SAVANNA & MUHLENBERGIA CAPILLARIS DI GUNUNG GUNTUR

Catatan Pendakian Gunung Guntur (2,249 mdpl) di Garut Jawa Barat

 Oleh: Mahfud Achyar

1
Garut: Zwitsers van Java (Captured by: Mahfud Achyar)

Zwitsers van Java, begitulah julukan yang diberikan oleh Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda yang begitu kagum dengan keindahan alam Garut. Konon, Sang Ratu yang memiliki nama lengkap Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau jatuh hati dengan Garut. Ia pun dikabarkan memiliki tempat peristirahatan pribadi di Garut.

Selayaknya Ratu Wilhelmina, saya pun mengagumi Garut. Dulu, sewaktu kuliah saya telah bertualang ke tempat-tempat terbaik di Garut seperti pemandian air panas di Cipanas, pantai-pantai nan elok di Pamengpeuk, PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Kamojang, kebun teh di Cikajang, ladang akar wangi di Samarang, hutan mati di Gunung Papadandayan, serta wisata kuliner di Garut kota. Kendati sudah banyak tempat di Garut yang pernah saya datangi, namun saya masih penasaran dan sangat tergoda untuk mengunjungi lebih banyak ‘surga-surga tersembunyi’ di kabupaten yang hari lahirnya diperingati setiap tanggal 16 Februari.

Dari sekian banyak tempat menarik di Garut, saya memilih untuk mendaki gunung Guntur. Jika Anda pernah berwisata ke Garut, tentu Anda pernah melihat gunung Guntur dari sisi jalan. “Ah, gunung Guntur terlihat tidak terlalu tinggi. Pasti cukup mudah mencapai puncaknya!” Ya, hampir semua orang yang belum pernah mendaki gunung Guntur akan berujar hal yang sama. Saya pun dulu pernah mengatakan hal tersebut. Namun setelah mendaki gunung Guntur pada akhir pekan kemarin (21 hingga 22 Mei 2016), saya dengan tegas mengatakan, “Gunung Guntur itu kecil-kecil cabai rawit!”

Mengapa pada akhirnya saya memutuskan untuk mendaki gunung Guntur? Secara personal, saya menyukai gunung Guntur karena mirip dengan gunung Merbabu di Jawa Tengah. Lantas, apa kemiripan gunung Guntur dan gunung Merbabu? Savana! Ya, kedua gunung tersebut sama-sama memiliki savana yang luas, hijau, dan tentunya indah. Saya sangat terobsesi dengan savana. Bagi saya, ketika berada di hamparan savana, saya merasa merdeka. Seketika itu juga otak saya mulai berfantasi membayangkan film-film petualangan seperti Lord of the Rings, The Secret Life of Walter Mitty, Into the Wild, dan sebagainya. Berada di savana yang hijau membuat saya sangat bersemangat dan riang gembira. Saya membayangkan diri saya menjadi tokoh-tokoh fiksi dalam film dan novel yang bertema petualangan. Terasa sangat menyenangkan.

4
Savanna (Captured by: Mahfud Achyar)

“Terkadang kita perlu menjadi kekanak untuk dapat menikmati hidup. Namun terkadang juga kita perlu menjadi manusia dewasa yang sesungguhnya untuk dapat memahami peliknya hidup dan kehidupan. Jika berada di alam bebas, tentunya saya akan memilih menjadi kekanak. Bebas, lepas, dan penuh kreatifitas!”

Selain memiliki savana yang hijau dan luas, di gunung Guntur Anda juga akan menemukan bunga ilalang yang berwarna pink. Cantik! Dalam bahasa latin, bunga tersebut bernama muhlenbergia capillaris atau dikenal juga dengan sebutan muhly hairawn. “The plant itself includes a double layer; green leaf-like structures surround the understory, with purple-pink flowers out-growing them from the bottom up. The plant is a warm-season grass, meaning that leaves begin growth in the summer. During the summer, the leaves will stay green, but they morph during the fall to produce a more copper color.”

11
Muhlenbergia Capillaris at Mt. Guntur West Java (Captured by: Mahfud Achyar)

Pada pendakian ke gunung Guntur kemarin, saya ditemani oleh sahabat-sahabat perjalanan yang menyenangkan. Beberapa dari mereka adalah orang-orang yang sama saat melakoni pendakian ke beberapa gunung di Pulau Jawa dan Pulau Lombok. Saya pikir, kami bertujuh sepakat bahwa pendakian kemarin memiliki cerita yang indah untuk dikenang. Begitu banyak drama, gelak tawa, serta suka cita yang menghiasi perjalanan kami selama dua hari satu malam.

Dari tujuh orang yang ikut pendakian, hanya satu orang yang pernah mendaki gunung Guntur. Sisanya belum pernah sama sekali. Kami berenam tidak ada gambaran yang jelas mengenai gunung Guntur. Namun tidak perlu gusar, tenang saja. Kami sudah memiliki banyak asupan informasi, baik dari internet maupun dari teman-teman yang sudah pernah mendaki gunung Guntur. Persiapan mendaki gunung Guntur kami siapkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Beruntung hampir semua anggota kelompok pernah mendaki gunung sehingga pembagian tugas menjadi lebih efektif. Oya, terima kasih saya ucapakan sedalam-dalamnya untuk Brian Acton dan Jan Koum yang telah menciptakan aplikasi WhatsApp. Thanks buddies! Koordinasi dan komunikasi kami dalam mempersiapan segala keperluan untuk mendaki menjadi lebih mudah.

So, let us walk together fellas!

DSC_0545
L-R: Iril, Abah, Imam, Achyar, Klep, Tami, Moa

 

Sebelum memulai pendakian, kami harus mengurus proses administrasi serta membayar retribusi sebesar 15ribu rupiah (sudah termasuk asuransi jika pendaki mengalami kecelakaan). Setelah semua prosedur kami lakukan, kami pun mulai mendaki sekitar pukul 09.00 WIB.

Saat itu, mentari bersinar tidak terlalu terik dan cuaca tidak terlalu panas. Kami sangat bersyukur. Alhamdulillah. Andai cuaca tidak bersahabat tentu kami akan kerepotan. Betapa tidak, sebelum memasuki kawasan hutan, kami harus berjalan sekitar 45 menit untuk menyusuri jalanan berkerikil dan berpasir. Kami melewati area tambang pasir persis di kaki gunung Guntur. Bila hujan turun sementara pada waktu yang bersamaan truk-truk pembawa pasir melewati jalan yang sama dengan kami, tentunya cukup berbahaya. Salah seorang sahabat bercerita bahwa ia pernah melihat truk pasir terguling dan di dalam truk pasir tersebut ada para pendaki yang menumpang. Lantas apa yang terjadi? Insiden pun tidak dapat terelakkan.

2
Memasuki area penambangan pasir di kaki gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Sepanjang perjalanan, saya berpikir, apabila pasir di kaki gunung Guntur terus dikeruk bukankah akan menyebabkan longsor? Saya menilai ada persoalan lingkungan di gunung Guntur yang harus menjadi concern pemerintah daerah Garut. Sepertinya harus dibuat regulasi mengenai penambangan pasir di kaki gunung Guntur tanpa abai terhadap mata pencaharian masyarakat di sekitar kaki gunung Guntur yang bekerja sebagai buruh penambang pasir.

Ada objek yang unik di sekitar area tambang pasir di kaki gunung Guntur yaitu bebatuan cadas yang mirip dengan situs geologi Gunung Padang di Cianjur atau Stone Garden di Padalarang. Namun sepertinya objek tersebut tidak begitu dihiraukan oleh para pendaki. Padahal sepertinya cukup menarik untuk dijadikan latar foto yang instagramable. Serius!

Setelah berhasil melewati area tambang pasir, kami pun memasuki kawasan hutan yang tidak terlalu rimbun. Namun sesampainya di hutan, udara sejuk pun mulai menyergap tubuh kami yang berkeringat. Kami seperti terlahir kembali (halah, klausa ini terlalu berlebihan). Semakin jauh berjalan, tantangan yang kami hadapi semakin menantang. Beberapa kali saya harus membenarkan posisi tas carier agar terasa nyaman dibawa. Keringat pun mulai mengucur dan napas mulai tidak teratur. Hanya bercanda dan foto-foto yang menjadi obat ampuh untuk menghilangkan rasa penat yang menggelayut di pundak. Kendati langkah terasa berat, kami terus melangkah dan menikmati setiap bunyi hembusan napas yang terdengar berat.

“Ayo semangat! Sebentar lagi Pos 1!”

Salah seorang dari kami tiba-tiba memecah kesunyian saat melewati hutan yang sepi. Di gunung, terkadang ungkapan “semangat” tidak lantas membuat kita bersemangat. Seringkali frasa “semangat” membuat kita semakin berpikir realistis bahwa perjalanan masih panjang. Sembari menghembuskan napas, saya bergumam, “Oke perjalanan masih panjang, Bung!” Tidak ada jalan lain kecuali terus melangkah dan menikmati setiap rasa yang timbul dari dalam diri: rasa kesal, lelah, dan payah.

Menurut saya, jalur pendakian di gunung Guntur tidak begitu susah. Namun mendekati Pos 3, saya mulai merasa kewalahan karena harus melewati jalur bebatuan yang memiliki kemiringan hingga 75⁰. Saya harus ekstra waspada dan harus memastikan kaki saya mendarat di batu yang solid dan kokoh. Jika tidak, saya bisa terpeleset dan akan berakibat fatal. Oleh sebab itu, bagi para pendaki yang melewati jalur tersebut diminta hati-hati. Watch your step, guys!

 

 Pukul 13.30 WIB kami tiba di Pos 3.

“SELAMAT DATANG DI POS 3,” tulisan pada sebuah gapura yang terbuat dari kayu berwarna coklat menyambut kedatangan kami. Saya mulai tersenyum sumringah. Aha, ternyata di pos 3 sudah banyak berdiri tenda warna-warni. Terlihat seperti bumi perkemahan yang bernuansa ceria. Oh ya, sebagai informasi pengelola gunung Guntur hanya mengizinkan mendirikan tenda di pos 3. Pendaki tidak diizinkan mendirikan tenda di puncak. Hal ini lantaran sering terjadi longsor di gunung Guntur. Apalagi mengingat curah hujan pada bulan Mei masih lumayan tinggi. Sejauh pengamatan saya, tidak ada satu pun pendaki yang melanggar himbauan tersebut. Good job!

P1220119
Pos 3 Gunung Guntur (Captured by: Klep)

Lagi pula, menurut saya memang paling nyaman dan paling enak berkemah di pos 3. Betapa tidak, kita tidak perlu berjalan jauh untuk mendapatkan air. Jika Anda mau, Anda bisa bisa mendirikan tenda persis di samping sungai. Arena berkemah di pos 3 juga sangat luas. Anda tidak perlu khawatir tidak kebagian lahan untuk mendirikan tenda. Selain itu, jika summit pada dini hari Anda tidak perlu membawa tas carrier yang berat. Anda cukup membawa barang-barang penting. Sisanya, Anda bisa simpan di dalam tenda. Insya Allah aman.

Jika boleh dikatakan, pendakian di gunung Guntur tergolong pendakian leyeh-leyeh. Setelah selesai makan siang dan sholat kami pun tidur di luar tenda dengan beralaskan flysheet. Siang itu, matahari ditutupi awan putih yang tebal. Cuaca juga tidak terlalu dingin. Cukup pas untuk kita tidur siang. Salah satu dari kami menyeletuk, “Ayo kita tidur siang!” Akhirnya tanpa banyak kata dan suara, kami semua tertidur pulas. Saya terbangun dari tidur ketika tiba-tiba ada suara gaduh dari pendaki yang baru datang. Saya melihat jarum jam yang ternyata baru menunjukkan pukul 15.30 WIB. Ternyata saya tidur hanya sebentar namun terasa sangat lama. “Itu namanya tidur berkualitas,” celoteh teman saya.

Untuk mengisi waktu sore hari, kami pun bermain kartu uno. Bagi saya, bermain uno di gunung adalah pengalaman pertama. Biasanya waktu di gunung sangat terbatas. Namun ternyata sangat menyenangkan mengisi waktu bersama sahabat dengan hal-hal yang menyenangka. Jika ingat momen-momen bermain uno, saya hanya bisa senyum-senyum sendiri. Ada saja kejadian lucu yang membuat saya tidak henti-hentinya tertawa. Misalnya ketika salah seorang sahabat bernasib sial karena harus menarik kartu uno dalam jumlah yang sangat banyak. Menyebalkan.

Dari sekian banyak momen lucu selama bermain kartu uno, ada satu momen yang akan terus menjadi bahan untuk ditertawakan. Ceritanya begini, ketika masing-masing dari kami sedang serius menyusun strategi untuk memenangkan pertarungan uno, tiba-tiba seorang sahabat saya (nama disamarkan demi menjaga harga diri) yang mendapatkan giliran mengeluarkan kartu tiba-tiba berteriak, “Kartu ungu!” Sontak saat itu semua terpaku diam membisu. Saya pun jadi kebingungan. Apa maksud dari kartu ungu? Selidik demi seledik, ternyata ada yang menimpali celetuk teman saya tersebut, “Kartu uno ungu yang seperti ini bukan?” Haha gelak tawa pecah seketika. Kami baru menyadari bahwa kartu uno berwarna ungu adalah kartu bonus yang tidak digunakan dalam permainan. Ah, sepertinya saya kurang mahir menggambarkan kelucuan pada saat itu. Namun yang jelas itu adalah momen yang menggelikan.

“Friendship.. is born at the moment when one man says to another, “What! You too? I thought that no one but my self.” – C.S. Lewis

Sore hari, saat asyik-asyiknya bermain kartu uno, langit terlihat mendung. Matahari seolah disergap oleh sekomplotan awan gemuk berwarna abu-abu. Jelas, hujan akan turun. Kami pun bergegas memasang flysheet guna melindungi tenda dari air hujan yang mengucur dari langit. Kami pun kembali ke tenda-tenda masing sembari menunggu hujan reda. Di dalam tenda, saya pun menyalakan ponsel genggam milik saya yang berwarna hitam. Saya membuka aplikasi recorder kemudian mereka suara hujan yang mengetuk kasar tenda yang berbahan parasut. Hujan dan sore adalah paket yang sempurna untuk mengantarkan khayal saya pada jutaan kenangan pada masa silam.

Pukul 03.00 WIB persiapan summit

Dini hari menjelang subuh, tepatnya pukul 03.30 WIB kami bersiap untuk summit ke puncak gunung Guntur. Kami pun berdoa, berharap pendakian menuju puncak tidak mengalami kendala yang berarti. Satu hal yang paling kami pinta kepada Tuhan, kami ingin kembali pulang dalam keadaaan selamat, sehat wal’afiat.

Tepat di atas kepala kami, bulan purnama terlihat bulat sempurna. Tidak banyak bintang pada malam itu. Cahaya purnama yang cukup terang membantu kami menunjukkan jalan menuju puncak. Jalur pendakian ke puncak gunung Guntur menantang. Banyak orang yang mengatakan bahwa gunung Guntur laiknya gunung Semeru versi mini. Perlahan, kami mulai menanjak lereng gunung Guntur yang berpasir dan berbatu kerikil. Kadang kami harus menghentikan langkah untuk mengambil napas dalam-dalam. Kami pun melihat ke arah puncak untuk memastikan bahwa kami sudah berjalan cukup jauh. Puncak memang terlihat begitu dekat, sangat dekat. Namun semakin lama kami berjalan, puncak seakan semakin menjauh, seperti oase di gurun pasir.

Saya tahu persis bahwa summit merupakan salah satu bagian tersulit dalam pendakian. Rasa lelah dan kepayahan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Lantas apakah saya harus menyerah setelah begitu banyak tantangan yang sudah saya hadapi. Tidak ada yang mampu memberikan semangat yang luar biasa besar untuk saya, kecuali semangat itu muncul dalam jiwa saya terasa panas. Saya akan terus berjalan kendati dalam keadaan sesulit apapun.

No pain, no gain.

5
Sunrise di Puncak 1 Gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Adzan Subuh berkumandang. Puncak sudah berada di depan mata. Tinggal beberapa langkah lagi saya berhasil mencapainya. Perlahan langit yang kelam mulai ditelan oleh cahaya berwarna oranye dan jingga. Pertanda sebentar lagi matahari baru segera terbit. Saya melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Saya terus memacu langkah, menguatkan hati yang mulai lemah. Akhirnya, dalam keadaan napas yang terengah-engah saya berhasil menginjakkan kaki di puncak gunung Guntur. Alhamdulillah. Sejenak saya menghempaskan tubuh saya di atas tanah berpasir yang terasa dingin. Saya melihat langit yang mulai terang. Saya hanya bisa terdiam. Dalam diam, saya hanya bisa berdoa.

“If you want to be reminded of the love of the Lord, just watch the sunrise.” – Jeannete Walls

6
Hallo Sunrise! (Captured by: Mahfud Achyar)

Setelah sholat Subuh, istirahat sejenak, dan foto-foto, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju puncak 3. Lazimnya para pendaki hanya sampai puncak 2 karena di sana ada semacam monumen yang menjadi tanda bahwa itu adalah puncak gunung Guntur. Beruntungnya jalur menuju puncak 2 dan puncak 3 tidak begitu susah dibandingkan jalur dari pos 3 ke puncak 1. Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan savana yang ditumbuhi oleh bunga-bunga ilalang berwarna pink, muhlenbergia capillaris.

7
Gunung Cikurai (Captured by: Mahfud Achyar)
9
Savanna at Mt. Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)

Dari puncak gunung Guntur saya melihat gunung Cikurai yang terlihat gagah. Saya berharap suatu saat saya akan berada di atas puncak gunung Cikurai. Barangkali dalam waktu dekat. Berada di atas ketinggian 2,249 mdpl membuat saya sependapat dengan Ratu Wilhelmina bahwa Garut memang layak disebut Zwitsers van Java.

12
Puncak Gunung Guntur (Captured by: Mahfud Achyar)
14.jpg
Garut, Jawa Barat (Captured by: Mahfud Achyar)

Jakarta, 27 Mei 2016.

Catatan tambahan:

Itinerary Mt. Guntur
Itenerary Mt. Guntur

Mt. Guntur (2,249 M) – Garut West Java

Finding the Hidden Paradise: Cikaniki Forest

Oleh: Mahfud Achyar

Canopy Trail, Cikaniki Forest
Canopy Trail, Cikaniki Forest

Cikaniki merupakan hutan hujan tropis yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (THGS), Sukabumi, Jawa Barat, Indonesia. Hutan yang memiliki luas 113,000 hektare ini dinobatkan oleh Majalah Tempo sebagai satu dari “100 Surga Tersembunyi di Sekujur Nusantara” pada tahun 2013. Julukan tersebut rasanya memang pantas disandangkan untuk Cikaniki. Sebab, Cikaniki merupakan hutan yang dihuni oleh 500 spesies tumbuhan dan 200 spesies burung yang beraneka ragam dan langka. Selain itu, belum banyak wisatawan domestik yang mengetahui pesona memukau di balik tabir tersembunyi Cikaniki. Namun yang mengherankan justru wisatawan mancanegaralah yang lebih banyak dan sering berkunjung ke sana.

Pada tanggal 1 hingga 2 november 2014 lalu, saya bersama travelmates berkesempatan untuk menikmati oksigen segar yang diproduksi oleh hutan Cikaniki yang memiliki luas nyaris dua kali Jakarta. Sebagai penduduk urban yang terbiasa menghirup oksigen yang tidak sehat, liburan ke Cikaniki tentu merupakan liburan yang “mahal”. Kami berangkat dari Depok, Jawa Barat dengan menyewa bus elf pariwisata berkapasitas sekitar 15 orang. Tujuan utama kami adalah kampung Citalahab yang berada di jantung TNGHS.

Untuk menuju kampung Citalahab, perjalanan ditempuh sekitar 5 jam. Namun durasi perjalanan bisa lebih lama apabila jalanan macet, terlebih jika berpergian pada hari libur. Untuk mengusik rasa bosan selama perjalanan, barangkali bisa diisi dengan main games, ngobrol, menikmati pemandangan, atau mungkin bisa juga tidur. Namun jangan sampai melewati momen epic ketika memasuki gerbang THGS. Anda akan disuguhi dengan pemandangan yang memanjakan mata. Sepanjang mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan kebun teh yang ditanam dengan begitu rapi. Perkebunan teh yang memiliki luas 900 hektar tersebut sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Kabut tipis pun terlihat menutupi beberapa bagian kebun teh. Hal tersebut menambah kesyahduan dan rasa damai yang menyeruak seketika dari dalam hati.

Jalan yang dilewati hanya bisa dilalui oleh dua mobil berukuran sedang. Jalan tersebut belum beraspal, berwarna coklat tua, dan masih berbatu. Takheran bila sesekali kendaraan yang kita tumpangi bergoncang ke kiri dan ke kanan. Kita seolah sedang menaiki wahana permainan yang membuat tertawa dan deg-degan. Namun menikmati perjalanan adalah hal penting yang harus kita pilih. Sekitar 30 menit dari gerbang TNGHS, kita pun tiba di kampung Citalahab yang dihuni sekitar 60 orang (dewasa dan anak-anak).

Kampun Citalahab berada pada ketinggian 1.070 meter di atas permukaan laut. Bisa dikatakan kampung Citalahab adalah desa tersembunyi di kaki gunung Halimun-Salak. Masyarakat Citalahab menjadikan rumah-rumah mereka sebagai guest house bagi para wisatawan. Kondisi demikian membuat kita dapat berinteraksi lebih dekat dengan para warga. Rumah-rumah panggung yang sederhana seolah memberikan kesan back to village kepadapara pengunjung. Kita pun bisa leluasa menikmati pemandangan berupa air terjun, sungai jernih, sawah, dan aneka tanaman tropis. Hal-hal menarik di Citalahab dapat dengan mudah dijangkau dengan berjalan kaki.

Hutan Cikaniki Sebagai Kawasan Konservasi

Hutan Cikaniki dijadikan sebagai kawasan konservasi yang bekerjasama dengan Lembaga Kerjasama Internasional Jepang (JICA). Bisa dikatakan Cikaniki adalah laboraturium hidup bagi para peneliti untuk meneliti berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi seperti elang jawa, macan tutul jawa, hewan primata, dan sebagainya. Seperti kebanyakan hujan tropis, hutan Cikaniki hampir setiap hari diguyur hujan terutama pada bulan Oktober hingga April.

Dulu, hutan Cikaniki hanya diperuntukkan untuk penelitian. Namun kini juga dibuka untuk para wisatawan. Ada beberapa objek wisata menarik yang dapat ditemukan di kawasan hutan Cikaniki seperti curug macan, loop trail (jalur interpretasi) sepanjang 1,8 km, canopy trail (jembatan tajuk) yang menghubungkan antara pepohonan sepanjang 100 m, dan glow mushroom (jamur bercahaya).

Glowing Mushroom
Glowing Mushroom

Namun menurut saya pribadi, keberadaan glowing mushroom adalah yang paling menarik dari hutan Cikaniki. Di Indonesia sendiri, glowing mushroom hanya tumbuh tujuh tempat yaitu di Taman Nasional Halimun-Salak, Jawa Barat; Taman Nasional Gunung Rinjani, Lombok; Gunung Meja, Manokwari; Taman Nasional Gunung Paling, Kalimantan Barat; Taman Nasional Gunung Leuser, Aceh; Taman Nasional Gunung Kerinci, Jambi; dan Taman Nasional Tanjung Putih, Kalimantan Tengah.

Glowing mushroom di Cikaniki dapat dijumpai pada malam hari. Untuk melihat secara langsung glowing mushroom harus didampingi petugas stasiun Cikaniki, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak untuk faktor keselamatan. Jamur ini sendiri memiliki nama latin Mycena luxaeterna yang merupakan spesies jamur keluarga Mycenaceae. Lantas mengapa jamur ini dapat bercahaya? Glowing mushrooms dapat bercahaya karena mengandung zat Fosfor yang memancarkan sinar pigmen sehingga menimbulkan cahaya hijau. Selain menyaksikan keajaiban glowing mushroom, Anda juga akan takjub dengan cahaya- berpendar dari kunang-kunang.

Jika Anda bosan dengan objek wisata yang biasa-biasa saja, alangkah baiknya jika Anda merencanakan liburan ke Cikaniki. Selamat liburan!

 

Catatan Perjalanan: Menikmati Kemewahan di Gunung Papandayan

Tidak banyak yang mengetahui bahwa kabupaten Garut yang terletak di sebelah tenggara kota Bandung dijuluki sebagai Swiss van Java. Charly Caplin pernah berkunjung ke Garut. Ia mengagumi keindahan alam Garut dan Caplin-lah yang memperkenalkan Garut kepada dunia sebagai Swiss van Java.

Garut berada pada ketinggian 717 m/dpl yang dikelilingi gunung yang menjulang tinggi yaitu Gunung Karacak (1.838 m), Gunung Cikuray (2.821 m), Gunung Papandayan (2.622 m), dan Gunung Guntur (2.249 m).

Sabtu (30/03/2013), saya bersama sahabat saya Cahyo, Nurida, dan Nika berkesempatan untuk berpetualang ke Gunung Papandayan. Rencana pendakian ke Gunung Papandayan sudah kita rencanakan jauh-jauh hari. Seingat saya tiga minggu sebelum hari keberangkatan. Biasanya, jika mau mendaki gunung saya tidak terlalu ambil pusing. Saya cukup mempersiapkan bekal seadanya. Namun, pada pendakian kali ini, ketua kelompok kita Cahyo yang sudah memiliki traffic yang tinggi dalam mendaki gunung memberikan saran kepada kami bahwa segala sesuatunya harus dipersiapkan secara maksimal.

Kendati Gunung Papandayan salah satu gunung wisata, namun Cahyo berpesan bahwa kita harus mengantisipasi segala kemungkinan buruk. Cahyo pun meminta kami untuk berolahraga setiap hari minimal, mempersiapkan peralatan pribadi dan kelompok, dan membaca dengan seksama Rencana Operasional Pendakian (ROP) yang telah dikirim Cahyo melalui personal message di facebook.

Awalnya saya berpikiran mengapa harus terlalu detail? Namun kemudian saya teringat pesan Andrea Hirata dalam bukunya Laskar Pelangi “Preparation perfect performance!” Baiklah, segala sesuatunya harus dipersiapkan secara matang dan harus digarap secara serius. Jadi, mari kita berterima kasih sekali kepada ketua kelompok kita Cahyo yang sudah rewel menanyakan ini-itu berkaitan dengan persiapan mendaki Gunung Papandayan. Terima kasih bos!

Jatinangor, 30 Maret 2013, pukul 09.45 WIB

Kami mendata ulang perlengkapan kelompok dan pribadi. Mulai dari sleeping bag, matras, tenda, head lamp, senter, bekal makanan secukupnya, dan yang lainnya. Sip! Semuanya sudah lengkap. Saatnya berangkat!

Perjalanan dari Jatinangor ke Garut (kota) sebetulnya hanya 2 jam. Namun, karena lokasi Gunung Papandayan di Cisurupan yang cukup jauh dari pusat kota Garut, jadi kami memerlukan waktu yang lebih lama. Beruntung kami dibantu oleh teknologi GPS dan juga bantuan dari masyarakat Garut yang berbaik hati memberitahu kami rute menuju Cisurupan.

Memasuki kawasan Gunung Papandayan, kami perlu hati-hati karena jalan yang rusak berat. Ditambah saat itu hujan lebat mengguyur Garut sehingga kabut gunung pun menguap dan membuat jarak pandang semakin pendek.

Pukul 12.45 WIB.

Ban mobil kami terjebak ke dalam lubang jalan yang digenangi hujan dan lumpur. Beruntung saat itu hujan sudah mulai reda. Beberapa dari kami mendorong mobil dan ada juga yang bertugas selaku navigator yang memberikan arah kepada Cahyo, memilih jalan yang tepat dan aman untuk dilalui mobil. Alhamdulillah, kami juga dibantu oleh beberapa warga Cisurupan yang langsung turun dari truck berwarna kuning dari arah berlawanan. Mereka pun langsung mendorong mobil Xenia berwarna merah marun yang menjadi tumpangan kami. Satu, dua, tiga! Alhamdulillah ban mobil kami pun terbebas dari cengkraman lubang jalan yang sangat tidak bersahabat. Hatur nuhun bapak-bapak!

***

Selamat Datang di Gunung Papandayan!

Jalanan yang rusak berat membuat kami lebih ekstra hati-hati untuk memilih jalan yang paling aman untuk dilewati. Cahyo memerlukan fokus ekstra, sementara yang lainnya berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan sehingga kami dapat tiba di lokasi dengan selamat. Rintangan demi rintangan kami lewati. Alhamdulillah, saat-saat yang cukup mendebarkan sudah kami lewati. Tepat pukul 14.00 WIB, akhirnya kami tiba di kaki Gunung Papandayan, tepatnya di Camp David.

Pos Pendakian di Camp David. Sumber: Koleksi Pribadi
Pos Pendakian di Camp David. Sumber: Koleksi Pribadi

Karcis masuk Gunung Papandayan dan biaya parkir mobil totalnya seingat saya 15ribu. Selanjutnya, kami harus mendaftar di pos pendakian dan membayar biaya pendaftaran 10ribu. Ternyata, pada hari itu cukup banyak yang camping di Gunung Papandayan. Sepintas saya melihat ada teman-teman dari Unpad, ITB, Untar, dan beberapa kampus lainnya. Setelah selesai mengurusi pendaftaran, kami pun melakukan peregangan dan olahraga kecil supaya tubuh tetap fit.

Hujan gerimis kembali mengundang.

Kami tidak bisa hanya berdiam diri di Camp David. Kami harus segera berangkat agar tidak terlalu sore tiba di Pondok Saladah. Alhamdulillah, ternyata ada lima orang laki-laki asli Garut juga hendak camping di Pondok Saladah. Kami pun berkenalan dan bersepakat untuk mendaki bersama.

Sepanjang pendakian, terlihat banyak orang-orang yang turun dan tampak kelelahan. Di antara mereka kebanyakan pemuda sepantaran kami yang memberikan salam dan memberikan semangat kepada kami. Ah, mereka keren sekali. Kendati mereka membawa ransel carrier yang berat dan besar, serta kaki yang pegal karena berjalan jauh, namun mereka masih menyunggingkan seulas senyuman. Saya pikir, begitulah para pencinta alam. Walau kami tidak saling mengenal, namun kami dapat bersahabat dengan baik. Sebab itu memiliki kecintaan yang sama yaitu alam beserta keindahannya.

Kata Cahyo, satu jam perjalanan, dada akan terasa sesak karena membawa ransel carrier yang besar. “Tapi tenang saja, itu hanya untuk penyesuaian saja,” kata Cahyo. Selanjutnya, kita akan terbiasa berjalan dengan membawa ransel carrier dan menikmati perjalanan yang panjang. Ah ya, benar rupanya! Dada saya terasa sesak. Sesekali saya mengencangkan tali ransel dan berkata, “Saya pasti bisa!”

Berfoto dekat kawah belerang Gunung Papandayan.
Berfoto dekat kawah belerang Gunung Papandayan.

Tahukah kalian, jika kalian ingin mengenal siapa orang-orang di dekat kalian, maka ajaklah mereka melakukan perjalanan jauh seperti mendaki gunung. Maka, kalian akan mengenal secara seksama mereka. Alhamdulillah, saya merasa beruntung karena memiliki tim pendakian yang memiliki kerja sama yang baik, perhatian, dan saling menyemangati.

***

Hujan kembali turun.

Beruntung kami semua sudah menggunakan rain coat. Namun, kami tetap harus waspada mengingat jalanan yang licin. Kami pun berjalan santai di atas bebatuan yang berwarna abu-abu gelap. Di sisi kiri kami, ada kepulan asap kawah Gunung Papandayan. Di sisi kanan kami terlihat bukit pasir yang berbatu-batu. Kami juga sempat mencium aroma belerang yang cukup menyengat. Jadi kami tidak boleh menghirup oksigen dalam-dalam, cukup sekadarnya.

Sepanjang perjalanan, beberapa pengendara motor gunung turun melewati jalan yang curam dengan mahir. Kami pun takjub dengan aksi mereka.

Pendakian kami lalui dengan perasaan suka cita. Lelah sebetulnya, tapi kami terus bersemangat karena kami harus menyudahi apa yang sudah kami mulai. Guna menepis rasa lelah, kami berfoto di spot-spot yang memiliki angle bagus, istirahat sejenak, kemudian kembali berjalan.

1-2-3-15-30-27!

Kami sudah lupa berapa jumlah langkah kaki kami. Rasanya ratusan atau bahkan ribuan. Kami benar-benar lupa.

***

Hijau!
Hijau!

Setelah melewati lembah Gunung Papandayan yang tandus, kami pun memasuki area padang rumput hijau yang segar, kemudian hutan rendah yang ditumbuhi ragam vegetasi seperti Kendung (Helicia serrata), Segel (Wormia excelsa), dan pohon jenis yang paling dominan adalah jenis Anggrid (Neonauclea lanceolata). Kemiringan hutan sekitar 40-45 derajat dengan suhu sekitar 10 derajat celcius. Kendati udara yang cukup dingin, namun keringat yang membasahi baju membuat dinginnya Gunung Papandayan tidak begitu berarti. Jalanan di area hutan lebih licin dan terjal. Kami harus berpegangan di tumpuan kayu dan menggenggam reremputan agar kami bisa berhasil melewati berbagai rintangan.

Dari kejauhan, kabut tipis pun perlahan turun, menutupi bagian atas gunung seperti seorang anak kecil yang mungil yang tersipu malu, kemudian menutup wajahnya dengan selimut kesayangan miliknya. Ah, sempurna sekali sore kala itu.

Tiba di Pondok Saladah

Pukul 16.14 WIB, setelah melewati pendakian panjang, melelahkan, dan penuh tantangan, akhirnya kami tiba di perkemahan Pondok Saladah. Subhanallah, indah sekali!

Pesona keindahan Pondok Saladah
Pesona keindahan Pondok Saladah

Saat itu ternyata sudah banyak orang yang memasang tenda. Ada juga beberapa kelompok yang baru memasang tenda, mengambil air bersih, dan berbincang ringan bersama teman-teman. Ah ya! Mari kita memasang tenda. Kami pun bergegas mengeluarkan barang-barang, menyusun pola tenda, dan bekerjasama memasang tenda. Beberapa kali, kabut tipis ditemani angin gunung yang sejuk melewati tenda kami, kemudian sirna.

Tenda sudah berdiri kokoh. Selanjutnya, kami bersih-bersih dan mempersiapkan makan malam. Kami pun berbagi tugas: ada yang memotong kentang, wortel, buncis, daun bawang, menanak nasi, dan memanaskan air. Apa menu makan malam kami? Soup Papandayan ala Chef Cahyo (Hehe, makasih Cahyo sudah memikirkan makan malam kami). Oke, saatnya makan! Perut yang teramat lapar menambah nikmat makan malam kami. Menurut saya, malam itu adalah menu makan malam yang mahal yaitu sajian soup plus nasi dan segelas teh hangat di alam terbuka yang sangat indah di Gunung Papandayan. Mewah tidak selalu mahal bukan?

Tenda sudah terpasang dengan sempurna!
Tenda sudah terpasang dengan sempurna!

Apa yang paling saya suka ketika berada di alam bebas? Yaitu ketika kita bisa bermunajat kepada Allah. Saat itu, kita merasa kecil. Bahkan sangat kecil. Kita tidak ada apa-apanya. Lantas, apa yang harus kita sombongkan? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah untuk kesempatan yang berharga ini.

Rembulan kala itu
Rembulan kala itu

Minggu, 31 Maret 2013

Semalam saya tidak bisa tidur nyenyak. Sangat dingin. Padahal, sudah memakai kaos kaki, sarung tangan, syal, dan sleeping bag. Tapi mereka tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Mungkin karena kurangnya persediaan lemak dalam tubuh saya sehingga angin gunung begitu mudahnya menyelinap masuk hingga menusuk tulang saya yang tidak tahu apa-apa.

Sekitar pukul 02.00 WIB, saya terbangun. Mendongakkan kepala ke atas, melihat langit luas. Ada bulan yang begitu berbaik hati menyinari pekatnya malam sehingga langit menjadi agak terang berwarna biru. Udara memang tidak bisa diajak kompromi. Baik, saya putuskan kembali ke tenda.

Kami semua terbangun. Siap-siap menunaikan sholat Subuh berjamah. Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb. Sembari menunggu mentari terbit, kami berbagi tugas. Ada yang mengambil air, ada yang masak, dan ada yang bersih-bersih.

Perlahan, mentari pun terbit menyapu bersih kabut yang menggelayut di reranting pohon. Semburat cahaya pun menepis gelap yang telah menemani kami semalam suntuk. Sementara hangatnya mentari pagi mulai mengusik rasa dingin yang dari tubuh kami. Udara yang segar kami hirup sepuas-puasanya. Alhamdulillah, pagi yang indah dan berkah.

Indahnya pagi di Gunung Papandayan
Indahnya pagi di Gunung Papandayan

Menikmati waktu pagi di Gunung Papandayan memang tidak ada duanya. Selain mata kita dimanjakan dengan indahnya pemandangan di sekitar, kita juga bisa melihat secara langsung bunga Edelweiss (Anaphalis Javanica) yang saat itu baru bermekaran. Taklupa, kami pun mengabadikan moment berharga tersebut dengan kamera. Ah, andai setiap hari bisa menikmati indah pagi seperti moment di Gunung Papandayan, betapa bahagianya hidup ini.

Sebetulnya, tujuan akhir kami bukanlah Pondok Saladah. Melainkan kami ingin sekali menikmati keindahan alam Gunung Papandayan di puncak tertinggi yaitu Tegal Alun. Menghirup udara gunung yang segar, mencium aroma kesederhanaan bunga edelweiss, melihat luasnya padang rumput di sana, dan menikmati detik-detik berharga selama di Tegal Alun. Tapi rasanya niatan tersebut belum dapat terealisasi. Perjalanan dari Pondok Saladah ke Tegal Alun setidaknya memakan waktu selama 1 jam. Itu artinya, jika kami ingin bisa menyaksikan sun rise dan melihat langsung keindahan Tegal Alun, maka kami harus berangkat selepas sholat Subuh, sekitar jam 5 pagi. Namun, konsekuensinya, kami tidak bisa berangkat full team. Sebab, harus ada satu di antara kami yang bertugas menjaga tenda hingga kami kembali ke Pondok Saladah. Cahyo sebetulnya mengajukan diri untuk menjaga tenda beserta perlengkapannya. Namun, tentu tidak menarik karena kita tidak dapat berbagi kebahagiaan. Maka, dengan berat hati kami sampaikan, kami tidak jadi ke Tegal Alun.

Pun demikian, tidak menjadi apa-apa. Kami masih bisa melihat bunga-bunga edelweiss yang baru bermekaran di Pondok Saladah. Bagi kami itu sudah lebih dari cukup. Hal yang lebih penting adalah, kami bisa melewati setiap moment bersama-sama.

Tiba waktunya sarapan. Makanan pun sudah terhidang. Cahyo kembali bertugas menjadi koki. Sementara, saya, Nika, dan Nurida menjadi juri masak. Menu pagi itu: nugget, nutrijel, telor dadar, nasi, susu milo, dan apel. Kami pun menyantap sarapan dengan lahap. Sesekali kami tertawa, bercanda, foto-foto, dan kembali melanjutkan makan. Semuanya makanan habis! Kenyang. Ingin berleha-leha sejenak sembari menikmati pagi. Namun hal itu tidak memungkinkan. Kami harus bergegas packing. Tepat pukul 10.00 WIB, kami harus turun khawatir hujan turun.

Sarapan :D
Sarapan 😀

Semua barang-barang sudah masuk ke dalam ransel carrier masing-masing. Tas kembali berat. Namun tidak seberat waktu pemberangkatan. Terasa lebih ringan. Saatnya pulang. Selamat jalan Gunung Papandayan. Kami ucapkan terima kasih banyak. Jika ada kesempatan lagi, kami akan ke sini lagi. Ah, di sini indah sekali. Kami betul-betul menikmati kemewahan tiada terkira. Selesai.

Sayonara!!!!
Sayonara!!!!
Kami berencana ingin melakukan pendakian selanjutnya. Entah kemana, entah kapan. Lihat saja nanti.
Kami berencana ingin melakukan pendakian selanjutnya. Entah kemana, entah kapan. Lihat saja nanti.

***

terima kasih maPANDAyan!!!

@mahfudACHYAR