Menyapa Dewi Anjani: Sebuah Catatan Perjalanan


Catatan Pendakian Gunung Rinjani


Oleh: Mahfud Achyar

Dari kecil hingga sekarang, saya selalu berambisi untuk bisa mengelilingi dunia. Tidak hanya mengelilingi dunia, saya juga ingin sekali bisa mengeksplorasi luar angkasa. Bagi saya, hidup itu dinamis. Hidup itu bergerak. Hidup itu berpindah-pindah. Saya ingin terus bergerak, saya ingin terus berjalan, saya ingin melihat hal-hal yang baru pada setiap jengkal yang ada di semesta ini.

Barangkali saya adalah seorang anak manusia yang candu untuk berkhayal dan bermimpi. Saya pikir, keinginan untuk mengeksplorasi semesta adalah impian yang sederhana. Namun itu dulu, saat masih kekanak, saat imajinasi saya tanpa batas. Ya, begitulah hidup. Kadang hal yang kita pikir sederhana, pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Mengutip kata Sujiwo Tejo, “Hidup tidak sebercanda itu.”

Saat menjadi dewasa, saya sempat berpikir untuk mengubur cita-cita menjadi seorang petualang sejati. Entahlah, semakin dewasa pikiran saya semakin kompleks. Perlahan, saya mulai menepis angan dan harapan saya untuk bertualang. Saya kemudian disibukkan dengan rutinitas sebagai orang dewasa yang menjemukan. Apalagi tinggal di kota besar seperti Jakarta, saya harus berpacu dengan waktu. Jika saya memiliki manajemen waktu yang buruk, maka saya harus siap dengan segala konsekuensi yang menyebalkan. Bila terlambat bangun, saya kemungkinan akan telat tiba di kantor. Bila saya mengundur-undur pekerjaan, maka saya akan kelabakan saat deadline sudah di ambang mata. Maka mau tidak mau, saya harus cerdik memanipulasi waktu, bagaimanapun caranya.

Masyarakat urban Jakarta juga terbiasa dibangunkan secara paksa oleh alarm dari jam weker atau ponsel pintar bernada keras. Alarm adalah monster yang mengusik rasa tentram saat kita sedang asyik-asyiknya dibuai mimpi. Pun demikian, itulah Jakarta. Sebuah kota yang terus hidup. Sebuah kota di mana impian-impian terus dibangun dan disangkutkan pada langit malam yang jarang terlihat gemintang.

Di hadapan saya, terbentang berbagai pilihan. Tugas saya hanya memilih. Maka, sebagai manusia dewasa, saya memilih untuk menikmati takdir hidup yang saat ini saya jalani. Untuk apa harus berkeluh kesah, sementara ada semilyar nikmat yang patut untuk saya syukuri. Salah satu hal yang paling saya syukuri dalam hidup saya adalah kesempatan untuk menjelajahi bumi Nusantara. Sebuah negeri dengan sejuta pesona. Sebuah negeri yang keindahannya membuat saya bangga karena lahir, tumbuh, dan hidup di negeri ini. Sejujurnya, saya belum mengunjungi setengahnya wilayah Indonesia. Namun saya berkeyakinan, suatu saat, saya akan melunasi hutang untuk menjelajahi Indonesia.

Salah satu pengalaman hidup yang tidak akan pernah saya lupakan yaitu saat saya bersama teman-teman saya melakukan ekspedisi pendakian ke gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Saya bersama tiga belas sahabat saya mendaki gunung Rinjani tahun kemarin. Tepatnya pada tanggal 13 hingga 17 Mei 2015. Beruntung saat itu kami berhasil mendapatkan tiket pesawat promo sehingga kami bisa menghemat anggaran perjalanan untuk keperluan lainnya.

Sejujurnya, bila mendaki gunung saya selalu takut dan khawatir. Entahlah, perasaan semacam itu selalu datang menghantui saya meskipun saya sudah mati-matian untuk membunuhnya. Saya kadang berpikir bahwa saya memiliki fisik yang tidak begitu kuat, saya takut jika terkena hipotermia, dan saya merasa sedih bila akhirnya saya tidak mencapai puncak. Saya pun kemudian berusaha menenangkan pikiran dan perasaan saya, “Oh tenanglah anak muda, semuanya akan berjalan baik-baik saja. Tidak hal yang patut dikhawatirkan. Persiapkan dirimu dengan baik. Biarkan jiwamu bebas bersama alam.”

Untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja, saya pun rutin untuk olahraga (lari dan berenang), istirahat yang cukup, dan mempersiapkan logistik pendakian. Saya tidak ingin meremehkan apa pun, namun saya juga tidak ingin khawatir berlebihan. Setiap harinya, saya dan teman-teman saya berkoordinasi melalui grup WhatsApp. Kami membahas banyak hal. Mulai dari membahas jadwal latihan fisik, perlengkapan pendakian, konsumsi, akomodasi, dan hingga membahas hal-hal di luar konteks pendakian seperti jodoh-menjodohkan. Ya begitulah anak muda, obrolan seperti tidak akan luput dari pembahasan mereka (termasuk saya juga).

Kami tiba di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada hari Rabu (13/05/2015), pukul 07.55 WITA. Di bandara, kami sudah dijemput oleh beberapa porter yang sudah jauh-jauh hari dihubungi oleh salah satu teman saya. Menurut teman saya sudah pernah ke sana, sebaiknya bila mendaki gunung Rinjani, kita harus menggunakan jasa porter. Kendati kita mampu untuk membawa beban dalam tas carrier yang berkilo-kilo, namun dengan menyewa jasa porter, setidaknya kita sudah memberdayakan warga Lombok yang sebagian besar berprofesi sebagai porter.

Dari bandara, kami pun melaju ke desa Simbalun yang merupakan salah satu pos menuju puncak gunung Rinjani. Menurut informasi yang saya dengar, pos Sembalun merupakan pos yang paling populer bagi para pendaki dibandingkan pos Senaru dan pos Torean. Beberapa catatan perjalanan pun merekomendasikan untuk memilih pos Sembalun karena dinilai lebih banyak bonusnya (istilah para pendaki bila ada jalur yang landai). Tim kami pun juga bersepakat untuk pergi melalui jalur Sembalun dan pulang melalui jalur Senaru.

Perjalanan selalu menghadirikan cerita-cerita yang tidak terduga. Kami yang berjumlah 14 orang ternyata memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Namun dari perbedaan tersebutlah kami sepertinya bisa menjadi tim yang hebat. Ada orang yang bertugas menjadi time keeper, ada yang bertugas sebagai dokumentator yang handal, ada yang bertugas sebagai pengusik kesepian, ada yang bertugas sebagai koki, dan tentunya ada yang bertugas sebagai penikmat sejati dalam setiap obrolan yang takberkesudahan. Terkesan acak namun sesungguhnya terlihat sistematis. Alam membuat kita memainkan peran masing-masing. Tidak perlu dipaksakan, semuanya berjalan apa adanya.

IMG_3908
Pos 1 Sembalun 

Setiap kali memulai perjalanan, kami selalu berdoa dan melakukan pemanasan. Menurut kami, dua hal tersebut merupakan hal yang sangat krusial. Sebab di alam terbuka, kita bukanlah siapa-siapa. Kita hanya manusia biasa. Tidak ada yang perlu ditaklukkan, tidak ada yang perlu disombongkan. Kita tidak perlu memaksa diri untuk menyatu dengan alam. Biarkan kita beriringan bersama alam agar tercipta harmoni yang indah. Pemanasan kami lakukan untuk menghindari kemungkinan cedera otot. Maklum, perjalanan yang kami tempuh sangat sangat panjang. Kami butuh fisik yang prima agar misi kami menyapa Dewi Anjani bisa terwujud.

Sepanjang perjalanan dari Sembalun, yang terlihat adalah sabana yang sangat luas. Saya membayangkan diri menjadi seorang Frodo yang bertualang bersama sahabat-sahabatnya. Ah, kadang mencuri imajinasi anak kecil terasa sangat menyenangkan. Kita tidak perlu terjebak dalam pikiran-pikiran manusia dewasa yang banyak aturan.

IMG_3919
Sabana Sembalun, Gunung Rinjani (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Akan tetapi, pendakian tidak melulu soal hal-hal yang menyenangkan. Kendati kami disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah, namun tidak bisa dipungkiri kami merasa lelah. Tas carrier yang memiliki beban yang cukup berat membuat otot saya terasa perih, pegal, dan sakit. Ada momen di mana saya ingin sekali melempar tas carrier yang mengesalkan. Namun saya ingat sebuah kutipan dari Haruki Murakami, “Pain is inevitable. Suffering is optional.” Kesakitan hanyalah ilusi dari kebahagiaan yang berlebihan. Saya pun berusaha fokus untuk terus melangkah, sesekali berhenti. Seringkali saya menutup kedua mata yang dilindungi kaca mata berminus 4. Saya pun kemudian membiarkan angin gunung menyapu wajah saya dengan sangat lembut. Saya mencoba mensugesti diri saya dengan pikiran positif, “Saya sudah berjalan cukup jauh. Saya tidak akan pernah kembali sebelum saya menuntaskan perjalanan ini.”

Perlahan senja merangkak malam. Kabut tebal mulai menyergap jalanan setapak yang kami lewati. Matahari memutuskan untuk kembali keperaduannya. Langit yang sedari tadi berwarna biru seketika berubah menjadi berwarna abu-abu. Dalam hitungan menit, langit menjadi gelap pertanda malam sudah datang. Sementara, angin di Sembalun semakin tidak bersahabat. Terasa menusuk kulit tipis saya yang hanya dibalut manset berwarna hitam. Saya masih ingat pesan teman saya, “Jangan terlalu cepat menggunakan jaket jika udara sudah terasa dingin. Biarkan tubuh kita berkompromi dan beradaptasi dengan baik dengan angin  gunung.”

Demi keselamatan, kami pun memutuskan untuk mengeluarkan headlamp yang menjadi lentera yang menemani perjalanan malam kami. Saat itu, tidak terdengar tawa ataupun curhat yang keluar dari mulut teman-teman saya. Kami hanya fokus melihat ke bawah, memastikan kami menginjak tanah yang solid. Tujuan utama kami yaitu pos 3,5 yang akan kami jadikan sebagai rumah untuk mengistirahatkan tubuh yang terasa sangat lelah.

Semakin malam, angin berhembus semakin kencang. Malam kian pekat. Dari kejauhan, saya melihat cahaya-cahaya kecil yang ditimbulkan dari senter para pendaki. Rupanya masih begitu banyak para pendaki yang hendak mencapai Plawangan Sembalun. Malam sudah kian larut dan terasa lebih dingin. Sesampai di pos 3,5 kami pun mendirikan tenda dan masak untuk makan malam. Betapa bahagianya kami karena perut kami sudah diisi dengan santapan yang lezat. Kami berterima kasih kepada dua porter kami yaitu Bang Herkules dan Ama Ida.

Sebelum tidur, saya mendongakkan kepala saya ke atas. Sontak saya hanya bisa terdiam. Betapa tidak, pemandangan langit malam itu sangat indah. Barangkali saya tidak akan terlalu mahir mendeskripsikannya. Jarang, sangat jarang saya melihat langit malam yang bertabur bintang. Mungkin ada sekitar semilyar bintang. Ah, mungkin jumlah bintang-bintang malam itu tidak terhingga. Layaknya seorang bocah, saya hanya bisa terpana sembari mengarahkan jari telunjuk saya untuk menerka kira-kira rasi bintang apa saja yang bisa saya lukis. Saya berharap kenangan malam itu terus mengabadi hingga kapan pun. Hanya itu pinta saya.

Keesokan paginya, kami pun bergegas untuk menuju Plawangan Sembalun. Tantangan terberat menuju Plawangan Sembalun adalah, kami harus menanjang 7 Bukit Penyesalan. Menurut rumor yang saya dengar, penamaan 7 Bukit Penyesalan lantaran medan pendakian yang cukup menanjak dan sedikit bonusnya. Takjarang banyak para pendaki dibuat kewalahan oleh bukit-bukit tersebut. Padahal sebetulnya pemandangan selama jalur tersebut tidak kalah indahnya dibandingkan sabana Sembalun. Mata saya dimanjakan dengan hijaunya reremputan, rindangnya pohon pinus yang berjejer rapi, serta kepulan kabut tipis yang berlari-lari di antara ranting pepohonan.

IMG_3981
7 Bukit Penyesalan, Sembalun (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Waktu tempuh dari 7 Bukit Penyesalan ke Plawangan Sembalun sekitar 5 jam. Lagi-lagi bergantung kemampuan pendaki. Bila pace lebih cepat, tentu durasi pendakian bisa dipangkas. Begitu juga sebaliknya. Seingat saya, kami tiba di Plawangan Sembalun sore hari. Saat itu, kabut tebal seolah menjadi perisai gunung Rinjani. Namun beruntungnya angin sore tampak tidak begitu simpatik dengan kabut. Perlahan kabut pun diusir sehingga matahari bisa menyambut kedatangan kami dengan peluk hangat. Sempurna!

IMG_4018
Plawangan Sembalun (Foto oleh: Mahfud Achyar)
IMG_4050
Pemandangan di Plawangan Sembalun (Foto oleh: Mahfud Achyar)
IMG_4161
Plawangan Sembalun di Kala Senja (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Kami pun memutuskan untuk menginap di Plawangan Sembalun. Esoknya, waktu dini hari, kami bersiap untuk summit ke puncak Anjani.

Plawangan Sembalun, pukul 00.30 WITA. Kami berdoa, meregangkan badan, menyiapkan bekal seadanya, menyalakan headlamp, dan mulai melangkah perlahan menuju puncak Anjani. Medan yang kami lewati yaitu pasir berkerikil. Kami berjalan dengan ritme yang tidak terlalu cepat, agak santai. Tujuan kami sederhana, tiba di puncak dengan selamat.

Sepanjang pendakian mencapai puncak, saya dilanda rasa kantuk yang tidak tertahankan. Entahlah, barangkali karena semakin tinggi, kadar oksigen semakin menipis. Beberapa kali saya sempat tertidur walau hanya beberapa menit. Bahkan saya sempat berjalan sambil tertidur. Beruntung Tuhan sangat baik kepada saya. Padahal sisi kiri dan kanan menuju puncak adalah curang yang sangat curam. Kondisi saya yang mengantuk parah membuat saya berpikiri untuk menghempaskan tubuh di atas pasir gunung Rinjani yang terasa dingin. Namun, saya harus terus berjalan kendati harus pelan, kendati kadang harus merangkak.

Sesekali, saya melihat jam tangan dengan sorotan penerangan dari headlamp yang mulai meredup. Saya ingin memastikan saya sudah berapa lama kami berjalan. Tidak terasa, fajar segera menyingsing. Sementara bulan purnama sempurna masih saja bertengger cantik. Tiba-tiba, salah seorang teman saya bersorak, “Hai teman-teman! Lihat bulan purnama itu! Posisinya berada di bawah kita. Jarang-jarang kan bulan bisa kita lihat dari atas, bukan dari bawah.” Kami semua pun baru menyadari memang bulan purnama terlihat di bawah. Suasana hening saat itu berubah menjadi gelak tawa yang menggelikan.

Semakin ke atas, udara semakin dingin. Beberapa kali saya membasahi bibir saya agar tidak kering. Bahkan saya juga menutup bibir dengan menggunakan bandana berwarna coklat. Namun nyatanya kain tipis itu harus mengaku kalah dengan kekuatan angin gunung Rinjani. Bibir saya berdarah. Terasa asin. Saya mulai panik. Namun, saya berusaha tenang sembari tetap membasahi bibir saya agar pendarahannya bisa berhenti.

Akhirnya, fajar pun tiba. Langit malam tersapu dengan cahaya mentari yang mulai unjuk diri. Terlihat jelas warna kuning keemasan mulai menyapu langit yang tadi berwarna hitam keabu-abuan. Ah, itu matahari segera tiba. Saya sangat bahagia. Betapa tidak, saya rindu sekali dengan hangatnya sinar mentari. Saya berharap rasa dingin yang menempel pada jaket polar berwarna hijau stabilo yang saya kenakan bisa enyah.

IMG_4189
Sunrise di Gunung Rinjani (Foto oleh: Mahfud Achyar)

Kami terus berjalan. Di depan mata kami sudah terlihat puncak Anjani yang indah dan menawan. Kami tidak sabaran untuk segera tiba di sana. Satu, dua, tiga. Saya hanya bisa menghembuskan napas dengan sangat perlahan. Yap, akhirnya saya berada di puncak Anjani, gunung Rinjani. “Hai Dewi Anjani. Saya hadir ke sini untuk menyapamu. Saya mengagumimu di atas ketinggian 3,726 mdpl.”  – end.

IMG_4231.JPG
Danau Sagara Anak (Foto oleh: Mahfud Achyar)
IMG_4200
Sunrise di Puncak Rinjani (Foto oleh: Mahfud Achyar)

2 thoughts on “Menyapa Dewi Anjani: Sebuah Catatan Perjalanan

    1. Asik, lapak ogut dikunjungin sama fotografer idola gw!

      Selamat datang di jurnal gw, hai nona🙂

      Minimal latihan fisik seminggu sekali, mir. Tapi bagusnya sih setiap hari. Paling direkomendasiin lari sih. Lebih guna!
      Kali-kali ajak gw maenlaaaah *iri sama foto2 kece lo🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s