Photo Story: Membangun Mimpi Anak Indonesia

Oleh: Mahfud Achyar

Ada yang berbeda dengan pagi ini. Tidak seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini saya berada di Bandung. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak cerita yang indah untuk dikenang.

Sebelum subuh, saya sudah bangun untuk mandi. Padahal saya baru tidur sekitar pukul 2 dini hari. Namun apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain untuk menyegerakan diri bersiap-siap menyambut hari yang penuh arti.

Rabu, (22/2/2017), saya dan 20 relawan Kelas Inspirasi Bandung 5 mengunjungi siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki Bandung. Bagi saya pribadi, ini kali pertama saya menjadi relawan Kelas Inspirasi Bandung. Sebelumnya, saya hanya ambil bagian menjadi relawan Kelas Inspirasi Jakarta dan Kelas Inspirasi Depok. Saya sungguh bersemangat sebab akan bertemu dengan orang-orang baik yang tergabung dalam Kelompok 9 serta tentunya akan bertemu dengan adik-adik yang menyenangkan.

P2221202
Gambar 1. Dua orang siswa SD Komara Budi dan Pasir Kaliki tengah bersantai pada pagi hari menjelang seremoni pembukaan Kelas Inspirasi Bandung 5.

 

P2221242
Gambar 2. Suasana salah satu kelas di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Terlihat prakarya siswa-siswi dipajang menjadi hiasan di atas lemari buku.

21 relawan yang bertugas di SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki terdiri dari 13 relawan pengajar, 5 relawan fotografer, 2 relawan videografer, serta 1 relawan fasilitator. Hal yang menarik sebagian besar relawan berasal dari luar Bandung seperti Semarang, Jakarta, Tangerang, dan Tegal.

Ragam profesi juga membuat kelompok 9 menjadi sangat berwarna. Ada yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan, ada yang menjadi psikolog anak, ada yang menjadi rescuer, dan sebagainya. Satu tujuan kami datang ke Bandung khususnya ke SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki yaitu membangun mimpi anak Indonesia!

P2220901
Gambar 3. Seorang siswi berlari melewati lukisan bendera dari delapan negara di salah satu tembok sekolah.

Bagaimana cara membangun mimpi anak Indonesia?

Rasanya pertanyaan itu sangat sulit dijawab oleh kami yang memang bukan praktisi pendidikan. Kami adalah kumpulan para profesional yang mungkin menguasai bidang kami, namun belum tentu dapat mengajar dengan baik. Sebagian dari kami belum memiliki pengalaman mengajar sama sekali. Namun ada juga yang sudah beberapa kali mengikuti program Kelas Inspirasi.

Kendatipun pernah mengajar, kami tetap saja merasa gugup. Maka karena itu, kamipun harus mempersiapkan diri dengan baik. Jauh-jauh hari, kami sudah mempersiapkan materi ajar untuk memberikan yang terbaik yang kami punya untuk siswa-siswi di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki.

Lantas apa yang kami ajarkan kepada mereka? Apakah matapelajaran matematika yang kerapkali dianggap momok menakutkan oleh banyak siswa-siswi? Tidak! Tidak sama sekali! Kami mengajar tentang diri kami, profesi kami, dan proses kami hingga menjadi seperti sekarang. Untuk apa? Apakah untuk pamer atau ‘gaya-gayaan’? Tidak. Sungguh tidak sama sekali. Kami menyadari dengan sepenuhnya bahwa kami bukanlah yang terbaik. Kami barangkali tidak layak menjadi contoh atau role model.

Walau kami tidak sempurna, kami memiliki hasrat yang besar untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya yang bisa kami lakukan yaitu berbagi dengan mereka. Kami datang untuk berbagi mimpi. Sesederhana itu.

P2221074
Gambar 4. Herawati merupakan seorang direktur di sebuah perusahaan di Bandung. Di kelas, ia berpesan kepada siswa-siswi, “Kita bisa menjadi apapun yang kita mau.”

 

Kami yakin, niat yang baik tentu akan mendapat impresi yang baik pula. Begitulah yang kami rasakan ketika setengah hari berada di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Kami merasa senang disambut dengan sangat baik oleh kepala sekolah dan jajaran guru. Lebih penting dari itu semua, kami menyaksikan betapa siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki memiliki semangat belajar yang sangat baik. Mereka antusias bertanya, mereka bersemangat untuk menjadi orang hebat di masa depan. Tidak ada hal yang membahagiakan bagi kami selain melihat pelita harapan masih nyala di hati mereka.

P2221120
Gambar 5. Berlari menggapai cita-cita.

Teruslah berjuang menggapai cita-cita, wahai generasi harapan bangsa. Doa kami akan terus ada untuk kalian.

Terakhir, kami mengutip pesan Bung Hatta, “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

 

Advertisements

AQUA Grup Luncurkan Program Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP)

Laporan oleh: Mahfud Achyar

Processed with VSCO with a6 preset
Malam presentasi karya 10 peserta workshop storytelling AQUA x Suara Tirtha Emerging Photographers pada Senin, (30/1/2017) di AQUA Danone Menara 2 Cyber, Jakarta. 

JAKARTA – AQUA Grup meluncurkan program Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP) sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap kemajuan fotografer muda di Indonesia yang karyanya diharapkan dapat menginspirasi publik untuk lebih peduli pada lingkungan. Bentuk dari program yang dimulai sejak 26-30 Januari ini adalah workshop storytelling dengan tema “CARE” yang diselenggarakan di Bogor, Jawa Barat.

Proses seleksi peserta dilakukan dengan mengumumkan kegiatan ini secara resmi melalui website dan media sosial guna menjaring para fotografer muda dari seluruh Indonesia. Dari hasil seleksi, terpilih 10 fotografer yaitu, 1) Muhammad Ibnu Chazar – Karawang, Jawa Barat; 2) Esther Hasugian – Bogor, Jawa Barat; 3) Himawan Listya Nugraha – Banyumas, Jawa Tengah; 4) Bhima Pasanova – Jakarta, DKI Jakarta; 5) Danis Arbi Meigantara – Tangerang, Banten; 6) Risma Afifah – Jakarta, DKI Jakarta; 7) Eva Fauziah – Depok, Jawa Barat; 8) Muhammad Ihsan Mulya Pratama – Solo, Jawa Tengah; 9) Ajeng Dinar Ulfiana – Jakarta, DKI Jakarta; serta 10) Muhammad Ridwan – Padang, Sumatera Barat.

Ben KC Laksana, salah seorang juri tamu yang menyeleksi para pendaftar cukup terkesima dengan kualitas karya yang dikirimkan oleh para calon peserta. “Banyak dari karya mereka tidak hanya mempertunjukkan wawasan dan pengalaman estetika visual, namun juga komitmen terhadap proyek yang sangat personal dan dedikasi,” ungkap Ben.

Kesepuluh fotografer terpilih akan didampingi oleh dua mentor, yaitu Yoppy Pieter dan Muhammad Fadli dalam menafsirkan tema “CARE”. Selain itu, selama workshop, setiap peserta akan ditantang untuk menginterpretasikan sebuah tema ke dalam bentuk visual. Metode tersebut menuntut setiap peserta menjadi storyteller berbekal pemikiran kritis terhadap fenomena di sekitar mereka.

Salah satu hal yang menarik dari workshop ini, adalah lokasi penyelenggaraan acara di kawasan Ciherang yang merupakan salah satu penyangga konservasi Jakarta. Di daerah ini, AQUA Grup juga menjalankan operasionalnya dan mengembangkan berbagai program sosial dan lingkungan terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan melibatkan berbagai pihak.

Workshop ini mengajak para peserta mengunjungi kawasan konservasi yang diinsiasi AQUA Grup. Para peserta akan melihat secara langsung program-program sosial dan lingkungan AQUA Grup dalam menjaga kawasan konservasi Ciherang. Setelah melakukan kunjungan, peserta mendapatkan kuliah umum mengenai tema “CARE” yang menjadi spirit AQUA Grup.

Yoppy Pieter, mentor workshop storytelling STEP menjelaskan bahwa setiap peserta akan mengajukan ide story yang berkaitan dengan tema. “Story yang mereka ajukan bisa mengangkat beberapa program sosial dan lingkungan di sekitar kawasan Ciherang maupun hal-hal lain di luar kegiatan tersebut selama mereka mampu menerjemahkan konsep CARE dalam project mereka,” papar Yoppy.

Lebih lanjut, Yoppy menceritakan bahwa pada hari kedua hingga hari keempat, seluruh peserta harus sudah mengeksekusi project mereka. Pada hari terakhir, yaitu Senin, (30/1/2017) para peserta akan melakukan presentasi di hadapan para tamu undangan di kantor pusat AQUA Grup

Sebagai seorang mentor, Yoppy akan membagi pengetahuannya mengenai visual storytelling kepada para peserta workshop. Selain itu, para peserta workshop juga dituntun menjadi fotografer yang memiliki critical thinking. “Jadi program ini tidak hanya membahas fotografi dari segi teknis, namun sebuah program yang memperkenalkan tentang etika dan estetika dalam pembuatan sebuah proyek photostory. Hal ini yang akan ditekankan agar mereka nantinya sebagai visual storyteller akan lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka yang meliputi aspek sosial, budaya, maupun lingkungan,” terang Yoppy.

Sementara itu, Muhammad Fadli menambahkan bahwa output dari workshop storytelling STEP yaitu berupa photostory yang memperlihatkan narasi visual yang dirangkum dalam bentuk slideshow dan photobook yang menjadi medium komunikasi yang mudah dicerna oleh masyarakat luas.

Melalui kegiatan workshop storytelling STEP, Fadli berharap para fotografer muda mendapatkan pengetahuan mengenai storytelling serta memiliki semangat kompetisi melalui sistem submisi. “Sejak awal pendaftaran peserta sudah digiring memiliki pemikiran kritis terhadap tema CARE dan pandangan mereka terhadap fotografi hari ini. Lalu ke depannya kita berharap bahwa program pendidikan ini mampu meningkatkan rasa kepercayaan diri peserta dalam menyampaikan gagasan mereka,” imbuh Fadli.

Sementara itu, Ridzki Noviansyah yang juga juri tamu menambahkan bahwa para fotografer muda yang terpilih diharapkan dapat menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Tentang Workshop Storytelling STEP

Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP) yang diselenggarakan ini merupakan wujud untuk memajukan pendidikan dan perkembangan budaya visual di Indonesia. STEP tidak sebatas workshop storytelling yang membekali peserta dengan teori photostory, namun setiap peserta akan diberi tanggung jawab dalam mengelola dana hibah untuk mendanai proyek mereka selama program workshop berlangsung.

Tentang AQUA

AQUA merupakan pelopor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia yang didirikan pada tahun 1973. Sebagai perwujudan visi dan komitmen dalam mengelola operasional secara bertanggung jawab dalam sosial dan lingkungan, AQUA mengembangkan inisiatif AQUA Lestari yang terdiri dari empat pilar yaitu, Pelestarian Air dan Lingkungan, Praktik Perusahaan Ramah Lingkungan, Pengelolaan Distribusi Produk serta Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

AQUA adalah bagian dari kelompok usaha DANONE, salah satu produsen produk makanan dan minuman terbesar di dunia.   Di Indonesia sendiri, unit usaha DANONE meliputi tiga kategori utama, yaitu minuman (AMDK dan minuman ringan non karbonasi),  Nutrisi untuk Kehidupan Awal (Nutricia dan Sari Husada dengan produknya seperti SGM, Vita Plus, Lactamil, dan Vitalac), serta nutrisi medis. Laporan keberlanjutan AQUA dapat diakses melalui www.aqua.com.  Untuk masukan serta keluhan pelanggan, dapat disampaikan melalui AQUA Menyapa 08071588888 atau melalui Facebook Sehat AQUA dan www.aqua.com.

Informasi mengenai mengenai workshop ini dapat Anda baca pada: http://www.AQUA.com. Ikuti juga lini media sosial kami: Facebook Fan Page: AQUA LESTARI | Instagram: @aqualestari | Twitter: @aqua_lestari #CARE #AQUASTEP #AQUALESTARI

Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016: “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”

 

Processed with VSCO with a6 preset
Chiki Fawzi dan Band pada pembukaan pameran foto dan video Kelas Inspirasi Jakarta, Kamis, (10/11/2016) di Qubicle Center, Senopati 79, Jakarta Selatan. 

JAKARTA, INDONESIA – Tahun ini, Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta yang ke-2 kembali digelar dengan mengusung tema “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”. Jika pada tahun sebelumnya para pengunjung pameran hanya sebatas menikmati karya fotografi dari relawan Kelas Inspirasi Jakarta, maka pada tahun ini panitia akan menyuguhkan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengunjung tidak hanya sekadar melihat karya fotografi melainkan juga dapat berinteraksi secara langsung dengan para fotografer. Hal tersebut memungkinkan terjadi karena pameran yang dikurasi oleh Yoppy Pieter ini memilih konsep photo story.

Barangkali tidak banyak masyarakat umum yang mengetahui terminologi photo story. Secara sederhana, photo story merupakan serangkaian foto yang dilengkapi dengan narasi dan caption (80% foto, 10% narasi, dan 10% caption). Konsep photo story dipilih lantaran panitia ingin mengajak para pengunjung (khususnya yang belum pernah terlibat menjadi relawan Kelas Inspirasi) untuk turut hadir pada momen-momen berharga, inspiratif, dan berkesan selama penyelenggaran Kelas Inspirasi Jakarta ke-5 pada (2/05/2016) lalu.

Setidaknya, ada 880 relawan pengajar, 220 tim dokumentator (fotografer dan videografer), serta 89 fasilitator yang terlibat aktif guna menyukseskan Hari Inspirasi yang bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Para relawan Kelas Inspirasi disebar ke berbagai Sekolah Dasar (SD) dengan kategori sekolah marjinal dan satu Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) di Jakarta.

Relawan Kelas Inspirasi, merupakan para profesional dalam bidangnya masing-masing yang bercerita kepada para siswa-siswi Sekolah Dasar mengenai profesi mereka. Tidak hanya sekadar bercerita, mereka juga memberikan semangat, motivasi, dan asa agar generasi harapan bangsa berani menggapai cita-cita mereka. “Barangkali, bagi para relawan mereka hanya diminta untuk cuti satu hari bekerja. Namun sesungguhnya kehadiran mereka di tengah para siswa-siswi pada Hari Inspirasi sangatlah bermakna. Berbagi cerita, berbagi pengetahuan, serta berbagai pengalaman kepada siswa-siswi SD agar kelak mereka menjadi orang-orang yang hebat,” ujar Harry Anggie S. Tampubolon, Ketua Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016.

Sebagai informasi, Kelas Inspirasi (www.kelasinspirasi.org) merupakan program turunan dari Indonesia Mengajar (www.indonesiamengajar.org) yang memfasilitasi para profesional untuk berkontribusi secara nyata memajukan pendidikan di Indonesia. Kelas Inspirasi pertama kali diselenggarakan pada (25/04/2012) secara serentak di 25 Sekolah Dasar di Jakarta dan akan terus berjalan pada tahun-tahun berikutnya.

Kelas Inspirasi sudah dilaksanakan lebih dari 100 kali di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Gerakan ini terus berjalan dari tahun ke tahun. Kabar menggembirkan ternyata program sejenis Kelas Inspirasi telah banyak diselenggarakan di berbagai daerah dengan nama-nama yang berbeda. Kendati demikian, kami berkeyakinan bahwa semua gerakan yang ada memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta ke-2 akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November hingga 19 November 2016 di Senopati 79 a Qubicle Center, Jalan Senopati No. 79, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut Harry, Qubicle Center dipilih sebagai lokasi pameran tahun ini lantaran Qubicle Center merupakan salah satu tempat pusat kreativitas di Jakarta. Sebagai platform yang berdiri berdasarkan kerja sama dengan para komunitas seluruh Indonesia, Qubicle mendukung para konten kreator dan komunitas dengan adanya fasilitas di Qubicle Center. Oleh sebab itu, pihak Qubicle berbaik hati menyediakan fasilitas Qubicle Center guna mendukung terwujudnya Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016. “Selain sebagai pusat kreativitas, Qubicle Center dipilih karena lokasinya berada di kawasan ramai seperti SCBD (Sudirman Centran Bussiness District) serta mudah dijangkau dengan menggunakan moda transportasi umum,” jelas Harry.

Selain Qubicle, Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016 juga didukung oleh PGN, SKK Migas, Conoco Phillips, Dapur Icut, Printerous serta Seagate. Dukungan dari berbagai pihak dalam mewujudkan pameran tahun ini merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk terus menebar kebaikan, khususnya dalam bidang pendidikan.

Secara spesifik, tujuan dilaksanakan Pameran Kelas Foto dan Video Inspirasi Jakarta 2016 yaitu untuk menyosialisasikan kegiatan positif yang digawangi oleh lebih dari 2000 relawan Kelas Inspirasi selama 5 tahun ke belakang. Selain itu, pameran tersebut juga sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh relawan, siswa-siswi, guru, dan sekolah yang telah merasakan manfaat Kelas Inspirasi.

Selain pameran, kegiatan lain yang dapat diikuti oleh para pengunjung yaitu talkshow/workshop fotografi dan sharing session Kelas Inspirasi Jakarta. Tidak hanya itu, pengunjung juga akan dihibur dengan penampilan musik dari musisi tanah air. Pembukaan pameran pada Kamis, (10/11/2016) pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Celtic Room, Chiki Fawzi, dan Archie Wirija. Sementara untuk penutupan pada Sabtu, (19/11/2016) pukul 11.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Syahravi, Westjamnation, Huhu Popo, Resha and Friends, Nia Aladin, serta Juma & The Blehers.

Sementara itu, adapun 17 pameris yang terlibat pada pameran ini terdiri dari 13  fotografer yaitu Aad M. Fajri, Agil Frasetyo, Bagas Ardhianto, Bhima Pasanova, Darwin Sxander, Deasy Walda, Desi Bastias, Desita Ulfa, Dimitria Intan, M. Khansa Dwiputra, Ruben Hardjanto, Shofiyah Kartika dan Silvya; 3 videografer yaitu Fahiradynia Indri, Agus Hermawan, dan Yuni Amalia; serta 1 mural artis yaitu Popo Mangun. Sebagian besar dari mereka bukanlah fotografer dan videografer profesional. Ada yang masih berstatus mahasiswa, ada yang bekerja sebagai konsultan, dan lain sebagainya. Pun demikian, karya-karya mereka yang nanti akan dipamerkan patut untuk mendapatkan diacungi jempol. Informasi lebih detil mengenai profil singkat para fotografer dan videografer dapat dilihat pada situs berikut: http://pameranki.kelasinspirasijakarta.org/.

“Kami berharap melalui Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016, semakin banyak orang-orang baik di negeri ini yang peduli dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Kami berkeyakinan bahwa para generasi bangsa yang saat ini duduk di bangka Sekolah Dasar kelak akan menjadi generasi yang gemilang. Oleh sebab itu, kita semua tanpa terkecuali berkewajiban untuk memastikan agar para penerus bangsa mendapatkan akses pendidikan yang baik, merata, dan berkeadilan sosial,” tutup Harry.

 

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU

Indonesia Sebagai Tujuan Halal Tourism

Oleh: Mahfud Achyar

Probolinggo, Jawa Timur
Probolinggo, Jawa Timur

Pada abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20, bumi nusantara menjadi magnet yang kuat sehingga menarik banyak negara khususnya bangsa Eropa untuk datang. Hal ini lantaran Indonesia memiliki kekayaan alam berupa rempah-rempah yang tidak dimiliki oleh negara-negara di Eropa seperti Belanda, Inggris, dan Portugis. Bangsa Eropa sangat membutuhkan rempah-rempah, terutama pada saat musim dingin. Sebab rempah-rempah dapat diolah menjadi produk makanan dan minuman yang menghangatkan badan. Kekayaan alam tersebutlah yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai negara yang diperebutkan oleh banyak negara hingga pada akhirnya Indonesia memasuki era kolonoliasme di bawah pendudukan Belanda yang berlangsung selama 3,5 abad lamanya.

Tidak hanya dulu, hingga sekarang pun Indonesia masih dikenal sebagai negara yang subur dan memiliki hasil alam yang melimpah ruah. Namun sayangnya potensi hebat yang dimiliki Indonesia tidak lantas membuat Indonesia negara yang sejahtera dan makmur. Oleh sebab itu, rasanya kita perlu menggali kembali potensi Indonesia yang kiranya dapat menjadi aset yang dapat dibanggakan dan menjadi perhatian dunia. Apalagi pada penghujung tahun 2015 ini, Pasar Ekonomi Asean resmi dibuka. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Indonesia untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara di kawasan Asean dan juga di tingkat global. Salah satu aset penting yang dimiliki oleh bangsa Indonesia yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia itu sendiri. Potensi sumber daya manusia Indonesia tersebut bisa dijadikan landasan atau faktor dalam mengembangkan berbagai sektor di Indonesia. Salah satunya adalah sektor wisata.

Pada 30 hingga 2 November 2013 lalu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dalam kegiatan Indonesia Halal Expo (Indhex) 2013 & Global Halal Forum meluncurkan produk baru dalam industri pariwisata yaitu halal tourism. Ide ini diusung mengingat Indonesia merupakan negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Hal tersebut diketahui berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, yaitu lembaga riset yang berkedudukan Washington DC, Amerika Serikat, yang bergerak pada penelitian demografi, analisis isi media, dan penelitian ilmu sosial. Pada tanggal 18 Desember 2012, Pew Research Center mempublikasikan risetnya yang berjudul “The Global Religious Landscape” mengenai penyebaran agama di seluruh dunia dengan cakupan lebih dari 230 negara.

Riset tersebut memaparkan total jumlah penduduk Muslim yang tersebar di berbagai negara yang berjumlah 1,6 miliar atau sekitar 23,2% dari total jumlah penduduk dunia. Indonesia dinobatkan sebagai peringkat pertama penganut agama Islam terbesar dengan total 209.120.000 jiwa (87,2%) dari total penduduk Indonesia yang berjumlah 237.641.326 jiwa. Data tersebut juga diperkuat oleh data sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010.

The Global Religious Landscape

The Global Religious Landscape

Tidak hanya sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, namun Indonesia juga diacungi jempol oleh dunia karena mampu menjalankan demokrasi dan dialog antarumat beragama dengan baik. Menteri Luar Negeri RI, Retno Lestari Marsudi, pada pembukaan “Confrence on Indonesia Foreign Policy 2015” yang digelar di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, (13/06/2015) mengungkapkan, “Indonesia is a country where Islam and democracy can go hand in hand, at the same time interfaith dialogues are enabled.”

Artinya dengan potensi yang dimiliki Indonesia, semestinya Indonesia bisa menjadi negara yang sukses dalam mengembangkan halal tourism. Indonesia memiliki reputasi yang positif sebagai negara demokrasi dan negara yang toleran dalam beragama. Namun sayangnya, konsep mengenai halal tourism di Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia. Padahal Indonesia memiliki potensi wisata yang sudah diakui dunia. Berbagai ulasan di internet bahkan menyebutkan Indonesia sebagai salah satu negara yang wajib dikunjungi. Kecantikan, keelokkan, dan keunikan Indonesia memang tidak usah diragukan lagi.

Permintaan produk halal, baik itu makanan, minuman, maupun wisata halal semakin meningkat. Thomson Reuters memperkirakan, pada tahun 2019 pasar makanan halal bernilai US$ 2,537 miliar (21% dari pengeluaran global), pasar kosmetik halal menjadi US$ 73 miliar (6,78 % dari pengeluaran global), dan kebutuhan personal halal menjadi US$ 103 miliar (6,6 % dari pengeluaran global). “Untuk pasar terbesar makanan halal, yaitu Indonesia sebesar US$ 190 miliar, Turki US$ 168 miliar, dan Pakistan menempati urutan ketiga sebesar US$ 108 miliar. Lalu, Indonesia juga berada di urutan ketiga untuk pasar farmasi terbesar, yaitu dengan angka US$ 4,9 miliar. Sementara, Indonesia tidak menjadi pasar terbesar untuk kosmetik halal,” ujar Marco Tieman, CEO LBB International. (Marketeers edisi April 2015, hal 60).

Untuk sektor wisata, Sapta Nirwandar yang saat ini sebagai Perwakilan Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah, dalam (Marketeers edisi April 2015, hal 61) mengatakan potensi pariwisata halal begitu besar. Berdasarkan data dari UNWTO Tourism Highlights tahun 2014, terdapat sekitar 1 miliar wisatawan dunia dan diperkirakan akan naik menjadi 1,8 miliar pada tahun 2030 mendatang. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, Indonesia seharusnya mampu memaksimalkan potensi itu. Oleh karena itu, Indonesia sudah mulai mempromosikan diri sebagai negara tujuan pariwisata yang muslim-friendly.

Akan tetapi, Indonesia kurang memperluas segmentasi pasar untuk indsutri pariwisata, khususnya pasar untuk Muslim traveler. Kondisi demikian membuat Indonesia kurang mendapat tempat di hati para Muslim traveler. Sejatinya sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tentu mudah bagi Indonesia untuk mengembangkan konsep halal tourism. Namun nyatanya tidak semudah yang dibayangkan. Para pemain di industri pariwisata belum yakin pada potensi pasar wisata halal dengan dalih takut dianggap terlalu kaku dan tertutup. Pelabelan wisata halal di Indonesia belum lazim ditemukan.

Menanggapi hal tersebut, Mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Sapta Nirwandar, menilai bahwa dengan menonjolkan suku, agama, ras, dan golongan tertentu bukanlah hal yang populer. Ia berpendapat bahwa untuk meraih tujuan yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan bersama, pelabelan yang identik dengan agama atau suku, misalnya, itu boleh-boleh saja seperti halnya memberikan label wisata hala yang tujuannya mengembangkan kepariwisataan tanah air. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 149).

Situs The Halal Choice melansir data mengenai “8 Destinasi Wisata untuk Turis Muslim.” Dari delapan negara yang disebut, Indonesia sama sekali tidak masuk sebagai negara yang menjadi destinasi oleh Muslim traveler. Padahal potensi untuk segmentasi tersebut sangat besar. Jumlah umat Muslim di dunia yang mencapai 1,6 milir jiwa, sekitar 25% dari populasi dunia, tentunya hal tersebut menguntungkan bagi Indonesia. Tidak hanya itu, Global Islamic Economy report pada tahun 2013 menyatakan bahwa setidaknya ada US$ 140 miliar potensi yang bisa masuk dari Muslim traveler. Sayangnya Indonesia kurang memanfaatkan peluang tersebut.

Berikut delapan negara yang menjadi tujuan Muslim traveler dan telah mengembangkan konsep halal tourism seperti yang dipaparkan oleh The Halal Choice:

No. Nation Description
1. Malaysia This Asian country with 60% Muslims attracts most of the Muslim tourists worldwide and has been frontrunner with regards to anything halal. ‘Unity in Diversity’ is the national motto of this fantastic melting pot of Malay, Indian and Chinese cultures as well as a mixture of Islamic, Hindu, Buddhist and Animist traditions. The country can be divided into two: Peninsular Malaysia with its amazing cities, forested highlands and fringing islands, and East Malaysia, the north of the island of Borneo with its dense rainforests, orangutans and animist tribes.
2. Turkey This country has made a dramatic turn with regards to Islam and Muslims. Its founder Ataturk tried to exclude Islam out of public life and push Islam to become a private issue at home. However, Turkey has managed to become a major exporter of halal products with an interest in halal tourism and Islamic fashion. It has become an inviting country of great diversity, with quiet villages and busy cities. A country full of history where tradition coexists with modernity, where mobile phones ring in bazaars scented with saffron and traditional Turkish hospitality.
3. UEA Seven emirates make this country a giant with regards to tourism and not only Islamic tourism. Whereas Dubai and Abu Dhabi are the main regions to attract most of the tourists Sharjah is following closely and even Ras Al Khaimah and Ajman are massively participating on the halal market. The country is the greatest show on earth with an astonishing blend of Arabian tradition and super modern skyscrapers. Fabulous oil wealth and an undescribable business mentality have made out of an impoverished Bedouin backwater of the world’s most exciting cities with old-style souqs, wind towers, heritage villages, modern skyline, long corniches and fine beaches. Enjoy shopping in the biggest malls of this world, wadi-bashing (four-wheel-driving around oases) and a cultural mix of Arab and millions of Expats from the West and Asia.
4. Singapore Despite it not being a Muslim country this city-state is surrounded by a Muslim giant, Malaysia. This has automatically influenced Singapore’s interest in Islamic tourism and halal offers. Visit quirky ethnic neighbourhoods and world-class museums, historic places of worship and fabulous markets. Its ethnic mix of people gave this little city-state 4 official languages: Chinese, Malay, Tamil, English. It’s perfect for a family holiday with lots to do for the kids and the parents.
5. Russia After the breakup of the Soviet Union, Russia had to open to the world and to its massive Muslim population and Muslim neighbours. It has seen the potential of halal tourism and attracts many Russian-speaking Muslims and tries to promote halal products with an annual fair in Moscow. This massive country stretches across 11 time zones from the Baltic to the Bering Sea. Russia is home to the world’s largest forest (the taiga) and its deepest lake (Lake Baikal), stunning tsarist palaces, Stalinist skyscrapers, contrasting Orthodox Churches next to Mosques and a big Muslim minority in the South but also in the capital Moscow.
6. China As one of the next superpowers China has realised that the Muslims are good for business and offers Islamic heritage tours to its Muslim provinces and to its major cities. Although it is not a Muslim country, China has a lot of Islamic history and a Muslim minority of 60 to 100 million people. Home to one in six human beings on the planet, the new leader is not Chairman Mao but the yuan, and consumerism is the new religion; this massive country with an incredibly rich past and history has so much to offer that it would satisfy the needs of any traveller Muslim and Non-Muslim alike.
7. France This is the only Western European country which can be found in the top 8 and has been attracting Muslim tourists mainly to Paris. Despite its Islamophobic policy it has been trying to become a centre for Islamic Banking. There are about 10% Muslims in France and a massive percentage of French reverts who are the main push for their country to open to the Muslims. Don’t forget that this country offers Mediterranean culture and cuisine as well as Western European lifestyle. It is home to the biggest African diaspora in the world with areas that rather resemble Africa than Europe. Take a walk through Paris’ Latin Quarter and the famous Champs-Elysees, enjoy the French Alps, visit the great chateau in Versailles and feel at home in Marseille!
8. Thailand This Asian country has been receiving a big number of mainly Muslim Gulf Arabs and has started offering specific halal services to them. It has a smaller Muslim population especially in the south and will have to adjust its policy towards this minority in the future. For a traveller this country offers pretty much everything: great beaches, dense jungles, ruined cities at Sukhotai and Ayuthaya, pristine rainforests, exotic islands, golden monasteries, captivating coral reefs, relaxed locals, energetic cities, atmospheric tribal villages, floating markets, elephant rides, colour-coded curries, steamy tropical weather, mouth-watering cuisine with halal choice, luxury hotels and low cost accommodation.Thailand is hungrily eyeing the Muslim travel boom. Its tourism authority which has an office in Dubai is promoting halal spas for Muslim tourists, who require strict privacy for male and female clients. It also organised a month-long festival of Thai cuisine in the UAE from June 8 to July 7 2012. Crescentrating’s study ranked Bangkok’s Suvarnabhumi Airport the most Islam-friendly airport in a non-Muslim country.

Apa Itu Halal Tourism?

Wisata Syariah atau Halal Tourism adalah salah satu sistem pariwisata yang diperuntukan bagi wisatawan Muslim yang pelaksanaanya mematuhi aturan syariah. Dalam hal ini, hotel yang mengusung prisip syariah tidak melayani minuman beralkohol dan memiliki kolam renang dan fasilitas spa terpisah untuk pria dan wanita. (Ikhsan Arby, 2015: 1)

Lebih lanjut, Ikhsan Arby (2015: 1) menambahkan bahwa halal tourism lebih mengedepankan pelayanan berbasis standar halal umat Muslim seperti penyediaan makanan halal, tempat ibadah, informasi masjid terdekat, dan tidak adanya minuman beralkohol di hotel tempat wisatawan menginap. Kemenparekraf fokus melakukan pelatihan dan sosialisasi mengenai halal tourism pada empat jenis usaha pariwisata, yaitu hotel, restoran, biro perjalanan, dan spa.

Sementara itu, Sapta Nirwandar mengatakan bahwa keberadaan halal tourism adalah extended services. “Kalau tidak ada dicari, kalau ada, bisa membuat rasa aman. Halal tourism bisa bergandengan dengan yang lain. Sifatnya bisa berupa komplementer, bisa berupa produk sendiri. Misalnya ada hotel halal, berarti membuat orang yang mencari hotel yang menjamin kehalalan produknya akan mendapatkan opsi yang lebih luas. Ini justru memperluas pasar, bukan mengurangi. Dari yang tadinya tidak ada, jadi ada,” jelas Sapta. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 149).

Lebih lanjut, Sapta memaparkan bahwa tantangan kurang berkembangnya halal tourism di Indonesia lantaran adanya persepsi yang negatif terhadap Islam, terhadap Muslim traveler. Anehnya, ini datang dari umat Muslim sendiri. Mereka tidak percaya diri. Padahal, gaya hidup halal memberikan lebih banyak pilihan. “Contohnya dari sekian banyak restoran, ada halal food, kan, tenang. Adanya sertifikasi halal itu memberikan rasa aman. Untuk umat selain Islam, makanan halal juga bukan masalah kan? Justru menurut penelitian, makanan halal itu termasuk good food. Secara spritual, orang Muslim mendapatkan benefit. Secara fisik, untuk non-Muslim, ya, makanannya sehat,” tambah Sapta.

Selain itu, pemerintah sendiri mengakui bahwa promosi halal tourism di Indonesia belum optimal sehingga menyebabkan brand halal tourism belum dikenal luas oleh turis lokal dan mancanegara. Padahal jika pemerintah serius mengembangkan brand halal tourism tentu pariwisata di Indonesia jauh lebih berkembang.

Menurut penelitian dari Crescentrating, pengeluaran wisata Muslim dalam suatu perjalanan wisata sangat tinggi. Dapat dibayangkan uang yang dihabiskan wisatawan Muslim di dunia pada tahun 2011 mencapai 126 milyar dolar AS atau setara Rp. 1.222,1 triliun. Angka ini dua kali lebih besar dari seluruh uang yang dikeluarkan oleh wisatawan Cina yang mencapai 65 dolar AS atau setara Rp 630 triliun.

Pekerjaan rumah bagi pemerintah Indonesia yaitu harus berani mempopulerkan halal destination. Sapta (dalam Marketeers edisi Juni 2015, hal 150) memaparkan bahwa hal utama yang harus dilakukan adalah mengubah mindset masyarakat Indonesia. Kemudian memberikan edukasi, informasi, baru masuk ke tataran policy. “Kalau pemahaman ini merata, kita bisa melaksanakan hal itu lebih mudah. Kalau kita mau kembali ke esensi orang, kita harus menghargai praktik yang dilakukan tiap individu. Kita memfasilitasi kebutuhan individu. Kita membuka opsi lebih banyak bagi orang-orang yang punya preferensi khusus,” terang Sapta.

Strategi Branding Halal Tourism

Brand halal tourism di Indonesia memang belum terlalu moncer sehingga takbanyak wisatawan lokal dan mancanegara yang mengetahui brand tersebut. Oleh sebab itu, pemerintah perlu bekerja lebih keras lagi untuk mempromosikan brand tersebut. Namun, sebetulnya persoalan promosi halal tourism juga bisa dilakukan oleh masyarakat umum, khususnya generasi muda yang melek teknologi.

Saat ini, kita memasuki era digital yang memungkinkan siapa pun untuk melakukan diplomasi secara personal kepada dunia. Internet (interconnection network) menghubungkan satu negara dengan negara lain, menghubungkan satu individu dengan individu lain. Maka keberadaan internet sudah selayaknya dimanfaatkan untuk mempromosikan brand halal tourism Indonesia kepada dunia internasional.

Dalam perspektif communication studies, sekarang mulai berkembang istilah digital marketing communication, yaitu suatu usaha untuk mempromosikan sebuah brand (merek) dengan menggunakan media digital yang dapat menjangkau konsumen secara tepat waktu, personal, dan relevan. Digital marketing communication turut menggabungkan faktor psikologis, humanis, antropologi, dan teknologi yang akan menjadi media baru dengan kapasitas besar, interaktif, dan multimedia. Hasil dari era baru berupa interaksi produsen, perantara pasar, interaktif, dan multimedia. Digital marketing communication mendukung pelayanan perusahaan dan keterlibatan dari konsumen. (Sumber: Wikipedia)

Berbeda dengan pemasaran konvensional melalui media massa, digital marketing communication menggunakan media baru yang dikenal dengan internet yang memiliki dampak pada meluasnya lingkup pemasaran dan melampaui batasan tradisional seperti zona waktu geografi dan batas regional. Era pemasaran digital juga mengubah prilaku konsumen yang dulu belum pernah dikenal dalam era pemasaran konvensional. Pada era pemasaran digital, peran konsumen tidak hanya sebatas objek dari produsen, namun konsumen memiliki peran penting dalam perkembangan bisnis sebuah perusahaan.

Dalam dunia digital, segala sesuatu bisa terjadi dalam satu juta mil perjam. Konsumen sudah terbiasa mendapatkan informasi yang mereka butuhkan secara cepat. Hal ini menunjukkan bahwa lambat laun strategi pemasaran konvensional semakin ditinggalkan. Konsumen lebih memilih menjadi aktor penting dalam pemasaran digital. Maka sudah sepatutnya, Indonesia harus menjawab kebutuhan halal tourism. Indonesia harus dapat memanfaatkan momentum pemasaran digital untuk melakukan ekspansi yang jauh lebih besar dari saat ini dicapai. Ketika semua proses sudah dijalankan dengan baik, maka Indonesia akan mudah menggaet Muslim traveler untuk menikmati produk halal tourism yang menjadi salah satu produk dalam industri pariwisata di Indonesia.

Dalam menjalakan strategi digital marketing communication (Mahfud Achyar, 2013), ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yaitu:

1. Digital Marketing Planning Framework – A Defining Participants Print & Goals

Tahapan “A Defining Participant & Goals” berguna untuk menangkap esensi dari sekelompok orang yang terdiri dari konsumen. Elemen-elemen kunci dari Participant Print yang harus diperhatikan oleh pemerintah Indonesia untuk memetakan potensi pasar halal tourism.

2. Digital Marketing Planning Framework – Creating Your Digital Platform

Digital Platform Proposition bertujuan untuk menjalin dan mengikat hubungan harmonis antara Kementerian Pariwisata dengan konsumennya dalam aktivitas keseharian. Kemenpar RI secara otomatis harus memberikan informasi-informasi berkaitan potensi halal tourism di Indonesia dan produk-produk yang dimiliki kepada konsumen.

3. Digital Marketing Planning Framework – Generating Awareness and Influence

Pada tahap ini, langkah selanjutnya yang harus dilakukan oleh Kemenpar RI adalah membangkitkan kesadaran dan pengaruh konsumen terhadap brand halal tourism. “Decisions at this stage include selecting your digital media and sponsorship options, developing a search marketing strategy, and integrating offline marketing activities with your Digimarketing activities.” Pemerintah harus merencanakan proses sehingga dapat menjawab pertanyaan, “How will people know about I’ve created?”

4. Digital Marketing Planning Framework – Hernessing Data, Analytic, and Optimization

Bagian ini membahas tentang pentingnya persoalan data dan disiplin analisis dari sudut pemasaran secara langsung. Dalam dunia pemasaran digital, data menjadi hal yang sangat penting dan krusial. Dengan datalah, para penggiat dunia marketing digital dapat mengeluarkan strategi-strategi yang pamungkas dan tepat sasaran. Oleh sebab itu, sudah semestinya perencanaan data yang akurat, detail, dan rinci menjadi hal pokok yang harus dipenuhi dalam DigiMarketing.

5. Social Media and Online Consumer Engagement – Engaging Online Consumer on Social Media

Pada bagian ini membahas tentang keterlibatan konsumen online dan media sosial.

6. Online Public Relations and Reputation Management

Pada bagian ini membahas tentang manajemen reputasi dan hubungan masyarakat online dalam komunikasi pemasaran digital. Dalam digital marketing communication, internet memiliki pengaruh yang luar biasa hebatnya. Suka atau tidak, internet merupakan salah satu alat opini yang paling kuat memberikan efek yang cepat. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia yang mulai fokus menggarap digital marketing communication, Kemenpar RI harus conncern mengelola hubungan yang baik dengan Muslim traveler.

7. Affiliate Marketing and Stategic Partnership

Bagian ini membahas afiliasi pemasaran dan pentingnya kerja sama strategis dalam komunikasi pemasaran digital.

8. Digital Mobil Platform and Marketing

Bagian ini membahas dasar komunikasi pemasaran berbasis digital dan dinamis (bergerak).

9. Game (Gamification) and Marketing

Bagian ini membahas tentang gamifikasi pemasaran digital melalui media baru.

Digital Media Planning, Campaign Return of Investment (ROI), Marketing Analysis, and Reporting
Bagian ini membahas tentang bagaimana menyusun perencanaan dalam media digital untuk komunikasi pemasaran; menghitung return of investment dalam kampanye digital; dan menganalisis serta melaporkan komunikasi pemasaran digital.

Dave Chaffey (2015) mengidentifikasi setidaknya ada enam tipe digital marketing communication yang dapat dimanfaatkan untuk menggaet pasar untuk membeli produk atau menggunakan jasa yang dipasarkan.

Types of Digital Media Communication Channels
Types of Digital Media Communication Channels

Lebih lanjut, agar Muslim traveler tertarik dengan brand halal tourism, Kemenpar RI harus mulai mengubah pola pendekatan kepada pasar yang mulanya customer path hanya 4A (Aware, Attitude, Act, dan Act Again), sekarang menjadi 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, dan Advocate). Perubahan tersebut terjadi karena konsumen masa kini sudah tidak bisa fokus terhadap dirinya sendiri. Sehingga, pembelian pun bukan semata-mata adalah kehendak pribadi, melainkan menjelma sebagai keputusan bersama. (Marketeers edisi Februari 2015, hal 12).

Chief Knowledge MarkPlus, Inc. Iwan Setiawan dalam (Marketeers edisi Februari 2015, hal 12) mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan perubahan tersebut adalah fenomena internet dan gadget yang telah memengaruhi kehidupan banyak orang. Iwan menyebutkan bahwa seseorang membuka kunci layar ponselnya setiap dua menit. Hal itu membuktikan, kehadiran gadget dapat membuat seseorang menjadi tidak fokus. Kondisi demikian menjadikan pola customer path berubah menjadi 5A, bisa dikatakan Aware, Appeal, Ask merupakan input, sedangkan Act dan Advocate adalah output dari suatu proses operasional pemasaran.

Menurut Sapta Nirwandar, hal utama yang harus dilakukan oleh para pemain industri halal tourism adalah membuat penawaran dan pilihan. Untuk travel agent, sediakan guide yang memahami tujuan dari wisata halal, interpretasi dari destinasi-destinasinya, yang dapat memperkaya pembelajaran. Fasilitas harus semakin serius diusahakan. “Kalau takut dengan tidak adanya pasar, penerapan halal tourism ini justru menguntungkan. Banyak sekali orang yang mencari dan menjadi pasar yang menjanjikan karena ada segmennya sendiri. Ironis sekali melihat masyarakat Indonesia tidak confidence dengan wisata halal. Masyarakat harus memiliki persepsi positif. Ini tidak terbatas hanya untuk umat Muslim melainkan sifatnya universal,” kata Sapta. (Marketeers edisi Juni 2015, hal 150).

Apabila Indonesia sudah optimal memanfaatkan strategi digital marketing communication dalam membangun dan memperkuat brand halal touris, hal ini akan sangat menguntungkan sebab dapat memperluas pasar industri pariwisata di Indonesia. Segmentasi khusus untuk pasar halal tourism yaitu Muslim traveler yang tersebar di berbagai negara di penjuru dunia. Setidaknya ada 1,6 miliar Muslim di dunia dengan potensi US$ 140 miliar. Jika Indonesia sukses membangun dan mengembangkan brand halal tourism, tentunya akan memberikan efek positif untuk devisa negara dari sektor pariwisata.

Menurut hemat penulis, strategi digital marketing communication sangatlah tepat apabila ingin mempromosikan brand halal tourism di kancah dunia. Hal ini juga sejalan dengan misi pemerintah melalui Kemenpar RI untuk meningkatkan promosi pariwisata dalam meraup wisatawan sebanyak-banyaknya, terutama kalangan wisata mancanegara pada tahun 2015 adalah e-tourism. Langkah ini terbilang berani dan efektif terutama pada era teknologi seperti ini.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan sarana digital menjadi sarana promosi yang baik. Secara biaya tentu jauh lebih murah apabila dibandingkan promosi dengan cara konvensional. E-tourism ini tidak hanya sekadar jargon atau angan-angan saja. Kemenpar sudah mempersiapkan beberapa aktivitas. Setidaknya sudah ada tujuh layanan berbasis teknologi yang berkaitan dengan promosi wisata secara digital. Di antaranya, Portal Pariwisata yang terintegarasi (hi-indonesia.com), Wonderful TV (WOI TV), mobile application (Hi Bali), Digital Photo Bank, Sinema Online, dan Sinema Digital, www.indonesafilm.net, dan apresiasi terhadap para travel blogger 2015. (Majalah Marketeers edisi April 2015, hal 58).

Referensi:

Achyar, Mahfud. (2014). Strategi Digital Marketing Communcation EIGER. Jakarta: Paramadina Graduate School.

Bachdar, Saviq. (2015). Menjadi Brand yang Diadvokasi. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi Februari.

Chaffey, Dave. (2015). Difinitions of E-Marketing Versus Internet Vs Digital Marketing. [Online] visit site: http://www.smartinsights.com/digital-marketing-strategy/online-marketing-mix/definitions-of-emarketing-vs-internet-vs-digital-marketing/ (diakses pada tanggal 24 Juni 2015).

Nirwandar, Sapta. (2015). Halal Tourism, Kenapa Kita Harus Takut? Jakarta: Majalah Marketeers Edisi Juni.

Triwijanarko, Ramadhan (2015). Andalkan Strategi Digital dan Pesona Indonesia, Kemenpar Kerek Jumlah Wisman. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi April.

Wijayani, Septi. (2015). Tingkatkan Pasar Produk Halal dengan Halal Supply Chain Management. Jakarta: Majalah Marketeers Edisi April.

_________. (2014). Pemasaran Digital. [Online] visit site:

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemasaran_digital (diakses pada tanggal 24 Juni 2015).

Indonesia Berbagi!

Source: http://unmine.pley.com/
Source: http://unmine.pley.com/

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berbagi merupakan kata kerja yang berarti pemakaian secara bersama atas sumber daya, ruang, dan sebagainya. Sebagai makhluk sosial, manusia saling membutuhkan satu sama lain. Untuk itu, berbagi adalah hal yang tidak dapat kita sangkal sebab menjadi bagian dari individu itu sendiri.

Debasish Mridha, penulis buku “Sweet Rhymes from Sweet Hearts” memiliki pendapat indah mengenai cinta, kepedulian, dan berbagi. Dalam bukunya, ia menulis, “Love, caring, and the spirit of kindness always bring happiness. Our greatest happiness depends on what we love, how we care, and how we share.” Sejatinya, berbagi membuat kita merasakan kebahagiaan yang mendalam (heartwarming) yang barangkali tidak dapat dinilai dari sesuatu yang bersifat artificial.

Frasa berbagi menjadi semangat yang ingin kami sampaikan kepada siapa pun: tanpa ada batasan gender, usia, latar belakang pendidikan, dan profesi. Semua orang sebetulnya dapat berbagi. Namun yang membedakannya adalah, tools apa dan cara seperti apa yang digunakan untuk berbagi? Bagi orang yang memiliki kemampuan finansial yang baik, barangkali ia dapat berbagi melalui materi yang ia punya. Bagi seorang penulis, ia dapat berbagi melalui tulisannya yang menggugah. Bagi yang papah sekalipun, ia dapat berbagi dengan memberikan senyum dan mendoakan kebaikan. Kadang, hal-hal sederhana yang kita lakukan tanpa kita sadari adalah bentuk lain dari berbagi.

Barangkali kita dapat belajar dari sosok seperti Helvy Tiana Rosa yang berbagi melalui dunia kepenulisan atau dari Muhammad Yunus yang berhasil mengembangkan social entrepreneur. Semua upaya yang dilakukan berbagai entitas tersebut semata-mata untuk memberikan perubahan yang jauh lebih baik dan signifikan untuk masyarakat, lingkungan, dan dunia. Oleh karena itu, berbagi adalah syarat mutlak untuk membuat kita menjadi manusia yang seutuhnya, menjadi manusia yang takhanya sekadar ada, dan menjadi manusia yang memberikan kebermanfaatan untuk sesama. Berbagi tidak membuat kita menjadi miskin. Justru dengan berbagi, Tuhan akan menambahkan kenikmatan untuk kita. Tentunya kita berharap amal berbagi akan menjadi bekal berharga untuk kita menyongsong hidup setelah mati.

Terakhir, kami sampaikan selamat membaca! Salam care, share, inspire!

 

Percayalah, Takmudah Menjadi Seorang Guru

(Catatan Relawan Pengajar Kelas Inspirasi Depok 2)

Oleh: Mahfud Achyar[i]

 

“What is a teacher? I’ll tell you: it isn’t someone who teaches something, but someone who inspires the student to give of her best in order to discover what she already knows.” – Paulo Coelho, The Witch of Portabello

After class, let us grufie! (Kelas 4b)
After class, let us grufie! (Kelas 4b)

Percayalah, takmudah menjadi seorang guru. Begitulah yang saya rasakan selepas menjadi relawan pengajar program Kelas Inspirasi Depok 2 di SDN Depok 5.

Keterlibatan saya dalam program Kelas Inspirasi bermula ketika saya memberanikan diri untuk mendaftar menjadi relawan pengajar pada tanggal 8 September 2014. Saya mendapatkan informasi pendaftaran relawan Kelas Inspirasi dari salah seorang teman saya di komunitas yang juga concern pada dunia pendidikan.

Dan, hari yang ditunggu-tunggu pun datang juga.

Minggu, 05 Oktober 2014, pukul 14.51 WIB, saya menerima surat eletronik dari panitia Kelas Inspirasi Depok 2 yang menyatakan, “Atas berbagai pertimbangan, dengan senang hati kami sampaikan bahwa Mahfud Achyar telah TERPILIH menjadi relawan pengajar untuk menyelenggarakan Kelas Inspirasi Depok pada tanggal 20 Oktober 2014.” Apa yang saya rasakan saat itu? Saya merasa cukup kaget, senang, agak degdegan, dan sangat bersemangat. Sebab menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi adalah hal yang baru dalam hidup saya, kendati pengalaman mengajar bukanlah aktifitas yang baru bagi saya. Dulu ketika program KKNM (Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa), saya pernah mengajar siswa-siswi di desa Tanjungjaya, Ciamis dan sekarang pun saya masih terlibat menjadi relawan pengajar di komunitas yang sebutkan tadi. Fixed! Achievement unlocked for me!

Sebelum hari-H mengajar, terlebih dahulu para relawan yang berjumlah sekitar 300 dikumpulkan di gedung Bank BJB, Depok untuk mendapatkan brief seputar program Kelas Inspirasi, metode mengajar yang efektif dan menyenangkan, berbagi pengalaman dari relawan yang sudah pernah mengajar, pembagian kelompok, pembagian sekolah tempat mengajar, dan yang paling penting adalah kami saling mentransfer energi positif.

Oya, saya menjadi bagian dari kelompok 12 yang terdiri dari para profesional dari berbagai profesi. Dengan kerendahan hati, izinkan saya memperkenalkan rekan-rekan relawan kelompok 12 yang penuh semangat dan selalu ceria! Perkenalkanlah (teteret!): Felix Nola (Equipment Management), Vini Charloth (Sps Lingkungan), Windrya Amartiwi (Finance Analyst), Saulina Laura Margaretha (Head of Operation Perusahaan Pelayaran), Nanang Hernanto (Trainer), Ratih Dwi Rahmadanti (Data Analyst), Yustiani Wardhani S (Business Analyst), Amantine Al Febyana (Nurse), Endang Pulungsari (Biro Perencanaan Kemenlu), Frick (Photographer), Rizka Kharisma Putri (Photographer), dan saya sendiri Mahfud Achyar (Marketing Communication). Komposisi relawan pengajar 10 dan relawan fotografer 2 (Frick dan Rizka a.k.a Kare). Di samping itu, kami juga didampingi oleh seorang fasilitator dari KI. Please welcome, Mega!

Sekilas tentang SDN Depok 5

Akses menuju SDN Depok 5 tidaklah susah. Sebab, SD ini berlokasi di jalan yang cukup strategis di kota Depok yaitu Jalan Pemuda No. 31 Pancoran Mas. Jika dari Stasiun Depok Baru barangkali hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit (menggunakan kendaraan).

Kondisi bangunan sekolah pun cukup baik. Terdiri dari dua lantai: lantai pertama untuk kelas 1 hingga kelas 4a (termasuk ruang majelis guru) dan lantai dua untuk kelas 4b hingga kelas 6. Para siswa masuk pukul 07.00 pagi dan pulang pukul 12.00 siang. Jumlah siswa di SD ini berjumlah 271 siswa dengan rincian: kelas 1 (45 siswa), kelas 2 (45 siswa), kelas 3 (42 siswa), kelas 4a (27 siswa), kelas 4b (27 siswa), kelas 5 (45 siswa), dan kelas 6 (40 siswa).

Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5
Keceriaan Siswa-Siswi SDN Depok 5

Lesson and Learn

Satu pekan waktu yang kami punya untuk mempersiapkan lesson plan. Kendati kami memiliki kesibukan masing-masing dan terpisah dalam radius jarak yang cukup jauh, namun koordinasi kelompok tetap berjalan dengan baik. Teknologi memudahkan kami berkomunikasi satu sama lainn. Secara suka rela, ada di antar kami yang menyempatkan diri untuk survey lokasi mengajar, ada yang mempersiapkan logistik penunjang kegiatan mengajar, ada yang memberi semangat dan keceriaan, dan ada juga yang hanya bisa menjadi silent reader. Dan saya sepertinya masuk pada kategori terakhir. Hehe.

Dalam membuat lesson plan, setidaknya ada 6 pertanyaan kunci yang perlu disampaikan pada saat Proses Belajar Mengajar (PBM) yaitu: 1. Siapakah aku?; 2. Apa profesiku?; 3. Apa yang dilakukan profesiku setiap hari saat bekerja?; 4. Dimana aku bekerja?; 5. Apa peran dan manfaat dari profesiku di masyarakat?; dan 6. Bagaimana cara menjadi aku?

Tantangan terberat bagi saya adalah menyederhanakan bahasa agar mudah dimengerti dan dipahami siswa-siswi SD. Apalagi materi yang saya ajarkan adalah sesuatu yang kurang familiar didengar telinga anak-anak. Yap, materi tentang Materi Communication! Lebih dari itu, istilah-istilah dalam Marketing Communication banyak menggunakan bahasa Inggris seperti promotion, market, target audience, advertising, dan masih banyak lagi. Susah? Iya susah sekali! Namun beruntung karena memiliki pengalaman mengajar, jadi sedikit banyaknya saya sudah mengerti bagaimana menyampaikan pesan secara efektif kepada para peserta didik.

Lesson Plan, done!

Senin, 20 Oktober 2014 adalah salah satu hari terbaik dalam hidup saya. Saya diberikan kesempatan untuk berbagi dan berbuat baik. Just being a good person. Saya teringat pepatah lama, “Budi baik terkenang jua.” Hal senada juga pernah diungkapkan oleh Andrea Hirata dalam salah satu bukunya, “Memberilah sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya.” Saya percaya, hidup itu laiknya suara gema. Suara yang kita dengar adalah suara yang kita teriakkan. Secara sederhana, kita akan menuai apa yang sudah kita tanam. Dalam kerendahan hati, saya berharap apa yang kami lakukan semoga menjadi catatan amal kebaikan untuk kami. Semoga.

Tepat pukul 07.00 pagi, pintu pagar sekolah ditutup! Bagi yang telat, silakan tunggu di luar hingga upacara bendera selesai. Sigh! Saya telat 5 menit dan upacara bendera sudah berlangsung. Padahal saya berangkat dari rumah pukul 05.00 pagi. Naik taksi ke Stasiun Cikini. Berharap kereta ke Bogor segera tiba. Hampir 1 jam lebih saya menunggu di stasiun. Namun Si Ular Besi Berlistrik takkunjung menyapa. Padahal mentari Senin pagi sudah menyapa. Memancarkan cahaya berwarna jingga dan menghangatkan tubuh anak-anak manusia. Telat bagi seorang guru adalah hal yang mengkhawatirkan. Sebab ia menjadi contoh keteladanan bagi para generasi bangsa. Dan keteladanan itu dimulai ketika Sang Guru dapat menghargai waktu dengan baik. Yep, menjadi guru tidaklah mudah.

Waktu untuk mengajar dijatah. Masing-masing pengajar diberi waktu sekitar 45 menit. Kami harus pintar mengelola waktu yang sempit tersebut. Saya kebagian mengajar kelas 2, kelas 4b, dan kelas 5. Sementara itu, relawan fotografer yaitu Frick dan Kare pun harus mengatur strategi untuk tidak kehilangan momen pada saat proses belajar mengajar. Mari kita mengajar dan belajar!

Kelas 2, Kelas 4b, dan Kelas 5

“Selamat pagi anak-anak! Hari ini Bu Feby dan Pa Achyar akan mengajar kalian. Siap?”

“Siap!”

Saya dan Feby (Perawat) mendapatkan giliran mengajar siswa-siswi kelas 2. Sesi pertama diambil alih oleh Feby. Sementara saya mengajar di sesi kedua. Tampak terlihat para siswa duduk rapi di bangku masing-masing. Formasi tempat duduk di kelas 2 dibentuk perkelompok. Ada 5 kelompok. Satu kelompok diisi sekitar 5-6 orang.

Menit-menit awal berjalan dengan baik. Namun pada menit kemudian mulai terdengar ada yang berteriak (entahlah karena semangat atau merasa bebas), ada juga yang berjalan kian ke mari, ada yang hanya diam (rata-rata siswi), ada yang menimpali temannya ketika bicara, dan beberapa menit kemudian apa yang terjadi? Suasana kelas mulai tidak terkendali.

Feby pun berusaha menenangkan para siswa. Kemudian ia melanjutkan mengajar seputar profesi perawat. Beberapa menit mengajar, ada seorang siswi yang menangis karena diledekin temannya. Lalu ada yang tiba-tiba ngamuk dengan melempar tas temannya. “Pak, penghapus saya diambil!” Ia menghampiri temannya untuk menantang duel. Saya pun bergegas memisahkan mereka, memberikan pengertian bahwa sesama sahabat tidak boleh berkelahi. Bocah laki-laki itu sedikit tenang, namun tiba-tiba ia menangis. Membuang buku-buku di atas meja. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Saya mendekatinya dan mengusap-usap bahunya.

“Jangan nangis ya, kita bantuin nyari penghapusnya bersama-sama.”

Salah seorang temannya yang bernama Salomon menghampirinya dan berkata, “Aku bantuin nyari ya.” Ia pun mengangguk pertanda setuju. Perlahan tangis bocak yang mengenakan seragam putih itu berhenti. Ia berusaha menarik napas dalam. Tampaknya ia berusaha mengendalikan emosi agar tidak meluapkan amarahnya kepada teman-teman di sekitarnya.

Saya dan Feby berbagi peran. Feby pun sepertinya punya PR yang sama yaitu membuat nyaman suasana kelas sehingga para siswa dapat menyerap dengan baik pelajaran. Feby meminta anak-anak yang “vokal” di kelas untuk menjadi ketua-ketua kelompok. Mereka tampak senang dan begitu antusias. Ya, walaupun suasana kelas tidak begitu kondusif, namun para siswa masih bisa diajak kerja sama untuk belajar.

Feby selesai, sekarang giliran saya mengajar. Saya meminta semua siswa duduk lesehan di depan. Secara spontan saya mengubah metode mengajar dengan bercerita. Saya memanfaatkan media berupa mading untuk menjelaskan materi ajar kepada mereka. Beberapa di antara mereka masih saja terlihat rusuh, tapi banyak juga di antara mereka yang mau mendengarkan. Wow! Mengajar di kelas 2 sungguh menantang, gumam saya dalam hati.

Di akhir sesi, kami meminta mereka menuliskan cita-cita mereka di atas kertas label. Selanjutnya mereka satu persatu menempelkan kertas tersebut pada sebuah pohon berwarna hitam berbahan infraboard yang kami beri nama Pohon Cita-Cita. Mereka terlihat senang. Kelas pun usai. Kami pun pamitan dan meninggalkan kelas. Betulkan, menjadi guru tidaklah mudah!

Selanjutnya saya mengajar di kelas 5. Kondisi kelas sangat bertolakbelakang dibandingkan kelas 2. Cukup kondusif. Barangkali karena sudah kelas 5, para siswa lebih mudah diajak bicara agak serius. Saya pun menyampaikan materi tentang Marketing Communication lebih lancar. Mereka pun mudah memahami materi yang saya sampaikan. Beberapa siswa saya minta untuk kembali menjelaskan apa yang sudah saya sampaikan, dan mereka dapat menjelaskannya dengan baik.

Menjelang waktu pulang sekolah, saya mengajar di kelas 4b. Tidak jauh berbeda dibandingkan kelas 5, suasana kelas juga sangat kondusif. Apalagi jumlah siswa relatif lebih sedikit dibandingkan kelas 2 dan kelas 5. Di kelas 4b, saya lebih banyak menyampaikan pesan-pesan semangat agar mereka tidak takut untuk bermimpi. Agar mereka selalu optimis. Semoga transfer energi yang saya sampaikan dapat mereka terima baik.

Kelas Inspirasi ditutup dengan seremoni pelepasan balon gas di lapangan. Balon berwarna-warni ditempeli cita-cita para siswa. Mereka taksabar ingin melihat balon-balon tersebut terbang mengangkasa ke langit luas. Saya pun merekam momen spesial tersebut. Tiba-tiba seorang siswa kelas 5 menghampir saya.

“Kak, kok kakak pulang?”

“Iya soalnya sudah selesai.”

Sepertinya ia masih ingin kami di sini. Berbagi keceriaan dan bermain bersama. Namun apa daya waktu yang kami punya hanya satu hari. Namun kami berharap kami terus bisa mengajar dan belajar bersama mereka.

Apa hikmah yang saya dapatkan setelah mengajar? Saya tersadarkan bahwa PR dunia pendidikan di Indonesia sangatlah banyak. Mulai dari sistem pendidikan, pengembangan guru, hingga persoalan yang barangkali tidak terlalu menjadi concern pemerintah yaitu BULLYING. Dari yang saya amati, banyak para siswa yang senang sekali membully. Seringkali saya mendengar kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang siswa sekolah dasar. Persoalan bullying harus menjadi fokus pemerintah. Sebab banyak akibat dari bullying yang sudah memakan banyak korban, mematikan karakter, membunuh mimpi-mimpi, dan membuat siswa-siswi merasa terpenjara di sekolahnya sendiri.

Well, saya perlu angkat topi untuk pengabdian para guru di seluruh Indonesia. Mengajar bukanlah pekerjaan yang mudah. Tidak semua orang memiliki kesabaran yang berlapis-lapis seperti seorang guru. Saya berharap semoga dunia pendidikan Indonesia semakin membaik. Terakhir, saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman kelompok 12 Kelas Inspirasi Depok 2. Semoga langkah kita menjadi panutan, ujar kita menjadi pengetahuan, dan pengalaman kita bisa menjadi inspirasi untuk para penentu Indonesia di masa depan.

Kelompok 12 #KelasInspirasi
Kelompok 12 #KelasInspirasi

“When someone loves you, the way they talk about you is different. You feel safe and comfortable.”
– Jess C. Scott

[i] Mahfud Achyar adalah seorang praktisi Marketing Communication di salah satu NGO di Jakarta dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina Jakarta, program studi Corporate Communication.