David Chalik: Jangan Pernah Merasa Kita Lebih Hebat


David Chalik bisa dikatakan sebagai artis yang multi-talent. Pasalnya, David begitu ia akrab dipanggil tidak hanya dikenal sebagai aktor melainkan juga ia dikenal sebagai host, bintang iklan, model, pebisnis, dan juga aktif berkicimbung di dunia sosial. Sejumlah film dan sinetron sudah ia bintangi sepeti sinetron film Negeri 5 Menara (2011) dan Putri Bidadari (2012).

Pria kelahiran 13 April 1977 ini juga kerap menjadi host dalam berbagai acara yang ditayangkan oleh stasiun tv swasta seperti Damai Indonesiaku (tvOne) dan Oase Ramadhan (Metro TV). Tidak hanya sampai di situ, David juga merambah dunia bisnis dalam bidang rumah produksi dan trading. Ragam profesi sudah ia lakoni.

Perjuangan David untuk mencapai cita-citanya tidaklah mudah. Begitu banyak tantangan yang harus ia lalui. Seperti apa perjalanan hidup David Chalik? Bagaimana ia mampu mewujudkan cita-citanya? Berikut petikan wawancara Mahfud Achyar bersama David Chalik yang ditemui di acara seminar “Menjadi Pelatih Emosi Anak” yang diadakan di bilangan Cipete, Jakarta Selatan.

Bisa diceritakan sosok Anda di masa kecil?

Saya waktu kecil suka main. Jarang dapat rangking atau juara. Namun kelas 6 ada seorang guru bernama bu Tini yang menemukan potensi dan bakat saya sehingga saya bisa mendapatkan rangking tiga di kelas enam dan berlanjut di SMP dan SMA. Sewaktu SD, seingat saya pelajaran PMP dimana kita harus menghapal butir-butir undang-undang, dan saat itu saya belum belajar. Akhirnya saya pun nyontek dengan menaru buku di dalam laci. Lagi asyik nyontek, eh ternyata guru saya ada di depan saya ngeliatin. Trus ibu guru bilang, pokoknya kalau ada ulangan, David harus duduk di depan biar ga nyontek.

Lantas sejak kapan mulai masuk dunia entertaint?

Waktu saya SMP atau SMA, ibu saya selalu mengirimkan foto-foto saya ke majalah dan akhirnya sata terpilih menjadi cover majalah Aneka Yess!

Ada kesulitan ketika awal-awal menjadi aktor?

Iya pasti ada kesulitan karena dunia seni peran bukan bidang saya, namun karena banyaknya motivasi dan dorongan dari orang-orang terdekat yang mengatakan bahwa saya pasti bisa.

Bagaimana cara mendalami setiap karakter?

Aku pernah berperan sebagai orang suku Tengger, aku harus belajar bahasa mereka, belajar cara mereka hidup, belajar kebudayaan mereka. Aku juga pernah berperan sebagai ustad di film Negeri 5 Menara dan aku harus pake logat Minang. Walaupun sebenarnya orang tua berdarah Minang, namun sejak kecil aku berbahasa Indonesia. Aku sering dengar bahasa Minang, tapi aku tidak terlalu mahir, jadi saya harus belajar lagi.

Peran yang Anda bawa pernah terbawa dalam dunia nyata?

Tentu pernah, misalnya ketika saya acting marah dan sangat marah, padahal saya tidak pernah seperti itu.

Value apa yang Anda dapat?

Banyak diberikan akses baik itu positif maupun negatif. Namun semua itu kembali pada diri kita.

Belakangan, Anda juga kerap kali memerankan tokoh sebagai Ustad dalam film dan sinetron yang Anda bintangi, ada kesulitan?

Challenges pasti ada. Cuman bebannya lebih berat lagi karena kan saya bawain acara religi. Saya bukan ustad, itu benar. Tapi yang saya ingin dalam hidup adalah menjadi manusia yang lebih baik. Image saya sering membawa acara religi membuat masyarakat beranggapan lebih bahwa saya menjadi ustad. Saya manusia biasa yang mempunyai kekurangan dan saya belum pantas dipanggil ustad. Jadi, saya tahu diri saya, apa yang harus saya benahi. Saya minta doanya saja semoga saya bisa menjadi orang baik. Jika nanti saya berpulang ke Rahmatullah, saya bisa khusnul khatimah, mati masuk syurga. Aamiin. Itu saja harapan saya. Jadi kalau ditanya beban, ya ada, bebannya saya bukan ustad. Saya hanya orang biasa yang berusaha benahi diri. Itu saja.

Bagaimana Anda mendalami karakter tersebut?

Sebetulnya sudah diarahi oleh sutradaranya. Tapi jika bicara untuk menjadi ustad, kebetulan saya dipermudah karena saya memang senang membaca buku-buku Islam. Saya senang koreksi diri saya, saya senang diskusi soal agama sama orang-orang yang lebih paham agama. Kadang kala ada beberapa hal dalam sinetron yang keluar begitu saja karena hasil pembicaraan atau hasil yang saya baca, hasil belajar. Jadi lebih mudah. Namun ada kalanya, jika saya menyampaikan sesuatu dalam hal naskah sinetron, saya tanya dulu dengan guru saya, “Ini benar ga kaya gini, ini salah ga nih interpretasinya, kalau saya bicara begini nanti gimana.” Jadi ga sembarangan karena sutradara dan produser pastinya juga harus paham Islam. Jika tayangan itu bawa unsur-unsur Islam dan unsur-unsur agama jangan ada kesan menjual belikan ayat-ayat Allah dengan harga murah. Jadi memang konteksnya harus pas dan tidak sembarangan.

Selain memerankan peran ustad, Anda juga sering membawakan acara agama, bagaimana tanggapan Anda?

Jadi dulu ada imej di kalangan artis-artis muda, dulu ya, tapi sekarang udah gak. Jangan pernah mau membawa acara agama nanti imejnya akan terus jadi host acara agama. Rezekinya akan tertutup, akan di situ-situ saja. Waktu ada orang yang ngomong kaya gitu, otak saya berpikir bahwa kenapa kok kita harus takut sih? “Orang agama gue Islam, kita ada rejeki juga karena orang tua, dan rezeki dari Allah, jadi kenapa harus takut untuk menjadi host acara agama.” Jangan takut, justru harus menjadi kebanggaan kita sebagai umat Islam, sebagai kebanggaan wujud cinta kita kepada Allah bahwa dari rezeki yang Allah kasih, nikmat yang Allah kasih; paras, otak, kemampuan berpikir, kemampuan berucap yang baik, kenapa ga kita manfaatin di jalan Islam. Toh acaranya acara religi dan thayyib.

Saya bawain acara bulan Ramadhan tahun 2004 hingga 2009 bersama mas Anto Lupus yang dipercayakan ke saya. Saya senang aja. Terus RCTI minta saya lagi bawain acara bersama Ustad Hidayat Nurwahid. Tahun 2006 acara “Menuju Taubat” tentang bagaimana proses orang membenahi dirinya seperti para mantan narapidana. Dari situ berlanjut acara Ramadhan dan Damai Indonesiaku di tvOne. Saya melihat bahwa anggapan manusia tentang rezeki itu tidak tepat. Rezeki itu di tangan Allah. Kalau pun memang hari ini kita bawa acara religi, besok-besok kita bawain acara lain asalkan tidak bertentang dengan agama kenapa gak? Namun begitu ada acara yang aneh-aneh, gak deh. Semakin lama kita belajar, kita semakin mengerti. Kita bertemu dengan ulama untuk bertanya mana yang boleh, mana yang enggak. Kita jangan bawain acara gosiplah itu bertolak belakang dengan agama manapun yang tidak mengajarkan umatnya untuk membicarakan aib orang. Dengan membawakan acara agama menjadi benteng sendiri untuk kita. Saya merasakan faedahnya dengan membawakan acara agama. Selain memang passion saya dari kecil, saya pernah ngobrol sama mama. Ibu saya sempat bilang, “Mudah-mudahan David bisa jadi ustad.” Pengen jadi ustad, tapi ustad yang bagaimana dulu, ustad itu kan guru. Seengak-enggaknya jadi ustad untuk diri sendiri dan keluarga dulu.

Merasa diri kita lebih dari orang lain, itu menjadi kehancuran dan kegagalan untuk diri kita. Jadi, bagaimana kita harus membenahi diri kita, keluarga kita, ummat pelan-pelan kalau ada ilmu yang bermanfaat bisa kita bagikan kepada mereka dengan cara yang thayyib, yang baik bukan untuk mencari nafkah. Di satu sisi, saya terus berusaha menjadi pengusaha juga. Bikin usaha ini, usaha itu segala macam supaya suatu saat waktunya tiba, Allah berkehendak, Allah mengijinkan misalnya saya maish diberi kepercayaan kelebihan ilmu, rezeki, dan segala macam untuk syiar, ya kenapa enggak. Syiar itu kan banyak cara ga harus menjadi pendakwah, pendakwah itu banyak caranya juga ga harus menjadi kiyai atau ustad-ustad, namun bisa lewat media-media lain.

Anda juga merambah dunia bisnis, sejak kapan Anda mulai tertarik dan menukeni bisnis?

Saya lebih banyak main di bidang pakaian dan spanduk. Jadi pakaian yang saya buat itu macam-macam. Mulai dari pakaian seragam sampai baju olahraga tapi semakin ke sini semakin fokus ke sepatu olahraga dan pakaian olahraga. Saya lagi coba ngembangin satu merek sendiri, merek sepatunya MARCH. Itu sepatu olahraga dengan apparelnya baju olahraga, celana olahraga, tas, dan sebagainya. Kita coba kembangkan mudah-mudahan bisa launching bulan Agustus tahun ini insya Allah.

Saya mulai bisnis dari tahun 2007. Sebenarnya dari kuliah saya sudah mulai bisnis. Sambil syuting saya juga suka ngelobby bisnis. Dalam artian ada orang bikin apa, “Kamu bisa bikin ini ga?” Jadi sambil syuting, ada yang mau bikin kaos, saya yang ngerjain. Saya cari penjahitnya dan cari bahannya. Lumayan dapet duit. Ada teman yang nanya, “Vid lo kan udah main sinetron masih kurang aja lo?”

Bukan itu masalahnya. Beda. Kalau sinetron, kita yang dilatih kemampuan skill seni kita, kemampuan art kita, kreasi kita. Kalau bisnis kan dilatih semuanya baik itu otak kanan, otak kiri, dealing sama orang, bagaimana komitmen kita menjaga komitmen dengan orang, belajar bahan jualan kita apa, gimana menjual, berapa harga pasar, gimana supaya ga rugi, dan sebagainya. Jadi sangat banyak. jadi challenging buat saya melatih otak saya dan juga diri saya.

Seperti halnya Nabi Nuh as. beliau menyiapkan perahu pada saat banjir. Jadi kalau banjir, beliau sudah mempunyai perahu untuk menyelamatkan kaumnya saat itu termasuk keluarganya. Saya pun demikian. Saya berprinsip bahwa saya pikir perusahaan adalah perahu untuk keluarga, untuk semuanya, dan untuk orang-orang yang nantinya bekerja di perusahaan saya bahwa dengan perahu inilah saya akan menjemput rejeki dari Allah.

Jika suatu saat nanti saya sudah tidak main sinetron lagi atau apa, setidaknya saya bisa lebih fokus ke bisnis. Mungkin seengak-enggaknya saya sudah ada perahu buat saya dan keluarga saya.

Apa sebetulnya yang harus dipersiapkan ketika menjalani bisnis?

Pertama harus punya kesungguhan karena jika kita sungguh-sungguh pasti ada jalan. Kedua, jangan takut masalah modal karena modal itu akan datang dengan sendirinya pada saat kita bersungguh-sungguh. Ketiga, harus banyak silaturahim sama oran-orang yang mengerti di bidang yang mereka geluti. Terus pelajari betul bisnisnya. Keempat, banyak-banyak berdoa minta sama Allah. Kelima, banyak-banyak sedekah insya Allah akan membuka segala sesuatu yang ketutup dan menutupi kita. Jadi kalau kita sudah pegang lima kunci itu, In Shaa Allah akan dibukakan jalan usaha kita dan insya Allah pasti bisa jadi sukses.

Bagaimana Anda membangun brand imej terhadap bisnis yang Anda kembangkan?

Saya belajar bahwa membangun bisnis itu tidak cukup hanya dengan dikenal. Tapi bagaimana kita membangun kepercayaan dengan orang-orang yang bermitra dengan kita. Bagaimana kita membangun imej kita untuk menjadi orang yang dipercaya. Saat orang pertama dengan kita, branding yang ada di otak mereka adalah tentang produk kita. Misalnya, saya jualan sepatu olahraga, ketika suatu saat saya bertemu dengan orang itu dia akan bilang, “Oh kalau sepatu bikin sama dia aja, beli sepatu di dia aja, kualitasnya bagus, kenapa ga dia aja.”

Bagi saya itu challenges bagaimana membangunnya dengan silaturahim sebagaimana kita memperlakukan mereka sebagai teman, mereka juga akan memperlakukan kita sebagai teman. Kalau kita menganggap mereka saudara, mereka juga akan menganggap kita saudara juga. Ada ga orang curang dan culas sama kita? Tentu ada. Tinggal kedewasaan kita berpikir bahwa ya itulah manusia. Maka kuncinya kita harus ikhlas. Pada saat kita ikhlas melakukan apa pun, mau kita diapain, mau kita kaya pasti mudah jalannya. Masalahnya apakah saya sudah menjadi manusia ikhlas dalam mengerjakan apa pun dan segala resiko? Saya masih proses belajar. Pengusaha-pengusaha sukses itu biasanya sudah mengukur rezeki. Jadi pada saat mereka berjalan dan ada kendala ya udah santai ajalah.

Siapa tokoh yang paling menginspirasi Anda dalam bisnis?

Saya sih yang menginspirasi saya pastinya nabi Muhammad saw karena Rasulullah itu seorang pendakwah yang dengan ikhlas menyiarkan Islam dan beliau juga seorang pengusaha. Beliau dengan hartanya berjihad di jalan Allah. Jadi cara beliau untuk menjadi seorang pedagang yang amana itu yang saya coba terapkan bahwa kadang dalam usaha kita jangan hanya berpikir It’s all about profit, but think about benefit.

Kalau kita bicara profit, maka kita akan bicara angka. Saat kita bicara angka yang namanya benefit jadi lupa.

Apa sih benefit? Benefit adalah keuntungan di luar angka. Benefit itu dapat meningkatkan capital kita. Misalnya harga sepatu kita sekian kita pengen untung besar, jual saja berapa kali lipat. Mungkin dibeli orang, tapi suatu saat orang melihat punya kita. Mereka jadi enggan membeli lagi. Bicara benefit misalnya kita jual sepatu dengan harga sekian, terus kita bilang, “Oh kita ngasih harga ga terlalu tinggi. Modalnya sekian, jualnya sekian, bapak mau berapa?” Kita memberikan harga kan harus reasonable buat orang, terbeli apa gak, kualitasnya sesuai dengan yang kita punya, dan sebagainya. Jika sudah terjalin terus, pada saat dia sulit kita selalu ada untuk dia walaupun untung tipis. Tapi dia akan selalu ingat kita, dia akan pakai kita terus. Bayangkan, sekali dia membeli produk kita dengan untung yang berlipat-lipat tapi besok dia ga mau order lagi.

Sedangkan satu lagi kita baik sama dia, harganya juga sangat kompetitif, harganya sangat reasonable mereka juga mendapatkan benefit-benefit lain di luar masalah keuntungan misalnya pertemanan pasti dia akan pilih kita. Nah itu yang saya bilang, “Business is not just about profit, but also about the benefit. If you concern benefit, you’ll get lots of profit.” Nah itu yang saya lihat dari Rasulullah. Sikap santunnya dalam berdagang, etika beliau dalam berdagang, itulah yang menyebabkan beliau mendapatkan gelar Al-Amin. Pada saat kita menjadi pedagang yang Al-Amin, In Shaa Allah rezeki akan datang kepada kita. Sekarang jika kita diculasi sama orang, bisa jadi dia harganya murah. Tapi karena kita ga percaya , ga jadi deh di sini aja. Walau harganya mahal dikit, tapi kualitasnya bagus. Atau ga karena saya kenal dia, dia orang yang saya dipercaya, ya udah gpp deh sama dia aja. Saya tau kualitasnya, jadi kalau ada apa-apa dia siap ganti. Itu hal yang harus dipelajari dalam bisnis.

Selain banyaknya aktifitas yang harus Anda kerjakan, Anda juga masih sempat untuk mengikuti kegiatan sosial, mengapa?

Saya senang karena saya juga dulu bukan dari keluarga yang berkecukupan. Jadi, saya bisa merasakan apa yang dirasakan orang yang lagi susah. Ngomongin banjir, saya juga pernah jadi korban banjir di Grogol waktu saya tinggal di sana. Kira-kira senangnya seperti apa ketika orang datang bawa makanan pada saat kita terjebak banjir, pada saat kita tertimpa musibah, saat kita merasa susah ada orang lain menolongi itu kaya gimana gitu.

Jadi, pada saat PKPU waktu itu ada kegiatan menjadi relawan bencana saya ikut kerena memang saya melihat ada value dalam PKPU yang bisa saya rasakan. Pada saat aktif menjadi relawan PKPU, kita aktif dimana-mana. Saya bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat yang ditimpa musibah. Di situ saya bisa belajar berempati, mengolah rasa, mengolah hati, mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Walaupun saat itu bukan saya langsung mengalaminya, kadang kala orang harus mengalami langsung tapi saya bersama mereka. Kita harus pandai-pandai bersyukur dalam hidup. Allah itu ngasih rejeki kepada kita kapan aja, jumlahnya berapa aja; bisa besar-bisa kecil. Allah pun bisa mengambil kapan saja yang ia mau. Anytime dengan cara seperti apa pun. Tinggal saat rezeki itu ada sama kita, maka pandai-pandailah bersyukur, pandai memanfaatkan, dan jangan pernah merasa memiliki apa yang kita punya karena apa yang kita punya itu bisa saja diambil kapan pun Allah mau.

Kata kiyai Zainuddin MZ, “Kalau prinsip itu kaya tukang parkir. Mobilnya banyak. kalau mobilnya diambil sama yang punya dia ga marah.” Jadi kaya gitu memaknai hidup.

Demikian wawancara singkat saya dengan David Chalik. Semoga menginspirasi Anda semua.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s