Karen Amstrong Kampanyekan Gerakan Compassion ke Seluruh Dunia


Charter for Compassion (dokumentasi pribadi)
Charter for Compassion (dokumentasi pribadi)
JAKARTA – Dalam rangka ulang tahun Mizan yang ke-30 tahun, Mizan bekerjasama dengan HFI (Humanitarian Forum Indonesia) yang difasilitasi PP Muhammadiyah menyelenggarakan Talkshow dan Deklarasi Semangat Compassion dengan mengundang penulis kenamaan asal Inggris, Karen Amstrong. Acara yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB digelar di gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di bilangan Menteng Raya No. 62, Jakarta Pusat. Peserta yang hadir pada talkshow ini berasal dari NGO (Non-Government Organization) yang tergabung sebagai anggota HFI seperti PKPU, Dompet Dhuafa, MDMC, PPKM, YAKKUM, YTB, World Vision, dan Karina Caritas Indonesia. Selain itu juga hadir undangan dan peserta umum yang turut menghadiri kegiatan ini.

Karen Amstron (dokumentasi pribadi)
Karen Amstron (dokumentasi pribadi)

Karen Amstrong seperti yang dilansir pada laman Wikipedia.com merupakan penulis yang lahir 14 November 1944 di Wildmoor, Worcestershire, Inggris. Beliau adalah seorang pengarang, feminis, dan penulis tentang agama-agama Yudaisme, Kristen, Islam dan Buddhisme. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga Irlandia yang setelah kelahiran Karen pindah ke Bromsgrove dan kemudian ke Birmingham.

Karen menerbitkan “Through the Narrow Gate” pada 1982, yang menggambarkan kehidupan yang dibatasi dan sempit yang dialaminya di biara (dan menyebabkan ia banyak dimusuhi oleh orang-orang Katolik Britania). Pada 1984 ia diminta menulis dan menyajikan sebuah dokumenter tentang kehidupan St. Paul. Penelitian untuk dokumenter ini membuat Karen kembali menyelidiki agama, meskipun sebelumnya ia telah meninggalkan ibadah keagamaan setelah ia keluar dari biara. Sejak itu ia menjadi penulis yang produktif, banyak dipuji dan dikritik dalam topik-topik yang menyangkut ketiga agama monoteistik. Pada 1999, Pusat Islam California Selatan menghormati Karen atas usahanya “mempromosikan saling pengertian antara agama-agama.”

Salah satu buku Karen yang terkenal di Indonesia adalah “The History of God” (Sejarah Tuhan) yang hingga kini masih sering dicetak ulang oleh penerbit Mizan sejak kemunculannya pertama kali tahun 1993. Selain itu, Karen juga melahirkan buku-buku monumental seperti biografi “Muhammad” (2006) dan buku terbarunya yang berjudul “Compassion” (Welas Asih).

Kehadiran Karen sebagai pembicara dalam talkshow di Indonesia khusus untuk mendiskusikan buku Compassion yang juga menjadi semangat masyarakat dunia dalam mengampanyekan gerakan Welas Asih. Selain Karen sebagai pembicara utama, hadir juga tokoh-tokoh utama seperti Dr. Zainul Kamal (UIN Syarif Hidayatulloh), Romo Heru Prakosa (Rohaniawan Katholik), dan Pdt. Martin Sinaga (PGI) yang dimoderatori oleh Pdt. Jonathan Victor Rembeth.

Lahirnya buku Compassion dilatarbelakangi atas kegelisahan Karen terhadap konflik-konflik yang memasung rasa kemanusiaan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Ia menggambarkan dunia hari ini seperti Hukum Rimba; siapa kuat dialah yang menang. Hal itu bisa dilihat dari konflik Palestina-Israel, isu terorisme, seksualisme, praktik koruptif, dan sebagainya yang tidak hanya menjadi masalah lokal tapi sampai international. Meski semua negara terus berusaha mencari solusinya dengan cara masing-masing, namun masalah yang ada malah semakin subur, takteratasi.

Panggung diskusi (dokumentasi pribadi)
Panggung diskusi (dokumentasi pribadi)

Compassion (Welas Asih, Ind) adalah sikap welas asih pada sesama tanpa memandang perbedaan. Karen menawarkan ada 12 langkah untuk memahami secara lengkap konsep Compassion. Sekilas, teori Welas Asih tersebut terkesan enteng dan tidak menarik, tapi kalau kita melihat pada realita yang ada, di mana masyarakat kita sedang kehilangan nurani belas kasihnya, maka kita sangat membutuhkan kaidah itu. Karenanya, teori welas asih itu perlu dikembalikan sebagai inti dari kehidupan religius dan moral agama-agama. Sebagai langkah konkritnya, Karen menggagas sebuah komunitas global yang di dalamnya semua orang bisa hidup bersama saling menghormati, yang kemudian ia realisasikan ke dalam bentuk Piagam Welas Asih (Chrakter of Compassion), yang kemudian ditulis oleh para pemikir terkemuka dari berbagai agama. Isi dari piagam itu berisikan butir-butir yang melawan suara-suara ekstrimisme, intoleransi, dan kebencian.

Ada lima butir dalam piagam tersebut di antaranya; a) untuk mengembalikan welas asih ke pusat moralitas dan agama; b) untuk kembali pada prinsip kuno bahwa setiap interpretasi atas kitab suci yang menyuburkan kekerasan, kebencian, atau kebejatan adalah tidak sah; c) untuk memastikan bahwa kaum muda diberi informasi akurat dan penuh rasa hormat mengenai tradisi, agama, dan budaya lain; d) untuk mendukung apresiasi positif atas keragaman budaya dan agama; dan e) untuk menumbuhkan empati yang cerdas atas penderitaan seluruh manusia-bahkan mereka yang dianggap sebagai musuh (hal. 13). (Lingkaran-koma.blogspot.com)

Karen memaparkan konsep Compassion (dokumentasi pribadi)
Karen memaparkan konsep Compassion (dokumentasi pribadi)

Secara sederhana, Karen ingin mengajak kepada setiap pemeluk agama agar mengikuti isi dari inti ajaran agama yang dianut. Untuk itu, Armstrong “mewanti-wanti” akan perlunya mengembalikan welas asih sebagai inti kehidupan religius dan moral. Karen menilai banyak kasus pemeluk agama yang kurang tepat dalam mengaplikasikan prinsip-prinsip ajaran agama. Barangkali karena banyak yang kurang memahami secara benar ajaran agama yang mereka anut. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Hujarat (49:13) “Wahai Manusia! Sungguh, Kami telah ciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Secara implisit, Karen menyampaikan bahwa umat Islam-lah yang sebetulnya menjadi garda terdepan dalam mengawal semangat Compassion ini kepada seluruh dunia. Agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw dikenal sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin, rahmat bagi semesta alam.

Dr. Zainul Kamal, perwakilan UIN Syarif Hidayatulloh mengatakan bahwa Rasulullah saw ketika berdakwah kepada suku Thaif mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Beliau dilempar pakai batu oleh anak-anak suku Thaif, diusir, dan dihina. Namun Rasulullah tidak membalas perlakuan buruk suku Thaif. Beliau justru mendoakan suku Thaif dengan sangat khusyuk. Doa Rasulullah, “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Namun, penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah ketika aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku mengangkat kepala dan pandanganku. Tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.” Rasulullah Saw. melanjutkan, “Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku. Ia berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung. Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Jawab Rasulullah, “Aku menginginkan Allah berkenan menjadikan anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR Bukhari Muslim)

Begitulah Rasulullah yang memiliki akhlak terpuji. Maka sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam mencontoh nilai-nilai kebaikan yang telah Rasulullah terapkan dalam kesehariaannya.

Zainul mengatakan bahwa sesungguhnya mereka yang menolak kebaikan dan dakwah Islam, lantaran hati-hati mereka yang tertutup sehingga belum bisa menerima kebenaran. Zainul juga berpesan supaya setiap individu menghilangkan sifat egosentris yang menjadi batas interaksi dengan orang-orang yang dipandang memiliki status sosial di level bawah. Jika sudah begitu dengan sendirinya sifat welas asih akan mudah untuk dijalankan dan kita pun dapat menyampaikan pesan-pesan kebaikan tanpa ada sekat yang memisahkan.

Dr. Zainul Kamal (dokumentasi pribadi)

Sementara itu, Romo Heru Prakosa, Rohaniawan Katholik menyampaikan kendati Indonesia berada dalam keberagaman majemuk, sejatinya kita dapat bekerjasama dengan baik dalam berbagai hal. Ia mencontohkan seperti mahasiswa-mahasiswa tempat ia mengajar, kerap melakukan kegiatan sosial bersama dengan berbagai elemen masyarakat yang berbeda agama dan budaya.

Romo Heru Prakosa (dokumentasi pribadi)
Romo Heru Prakosa (dokumentasi pribadi)

Setali tiga uang dengan yang disampaikan Romo Heru Prakosa, Pdt. Martin L. Sinaga juga menyetujui konsep Compassion yang ditawarkan oleh Karen. Ia berpendapat siapa pun bisa memiliki sikap welas asih dengan sesama. Ia optimis bangsa Indonesia akan lahir menjadi bangsa yang menjunjung tinggi toleransi keberagaman.

Prinsip welas asih tersemat dalam jiwa semua tradisi agama, etika atau kerohanian, dan menyeru kepada kita untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Welas asih mendorong kita bekerja tanpa kenal lelah untuk menghapuskan penderitaan sesama manusia. Untuk melepaskan kepentingan kedudukan kita demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain, serta untuk menghormati kesucian fitrah setiap manusia, memperlakukan setiap orang dengan keadilan, kesamaan dan rasa hormat yang mutlak, tanpa pengecualian.

Adalah juga penting dalam kehidupan masyarakat dan perorangan untuk terus-menerus menahan diri secara konsisten dan empatik dari tindakan menyakiti orang lain. Bertindak dan berkata-kata kasar karena rasa dendam, kesombongan bangsa, atau kepentingan diri, menindas, mengeksploitasi atau menyangkal hak asasi siapa pun dan menghasut kebencian melalui fitnah adalah penyangkalan terhadap kemanusiaan bersama.

Karen menandatangani buku (dokumentasi pribadi)
Karen menandatangani buku (dokumentasi pribadi)

Pesan dari talkshow yang mengangkat tema “The Message of Compassion” adalah mengajak dan menyeru kepada semua orang, laki-laki dan perempuan supaya menghidupkan kembali perasaan welas asih sebagai asas etika dan agama. Kita sangat perlu menjadi welas asih sebagai suatu kekuatan nyata, bercahaya, dan dinamik dalam dunia kita yang terpolarisasi. Berakar dalam tekad mendasar untuk mengatasi keakuan, welas asih dapat meruntuhkan batas-batas politik, dogmatik, ideologis dan keagamaan. Lahir dari ketergantungan kita yang mendalam antara satu dan yang lain, welas asih adalah esensi bagi hubungan antara manusia dan untuk menggenapi kemanusiaan.

Welas asih adalah jalan menuju pencerahan, dan takdapat diabaikan dalam menciptakan ekonomi yang adil dan kehidupan bersama yang damai. Di akhir diskusi, Karen Amstrong dan perwakilan anggota HFI menandatangani Piagam Welas Asih (Charter for Compassion). Dengan menandatangani piagam tersebut, diharapkan semoga dapat berkomitmen untuk menerapkan prinsip welas asih.

Menurut pandangan penulis, gagasan Karen Amstrong tentang gerakan Compassion (Welas Asih) sebetulnya baik. Tapi perlu diingat bahwa sejatinya setiap agama tidaklah sama. Kita pun memiliki kesempatan untuk memberikan kritikan yang bersifat konstruktif atas gagasan-gagasan Karen dalam bukunya yang berjudul Compassion. Setiap pemeluk agama dapat berperan sesuai dengan peran masing-masing. Kita pun dapat bersinergis dalam konteks muamalah sehingga terciptanya harmonisasi dalam hidup dan kehidupan. Semoga kita dapat mengaplikasikan prinsip-prinsip universal yang sebetulnya dimiliki oleh setiap manusia. Solusinya mari kita aplikasikan sifat welas asih mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang terkecil, dan mulai saat ini. Bismillah. Manjadda wa jadda!

Mahfud Achyar and Karen Amstrong
Mahfud Achyar and Karen Amstrong

NB: Mohon maaf jika ada kesalahan opini. Silakan sampaikan masukan dan saran ke @mahfudACHYAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s