Catatan Perjalanan: Menikmati Kemewahan di Gunung Papandayan


Tidak banyak yang mengetahui bahwa kabupaten Garut yang terletak di sebelah tenggara kota Bandung dijuluki sebagai Swiss van Java. Charly Caplin pernah berkunjung ke Garut. Ia mengagumi keindahan alam Garut dan Caplin-lah yang memperkenalkan Garut kepada dunia sebagai Swiss van Java.

Garut berada pada ketinggian 717 m/dpl yang dikelilingi gunung yang menjulang tinggi yaitu Gunung Karacak (1.838 m), Gunung Cikuray (2.821 m), Gunung Papandayan (2.622 m), dan Gunung Guntur (2.249 m).

Sabtu (30/03/2013), saya bersama sahabat saya Cahyo, Nurida, dan Nika berkesempatan untuk berpetualang ke Gunung Papandayan. Rencana pendakian ke Gunung Papandayan sudah kita rencanakan jauh-jauh hari. Seingat saya tiga minggu sebelum hari keberangkatan. Biasanya, jika mau mendaki gunung saya tidak terlalu ambil pusing. Saya cukup mempersiapkan bekal seadanya. Namun, pada pendakian kali ini, ketua kelompok kita Cahyo yang sudah memiliki traffic yang tinggi dalam mendaki gunung memberikan saran kepada kami bahwa segala sesuatunya harus dipersiapkan secara maksimal.

Kendati Gunung Papandayan salah satu gunung wisata, namun Cahyo berpesan bahwa kita harus mengantisipasi segala kemungkinan buruk. Cahyo pun meminta kami untuk berolahraga setiap hari minimal, mempersiapkan peralatan pribadi dan kelompok, dan membaca dengan seksama Rencana Operasional Pendakian (ROP) yang telah dikirim Cahyo melalui personal message di facebook.

Awalnya saya berpikiran mengapa harus terlalu detail? Namun kemudian saya teringat pesan Andrea Hirata dalam bukunya Laskar Pelangi “Preparation perfect performance!” Baiklah, segala sesuatunya harus dipersiapkan secara matang dan harus digarap secara serius. Jadi, mari kita berterima kasih sekali kepada ketua kelompok kita Cahyo yang sudah rewel menanyakan ini-itu berkaitan dengan persiapan mendaki Gunung Papandayan. Terima kasih bos!

Jatinangor, 30 Maret 2013, pukul 09.45 WIB

Kami mendata ulang perlengkapan kelompok dan pribadi. Mulai dari sleeping bag, matras, tenda, head lamp, senter, bekal makanan secukupnya, dan yang lainnya. Sip! Semuanya sudah lengkap. Saatnya berangkat!

Perjalanan dari Jatinangor ke Garut (kota) sebetulnya hanya 2 jam. Namun, karena lokasi Gunung Papandayan di Cisurupan yang cukup jauh dari pusat kota Garut, jadi kami memerlukan waktu yang lebih lama. Beruntung kami dibantu oleh teknologi GPS dan juga bantuan dari masyarakat Garut yang berbaik hati memberitahu kami rute menuju Cisurupan.

Memasuki kawasan Gunung Papandayan, kami perlu hati-hati karena jalan yang rusak berat. Ditambah saat itu hujan lebat mengguyur Garut sehingga kabut gunung pun menguap dan membuat jarak pandang semakin pendek.

Pukul 12.45 WIB.

Ban mobil kami terjebak ke dalam lubang jalan yang digenangi hujan dan lumpur. Beruntung saat itu hujan sudah mulai reda. Beberapa dari kami mendorong mobil dan ada juga yang bertugas selaku navigator yang memberikan arah kepada Cahyo, memilih jalan yang tepat dan aman untuk dilalui mobil. Alhamdulillah, kami juga dibantu oleh beberapa warga Cisurupan yang langsung turun dari truck berwarna kuning dari arah berlawanan. Mereka pun langsung mendorong mobil Xenia berwarna merah marun yang menjadi tumpangan kami. Satu, dua, tiga! Alhamdulillah ban mobil kami pun terbebas dari cengkraman lubang jalan yang sangat tidak bersahabat. Hatur nuhun bapak-bapak!

***

Selamat Datang di Gunung Papandayan!

Jalanan yang rusak berat membuat kami lebih ekstra hati-hati untuk memilih jalan yang paling aman untuk dilewati. Cahyo memerlukan fokus ekstra, sementara yang lainnya berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan sehingga kami dapat tiba di lokasi dengan selamat. Rintangan demi rintangan kami lewati. Alhamdulillah, saat-saat yang cukup mendebarkan sudah kami lewati. Tepat pukul 14.00 WIB, akhirnya kami tiba di kaki Gunung Papandayan, tepatnya di Camp David.

Pos Pendakian di Camp David. Sumber: Koleksi Pribadi
Pos Pendakian di Camp David. Sumber: Koleksi Pribadi

Karcis masuk Gunung Papandayan dan biaya parkir mobil totalnya seingat saya 15ribu. Selanjutnya, kami harus mendaftar di pos pendakian dan membayar biaya pendaftaran 10ribu. Ternyata, pada hari itu cukup banyak yang camping di Gunung Papandayan. Sepintas saya melihat ada teman-teman dari Unpad, ITB, Untar, dan beberapa kampus lainnya. Setelah selesai mengurusi pendaftaran, kami pun melakukan peregangan dan olahraga kecil supaya tubuh tetap fit.

Hujan gerimis kembali mengundang.

Kami tidak bisa hanya berdiam diri di Camp David. Kami harus segera berangkat agar tidak terlalu sore tiba di Pondok Saladah. Alhamdulillah, ternyata ada lima orang laki-laki asli Garut juga hendak camping di Pondok Saladah. Kami pun berkenalan dan bersepakat untuk mendaki bersama.

Sepanjang pendakian, terlihat banyak orang-orang yang turun dan tampak kelelahan. Di antara mereka kebanyakan pemuda sepantaran kami yang memberikan salam dan memberikan semangat kepada kami. Ah, mereka keren sekali. Kendati mereka membawa ransel carrier yang berat dan besar, serta kaki yang pegal karena berjalan jauh, namun mereka masih menyunggingkan seulas senyuman. Saya pikir, begitulah para pencinta alam. Walau kami tidak saling mengenal, namun kami dapat bersahabat dengan baik. Sebab itu memiliki kecintaan yang sama yaitu alam beserta keindahannya.

Kata Cahyo, satu jam perjalanan, dada akan terasa sesak karena membawa ransel carrier yang besar. “Tapi tenang saja, itu hanya untuk penyesuaian saja,” kata Cahyo. Selanjutnya, kita akan terbiasa berjalan dengan membawa ransel carrier dan menikmati perjalanan yang panjang. Ah ya, benar rupanya! Dada saya terasa sesak. Sesekali saya mengencangkan tali ransel dan berkata, “Saya pasti bisa!”

Berfoto dekat kawah belerang Gunung Papandayan.
Berfoto dekat kawah belerang Gunung Papandayan.

Tahukah kalian, jika kalian ingin mengenal siapa orang-orang di dekat kalian, maka ajaklah mereka melakukan perjalanan jauh seperti mendaki gunung. Maka, kalian akan mengenal secara seksama mereka. Alhamdulillah, saya merasa beruntung karena memiliki tim pendakian yang memiliki kerja sama yang baik, perhatian, dan saling menyemangati.

***

Hujan kembali turun.

Beruntung kami semua sudah menggunakan rain coat. Namun, kami tetap harus waspada mengingat jalanan yang licin. Kami pun berjalan santai di atas bebatuan yang berwarna abu-abu gelap. Di sisi kiri kami, ada kepulan asap kawah Gunung Papandayan. Di sisi kanan kami terlihat bukit pasir yang berbatu-batu. Kami juga sempat mencium aroma belerang yang cukup menyengat. Jadi kami tidak boleh menghirup oksigen dalam-dalam, cukup sekadarnya.

Sepanjang perjalanan, beberapa pengendara motor gunung turun melewati jalan yang curam dengan mahir. Kami pun takjub dengan aksi mereka.

Pendakian kami lalui dengan perasaan suka cita. Lelah sebetulnya, tapi kami terus bersemangat karena kami harus menyudahi apa yang sudah kami mulai. Guna menepis rasa lelah, kami berfoto di spot-spot yang memiliki angle bagus, istirahat sejenak, kemudian kembali berjalan.

1-2-3-15-30-27!

Kami sudah lupa berapa jumlah langkah kaki kami. Rasanya ratusan atau bahkan ribuan. Kami benar-benar lupa.

***

Hijau!
Hijau!

Setelah melewati lembah Gunung Papandayan yang tandus, kami pun memasuki area padang rumput hijau yang segar, kemudian hutan rendah yang ditumbuhi ragam vegetasi seperti Kendung (Helicia serrata), Segel (Wormia excelsa), dan pohon jenis yang paling dominan adalah jenis Anggrid (Neonauclea lanceolata). Kemiringan hutan sekitar 40-45 derajat dengan suhu sekitar 10 derajat celcius. Kendati udara yang cukup dingin, namun keringat yang membasahi baju membuat dinginnya Gunung Papandayan tidak begitu berarti. Jalanan di area hutan lebih licin dan terjal. Kami harus berpegangan di tumpuan kayu dan menggenggam reremputan agar kami bisa berhasil melewati berbagai rintangan.

Dari kejauhan, kabut tipis pun perlahan turun, menutupi bagian atas gunung seperti seorang anak kecil yang mungil yang tersipu malu, kemudian menutup wajahnya dengan selimut kesayangan miliknya. Ah, sempurna sekali sore kala itu.

Tiba di Pondok Saladah

Pukul 16.14 WIB, setelah melewati pendakian panjang, melelahkan, dan penuh tantangan, akhirnya kami tiba di perkemahan Pondok Saladah. Subhanallah, indah sekali!

Pesona keindahan Pondok Saladah
Pesona keindahan Pondok Saladah

Saat itu ternyata sudah banyak orang yang memasang tenda. Ada juga beberapa kelompok yang baru memasang tenda, mengambil air bersih, dan berbincang ringan bersama teman-teman. Ah ya! Mari kita memasang tenda. Kami pun bergegas mengeluarkan barang-barang, menyusun pola tenda, dan bekerjasama memasang tenda. Beberapa kali, kabut tipis ditemani angin gunung yang sejuk melewati tenda kami, kemudian sirna.

Tenda sudah berdiri kokoh. Selanjutnya, kami bersih-bersih dan mempersiapkan makan malam. Kami pun berbagi tugas: ada yang memotong kentang, wortel, buncis, daun bawang, menanak nasi, dan memanaskan air. Apa menu makan malam kami? Soup Papandayan ala Chef Cahyo (Hehe, makasih Cahyo sudah memikirkan makan malam kami). Oke, saatnya makan! Perut yang teramat lapar menambah nikmat makan malam kami. Menurut saya, malam itu adalah menu makan malam yang mahal yaitu sajian soup plus nasi dan segelas teh hangat di alam terbuka yang sangat indah di Gunung Papandayan. Mewah tidak selalu mahal bukan?

Tenda sudah terpasang dengan sempurna!
Tenda sudah terpasang dengan sempurna!

Apa yang paling saya suka ketika berada di alam bebas? Yaitu ketika kita bisa bermunajat kepada Allah. Saat itu, kita merasa kecil. Bahkan sangat kecil. Kita tidak ada apa-apanya. Lantas, apa yang harus kita sombongkan? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah untuk kesempatan yang berharga ini.

Rembulan kala itu
Rembulan kala itu

Minggu, 31 Maret 2013

Semalam saya tidak bisa tidur nyenyak. Sangat dingin. Padahal, sudah memakai kaos kaki, sarung tangan, syal, dan sleeping bag. Tapi mereka tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Mungkin karena kurangnya persediaan lemak dalam tubuh saya sehingga angin gunung begitu mudahnya menyelinap masuk hingga menusuk tulang saya yang tidak tahu apa-apa.

Sekitar pukul 02.00 WIB, saya terbangun. Mendongakkan kepala ke atas, melihat langit luas. Ada bulan yang begitu berbaik hati menyinari pekatnya malam sehingga langit menjadi agak terang berwarna biru. Udara memang tidak bisa diajak kompromi. Baik, saya putuskan kembali ke tenda.

Kami semua terbangun. Siap-siap menunaikan sholat Subuh berjamah. Alhamdulillah, terima kasih ya Rabb. Sembari menunggu mentari terbit, kami berbagi tugas. Ada yang mengambil air, ada yang masak, dan ada yang bersih-bersih.

Perlahan, mentari pun terbit menyapu bersih kabut yang menggelayut di reranting pohon. Semburat cahaya pun menepis gelap yang telah menemani kami semalam suntuk. Sementara hangatnya mentari pagi mulai mengusik rasa dingin yang dari tubuh kami. Udara yang segar kami hirup sepuas-puasanya. Alhamdulillah, pagi yang indah dan berkah.

Indahnya pagi di Gunung Papandayan
Indahnya pagi di Gunung Papandayan

Menikmati waktu pagi di Gunung Papandayan memang tidak ada duanya. Selain mata kita dimanjakan dengan indahnya pemandangan di sekitar, kita juga bisa melihat secara langsung bunga Edelweiss (Anaphalis Javanica) yang saat itu baru bermekaran. Taklupa, kami pun mengabadikan moment berharga tersebut dengan kamera. Ah, andai setiap hari bisa menikmati indah pagi seperti moment di Gunung Papandayan, betapa bahagianya hidup ini.

Sebetulnya, tujuan akhir kami bukanlah Pondok Saladah. Melainkan kami ingin sekali menikmati keindahan alam Gunung Papandayan di puncak tertinggi yaitu Tegal Alun. Menghirup udara gunung yang segar, mencium aroma kesederhanaan bunga edelweiss, melihat luasnya padang rumput di sana, dan menikmati detik-detik berharga selama di Tegal Alun. Tapi rasanya niatan tersebut belum dapat terealisasi. Perjalanan dari Pondok Saladah ke Tegal Alun setidaknya memakan waktu selama 1 jam. Itu artinya, jika kami ingin bisa menyaksikan sun rise dan melihat langsung keindahan Tegal Alun, maka kami harus berangkat selepas sholat Subuh, sekitar jam 5 pagi. Namun, konsekuensinya, kami tidak bisa berangkat full team. Sebab, harus ada satu di antara kami yang bertugas menjaga tenda hingga kami kembali ke Pondok Saladah. Cahyo sebetulnya mengajukan diri untuk menjaga tenda beserta perlengkapannya. Namun, tentu tidak menarik karena kita tidak dapat berbagi kebahagiaan. Maka, dengan berat hati kami sampaikan, kami tidak jadi ke Tegal Alun.

Pun demikian, tidak menjadi apa-apa. Kami masih bisa melihat bunga-bunga edelweiss yang baru bermekaran di Pondok Saladah. Bagi kami itu sudah lebih dari cukup. Hal yang lebih penting adalah, kami bisa melewati setiap moment bersama-sama.

Tiba waktunya sarapan. Makanan pun sudah terhidang. Cahyo kembali bertugas menjadi koki. Sementara, saya, Nika, dan Nurida menjadi juri masak. Menu pagi itu: nugget, nutrijel, telor dadar, nasi, susu milo, dan apel. Kami pun menyantap sarapan dengan lahap. Sesekali kami tertawa, bercanda, foto-foto, dan kembali melanjutkan makan. Semuanya makanan habis! Kenyang. Ingin berleha-leha sejenak sembari menikmati pagi. Namun hal itu tidak memungkinkan. Kami harus bergegas packing. Tepat pukul 10.00 WIB, kami harus turun khawatir hujan turun.

Sarapan :D
SarapanšŸ˜€

Semua barang-barang sudah masuk ke dalam ransel carrier masing-masing. Tas kembali berat. Namun tidak seberat waktu pemberangkatan. Terasa lebih ringan. Saatnya pulang. Selamat jalan Gunung Papandayan. Kami ucapkan terima kasih banyak. Jika ada kesempatan lagi, kami akan ke sini lagi. Ah, di sini indah sekali. Kami betul-betul menikmati kemewahan tiada terkira. Selesai.

Sayonara!!!!
Sayonara!!!!
Kami berencana ingin melakukan pendakian selanjutnya. Entah kemana, entah kapan. Lihat saja nanti.
Kami berencana ingin melakukan pendakian selanjutnya. Entah kemana, entah kapan. Lihat saja nanti.

***

terima kasih maPANDAyan!!!

@mahfudACHYAR

10 thoughts on “Catatan Perjalanan: Menikmati Kemewahan di Gunung Papandayan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s