq. (2015). Menjadi Brand yang Diadvokasi. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi Februari.

Chaffey, Dave. (2015). Difinitions of E-Marketing Versus Internet Vs Digital Marketing. [Online] visit site: http://www.smartinsights.com/digital-marketing-strategy/online-marketing-mix/definitions-of-emarketing-vs-internet-vs-digital-marketing/ (diakses pada tanggal 24 Juni 2015).

Nirwandar, Sapta. (2015). Halal Tourism, Kenapa Kita Harus Takut? Jakarta: Majalah Marketeers Edisi Juni.

Triwijanarko, Ramadhan (2015). Andalkan Strategi Digital dan Pesona Indonesia, Kemenpar Kerek Jumlah Wisman. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi April.

Wijayani, Septi. (2015). Tingkatkan Pasar Produk Halal dengan Halal Supply Chain Management. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi April.

_________. (2014). Pemasaran Digital. [Online] visit site:

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran_digital (diakses pada tanggal 24 Juni 2015).

Indonesia Berbagi!

Source: http://unmine.pley.com/
Source: http://unmine.pley.com/

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berbagi merupakan kata kerja yang berarti pemakaian secara bersama atas sumber daya, ruang, dan sebagainya. Sebagai makhluk sosial, manusia saling membutuhkan satu sama lain. Untuk itu, berbagi adalah hal yang tidak dapat kita sangkal sebab menjadi bagian dari individu itu sendiri.

Debasish Mridha, penulis buku “Sweet Rhymes from Sweet Hearts” memiliki pendapat indah mengenai cinta, kepedulian, dan berbagi. Dalam bukunya, ia menulis, “Love, caring, and the spirit of kindness always bring happiness. Our greatest happiness depends on what we love, how we care, and how we share.” Sejatinya, berbagi membuat kita merasakan kebahagiaan yang mendalam (heartwarming) yang barangkali tidak dapat dinilai dari sesuatu yang bersifat artificial.

Frasa berbagi menjadi semangat yang ingin kami sampaikan kepada siapa pun: tanpa ada batasan gender, usia, latar belakang pendidikan, dan profesi. Semua orang sebetulnya dapat berbagi. Namun yang membedakannya adalah, tools apa dan cara seperti apa yang digunakan untuk berbagi? Bagi orang yang memiliki kemampuan finansial yang baik, barangkali ia dapat berbagi melalui materi yang ia punya. Bagi seorang penulis, ia dapat berbagi melalui tulisannya yang menggugah. Bagi yang papah sekalipun, ia dapat berbagi dengan memberikan senyum dan mendoakan kebaikan. Kadang, hal-hal sederhana yang kita lakukan tanpa kita sadari adalah bentuk lain dari berbagi.

Barangkali kita dapat belajar dari sosok seperti Helvy Tiana Rosa yang berbagi melalui dunia kepenulisan atau dari Muhammad Yunus yang berhasil mengembangkan social entrepreneur. Semua upaya yang dilakukan berbagai entitas tersebut semata-mata untuk memberikan perubahan yang jauh lebih baik dan signifikan untuk masyarakat, lingkungan, dan dunia. Oleh karena itu, berbagi adalah syarat mutlak untuk membuat kita menjadi manusia yang seutuhnya, menjadi manusia yang takhanya sekadar ada, dan menjadi manusia yang memberikan kebermanfaatan untuk sesama. Berbagi tidak membuat kita menjadi miskin. Justru dengan berbagi, Tuhan akan menambahkan kenikmatan untuk kita. Tentunya kita berharap amal berbagi akan menjadi bekal berharga untuk kita menyongsong hidup setelah mati.

Terakhir, kami sampaikan selamat membaca! Salam care, share, inspire!

 

Percayalah, Takmudah Menjadi Seorang Guru

(Catatan Relawan Pengajar Kelas Inspirasi Depok 2)

Oleh: Mahfud Achyar[i]

 

“What is a teacher? I’ll tell you: it isn’t someone who teaches something, but someone who inspires the student to give of her best in order to discover what she already knows.” – Paulo Coelho, The Witch of Portabello

After class, let us grufie! (Kelas 4b)
After class, let us grufie! (Kelas 4b)

Percayalah, takmudah menjadi seorang guru. Begitulah yang saya rasakan selepas menjadi relawan pengajar program Kelas Inspirasi Depok 2 di SDN Depok 5.

Keterlibatan saya dalam program Kelas Inspirasi bermula ketika saya memberanikan diri untuk mendaftar menjadi relawan pengajar pada tanggal 8 September 2014. Saya mendapatkan informasi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi dari salah seorang teman saya di komunitas yang juga concern pada dunia pendidikan.

Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga.

Minggu, 05 Oktober 2014, pukul 14.51 WIB, saya menerima surat eletronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan, “Atas berbagai pertimbangan, dengan senang hati kami sampaikan bahwa Mahfud Achyar telah TERPILIH menjadi relawan pengajar untuk menyelenggarakan Kelas Inspirasi Depok pada tanggal 20 Oktober 2014.” Apa yang saya rasakan saat itu? Saya merasa cukup kaget, senang, agak degdegan, dan sangat bersemangat. Sebab menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi adalah hal yang baru dalam hidup saya, kendati pengalaman mengajar bukanlah aktifitas yang baru bagi saya. Dulu ketika program KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa), saya pernah mengajar siswa-siswi di desa Tanjungjaya, Ciamis dan sekarang pun saya masih terlibat menjadi relawan pengajar di komunitas yang sebutkan tadi. Fixed! Achievement unlocked for me!

Sebelum hari-H mengajar, terlebih dahulu para relawan yang berjumlah sekitar 300 dikumpulkan di gedung Bank BJB, Depok untuk mendapatkan brief seputar program Kelas Inspirasi, metode mengajar yang efektif dan menyenangkan, berbagi pengalaman dari relawan yang sudah pernah mengajar, pembagian kelompok, pembagian sekolah tempat mengajar, dan yang paling penting adalah kami saling mentransfer energi positif.

Oya, saya menjadi bagian dari kelompok 12 yang terdiri dari para profesional dari berbagai profesi. Dengan kerendahan hati, izinkan saya memperkenalkan rekan-rekan relawan kelompok 12 yang penuh semangat dan selalu ceria! Perkenalkanlah (teteret!): Felix Nola (Equipment Management), Vini Charloth (Sps Lingkungan), Windrya Amartiwi (Finance Analyst), Saulina Laura Margaretha (Head of Operation Perusahaan Pelayaran), Nanang Hernanto (Trainer), Ratih Dwi Rahmadanti (Data Analyst), Yustiani Wardhani S (Business Analyst), Amantine Al Febyana (Nurse), Endang Pulungsari (Biro Perencanaan Kemenlu), Frick (Photographer), Rizka Kharisma Putri (Photographer), dan saya sendiri Mahfud Achyar (Marketing Communication). Komposisi relawan pengajar 10 dan relawan fotografer 2 (Frick dan Rizka a.k.a Kare). Di samping itu, kami juga didampingi oleh seorang fasilitator dari KI. Please welcome, Mega!

Sekilas tentang SDN Depok 5

Akses menuju SDN Depok 5 tidaklah susah. Sebab, SD ini berlokasi di jalan yang cukup strategis di kota Depok yaitu Jalan Pemuda No. 31 Pancoran Mas. Jika dari Stasiun Depok Baru barangkali hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit (menggunakan kendaraan).

Kondisi bangunan sekolah pun cukup baik. Terdiri dari dua lantai: lantai pertama untuk kelas 1 hingga kelas 4a (termasuk ruang majelis guru) dan lantai dua untuk kelas 4b hingga kelas 6. Para siswa masuk pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 12.00 siang. Jumlah siswa di SD ini berjumlah 271 siswa dengan rincian: kelas 1 (45 siswa), kelas 2 (45 siswa), kelas 3 (42 siswa), kelas 4a (27 siswa), kelas 4b (27 siswa), kelas 5 (45 siswa), dan kelas 6 (40 siswa).

Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5
Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5

Lesson and Learn

Satu pekan waktu yang kami punya untuk mempersiapkan lesson plan. Kendati kami memiliki kesibukan masing-masing dan terpisah dalam radius jarak yang cukup jauh, namun koordinasi kelompok tetap berjalan dengan baik. Teknologi memudahkan kami berkomunikasi satu sama lainn. Secara suka rela, ada di antar kami yang menyempatkan diri untuk survey lokasi mengajar, ada yang mempersiapkan logistik penunjang kegiatan mengajar, ada yang memberi semangat dan keceriaan, dan ada juga yang hanya bisa menjadi silent reader. Dan saya sepertinya masuk pada kategori terakhir. Hehe.

Dalam membuat lesson plan, setidaknya ada 6 pertanyaan kunci yang perlu disampaikan pada saat Proses Belajar Mengajar (PBM) yaitu: 1. Siapakah aku?; 2. Apa profesiku?; 3. Apa yang dilakukan profesiku setiap hari saat bekerja?; 4. Dimana aku bekerja?; 5. Apa peran dan manfaat dari profesiku di masyarakat?; dan 6. Bagaimana cara menjadi aku?

Tantangan terberat bagi saya adalah menyederhanakan bahasa agar mudah dimengerti dan dipahami siswa-siswi SD. Apalagi materi yang saya ajarkan adalah sesuatu yang kurang familiar didengar telinga anak-anak. Yap, materi tentang Materi Communication! Lebih dari itu, istilah-istilah dalam Marketing Communication banyak menggunakan bahasa Inggris seperti promotion, market, target audience, advertising, dan masih banyak lagi. Susah? Iya susah sekali! Namun beruntung karena memiliki pengalaman mengajar, jadi sedikit banyaknya saya sudah mengerti bagaimana menyampaikan pesan secara efektif kepada para peserta didik.

Lesson Plan, done!

Senin, 20 Oktober 2014 adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya. Saya diberikan kesempatan untuk berbagi dan berbuat baik. Just being a good person. Saya teringat pepatah lama, “Budi baik terkenang jua.” Hal senada juga pernah diungkapkan oleh Andrea Hirata dalam salah satu bukunya, “Memberilah sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.” Saya percaya, hidup itu laiknya suara gema. Suara yang kita dengar adalah suara yang kita teriakkan. Secara sederhana, kita akan menuai apa yang sudah kita tanam. Dalam kerendahan hati, saya berharap apa yang kami lakukan semoga menjadi catatan amal kebaikan untuk kami. Semoga.

Tepat pukul 07.00 pagi, pintu pagar sekolah ditutup! Bagi yang telat, silakan tunggu di luar hingga upacara bendera selesai. Sigh! Saya telat 5 menit dan upacara bendera sudah berlangsung. Padahal saya berangkat dari rumah pukul 05.00 pagi. Naik taksi ke Stasiun Cikini. Berharap kereta ke Bogor segera tiba. Hampir 1 jam lebih saya menunggu di stasiun. Namun Si Ular Besi Berlistrik takkunjung menyapa. Padahal mentari Senin pagi sudah menyapa. Memancarkan cahaya berwarna jingga dan menghangatkan tubuh anak-anak manusia. Telat bagi seorang guru adalah hal yang mengkhawatirkan. Sebab ia menjadi contoh keteladanan bagi para generasi bangsa. Dan keteladanan itu dimulai ketika Sang Guru dapat menghargai waktu dengan baik. Yep, menjadi guru tidaklah mudah.

Waktu untuk mengajar dijatah. Masing-masing pengajar diberi waktu sekitar 45 menit. Kami harus pintar mengelola waktu yang sempit tersebut. Saya kebagian mengajar kelas 2, kelas 4b, dan kelas 5. Sementara itu, relawan fotografer yaitu Frick dan Kare pun harus mengatur strategi untuk tidak kehilangan momen pada saat proses belajar mengajar. Mari kita mengajar dan belajar!

Kelas 2, Kelas 4b, dan Kelas 5

“Selamat pagi anak-anak! Hari ini Bu Feby dan Pa Achyar akan mengajar kalian. Siap?”

“Siap!”

Saya dan Feby (Perawat) mendapatkan giliran mengajar siswa-siswi kelas 2. Sesi pertama diambil alih oleh Feby. Sementara saya mengajar di sesi kedua. Tampak terlihat para siswa duduk rapi di bangku masing-masing. Formasi tempat duduk di kelas 2 dibentuk perkelompok. Ada 5 kelompok. Satu kelompok diisi sekitar 5-6 orang.

Menit-menit awal berjalan dengan baik. Namun pada menit kemudian mulai terdengar ada yang berteriak (entahlah karena semangat atau merasa bebas), ada juga yang berjalan kian ke mari, ada yang hanya diam (rata-rata siswi), ada yang menimpali temannya ketika bicara, dan beberapa menit kemudian apa yang terjadi? Suasana kelas mulai tidak terkendali.

Feby pun berusaha menenangkan para siswa. Kemudian ia melanjutkan mengajar seputar profesi perawat. Beberapa menit mengajar, ada seorang siswi yang menangis karena diledekin temannya. Lalu ada yang tiba-tiba ngamuk dengan melempar tas temannya. “Pak, penghapus saya diambil!” Ia menghampiri temannya untuk menantang duel. Saya pun bergegas memisahkan mereka, memberikan pengertian bahwa sesama sahabat tidak boleh berkelahi. Bocah laki-laki itu sedikit tenang, namun tiba-tiba ia menangis. Membuang buku-buku di atas meja. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Saya mendekatinya dan mengusap-usap bahunya.

“Jangan nangis ya, kita bantuin nyari penghapusnya bersama-sama.”

Salah seorang temannya yang bernama Salomon menghampirinya dan berkata, “Aku bantuin nyari ya.” Ia pun mengangguk pertanda setuju. Perlahan tangis bocak yang mengenakan seragam putih itu berhenti. Ia berusaha menarik napas dalam. Tampaknya ia berusaha mengendalikan emosi agar tidak meluapkan amarahnya kepada teman-teman di sekitarnya.

Saya dan Feby berbagi peran. Feby pun sepertinya punya PR yang sama yaitu membuat nyaman suasana kelas sehingga para siswa dapat menyerap dengan baik pelajaran. Feby meminta anak-anak yang “vokal” di kelas untuk menjadi ketua-ketua kelompok. Mereka tampak senang dan begitu antusias. Ya, walaupun suasana kelas tidak begitu kondusif, namun para siswa masih bisa diajak kerja sama untuk belajar.

Feby selesai, sekarang giliran saya mengajar. Saya meminta semua siswa duduk lesehan di depan. Secara spontan saya mengubah metode mengajar dengan bercerita. Saya memanfaatkan media berupa mading untuk menjelaskan materi ajar kepada mereka. Beberapa di antara mereka masih saja terlihat rusuh, tapi banyak juga di antara mereka yang mau mendengarkan. Wow! Mengajar di kelas 2 sungguh menantang, gumam saya dalam hati.

Di akhir sesi, kami meminta mereka menuliskan cita-cita mereka di atas kertas label. Selanjutnya mereka satu persatu menempelkan kertas tersebut pada sebuah pohon berwarna hitam berbahan infraboard yang kami beri nama Pohon Cita-Cita. Mereka terlihat senang. Kelas pun usai. Kami pun pamitan dan meninggalkan kelas. Betulkan, menjadi guru tidaklah mudah!

Selanjutnya saya mengajar di kelas 5. Kondisi kelas sangat bertolakbelakang dibandingkan kelas 2. Cukup kondusif. Barangkali karena sudah kelas 5, para siswa lebih mudah diajak bicara agak serius. Saya pun menyampaikan materi tentang Marketing Communication lebih lancar. Mereka pun mudah memahami materi yang saya sampaikan. Beberapa siswa saya minta untuk kembali menjelaskan apa yang sudah saya sampaikan, dan mereka dapat menjelaskannya dengan baik.

Menjelang waktu pulang sekolah, saya mengajar di kelas 4b. Tidak jauh berbeda dibandingkan kelas 5, suasana kelas juga sangat kondusif. Apalagi jumlah siswa relatif lebih sedikit dibandingkan kelas 2 dan kelas 5. Di kelas 4b, saya lebih banyak menyampaikan pesan-pesan semangat agar mereka tidak takut untuk bermimpi. Agar mereka selalu optimis. Semoga transfer energi yang saya sampaikan dapat mereka terima baik.

Kelas Inspirasi ditutup dengan seremoni pelepasan balon gas di lapangan. Balon berwarna-warni ditempeli cita-cita para siswa. Mereka taksabar ingin melihat balon-balon tersebut terbang mengangkasa ke langit luas. Saya pun merekam momen spesial tersebut. Tiba-tiba seorang siswa kelas 5 menghampir saya.

“Kak, kok kakak pulang?”

“Iya soalnya sudah selesai.”

Sepertinya ia masih ingin kami di sini. Berbagi keceriaan dan bermain bersama. Namun apa daya waktu yang kami punya hanya satu hari. Namun kami berharap kami terus bisa mengajar dan belajar bersama mereka.

Apa hikmah yang saya dapatkan setelah mengajar? Saya tersadarkan bahwa PR dunia pendidikan di Indonesia sangatlah banyak. Mulai dari sistem pendidikan, pengembangan guru, hingga persoalan yang barangkali tidak terlalu menjadi concern pemerintah yaitu BULLYING. Dari yang saya amati, banyak para siswa yang senang sekali membully. Seringkali saya mendengar kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang siswa sekolah dasar. Persoalan bullying harus menjadi fokus pemerintah. Sebab banyak akibat dari bullying yang sudah memakan banyak korban, mematikan karakter, membunuh mimpi-mimpi, dan membuat siswa-siswi merasa terpenjara di sekolahnya sendiri.

Well, saya perlu angkat topi untuk pengabdian para guru di seluruh Indonesia. Mengajar bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak semua orang memiliki kesabaran yang berlapis-lapis seperti seorang guru. Saya berharap semoga dunia pendidikan Indonesia semakin membaik. Terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman kelompok 12 Kelas Inspirasi Depok 2. Semoga langkah kita menjadi panutan, ujar kita menjadi pengetahuan, dan pengalaman kita bisa menjadi inspirasi untuk para penentu Indonesia di masa depan.

Kelompok 12 #KelasInspirasi
Kelompok 12 #KelasInspirasi

“When someone loves you, the way they talk about you is different. You feel safe and comfortable.”
– Jess C. Scott

[i] Mahfud Achyar adalah seorang praktisi Marketing Communication di salah satu NGO di Jakarta dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta, program studi Corporate Communication.

 

Kredibilitas MUI di Ujung Tanduk?

Aspek penting dalam persuasi adalah kredibiltas sumber (komunikator). Berkaitan dengan kredibilitas ini, baru-baru ini media mengangkat masalah transparansi fatwa halal MUI (Majalis Ulama Indonesia). Sejumlah ulama diindikasikan menerima uang dari perusahaan agar produknya mendapat sertifikat halal. Analisis kredibilitas MUI dan upaya yang dilakukan MUI agar persuasi mengenai produk halal tidak terganggu dengan isu ini.

Source: http://winwinhr.com/
Source: http://winwinhr.com/

Kasus yang menimpa MUI ramai diperbincangkan di berbagai media adalah. MUI dituding mematok harga terlalu mahal dalam memasang tarif penerbitan sertifikat halal. Kondisi demikian dikeluhkan oleh tempat-tempat pemotongan hewan di Australia. Satu tempat pemotongan hewan mengaku harus membayar $27.000 perbulan(sekitar Rp. 320 juta) kepada MUI untuk mendapatkan sertifikat halal. Sekitar 4 kali lebih mahal dari biaya sertifikat halal oleh lembaga sertifikasi halal setempat.

Seperti yang dilansir Majalah Tempo, selain mahalnya harga sertifikat halal yang dikeluarkan MUI, para petinggi MUI pun diduga kerap menerima pemberian uang ribuan dolar sebagai pelicin proses pengurusan sertifikat. Menanggapi isu yang tidak enak tersebut, MUI pun membantahnya melalui siara pers yang dimuat pada laman website resmi MUI www.halalmui.org.

Menurut MUI, laporan utama Tempo yang memuat tentang “Astaga! Label Halal” dinilai tidak berimbang karena banyak menggunakan sumber yang anonim. MUI juga menegaskan jika memang MUI menerima suap itu, kejanggalannya adalah adanya fakta bahwa sampai sekarang perusahaan pemohon tidak diloloskan proses sertifikasinya, dengan alasan tidak memenuhi syariah.

Kendati demikian, MUI merasa patut menindaklanjuti laporan utama yang ditulis oleh Tempo dengan membentuk tim penyelidik internal, semacam komisi etik. Hal ini penting dilakukan untuk mengantisipasi jika memang terjadi praktek yang tidak sehat dalam tubuh MUI.

Dampak pemberitaan:

Meskipun MUI sudah mengeluarkan siaran pers untuk membantah pemberitaan-pemberitaan yang menyudutkan MUI secara institusional, namun reputasi MUI sebagai lembaga yang dipercaya oleh masyarakat dalam mengeluarkan sertifikasi halal menjadi tercoreng. Hal ini lantaran viral tentang kasus MUI sudah tersebar begitu luas. Sementara pemberitaan mengenai klarifikasi MUI tidak tersebar secara masif. Dampaknya akan muncul persepsi bahwa MUI sebagai lembaga sertifikat halal sudah tidak kredibel lagi. Padahal, MUI merupakan tumpuan masyarakat Indonesia, khususnya Muslim dalam mengidentifikasi mana produk yang halal dan mana produk yang haram.

Carl Hovland (1953), mengemukakan bahwa teori kredibilitas menjelaskan bahwa seseorang dimungkinkan lebih mudah dipersuasi jika sumber-sumber persuasinya (komunikator) memiliki kredibilitas yang cukup. Setidaknya, terdapat tiga model guna mempersempit ruang lingkup teori kredibiltas.

  1. Factor Model (suatu pendekatan covering laws), membantu menetapkan sejauh mana pihak penerima menilai kredibiltas suatu sumber.
  2. Function Model (masih dalam suatu pendekatan covering laws) memandang kredibilitas sebagai tingkat dimana suatu sumber mampu memuaskan kebutuhan-kebutuhan individu penerima.
  3. Constructivist Model (suatu pendekatan human action) menganalisis apa yang dilakukan penerima dengan adanya usulan-usulan sumber.

Menurut teori persuasi, kredibilitas muncul karena konstruk perspepsi kita atas kemampuan atau kompetensi komunikator. Kredibilitas lahir dari perasaan atau keyakinan atas komunikator. Kredibilitas merupakan faktor penting dalam persuasi. Dalam kasus MUI, kredibilitas MUI tinggi apabila MUI dapat secara transparan dan akuntabel dalam melalukan audit dan mengeluarkan sertifikat halal suatu produk. Jika MUI tidak melakukan hal demikian, maka kredibiltas MUI dinilai rendah.

Lantas bagaimana upaya yang dilakukan oleh MUI agar persuasi mengenai produk halal tidak terganggu dengan pasca pemberitaan negatif tentang MUI?

MUI berusaha meyakinkan masyarakat Indonesia khususnya ummat Islam bahwa pemberitaan miring tentang MUI tidak benar. Namun MUI tidak ingin merasa “suci” sepenuhnya. MUI melakukan introspeksi secara internal agar dapat lebih transparan dan akuntabel dalam melakukan audit dan menerbitkan sertifikat halal. MUI siap untuk diaudit secara eksternal. “Kalau memang dianggap dana sertifikasi halal yang didapat LPPOM MUI butuh diaudit semua proses transaksinya. Audit saja kita,” ujar Lukmankepada Republika, Senin (10/3).

Langkah yang dilakukan oleh MUI tersebut adalah upaya untuk mengembalikan kredibiltas MUI sebagai lembaga sertifikasi halal. Berbagai ormas Islam mendukung MUI agar tetap menjalankan aktifitas penetapan standar halal, pemeriksaan produk, penetapan fatwa, dan menerbitkan sertifikat halal sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Posisi MUI untuk menjalankan sertifikasi halal menurut banyak pendapat semestinya dapat terakomodasi dalam RUU JPH (Jaminan Produk Halal).

Simpulan dari analisis ini adalah, pemberitaan miring tentang MUI jelas menurunkan kredibilitas MUI sebagai lembaga sertifikasi halal yang dipercaya oleh masyarakat (Muslim) di Indonesia. Namun, MUI berupaya keras memberikan bukti bahwa apa yang dituduhkan oleh berbagai media itu tidak benar. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, akan tetap menjadikan MUI sebagai referensi untuk mengidentifikasi produk-produk halal di Indonesia.

 

Mahfud Achyar

Paramadina Graduate

School of Communication

Participant Print and Goals on DigiMarketing

Content-Marketing-VS-Digital-Marketing-1080x675
Image source: https://katarsa.id/id/2019/10/16/content-marketing-vs-digital-marketing/

The first phase of planning starts with a focus on the consumers or customers with whom you will interact through Digital Marketing. This differs from traditional planning in requiring much more emphasis on how customers interact with you as participant. From the start, you should also establish goals for your Digital Marketing. By the end of the first phase, you should be able to answer the key questions, “What are the key insights about my participant?” and “What are my main goals?”

Participant Print

Good marketing always begins with consumer or customer, and that’s where Digital Marketing planning begins too. We call it a Participant Print. Whether your Digital Marketing is intended to appeal to millions of consumers or a select business – to – business audience, you will need a clear understanding of the people at the other end.

Most marketers do some form of planning to define their target audience. You might fell this sufficient and wonder why a Participant Print is required. This isn’t a shallow semantic issue. There are deep implications inherent in the shift from targeting to the broader exercise of participant planning. You will need to anticipate how consumers will act as respondents, participants, and even initiators. Recognizing this from the start is a key mind shift required for successful Digital Marketing.

Participant Print 1: General Profile

The first section of the print includes basic information about your customers. This might include demographics, transactional behavior information (for example, purchasing patterns), and response rates to previous promotions and marketing activities. This will certainly be useful when it comes time to decide your Digital Marketing content, messaging, and activation strategies.

You should also have “lifestyle” data to help you understand the deeper psychographic aspects of your participant base. This vital since consumer attitudes and tendencies today do not follow lock-step with demographic data.

Participant own words are important too. How do participants talk about your product category and about your brand? What are actual words they use? This information will be vital later when you define your search marketing strategies (SEO and SEM).

While you will already know a fair amount about your consumers, writing your Participant Print affords you the opportunity to update and reassess your assumptions. You might collect data from prospective consumers or your competitors consumers, as well as from your existing consumers.

Participant Print 2: Digital Profile

Digital Usage Habits

The next position of your print will focus on your customers / prospects as users of digital media.

What digital channels do your customers currently use and in what proportion? What sites do they surf? What kind of digital devices do they own? Which do they use most often? Are there any digital trends among your participant group (for example, an increase in their desire to receive podcasts) that are particularly worthy of note? Any insights you can gain about your customer?s attitudes towards digital channels and content decisions. Digital usage habits can change rapidly so current data is critical.

Content Consumption Preference

As content becomes liberated from channels, understanding participants? content preferences becomes essential. Participants loyalty will be to the content not to the delivery mechanism. If you haven’t done the important spade work to really know what content is likely to interest your participants, you run the risk of being ignored and overlooked when you go live with your digital marketing.

Consumer Content Creation Profile

The final area in the digital section of your Participant Print covers what your customers (or prospective customers) are creating at the moment. This should yield some important insights about participants as active creators. What type of contests do they participate in? What type of contests do they participate in? What photo sites do they upload pictures to? What kind of blogs do they create? Are they already engaged in blogs about your products category or your competitors brands – or your brands? In the planning process, you might consider contracting handful of top bloggers to see if you can gain any insights from them.

Participant Print 3: Individual Profiles

You will need to know all you can about individual customers. You may find this data in your existing customer database or through tracking customers current web activity. Of course, your profiling should include some segmentation. How you segment will depend upon the type of data you have on hand. Ideally, you will have consumer purchase data and share of wallet data, so you can identify high lifetime value customers.

The following are a number of broad areas that you might consider as you set goals. Of course, the specific metrics of the goals will need to reflect your particular situation and ambitions.

How to develop a Participant Print

A Participant Print, which is modeled upon Ogilvy & Mather’s Customer Print, is intended to capture the essence of the group of people who comprise your customers. The Participant Print should build upon any existing Customer Print or target audience definitions you have by adding information and insights about your customers in relation to digital channels. Your Participant Print should straddle both existing and new customers.

Karen Amstrong Kampanyekan Gerakan Compassion ke Seluruh Dunia

Charter for Compassion (dokumentasi pribadi)
Charter for Compassion (dokumentasi pribadi)
JAKARTA – Dalam rangka ulang tahun Mizan yang ke-30 tahun, Mizan bekerjasama dengan HFI (Humanitarian Forum Indonesia) yang difasilitasi PP Muhammadiyah menyelenggarakan Talkshow dan Deklarasi Semangat Compassion dengan mengundang penulis kenamaan asal Inggris, Karen Amstrong. Acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB digelar di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di bilangan Menteng Raya No. 62, Jakarta Pusat. Peserta yang hadir pada talkshow ini berasal dari NGO (Non-Government Organization) yang tergabung sebagai anggota HFI seperti PKPU, Dompet Dhuafa, MDMC, PPKM, YAKKUM, YTB, World Vision, dan Karina Caritas Indonesia. Selain itu juga hadir undangan dan peserta umum yang turut menghadiri kegiatan ini.

Karen Amstron (dokumentasi pribadi)
Karen Amstron (dokumentasi pribadi)

Karen Amstrong seperti yang dilansir pada laman Wikipedia.com merupakan penulis yang lahir 14 November 1944 di Wildmoor, Worcestershire, Inggris. Beliau adalah seorang pengarang, feminis, dan penulis tentang agama-agama Yudaisme, Kristen, Islam dan Buddhisme. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Irlandia yang setelah kelahiran Karen pindah ke Bromsgrove dan kemudian ke Birmingham.

Karen menerbitkan “Through the Narrow Gate” pada 1982, yang menggambarkan kehidupan yang dibatasi dan sempit yang dialaminya di biara (dan menyebabkan ia banyak dimusuhi oleh orang-orang Katolik Britania). Pada 1984 ia diminta menulis dan menyajikan sebuah dokumenter tentang kehidupan St. Paul. Penelitian untuk dokumenter ini membuat Karen kembali menyelidiki agama, meskipun sebelumnya ia telah meninggalkan ibadah keagamaan setelah ia keluar dari biara. Sejak itu ia menjadi penulis yang produktif, banyak dipuji dan dikritik dalam topik-topik yang menyangkut ketiga agama monoteistik. Pada 1999, Pusat Islam California Selatan menghormati Karen atas usahanya “mempromosikan saling pengertian antara agama-agama.”

Salah satu buku Karen yang terkenal di Indonesia adalah “The History of God” (Sejarah Tuhan) yang hingga kini masih sering dicetak ulang oleh penerbit Mizan sejak kemunculannya pertama kali tahun 1993. Selain itu, Karen juga melahirkan buku-buku monumental seperti biografi “Muhammad” (2006) dan buku terbarunya yang berjudul “Compassion” (Welas Asih).

Kehadiran Karen sebagai pembicara dalam talkshow di Indonesia khusus untuk mendiskusikan buku Compassion yang juga menjadi semangat masyarakat dunia dalam mengampanyekan gerakan Welas Asih. Selain Karen sebagai pembicara utama, hadir juga tokoh-tokoh utama seperti Dr. Zainul Kamal (UIN Syarif Hidayatulloh), Romo Heru Prakosa (Rohaniawan Katholik), dan Pdt. Martin Sinaga (PGI) yang dimoderatori oleh Pdt. Jonathan Victor Rembeth.

Lahirnya buku Compassion dilatarbelakangi atas kegelisahan Karen terhadap konflik-konflik yang memasung rasa kemanusiaan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ia menggambarkan dunia hari ini seperti Hukum Rimba; siapa kuat dialah yang menang. Hal itu bisa dilihat dari konflik Palestina-Israel, isu terorisme, seksualisme, praktik koruptif, dan sebagainya yang tidak hanya menjadi masalah lokal tapi sampai international. Meski semua negara terus berusaha mencari solusinya dengan cara masing-masing, namun masalah yang ada malah semakin subur, takteratasi.

Panggung diskusi (dokumentasi pribadi)
Panggung diskusi (dokumentasi pribadi)

Compassion (Welas Asih, Ind) adalah sikap welas asih pada sesama tanpa memandang perbedaan. Karen menawarkan ada 12 langkah untuk memahami secara lengkap konsep Compassion. Sekilas, teori Welas Asih tersebut terkesan enteng dan tidak menarik, tapi kalau kita melihat pada realita yang ada, di mana masyarakat kita sedang kehilangan nurani belas kasihnya, maka kita sangat membutuhkan kaidah itu. Karenanya, teori welas asih itu perlu dikembalikan sebagai inti dari kehidupan religius dan moral agama-agama. Sebagai langkah konkritnya, Karen menggagas sebuah komunitas global yang di dalamnya semua orang bisa hidup bersama saling menghormati, yang kemudian ia realisasikan ke dalam bentuk Piagam Welas Asih (Chrakter of Compassion), yang kemudian ditulis oleh para pemikir terkemuka dari berbagai agama. Isi dari piagam itu berisikan butir-butir yang melawan suara-suara ekstrimisme, intoleransi, dan kebencian.

Ada lima butir dalam piagam tersebut di antaranya; a) untuk mengembalikan welas asih ke pusat moralitas dan agama; b) untuk kembali pada prinsip kuno bahwa setiap interpretasi atas kitab suci yang menyuburkan kekerasan, kebencian, atau kebejatan adalah tidak sah; c) untuk memastikan bahwa kaum muda diberi informasi akurat dan penuh rasa hormat mengenai tradisi, agama, dan budaya lain; d) untuk mendukung apresiasi positif atas keragaman budaya dan agama; dan e) untuk menumbuhkan empati yang cerdas atas penderitaan seluruh manusia-bahkan mereka yang dianggap sebagai musuh (hal. 13). (Lingkaran-koma.blogspot.com)

Karen memaparkan konsep Compassion (dokumentasi pribadi)
Karen memaparkan konsep Compassion (dokumentasi pribadi)

Secara sederhana, Karen ingin mengajak kepada setiap pemeluk agama agar mengikuti isi dari inti ajaran agama yang dianut. Untuk itu, Armstrong “mewanti-wanti” akan perlunya mengembalikan welas asih sebagai inti kehidupan religius dan moral. Karen menilai banyak kasus pemeluk agama yang kurang tepat dalam mengaplikasikan prinsip-prinsip ajaran agama. Barangkali karena banyak yang kurang memahami secara benar ajaran agama yang mereka anut. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Hujarat (49:13) “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Secara implisit, Karen menyampaikan bahwa umat Islam-lah yang sebetulnya menjadi garda terdepan dalam mengawal semangat Compassion ini kepada seluruh dunia. Agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw dikenal sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin, rahmat bagi semesta alam.

Dr. Zainul Kamal, perwakilan UIN Syarif Hidayatulloh mengatakan bahwa Rasulullah saw ketika berdakwah kepada suku Thaif mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Beliau dilempar pakai batu oleh anak-anak suku Thaif, diusir, dan dihina. Namun Rasulullah tidak membalas perlakuan buruk suku Thaif. Beliau justru mendoakan suku Thaif dengan sangat khusyuk. Doa Rasulullah, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Namun, penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah ketika aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku mengangkat kepala dan pandanganku. Tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.” Rasulullah Saw. melanjutkan, “Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku. Ia berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung. Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Jawab Rasulullah, “Aku menginginkan Allah berkenan menjadikan anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR Bukhari Muslim)

Begitulah Rasulullah yang memiliki akhlak terpuji. Maka sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam mencontoh nilai-nilai kebaikan yang telah Rasulullah terapkan dalam kesehariaannya.

Zainul mengatakan bahwa sesungguhnya mereka yang menolak kebaikan dan dakwah Islam, lantaran hati-hati mereka yang tertutup sehingga belum bisa menerima kebenaran. Zainul juga berpesan supaya setiap individu menghilangkan sifat egosentris yang menjadi batas interaksi dengan orang-orang yang dipandang memiliki status sosial di level bawah. Jika sudah begitu dengan sendirinya sifat welas asih akan mudah untuk dijalankan dan kita pun dapat menyampaikan pesan-pesan kebaikan tanpa ada sekat yang memisahkan.

Dr. Zainul Kamal (dokumentasi pribadi)

Sementara itu, Romo Heru Prakosa, Rohaniawan Katholik menyampaikan kendati Indonesia berada dalam keberagaman majemuk, sejatinya kita dapat bekerjasama dengan baik dalam berbagai hal. Ia mencontohkan seperti mahasiswa-mahasiswa tempat ia mengajar, kerap melakukan kegiatan sosial bersama dengan berbagai elemen masyarakat yang berbeda agama dan budaya.

Romo Heru Prakosa (dokumentasi pribadi)
Romo Heru Prakosa (dokumentasi pribadi)

Setali tiga uang dengan yang disampaikan Romo Heru Prakosa, Pdt. Martin L. Sinaga juga menyetujui konsep Compassion yang ditawarkan oleh Karen. Ia berpendapat siapa pun bisa memiliki sikap welas asih dengan sesama. Ia optimis bangsa Indonesia akan lahir menjadi bangsa yang menjunjung tinggi toleransi keberagaman.

Prinsip welas asih tersemat dalam jiwa semua tradisi agama, etika atau kerohanian, dan menyeru kepada kita untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Welas asih mendorong kita bekerja tanpa kenal lelah untuk menghapuskan penderitaan sesama manusia. Untuk melepaskan kepentingan kedudukan kita demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain, serta untuk menghormati kesucian fitrah setiap manusia, memperlakukan setiap orang dengan keadilan, kesamaan dan rasa hormat yang mutlak, tanpa pengecualian.

Adalah juga penting dalam kehidupan masyarakat dan perorangan untuk terus-menerus menahan diri secara konsisten dan empatik dari tindakan menyakiti orang lain. Bertindak dan berkata-kata kasar karena rasa dendam, kesombongan bangsa, atau kepentingan diri, menindas, mengeksploitasi atau menyangkal hak asasi siapa pun dan menghasut kebencian melalui fitnah adalah penyangkalan terhadap kemanusiaan bersama.

Karen menandatangani buku (dokumentasi pribadi)
Karen menandatangani buku (dokumentasi pribadi)

Pesan dari talkshow yang mengangkat tema “The Message of Compassion” adalah mengajak dan menyeru kepada semua orang, laki-laki dan perempuan supaya menghidupkan kembali perasaan welas asih sebagai asas etika dan agama. Kita sangat perlu menjadi welas asih sebagai suatu kekuatan nyata, bercahaya, dan dinamik dalam dunia kita yang terpolarisasi. Berakar dalam tekad mendasar untuk mengatasi keakuan, welas asih dapat meruntuhkan batas-batas politik, dogmatik, ideologis dan keagamaan. Lahir dari ketergantungan kita yang mendalam antara satu dan yang lain, welas asih adalah esensi bagi hubungan antara manusia dan untuk menggenapi kemanusiaan.

Welas asih adalah jalan menuju pencerahan, dan takdapat diabaikan dalam menciptakan ekonomi yang adil dan kehidupan bersama yang damai. Di akhir diskusi, Karen Amstrong dan perwakilan anggota HFI menandatangani Piagam Welas Asih (Charter for Compassion). Dengan menandatangani piagam tersebut, diharapkan semoga dapat berkomitmen untuk menerapkan prinsip welas asih.

Menurut pandangan penulis, gagasan Karen Amstrong tentang gerakan Compassion (Welas Asih) sebetulnya baik. Tapi perlu diingat bahwa sejatinya setiap agama tidaklah sama. Kita pun memiliki kesempatan untuk memberikan kritikan yang bersifat konstruktif atas gagasan-gagasan Karen dalam bukunya yang berjudul Compassion. Setiap pemeluk agama dapat berperan sesuai dengan peran masing-masing. Kita pun dapat bersinergis dalam konteks muamalah sehingga terciptanya harmonisasi dalam hidup dan kehidupan. Semoga kita dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip universal yang sebetulnya dimiliki oleh setiap manusia. Solusinya mari kita aplikasikan sifat welas asih mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil, dan mulai saat ini. Bismillah. Manjadda wa jadda!

Mahfud Achyar and Karen Amstrong
Mahfud Achyar and Karen Amstrong

NB: Mohon maaf jika ada kesalahan opini. Silakan sampaikan masukan dan saran ke @mahfudACHYAR

Gaza Kembali Membara, Apa Peduli Kita?

Gaza, Palestina kembali membara

Israel memborbardir wilayah Gaza. Sumber: google

Rabu, (14/11/2012) Israel kembali menyerang Gaza dan menewaskan Komandan Hamas Ahmed Al-Jaabari bersama seorang penumpang lain setelah mobil yang mereka tumpangi menjadi sasaran serangan misil Israel di kota Gaza. Media berita Israel melaporkan, anak laki-lakinya juga tewas. Serangan itu bagian dari gelombang serangan udara terhadap militan Islamis di Gaza, yang menurut Palestina, menewaskan tujuh lainnya, termasuk dua anak.

Luka teramat pedih semakin dirasakan oleh semua umat Muslim dunia. Pasalnya, pada hari Kamis (15/11/2012) yang bertepatan dengan tahun baru Islam 1434 Hijriah, pesawat tempur Israel kembali menyerang Gaza dan melakukan pengeboman udara yang menggetarkan bumi dan membuat langit Gaza menjadi warna merah menyala.

Serangan membabi buta yang dilakukan oleh Israel ke wilayah Gaza hingga saat ini belum berakhir. Seperti yang dilansir oleh MediaIndonesia.com jumlah korban yang tewas dari pihak Palestina sudah mencapai 110 orang dan lebih dari 800 orang lagi cedera. 110 orang yang menjadi korban akibat kebiadaban Israel kebanyakan di antaranya adalah anak-anak dan balita. Nampaknya Israel memang sengaja menyasar anak-anak dan balita sebagai sasaran rudalnya ke wilayah Gaza. Hal ini barangkali untuk menunaikan janji yang pernah dikatakan oleh Perdana Menteri Israel Ariel Sharon tahun 1956:

“Saya bersumpah, akan saya bakar setiap anak yang dilahirkan di daerah (Palestina) ini. Perempuan dan anak-anak Palestina lebih berbahaya dibandingkan para pria dewasa, sebab keberadaan anak-anak Palestina menunjukkan bahwa generasi itu akan berlanjut…”

Bagi Israel, anak-anak adalah ancaman yang lebih berbahaya dibandingkan pemuda dewasa. Betapa tidak, di usia yang masih sangat muda, anak-anak Palestina sudah banyak yang mampu menghapal Al-Qur’an. Hal tersebut menjadi momok yang luar biasa menakutkan bagi Israel. Mereka menilai bahwa anak-anak Palestina adalah generasi penerus perjuangan Palestina yang akan terus menentang berdirinya negara zionis Israel.

Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa wilayah Gaza yang menjadi sasaran agresi Israel? Hal ini dikarenakan wilayah Gaza merupakan basis wilayah yang dikuasai oleh Hamas yang memenangkan pemilu atas Fatah. Sikap Hamas yang gamblang menyatakan perlawanan terhadap pendudukan Israel lebih mendapat simpati oleh masyarakat Gaza. Namun, ideologi Hamas yang keras dan menolak berkompromi dengan Israel tidak disukai dunia Internasional. Amerika Serikat (sekutu dekat Israel) adalah salah satu negara yang menolak mengakui Hamas meski kelompok tersebut memenangi pemilu secara sah dan demokratis.

Media online Republika.co.id melansir bahwa pada 14 Juni 2006, Hamas, sebagai pemenang pemilu, mengambil alih kendali Jalur Gaza dari Fatah. Dalam waktu 11 hari kemudian (25 Juni 2006), Hamas menculik tentara Israel, Gilad Shalit dan menewaskan dua orang lainnya. Situasi tersebut kian memicu babak baru permusuhan Palestina dengan Israel.

Pada tahun 2007, sejak kemenangan Hamas terhadap Fatah, Israel semakin naik pitam kepada Hamas dengan melakukan pemblokadean kepada Palestina dan terus menyerang masyarakat sipil di wilayah Gaza.

Sejarah Negara Zionis Yahudi

Ide mendirikan negara Yahudi dalam perkembangan gerakan Zionis, sebenarnya banyak dipengaruhi oleh Theodore Herzl. Dalam tulisannya, Der Jadenstaat (Negara Yahudi), dia mendorong organisasi Yahudi dunia untuk meminta persetujuan Turki Usmani sebagai penguasa di Palestina agar diizinkan membeli tanah di sana. Kaum Yahudi hanya diizinkan memasuki Palestina untuk melaksanakan ibadah, bukan sebagai komunitas yang punya ambisi politik (lihat: Palestine and The Arab-Israeli Conflict, 2000: 95).

Keputusan ini memicu gerakan Zionis radikal. Bersamaan dengan semakin melemahnya pengaruh Turki Usmani, para imigran Zionis berdatangan setelah berhasil membeli tanah di Palestina utara. Imigrasi besar-besaran ini pun berubah menjadi penjajahan tatkala mereka berhasil menguasai ekonomi, sosial dan politik di Palestina dengan dukungan Inggris (Israel, Land of Tradition and Conflict, 1993:27).

Palestine land loss. Sumber: Google

Berakhirnya Perang Dunia I, Inggris berhasil menguasai Palestina dengan mudah. Sherif Husein di Mekah yang dilobi untuk memberontak kekuasaan Turki juga meraih kesuksesan. (1948 and After: Israel and Palestine, 1990:149). Rakyat Palestina semakin terdesak dan menjadi sasaran pembantaian. (2000:173). Agresi Zionis terus berlanjut, 360 desa dan 14 kota yang didiami rakyat Palestina dihancurkan dan lebih 726.000 jiwa terpaksa mengungsi.

Akhirnya pada Jumat, 14 Mei 1948, negara baru Israel dideklarasikan oleh Ben Gurion, bertepatan dengan 8 jam sebelum Inggris dijadwal meninggalkan Palestina. Untuk strategi mempertahankan keamanannya di masa berikutnya, Israel terus menempel AS hingga berhasil mendapat pinjaman 100 juta U$D untuk mengembangkan senjata nuklir.

Elisabeth Diana Dewi dalam karya ilmiahnya, The Creation of The State of Israel menguraikan bahwa secara filosofi, negara Israel dibentuk berdasarkan tiga keyakinan yang tidak boleh dipertanyakan:

(a) tanah Israel hanya diberikan untuk bangsa pilihan Tuhan sebagai bagian dari Janji-Nya kepada mereka. (b) pembentukan negara Israel modern adalah proses terbesar dari penyelamatan tanah bangsa Yahudi. (c) pembentukan negara bagi mereka adalah solusi atas sejarah penderitaan Yahudi yang berjuang dalam kondisi tercerai berai (diaspora).

Maka, merebut kembali seluruh tanah yang dijanjikan dalam Bibel adalah setara dengan penderitaan mereka selama 3000 tahun. Oleh sebab itu, semua bangsa non-Yahudi yang hidup di tanah itu adalah perampas dan layak untuk dibinasakan.

Yahudi dalam Al-Qur’an

Fakta fenomenal saat ini yang menggambarkan arogansi, kecongkakan dan penindasan Yahudi terhadap kaum muslimin adalah hikmah yang harus diambil dari Firman-Nya: Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu:

“Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (QS.17:4).

Dalam tafsir Jalalayn dijelaskan bahwa maksud fil ardhi dalam ayat itu adalah bumi Syam yang meliputi Suriah, Palestina, Libanon, Yordan dan sekitarnya.

Pembunuhan bukan hal asing dalam sejarah Yahudi. Bahkan nabi-nabi mereka, seperti Nabi Zakariya dan Nabi Yahya pun dibunuh. Mereka juga mengira telah berhasil membunuh Nabi Isa dan bangga atas usahanya. Tapi Al-Quran membantahnya (QS.4:157). Inilah di antara makna bahwa yang paling keras permusuhannya terhadap kaum beriman ialah orang Yahudi dan musyrik (QS. 5:82).

Penolakan janji Allah (QS. 5:21-22) yang memastikan kemenangan jika mau berperang bersama Nabi Musa, membuktikan sebenarnya Yahudi adalah bangsa penakut, pesimis, tamak terhadap dunia dan lebih memilih hidup hina daripada mati mulia. Bahkan (QS. 5:24) menggambarkan bahwa mereka tidak butuh tanah yang dijanjikan dan tidak ingin merdeka selama masih ada sekelompok orang kuat yang tinggal di sana. Lalu mereka meminta Nabi Musa dan Tuhannya berperang sendiri.

Oleh karena itu Al-Quran menggambarkan bahwa kerasnya batu tidak bisa mengimbangi kerasnya hati kaum Yahudi. Sebab masih ada batu yang terbelah lalu keluar mata air darinya dan ada juga yang meluncur jatuh karena takut kepada Allah (QS. 2:74). Keras hati kaum Yahudi ini di antaranya disebabkan hobi mereka mendengarkan berita dusta dan makan dari usaha yang diharamkan (QS. 5:24).

Apa yang harus kita lakukan?

#IndonesiaPrafForGaza #LovePalestine

Hadits Arba’in ke-13 karangan Imam An-Nawawi, Abu Hamzah, Anas bin Malik ra. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R Bukhari dan Muslim).

Muslim satu dengan Muslim yang lain itu ibarat satu tubuh. Jika satu disakiti, maka yang lain juga akan menderita. Tapi ukhuwah yang benar hanya atas nama Allah SWT. Itulah ukhuwah atau persaudaraan yang merupakan sendi pokok untuk membangun tatanan masyarakat Muslim yang kokoh. Tatanan masyarakat Islam yang kokoh merupakan cita-cita kita semua dimana Islam sebagai Rahmatan lil ‘alamin akan benar-benar terwujud.

Rasulullah mengajarkan kepada kita ummatnya untuk saling mengasihi dan mencintai sesama muslim. Konteks persaudaraan dalam Islam tidak hanya lantaran kita memiliki hubungan darah, namun persaudaraan sesama akidah jauh lebih utama. Itu artinya, negara yang di sana ada yang mengucapkan kalimat syahadat, maka di sanalah saudara-saudara kita. Maka, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang ditimpa musibah dan bencana seperti yang saat ini dialami oleh muslim Palestina.

Bantuan bisa kita berikan berupa doa yang khusyu’ kepada Allah, meminta kepada-Nya agar saudara-saudara kita diberikan ketegaran hati dan senantiasa dalam lindungan-Nya; memberikan donasi berupa materi dan dukungan moril; serta langsung membantu mereka berupa pelayanan medis dan sebagainya.

Maka oleh sebab itu, mari kita kikis sifat acuh kita agar kita peduli kepada saudara-saudara kita di Palestina. Saat ini kita mungkin asyik duduk di ruang ber-AC, menonton channel televisi kesayangan, dan berbincang dengan keluarga kita. Sementara di sana, di Gaza Palestina mereka tengah meradang berjuang mempertahankan tanah air mereka.

Wallahu’alam.

Sumber:
http://www.atjehcyber.net
http://aa-ukhuwah.blogspot.com/2009/09/muslim-satu-dengan-muslim-yang-lain-itu.html
http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/11/serangan-israel-di-palestina-saat-tahun.html
http://www.mediaindonesia.com/read/2012/11/20/364182/39/6/Korban-Tewas-Serbuan-Israel-jadi-110-Orang
http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/12/11/20/mdrude-antara-israel-gaza-dan-hamas-2

Arigatou Minakata Jin

Cover of Jin by google.com

DESCRIPTION:

Episode: 22 episode
Broadcast Date: 2009.10.11-2009.12.20 until 2011.04.17-2011.06.26
Cast: Takao Osawa / Haruka Ayase / Miki Nakatani / Masaaki Uchino
Category: Family / Medical / Mystery/Thriller / Romance / Tearjerker /

PROLOG

Pada kesempatan ini, saya ingin bercerita tentang sebuah dorama (drama Jepang) yang menurut saya sangat bagus dan memiliki pesan kehidupan yang sangat dalam. Sebelum itu, saya ingin menyampaikan sebuah pesan singkat dari teman saya tentang sastra. Saya akan kutipkan kata mutiara itu untuk kita semua.

“Filsuf memahami dunia. Ilmuwan kemudian mengartikannya. Cendekiawan mengubah dunia. Tetapi apa yang didapat dari sastrawan dan seniman sejati? Mereka akan setia bersamamu kawan. Sastra memanusiakan manusia. Dengan sastra, kita bisa memberi arti pada sebuah makna.”

Film atau drama merupakan produk sastra dalam bentuk audio dan visual. Jelas, kisah yang diangkat dalam drama merupakan kisah rekaan yang mungkin saja terjadi di dunia nyata. Namun, cerita pada sebuah fiksi bukan berarti sebuah kisah yang hambar dan tidak memiliki nilai apa pun untuk kemudian kita ambil sebagai pembelajaran hidup.

Saya beruntung, dari kecil saya sudah mengenal sastra. Saya sudah akrab dengan bacaan seperti cerpen dan novel. Bahkan dulu, ketika duduk di bangku sekolah dasar, saya memiliki sebuah buku yang berisi kumpulan-kumpulan puisi yang ditulis oleh seorang anak yang tidak mengetahui teori sastra, seorang anak yang hanya berusaha menuangkan makna yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan. Namun sayang, buku kumpulan puisi itu hilang dan entah dimana. Saya menyesal karena tidak dapat menjaganya dengan baik.

Baik, kita kembali ke topik utama kita tentang dorama Jepang yang berjudul Jin. Jujur saya katakan, ini adalah dorama terbaik yang pernah saya tonton. Kendati menggunakan subtitle bahasa Inggris, bagi saya tidak masalah. Saya bisa menikmati fiksi dan sekaligus belajar bahasa Inggris. Beberapa kosa kata yang belum pernah saya dengar, kemudian saya catat dan saya hapal.

Entahlah, saya sebetulnya bingung sendiri ketika saya larut menikmati dunia fiksi seperti novel dan film/dorama. Ada semacam perasaan yang mendorong saya turut ambil bagian dalam kisah tersebut. Ah, mungkin karena memang saya sudah terlalu lama berinteraksi dengan sastra.

Dorama Jin mengisahkan tentang seorang dokter bernama Minakata Jin yang terjatuh dari gedung rumah sakit hingga kemudian ia koma. Masa koma tersebut memaksa Minakata Jin memasuki alam bawah sadar menuju pada sebuah dimensi yang berbeda. Sebuah dimensi yang belum pernah ia jumpai sebelumnya, yaitu ia kembali ke zaman Edo (sebutan nama Tokyo zaman itu) pada tahun 1862.

Minakata Jin di zaman Edo

Kisah Minakata Jin dimulai ketika ia harus penyaksikan pertarungan samurai di sebuah semak belukar di malam hari. Ia melihat dengan kedua matanya bahwa di depannya, ada seorang samurai yang kepalanya ditebas oleh pedang hingga membuat samurai tersebut tidak bisa berbuat apa-apa. Menyaksikan tragedi tersebut, secara naluriah sisi humanisme Minakata Jin pun terpanggil untuk menyelamatkan samurai yang bernama Tachibana Kyotaro. Minakata Jin pun membawa Kyotaro-san ke rumahnya dan menyelamatkan nyawanya dengan operasi yang menggunakan peralatan sederhana.

Tentu menjadi tantangan bagi Minakata Jin sebagai seorang dokter yang hidup di era teknologi canggih, namun harus dihadapkan dengan tantangan untuk menyelematkan nyawan di zaman Edo yang minim fasilitas dan teknologi kedokteran.

Masyarakat Edo pun masih asing ilmu kedokteran sehingga masyarakat Edo merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Minakata Jin. Orang yang pertama kali mendukung cara pengobatan Minakata Jin adalah adik perempuan dari Kyotaro-san yaitu Saki-sama. (Aha, Saki-sama yang diperankan oleh Haruka Ayase sangat baik. Saya masih terkesima dengan aktingnya dalam film Cyborg-she)

Arigatou sensei! -Saki

Keberhasilan operasi yang dilakukan Minata Jin dan dibantu oleh Saki-sama terhadap Kyotaro-san didengar oleh banyak orang. Sejak peristiwa itu, berbagai tantangan berkaitan dengan pengobatan memaksa Minakata Jin untuk menyelesaikannya dengan baik. Mulai dari mengoperasi ibu dari Kicchi-san, mengobati penyakit kolera, mengoperasi tumor Nokaze-san, sivilis, mengatasi penyakit beri-beri yang menyerang banyak masyarakat Edo, dan bahkan sampai mengobati orang yang nyaris merenggut nyawanya. Tapi beruntung Minakata Jin tidak berjuang sendirian. Ia dibantu oleh sahabat-sahabatnya untuk mengatasi setiap tantangan yang terjadi.

“God only gives us challenges. So we can overcome them.” – Minakata Jin

Minakata Jin yakin bahwa setiap tantangan yang ia hadapi, pasti dapat ia atasi dengan baik. Apalagi ia memiliki sahabat dan orang-orang yang di sekitarnya yang mendukung dan mencintainya dengan sepenuh hati. Kendati, kerap kali ia dihantui perasaan gusar, sebetulnya apa alasan ia dikirim ke zaman Edo? Mungkinkah kehadiran ia di zaman tersebut menjadi syarat agar kekasihnya Miki bisa sadar dari komanya? Namun, ia akhirnya sadar bahwa ia kembali ke zaman Edo untuk mengubah masa depan dan hari esok yang lebih baik lagi. Walaupun kadang ia sendiri ragu dengan apa yang telah ia kerjakan. Namun, karena melihat semangat dan senyum tulus dari sahabat-sahabatnya, ia pun memiliki keyakinan penuh untuk mengubah sejarah Jepang menjadi lebih baik lagi.

Kondisi pelik di zaman Edo tidak hanya lantaran masalah kesahatan. Saat itu suasana Jepang berada dalam kondisi pada masa kekuasaan Keshogunan Tokugawa yang diambang kehancuran yang ditandai dengan Restorasi Meiji.

Menonton dorama ini, kita seakan diajak untuk kembali ke masa silam yaitu di zaman Edo. Apalagi diiringan dengan instrument musik Jepang yang sangat indah sehingga kita begitu menikmati setiap peristiwa yang terjadi di zaman tersebut.

Saki: “Sensei… Look at sunset.. Very beautiful right?”

Kadang, tulang saya terasa ngilu ketika menyaksikan operasi yang dilakukan Minakata Jin dan sahabatnya dengan hanya mengandalkan peralatan operasi seadanya. Terlebih ketika scene Nokaze-san yang harus dicaesarr tanpa mengggunakan anesthesia. Bagi saya itu sangat dramatis dan membuat saya tertarik dengan dunia kedokteran. Kadang saya berpikir, apakah di dunia ini masih banyak dokter yang memiliki visi dan semangat seperti Minakata Jin, Saki-sama, dan sahabat-sahabatnya.

Lega sekali ketika operasi berjalan dengan sukses. Terlihat dengan jelas raut wajah senang memancar dari wajah Minakata Jin dan sahabat-sahabatnya. Saya kagum dengan dokter. Mereka bisa menolong orang lain dengan sepenuh hati kendati dalam perasaan tertekan sekalipun. Saya berharap, saya sangat berharap masih ada dokter-dokter seperti Minakata Jin, Saki-sama, dan Saburi-san. Rasanya indah sekali jika dunia ini diisi oleh orang-orang baik dan senantiasa berbuat baik.

***

Sebuah drama tidak lengkap rasanya jika tidak ada kisah cinta di dalamnya. Drama Minakata Jin juga mengisahkan ketulusan hati Minakata Jin terhadap kekasihnya Miki yang terbaring koma di masa depan. Namun di zaman Edo; tempat ia berada sekarang, ada seorang gadis yang begitu tulusnya mencintai Minakata Jin yaitu Saki-sama. Namun, Saki-sama tidak mengungkapkan apa yang ia rasa. Ia hanya memendam perasaan tersebut dalam-dalam. Saki-sama mengetahui secara persis bahwa cinta Minakata Jin terhadap Miki sangatlah besar. Maka yang bisa ia lakukan hanyalah memberikan cinta terbaik yang ia miliki untuk kebahagiaan Minakata Jin. Bukankah cinta itu tanpa syarat? Maka berkorbanlah untuk yang kita cintai, karena prinsip cinta itu memberi, bukan diberi.

Di akhir cerita, Minakata Jin harus kembali ke zamannya di masa depan. Padahal saat itu adalah saat-saat tersulit. Saki-sama nyaris tidak bisa diselamatkan akibat bakteri yang terus menggrogoti lengannya. Tapi beruntung, Kyotaro-san menemukan botol obat disinfektan yang dibawa oleh Minakata Jin ketika pertama kali terlempar dari masa depan ke zaman Edo.

Dokter Minakata Jin pun sadarkan diri. Ia terbangun dari tidurnya yang panjang. Betapa kagetnya, ia melihat peralatan-peralatan kedokteran yang canggih dan orang-orang yang dikenalnya di masa depan. Ya, dokter Minakata Jin kembali ke masa depan. Lantas bagaimana dengan kondisi kesehatan Saki-sama di zaman Edo? Rasa penasaran yang membuncah dihati Minakata Jin membuat ia mencari literasi tentang sejarah kedokteran Jepang. Ia pun menemukan literasi yang menuliskan bahwa kedokteran di zaman Edo berkembang berkat semangat Njinyo-do yang tidak lain sahabat-sahabat dari Minakata Jin. Air mata taksanggup lagi ia bendung. Ia pun menangis bahagia karena mengetahui sejarah Jepang terutama di dunia kedokteran berkembang pesat.

Never ending fighting!

Dalam suasana hati yang bercampur baur; sedih, senang, dan gelisah ia pun berkunjung ke sebuah rumah Tachibana di kota Tokyo yang dulu menjadi tempat tinggal Saki-sama dan keluarga Tachibana. Dan yang mengagetkan, ternyata Miki-san, kekasihnya merupakan penerus keluarga Tachibana.

Recommendation:

Untuk siapa saja yang membaca tulisan saya ini, saya sangat merekomendasikan kalian semua untuk menonton drama ini. Drama ini menyentuh sisi kemanusiaan kita; mengajarkan kita tentang filosofis kehidupan, dan kita bisa belajar banyak dari sikap orang Jepang yang sangat bersemangat dalam tolong menolong satu sama lainnya. Jujur saya katakan, saya meneteskan air mata berkali-kali saat menonton drama ini.

Drama ini layak ditonton oleh semua kalangan, terutama mahasiswa kedokteran atau orang-orang yang bergerak di bidang kesahatan. Bahwa pengabdian kalian sebagai seorang tenaga medis itu adalah sebuah kehormatan. Bukan materi yang dicari, tapi investasi jangka panjang. Yakinlah, kebaikan yang saat ini kita lakukan akan terus kita rasakan manfaatnya. Selamat menikmati.
Visit the site: http://www.tbs.co.jp/jin-final/

Ganbarimashou, Yume-san!

Perlu Inovasi Baru dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah

Laporan oleh: Mahfud Achyar

Kami Cinta Bahasa Indonesia (Sumber: google)

Banyak orang yang beranggapan bahwa pelajaran bahasa dan sastra Indonesia merupakan mata pelajaran yang gampang. Bahkan, tidak jarang banyak siswa-siswa yang menganggap remeh bahasa dan sastra Indonesia sehingga kerap kali tidak terlalu antusias untuk memahami betul bagaimana bahasa dan sastra Indonesia.

Padahal sebenarnya, jika dipelajari lebih dalam, pelajaran bahasa dan sastra Indonesia cukup sulit. Buktinya, masih banyak siswa yang mendapatkan nilai yang tidak bagus pada mata pelajaran ini. Bahkan, banyak siswa yang tidak lulus ujian nasional lantaran gagal pada ujian bahasa dan sastra Indonesia.

Fenomena tersebutlah yang diangkat pada Seminar Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia yang merupakan acara pembuka pada kegiatan Pekan Chairil yang diselenggarakan Gelanggang Himpunan Sastra Indonesia di aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Fakultas Sastra, Jl. Raya Bandung-Sumedang KM 21 Jatinangor, Senin (19/04).
Pada seminar tersebut yang menjadi narusumber yaitu penulis buku dan guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Santa Maria 1 Cirebon, JS. Kamdhi, editor buku dan alumnus Sastra Indonesia Unpad, Aminudin, dan dimoderatori oleh Ryan yang juga merupakan alumnus Sastra Indonesia Unpad.

Di samping itu, seminar yang dibuka dengan persembahan musikaliasi puisi oleh mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2009 ini turut dihadiri oleh Pembantu Dekan III Fakultas Sastra, Budi Rukhyana, Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Baban Banita, M.Hum, tamu undangan dari berbagai sekolah, mahasiswa Unpad serta peserta umum.

Dalam sambutannya, Baban Banita menyampaikan rasa bangga kepada panitia penyelenggara kegiatan Pekan Chairil. Menurutnya, acara ini sebagai wujud kepedulian mahasiswa terhadap perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Pada bulan April ini, sebenarnya ada dua tokoh yang berpangaruh di Indonesia yaitu R.A Kartini dan Chairil Anwar. Namun, tidak banyak orang memperingati hari berpulangnya tokoh sastrawan yang menjadi tokoh pembaharu dalam perkembangan sastra di Indonesia yaitu Chairil Anwar, ungkap Baban.

Ditambahkan Baban, melalui berbagai acara pada Pekan Chairil terutama seminar ini mampu memberikan sebuah solusi kepada guru-guru bahasa dan sastra Indonesia agar senantiasa melakukan inovasi-inovasi untuk mengembangkan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah.

Aminudin menilai pengajaran bahasa dan sastra Indonesia kurang berkembang di sekolah lantaran penyampaian materi pelajaran yang monoton dan hanya bersifat satu arah. Sehingga, indikator keberhasilan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia hanya dilihat dari segi nilai ujian. Padahal, ada dua aspek yang penting dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yaitu aspek hiburan dan kebermanfaatan.

Sebagian besar guru bahasa dan sastra di sekolah sangat kurang memperkenalkan sastrawan dan ahli bahasa kepada siswa. Tidak heran jika kemudian wajar jika banyak siswa tidak mengenal sastrawan dan ahli bahasa. Padahal, informasi berkaitan dengan sastra dan bahasa merupakan pengetahuan yang harus dimiliki siswa di setiap jenjang pendidikan di sekolah.

Sementara itu, JS Kamdhi memaparkan inovasi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang bisa diterapkan guru-guru di sekolah. Pengalaman 28 tahun menjadi guru membuat saya yakin bahwa internalisasi merupakan strategi pemberdayaan murid sangat efektif. Hal ini karena strategi internalisasi sejalan dengan konsep belajar kontekstual yaitu sinkronisasi antara mata pelajaran (dunia ideal) dengan situasi kehidupan para murid (dunia nyata), papar Kamdhi.

Lebih lanjut, Kamdhi juga menjelaskan bahwa pada proses internalisasi akan terjadi proses pempribadian dan pembudayaan karena murid termotivasi untuk menghubungkan pengetahuan dan terapannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka media yang merupakan strategi pembelajaran yang efektif dan komprehensif adalah diktat, buku, serta lembaran kerja siswa.

Hampir senada dengan Kamdhi, Aminudin pun memberikan beberapa inovasi dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yaitu dengan cara memperkenalkan siswa-siswa kepada kegiatan-kegiatan komunitas kebahasaan dan kesastraan yang ada di daerah masing-masing. Dengan begitu, diharapkan siswa mendapatkan input lain yang berbeda dengan yang mereka serap selama di sekolah.

Menanti Lembaga Pers Mahasiswa Independen Tingkat Universitas

Pers diyakini merupakan kekuatan keempat dalam demokrasi selain tiga kekuatan lain, yakni kekuasaan eksekutif, legislatif, dan judikatif. Sebagai pilar demokrasi, keempatnya bekerja dalam satu sistem yang memiliki hubungan saling mengawasi. Keempatnya secara normatif bekerja untuk kepentingan rakyat sebagai dasar dari eksistensi demokrasi?.

Hal tersebut dijelaskan aktivis pers, Rum Aly saat mengisi seminar jurnalistik yang digelar BEM Kema Unpad periode 2008-2009 di Aula PSBJ, Fakultas Sastra Unpad beberapa waktu lalu. Pada seminar jurnalistik tersebut, Rum juga menjelaskan bahwa peran pers yakni sebagai media untuk menyampaikan gagasan dan kontribusi pemikiran untuk dilontarkan ke tengah publik sebagai bagian dari upaya menekan dan mengontrol kebijakan pemangku kekuasaan, termasuk pers mahasiswa.

Sementara itu, eksistensi Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) merupakan salah satu indikator apakah demokrasi di tataran mahasiswa berlangsung dinamis. Di Unpad sendiri, model dengan skala lebih luas adalah penerbitan yang dilakukan di tingkat universitas. Menurut Rum, sebenarnya Unpad dulunya pernah memiliki LPM di tingkat universitas. ?Kampus Universitas Padjadjaran pernah memiliki Gema Padjadjaran pada akhir tahun 1960 hingga awal 1970-an sampai menjelang meletusnya peristiwa 15 Januari 1974. Kemudian, setelah peristiwa itu lahirlah Aspirasi. Keduanya diterbitkan di bawah naungan Dewan Mahasiswa (Dema,red) atau lembaga mahasiswa internal kampus dengan supportasi otoritas kampus.

Namun jika berkaca dengan melihat kondisi saat ini, LPM tingkat universitas di Unpad nyatanya turut hilang sejalan dibubarkannya Dewan Mahasiswa. Kendati demikian, menurut Wakil Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Kema Unpad, Pratiwi menyatakan bahwa Kema Unpad mencoba merintis kembali agar terbentuknya LPM independen di tingkat universitas.

?Inisiasi pembentukan LPM tingat universitas sebenarnya telah tercetus sejak tahun 2006 pada masa kepengurusan BEM Kema Unpad yang dipimpin oleh Tubagus Ridwan. Hal tersebut merupakan rekomendasi kongres jangka panjang yang semestinya telah terwujud pada kepengurusan Gena Bijaksana. Sebenarnya, pembentukan LPM tersebut bukanlah semata tugas BEM semata, melainkan juga tugas BPM. Akan tetapi, hingga saat ini tugas tersebut belum terwujud karena beberapa kendala,? ungkap Pratiwi.

Departemen Komunikasi dan Informasi, BEM Kema Unpad yang berperan sebagai fasilitator pembentukan LPM dalam praktiknya ternyata mengalami kesulitan untuk menghimpun minat mahasiswa Unpad yang tertarik menggeluti kegiatan jurnalistik. ?Beberapa upaya telah kami lakukan untuk memfasilitasi terbentuk LPM tingkat universitas dengan cara; mengadakan forum komunikasi, penyebaran opini publik melalui propaganda, dan mencoba merumuskan konsep LPM bersama rekan-rekan yang telah bergiat di LPM di tingkat fakultas. Namun hasilnya, pada tahun kemarin kami belum mampu untuk mewujudkan LPM tingkat universitas,? ujar Menteri Komunikasi dan Informasi BEM Kema Unpad, Aisha Shaidra.

Menanggapi pernyataan yang disampaikan Aisha, Pratiwi menilai bahwa belum terbentuknya LPM universitas lantaran kurang optimal dan intensnya forum komunikasi yang dilakukan BEM terhadap mahasiswa Unpad yang tertarik menggeluti pers. ?Sebenarnya, jika dikomunikasikan dengan lebih intens dan tidak sekadar mengkaji saja, saya pikir hal tersebut akan terwujud,? kandas Pratiwi. Akan tetapi, Pratiwi juga menyadari bahwa pembentukan LPM universitas bukanlah pekerjaan yang mudah. Perlu tahap-tahapan yang lebih matang agar nantinya LPM universitas yang dibentuk merupakan LPM yang benar-benar independen. Oleh karena itu, BEM dan BPM hingga saat ini terus berupaya agar LPM universitas bisa terwujud pada tahun ini.

LPM haruslah independen

Wacana pembentukan LPM tingkat universitas ternyata mendapat perhatian khusus di kalangan mahasiswa Unpad sendiri. Dani Ferdian misalnya, mahasiswa FK Unpad 2007 ini menuturkan bahwa ia mengetahui adanya wacana pembentukan LPM tingkat universitas. Ia juga menilai bahwa LPM tingkat universitas dirasa perlu keberadaannya karena LPM bisa dijadikan wadah mahasiswa beropini dan menyampaikan gagasannya yang tertuang dalam tulisan terkait isu-isu yang tengah berkembang, baik isu internal maupun eksternal kampus. Akan tetapi menurut Dani, LPM haruslah menjunjung nilai-nilai jurnalistik dan bersifat independen. ?Karena jika LPM, apalagi di tingkat universitas tidak independen, LPM tersebut bisa saja ditunggangi oleh berbagai kepentingan yang dampaknya, pemberitaan dalam media LPM tersebut bertendensi kepada pihak yang berkepentingan,? ujar Dani.

Lebih lanjut, Dani juga menjelaskan bahwa kehadiran LPM merupakan sarana baru pergerakan mahasiswa selain gerakan kultural ke arah gerakan intelektual yang berbasis intelektualitas sebagai mahasiswa.

Setali tiga uang dengan apa yang dikatakan Dani, Pratiwi pun memandang kehadiran LPM sebagai kebutuhan mahasiswa untuk mendapatkan informasi dan wawasan. ?Universitas lain punya LPM tingkat universitas. Sebut saja UI dengan medianya Suara Mahasiswa, UGM yang terkenal dengan Balairung, dan Universitas Negeri Padang dengan Ganto. Kendati demikian, sebenarnya kita memiliki LPM di tingkat fakultas seperti; Djatinangor (Fikom), Polar (Fisip), Medicinus (FK), dan yang lainnya. Tapi menurut saya, perlu adanya LPM tingkat universitas agar bisa membawa nama Unpad di kancah pers mahasiswa se-Indonesia,? papar Pratiwi.

LPM tingkat fakultas yaitu Djatinangor ketika dimintai keterangan terkait tawaran beberapa pihak agar Djatinangor naik menjadi LPM tingkat universitas menyampaikan bahwa ketika LPM fakultas sudah mampu mencakup pemberitaan untuk tingkat universitas, keberadaan LPM tingkat universitas tidak begitu perlu. Karena tidak melulu LPM tingkat fakultas mengangkat berita tentang fakultasnya saja.

?Menjadi LPM universitas? Sudah sering kali hal itu ditawarkan kepada kami. Namun, kami sebagai catatan bebas mahasiswa merasa hal itu belum perlu. Karena kami selalu berusaha untuk tetap menjaga ke-independen-an kami dalam menyampaikan berita secara jujur tanpa ada intervensi dari pihak manapun,? ujar Pemimpin Umum Djatinangor, Rini yang dilansir via surat elektronik.

Sementara itu, BEM Kema Unpad terus berupaya agar pembentukan LPM tingkat universitas di Unpad terwujud tahun ini. ?Alhamdulillah, sudah ada beberapa orang yang menawarkan diri untuk menjadi insiator pembentukan LPM tingkat universitas. Harapan kami merekalah nantinya yang akan menjadi founding father LPM universitas dan mendekrasikan diri ketika kongres Kema Unpad mendatang,? ungkap Aisha. (Dimuat di media Interval21)

Mahasiswa Unpad Peduli Banjir Jatinangor

Laporan oleh: Mahfud Achyar

foto 016
Salah seorang masyarakat memeriksakan kesehatannya

 

[Unpad.ac.id, 17/01) Banjir yang melanda desa Cikeruh, Jatinangor pada Rabu (6/01) lalu, mengakibatkan beberapa rumah tergenang bahkan ada yang terbawa arus air. Damah (59 tahun) warga RW 09, merupakan salah satu korban yang merasakan dampak tersebut. Wanita paruh baya yang tinggal sendirian itu harus mengikhlaskan nasib rumah panggung milikinya yang terbawa arus banjir.

Menanggapi bencana yang terjadi di kawasan Unpad Jatinangor, Departemen Pengabdian Masyarakat BEM Kema Unpad melalui Tim Kordinasi Penanggulangan Bencana (TKPB) melakukan penggalangan dana untuk membantu korban banjir. Total dana yang terkumpul sebesar Rp. 500rb dan langsung disalurkan kepada korban berupa mie instan, obat-obat, beras, dan sebagainya.

Tommy Frahdian, anggota TKPB menjelaskan bahwa dana tersebut dihimpun dari mahasiswa Unpad. “Kami menggalang dana hanya selama dua hari di gerbang kampus. Alhamdulillah, walaupun dana yang terkumpul tidak banyak. Tapi kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa Unpad yang masih peduli dengan bencana yang terjadi di Jatinangor.”

Selain aksi penggalangan dana, TKPB juga mengadakan pengobatan gratis di Desa Cikeruh (17/01). Acara ini dimulai pada pukul 09.00 hingga 15.30 WIB. Masyakat pun antusias mengikuti pengobatan gratis ini. Setidaknya 85 orang datang untuk memeriksakan kesehatannya. Rata-rata penyakit yang dikeluhkan oleh masyarakat adalah asam urat, diare, dan reumatik. Namun ada juga mengeluh karena masih merasa trauma. Damah misalnya, semula ia mengakui tidak mengalami sakit apa-apa. Tapi sejak bencana banjir ia mengalami trauma dan suhu tubuh yang panas dingin.

Supiyan, Menteri Pengabdian Kepada Masyarakat BEM Kema Unpad puas karena kegiatan pengobatan gratis ini berjalan sukses. “Saya senang acara ini mendapat respon postif dari berbagai pihak. Bahkan ketua RW 09 pun hadir pada kegiatan ini dan memfasilitasi rumah beliau sebagai tempat pengobatan gratis. Walaupun pada pengobatan gratis ini tenaga dokternya hanya satu orang, tapi kegiatan ini berjalan lancar. Saya berharap semoga kita selalu peduli terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, Tutup Iyan.

Farhan: Public Speaking Itu Mudah

Menjadi seorang public speaking itu harus percaya diri. Begitulah pernyataan Farhan atau yang lebih akrab disapa mas Farhan. Karena menjadi public speaking tentunya akan berhadapan dengan orang banyak dan harus memberikan performa yang baik.

Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini. Wajahnya tak asing lagi di layar kaca. Kerap mengisi berbagai program acara, menjadi model iklan, dan sebagainya. Namun, dari sekian banyaknya kegiatan yang digelutinya, Farhan lebih menyenangi sebagai presenter tv. Pria kelahiran 25 Februari 1970 ini merupakan alumnus Fakultas Ekonomi, Universitas Padjadjaran, Bandung tahun 1995.

(13/11/09) kemarin, ketika Farhan mengisi talkshow tentang public speaking di kampus Universitas Padjadjaran, kru interval21 berhasil mewawancarai beliau. Berikut petikan wawancara kru interval21 dengan Farhan.

Farhan

Mas Farhan, bisa diceritakan bagaimana kisah karier mas Farhan hingga bisa sukses seperti sekarang?

Saya awal berkarir ketika melamar sebagai penyiar di radio KLCBS pada tahun 1993. Eh, diterima sebagai script writer. Hingga tahun 1997, saya tidak siaran radio sama sekali. Nah, pada tahun 1997, saya baru siaran radio Mustang FM, Jakarta. Lalu, pada tahun 2004, saya pindah ke Trijaya. Tahun 2008 hingga sekarang, saya menjadi penyiar radio Delta FM di enam kota yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Makasar, Medan, dan Manado. Kalau karir di televisi, saya memulainya pada tahun 1994 sebagai penulis dalam acara ulang tahun Anteve. Setelah itu, saya menulis lagi untuk acara yang bernama Spesial Paket Telor bersama-sama teman dari Unpad dan satu orang dari ITB. Setelah jadi pembawa acara di RCTI, SCTV, dsb dan terus berkelana sampai sekarang.

Mengapa lebih tertarik dengan dunia public speaking?

Karena public speaking lebih mudah, lebih mudah dilaksanakan, dan lebih mudah dijual. Hehehe

Oya, selain sebagai public speaking, mas Farhan juga dinobatkan sebagai duta anti narkoba, bagaimana pandangan mas Farhan terhadap generasi muda dan narkoba?

Saya pikir, generasi muda sekarang lebih pintar karena bagaimanapun juga, people skill adalah suatu hal yang penting untuk kita. Belajar mengatakan tidak kepada narkoba. Di sini masalahnya, tahu atau tidaknya narkoba, tapi masalah mau atau tidaknya mengatakan tidak. Itu yang lebih penting.

Terakhir, apa harapan mas Farhan untuk mahasiswa terutama mahasiswa Unpad?

Mahasiswa sekarang harus lebih daripada generasi saya. Mahasiswa Unpad harus menjadi lulusan yang punya wawasan internasional, prestasi minimal nasional, dan jangan terpentok dengan berpikir seperti pia batok.

16345_1276018218934_1184328032_1833024_6113548_n
Farhan dan Pengurus BEM Unpad

Peringatan Hari Ibu, Mahasiswa Bagikan Mahasiswa Kepada Masyarakat

Laporan oleh: Mahfud Achyar

http://www.detik.com

[interval21, 22/12] Bandung- Sekitar 13 orang anggota BEM Kema Unpad melakukan aksi simpatik dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-81 di depan Gedung Sate. Dalam aksinya, massa membawa spanduk ‘Ibu, Kau pahlawanku. Kau selalu di hatiku’ seraya menyanyikan lagu ‘Kasih Ibu’.

Aksi yang dimulai pukul 10.35 WIB itu mendapatkan respon positif dari salah seorang anggota dewan komisi C DPRD Jabar, Ine Purwadwi. “Saya sangat berterima kasih atas perhatian teman-teman mahasiswa terhadap kaum ibu. Permasalahan tentang kaum ibu masih banyak. Semua itu tanggung jawab kita bersama. masih ada PR-PR yang harus diselesaikan,” tutur Ine.

Sementara itu, Kantry Maharani, kordinator aksi menjelaskan bahwa pembagian bunga ini sebagai simbol betapa ibu begitu berharga dan sangat berjasa.Kami membagikan pita hitam putih sebagai simbol atas kondisi yang terjadi pada kaum ibu. Pita putih menunjukkan kemulian ibu, sedangkan pita hitam adalah sisi gelap kematian ibu yang angkanya masih tingi.

“Kami sangat menyayangkan terhadap kondisi kaum ibu di Indonesia. Seharusnya masalah ini teratasi. Saya berharap adanya pemerataan fasilitas kesehatan di Indonesia dan pemerintah seharusnya lebih concern menuntaskan masalah ini. Karena kaum ibu adalah salah tonggak pembangun peradaban untuk Indonesia yang lebih baik,” jelas Kantry.

Aksi berakhir tertib pada pukul 11.05 WIB. Setelah melakukan aksi simpatik, massa bergerak ke BIP sembari membagikan bunga, puisi, dan pita sepanjang perjalanan.

School of Leader II, Demi Indonesia yang Lebih Baik

Laporan oleh: Mahfud Achyar (BEM Kema Unpad)

1916070_1257498607856_3744664_n
Peserta SOL II

[Unpad.ac.id, 8/12] Mahasiswa diidentik sebagai kalangan yang memiliki idealisme tinggi. Namun, pada kenyataannya, ketika mahasiswa telah bergulat di tataran praktis dunia kerja, idealisme seakan menjadi barang yang sangat mahal. Ada yang mengatakan idealisme hanya berlaku di bangku kuliah saja.

Pernyatan tersebut disampaikan Dwi Nur Afandi, Direktur School of Leader II (SOL II), saat penyelenggaraan SOL II. Program yang digagas oleh BEM Kema Unpad kali ini mengusung tema “Youth, a Golden for Nation” dan mendapat antusias yang tinggi dari mahasiswa Unpad. Terbukti, peserta yang mendaftar SOL II ini berjumlah sekira 90 orang mahasiswa dari berbagai fakultas. Namun, yang lolos untuk mengikuti masa karantina yang diadakan di Rindam III Siliwangi, Lembang, pada 3-6 Desember 2009 lalu, hanya 40 orang.

Ketika ditanya tujuan acara SOL II ini, Dwi yang lulusan FMIPA Unpad angkatan 2005 ini menuturkan bahwa SOL II dirancang khusus untuk mencetak pemimpin masa depan yang mampu berkontribusi untuk negara dan almamater. Output dari kegiatan SOL II ini adalah, mahasiswa Unpad paham akan jati diri dan perannya sebagai mahasiswa. “Saya berharap lulusan SOL II mampu memberikan manfaat secara mikro, untuk Unpad dan makro, untuk bangsa dan negara,” jelas Dwi.

Sementara itu, Dita Juwitasari, mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan angkatan 2007 yang bertugas sebagai kordinator acara menjelaskan bahwa SOL II ini berbeda dengan SOL tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya, siswa SOL wajib hadir tiap pekan selama 10 minggu, namun pada SOL II ini panitia memadatkan kegiatannya menjadi empat hari. Mereka dikarantina dan diberi materi tentang leadership, ke-Unpad-an, nasionalisme, entreperneurship, pergerakan mahasiswa, advokasi, lobbying, dan sebagainya. Selain materi, siswa SOL II juga diberi simulasi berdasarkan materi yang mereka peroleh.

IMG_3208
Muhammad Ridwan Randika, FE 2007

Para peserta sendiri mengaku cukup puas mengikuti kegiatan ini. “Saya sangat senang dan bangga bisa mengikuti SOL II ini. Saya bisa belajar banyak hal, misalnya advokasi. Dulu, yang saya pahami tentang advokasi adalah bagaimana tujuan agar advokasi itu tercapai. Namun ternyata, advokasi itu hanya pendampingan. Sedangkan tujuannya hanya outcome saja,” tutur salah seorang peserta, M. Ridwan Randika, dari Fakultas Ekonomi angkatan 2007.

Selain itu, ia mengaku lebih mengerti apa itu nasionalisme dan kontribusi yang sesungguhnya. Ia ingin mengubah paradigma mahasiswa yang selama ini berpikir pragmatis. Mereka menilai bahwa hidup itu bicara untung dan rugi. “Nah, di SOL ini saya didik untuk rela berkorban dan menjadi pemimpin yang sesungguhnya,” ujar Ridwan.

Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia yang hadir pada kegiatan tersebut, menyambut baik kegiatan SOL II ini. Beliau berharap BEM Kema Unpad dan rektorat berkoordinasi dengan baik agar SOL menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya. Pada hari terakhir (6/12) seluruh siswa SOL II tersebut dilantik langsung Direktur School of Leader II dan disaksikan oleh beberapa perwakilan BEM Kema Unpad. (mar) *

Pekan Ilmiah Mahasiswa 2009 Ajang Kreatvitas Mahasiswa Unpad

SDC16551

 

Laporan oleh: Mahfud Achyar, Wartawan Majalah interval21 BEM Kema Unpad

[Interval21, 21/11] Untuk meningkatkan potensi mahasiswa dalam hal penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, BEM Kema Unpad mencoba menyuguhkan sebuah ajang kompitisi yang bertajuk PIM (Pekan Ilmiah Mahasiswa). Acara yang diadakan di Pusat Studi Bahasa Jepang, Fakultas Sastra ini mendapat antusias yang cukup tinggi di kalangan mahasiswa Unpad. Terbukti, jumlah peserta yang ikut dalam berbagai kategori lomba, seperti blog, LKIM (Lomba Karya Inovasi Mahasiswa), LKTM (Lomba Karya Tulis Mahasiswa), dan EDC (English Debate Contest) ini meningkat dibandingkan tahun kemarin.

Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Eti Suryani, mahasiswi Fakultas Geologi, yang bertindak sebagai penanggung jawab pada kegiatan PIM. Ketika ditanya tujuan kegiatan ini, Eti menjelaskan bahwa kegitan PIM ini dilaksanakan untuk mewadahi kreasi mahasiswa Unpad. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan sebuah bentuk aktualisasi mahasiswa Unpad untuk mendorong misi Unpad menjadi world class university.

Nisa Sofia, Mahasiswa Fakultas Keperawatan angkatan 2007, yang mengikuti lomba EDC, mengakui sangat senang bisa berpartisipasi dalam pekan ilmiah mahasiswa ini. “Walaupun tidak memenangi lomba EDC, tetapi saya bangga karena banyak sekali pengalaman yang saya peroleh pada kontes ini. Harapan saya, semoga tahun depan jumlah pesertanya semakin meningkat dan potensi-potensi luar biasa mahasiswa Unpad semakin tergali.

DSC07864

Peserta Lomba Blog Ilmiah (Kiri: Mahfud Achyar)

Fakultas Farmasi Unggul pada Tiga Kategori Lomba

Hampir lima puluh mahasiswa ikut dalam kegiatan PIM 2009 Ini. Dari empat kategori lomba, Fakultas Farmasi menggabet enam juara untuk masing-masing kategori. Yaitu LKIM juara 1 hingga juara III, LKTM juara 1 dan juara II, dan juara I untuk lomba blog. Sedangkan untuk kategori EDC, juara 1 digabet oleh Afian, Adipta, dan Jayanti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Selanjutnya, juara kedua diraih oleh Frisela, Noviyan, dan Ratu dari Fakultas Hukum. Sedangkan untuk juara ketiga LKTM digabet oleh Fakultas Keperawatan.

Ferry Kurnia Rizkiansyah: Independensi Adalah Harga Mati!

Ferry-ketua-KPU-Jabar-_insert

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun 2009 merupakan tahun yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, tahun ini merupakan momentum pemilihan umum (pemilu), untuk menentukan siapa yang berhak duduk di kursi pemerintahan. Pada bulan April, akan dilaksanakan pemilihan umum untuk memilih anggota legislatif. Selanjutnya, bulan Juli untuk memilih presiden dan wakil presiden Indonesia tahun 2009-2014. KPU (Komisi Pemilihan Umum) berperan andil untuk menyukseskan pemilu 2009. Mulai dari sosialisasi pemilu, sampai tataran teknis ketika pemilu berlangsung.

Tentunya, tidak mudah menjadi penyelanggara pemilu, seperti KPU. Butuh kerja keras dan independensi. Independensi adalah asas dasar yang harus dimiliki penyelenggara pemilu. Penyelenggara pemilu haruslah mandiri, dan harus terbebas dari kepentingan siapapun. Adalah FerryKurnia Rizkiansyah yang saat ini menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum Jawa Barat yang bertempat di Jl. Garut No. 11 Bandung. Sore itu, tepatnya hari Jumat (13/02/08), kru Interval 21 mendatangi beliau di kantornya. Saat kami mendatanginya, bapak dua anak itu menyambut kami dengan seulas senyuman.

Terpilihnya sebagai ketua KPU Jabar, berawal ketika beliau menjabat sebagai anggota KPU Jabar tahun 2008. Kemudian, di tahun yang sama, beliau terpilih sebagai ketua KPU. Alumnus Fisip Unpad angkatan 1993 ini menuturkan bahwa saat ini, KPU Jabar tengah sibuk mempersiapkan pemilu tanggal 9 April dan 8 Juli mendatang. Simak petikan wawancara Ferry Kurnia Rizkiansyah dengan kru Interval 21, Mahfud Achyar dan Soleh (Menteri Luar Negeri BEM Unpad).

Sejauh ini, bagaimana persiapan KPU Jabar untuk menyambut pemilu yang tinggal beberapa hari lagi?
Untuk pemilu 2009, sejauh ini persiapannya sudah 70 %. Sekarang kami sedang tahap penyediaan logistik pemilu untuk di tingkat pusat dan propinsi. Kami juga sedang memikirkan bagaimana mekanisme-mekanisme pengitungan suara di TPS (tempat penghitungan suara-red), dan mengoptimalkan sosialisasi kepada pemilih. Walaupun sampai saat ini sosialisasinya kurang optimal, tapi Insya Allah kami akan terus melakukan sosialisasi.

Lalu, apa saja tahapan-tahapan yang dilakukan KPU Jabar untuk menyosialisasikan pemilu?

Ada tiga strategi yang kami gunakan untuk menyosialisasikan pemilu. Pertama, kami menggunakan strategi komunikasi massa. Ini merupakan senjata pamungkas. Caranya dengan mempertemukan stake holder terkait dengan masyarakat pemilih. Kedua, publikasi massa. Baik media cetak, elektronik, poster-poster, baliho dan media publikasi lainnya. Ketiga, kami membangun jejaring dengan unsur pengusaha, agama, masyarakat, dan lainnya untuk membantu sosialisasi pemilu. Ketiga hal tersebut terus kami optimalkan. Walaupun support anggaran yang disediakan pemerintah masih kurang, tapi kami tidak mau terjebak dengan anggaran, dan tetap melakukan aktivitas yang optimal.

Berapa jumlah pemilih yang sudah terdaftar di KPU Jabar?

Untuk pemilu 2009 ini, sudah ada 29.040.000 pemilih. Ini mengalami kenaikan sekitar 1juta dibandingkan pemilihan gubernur kemarin yang berjumlah 20.099.072 pemilih. Jadi, ada satu juta kenaikan dan ini terdiri dari 83.359 TPS yang ada.

Bagaimana dengan golput? Mengingat, beberapa waktu yang lalu, MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa haram golput. Adakah pengaruhnya untuk meningkatkan jumlah pemilih?

Saya pikir, fatwa tersebut mungkin ada pengaruhnya terhadap umat Islam. Tetapi ada atau tidaknya fatwa, KPU berusaha bekerja optimal dan semoga persoalan orang tidak memilih/golput punya preferensinya masing-masing. Diharapkan adanya rasionalitas dalam memandang masalah ini. Ini bukan masalah memilih atau tidak memilih, tapi bagaimana kewajiban masyarakat pemilih untuk menyukseskan bangsa dan negara. Untuk menimalisir golput, saya pikir cara yang utama adalah sosialisasi. Yang kedua, setidaknya ada pemahaman-pemahaman dari masyarakat melalui jalur struktur kami. Baik di tingkat kabupaten, kota, PPK, PPS, ataupun KPPS. Selain itu, kami juga bekerjasama dengan instansi terkait, supaya memberikan pemahaman terhadap masyarakat, institusi, dan konsituen supaya menggunakan hak pilihnya. Kami tidak punya cara lain, selain mengotimalkan dari sisi administrasi. Jumlah pemilih harus sama dengan jumlah masyarakat yang sudah terdaftar sebagai pemilih.

Bagaimana KPU Jabar mempertahankan indepensinya sehingga tidak ada tendensi terhadap salah satu calon legislatif/partai politik?

Bagi saya, independensi adalah harga mati. Jadi tidak bisa ditawar-tawar lagi. Independensi menjadi asas dasar dari setiap penyelenggara, seperti KPU. Tendensi terhadap salah satu calon legislatif/parpol tidak boleh. Tidak untuk provinsi saja. Tetapi berlaku di tingkat kota, PPK, PPS, dam KPPS.

Kendala apa saja yang tengah dihadapi KPU Jabar?

Anggaran. Memang, kita butuh sekali anggaran untuk sosialisasi dan bimbingan teknis terhadap masyarakat. Kendala yang kedua adalah banyaknya aturan main yang sering muncul. Hal ini disebabkan karena kompleksitas masalah. Misalnya, terkait hasil keputusan yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi, dan semua itu harus diterjemahkan oleh KPU. Kemudian, kendala selanjutnya adalah wacana centang dua kali dari presiden dan sebagainya. Kami harapkan hanya kepastian saja.

Berapa jumlah caleg yang sudah terdaftar dan bagaimana tanggapan Anda tentang caleg muda yang banyak mewarnai pemilu di tahun ini?

Caleg yang sudah terdaftar di KPU Jabar untuk DPRD Propinsi sekitar 1551. Mereka akan bertarung untuk memperebutkan 100 kursi yang tersedia. Pemilu tahun ini banyak diwarnai caleg muda. Menurut saya pribadi, ini bagus. Ada nuansa lain dari proses pencalegan sekarang. Tapi yang peru dicatat adalah bahwa semangat muda harus betul-betul semangat pembaruan. Jangan sampai karena usianya muda saja. Bagi saya, tidak ada persoalan mau muda atau tua. Yang terpenting adalah kualitas. Mereka (caleg muda) harus melakukan hal untuk kepentingan masyarakat. Beban bagi caleg muda mungkin adalah, mereka tidak punya masa lalu. Makanya, perlu pengoptimalan kerja yang nyata.

Lalu, apa peran mahasiswa dalam pemilu?
Mahasiswa harus berperan aktif dalam pemilu. Jangan berdiam diri saja. Mahasiswa atau siapapun jangan hanya jadi penonton sejarah. Tetapi harus jad pelaku sejarah. Momen 2009 ini harus menjadi bagian penggerak pemilu. Nah, mahasiswa bisa menjadi agen sosialisasi, dan menggawangi/memagari hal-hal yang nantinya akan menimbulkan konflik, serta menjadi mediator antara masyarakat dan partai politik. Sehingga, peran mahasiswa sebagai agent of change/social control betul-betul bisa di laksanakan. Mahasiswa harus jadi pelaku sejarah.

Terakhir, apa harapan Anda terhadap pemilu 2009?
Harapan saya semoga pemilu berjalan lancar, aman, tertib, demokratis dan sesuai harapan tentunya. Kemudian, sinergitas yang terjadi antara KPU, masyarakat, pemerintah, partai politik untuk menyukseskan pemilu. Masyarakat harus memanfaatkan hak pilihnya sebagai bentuk partisipasi poltik terhadap negara. Dalam pemilu, memilih itu adalah hak. Tetapi kewajiban kita adalah membangun bangsa dan negara ini agar menjadi lebih baik. Diharapkan ini betul-betul diwujudkan dengan memilih pada tanggal 9 April mendatang. (Mahfud Achyar)

*(Tulisan di atas masih jauh dari kesempurnaan. Harap diperbaiki demi kualitas yang baik untuk Interval 21. Terima kasih)

Menemukan Kembali Ruh Humanistik Mahasiswa

Bingkai Realitas Pemuda Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang jumlah penduduknya terbanyak di dunia. Sekitar 250 juta penduduk. Jika diamati menggunakan piramida kependudukan Indonesia, ternyata rasio perbandingan jumlah usia tua dan usia muda sangat timpang. Piramida kependudukan di Indonesia menyatakan bahwa jumlah penduduk yang berusia muda lebih banyak dibandingkan usia tua. Itu artinya, Indonesia memiliki potensi luar biasa sebagai negara maju karena sumber daya manusia muda yang banyak. Lantas, apakah kondisi yang demikian membuat kaum muda Indonesia dapat diandalkan demi pembangunan bangsa?

Jika kita cermati dengan kaca mata realitas, nyatanya hingga kini kaum muda Indonesia belum mampu sepenuhnya memberikan konstribusi yang nyata bagi bangsa ini. Sekarang yang jadi pertanyaan, kenapa kondisi ini bisa terjadi? Menurut hemat saya, ada beberapa faktor yang menjadi kendala dalam mengoptimalkan produktivitas kaum muda di Indonesia.

Logika sederhana seperti ini, untuk menghasilkan karya-karya yang besar tentunya kita harus mempersiapkan bekal agar karya kita menjadi lebih berguna bagi kemashlatan bersama. Lalu, bagaimana cara kita untuk mempersiapkan bekal itu? Salah satu caranya dengan belajar. Nah, apakah belajar harus di lembaga pendidikan atau tidak? Menurut Thursan Hakim, belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan.

Menurut saya, belajar adalah salah satu faktor utama kenapa kaum Indonesia kurang produktif, kurang cakap, kurang tanggap, dan sebagainya. Padahal, Dinas Pendidikan Nasional telah menetapkan wajib belajar minimal sembilan tahun. Tapi nyatanya, himbauan tersebuat tak jua mampu meningkatkan kapabilitas intelektual, emosional, dan spritual kaum Indonesia.

Pertanyaan yang cukup menggelitik saya adalah sebenarnya apa yang salah dengan kaum muda Indonesia sehingga tak menjadikan belajar sebagai langkah-langkah untuk pendewasan dan kehormatan? Pertanyaan ini cukup dalam untuk dikaji lebih lanjut. Tapi yang jelas, inilah realitas kaum muda Indonesia sekarang.

Paradigma yang berkembang, kaum muda masih dianggap sebagai masalah. Bukan sebagai one way solution dalam menghadapi permasalahan-permasalahan yang menghimpit bangsa ini. Lantas sebagai kaum muda, akankah kita hanya berpangku tangan dan cengengesan menyampaikan slogan “muda hura-hura, tua kaya raya, mati masuk syurga. Tidak! Slogan itu terlalu hina bagi kita kaum muda karena pada hakikatnya adalah komponen terpenting suatu bangsa. Bahkan, presiden Soekarno pernah menyampaikan sebuah kata mutiara yang cukup menggugah. “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” (Bung Karno).

Jadi intinya, kaum muda adalah harapan bagi bangsa ini. Banyak mimpi-mimpi besar yang harus diwujudkan kaum muda. Sekarang, saatnya bangkit, kawan! Lantangkan suaramu. Pecahkan stigma-stigma negatif tentang pemuda Indonesia. Buktikan pada dunia bahwa kita adalah garda terdepan dalam memajukan bangsa Indonesia.

Mahasiswa itu Pemuda

Menurut Adhyaksa Dault, mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga, usia kaum muda berkisar antara usia 16-30 tahun. Alasannya, karena pada usia tersebutlah seseorang masih mampu produktif dan menghasilkan karya dengan baik dan optimal. Lantas, pemuda yang bagaimana yang mampu sebagai pemegang estafet akselerasi untuk Indonesia lebih baik? Banyak pilihan yang mungkin terbesit di benak Anda. Apakah itu pemuda yang cerdas dan berkepribadian, atau pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan sesuatu yang tidak berguna? Saya yakin, jawaban Anda adalah pemuda yang cerdas dan berkepribadian. Cerdas tak hanya diukur dengan seberapa tinggi kecerdasan IQnya saja. Melainkan cerdas ketika mampu memosisikan dirinya dan sadar betul perannya sebagai kaum muda. Selain cerdas, berkeribadian adalah salah satu kombinasi yang elok untuk menggambarkan pemuda yang sesunguhnya.

Saya yakin, sebuah abstraksi yang telah saya kemukakan di atas sudah membuat Anda mengerti siapa pemuda yang saya maksud. Ya, benar atau tidak tebakan saya, tapi saya yakin, Anda sepakat bahwa orang hebat itu adalah mahasiswa. Bagi bangsa Indonesia, bisa dikatakan mahasiswa adalah golongan yang cukup ekskusif. Kenapa? Karena pada kenyataannya, jumlah mahasiswa di Indonesia jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah pemuda yang tidak berstatus mahasiswa. Namun, apakah sebagai mahasiswa kita bangga akan ke-ekslusif-an kita? Di satu sisi, kita harus bangga karena kita adalah orang-orang beruntung karena tidak semua pemuda yang mampu mengecap pendidikan di perguruan tinggi. Tapi di sisi lain, kita harus menyadari peran kita sebagai mahasiswa.

Mahasiswa adalah insan pembelajar yang memperjuangkan nilai-nilai dasar dalam berkehidupan di tengah masyarakat. Sebuah nilai humanistik bagaimana memanusiakan manusia. Selain itu, ada juga yang berpendapat mahasiswa adalah kaum marginal yang memiliki mimpi dan harapan yang dibuktikan dalam kerja nyata.

Mahasiswa memang menjadi komunitas yang unik di mana dalam catatan sejarah perubahan selalu menjadi garda terdepan dan motor penggerak perubahan. Mahasiswa di kenal dengan jiwa patriotnya serta pengorbanan yang tulus tanpa pamrih. Setidaknya, ada empat peran mahasiswa. Yaitu peran moral, peran sosial, peran akademik, dan peran politik.

Namun, pada tulisan ini saya tidak mengupas peran mahasiswa secara keseluruhan. Saya akan menitikberatkan peran mahasiswa yang berlakon sebagai peran sosial. Kenapa peran sosial? Karena korelasi antara peran moral, peran akademik, dan peran politik sudah menjadi siklus lingkaran mahasiswa secara mutlak. Namun ternyata, sering kali mahasiswa melupakan peran pentingnya sebagai agen sosial.

Salah satu amanah tri darma perguruan tinggi adalah pengabdian kepada masyarakat. Nah, pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu aktualisasi yang nyata bagi mahasiswa sebagai agen sosial. Tapi yang jadi pertanyaan, bagaimana caranya mahasiswa mampu mengaktualisasikan peran sosialnya dalam dunia kampus? Ya, diakui pertanyaan ini cukup sulit untuk dijawab. Namun, tidak menjadi pembenaran untuk kita (baca: mahasiswa) hanya berdiam diri.

Lalu, perlukah sebuah wadah untuk menghimpun peran-peran sosial mahasiswa agar menjadi peran yang luar biasa? Tentu. Mahasiswa memerlukan wadah untuk menyatukan berbagai macam energi positif tersebut agar peranan yang mulanya ‘kecil’ menjadi peranan besar yang terorganisir. Karena jika tidak, peran-peran sosial tersebut seakan tak ada ruhnya.

Mahasiswa Tanggap Bencana
Salah satu cara memainkan peran mahasiswa sebagai agen sosial adalah dengan terjun langsung ke ranah sosial yang nyata, misalnya musibah atau bencana. Sebagaimana yang kita tahu, Indonesia merupakan negara yang rawan akan bencana. Jika melihat sebab terjadinya bencana, maka benca tersebut dibedakan menjadi dua. Yaitu bencana karena ulah perbuatan manusia seperti banjir dan kebakaran. Selanjutnya, ada bencana yang disebabkan oleh alam sendiri misalnya gempa, tsunami, dan sebagainya.

Ketika musibah senantiasa melanda negeri ini, apa yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa? Apakah kita hanya cukup mengetahui berita tentang musibah-musibah yang terjadi? Atau, kita cukup sadar untuk menjalankan peran kita sebagai agen sosial. Saya yakin, sebagai insan intelektual mahasiswa pasti akan memberikan kontribusi yang sebesar-besarnya ketika bencana tiba.

Lantas, kontribusi apa kiranya yang mampu diberikan mahasiswa?

1. Take action

Langkah yang cukup efektif yang bisa dilakukan mahasiswa ketika terjadi bencana adalah langsung melakukan tindakan kemanusiaan. Bentukannya seperti menggalang dana dan turut menjadi relawan bencana. Seperti yang saya katakan sebelumnya, perlu sebuah wadah untuk melegitimasi aksi kemanusiaan kita (baca:mahasiswa). Jika tidak, tentunya akan ada permasalahan-permasalahan yang muncul di lapangan. Contoh sederhananya, korban bencana yang kita tolong bisa jadi akan mempertanyakan bantuan yang kita berikan jika tidak ada kejelasan dari mana sumbernya dan semacamnya. Oleh karena itu, penting bergerak bersama dalam suatu wadah.

2. Penyuluhan akan bencana

Peran in bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau segelintir orang saja. Tetapi semua pihak termasuk mahasiswa. Ya, bencana tidak dapat diprediksi kapan terjadinya. Namun, ada cara cerdas yang bisa lakukan yaitu dengan mengenal bencana-bencana dan mencarikan sebuah solusi ketika bencan itu terjadi. Misalnya, mahasiswa menyosialisasikan tentang gempa kepada masyarakat luas dan memberikan pembelajaran apa yang mesti dilakukan ketika gempa terjadi. Mahasiswa bisa bekerja dengan LSM atau organisasi terkait, misalnya SAR, PMI, dan lainnya.

3. Berdoalah, kawan!

Bencana dan musibah tidak dapat diprediksi oleh siapa pun. Tapi minimal, kita berdoa agar musibah tidak terjadi di negeri kita. Anda percaya kekuatan doa? Ketika meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa doa kita akan dikabulkan, saya sangat yakin Tuhan pasti menjaga negeri kita. Asalkan, kita sama-sama sadar bahwa negeri yang telah rusak harus segera diperbaiki. Belajar untuk berubah demi kebaikan.

“Masa ini sungguh buruk, kawan! Tapi baguslah begitu. Karena kita di sini untuk membuatnya lebih baik lagi.”

Kawan, mungkin hanya beberapa solusi yang mampu saya berikan untuk menjalankan peran kita (saya dan anda mahasiswa) sebagai agen sosial. Bahkan, saya tak cukup memiliki referensi akan peran itu. Tapi saya meyakini bahwa ini adalah pengharapan seorang mahasiswa yang masih peduli dengan permasalahan yang ada di negeri pertiwi ini. Barangkali ini takcukup memberikan solusi, atau mungkin ini solusi-solusi yang saya tawarkan sudah sangat usang. Tapi saya yakin, ketika mimpi-mimpi ini dituliskan oleh seribu, sejuta, bahkan oleh semua mahasiswa di Indonesia setidaknya mampu mengembalikan ruh-ruh humanistik kita sebagai mahasiswa. Saya katakan, mahasiswa itu pembelajar dan tak ada batasanya untuk belajar.

“Orang yang berharap melihat sukses di mana orang lain melihat kegagalan, sinar mentari tatkala orang lain melihat bayang-bayang dan kilat-guntur.” (OS Marden).

Mahasiswa Tuntut Janji SBY-JK

IMG_1359

Interval21, Bandung – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi BEM Bandung Raya melakukan aksi di depan Gedung Sate, Bandung, (27/07/09). Aksi ini dilakukan untuk menyikapi hasil pemilu presiden 2009 dengan menyatakan sikap dengan menutup mulut sebagai bentuk keprihatinan terhadap proses demokratisasi Indonesia kepada seluruh elemen yang terlibat dalam pilpres kemarin.

Menurut Mei Susanto, Wakil Presiden Mahasiswa Unpad, pemilu presiden dinilai buruk. Pasalnya, permasalahan DPT (daftar pemilih tetap) tak kunjung dituntaskan. Sehingga, jutaan rakyat Indonesia tidak bisa memilih lantaran tidak terdaftar. KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu dinilai tidak profesional.

Selain itu, masa menuntut kepada Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla untuk menunaikan janji mereka hingga masa pergantian pemerintahan pada (20/10/09). “Masih banyak janji-janji mereka yang belum terealisasi. Kami hanya ingin mengingatkan janji mereka. Jangan hanya mengumbar janji,” ujar Reza Utsman, mahasiswa Unpad.

“Pasca terpilihnya SBY-Boediono sebagai presden dan wakil presiden periode 2009-2014, banyak partai yang dulunya oposisi merapat ke dalam pemerintahan SBY. Kami takutkan jika semua partai yang dulu oposisi menjadi manut dan tidak ada lagi pihak oposisi dalam pemerintahan. Kami menuntut agar dibentuk oposisi dalam rangka mekanisme check and balances. Sudah saatnya para elit negeri ini tidak banyak mengumbar wacana. Sekarang waktunya untuk bekerja,” tambah Reza.

Pilpres 2009: Tua Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan

pilpres2009
Sumber: inilah.com

Bandung—Pemilu Presiden Indonesia 2009 telah usai. Rabu, (08/07/09), warga Negara Indonesia telah menggunakan hak pilihnya. Masyarakat pun sudah menentukan pemimpin Indonesia di TPS (tempat pemungutan suara,pen) di masing-masing daerah. Entahlah, siapa yang mereka pilih pada pilpres kemarin. Tapi yang jelas, salah satu hak warga Negara Indonesia; ikut berpartisipasi dalam politik telah ditunaikan. Pemilu kali ini bisa dikatakan cukup sukses. Walaupun jika ditelisik lebih dalam, masih banyak kekurangan. Mulai dari DPT (daftar pemilih tetap) yang masih bermasalah, kecurangan, kekurangan surat suara bagi pemilih yang menyontreng dengan menggunakan KTP, dan sebagainya.

Sampai detik ini, hasil perolehan suara dari tabulasi KPU belum diumumkan. Setidaknya, terhitung dua minggu dari sekarang, barulah KPU bisa merampungkan hasil perolahan suara yang dihitung secara manual. Setelah itu, bisa dipastikan siapa yang menjadi pemenang pada pilpres kemarin. Who’s the next president of Indonesia? Megawati-Prabowo; SBY-Boediono; atau JK-Wiranto? Kita (baca:bangsa Indonesia) akan mengetahui hasilnya pada tanggal 22 Juli mendatang.

Sembari menunggu real count dari tabulasi KPU, lembaga survey seperti; LSI, LP3ES, dan lembaga survey lainnya telah melakukan quick count sejak pencontrengan usai dilakukan pukul 13.00 siang. Dan hasilnya, pasangan SBY-Boediono keluar sebagai pemenang menurut hasil survey. Pasangan dengan nomor urut 2 ini, memperoleh suara lebih dari 60% dan meninggalkan jauh pesaingnya. Akan tetapi, agaknya hasil yang spektakuler tersebut tak membuat SBY bangga dan mengklaim bahwa ia telah menang. Sejauh ini, beliau hanya bisa mensyukuri serta menunggu hasil real count yang dikeluarkan KPU.

Sekarang yang jadi pertanyaan adalah, apakah hasil quick count yang dikeluarkan oleh lembaga survey akan sama dengan hasil real count KPU? Secara akademisi, akurasi statistik mampu mencapai angka 70-90%. Itu artinya, bisa dikatakan bahwa hasil quick count tidak akan jauh berbeda dari hasil real count. Apalagi, ilmu statistik bukanlah ilmu baru. Melainkan telah diuji akurasinya berkali-kali. Apakah itu survey dalam hal kependudukan, tenaga kerja, kesehatan, dan lain-lain.

“Cukup Satu Putaran Saja.” Agaknya kini slogan tersebut kini telah terbukti. SBY-Boediono telah meraup 60% lebih suara. Sehingga jelas, bahwa pemilu kali ini cukup dilaksanakan satu putaran saja. Jika benar pada tanggal 22 Juli mendatang, SBY-Boediono terpilih sebagai presiden dan wakil presiden periode 2009-2014, maka selayaklah mereka mendapatkan ucapan selamat atas keberhasilan dalam pilpres kali ini. Tak terkecuali yang menjadi pesaing mereka. Sudah saatnya, kita (bangsa Indonesia) mulai dewasa, dan menerima hasil pemilu ini dengan lapang dada. Apalagi Negara yang mengaku menjunjung demokrasi. Sudah saatnya, kita menghargai pilihan masyarakat. Budaya “siapa kalah, siap menang” dalam berkompetisi harus menjadi karakter yang menunjukkan kedewasaan kita.

Rasanya, patut kita mencontoh kedewasaan berpolitik yang terjadi di Amerika Serikat. Pasca pemilu presiden kemarin, Barack Obama keluar sebagai presiden terpilih. Lalu, apa yang dilakukan pesaingnya, Mc. Chain? Dengan lapang dada, Mc. Chain mengakui keunggulan lawannya. Lantas bagaimana dengan Indonesia? Kita sebagai bangsa Indonesia, patut tersenyum karena kedewasaan berpolitik telah mulai tampak. Terbukti, Jusuf Kalla (pesaing SBY) memberikan ucapan selamat kepada SBY atas keberhasilan SBY. Lalu, bagaimana dengan kubu Megawati? Sampai detik ini (ketika berita ini ditulis) Megawati belum memberikan ucapan selamat kepada SBY. Kapan? Kita tunggu saja.
Akankah Megawati kelak menjadi pihak oposisi dalam pemerintahan yang dipimpin SBY? Jawaban tersebut patut kita tunggu. Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan oposisi. Tentunya hal ini akan menjadi warna tersendiri dalam pemerintahan. Akan tetapi, semua warga Negara (dalam hal ini termasuk oposisi) berkewajiban memberikan kontribusi untuk Negara kita. Tak peduli peran besar atau peran kecil. Selama kita memberikan yang terbaik untuk Indonesia, agama, dan dunia.

Mahfud Achyar
Bandung, 09 Juli 2009
22:49 am

Q and A, Novel yang Menginspirasi Film Slumdog Millionaire

slumdogposter
Sumber: Google

Dalam dunia seni atau sastra, sering kali terjadi transformasi dari satu bentuk karya ke bentuk karya lainnya. Bentuk karya tersebut bisa berupa novel menjadi puisi, puisi menjadi lukisan, lagu menjadi novel, novel menjadi film, dan sebagainya. Perubahan atau transformasi tersebut dikenal dengan istilah alih wahana.

Alih wahana sama artinya dengan perubahan. Banyak hal yang menyebabkan perubahan harus dilakukan jika sebuah karya sastra diubah menjadi media lain, seperti film. Perbedaan mendasar antara film dan karya sastra misalnya adalah pengembangan imajinasi pembaca dan penonton.
Dewasa ini, banyak sekali film-film yang diadopsi atau terinspirasi dari novel-novel. Namun yang menjadi catatan adalah, tidak semua film yang diadopsi dari novel sukses seperti yang diharapkan (dalam hal pembuat film). Oleh karena itu, belakang film-film yang sukses dipasaran diangkat dari novel yang berlabel “best seller”.

Fenomena ekranisasi hampir terjadi di semua negara. Di Indonesia, film seperti Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Perempuan Berkalung Sorban, dan Ketika Cinta Bertasbih adalah film sukses yang diangkat dari novel terkenal. Fakta selanjutnya, film Harry Potter adalah salah satu mega film Hollywood yang menyedot perhatian dunia. Film tersebut diangkat dari novel karangan J.K Rowling. Siapa yang tak mengenal Harry Potter, sang penyihir? Ternyata benar adanya bahwa film yang diangkat dari novel terkenal (tentu saja penggarapan yang baik) menghasilkan sebuah karya yang luar biasa.
Bukti lain datang dari film Bollywood yang berjudul Slumdog Millionaire. Seperti diramalkan oleh banyak insan film di dunia, Film Slumdug Millionaire akhirnya menjadi jawara juga untuk kategori Film Terbaik di Ajang Penghargaan Film Oscar, Minggu (22/2) di Los Angeles waktu setempat. Tidak hanya itu, film ini merebut enam kategori sekaligus pada piala Oscar yang beberapa waktu lalu diselenggarakan di Amerika. Selain itu, film ini mendapatkan penghargaan Golden Globe 2009, sebagai Film Terbaik.

Apa sebenarnya kelebihan film tersebut sehingga dinobatkan sebagai film terbaik? Ternyata, Film Slumdog Millionaire merupakan film yang diangkat dari novel terkenal Q and A karangan Vikas Swarup. Pada makalah ini, penulis akan menganalisis film Slumdog Millionaire yang sukses pada ajang bergengsi piala Oscar. Selain itu, hal yang menarik dan menjadi catatan penulis, ternyata ada banyak perbedaan antara film Slumdog Millionaire dan novel Q and A.

Q and A atau Question and Answers adalah judul novel yang ditulis oleh diplomat bernama Vikas Swarup tersebut. Bersetting di India, Q and A bercerita tentang Ram Mohammad Thomas, seorang waiter muda yang mencatat sejarah dengan memenangkan kuis berhadiah jutaan rupee namun malah dipenjara oleh pihak berwajib dengan tuduhan melakukan kecurangan.

Menggunakan sudut pandang orang pertama, novel ini lantas mengikuti perjalanan hidup Ram yang diceritakannya kepada pengacara baik hati, Smita Shah. Sebuah pengalaman hidup menegangkan dan penuh petualangan yang memberinya jawaban untuk kedua belas pertanyaan dalam kuis tersebut. “Bukankah aku beruntung mereka hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang aku sudah ketahui jawabannya?” begitu komentar Ram polos.

Sepanjang buku ini pembaca akan dibawa mengikuti kisah hidup Ram yang pilu, keras, dan penuh cobaan, tapi berhasil membawanya memenangkan jackpot di kuis bergengsi tersebut.

Sebuah novel tentang seorang pelayan restoran yang menang kuis satu miliar rupee. Ram Mohammad Thomas, seorang pramusaji bar yang menyandang tiga nama agama, seolah merangkum pancarona nestapa realitas bangsa semiliar perkara dalam riwayat hidupnya yang asin-masam-pahit-manis, karau. Dia menjejak ke jagat raya ini tanpa tahu siapa ibu siapa ayahnya. Nasibnya dipelanting-lanting dari satu kota neraka ke kota-kota neraka lain, Delhi, Mumbai, Dharavi, Agra. Tapi ia juga dihibur film-film Bollywood, ditenteramkan keindahan Taj Mahal, dibuai kenikmatan lokalisasi.

Buku ini telah diterjemahkan dalam 32 bahasa, termasuk Perancis, Jerman, Italia, Belanda, Denmark, Finlandia, Turki, Eslandia, Rusia, Norwegia, Swedia, Serbia, Hindi, Indonesia, Thailand, Jepang, Yahudi hingga Portugis. Dan kini buku tersebut juga bisa dinikmati dalam bentuk audio, drama radio, panggung teater dan tentu saja film peraih Oscar yang disutradarai oleh Danny Boyle, Slumdog Millionaire.

Lalu, bagaimana cerita film Slumdog Millionaire? Film ini berkisah tentang seorang pemuda berusia 18 tahun yang bernama Jamal Malik. Ia adalah seorang pemuda yang terlahir dari kampung kumuh di kota Mumbai, India. Pengalaman luar biasa selama hidupnya mengantarkan dia menjadi seorang millionaire dalam acara “Who wants to be a millionaire?”

Bagaimana kisahnya sehingga Jamal—mampu menjawab 12 pertanyaan dalam kuis tersebut dan memenangkan uang sebesar 20 juta rupees? Bermula ketika dia bekerja sebagai asisten penerima telepon di sebuah persuhaan telekomunikasi, Mumbai, terpilih sebagai salah satu kontestan. Awalnya, pembawa acara (Anil Kapoor) meragukan kemampuan Jamal lantaran karena ia tidak memiliki latar pendidikan yang jelas. Hanya seorang asisten penerima telepon. Pertanyaan pertama yaitu, “Siapakan artis India yang terkenal pada tahun 1973?” Tanya pembawa acara. Jamal pun menjawab, “Amitha Bachan.” Setiap pertanyaan demi pertanyaan mampu dijawab dengan baik oleh Jamal. Sebenarnya kenapa Jamal bisa menjawab setiap pertanyaan yang diajukan? Padahal ia hanya seorang anak dari perkampungan kumuh.

Jamal bukanlah orang cerdas. Akan tetapi, pengalaman hidupnya menjadi kunci dari setiap pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara. Jamal berasal dari perkampungan kumuh (slum, dalam bahasa Inggris) di kota Mumbai. Nasibnya sangatlah buruk. Sedari kecil banyak hal buruk yang telah ia lewati bersama kakaknya, Salim. Ibunya terbunuh ketika terjadi pembantaian kepada masyarakat muslim di kota Mumbai. Kekerasan, penindasan, kekacauan, kemiskinan, dan keburukan lainnya merupakan warna hitam yang terjadi di perkampungan Jamal.

Selanjutnya, Jamal beserta kakaknya Salim hidup berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Seorang gadis bernama Latika turut menjadi bagian terpenting dari kisah hidup Jamal yang penuh dinamika. Akan tetapi, Jamal sempat berpisah dengan Latika lantaran harus menyelematkan dirinya.

Suatu ketika, Jamal mengetahui bahwa Latika menjadi seorang gadis panggilan. Karena sudah lama tidak bertemu dengan Latika, Jamal dan Salim menemui Latika di sebuah tempat pelacuran. Namun, ternyata nasib baik tak berpihak pada Jamal dan Salim. Bandit yang dulu pernah berniat mencelakai Jamal, ternyata masih membayang-bayangi mereka. Kondisi mencekam terjadi saat itu. Tragisnya, Salim menembak bandit tersebut, dan ia pun mati.

Film tersebut menitik beratkan pada pengalaman hidup luar biasa (getir, tragis, buruk) yang dialami Jamal. Selain itu, pencarian cinta (takdir hidup) menjadi sorotan terpenting. Sehingga, pengalaman hidup itulah yang menjadi kunci jawaban dari semua pertanyaan dalam kuis “Who Wants To Be A Millionaire?”

Pada pertanyaan kesebelas, acara tersebut terhenti karena waktunya sudah habis, dan menyisakan satu pertanyaan lagi. Lalu apa yang terjadi? Jamal diseret ke kantor polisi karena diduga curang dalam kuis tersebut. “How could a street kid know so much?” Mana mungkin seorang slumdog bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan susah itu jika kamu tidak curang? Jamal pun menjelaskan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah sesuatu yang dekat dengan kisah hidupnya.

Ia menceritakan tentang kehidupnya di rumah-rumah gubuk di mana ia dan saudaranya dibesarkan, petualangan mereka di jalan, bertarung dengan preman, dan Latika (Pinto), gadis yang dia kasihi dan telah hilang. Sehingga pada akhirnya, polisi yang mengintrogasinya percaya dengan penjelasan Jamal.

Jamal melanjutkan permainanya di acara “Who Wants To Be A Millionaire”. Semua warga India menyaksikan penampilan Jamal untuk memenangkan hadiah uang sebesar 20 juta rupees. Pertanyaan terakhir, “Di buku Alexander Dumas, tiga ksatria, dua diantaranya bernama Athos dan Parthos. Lalu, siapa nama yang satu lagi?” Pertanyaan terakhir ini sangat sulit bagi Jamal. Dalam benaknya, ia hanya tahu bahwa yang bisa menjawab pertanyaan tersebut kakaknya, Salim. Jamal pun menggunakan bantuan phone a friends—dan menghubungi Salim. Ironinya, Salim ditembak mati. Namun, telepon Salim diangkat oleh Latika. Akan tetapi, Latika tidak mengetahui jawaban pertanyaan tersebut. Jamal pun terdiam. Kemudian, Jamal menjawab Aramis sebagai final answers. Akhirnya, Jamal memenangkan kuis tersebut, dan ia pun berjumpa kembali dengan Latika.

Jika kita cermati, ternyata tidak sepenuhnya sama antara novel Q and A dan film Slumdog Millionaire. Ternyata ada perbedaan yang cukup berarti antara film dan novelnya. Analisis penulis, ketika film Slumdog Millionaire ingin divisualisasikan sesuai dengan cerita novelnya, bentuk yang paling memungkinkan adalah miniseri, atau semacam serial pendek. Sedangkan film hanya punya durasi 2-3 jam. Jadi sulit rasanya jika semua isi novel dipindahkan ke dalam bentuk film. Jika disingkat pun rasanya mustahil. Bagi penonton Slumdog Millionaire, yang pernah membaca novel Q and A menonton film ini seperti mereset ulang imaji yang terlanjur ditanam Vikas Swarup di liang memori mereka. Lupakan Ram Muhammad Thomas dengan koin ajaibnya serta sahabat sejatinya Salim. Anggap saja takdirnya sebagai Ram dengan lika-liku petualangannya dicabut. Lalu dia diberikan takdir baru sebagai Jamal Malik dengan Salim sebagai kakaknya.

Film dan prosa memang mempunyai keunggulan dan kekurangannya sendiri. Hingga tak ada yang bisa mengklaim film lebih unggul dari prosa atau sebaliknya. Dalam prosa cerita dipindahkan pengarang ke kepala pembaca melalui kekuatan kata-kata. Pengarang hanya kuasa memaparkan, bukan mendiktekan. Sebab imaji pembacalah yang mempersepsikan dan memvisualisasikan dalam alam imajinernya.

Nasib sastra adalah sejauh mana kata-kata mampu memberikan sensasi imajinasi di benak pembaca. Sedangkan dalam film, penonton tak diberi ruang untuk menciptakan dunianya sendiri. Visualisasi telah mengambil peran itu. Hal ini bisa dianggap keterbatasan atau kelebihan tergantung dari sudut memandang saja. Kekuatan film bukan hanya dicerita dan kekuatan karakter yang diperankan tokoh-tokohnya. Setting latar, tata warna, dan musik juga mengintervensi imajinasi pembaca. Paduan kesemua itu mampu menghipnotis penonton hingga mengalami ekstasenya sendiri. Ekstase yang berbeda dibanding membaca bukunya.

Selanjutnya, hal menarik yang menjadikan novel Q and A dan film Slumdog Millionaire adalah latar sosial-budaya masyarakat India. Dalam novel dan film tersebut, digambarkan potret sisi kehidupan masyarakat India kalangan bawah. Sebuah realitas kehidupan yang jauh dari kemewahan, pendidikan, kebahagian, dan kesejahteraan. Bagaimana perjuangan seorang rakyat kecil mencari cinta dan upaya memperbaiki taraf hidupnya. Walaupun film ini menceritakan kehidupan rakyat kecil di negara India, tapi realita kehidupan dalam film ini juga sangat banyak kita lihat di negara Indonesia. Miskin, kumuh, kehidupan yang keras, terzolimi dan mimpi-mimpi yang tak pasti.

Selain itu, kita (pembaca dan penonton) juga mengetahui bahwa ternyata di India pernah terjadi pembantaian kaum muslim. India merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak kedua setelah Cina. Maka tak heran jika banyak konflik, pertikaian, dan permasalahan sosial menjadi bagian yang tak bisa dielakkan lagi. Pasalnya, ketika jumlah penduduk yang semakin banyak dan tidak diimbangi dengan kebutuhan fisik, yang terjadi adalah ketidakadilan.

Menurut analisis penulis, pengarang novel Q and A atau pun sutradara film Slumdog Millionaire ingin menyajikan sebuah kisah kaum yang termarginalkan dan jarang diangkat. Dengan teknik penceritaan yang baik (novel Q and A), dan pemvisualisasian yang baik pula (Slumdog Millionaire); tak heran jika dua buah karya tersebut layak sebagai karya terbaik dalam beberapa ajang penghargaan.
Pada dasarnya, alih wahana (novelisasi/ekranisasi) akan mengubah suatu karya menjadi karya lain. Seperti halnya film Slumdog Millionaire yang sebenarnya bukan diadopsi, melainkan terinspirasi dari novel Q and A.
Simpulan

Alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian ke kesenian lain. Misalnya novel diubah menjadi tari, drama, atau film. Sedangkan puisi bisa diubah menjadi lagu atau lukisan. Sebaliknya bisa terjadi, novel ditulis berdasarkan film atau drama. Puisi bisa lahir dari lukisan atau lagu.

Alih wahana sama dengan perubahan. Banyak hal yang menyebabkan perubahan harus dilakukan jika sebuah karya sastra diubah menjadi media lain. Belakangan ini, banyak film-film sukses diangkat dari novel-novel best seller. Sebutlah film Angels and Demons, Harry potter, Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Ketika Cinta Bertasbih, dan Slumdog Millionaire.

Film Slumdog Millionaire merupakan film yang mendapatkan anugrah film terbaik pada piala Oscar. Menariknya, film ini terinspirasi dari novel dengan judul yang berbeda yaitu Q and A. Walaupun begitu, kisah antara film dan novel tersebut sama. Hanya ada beberapa perbedaan dari segi tokoh, alur, dan karakter. Akan tetapi, dua buah karya tersebut mampu mendulang prestasi sebagai karya yang luar biasa.

“Pengalaman adalah hal berharga dalam hidup kita. Jika kau menemukan sesuatu yang buruk pernah terjadi dalam hidupmu, jangan pernah kau sesalkan. Jadikan itu sebagai pembelajaran berharga. Dan kau bisa memulai hari dengan lebih baik.”