Photo Story: Membangun Mimpi Anak Indonesia

Oleh: Mahfud Achyar

Ada yang berbeda dengan pagi ini. Tidak seperti pagi-pagi biasanya, pagi ini saya berada di Bandung. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak cerita yang indah untuk dikenang.

Sebelum subuh, saya sudah bangun untuk mandi. Padahal saya baru tidur sekitar pukul 2 dini hari. Namun apa boleh buat. Tidak ada pilihan lain untuk menyegerakan diri bersiap-siap menyambut hari yang penuh arti.

Rabu, (22/2/2017), saya dan 20 relawan Kelas Inspirasi Bandung 5 mengunjungi siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki Bandung. Bagi saya pribadi, ini kali pertama saya menjadi relawan Kelas Inspirasi Bandung. Sebelumnya, saya hanya ambil bagian menjadi relawan Kelas Inspirasi Jakarta dan Kelas Inspirasi Depok. Saya sungguh bersemangat sebab akan bertemu dengan orang-orang baik yang tergabung dalam Kelompok 9 serta tentunya akan bertemu dengan adik-adik yang menyenangkan.

P2221202
Gambar 1. Dua orang siswa SD Komara Budi dan Pasir Kaliki tengah bersantai pada pagi hari menjelang seremoni pembukaan Kelas Inspirasi Bandung 5.

 

P2221242
Gambar 2. Suasana salah satu kelas di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Terlihat prakarya siswa-siswi dipajang menjadi hiasan di atas lemari buku.

21 relawan yang bertugas di SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki terdiri dari 13 relawan pengajar, 5 relawan fotografer, 2 relawan videografer, serta 1 relawan fasilitator. Hal yang menarik sebagian besar relawan berasal dari luar Bandung seperti Semarang, Jakarta, Tangerang, dan Tegal.

Ragam profesi juga membuat kelompok 9 menjadi sangat berwarna. Ada yang menjabat sebagai direktur di sebuah perusahaan, ada yang menjadi psikolog anak, ada yang menjadi rescuer, dan sebagainya. Satu tujuan kami datang ke Bandung khususnya ke SD Komara Budi dan Pasiri Kaliki yaitu membangun mimpi anak Indonesia!

P2220901
Gambar 3. Seorang siswi berlari melewati lukisan bendera dari delapan negara di salah satu tembok sekolah.

Bagaimana cara membangun mimpi anak Indonesia?

Rasanya pertanyaan itu sangat sulit dijawab oleh kami yang memang bukan praktisi pendidikan. Kami adalah kumpulan para profesional yang mungkin menguasai bidang kami, namun belum tentu dapat mengajar dengan baik. Sebagian dari kami belum memiliki pengalaman mengajar sama sekali. Namun ada juga yang sudah beberapa kali mengikuti program Kelas Inspirasi.

Kendatipun pernah mengajar, kami tetap saja merasa gugup. Maka karena itu, kamipun harus mempersiapkan diri dengan baik. Jauh-jauh hari, kami sudah mempersiapkan materi ajar untuk memberikan yang terbaik yang kami punya untuk siswa-siswi di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki.

Lantas apa yang kami ajarkan kepada mereka? Apakah matapelajaran matematika yang kerapkali dianggap momok menakutkan oleh banyak siswa-siswi? Tidak! Tidak sama sekali! Kami mengajar tentang diri kami, profesi kami, dan proses kami hingga menjadi seperti sekarang. Untuk apa? Apakah untuk pamer atau ‘gaya-gayaan’? Tidak. Sungguh tidak sama sekali. Kami menyadari dengan sepenuhnya bahwa kami bukanlah yang terbaik. Kami barangkali tidak layak menjadi contoh atau role model.

Walau kami tidak sempurna, kami memiliki hasrat yang besar untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satu upaya yang bisa kami lakukan yaitu berbagi dengan mereka. Kami datang untuk berbagi mimpi. Sesederhana itu.

P2221074
Gambar 4. Herawati merupakan seorang direktur di sebuah perusahaan di Bandung. Di kelas, ia berpesan kepada siswa-siswi, “Kita bisa menjadi apapun yang kita mau.”

 

Kami yakin, niat yang baik tentu akan mendapat impresi yang baik pula. Begitulah yang kami rasakan ketika setengah hari berada di SD Komara Budi dan Pasir Kaliki. Kami merasa senang disambut dengan sangat baik oleh kepala sekolah dan jajaran guru. Lebih penting dari itu semua, kami menyaksikan betapa siswa-siswi SD Komara Budi dan Pasir Kaliki memiliki semangat belajar yang sangat baik. Mereka antusias bertanya, mereka bersemangat untuk menjadi orang hebat di masa depan. Tidak ada hal yang membahagiakan bagi kami selain melihat pelita harapan masih nyala di hati mereka.

P2221120
Gambar 5. Berlari menggapai cita-cita.

Teruslah berjuang menggapai cita-cita, wahai generasi harapan bangsa. Doa kami akan terus ada untuk kalian.

Terakhir, kami mengutip pesan Bung Hatta, “Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Jangan mengharapkan bangsa lain respek terhadap bangsa ini, bila kita sendiri gemar memperdaya sesama saudara sebangsa, merusak dan mencuri kekayaan Ibu Pertiwi.”

 

Puluhan Januari Telah Terlewati

Processed with VSCO
Senja di Jakarta pada akhir Januari. (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Saya adalah seorang pria pemuja kata-kata, sungguh. Saya selalu kagum dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa hingga menghasilkan sebuah kalimat dan paragraf yang bermakna.

Sepekan yang lalu, saya menonton film yang berjudul “The Light Between Oceans,” sebuah film yang dirilis pada tahun 2016 yang diperankan dengan sangat baik oleh Michael Fassbender dan Alicia Vicander. Film tersebut berkisah tentang seorang penjaga mercusuar dan istrinya yang tinggal di sebuah pulau bernama Janus Rock. Dua tahun setelah pernikahan mereka, pasangan tersebut menemukan kapal sekoci yang membawa dua orang penumpang; seorang pria dan bayi perempuan. Bagaimana kisah selanjutnya? Silakan ditonton.

Akan tetapi, pada tulisan ini, saya tidak ingin membahas panjang-lebar tentang film yang mendapatkan rating 7,2 oleh satu situs IMDb. Lantas, apa yang ingin saya bagikan? Belakangan ini, saya terusik dengan sebuah pertanyaan, “Apakah standar utama yang membuat suatu karya, misalnya film, layak dinobatkan sebagai karya yang fenomenal?” Lama, lama sekali saya berpikir tentang hal tersebut hingga pada akhirnya saya menemukan simpulan yang paling tepat menurut perspektif saya sendiri. Bagi saya secara personal, film yang baik adalah film yang membuat saya merenung: memikirkan setiap dialog, adegan, dan semua tanda yang ditampilkan dalam film, baik kasat mata maupun tersirat.

Salah satu kutipan pada film “The Light Between Oceans” yang membuat saya impresif yaitu, “You only have to forgive once. To resent, you have to do it all day, every day.” Ungkapan ini membuat hati saya gusar. Membuat memori masa silam hadir kembali dengan cuplikan yang lebih utuh, lebih jelas. Ada banyak luka-luka di dalam hati saya yang belum sembuh hingga sekarang. Setiap hari, saya masih merasakan luka yang sama, tidak kurang sedikitpun. Berulang kali saya mencoba melupakannya. Nyatanya tidak semudah yang saya kira. Entahlah, barangkali saya memang belum bisa ikhlas atau mungkin masih ada hal yang belum tuntas. Saya pun tidak tahu harus menerjemahkannya seperti apa perasaan yang meliputi ruang hati saya. Namun satu hal yang pasti, saya memang harus mulai memaafkan dan berdamai dengan diri saya sendiri. Terkadang saya berpikir, saya terlalu keras dengan diri saya sendiri. Mulai hari ini, saat Januari telah pergi, saya mulai mencoba menjadi diri yang baru setiap harinya. Seorang anak manusia yang ingin memiliki hidup yang bahagia.

Januari, kini entah di orbit mana engkau berada? Saya pun alfa tentang hal itu. Ada satu rahasia yang ingin saya sampaikan padamu, “Tahukah kamu, kehadiranmu sungguh berarti. Engkau berada di dua garis yang berbeda. Satu wajahmu menghadap ke masa lalu (bulan Desember), satu lagi wajahmu menghadap ke masa depan (Februari). Bisakah kau sedikit mendoakan saya?

Jakarta,

1 Februari 2017

AQUA Grup Luncurkan Program Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP)

Laporan oleh: Mahfud Achyar

Processed with VSCO with a6 preset
Malam presentasi karya 10 peserta workshop storytelling AQUA x Suara Tirtha Emerging Photographers pada Senin, (30/1/2017) di AQUA Danone Menara 2 Cyber, Jakarta. 

JAKARTA – AQUA Grup meluncurkan program Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP) sebagai bentuk kepedulian perusahaan terhadap kemajuan fotografer muda di Indonesia yang karyanya diharapkan dapat menginspirasi publik untuk lebih peduli pada lingkungan. Bentuk dari program yang dimulai sejak 26-30 Januari ini adalah workshop storytelling dengan tema “CARE” yang diselenggarakan di Bogor, Jawa Barat.

Proses seleksi peserta dilakukan dengan mengumumkan kegiatan ini secara resmi melalui website dan media sosial guna menjaring para fotografer muda dari seluruh Indonesia. Dari hasil seleksi, terpilih 10 fotografer yaitu, 1) Muhammad Ibnu Chazar – Karawang, Jawa Barat; 2) Esther Hasugian – Bogor, Jawa Barat; 3) Himawan Listya Nugraha – Banyumas, Jawa Tengah; 4) Bhima Pasanova – Jakarta, DKI Jakarta; 5) Danis Arbi Meigantara – Tangerang, Banten; 6) Risma Afifah – Jakarta, DKI Jakarta; 7) Eva Fauziah – Depok, Jawa Barat; 8) Muhammad Ihsan Mulya Pratama – Solo, Jawa Tengah; 9) Ajeng Dinar Ulfiana – Jakarta, DKI Jakarta; serta 10) Muhammad Ridwan – Padang, Sumatera Barat.

Ben KC Laksana, salah seorang juri tamu yang menyeleksi para pendaftar cukup terkesima dengan kualitas karya yang dikirimkan oleh para calon peserta. “Banyak dari karya mereka tidak hanya mempertunjukkan wawasan dan pengalaman estetika visual, namun juga komitmen terhadap proyek yang sangat personal dan dedikasi,” ungkap Ben.

Kesepuluh fotografer terpilih akan didampingi oleh dua mentor, yaitu Yoppy Pieter dan Muhammad Fadli dalam menafsirkan tema “CARE”. Selain itu, selama workshop, setiap peserta akan ditantang untuk menginterpretasikan sebuah tema ke dalam bentuk visual. Metode tersebut menuntut setiap peserta menjadi storyteller berbekal pemikiran kritis terhadap fenomena di sekitar mereka.

Salah satu hal yang menarik dari workshop ini, adalah lokasi penyelenggaraan acara di kawasan Ciherang yang merupakan salah satu penyangga konservasi Jakarta. Di daerah ini, AQUA Grup juga menjalankan operasionalnya dan mengembangkan berbagai program sosial dan lingkungan terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan melibatkan berbagai pihak.

Workshop ini mengajak para peserta mengunjungi kawasan konservasi yang diinsiasi AQUA Grup. Para peserta akan melihat secara langsung program-program sosial dan lingkungan AQUA Grup dalam menjaga kawasan konservasi Ciherang. Setelah melakukan kunjungan, peserta mendapatkan kuliah umum mengenai tema “CARE” yang menjadi spirit AQUA Grup.

Yoppy Pieter, mentor workshop storytelling STEP menjelaskan bahwa setiap peserta akan mengajukan ide story yang berkaitan dengan tema. “Story yang mereka ajukan bisa mengangkat beberapa program sosial dan lingkungan di sekitar kawasan Ciherang maupun hal-hal lain di luar kegiatan tersebut selama mereka mampu menerjemahkan konsep CARE dalam project mereka,” papar Yoppy.

Lebih lanjut, Yoppy menceritakan bahwa pada hari kedua hingga hari keempat, seluruh peserta harus sudah mengeksekusi project mereka. Pada hari terakhir, yaitu Senin, (30/1/2017) para peserta akan melakukan presentasi di hadapan para tamu undangan di kantor pusat AQUA Grup

Sebagai seorang mentor, Yoppy akan membagi pengetahuannya mengenai visual storytelling kepada para peserta workshop. Selain itu, para peserta workshop juga dituntun menjadi fotografer yang memiliki critical thinking. “Jadi program ini tidak hanya membahas fotografi dari segi teknis, namun sebuah program yang memperkenalkan tentang etika dan estetika dalam pembuatan sebuah proyek photostory. Hal ini yang akan ditekankan agar mereka nantinya sebagai visual storyteller akan lebih peka terhadap apa yang terjadi di sekitar mereka yang meliputi aspek sosial, budaya, maupun lingkungan,” terang Yoppy.

Sementara itu, Muhammad Fadli menambahkan bahwa output dari workshop storytelling STEP yaitu berupa photostory yang memperlihatkan narasi visual yang dirangkum dalam bentuk slideshow dan photobook yang menjadi medium komunikasi yang mudah dicerna oleh masyarakat luas.

Melalui kegiatan workshop storytelling STEP, Fadli berharap para fotografer muda mendapatkan pengetahuan mengenai storytelling serta memiliki semangat kompetisi melalui sistem submisi. “Sejak awal pendaftaran peserta sudah digiring memiliki pemikiran kritis terhadap tema CARE dan pandangan mereka terhadap fotografi hari ini. Lalu ke depannya kita berharap bahwa program pendidikan ini mampu meningkatkan rasa kepercayaan diri peserta dalam menyampaikan gagasan mereka,” imbuh Fadli.

Sementara itu, Ridzki Noviansyah yang juga juri tamu menambahkan bahwa para fotografer muda yang terpilih diharapkan dapat menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Tentang Workshop Storytelling STEP

Suara Tirtha Emerging Photographers (STEP) yang diselenggarakan ini merupakan wujud untuk memajukan pendidikan dan perkembangan budaya visual di Indonesia. STEP tidak sebatas workshop storytelling yang membekali peserta dengan teori photostory, namun setiap peserta akan diberi tanggung jawab dalam mengelola dana hibah untuk mendanai proyek mereka selama program workshop berlangsung.

Tentang AQUA

AQUA merupakan pelopor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia yang didirikan pada tahun 1973. Sebagai perwujudan visi dan komitmen dalam mengelola operasional secara bertanggung jawab dalam sosial dan lingkungan, AQUA mengembangkan inisiatif AQUA Lestari yang terdiri dari empat pilar yaitu, Pelestarian Air dan Lingkungan, Praktik Perusahaan Ramah Lingkungan, Pengelolaan Distribusi Produk serta Pelibatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

AQUA adalah bagian dari kelompok usaha DANONE, salah satu produsen produk makanan dan minuman terbesar di dunia.   Di Indonesia sendiri, unit usaha DANONE meliputi tiga kategori utama, yaitu minuman (AMDK dan minuman ringan non karbonasi),  Nutrisi untuk Kehidupan Awal (Nutricia dan Sari Husada dengan produknya seperti SGM, Vita Plus, Lactamil, dan Vitalac), serta nutrisi medis. Laporan keberlanjutan AQUA dapat diakses melalui www.aqua.com.  Untuk masukan serta keluhan pelanggan, dapat disampaikan melalui AQUA Menyapa 08071588888 atau melalui Facebook Sehat AQUA dan www.aqua.com.

Informasi mengenai mengenai workshop ini dapat Anda baca pada: http://www.AQUA.com. Ikuti juga lini media sosial kami: Facebook Fan Page: AQUA LESTARI | Instagram: @aqualestari | Twitter: @aqua_lestari #CARE #AQUASTEP #AQUALESTARI

Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016: “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”

 

Processed with VSCO with a6 preset
Chiki Fawzi dan Band pada pembukaan pameran foto dan video Kelas Inspirasi Jakarta, Kamis, (10/11/2016) di Qubicle Center, Senopati 79, Jakarta Selatan. 

JAKARTA, INDONESIA – Tahun ini, Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta yang ke-2 kembali digelar dengan mengusung tema “Berani Bermimpi, Berani Menginspirasi”. Jika pada tahun sebelumnya para pengunjung pameran hanya sebatas menikmati karya fotografi dari relawan Kelas Inspirasi Jakarta, maka pada tahun ini panitia akan menyuguhkan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengunjung tidak hanya sekadar melihat karya fotografi melainkan juga dapat berinteraksi secara langsung dengan para fotografer. Hal tersebut memungkinkan terjadi karena pameran yang dikurasi oleh Yoppy Pieter ini memilih konsep photo story.

Barangkali tidak banyak masyarakat umum yang mengetahui terminologi photo story. Secara sederhana, photo story merupakan serangkaian foto yang dilengkapi dengan narasi dan caption (80% foto, 10% narasi, dan 10% caption). Konsep photo story dipilih lantaran panitia ingin mengajak para pengunjung (khususnya yang belum pernah terlibat menjadi relawan Kelas Inspirasi) untuk turut hadir pada momen-momen berharga, inspiratif, dan berkesan selama penyelenggaran Kelas Inspirasi Jakarta ke-5 pada (2/05/2016) lalu.

Setidaknya, ada 880 relawan pengajar, 220 tim dokumentator (fotografer dan videografer), serta 89 fasilitator yang terlibat aktif guna menyukseskan Hari Inspirasi yang bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Para relawan Kelas Inspirasi disebar ke berbagai Sekolah Dasar (SD) dengan kategori sekolah marjinal dan satu Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) di Jakarta.

Relawan Kelas Inspirasi, merupakan para profesional dalam bidangnya masing-masing yang bercerita kepada para siswa-siswi Sekolah Dasar mengenai profesi mereka. Tidak hanya sekadar bercerita, mereka juga memberikan semangat, motivasi, dan asa agar generasi harapan bangsa berani menggapai cita-cita mereka. “Barangkali, bagi para relawan mereka hanya diminta untuk cuti satu hari bekerja. Namun sesungguhnya kehadiran mereka di tengah para siswa-siswi pada Hari Inspirasi sangatlah bermakna. Berbagi cerita, berbagi pengetahuan, serta berbagai pengalaman kepada siswa-siswi SD agar kelak mereka menjadi orang-orang yang hebat,” ujar Harry Anggie S. Tampubolon, Ketua Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016.

Sebagai informasi, Kelas Inspirasi (www.kelasinspirasi.org) merupakan program turunan dari Indonesia Mengajar (www.indonesiamengajar.org) yang memfasilitasi para profesional untuk berkontribusi secara nyata memajukan pendidikan di Indonesia. Kelas Inspirasi pertama kali diselenggarakan pada (25/04/2012) secara serentak di 25 Sekolah Dasar di Jakarta dan akan terus berjalan pada tahun-tahun berikutnya.

Kelas Inspirasi sudah dilaksanakan lebih dari 100 kali di berbagai kota dan kabupaten di Indonesia. Gerakan ini terus berjalan dari tahun ke tahun. Kabar menggembirkan ternyata program sejenis Kelas Inspirasi telah banyak diselenggarakan di berbagai daerah dengan nama-nama yang berbeda. Kendati demikian, kami berkeyakinan bahwa semua gerakan yang ada memiliki tujuan yang sama yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta ke-2 akan dilaksanakan bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November hingga 19 November 2016 di Senopati 79 a Qubicle Center, Jalan Senopati No. 79, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Menurut Harry, Qubicle Center dipilih sebagai lokasi pameran tahun ini lantaran Qubicle Center merupakan salah satu tempat pusat kreativitas di Jakarta. Sebagai platform yang berdiri berdasarkan kerja sama dengan para komunitas seluruh Indonesia, Qubicle mendukung para konten kreator dan komunitas dengan adanya fasilitas di Qubicle Center. Oleh sebab itu, pihak Qubicle berbaik hati menyediakan fasilitas Qubicle Center guna mendukung terwujudnya Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016. “Selain sebagai pusat kreativitas, Qubicle Center dipilih karena lokasinya berada di kawasan ramai seperti SCBD (Sudirman Centran Bussiness District) serta mudah dijangkau dengan menggunakan moda transportasi umum,” jelas Harry.

Selain Qubicle, Pameran Kelas Inspirasi Jakarta 2016 juga didukung oleh PGN, SKK Migas, Conoco Phillips, Dapur Icut, Printerous serta Seagate. Dukungan dari berbagai pihak dalam mewujudkan pameran tahun ini merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk terus menebar kebaikan, khususnya dalam bidang pendidikan.

Secara spesifik, tujuan dilaksanakan Pameran Kelas Foto dan Video Inspirasi Jakarta 2016 yaitu untuk menyosialisasikan kegiatan positif yang digawangi oleh lebih dari 2000 relawan Kelas Inspirasi selama 5 tahun ke belakang. Selain itu, pameran tersebut juga sebagai bentuk apresiasi kepada seluruh relawan, siswa-siswi, guru, dan sekolah yang telah merasakan manfaat Kelas Inspirasi.

Selain pameran, kegiatan lain yang dapat diikuti oleh para pengunjung yaitu talkshow/workshop fotografi dan sharing session Kelas Inspirasi Jakarta. Tidak hanya itu, pengunjung juga akan dihibur dengan penampilan musik dari musisi tanah air. Pembukaan pameran pada Kamis, (10/11/2016) pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Celtic Room, Chiki Fawzi, dan Archie Wirija. Sementara untuk penutupan pada Sabtu, (19/11/2016) pukul 11.00 WIB hingga 21.00 WIB akan dimeriahkan dengan penampilan musik yang dibawakan oleh Syahravi, Westjamnation, Huhu Popo, Resha and Friends, Nia Aladin, serta Juma & The Blehers.

Sementara itu, adapun 17 pameris yang terlibat pada pameran ini terdiri dari 13  fotografer yaitu Aad M. Fajri, Agil Frasetyo, Bagas Ardhianto, Bhima Pasanova, Darwin Sxander, Deasy Walda, Desi Bastias, Desita Ulfa, Dimitria Intan, M. Khansa Dwiputra, Ruben Hardjanto, Shofiyah Kartika dan Silvya; 3 videografer yaitu Fahiradynia Indri, Agus Hermawan, dan Yuni Amalia; serta 1 mural artis yaitu Popo Mangun. Sebagian besar dari mereka bukanlah fotografer dan videografer profesional. Ada yang masih berstatus mahasiswa, ada yang bekerja sebagai konsultan, dan lain sebagainya. Pun demikian, karya-karya mereka yang nanti akan dipamerkan patut untuk mendapatkan diacungi jempol. Informasi lebih detil mengenai profil singkat para fotografer dan videografer dapat dilihat pada situs berikut: http://pameranki.kelasinspirasijakarta.org/.

“Kami berharap melalui Pameran Foto dan Video Kelas Inspirasi Jakarta 2016, semakin banyak orang-orang baik di negeri ini yang peduli dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Kami berkeyakinan bahwa para generasi bangsa yang saat ini duduk di bangka Sekolah Dasar kelak akan menjadi generasi yang gemilang. Oleh sebab itu, kita semua tanpa terkecuali berkewajiban untuk memastikan agar para penerus bangsa mendapatkan akses pendidikan yang baik, merata, dan berkeadilan sosial,” tutup Harry.

 

Photo Story: “Aku dan Masa Depanku”

Oleh: Mahfud Achyar

Collage - Photo Story
Collage – Photo Story Kelas Inspirasi Jakarta 5 (Foto paling atas sebelah kiri diambil oleh: Yeni Suryati)

Sebuah pepatah mengatakan, “A picture is worth a thousand words.” Rasanya saya sependapat dengan pepatah tersebut. Terlebih pada hari Senin, (2/05/2016) lalu, saya berkesempatan mengabadikan momen berharga selama kegiatan Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur.

Hari Inspirasi merupakan hari di mana para relawan Kelas Inspirasi bertemu dengan siswa-siswi Sekolah Dasar untuk berbagi cerita mengenai profesi mereka.

“Bangun Mimpi Anak Indonesia,” begitulah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa para relawan.

Mereka berkorban waktu satu hari dengan harapan agar kelak generasi penerus bangsa menjadi generasi yang mampu membuat ibu pertiwi tersenyum. Para relawan, mereka datang dari berbagai profesi dan rehat sejenak dari rutinitas pekerjaan hanya untuk memastikan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang baik dan masih peduli dengan dunia pendidikan Indonesia.

Mengutip perkataan Menteri Pendidikan, Anies Baswedan, “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai.” Cuti satu hari, menginspirasi seumur hidup. Hanyalah itu yang mereka harapkan. Tidak lebih, tidak kurang.

Kelas Inspirasi adalah sub-program yang digagas oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar yang memfasilitasi para profesional untuk turut ambil bagian menjadi penggerak kemajuan pendidikan Indonesia. Kendati hanya satu hari, semoga waktu yang singkat tersebut dapat memberikan secercah cahaya kebaikan demi menunaikan janji kemerdekaan Indonesia, “Mencerdaskan kehidupan bangsa!”

Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi saya menjadi relawan Kelas Inspirasi. Saya bergabung menjadi relawan Kelas Inspirasi Depok 2 pada tahun 2014 dengan mendaftar menjadi Inspirator. Selanjutnya, berbekal pengalaman menjadi Inspirator, pada tahun berikutnya, 2015, saya beranikan diri untuk menjadi Fasilitator Kelas Inspirasi Jakarta 4.

“Menjadi relawan Kelas Inspirasi itu candu!” Tahun 2016, ketika pendaftaran Kelas Inspirasi Jakarta 5 dibuka, saya pun mendaftar pada hari pertama pendaftaran sebagai relawan Fotografer. Menjadi relawan fotografer adalah tantangan baru untuk saya. Walaupun saya sudah terbiasa dengan dunia fotografi, nyatanya mendokumentasikan kegiatan Kelas Inspirasi tetap saja membuat saya deg-degan. Saya khawatir tidak dapat menyajikan kualitas foto yang baik. Saya cemas bila kamera saya tidak berfungsi dengan baik. Namun saya beranikan diri dan berkata kepada hati saya, “Oke, saya akan melakukan yang terbaik semampu yang saya bisa.”

PS. Silakan unduh file pdf yang berisi photo story karya saya. Tautan: PHOTO STORY – AKU DAN MASA DEPANKU

SAVANNA & MUHLENBERGIA CAPILLARIS DI GUNUNG GUNTUR

Catatan Pendakian Gunung Guntur (2,249 mdpl) di Garut Jawa Barat

 Oleh: Mahfud Achyar

1
Garut: Zwitsers van Java (Captured by: Mahfud Achyar)

Zwitsers van Java, begitulah julukan yang diberikan oleh Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda yang begitu kagum dengan keindahan alam Garut. Konon, Sang Ratu yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau jatuh hati dengan Garut. Ia pun dikabarkan memiliki tempat peristirahatan pribadi di Garut.

Selayaknya Ratu Wilhelmina, saya pun mengagumi Garut. Dulu, sewaktu kuliah saya telah bertualang ke tempat-tempat terbaik di Garut seperti pemandian air panas di Cipanas, pantai-pantai nan elok di Pamengpeuk, PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Kamojang, kebun teh di Cikajang, ladang akar wangi di Samarang, hutan mati di Gunung Papadandayan, serta wisata kuliner di Garut kota. Kendati sudah banyak tempat di Garut yang pernah saya datangi, namun saya masih penasaran dan sangat tergoda untuk mengunjungi lebih banyak ‘surga-surga tersembunyi’ di kabupaten yang hari lahirnya diperingati setiap tanggal 16 Februari.

Dari sekian banyak tempat menarik di Garut, saya memilih untuk mendaki gunung Guntur. Jika Anda pernah berwisata ke Garut, tentu Anda pernah melihat gunung Guntur dari sisi jalan. “Ah, gunung Guntur terlihat tidak terlalu tinggi. Pasti cukup mudah mencapai puncaknya!” Ya, hampir semua orang yang belum pernah mendaki gunung Guntur akan berujar hal yang sama. Saya pun dulu pernah mengatakan hal tersebut. Namun setelah mendaki gunung Guntur pada akhir pekan kemarin (21 hingga 22 Mei 2016), saya dengan tegas mengatakan, “Gunung Guntur itu kecil-kecil cabai rawit!”

Mengapa pada akhirnya saya memutuskan untuk mendaki gunung Guntur? Secara personal, saya menyukai gunung Guntur karena mirip dengan gunung Merbabu di Jawa Tengah. Lantas, apa kemiripan gunung Guntur dan gunung Merbabu? Savana! Ya, kedua gunung tersebut sama-sama memiliki savana yang luas, hijau, dan tentunya indah. Saya sangat terobsesi dengan savana. Bagi saya, ketika berada di hamparan savana, saya merasa merdeka. Seketika itu juga otak saya mulai berfantasi membayangkan film-film petualangan seperti Lord of the Rings, The Secret Life of Walter Mitty, Into the Wild, dan sebagainya. Berada di savana yang hijau membuat saya sangat bersemangat dan riang gembira. Saya membayangkan diri saya menjadi tokoh-tokoh fiksi dalam film dan novel yang bertema petualangan. Terasa sangat menyenangkan.

4
Savanna (Captured by: Mahfud Achyar)

“Terkadang kita perlu menjadi kekanak untuk dapat menikmati hidup. Namun terkadang juga kita perlu menjadi manusia dewasa yang sesungguhnya untuk dapat memahami peliknya hidup dan kehidupan. Jika berada di alam bebas, tentunya saya akan memilih menjadi kekanak. Bebas, lepas, dan penuh kreatifitas!”

Selain memiliki savana yang hijau dan luas, di gunung Guntur Anda juga akan menemukan bunga ilalang yang berwarna pink. Cantik! Dalam bahasa latin, bunga tersebut bernama muhlenbergia capillaris atau dikenal juga dengan sebutan muhly hairawn. “The plant itself includes a double layer; green leaf-like structures surround the understory, with purple-pink flowers out-growing them from the bottom up. The plant is a warm-season grass, meaning that leaves begin growth in the summer. During the summer, the leaves will stay green, but they morph during the fall to produce a more copper color.”

11
Muhlenbergia Capillaris at Mt. Guntur West Java (Captured by: Mahfud Achyar)

Pada pendakian ke gunung Guntur kemarin, saya ditemani oleh sahabat-sahabat perjalanan yang menyenangkan. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang sama saat melakoni pendakian ke beberapa gunung di Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Saya pikir, kami bertujuh sepakat bahwa pendakian kemarin memiliki cerita yang indah untuk dikenang. Begitu banyak drama, gelak tawa, serta suka cita yang menghiasi perjalanan kami selama dua hari satu malam.

Dari tujuh orang yang ikut pendakian, hanya satu orang yang pernah mendaki gunung Guntur. Sisanya belum pernah sama sekali. Kami berenam tidak ada gambaran yang jelas mengenai gunung Guntur. Namun tidak perlu gusar, tenang saja. Kami sudah memiliki banyak asupan informasi, baik dari internet maupun dari teman-teman yang sudah pernah mendaki gunung Guntur. Persiapan mendaki gunung Guntur kami siapkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Beruntung hampir semua anggota kelompok pernah mendaki gunung sehingga pembagian tugas menjadi lebih efektif. Oya, terima kasih saya ucapakan sedalam-dalamnya untuk Brian Acton dan Jan Koum yang telah menciptakan aplikasi WhatsApp. Thanks buddies! Koordinasi dan komunikasi kami dalam mempersiapan segala keperluan untuk mendaki menjadi lebih mudah.

So, let us walk together fellas!

DSC_0545
L-R: Iril, Abah, Imam, Achyar, Klep, Tami, Moa

 

Sebelum memulai pendakian, kami harus mengurus proses administrasi serta membayar retribusi sebesar 15ribu rupiah (sudah termasuk asuransi jika pendaki mengalami kecelakaan). Setelah semua prosedur kami lakukan, kami pun mulai mendaki sekitar pukul 09.00 WIB.

Saat itu, mentari bersinar tidak terlalu terik dan cuaca tidak terlalu panas. Kami sangat bersyukur. Alhamdulillah. Andai cuaca tidak bersahabat tentu kami akan kerepotan. Betapa tidak, sebelum memasuki kawasan hutan, kami harus berjalan sekitar 45 menit untuk menyusuri jalanan berkerikil dan berpasir. Kami melewati area tambang pasir persis di kaki gunung Guntur. Bila hujan turun sementara pada waktu yang bersamaan truk-truk pembawa pasir melewati jalan yang sama dengan kami, tentunya cukup berbahaya. Salah seorang sahabat bercerita bahwa ia pernah melihat truk pasir terguling dan di dalam truk pasir tersebut ada para pendaki yang menumpang. Lantas apa yang terjadi? Insiden pun tidak dapat terelakkan.

2
Memasuki area penambangan pasir di kaki gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Sepanjang perjalanan, saya berpikir, apabila pasir di kaki gunung Guntur terus dikeruk bukankah akan menyebabkan longsor? Saya menilai ada persoalan lingkungan di gunung Guntur yang harus menjadi concern pemerintah daerah Garut. Sepertinya harus dibuat regulasi mengenai penambangan pasir di kaki gunung Guntur tanpa abai terhadap mata pencaharian masyarakat di sekitar kaki gunung Guntur yang bekerja sebagai buruh penambang pasir.

Ada objek yang unik di sekitar area tambang pasir di kaki gunung Guntur yaitu bebatuan cadas yang mirip dengan situs geologi Gunung Padang di Cianjur atau Stone Garden di Padalarang. Namun sepertinya objek tersebut tidak begitu dihiraukan oleh para pendaki. Padahal sepertinya cukup menarik untuk dijadikan latar foto yang instagramable. Serius!

Setelah berhasil melewati area tambang pasir, kami pun memasuki kawasan hutan yang tidak terlalu rimbun. Namun sesampainya di hutan, udara sejuk pun mulai menyergap tubuh kami yang berkeringat. Kami seperti terlahir kembali (halah, klausa ini terlalu berlebihan). Semakin jauh berjalan, tantangan yang kami hadapi semakin menantang. Beberapa kali saya harus membenarkan posisi tas carier agar terasa nyaman dibawa. Keringat pun mulai mengucur dan napas mulai tidak teratur. Hanya bercanda dan foto-foto yang menjadi obat ampuh untuk menghilangkan rasa penat yang menggelayut di pundak. Kendati langkah terasa berat, kami terus melangkah dan menikmati setiap bunyi hembusan napas yang terdengar berat.

“Ayo semangat! Sebentar lagi Pos 1!”

Salah seorang dari kami tiba-tiba memecah kesunyian saat melewati hutan yang sepi. Di gunung, terkadang ungkapan “semangat” tidak lantas membuat kita bersemangat. Seringkali frasa “semangat” membuat kita semakin berpikir realistis bahwa perjalanan masih panjang. Sembari menghembuskan napas, saya bergumam, “Oke perjalanan masih panjang, Bung!” Tidak ada jalan lain kecuali terus melangkah dan menikmati setiap rasa yang timbul dari dalam diri: rasa kesal, lelah, dan payah.

Menurut saya, jalur pendakian di gunung Guntur tidak begitu susah. Namun mendekati Pos 3, saya mulai merasa kewalahan karena harus melewati jalur bebatuan yang memiliki kemiringan hingga 75⁰. Saya harus ekstra waspada dan harus memastikan kaki saya mendarat di batu yang solid dan kokoh. Jika tidak, saya bisa terpeleset dan akan berakibat fatal. Oleh sebab itu, bagi para pendaki yang melewati jalur tersebut diminta hati-hati. Watch your step, guys!

 

 Pukul 13.30 WIB kami tiba di Pos 3.

“SELAMAT DATANG DI POS 3,” tulisan pada sebuah gapura yang terbuat dari kayu berwarna coklat menyambut kedatangan kami. Saya mulai tersenyum sumringah. Aha, ternyata di pos 3 sudah banyak berdiri tenda warna-warni. Terlihat seperti bumi perkemahan yang bernuansa ceria. Oh ya, sebagai informasi pengelola gunung Guntur hanya mengizinkan mendirikan tenda di pos 3. Pendaki tidak diizinkan mendirikan tenda di puncak. Hal ini lantaran sering terjadi longsor di gunung Guntur. Apalagi mengingat curah hujan pada bulan Mei masih lumayan tinggi. Sejauh pengamatan saya, tidak ada satu pun pendaki yang melanggar himbauan tersebut. Good job!

P1220119
Pos 3 Gunung Guntur (Captured by: Klep)

Lagi pula, menurut saya memang paling nyaman dan paling enak berkemah di pos 3. Betapa tidak, kita tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan air. Jika Anda mau, Anda bisa bisa mendirikan tenda persis di samping sungai. Arena berkemah di pos 3 juga sangat luas. Anda tidak perlu khawatir tidak kebagian lahan untuk mendirikan tenda. Selain itu, jika summit pada dini hari Anda tidak perlu membawa tas carrier yang berat. Anda cukup membawa barang-barang penting. Sisanya, Anda bisa simpan di dalam tenda. Insya Allah aman.

Jika boleh dikatakan, pendakian di gunung Guntur tergolong pendakian leyeh-leyeh. Setelah selesai makan siang dan sholat kami pun tidur di luar tenda dengan beralaskan flysheet. Siang itu, matahari ditutupi awan putih yang tebal. Cuaca juga tidak terlalu dingin. Cukup pas untuk kita tidur siang. Salah satu dari kami menyeletuk, “Ayo kita tidur siang!” Akhirnya tanpa banyak kata dan suara, kami semua tertidur pulas. Saya terbangun dari tidur ketika tiba-tiba ada suara gaduh dari pendaki yang baru datang. Saya melihat jarum jam yang ternyata baru menunjukkan pukul 15.30 WIB. Ternyata saya tidur hanya sebentar namun terasa sangat lama. “Itu namanya tidur berkualitas,” celoteh teman saya.

Untuk mengisi waktu sore hari, kami pun bermain kartu uno. Bagi saya, bermain uno di gunung adalah pengalaman pertama. Biasanya waktu di gunung sangat terbatas. Namun ternyata sangat menyenangkan mengisi waktu bersama sahabat dengan hal-hal yang menyenangka. Jika ingat momen-momen bermain uno, saya hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ada saja kejadian lucu yang membuat saya tidak henti-hentinya tertawa. Misalnya ketika salah seorang sahabat bernasib sial karena harus menarik kartu uno dalam jumlah yang sangat banyak. Menyebalkan.

Dari sekian banyak momen lucu selama bermain kartu uno, ada satu momen yang akan terus menjadi bahan untuk ditertawakan. Ceritanya begini, ketika masing-masing dari kami sedang serius menyusun strategi untuk memenangkan pertarungan uno, tiba-tiba seorang sahabat saya (nama disamarkan demi menjaga harga diri) yang mendapatkan giliran mengeluarkan kartu tiba-tiba berteriak, “Kartu ungu!” Sontak saat itu semua terpaku diam membisu. Saya pun jadi kebingungan. Apa maksud dari kartu ungu? Selidik demi seledik, ternyata ada yang menimpali celetuk teman saya tersebut, “Kartu uno ungu yang seperti ini bukan?” Haha gelak tawa pecah seketika. Kami baru menyadari bahwa kartu uno berwarna ungu adalah kartu bonus yang tidak digunakan dalam permainan. Ah, sepertinya saya kurang mahir menggambarkan kelucuan pada saat itu. Namun yang jelas itu adalah momen yang menggelikan.

“Friendship.. is born at the moment when one man says to another, “What! You too? I thought that no one but my self.” – C.S. Lewis

Sore hari, saat asyik-asyiknya bermain kartu uno, langit terlihat mendung. Matahari seolah disergap oleh sekomplotan awan gemuk berwarna abu-abu. Jelas, hujan akan turun. Kami pun bergegas memasang flysheet guna melindungi tenda dari air hujan yang mengucur dari langit. Kami pun kembali ke tenda-tenda masing sembari menunggu hujan reda. Di dalam tenda, saya pun menyalakan ponsel genggam milik saya yang berwarna hitam. Saya membuka aplikasi recorder kemudian mereka suara hujan yang mengetuk kasar tenda yang berbahan parasut. Hujan dan sore adalah paket yang sempurna untuk mengantarkan khayal saya pada jutaan kenangan pada masa silam.

Pukul 03.00 WIB persiapan summit

Dini hari menjelang subuh, tepatnya pukul 03.30 WIB kami bersiap untuk summit ke puncak gunung Guntur. Kami pun berdoa, berharap pendakian menuju puncak tidak mengalami kendala yang berarti. Satu hal yang paling kami pinta kepada Tuhan, kami ingin kembali pulang dalam keadaaan selamat, sehat wal’afiat.

Tepat di atas kepala kami, bulan purnama terlihat bulat sempurna. Tidak banyak bintang pada malam itu. Cahaya purnama yang cukup terang membantu kami menunjukkan jalan menuju puncak. Jalur pendakian ke puncak gunung Guntur menantang. Banyak orang yang mengatakan bahwa gunung Guntur laiknya gunung Semeru versi mini. Perlahan, kami mulai menanjak lereng gunung Guntur yang berpasir dan berbatu kerikil. Kadang kami harus menghentikan langkah untuk mengambil napas dalam-dalam. Kami pun melihat ke arah puncak untuk memastikan bahwa kami sudah berjalan cukup jauh. Puncak memang terlihat begitu dekat, sangat dekat. Namun semakin lama kami berjalan, puncak seakan semakin menjauh, seperti oase di gurun pasir.

Saya tahu persis bahwa summit merupakan salah satu bagian tersulit dalam pendakian. Rasa lelah dan kepayahan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Lantas apakah saya harus menyerah setelah begitu banyak tantangan yang sudah saya hadapi. Tidak ada yang mampu memberikan semangat yang luar biasa besar untuk saya, kecuali semangat itu muncul dalam jiwa saya terasa panas. Saya akan terus berjalan kendati dalam keadaan sesulit apapun.

No pain, no gain.

5
Sunrise di Puncak 1 Gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Adzan Subuh berkumandang. Puncak sudah berada di depan mata. Tinggal beberapa langkah lagi saya berhasil mencapainya. Perlahan langit yang kelam mulai ditelan oleh cahaya berwarna oranye dan jingga. Pertanda sebentar lagi matahari baru segera terbit. Saya melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Saya terus memacu langkah, menguatkan hati yang mulai lemah. Akhirnya, dalam keadaan napas yang terengah-engah saya berhasil menginjakkan kaki di puncak gunung Guntur. Alhamdulillah. Sejenak saya menghempaskan tubuh saya di atas tanah berpasir yang terasa dingin. Saya melihat langit yang mulai terang. Saya hanya bisa terdiam. Dalam diam, saya hanya bisa berdoa.

“If you want to be reminded of the love of the Lord, just watch the sunrise.” – Jeannete Walls

6
Hallo Sunrise! (Captured by: Mahfud Achyar)

Setelah sholat Subuh, istirahat sejenak, dan foto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju puncak 3. Lazimnya para pendaki hanya sampai puncak 2 karena di sana ada semacam monumen yang menjadi tanda bahwa itu adalah puncak gunung Guntur. Beruntungnya jalur menuju puncak 2 dan puncak 3 tidak begitu susah dibandingkan jalur dari pos 3 ke puncak 1. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan savana yang ditumbuhi oleh bunga-bunga ilalang berwarna pink, muhlenbergia capillaris.

7
Gunung Cikurai (Captured by: Mahfud Achyar)
9
Savanna at Mt. Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Dari puncak gunung Guntur saya melihat gunung Cikurai yang terlihat gagah. Saya berharap suatu saat saya akan berada di atas puncak gunung Cikurai. Barangkali dalam waktu dekat. Berada di atas ketinggian 2,249 mdpl membuat saya sependapat dengan Ratu Wilhelmina bahwa Garut memang layak disebut Zwitsers van Java.

12
Puncak Gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)
14.jpg
Garut, Jawa Barat (Captured by: Mahfud Achyar)

Jakarta, 27 Mei 2016.

Catatan tambahan:

Itinerary Mt. Guntur
Itenerary Mt. Guntur

Mt. Guntur (2,249 M) – Garut West Java

Photo Story: Kelas Inspirasi Jakarta 5 “Satu Hari Kembali ke Sekolah”

Kelas Inspirasi (KI) merupakan salah satu program dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar (IM). Program ini memfasilitasi para profesional untuk kembali ke sekolah khususnya Sekolah Dasar selama satu hari dengan tujuan menginspirasi anak-anak Indonesia untuk #BeraniBermimpi.

Secara sederhana, para profesional menceritakan profesi mereka kepada anak-anak SD dengan harapan kelak di masa depan mereka bisa menjadi seperti mereka atau bahkan jauh lebih hebat dari para inspirator (sebutan pengajar Kelas Inspirasi). Hal ini menjadi penting mengingat saat ini di dunia kerja begitu beragam profesi yang ada. Tidak hanya ada profesi yang populer seperti dokter, polisi, ataupun tentara. Nyatanya di dunia kerja ada profesi seperti chef, designer interior, dan masih banyak lagi.

Tahun ini, Kelas Inspirasi Jakarta kembali digelar untuk yang kelima kalinya. Bagi Kelas Inspirasi Jakarta 5, tahun ini sangat spesial karena Hari Inspirasi bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2016.

Saya menjadi relawan Kelas Inspirasi untuk kali ketiga. Namun pada Kelas Inspirasi tahun ini, saya mengambil peran menjadi relawan fotografer (amatir) yang tergabung dalam kumpulan orang-orang hebat di Kelompok 42.

Berikut 5 foto dokumentasi ketika Hari Inspirasi di SDN Cijantung 07 Pagi Jakarta Timur:

1
Foto 1

Menunggu Upacara Bendera

Siswi-siswi SDN 07 Cijantung Pagi Jakarta Timur pada Senin, (02/05/2016) terlihat begitu antusias menunggu upacara bendera. Pada hari itu, upacara bendera di sekolah mereka berbeda dibandingkan upacara-upacara sebelumnya. Betapa tidak, pada hari itu bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Selain itu, sekolah mereka juga kedatangan para relawan Kelas Inspirasi Jakarta 5 yang akan berbagi cerita tentang profesi mereka. Bagi siswi-siswi tersebut, jelas hari itu adalah hari yang berbeda, hari yang spesial karena tidak ada PR.

 

2.JPG
Foto 2

Guru, Tidak Hanya Mengajar Namun Juga Mendidik

Gicha Graciella (27 tahun) merupakan seorang konsultan komunikasi. Ia baru pertama kali menjadi relawan Kelas Inspirasi. Ia menceritakan bahwa mengikuti Kelas Inspirasi bukan hanya tentang berbagi, namun juga sebagai bentuk komitmennya bahwa sesuatu yang baik dan berguna perlu disebarkan dengan lebih luas. Ia yakin setiap orang berilmu di negeri ini memiliki kewajiban untuk mendidik generasi mendatang. Ada satu pengalaman yang cukup berkesan ketika ia menjadi inspirator Kelas Inspirasi. Menurutnya, salah satu persoalan pelik di dunia pendidikan di Indonesia yaitu masalah bullying. Ia bercerita, “Selama saya mengikuti kelas inspirasi, saya melihat ada beberapa anak yang mendapat kekerasan verbal dari teman-temannya. Saya menyadari bahwa mendidik bukan hanya tentang mengajarkan mereka untuk mengerti mata pelajaran dan hal-hal yang bersifat teoritis.” Gicha, begitu ia akrab disapa, mengatakan bahwa mendidik adalah tumbuh bersama mereka, memahami kebutuhan mereka, dan memenuhi hak-hak mereka.

3.JPG
Foto 3

Tidak Perlu Ada Sekat Antara Guru dengan Murid

Ada ungkapan yang mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Predikat menjadi seorang guru memang tidak mudah. Ia menjadi contoh, ia menjadi role model untuk anak didiknya. Hubungan guru dan murid tidak hanya sebatas orang yang mengajar dan orang yang diajar. Guru dan murid juga bisa saling bersahabat. Bukankah menyenangkan memiliki guru sekaligus sahabat?

4.JPG
Foto 4

Belajar Tidak Hanya di Kelas

Annisa Aulia Handika (23 tahun) mengajak siswa-siswinya untuk belajar di luar kelas. Sebelum ia mulai mengajar, seorang siswa membuang hajatnya di kelas. Hal tersebut membuat aroma kelas menjadi tidak sedap. Ollie, begitu ia memanggil namanya, mengatakan bahwa belajar tidak perlu di ruang kelas. Siswa-siswi bisa belajar dimana saja, asalkan ia nyaman menjalani proses belajar mengajar. Profesinya sebagai Oseanografer sangat menarik antusias anak-anak. “Ini pertama kalinya saya mengikuti Kelas Inspirasi dan langsung ketagihan untuk ikut lagi,” ungkap Ollie. Selama mengajar, Ollie berulang kali mengatakan bahwa laut di Indonesia itu sangat luas dan sangat indah. Oleh sebab itu, kita perlu bersama-sama menjaga kekayaan laut yang kita punya. Mengajar itu nagih! “Saya menjadi lebih bersemangat untuk terus berbuat lebih untuk banyak orang,” ungkapnya.

5.JPG
Foto 5

Dari Balik Jendela

Saya adalah seorang relawan fotografi. Saya memang tidak menginspirasi mereka secara langsung. Sungguh, tidak sama sekali. Hal yang terjadi justru sayalah yang terinspirasi dari anak-anak sekolah dasar. Saya menangkap momen ketika mereka tertawa lepas, ketika mereka marah, ketika mereka kesal, atau ketika mereka bosan. Namun dari semua mata yang sudah abadikan dengan kamera, ada satu hal yang membuat saya merinding. Saya melihat di dalam mata mereka ada binar harapan untuk masa depan yang jauh lebih hebat, jauh lebih gemilang. Teruslah bersemangat menggapai cita-cita wahai tunas bangsa!

Demikianlah, satu hari cuti satu hari menginspirasi! Ayo #BangunMimpiAnakIndonesia

Jakarta,

10 Mei 2016